Beranda Tentang GKI Pasteur

Pembinaan Jemaat

Kontemplasi Warta Jemaat

Hubungi Kami

Login
 
 

KEBUDAYAAN DALAM PANDANGAN KRISTEN

1.   Apakah yang dimaksud kebudayaan?
Pada hakikatnya kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia melalui pembelajaran dan pembiasaan beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu. Itu berarti, sesuatu hal menjadi kebudayaan setelah melalui proses pem­biasaan, yaitu dengan belajar. Contoh sederhana, orang makan bukanlah kebudayaan karena aktivitas makan bersifat naluriah. Akan tetapi, setelah “makan” itu menjadi upacara pesta dengan tata cara tertentu, maka tata cara makan itu menjadi kebudayaan. Ini menunjukkan kebudayaan adalah wujud keberadaban manusia yang menjadi warisan sosial
a a .Secara rinci wujud kebudayaan meliputi hal-hal berikut ini:b

a.  Sistem religi dan upacara keagamaan. Agama, kepercayaan, mitos, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal spiritual.

b.  Sistem kemasyarakatan, meliputi sistem kekerabatan, sistem hukum, sistem perkawinan, organisasi kemasyarakatan, dan sebagainya.

c.  Sistem pengetahuan, baik tradisional maupun modern, yang menjadi sarana hidup manusia.

d.  Bahasa, yang berfungsi sebagai alat komunikasi dan ekspresi seni.

e.  Kesenian, sebagai sarana pengungkapan keindahan, pemaknaan hakikat hidup dan sarana hiburan.

f.  Sistem mata pencaharian hidup sebagai sarana manusia membangun kehidupan pribadi maupun bersama.

g.  Sistem teknologi dan peralatan, yang menjadi sarana manusia untuk memudahkan menumbuhkembangkan kehidupan.

a.   Kejadian 1:26: Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Kejadian 4:20-22: Ada itu melahirkan Yabal; dialah yang menjadi bapa orang yang diam dalam kemah dan memelihara ternak. Nama adiknya ialah Yubal; dialah yang menjadi bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling. Zila juga melahirkan anak, yakni Tubal-Kain, bapa semua tukang tembaga dan tukang besi. Adik perempuan Tubal-Kain ialah Naama.

b.   Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan (Jakarta: PT Gramedia, 1984), hlm. 2

2.   Bagaimana sikap kita terhadap kebudayaan?
Ada dua sikap yang harus dikembangkan oleh orang Kristen dalam menghadapi kebudayaan.
Pertama, memeriksa kebudayaan dengan kritis. Kebudayaan adalah sesuatu yang konkret menyertai kehidupan manusia dalam masyarakat. Tidak ada masyarakat tanpa budaya dan tidak ada kebudayaan yang statis. Meski demikian, sikap kritis dan hati-hati sangat diperlukan. Tugas orang Kristen dan gereja adalah menguji, apakah kebudayaan itu sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan?a Dalam proses pengujian itu, orang Kristen dan gereja harus mampu melakukan pemisahan, mana yang “terang” dan mana yang “gelap”, mana yang perlu disingkirkan, mana yang dapat dipakai, dan mana yang perlu diperbarui?b Kedua, memperbarui kebudayaan. Harus diakui bahwa setiap kebudayaan mengandung dosa. Seluruh dunia, termasuk kebudayaannya, jatuh ke dalam dosa.c Tugas orang Kristen dan gereja adalah memperbarui kebudayaan dalam terang Injil, sebagai perwujudan sikap hidup orang Kristen yang baru dan senantiasa bersedia memperbarui diri.

a.  Efesus 5:10: Dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. I Tesalonika 5:21: Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. I Yohanes 4:1: Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.

b.  Kejadian 1:4: Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.

c.  Roma 3:23: Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. 1 Yohanes 5:19: Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat. (band. Katekismus Heidelberg, pert. 7)

 

3.   Bagaimana cara memperbarui kebudayaan?
Pada hakikatnya setiap produk budaya mempunyai nilai mulia, namun juga tidak menutup kemungkinan adanya nilai yang tidak sesuai dengan kebenaran iman Kristen. Contoh yang sangat akrab bagi kehidupan orang Jawa, khususnya di pedesaan, adalah kenduri. Bagi orang Jawa, kenduri adalah sarana untuk mencari/ mendapatkan keselamatan, baik untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat. Kenduri yang berkaitan dengan kematian, digunakan sebagai sarana untuk “mengirim doa” agar yang sudah meninggal dunia mendapatkan pengampunan dan tempat di sorga. Dalam kenduri itu sering juga ada mantra/ doa yang ditujukan kepada kekuatan gaib selain Tuhan yang sering disebut dengan
danyang. a Nilai kenduri yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa tersebut tidak sesuai dengan iman Kristen. Meskipun demikian, wujud kenduri, yang mengumpulkan sekelompok anggota masyarakat, mempunyai nilai-nilai positif: kebersamaan dan kerukunan. Jadi, pada prinsipnya cara memperbarui kebudayaan menurut iman Kristen adalah menggunakan, melestarikan, dan mengembangkan wujud dan isi kebudayaan sesuai dengan iman Kristen. Artinya, dalam proses pembaruan, wujud kebudayaan dapat terus dilestarikan dan dikembangkan, namun isinya dapat dibuang atau diubah agar sesuai dengan iman Kristen.b

a.   Imamat 19:31: Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan dengan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah TUHAN, Allahmu. 1Yoh. 5:21: Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala. (band. Katekismus Heidelberg, pert. 94-95)

b.   Roma 12:2: Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi ber­ubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

 

4.  Apa yang dimaksud dengan adat dan upacara adat?
Pengertian adat mencakup tiga hal. Pertama, aturan dan perbuatan yang diturut atau dilakukan sejak dulu. Kedua, tata cara yang sudah menjadi kebiasaan. Ketiga, wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan-aturan yang satu dengan yang lainnya berkaitan menjadi suatu sistem. Sedangkan upacara adat adalah upacara yang berhubungan dengan adat suatu masyarakat.

 

5.  Bagaimana pandangan dan sikap kita terhadap upacara adat?

Ada dua macam upacara adat, yaitu upacara dasar dan upacara siklus hidup. Upacara dasar yaitu upacara adat yang ditujukan untuk kepentingan masyarakat umum, misalnya
bersih desa dan nyadran. Upacara siklus hidup yaitu upacara adat yang ditujukan untuk kepentingan perorangan, seperti upacara kelahiran (mitoni, tingkeban, brokohan, sepasaran, dan sebagainya), upacara perkawinan, dan upacara kematian. Berbagai macam upacara adat tersebut adalah kenyataan konkret yang ada di masyarakat sebagai buah dari akal budi manusia. Upacara adat menjadi sarana manusia untuk berelasi dengan kekuatan gaib di atasnya dalam rangka meminta perlindungan, kebahagiaan, dan kesejahteraan.
Perlu dicermati tentang waktu kemunculan dari upacara adat tersebut. Bila upacara adat muncul atau sudah ada pada zaman dimana masyarakatnya belum mengenal Allah (Yahweh dalam bahasa Ibrani) maka dapat dipastikan bahwa upacara adat tersebut merupakan bagian dari bentuk pemujaan dan ketaatan kepada ilah-ilah lokal yang bercampur dengan kreasi manusia atau kelompok masyarakat tersebut.

 

a.   Kejadian 1:27: Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Kejadian 2:7: Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. (band. Katekismus Heidelberg, pert. 6; Pelengkap Katekismus Heidelberg, pert. 20)

 

6.   Menurut sebagian masyarakat, upacara adat dipakai sebagai sarana untuk mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan. Apakah dengan menjalani upacara adat, manusia mendapatkan keselamatan dari Allah?

Keselamatan menurut iman Kristen adalah kembalinya manusia ke dalam hubungan yang harmonis dengan Allah, seperti pada awal penciptaan. Atas dasar pemahaman tersebut dapat ditegaskan bahwa berbagai upacara adat tersebut tidak akan membawa manusia kepada keselamatan.a Hanya atas dasar anugerah Allah manusia memperoleh keselamatan, bukan upaya manusia.b

a.   Roma 3:20: Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa. (band. Katekismus Heidelberg, pert. 3, pert. 5 dan pert. 13-14)

b.   Yohanes 3:16-17: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Roma 3:22-26: yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.

 

7.   Upacara adat sering berkaitan dengan perdukunan, klenik, primbon, tafsir mimpi, dan sebagainya. Menurut iman Kristen, apakah hal-hal itu mempengaruhi dan menentukan nasib seseorang?

Tidak, sebab nasib dipahami sebagai kondisi masa depan seseorang, entah baik atau pun buruk. Hal itu tidak ditentukan oleh mantra, klenik, primbon, tafsir mimpi, dan sebagainya. Hidup orang beriman ada di tangan Tuhan.a Akan tetapi, bukan berarti manusia tidak dapat menentukan jalan hidupnya. Tuhan juga memberikan tanggung jawab kehidupan kepada manusia. Manusia diberi kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Itulah optimisme hidup orang beriman. Percaya akan pemeliharaan Tuhan dan mempunyai tanggung jawab untuk mempersiapkan masa depannya. Orang Kristen tidak boleh meninggalkan pengharapan kepada Tuhan dan hanya mengandalkan upaya manusiawinya. Sebaliknya, orang Kristen tidak boleh meninggalkan upaya manusiawinya dan hanya pasrah tergantung kepada Tuhan.b

a.   Matius 6:25-34: "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." Roma 14:7-9: Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.
(band.
Katekismus Heidelberg, pert. 1 serta pert. 26-28 )

b.  Lukas 14:31-33: Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

8. Setelah memahami konsep upacara adat dan berbagai hal yang menyekitarinya, bagaimana sikap orang Kristen dan gereja terhadap hal-hal tersebut?
Orang Kristen adalah orang yang telah dimerdekakan Kristus,
a yang tidak boleh terikat dan diikat oleh berbagai tradisi dan upacara adat. Dalam kemerdekaannya itu, orang Kristen diberi kebebasan untuk menilai dan bertindak, mana yang baik dan buruk, mana yang berguna dan mana yang sia-sia.b Atas dasar kemerdekaan Kristen itulah, orang Kristen dan gereja harus bersikap benar terhadap upacara adat.
Pertama, mengerti bahwa upacara adat sebagai salah satu buah kebudayaan. Upacara adat merupakan hasil olah akal dan budi manusia dalam rangka menjalin hubungan dengan sesama, alam, dan kekuatan di atas manusia. Orang Kristen dan gereja mengerti upacara adat, dalam arti mengerti hasil kerja akal dan budi yang menampilkan keindahan, kekhasan, kerumitan, keteraturan, dan sebagainya.
Kedua, menerima upacara adat dengan sikap kritis berdasarkan terang Firman Tuhan. Dengan sikap kritis itu, orang Kristen dan gereja bisa menerima seutuhnya, memperbaiki, mengubah, bahkan menolak sepenuhnya jika memang bertentangan dengan Firman Tuhan.
Ketiga, memperbarui dan menerangi upacara adat. Orang Kristen adalah manusia baru yang terus-menerus diperbarui,d dan juga berfungsi sebagai penerang kehidupan.e Berangkat dari dasar itulah, tugas orang Kristen terhadap upacara adat adalah memperbarui dan menerangi. Dalam proses itu, orang Kristen harus berani mengubah dan membentuk kembali segala upacara adat menjadi berkenan kepada Tuhan dan berguna untuk membangun kehidupan manusia.

a.  Galatia 5:1: Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Galatia 5:13: Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. (band. Katekismus Heidelberg, pert. 34 dan pert. 91)

b.  I Korintus 6:12: Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.

c.  Yohanes 2:1-11

d.  Kolose 3:10: ... dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya. (band. Katekismus Heidelberg, pert. 45: “... oleh kuasa kebangkitan itu kita pun dibangkitkan untuk menempuh kehidupan yang baru. …”; band. pula pert. 86)

e.  Matius 5:16: Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.

 

9.   Salah satu upacara adat yang termasuk siklus hidup adalah upacara perkawinan. Bagaimana pandangan iman Kristen tentang upacara adat perkawinan?
Upacara perkawinan ada di setiap kebudayaan bangsa, yang menjadi bagian dari upacara adat. Bahkan upacara perkawinan selalu dikaitkan dengan kepercayaan dan agama. Ini menunjukkan bahwa selain perkawinan merupakan dimensi kemanusiaan yang universal, juga ada dimensi sakralnya. Gereja mengakui bahwa perkawinan terkait dengan adat-istiadat setempat sehingga orang Kristen sudah selayaknya mengikuti adat itu. Akan tetapi, tetap harus mempertimbangkan hal itu dengan kritis. Apakah melanggar keyakinan iman Kristen? Apakah memang berguna? Dengan demikian adat perkawinan yang dijalani oleh orang Kristen sudah diperbarui sesuai dengan kebenaran iman Kristen. Gereja juga mengakui bahwa perkawinan juga mengandung dimensi sakral. Meskipun Gereja hanya mengakui dua sakramen: baptisan dan perjamuan kudus (a),a namun perkawinan jelas mempunyai dimensi rohani/ illahi. Ada campur tangan dan kehendak Tuhan terhadap perkawinan.b Atas dasar itulah Gereja melayani pemberkatan perkawinan dalam sebuah ibadah khusus di gereja.

Upacara adat perkawinan pada suku Batak misalnya, terdapat banyak hal-hal yang masih harus diperbaiki. Antara lain dalam upacara tersebut terdapat penyelimutan dengan ulos yang diyakini pengikutnya sebagai media untuk mendapatkan berkat. Pengikutnya merasa belum sempurna bila belum memberkati dengan cara 'mangulosi' (menyelimutkan ulos kepada pengantin) atau belum 'diulosi' (pengantin menerima ulos). Kita tahu bahwa berkat datangnya dari Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus, dan berkat itu telah diterima oleh pengantin ketika pemberkatan perkawinan di gereja. Sehingga acara mangulosi tidak dilakukan lagi. Atau dengan kata lain ulos boleh diberikan namun hanya sebatas sebagai kado biasa saja seperti kado lainnya dan tidak diselimutkan.

a.     (band. Katekismus Heidelberg, pert. 68)

b.     Matius 19:6: Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Efesus 5:22-25: Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.

10. Salah satu wujud kebudayaan adalah sistem perkawinan yang beranekaragam sesuai dengan konteks waktu dan budaya. Bagaimana pandangan kita terhadap sistem perkawinan?
Pertama, bagi orang beriman, perkawinan adalah kehendak Allah. Itu berarti, perkawinan orang beriman bersifat kudus karena ada campur tangan Allah untuk membentuk lembaga perkawinan.a Konsekuensinya, orang beriman harus senantiasa menjaga lembaga perkawinan tersebut agar tetap terpelihara kekudusannya.b
Kedua
, perkawinan adalah monogami, satu laki-laki dengan satu perempuan, yang berlangsung sampai mati. Jadi, iman Kristen tidak mengenal perceraian, selain karena kematian. Perjanjian perkawinan adalah seumur hidup. Dengan demikian, tidak dibenarkan adanya perkawinan sementara, kawin kontrak, dan sejenisnya.

a.   Kejadian 2:18: TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

b.   I Korintus 7:2: Tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki­laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri. (band. Katekismus Heidelberg, pert. 108-109)

 

11. Upacara siklus hidup yang lain adalah “sunat/ supit/ tetak”. Bagaimana pandangan kita terhadap hal itu?
Di dalam Alkitab, mula-mula “sunat/
tetak” menjadi tanda perjanjian Tuhan dengan Abraham,a jauh sebelum hukum Taurut diberikan kepada umat Israel.b Tetapi kemudian oleh umat Yahudi hal itu dikaitkan dengan hukum Taurat dan dipahami sebagai jalan keselamatan. Pemahaman itulah yang kemudian ditolak oleh Rasul Paulus dalam surat Galatia.c Apalagi tanda perjanjian baru adalah baptisan, bukan “sunat/ tetak”.d Dalam banyak suratnya yang lain, Rasul Paulus juga memberikan penjelasan pro-kontra mengenai sunat, misalnya dalam surat kepada jemaat di Korintus,e juga ketika Rasul Paulus berada di Derbe dan Listra ia “menyunatkan” Timotius demi kelancaran pekabaran Injil.f  Sunat yang dilakukan dengan alasan medis demi mencegah penyakit, kanker dll boleh dilakukan.

a.   Kejadian 17:10: Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; ...

b.   Galatia 3:16-18: Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. ... Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, ... Sebab, jikalau apa yang ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, ia tidak berasal dari janji; tetapi justru oleh janjilah Allah telah menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada Abraham.

c.   Galatia 5:2b-3: Jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. ... orang yang menyunatkan dirinya ... wajib melakukan seluruh hukum Taurat.

d.   Kolose 2:11-12a: Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan,... (band. Katekismus Heidelberg, pert. 74)

e.   1 Korintus 7:19: Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah menaati hukum-hukum Allah. (band. Kol. 3:11)

f.   Kisah Para Rasul 16:1-3: Paulus datang juga ke Derbe dan ke Listra. Di situ ada seorang murid bernama Timotius; ... dan Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan. Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, ...

 

12. Salah satu bentuk kebudayaan adalah seni tradisional, seperti reog, wayang, ludruk, ketoprak, campursari, dan sebagainya. Bagaimana sikap kita terhadap berbagai seni tradisional tersebut?

Seni adalah salah satu bagian kebudayaan yang memberikan kekhasan hidup manusia. Hanya makhluk manusia yang mampu berolah seni, mengekspresikan keindahan melalui berbagai karya seni. Ini merupakan salah satu perwujudan keberadaan manusia sebagai Citra Allah. Dengan demikian, pada hakikatnya karya seni itu berasal dari Allah karena lahir dari keberadaan manusia yang istimewa sebagai Citra Allah. Berpijak dari itu, sikap orang beriman terhadap karya seni, baik yang tradisional maupun yang modern adalah sebagai berikut. Pertama, menghargai setiap karya seni sebagai buah karya akal budi manusia. Seni adalah perwujudan ekspresi hati dan pikir manusia dan ditampilkan dalam bentuk keindahan. Namun perwujudan keindahan itu dipengaruhi oleh berbagai konteks yang menyekitarinya. Orang Jawa bisa menghayati keindahan musik gamelan, namun orang Eropa belum tentu bisa menikmatinya. Meski demikian, orang beriman, walaupun belum atau tidak bisa menghayati karya seni tertentu karena konteks yang berbeda, tetap memberikan pengakuan dan penghormatan dengan tidak memandang negatif karya seni tertentu. Kedua, mampu memberikan penilaian terhadap karya seni. Sebuah karya seni akan dinilai dari dua hal, yaitu unsur keindahannya dan unsur kebermaknaannya. Karya seni yang bermutu akan mengandung keindahan dan kebermaknaan yang tinggi. Orang Kristen jangan hanya melihat keindahan dan kenikmatannya, namun juga melihat maknanya. Sebuah lagu mungkin mengandung nada yang nikmat dan menyenangkan, namun lagu itu tidak berguna karena syairnya jorok. Ketiga, menjadi pelaku seni yang bertanggung jawab. Tidak setiap orang mempunyai talenta seni. Oleh karena itu, setiap talenta seni perlu dipelihara dan dikembangkan sebagai wujud ucapan syukur kepada Allah,a Sang Pemberi talenta seni. Atas dasar itu, setiap ekspresi seni akan selalu mempertimbangkan aspek keindahan yang bermakna, dalam arti keindahan yang membangun kehidupan manusia menjadi semakin bermartabat.

a.   Matius 25:23: Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

14. Berkaitan dengan seni musik, ada kecenderungan menggubah syair lagu berdasarkan melodi lagu yang sudah terkenal (istilah musik: kontrafaktur). Bagaimana sikap kita terhadap hal itu?

Pada dasarnya setiap karya seni pantas mendapatkan penghargaan. Salah satu wujud penghargaan yang terpenting adalah tidak melakukan pencurian atau pembajakan terhadap karya seni karena itu merupakan karya intelektual seseorang.a Dalam hal seni musik, menggunakan melodi sebuah lagu untuk menggubah lagu sudah merupakan pencurian intelektual karena melodi tersebut bagian dari karya seseorang yang tidak bisa digunakan sesuka hati orang lain, meskipun digunakan untuk hal-hal mulia, misalnya untuk ibadah, pendidikan, sosial, dan sebagainya. Hal itu bisa dilakukan kalau seizin penciptanya atau keluarganya. Yang paling baik adalah menggubah lagu sendiri, baik melodi maupun syairnya, untuk memuliakan nama Tuhan.b

a.   1Korintus 6:10: Pencuri, orang kikir, … dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. (band. Katekismus Heidelberg, pert. 110)

b.   Mazmur 149:1: Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh.

 

15. Wujud seni yang lain adalah busana. Bagaimana kita memandang tentang busana?
Berbusana mengandung banyak aspek. Bukan sekadar untuk menutup dan melindungi tubuh. Berbusana juga menyangkut aspek seni, kepantasan, bahkan moralitas. Maka bagi orang beriman, berbusana yang baik harus diperhatikan dalam rangka menghormati diri sendiri, yang itu berarti menghormati Allah yang menciptakan tubuh manusia, juga untuk menghormati orang lain.
a Orang Jawa mengenal ungkapan, “Ajining raga saka busana”, artinya harga diri tubuh ini ditentukan oleh penggunaan busana yang baik, sesuai dengan konteks keperluan dan budaya.b Yang juga harus diperhatikan oleh orang beriman, jangan sampai busana menjadi batu sandungan bagi orang lain sehingga berbuat dosa.c

a.   Roma 13:13-14: Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan bermabuk-mabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus dan janganlah menuruti tabiat yang bersifat daging untuk memuaskan keinginannya. 1 Tesalonika 4:12a: ... sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar ...

b.   Yesaya 52:1a: Terjagalah, terjagalah! Kenakanlah kekuatanmu seperti pakaian, hai Sion! Kenakanlah pakaian kehormatanmu, hai Yerusalem, kota yang kudus! 1 Timotius 2:9a: Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, ...

c.   1 Korintus 8:9 Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.


Referensi: -Pelengkap Katehismus Heidelberg Sin.GKJTU

 

 

Copyright © 2012 Gereja Kristen Indonesia GKI Pasteur Bandung