Beranda Tentang GKI Pasteur

Pembinaan Jemaat

Kontemplasi Warta Jemaat

Hubungi Kami

Login
 

Minggu - 6 Oktober 2019
“ KELUARGA YANG BERDAMPAK "
Habakuk 1:1-4 & 2:1-4, Mazmur 37:1-9, 2 Timotius 1:1-14, Lukas 17:5-10

Firman Tuhan hari ini mengingatkan untuk melihat kenyataan bahwa setiap keluarga seluruhnya memiliki persoalan hidup. Di tengah persoalan yang masih kita hadapi inilah, kita diundang untuk menjadi keluarga yang berdampak. 
Demikian keluarga-keluarga yang hidup pada masa nabi Habakuk, banyak keluarga yang sedang merasa beratnya masalah. Dan muncul perasaan : “Sudah hidup benar, mengapa masalah tiada henti, sedangkan orang yang hidupnya tidak tertib, malah hidupnya serba lancar.”  Adanya hasrat yang kuat untuk lepas dari masalah, maka sampai pada ungkapan : “Sudah berteriak  namun tidak didengar Tuhan” (Habakuk 1:2)
Saudara-saudara, di tengah situasi sulit,  masih mampukah keluarga Kristen menjadi keluarga yang berdampak positif bagi sesama ?
Melalui kitab 2 Timotius 1 – R. Paulus memotivasi Timotius untuk menumbuhkan iman tulus ikhlas – karena  iman dan kasih Allah, maka orang menerima karunia roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2 Tim 1:7). 
Adanya iman, seseorang  menantikan Tuhan, dan  ia akan mewarisi negeri  (Maz 37:9).  R. Paulus mendorong Timotius untuk tetap beriman yang tulus ikhlas (seperti iman dalam  Ibu Eunike dan Nenek Lois). Agar Timotius menjadi orang yang tidak malu bersaksi, sebab percaya bahwa Yesus Kristus menyelamatkannya, karena kasih karunia, bukan karena perbuatan. Dasar iman ini, melahirkan kasih yang kuat, hingga dalam keadaan sulit, akan tetap mampu menjadi berkat.
Dalam Injil Lukas, firman Tuhan menegaskan  bahwa di tengah hidup :  tidak mungkin tanpa adanya orang yang mempengaruhi  orang untuk hidup dalam dosa (penyesatan).

Untuk memelihara persekutuan / persaudaraan dalam iman, Yesus mengajarkan untuk saling mengingatkan, menegur dalam kasih, dan hidup dalam kasih yang mengampuni. Ini bukan hal mudah, karenanya murid-murid Yesus memohon : “Tambahkanlah iman kami” ( Lukas 17: 5 ). Doa ini penting buat murid Kristus. Murid Yesus sudah punya iman tetapi belum cukup.  Yesus berkata : “ Jika iman sebesar biji sesawi saja ... kamu dapat pindahkan pohon ara ... “ (Lukas 17:6). Yang Yesus maksudkan hal yang mustahil untuk dilakukan secara fisik atau dengan hikmat dunia, tetapi bila ia imannya besar / kuat, maka yang tidak mungkin bisa terjadi.  Yesus sedang meneguhkan, bahwa memang ada orang-orang yang berdosanya sudah berakar begitu kuat seperti pohon Ara (kemungkinan untuk menggambarkan orang Yahudi yang keras hatinya seperti akar pohon Ara), yang sulit dipindahkan, maka dengan iman yang kuat dapat diluluhkan. Iman yang semakin kuat,  adalah iman dalam diri seseorang yang akan nyata dalam sikap kasih yang besar. Kasih yang menghilangkan ketakutan, untuk tetap mengasihi dan mengampuni. Iman yang menghasilkan kasih yang besar inilah yang akan meluluhkan hati yang keras untuk bertobat. 
Nah Saudara-saudaraku ... sudahkah kita memiliki iman (kasih)  yang kuat ? Jika kita masih menjadi orang yang sulit mengampuni, maka dipastikan iman kita lemah. Untuk itu marilah kita memohon pada Tuhan : “Tambahkanlah iman kami”. Supaya  di sisa waktu yang masih ada, hidup kita berdampak, dan keluarga kita juga menjadi keluarga yang berdampak (walau hidup sulit), untuk turut bersama membawa kasih dan pengampunan (berkat) Tuhan bagi manusia. Amin.
Pdt. Paulus Kristian Mulyono

 

Minggu - 22 September 2019
“ MELEKAT HANYA KEPADA ALLAH "
Amos 8:4-7; Mazmur 113; 1 Timotius 2:1-7; Lukas 16:1-13

Apa yang dicari orang uang...
Apa yang dicari orang pagi, siang, petang, malam,
uang uang uang bukan Tuhan Yesus...”

Sebuah lirik lagu yang rasa-rasanya tak asing lagi dipendengaran kita, ya biasanya lagu ini dinyanyikan di sekolah minggu. Lirik dari lagu ini sebetulnya mau menyentil kehidupan siapapun yang mendengarkannya. Bagaimana tidak, terlukiskan bahwa uang menjadi prioritas dalam menapaki jalan kehidupan. Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia tetap membutuhkan uang untuk keperluan sehari-hari, namun yang menjadi keliru adalah bila hati kita telah melekat kuat kepada uang, serta mengabaikan Tuhan dan sesama.

Sikap melekat dan tamak inilah yang ditunjukkan oleh bendahara dalam perumpamaan yang diberikan oleh Yesus (Luk.16). Sang bendahara adalah orang kepercayaan dari sang tuan, bahkan ia memiliki kekuasaan untuk mengelola uang dari sang tuan. Namun, tragisnya bendahara ini berbuat curang, ia berbohong kepada tuannya dan melipatgandakan hutang-hutang sesamanya.

Dalam hal ini kita dapat melihat bahwa sang bendahara telah salah menggunakan kekuasaan yang dipercayakan sang tuan kepadanya. Sang bendahara gagal memaknai kekuasaan sebagai sebuah kepercayaan untuk membawa kebaikan bagi sesamanya. Sang bendahara hanya memikirkan keuntungan dirinya sendiri serta hatinya sudah melekat kuat kepada uang/kekayaan.

Perbuatan bendahara ini tak jauh berbeda dengan perbuatan para pemimpin agama pada masa Amos (Am. 8).
Para pemimpin menjadi pemegang kekuasaan yang sangat tidak bijaksana, mereka korupsi, berlaku tak adil, dan menindas sesamanya yang lemah. Lalu, apa yang menjadi landasan para pemimpin berbuat demikian?

Landasannya ialah karena hidup mereka tidak berpusat kepada Allah, mereka hanya berpusat pada diri sendiri yang membawa pada hawa nafsu ketamakan. Hidup yang tak berpusat kepada Allah akan mudah digoyahkan oleh hawa nafsu kedagingan.

Melalui bacaan hari ini, kita diajak untuk melekat hanya kepada Allah dan tidak menjadikan kekuasaan dan harta dunia sebagai tujuan utama dalam hidup kita. Hidup yang melekat kepada Allah membawa kita untuk selalu melakukan apa yang Ia kehendaki dan menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya!!!
Prinsip hidup “bersyukurlah senantiasa” perlu juga untuk kita kerjakan dalam menapaki perjalanan kehidupan ini, mengapa? Agar kita tak mudah goyah apabila muncul hawa nafsu ketamakan/kerakusan. Dan dengan bersyukur kita senantiasa merasa cukup dengan segala hal yang Allah anugerahkan.
Marilah.. kita melekat hanya kepada Allah. Amin.
Erma P. K

     

Minggu - 15 September 2019
“ CARI ATAU BIARKAN ? "
Keluaran. 32:7-14; Mamur. 51:3-12; 1Timotius. 1:12-17; Lukas. 15:1-10

Untuk menjawab pertanyaan tema, Cari atau Biarkan? Akan menjadi sangat relatif / tergantung dari sudut mana kita berpijak. Jika hanya didasarkan pada untung rugi, maka jawabnya berpusat pada diri kita. Dan diri atau ego biasanya cenderung untuk mencari yang menguntungkan dan membiarkan yang merugikan. Namun jika didasarkan pada iman dan kesaksian Alkitab, maka jawabnya berpusat pada apa yang dikehendaki oleh Allah. Dan yang dikehendaki Allah adalah mencari. Dengan demikian kita juga diminta untuk mencari meski itu merugikan. Mengapa? Karena Alkitab mempersaksikan Allah yang hadir, menyapa dan mencari yang terhilang, seperti yang tertulis dalam Lukas 19:10 “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

Mencari dalam iman Kristen bukan sebuah pilihan tapi keharusan dan kewajiban, mengapa? karena hal itu bersumber dari penghayatan dan pemahaman akan kasih Allah dalam dirinya. Tanpa memahami kasih Allah yang begitu besar maka seorang Kristen akan cenderung untuk membiarkan dan bahkan menghakimi mereka yang sepertinya di luar Allah atau dirinya. Dan itu yang terjadi di dalam diri mereka yang bersungut-sungut (lih Lukas 15:2) terhadap kepedulian Yesus kepada mereka yang dianggap hina, tidak layak, dan terasing / diasingkan oleh mereka. Melalui perumpamaan seekor domba yang tersesat dan dirham yang hilang, Yesus hendak mengajarkan tentang Allah yang peduli terhadap siapapun yang terhilang. Namun disisi lain, apakah Allah yang demikian adalah Allah yang tidak peduli terhadap mereka yang tidak terhilang?

Dalam setiap akhir perumpamaan tersebut, ketika yang terhilang ditemukan dikisahkan ada sukacita dan undangan bersama-sama bersukacita (lih. Lukas 15:6,10). Hal ini menggambarkan bagaimana semestinya perilaku mereka yang ada bersama-sama dengan Allah. Melalui sukacita tersebut Yesus ingin mengajak mereka yang ada di dalam Allah untuk ikut bersukacita dan peduli. Allah peduli kepada mereka yang ada bersamanya dan hidup dalam sukacita bersama dengan  mereka yang terhilang.Jadi meskipun perhatian Allah terhadap yang terhilang sepertinya sangat besar, namun IA tidak pernah sedikitpun mengabaikan yang ada bersama dengan-Nya.

Oleh karena itu, mari dengan segenap pikiran, hati, dan harapan akan pimpinan Roh Kudus kita bersama-sama saling memperhatikan satu dengan yang lain, dan saling mengingatkan satu dengan yang lain akan kasih Allah, supaya di antara kita tidak ada yang terhilang. Mari kita peduli terhadap mereka yang telah “hilang”.
dstheol-GM52-20190914

 

 

Minggu - 1 September 2019
“TUHAN MENINGGIKAN ORANG YANG RENDAH HATI "
Amsal 25:6-8; Mamur 112; Ibani 13:1-8, 15-16; Lukas 14:1, 7-14

Bila dunia ditata ulang dan semua orang mau mendengarkan apa yang Yesus ajarkan, maka dunia ini akan menjadi tempat yang benar-benar baru. Tatanan baru itu adalah Kerajaan Allah.
Dalam bacaan injil Lukas 14:1 dan 7-14, Yesus sedang mengkritik orang Farisi, bahwa pola sosial yang mereka terapkan berbeda dengan pola kerajaan Allah. Kritik Yesus itu adalah untuk pola sosial pada zaman itu yang tidak membawa nilai-nilai mulia, karena orang lebih cenderung menempatkan diri di tempat-tempat terhormat.

Tuhan menyukai anak-anakNya yang hidup merendahkan diri di hadapan Allah. “Rendahkanlah dirimu dihadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu” (Yakobus 4 : 10) Dan …yang meninggikan diri akan direndahkan (Lukas 14 : 11).

Yesus mengajarkan apa yg akan Allah lakukan bila hidup semua orang saling menempatkan diri di tempat terhormat akan direndahkan Allah. Dengan demikian Yesus memperingatkan bahwa orang yang meninggikan diri dalam kehidupan ini akan dipermalukan di dalam kerajaan surga yang akan datang. Tempat kehormatan umat di hadapan Allah jauh lebih penting daripada kehormatan di bumi. Kehormatan di hadapan Allah ini tidak diperoleh dengan menonjolkan diri, sebab hanya datang melalui merendahkan diri dan sikap menghambakan diri  (Lukas 14: 12-14).

Demikian tatanan baru didalam pola kerajaan Allah. Orang yang hidup dalam pola kerajaan Allah adalah seperti kata Pemazmur : Orang yang hidup takut akan Tuhan dan sangat suka pada segala perintahNya. Mereka berbahagia (Mazmur 112 : 1). Di hadapan manusia pun akan dihormati seperti kata Amsal “ Naiklah kemari“ (Amsal 25 : 7).

Semua orang pada waktunya akan dihakimi Allah menurut perbuatannya (Ibrani 13 : 4), dan Allah memanggil untuk hidup bersandar padaNya, sebab Allah setia. Allah sekali-kali tidak akan membiarkan umatNya dan tidak akan meninggalkan umatNya. Amin
PKM

     

Minggu - 25 Agustus 2019
“ TUHAN, PULIHKAN KAMI "
Yesaya 58:9-14; Mazmur 103:1-8; Ibrani 12:18-29; Lukas 13:10-17

Manusia adalah makhluk sosial, ya benar. Manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain, bagaimanapun merasa mampu melakukan segala sesuatunya seorang diri, pasti akan tetap membutuhkan bantuan dan topangan dari orang lain. Oleh sebab itu, sebagai makhluk sosial kita diundang untuk saling menopang satu dengan yang lain, saling mengasihi, mau memperhatikan kepentingan orang lain, dan tidak hanya fokus pada diri sendiri.
Hal ini sejalan dengan apa yang menjadi nasehat dari Tuhan Yesus kepada kepala rumah ibadat. Injil Lukas mengisahkan bahwa Tuhan Yesus sedang mengajar di salah satu sinagoge pada hari Sabat. Kata “mengajar” berasal dari bahasa Yunani didasko yang artinya “mengajar untuk mengarahkan, memperingatkan, dan menegur”. Yesus “mengajar” melalui peristiwa penyembuhkan seorang perempuan yang telah 18 tahun sakit bungkuk.
Di tengah keterbatasannya, perempuan bungkuk ini hadir di rumah ibadat, ia rindu mendapatkan pemulihan. Yesus melihatnya dan memulihkannya. Penyembuhan yang dilakukan Yesus ini membuat kepala rumah ibadat gusar, karena Yesus menyembuhkan pada hari Sabat. Yesus “mengajar” kepala rumah ibadat lebih dalam lagi, karena mereka menerapkan hukum Sabat secara ketat kepada orang lain, sedangkan mereka pun bekerja di hari Sabat karena pekerjaan yang mereka lakukan menguntungkan bagi diri mereka sendiri (ay.15). 
Yesus menjamah kepala rumah ibadat yang bungkuk hatinya atau bengkok pikirannya karena hanya dipenuhi melakukan ritual agama tanpa paham maknanya dalam hidup sosial bersama orang lain. Yesus pun mengajar mereka yang semula hanya memperhatikan urusan sendiri tanpa peduli kebutuhan sesama supaya kemudian mereka punya paradigma baru terhadap sesama dan hukum Taurat.

Apa yang Yesus ajarkan sejalan dengan teguran nabi Yesaya kepada umat Israel. Umat Israel berpuasa dan memelihara hukum Sabat secara ritual, namun mereka hanya mengurusi urusan sendiri, sehingga melupakan sesama yang kelaparan dan membutuhkan pertolongan. Hari Sabat dipenuhi dengan memikirkan kesenangan diri sendiri, tanpa peduli pada Tuhan dan sesama (Yes. 58)
Melalui bacaan hari ini, kita diingatkan untuk menelisik diri kita sendiri, sudahkah kita peduli terhadap sesama? sudahkah kita mementingan kepentingan orang lain dan tak hanya fokus pada kesenangan diri sendiri? sudahkah kita menjadi mitra Allah di tengah dunia? Dengan segala keterbatasan, acapkali kita lalai tak melakukan apa yang dikehendaki Tuhan. Oleh sebab itu, biarlah dengan segala kerendahan hati kita berseru bahwa kita membutuhkan pemulihan dari Tuhan Sang Kepala Gereja supaya perziarahan ke depan kita semakin menampakkan sikap sebagai mitra Allah dan menjadi berkat bagi sesama. Amin.

Selamat Ulang Tahun ke-31 Gereja Kristen Indonesia (GKI)
Dalam momen ulang tahun ini, kita perlu mengucap syukur untuk setiap anugerah, pemeliharaan, dan penyertaan Allah dalam kehidupan Gereja Kristen Indonesia (GKI). Selain itu, dalam momen ulang tahun ini juga kita perlu menilik kembali dan berintrospeksi apa yang sudah terjadi, sudahkah GKI menjadi serta apa yang akan dilakukan ke depan berkaitan dengan kehidupan bergereja di GKI.
EPK

 

Minggu - 18 Agustus 2019
“ BERITA INJIL: INFORMASI ATAU TRANSFORMASI "
Yeremia 23:23-29; Mazmur 82; Ibrani 11:29-12:2; Lukas 12:49-56

Berita Injil lebih dari informasi atau pengetahuan, melainkan keyakinan, pengharapan, dan dasar dari kehidupan. Firman Tuhan berkuasa menghidupkan manusia, karena Firman Tuhan membangun iman, dan di atas dasar iman itu manusia benar-benar hidup.

Berita Injil bisa disalah-gunakan menjadi informasi yang menyenangkan. Berita Injil menjadi dorongan psikologis seorang motivator untuk mengejar impian. Berita Injil menjadi obat penenang bagi orang kesakitan, kesukaran dan penderitaan kehidupan. Nabi Yeremia mengecam penyalahgunaan Firman Tuhan ini.  Berita Injil “palsu” tidak datang dari Tuhan tapi dari lamunan, mimpi, atau reka-rekaan nabi palsu. Firman palsu ini tidak berkuasa mengembalikan orang dari kejahatan kepada kebaikan (Yer 23:28).

Berita Injil adalah Firman Tuhan yang benar. Oleh sebab itu, Ia berkuasa seperti api yang membakar setiap hati, memurnikannya, menghangatkannya dan menyalakannya. Ia seperti palu yang menghancurkan kekerasan hati setiap orang (ay 29, Luk 12:49).

Berita Injil membentuk manusia menjadi ber-iman kepada Kristus. Dengan iman ini, manusia menjadi penuh kuasa dari Allah, yang merobohkan tembok-tembok yang kokoh (Ibr 11:30). Dengan iman, orang percaya menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan, dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing (ay 33).  Mereka juga mampu menghadapi penderitaan dahysat dan berkorban (ay 35-40). Sekarang mereka menjadi saksi bagai awan yang melingkupi kita, dan menyaksikan buah yang indah dari penderitaan mereka.

Kita berlomba dalam iman dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa kita kepada kesempurnaan. Kristus menjadi teladan yang sudah mengabaikan kehinaan dengan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia.

Sekarang Ia duduk di sebelah kanan tahta Allah. Kita sedang menjalankan perlombaan iman. Oleh sebab itu hati kita tidak lagi melekat pada hal-hal dunia, bahkan ikatan-ikatan manusia, melainkan kepada Kristus.  Tidak berarti kita menjauhi keluarga kita atau orang lain. Karena Firman Allah memberikan keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, membela orang sengsara dan orang kekurangan. (Mazmur 82 ay 4). Melalui kita, Firman Allah meluputkan orang yang lemah dan yang miskin, melepaskan mereka dari orang fasik.

Jadi Berita Injil bukan sekedar informasi yang menyenangkan hati atau memuaskan rasa ingin tahu kita. Berita Injil membakar kita, dan mengubah kita dari manusia yang hanya pintar menilai hal-hal dunia, menjadi manusia yang hidup dalam iman kepada Kristus. Ia seperti lidah api yang mentransformasi pikiran, perkataan, dan perbuatan manusia menjadi manusia sorgawi yang hidup dalam hadirat, sidang, dan musyawarah dengan Allah.   AL

     

Minggu - 11 Agustus 2019
“ IMAN MENGENYAHKAN KETAKUTAN "
Kej. 15:1-6; Maz. 33:12-22; Ibr. 11:1-3, 8-16; Luk. 12:32-40

Saat ini kebutuhan manusia untuk bekerja tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan hidup yaitu sandang pangan. Sudah banyak kebutuhan sekunder (tambahan) yang naik kelas menjadi kebutuhan utama sehingga kita berlomba-lomba untuk mendapatkan penghasilan sebanyak-banyaknya. Kita pun seringkali terjebak mendapatkan penghasilan lebih karena kita menjadi takut miskin, ingin gengsi, ingin hidup kaya, berpikir hanya ingin banyak duit dan selalu membuat target hidup. Bahayanya ketakutan dan kecemasan berlebih ini bisa mengarahkan seseorang menjadi tamak dan serakah.

Salah satu pesan Yesus pada para PengikutNya agar jangan terjebak dengan pola hidup di atas melalui bekerja keras dan waspada. Dalam sabdaNya Ia berpesan,”Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu kerajaan itu karena dimana hartamu berada, disitulah juga hatimu berada (Lukas 12:32,34).

Nasihat ini diberikan oleh Yesus karena para murid hidup dalam suasana ketakutan. Ketakutan akan kebutuhan sehari-hari menjadi penyebab ketakutan para murid. Untuk mengubah rasa takut menjadi berani, Yesus mengingatkan bahwa Bapa berkenan memberikan penyertaan. Karena hidupnya disertai Bapa, para murid diminta menjual segala miliknya dan membagikan sedekah. Hal ini sangat aneh apalagi jika dibandingkan dengan situasi zaman sekarang. Dalam kecemasan karena takut kekurangan kok malah diminta menjual hartanya dan memberikan sedekah. Memang begitulah radikalnya Yesus.

Para murid di ajar untuk mengumpulkan harta yang tidak akan habis, yang tidak bisa dicuri, tidak akan rusak oleh ngengat. “Karena dimana hartamu berada, disitu hatimu berada”. Dua hal, harta dan hati dihubungkan dengan kata kerja yang sama. Jika yang dikumpulkan adalah harta dunia maka hatinya akan terfokus pada dunia ini, pada hal-hal yang dianggap dapat menjamin hidup sehari-hari. Sebaliknya, jika yang dikumpulkan adalah harta surgawi, hatinya terarah pada kerajaan Allah sekalipun hidupnya masih di bumi ini.

Jika demikian bagaimana perintah Yesus ini bisa kita kerjakan? Pertama, supaya ada yang melakukan suatu kesaksian bahwa hal itu hanya mungkin dengan bantuan rahmat Tuhan. Kedua, supaya semua umat Allah selalu ingat bahwa mereka harus mengumpulkan harta surgawi (Lukas 15:33-34). Di mata Yesus, ketakutan, kekhawatiran terhadap kekayaan dan kenikmatan hidup menjadi penghalang untuk menghasilkan buah-buah firman Tuhan. Pesan ini penting bagi pengikut Yesus, agar tidak terjatuh pada keinginan-keinginan seperti harta, kekuasaan, dan politisasi yang berpotensi merusak hidup. Pengikut Yesus harus bergantung pada Allah di kerajaan-Nya. Hendaklah kita senantiasa memiliki pengharapan hidup dalam kehendak Allah. Sehingga kesaksian hidup kita menunjukkan bahwa ketakutan menghadapi hidup dienyahkan melalui hidup beriman pada Tuhan.
Yuliana

 

Minggu - 4 Agustus 2019
“ BERBAGI ADALAH BERKAT "
Pengkhotbah 1:2, 12-14, 2:18-23; Mazmur 49:2-13; Kolose 3:1-11; Lukas 12:13-21

Berhati-hatilah terhadap ketamakan, demikian setidaknya yang kita dapat tangkap dari pesan Yesus kepada seseorang yang mengadukan saudaranya mengenai pembagian harta warisan. Waspada terhadap hati yang tamak akan kekayaan menjadi berita injil hari ini. Persoalan perebutan warisan itu memperlihatkan terkikisnya kasih persaudaraan di antara mereka.

Yesus mengingatkan bahwa kekayaan itu tidak sekedar dapat membuat orang iri hati, tetapi melalui perumpamaan orang kaya yang mendirikan lumbung untuk menyimpan gandum dan barang-barangnya, kekayaan itu justru dapat memperbudak manusia. Orang kaya itu berharap bahwa dengan simpanan kekayaannya hidupnya akan nyaman. Ia sudah berlelah-lelah mengumpulkan harta kekayaan seperti seorang yang diperbudak oleh kekayaan. Namun, semuanya segera sirna dan ia tidak dapat menikmatinya, sebab malam itu juga ia mati.

Yesus menutup perumpamaan itu dengan kesimpulan; “Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau tidak kaya di hadapan Allah” (ay.21). Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan “kaya di hadapan Allah”? Melalui kalimat kesimpulan Yesus dan dengan pembalikan pemahaman  tersebut, maka setidaknya kaya di hadapan Allah adalah orang yang mengumpulkan harta tidak untuk dirinya sendiri tetapi dibagikan untuk yang lain. Atau dalam kalimat sederhana, kaya di hadapan Allah adalah orang-orang yang mau berbagi. Sehingga berbagi itu sendiri merupakan berkat dan anugerah, karena kita dimampukan untuk melakukannya dalam segala yang ada.

Kekayaan itu sendiri adalah berkat dari Tuhan. Dan kita diminta untuk berkarya bagi kemuliaan nama Tuhan melalui berkat yang senantiasa Tuhan curahkan. Jadi fokus mereka yang menghayati berkat Tuhan adalah hidup dengan berbagi sebanyak-banyaknya anugerah dari Tuhan baik jasmani maupun rohani kepada siapapun. Hidup yang tergerak oleh belas kasihan, seperti yang Yesus lakukan menjadi dasar untuk berbagi.

Hal ini yang disebut oleh Paulus dengan kalimat “memikirkan perkara yang di atas, bukan perkara yang di bumi (Kol. 3:2). Begitupun dalam kitab Pengkotbah yang memberitakan bahwa fokus pada apa yang ditimbun di bumi adalah kesia-siaan dan kita diingatkan untuk berfokus pada Tuhan.

Melalui Injil hari ini, Yesus mengingatkan bahwa kekayaan itu dapat membelenggu dan memperbudak manusia, dapat menimbulkan iri hati, dan dapat menimbulkan kekuatiran. Sehingga kekayaan menjadi berhala, yang membuat cinta kasih dan hormat kita kepada Tuhan menjadi pudar. Waspadalah! Waspadalah! Waspadalah!
dstheol

     

Minggu - 28 Juli 2019
“ DOA MENGUBAH SEGALA SESUATU "
Kej. 18:20-32; Maz. 138; Kol. 2:6-19; Luk. 11:1-13

 

Saat keadaan sekelilingku
Ada di luar kemampuanku
Ku berdiam diri mencari-Mu
Doa mengubah segala sesuatu

Saat kenyataan di depanku
Mengecewakan perasaanku
Ku menutup mata memandang-Mu
Sebab doa mengubah segala sesuatu

Syair lagu tersebut rasa-rasanya tak asing lagi dipendengaran kita semua, ya sebuah lagu yang berjudul: “Doa Mengubah Segala Sesuatu”. Lagu ini hendak mengingatkan bahwa, dalam kesesakan dan keadaan yang mengecewakan, ada Tuhan yang senantiasa berada di sisi kita dan memandang kita, Tuhan yang tak berada jauh dengan kita. Di dalam doa, kita bertemu di hadirat Tuhan, kita berdialog dengan-Nya. Tuhan yang menjadi sumber kekuatan dan pengharapan bagi setiap orang yang berseru-seru kepada-Nya (Maz. 138:2-3).

Injil Lukas menampilkan sebuah doa yang diajarkan Tuhan Yesus, yakni Doa Bapa Kami. Doa Bapa Kami dalam versi yang lain. Sungguh bersyukur kita bisa memanggil dengan sebutan “Bapa”, menandakan bahwa kitalah anak-anakNya yang dikasihi. Bapa kita di Surga, penuh dengan welas asih. Ketika anak meminta ikan kepada Bapa, tidak mungkin Bapa akan memberikan ular sebagai ganti ikan, atau ketika anak meminta telur, tidak mungkin Bapa akan memberikan kalajengking. Hal ini menandakan bahwa kasih Bapa tidak akan pernah mencelakakan anak-anakNya, tidak ada rancangan jahat yang diberikan oleh Bapa kepada anak-anak yang dikasihinya.

Bapa selalu memberi yang terbaik kepada anak-anakNya. Kadangkala apa yang menjadi doa permohonan kita, kenyataannya tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Lalu, apa yang di ubah dalam doa tersebut? Yang diubah adalah cara kita memandang. Kita di ubah untuk memandang menggunakan kacamata Allah, melihat sisi baik dari apa yang Allah berikan, itulah yang terbaik, meskipun kadang tak sesuai dengan kehendak yang kita harapkan.

Bapa yang di sorga akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang dalam doa meminta kepada-Nya (Luk. 11:13). Mengapa Roh Kudus? Karena Roh Kudus yang membuat doa kita mengubah segala sesuatu, terutama diri kita, untuk menjadi semakin berkenan di hadapan Allah serta mendatangkan berkat bagi kehidupan. Doa bukanlah sebuah mantra yang semuanya mutlak harus sesuai dengan kehendak kita, namun doa dan bimbingan Roh Kudus akan: menguatkan kita untuk menerima apapun kehendak Allah yang terjadi dan setia menjalaninya, melembutkan hati kita untuk menyerahkan sepenuhnya kehidupan kita dalam rencana Allah, dan “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga”. Kiranya Roh Kudus yang terus menguatkan, membimbing, dan menunjukkan jalan kepada kita untuk selalu berziarah dalam kehendak Tuhan. Amin.
EPK

 

Minggu - 21 Juli 2019
“ KERAMAHTAMAHAN SEBAGAI NILAI HIDUP "
Kej. 18: 1-10; Maz. 15; Kol. 1:15-28; Luk. 10:38-42

Keramah-tamahan atau hospitality, merupakan karakter Allah. Bukankah manusia diciptakan seturut gambar Allah. Keramah-tamahan ada dalam diri setiap manusia. Kehidupan “jaman now” yang mengedepankan individualistis egoistis, akibat  suasana persaingan yang ketat mulai dari dalam keluarga yang punya banyak anak jika ada perlakuan berbeda dari orang tua terhadap anak-anaknya, persaingan di sekolah, pekerjaan dan kehidupan sehari-hari memudarkan karakter keramah-tamahan manusia.
Apakah keramah-tamahan atau hospitality itu ? Keramah-tamahan adalah kemampuan memberi ruang bagi orang lain; kepedulian, waktu, penerimaan, perhatian, materi, memikirkan kepentingan orang lain. Itu berarti kita siap memberikan sebagian dari hidup kita buat orang lain.
Dalam bacaan minggu ini kita melihat apa yang dilakukan oleh Abraham, Paulus maupun Maria dan Marta dalam menyambut orang lain dalam keramah-tamahan Alkitab mengatakan bahwa keramah-tamahan yang disebut “kelemah lembutan” adalah buah roh.
Galatia 5:22-23 (TB) Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Budaya keramah-tamahan hidup sejak dahulu dengan tradisi yang berbeda-beda. Seperti di desa-desa di Jawa di depan rumah selalu tersedia kendi air buat orang asing yang haus ketika melakukan perjalanan melewati desa. Ini pengalaman saya ketika menjadi pramuka dalam perjalanan berkemah melewati kampung-kampung selalu tersedia air minum dalam kendi di muka rumah, dan siapa saja yang membutuhkan boleh mengambil. Di rumah kami meja makan selalu ada makanan yang tersaji, meskipun kami sudah makan, makanan tidak diberesin. Makanan tersaji dengan tutup “tudung saji” itu arti sebenarnya. Jika ada tamu datang yang belum makan dipersilahkan untuk makan. Meja makan yang tidak ada makanannya bukanlah  “meja makan”, tetapi “meja untuk makan”. Istilah “tudung saji” dan “meja makan” adalah sebagian budaya keramahan.

Jaman globalisasi membuat keramah-tamahan menjadi langka, bahkan kita harus membeli keramahan di Hospitality Hotel, Hospitality Restaurant bahkan di Rumah Sakit yang sudah seharusnya ada, dengan perbedaan kelas layanan. Kita bisa ramah-tamah kepada orang-orang yang berkenan saja, pejabat, boss kita, sahabat, bukan pada orang asing, apalagi orang yang bermasalah dengan kita. Ini keramah-tamahan sekedar norma budaya.

Matius 11:28-29 (TB)  Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

Kelemah lembutan Kristus menerima siapa saja, termasuk orang-orang yang bermasalah, letih, lesu dan berbeban berat. Inilah keramah-tamahan buah roh, yang seharusnya hidup dalam setiap pengikut Kristus.
Kiranya Allah Roh Kudus mencerahi hati kita supaya karunia kelemahlembutan yang sudah ada dalam diri kita muncul bersinar sebagai tanda bahwa kita adalah pengikut Kristus. Segala Puji dan Kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus Kristus. Amin.
Ti

     

Minggu - 14 Juli 2019
“ BELAS KASIHAN BUKAN MENGABAIKAN "
Ul. 30:9-14; Maz. 25:1-10; Kol. 1:1-14; Luk. 10:25-37

Kisah orang Samaria yang baik hati yang diceriterakan dalam Injil Lukas 10:25-37 mengingatkan kita tentang bagaimana manusia yang mengasihi Allah semestinya dinyatakan dalam tindakan nyata bagi sesama. Cerita ini diangkat oleh Yesus untuk mengkritisi praktek kehidupan umat beragama yang pada waktu itu hanya menitik beratkan pada ritualitas dan legalitas hukum agama; dipihak lain mengabaikan etika praktis, yaitu menelantarkan kaum termarjinal. Para ahli Taurat, para imam dan orang-orang Israel yang diposisikan sebagai orang-orang yang beragama, mengerti Tuhan, dan rajin melakukan ritual agama, ketika dihadapkan pada situasi dimana mereka harus menolong orang yang mendapat musibah (rampok) dan hampir mati; mereka tidak melakukan apa-apa, dan mereka menghindari si korban. Menurut Yesus Kristus seharusnya para ahli Taurat, para imam dan umat Israel yang menolong korban tersebut, bukan mengabaikan si korban. Mereka memandang bahwa dengan rajin melaksanakan ritual agama sudah cukup sebagai bentuk cinta kasihnya kepada Tuhan, dan sudah layak untuk mendapatkan hidup yang kekal. Menurut Tuhan Yesus kehidupan beragama seperti itu tidaklah benar. Bentuk kritikan yang Yesus sampaikan dalam ceritera ini adalah malah orang Samaria, orang yang dipandang tidak mengenal dan mengerti tentang Tuhan dan hukum Tuhan, justru dialah yang menunjukkan rasa kepeduliannya kepada si korban. Kepedulian yang ia tunjukkan begitu luar biasa, disamping ia membawa si korban untuk mendapatkan perawatan, ia juga memberikan jaminan biaya selama perawatan itu.

Cerita orang Samaria ini masih sangat relevan dalam konteks kehidupan umat beragama masa kini, khususnya dalam konteks masyarakat Indonesia.  Kehidupan umat beragama di Indonesia begitu semarak, disana-sini kita menjumpai tempat-tempat ibadah dari yang super megah sampai kepada yang kecil dan sederhana.

Kegiatan-kegiatan ritual agama juga begitu semarak. Setiap kegiatan-kegiatan baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta selalu diawali dengan ritual agama, minimal dibacakan ayat-ayat Alkitab dan doa.

Namun, ketika kembali kepada kehidupan nyata, begitu banyak kita menjumpai praktek kehidupan yang tidak selaras dengan ritual dan ajaran agama itu sendiri.

Tiga pondasi penting dari sebuah agama adalah, Mitos/ajaran, Ritual ibadah dan Etika/ praktek dari Mitos dan ritual.  Dapat saya simpulkan bahwa kehidupan agama kita lebih banyak pada mitos/ pemahaman/ ajaran dan ritus, sedangkan etika seringkali diabaikan.

Ajaran agama, ritual agama dan etika agama adalah satu kesatuan yang tidak biasa dipisahkan satu dengan yang lain. Ajaran dan ritual agama tanpa etika praktis bukanlah agama. Jika kehidupan keagamaan kita hanya sebatas ritual dan pemahaman ajaran agama dan tanpa perbuatan baik dan benar, maka kata Yakobus sia-sialah iman kita. Kiranya melalui perenungan ini menjadi koreksi dan petuah bagi kita semua, sehingga kehidupan keagamaan kita semakin baik dan berkualitas. Tuhan memberkati.
Rnd

 

Minggu - 7 Juli 2019
“ DILATIH UNTUK MELATIH "
Yesaya 66:10-14; Mazmur 65:1-9; Galatia 6:1-16; Lukas 10:1-11, 16-20

Pemain hebat, belum tentu akan menjadi pelatih yang sukses.  Karena untuk melatih memerlukan karakter (sifat sedia berbagi, dan mengenal apa yang sangat diperlukan / yang terutama untuk sukses bersama (berhasil hidup dalam kasih).

Dalam pelayanan yang Yesus lakukan, Yesus mempersiapkan murid-muridNya (melatih) untuk melihat, mengalami karya Yesus dan pada gilirannya kelak murid-murid akan memberitakan Kristus. Yesus memberikan apa yang paling diperlukan yang dilatih-Nya. Jika pada Lukas 9, murid-murid mulai dilatih dengan diutus untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang, maka pada Lukas 10 kehadiran murid dengan berdua-dua untuk menjadi pekerja. Apa yang dikerjakan 12 murid sebelumnya dituntaskan oleh 70 murid berikutnya sebagai pekerja yang bertugas menuai. Pekerja yang dimaksud memiliki karakter anak domba (salah satunya : sabar - Yesaya 53:7).

Murid-murid diminta sabar untuk menghadapi orang-orang yang akan dijumpai – yang digambarkan sebagai srigala (karakter yang diperlukan : selain sabar, juga teguh dalam iman – Galatia 6:1).  
Saat dilatih : mereka berdua-dua, agar saling menguatkan satu sama lain. Mereka dilatih dengan dilarang membawa bekal, uang, baju pun hanya selembar. Bahkan tongkat untuk pertahanan diri pun tidak boleh di bawa. Para murid diminta untuk mengandalkan Tuhan, bahwa Tuhan akan memperlengkapi mereka.

Yesus tidak hanya sekedar mengajar, Ia juga menghidupi dengan apa yang Dia ajarkan kepada muridNya dengan melakukannya / memberikan teladan, dan para murid-Nya pun diminta melakukan hal yang sama. Bahkan Yesus berani melepas murid-murid untuk mendahului-Nya, ke tempat atau ke kota yang akan Yesus kunjungi.

Firman Tuhan hari ini mengajarkan pada kita agar kita hidup bukan hanya sebagai orang yang piawai menggunakan / menghafal ayat-ayat alkitab. Firman Tuhan mengingatkan kita untuk :
-      hidup : sebagai orang yang terlatih menggunakan dan menerapkan Firman Tuhan dalam hidup yang terus berkarya,
-      sebagai utusan yang menginspirasi sesama untuk hidup dalam kebenaran, 
-      merenungkan : sudahkah kita menjadi pekerja Kristus yang yakin bahwa pada kita hasil “didikan Kristus yang melekat”
-      hidup bukan hanya sebagai “pemain hebat” tetapi juga “pelatih” yang senantiasa sedia berbagi demi sukses bersama yakni berhasil menginspirasi sesama untuk hidup dalam kasih dan perdamaian dunia.

Kiranya hidup setiap kita sekalipun semakin banyak menghadapi masalah, semakin sedia menerimanya. Kita menerimanya sebagai cara Allah melatih kita untuk bertumbuh dalam iman, dan di kesempatan berikutnya, melalui sedia dilatih Tuhan kita menjadi berkat bagi sesama, untuk turut memberi teladan. Keteladanan adalah cara kita ikut Yesus dalam menghidupi apa yang Yesus ajarkan pada kita.  Amin  PKM

     

Minggu - 23 Juni 2019
“ MENJANGKAU YANG TAK TERJANGKAU "
Yes. 65:1-9; Maz. 22:20-29; Gal. 3:23-29; Luk. 8:26-39

Jika ada niat hati, maka sesuatu yang di luar jangkauan kita, suatu saat dapat di raih, karena selalu ada alat yang lebih panjang untuk menjangkaunya. Jarak antar manusia menjadi jauh bila tidak ada hati untuk mengasihi. Adakah hati ? Tak ada hati, dekat pun, tak terjangkau.  Contoh : nonton bioskop, naik bus kota berdesakan, bersentuhan, tetapi mereka tidak saling kenal.
Manusia sering tak terhubung karena : terkendala oleh  karena sesamanya dipandang  hina, merugikan, tak bisa diajak bicara, hidup semaunya sendiri.  Bagaimana dengan perintah agar “mengasihi sesama seperti dirinya sendiri”, jika dalam sehari-hari saling merasa punya alasan untuk hidup jauh satu dengan yang lain. Akan kita biarkankah orang-orang yang karena keadaan : kelemahan, kekurangan  dijauhi sesamanya ? Melalui Firman Tuhan hari ini :

1. Allah yang kita tinggikan adalah Allah yang memiliki lengan kasih yang menjangkau setiap orang sejauh apapun
Juga kepada mereka telah  “jauh meninggalkan Tuhan”.  Firman Tuhan :  “Allah tetap sedia memberi petunjuk, pada orang yang tidak memerlukanNya, yang tidak pernah menanyakan diri-Nya” (Yes 65 :1). Manusia yang telah berdosa, telah jauh dari Tuhan. Lebih jauh lagi yang tidak memerlukan Tuhan. Namun Allah memiliki lengan kasih yang senantiasa menjangkau mereka yang jauh sekali hidupnya dari Tuhan, agar dekat kembali. Umat Tuhan perlu memiliki “lengan kasih” agar mampu menjangkau  mereka yang jauh sekalipun, hingga bisa hidup bersama walau memiliki banyak perbedaan satu dengan yang lain. Betapa indah dunia ini (sekeliling hidup kita) bila beda status sosial, beda status pendidikan, dll tidak menghalangi hidup bersama, dan berdiam dengan rukun dan damai.

2. Dalam iman dan kasih :  Tuhan sudah menjangkau kita lebih dahulu
Tuhan Yesus memanggil setiap mereka yang telah menjadi dekat agar mereka menjadi saksi dalam kasih. Seperti yang terjadi  dalam peristiwa Yesus di Gerasa. Jelas sekali tidak ada seorang pun yang tergerak untuk “berurusan” dengan orang yang kerasukan setan, tidak berpakaian, tinggal di kuburan, di rantai (membahayakan). Namun Yesus mengasihinya.

Ia mulai dengan memerintahkan roh keluar, dan mengembalikan nya menjadi sehat, dan diberikan pakaian. Terang saja orang yang telah di pulihkan ini ingin mengabdi, iktu Yesus. Yesus mengutusnya agar juga menjadi alat untuk menjangkau sesamanya yang hidup jauh dari sesamanya. Demikianlah kita yang jauh dari Tuhan karena dosa dan segala kelemahannya, telah menjadi dekat karena kasih Kristus, telah di utus agar menjangkau setiap orang yang jauh dari sesamanya . “Pulanglah ke rumahmu dan ceritakanlah segala sesuatu yang telah di perbuat Allah atasmu” (Lukas 8:39).

3. Hidup yang menerapkan lengan kasih
Jadilah lengan kasih dalam sesehari hidupmu. Sebagaimana jemaat mula-mula di jemaat Galatia, agar Iman datang mengubah semua. Sekarang : anak-anak Allah karena iman dalam Kristus,  Dibaptis = mengenakan Kristus; Semua satu dalam Kristus, tak ada lagi Yahudi – Yunani,  perempuan – lakil laki; hamba – orang merdeka. (Galatia 3:28).
Jika milik Kristus = keturunan Abraham tanpa terkecuali = keturunan bapa  orang beriman – semua berhak terima janji Allah secara sama.

Kiranya Firman Tuhan boleh memotivasi kita bersama untuk saling mendekat, saling mengampuni, saling merekatkan. Kiranya kita terbuka di pimpin Roh Kudus semakin mampu menjadi “lengan kasih Allah”, yang semakin dapat “menjangkau yang tak terjangkau”. Amin. PKM

 

Minggu - 16 Juni 2019
“ BERSAHABAT DAN PARTISIPATIF DALAM CINTA KASIH "
Ayub 1:1-5; Maz. 128; Rom. 5:1-5; Yoh. 16:12-15

Doktrin Trinitas berusaha untuk lebih menerangkan misteri keberadaan Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Meski demikian keberadaan misteri tetap penuh dengan teka-teki yang tak cukup diterangkan dengan kalimat-kalimat, tetapi harus dihidupi melalui penghayatan iman dalam laku seharian. Doktrin (docere: mengajar) sendiri merupakan langkah pembelajaran awal untuk mengajak umat menghayati misteri itu dalam hidupnya.
Memahami Allah Tritunggal bukanlah perkara mudah. Allah Tritunggal menjadi misteri sejak awla gereja hidup, bahkan lebih jauh dari itu, sejak adanya kehidupan manusia. Dalam perjalanan panjang gereja, upaya mengajar tentang Allah Tritinggal telah dilakukan dengan beragam konstruksi teologi.  

  • Tertulianus menerangkan bahwa Allah adalah satu substansi tetapi tiga kepribadian (una substansi tres personae). Tertulianus memisahkan Allah bekerja dalam tiga periode, Bapa dalam Perjanjian Lama, Kristus dalam Perjanjian Baru sampai Pentakosta, dan Roh Kudus sesudahnya.
  • Origenes meyakini bahwa Allah itu satu. Namun ia menyatakan Roh Kudus lahir dari Kristus dan Kristus lahir dari Bapa. Terdapat subordinasi dengan tingkatan bahwa Bapa posisi tertinggi, Yesus posisi kedua, dan Roh Kudus posisi ketiga.
  • Sabellius memikirkan tentang modalisme. Allah adalah satu tetapi Ia menampakkan diri dalam bentuk Bapa, Anak dan Roh Kudus. Sabellius menolak adanya tiga oknum.
  • Arius mengakui tiga oknum Allah. Namun yang kekal adalah Bapa. Pendapatnya juga subordinatif seperti origenes.
  • Athanasius menyebut bahwa Allah esa dalam ke-Allah-an tetapi merupakan tiga pribadi. Keesaan Allah tidak terlepas dari ketiga-Nya dan ketigaan-Nya tidak lepas dari keesaan-Nya.
  • Agustinus memiliki pemahaman Allah itu satu esensi dengan tiga pribadi. Allah berkarya dalam harmoni. Ketiga pribadi itu setara dan penuh kasih.

Akhir-akhir ini kita sedang menggumuli Allah Tritunggal dalam kontruksi perikoresis. Tiga pribadi yang menyatu dan terikat dalam sebuah tarian indah bersama.  

Ketiga pribadi itu berelasi dengan saling memberi ruang. Allah di dalam Yesus dan Yesus di dalam Allah. Roh Kudus dalam Yesus dan Yesus dalam Rog Kudus. Allah dalam Roh Kudus dan Roh Kudus dalam Allah.
Memahami ketiga-Nya berarti memahami relasi Mereka. Dalam diri Yesus kita mengenal Bapa dan Roh Kudus. Dalam Kristus manusia mampu memahami kasih Allah pada ciptaan-Nya. Melalui Yesus, Roh Kudus lebih dipahami peran-Nya. Mereka berelasi dengan saling melengkapi. Mereka pun saling mengasihi satu kepada yang lain.
Dalam tarian ini, Allah setara, tidak subordinatif. Mereka sederajat. Mereka saling terikat akrab dalam kasih, saling memberu ruang tetapi juga saling merasuk. Dalam kesetaraan, partisipasi masing-masing Pribadi menjadi sangat vital. Persahabatan dan keterikatan yang partisipatif. Mereka bersahabat dalam kasih, anti superiortas, mutualistik, dan dinamis.
Kali ini, biarlah dalam memahami Allah Tritunggal, mari kita menghayati dan menghidupi iklim persahabatan yang partisipatif dalam hidup bersama. Setiap umat GKI memahami dirinya menjadi bagian dari karya Allah, bagian dari kehidupan bersama untuk bersedia bersahabat dengan ciptaan Allah lain dan partisipatif dalam cinta kasih.
DP

     

Minggu - 9 Juni 2019
“ ROH KUDUS MEMBERI HIDUP BARU KEPADA BUMI "
Kisah Rasul 2:1-21; Maz. 104:24-35; Roma 8:14-17; Yoh. 14:8-17, 25-27

Hari raya Pentakosta bagi Gereja merupakan hari raya yang memiliki tiga rangkap makna, yakni :

  1. Pengucapan syukur tahunan. Pemaknaan yang seperti ini merupakan kelanjutan dari hari raya Yahudi, yakni pesta panen gandum di mana umat membawa buah/hasil panen sulung untuk dipersembahkan kepada Allah (lih. Kel. 34:22; Im. 23:15-22; Bil. 28:26-31; Ul. 16:9-17).
  2. Hari pencurahan Roh Kudus (Kis. 2:1-11).
  3. Hari lahir Gereja, sebab di hari Pentakosta, Gereja mula-mula di Yerusalem terbentuk (Kis. 2:41-47).

Pada umumnya, penekanan peringatan Pentakosta lebih diarahkan ke pencurahan Roh Kudus, sementara umat meresponsnya dengan menyampaikan persembahan syukur tahunannya kepada Gereja. Seolah-olah kedua hal tersebut (pengucapan syukur tahunan atas hasil bumi yang didapat dan pencurahan Roh Kudus) merupakan dua hal yang terlepas satu sama lainnya. Dalam rancangan khotbah hari ini, umat akan belajar bahwa sesungguhnya ada keterkaitan antara pengucapan syukur tahunan yang umat bawa dengan karya Roh Kudus dalam kehidupan umat.

Di sisi lain, konteks kehidupan umat di Indonesia saat ini terus berhadapan dengan masalah kerusakan lingkungan hidup dan ketidakadilan ekologis. Korporasi besar yang memegang hak tertentu, bisa mengonversi hutan menjadi perkebunan (entah kelapa sawit atau lainnya). Dibalik tindakan konversi tersebut ada perubahan ekosistem yang menimbulkan persoalan sosial, tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi makhluk hidup lain yang ada di dalamnya. Kota besar pun tak luput dari masalah, seperti : polusi, kemacetan, banjir, dan lain sebagainya. Ditengah-tengah kondisi yang seperti itu, umat hidup dan bergereja. Lalu apa kena-mengena pengajaran Alkitab dalam konteks yang demikian? Peringatan dan pemaknaan akan Pentakosta ternyata relevan dan berkontribusi positif guna menjawab pergumulan hidup umat.
DP

 

Minggu - 2 Juni 2019
“ KESATUAN YANG SEMPURNA "
Kisah Rasul 16:16-34; Maz. 97; Wahyu 22:12-21; Yoh. 17:20-26

Minggu ini adalah minggu terakhir dari rangkaian Masa Raya Paska. Minggu depan, adalah hari Pentakosta, hari lahir gereja dimana gereja dilengkapai dan diutus ke dalam dunia. Minggu ini, bacaan Injil berbicara tentang kesatuan yang ada diantara orang-orang percaya sebagai bagian dari doa Yesus. Kesatuan itu bukan kesatuan emosional atau romantisme, melainkan kesatuan dalam relasi yang kuat dan terjaga. Kesatuan ini adalah kesatuan yang saling memelihara dalam kehidupan bersama. Kesatuan orang-orang percaya bukan berarti membuat adanya penyeragaman, apakah dalam hal organisasi, struktur, sistem, kegiatan, ataupun corak kebaktian. Kesatuan orang-orang percaya terjadi dalam ikatan yang saling mendukung dan menguatkan dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan bergereja. Orang-orang percaya, apapun sistem atau corak spiritualitasnya, adalah bagian dari gereja yang berakar pada sejarah gereja mula-mula yang sama. Karenanya, kesatuan orang-orang percaya menjadi penting dalam memperkenalkan kehadiran Allah kepada dunia.
Pada saat ini, ada begitu banyak aliran dan denominasi gereja yang berbeda di Indonesia, apalagi di dunia. Aliran dan denominasi gereja yang berbeda-beda itu saling menyatakan diri berdasar kepada Yesus Kristus, dengan berbagai pendekatan, corak, dan pengakuan yang beragam. Kehidupan gereja yang berbeda-beda ini harus tetap berada dalam sebuah semangat ekumene, saling mendukung dan menumbuhkan. Sayangnya, terkadang sikap persaingan yang tak sehat terjadi antar gereja, bahkan saling menyingkirkan dan menjegal. Alasanya bermacam-macam, karena tidak seazaskah, tidak menjaga anggota PGI kah, dan lain sebagainya. Inilah tembok-tembok besar dan tinggi ini yang sering dibangun dan dijadikan alasan untuk tidak mau bekerjasama dalam bentuk pelayanan apapun karena perbedaan itu.

Doa Yesus menjadi sangat penting untuk kita perhatikan dan  kita renungkan dalam mingu ini, bahwa kuasa dan iman pada Yesus Kristus melewati batas-batas tembok perbedaan antar gereja dan persekutuan orang-orang percaya.

Minggu ini, kita diingatkan untuk menjaga relasi yang ada sehingga mampu memperkenalkan kasih Allah kepada dunia dengan lebih tepat. Dengan adanya semangat berelasi, maka gereja dapat menguatkan diri menghadapai berbagai tantangan yang ada.

Ketika kita mampu membangun kesatuan sebagai tubuh Kristus, maka dampaknya adalah dunia mengetahui dan mengenal bahwa kita adalah umat Allah. Oleh pertolongan kuasa Roh Kudus kita dimampukan untuk mewujudkan kesatuan yang sempurna. Tuhan memberkati. Amin.
RDL

     

Minggu - 26 Mei 2019
“ TETAP PERCAYA DAN BERSYUKUR DI TENGAH MASALAH KEHIDUPAN "
Kisah Para Rasul 16:9-15; Maz. 67; Wahyu 21:10,22–22:5; Yoh. 14:23-29

Pasang dan surut, turun dan naik, mulus dan berliku-liku, kurang lebih seperti itulah gambaran kehidupan yang saat ini kita jalani. Segala sesuatu ada waktunya, ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa, ada waktu untuk meratap, dan ada waktu untuk menari bersorak-sorai (lih. Pengkhotbah 3). Satu hal yang perlu kita ingat, bahwa dalam keadaan apapun Tuhan tak pernah meninggalkan kita. Ia selalu berjalan bersama dengan kita, bahkan menggendong ketika kita jatuh dan tak berdaya. Tuhan selalu hidup dalam diri kita, dan Ia pun menjanjikan akan memenuhi kita dengan Roh Kudus.
Janji Tuhan Yesus yang akan memberikan Penolong dan Penghibur, dinyatakan Yesus dalam bacaan Injil kita hari ini. Perikop ini merupakan bagian dari rangkaian ucapan perpisahan Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum Ia ditangkap dan disalibkan. Yesus secara fisik tidak akan bersama-sama dengan para murid-Nya lagi, murid-murid tak bisa melihat-Nya lagi. Meskipun begitu, Yesus berjanji tidak akan meninggalkan murid-murid-Nya sebagai yatim piatu. Yesus akan hidup dalam diri para murid dan mengutus seorang Penolong dan Penghibur yakni Roh Kudus. Melalui kehadiran Roh Kudus, murid-murid diteguhkan dan diberi karunia Allah sehingga mampu menaati segala fiman yang diajarkan oleh Yesus, dan Roh Kudus akan selalu menyertai kehidupan para murid. Damai sejahtera, Yesus berikan kepada para murid, dengan tujuan mereka tetap percaya, bersyukur, dan tidak gentar melanjutkan segala kehidupannya.
Dalam Kisah Para Rasul, Paulus dengan taat dan percaya mengikuti penglihatannya, Paulus percaya bahwa Allah telah memanggilnya untuk memberitakan Injil ke Filipi (kota pertama di Makedonia). Di sana Paulus bertemu dengan seorang perempuan bernama Lidia dan membaptis ia beserta seisi rumahnya. Sebagai seorang murid Yesus, Paulus tanpa ragu mengikuti apa yang menjadi perintah Allah dalam hidupnya.

Saat ini, kita pun diundang untuk mendengar suara Allah, serta percaya dan taat melakukan segala perintah-Nya sekalipun dalam himpitan masalah kehidupan. Kerikil-kerikil acapkali hadir dalam perjalanan hidup kita, ya kerikil-kerikil itu adalah tantangan, masalah, dan pergumulan hidup. Semua itu Tuhan izinkan hadir dalam hidup kita untuk menguji dan membentuk iman kita agar semakin bertumbuh kepada-Nya.
Tetaplah percaya dan bersyukur untuk masalah kehidupan yang boleh Tuhan izinkan hadir mewarnai kehidupan kita. Sama halnya Yesus menyertai dan hidup dalam diri para murid, percayalah saat ini pun Yesus menyertai dan hidup dalam diri kita masing-masing. “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab Tuhan, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Ulangan 31:6). Kuasa Yesus melalui karya Roh Kudus akan selalu memberikan kekuatan, pertolongan, dan penghiburan bagi umat yang percaya dan berpengharapan kepada-Nya. Amin.
EPK

 

Minggu - 19 Mei 2019
“ MENCINTAI TANPA BATAS "
Kisah Para Rasul 11:1-18; Mazmur 148; Wahyu 21:1-6; Yohanes 13:31-35

Cinta dan kasih !! Rasanya sudah tidak asing lagi kita mendengar kata-kata tersebut, bahkan sebagai seorang Kristen kita diajarkan untuk selalu menebarkan cinta dan kasih kepada sesama. Ajaran tentang kasih, sekali lagi kita temukan melalui perintah baru yang diucapkan oleh Yesus. Dalam bacaan Injil, Yesus memberikan sebuah perintah baru kepada murid-murid-Nya untuk saling mengasihi, sama seperti Yesus telah mengasihi mereka, maka mereka pun harus saling mengasihi satu dengan yang lainnya.   
Yesus memberikan perintah baru sesudah Yudas Iskariot pergi saat diadakan perjamuan makan terakhir. Sesungguhnya, Yesus sudah mengetahui bahwa Yudas akan mengkhianati diri-Nya, ketika Yudas kembali ia akan membawa para prajurit yang akan menangkap-Nya. Yesus pun telah mengetahui bahwa Simon Petrus akan menyangkal diri-Nya bahkan sampai tiga kali, meskipun Simon Petrus dengan teguh menyatakan bahwa ia akan tetap setia dan rela memberikan nyawanya untuk Yesus (Yoh. 13:37). Meskipun Yesus mengetahui peristiwa-peristiwa ini  akan terjadi, namun Ia terus menyatakan cinta kasih-Nya kepada murid-murid-Nya, terwujud melalui pembasuhan kaki yang dilakukan oleh Yesus. Yesus mencintai mereka tanpa syarat sekalipun akan ada murid yang menyerahkan nyawa-Nya dan menyangkal diri-Nya. Inilah cinta tanpa batas.

Yesus tidak lagi secara fisik akan berada disamping murid-murid-Nya, namun Yesus ingin agar cinta kasih menjadi landasan dalam mereka berelasi satu dengan yang lainnya. Melalui tindakan cinta dan kasih tanpa batas, murid-murid dapat saling menerima kerapuhan dan kegagalan mereka masing-masing tanpa jatuh pada sikap penghakiman dan saling menyalahkan. Melalui sikap ini, relasi murid-murid akan terus dikokohkan dan terjaga dengan baik.

Mencintai tanpa batas mengajarkan kita untuk tidak seperti timbangan, mengapa?
Karena timbangan selalu seimbang. Artinya ketika ada orang yang mengasihi saya, maka saya juga akan mengasihi dia. Namun, bila orang tersebut tidak mengasihi saya, maka saya juga tidak akan mengasihi dia. Jadinya, biar selalu seimbang.

Yesus menginginkan agar kita menunjukkan sebuah cinta kasih yang tanpa batas dan cinta tanpa syarat kepada sesama. Mencintai orang yang telah mengkhianati, melukai, dan membenci kita. Serta, mencintai orang yang berbeda agama, suku, dan ras dengan kita. Sebuah cinta kasih yang berlaku universal dan tidak boleh dikotak-kotakan. Dalam Kisah Para Rasul, Allah pun menyatakan bahwa kasih karunia dari-Nya berlaku untuk semua orang, dalam bacaan ini berlaku untuk Kornelius yang bukan berasal dari suku bangsa Yahudi. Allah tidak mengkotak-kotakan suku bangsa dan membuat tembok pemisah dalam menerapkan cinta dan kasihnya, Allah tidak membeda-bedakan. Inilah mencintai tanpa batas.

Marilah sebagai umat Tuhan, kita pun membagikan cinta kasih yang tanpa batas itu dalam kehidupan kita. Cinta yang besar memampukan kita bergerak menembus batas-batas pemisah, dan mengalirkan cinta kasih Tuhan kepada semua orang! Kiranya Tuhan Sang Cinta, yang memampukan kita semua. AminEPK

     

Minggu - 12 Mei 2019
“ MENGENAL YESUS DALAM SELEBRASI "
Kisah Para Rasul 9:36-43; Mazmur 23; Wahyu 7:9-17; Yohanes 10:22-30

Ritual Agama Kristen dipenuhi dengan rangkaian perayaan atau selebrasi. Perayaan utama Kristen adalah Ibadah Minggu, yang merupakan Perayaan Kemenangan oleh Kebangkitan Kristus yang diberitakan pada pagi di hari pertama atau Ahad/ Minggu. Perayaan Paska, Perayaan Pondok Daun, Perayaan Pentahbisan Bait Allah dan lain-lain merupakan perayaan Agama Yahudi yang sudah dilaksanakan 200 tahun sebelum kelahiran Yesus. Saat ini gereja mewarisi ritual rangkaian perayaan-perayaan sepanjang tahun. Mulai dari perayaan Natal, Paskah, Pentakosta, Tutup Tahun dan Tahun Baru ditambah dengan kegiatan-kegiatan bulan keluarga, bulan budaya dan lain-lain. Sehingga jemaat waktunya dipenuhi dengan kegiatan penyelenggaraan perayaan yang satu ke yang lain sambung menyambung, sehingga menjadi pertanyaan besar bagi kita “Apakah perayaan-perayaan ini berkaitan langsung dengan pertumbuhan iman jemaat ?”

Jika kita mencermati Kabar Kebangkitan Yesus yang didengar dan dilihat secara nyata oleh para murid-murid Tuhan Yesus yang mengalami hidup bersama dengan Yesus. Apakah mereka dengan penuh sukacita memberitakan Kemenangan Kebangkitan Kristus atas maut dengan penuh keberanian? seperti pendukung paslon Presiden yang menang? Tidak!, mereka ada dalam ketakutan dan mengunci pintu di dalam rumah, bahkan ada yang pulang kampung ke Emaus  karena putus asa, kehilangan pengharapan. Apalagi kita, jemaat yang hidup 2000 tahun kemudian dari peristiwa Kebangkitan Kristus. Mengapa? Karena kita tidak hidup dalam Kebangkitan Kristus. Apa tandanya? Kita masih hidup dalam ketakutan, kegelisahan, kekhawatiran. Jika kita sudah dilahirkan kembali melalui Rahim Kebangkitan Kristus. Seperti yang ditulis oleh Rasul Petrus yang juga ketakutan waktu mendengar dan menyaksikan kebangkitan Kristus tetapi diubahkan oleh Kebangkitan Kristus.

1 Petrus 1:3 (TB)  Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.

Kebangkitan Kristus memberi pengharapan yang kekal tidak ada lagi putus asa dan ketakutan.
Bacaan Mazmur 23, menggambarkan hidup baru dalam Kebangkitan Kristus yang kita rayakan pada Paska.
Mazmur 23:4 (TB)  Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Kita hidup dalam pimpinan Gembala Agung sang Anak Domba Allah (Wahyu 7:9) yaitu Yesus Kristus yang Bangkit dan kita sebagai domba-domba milik-Nya. Itulah keinginan Tuhan.
Apa makna bacaan kita di Kisah Rasul 9:36-43, ketika Petrus membangkitkan Tabita yang sudah mati? Bahwa setiap kita harus "lahir kembali" melalui kebangkitan Kristus, jika tidak kita sudah mati iman walaupun masih hidup di dunia, karena tidak berpengharapan. Tanda orang yang sudah lahir kembali yaitu,
Mazmur 23:6 (TB)  Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.
Janganlah kita terjebak dalam kegiatan perayaan tanpa memaknai setiap pesan perayaan dalam kehidupan iman kita yaitu semakin mengenal Yesus Kristus. Puncak keimanan pengikut Kristus adalah menjadi seperti Kristus. Jadilah Domba-domba yang mengenal suara-Nya dan menuruti perintah-Nya.
Yohanes 10:27-29 (TB)  Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Amin.
t.i

 

Minggu - 5 Mei 2019
“ PERJUMPAAN YANG MEMULIHKAN "
Kisah Para Rasul 9:1-20; Mazmur 30; Wahyu 5:11-14; Yohanes 21:1-19

Melalui dua tokoh Alkitab di dalam bacaan minggu ini, kita diperlihatkan bagaimana masa lalu mereka yang pernah salah dan menyesal diubahkan oleh Tuhan melalui perjumpaan. Kesalahan di masa lalu, tentu mengakibatkan luka dan menimbulkan penyesalan. Jika luka dan penyesalan itu tidak dipulihkan, maka akan mengakibatkan keterpurukan. Pemulihan dari luka dan penyesalan itu tidak bisa dilakukan hanya dengan melupakan dan mengabaikannya, namun dengan belajar untuk menghadapi dan berupaya untuk berdamai dengannya. Di dalam proses itulah, bersama dengan kasih Allah, maka kita tidak hanya mendapat pemulihan, tapi juga dimampukan untuk mengerjakan misi Allah di dalam dunia.

Di dalam Injil Yohanes mencatat pertanyaan Yesus sampai tiga kali kepada Petrus. Pertanyaan tersebut tentu mengingatkan kita tentang bagaimana Petrus menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Hal ini, tentu bukan sekedar soal “balas membalas” antara Yesus kepada Petrus dan sebaliknya, namun pertanyaan itu hendak mengonfirmasikan kesungguhan hati Petrus dalam mengikut dan menjadi pelayan Tuhan. Meski tidak tertulis, pasti ada harapan dari Yesus agar Petrus tidak mengulangi kesalahan yang sama, yaitu menyangkal Yesus! Melalui perjumpaan dan percakapan yang khusus ini, kita bisa memaknai bahwa Yesus hendak memulihkan Petrus dan memberi tugas untuk melakukan misi pemulihan Allah bagi dunia. Dengan pemulihan yang dialami oleh Petrus, ia diutus untuk menggembalakan domba-domba Allah tanpa takut dan gentar, apalagi menyangkal iman dan tugas yang diberikan Tuhan kepadanya. Perjumpaan dengan Yesus yang bangkit memulihkan Petrus dari ketakutan dan sekaligus membarui dirinya untuk menjalankan misi yang diberikan Yesus kepadanya.

Perjumpaan Saulus dengan Kristus juga merupakan perjumpaan yang memulihkan dan membarui. Saulus yang dipenuhi dengan kebencian dan bersemangat membunuh para pengikut Yesus di Damsyik dipulihkan menjadi seorang yang bersemangat untuk mengabarkan kasih Allah yang menyelamatkan di dalam Yesus Kristus.

Saulus yang kemudian menjadi Paulus, dipulihkan dan berdamai dengan masa lalu yang kelam sebagai penganiaya jemaat. Ia diubahkan menjadi seorang gembala bagi jemaat-jemaat berbagai tempat yang semula hendak ia kejar dan bunuh. Fakta kehidupannya yang kelam tidak ditutup-tutupinya, seperti yang diakuinya dalam Filipi 3:6, “tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.” Sekarang Paulus adalah pribadi yang dipulihkan dan diperbarui karena perjumpaan dengan Tuhan, sehingga ia dimampukan untuk menjadi saksi dan berkarya dalam misi pemberitaan Injil Kerajaan Allah.

Jika perjumpaan Kristus dengan Petrus dan Paulus telah memulihkan dan membarui mereka menjadi saksi-saksi-Nya, bagaimana dengan kita saat ini? Adakah pemulihan dan pembaruan dalam hidup kita yang berjumpa Tuhan melalui doa dan ibadah kita? Kiranya Tuhan memampukan kita untuk terus menerus pulih dan dibarui.
dstheol–rewarje20190505–GM5

     

Minggu - 28 April 2019
“BERHENTI MERAGU. PERCAYA DAN BERSAKSILAH "
Kis. 5:27-32; Maz. 118:14-29; Wahyu 1:4-8; Yoh. 20:19-31

Menjadi saksi Kristus adalah panggilan hidup setiap orang percaya. Namun pada praktinya, bersaksi di tengah dunia tampaknya tidak selalu mudah. Situasi dan kondisi hidup dapat sangat mempengaruhi niat seseorang untuk bersaksi tentang Tuhan. Ketika mengalami pergumulan hidup yang berat misalnya, seseorang bisa mengurungkan niat untuk bersaksi, bercerita tentang kasih Tuhan dalam kehidupannya. Orang yang menghadapi pergumulan yang berat cenderung memiliki keraguan akan Allah yang berkuasa dan mengasihi dirinya. Sebaliknya, bisa jadi seseorang mengalami berkat Tuhan yang luar biasa, tetapi tidak memiliki keinginan untuk mau membagikan kisah hidup tersebut dengan orang lain.
Dalam kenyataannya, Tuhan memanggil kita untuk bersaksi. Pengalaman para murid bersama Yesus tidaklah menunggu kesempatan saat hidup sudah ideal dan baik baru mereka mampu untuk bersaksi.

Tetapi di tengah kebimbangan, keputusasaan, kesulitan, mereka tetap teguh untuk melayani dan bersaksi. Dan dalam situasi tersebutlah Tuhan menampakkan diri dan meneguhkan bahwa apa yang mereka lakukan itu tepat, benar, indah.
Melalui khotbah minggu ini, kita diajak untuk meyakini akan panggilan hidup kita untuk tetap teguh bersaksi di tengah setiap tantangan hidup yang dirasakan. Dalam setiap keraguan dan kesulitan yang dirasakan, Tuhan tetap ada dan meneguhkan langkah kita.
DP 28 April 2019

 

Minggu - 14 April 2019
“SUARAKAN DAMAI "
Yesaya 50:4-9; Maz. 118:1-2, 19-29; Filipi 2:5-11; Lukas 19:28-40

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu – Yoh. 14:27

“Damai di dunia dan kitalah dutanya.
Damai sejahtera, amalkanlah maknanya,
Allah, Bapa kita, kita anak-Nya. Rukun bersaudara penuh bahagia.
Damai di dunia dan inilah saatnya.
Ucapkan ikrarmu, jalankan perintah-Nya,
setiap kata dan karya kita memuji nama-Nya.
Damai di dunia, kini, dan selamanya”

Nyanyian tersebut rasanya tak asing lagi dipendengaran kita semua, ya sebuah nyanyian dari PKJ 267 yang berjudul: “Damai di Dunia”. Bapak, Ibu, Saudara/i, sering mendengar atau menyanyikan lagu ini? Apa yang dirasakan ketika sedang mendengar atau menyanyikan? Apakah tergugah untuk menyatakan perdamaian di dunia ini, dan meyakini bahwa kita telah diutus untuk menjadi dutanya?
Injil Lukas 19:28-40 menceritakan kisah Tuhan Yesus yang memasuki kota Yerusalem. Kedatangan-Nya ke kota Yerusalem sungguhlah menarik. Yesus tidak berjalan kaki seperti biasanyan namun Yesus memasuki kota Yerusalem dengan menunggangi seekor keledai, bukanlah dengan naik kuda! Kuda biasanya digunakan untuk berperang, sedangkan keledai merupakan binatang lambang perdamaian dan kasih sayang, biasanya digunakan untuk ditunggangi orang atau membawa barang.

Yesus datang ke kota Yerusalem ialah untuk menyatakan dan memberitakan damai sejahtera Allah. Murid-murid menyambut kehadiran Yesus yang adalah Raja Damai dan pembawa keselamatan dari Allah bagi seluruh umat-Nya. Penyambutan Sang Raja Damai dilakukan para murid dengan menghamparkan pakaiannya di jalan, mereka sungguh bergembira menyambut-Nya. Murid-murid pun berseru dan memuji nama Allah, mereka terpukau dengan segala mukjizat yang telah mereka saksikan sendiri (Luk. 37 dan 38).

Seruan dan pujian para murid, berasal dari Mazmur 118:26. Pujian ini biasanya dinyanyikan oleh umat yang datang ke bait Allah. Namun, beberapa orang Farisi justru terusik dengan apa yang dilakukan oleh para murid Yesus, mereka meminta Yesus membungkam murid-muridNya (ay. 39). Orang Farisi melihat Yesus hanya sebagai seorang Guru, bukanlah sebagai Raja Damai. Rasa terusik orang Farisi tersebut didasari karena ketakutan mereka. Mereka takut apabila banyak orang yang nantinya akan percaya dan mengimani Yesus.
Saat ini, marilah kita meneladani Yesus yang hadir sebagai pembawa damai di tengah dunia. Kita jangan terusik atau malah bungkam untuk menyerukan perdamaian seperti apa yang dilakukan oleh orang Farisi, melainkan turut sertalah berseru seperti yang dilakukan para murid Yesus. Di Minggu Prapaskah VI ini, kita dipanggil untuk meneruskan karya Yesus, yakni menyerukan berita damai melalui seluruh aspek kehidupan kita. Bersedia untuk hadir membawa damai sejahtera, cinta kasih, dan keramahtamahan di tengah orang-orang sekitar. Kiranya syair dari PKJ 267 pun meneguhkan kita bersama untuk mau membuka diri diutus mengamalkan damai sejahtera Allah melalui setiap kata dan perbuatan kita. Tuhan memampukan kita. Amin.
EPK

     

Minggu - 7 April 2019
“MENILIK HATI, MENEGUHKAN RELASI "
Yesaya 43:16-21; Maz. 126; Filipi 3:4-14; Yoh. 12:1-8

Apa yang mendorong kita datang ke Gereja hari ini? Mengasihi Tuhan dan mau lebih mengenal serta menyenangkan hati Tuhan, apakah itu menjadi motivasi yang masih relevan pada jaman ini? Atau hanya sekedar rutinitas yang tidak berdampak apa-apa dalam kehidupan beriman kita? Setiap tindakan kita tentu ada motivasi yang mendasarinya.

Begitu juga yang dialami oleh seorang Maria, menuangkan minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya (Yoh.12 : 3). Tentu ada motivasi yang kuat yang mendasari tindakan yang radikal tersebut. Minyak narwastu seharga 300 dinar sama dengan upah karyawan selama satu tahun. Menguraikan rambut bagi seorang perempuan Yahudi  pada masa itu adalah suatu hal yang tidak lazim (tabu) dilakukan. Maria begitu total melayani Tuhan Yesus, bahkan mengabaikan harga dirinya demi kasihnya kepada Tuhan Yesus. Tindakan Maria yang radikal tersebut mengandung dua motif, yaitu mengucap syukur atas karya Tuhan Yesus yang membangkitkan Lazarus saudaranya dari kematian, dan kepekaannya mengingat saat kematian Tuhan Yesus yang sudah dekat (Yohanes 11). Bandingkan dengan sikap Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang cinta uang dan kemudian menjual Yesus dengan harga 30 keping uang perak. Yudas Iskariot sepertinya sangat peduli kepada orang miskin, padahal pikiran yang tampak sangat rohani itu hanya untuk membungkus niat hatinya yang mementingkan diri sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, sadar atau tidak sadar kita cenderung bersikap seperti Yudas Iskariot. Kata-kata dan tindakan kita tampak saleh dan berpihak kepada orang yang menderita, padahal sesungguhnya kita sedang berusaha mendapatkan pujian dan meng-gol-kan ambisi pribadi. Perlu pertobatan dan pemulihan terhadap sikap yang demikian !

Yesaya 43 : 16-21 bicara tentang karya Allah di masa lalu dan Allah yang terus berkarya di masa-masa selanjutnya. Umat yang mengalami karya penyelamatan Allah di masa lalu tidak seharusnya hanya sekedar mengagumi dan mengucap syukur di hati saja, tapi transformasi pengalaman itu harusnya tampak dalam tindakan nyata bagi kemasyuran nama Tuhan.

Pengalaman perjumpaan dengan Tuhan Yesus menjadi titik balik kehidupan rasul Paulus, sehingga ia mengatakan : “…apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus” (Fil. 3 : 7). Paulus memberi diri secara total bagi Kristus, sama seperti Maria yang telah disentuh oleh kasih Tuhan, ia memberi yang terbaik bagi Tuhan Yesus.

Memasuki Minggu Prapaskah V ini, mari menilik hati kita, apa yang mendorong tindakan kita selama ini, apakah karena kasih kita yang besar kepada Tuhan Yesus yang telah mengorbankan diri-Nya untuk menebus kita, atau semata demi kepentingan diri sendiri? Melayani Tuhan dengan motivasi seperti Maria yang mau menyenangkan hati Tuhan, atau seperti Yudas Iskariot yang berkedok kesalehan demi ambisi pribadi? Kiranya perjumpaan kita dengan Tuhan Yesus tidak menjadi romantika masa lalu belaka, tetapi terus bertumbuh makin menjadi serupa dengan Dia dan berdampak baik bagi relasi kita dengan orang-orang di sekitar kita. Amin.
ESS

 

Minggu - 31 Maret 2019
“SUKACITA PENDAMAIAN"
Yosua 5:9-12; Maz. 32; 2 Kor. 5:16-21; Lukas 15:1-3, 11-32

Dalam realita tidak mudah orang untuk mengampuni atau memaafkan dan menerima kembali mereka yang telah melukai hati secara mendalam, kecuali hidupnya telah diubahkan. Sukacita pendamaian Allah Bapa dalam peristiwa anak yang hilang, perlu dihayati sebagai model spiritualitas umat dalam kehidupan sehari-hari khususnya saat kita dilukai dan dikhianati.
 

Melalui perumpamaan Lukas 15:11-32, Yesus menyatakan begitu besar kasih Allah Bapa yang berkenan menerima orang-orang berdosa yang bertobat. PadaNya, setiap orang akan diperlakukan sebagai anak-anaknya, baik sebagai anak yang bungsu maupun sebagai anak sulung. Lihatlah bahwa bahwa  Allah sebagai Bapa dengan kasih-sayang-Nya menyambut anak bungsu yang telah menghabiskan harta yang telah diwariskan dan menyadarkan anak sulung yang marah kepada adiknya yang disambut oleh Bapanya dengan pesta.

Ia berkenan memanggil dan merangkul orang-orang berdosa dalam pelukan-Nya. Allah sebagai Bapa tidak menjadikan kesalahan seseorang di masa lalu sebagai landasan vonis untuk menghukum dan membinasakan, namun menjadikan peristiwa pertobatan di masa kini sebagai media penyelamatan. Karena itulah Rasul Paulus berkata: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Kor. 5:17). Di Yosua 5, diberikanlah ijin memasuki Kanaan kepada “generasi yang dibaharui”. Allah memberikan tanda sunat melalui Yosua dan “Hari ini telah Ku hapus cela Mesir dari padamu” (Yos. 5:9).  Penghapusan cela itulah yang memungkinkan umat Israel mengalami kehidupan baru yang penuh dengan kebebasan.

Tanpa karya pembaruan oleh Kristus melalui Roh Kudus-Nya kita tidak akan mampu berperan sebagai tokoh Bapa. Sebaliknya kita akan berperan sebagai anak sulung yang marah, iri-hati, dan menghakimi saudaranya yang datang dengan pertobatan dan penyesalan. Kita akan menganggap diri telah banyak berjasa bekerja di ladang Tuhan, merasa diri lebih baik dan saleh, serta merasa memiliki hak yang lebih besar. Sikap yang sebenarnya tidak berbeda jauh dengan sikap anak bungsu yang memilih pergi dan hidup mengumbar hawa nafsu.

Bersyukurlah kita sebab sesungguhnya kita bagaikan si bungsu maupun si sulung yang telah dibaharui, diterima dalam keselamatan dan boleh tinggal dalam persekutuan bersama Bapa. Tidak perlu diragukan kasih dan penerimaanNya, sebab Bapa dengan penuh sukacita menyambut setiap orang yang mau datang kepadaNya dan menerima anugerahNya. Pendamaian penuh sukacita ini sangat dibutuhkan umatNya (dan dunia), karena biasanya : mahal sekali yang namanya pengampunan. Spiritualitas dalam  karya penebusan Kristus membarui setiap umat untuk menjadi ciptaan baru (2 Kor. 5:17), sehingga umat tidak lagi menilai sesamanya menurut ukuran manusia. Di dalam Kristus, Allah menyatakan pendamaian-Nya tanpa batas dan tanpa syarat.

Pengampunan yang didasari oleh kemurahan Allah merupakan spiritualitas  yang akan menjadikan umat Tuhan berkarya menjadi berkat yang membawa iklim yang sejuk. Mudah-mudahan melalui kita, dunia semakin  mengenal Allah kita yang penuh kemurahan hati.
pkm

     

Minggu - 24 Maret 2019
“BERBUAH, DI DALAM ANUGERAH"
Yes. 55:1-9; Maz. 63:2-9; 1 Kor. 10:1-3; Lukas 13:1-9

Di minggu Prapaska ketiga ini umat dipanggil untuk menyadari ketidak berdayaan manusia menghadapi kehidupan dunia yang sudah rusak. Rencana besar Allah yang tertulis dalam bacaan-bacaan kita minggu ini adalah Anugerah Kasih karunia, Rahmat Allah bagi orang-orang yang mau datang bertobat dan berbalik kepada Tuhan, agar mendapatkan kekuatan baru dari Tuhan untuk mentransformasi kehidupan. (Yesaya 55:1-9)
Pertobatan tak cukup berhenti sebagai sebuah penyesalan yang ritual dan formal saja atau perubahan perilaku. Pertobatan diawali dengan perubahan hati dan pikiran. Anda akan menjadi apa yang ada di hati dan pikiran anda. Hati dan pikiran anda harus diisi dengan pikiran Kristus dan kebenaran-Nya. Bisakah anda bisa mengisi pikiran anda dengan pikiran Kristus tanpa membaca Alkitab ?, Tidak bisa. Sedangkan anda bisa hidup di dunia menurut “apa kata orang” dan “apa kata dunia”. Jika anda menjadi orang Kristen yang hanya beribadah di hari Minggu, mendengar Firman Tuhan selama 30 menit, begitu anda keluar dari gedung gereja suara-suara riuh “dunia” itu yang menutupi suara Tuhan setiap hari, suara dan ide duniawi yang mengisi pikiran anda menjadikan anda serupa dengan dunia. Jika anda tidak mendengar Firman Tuhan secara terus menerus dan intens, hidup anda tidak akan pernah berubah. Perubahan perilaku yang tidak didasari kebenaran Firman Tuhan tidak akan bertahan lama.
Daud menyadari benar, Jiwanya kering tandus tanpa Tuhan, Kasih setia Tuhan melebihi hidup, hanya Tuhan Pertolongannya. Daud mencari Tuhan siang dan malam. (Mazmur 63:2-9)
Bagi setiap orang yang sudah menerima keselamatan melalui Kasih karunia Allah, harus berubah dan berbuah. Kita sudah dibebaskan dari hukuman Allah, karena hukuman bagi kita sudah ditimpakan kepada Kristus di kayu salib. Karena besarnya Kasih Karunia Tuhan melebihi dosa, kesalahan dan kejahatan kita. Namun masih banyak orang Kristen yang menganggap tragedi kehidupan merupakan hukuman Tuhan.

Memahami Tuhan yang setiap hari mengawasi kehidupan kita dan akan memberi berkat bagi yang hidupnya mengikuti jalan-Nya, dan menghukum mereka yang melawan Tuhan.
Ini pemahaman yang keliru, baca (Luk. 13:1-5) apa yang dikatakan Tuhan Yesus.

Saat ini kita hidup di dalam Anugerah Kasih karunia Tuhan. Kasih Tuhan tidak bertambah dan berkurang karena perilaku kita. Kasih Allah tetap selama-lamanya, kekal bagi semua orang yang mau menerima-Nya. Apakah anda sudah menerima Kasih karunia Allah ? Apakah tanda-tandanya ? Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang pohon ara. Pohon ara merupakan tanaman liar yang berumur panjang, dapat tumbuh di mana saja, tanah berbatu, gersang apalagi di tanah subur. Pohon ara rindang untuk orang berteduh, dan menghasilkan buah yang baik. Dalam perumpamaan ini, ada sebuah Pohon ara yang tumbuh di kebun anggur. Tanaman anggur membutuhkan tanah yang subur. Pohon ara ini tumbuh di tanah subur, merupakan gambaran orang percaya yang hidup dalam Anugerah Kasih karunia. Tuhan Yesus melihat pohon ara yang hidup di tanah subur namun tidak berbuah, pohon ara ini tidak sepantasnya hidup, adalah lebih baik ditebang dan dibuang. Inilah tanda-tanda orang yang hidup dalam Anugerah Kasih karunia Allah, yaitu harus berbuah ! Yohanes 15:8. “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."(t.i)

 

Minggu - 17 Maret 2019
“MENGIKUTI YESUS DI JALAN PENDERITAAN DAN KERENDAHAN"
Kej. 15:1-12, 17-18; Maz. 27; Filipi 3:17-41; Lukas 13:31-35

Pada Minggu Prapaskah II ini fokus bacaan Injil adalah Yesus yang berkarya memberitakan Injil, mengusir setan dan menyembuhkan, walaupun dibayang-bayangi bahaya yang mengancam-Nya, yaitu kekuasaan Herodes, dan Yerusalem sebagai pusat kekuasaan - dengan para pemimpin agama Yahudi – yang berkonspirasi untuk membunuh-Nya. Posisi Yesus sama seperti nabi-nabi yang dibunuh di Yerusalem, yaitu kritis terhadap penguasa, sambil terus melayani rakyat yang membutuhkan pertolongan. Sedangkan bacaan kedua situasinya berbeda. Jemaat Filipi tidak menghadapi penderitaan penganiayaan, melainkan tantangan yang terkait dengan kehebatan dan hidup hedonis ala Yunani Romawi yang ditawarkan kota Filipi, yang dapat menjauhkan jemaat dari jalan Yesus, yaitu jalan kerendahan dan penderitaan, jalan sebagaimana telah dilalui oleh Paulus pula.

Melalui kedua bacaan ini umat dapat belajar menghayati jalan penderitaan dan kerendahan yang ditempuh oleh Yesus. Sikap Yesus penting bagi gereja masa kini, agar gereja tidak sekedar bangga mengenal atau memiliki anggota yang berjabatan ditengah masyarakat. Gereja dipanggil untuk bersikap kritis dan berani menyuarakan suara kenabian terhadap ketidakbenaran dan ketidakadilan. Gereja dipanggil untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan, tidak hanya bagi diri sendiri, melainkan bagi semua orang. Panggilan ini sejalan dengan panggilan untuk melayani orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Sikap Paulus yang meneladani Yesus, dan menjadi teladan bagi jemaat, juga penting bagi umat masa kini yang banyak dipengaruhi kehebatan dan kenikmatan duniawi.
Dp.170319

     

Minggu - 10 Maret 2019
“TAAT DALAM PENCOBAAN"
Ulangan 26:1-11; Maz. 91:1-2, 9-16; Roma 10:8-13; Lukas 4:1-13

Tuntutan gaya hidup masa kini terkadang membuat orang melihat bahwa orang-orang yang diberkati Tuhan adalah yang memiliki banyak hal yang bisa dibanggakan seperti kekuasaan dan kelimpahan rejeki. Dalam hal beribadah pun, hal-hal spektakuler dengan mendemonstrasikan hal-hal ajaib masih di gemari umat. Sehingga seseorang bisa “memaksa” Allah memenuhi maunya dengan melakukan hal-hal yang luar biasa. Pada akhirnya ketaatan menjadi sesuatu yang langka, alih-alih kita manusia menjadi taat kepada Allah, manusia cenderung menaati keinginannya sendiri. Allah pun tidak jarang dijadikan “alat” untuk memenuhi “ketaatan manusia” pada keinginannya sendiri.
Pada saat manusia berjumpa dengan masalah dan pencobaan, kita menganggap berarti saat itu kita sedang berada di dalam kesulitan, kesedihan, kekuatan, atau kekurangan. namun dalam bacaan kita pada hari ini mengajak kita untuk menyadari bahwa dalam setiap peristiwa kehidupan manusia, baik sedih atau pun gembira bisa terselip pencobaan. Ketika Yesus di cobai oleh Iblis, ternyata Yesus tidak berada dalam kesulitan saja (lapar dan belum makan berhari-hari). Yesus dicobai iblis, dan pencobaan itu ingin menguji kewenangan, kekuasaan, kemuliaan serta ingin melihat Yesus melakukan sesuatu yang spektakuler dan ajaib.
Pencobaan yang di alami Yesus menurut versi Injil Lukas 4:1-13 adalah sebagai berikut. Pertama, diminta mengubah batu menjadi roti. Ketika Yesus dicobai, Yesus dalam kondisi lapar dan di saat bersamaan juga iblis ingin Yesus membuktikan apakah benar Yesus Anak Allah. Pertanyaannya mengapa Yesus tidak melakukan dikala Ia bisa dan membutuhkanNya. Yesus menjawab kepada iblis dengan mengutip Ulangan 8 ayat 3, “namun ada tertulis manusia hidup bukan dari roti saja”. Jawaban Yesus ini menggambarkan bahwa Yesus melakukan ketaatanNya penuh kepada Allah. Yesus tidak ingin menggunakan wewenang sebagai Anak Allah hanya demi memenuhi ego dan kebutuhanNya.

Kedua, diberi tawaran kuasa dan kemuliaan dunia. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan memperoleh kuasa dan kemuliaan dari dunia ini. Bukankah banyak juga orang yang menggunakan kekuasaannya untuk hal-hal yang baik? Masalah yang dihadapi Yesus disini bukan pada tawaran kekuasaanNya tetapi pada syarat untuk mendapatkannya, yaitu mendapatkannya dengan menyembah iblis.

Yesus menyatakan dengan jelas, diatas apapun yang kita miliki di dunia ini, menyembah Tuhan Allah dan berbakti kepadaNya itu yang paling utama Ulangan 6 ayat 13.
Kekuasaan dan kemuliaan itu menjadi tidak penting ketika tidak lagi hidup menyembah dan berbakti kepada Tuhan Allah,  

Ketiga, diminta menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah. Ketika dua kali mencobai Yesus dan gagal, iblis menjadikan landasan Yesus untuk menyerangNya. ketika dalam dua kali pencobaan Yesus mampu melewati dengan menjawab melalui firman Tuhan, iblis pun mencobai Yesus dengan firman Tuhan juga. Iblis membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Ia di bubungan Bait Allah dan memintaNya menjatuhkan diri untuk membuktikan kebenaran firman Allah dari Mazmur 91:11-12. Iblis menggunakan firman Allah sesuai kemauannya sendiri dan menjadi dasar pembenaran bagi tindakannya. Yesus pun sangat mengetahui tujuan Iblis ini, sehingga kemudian Yesus menjawab dengan firman Tuhan juga, “jangan mencobai Tuhan, Allahmu”. Yesus menolak mencobai kuasa Tuhan demi memenuhi keinginan dan kepentingan sendiri.
Yesus mampu membedakan penggunaan Firman Allah dengan tidak melegitimasi pemenuhan kepentingan pribadi dan bukan kepentingan Allah. Yesus meneladankan kepada kita apa yang disebut dengan spiritualitas ketaatan, yang tetap bisa dilakukan dalam keadaan lemah dan rasa “lapar”. Yesus mengajarkan bahwa ketaatan itu tidak bergantung pada situasi tertentu. Seperti tertulis dalam Ibrani 4 ayat 15, “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah di cobai, hanya tidak berbuat dosa”.
Joice

 

Minggu - 3 Maret 2019
“TUNDUK DI DALAM TAKJUB?"
Kel. 34:29-35; Maz. 99; 2 Kor. 3:12-4:2; Lukas 9:28-43a

Seseorang menaati perintah atau melaksanakan tugas panggilan, bisa karena alasan takut / ancaman atau karena bersyukur. Bagaimana praktek hidup orang percaya di dalam menaati kehendak Tuhan ? Dalam Injil Lukas 9:28-43a, kita dapat merefleksikan makna peristiwa transfigurasi – perubahan wujud Yesus, menjadi penuh kemuliaan. Petrus dan 2 murid yang lain, menolong kita untuk mengenal siapa Yesus sebenarnya ? Ia bukan hanya manusia sejati, tetapi juga Allah sejati. Petrus takjub melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya – bukan hanya Yesus, tetapi ada dua orang adalah Elia dan Musa. Menyaksikan Yesus,  Petrus merespon: “Guru betapa bahagianya kami di tempat ini. Baiklah kami dirikan 3 kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia”. Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya (narator), namun hatinya menampakkan kebahagiaannya.  Kekaguman Petrus menjadi refleksi  bagi kita. Apakah perjumpaan kita dengan Kristus sebagai Tuhan,  mengubah kita untuk merindukan hidup yang lebih dekat dengan Tuhan ?
Untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan, orang Kristen harus memiliki sikap tunduk dan takluk kepada Allah, karena sikap ini akan ‘menyingkapkan selubung’ pada mata hati manusia untuk melihat kemuliaan Allah di dalam Kristus (2 Kor. 3:12-18).

Tidak ada selubung yang menutupi hati orang-orang yang tulus merasakan kemuliaan Allah (2 Kor. 3:16). Setiap orang yang berjumpa dengan Tuhan, seperti Musa – ada cahaya pada wajahnya. Cahaya itu berlangsung sementara, untuk mengingatkan bahwa Musa itu manusia biasa seperti kita. Namun cahaya yang berlangsung sementara pada wajah Musa, juga mengingatkan umatNya, untuk merenungkan dan mewujudkan kemuliaan Tuhan, melalui sikap dan tutur kata setiap hari.

Simpan perasaan / hati yang  positif jangan negatif. Perasaan-perasaan negatif di tengah penderitaan menutupi kemuliaan Tuhan.  Paulus mengajarkan bahwa orang yang menerima dan berjumpa dengan Yesus akan dipenuhi oleh cahaya Kristus.
Paulus membimbing jemaat Korintus, agar hidup rendah hati. Paulus menyebut bahwa cahaya Yesus akan terpancar dari orang-orang yang rendah hati, yakni bagi mereka yang sedia menjadi bejana tanah liat. Harta (injil) bila terwadahi dalam “bejana tanah liat” maka akan nampak kemuliaan Allah melalui hidupnya, sekalipun berat dan susah perjalanan, tetapi : dalam derita, namun tidak putus asa; dianiaya tetapi tidak merasa sendirian; disiksa namun tidak binasa.

Paulus menyaksikan bahwa dalam hidupnya, penderitaan karena Kristus tetap sukacita dan setia melayani Tuhan. Tunduknya pada Tuhan karena ia takjub akan kasih Allah dalam Kristus.  Amin
PKM

     

Minggu - 24 Februari 2019
“MENGASIHI MUSUH: MUNGKINKAH?"
Kej. 45:3-15; Maz. 37:1-11, 39-40; 1 Kor. 15:35-38, 42-50; Luk. 6:27-38

Mengasihi musuh :  mungkinkah?   Mengasihi musuh memang tidak mudah. Namun, jika ingin bertumbuh dan menjadi berkat, kita harus berani menghadapi setiap tantangan dan kesulitan, bukan menghindarinya. Setiap pergumulan,    tantangan dan kesulitan itu sesungguhnya juga merupakan kesempatan untuk menumbuhkan kerohanian kita. Dengan belajar mengasihi musuh, kualitas kasih kita akan meningkat, semakin dekat dengan standar kasih yang Allah ajarkan. Allah kita adalah Allah yang murah hati, bukan hanya kepada orang-orang baik, tetapi juga kepada orang-orang yang jahat. Jika kita tidak bersedia meningkatkan kualitas kasih kita, bagaimana kita dapat menjadi mitraNya di dunia ini.  Jika kita tidak mampu mengasihi musuh kita, mengasihi mereka yang merugikan kita, mengasihi mereka yang menyakiti hati kita, maka apa lebihnya kita sebagai anak-anak Allah?  Tetapi jika kita mampu melakukan itu, maka kita layak disebut sebagai anak-anak Allah. 

Mari kita belajar dari ilustrasi di bawah ini:
Filosofis di balik kisah Ular membelit Gergaji.
Seekor ular masuk ke gudang, dan merayap di atas gergaji yang tajam. Tajamnya mata gergaji menyebabkan perut ular tersebut terluka. Ular beranggapan bahwa gergaji itu menyerangnya, ular itu pun membalasnya dengan mematuk gergaji itu berulang kali. Namun serangan bertubi-tubi ular tersebut malah membuat mulutnya terluka parah. Marah dan putus asa, ular itu tetap berusaha mengalahkan gergaji itu dengan mencurahkan tenaga terakhirnya. Ia pun membelit gergaji itu dengan tubuh panjangnya. Belitan tersebut justru malah membuat tubuhnya semakin terluka parah. Hingga akhirnya si ular mati karena seluruh tubuhnya dipenuhi luka.

Pelajaran apa yang kita dapat dari ceritera si ular itu?

1.Kadang kala di saat kita marah, kita sangat ingin melukai orang yang telah membuat kita marah. Setelah semuanya berlalu, baru kita menyadari bahwa yang terluka sebenarnya adalah diri kita sendiri, bukan orang lain.
2. Pikiran negatif hanya akan melukai hati kita sendiri. Banyaknya perkataan yang terucap dan perbuatan yang dilakukan selama kita marah, sebanyak itulah kita melukai diri sendiri. Semakin lama marahnya, semakin banyak lukanya.
3 Jika kita melawan kebencian dengan kebencian, maka kita akan semakin terluka dan bahkan bisa binasa seperti ular yang membelit gergaji itu. Tapi lawanlah kebencian dengan cinta kasih karena tidak ada musuh yang tidak dapat ditaklukkan dengan cinta.  Tidak ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan dengan kasih sayang. Tidak ada permusuhan yang tidak dapat dimaafkan oleh ketulusan. Tidak ada batu keras yang tidak dapat dipecahkan dengan kesabaran dan tidak ada kesulitan yang tidak dapat dipecahkan dengan ketekunan.
4. Ketahuilah, rasa dendam, amarah, curiga dan pikiran negatif lainnya, itu bagaikan ular yang membelit gergaji. Semakin lama kita menyimpannya, hal itu akan membakar dan menusuk hati kita sendiri. Tidak akan ada ketenangan dan kedamaian dalam hati selama pemikiran negatif itu ada.

Semoga kita menjadi orang-orang yang pemaaf, sabar dan selalu berprasangka baik terhadap sesama. Karena hanya dengan cinta yang tulus, maka hati kita akan damai dan tenteram. Itulah sebabnya pemazmur mengajarkan kita untuk jangan marah kepada orang yang berbuat jahat. Berulang-ulang pamazmur mengatakan janganlah marah. Marilah kita terus belajar memberlakukan ajaran Yesus Kristus dalam hidup kita sehari-hari. Ketika kita mengasihi musuh kita, pada saat itulah kita sedang membuang semua akar pahit, racun dalam hidup kita. Kiranya Roh Kudus memampukan kita semua memberlakukan ajaran Yesus ini. Tuhan memberkati. Amin.
RDL

 

Minggu - 17 Februari 2019
“MEMPERJUMPAKAN ALLAH"
Yer. 17:5-10, Mzm 1; 1 Korintus 15: 12-20, Lukas 6:17-26

Hari ini kita merayakan Minggu Epifani VI. Epifani berarti penampakan / pewujudnyataan / penyataan Allah.
Allah yang telah menampakkan diri di dunia dalam bentuk kelahiran bayi Yesus Kristus (menurut Gereja Barat), atau yang telah menyatakan diri-Nya melalui Yesus dalam peristiwa pembaptisan Yesus Kristus yang akan memulai karya pelayanan-Nya sebagai Anak Allah (menurut Gereja Timur).
     Yesus hadir sebagai Allah yang turun ke dunia, menjumpai manusia dengan segala keberadaannya, bukan hanya untuk orang-orang tertentu. Ia berkarya bagi semua orang yang membutuhkan perjumpaan dengan-Nya.
Yesus mengobati yang sakit, mengusir setan, memberi pengharapan bagi yang miskin dan lemah, memberi kelegaan bagi yang lapar dan haus, memulihkan, memberi penghiburan, suka cita, kedamaian, kekuatan baru, mewujudnyatakan kasih Allah (Lks. 6:17-26). 
     Kita tidak bisa mengandalkan hal-hal yang fana. Kita tidak bisa berharap kepada kekuatan sendiri ataupun manusia lain, sekalipun ia sehebat dan sebaik apapun, karena semua manusia adalah fana dan terbatas. Kita hanya bisa berharap dan mengandalkan kuasa dan kasih dari Allah yang kekal (Yer. 17:5-10).     Kebangkitan-Nya dari kematian membuktikan Ia adalah Allah yang hidup, dan akan ada pula kebangkitan orang mati. Kita dapat berharap kepada Allah yang hidup, yang menjadi Juruselamat. Iman kita kepada-Nya tidak sia-sia. (1 Kor. 15:12-20).

Kita yang mengaku percaya kepada-Nya, hendaknya mewujudnyatakan iman kita dengan senantiasa hidup bersama-Nya, mencari hadirat-Nya setiap saat, melakukan firman Tuhan, mengalami perubahan hidup, sehingga tidak hidup seperti dulu lagi. Sekalipun iman kita kepada Tuhan Yesus tidak meluputkan kita dari sakit dan kesukaran di dunia ini, tetapi Ia senantiasa menyanggupkan kita untuk berhasil menanggung segala perkara (Mzm. 1).
     Jika kita sudah mengalami perjumpaan dengan Allah, sudahkah Saudara dan saya membuat orang lain juga dapat berjumpa dengan Allah secara pribadi? Ataukah orang lain dapat berjumpa dengan Allah melalui diri kita? Bukan hanya kita, tetapi semua manusia memerlukan Allah.
     Kiranya Tuhan memampukan semua orang percaya, termasuk Saudara dan saya, untuk membawa manfaat, kebaikan, dan berkat bagi sesama. Amin.
Nancy Hendranata

     

Minggu - 10 Februari 2019
“MENYANYI DAN MEMUJI DENGAN ROH DAN AKAL BUDI"
1 Korintus 14: 1-5, 13-19

Nyanyian pujian  kepada Tuhan adalah salah satu bagian dari ibadah Kristen. Nyanyian ibadah terus berkembang dari waktu ke waktu. Pembahasan mengenai nyanyian dalam ibadah juga terus bergulir.  Terkadang diskusi mengenai nyanyian ibadah berujung pada ketidaksepakatan. Hal tersebut ditengarai karena perbincangan mengenai nyanyian ibadah tidak disarkan pada alkitab, tetapi lebih didasari oleh pemahaman dan selera musik pribadi.

Rujukan alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru, mengenai nyanyian ibadah  sangatlah terbatas. Salah satunya adalah perkataan Paulus dalam 1 Korintus 14:15. Untuk memahami perkataan Paulus, kita harus melihat latar belakang ditulisnya surat 1 Korintus.
Jemaat Korintus memiliki pandangan yang tidak tepat tentang karunia bahasa roh. Mereka menggap karunia bahasa roh sebagai karunia yang lebih unggul dan menggap orang-orang yang mendapat karunia bahasa roh memilki kerohanian yang lebih unggul dibandingkan orang lain yang tidak memiliki karunia  bahasa roh.  Akibat dari pemahaman yang tidak tepat itu,   mereka berlomba-lomba  untuk  berbahasa roh dalam pertemuan jemaat atau dalam ibadah. Dalam pasal 14 Paulus secara khusus menegur jemaat Korintus dengan menggunakan perbandingan antara karunia bahasa roh dengan karunia bernubuat. Bahasa roh berguna untuk membangun diri sendiri sedangkangan bernubuat berguna untuk membangun jemaat. Paulus ingin menekankan kepada jemaat Korintus bahwa dalam sebuah ibadah, yang harus dibangun bukan hanya kerohanian pribadi tetapi juga kerohanian jemaat secara keseluruhan.
Bernyanyi dengan roh dan dengan akal budi berarti saat kita bernyanyi dalam ibadah, kita tidak hanya sedang membangun hubungan pribadi dengan Tuhan, tetapi kita juga sedang membangun kerohanian sesama anggota jemaat yang hadir dalam ibadah.

Banyak orang Kristen yang tidak menyadari hal ini sehingga kita mendapati ada orang-orang Kristen yang:

  • Tidak bernyanyi dengan bersuara dalam kebaktian, dengan alasan cukup bernyanyi dalam hati saja.
  • Tidak bernyanyi ketika jenis lagu tidak sesuai dengan selera musik pribadi.
  • Tidak bernyanyi ketika iringan musik tidak sesuai dengan selera pribadi.

Padahal saat kita bernyanyi  dengan penuh penghayatan dan kesungguhan, maka puji-pujian yang kita nyanyikan dapat dipakai Tuhan untuk:

  • Membangkitkan semangat orang yang datang beribadah dengan  kelesuan.
  • Menumbuhkan pengharapan orang yang datang beribadah dengan keputus asaan.
  • Meneguhkan hati orang yang datang beribadah dengan kebimbangan.
  • Menegur, membawa pertobatan kepada orang yang sudah sekian lama berkubang dalam dosa.
  • Mengajar seseorang yang sudah mulai disesatkan dengan berbagai-bagai angin pengajaran.

Sudahkah Saudara bernyanyi dengan roh dan akal budi di dalam setiap ibadah yang Saudara ikuti? Bernyanyilah dengan sungguh-sungguh di dalam ibadah, karena dengan demikian Saudara sedang membangun kerohanian diri sendiri, sekaligus ikut serta dalam pembangunan kerohanian jemaat Tuhan. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk dapat senantiasa bernyanyi dan memuji dalam roh dan kebenaran. AMIN.  
Pdt. Angga

 

Minggu - 3 Februari 2019
“KATA-KATA YANG INDAH"
Yer. 1:4-10; Maz. 71:1-6; 1 Kor. 13:1-13; Luk. 4:21-30

Mendapatkan atau mendengarkan kata-kata indah dari orang yang berbicara pada kita, alangkah menyenangkan. Secara umum kata-kata indah akan diucapkan oleh lawan bicara yang mengerti kita, dan menghargai kita. Namun apakah karena kata-katanya indah, menjamin selalu didengarkan ?
Hari ini adalah Minggu biasa, kita akan menghayati kisah pengajaran Yesus dan respons umat terhadap pengajaranNya. Dalam bacaan Injil Lukas 4:21-30, ada sisi lain kehidupan manusia yakni kecenderungan melihat dulu siapa yang mengatakannya. Yesus membuat heran banyak orang, karena perkataan-perkataanNya selain indah, orang heran karena Yesus anak Yusuf, tukang kayu sederhana dari Nazaret. Mereka heran : Yesus dari Nazaret, bisa mengucapkan kata-kata indah ? 

  1. Firman Tuhan (FT) sesungguhnya untuk membangun kehidupan. FT berisi kebenaran dan kasih Allah, setiap orang yang menerimanya tidak perlu memandang siapa yang mengatakannya. Demikian juga penyampai FT juga perlu menyelaraskan dengan hati Allah. Menolak mendengarkan Firman karena menilai penyampainya, berarti menolak berkat di balik FT.  Penyampai FT yang tidak selaras dengan panggilan Tuhan, akan bisa menjadi batu sandungan.
  2. Firman Tuhan itu indah karena ditujukan untuk keselamatan segala bangsa. Ada 2 contoh peristiwa di masa lampau yang dipakai Yesus untk menyadarkan orang banyak yakni Elia dan janda sarfat (Sidon), dan  Elisa dan Naaman (Orang Siria – yang kustanya ditahirkan). Dua peristiwa yang menunjukkan bahwa tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya, namun telah menjadi berkat di luar Israel. Perkataan Allah, adalah berkat bagi setiap orang tanpa memandang asal-usulnya.
  3. Firman Tuhan berisi “keindahan” – karena menjawab setiap permasalah hidup. Sebagaimana FT menyapa Yeremia untuk menguatkan, agar Yeremia yang masih muda tidak ragu-ragu, Tuhan Allah akan menyertai Yeremia. Saat Yeremia diberi tugas menyampaikan atau meneruskan berita dari Tuhan dan Yeremia merasa tidak mampu, Allah menjawab bahwa Ia akan menaruh perkataan-perkataanNya pada mulut Yeremia, dan agar melalui nabiNya kehidupan manusia di dunia ini dibangun (Yer 1:5,10). 

Sikap hati yang dituntut bagi setiap pelayan adalah hati yang penuh kasih. Kasih = agape; agape adalah kasih demi kebaikan sesama. Namun sekalipun memiliki agape,  tidak selalu kedengarannya indah. Karena bisa saja FT isinya berupa teguran / peringatan, isinya membuat kita risau – tidak tenang.

Karena FT bisa dalam rangka merobohkan egoisme di hati manusia dan membentuknya kembali menjadi baru. Tujuannya untuk “menyelamatkan yang hilang”.
Dalam gerejaNya, R. Paulus mengajarkan agar dalam pelayanan selalu ingat akan ajaran Tuhan Yesus, bahwa Kasih adalah dasar pelayanan yang membangun kehidupan : “Sekalipun seseorang dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan semua bahasa malaikat, tetapi jika tanpa kasih tidak ada artinya. Seperti gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing, nyaring namun isinya kosong” (1 Kor 13:1). Sebagai orang  harapannya hanya pada Tuhan (Maz 71:5), mari kita renungkan bersama : 

  1. Apakah kita percaya bahwa “perkataan-perkataan Yesus” itu indah dan karena kasih ?
  2. Apakah cara kita merespon Firman Tuhan sudah benar ? 
  3. Sudahkah kita menyelaraskan diri dan menerima undangan kasih sehingga mampu mengucapkan kata-kata yang indah dan menjadi berkat ?
Diberkatilah yang mendengarkan sabdaNya dengan perubahan hidup, untuk menjadi semakin tekun mendengarkan FirmanNya, dan teguh demi menjadi berkat bagi sesama.  AMIN. 
pkm
     

Minggu - 27 Januari 2019
“Membuka Kesempatan Mengupayakan Pembaruan"
Bilangan 13:1-33, Mazmur 148, 1 Timotius 4: 12-16, Matius 19:16-26

Dunia membutuhkan pembaruan terus-menerus, karena kita sadar apapun yang ada dalam dunia ini tidaklah sempurna. Maka pembaruan adalah sebuah keharusan. Siapa yang dapat diharapkan menjadi pembaru? Mestinya adalah kaum muda. Karena pembaruan selalu menunjuk pada masa depan, masa depan yang lebih baik. Dan masa depan bukanlah milik kita yang saat ini berada pada posisi generasi tua. Masa depan adalah milik generasi muda. Maka memberi kesempatan kepada generasi muda tidak mungkin dapat kita hindari ataupun kita tunda.

Yosua dan Kaleb adalah dua dari antara sepuluh orang yang dipercaya untuk mengintai tanah Kanaan yang akan dimasuki oleh bangsa Israel. Sepuluh pengintai pulang dengan kabar buruk dan menakutkan tetapi Yosua dan Kaleb membawa kabar yang membesarkan hati dan menumbuhkan pengharapan. Karena mereka tidak hanya melihat apa yang ditangkap oleh mata, tetapi melihat semuanya dengan mata iman.

Paulus menasihati Timotius, orang muda yang dipercaya untuk memimpin jemaat Tuhan. Yang paling utama yang harus diperhatikan oleh Timotius adalah keteladanan iman dan kasih yang mesti dinyatakan dalam kehidupannya. Hanya dengan cara demikian orang tidak akan memandang rendah kemudaannya. 

Tuhan Yesus berbicara kepada orang muda yang kaya raya yang ingin tahu apa yang harus dilakukannya untuk mendapatkan hidup yang kekal. Seluruh hukum Allah sudah dilakukannya. Dan Tuhan Yesus memujinya. Tapi kalau mau sempurna: juallah segala milikmu, bagikan kepada orang miskin, datanglah kemari dan ikutlah Aku. Bagi palu baja yang menghantam kepalanya, orang muda itu terkejut, lalu pergi dengan sedih karena hartanya banyak. Tuhan Yesus mengundang, tapi orang muda ini pergi dengan sedih karena tidak sanggup memenuhi tuntutan Tuhan Yesus.

Kita dipanggil untuk berani memberi kesempatan kepada kaum muda. Allah, Musa, Paulus dan Tuhan Yesus memberi kesempatan kepada kaum muda untuk berkiprah. Kita perlu belajar memberi apresiasi kepada kaum muda. Dan tentu saja kaum muda juga bukan orang-orang yang sempurna. Maka bila mereka melakukan kesalahan baiklah kita menasihati dengan penuh kasih dan suasana persaudaraan. Itulah memberi kesempatan yang sesungguhnya.

Di sisi kaum muda, jadilah pembaru, bukan sekedar peniru atau pem-bebek. Untuk itu hiduplah dalam iman, kasih dan pengharapan. Orang yang hidup dalam iman, kasih dan pengharapan adalah orang yang telah “selesai dengan dirinya”. Hidupnya akan menjadi berguna, bermakna dan menjadi berkat bagi sesama. Itulah kehidupan kekal yang hadir karena Allah di dalam Tuhan Yesus menguasai kaum muda.  Amin 

 

Minggu - 20 Januari 2019
“MUKJIZAT ITU NYATA"
Yes. 62:1-5; Maz. 36:6-11; 1 Kor. 12:1-11; Yoh. 2:1-11

Kondisi yang paling menakutkan bagi banyak orang adalah saat ia mengalami kekurangan. Ketika kekurangan akan menyebabkan orang akan panik, cemas, takut dan perasaan sejenis lainnya. Segala cara akan di tempuh untuk bisa segera menutupi kekurangan tersebut. Kita pun akhirnya akan menyesali ketika kekurangan itu bersumber dari kelalaian kita pribadi. Tapi bagaimana jika seandainya kekurangan itu terjadi dikala kita sudah mempersiapkan semua dengan baik dan semaksimal mungkin. Perasaan yang muncul pasti campur aduk. Kecewa, marah, terluka bahkan putus asa. Renungan kita pada saat ini mengajak kita memaknai bagaimana menyikapi kekurangan lewat bukti nyata penyertaan Tuhan Yesus. Mari kita telaah Bersama peristiwa pernikahan di Kana. Keluarga mempelai di Kana, kekurangan anggur saat pernikahan sehingga menyebabkan mereka panik dan bingung. Air anggur dalam tradisi umat Israel melambangkan sukacita, kehangatan, dan penghormatan kepada para tamu yang hadir dalam pesta pernikahan. Karena itu kekurangan air anggur saat pesta di anggap tidak mampu menjamu dan menghormati para tamu yang datang. Hal ini tentu menyebabkan pihak mempelai merasa kekurangan dan putus asa dalam memenuhi kebutuhan pesta. Dan tentunya dalam kondisi seperti itu sangat mustahil menyediakan air anggur dalam jumlah banyak di saat itu juga. Tetapi yang menjadi pertanyaan apakah terjadi kelalaian dalam mempersiapkan pernikahan ini? Umumnya pesta pernikahan telah dipersiapkan dan di rencanakan dengan baik dan matang. Mereka telah menghitung jumlah konsumsi dan menyediakan cadangan apabila jumlah tamu yang datang melebihi perkiraan. Tetapi bagaimana apabila perhitungan tersebut meleset. Seluruh perencanaan yang dibuat pada hari H tersebut ternyata gagal mengatisipasi hal-hal di luar dugaan. Krisis pun terjadi.

Dalam kondisi itu kehormatan dan nama baik keluarga dipertaruhkan. Dalam kondisi yang sulit itu hadirlah Yesus, yang mampu menyelesaikan permasalahan genting itu sehingga jamuan pesta pernikahan dapat berjalan dengan baik dan tamu-tamu merasa puas dalam sukacita. Air anggur dari yang kurang menjadi berlimpah ruah. Pengalaman kekurangan seperti yang terjadi seperti kisah di atas, dapat juga terjadi dalam kehidupan kita. Ketika kita telah mempersiapkan segala sesuatu dan mengatisipasi hal terburuk, tetapi pada saat pelaksanaan ternyata perhitungan kita meleset. Pemikiran yang matang dan perencanaan yang terbaik ternyata bisa gagal. Kita pun tidak tahu bagaimana harus mengatasi permasalahan tersebut. Seluruh sumber daya dan kemampuan kita coba seolah tidak berdaya di tengah situasi itu.

Pertanyaannya adakah kita meminta pertolongan Tuhan Yesus? Sama seperti Ibu Yesus (Maria) yang melihat situasi genting itu dan meminta pertolongan kepada-Nya. Tuhan selalu senantiasa memberikan pertolongan yang tidak terduga. Tuhan Yesus memberikan solusi di luar perencanaan dan perkiraan. Bahkan jalan keluar yang disediakan Tuhan bisa melebihi daripada yang kita harapkan. Anugerah anggur keselamatan adalah pemeliharaan Allah yang melimpah di saat kita mengalami kritis dan tidak menemukan jalan keluar. Keajaiban tidak selalu terjadi, tetapi nyata dalam momen yang menentukan. Mukjizat itu nyata.  
Amin.YMB

     

Minggu - 13 Januari 2019
“PERSEKUTUAN KASIH BERSAMA ALLAH"
Yes. 43:1-7, Maz. 29; Kis. 8:14-17; Luk. 3:15-17, 21-22

Firman Tuhan di dalam Yesaya 43 memberi kesaksian tentang Allah yang berkuasa sekaligus Allah yang mengenal umat-Nya. Allah berjanji memberkati Israel dengan pembebasan dan pemulihan melalui penebusan, yang diberikan karena kasih-Nya kepada Israel. Upaya Allah memberkati dan menebus umat-Nya merupakan cara Allah mengundang umat-Nya untuk hidup dalam persekutuan kasih dengan-Nya.
Gambaran Allah yang berkuasa itu diperlihatkan dengan jelas dalam Yesaya dan Mazmur 29. Allah berkuasa atas air, sungai, api, gunung, padang gurun yang merupakan gambaran tentang kuasa-kuasa yang membuat manusia menderita. Dengan memperlihatkan kuasa Allah yang melebihi segala sesuatu di dunia ini, tentu Yesaya dan Pemazmur hendak mengingatkan umat untuk tidak takut dalam menjalani kehidupan ini. Meski pada waktu itu, Israel dalam masa yang sulit, hidup dalam penindasan bangsa lain, mereka tidak boleh kehilangan harapan dan putus asa, karena mereka memiliki dan dimiliki oleh Allah yang berkuasa, yang mengasihi, serta yang menjadikan Israel berharga dan mulia di mata-Nya (lih Yes 43:4).
Selain berkuasa, Ia adalah Allah yang mengenal umat-Nya. Allah yang aktif dan berinisiatif untuk terus memelihara relasi antara diri-Nya dengan ciptaan-Nya, khususnya manusia. Ia Yang Kuasa hadir dan berelasi dengan umat-Nya dalam keberadaan-Nya seperti manusia yang menjalani proses kehidupan ini. Allah yang turut merasakan kehidupan manusia, dikisahkan oleh Injil Lukas melalui peristiwa kehadiran-Nya dalam diri Yesus, sama seperti gambaran kehidupan manusia pada umumnya – dari kandungan, lahir, bayi, anak, remaja, dan seterusnya yang tidak dicatat secara detail oleh ketiga Injil lainnya.  Dan dalam bagian Injil Lukas minggu ini yaitu peristiwa baptisan Yesus yang disertai dengan pernyataan Allah atas diri Yesus sebagai Anak-Ku yang Kukasihi dan yang berkenan (lih Luk. 3:22), hendak mengingatkan umat tentang Allah yang ingin membangun sebuah relasi intim antara Pencipta dan yang diciptakan-Nya dalam ikatan Bapa-Anak. Dan sekali lagi, semua itu dilakukan-Nya, karena kasih Allah yang begitu besar bagi manusia.

Melalui bacaan-bacaan minggu ini, manusia diundang masuk ke dalam kuasa dan kasih Allah yang dianugerahkan dan dilimpahkan-Nya melalui karya penebusan, karya keselamatan Anak, Yesus Kristus.

Bagi Allah manusia begitu berharga sehingga Allah selalu berinisiatif untuk melibatkan manusia di dalam relasi bersama-Nya agar manusia dapat merasakan pemulihan dan kualitas hidup baru di dalam Dia. Undangan ini terus menerus dinyatakan dalam kehidupan manusia, dari mulai dalam sejarah hidup Israel sampai pada karya Yesus Kristus. Ia menegaskan arti keberhargaan dan kemuliaan manusia dengan memperjuangkan kehidupan baru bagi manusia.
Persekutuan kasih bersama Allah, mengingatkan kita bahwa kita memiliki Allah yang telah menciptakan dan menebus kita; kita adalah milik-Nya, dan Ia mengenal masing-masing kita (Yes 43:1). Bahkan kita ini berharga dan mulia di pandangan-Nya, karena kita adalah sasaran kasih-Nya yang besar (4). Oleh karena itu, kita tidak perlu takut menjalani kehidupan ini meski harus mengalami kesulitan dan kesengsaraan, sebab kita memiliki Allah yang berkuasa dan menyertai kita. Kita tidak akan dibiarkan hancur dan tergeletak, seperti ada tertulis: “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” (Maz 37:23-24).

Marilah kita sambut undangan-Nya untuk hidup dalam persekutuan kasih bersama Allah dengan memberikan hidup kita dalam ketaatan dan kehidupan yang berkenan kepada-Nya. Mari kita meneladani sikap Yesus yang memperlakukan sesama di dalam cinta dan penghargaan. Amin.
dstheol

 

Minggu - 6 Januari 2019
“BERBAGI KEHIDUPAN DI TAHUN PENUH HARAPAN"
Yes. 60:1-6, Maz. 72:1-7, 10-14; Ef. 3:1-12; Mat. 2:1-12

Di sekolah-sekolah, kita mengenal yang namanya pelajaran atau mata kuliah yang ditetapkan sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Selain itu ada juga pelajaran-pelajaran tambahan; kemudian diluar sekolah kita mengenal juga kegiatan les pelajaran tertentu dan seterusnya. Namun demikian kita tidak pernah mendengar adanya pelajaran tambahan atau les tambahan pelajaran agama (meskipun di sekolah Kristen).  Orang tua rela mengeluarkan dana sebanyak-banyaknya demi kemajuan pendidikan anak-anaknya; ini wajar dan baik-baik saja. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah apakah pengetahuan dan kepinteran yang kita miliki hanya sebatas membuat kita mengenal dunia ini saja? Atau sebaliknya, pengetahuan yang kita miliki membuat kita semakin mengenali Tuhan Yesus Kristus.   

Dalam Matius 2:1-12 menceriterakan tentang tiga kelompok komunitas yang memiliki latar belakang profesi yang berbeda.  Kelompok pertama adalah Raja Herodes sebagai simbol para penguasa. Kelompok kedua adalah orang Farisi dan ahli Taurat sebagai simbol para ulama/ para ahli agama. Kelompok ketiga adalah orang majus sebagai simbol orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan tinggi/ ilmuwan.  Respons ketiga kelompok ini sangat berbeda ketika mendengar Yesus lahir di Betlehem.  Bagi para penguasa politik yang diwakili oleh raja Herodes kehadiran Yesus Kristus sebagai ancaman akan eksisitensi kekuasaan mereka di dunia politik. Itulah sebabnya Herodes pada akhirnya mengeluarkan maklumat untuk membunuh semua anak-anak di bawah umur dua tahun di sekitar Betlehem. Tetapi Malaikat Tuhan menyuruh Yusuf dan Maria untuk pergi ke Mesir membawa bayi Yesus, sehingga terhindar dari kebijakan politik kejam dari raja Herodes.

Bagi para ahli agama Yahudi kehadiran Yesus dianggap tidak ada meskipun mereka sudah tahu dan mengerti bahwa Mesias akan lahir di Betlehem dari kitab suci. Kitab Taurat dan kitab para nabi sudah menubuatkan kedatangan sang Mesias, yaitu Yesus Kristus, tetapi pengetahuan mereka tentang kitab Taurat dan kitab para nabi tidak membuat mereka percaya dan menerima kehadiran Sang Mesias. Seharusnya kelompok kedua ini yang mempelopori umat manusia seluruh bangsa untuk datang dan menyembah kepada Sang Mesias, sebab kedatangan-Nya  sesuai dengan nubuatan kitab Taurat dan kitab para nabi.  Kelompok ketiga adalah para ilmuwan yang diwakili oleh orang-orang Majus. Kelompok ini memakai ilmu pengetahuan yang mereka miliki untuk mencari, menemukan dan menyembah Sang Raja yang baru lahir, yaitu Yesus Kristus.

Pelajaran apa yang hendak kita dapatkan dari ketiga kelompok di atas? Pertama, Apapun yang kita miliki (pengetahuan / kepinteran, jabatan, profesi, kekayaan, talenta dll) hendaknya membuat kita mengenal dan menemukan Yesus Kristus. Jika semua yang kita miliki tidak membuat kita lebih mengenal Yesus Kristus, maka sia-sialah hidup ini. Kedua, Yesus Kristus sebagai sumber kehidupan hendaknya menjadi tujuan hidup kita. Apa yang kita pikirkan, rencanakan dan kita lakukan hendaknya semuanya demi hormat dan kemuliaan Tuhan dan Juruselamat kita,Yesus Kristus. Tuhan memberkati kita semua. Amin.RDL

     
 
2018
 
 

Minggu - 30 Desember 2018
“KELUARGA MENSYUKURI PANGGILAN ALLAH"
1 Samuel 2:18-20, 26; Mazmur 148; Kolose 3 : 12-17; Lukas 2 : 41-52

Banyak hidup keluarga lepas dari panggilannya, yakni ketika keluarga lupa sebagai milik Tuhan. Karenanya tema : keluarga dipanggil untuk mensyukuri panggilan Tuhan, penting untuk kita renungkan bersama.  Dalam bacaan kita menceritakan mengenai masa kecil 2 pemimpin, yakni Samuel dan Yesus. Samuel diserahkan kepada Allah  oleh ibunya Hana sebelum Samuel dilahirkan, dan setelah lahir, diserahkan dan dididik Imam Eli agar belajar melayani Allah. Demikian juga Maria ibu Yesus, ia tahu bahwa Yesus akan menjadi Penyelamat umat  manusia. Maria membawa Yesus di usia 12 tahun ke Bait Allah, sesuai tradisi Yahudi. Yesus di bawa orang tuanya untuk mendapatkan pengajaran yang baik. Dengan demikian, kedua keluarga memberi keteladanan pada kita sebagai keluarga yang bertekun dalam mengikuti kehendak Allah.

Di tengah berkembangnya sarana teknologi komunikasi, hidup sebagai keluarga yang  bertekun dan mengikut Allah, menjadi tantangan tersendiri. Para orang tua larut dan lupa untuk memberi didikan yang baik bagi  anak-anaknya. Banyak orang tua terlalu membebaskan anaknya untuk menggunakan gadget tanpa memberi pengarahan. Akibatnya anak-anak menjadi anak gadget bukan menjadi anak bagi kedua orang tuanya.

Pada jemaat Kolose, Rasul Paulus memberitakan bagaimana hidup sebagai orang percaya, agar mereka mengerti kebenaran. Konteksnya bahwa Jemaat berada di tengah maraknya ajaran palsu manusia. Jemaat diundang untuk hidup mengosongkan dirinya, meninggalkan keinginan duniawi (Kol 3:5). Agar tidak lagi terikat  pada satu suku, satu ras atau golongan. Dipanggil hidup dalam kasih, yakni bisa menerapkan : belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah lembutan dan kesabaran (3:13), dan mengenakan kasih sebagai pengikat yang mempersatukan.

Karakter yang dimaksud Paulus ini, akan ada di dalam diri anak-anak kita, bila kita juga sedia menjadi teladan bagi mereka dalam persekutuan kita dengan Tuhan yang ditandai adanya karakter kasih dalam diri kita. Anak-anak kita juga perlu teladanan kita dalam persekutuan, karena  semua kebajikan yang diutarakan Paulus, semua terkait dengan relasi sosial dengan orang lain / sesama.
Demikianlah Firman Tuhan hari ini bagi kita. Kiranya didikan ortu masa kini semakin mengena, sebab sadar bahwa kasih Tuhanlah inti hidup kita, dan bahwa kita milikNya.

Pengakuan hidup berasal dari Tuhan, akan menumbuhkan Kasih kita pada Tuhan. Akhirnya  kasih akan nampak dalam kasih kita  pada sesama.
Karena itu isilah hidup sehari-hari kita dengan keteladanan  yang  bersumber dari rasa  syukur kita  kepada Tuhan, atas segala anugerahNya. Kiranya sikap iman kita ini juga, menolong kita menyadari segala kekurangan kita yang akan segera kita tinggalkan sebelum menutup tahun 2018,  sehingga di tahun baru 2019  hidup kita lebih berarti bagi Tuhan dan sesama.

Ya Tuhan, kiranya kami dimampukan untuk melayani seperti keluarga Yusup – Maria dan Elkana – Hana, yang dimampukan menyerahkan setiap pertumbuhan anak-anaknya kepada Tuhan, dan tidak menyia-nyiakan waktu pemberian Tuhan untuk meneladankan kasih dan selalu melayani Tuhan.  Amin.

 
     

Minggu Adven IV - 23 Desember 2018
“SALING MENGUATKAN DALAM KARYA ALLAH"
Mikha 5:2-5; Lukas 1:46-55; Ibrani 10:5-10; Lukas 1:39-45

Bacaan Injil Lukas 1:46-55 adalah Nyanyian Pujian Maria yang dinamakan Magnificat, setelah peristiwa pewartaan malaikat di saat Maria diberitahu oleh Malaikat Gabriel bahwa dia akan mengandung Yesus, Maria menyambut panggilan Allah dengan mempersembahkan tubuhnya untuk dipakai Allah bagi Karya keselamatan dunia.
Maria meresponnya dengan mengunjungi sepupunya, yakni Elizabet. Dalam narasi Injil, sesudah menyalami Elizabet, anak dalam kandungan Elizabet (yang kelak menjadi Yohanes Pembabtis) bergerak, dan ketika hal tersebut diberitahukan kepada Maria, dia menyanyikan Kidung Magnificat sebagai balasannya.
Sangat menarik pergumulan dua wanita “bermasalah” yang dipakai Allah untuk mewujudkan Rencana besar Allah untuk keselamatan dunia. Mengapa saya katakan “Bermasalah”, Elizabet mengandung di masa lanjut usia dan dia dikenal mandul yang di masa itu dianggap “aib” secara tradisi maupun agama. Sedangkan Maria mengandung sebelum menikah yang merupakan “aib”. Mereka sudah dihakimi secara tradisi dan agama.

Mengapa saya sebut ini Rencana Besar Allah ? Karena hanya ada 2 anak manusia yang pernah dilahirkan di bumi yang dinubuatkan Allah akan dilahirkan dan Allah sudah memberi nama mereka yaitu Yohanes dan Yesus.

Allah tidak berkenan pada korban bakaran tetapi berkenan pada korban yang hidup. Allah memakai kehidupan umat-Nya untuk menyatakan Rencana Allah. Kita sebagai orang percaya dipanggil untuk melakukan kehendak-Nya, secara bersama-sama dan saling menguatkan. Tuhan tidak meminta anda melakukan seorang diri.
Maria pergi ke rumah saudara sepupunya Elizabet dari Nazaret ke Yudea yang berjarak sekitar 150 km, tentunya dengan berjalan kaki karena di waktu itu belum ada angkot. Maria tinggal di rumah Elizabet selama 3 bulan untuk saling mendukung dan meneguhkan. Roh Allah menolong mereka berdua mempersiapkan kelahiran Yohanes dan Yesus.

Peristiwa ini mengajarkan pada kita sebagai umat percaya, bahwa haruslah kita mengambil bagian dalam Karya Allah bagi dunia ini secara bersama-sama, saling menguatkan dan meneguhkan. Dengan demikian hidup kita memuliakan Allah. Segala Puji dan Kemuliaan hanya bagi Tuhan, Haleluya.
Tonny Iskandar

 

Minggu Adven II - 9 Desember 2018
“HIDUP BERSAMA DALAM PERTOBATAN"
Maleakhi 3:1-4; Lukas 1:68-79; Filipi 1:3-11; Lukas 3:1-6

Pertobatan dalam pengertian yang kita pahami adalah sebuah aktivitas meninjau kembali atau menelaah tindakan-tindakan yang pernah diperbuat dan jika ada kesalahan, maka kita diajak untuk menyesali kesalahan-kesalahan pada masa lampau yang disertai dengan komitmen untuk berubah menjadi lebih baik. Pada intinya pertobatan adalah proses mengevaluasi diri, dan berkomitmen membaharui diri menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Keadaan spiritual umat Yehuda pada zaman nabi Maleakhi mengalami kemerosotan spiritual; seperti umat Yehuda tidak setia lagi kepada perjanjian dengan Tuhan (Mal. 2:4,5,8,10); mereka merasa ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan tidak ada untungnya (Mal. 3:4); mereka lebih memilih untuk menyembah kepada berhala dari pada kepada Tuhan (Mal. 2:10-12); mereka mencuri persembahan persepuluhan dengan cara tidak mengumpulkan persembahan tersebut ke Bait Allah (Mal. 3:10); dan para imam telah menjadi korup (Mal. 1:6 – 2:9). Nabi Maleakhi diutus Allah untuk menyuarakan pertobatan  supaya umat kembali kepada Tuhan, umat meninggalkan perbuatan-perbuatan tersebut di atas.
Lukas 3:1-6 menjelaskan Yohanes Pembaptis sebagai utusan Allah untuk mempersiapkan umat Israel menyambut kedatangan Sang Mesias. Tugas yang diemban oleh Yohanes adalah menyuarakan berita pertobatan. Umat dituntut untuk menghasilkan buah-buah pertobatan; jika tidak menghasilkan buah pertobatan maka kapak sudah siap untuk memotongnya. Umat Israel harus bertobat dari:   Kemunafikan. Kesemarakan ritual ibadah yang dilakukan umat Israel tidak  selaras dengan perilaku kehidupan sehari-hari. Praktik ketidak adilan ada dimana-mana; para penguasa politik maupun penguasa agama memeras orang-orang yang  lemah, dan merampas hak-hak orang lemah (Luk. 3:12-14). Ritual agama dijadikan moment untuk mencari keuntungan pribadi atau kelompok.

Simpulannya adalah bahwa  secara lugas pesan Injil hari ini adalah mengajak kita untuk berhenti melakukan tipu-tipu, berhenti melakukan lobi-lobi (KKN) dan memberi upeti (nyogok) untuk mendapatkan jabatan tertentu atau pekerjaan/ proyek, berhenti jadi maling, berhenti dari korupsi, berhenti menyebarkan berita bohong, berhenti membenci orang yang berbeda dengan kita, berhenti melukai orang lain. Jika punya makanan berilah yang lapar, jika melihat orang susah berilah pertolongan, jika melihat orang berduka hiburlah hatinya, jika melihat mereka bersalah ampunilah dan sebagainya.

Dalam menjalani kehidupan bersama sebagai keluarga Allah dalam gereja kita, marilah kita berhenti menghakimi orang lain, berhenti membicarakan kekurangan dan kelemahan orang lain, berhenti dari rasa benci kepada yang berbeda dengan kita, dsb.  Marilah kita menyambut Sang Mesias dengan hati yang telah diperbaharui oleh Roh Kudus. Tuhan memberkati. Amin
RDS

     

Minggu Adven I - 2 Desember 2018
“MERAWAT TUNAS DAMAI"
Yer. 33: 14-16; Maz. 25:1-10; 1 Tes. 3:9-13; Luk. 21:25-36

Masa Adven dan Natal tahun ini merupakan masa Adven dan Natal yang spesial, sebab di tahun 2019 nanti, kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia akan menyelenggarakan pesta demokrasi. Tahun 2019 menjadi tahun politik bagi bangsa kita. Tantangan terbesar di tahun politik adalah bagaimana kita sebagai bangsa harus tetap menjaga kedamaian, di tengah berbagai perbedaan pilihan politik yang kita miliki. Belajar dari pengalaman yang telah terjadi di beberapa kesempatan pemilihan umum, tak jarang kita menjumpai kenyataan di mana kedamaian terganggu di kala pesta demokrasi berlangsung. Bahkan tak jarang sebagian dari kalangan kita, ada yang ikut andil dan terlibat dalam menciptakan keresahan-keresahan di tengah masyarakat. Di tengah kenyataan hidup yang seperti ini, betapa kita menyadari pentingnya menjaga dan merawat damai di tengah kehidupan. Melalui tema “Merawat Tunas Damai” ini umat diajak untuk memahami bahwa kedatangan Kristus ke dunia merupakan penggenapan janji Allah dalam menghadirkan damai di dunia serta terpanggil menghadirkan damai dalam dunia. Sebab itu, di masa penantian ini umat diajak untuk turut berperan serta menjaga dan merawat kedamaian.

Melalui Yeremia 33:12, kita dapat mengetahui gambaran keadaan Israel saat Allah memulihkan keadaan mereka. Ayat 12 melukiskan bahwa di daerah yang sebelumnya merupakan reruntuhan – tanpa manusia dan hewan, bagaikan kota mati – tersebut, akan ada tanda-tanda kehidupan. Dilukiskan di sana bahwa di kota-kota itu akan tumbuh padang rumput yang menjadi tempat gembala-gembala membaringkan kambing domba mereka. Gambaran ini menunjukkan bahwa di kota-kota yang telah mati itu, akan muncul tanda-tanda kehidupan. Bahkan dalam Yeremia 33:11 dilukiskan juga kondisi sukacita yang akan dialami penduduk kota Yerusalem yang semula sunyi-sepi tanpa manusia itu: “akan terdengar lagi suara kegirangan dan suara sukacita, suara pengantin laki-laki dan suara pengantin perempuan...” Inilah gambaran pemulihan yang akan dikerjakan Allah atas umat-Nya.
Pada ayat 14-16, firman Tuhan kembali menegaskan bahwa Allah akan menepati apa yang telah dijanjikan-Nya itu. “Sesungguhnya, waktunya akan datang, ... Aku akan menepati janji yang telah Kukatakan kepada kaum Israel dan kaum Yehuda ... Aku akan menumbuhkan Tunas keadilan bagi Daud. Ia akan melaksanakan keadilan dan kebenaran di negeri. Pada waktu itu Yehuda akan dibebaskan, dan Yerusalem akan hidup dengan tenteram ...” ‘Tunas, merupakan gambaran yang sangat dekat dengan kehidupan dan menjadi penanda bahwa kehidupan baru sudah dimulai.

Jika kita mengamati pertumbuhan sebuah pohon, maka kita akan mengetahui bahwa pohon itu hidup tatkala kita melihat tunasnya. Pada musim berbunga, tunas-tunas yang baru dan kuat akan keluar dari tunggul pokok anggur, yang pada musim dingin tampak seperti mati. Seperti itulah gambaran tentang janji Allah. Pada saatnya, janji itu akan tergenapi dan akan ada kehidupan baru yang jauh berbeda dengan kondisi kehidupan sebelumnya.

Paulus sangat bersukacita mendengar kabar tentang iman orang-orang Tesalonika yang tetap bertahan dan kuat menghadapi semua masalah yang muncul dan mendera mereka. Sehingga ia merasa ucapan syukur apa pun tidak cukup untuk mengungkapkan rasa sukacitanya. Paulus mendoakan dan berharap mereka tetap hidup kudus sebagai umat Kristus sampai pada kedatangan-Nya kembali, serta memberikan nasihat agar mereka hidup dengan saling mengasihi sebagaimana teladan para rasul, serta dengan teguh hati memelihara kehidupan kudus, dan tak bercacat dalam hubungan dengan Allah, sambil menanti kedatangan Tuhan Yesus. Ia mengajak Jemaat Tesalonika untuk menggunakan waktu hidupnya dengan menjalani praksis hidup beriman sehari-hari dengan benar.

Dalam  Lukas 21:25-36, Yesus tidak pernah mengatakan kapan persisnya waktu kedatangan-Nya kembali. Ia hanya menunjukkan tanda-tandanya, yaitu tanda-tanda yang terjadi pada alam semesta (ay.25). Suatu gambaran keadaan yang dapat membuat orang mengalami kecemasan dan mati ketakutan. Namun itu bukan akhir dari segalanya. Apa yang terjadi itu justru menjadi penanda awal masa kedatangan Anak Manusia (ay.27-28). Kemudian Yesus juga memakai perumpamaan tentang tumbuhnya tunas pohon untuk menjelaskan tentang tanda-tanda selanjutnya (ay. 29-39). Yesus memakai perumpamaan ini untuk menggambarkan keadaan yang akan terjadi sesudah tanda-tanda yang mengerikan itu. Melalui perumpamaan ini, Yesus ingin menegaskan bahwa setelah masa yang sukar itu, akan muncul masa yang penuh harapan. Masa di mana Kerajaan Allah dinyatakan. Kehadiran Anak Manusia mengubah keadaan yang sukar, berat, dan penuh kengerian, menjadi masa yang penuh harapan.
Sebab itu, Yesus berharap murid-murid-Nya tidak salah dalam menyikapi tanda-tanda yang terjadi. Saat murid-murid melihat dan merasakan tanda-tanda itu terjadi, mereka diajak untuk tidak menjadi takut dan salah fokus. Sebab, yang penting bukan apa yang sedang terjadi, melainkan siapa yang sedang datang. Oleh karena itu, bukan sikap takut dan cemas yang menjadi respons atas semua itu, melainkan murid-murid diajak untuk menyambut siapa yang sedang datang itu dengan sikap yang siap “bangkitlah dan angkatlah mukamu..” Sambutlah Dia yang sedang datang, sebab Dialah Penyelamatmu!

Dan saat ini, ketika GKI Pasteur diperkenan Tuhan untuk merayakan usianya yang ke-31 tahun pada 01 Desember 2018, bisa tetap merawat Tunas Damai yang telah menjadi sumber pertumbuhan dan kehidupan umat. Sehingga kehadiran GKI Pasteur di tengah umat dan bangsa Indonesia dimampukan dan diperlengkapi Tuhan untuk menjadi berkat dan pembawa damai di dunia ini. Amin
LPPS

 

25 Nopember 2018
“KRISTUS RAJA"
Daniel 7:9-10, 13-14; Mazmur: 93; Wahyu 1:4-8; Yohanes 18:33-37

Hari ini merupakan penutup tahun liturgis tahun B dimana kita merefleksikan Minggu Kristus Raja melalui pengalaman batin umat dalam memaknai percakapan Yesus di hadapan Pilatus : “KerajaanKu bukan dari dunia ini.”
Percakapan Pilatus dengan Yesus berada dalam konteks pengadilan. Pilatus bertanya “Engkau inikah raja orang Yahudi?” Sebuah pertanyaan yang jawabnya mengandung banyak konsekuensi ketika terdapat kesalahan jawab. Pilatus bertanya: “Engkau inikah raja orang Yahudi ?” Yesus menjawabNya dengan pertanyaan yang menusuk hati: ”Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah  orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku ?” Seperti Yesus tahu apa yang tersembunyi di dalam hati Pilatus, Yesus hendak memberitahukan bahwa Ia tahu apa yang tersembunyi di dalam hati setiap jemaatNya. Seperti Yesus mengundang Pilatus untuk menilik hatinya dan membimbing Pilatus memasuki sebuah pengakuan iman, demikian Ia mengundang membimbing kita memasuki pengakuan iman bahwa Yesus Kristus adalah Raja dengan benar.

Yesus membalikkan posisi dalam pengadilan tersebut. Posisi Pilatus sebagai penguasa yang mengadili Yesus, tetapi kemudian berubah menjadi orang yang diadili. Pilatus yang justru mesti menjawab bagaimana pengakuan yang sesungguhnya dari hati nuraninya sendiri. Lalu Pilatus mengambil keputusan personal dalam pengakuan bahwa Yesus adalah Raja.

Pada kisah berikutnya kita melihat perwujudan hati nurani Pilatus ini dengan tindakan memberi tulisan pada kayu salib : “Yesus, orang Nazareth, Raja orang Yahudi”. Kerajaan yang bukan dari dunia adalah kerajaan kebenaran. Kebenaran itu adalah Yesus sendiri. Sebab Yesus sendiri yang mengatakan “Akulah jalan kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6).

Kerajaan kebenaran itu memiliki nilai-nilai berbeda dari dunia. Kerajaan bukan dengan tangan besi dan kekuasaan, tetapi dengan nilai kasih, pelayanan dan kerendahan hati. (Matius 20:25-27). Nilai-nilai yang sedia melepaskan kemuliaan, dan menjadi hamba. (Filipi 2:7).
Kitab Daniel 7:14 - Kerajaan ini penuh kuasa, kemuliaan dan kekal. Kerajaan ini tidak akan lenyap dan musnah. Kerajaan ini bukan untuk satu bangsa tetapi segala bangsa, suku bangsa dan bahasa. Wahyu 1:4 – Kerajaan ini ada dalam pemerintahan Tuhan Yesus. Dia yang sudah ada dan yang akan datang. Yang berkuasa atas raja-raja bumi. Dia melepaskan manusia dari dosa di dalam pengorbananNya. Dia yang akan datang dalam kemuliaan di awan-awan. Dia adalah Alfa dan Omega, Yang Mahakuasa.

Marilah kita bersama dalam mengakhiri tahun liturgi kita wujudkan pengakuan iman kita, bahwa Kristus adalah Raja dalam seluruh waktu dan hidup kita. Marilah kita telaah hati nurani kita sendiri:

  • Apakah kita telah menghayati dan memaknai kehadiran Yesus sebagai Raja dalam kehidupan kita?
  • Apakah penghayatan atas pengakuan iman Kristus Raja - membuat kita mendengarkan suara kebenaran yaitu suara Tuhan Yesus Kristus dalam firmanNya?
Marilah kita hidup sebagai saksi-saksi kebenaran, karena ciri “anggota kerajaan” adalah kebenaran, yang dengan yakin: Kristus yang adalah Raja senantiasa akan menyertai kita. Amin 
pkm
     

18 Nopember 2018
“JANGANLAH TAKUT, BERSANDARLAH PADA TUHAN"
Dan. 12:1-3; Maz. 16; Ibr. 10:11-25; Mark. 13:1-8

Ketika kita memilih sesuatu tentunya kita telah menyeleksi pilihan-pilihan lainnya. Pilihan ini pun pasti memiliki banyak kelebihan dan keistimewaan dibandingkan yang lain. Dengan pilihan ini pun kita mendapatkan kekhususan dibandingkan yang tidak memilih. Contoh jika memilih simcard, transportasi, atau yang lainnya. Sayangnya hal ini tidak berlaku saat kita memilih iman kita kepada Yesus Kristus. Mengapa hal ini bisa terjadi? Kenyataannya bobot dan intensitas pergumulan manusia tetap sama. Tidak ada perbedaan bagi pengikut Kristus dan bukan. Tentunya hal ini akan mendatangkan pertanyaan, lantas buat apa saya percaya dan setia kepada-Nya? Apa yang saya dapatkan dari iman dan kesetiaan ini? Markus 13 membawa kita ke dalam percakapan Yesus dengan para murid. Ketika salah satu murid memuji kemegahan bait Allah, respon yang diberikan Yesus justru mengejutkan karena Ia berkata “Tidak satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan." (Markus 13:2b). Jawaban ini memicu reaksi murid lainnya. Bagaimana dengan pengikut Kristus dan orang percaya lainnya? Apakah mereka akan mengalami hal yang sama dengan penduduk bumi lainnya? Apakah tidak ada pengecualian bagi mereka? Jawabnya, tidak ada! Bahkan dalam Markus 13 dikatakan penderitaan kita akan lebih berat.
Jadi iman kita menuntun kita bukan mendapatkan keistimewaan/fasilitas khusus, tetapi yang akan kita dapatkan adalah kesempatan.

Kesempatan apa yang bisa orang percaya dapatkan di tengah pergumulan hidup? Kesempatan untuk melihat kuasa dan karya Tuhan terwujud di hidup kita. Kita benar-benar mengalami campur tangan dan pertolongan-Nya. Kita pun dibentuk menjadi manusia yang bisa waspada, mampu bertahan dan terlatih mengandalkan kekuatan Tuhan.
Mazmur 16 memberikan penegasan bahwa Tuhan senantiasa berjanji untuk memberikan pemeliharaan dan keselamatan. Pemeliharaan Tuhan itu berisi janji bahwa Ia tidak pernah membiarkan kita berjuang sendiri saat menghadapi pergumulan hidup. Ia akan selalu menyertai melalui Roh Kudus. Sehingga kita selalu dimampukan, dikuatkan dan bertahan sampai akhir perjalanan hidup kita. Semua itu akan menghasilkan ketekunan bagi kita orang percaya sehingga kita semakin giat menjelang hari Tuhan (Ibrani 10:25). Dan berbahagialah kita karena iman dan kesetiaan kita sudah teruji pada saat kedatangan Yesus Kristus kembali ke dunia ini. Akankah kita menyerah atau terus berjuang? Itu adalah pilihan dan panggilan kita. Amin  YMB

 

11 Nopember 2018
“PERSEMBAHAN YANG TIDAK DIDASARKAN PADA KEMUNAFIKAN"
1 RAJ. 17:8-16; Maz. 146; Ibr. 9:24-28; Mark. 12:38-44

Persembahan, kata yang sudah tidak asing lagi bagi banyak orang. Secara khusus, orang Kristen memberikan persembahan pada kebaktian hari Minggu, mungkin juga persembahan bulanan, atau persembahan pada waktu-waktu tertentu. Bentuknya bisa uang, barang, dan lain-lain. Tapi masalahnya adalah apakah yang memotivasi kita dalam memberikan persembahan tersebut? Jangan-jangan….Tuhan tidak berkenan atas persembahan yang kita berikan kepada-Nya, tapi sebaliknya kita justru menerima hukuman yang berat dari-Nya. Koq bisa begitu ???

Tuhan Yesus menasihati supaya para pengikut-Nya berhati-hati terhadap ahli-ahli Taurat. Tuhan Yesus mengecam ahli-ahli Taurat yang bersikap munafik, Mereka tamak, egois, dan sombong. Yang mereka pikirkan hanya kepentingan diri sendiri, mereka berusaha supaya orang lain melihat kesalehan mereka dan mendapatkan pujian. Mereka tidak sungguh-sungguh peduli tentang Tuhan yang menjadi Hakim atas hidup mereka, apalagi mau bersandar dan berharap pada-Nya. Mereka munafik dan berhak menerima hukuman yang berat !!!

Kontras sekali dengan sikap janda miskin yang mempersembahkan uang hanya 2 peser, yaitu seluruh nafkahnya. Tuhan Yesus menilai bahwa janda miskin itu memberi lebih banyak daripada semua orang yang ada di situ, karena ia rela memberi dari kekurangannya, yaitu semua yang ada padanya. Tuhan Yesus melihat kesungguhan dan ketulusan hati janda miskin tersebut dalam memberi. Sekalipun ia dalam kekurangan, tetapi ia percaya akan pemeliharaan Tuhan dalam hidupnya. Begitu juga dengan janda di Sarfat, yang menolong Elia dari kematian karena kelaparan. Langkah ketaatan yang diambil oleh janda di Sarfat tersebut menunjukkan sikap penyerahan diri, karena percaya akan pemeliharaan Tuhan baginya. Kisah kedua janda miskin ini menunjukkan sikap yang tulus dalam memberi, yang didasari rasa syukur karena percaya akan pemeliharaan Tuhan, bukan didasari oleh kemunafikan.

Percaya kepada Tuhan Yesus yang sudah mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa-dosa kita, dan yang berkuasa memelihara hidup kita, sementara kita menantikan kedatangan-Nya yang kedua kali. Itulah yang seharusnya menumbuhkan rasa syukur dalam hidup kita, sehingga mendorong kita untuk selalu memberikan yang terbaik kepada Tuhan, serta bertekad seperti kata pemazmur : “aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.” (Maz. 146 :  2). Karena hanya Allah satu-satunya penolong !
Jadi apa alasan kita memberikan persembahan?

Supaya kita dipuji dan dihormati orang, bahkan supaya diberkati Tuhan berlimpah; atau sebagai bentuk rasa syukur dan ketaatan kita kepada Tuhan yang sudah memberikan hidup-Nya buat kita? Kiranya kita bertumbuh dalam pemahaman yang benar dalam memberikan persembahan kepada Tuhan. Amin  
ESS

     

4 Nopember 2018
“Bersama Turut Membangun Bangsa, Dengan Mencipta Pemilu Bermartabat "
1 Samuel 16:1-13, Mazmur 126, Roma 13:1-7, Markus 12:13-17

Kita GKI, kita Indonesia. Slogan sederhana ini mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen, setiap anggota gereja dipanggil menjadi bagian bagi Indonesia. Mungkin kita bertanya: apa konsep Alkitab tentang bangsa dan politik (negara)? Melalui bacaan hari ini (1 Samuel 16:1-13, Roma 13:1-7, Injil Markus 12:13-17) kita menemukan prinsip-prinsip beriman dan berbangsa.

  1. Melalui Roma 13:1 kita meyakini bahwa negara ditetapkan oleh Allah. Tanpa hukum negara, kehidupan akan kacau. Manusia tidak dapat hidup bersama bila mereka tidak sepakat untuk memenuhi hukum yang berkaitan dengan hidup bersama. Tanpa negara, tidak banyak hal berharga yang dapat dinikmati oleh manusia.
  2. Dari Roma 13:3, kita mengetahui hubungan antara negara dan Gereja. Tak ada seorangpun yang dapat menerima semua kebaikan yang diberikan oleh negara, lalu menolak tanggungjawabnya. Pada masa Tuhan Yesus melayani ia hidup di jazirah Israel – Palestina. Kala itu bangsa Israel dijajah oleh bangsa Romawi. Namun pemerintah Romawi menjamin kemanan negeri Israel dari serangan-serangan mafia. Pemerintah Romawi membuat Pax Romana yang artinya damai sejahtera di bawah pimpinan kaisar Roma.  Dalam Yesus kita mengenal Pax Christi. Damai sejatera itu dimulai dari hati Yesus sendiri. Menjadi orang Kristen mengalami damai Kristus dalam hidup sehari-hari.
  3. Melalui teladan Tuhan Yesus, kita dipanggil untuk mewujudkan kecintaan pada Tuhan dan negara. Ketika ada beberapa orang Farisi dan orang Herodian datang  pada Yesus  dengan maksud mencobai Dia serta bertanya “Apakah diperbolehkan membayar pajak pada Kaisar atau tidak?”, Tuhan Yesus meminta satu keping dinar dan mengatakan, ”Gambar dan tulisan siapakah ini? Kala itu di satu keping dinar terdapat gambar kaisar (Tiberius) di satu sisi dan di sisi sebaliknya terdapat gambar imam besar.  Maka dari itu, Tuhan Yesus berkata, ”Berikan pada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah, apa yang wajib kamu berikan pada Allah!” (Markus 12:17). Dalam Injil disebutkan bahwa pernyataan Tuhan Yesus itu membuat banyak orang menjadi kagum. Mereka kagum karena Tuhan Yesus menunjukkan jalan hikmat bagaimana menjadi orang beriman yang mengasihi Tuhan dengan segenap hidup, sekaligus mencintai negaranya.

Bersama Tuhan membangun bangsa, itulah tugas kita. Salah satunya adalah dengan mencipta pemilu bermartabat. Artinya jangan golput! Selain tidak golput, Pilihlah pemimpin yang: Memiliki potensi membangun, bukan merusak, berperilaku mempersatukan, bukan memisahkan, berwasawan luas, tidak gegabah. Dalam konteks kekinian pemimpin ini berpegang pada data-data, bukan opini dan hoax yang tersebar di mana-mana. Pemimpin yang berorientasi masa depan beradab, bukan pemimpin yang biadab. Pemimpin yang menghayati Indonesia sebagai rumah bagi semua golongan, bukan pemimpin yang hanya berpihak pada satu golongan.

Sebagai umat Allah di bumi Indonesia, kita GKI – kita Indonesia. Apapun yang terjadi, itulah identitas kita. Nasionalisme kita adalah Indonesia, iman kita adalah pada Yesus. William Barclay menyebut bagaimanapun juga, dalam kehidupan sehari-hari, kekristenan seseorang seharusnya menjadikan dirinya seorang warga negara yang lebih baik dibanding orang lain.
WSN

 

28 Oktober 2018
“MERENGKUH YANG LEMAH"
Yer. 31:7-9, Maz. 126, Ibr. 7:23-28, Mark. 10:46-52

Hari ini, apakah setiap kita sudah meraih dan atau merengkuh yang lemah? Semoga. Artinya kita sudah menolong dan melindungi mereka yang butuh pertolongan berdasarkan tuntunan Tuhan. Kita memberi senyum kehangatan, menerima, mengerti dan menghargai mereka sehingga mendatangkan pemulihan dan semangat baru bagi kehidupan mereka dan kita juga.
Allah terlebih dahulu menyatakan kasih setia-Nya dalam Yeremia 31:3-4a, bahwasanya Allah mengasihi kita dengan kasih yang kekal ..., dan memerintahkan kita untuk bersorak dan bersukarialah.

Begitu pula dikatakan oleh pemazmur dalam Mazmur 126, bahwa Allah sudah menolong pada masa lalu dan Ia akan menolong di masa kini dan dimasa mendatang. Di sini ada optimisme, positive thinking dengan penuh harapan.
Yesus sebagai Sang Teladan adalah Melkisedek yaitu Imam karena kualitas pribadi-Nya yang luar biasa, benar dan sebagai raja damai sejahtera, yang patut kita tiru. Hal ini dinyatakan dalam Ibrani 7:23-28

Markus 10:46-52, mengisahkan mujijat terakhir Yesus sebelum Ia masuk ke Yerusalem pada penyembuhan Bartimeus, seorang pengemis buta. Tak henti-hentinya dia berseru “Anak Daud, kasihanilah aku”, sehingga dia mendapatkan rengkuhan belas kasihan dari Tuhan Yesus dan menjadi sembuh dan melihat.
Ternyata peranan iman atau percaya sepenuh hati pada Yesus telah menyelamatkan Bartimeus.

Dari empat cerita di atas, kita bisa menjadi orang yang direngkuh atau merengkuh sesama karena kasih Yesus semata.
Pada penutupan Bulan keluarga ini, keluarga-keluarga diajak untuk menghayati kehidupannya bersama Yesus.
Kiranya cerita-cerita tersebut menguatkan iman kita untuk merengkuh mereka-mereka yang membutuhkan pertolongan. Amin.
BHS

     

21 Oktober 2018
“KELUARGA YANG MELAYANI"
Yes. 53:4-12; Maz. 91: 9-16; Ibr. 5: 1-10; Mark. 10: 35-45

Pergumulan hidup berkeluarga dapat muncul dari ‘kedudukan’ anggota keluarga. Kedudukan merupakan salah satu dari sekian persoalan lain yang seringkali ditemukan dalam keluarga. Ketika seorang anggota keluarga merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari yang lain, maka tidak jarang ditemukan penindasan lalu muncul perlawanan. Hal ini bisa muncul karena ada nafsu yang menguasai demi memburu keuntungan, kenyamanan, sikap individualistis, dan ingin merasakan dicintai. Sikap yang hanya mementingkan diri sendiri, lalu tidak peduli terhadap orang lain merupakan sebuah wujud merasa diri lebih baik; ingin menonjol di segala hal, ingin lebih dihormati, dipilih, didengarkan suaranya, dilayani, dan lain sebagainya. Siapa sih yang tidak suka dilayani, memiliki kekuasaan yang besar, dan dapat mengatur segalanya menurut keinginannya? 
Hal tersebut yang menjadi keinginan Yohanes dan Yakobus. Kedua murid itu menginginkan kedudukan yang lebih tinggi daripada para murid lainnya. Kedua murid ini mendekati Yesus dan meminta duduk dalam kemuliaan kelak, duduk di sebelah kiri dan kanan Yesus. Yesus menjawab bahwa apakah kedua murid itu mampu menghadapi pergumulan berat yang akan dialami oleh Yesus. Sekalipun kedua murid tersebut menyatakan sanggup menghadapi semuanya, tetapi Yesus mengatakan bahwa hal memberikan duduk di sebelah kanan dan kiri bukan wewenang-Nya. 

Di satu sisi, permintaan dan kesanggupan tersebut dapat dikatakan sebagai wujud semangat melayani serta kebulatan tekad mengikut Yesus. Kita dapat merasakan bahwa kedua murid tersebut sungguh-sungguh menjadi murid Yesus. Namun di sisi yang lain, secara manusiawi, permintaan kedua murid tersebut merupakan permintaan yang tidak pas. Permintaan tersebut merupakan wujud keinginan dunia, keinginan yang instan, keinginan yang segera, sekejap mata tanpa harus melewati proses yang seharusnya. Permintaan tersebut juga sebuah wujud keinginan duniawi, bahwa kedudukan yang berada di kanan dan kiri Yesus merupakan kedudukan-kedudukan yang tinggi, siapa saja yang duduk di situ akan merasakan kenyamanan memegang kekuasaan, popularitas, dan kemuliaan.

Oleh karena mendengar permintaan tersebut, para murid yang lain marah kepada Yakobus dan Yohanes. Kemudian Yesus menengahi dan menenangkan mereka, serta mengajak mereka untuk menjadi orang-orang yang berbeda dengan apa yang lumrah bagi dunia. Harus berbeda dari para pemerintah bangsa-bangsa. Yaitu bahwa “barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Mark. 10:43b-44). Tuhan Yesus menghendaki para murid memiliki sikap batin “hamba” atau “peladen,” atau “batur,” atau “abdi,” atau “pelayan”. Pertanyaannya, sikap hamba itu sikap yang seperti apakah? 
Yesaya 53:4-12 menceritakan mengenai sikap hamba Tuhan yang taat, rendah hati, dan senantiasa menjalankan tanggung jawabnya. Walaupun tugas sebagai hamba tidak menyenangkan, tidak nyaman, dianggap rendah, dianggap mendapatkan hukuman dari Tuhan Allah, dan sebagainya, namun hamba tetap menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati. Seorang hamba harus bersedia mengorbankan dirinya untuk tugas tanggung jawabnya. Hamba yang diceritakan oleh Yesaya merupakan hamba yang jauh dari popularitas, kenyamanan, diagung-agungkan, melainkan hamba yang menjalani sengsara sampai mati, untuk menghadirkan kasih, damai sejahtera, dan pemulihan bagi orang banyak.
Terhadap para hamba yang senantiasa setia dan rendah hati melakukan tanggung jawab dari Tuhan, yang percaya terhadap janji Tuhan, tentu Tuhan akan memberikan penyertaan. Hal tersebut dinyatakan melalui pemazmur 91:9-16 Pemazmur percaya bahwa Tuhan Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya berjalan sendirian dan menghadapi kesengsaraan sendiri, melainkan Tuhan akan menyertai hidupnya. “Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku” (Maz. 91:14).

Di tengah hidup berkeluarga, marilah kita menghidupi sikap hamba yang selalu saling melayani di antara anggota keluarga, yang senantiasa melayani orang lain. Jika setiap orang menghidupi sikap seorang hamba, tentunya kehidupan kita akan dipenuhi sukacita, sebab tidak ada orang yang merasa lebih baik, lebih mampu, dan lain sebagainya. Dengan memiliki sikap seorang hamba, keluarga tidak lagi menjadi keluarga yang hanya menuntut anggota keluarganya, tetapi menjadi keluarga yang penuh sukacita, keluarga yang dapat menumbuhkan sikap kedekatan satu dan lainnya, dan tentunya keluarga yang penuh cinta kasih. Tuhan memberkati kita. Amin.
nhw

 

14 Oktober 2018
“MENYATAKAN KERAJAAN ALLAH DALAM HIDUP BERSAMA"
Amos 5:6-7, 10-15; Mazmur 90:12-17; Ibrani 4:12-16; Markus 10:17-31

Allah menciptakan manusia dan menempatkannya di bumi bukanlah untuk hidup sendiri. Tujuan Allah bagi manusia adalah menjadikannya anggota Keluarga Allah, masuk dalam kerajaan-Nya. Ketika manusia jatuh dalam dosa, hati manusia menjadi individualis. Segala sesuatu berpusat pada kepentingan diri sendiri yang mengarah pada keserakahan. Hati manusia melekat pada kenikmatan duniawi, kehidupan hedonis, kebebasan sex, pemuasan melalui narkoba, pembunuhan hak, hidup, karakter orang lain. Pada Injil Markus 10:17-31. Ada seorang kaya datang kepada Yesus yang disebutnya “Guru yang baik”, untuk menanyakan apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal. Ayat 18, Jawab Yesus:”Mengapa kaukatakan Aku baik ? Tak seorang pun yang baik selain daripada Allah saja.
Kata “Baik” menurut dunia sering ditujukan kepada manusia, pada diri sendiri atau pada orang lain berdasarkan perbuatan. Sedangakan ayat di atas, Yesus secara jelas mengatakan “Hanya Allah yang baik”, karena tidak ada seorangpun yang dibenarkan melalui perbuatan.

Saya sering mendengar ucapan orang yang tidak mau mengikut Kristus “Saya lebih baik dari orang-orang yang pergi ke gereja”, atau “Saya kenal dan tahu betul kelakuan orang yang ke gereja itu hidupnya tidak lebih baik dari saya”. Kata “Baik” menurut dunia lebih ditujukan pada perbuatan bukan relasi. Orang kaya ini menyatakan “kebaikannya” sebab tidak melakukan perbuatan yang melawan Hukum Taurat. Tetapi jawab Yesus adalah yang penting adalah relasi dengan sesama lebih utama dari pada perbuatan pribadi.

Hati yang peduli kepada sesama melebihi dari hati yang melekat pada kekayaannya. Inilah jalan untuk masuk ke dalam kehidupan yang kekal. Orang kaya ini kecewa dengan jawaban Yesus, karena hatinya lebih cinta pada kekayaannya daripada mengasihi sesama. Yesus mengatakan betapa susahnya orang yang beruang (maksudnya orang yang melekat hatinya pada harta duniawi yang fana) untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah (untuk menerima harta yang kekal, yaitu kehidupan yang kekal). Tapi apa yang bagi manusia mustahil, tidak ada yang mustahil bagi Allah.
Kerajaan Allah dinyatakan dalam kehidupan umat Allah yang saling mengasihi, saling peduli, saling menolong dan saling berbagi, dan dengan demikian Nama Sang Raja dimuliakan. Menjadikan Tuhan, sebagai Raja atas kehidupan umat-Nya.
Hanya oleh karena Rahmat Allah di dalam Yesus Kristus, kita memperoleh hidup kekal, bukan karena perbuatan baik kita. Perbuatan baik itu disediakan Tuhan dalam kehidupan bersama dengan saling mengasihi, saling menolong, saling berbagi, saling melayani. Dalam hidup bersama umat Tuhan, Kerajaan Allah dinyatakan.

tonny Iskandar

     

7 Oktober 2018
“MEMELIHARA KESATUAN DALAM KELUARGA"
Kejadian 2:18-24; Mazmur 8; Ibrani 1:1-4; 2:5-12; Markus 10:2-16

Tuhan menjadikan segala sesuatu sempurna. Semua demi terwujudnya damai sejahtera. Damai sejahtera yang dimaksud adalah keserasian, keutuhan, kebaikan, kesejahteraan dan keberhasilan dalam segala bidang kehidupan. Akan tetapi, manusia terlena dengan segala sesuatu yang sempurna itu. Kadang kala, manusia kehilangan kendali untuk memelihara kesempurnaan ciptaan, dan membuat semuanya menjadi rusak. Termasuk hubungan antar manusia.
 
Hubungan antar manusia yang pada mulanya penuh dengan damai sejahtera menjadi rusak dan dilingkupi oleh hawa nafsu, kebencian, dendam dan iri hati. Sehingga bukanlah damai sejahtera yang terwujud, melainkan permasalahan. Zaman semakin maju dan berkembang, namun permasalahan hubungan antar manusia justru semakin alami kemunduran.
 
Media Massa banyak menayangkan peristiwa-peristiwa yang terkait permasalahan hubungan antar manusia, khususnya di dalam keluarga. Berita tentang kekerasan dalam rumah tangga misalnya, baik antara suami dan istri, orangtua dan anak, dll. Persoalan seperti itu kerap muncul dan mengejutkan kita semua. Hal itu sangat jauh dari damai sejahtera seperti yang dijelaskan di atas. Keluarga yang seharusnya menjadi dasar atau landasan manusia untuk menumbuhkan damai sejahtera di dalam hidupnya, sekarang telah menjadi tempat yang rusak dan jauh dari tujuan Allah menciptakan dunia dan segala isinya.

Di Minggu pertama Bulan Keluarga ini, kita akan merenungkan peran kita di dalam keluarga. Keluarga merupakan kesatuan yang mendasar dan utuh, karena di dalam keluargalah seorang anak mendapat pengajaran untuk pertama kalinya. Oleh karena itu pada khotbah ini, kita diajak untuk memelihara kesatuan dalam keluarga dengan memahami tugas panggilan kita di dalam keluarga.

 

30 September 2018
“MONOPOLI PEMBATAS KARYA ALLAH”
Bil. 11:4-6, 10-16, 24-29; Maz. 19:7-14; Yak. 5:13-20; Mark. 9:38-50

“Monopoli” berasal dari bahasa Yunani, Monos : sendiri, dan Polein : penjual.
Praktek monopoli tentu saja sangat menguntungkan pihak penjual, karena hanya dia yang menjadi penjual tunggal, dan satu-satunya penguasa pasar. Pihak pembeli biasanya di posisi yang lemah, karena tidak mempunyai kekuatan tawar.
Pelaku monopoli adalah -orang / badan / lembaga / organisasi- satu-satunya yang mampu melakukan, atau yang paling berhak atas sesuatu, atau yang mendapat fasilitas tertentu.
     Siapakah manusia, sehingga berhak memonopoli karya Allah yang tidak terbatas? Bagaimana mungkin kita membatasi karya Allah yang tidak terbatas itu, apalagi memonopolinya?
     Sebagai pengikut Kristus, kita seharusnya melaksanakan perintah, ajaran, dan teladan Tuhan Yesus. Kita diminta untuk menjadi garam dan terang dunia, menjadikan semua bangsa murid-Nya, menjadi berkat bagi seluruh alam semesta beserta isinya, menjadi saksi-Nya, dan menghadirkan kerajaan Allah di dunia. Melalui kita, semua ciptaan bisa merasakan kasih, kuasa dan karya Allah.
     Jika demikian halnya, apakah hanya orang yang belum mengenal Kristus saja yang kadang mempunyai kecenderungan untuk memonopoli, dan membatasi karya Allah?
Ternyata tidak. Sepanjang manusia memakai hikmat manusia, maka tidak terkecuali orang Kristen, akan berpikir bahwa berkat Allah hanya bagi kelompok tertentu saja.
Dengan demikian, tidak cukup bagi kita, untuk sekedar mengaku percaya kepada Kristus, melainkan pengenalan kita akan Allah harus semakin bertumbuh, sehingga kita dapat semakin mengerti hikmat Allah, dan melaksanakan kehendak Allah dalam hidup kita. Firman Tuhan dan peraturan-peraturan-Nya akan menyegarkan jiwa, mengajar hikmat-Nya, menyukakan hati, membuat kita takut akan Tuhan, dan menjauhkan kita dari segala kesesatan (Mzm. 19:7-14). 

Yosua yang sudah sejak mudanya menjadi abdi Musa, masih berpikir, bahwa karya Allah adalah monopoli suatu kelompok. Yosua merasa Eldad dan Medad tidak seharusnya menerima kepenuhan Roh Allah seperti nabi, karena kedua orang itu bukan termasuk ketujuh puluh orang tua-tua. Sebaliknya, Musa berpikir, ia akan terbantu dalam menangani berbagai persoalan di tengah umat, jika semakin banyak umat Tuhan yang menjadi seperti nabi karena kepenuhan Roh (Bil. 11).
Seorang pejabat hanya mempunyai hak prerogatif yang telah ditetapkan baginya, tetapi siapakah manusia, sehingga dapat menetapkan hak prerogatif Allah?

Allah adalah Pencipta, Pemilik, Penguasa, Pemberi Wahyu, Penebus yang menghakimi dan mengampuni, berkarya bagi semua ciptaan, bukan hanya bagi orang Kristen.
     Yohanes, seorang dari dua belas rasul, berpikir bahwa hanya kelompoknya sajalah yang berhak untuk mengusir setan atas nama Tuhan Yesus.
Tuhan Yesus membuka cara pandang para murid, bahwa semakin banyak mereka melibatkan orang lain dalam menghadirkan kerajaan Allah di dunia ini, akan semakin baik. Allah dapat memakai siapa saja yang berkenan kepada-Nya untuk melakukan karya-Nya (Mrk. 9:38-41).

Kenyataan bahwa karya Allah bisa terjadi melalui / bagi siapapun juga, mengajar kita, agar :

  1. Jangan sampai kita terjebak pada kecenderungan memonopoli sesuatu yang bisa menjadi pembatas karya Allah bagi dunia ini.
  2. Kita meneladani Musa dan Tuhan Yesus yang membuka diri untuk bekerja sama dengan pihak lain yang dikehendaki Allah, sehingga bisa bersama-sama menjadi saluran berkat bagi sesama.

Nancy Hendranata

     

16 September 2018
“MENJAGA PERKATAAN, MENGIKUT TUHAN”
Yes. 50:4-9a; Maz. 116:1-9; Yak. 3:1-12; Mark. 8:27-38

Memang lidah tak bertulang, demikian sebagian dari lirik sebuah lagu yang berjudul “Tinggi Gunung Seribu Janji” dinyanyikan oleh Bob Tutupoly yang cukup populer di era 70-an. Lirik tersebut memiliki arti bahwa manusia sangat mudah untuk berbohong/mengumbar janji. Dari satu lidah yang sama bisa keluar perkataan yang bertentangan, misalnya ya dan tidak, kutuk dan berkat, cacian dan pujian dsb. Ada banyak persoalan yang terjadi karena lidah yang tidak dapat dikendalikan dengan benar. Ada banyak konflik yang terjadi karena perkataan yang dikeluarkan dengan tidak bijaksana. Melalui perenungan minggu ini, kita diajak untuk menguasai lidah kita atau menjaga perkataan kita sebagai murid Tuhan.
Dalam Injil Markus kita melihat bagaimana lidah itu tidak bertulang dalam diri Petrus. Dengan mulut yang baru saja mengeluarkan kata-kata pengakuan yang dipuji oleh Yesus (Mark. 8:29, Ia bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Petrus: "Engkau adalah Mesias!”), tidak berapa lama kemudian Petrus mengeluarkan kata-kata yang ditegur keras oleh Yesus (lihat Mark. 8:32-33). Melalui pesan Injil ini para pengikut Kristus diingatkan lewat keteladanan hidup Yesus. Ia menggunakan kata-kata untuk membangun kehidupan. Ia menegur dengan keras Petrus yang kurang bijak menggunakan mulutnya. Yesus juga memakai perkataan untuk menasehati para pengikut-Nya tentang persoalan yang akan mereka hadapi sebagai murid-murid Kristus. Ia tidak menutup-nutupi dan mengemas dengan perkataan manis supaya banyak orang yang terbujuk mengikuti Dia. Dengan terus terang Ia mengatakan akan ada kesusahan yang dialami para pengikut-Nya. Bersamaan dengan itu bagian Injil ini juga menjadikan Petrus sebagai contoh untuk para pengikut Kristus menggunakan perkataan dengan bijaksana, supaya perkataan yang dihasilkan bukan menjadi batu sandungan, tapi menjadi berkat yang membangun sesama.

Penulis surat Yakobus mengingatkan dan menjelaskan tentang pentingnya mengendalikan atau menjinakkan lidah kepada jemaat. Kata yang digunakan untuk ‘menjinakkan’ dalam bahasa Yunani adalah damazo yang secara harafiah diartikan “menjinakkan binatang liar atau binatang buas supaya dapat dikendalikan dan dimanfaatkan untuk hal-hal yang baik”. Contoh yang digunakan yaitu dua benda yang tampak kecil ukurannya namun memegang peranan penting, yaitu kekang pada kuda dan kemudi pada kapal. Kekang pada kuda walaupun hanya seutas tali, namun bisa mengendalikan kuda yang kuat dan cepat.  Sementara kemudi yang kecil pada kapal dapat mengendalikan arah kapal yang besar di tengah lautan yang luas.
Dengan demikian, penulis surat Yakobus hendak menjelaskan sisi positif dari lidah atau perkataan. Lidah, tampak kecil dibandingkan anggota tubuh lainnya, tapi yang kecil ini bisa membuat hal-hal atau perkara-perkara besar. Dengan lidah seseorang bisa berkomunikasi, menasehati, memuji, memberi petunjuk, mengarahkan, bersaksi dan melakukan hal yang positif. Namun di sisi lain, penulis juga mengingatkan jemaat untuk berhati-hati dengan lidah, karena lidah juga bisa memiliki kekuatan yang destruktif dan dapat menjadi senjata yang menghancurkan yaitu melalui contoh api yang tidak dapat dikendalikan yang dapat membakar hutan yang besar (lih Yak. 3:35b-36).

Oleh karenanya, mari kita menjaga lidah atau perkataan kita sebagai salah satu wujud kesetiaan mengikut Tuhan. Semoga melalui lidah atau perkataan kita nama Tuhan dimuliakan. Amin  
DS

 

09 September 2018
“BERKARYA MELAMPAUI SEKAT DUNIAWI”
Yes. 35:4-7; Maz. 146; Yak. 2:1-17; Mark. 7:24-37

Prestasi Indonesia di Asian Games belum lama menorehkan rasa bangga yang luar biasa. Bagaimana tidak bangga, Indonesia berhasil menduduki peringkat 4 setelah di Asian Games sebelumnya Indonesia di peringkat 17.  Berbicara soal bangga, sudah lama sebenarnya bangsa Indonesia memiliki begitu banyak kelebihan yang patut dibanggakan, yaitu keberagaman suku, budaya, bahasa dan agama.
Sayangnya keberagaman itu semakin sulit di nikmati karena konflik-konflik yang berlatar belakang perbedaan membuat kita takut berjumpa dengan perbedaan itu. Pada akhirnya kita merasa lebih aman bersama dengan kelompok, lingkungan yang sama dan sejenis. Akan tetapi ketika kita semakin jarang berjumpa dengan perbedaan, kekhawatirannya kita semakin sulit peka akan panggilan kita untuk menjadi saksi Kristus di dunia ini. Pilihannya kita akan terkungkung dengan rasa takut atau kita mau di asah Tuhan agar tetap bersikap bijak di tengah situasi yang tidak aman dan nyaman ini, dan tetap menjadi saluran kasihNya?
Markus 7:1-23 bisa menjadi sumber perenungan buat kita. Hal yang menarik dalam bacaan ini, sosok ibu yang mendatangi Tuhan Yesus disebutkan identitasnya berdasarkan tempatnya berasalnya. Sebutan yang diberikan yaitu Perempuan Siro-Fenesia untuk menunjukkan dengan jelas tentang siapa yang sedang memohon pelayanan kepada Yesus saat itu. Dia adalah seorang perempuan yang dalam adat istiadat orang Yahudi dipandang sebagai manusia kelas dua setelah laki-laki. Selain berjenis kelamin perempuan, orang itu bukanlah orang Yahudi. Ia berkebangsaan Yunani dan berasal dari bangsa Siro-Fenesia. Dalam pemahaman orang Yahudi, bangsa lain adalah kafir. Pergaulan dengan mereka hanya akan menghasilkan kenajisan. Akan tetapi yang Yesus lakukan adalah menyatakan karya Allah kepada setiap orang yang berpengharapan dan beriman kepadaNya. Oleh karena itu, Yesus tetap menyediakan diri untuk melayaninya dan berkata, “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.”(ayat 29).
Sikap di atas tidak hanya sekali dilakukan Yesus, karena Ia kembali melakukanNya saat dalam perjalanan menuju ke danau Galilea. Saat Ia sampai di daerah Dekapolis, Ia menyembuhkan seorang yang tuli dan gagap.
Padahal, sebagian besar penduduk Dekapolis adalah orang-orang yang berkebangsaan Yunani.

Yesus menunjukkan karya Allah tidak dapat dan tidak boleh dibatasi oleh berbagai sekat yang dibuat manusia. Yesus memberikan teladan bagi kita, Ia tidak pernah memandang muka dan status seseorang. Yang Yesus lakukan adalah menyatakan karya Allah kepada setiap orang yang berharap dan beriman kepadaNya. Karya Yesus mengajak kita sebagai gereja untuk meneruskan setiap keteladananNya dalam menyatakan karya Allah di tengah dunia. Gereja harus menjadi komunitas yang memiliki sikap seperti yang telah Yesus teladankan. Gereja mau terbuka untuk menyatakan karya Allah bagi seluruh ciptaan-Nya. Gereja tidak boleh membatasi atau membangun sekat yang menghambat terwujudnya karya Allah bagi seluruh ciptaan-Nya. Surat Yakobus 2:1-17, menegaskan bahwa perbuatan mencerminkan iman. Jika kita beriman kepada Yesus, seharusnya perbuatan kita juga sejalan dengan iman kita tersebut. Yakobus, mengingatkan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Iman kita pun hendaklah jangan lebih kecil dari ketakutan dan kecemasan kita. Biarlah iman kita kepada Kristus menuntun kita untuk tetap dimampukan menyatakan karya Allah kepada setiap orang yang membutuhkan. Dan dengan itu semua kita dimampukan berkarya melampaui sekat duniawi.
YMB

     

02 September 2018
“INTEGRITAS VS KEMUNAFIKAN?”
Ulangan 4:1-2, 6-9; Mazmur 15; Yakobus 1:17-27; Markus 7:1-8, 14-23

Seorang pengusaha yang sibuk ingin beristirahat sejenak sepulang dari kantor. Karena tidak ingin diganggu, ia berpesan pada anaknya, “kalau ada yang cari papa, bilang papa tidak ada, ya. Tak lama kemudian telepon berdering, si anak tergopoh-gopoh menjawab telepon tersebut, lalu berkata, ”Halo om, papa bilang papa tidak ada…” Kisah di atas mungkin sekedar ilustrasi yang sering terjadi diantara kita. Namun sadarkah kita, semakin banyak penyesuaian cara, sikap dan perkataan, lazim digunakan sebagai jalan pintas mencapai tujuan. Sedikit rekayasa dianggap hal yang sudah biasa, bahkan menjadi kiat mujarab untuk meraih sukses. Dalam kitab Ulangan 4:2 pegang Firman Tuhan dan jangan merekayasa, atau “jangan menambahi dan jangan mengurangi.”
Firman Tuhan hari ini sehubungan dengan : nasehat Musa pada bangsa Israel, agar ketika Israel dipimpin oleh pemimpin muda Yosua, mereka ingat dan mengerti apa yang dikehendaki Tuhan ( Ul. 4:2), sehingga tidak sulit dipimpin Yosua yang segera akan menggantikan Musa. Musa memotivasi bahwa dengan setia pada Tuhan, mereka mengenalkan Allah  pada bangsa-bangsa, bahwa Tuhan demikian dekat pada umatNya (7). Orang yang dekat Tuhan, pemazmur menyebutnya sebagai orang yang “boleh menumpang di kemah Tuhan” yakni yang berlaku adil pada sesama, berkata benar dengan segenap hati (Maz. 15:1-2). Ketika kebenaran sudah berada dalam hati, maka orang tersebut akan mengeluarkan dari mulutnya kebenaran, dan memiliki sikap hidup benar, sikap hidup sekaligus ibadah yang benar, contohnya : “seperti mengunjungi yatim piatu”. Orang yang berintegritas, yakni bukan hanya sebagai pendengar saja tetapi pelaku firman Tuhan (Yak. 1:22). Apa yang ia ketahui dari firman Tuhan, itu yang dilakukannya.
Firman Tuhan : jangan meniru orang Farisi. Kebanyakan orang Farisi cenderung ingin menonjolkan diri sebagai orang yang maunya dinilai sudah hidup benar. Dalam hidup sekarang sangat mungkin berada pada banyak orang yang takut dinilai belum / kurang : setia, kurang mengasihi, kurang bersungguh-sungguh. Perasaan takut dianggap belum mampu hidup benar ini atau itu, menjadikan orang hidup penuh kemunafikan.

Pada orang yang hidupnya penuh kemunafikan, Yesus mengingatkan : “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu” (Mark. 7:6).
Agar berproses ke arah hidup yang berintegritas, tidak munafik, maka orang perlu memiliki kebenaran dalam hati. Hati yang benar, terjadi pada orang yang mengalami Allah dari dekat (Ul. 4:7) sehingga perintah Allah menjadi yang terutama dalam hidupnya (Mark. 7:8), dan dengan hikmat Tuhan menaklukan semua peraturan manusia / adat istiadat dibawah hukum kasih (Allah). Dan pada akhirnya ia mampu hidup bahagia, sebab ia dimerdekakan dari berbagai kepentingan diri dan adat istiadat. Orang yang merdeka ; orang yang dikuasai Tuhan saja. Orang tersebut jauh dari hidup munafik, tidak sibuk mencari kesalahan orang lain demi menonjolkan dirinya. Orang yang siap menerima apa adanya keadaan enak atau tidak enak, baik atau kurang baik. Banyak orang tidak bahagia dan tidak bertintegritas seperti contoh di atas tentang “papa yang berpesan pada anak supaya berkata papa tidak ada di rumah”. Orang yang merdeka adalah orang yang tidak takut dikatakan “suka tidur”, tidak takut dikatakan “orang malas”. Ia jauh dari sikap munafik. Ia berani berkata apa adanya. Karena padanya masalahnya bukan tidur atau tidak tidur, tetapi ia menjalankan hidup dengan takut akan Tuhan. Apa yang dia terapkan adalah praktek imannya. Siap apa adanya.  

Sikap jujur apa adanya dan setia pada Tuhan akan menjadi warisan yang sangat berharga. Ortu yang hidup dengan Integritas sangat ditekankan dalam Alkitab : “ingat ketetapan Tuhan seumur hidupmu, dan beritahukan kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semua itu” (Ul. 4:9).  Mari wariskan dengan keteladanan hidup yakni dalam “satunya kata dengan perbuatan“. Sebab, orang yang berintegritas akan tahu dan mengalami bahwa orang akan berbahagia oleh perbuatannya (Yak. 1:25). Amin.
PKM

 

26 Agustus 2018
“SIAPAKAH YANG ENGKAU SEMBAH?”
Yosua 24:1-2,14-18, Mazmur 34:15-22, Efesus 6:10-20, Yohanes 6:56-69

Tema ini merupakan refleksi dari kata “engkau” yang menunjuk kepada kita secara personal maupun keberadaan kita secara komunal yaitu gereja. Refleksi ini penting bagi keberadaan kita selama perjalanan 29 tahun penyatuan GKI sejak tahun 1988. Pertanyaan refleksi yang selalu relevan, Sudahkah GKI sebagai gereja yang selalu memuliakan Tuhan ? Apakah derap langkah penyatuan GKI membuat Tuhan dimuliakan ? Dalam Injil, Yesus mengkritik orang banyak yang berbondong-bondong mencari Dia, hanya untuk mencari “tanda”. Mereka menjadi penyembah mujijat, penyembah berkat, kekayaan, kenikmatan yang pada akhirnya yang menjadi pusat kehidupan adalah dirinya sendiri. Mereka mencari roti manna bukan Roti Sorga.
Ketika kita menyembah “berkat” tetapi bukan menyembah “pemberi berkat” yaitu Tuhan yang kekal, maka iman kita mudah tergoncang karena kita menyembah hal-hal yang sementara. Kesembuhan sementara, kekayaan sementara, kekuasaan sementara, kesuksesan sementara. Sedangkan Tuhan kekal adanya
Kita semua adalah mahluk penyembah. Ada banyak ilah-ilah duniawi yang disembah, yang artinya menjadi yang utama dalam hidup manusia. Anda dapat memeriksa hidup anda, hal apa yang paling banyak menghabiskan waktu, pikiran, energi dan usaha anda., itulah yang anda utamakan dan anda sembah. Bisa kekayaan, kekuasaan, popularitas, kesehatan, keluarga dan lain-lain.
Pada Bacaan Kitab Yosua, dikatakan nenek moyang bangsa Israel di seberang sungai Efrat menyembah ilah-ilah lain bukan Allah. Yosua menantang bangsa Israel kepada siapa mereka harus menyembah. Dan mereka mengambil keputusan untuk menyembah Allah, seperti yang dinyatakan Yosua dan seluruh keluarganya.

Yesus menyatakan diri-Nya, “Akulah Roti Hidup yang telah turun dari sorga”. Roti bagi bangsa Yahudi adalah makanan utama, makanan pokok. Orang yang makan roti manna akan tetap mati, sedangkan yang memakan Roti Hidup dia akan hidup selamanya. Roti Hidup adalah setiap Firman yang keluar dari mulut Allah. Ketika kita menyembah Tuhan, Tuhanlah yang utama dan pokok dari kehidupan kita, kita memberikan waktu yang utama bukan sisa waktu kita, kita mengisi pikiran kita dengan pikiran Kristus sebagai makanan pokok rohani.

Bacaan Mazmur 34 menyatakan ketika kita fokus kepada Tuhan yang kita sembah Tuhan juga fokus kepada kita, mendengar seruan kita, melepaskan dari kesesakan, menyelamatkan, melindungi, membebaskan kita dari hukuman.
Bagaimana dengan GKI yang sudah mapan apakah masih menyembah Tuhan ? Bukankah ini pertanyaan yang aneh ? bukankah gereja tempat orang menyembah Tuhan ? Sayangnya, seringkali secara tidak sadar kita tidak menempatkan Tuhan bertahta di pusat persekutuan kita. Fokus gereja bergeser pada ritual, tata gereja, program, pembangunan, kenyamanan ibadah. Bukannya ini tidak penting, tetapi jujur saja hal-hal ini menyita banyak waktu dan pikiran kita dalam kehidupan bergereja dengan kata lain inilah yang sedang kita sembah. Kembalikan fokus gereja kepada Tuhan Yesus Kristus, Sang Roti Hidup. Surat Paulus kepada Jemaat Efesus 4 :10-11 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis.
Dialah yang patut kita sembah, Dialah yang patut dimuliakan. Haleluya. Amin
tonny iskandar

     

19 Agustus 2018
“HIDUP YANG MEMBERI HIDUP”
Amsal 9:1-6; Maz. 34:9-14; Ef. 5:15-20; Yoh. 6:51-58

Hidup adalah anugerah Allah kepada manusia, bahkan  kepada setiap makhluk hidup yang ada di alam semesta ini. Tetapi yang harus kita renungkan adalah ‘Hidup untuk apa?’  Setiap orang memiliki keinginan untuk hidup bermakna, tetapi tidak semua orang dapat menjadikan hidupnya bermakna. Sekalipun setiap orang sudah diberi dan menerima hidup dari Allah, tetapi tidak semua orang mau dan dapat memberi hidupnya untuk menghidupi apa yang ada disekitarnya.  Ada saja orang-orang yang berusaha memenuhi dan memuaskan ambisi hidup yang berpusat pada dan untuk dirinya sendiri.

Injil Yohanes 6, khusus berbicara tentang Yesus Kristus yang memperkenalkan DiriNya sebagai roti hidup, telah memberikan hidupnya untuk memberi kehidupan bagi manusia.  Yohanes 6:35, Yesus berkata: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa yang percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi.” Yohanes 6:51, Yesus berkata: Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seseorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”  Ayat 53 selanjutnya Yesus berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darahNya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.”  Ayat-ayat di atas mau menjelaskan bahwa pengorbanan Kristus di kayu salib membuat setiap orang yang datang dan percaya kepadaNya memiliki hidup yang berarti, hidup yang berkembang, hidup yang menjadi berkat di dalam dunia ini dan memiliki hidup yang kekal di kehidupan yang akan datang.  Pengorbanan Kristus di kayu salib adalah contoh nyata kehidupan yang memberi hidup bagi dunia ini.  Setiap kali kita mengikuti Perjamuan Kudus, kita diingatkan bahwa pengorbanan Kristus di kayu salib untuk pengampunan dosa dan  keselamatan kita. Itulah pengorbanan hidup yang memberikan kehidupan bagi orang lain.

Bagi setiap orang yang telah datang kepada Kristus, percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai roti memiliki kehidupan yang bermakna, memiliki kephidupan yang berkemanangan, memiliki kehidupan yang dipulihkan, dan memiliki kehidupan kekal di sorga; dipanggil oleh Allah untuk memberi dan berbagi kehidupan dengan orang lain yang ada disekitarnya supaya orang lain juga menikmati kehidupan bersama dengan Kristus sang sumber kehidupan. 

Untuk menjalani kehidupan seperti ini tidaklah mudah, dunia dimana kita tinggal adalah dunia yang penuh dengan dosa dan kejahatan. Itulah sebabnya Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Efesus supaya jemaat memperhatikan dengan seksama bagaimana mereka hidup (mengisi kehidupan dengan bijak) dan  bagaimana mereka mempergunakan waktu yang ada dengan bijak. (Efesus 5:15-16). Ketika kita mengerjakan pekerjaan-pekerjaan baik dari Allah (Ef 2:10) pada saat itulah kita disebut menjalani kehidupan dan mempergunakan waktu dengan baik dan bijak.
Pertanyaan untuk kita renungkan bersama adalah:

Apakah kita sudah memiliki roti hidup itu?  Apakah kita sudah mengalami pemulihan atau pembaharuan hidup?  Apakah kita sudah berbagi kehidupan dengan orang-orang yang ada disekitar kita? 
Kiranya Tuhan melalui Roh KudusNya menolong kita untuk menjalani hidup yang bermakna bagi sesama.
RDL

 

12 Agustus 2018
“MEMBERI DIRI MEMBANGUN SINERGI”
Kel. 18:13-26; Maz. 23; Kis. 2:41-47; Yoh. 21:15-19

Ketika menggagas mengenai konsep hospitality church dengan cara membangun relasi pelayanan yang bersahabat di GKI Pasteur, maka saya teringat pada bagaimana jemaat mula-mula menghidupi cara hidupnya dalam Kis. 2:41-47. Pada ayat 41-42, dikatakan, ”orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis.... mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan.” Ada beberapa kata menarik di dalam ayat ini yaitu memberi diri dan mereka bertekun dalam persekutuan atau saya coba menggunakan istilah membangun sinergi dalam persekutuan. Mengapa sinergi? karena dalam ayat 44 dijelaskan bahwa semua orang yang memberi diri tersebut tetap bersatu dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. Sinergi sendiri bisa diartikan berarti satu kesatuan yang utuh, kuat antara elemen satu dengan yang lainnya yang saling memperkuat dan tak dapat dipisahkan. Oleh sebab itu, membangun Gereja yang Ramah dan Bersahabat hanya bisa diwujudkan jika setiap orang yang percaya memberi dirinya dan membangun sinergi dengan sesamanya.

Memberi diri yang dimaksud adalah berpartisipasi atau terlibat dalam pelayanan di gereja sebagai sebuah persekutuan dari orang-orang percaya. Sebab untuk beriman, kita membutuhkan semacam jemaat/ persekutuan/ gereja dalam bentuk atau wujud mana pun juga. Selain itu, didukung dari teori ilmu-ilmu sosial yang mengatakan bahwa suatu ide atau gagasan hanya dapat berlangsung jikalau ada struktur sosial (grup atau kelompok) yang mendasarinya. Hal itu berlaku pula untuk beriman yang juga berarti berpartisipasi pada perjanjian yang diadakan Allah dalam Kristus dengan manusia. Dengan manusia sebagai individu, namun sebagai individu yang berelasi dengan orang lain. Berpartisipasi pada perjanjian itu hanya dapat dihayati manusia sebagai keseluruhan kalau mereka berada dalam persekutuan tempat mereka saling mendukung dan saling memperlengkapi satu dengan yang lain. Maka, kita melihat, dalam memberi diri dalam persekutuan, kita tidak bisa melepaskan diri dari upaya untuk membangun sinergi.

Membangun sinergi adalah hal yang penting dalam sebuah persekutuan ataupun berbicara mengenai sebuah organisasi. Tidak ada manusia yang mampu hidup seorang diri. Setiap individu membutuhkan individu lainnya dalam kehidupan yang ia jalani. Dalam bacaan Keluaran 18:17-23, kita melihat bagaimana Yitro mertua Musa mengingatkannya bahwa sehebat apapun dia, tidak bisa mengerjakan seluruh pekerjaan seorang diri saja. Yitro mengingatkan Musa bahwa sebagai manusia ia akan mengalami kelelahan, ia mengingatkan Musa agar membangun sinergi dengan orang-orang yang memberi diri untuk takut akan Allah sehingga menampilkan hidup yang dapat dipercaya untuk menjadi pemimpin-pemimpin baru dari umat Israel. Dengan munculnya pemimpin-pemimpin baru, pekerjaan Musa menjadi ringan dan bisa lebih fokus untuk mengurusi hal-hal lainnya.

Oleh sebab itu, membangun GKI Pasteur menjadi gereja yang ramah dan bersahabat hanya bisa diwujudkan jika semua umat mau berpasrtisipasi dalam persekutuan bersama dengan cara memberi diri-nya dan membangun sinergi dalam pelayanan. Hal tersebut tidak mungkin hanya dilakukan oleh para pemimpin saja. Setiap orang adalah juga gembala yang menyahabati dan menjadi sahabat yang menggembalakan sesuai dengan gambaran Gembala dalam Mazmur 23. Semua orang punya peran untuk membangun sebuah komunitas gereja yang ramah dan bersahabat. Hal tersebut sesuai dengan konsep Trinitas yang digagas sebagai Allah dalam persekutuan yang menghargai kesetaraan, perbedaan dan kesatuan. Allah dalam persekutuan memiliki karakter persahabatan ilahi. Karena itu konsep Trinitas sebenarnya menawarkan persahabatan sebagai konsep menggereja masa kini, yaitu persahabatan Kristus melalui kesediaan-Nya menjadi sahabat bagi manusia (Yoh. 15:13).

Kesediaan Yesus yang memberi diri-Nya sebagai sahabat yang mengorbankan nyawa itulah yang diteladani Petrus yang rapuh sebagai manusia untuk mampu menerima ajakan Yesus membangun sinergi dalam karya keselamatan Allah bagi manusia dan seluruh ciptaan-Nya dengan memberi dirinya dengan menjawab pertanyaan Yesus, ”Apakah engkau mengasihi Aku?” yang dijawab Petrus dengan,”...aku mengasihi-Mu.” Bukan hanya dengan kasih Agape (kasih tanpa syarat) tetapi juga dengan kasih Philia (sahabat-yang memberikan nyawanya bagi sahabatnya Yoh. 15:13). Maka, kita melihat memberi diri bukan hanya sekadar berpartisipasi, tetapi dalam konsep ini, memberi diri juga berarti berkorban (diri, harta benda, waktu, tenaga) untuk menggembalakan domba-domba Allah dalam kehidupan persekutuan yang bersinergi. Maka, Ketika GKI Pasteur mengakui dirinya segambar dan serupa dengan Allah maka GKI Pasteur pun seharusnya menjadi gereja yang memiliki karakter persahabatan ilahi yang dihidupi oleh siapa pun yang hadir dan terlibat dalam pelayanan untuk memberi diri dan membangun sinergi. Tuhan memberkati pelayanan kita bersama.
AG

     

5 Agustus 2018
“BEKERJALAH UNTUK MAKANAN YANG TIDAK BINASA”
Kel. 16:2-4, 9-15; Maz. 78:23-29; Ef. 4:1-16; Yoh. 6:24-35

Bukan suatu kebetulan bahwa Yesus Kristus, lahir di tempat yang disebut Betlehem yang artinya : rumah roti. "... Roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia," (6:33). “Akulah roti hidup” (6:35). Ungkapan "Akulah roti hidup" ini diucapkan dalam pembahasan waktu setelah Ia bermujizat memberi makan 5000 orang.
1. Dapatkan yang terutama : Yesus, Roti Hidup
Dalam penyampaian-Nya, Tuhan Yesus memberitahukan orang banyak itu, "Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal.” Tuhan Yesus menegaskan, bahwa tujuan-Nya datang ke dunia ini bukan untuk memberikan makanan yang hanya dapat mengenyangkan tubuh jasmani yang bersifat sementara, melainkan makanan yang memelihara kehidupan rohani dan memberi hidup yang kekal. Dengan percaya, maka kita mendapatkan yang terutama, pusatnya / sumber hidup, pemberi hidup yakni Yesus.
2. Pernyataan ini sekaligus mengingatkan kebergantungan hidup manusia pada Tuhan.
Meski roti merupakan kebutuhan pokok manusia, namun ada yang lebih penting daripada roti, atau makanan. Tuhan Yesus berkata, "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah" (Matius 4:4). Pernyataan itu mengingatkan kita pada masa ketika orang Israel tidak bisa tidak, bergantung sepenuhnya kepada Allah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ini terjadi tidak lama setelah mereka keluar dari Mesir. Setelah sebulan mengembara di Gurun Sinai, persediaan makanan hampir habis (Kel 16:1-3). Allah tidak akan membiarkan umat-Nya kelaparan. Musa : "Ini adalah roti yang TUHAN berikan kepadamu sebagai makanan." Mereka menyebutnya manna ( menunjang hidup selama 40 tahun (Kel 16:4,31). Makanan manna adalah simbol kebergantungan manusia pada Tuhan. Namun terlebih lagi kebergantungan manusia yang binasa karena dosa pada “Roti Hidup”, yakni Yesus Kristus Juruselamat dunia.
3. Renungkan : apa pencarian yang terutama dalam hidup kita ?
“Bekerjalah untuk makanan yang tidak dapat binasa.” Disadari atau tidak dalam hidupnya, penghayatan hidup dengan dasar iman percaya pada Tuhan, masih perlu terus diasah.

Dengan dasar iman pada Kristus, umat Tuhan melalui kerja dan aktifitasnya sedang bekerja untuk hidup yang kekal. Di luar iman, yang kita kerjakan hanya untuk dunia yang akan binasa. Melalui iman maka kita bersyukur pada Tuhan atas makanan yang kita peroleh. Demikian saat kita menggunakan kekayaan dan jabatan, akan jauh dari ego kita. Dengan iman segala yang kita perbuat adalah karena Tuhan dan bagi Tuhan.

Saat kita mengisi kehidupan untuk hidup yang kekal, semua terasa ringan dan penuh sukacita. Kita dijauhkan dari keputusasaan. Suka duka, sehat sakit makin mendekatkan diri kita pada Tuhan. Senantiasa dapat menikmati karunia Tuhan di tengah kekurangan. Dapat memberi arti yang terdalam dalam setiap langkah, yakni dalam rangka turut serta dalam pekerjaan-pekerjaan Allah.

Melalui firman Tuhan ini, kiranya kita semakin melekat pada Tuhan Yesus : Roti Hidup, sumber hayat kita, serta kita semakin menjadi jemaat yang semakin bekerja bagi Tuhan ditiap karya. Contoh dalam pembangunan ruang remaja, ini bukan sekedar membangun ruangan, namun sebagai pekerjaan Tuhan untuk hidup yang kekal. Yakni agar melalui ruang remaja : iman (remaja) makin bertumbuh, dan pekerjaan-pekerjaan Allah dalam Jemaat makin dinyatakan. Biarlah pencarian kita yang terutama adalah Tuhan Yesus dan pekerjaan-pekerjaanNya. Sampai kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yg benar tentang Anak Allah – kedewasaan penuh. Sehingga apa yang kita lakukan dalam segala sesuatu ke arah Dia, Kristus Tuhan kita (Efesus 4:13, 15). Amin.

 

29 Juli 2018
“PERCAYA KEPADA YESUS, BUKAN MENCARI BERKAT”
2 Raj. 4:42-44; Maz. 145:10-18; Ef. 3:14-21; Yoh. 6:1-21

Kehidupan di dunia ini memperhadapkan manusia dengan banyak liku, persoalan, dan pilihan. Semua orang pasti tertarik, jika ada solusi yang dapat menyelesaikan berbagai permasalahan, apalagi kalau dengan cara yang mudah dan instan. Kesaksian orang-orang Kristen mempunyai daya tarik yang besar, ketika mereka menceritakan, bagaimana keadaan ekonomi keluarga membaik, bahkan semua hutang terlunasi, penyakit tersembuhkan, dan semua persoalan mendapatkan jalan keluar, setelah mereka menjadi orang Kristen.
Orang yang mendengarnya mungkin akan tertarik untuk menjadi orang Kristen, dan pergi ke gereja, dengan harapan persoalan mereka akan segera selesai. Keadaan ini juga terjadi pada jaman Tuhan Yesus. Ketika Tuhan Yesus membuat banyak mujizat kesembuhan, dan memberi makan lima ribu orang laki-laki dari lima roti jelai dan dua ikan, orang banyak mengikuti-Nya. Mereka mengikuti Tuhan Yesus karena berkat-berkat jasmani itu, bukan karena memercayai-Nya sebagai Mesias atau Allah. Bahkan para murid, yang di sini diwakili oleh Filipus dan Andreas, juga belum percaya akan kuasa Tuhan Yesus. Filipus masih berpikir secara rasional, dengan mengatakan uang dua ratus dinar tidak akan cukup untuk membeli roti bagi kumpulan orang-orang itu. Demikian juga Andreas yang hendak mengatakan lima roti jelai dan dua ikan tidak akan memadai bagi orang sebanyak itu (Yoh. 6:1-21). Walaupun para murid sudah mengiringi Yesus beberapa waktu, dan melihat berbagai mujizat yang dilakukan-Nya, tetapi mereka belum mengenal siapa Yesus sesungguhnya. Setelah orang banyak itu diberi roti yang mengenyangkan jasmani, dan mendapat kesembuhan jasmani, mereka percaya Yesus adalah nabi, dan ingin menjadikan-Nya raja dunia. Tuhan Yesus menyingkir ke gunung, karena Ia tidak mau orang hanya mencari berkat-berkat jasmani saja. Tuhan Yesus adalah Roti Kehidupan (yang diperlukan manusia setiap saat, agar tidak mati kekal). Dia-lah Allah, Imam Besar (yang memperdamaikan hubungan antara Allah dan manusia), Nabi, dan Raja.

Paulus dalam doanya mengatakan, bahwa Allah mempunyai kekayaan kemuliaan-Nya, betapa lebar, panjang, tinggi, dan dalamnya kasih Kristus, yang melampaui segala pengetahuan, Dia dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang dapat kita doakan atau pikirkan (Ef. 3:14-21). Tuhan Yesus dengan kasih-, kuasa-, dan kemuliaan-Nya telah menebus semua dosa manusia, dan memberi berkat terbesar, yaitu keselamatan kekal. Barangsiapa yang percaya kepada-Nya pasti diselamatkan. Jika berkat terbesar diberikan-Nya, tentu Ia juga sanggup memberikan berkat jasmani dan berkat-berkat yang lain, menurut rencana dan kehendak-Nya.

Jika fokus kita adalah Kristus, Sang Pemberi berkat, maka kita akan mendapat berkat terbesar, dan terpenting, yaitu keselamatan kekal. Berkat-berkat yang lain, Tuhan sendiri yang mengatur dan menyediakan-Nya bagi masing-masing orang percaya. Allah Sumber segala berkat akan mencukupi segala keperluan -orang yang percaya kepada Tuhan Yesus- sesuai kekayaan dan kemuliaan-Nya. Berkat-Nya melampaui segala akal manusia. Kiranya Kristus mendiami hati kita; Kasih dan kuasa Kristus bekerja di dalam kita. Amin.
Nancy Hendranata

     

15 Juli 2018
“MENYUARAKAN KEBENARAN”
Amos 7:7-15; Maz. 85:8-14; Ef. 1:3-14; Mark. 6:14-29

Kita dipanggil oleh Allah bukan saja untuk hidup dalam kebenaran, tetapi Allah menghendaki kita juga untuk menyampaikan atau menyatakan kebenaranNya di dunia ini. Ada beberapa hambatan mengapa kita sering tidak berani menyatakan kebenaran Allah di dunia ini. Pertama adalah faktor budaya “risih” atau “perasaan tidak enak” untuk menyampaikan kebenaran. Hal ini terjadi karena kita mengkuatirkan bahwa hubungan yang harmonis akan terganggu karena menyampaikan kebenaran atau teguran. Kedua, kita takut menghadapi resiko jika kita berani menyatakan kebenaran; pada akhirnya sikap yang berkembang adalah diam atau mencari aman. Kita lebih dominan takut kepada manusia dari pada takut kepada Tuhan. Ketiga, kita tidak sungguh-sungguh cinta dan mengasihi Tuhan. Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan mengerti isi hati Tuhan, maka kita akan berani menyuarakan kebenaran Tuhan apapun resikonya.

Tokoh yang diceritakan dalam Markus 6:14-29, namanya Yohanes Pembaptis. Ia adalah tokoh yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan, mengerti isi hati Tuhan; itulah sebabnya ia berani menegur penguasa pemerintahan Herodes Antipas atas kebobrokan moral. Herodes Antipas mengambil Herodias sebagai istrinya. Siapa Herodias? Herodias adalah anak perempuan dari Aristobulus (saudara seayah Herodes Antipas); itu berarti Herodias adalah keponakan dari Herodes Antipas.Hal inilah yang dipandang oleh Yohanes Pembaptis apa yang dilakukan oleh Herodes Antipas dan Herodias tidak benar atau melanggar moral yang berlaku, khusus hukum Yahudi. Imamat 18:16, 20:21. Akibatnya Yohanes dipenggal kepalanya oleh Herodes Antipas sebagai hadiah untuk putri Herodias yang telah memuaskan hatinya melalui tarian yang ditampilkannya. Ketika Yohanes menyampaikan kebenaran ia tidak menghiraukan nyawanya, ia tahu persis harga yang harus ia bayar.

Yohanes Pembaptis bukan saja berani menegur dan menyampaikan kebenaran Allah penguasa pemerintahan, tetapi juga ia berani menyatakan kebenaran kepada para pemimpin agama Yahudi dan kehidupan umat Israel yang tidak menghasilkan buah pertobatan.

Ia menyuarakan: “Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Jika tidak maka kapak sudah tersedia untuk menebang setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik.”

Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama maka kita akan berani menyampaikan kebenaran bagi sesama kita. Sebelum kita menyampaikan kebenaran kepada sesama, tentunya kita harus berdoa terlebih dahulu supaya Roh Kudus memberikan kuasa dan hikmat sehingga berita kebenaran itu membawa pertobatan dan pemulihan. Kiranya Tuhan menolong dan memampukan kita untuk menyampaikan kebenaranNya. Amin.
RDL

 

8 Juli 2018
“BEN – ADAM”
Yehezkiel 2:1-5; Mazmur 123; 2 Korintus 12:2-10; Markus 6:1-13

"Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?”(Mark. 6:2-3) Demikianlah diungkapkan jemaat di Nazaret ketika takjub mendengar pengajaran Yesus di rumah ibadat dan setelah mereka bertanya-tanya tersebut serta mengetahui latar belakang Yesus, mereka pun kecewa dan menolak Dia. Injil Markus pun menggambarkan sebuah kenyataan bahwa Yesus tidak dapat mengadakan satu mujizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka, bahkan Ia mengatakan,”Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri, diantara kaum keluarganya dan di rumahnya.”(Mark. 6:4).

Begitulah kita sebagai anak manusia (ben-adam) yang merupakan mahluk yang rapuh dan lemah. Dalam sebuah situasi, kita bisa merasa takjub akan kebesaran Tuhan, tetapi pada saat lain kita pun merasa kecewa dan menolak Tuhan dalam hidup kita. Tetapi sebagai mahluk yang rapuh dan lemah, Yesus tetap mengundang kita untuk terlibat mengerjakan misi-Nya (missio Dei) bagi dunia. Dalam menyambut undangan Yesus tersebut, kita mengakui bahwa kita lemah dan kadang-kadang tidak sanggup. Apalagi harus mengalami penolakan seperti apa yang dialami Yesus Kristus. Namun, bacaan-bacaan Minggu ini sungguh menguatkan kita dalam menjalankan missio Dei yang dipercayakan Allah kepada kita.

Melalui Kitab Yehezkiel 2:1-5, Allah memanggil dan mengutus Yehezkiel untuk menjadi Nabi pada masa pembuangan. Menjadi Nabi bukanlah tugas yang mudah, apalagi harus menghadapi bangsa pemberontak, yang keras kepala dan tegar hati. Tugas itu bukan saja berat tetapi juga tak jarang akan mengancam nyawa Yehezkiel sebagai utusan Tuhan. Namun, Frasa “anak manusia” (ben-adam) yang disebut 2 kali dalam bacaan pertama ini dan 93 kali dalam seluruh kitab Yehezkiel seolah menunjukkan pengenalan Allah kepada Yehezkiel, bahwa sama seperti manusia lainnya, Yehezkiel adalah mahluk yang fana, lemah, rapuh dan terbatas. Yesus saja mengalami penolakan, apalagi Yehezkiel.

Namun, Allah menjanjikan penyertaan sehingga Yehezkiel tidak perlu cemas terhadap tugas berat yang dihadapinya. Bahkan dalam setiap tugas perutusan yang diberikan kepada para murid, dalam bacaan Markus 6:6b-13, menggambarkan bagaimana Yesus memberi tugas para murid dengan meminta mereka untuk tidak berkarya seorang diri saja tetapi berdua-dua. Strategi ini hendak menegaskan bahwa kita bisa saling melengkapi dan menguatkan dalam segala kelemahan dan kerapuhan kita. Allah dapat menggunakan teman se-pelayanan (kawan sekerja) kita sebagai alat untuk saling memberi kekuatan. Allah pun bisa berkarya melalui setiap orang yang dihadirkan dalam pelayanan yang kita jalani untuk saling menguatkan.

Cara kerja Allah memang unik dan ajaib. Allah bisa memakai siapa pun dan apa pun bagi kemuliaan-Nya. Ia bahkan bisa memakai Paulus yang kita kenal sebagai Saulus penganiaya jemaat Kristen untuk mengabarkan Injil Kerajaan Allah kepada bangsa lain. Paulus juga menggambarkan bagaimana dirinya sebagai rasul juga memiliki kelemahan dalam 2 Korintus 12:2-10. Namun, justru dalam kelemahan yang ia keluhkan, Paulus mengatakan disitulah kuasa Tuhan menjadi sempurna. Maka, Paulus lebih suka bermegah dalam kelemahan sebagai manusia, supaya kuasa Kristus yang pernah ditolak dan Ia tolak itu juga menaungi dirinya. Ia bahkan berkata,”jika aku lemah, maka aku kuat.” sebab Allah lah yang memberikan kita kekuatan untuk mampu menjalankan missio Dei yang diserahkan kepada kita. Kita adalah ben-adam, kita lemah dan rapuh, kita tidak punya kuasa, tetapi jika kita mau hidup dalam kuasa Tuhan, Tuhan bisa memakai kita dengan luar biasa. Tuhan kiranya memberkati kita semua. Amin.
AG

     

1 Juli 2018
“PENGHARAPAN YANG TERPENUHKAN”
Rat. 3:22-33; Maz. 30:1-3; 2 Kor. 8:7-15; Mark. 5:21-43

Orang yang pengharapannya pada Tuhan, tidak jauh dari kebenaran, bersemangat, berbuat yang terbaik dan benar, sekalipun tidak mudah karena banyaknya tantangan. Sebab dari Tuhan, sudah diterima yang terbaik dan akan selalu datang yang terbaik juga. Seperti kesaksian dalam Ratapan 3:22-23, terkait hidup Yeremia sebagai nabi, diututs memperingatkan umat karena hidup yang melenceng dari Tuhan, dan Yeremia dianggap sebagai pengkhianat sehingga dianiaya oleh bangsanya sendiri. Dalam situasi “melayani” tetapi menderita, tidak membuat Yeremia surut dan undur. Yeremia menangisi kedegilan hati bangsanya dan berduka atas situasi bangsanya. Iman Yeremia tetap bersinar. Ia menyatakan bahwa : “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru tiap pagi” (Rat 3:22).

Kasih setia Tuhan, adalah satu-satunya pengharapan kita. Sebab “banyak yang mirip dengan kasih” di dunia ini, namun hanya kasih Allah yang sempurna. Melampaui hal yang biasa. Orang di dunia ini memberi pada yang layak menerima, namun Yesus memberikannya pada yang tidak layak sekalipun. Seperti apa yang terjadi di injil Markus 5:21-43, bagi perempuan yang mengalami pendarahan selama 12 tahun. Menurut hukum Perjanjian Lama: “ Semua orang yang ... mengeluarkan lelehan, ... disuruh meninggalkan tempat perkemahan” (Bil 5:2-4). Ia menderita penyakit yang resmi najis (Im 15:25-27). Ia tersingkir dari masyarakat maupun dengan ibadat di bait Allah. Perempuan ini sangat mengharapkan disembuhkan oleh Yesus, dan ia tahu diri dan menyadari tidak mungkin dengan terang-terangan meminta pada Yesus. Sebab siapapun yang menerimanya juga akan menjadi najis. Dalam sebuah kesempatan perempuan itu memberanikan diri mendekati Yesus dan menjamah jubah-Nya. Lalu apa yang terjadi ? Yesus bukan hanya menyembuhkan perempuan itu, Ia juga mengembalikan hubungan perempuan itu dengan sesama dan Allah. Ia bahkan menyapa perempuan itu dengan berkata: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau”.

Di zaman kita sekarang ini kota-kota besar sepintas lalu tampak makin maju, modern, makin mewah, dengan jalan-jalan penuh mobil aneka model, dengan segala fasilitasnya.

Tetapi di samping semuanya itu tampak pula keadaan lain, bagaikan “perempuan yang sudah lama menderita pendarahan”, dan “anak yang hampir atau sudah mati” yang tak terpedulikan sesamanya. Tiada tempat di hati sesamanya dan justru dibanyak tempat disingkirkan karena dianggap akan menganggu masyarakat yang sudah maju dan makmur. Bagi mereka yang pernah terjerumus narkoba, pernah di penjara dsb, apakah mereka akan tetap tidak memiliki masa depan?
Gereja Yesus Kristus, adalah saksi dan pemberita bahwa pada Kristus ada “pengharapan yang terpenuhkan”. Gereja mesti menjadi alat untuk menyatakan adanya masa depan (pengharapan) bagi setiap orang. Surat 2 Korintus 8:9, menyatakan: ”Karena kamu telah mengenal kasih Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya karena kemiskinanNya”. Sebuah pujian rohani liriknya sangat menyentuh, dibawakan oleh Band Rohani yang bernama “One Way”, seperti ini liriknya:” Oh betapa indahnya hidup kita jalani tiada waktu terlewat tanpa bahagia, mari lihat keluar terkadang kita lupa kita tak sendiri menikmati indahnya hidup yang diberi Sang Pencipta. Bagaimana dengan mereka yang menjerit karena lapar dan hidup dari belas kasihan orang seperti kita, bagaimana dengan mereka yang tak punya apa-apa. Apa yang telah kita buat karena kita diciptakan untuk berbagi hidup dengan mereka”. Seperti bagi orang-orang dari Makedonia (2 Korintus 8:1-3), bahwa kemiskinan dan kesusahan tidak membuatnya surut untuk berbagi kehidupan dan menolong sesama, apakah demikian dampak karunia Kristus di dalam kita?

Mari kita wujudkan dalam hidup kita bahwa “ada pengharapan yang selalu terpenuhkan dalam Tuhan” seperti yang secara “fair” disaksikan pemazmur : “Aku pernah terpuruk, aku tidak berputus asa, dan justru aku semakin jelas melihat siapa Tuhan bagi hidupku, untuk selama-lamanya Tuhan menempatkanku sebagai orang yang kuat - tangguh” = “Aku takkan goyah untuk selama-lamanya, Engkau telah menempatkan aku di atas gunung batu yang kokoh...” (Mazmur 30:7b-8). Amin

 

24 Juni 2018
“DALAM BADAI TUHAN BERTINDAK”
Ayub 38:1-11; Maz. 107:1-3, 23-32; 2 Kor. 6:1-13; Mark. 4:35-41

Dalam minggu ini masyarakat Indonesia berduka karena ratusan penumpang kapal KM Sinar Bangun belum ditemukan jasadnya di danau Toba. Kapal ini sarat dengan penumpang dan dalam perjalanannya menghadapi cuaca yang buruk, sehingga kapal ini tenggelam. Tantangan terberat dan yang sangat menakutkan bagi perjalanan sebuah kapal laut adalah badai dan ombak yang besar. Hal ini juga dialami oleh para murid yang diceriterakan dalam Markus 4:35-41, mereka sedang melakukan perjalanan di danau Galilea atau danau Tiberias. Dalam perjalanannya mereka dihantam oleh badai yang besar, sehingga perahu mereka dipenuhi oleh air, dan berpotensi untuk terbalik dan tenggelam, hidup mereka terancam dan mereka ketakutan. Mereka membangunkan Yesus, lalu Ia pun menghardik badai itu, dan badai itupun reda.

Rasul Paulus memiliki pengalaman unik yang dijelaskan dalam 2 Korintus 6:1-13. Dalam pelayanannya ia menghadapi badai kehidupan seperti: penderitaan, kesesakan, kesukaran, di dera, dipenjarakan, diusir lewat kerusuhan masa, mengalami karang kapal, sakit penyakit dan lain sebagainya. Apakah Rasul Paulus marah, bersungut-sungut kepada Allah? Apakah ia juga membalas caci maki dan kejahatan kepada mereka yang mencaci maki dan melakukan kejahatan kepadannya? Yang jelas ia tidak melakukan semua itu. Sikap Rasul Paulus dalam menghadapi badai kehidupan pelayanannya adalah:
1. Paulus yakin akan janji serta kasih karunia Allah. Bahwa Allah mendengarkan doa anak-anakNya dan Ia akan menyelamatkan-Nya.
2. Paulus memandang bahwa badai kehidupan pelayanan yang ia alami justru semakin menyadarkan siapa dirinya di hadapan Tuhan. Dirinya hanya seorang hamba yang melakukan tugas tuannya, yaitu mewartakan Injil Kerajaan Allah bagi dunia. Penderitaan dan badai kehidupan pelayanan adalah bagian dari konsekuensi tugas dan panggilannya.

Itulah sebabnya ia selalu sabar dan bersukacita dalam menghadapi badai kehidupan pelayanan tersebut.

Apa yang dapat kita pelajari dalam kedua bacaan di atas?
Pertama: Yesus berada bersama-sama dengan para murid ketika mereka menghadapi badai yang akan mengancam nyawa mereka. Karena Tuhan Yesus berada bersama- sama dengan mereka, maka merekapun diselamatkan dari ancaman badai tersebut.

Sering kita tidak menyadari bahwa Yesus ada bersama-sama dengan kita, ketika kita sedang menghadapi badai kehidupan; dan menganggap bahwa Yesus jauh dan tidak peduli dengan kita. Yang pasti adalah bahwa dalam keadaan apapun Ia selalu bersama-sama dengan kita. Sesungguhnya badai itu memang bisa menakutkan dan mengancam kehidupan kita, tetapi badai kehidupan itu dapat menjadi media untuk menyatakan kasih dan kuasa Allah. Melalui badai kehidupan itu Allah menyatakan dan membuktikan kasihNya dan kuasaNya kepada kita dan melalui badai kehidupan kita diajar untuk mencari pertolongan dan perlindungan kepada Tuhan Yesus saja, bukan kepada yang lain; seperti yang dilakukan oleh para murid. Mereka membangunkan Yesus dan Yesus menolong mereka. Kiranya Tuhan menguatkan kita semua melalui firman ini. Tuhan memberkati. Amin.
RDL

     

17 Juni 2018
“USIA INDAH”
Yeh. 17:22-24; Maz. 92:1-5, 12-16; 2 Kor. 5:6-17:1; Mark. 4:26-34

Istilah “usia indah” biasanya ditujukkan kepada orang-orang yang telah berusia lanjut. Di beberapa gereja, konon beberapa warga usia lanjut tidak ingin disebut sebagai manula (manusia lanjut usia) atau lansia (lanjut usia). Mereka lebih suka disebut dengan kelompok senior atau digunakan isilah “usia indah”. Bahkan, beberapa gereja mengganti istilah “komisi manula” dengan “komisi usia indah.” Alasannya sederhana, warga senior merasa pengunaan istilah “usia indah” lebih cocok untuk menunjukan bahwa mereka masih bisa berkarya dibandingkan dengan “manula” yang terkesan sudah lanjut dan tidak bisa berkarya lagi. Namun, istilah “usia indah” seharusnya tidak selalu menunjuk pada orang-orang yang berusia lanjut, jika kita telisik lebih lanjut, istilah “usia indah” juga bisa dipahami sebagai usia yang sedang kita jalani bersama Tuhan. Maka, yang kita takuti sebenarnya bukan usia yang menua tetapi apakah sepanjang usia terasa indah, sebab kita jalani dengan pemeliharaan Tuhan. Apakah hidup yang kita jalani ditujukan kepada Tuhan atau tidak? Jika ya, maka menjelang tua memang kita memasuki yang namanya “usia indah” karena pemeliharaan dan penyertaan Tuhan tersebut.

Bacaan Markus 4:26-34 secara khusus berbicara mengenai perumpamaan tentang Kerajaan Allah yang digambarkan dengan gambaran biji sesawi yang kecil tetapi bertumbuh menjadi besar dan menjadi tempat burung-burung bernaung. Gambaran biji sesawi yang bertumbuh bukanlah mau menunjukkan kehebatan pohon itu sendiri tetapi menjadikannya tempat bernaung bagi burung-burung. Oleh karena itu, pertumbuhan seseorang dalam konteks umat Kerajaa Allah bukanlah mengenai dirinya sendiri tetapi menjadi bagaimana dampak yang dihasilkan dari pertumbuhannya dengan menjadi naungan bagi sesamanya dan bagi segala ciptaan. Pesan Kerajaan Allah dalam perumpamaan Yesus bukan mengenai kejayaan tetapi tentang memberi kehidupan yang ternaungi di dalam Allah, yang memberi rasa aman, merangkul dan memelihara. Maka, sekali lagi, usia indah bisa kita pahami sebagai perjalanan hidup bersama Tuhan dalam pemeliharaan-Nya yang membuat kita bertumbuh semakin mengenal-Nya dan menjadikan kita pribadi yang juga menjadi teladan serta tempat bernaung sesama dan seluruh ciptaan.

Sama halnya kepada Yehezkiel, Tuhan memberikan nubuat tentang Raja Zedekia yang tidak setia yang berakibat pada kehancuran kerajaannya, tetapi Tuhan juga menjanjikan sebuah tunas baru yang kemudian akan ditanam di Israel. Tuhan akan memelihara umat-Nya seperti pohon yang bercabang dan berbuah, dan menjadi tempat burung-burung bernaung. Dan hal tersebut dinyatakan oleh Kristus. Melalui Kristus, umat melihat bahwa kehidupan dari Allah diberikan kepada umat-Nya. Kristus mati agar semua orang memiliki kehidupan (2 Kor. 5:15). Paulus menekankan istilah “ciptaan baru” (2 Kor. 5:17), sebagai ciptaan baru, maka hidup kita harus dijalani dengan cara dan wawasan baru yang Tuhan berikan, sebab suatu kelak, kehidupan yang kita jalani harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan (ayat 10).

Bacaan Mazmur memperkuat pesan di minggu ini, bahwa pemeliharaan Tuhan terus diberikan kepada umat-Nya sampai masa tua (usia indah). Pada ayat ke-15 dan 16 dikatakan: “pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.” TUHAN memelihara kehidupan ini, termasuk kehidupan umat. Pesan ini secara khusus menjadi penguat bagi kita dalam menghadapi dan menyambut masa tua untuk meyakini terus bahwa pemeliharaan Tuhan tetap untuk selama-lamanya. Jadi siapa takut menjadi tua? Meskipun menjadi tua, kita justru harus tetap melayani TUHAN dan menceritakan kehebatan TUHAN dalam sepanjang usia yang sudah kita jalani. Mari kita jalani usia indah kita bersama TUHAN dalam pemeliharaan kasih-Nya. Tuhan memberkati saudara, Amin.
AG

 

10 Juni 2018
“BILA DITOLAK DAN DILUKAI”
Bacaan: Kej. 3:8-15; Maz. 130; 2 Kor. 4:13 - 5:1; Mark. 3:20-35

Umumnya setiap orang mengalami kesedihan yang sangat dalam apabila ia dilukai oleh orang-orang yang begitu dekat, misalnya para anggota dan sahabat. Akibatnya pengalaman ditolak dan dilukai oleh orang-orang yang terdekat sering menyebabkan keruntuhan dalam kehidupan seseorang. Dari seorang yang semula penuh semangat bekerja, kini menjadi pribadi yang apatis. Dari seorang yang giat melayani, kita menjadi seorang yang jauh dari kesediaan untuk beribadah. Dari seorang yang semula mengasihi, kini menjadi pribadi yang membenci.

Dalam narasi Markus 3:30-35 terdapat satu bagian yang menyebut sikap anggota keluarga Yesus. Di Markus 3:21 menyatakan: ”Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.” Injil Markus memberi catatan, yaitu: “menganggap Yesus tidak waras lagi.” Catatan penulis Injil Markus tersebut sangat mengejutkan! Yesus dianggap tidak waras bukan oleh para musuh-Nya tetapi oleh anggota keluarga-Nya sendiri.
Sikap anggota keluarga Yesus tampaknya bersikap menghakimi Yesus sebab mereka menganggap Yesus melakukan berbagai hal yang di luar kebiasaan. Yesus menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya (Mark. 3:1-5), menyembuhkan banyak orang (Mark. 3:11), dan menetapkan dua belas murid yang diberi kuasa untuk mengusir setan (Mark. 3:14-15). Karya-karya Yesus yang penuh dengan supranatural tentu membuat mereka takjub, tetapi juga perasaan bingung bagaimana mungkin Ia mampu melakukannya. Para anggota keluarga mengenal kehidupan Yesus sehari-hari di rumah dan bekerja sebagai tukang kayu di Nazaret, tetapi kini Ia memperlihatkan perbuatan-perbuatan mukjizat. Mereka belum mengenal Yesus secara menyeluruh karena hanya melihat Yesus dari sudut insani-Nya. Karena itu keilahian sebagai Anak Allah tidak mereka lihat. Sikap ketidakmampuan mengenal sisi atau dimensi dari keilahian Yesus menyebabkan banyak orang menuduh Yesus mempersekutukan diri-Nya dengan Allah, atau menganggap Beelzebul sebagai sumber kuasa-Nya. Inilah anggapan para Ahli Taurat terhadap diri Yesus. Dengan demikian terlihat bahwa baik para anggota keluarga Yesus dan para pemimpin agama Yudaisme waktu itu gagal untuk memahami keberadaan dan karya mukjizat yang dilakukan Yesus.

Kegagalan memahami bukanlah seseuatu yang fatal apabila tidak diikuti oleh sikap menuduh, menyalahkan dan menghakimi. Sebaliknya kegagalan menghakimi akan menjadi berkat apabila kita mau melanjutkan dengan kesediaan untuk bertanya, membuka diri untuk mengenal seseorang secara utuh dan mampu melihat sisi atau dimensi dari kepribadiannya. Dalam kasus Adam, kita dapat melihat bahwa sikapnya telah mengambinghitamkan Hawa, Adam menganggap dirinya sama sekali tidak bersalah sebaliknya menempatkan Hawa sebagai penyebab/ sumber kesalahannya. Dalam kehidupan sehari-hari sikap anggota keluarga Yesus dan Adam sering menyebabkan kesalahpahaman dan konflik yang sulit terselesaikan, sebab menimbulkan perasaan terluka yang sangat dalam . Pemulihan akan terjadi apabila orang-orang yang terluka itu bersedia untuk mengampuni. Meereka mau memaafkan dan mengampuni karena telah mengalami anugerah pengampunan Allah yang terjadi dalam kehidupannya. Di Mazmur 130:3-4 menyatakan: ”Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.

Selain kesediaan mengampuni, sebagai orang-orang yang dilukai oleh anggota keluarga kita juga harus mampu memahami dalam perspektif iman. Kita memahami tindakan-tindakan mereka yang menyakitkan itu sebagai media pemurnian dalam kehidupan kita. Secara etis-moral tentunya tindakan dari pada anggota keluarga yang menyudutkan, menyalahkan dan menghakimi tidak dapat dibenarkan. Tetapi kita dapat memahami peristiwa tersebut sebagai media proses pembentukan diri untuk naik level rohani yang lebih tinggi. Penderitaan yang kita alami itu menjadi cara Tuhan untuk mendewasakan dan memurnikan diri kita dalam kemuliaan-Nya. Di Surat 2 Korintus 4:17 Rasul Paulus berkata: “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami.” Karena itu karya keselamatan Allah yang dilakukan Yesus tidak berhenti karena Ia dianggap aneh/ tidak waras oleh anggota keluarga-Nya. Yesus tidak berhenti berkarya sampai pada akhirnya karena dianggap dikuasai oleh Beelzebul oleh para Ahli Taurat.
Dp-edisi-26

     

03 Juni 2018
“SEMAKIN MENINGGIKAN TUHAN, SEMAKIN MERENDAHKAN DIRI”
Bacaan: Yohanes 3 : 22 - 3

Melayani Tuhan mestinya tidak boleh : kendor, tidak semaunya sendiri dan tidak terpengaruh keadaan (melenceng). Namun diakui atau tidak, apa yang tidak boleh terjadi malah sering terjadi dalam pelayan. Contoh : mundur dari pelayanan / tidak bersemangat karena tidak puas, atau karena kecewa : apa yang diharap tidak dituruti. Marilah kita membuka hati kita masing-masing, karena hidup orang percaya pada Tuhan = meninggikan Tuhan.

Firman Tuhan hari ini :
1. Merendahkan diri adalah sikap “hidup sesuai dengan peran dan kesempatannya
Tokoh Yohanes, adalah seorang yang tidak mengambil bagi dirinya sendiri gelar kebesaran. Meskipun sebutan nabi seperti Elia sangat sesuai disandang olehnya. Yohanes menjawab: "Aku bukan Elia!", lalu ia menyebut dirinya sebagai : "Aku : suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! ....” (Yoh 1:20-23). Hal yang terpenting adalah ia sedang melakukan apa yang telah ditentukan oleh Allah untuk ia lakukan.
Seharusnya kerinduan hati kita bukan untuk mendapat nama atau jabatan, melainkan untuk melakukan apa yang telah Allah tetapkan untuk kita lakukan, apa pun itu tanpa mempedulikan gelar, dan sanjungan. Yohanes adalah figur yang mengajak kita untuk : Semakin merendahkan diri agar dapat memberi tempat kemuliaan pada nama Tuhan, menerima kehendak Tuhan, sekalipun berbeda. Nah .. apakah kita telah menjadi umat yang melaksanakan peran kita sesuai dengan panggilanNya ?

2. Belajar prinsip hidup Yohanes : “ Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” . Yohanes adalah seorang yang tidak merasa terganggu melihat pelayanannya berkurang. Perikop ini, berkisah tentang Yohanes Pembaptis di akhir pelayanannya. Popularitas Yohanes saat itu sangat tinggi, namun ia siap mengakhirinya dengan sukacita. Karena itu alih pelayanan itu bergulir dengan sangat manis dan indah. Yohanes sebagai pengkhotbah terkenal, sekarang harus menyaksikan orang banyak meninggalkannya serta mengikuti Tuhan Yesus. Dan apa reaksi Yohanes (Yohanes 3:26-30) ? “Rabi ... semua orang pergi kepada-Nya." Jawab Yohanes: " .... ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”
Sesungguhnya, sukacita Yohanes semakin melimpah karena menyadari pelayanannya bukan untuk menarik orang datang kepadanya tetapi untuk datang kepada Kristus.

3. “Seandainya dianggap peran diri kita tak nampak, tetap setia
Yohanes Pembaptis selain bersukacita melihat murid-muridnya mengikut Kristus, ia juga dapat memberi keteladanan hidup yang lurus bagi jalan bagi Tuhan. Hatinya terbuka dengan tulus, dan setia melayani, sekalipun buah karyanya beralih pada Kristus. Dalam kepemimpinan dan pelayanan sering ada yang terjebak ingin memperlihatkan hasil pelayanannya atau sikap ingin menunjukkan bahwa pelayanannya berhasil. Untuk itu marilah kita belajar dari Yohanes pembaptis.

Marilah kita melayani dengan sikap terbuka pada waktu Tuhan. Pakailah setiap kesempatan dengan baik selagi Tuhan memberikannya pada kita. Hidup ini adalah kesempatan untuk melayani. Biarkanlah Tuhan yang menguasai kita dan pelayanan kita. Biarkanlah Tuhan yang mengaturnya. Marilah hidup sebagai apapun dimanapun, semakin meninggikan Tuhan dan semakin merendahkan diri. Ketika Tuhan mengambil alih ladang pelayanan kita, bersukacitalah. Karena kita hanya hambaNya. Lepaskan diri kita dari hati yang melenceng, yakni dari memiliki hati yang melekat pada apa saja dari dunia yang menggoda kita untuk menikmatinya. Doa kita semua : lepaskanlah kami dari yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya kerajaan, dan kuasa dan kemuliaan. Amin.

Roh Kudus sudah memimpin kita dengan firmanNya. Supaya kita bersehati sepikir & hidup dengan :
1. Tidak mencari kebesaran diri, sebaliknya semakin merendahkan diri
2. Semakin meninggikan Tuhan dengan membawa tiap karya pada kemuliaan nama Tuhan
3. Siap di atur oleh Tuhan dengan tulus, dan siap “meluruskan hati “ bagi Tuhan.
Melalui ketiga hal di atas, kita akan menjadi jemaat yang indah bersaksi, menjadi berkat dan berdampak baik bagi sesama di kota Bandung. Tuhan memberkati.
pkm

 

26 Mei 2018
“Mengimani Trinitas Membangun Komunitas”
Yes. 6:1-8; Mzm. 29; Rm. 8:12-17; Yoh. 3:1-17

Minggu ini dalam kalender liturgi gereja dirayakan sebagai Minggu Trinitas. Melalui tema ini penting bagi kita untuk menangkap visi Kristiani tentang Allah Trinitas sesungguhnya, karena hanya dengan itulah seluruh dimensi kehidupan manusia, sampai sudut hidup yang paling remeh pun, menjadi bermakna (alasan visional).

Doktirn Trinitas tidak bisa dilepaskan dari dan berakar dalam doktrin tentang keilahian Yesus yang merupakan hasil intepretasi teologis atas teks-teks Alkitab yang memberi kesaksian tentang fungsi dan peran Yesus dalam rangkaian pekerjaan penyelamatan Allah bagi umat manusia (Yoh. 12:44,49). Doktrin ini dihasilkan oleh keputusan konsili-konsili gereja yang berlangsung dalam rentang awal abad ke-4 hingga menjelang akhir abad ke-5. Melalui rumusan tersebut gereja berupaya untuk mengungkapkan pemahamannya akan Allah yang berkarya keselamatan di dalam dan melalui diri Yesus, serta hadir dalam kehidupan orang-orang beriman dalam kuasa dinamis-Nya (Roh Kudus). Maka, Trinitas lebih tepat dipahami secara soteriologis bahwa Allah Bapa, Sang Pencipta Yang Maha Kuasa, Sang Pengampun dan Pengasih, telah menyatakan diri dan bertindak menyelamatkan manusia (manusia yang najis –Yes. 6:5) di dalam dan melalui diri Yesus Kristus, Sang Anak (Yoh. 3:16). Dia juga selalu hadir dalam perjalanan sejarah ciptaan-Nya, menyertai dan memimpin orang-orang percaya, bahkan seluruh umat manusia, melalui kuasa dinamis-Nya yang kita kenal sebagai Roh Kudus. Kebesaran dan kehebatan itu juga diungkap oleh Pemazmur dalam pujiannya (Mzm. 29).

Salah satu gambaran Allah Trinitas secara visional dalam tradisi Kristen Ortodoks Timur yang menyatakan bahwa Allah Trinitas merupakan Allah Persekutuan atau istilahnya perichoresis yang berarti “saling memberi ruang, saling memberi hidup, saling memasuki.” Imaji imani yang muncul adalah bahwa secara dinamis tiga pribadi ilahi itu saling bersekutu, tanpa kehilangan identitas masing-masing, sedemikan eratnya, hingga kita tak bisa berkata bahwa hanya ada satu Allah.

Dalam kalimat padat teolog bernama Kruger, ”Sang Bapa, Sang Anak dan Roh Kudus” hidup dalam percakapan, di dalam persekutuan kebersamaan yang mengalir-bebas dan saling-berbagi dan kegembiraan-sebuah tarian agung kehidupan yang terbagikan yang penuh dan kaya dan penuh gairah, kreatif dan baik dan indah.

Kruger menandaskan bahwa kemanusiaan kita (mewakili seluruh ciptaan) merupakan teater tarian agung diperankan melalui Roh Kudus. Inti dari gagasan ini adalah bahwa apapun yang berlangsung di dalam ciptaan merupakan cara kita berpartisipasi ke dalam tarian agung Trinitas. Jadi segala karya dan karsa kita seharusnya menjadi cara kita mengambil bagian (berpartisipasi) ke dalam persekutuan Allah Tritunggal. Dalam hal ini, gereja Barat misalnya menekankan partisipatif-reflektif, artinya mencontoh apa yang berlangsung di dalam persekutuan Allah Trinitas. Jika Allah Trinitas ditandai oleh perbedaan dalam kesatuan dan kesatuan dalam perbedaan, maka itu pulalah yang harus kita perjuangkan dalam komunitas manusiawi kita. Sebaliknya gereja Timur sangat menekankan kesatuan Allah dan manusia, karenanya dipahami bahwa ciptaan dapat melakukan partisipasi-real artinya sungguh-sungguh mengambil bagian dalam relasionalitas dan komunalitas Allah Trinitas.

Oleh sebab itu, konfesi GKI 2014 juga berpijak pada pokok: ”Berperan serta ke dalam persekutuan kasih dan karya keselamatan Alah Bapa, Anak dan Roh Kudus,” seharusnya mendorong jemaat GKI Pasteur bergairah kembali pada ajaran tentang Allah Trinitas dengan menjalani pelayanan kita dengan gerak bersama sebagai sebuah tarian agung karya Allah bagi dunia, kita berperan aktif bersama seluruh umat untuk menjadi bagian dalam persekutuan meneruskan karya Allah bagi dunia dan sesama. Salah satu cara hidup dalam komunitas iman adalah seperti yang Paulus katakan dalam surat Roma 8:12-17, sebagai anak-anak Allah maka kita harus menghidupi hidup kita dipimpin oleh Roh sebab kita adalah ahli waris yang berhak menerima janji Allah, yang akan menerimanya bersama dengan Kristus, yakni jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama dengan Dia. Tuhan memberkati kita.
AG

     

6 Mei 2018
“KAMU ADALAH SAHABAT-KU”
Kis. 10:44-48; Maz. 98; 1 Yoh. 5:1-6; Yoh. 15:9-17

Siapa kita hingga dipanggil menjadi sahabat-sahabat Allah? Jikalau bukan karena kasih dan anugerah Allah semata, mana mungkin kita menerima pengakuan dari Kristus bahwa kita ini adalah sahabat-Nya. Kasih adalah identitas Kekristenan yang utama. Keselamatan dapat kita peroleh karena kasih Allah yang merengkuh kita, membuat kita mengalami kasih-Nya dan dengan kasih itulah seharusnya kita juga sanggup mengasihi sesama kita.

Dalam bacaan Yoh. 15:14, Kristus menyebut para murid dan menyapa kita sebagai pembaca teks sebagai sahabat, bahkan dalam ayat ke-15, status itu ditekankan kembali bahwa kita tidak lagi disebut sebagai hamba. Dengan demikian, Kristus menghilangkan unsur hirarki dalam kasih-Nya kepada kita manusia. Kasih yang hirarki tidak pernah menjadi kasih, sebab bagaimana mungkin kita mengasihi jika yang satu merasa di atas yang lainnya. Kristus memberikan kasih yang setara. Panggilan sahabat dari Kristus menunjukkan identitas gambar dan rupa Allah Trinitas sebagai Allah persekutuan dalam diri manusia. Oleh karena itu, panggilan sahabat membuat kita dipanggil dan diperkenankan untuk berkarya menghadirkan kasih bersama Allah Trinitas bagi dunia, sebab kasih Allah sudah nyata bagi dunia, Petrus menyaksikannya bagaimana karunia Roh Kudus dinyatakan bagi semua bangsa (Kis. 10:44-45).

Sebagai sahabat Allah, maka perintah-Nya kepada kita sungguh sangat jelas bahwa kita harus taat dan mengasihi sesama kita (Yoh. 15:17; 1 Yoh. 5:1-6). Menjadi sahabat Allah tidak lantas membuat kita lupa diri atau bahkan meninggikan diri dengan menganggap diri sejajar dengan Allah. Dalam Yohanes 15:16-17, Yesus menegaskan tentang otoritas keilahian-Nya yang memilih kita untuk melaksanakan perintah kasih dan menghasilkann buah kasih yang nyata bagi dunia ini (band. Mzm 98:2).

Maka, perjuangan paling sulit adalah menghadapkan diri sendiri pada panggilan tersebut. Keegoisan seringkali menghambat kita untuk melakukan kasih. Memperjuangkan kasih di tengah dunia yang tidak ramah ini bukan perkara mudah, mengasihi kadang membuat kita terluka apalagi jika kasih tersebut ditolak. Bunda Teresa pernah berujar, ”Saya menemukan paradoks, jika engkau mencintai hingga sakit, maka tidak akan ada lagi rasa sakit itu, melainkan hanyalah cinta.” Bukankah Allah juga melakukan-Nya bagi kita. Ia mencintai kita sampai memberikan nyawa-Nya bagi kita sahabat-Nya. Itulah cinta Allah yang otentik, untuk cinta itulah kita harus berbagi dan menyatakan cinta Allah bagi sesama kita. Jaminan dan penyertaan-Nya selama kita memperjuangkan kasih dan cinta bagi sesama itulah yang tentunya akan menguatkan kita. Roh Kudus akan memampukan kita untuk mewujudkannya dalam persekutuan kita dan dalam kehidupan sehari-hari kita. Tuhan memberkati.
AG

 

29 April 2018
“BERBUAH DALAM RELASI DENGAN ALLAH & SESAMA”
Kisah 8:26-40; Mazmur 22:25-31; 1 Yohanes 4:7-21; Yohanes 15:1-8

Kita memasuki Minggu Paskah ke lima hari ini. Kemenangan Yesus Kristus dalam peristiwa Paskah adalah kemenangan dalam hidup yang diperdamaikan dengan Allah. Diperdamaikan dalam kematian dan kebangkitan Kristus menunjuk pada hidup yang berelasi kembali antara Allah dan manusia. Relasi adalah sebuah tujuan utama yang tidak boleh dilupakan dalam pengorbanan Kristus. Banyak orang berpikiran bahwa keselamatan semata-mata hanya untuk menuju sebuah tempat yang bernama Sorga. Hal terpenting dalam keselamatan sesungguhnya adalah relasi.

Fokus pada minggu ini adalah hidup Kristen yang berelasi dengan Allah dan mewujudnyatakan dalam relasi dengan semua orang. Kita harus tinggal di dalam Yesus untuk berbuah kasih pada semua orang. Kasih bukan capaian prestasi kita, tetapi sebuah ketaatan di mana kita tinggal di dalam Yesus Kristus. Ranting itu berbuah ketika menempel pada Pokok Anggur, lalu ranting itu juga berbuah lebat ketika melewati proses dibersihkan oleh pengusaha kebun anggur.

Hidup kekristenan mesti terus mengevaluasi dirinya, bukan sekadar dalam hal-hal teknis, tetapi mengevaluasi relasi hidupnya dengan Allah dan sesama, seperti yang dikatakan kebenaran Firman Tuhan. Kasih yang besar dan sungguh-sungguh kepada Allah bukanlah kasih yang hanya membuat kita tinggal di dalam gereja dan melupakan dunia. Justru sebaliknya, kasih yang besar dalam relasi kita dengan Allah, di mana kita menempel pada Yesus sebagai Pokok Anggurnya, membawa kita untuk berbuah di tengah dunia.

Perumpamaan Yesus tentang Pokok Anggur yang sesungguhnya bicara tentang relasi antara kita dengan Yesus dan Bapa. Berawal dari Bapa sebagai pengusaha kebun anggur dan Yesus sebagai pokok anggur yang benar, sedangkan kita sebagai ranting-rantingnya yang menempel pada Pokok Anggur itu. Ini semua adalah relasi yang diwujudkan dalam kesadaran akan diri kita yang menerima dan memberi.

Gambaran ini adalah gambaran tentang relasi hidup beriman yang perlu disengaja sedemikian rupa, sehingga buah-buah kehidupan iman bukan sesuatu yang dibiarkan untuk muncul dengan sendirinya. Berbuah bukan soal kemampuan sebuah ranting, tetapi terkait dengan Pokoknya, yaitu Yesus Kristus dan juga terkait dengan Bapa, yang adalah pengusaha kebun anggur. Relasi dari ketiganya dibutuhkan ketika bicara buah, ada tindakan-tindakan nyata dari ketiganya.
DP

     

22 April 2018
“Mengasihi Dengan Perkataan Dan Perbuatan”
Kis. 4:5-12; Mzm. 23; 1 Yoh. 3:16-24; Yoh. 10:11-18

Memasuki masa menjelang pilkada biasanya kita sering mendengar sebuah slogan yang berkata “kami memberi bukti bukan janji.” Slogan tersebut seakan menegaskan bahwa dalam setiap janji yang dikatakan selama kampanye berlangsung, para pasangan calon akan membuktikan melalui program-program yang nyata bagi kesejateraan masyarakat. Sayangnya, kampanye yang dilakukan tak jarang hanya menjadi sekadar ajang memberi janji tanpa bukti. Penulis surat 1 Yohanes menasihati jemaatnya agar mengasihi dengan perbuatan, bukan dengan perkataan (1 Yoh. 3:18). Kasih bukanlah sekadar kata benda atau kata sifat. Dalam teks, Yohanes memakai kata kerja “mengasihi”. Sebagai kata kerja “kasih” tidak dapat dilepaskan dari relasi personal dan sosial manusia lainnya. Kasih memerlukan obyek untuk dikasihi, yaitu sesama manusia. Seseorang tidak dapat mengatakan bahwa ia penuh kasih, tanpa hidup dan berelasi dengan manusia lainnya. Oleh sebab itu, penulis Yohanes memberi dasar mengasihi yaitu dari kasih Kristus yang telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita.

Dalam pelayanannya di dunia, Yesus seringkali memberikan perumpamaan dan gambaran tentang siapa diri-Nya dan juga umat-Nya. Dalam Yohanes 10:11-18, Tuhan menggambarkan diri-Nya sebagai gembala dan umat Tuhan sebagai domba-domba-Nya. Sebagai gembala, Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai gembala yang baik yang mengenal domba-domba-Nya dan domba-domba-Nya mengenal-Nya juga, itu artinya ada relasi yang baik antara gembala dan dombanya. Relasi yang baik itu bahkan ditekankan pada gembala yang rela memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Bahkan dalam pasal 16, Tuhan sebagai gembala yang baik pun mengasihi domba-domba lain, yang bukan dari kandang-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa gembala yang baik tidak bersifat eksklusif, tetapi juga inklusif. Kasih tidak bisa dibatasi pada kelompok tertentu saja, tetapi juga bagi semua manusia tanpa membeda-bedakan suku, agama dan ras.

Oleh karena itu, sebagai umat-Nya, sudah seharusnya kita mewartakan kasih Tuhan melalui kata-kata dan juga terwujud melalui perbuatan kita. Kasih mesti dinyatakan dengan ketulusan hati, meskipun tak jarang dipahami salah oleh pihak lain. Peristiwa para rasul yang menyembuhkan orang lumpuh dalam Kisah Para Rasul 4:5-12 adalah salah satunya, kasih Tuhan yang dinyatakan kepada seseorang yang lumpuh, justru dipertanyakan oleh pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat.

Namun, apa pun yang menjadi rintangan kita dalam menyatakan kasih Allah, kita tidak boleh berhenti untuk mewartakannya. Raja Daud dalam Mazmur 23 mengingatkan bahwa sekalipun dalam lembah kekelaman (bayang-bayang kematian-dalam bahasa aslinya-ayat 4), aku tidak takut. Mewartakan kasih Tuhan adalah bagian dari iman kita kepada Yesus Kristus. Dan jika kita percaya akan nama Yesus, Anak-Nya maka perintah-Nya adalah supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita (1 Yoh. 3:23).

Kasih kepada sesama adalah tanda hidup yang dibarui di dalam Tuhan dan kasih kepada sesama jua membuktikan bahwa kita mengasihi Tuhan. Mulailah menjalani hari-hari kita untuk mengasihi mulai dari keluarga, lingkungan dan masyarakat kita. Siapa pun mereka kita menyatakan cinta dalam kata dan perbuatan yang setara. Dalam relasi kasih dengan sesama, Tuhan dijumpai dan menjumpai kita. Selamat menebar kasih melalui kata dan perbuatan.
AG

 

15 April 2018
“KOMUNITAS YANG BERSAKSI”
Kis. 3:12-19; Maz. 4; 1Yoh. 3:1-7; Luk. 24:36-48

Hari ini adalah Minggu Paskah III. Minggu Paskah II membahas Tema: Komunitas yang Dipulihkan dan Diutus. Setelah para murid mengalami pemulihan dari rasa takut, cemas, bimbang, putus asa, hilang harapan setelah menyaksikan peristiwa penderitaan dan kematian Yesus Kristus. Di tambah ketidakmengertian mereka atas peristiwa yang menimpa Sang Guru mereka. Kini saat para murid siap untuk diutus ke dalam dunia. Sama seperti Bapa mengutus Yesus ke dalam dunia, demikian juga Yesus Kristus mengutus para murid ke dalam dunia untuk menjadi saksi peristiwa pelayanan, penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus Kristus ke sorga.

Pada umumnya dalam dunia pengadilan, syarat yang harus dipenuhi oleh seorang saksi adalah ia melihat, mendengar, ada keterkaitannya dengan kasus yang sedang diselidiki. Salah satu tugas seorang saksi adalah menceriterakan apa yang ia lihat, ia dengar dan ia alami (keterkaitan/ hubungannya dengan masalah tersebut). Seorang saksi tidak boleh mengarang cerita atau bersaksi bohong/palsu; sebaliknya ia harus menceriterakan kebenaran yang sesungguhnya. Inilah kira-kira tugas seorang saksi.

Tuhan Yesus memanggil dan mengutus para murid ke dalam dunia untuk menceriterakan rangkaian peristiwa apa yang telah Yesus kerjakan dan yang Dia alami selama di dunia ini (pelayananNya, penderitaanNya, kematianNya, kebangkitanNya, dan kenaikanNya ke sorga). Dan mereka juga harus menceriterakan tentang apa hubungan pelayanan, penderitaan, kematian, kebangkitan, dan kenaikanNya ke sorga dengan diri mereka sendiri.

Apakah mereka benar-benar mengalami dan menikmati pengampunan, keselamatan dan pemulihan hidup melalui pengorbanan Kristus di kayu salib? Jika mereka mengalami semua di atas, maka mereka akan menjadi saksi Kristus yang efektif. Karena kesaksiannya berdasarkan apa yang mereka alami, saksikan sendiri, bukan apa kata orang.

Tantangan komunitas yang bersaksi jelas sangat berat, hal ini dapat terlihat dalam Kisah Para Rasul 2-8. Ketika Para Rasul bersaksi tentang karya Yesus Kristus di tenga-tengah masyarakat, Para Rasul mengalami penderitaan, penganiayaan, keluar masuk penjara, bahkan mengalami kematian yang tidak wajar karena Injil. Contohnya adalah Stefanus. Inilah kira-kira harga yang harus dibayar oleh seorang saksi Kristus. Bagaimana dengan kita; gereja masa kini, apakah gereja bersedia dengan sungguh-sungguh untuk menjadi saksi Kristus di tengah dunia ini? Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk menjadi saksi-saksiNya di dunia ini. Amin.
RDL

     

01 April 2018
“CINTA, PERCAYA, DAN HARAPAN”
Kisah. 10:34-43; Maz. 118:1-2, 14-24; 1 Kor. 15:1-11; Yoh. 20:1-18

Apakah kita sadar bahwa gereja adalah tubuh Kristus yang terluka dan terpecah sehingga perlu direspon dengan menumbuhkan cinta di dalamnya, cinta yang merelakan diri untuk keluar dan bersaksi. Saling membangun rasa percaya dan saling memberi harapan.

Mungkin banyak di antara kita yang menutup diri terhadap orang-orang yang bukan pengikut Yesus Kristus. Hal ini juga yang dilakukan Petrus sebelum mendapatkan penglihatan dari Tuhan tentang berbagai jenis binatang haram yang Tuhan sediakan untuk dimakan oleh Petrus. Petrus baru memahami setelah dia diminta memberitakan injil kepada Kornelius, seorang perwira non Yahudi. Sebagaimana seluruh binatang haram tersebut dihalalkan Allah, demikian pula semua orang dikasihi Allah. Artinya karya keselamatan Allah bukan hanya untuk orang-orang Yahudi saja, melainkan juga untuk orang-orang asing yang tidak bersunat (Kisah Para Rasul 10:34-43). Begitu pula kita perlu memahami injil itu bukan hanya untuk kita yang Kristen saja, melainkan juga untuk orang-orang lain di sekeliling kita. Pembantu rumah tangga kita, supir gereja kita, satpam gereja kita dan orang-orang yang belum mengenal berita keselamatan Allah, perlu mendengar melalui sikap, perbuatan, dan ucapan kita.

Kita perlu menyadari bahwa dasar kita mengasihi sesama adalah kasih setia Tuhan yang tidak berkesudahan untuk selama-lamanya (Mazmur 118:1-2). Jika kita saksikan, rasanya tidak terhitung pertolongan Tuhan dalam hidup kita. Bukankah Tuhan yang selalu memberi kekuatan saat kita lemah, penghiburan, penyertaan dan segala yang baik.

Bahkan keselamatan yang kita terima adalah anugerah dari pengorbanan Yesus di kayu salib. Kita yang mungkin yang paling hina dan tidak dianggap oleh orang lain Tuhan angkat untuk menjadi anakNya dan menjadi alat perpanjangan tangan Tuhan di dunia sekarang ini (Mazmur 118:14-24).

Kita sudah diselamatkan artinya kita sudah ditebus dari hidup yang lama. Maka sekaranglah saatnya untuk meninggalkan semua kekurangan kita di masa yang lalu dan menyongsong masa depan yang penuh kasih karunia dari Tuhan bersama dengan sesama di lingkungan kita masing-masing. Oleh kasih karunia yang telah kita terima, marilah kita bekerja lebih keras lagi sebagaimana Paulus mengabarkan Injil kepada Jemaat di Korintus (1 Korintus 15:1-11). Kiranya kebangkitan Kristus memberikan pengharapan baru tidak hanya bagi Maria, Petrus, dan murid-muridNya yang lain (Yohanes 20:1-18), tetapi juga bagi kita, keluarga kita, saudara dan rekan-rekan serta segala kaum di muka bumi, Amin.

 

25 Maret 2018
“BERANI HADAPI KENYATAAN HIDUP”
Yes. 50:4-7; Maz. 118:1-2; 19-29; Fil. 2:6-11; Yoh. 12:12-16

Setiap orang menghadapi kenyataan yang berbeda-beda : Ada yang harus menjadi single parent, menjadi janda atau duda. Ada yang harus menghadapi masalah sakit kronis, dan ada yang mempunyai anak berkebutuhan khusus, dll. Di tengah situasi tsb, tidak semua orang berani menghadapi kenyataan hidup. Ada yang menghindar. Ada yang menolak, ada yang takut dan putus asa. Ada juga yang menerima dan menghadapi kenyataan hidup dengan berani. Semua itu bergantung pada keyakinan dan prinsip hidup yang dimiliki orang tersebut.
Pertanyaannya, ”Bagaimana caranya agar kita berani menghadapi kenyataan hidup ?” FT : mengajak kita untuk belajar dari hamba Tuhan yang disebut dalam kitab Yesaya maupun dari Yesus Kristus Sang manusia sejati :
(1) SADAR AKAN PANGGILAN HIDUP YANG HARUS DIJALANI
Hamba Tuhan dalam Kitab Yesaya ... DALAM PERGUMULAN YANG DIHADAPI : paling tidak menyebut 3 KALI : “TUHAN ALLAH ....” Tuhan Allah memanggilnya untuk memberi semangat pada yang letih, lesu. Tuhan yang menguatkan untuk mengalami penganiaya, penghinaan (diludahi). Baginya ada hal utama, yakni : adanya panggilan Tuhan. Hamba Tuhan mendengar dan melaksanakan panggilan Tuhan – baik atau pun tidak baik waktunya – apapun risikonya. Ia menjalani setiap perkara tidak diluar panggilan Tuhan. Hamba Tuhan seperti Sang Kristus : “Aku datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, menebus dosa dan menyelamatkannya.” Maka : PANGGILAN Tuhan ini, MEMBUATNYA memiliki keberanian yang bukan asal berani. Melainkan keberanian karena tujuan yang jelas. Segala risiko dan konsekuensi diperhitungkan dengan matang sehingga keberanian tersebut betul-betul didasari kesiapan yang matang.
(2) YAKIN : TUHAN MENOLONG ORANG YANG MELAKUKAN KEBENARAN
Yesaya 50: 7 menuliskan, “Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.“ Atas KEYAKINAN AKAN PENOLONG YANG SETIA maka Sang Pemazmur : mengajak untuk menghayati Tuhan yang baik, yang kasih setianya sampai selama-lamanya, bahkan akan melakukan perbuatan ajaib dalam hidup orang-orang benar. “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah diubah oleh Tuhan menjadi batu penjuru“ (Maz. 118:22-23).

(3) SETIA MENDENGARKAN TUHAN.
Kita dapat terus berani menghadapi kenyataan hidup ini, ketika kita SETIA menghadap Tuhan, melalui relasi kita yang intim dengan Tuhan. Yesus Kristus Sang Manusia Sejati juga telah memberikan teladan-Nya kepada kita. Di dalam hidup dan karya-Nya, Ia senantiasa meluangkan waktu untuk berelasi dengan Sang Bapa, bahkan ia berdoa semalam-malaman (Markus 1:35) Hal yang sama juga dilakukan oleh hamba Tuhan yang diceritakan dalam Kitab Yesaya 50. Di ayat 4-5 : “Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.“
Ketika kita : 1. Mendasari hidup sebagai panggilan dari Tuhan. 2. Yakin Tuhan akan menolong orang benar dan 3. Setia mendengarkan Tuhan dengan rendah hati, maka kita akan berani menghadapi kenyataan hidup ini. Pada akhirnya kita juga akan memetik buahnya, yakni “datangnya kemuliaan Tuhan melalui hidup kita” (Seperti dalam Kristus –yang disaksikan Rasul Paulus di surat Filipi 2:6-11). Amin.

     

18 Maret 2018
“BELAJAR UNTUK TAAT”
Yer. 31:31-34; Maz. 119:9-16; Ibr. 5:5-10; Yoh. 12:20-33

Pada Mingu Pra-Paskah ke-lima ini umat diundang untuk merefleksikan segala proses pembelajaran kehidupan untuk menjadi taat pada Allah. Di hadapan banyak orang, Yesus memproklamasikan diri-Nya. Ia akan mengalami penderitaan, kematian hingga bangkit kembali. Pada saat menyampaikan proklamasi ini Yesus sudah berada di Yerusalem. Di Yerusalem ada banyak peziarah yang datang untuk merayakan Paskah Yahudi. Mereka datang dari berbagai tempat, termasuk dari Yunani. Rupanya tentang siapa Yesus sedikit banyak telah didengar oleh orang-orang Yunani. Karena itu orang-orang Yunani yang datang ke Yerusalem ingin bertemu dengan Yesus. Hal itu dinyatakan orang-orang Yunani kepada Filipus. Filipus menyampaikan hal itu kepada Andreas. Setelah itu Andreas dan Filipus menyampaikan kepada Yesus. Pada saat itulah Yesus menyatakan, ”Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan” [ayat 23]. Apa yang dimaksud dengan Anak Manusia? Kapan Anak Manusia dimuliakan? Dengan cara apa Anak Manusia dimuliakan? Kita ingat bahwa Yesus pernah mengatakan tentang Anak Manusia yang ditinggikan saat Ia berbincang dengan Nikodemus [Yohanes 3:13]. Kali ini pemuliaan dalam diri-Nya semakin diperjelas.

Bagaimana Anak Manusia Dimuliakan? Ayat 24-26 menyebutkan bahwa kemuliaan-Nya dinyatakan melalui kematian-Nya di kayu salib. Dalam hal ini, Ia menyatakan bahwa kematian di kayu salib bukanlah kematian yang konyol, melainkan kematian yang menghidupkan banyak orang. Perumpamaan yang dipakai adalah biji gandum. Ibarat sebutir biji gandum yang ditanam di dalam tanah, biji itu harus jatuh dan mati. Namun kematian biji gandum itu bukan kematian selamanya sebab setelah mati, biji itu akan bertunas dan menumbuhkan kehidupan baru, hingga menghasilkan lebih banyak buah. Dengan demikian, Yesus menyatakan bahwa kematian-Nya adalah sebuah prasyarat untuk pemuliaan-Nya.

Pernyataan Yesus tentang biji gandum itu bukan hanya bagi diri-Nya. Setiap orang yang mengikut Dia juga harus menempuh cara yang sama. Maka Ia berkata, ”Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya dalam dunia ini, ia akan memeliharanya untuk kehidupan kekal” [ayat 25]. Kehidupan yang tidak mencintai nyawa sendiri dijalani dengan melayani Dia dan mengikut Dia. Barangsiapa melayani Yesus, akan dihormati Bapa.

Suara yang terdengar dari langit [ayat 28] yang oleh orang lain dianggap sebagai suara guruh dan oleh sebagian orang dianggap suara malaikat membuat mereka yang mendengar semua itu menyadari siapa Yesus dan apa peran-Nya bagi dunia. Dengan kematian-Nya kehidupan ditumbuhkan. Bagi orang-orang yang mengikut Dia juga dipanggil untuk berani mematikan diri supaya menghasilkan banyak buah dalam hidupnya.

Melalui sabda Tuhan hari ini, marilah kita bertekun menjalani proses hidup dengan terus belajar menjadi taat. Sampai kapan kita belajar? Proses pembelajaran kita tidak terbatas. Jika di bangku sekolah ada batas dalam proses belajar, di sekolah kehidupan bersama Yesus sebagai Guru tidak ada batasnya. Selamanya kita adalah murid. Selamat menjadi murid Yesus selamanya.
Dari bahan LPPS

 

4 Maret 2018
“YESUS, BAIT ALLAH, DAN KITA”
Kel. 20:1-17; Maz. 19; 1 Kor. 1:18-25; Yoh. 2:13-25

Alasan Yesus marah dalam persitiwa “Yesus menyucikan Bait Allah” (demikian LAI memberi judul pada perikop Yoh 2:13-25) di dalam Injil Yohanes berbeda dengan Injil Sinoptik (Matius 21:12-13, Markus 11:15-17, dan Lukas 19:45-46) yaitu jangan membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan; sedangkan yang lain, …Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun. Apa yang hendak disaksikan Yohanes tentang diri Yesus dalam peristiwa yang sama dengan ketiga Injil, namun dengan cara yang berbeda?
Tradisi Paskah Yahudi kental dengan budaya “mudik” seperti di Indonesia. Dan tradisi tersebut sudah berlangsung ribuan tahun sejak Allah membebaskan mereka dari bangsa Mesir (Kel 20:2) dan memberi tanah perjanjian. Orang Yahudi diaspora (perantauan) akan pulang ke Yerusalem untuk berjumpa sanak keluarga dan yang terpenting beribadah ke Bait Allah. Namun kondisi itu, yaitu pulang ke kampung halamannya tidak seindah yang mereka bayangkan. Seringkali mereka mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari sanak saudaranya sendiri dan juga perlakuan yang memberatkan ketika mereka ingin beribadah di Bait Allah dengan cinta mereka. Keluhan ini bisa kita lihat di dalam Maz. 69:8-9, Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku, orang asing bagi anak-anak ibuku; sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku.
Selama ini mereka para pedagang berjualan di atas dalih melakukan kebaikan dan membantu saudaranya yang pulang kampung agar tidak perlu repot dan ribet membawa korban persembahan ketika hendak beribadah di Bait Allah, tapi Yohanes menyaksikan bahwa Yesus tidak percaya dengan alasan kebaikan mereka membantu saudara-saudaranya itu, karena Yesus melihat hati mereka (Yoh 2:25b, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia). Inilah yang ingin disaksikan oleh Yohanes tentang diri Yesus, yaitu Ia adalah Tuhan yang melihat hati manusia. Dan melalui kesaksian Yohanes, Yesus adalah Tuhan yang menghendaki manusia menyembah dengan kasih seperti yang tertulis dalam hukum yang terutama dan pertama yaitu kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu, yang merupakan intisari dari Hukum Taurat 1-4 (Kel 20:3-7).
Selain kedua hal itu yaitu Yesus melihat hati manusia dan ibadah yang berkenan kepada Allah adalah ibadah dengan hati yang mengasihi, Yohanes juga memberikan kesaksian tentang Yesus adalah Bait Allah itu sendiri (Yoh 2:19-22).

Bait Allah adalah tempat perjumpaan umat dengan Allah. Dengan demikian, Yohanes hendak menyaksikan bahwa manusia bisa berjumpa dengan Allah di dalam Yesus. Melalui ketiga hal yang disaksikan Yohanes dalam Yoh 2:13-25, kita sebagai pengikut Kristus kembali diingatkan: 1. Ingatlah bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang melihat hati manusia. Mungkin kita bisa menipu dan menutupi maksud tersembunyi kita yang jahat (yang mencari keuntungan diri sendiri) terhadap teman dan saudara kita dengan sikap dan perbuatan baik kita, tapi kita tidak bisa menutupinya di mata Tuhan. Oleh karena itu, bertobatlah!
2. Beribadahlah kepada Tuhan dengan hati yang mengasihi. Hati yang mengasihi itulah yang Tuhan kehendaki dari setiap kita, bukan harta dan kekayaan kita. Seperti yang tertulis dalam Hosea 6:6, “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” Sudahkah kita memberi hati dan hidup kita kepada Tuhan untuk dipakai sebagai sekutu, pelayan dan saksi Tuhan?
3. Yesus adalah Bait Allah itu sendiri. Melalui pemahaman ini, kita diingatkan untuk selalu ingat nama Yesus sebagai tempat dan jalan kita untuk berjumpa dengan Allah (1 Tim 2:5, Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,). Oleh karena itu, apapun kondisi yang sedang kita alami saat ini berdoalah dan berharaplah dalam Tuhan Yesus.
dstheol

     

25 Februari 2018
“HIDUP OLEH IMAN”
Kej. 17:1-7, 15-16; Maz. 22:23-31; Roma 4:13-25; Mark. 8:31-38

Semoga diberi kesehatan yang baik, kelimpahan, kekayaan, kebahagiaan, umur panjang…”.
Itu mungkin salah satu penggalan doa dan harapan yang kita terima atau kirimkan kepada orang lain mengiringi ucapan Selamat Tahun Baru Imlek atau Selamat Ulang Tahun. Tetapi kenyataan hidup adakalanya lebih bersahabat dengan kesulitan daripada kesuksesan, penderitaan daripada kebahagiaan, sakit yang berkepanjangan daripada kesehatan yang baik. Bagaimana kita harus menghadapi kenyataan hidup yang tidak selamanya akan menyenangkan tersebut?

Ketika Abraham dipanggil oleh Allah menjadi Bapa banyak bangsa, sesungguhnya ia sudah memiliki kehidupan yang mapan di Urkasdim. Ia memiliki lahan pertanian yang luas, hewan ternak yang banyak, juga para pekerja yang mengabdi kepadanya. Abram berarti: Bapa yang mulia/terhormat. Ia dipandang mulia oleh banyak orang karena hidupnya yang berlimpah secara materi. Taat pada panggilan Tuhan dan meninggalkan kenyamanan seperti yang dilakukan oleh Abraham bukanlah hal yang mudah. Abraham memilih taat karena ia percaya kepada Tuhan. Allah mengubah namanya dari Abram menjadi Abraham. Dari Bapa yang mulia karena kepemilikannya diubah menjadi Abraham: Bapa banyak bangsa. Abraham beralih dari zona nyaman ke zona iman ! Ia berjalan (hidup) oleh iman kepada Allah.

Hidup meninggalkan kenyamanan demi kehendak Allah sudah diteladankan oleh Tuhan Yesus. Demi menyelamatkan kita orang berdosa, Ia rela menderita dan mengorbankan hidup-Nya. Cinta Tuhan kepada umat manusia dinyatakan dengan kesabaran dan pengorbanan yang besar. Dimulai dari panggilan kepada Abram hingga panggilan kepada para murid Tuhan Yesus adalah bukti cinta dan kesetiaan Tuhan kepada pengikut-Nya. Puncak dari pernyataan cinta-Nya adalah kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Hidup meneladani Tuhan Yesus hanya mungkin terjadi melalui penyangkalan diri, memikul salib, dan mengikuti panggilan-Nya sehari lepas sehari.

Mengikut Tuhan Yesus membutuhkan kesabaran dan kerelaan untuk dipimpin ke arah yang dikehendaki-Nya, sekalipun kadang melewati jalan yang berliku dan jauh dari kenyamanan. Bagi dunia, salib dan penderitaan merupakan cela. Tetapi bagi Allah, salib merupakan wujud dari kasih Allah yang membenarkan setiap orang percaya.

Ia yang telah mengaruniakan hidup-Nya bagi keselamatan kita adalah Tuhan yang senantiasa dapat kita andalkan disepanjang hidup kita. Pada masa Pra-Paskah ini, kita diuji untuk melihat kemurnian iman kita dalam Yesus Kristus. Apakah kita sudah sungguh-sungguh mengikut Yesus dengan menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Dia? Beriman berarti belajar untuk terus memahami kehendak Tuhan dan berjalan di dalamnya, seberat dan sesulit apapun keadaan kita. Di dalam iman kepada Tuhan ada kerelaan untuk berkorban dan tetap percaya akan penyertaan-Nya senantiasa dalam hidup kita. Selamat menggumulkan kehidupan iman pada Allah. Amin
BHS

 

18 Februari 2018
“MENGGUMULI YANG BAIK DAN YANG JAHAT”
Kej. 9:8-15; Maz. 25:4-9; 1 Petr. 3:18-22; Mark. 1:12-15

Banjir ada di mana-mana. Di sini banjir, di sana banjir, yang mengakibatkan banyak korban manusia, harta benda dan kerusakan alam. Bencana ini terjadi tidak lepas dari ulah manusia yang suka berbuat kejahatan, menebang dan merusak hutan semena-mena. Dulu waktu jaman nabi Nuh juga pernah terjadi hal yang serupa, sampai Allah berjanji tidak akan menumpahkan air bah lagi dengan menaruh Busur Pelangi-Nya di awan yang berorientasi pada pemulihan bumi. Betapa besarnya kasih Allah yang menghendaki kebaikan bagi dunia. Manusia didorong untuk turut mengerjakan apa yang baik, turut serta dalam karya pemulihan Ilahi (Kej. 9:8-15).

Dalam kehidupan raja Daud juga, dia merindukan kehidupan umat yang berorientasi kepada masa depan, bukan masa lalu. Masa depan yang lebih baik dari masa sekarang, melalui sikap yang merendahkan diri dan membuka hati terhadap bimbingan Ilahi. Artinya kita memohon belas kasihan dan kemurahan Ilahi untuk dimampukan menjalani hidup yang benar, baik dan meninggalkan kehidupan yang jahat. (Maz. 25:4-9).

Lebih baik menderita karena berlaku baik dari pada hidup nyaman dalam kejahatan. Yesus Kristus telah meneladankan tentang hal ini ketika Dia rela menderita demi memenangkan manusia dari dosa. Artinya Yesus Kristus memiliki visi kehidupan yang berorientasi pada pemulihan, menyelamatkan dan mendatangkan kebaikan. (1 Petr. 3:18-22).

Peristiwa dan pergumulan yang baik dan jahat bisa datang silih berganti dalam kehidupan kita, tapi juga bisa datang bersamaan. Hal ini terlihat pada waktu pencobaan datang kepada Yesus Kristus di padang gurun. Keberhasilan-Nya mengatasi hal-hal tersebut merupakan ajakan kepada setiap kita untuk beralih kepada nilai-nilai kebaikan, kebenaran, perdamaian, keadilan dan kesejahteraan. (Mark. 1:12-15).

Dalam kehidupan sehari-hari, kita diharapkan menyadari realita hidup, ada yang baik, ada yang jahat. Sekalipun pilihan ada di tangan kita, diharapkan kita untuk meneladani inspirasi Yesus yang bertahan, bergumul dan memenangkan integritas kesetiaan dan ketaatan kepada cinta kasih Allah, di tengah pusaran kehidupan dunia ini. Amin
BHS

     

11 Februari 2018
“KEMULIAAN ALLAH PADA WAJAH KRISTUS”
2 Raj. 2:1-12; Maz. 50:1-6; 2 Kor. 4:3-6; Mark. 9:2-9

Mark 9:5-6 “Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan.

Yesus berubah rupa di depan mata Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Dan perubahan itu membuat Petrus merasakan kebahagiaan dan ingin mendirikan tiga kemah bagi Yesus, Musa dan Elia (ayat 5). Namun di ayat 6 apa yang dirasakan, dikatakan, dan diinginkan oleh Petrus, karena ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya dan ketakutannya. Hal ini cukup membingungkan, sehingga pertanyaan yang muncul adalah apakah perjumpaan Petrus dengan Allah membuatnya terpaksa mengucapkan sesuatu yang sangat baik dan mulia, dikarenakan ketakutannya – Allah menakuti mereka dan mengancamnya? Tentu bukan demikian.
Kalimat di ayat 6 maksudnya adalah bahwa apa yang mereka lihat itu melampaui pikiran mereka – sebab pikiran Allah tidak terselami, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” (Rm. 11:33) – sehingga mereka tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Peristiwa itu terlalu hebat dan dahsyat, sehingga tidak ada kata-kata yang mampu untuk menggambarkannya. Dan itu semua berasal dari ketakutan (ekphroboi) mereka dalam arti gentar, tunduk, dan taat setelah berjumpa dengan kemuliaan Allah. Jadi jika dengan bahasa yang bebas ayat 5 dan 6 berbunyi demikian: “Guru betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Kami akan dirikan 3 kemah,” demikian kata Petrus. Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya dan semuanya itu melampaui pikirannya, karena kegentaran yang luar biasa dalam diri mereka akibat berjumpa dengan kemuliaan Allah.

Mari kita perhatikan dampak dari perubahan Yesus yaitu tentang keinginan Petrus membuat kemah. Pertama, kemah dalam cara pandang orang Yahudi selalu terkait dengan Kemah Suci/Bait Allah tempat perjumpaan umat dengan Allah.

Kedua, kemah dalam sejarah perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir mempunyai arti penting yaitu tempat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan dan tempat berteduh/berlindung dari badai pasir, panas dan dingin. Melalui pemahaman tersebut, maka keinginan Petrus dapat diartikan bahwa pertama, Petrus meyakini bahwa ia telah berjumpa dengan Allah, sehingga ia ingin membangun kemah suci bagi Allah

Ketiga, kemah yang ingin ia dirikan menggambarkan bahwa dia ingin beristirahat dan ingin berlama-lama berada di gunung itu dan tidak ingin meninggalkan gunung itu. Petrus tidak ingin peristiwa itu cepat berlalu, karena Petrus telah merasakan kemuliaan Allah.

Dan akhirnya terdengarlah suara dari dalam awan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (Mark 9:7). Kalimat-kalimat itu menjadi penting. Yang pertama adalah pernyataan dan yang kedua adalah perintah. Yang pertama merupakan bukti nyata bahwa Yesus adalah Anak Allah yang dikasihi yang mengingatkan kita pada pernyataan Allah dalam peristiwa baptisan (Mark. 1:11 “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”). Yang kedua, perintah: Dengarkanlah Dia! Merupakan implikasi logis dari pernyataan Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, maka menjalankan perintah-Nya merupakan hal yang wajar. Sedangkan yang tidak wajar ialah ketika kita lebih suka mendengarkan suara kita sendiri.
Setiap perjumpaan dengan Allah pastilah membawa dampak/ perubahan bagi manusia. Dari hati yang biasa saja atau bahkan hati yang muram berubah menjadi hati yang berkobar dan penuh harapan. Dari pribadi yang hanya mengikuti keinginan diri sendiri berubah menjadi pribadi yang mengikuti kehendak Allah. Seperti yang dialami dan dituliskan oleh rasul Paulus, “Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” Sudahkah kita mengalami hal itu?
dstheol

 

4 Februari 2018
“TUHAN HADIR DI TENGAH HIDUP YANG GETIR”
Yes. 40:21-31; Mzm. 147:1-11,20; 1 Kor. 9:16-23; Mrk. 1:29-39

Tahun 2017 baru saja kita lewati. Apakah kita mengalami hidup yang getir atau hidup yang manis di tahun-tahun yang lalu? Kita pasti pernah mengalami hidup yang serasa getir, pahit, kecut, pedas, ataupun tawar. Kehidupan para tokoh Alkitab juga banyak yang getir, menurut ukuran manusia biasa.

Mengapa kadang-kadang kita mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan? Apakah karena kita berdosa, lalu dihukum oleh Tuhan? Seandainya saja begitu, berarti Allah kita itu Allah yang pendendam. Ketika kita berdosa, menyakiti hati Tuhan, maka kita langsung dihukum. Untungnya, Allah kita adalah Allah Yang Maha Bijaksana, Allah Yang Maha Kasih. Bisa saja kesusahan yang kita alami adalah karena akibat kesalahan kita, tetapi bisa juga akibat kesalahan orang lain, atau bukan karena kesalahan siapa-siapa. Itu adalah misteri, rahasia Allah, Sang Pencipta, yang kadang-kadang tidak dapat dimengerti oleh sang manusia ciptaan. Yang dapat kita mengerti adalah Allah itu baik untuk selama2nya. Allah sumber kekuatan dan semangat bagi manusia yang mencarinya.

Kitab Yesaya 40:21-31 menyeritakan tentang bangsa Israel yang sedang mengalami hidup yang getir, pahit, sengsara. Mereka dibuang ke Babel, menjadi bangsa budak di negeri orang, sangat miskin, kerja keras, tidak ada harga diri baik secara pribadi, maupun harga diri secara bangsa, hidup tanpa ada harapan. Dalam keadaan seperti itu Allah berfirman melalui Nabi Yesaya, bahwa Ia adalah Allah yang sangat berkuasa. Kekuasaan-Nya tidak dapat disamakan oleh apapun, termasuk bintang-bintang, dan apapun yang ada di cakrawala, yang dianggap keramat oleh orang2 Babel. Segala penghuni langit itu adalah allah yang mati, yang sebenarnya tidak ada. Hanya Allah Yang Maha Kuat, Maha Kuasa, karena IA-lah yang menciptakan segala sesuatunya.

Manusia hanyalah ciptaan. Manusia tidak mempunyai hak apapun untuk menuntut Tuhan, karena manusia tidak bisa mengerti pemikiran Allah. Orang yang tidak percaya dan tidak mempunyai pengharapan kepada Tuhan, akan menjadi lelah, lesu, mudah terjatuh, akan selalu mengeluh, meratap, kecewa, menyesali hidup, putus asa, dan tidak sanggup untuk keluar dari kepahitan hidup. Sebaliknya, orang yang selalu mencari Tuhan, akan seperti burung rajawali, terbang tinggi, mempunyai kekuatan yang luar biasa, dan sanggup melakukan hal-hal besar, sekalipun mengalami kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidup.

Karena itu, ketika kita mengalami kesusahan, apakah kita akan menjadi orang yang marah-marah kepada Tuhan, undur dari Tuhan, tidak mau ke gereja lagi, melamun, putus asa, stress, depresi, ataukah kita akan tetap percaya kepada Tuhan, mencari dan mendekat kepada Tuhan? Kita patut bersyukur, walaupun jatuh tapi tidak tergeletak, kasih setia Tuhan akan senantiasa melindungi, memberi kelepasan. Bersyukur untuk semua berkat yang pernah kita nikmati. Bersyukur karena sekarang kita masih bisa bernafas, dikaruniai kesehatan, tenaga, pikiran, semangat untuk bekerja keras, dan berusaha untuk keluar dari segala persoalan kita. Bersyukur dikaruniai iman, yang percaya bahwa Tuhan akan menolong kita untuk meraih kemenangan besar. Bersyukur diberi kekuatan untuk menanggungnya. Bersyukur karena kita sudah mendapatkan keselamatan di dalam Tuhan Yesus.

Ada kalanya, ketika masa-masa sulit ini bisa kita lewati, barulah kita sadar ternyata hal yang tidak kita sukai tersebut sangat bermanfaat bagi kehidupan kita. Dengan percaya saja kepada Allah, kita dapat menerima apa yang baik, maupun yang buruk menurut pandangan kita, sehingga kita dapat menghadapi segala tantangan hidup dengan ikhlas, punya harapan, optimis.
Kita yang sudah mengalami kasih setia Tuhan, haruslah membawa kabar baik tentang Allah kepada sesama. 1. Di dalam Tuhan ada masa depan yang cerah 2. Semakin banyak kita menuntut, semakin pahit hidup kita, karena tidak semua keinginan kita akan terpenuhi. Sebaliknya, semakin banyak kita memberikan hidup kita, semakin banyak kebahagiaan yang akan kita terima. Ada yang tidak percaya? Marilah kita praktekkan dan buktikan sendiri. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Nancy Hendranata

     

28 Januari 2018
“Allah Memanggil Orang Muda Untuk Mewujudkan Tanda-Tanda Kerajaan Allah”
1 Timotius 4:1-16

Hampir dua ribu tahun lalu seorang muda bernama Timotius menerima surat ini dari Paulus. Sejak kecil Timotius telah terbiasa membaca kitab suci dan, setelah dibimbing Paulus, ia diteguhkan sebagai peniliik jemaat di Efesus (ay 14). Timotius memenuhi panggilan ini dengan setia. Allah memanggilnya untuk mendedikasikan hidupnya sebagai hambaNya.
Kita bisa membayangkan sebenarnya ada banyak pilihan karir Timotius. Sebagai anak seorang Yunani tentu ia memiliki banyak kesempatan untuk berkarir. Terlebih ia anak cerdas, terdidik sejak kecil oleh ibu dan neneknya yang berbangsa Yahudi, serta memiliki karunia kepemimpinan. Tetapi setelah ia berjumpa Paulus dan Silas, ia memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya bagi pekerjaan Allah.
Timotius menyadari Allah tidak pernah berhenti bekerja di dunia ini. Ia membuat kehidupan menjadi lebih baik. Ia membebaskan manusia yang terbelenggu dosa. Dalam karyaNya yang maha besar ini, Ia menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di dunia. Timotius yang cerdas ini menyadari tidak ada hidup yang lebih bermakna selain ikut mengambil bagian dalam pekerjaan Allah. Maka ia mempersembahkan semua talentanya untuk dipakai sebagai alat Tuhan di dunia.
Salah satu pekerjaan terpenting Timotius di Efesus adalah mengajar dan memberitakan Firman Tuhan. Jemaat yang dilayani Timotius ini mengalami badai berbagai pengajaran palsu. Pengajaran palsu yang berkedok agama ini membelenggu manusia, sehingga manusia tidak berhasil mencapai potensi penuh yang ia miliki. Orang beragama tidak lagi mengambil bagian dalam Karya Allah, yaitu mewujudkan tanda kerajaan Allah di dunia, tetapi ditakut-takuti dengan berbagai larangan dan pantangan (ay 3).

Paulus menubuatkan bahwa akan datang ajaran-ajaran (ay 1-2), yang tampilan luarnya seperti agama yang lengkap dengan pengajaran, ritual, pantangan, serta takhayul (ay 7). Agama palsu ini seolah-olah punya kuasa rohani, tapi sebenarnya kuasa itu datang dari roh-roh penyesat dan setan-setan. Mereka yang terbawa dan terseret akan terbelenggu dan tidak berdaya, sehingga tidak bisa ikut mengambil bagian dalam Karya Allah.
Tugas kita penilik jemaat mengingatkan jemaat akan hal-hal ini. Kita perlu terus mendalami Kitab-kitab Suci, agar kita bisa melawan agama-agama palsu yang dibawa roh-roh penyesat. Kita juga harus selalu mengawasi diri sendiri, pikiran kita, dan ajaran kita, supaya kita tidak terjebak ke dalam berbagai ajaran sesat atau agama palsu yang berasal dari setan-setan. Dan ini perlu dilaksanakan dengan keteladanan, kasih, kesetiaan, dan kesucian (ay 11-12).
Bacaan kita hari ini juga mengingatkan orang muda, dan kita semua, untuk tidak menyia-nyiakan talenta yang sudah Tuhan berikan. Karena kita berada di dunia ini untuk bekerja bagi Tuhan, mengambil bagian dalam Karya Allah mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dengan karunia-karunia yang Ia berikan. Pilihan hidup dan karir Timotius ini jauh lebih bermakna ketimbang karir apapun, bahkan masih menjadi inspirasi bagi banyak orang 2000 tahun kemudian.
AL

 

21 Januari 2018
“SERUKAN BERITA PERTOBATAN”
Yun. 3:1-10; Maz. 62:5-12; 1 Kor. 7:29-31, Mark. 1:14-20

Dunia dan penduduknya semakin hari bukan semakin baik dari sisi moralitas, tetapi sebaliknya, semakin bertambah kejahatan dan kerusakan yang ditimbulkan oleh dosa manusia. Kejahatan dan dosa semakin nampak terang benderang, bukan lagi sembunyi-sembunyi, tetapi semakin menunjukkan identitasnya, seperti kasus LGBT belakangan ini. Yang lebih memprihatinkan adalah praktek kehidupan umat beragama tidak berbeda jauh dengan orang-orang yang tidak beragama. Pengikut Kristus dan gereja secara institusi harus sadar betul akan tugas dan panggilannya di dunia ini, yaitu menyuarakan berita pertobatan kepada orang-orang di lingkungannya masing-masing. Nabi Yunus dari bangsa Israel diutus oleh Allah untuk menyampaikan berita pertobatan kepada penduduk kota Ninewe, kota yang kejahatannya tidak beda jauh dengan kota Sodom dan Gomora. Mengapa Tuhan Allah mengutus Yunus ke bangsa lain, bangsa yang selalu membuat bangsa Israel menderita? Tentunya, kisah Yunus ini mau mengungkapkan isi hati Allah yang mencintai dan mengasihi bangsa-bangsa lain, supaya mereka mengenal Allah yang hidup dan hidup dalam kebenaran.

Yohanes Pembaptis memberitakan berita pertobatan kepada orang-orang Israel yang sudah mengenal hukum-hukum Tuhan, sudah memiliki agama, yaitu agama Yahudi. Mengapa tema khotbah Yohanes Pembaptis adalah ‘pertobatan’ ? Jawaban Pertama adalah jelas bahwa agama/ iman tanpa buah pertobatan tidak ada artinya apa-apa. Kedua, bahwa orang-orang yang mengaku beragama dan beriman sekalipun masih membutuhkan seruan pertobatan. Sebab realitasnya menunjukkan bahwa iman dan perbuatan seringkali tidak berjalan seiring, tetapi bertolak belakang.

Dengan memperhatikan realitas tersebut di atas, maka pentingnya kita sebagai pengikut Kristus dan gereja secara institusi terus menerus menyuarakan berita pertobatan di dalam maupun diluar komunitas kita. Tuhan Yesus memanggil kita untuk tidak jemu-jemu menyuarakan berita pertobatan ini.

Mengapa suara pertobatan harus terus disampaikan? Selain alasan-alasan di atas, pertobatan adalah sebagai syarat seseorang untuk masuk dan hidup dalam Kerajaan Allah. Tanpa pertobatan, manusia tidak dapat masuk dan tinggal dalam Kerajaan Sorga. Kesimpulannya adalah berita pertobatan masih sangat relevan untuk konteks kehidupan masa kini. Itulah sebabnya kita dan gereja harus taat kepada tugas dan panggilan ini, yaitu menyuarakan berita pertobatan. Kiranya Tuhan memberkati dan memampukan kita untuk melaksanakan panggilan ini. Amin.
RDL

     

14 Januari 2018
“BERTEMU TUHAN, BERSAKSI BAGINYA”
1 Sam. 3:1-10; Maz. 139;1-6; 13-18; 1 Kor. 6:12-20; Yoh. 1:43-51

Bagaimana kita dapat melayani dan bersaksi bagi Tuhan ? Semua ini diawali dari prakarsa Tuhan. Manusia tidak dapat merencanakan program sendiri untuk melayani Tuhan. Melalui bacaan kita hari ini menjelaskan tentang panggilan Tuhan kepada umat-Nya secara pribadi bagi setiap orang secara unik. Samuel dipanggil Tuhan dengan namanya : “Samuel,…Samuel”. Murid-murid pertama Yesus hanya dengan berkata ;” Ikutlah Aku,..”. Tuhan memanggil semua orang terlepas dari latar belakang budayanya, profesi, umur, atau ras-nya, karena Tuhan terlebih dahulu mengenal diri kita daripada kita mengenal diri kita sendiri. Daud bersaksi dalam Mazmur 139, Tuhan mengetahui Daud ketika duduk atau berdiri, mengerti pikiran Daud, memeriksa Daud ketika berjalan dan berbaring, segala lakunya Tuhan pahami. Di mana saja, kapan saja Tuhan ada. Apakah hanya kepada Daud ? Tidak ! semua orang sama dihadapan Tuhan, kasih-Nya sama besarnya. Anda tidak dapat mengurangi atau menambah kasih Tuhan kepada anda. Satu persoalan anda menerima atau menolak panggilan Tuhan adalah pilihan. Anda tidak bisa melayani dan bersaksi bagi Tuhan tanpa menerima panggilan-Nya, mengenalnya dan mengasihinya.
“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita”. 1 Yohanes 4:19. Tujuan utama manusia dilahirkan ke dunia untuk memuliakan Allah. Ketika anda hidup sesuai dengan tujuan Allah, anda menjadi manusia seutuhnya.

Bersaksi dan melayani bukan inisiatif anda, tetapi lahir dari relasi yang intim dengan Tuhan. Jika anda melayani Tuhan dengan kemampuan dan kemauan anda sendiri, anda tidak akan bertahan lama, anda akan mudah kecewa, tidak ada sukacita, anda mudah meninggalkan Tuhan.
Kita sebagai umat Tuhan ‘jaman now’, bisa melihat bukti dari orang-orang yang menerima panggilan Tuhan, bergaul intim dengan Tuhan dan mengasihi Tuhan. Kesaksian dan pelayanan mereka tetap hidup ribuan tahun. Contoh dalam bacaan kita, Samuel, Para murid Tuhan Yesus dengan berbagai latar belakang, nelayanan, tabib, pemungut cukai, pembuat tenda di mana pelayanan mereka menjangkau milyardan orang datang kepada Yesus dan menerima sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam kurun waktu 2000 tahun. Jangan sia-siakan hidup anda dengan mencari jalan hidup sendiri. Pilihlah jalan Tuhan dengan menerima panggilan-Nya. Amin.
tonny iskandar

 

7 Januari 2018
“EPIFANI MEMBERI KEHIDUPAN”
Kej. 1:1-5; Maz. 29; Kis. 19:1-7; Mark. 1:4-11

Dalam kalender gerejawi, tanggal 6 Januari adalah Hari Raya Penampakan Tuhan atau Epifani atau Teofani. Dalam Gereja Barat maupun Timur memiliki pemahaman yang sama mengenai Epifani ini yaitu Manifestasi Yesus Kristus kepada dunia, namun menghayati peristiwa yang berbeda.
Dalam Gereja Timur, Epifani sering disebut Teofani yaitu untuk memperingati pembaptisan Yesus Kristus oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan, yang menunjukkan Yesus Kristus memulai karya pelayanan-Nya sebagai Anak Allah – lih Markus 1:11. Epifani juga menjadi puncak perayaan masa Natal yang diperingati mulai dari tanggal 25 Desember sampai dengan 5 Januari setiap tahun.
Sedangkan Gereja Barat, untuk memperingati kedatangan Orang-orang Majus dari Timur, yang mengunjungi Yesus yang baru saja lahir – Firman Allah menjadi manusia yaitu Yesus Kristus dalam kelahiran-Nya kepada seluruh dunia sebagai Anak Allah. Dan hari minggu setelah tanggal 6 Januari, gereja merayakan Masa Minggu Biasa yang diawali dengan perayaan Minggu Yesus Dibaptis.

Kebanyakan gereja di Indonesia mengikuti kalender gerejawi dari Gereja Barat. Dan pada tahun 2018 ini, Hari Raya Epifani dan Minggu Yesus Dibaptis berdekatan – sabtu, 6 Januari Epifani dan Minggu 7 Januari Yesus Dibaptis, sehingga dalam minggu ini kita diajak untuk menghayati 2 peristiwa sekaligus yaitu peringatan kedatangan Orang-orang Majus dari Timur, yang mengunjungi Yesus yang baru saja lahir dan peringatan pembaptisan Yesus Kristus oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan.
Melalui peristiwa pertama, kita diingatkan untuk menjalani kehidupan ini seperti yang dijalani oleh para Majus, yaitu memiliki kerinduan yang sangat untuk berjumpa dengan Tuhan. Perjalanan yang lama, jauh dan tidak mudah ditempuh oleh para Majus untuk berjumpa dengan Tuhan, dan semua itu karena Tuhan yang memampukan mereka.

ertanyaan untuk kita renungkan adalah
1. Apakah di minggu pertama tahun yang baru ini, kita memiliki kerinduan yang sangat untuk senantiasa berjumpa dengan Tuhan?
2. Apakah di minggu pertama tahun yang baru ini, kita memiliki keyakinan/iman yang kuat bahwa Tuhan pasti memampukan kita?
Melalui peristiwa kedua, kita diingatkan untuk menjalani kehidupan yang berkenan kepada Allah yaitu hidup dalam baptisan kita, hidup “diselamkan” dalam karya Allah di tengah dunia ini. Dan konsekuensinya adalah Yesus Kristus Sang Juruselamat kita menjadi yang paling utama untuk kita teladani dalam menjalani kehidupan di tahun yang baru ini.
Pertanyaannya: Siapkah kita meneladani Sang Juruselamat dalam berkarya bagi kemuliaan Allah di tahun yang baru ini?
Epifani memberi kehidupan bagi kita semua yang senantiasa rindu berjumpa dengan Tuhan dan mau hidup di dalam rancangan/karya Tuhan di dunia ini. Kelahiran dan Baptisan Yesus menggambarkan sebuah kehidupan baru, yaitu kehidupan yang bersumber dari Sang Hidup yaitu Allah Bapa yang berkarya sejak permulaan dunia ini dijadikan (lih Kej 1).
Kiranya Roh Kudus yang telah tercurah melalui peristiwa baptisan kita memampukan setiap kita untuk menjalani tahun 2018 ini dalam visi dan misi Tuhan. Amin!
dsteol

     

 

2017
 
     

31 Desember 2017
HIDUP YANG PENUH SYUKUR
Yesaya 61:10-62:3, Mazmur 148, Galatia 4:4-7, Lukas 2:22-40

Suasana akhir tahun, selalu nampak meriah. Hingar bingar bunyi terompet dan gemerlap di tengah gelap mengisi kemeriahan menyambut tahun baru. Inikah tanda hidup bersyukur ?
Gereja juga mengadakan ibadah tahun baru. Mengisi dengan refleksi untuk mensyukuri karunia Tuhan di masa lampau serta untuk hidup semakin baik di tahun baru dengan kekuatan Allah.
Tutup tahun adalah titik perhentian yang menghubungkan masa lampau dengan masa depan. Titik ini sangat bermanfaat untuk memaknai dan disikapi dengan tepat dalam iman kepada Tuhan. Titik yang bermanfaat untuk hidup yang penuh syukur. Zaman Jemaat Galatia – umat diingatkan adanya belenggu masa lalu. Saat Yesus lahir juga ada banyak yang sebelumnya baik, seperti : Taurat, ditangan orang yang salah menginterpretasikan Taurat, Taurat telah menjadi terbelenggu. Umat hidup untuk Taurat bukan Tuhan. Galatia 4:5 “Yesus datang untuk menebus kita dari yang membelenggu. Ada berbagai “kuasa” termasuk kuasa ibadah - seremonial, tradisi dan adat istiadat. Hidup terbelenggu, berakibat sulit bersyukur. Terbelenggu berarti terbatasi. Nah, inilah Firman Tuhan untuk refleksi kita di penghujung tahun :

1. Masih adakah belenggu ?
Galatia 4:6, Roh Kudus telah dianugerahkan di hati kita, sehingga kita bisa menyebut Allah sebagai : Ya Abba , ya Bapa. Bersyukurlah pada Tuhan, sebab kita jadi ahli2 waris – OLEH ALLAH.
Di penghujung tahun, jika dalam refleksi kita menemukan keterikatan kita lebih pada sesuatu dan mengalahkan cinta kita pada Tuhan, maka sesungguhnya di sepanjang tahun 2017 kita pasti jadi orang yang tidak banyak melayani Tuhan, jadi orang yang sulit bersukacita, banyak sungut-sunggut, penuh kekuatiran, hidup yang kurang bermakna. Datanglah dan terimalah Kristus, yang datang untuk membuka belenggu kita. Agar kita anak, bukan lagi budak. Merdeka bukan diperhamba dunia.

2. Puas sebab melihat Penyelamat telah datang
Kepuasan setiap orang berbeda-beda, namun kepuasan sejati hanya pada Tuhan Yesus Kristus. Sebagaimana kepuasan Simeon : menyaksikan Mesias, Juruselamat dunia : “Sekarang Tuhan biarkanlah hambamu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu (Luk 2:29-30).
Adakah selama ini kepuasan kita ada pada Juruselamat dunia, atau karena “penyelamat-penyelamat yang ditawarkan dunia”? Perjumpaan dengan Yesus sebagai Pelepas, memampukan kita bersyukur dan bersaksi karena Kristus. Seperti ketika di usia 84 tahun – Nabi Hana dimampukan berbicara tentang Yesus. Ia mampu berbicara tentang Yesus pada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.

Perjumpaan dengan Yesus di sepanjang tahun 2017, mestinya telah memampukan kita menyaksikan Yesus pada dunia, pada setiap orang yang kita jumpai. Perjumpaan dengan Yesus nyata dalam setiap kata dan perbuatan kita pada sesama. Namun apakah kita telah sungguh-sungguh berjumpa dengan Yesus ?

3. Perjumpaan dengan Tuhan – menimbulkan “kegelisahan batin”
Gelisah di sini dalam arti positif : sebagai dampak dari rasa sukacita tak terbendung. Hidup bersukacita karena keselamatan dan kebenaran di gambarkan Yesaya seperti sedang mengenakan pakaian pesta nikah, penuh sorak sorai, syukur, dan puji-pujian – nyata di depan segala bangsa. Perjumpaan dengan Tuhan - menimbulkan kegelisahan : tidak dapat berdiam diri, tidak tinggal tenang jika belum kebenaran bersinar seperti cahaya (Yesaya 62:1). Saudaraku , gelisahkah, sebab ternyata arti kehadiran kita bagi Tuhan dan sesama kurang berarti. Sebab kita ada , tetapi ternyata di depan kita masih penuh pertengkaran, kesusahan, ketakutan, yang kita biarkan terjadi. Gelisahkah kita sebab kita melewatkan banyak peristiwa dan kita tidak bertindak apa-apa ? Karena itu dipenghujung tahun 2017 ini, mari kita evaluasi, dan kita tingkatkan kualitas kehidupan kita saat ini dan di tahun baru 2018. Mari kita menerima anugerahNya yang akan dan telah melepaskan belenggu-belenggu yang masih ada, agar kepuasan kita hanya karena Yesus Kristus. Mari kita merendahkan hati dan positif menanggapi “kegelisahan” hati kita karena kita tidak menjadi saluran berkat Tuhan yang baik.

Semoga jawaban Tuhan dalam anugerah Kristus, memampukan kita untuk HIDUP YANG PENUH SYUKUR diakhir tahun 2017, dan di tahun baru 2018 . Selamat menghayati detik-detik terakhir tahun 2017 dan selamat memasuki tahun baru 2018 dengan berkat Tuhan. AMIN.
PKM

 

24 Desember 2017
JAWABAN MARIA UNTUK BERITA ADVEN
2 Sam. 7:1-11,16; Maz. 89:1-5, 20-27; Roma 16:25-27; Luk. 1:26-38

Kehidupan Maria dan Jusuf tentunya terbentang dalam masa waktu yang begitu jauh dengan Daud. Dalam kehidupan pada masanya, Maria dan Yusuf menjalani kehidupan yang begitu berbeda dengan Daud. Mereka tinggal di istana, memiliki kekuasaan, ataupun kejayaan. Maria dan Yusuf adalah orang-orang ‘berdarah biru’ yang hidup dalam kesederhanaan, kemiskinan, serta jauh dari gemerlap hidup kerajaan. Dalam kesederhanaan kehidupan inilah Gabriel menyapa Maria dengan ungkapan: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (Luk. 1:28). Salam ini menyatakan sebuah kekhususan Maria yang dikaruniai, yang mendapat berkat yang khusus dari Tuhan, berupa pemilihan kepercayaan: “ ... akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau manamai Dia Yesus ...” (ayat 31).

Pesan malaikat menegaskan bahwa rencana kelahiran Yesus bukan karya acak Allah, melainkan sebuah design yang agung, merujuk kepada masa 1000 tahun yang lampau yaitu janji Allah untuk Daud. Lukas 1:32 “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya ...” tentunya mengingatkan Maria tentang siapa dirinya. Bahwa sekalipun ia hidup dalam kemiskinan, kesederhanaan, tak memiliki kuasa, tetapi di dalam dirinya mengalir darah para raja. Maka tentunya Maria juga mengenal (dan menantikan) pengokohan kembali kerajaan Daud. Bahwa Tuhan yang pernah berjanji untuk memberkati keturunan Daud, akan bertindak untuk memenuhi janji-Nya.

Di hari itu, Tuhan membuka Maria kepada sebuah panggilan, bukan hanya mengandung, melainkan mengandung seorang ‘anak Allah’, seorang yang akan menegakkan kembali takhta Daud, “ .... dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (ayat 33).

Ini adalah sebuah pesan besar bagi Maria, yang mengingatkan akan janji-Nya dengan cara yang kreatif dan ajaib. Maria akan mengandung seorang yang akan menjadi keturunan Daud (dalam ungkapan Paulus di Roma 1:3 “yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud”), tetapi sekaligus akan melampaui kejayaan kerajaan Daud. Karena, bayi yang dikandung Maria adalah “Anak Allah yang Mahatinggi”. Kepada panggilan untuk ikut berkarya bersama Tuhan inilah Maria menjawab: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”.

     

17 Desember 2017
BERITA ADVEN DARI YOHANES PEMBAPTIS
Yes. 61:1-4, 8-11; Maz. 126; 1 Tes. 5:16-24; Yoh. 1:6-8, 19-28

Yohanes Pembaptis adalah pewarta yang diutus Allah untuk memenuhi nubuat nabi Maleakhi (Mal. 4:5-6). Tugas utama Yohanes Pembaptis adalah mempersiapkan umat Israel untuk menyambut kedatangan Sang Mesias yang terwujud dalam diri Yesus dari Nazaret. Yesus dari Nazaret adalah anak tukang kayu, tetapi sesungguhnya Ia adalah Sang Firman Allah yang menjadi manusia. Karena itu Yohanes Pembaptis hadir sebagai pewarta yang memulihkan sebab ia memberitakan tentang Sang Firman Allah yang menjelma menjadi manusia, Yesus Kristus. Dia tidak memberitakan tentang dirinya sendiri. Yohanes Pembaptis hanyalah saksi yang menunjuk kepada Sang Kebenaran di dalam Kristus, tetapi ia sendiri bukanlah kebenaran itu. Ia mewartakan agar umat datang dan mempermuliakan Kristus.

Dalam kehidupan sehari-hari kita menjumpai problem “Mesias-kompleks.” Maksud “mesias-kompleks” adalah orang-orang yang menganggap dirinya sebagai seorang penyelamat. Dia menganggap bahwa tanpa kehadiran dan perannya, maka tidak ada yang benar dan beres. Karena itu perilaku dari mesias-kompleks adalah sikap yang suka mendominasi, melakukan intervensi, merasa dirinya superior, merasa berjasa, menuntut penghargaan dan anti-dialog. Karena itu tidak mengherankan jikalau mereka menjadi para pewarta yang menyebarkan luka-luka, kemarahan dan kebencian.

Fenomena mesias-kompleks dapat terjadi kepada siapapun dilingkungan jemaat, kantor/pekerjaan, masyarakat dan keluarga. Kehadiran dan perkataan mereka menjadi penyebar racun yang menorehkan perasaan terluka walau berbicara tentang kasih, iman dan karya keselamatan Allah.

Problem mesias-kompleks membutuhkan jalan keluar. Mereka membutuhkan pemulihan dari Kristus, agar kehadiran dan perkataan mereka dimampukan memulihkan sesama yang berelasi dengan mereka. Untuk itu mereka perlu melewati proses ‘pemurnian diri’ seperti yang dialami Yohanes Pembaptis di padang gurun, kemudian dikuduskan oleh Roh Allah. Pengudusan dari Allah adalah sumber sukacita yang menghasilkan pembaruan hidup.

 

 

10 Desember 2017
BERITA ADVEN DARI YESAYA
Yesaya 40:1-11; Maz. 85:1-2, 8-13; 2 Petr. 3:8-15; Mark. 1:1-8

Di Minggu Adven II umat dipanggil untuk menghayati makna pertobatan yang sesungguhnya. Pertobatan merupakan respon dari anugerah keselamatan yang diberikan oleh Allah. Berita keselamatan dari Allah yang disampaikan Yesaya membuktikan bahwa Allah adalah Allah yang menghibur, menenangkan hati dan mengampuni kesalahan umat-Nya (lih Yes 40:1-2). Kesaksian tentang hal tersebut harus diserukan dan dinyatakan oleh umat kepada siapapun sebagai bukti nyata dari kehidupan umat yang bertobat. Untuk itu kita dipanggil untuk memeriksa diri apakah dalam masa penantian ini kita sudah melakukan kehendak Allah? Apakah kita sudah mencerminkan kehidupan sebagai umat yang telah dihiburkan, ditenangkan dan diampuni dosanya oleh Allah?

Inti Berita Adven dari Yesaya yang pertama adalah setiap umat percaya merespon kedatangan Kristus yang kedua dengan hati yang pro Allah. Hati yang selalu memikirkan dan merenungkan apa yang dikehendaki Allah di dalam hidupnya. Padang gurun sebagai tempat yang berbahaya dan mematikan bagi manusia diubah menjadi jalan raya umat untuk menjumpai Allah yang datang melayat (Yes 40:3). Demikian juga dengan lembah, gunung dan bukit yang harus diratakan agar umat dapat melewatinya dengan aman (Yes 40:3). Makna yang hendak disampaikan dari ungkapan yang metaforis ini adalah Yesaya diutus Allah untuk membarui hati umat yang bengkok dan jauh dari Allah kembali menjadi hati yang pro-Allah. Sudahkah selama ini hati kita merupakan hati yang pro-Allah ataukan hati yang pro-“yang lain”(materi, ego, keluarga, jabatan dsb)?

Inti Berita Adven dari Yesaya yang kedua adalah setiap umat percaya merespon kedatangan Kristus yang kedua dengan sikap dan perilaku yang proaktif. Sikap dan perilaku yang demikian muncul karena penghayatan dan pengalaman iman tentang Allah yang telah menganugerahkan keselamatan dalam diri umat. Melalui Yesaya ada tiga hal yang harus dilakukan oleh umat yaitu pertama menghibur mereka yang bersedih; kedua, menenangkan hati mereka yang gelisah dan tidak berpengharapan; ketiga, mengampuni dan berdamai dengan mereka yang telah melukai hatinya.
Masa Adven, Natal dan Pasca Natal, biasanya gereja lebih banyak melakukan kegiatan ketimbang sebelumnya. Pertanyaan bagi setiap kita adalah pertama, apakah kita sebagai umat yang telah mendapatkan keselamatan dari Allah, sudah terilbat aktif di dalamnya? Kedua, apakah kita sudah melakukan tiga hal yang diserukan oleh Yesaya yaitu menghibur, menenangkan, dan mewartakan pengampunan dan damai kepada siapapun?

     

3 Desember 2017
BERITA ADVEN DARI PAULUS
Yeh. 34:11-16, 20-24; Maz. 95:1-7; Ef. 1:15-23; Mat. 25:31-46

Kehidupan yang penuh dengan pertobatan dalam menantikan hari Tuhan juga menjadi pesan yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Korintus. Sebagaimana kita tahu bahwa jemaat ini adalah jemaat yang besar dan penuh dengan karunia-karunia. Namun pada saat yang sama jemaat ini juga menyibukkan diri di dengan konflik yang tidak membangun. Konflik ini bergulir terlalu jauh sehingga mengancam bukan saja keutuhan jemaat Tuhan tetapi juga pemberitaan Injil kepada umat dan bangsa-bangsa lainnya yang belum percaya kepada Yesus. Dalam hal inilah Paulus mengingatkan mereka bahwa di hari Tuhan yang mendekat seharusnya mereka melakukan sebuah pekerjaan iman yang membangun diri mereka dan pekerjaan Allah di dunia ini. Agar di hari Tuhan yang mendekat mereka memunculkan terang Allah ditengah-tengah dunia yang rusak. Mereka tetap hidup dalam kesesuaian dengan kehendak Allah. Menjaga diri mereka dari cacat cela kehidupan selama masa penantian. Segala talenta dan karunia yang Allah berikan harus dipakai di dalam membangun jemaat Tuhan, bukan sebaliknya menjadi sumber perpecahan. Dengan demikian ketika hari Tuhan itu tiba maka mereka akan didapati tanpa cacat cela.
Di dalam masa penantian ini, kita juga diharapkan dapat memandang pada keselamatan yang telah Tuhan siapkan dari pada melihat gambaran-gambaran kehancuran, dan menyadari akan segala pemberontakan, kenajisan serta kesalehan hidup palsunya, dan dapat mengarahkan, memperhatikan serta mewujudnyatakan tanda-tanda keselamatan untuk menyambut kehadiran Allah dengan pengakuan dosa dan pertobatan, berjuang untuk membangun jemaat Tuhan dalam keutuhan ciptaan-Nya sehingga tidak menjadi batu sandungan dalam pemberitaan Injil.

Jadi hari Tuhan yang dinantikan bukanlah hal yang menakutkan, namun pekerjaan besar Allah ini akan menjadi penghiburan, bukan ancaman. Untuk itu, kesadaran diri untuk bertobat menjadi sikap yang harus kita miliki di dalam menyambut hari Tuhan ini, dan setiap orang percaya dapat menatap masa depan dengan sebuah harapan dan keyakinan iman bahwa akan ada masanya tunas keselamatan itu muncul untuk memberi perteduhan dan kedamaian bagi orang-orang yang bertahan di dalam kebenaran dan kesetiaan.
Dengan demikian, hari Tuhan bukanlah hari kehancuran melainkan hari keselamatan bagi orang-orang yang mampu bertahan di dalam kekacauan dan kekisruhan dunia ini.
DP

 

 

26 Nopember 2017
Digembalakan dan Menggembalakan
Yeh. 34:11-16, 20-24; Maz. 95:1-7; Ef. 1:15-23; Mat. 25:31-4

Di dalam kehidupan bersama sebagai Gereja, ada fungsi umat / jemaat dan fungsi pejabat / pemimpin gerejawi (Majelis Jemaat). Pejabat Gerejawi adalah pemimpin sekaligus pelayan Tuhan yang dipanggil dan ditempatkan Tuhan di tengah JemaatNya. Tugas pemimpin / pelayan gerejawi seperti gembala terhadap domba. Ia memberi makan agar iman terpelihara dan bertumbuh. Pertanyaannya : tugas gembala itu, tugas siapa saja ? Tema : “Digembalakan dan Menggembala kan,” memperjelas fungsi “gembala” dan keterlibatatan bersama sebagai “gembala-domba.”

1. Tuhan adalah Gembala yang sesungguhnya
Daud menyebutkan : “Tuhan adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku” (Maz. 23:1). Yesus menyebut diriNya sebagai : “ Akulah Gembala yang baik” (Yoh. 10:11,14). Jadi jika pada umatNya ada gembala, maka ia adalah “pelayan” yang menjalankan tugas dari Gembala Yang Baik. Mereka dipanggil dan ditempatkan / dilibatkan, supaya pemeliharaan umat terjadi dengan benar dan baik. Karena itu : apakah setiap gembala di masa ini telah menjalankan tugasnya sesuai harapan Gembala Agung ? Domba-domba itu bukan milik gembala. Domba-domba adalah milik Gembala Agung yang dipercayakan pada para gembala. Allah menyatakan : “Sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-dombaKu dan akan mencarinya”. Di padang rumput yang baik akan Kugembalakan mereka“ (Yeh. 34:11,14). Gembala Yang Baik itu memanggil kembali agar para gembala menjalankan fungsi gembala : mencari yang hilang, membalut yang terluka, menghibur yang susah dan memberi rumput hijau.

2. Hubungan SALING
Fungsi gembala bukan hanya dikenakan pada pemimpin / pelayan khusus, tetapi juga pada setiap anggota jemaat. Himbauan untuk menjalankan fungsi “gembala” diberitahukan pada jemaat, agar : saling memperhatikan dan menasehati (Ibr. 10:24-25). Saling menghibur – 1 Tes. 4: 18 “Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain. “Hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh (Yak. 5:16). (Gal. 6:2) Hendaklah kalian saling membantu menanggung beban orang supaya dengan demikian kalian mentaati perintah Kristus.
Gereja / Jemaat adalah “kawan sewarga” dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah. Tuhan Yesus adalah teladan kita “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu (Yoh. 13:15).

3. Fungsi gembala agar semakin “menghadirkan Kristus dan cinta kasihNya”
R. Paulus berharap umat sebagai “gembala” memiliki Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Yesus dengan benar, agar pelayanan saling menggembalakan itu sesuai pengharapan Kristus (Ef. 1:17, yakni pelayanan yang memenuhi standar kehadiran Yesus sendiri dalam hidup umat. Pelayanan yang semakin penuh kasih, pengorbanan, penuh kemuliaan bagi Tuhan.

4. Perwujudan pelayanan yang saling menggembalakan
Adalah ketika makin memiliki kasih pada sesama yang sedang terpuruk : yang “lapar, haus, dipenjara, telanjang” (Mat. 25:31-46). Sehingga fungsi gembala bisa diwujudkan pada siapa pun dan dalam keadaan apapun. Di keluarga, entah ayah, ibu, anak, pembantu bisa jadi gembala atas orang lain di keluarganya. Misalnya, seorang ayah yang menyejahterakan keluarga secara lahir dan batin. Seorang ibu dapat menjadi gembala bagi suaminya ketika mendorong suaminya untuk setia dan cinta pada komitmen imannya. Seorang anak dapat menjadi gembala bagi orangtuanya, ketika ia bisa meyakinkan orangtuanya untuk menghentikan tindakan pemerasan terhadap orang kecil lewat posisinya. Seorang pembantu menjadi gembala bagi tuannya, bila ia dapat mencegah perbuatan tidak senonoh tuannya. Di sekolah, guru dapat menjadi gembala bagi anak didiknya, jika ia sanggup menciptakan suasana belajar yang baik bagi murid-muridnya. Seorang murid dapat menjadi gembala bagi gurunya, ketika ia berhasil mengingatkan gurunya untuk bertindak adil terhadap setiap muridnya, kaya atau miskin dst. Atau seorang murid menjadi gembala bagi teman-temannya. Di kantor, seorang direktur bisa menjadi gembala bagi staf dan karyawannya. Atau seorang karyawan bagi pimpinannya. Di gereja, anggota jemaat bisa jadi gembala bagi penatua atau pendeta dan sebaliknya Tidak mudah untuk menjalankan fungsi gembala. Milikilah kasih yang sempurna – seperti dalam 1 Yohanes 4:18 “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.”
Mari kita saling menggembalakan, agar iman terpelihara, arah hidup tetap pada kehendak-Nya, dan apa yang Tuhan kehendaki melalui kita terlaksana. Amin.
PKM

     

19 Nopember 2017
HIDUP YANG BERTANGGUNGJAWAB
Zef. 1:7, 12-18; Maz. 90:1-12; 1 Tes. 5:1-11; Mat. 25:14-30

Berbicara tentang Hidup yang bertanggung jawab dapat kita bagi menjadi dua bagian.
Pertama. Kehidupan yang Tuhan berikan kepada kita, kita pakai untuk apa, dan untuk siapa? Apakah Kehidupan yang selama ini kita jalani adalah kehidupan yang bermakna bagi sesama dan untuk memuliakan Tuhan? Pertanyaan di atas akan menjadi perenungan kita bersama, sehingga dapat memotivasi, mengingatkan dan mendorong kita agar sadar dan memiliki kerinduan yang dalam untuk mengisi kehidupan ini secara bijak dan benar, seperti Pemazmur yang telah berdoa supaya Allah memampukannya mengisi kehidupan dengan bijak, berkenan dan untuk memuliakan Allah, karena sadar bahwa hidup ini seperti mimpi, seperti rumput yang tumbuh di pagi hari, siang bertumbuh dan sore harinya sudah lisut dan layu. Begitu cepatnya kehidupan ini. Mari kita isi dan jalani hidup ini dengan penuh syukur dan berbuat baik bagi sesama dan untuk kemuliaan Tuhan.
Kedua, Di dalam Matius 25:14-30.
Perumpamaan tentang talenta, yang berarti berbicara tentang tanggung jawab. Dan Tuhan Yesus mengajarkan beberapa hal penting, diantaranya:
1. Allah berdaulat memberikan kepercayaan dan tanggungjawab kepada siapapun yang Ia kehendaki. Kita tidak bisa memprotes dan menuduh Allah tidak adil karena kita hanya menerima satu talenta. Ia bukan saja berdaulat tetapi, Ia memiliki segalanya, Ia adalah pencipta serta sumber dari segalanya.
2. Tuhan memberikan tugas dan tanggungjawab sesuai dengan kemampuan atau kompetensi yang kita miliki. Ia tidak akan memberikan kepercayaan, tugas dan tanggungjawab diluar kemampuan dan kapasisitas kita. Ia mempercayakan dua talenta, lima talenta dan satu talenta kepada masing-masing sesuai dengan kemampuan masing-masing.

3. Tugas dan tanggungjawab itu harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, dengan ketekunan dan kesetiaan, dan dengan usaha yang maksimal. Sikap seperti inilah yang ditunjukkan oleh hamba yang menerima 5 talenta dan hamba yang menerima 2 talenta. Sedangkan hamba yang menerima satu talenta sikapnya sebaliknya.
4. Allah berdaulat untuk memberikan apresiasi kepada hamba-hambaNya yang dapat melakukan tugasnya dengan baik dan setia, sehingga Allah akan memberikan tanggungjawab yang lebih besar. Bagaimana kita dapat menjalalani kehidupan yang bertanggung jawab?
• Memandang bahwa kehidupan yang Tuhan berikan sebagai anugerah dan kasih Tuhan. Hidup adalah kesempatan untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan dan sesama.
• Menerima semua tugas dan tanggung jawab dengan rasa syukur dan sukacita kepada Tuhan.

Kiranya Tuhan memampukan dan menolong kita untuk dapat mempertanggungjawabkan apa yang telah Tuhan percayakan dan anugerahkan bagi kita untuk kemuliaan-Nya. Amin.
RDL

 

12 Nopember 2017
HARI TUHAN
Amos 5:18-24; Mzm. 70; 1 Tes. 4:13-18; Mat. 25:1-13

Hari Tuhan di sini dapat berarti hari ketika Tuhan datang melawat umat-Nya, masa penghakiman atau masa penyelamatan, akhir jaman, hari kiamat, berakhirnya kehidupan di dunia, hari kedatangan Kristus kedua kalinya.

Dalam Alkitab tertulis, Hari Tuhan segera datang, tetapi sampai sekarang belum juga tiba. Apakah Hari Tuhan pasti akan datang? Ungkapan Hari Tuhan tertulis di banyak ayat, baik di dalam Perjanjian Lama, maupun Perjanjian Baru. Hari Tuhan pasti akan datang, namun tidak ada yang dapat mengetahui waktunya, kecuali Allah Bapa sendiri (Mat. 24:36). Berulangkali manusia mencoba untuk meramalkan datangnya hari kiamat, tetapi selalu gagal. Umat Tuhan harus mempersiapkan diri, dan selalu dalam keadaan siap untuk menyambutnya, kapanpun saat itu tiba.

Apakah Hari Tuhan itu membawa sukacita ataukah kengerian? Firman Tuhan menyatakan Hari Tuhan akan datang sebagai hari penghukuman, hari kengerian dan kegelapan bagi umat Tuhan yang tampaknya saja rajin beribadah, melakukan ritual-ritual agama, tetapi tidak mengarahkan hatinya kepada Tuhan. Pengikut Kristus yang tidak benar-benar beriman kepada Kristus, dan tidak mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan, akan kehilangan kesempatan untuk ikut dalam perjamuan sorgawi itu.

Orang beriman -yang sudah mati akan dibangkitkan-Nya, dan yang masih hidup pada hari kesudahan dunia itu –akan bersama-sama menikmati hidup kekal di sorga. Kristus akan datang kembali ke dunia untuk menebus orang-orang percaya yang setia dan menghukum orang-orang yang tidak percaya, yang berbuat jahat di mata Tuhan.

Selagi masih ada kesempatan, marilah kita mencari Tuhan. Ia akan menolong, dan meluputkan kita dari segala dosa, serta memampukan kita untuk hidup dalam kebenaran dan keadilan. Dengan demikian, pastilah Hari Tuhan adalah hari kemenangan bagi kita semua. Kapanpun itu terjadi, kita siap menyambutnya. Haleluya. Amin.
Nancy Hendranata .

     

5 Nopember 2017
TIDAK AJI MUMPUNG
Mikha 3:5-12; Maz. 43; 1 Tes. 2:9-13; Mat. 23:1-12

Aji mumpung adalah istilah bahasa jawa yang mengungkapkan cara berpikir seseorang yang berupaya memanfaatkan kesempatan dan situasi yang ada semata-mata demi memperoleh keuntungan pribadi dengan tidak mengindahkan prinsip-prinsip moral/etika. Dalam konteks bacaan Injil hari ini, sikap aji mumpung itu tercermin dalam diri ahli Taurat dan Farisi. Mereka disebut sebagai orang yang “menduduki kursi Musa” – yang memiliki otoritas untuk mengajarkan hukum Taurat – namun sikap hidupnya tidak sesuai dengan yang diajarkannya. Mumpung aji – mumpung memiliki kuasa – mereka menuntut orang banyak untuk melakukan apa yang mereka ajarkan, namun dirinya sendiri tidak melakukannya. Otoritas yang mereka miliki disalahgunakan untuk kepentingan diri dan golongannya. Mereka gagal menjadi pemimpin yang amanah-dipercaya. Penyalahgunaan otoritas dan kepercayaan dari Allah inilah yang memicu teguran keras Yesus kepada mereka.

Teguran yang serupa juga terdapat dalam Bacaan I, Mikha 3:5-12, Allah menegur para nabi yang menyalahgunakan otoritas dan kepercayaan dari Allah. Mereka hanya berpihak pada orang yang memberikan uang. Mereka menjual kewenangan mereka untuk bernubuat demi kepentingan mereka sendiri. Dan hukuman bagi mereka adalah Allah menarik kembali mandat yang diberikan kepada mereka , sehingga mereka tidak lagi dapat menjalankan fungsinya sebagai nabi.

Bagi mereka yang tertindas karena ulah para pemimpin yang aji mumpung, pemazmur (Maz. 43) mengajak umat untuk berharap kepada Allah. Allah yang dihayati pemazmur sebagai tempat pengungsian, gunung yang kudus, dan penolong. Pemazmur mengimani Allah yang peduli dan menyatakan keberpihakan-Nya. Allah akan menuntun dan menolong mereka dengan terang-Nya, kesetiaan-Nya dan kebenaran-Nya. Meski mereka harus mengalami penderitaan, namun mereka tidak akan kehilangan sukacita.

Pesan yang penting dalam rangkaian bacaan kita minggu ini adalah apa yang kita miliki ini asalnya dari Tuhan dan Tuhan sudah mempercayakannya kepada kita. Oleh karenanya, marilah kita jalankan apa yang sudah dipercayakan Tuhan kepada kita dengan sebaik-baiknya dan bermanfaat bagi sesama, serta memuliakan Tuhan.

 

29 Oktober 2017
MENGASIHI DIRI SENDIRI
Imamat 19:1-2, 15-18; Mazmur 1; 1 Tesalonika 2:1-8; Matius 22:34-46

Orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri, akan sulit untuk dapat mengasihi sesamanya dengan tulus. Mungkin dia terlihat mengasihi dan melayani sesama, namun hal itu dilakukan demi kepentingan diri sendiri supaya merasa baik atau eksis, terlihat hebat, agar dipuji, dan sebagainya. Marilah kita belajar mengasihi diri sendiri terlebih dahulu sebelum mengasihi sesama. Di dalam Matius 22:39 dan Imamat 19:8 dikatakan: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Mengasihi diri sendiri tidak sama dengan mementingkan diri sendiri atau egois. Mengasihi diri sendiri berarti menerima diri sendiri sebagaimana adanya, berdamai dengan diri sendiri dan masa lalunya. Hal ini tidak selalu mudah, sebab seringkali orang tidak puas dengan keberadaan dirinya. Ia ingin menjadi seperti orang lain atau iri dengan orang lain. Ada pula yang memiliki masa lalu atau masa kecil yang menyakitkan dan melukai, sehingga mesti disembuhkan agar tidak menjadi beban seumur hidup. Orang yang sudah selesai dengan dirinya, yang sudah dapat mengasihi diri sendiri akan dapat mengasihi sesama dengan tulus, demi kepentingan orang yang dikasihi dan dilayani. Jika seseorang belum mengasihi diri sendiri, walaupun tampaknya ia mengasihi sesama, namun ia mengasihi sesama demi kepentingan diri sendiri agar dipuji, merasa eksis, hebat, dan sebagainya.

Contoh hal-hal yang menunjukkan mengasihi sesama antara lain: dalam pengadilan, tidak berbuat curang, membela orang kecil dengan sewajarnya, tidak terpengaruh oleh orang-orang besar, mengadili dengan kebenaran. Jangan sampai korupsi kebenaran, yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan karena pengaruh uang, atau takut ancaman, atau imunisasi orang yang berkuasa, sehingga mereka tidak tersentuh hukum. Dalam relasi dengan sesama, wajib tidak menyebarkan fitnah, tidak mengancam hidup sesama, tidak membenci dalam hati, berani berterus terang menegur, tidak menuntut balas, dan tidak menaruh dendam. Menegur harus bijaksana supaya tidak menimbulkan masalah.

Jadi sekali lagi bahwa mengasihi diri sendiri tidak sama dengan mementingkan diri sendiri atau tidak mencintai diri sendiri secara berlebihan yang biasa disebut narsisme. Oleh karena itu, marilah kita melakukan kasih itu dengan sebaik-baiknya kepada Tuhan dan kepada sesama kita. Amin.
BHS

     

15 Oktober 2017
MENGHIDUPI KASIH DI TENGAH KELUARGA
1 Petr. 4: 8-10, Maz. 106:1-6; Kol. 3:18-21; Yoh. 13:34-35

Kasih bukan sekedar perasaan, Kasih adalah berbagi, berbagi hati, berbagi perhatian, berbagi waktu, berbagi milik. Bahkan Tuhan memberikan hati-Nya, ketika kita bersalah Dia memberi hati yang mengampuni. Ketika kita kesal, Tuhan memberi hati yang damai. Ketika hati kita cemas, Dia memberi hati yang teguh. Ketika kita kesepian, Dia memberi hati yang penuh kasih.

1 Petrus 4:10 (TB) Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. Di dunia tidak ada manusia yang sempurna, yang bisa berkata "Saya tidak membutuhkan orang lain". Kita diberi kemampuan oleh Tuhan untuk kepentingan orang lain bukan melulu untuk kepentingan kita sendiri. Tidak ada yang baik untuk segala hal. Anda membutuhkan saya dan saya membutuhkan anda. Tidak ada orang yang memiliki semua bakat. Kita diciptakan untuk bekerjasama. Begitu juga dengan sebuah keluarga, tidak ada keluarga yang sempurna. Diawali dari pernikahan yang menempatkan dua orang berdosa bersama, artinya tidak ada hubungan yang sempurna. Suatu pernikahan disatukan untuk saling melengkapi kekuatan masing-masing dan saling mengimbangi kelemahan masing-masing. Apa yang terjadi ketika kita tidak mengkompensasi kelemahan masing-masing. Jika saling mengkritik itu bukan suatu pernikahan.Tapi dalam pernikahan , anda tahu kelemahan pasangan anda, jadi anda bisa membantu mengimbanginya. Alkitab tidak berbicara siapa yang lebih menonjol dari yang lain. Semua anggota keluarga punya peranan penting. Tuhan menginginkan setiap anggota menggunakan kemampuan mereka untuk menolong anggota yang lain. Kita saling membutuhkan.

Apakah rumah anda menjadi tempat yang dibutuhkan anak-anak anda ? Apa yang dirasakan mereka ketika mereka pulang ke rumah ? Apakah anda orang tua yang tidak bisa tidur ketika anak anda pulang dengan nilai hasil ulangan jelek ? Atau anda senang ketika anak anda mendapatkan nilai B atau A. Apakah anda orangtua yang hanya senang anak-anak anda menuruti kemauan anda ? Atau anda orang tua yang menentukan standar untuk anak-anak anda ?

Kolose 3:21 (TB) Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.
Orang tua yang tidak disukai menghasilkan anak-anak yang tidak aman. Anak-anak yang tidak aman, selalu menarik perhatian dengan tindakan yang pura-pura atau memberontak. Dengan sengaja melakukan hal-hal yang tidak disenangi orang tua. Semua anak membutuhkan seseorang yang berpihak kepada mereka, seseorang yang selalu memberi dukungan bagi mereka dan orang yang mempercayai mereka untuk dapat melakukan yang terbaik. Ketika orangtua tidak dapat berperan seperti itu, mereka akan mencarinya di luar rumah. "Anak-anak membutuhkan kepercayaan diri bahwa hanya orang tua yang bisa memberi". Bagaimana anda secara teratur membangun anak anda ? Dengan kata-kata ? Dengan tindakan ?. Alkitab dengan jelas mengatakan tentang hal ini. Tawar hati berarti sudah tidak respek terhadap orang tua, yang melahirkan sikap acuh tak acuh, memberontak atau berupa tindakan kriminal, ketergantungan pada narkoba.

1 Korintus 13:7 (TB) Ia (Kasih) menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Hanya kasih Tuhan yang dapat memulihkan segala sesuatu.

 

8 Oktober 2017
KELUARGA sebagai GARAM dan TERANG DUNIA”
Yes. 5 : 1-7; Maz. 80 : 7-15; Fil.1 : 12-20; Mat. 5 : 13-16

Keluarga adalah lembaga sosial pertama yang Tuhan ciptakan bagi manusia. Sekalipun merupakan lembaga terkecil dalam masyarakat, tetapi keluarga punya peran yang sangat besar dan penting dalam kehidupan yang lebih luas.
Sebuah Filsafat Cina mengatakan :
Apabila ada harmoni di dalam rumah, maka akan ada ketenangan di dalam masyarakat.
Apabila ada ketenangan di dalam masyarakat, maka ada ketentraman di dalam Negara.
Apabila ada ketentraman di dalam Negara, maka akan ada kedamaian di dalam dunia.

Keluarga Kristen dipanggil berdampak positif dan menjadi berkat bagi dunia!

Tuhan Yesus memberi wejangan bagi para pengikutnya melalui kotbah di bukit, bagaimana mereka harus hidup di dunia. Setiap orang percaya dipanggil berperan sebagai Garam dan Terang, dimulai dari lingkungan yang paling kecil, yaitu di dalam keluarga, bagi masyarakat disekitarnya, dan yang lebih luas lagi bagi dunia. Fungsi garam adalah memberi rasa sedap pada makanan dan mengawetkan agar tidak cepat busuk. Kita dipanggil untuk larut seperti garam dalam lingkungan sekitar kita dan membangun orang lain. Lilin dengan sinarnya yang kecil baru kelihatan terangnya di tengah kegelapan. Demikian juga keluarga Kristen dipanggil berperan aktif dalam menyatakan kasih Allah. Kasih yang dikehendaki Allah dari umat-Nya adalah kasih yang nyata dan terbuka menjangkau sesama, bahkan juga musuh mereka. Kasih seperti itulah yang telah Allah kerjakan dalam diri Yesus Kristus dan harus dikerjakan oleh umat-Nya di dunia ini. Memberi ‘rasa sedap’ kepada lingkungan disekitarnya dan ‘terang’ di dalam kegelapan persoalan hidup yang dihadapi orang-orang yang diperjumpakan Tuhan dengan kita.

Panggilan menjadi berkat bagi banyak bangsa pada awalnya diberikan kepada bangsa Israel. Tetapi pada kenyataannya Tuhan mengecam bangsa Israel, umat pilihan-Nya, yang diumpamakan dengan kebun anggur (Yesaya 5 : 1-7). Mereka dikasihi dan dirawat begitu rupa, diharapkan supaya menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkan adalah buah anggur yang asam. Dinantikan-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinantikan-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran. Bangsa Israel tidak menjadi berkat bagi banyak bangsa seperti yang diharapkan Tuhan.
Kita bisa belajar dari teladan Paulus, yang dalam segala hal (bahkan ketika ia di dalam penjara sekalipun) ia mau agar Kristus dimuliakan di dalam hidupnya, bahkan dalam kematiannya (Filipi 1 : 20). Tekadnya kalau ia harus hidup, itu berarti ia harus bekerja memberi buah. Bukan buah yang asam tapi buah-buah perbuatan baik yang membangun banyak orang.

Bagaimana dengan kehidupan keluarga kita? Menjadi Garam dan Terang yang tidak bersuara, namun diam-diam memberi pengaruh yang besar secara aktif dan positif di lingkungan kita. Misal melalui terlibat dalam kegiatan di RT/RW, di kantor, di pemerintahan, dan sebagainya. Kiranya Tuhan Yesus, Sang Terang Dunia itu memampukan kita memancarkan kasih-Nya, sehingga orang-orang di sekitar kita melihat dan merasakan kasih-Nya yang memberkati banyak orang, dan mereka memuliakan Bapa di Sorga. Amin.
ESS

     

1 Oktober 2017
PERTOBATAN MEMULIHKAN HIDUP, UNTUK TINGGAL DALAM KASIH
Yeh. 18:1-4, 25-32; Maz. 25:1-9; Fil. 2:1-13; Mat. 21:23-32

Ada kisah : pembicara tersohor hingga lupa keluarga. Alhasil keluarganya berantakan. Anak bungsunya nyaris bunuh diri. Saat bermaksud bunuh diri, ia menuliskan surat ini:
“Ayah, aku tadinya bangga padamu. Ayah adalah orang yang pandai dan cerdas. Semua pekerjaan, diselesaikan tepat waktu. Isi ceramah Ayah menginspirasi banyak orang, terutama yang terkait keluarga. Guru-guruku sering mendiskusikan isi seminarmu. Orang mengatakan beruntungnya aku sebagai putrimu. Dua bulan lalu, aku menyampaikan bahwa kekasihku akan melamarku hari ini. Ayah setuju dan mencatatnya di buku agenda Ayah. Hari itu adalah hari yang sangat membahagiakanku. Namun hingga keluarga kekasihku pulang setelah menunggu lama, Ayah tak muncul juga. Aku malu tiada terkira. Ayah… Biarlah rasa maluku ini kubawa sampai ke Surga!”

Mungkin banyak orang tua disadari atau tidak, sedang melakukan hal yang sama. Sibuk pada pekerjaan sehingga anak-anak menjadi korban. Mereka kehilangan kasih orang tuanya, dan berakibat anak-anak sulit belajar mencintai.

Hari ini kita merenungan Firman Tuhan (FT), yang mengajar kita : “Pertobatan memulihkan hidup, untuk tinggal dalam kasih”.
1. Injil Matius 21:23-32 - Banyak orang mendengar seruan bertobat (dari Yohanes Pembaptis), namun sedikit yang mendengarkan. FT : jauhkan diri dari sikap hati “bandel” = hanya kelihatannya patuh tetapi realitanya tidak. (Isi perumpamaanan Yesus : ) Diberi tahukan kebenaran - mengangguk tanda mengerti /setuju, tetapi tidak melakukan. Sebaliknya, Yesus menganalogikan : “Anak yang semula tidak patuh terhadap perintah ayahnya, justru akhirnya menyesal dan bersedia melakukannya.”
Kiranya banyak yang mendengarkan FT hari ini dan bertobat. Agar bukan hidup semu atau sakit yang dijalani. Agar hidup dipulihkan, dan dapat MENGHIDUPI KASIH. Berubahlah seperti pemungut cukai dan perempuan sundal yang tersentuh hatinya dan bertobat. Seperti seorang yang awalnya mengatakan tidak, tetapi kemudian menyesal dan melakukannya.

2. Kitab Yehezkiel 18:1-4,25-32 - Banyak orang hidup seperti pemimpin agama zaman Yesus atau seperti banyak diantara umat Israel zaman nabi Yehezkiel. Mereka sulit mengakui kesalahan. Merasa sudah hidup benar dengan ibadah yang benar, sehingga mengatakan : “Mengapa leluhur kami yang bersalah, tetapi anak-anaknya yang harus menanggungnya?” (Yeh 18:2). Melalui Yehezkiel, Tuhan menjawab bahwa apa yang diperbuat seseorang itulah yang harus dipertanggungjawabkan (namun yang berdosa sulit mengakuinya).

3. Surat Filipi 2:1-13 - Setiap orang perlu memiliki kenosis (mengosongkan diri – Filipi 2:7), agar dapat menghidupi kasih. Umat perlu meneladan kenosis dalam kasih dan perendahan diri Yesus (hamba dan mati di kayu salib) menyelamatkan manusia.
Pengosongan diri perlu supaya manusia bisa tinggal bersama sesama, menerima orang lain apa adanya. Sayangnya banyak orang terlena karena menikmati hidup “penuh kuasa / uang dll”. Akibatnya sulit menerima dan menghargai sesama. Demikian banyak orang tua, yang karena terlena dengan kuasa, merasa sudah tahu, sulit menerima kebenaran dari Tuhan. Di rumah : gagal menghidupi kasih di tengah keluarga. Anak-anak di tengah ortu yang demikian akan merasa tersisih, tidak ada tempat bagi mereka.

Inilah saatnya menjadikan hari dan bulan keluarga kita, penuh berkat. Mari kita mohon Tuhan memberi : “kenosis”, agar kita tidak lagi hidup “membandel”, kita bertobat, agar kita dipulihkan untuk hidup dalam anugerah Tuhan. Supaya kita menjadi keluarga-keluarga yang menghidupi kasih. Amin.
Pkm

 

24 September 2017
BERSYUKUR DAN BERBUAH DALAM KEMURAHAN ALLAH
Yunus 3:10 - 4:11; Maz. 145:1-8; Fil. 1:21-30; Mat. 20:1-16

Kehidupan ini adalah buah pekerjaan agung Allah (Maz. 145:5). Tidak henti-hentinya Ia merencanakan kebaikan dan bekerja untuk mewujudkannya. Salah satu karya Allah yang besar dan sungguh amat baik adalah menciptakan kita. Manusia adalah ciptaan-Nya yang amat Ia kasihi. Allah itu baik bagi semua orang dan penuh rahmat kepada segala yang dijadikan-Nya (Maz. 145:8-9). Allah sangat mengasihi semua orang ciptaan-Nya (Yun. 4:11). Ia ingin mereka bertumbuh dengan kesadaran akan Allah serta apa yang baik. Oleh sebab itu sangat layak kita semua bersyukur. Allah ingin kita semua mengenal Dia, dan hidup dalam persekutuan dengan Allah. Manusia sering diibaratkan sebagai tanah yang kosong milik seorang tuan rumah, yaitu Allah sendiri (Mat. 20:1). Allah seperti seorang pengusaha kebun anggur, yang menanamkan benih Pokok Anggur, yakni Firman di dalam Kristus. Tanah kosong ini kemudian berubah menjadi kebun anggur yang subur. Kita diajak hidup berpadanan dengan Injil, yaitu hidup sebagai kebun anggur, dimana Kristus adalah pokok anggurnya.

Kita layak bersyukur, karena Allah menyalurkan kemurahan berkat kasih-Nya, mengubah hidup kita dari tanah kering, gersang, dan kosong, menjadi kebun anggur lebat, penuh carang-carang dari Kristus, berbuah berkat, yaitu buah-buah Roh, kasih dan damai sejahtera. Tetapi dunia juga menaburkan berbagai benih semak duri dan ilalang dalam kebun hidup kita itu. Tanpa disadari, benih dari dunia ini tumbuh merampas pertumbuhan kebun anggur. Hidup kita berubah menjadi hutan belukar penuh kepahitan, ditakuti dan dihindari orang. Ia Allah yang adil (Maz. 145:17) harus menghukum orang fasik (Maz. 145:20b). Ia harus menebang semak belukar, dan membakarnya agar kebun nya kembali lebat dengan buah anggur.

Tetapi kasih sayang-Nya melebihi keadilan. Ia lebih menyukai pertobatan. Ia memberkati kita semua dengan berbagai cara, termasuk peneguran oleh Yunus dan Paulus.

Ia adalah penopang bagi semua yang jatuh, dan penegak dari semua yang tertunduk (Maz. 145:14). Yunus dan Paulus membawa kabar keselamatan bagi mereka yang menerima Injil dan kebinasaan bagi mereka yang menolak (Fil. 1:28). Kita juga beryukur karena boleh dipakai Allah menjadi pekerja kebun anggur-Nya. Kita semua diajak untuk menjadi pekerja-pekerja Allah (Mat. 20:1). Seperti Yunus dan Paulus, kita juga menderita untuk pekerjaan Tuhan (Fil. 1:29). Tapi Allah mengajarkan Yunus dan Paulus, serta kita yang bekerja di ladang Tuhan, untuk mengutamakan rencana Allah. Yunus diajarkan untuk melepaskan diri dari emosi dan kriteria diri sendiri. Yunus diajak untuk melihat dari perspektif Allah. Sukacita kita bukanlah bahwa hal terjadi sesuai rencana kita, tetapi hal terjadi sesuai dengan rencana Allah. Kita juga bersyukur bahwa Allah berkenan mengubah rencana-Nya untuk menghukum orang berdosa bila ada pertobatan.

Dalam hidup ini, tidak jarang kita merasa iri dan diperlakukan tidak adil karena kita membandingkan upah dari Allah bagi orang lain (Mat. 20:11). Kita lupa bahwa kita tadinya menganggur sekarang mendapatkan kesempatan untuk bekerja. Selain mendapat upah yang layak, kita bisa mengambil bagian dalam membangun kebun anggur. Kita harus sadar, bahwa kemurahan Allah adalah untuk semua orang. Dan kita harus bersyukur Allah berkenan menggunakan hidup kita menjadi saluran kemurahan Allah. Itulah berkat terbesar.
AL

     

17 September 2017
MELEPAS MAAF
Kej. 50:15-21; Mzm. 103:1-13; Rm. 14:1-12; Mat. 18:21-35

Permintaan maaf ada yang disampaikan secara tulus, dan ada pula yang diucapkan hanya sekedar sebagai sopan santun. Kalimat-kalimat seperti ini sering kita dengar : “Maafkan saya, karena saya melakukan hal itu dengan tidak sengaja” atau “Maaf, saya telah merepotkan Anda”, atau “Maaf, apakah ada yang bisa saya bantu?”, dan sebagainya. Sebaliknya, ada juga orang yang tidak mau, dan tidak rela untuk meminta maaf, juga memberi maaf, karena masing-masing merasa dirinya yang benar, atau merasa gengsi untuk meminta maaf terlebih dahulu. Padahal kesalahan yang tidak diselesaikan, akan menimbulkan kesesakan, kepahitan, kebencian, bahkan dendam seumur hidup.

Kita dapat belajar dari tokoh Yusuf yang tidak menaruh dendam kepada saudara-saudaranya, yang telah berbuat jahat kepadanya. Mengapa Yusuf dengan mudah dapat melepas maaf bagi mereka? Yusuf percaya, bahwa kejahatan apapun yang direka-rekakan manusia, tidak akan membuat ia celaka, asalkan ia hidup setia kepada Tuhan. Tuhan akan memelihara hidupnya, bahkan akan membalikkan kejahatan itu menjadi hidup yang berlimpahkan kebaikan.

Baik hidup, ataupun mati, kita adalah milik Tuhan. Tidak perlu kita menghakimi, atau menghina orang lain, karena setiap orang akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah, sedangkan manusia bukanlah pengganti Allah. Dalam keadaan sulit sekalipun, kita tetap harus bersyukur, dan memuji Tuhan, karena segala kebaikan, pengampunan, penebusan hidup, yang kita terima daripada-Nya. Kita juga dapat berharap akan kasih setia, dan rahmat Tuhan, yang akan selalu menguatkan, dan memulihkan kita.

Allah adalah Penyayang, Pengasih, panjang sabar, tidak mendendam, tidak selalu menuntut, tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan dosa-dosa & kesalahan kita. Ketika kita merasa tidak sanggup untuk melupakan kesalahan orang lain, marilah kita pandang salib Kristus. IA telah menebus dosa kita dengan nyawa-Nya di atas kayu salib. Bagaimana mungkin kita tidak mengampuni saudara-saudara kita yang kesalahan-kesalahannya tidak sebanding dengan dosa-dosa kita sendiri?

Marilah kita wujudkan hidup yang penuh kelegaan, ketenangan, kedamaian, sukacita, kerukunan, dengan saling melepas maaf. Itulah yang dikehendaki Allah dalam kehidupan kita bersama. Tak lupa selalu kita sertakan dalam perkataan kita tiga kata-kata emas, yaitu : sorry (maaf), please (tolong), dan thanks (terima kasih). TUHAN MEMBERKATI KITA SEMUA. AMIN
Nancy Hendranata

 

10 September 2017
MENOLAK DIAM
Yeh. 33:7-11; Maz. 119:33-40; Roma 13:8-14; Mat. 18:15-20

Banyak orang memilih diam terhadap kejahatan, meski mungkin tidak menyetujuinya. Pilihan untuk diam mungkin terjadi karena takut dan tidak mau repot, apalagi mengambil resiko akan mempunyai musuh dan mendapatkan tekanan. Kita membutuhkan orang-orang yang peka terhadap dosa dan kejahatan. Bukan hanya menegur, tetapi juga memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan kejujuran, meski jalan itu tidak mudah dan beresiko. Dengan cara inilah kita dapat menyelamatkan bangsa kita. Ada pernyataan terkenal yang diucapkan oleh seorang tokoh di negeri ini: “Indonesia tidak kekurangan orang baik”. Persoalannya, banyak orang baik saja, ternyata tidak cukup. Kita juga harus menolak kejahatan termasuk menegur dan kalau perlu bertindak atas para pelaku kejahatan.

Injil Matius 18:15-20, menjadi dasar kita untuk menolak diam: “Karena Allah Bapa tidak menghendaki seorang dari anak-anak ini hilang” (14). Di dalam hidup umat Tuhan, juga demikian. Kita membutuhkan orang-orang yang bersedia repot. Bahkan menanggung resiko saat menegur saudaranya yang berdosa, untuk membimbingnya kembali dalam kebenaran. Pemahaman tentang anugerah Allah tidak boleh membuat kita menutup mata atau melakukan pembiaran terhadap orang yang melakukan kesalahan. Kita tidak dapat melepas tanggungjawab dengan mengatakan: “Itu ‘kan urusannya dengan Tuhan!” Atau, “Biar Tuhan yang menegur dia.” Jika Tuhan menghendaki kita melakukan tugas itu, masakan kita akan melempar tanggungjawab itu kembali kepada Tuhan? Tidak mudah melakukan tindakan peneguran, namun dengan kasih kita melakukannya juga.

Peneguran menjadi salah satu tugas nabi. Dalam Yehezkiel 33:7-11, teguran atau peringatan nabi bukanlah untuk menghukum, namun sebaliknya agar umat mengetahui bahwa Allah siap memberikan pengampunan. Jadi tugas peneguran harus dinyatakan dalam kasih anugerah Allah yang mengampuni, agar bertobat.

Peneguran juga menjadi tugas setiap orang percaya, Roma 13:8-14, memberi dorongan dan kesadaran bagi umat karena umat telah terlebih dahulu menerima Anugerah pengampunan Tuhan. Maka dalam ayat 8 Rasul Paulus menuliskan: “Jika kita tidak melakukan kasih, maka kita adalah orang yang berhutang.” Mari kita “lunasi hutang” kasih dari Tuhan yang begitu besar atas kita. Waktu kita terbatas (11), setiap orang diundang untuk meninggalkan dosa. Bersama Pemazmur, mari kita hidupkan hati yang condong pada Tuhan, lebih dari hal-hal dunia (Mazmur 119:36). Hati yang selalu berjuang dan mau repot, demi kebenaran dan kasih Allah berada dihati setiap sesama kita selagi masih ada waktu. Amin.
pkm

     

3 September 2017
MENYELAMI PEMIKIRAN ALLAH
Yer. 15:15-21; Maz. 26:1-8; Roma 12:9-21; Mat. 16:21-28

Menyelami pemikiran orang saja sulit, apalagi menyelami pemikiran Allah. Untuk bisa memahami pemikiran orang lain, kita perlu dekat dan mengenal orang tersebut dengan baik, sehingga apa yang diucapkan dan dilakukannya kita tahu maksudnya apa. Demikian juga ketika kita belajar untuk memahami dan menyelami pemikiran Allah, perlu kedekatan/keintiman dengan Allah. Bukan sebuah proses yang mudah tetapi bukan sebuah proses yang mustahil, jika Roh Allah yang menguasai hidup kita. Dalam bacaan minggu ini, mari kita belajar untuk memahami apa yang ada dalam benak dan pikiran Allah, apa yang Allah kehendaki bagi kita semua.

SELALU ADA PENGAMPUNAN
Melalui Yeremia, Allah menawarkan pengampunan kepada umat yang telah hidup meninggalkan Allah. Allah berjanji menyertai umat dan melindungi umat ketika umat menerima undangan pertobatan Allah yaitu hidup yang tidak bercela baik melalui perkataan dan perbuatan (lih. Yer. 15:19-21). Dalam benak dan pikiran Allah selalu ada pengampunan dan undangan pertobatan bagi umat. Allah yang disaksikan Yeremia adalah Allah Pengampun. Sedangkan umat adalah umat yang diampuni. Oleh karenanya hidupilah kehidupan yang berdasarkan iman tersebut yaitu hidup dalam dan saling mengampuni satu dengan yang lain.

SELALU ADA KASIH DAN KEBENARAN
Daud mengakui Allah sebagai Allah yang memiliki kasih setia dan kebenaran (lih. Maz 26:3). Tentu Allah bukan sekedar memiliki itu, tetapi Allah adalah kasih (lih. 1 Yoh 4:8) dan Allah adalah kebenaran itu sendiri (Yoh. 14:16,1; Yoh 15:26). Demikian juga pengenalan dan pengakuan iman Paulus tentang Allah di dalam Roma 12. Melalui Daud dan Paulus umat diingatkan bahwa mereka memiliki Allah yang mengasihi dan selalu menghendaki umat untuk hidup setia dalam kebenaran. Hidup menyelami pemikiran Allah merupakan hidup yang setia dalam mewujudnyatakan kasih dan kebenaran.

Bukan hanya di situasi yang baik, kasih dan kebenaran dinyatakan, tapi dalam situasi yang sulitpun, situasi yang mungkin merugikan dan membuat kita menderita, kasih dan kebenaran harus terus dinyatakan oleh umat. Berkati yang menganiaya, lakukan yang baik terhadap yang berbuat jahat dan serahkanlah pada Allah segala perkara, demikian nasehat Paulus kepada umat di tengah penderitaannya karena hidup dalam kasih dan kebenaran.

SEBUAH PROSES MENYANGKAL DIRI, MEMIKUL SALIB, DAN MENGIKUT TUHAN
Menyelami pemikiran Allah adalah sebuah proses iman yang harus dijalani oleh pengikut Kristus. Sebuah proses yang terus menerus dilakukan oleh orang Kristen untuk hidup dalam PENGAMPUNAN, KASIH DAN KEBENARAN yang Allah berikan melalui Anak-Nya Yesus Kristus. Di dalam Injil Matius, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya untuk menyangkal diri, memikul salib dan mengikut-Nya (lih. Mat 16:24). Menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Tuhan secara sederhana artinya memikirkan apa yang dipikirkan Allah dan menerima serta menjalani apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup kita. Marilah kita hidup dalam pengampunan, kasih dan kebenaran, sebagai sebuah perjalanan hidup yang menyelami pemikiran Allah. Selamat menjalani perziarahan iman dengan menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Tuhan. Kiranya Roh Hikmat memimpin dan menuntun kita semua. Tuhan memberkati.
dstheol

 

27 Agustus 2017
GKI BERKARYA DALAM KEBERAGAMAN
Yesaya 51:1-6; Mazmur 138: Roma 12:1-8 dan Matius 16:13-20

Berbicara tentang gereja kita yaitu Gereja Kristen Indonesia tidak bisa terlepas dari latar belakang berdirinya yaitu gereja berbasis Tionghoa. Yang tentunya memiliki unsur-unsur dari etnis Tionghoa. Akan tetapi berjalannya waktu GKI yang hidup di Indonesia kemudian bertumbuh dan berkarya di negeri ini. Salah satu wujud nyata jemaat yang di miliki GKI berasal dari multi etnis. Keragaman etnis menjadi warna dari GKI.

Menjadi sebuah pertanyaan besar mengapa itu bisa terjadi. Apakah karena sebuah “kebetulan” ataukah GKI punya “tujuan tertentu” dengan begitu berani membuka diri dengan keberagaman etnis . Bukankah sesuatu yang terlalu beragam akan rentan dengan konflik? Tidak usah berbicara etnis, kita antara GKI pun sangat beragam seperti dalam tata ibadah yang tidak jarang bisa menimbulkan kesalapahaman. Padahal GKI memiliki tugas utama yaitu melayani Tuhan di dalam dan melalui GKI. Mengapa dalam melaksanakan tugas tersebut GKI tidak mengambil sikap “merapikan” segala sesuatu agar secara pelaksanaan akan lebih mudah dan teratur. Malah GKI dengan berani mengambil resiko menerima banyak keberagaman tetapi tetap berpegang teguh terhadap identitas dan jatidiri GKI. Mungkinkah? Tidak takutkah GKI keberagaman itu bisa saja membuat GKI terlalu “kompleks” dan menjadi sebuah “ancaman”?

Untuk menjawab itu semua marilah kita mengamati percakapan antara Yesus dan Petrus. Ketika Yesus bersama para murid ke daerah Kaisarea Filipi, Yesus bertanya kepada para murid. Sebuah pertanyaan sederhana tetapi di jawab berbeda-beda oleh para murid. Jawaban-jawaban itu masih berkonteks dengan masa lalu, karena ada yang menyebut Yeremia, Elia atau Yohanes Pembaptis. Kemudian kembali Yesus mempertanyakan hal yang sama dan hal ini di tangkap oleh Petrus dan kemudian memberikan jawaban yang berbeda dimana Petrus melihat Yesus sebagai Mesias Anak Allah yanh Hidup. Petrus melihat Yesus sebagai harapan saat ini dan di masa depan. Yesus pun mendengar jawaban Petrus dan Ia mengatakan berbahagialah karena Petrus mampu melihat Yesus tidak sekedar sebagai tokoh tetapi mampu mengenalNya sebagai Juruselamat manusia. Melalui pengakuannya Petrus kemudian diberikan mandat. “kunci kerajaan sorga”.

Kunci berarti di sini diberikan ototritas untuk membuka dan menutup pintu. Dan ketika seseorang telah memegang kunci ia sadar bahwa ia tidak akan terjebak pada kamar yang tertutup dan stagnan.

Oleh karena itu GKI hendak mengambil sikap sebagai kunci dengan bersikap:
• Menyadari bahwa keberadaan GKI hingga saat ini bukanlah inisiatif manusia saja tetapi semua karena inisiatif Allah yang ingin mendirikan umatNya. Berawal dari satu komunitas etnis kemudian dalam berkat Tuhan kita menjadi jemaat yang besar dan multietnis. Yang bersama-sama memiliki satu pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat dunia, Anak Allah yang hidup, yang memberikan kehidupan kepada manusia juga seluruh ciptaanNya (Konfesi GKI).
• Sebagai gereja marilah kita menjalankan fungsi kita yang meneruskan ajaran Kristus dimana setiap orang yang berjumpa dengan kita akan bertemu dengan kelegaan,sukacita, persahabatan, dan bisa menghayati suasana sorga di tengah dunia ini. Bukan gereja yang terjebak dengan organisasi sehingga lupa fungsinya sebagai kunci malah menutup diri dan stagnan demi menjaga “zona nyamannya”.
• Kita mau menerima setiap keberagaman dan tidak memaksakan harus seragam dan tidak memiliki kekhawatiran berlebih sehingga keberagaman kita anggap sebagai “ancaman”. Mari kita lihat keberagaman itu sebagai karunia Tuhan karena kita Gereja Kristen Indonesia yang melayani Indonesia dengan segala keanekaragamannya tetapi tetap memegang teguh PENGAKUAN IMAN kita yang lahir dari Rahim GKI. Sebagai identitas sekaligus pembatas agar tidak tidak terlalu larut dalam kemajemukan itu.
Tuhan memberkati GKI dan Indonesia.
Joice

     

20 Agustus 2017
KASIH ALLAH UNTUK SEMUA
Yes. 56:1, 6-8 Maz. 67; Roma. 11:1-2, 29-32; Mat. 15:10-28

Kualitas kasih seseorang terlihat dari kasihnya kepada orang-orang yang dianggap lemah, tidak berdaya, tersisih, bahkan musuhnya. Jika seseorang hanya mampu mengasihi orang yang kaya, kuat, hebat, berkuasa, teman, sahabat, saudara, keluarga, kasihnya tersebut bukanlah kasih yang berkualitas, tetapi kasih yang wajar / biasa-biasa saja, karena orang yang tidak mengenal Allah pun bisa berbuat demikian. Sebaliknya, apabila seseorang mampu mengasihi orang yang tidak berdaya, tersisih, dianggap hina, diangggap najis / berdosa, bahkan mampu mengasihi musuh, maka kasihnya adalah kasih yang berkualitas. Inilah yang Yesus sebut sebagai anak-anak Allah jika menunjukkan kasih yang demikian. Kasih yang mununtut pengorbanan yang maksimal.

Yesus Kristus mengasihi semua orang, termasuk orang-orang yang dianggap najis secara agama. Ia mengasihi orang-orang yang dianggap hina, terbuang dari sosial masyarakat, orang-orang yang dianggap kafir (orang-orang Samaria), bahkan Yesus mengasihi mereka yang telah menyalibkan-Nya. Itulah sebabnya Ia berdoa untuk mereka: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Lukas 23:34. Inilah kualitas kasih yang Yesus berikan kepada kita supaya kita meneladani-Nya.

Pesan penting dari bacaan dia atas adalah: Pertama, Allah mengasihi semua orang tanpa memandang perbedaan latar belakangnya, baik suku, bangsa, bahasa, status sosial. Apapun latar belakangnya Allah mengasihi mereka. Semua orang berhak menerima dan mendapatkan kasih yang dari Allah. Kita bersyukur bahwa Allah mengasihi dan menerima kita apa adanya, tanpa melihat keberdosaan dan kejahatan kita. Jika kita mau sadar dan jujur, sebenarnya kita tidak layak menerima kasih Allah itu. Kedua, Bagi Allah yang penting adalah sikap hati, sikap iman. Mat. 15:28 seperti yang ditunjukkan perempuan Kanaan ini, karena imannya, ia beroleh kasih dan keselamatan. Ia membuka hatinya untuk Sang Mesias. Ketiga, Kita semestinya mewujudkan kualitas kasih seperti yang Yesus lakukan. Kasih yang tidak memandang dan membedakan latar belakang apapun. Kualitas pelayanan kita berikan kepada jemaat pun harusnya sama, tanpa membeda-bedakan. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk senantiasa menunjukkan kasih yang tulus, tidak membeda-bedakan, yaitu kasih yang dari Allah.

 

 

13 Agustus 2017
ALLAH HADIR UNTUKMU
1 Raj. 19 : 9-18; Maz. 85 : 8-13; Roma 10 : 5-15; Mat. 14 : 22-33

Berbagai persoalan yang semakin meningkat akhir-akhir ini; seperti kekerasan, bunuh diri, kecanduan narkoba, dan sebagainya; menunjukkan tingkat keputus-asaan seseorang/sekelompok orang semakin tinggi. Tegang dan bingung memikirkan betapa rumit masalahnya, tidak jarang membuat seseorang mengambil jalan pintas. Tetapi disadari atau tidak justru jalan yang diambil kadangkala membawa manusia kepada persoalan yang baru. Seorang pemakai narkoba mengatakan alasan mengapa ia mengkonsusmsi barang terlarang tersebut, adalah untuk menenangkan diri dari ketegangan akibat pergumulan hidup yang sedang dihadapi. Bukannya menjadi tenang dan masalahnya dapat diselesaikan, justru gara-gara itu dia menghadapi masalah baru yang lebih besar, yaitu ditangkap dan dipenjara, menjadi malu dan makin stress.

Injil Matius menyoroti ketakutan para murid di dalam perahu, bukan semata karena mengalami gelombang yang besar, tetapi nampak justru ketika melihat ada sosok yang tengah berjalan di atas air. Perahu di sini melambangkan gereja Tuhan, yang pada realitanya sering berada dalam goncangan angin sakal. Laut dalam tradisinya menjadi tempat kuasa-kuasa kejahatan berada. Oleh karena itu, Matius ingin menegaskan bahwa gereja tidak perlu takut pada gelombang yang sedang menghantamnya, tetapi yang perlu ditakuti adalah ketidaksadaran akan kehadiran Tuhan, seperti para murid yang tidak menyadari bahwa yang berjalan di atas air itu adalah Tuhan Yesus, bukan hantu !!! Selanjutnya Tuhan Yesus menegaskan identitasnya : “Tenanglah! Aku ini, jangan takut.” Teguran Yesus kepada Petrus menjadi penegasan buat kita, bahwa kehadiran-Nya tidaklah ditentukan oleh seberapa besar iman kita, tetapi semata-mata terjadi karena kasih Tuhan. Kasih Tuhan yang ditunjukkan melalui kehadiran-Nya senantiasa, diminta ataupun tidak. Sesungguhnya Iman hanya nyata ketika ada ketaatan, tidak pernah tanpa itu!

Tanpa disadari, kita cenderung mengimani bahwa kehadiran Tuhan hanya terjadi di dalam gedung gereja, atau melalui gejala-gejala alam yang dahsyat, seperti angin keras, petir, api yang menyala, melalui hal-hal atau kejadian yang spektakuler. Tetapi menariknya dalam kisah nabi Elia, Tuhan hadir menemuinya melalui apa yang tidak diperkirakan, yaitu melalui angin yang bertiup sepoi-sepoi.

Di dalam kekecewaan dan ketakutan Elia karena akan dibunuh Izebel, Tuhan hadir dengan cara-Nya sendiri. Kehadiran Tuhan tidak bisa dibatasi oleh manusia yang sangat terbatas. Yang pasti Tuhan senantiasa hadir, baik disadari ataupun tidak, karena sesuai dengan hakikat-Nya adalah Allah Yang Mahahadir (ego eimi, artinya “Aku ini”). Keyakinan akan Tuhan yang hadir memberikan kesadaran bahwa kita tidak sendirian dalam berbagai macam keputusa-asaan, ada Tuhan yang Mahakuasa dan selalu siap menolong. Oleh karena itu, di tengah penderitaan dan pergumulan kita, yakinlah penyertaan Tuhan senantiasa tersedia dan tidak pernah berakhir. Sudahkah anda menyadari, bahwa ALLAH SENANTIASA HADIR UNTUKMU? Selamat menikmati kehadiran Allah senantiasa dalam hidup kita, Tuhan Yesus memberkati.
(ESS)

     

6 Agustus 2017
BELARASA DENGAN UCAPAN SYUKUR
Yes. 55:1-5, Maz. 145: 8-9, 14-21, Rom. 9:1-5, Mat. 14:13-21

Belarasa adalah tindakan empati kasih yang bersedia memberikan diri dengan segenap hati. Ucapan syukur adalah respon umat yang membalas kasih Allah dengan sukacita. Jadi belarasa dengan ucapan syukur adalah kegiatan timbal balik antara Allah dengan umatNya. Belarasa yang dipadukan dengan ucapan syukur seharusnya menjadi pola spiritualitas umat dalam menyikapi situasi krisis yang sedang mereka hadapi.

Pada saat kita melawat saudara atau keluarga yang sedang mengalami kedukaan, biasa kita terbatas pada ucapan turut berduka cita dan simpati. Bila kita berani mengucapkan empati dan belarasa, maka itu maknanya lebih dalam dari rasa duka dan biasanya disertai tindakan yang lebih berarti dari sekedar memberi sumbangan untuk meringankan bagi keluarga yang berduka. Sebagai tradisi orang Tionghoa, mereka berbelarasa dengan menyediakan peti mati bagi keluarga, saudara jauhnya atau saudara seimannya.

Tuhan Yesus dalam kedukaan yang mendalam atas kematian Yohanes Pembaptis menghadapi situasi banyaknya pengikut yang belum makan sampai sore hari, maka timbullah belas kasihanNya. Dalam kondisi empati maka terjadilah tindakan belarasa. Tindakan spiritual yang luhur itu disambut dengan pengucapan syukur umat, sehingga terjadi daya kreatif Ilahi atau mujizat, lima roti dan dua ikan menjadi banyak dan mengenyangkan ribuan orang bahkan berlebih sebagai berkat masa mendatang atau kelimpahan rahmat Allah.

Peristiwa itu bukanlah hanya cerita di sekolah minggu melainkan terjadi di antara umat yang bersyukur dan bertindak menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Bersediakah Anda dan saya mengambil bagian dalam karya rahmat dan keselamatan Allah? Semoga dan Amin.

PERTANYAAN:
1. APA PESAN/FIRMAN TUHAN HARI INI UNTUK SAUDARA?
2. APA KOMITMEN SAUDARA DALAM MENANGGAPINYA?

CATATAN:
_________________________________________
_________________________________________
_________________________________________


(BHS)

 

30 Juli 2017
POLA HIDUP KERAJAAN ALLAH
1 Raj. 3:5-12; Maz. 119:129-136; Roma 8:26-39; Mat. 13:31-33, 44-52

Minggu ini kita diajak untuk terus belajar menghayati karya Tuhan dalam dunia dan merenungkan jati diri sebagai komunitas jemaat yang tangguh dan berbuah nyata. Ada 3 perumpamaan Kerajaan Allah:

1. Kerajaan Allah berpengaruh positif.
Biji sesawi dan ragi menjadi perumpamaan bagi makna ini. Biji sesawi itu kecil, tetapi ketika telah ditanam, bisa menjadi pohon yang menjadi tempat bersarang bagi burung-burung. Ragi juga selalu hanya digunakan dalam jumlah kecil. Namun ragi itu akan membuat adonan roti mengembang dan menghasilkan roti yang empuk, enak dimakan. Dengan perumpamaan ini berarti Kerajaan Allah tidak mewujud melalui hal yang besar atau spektakuler saja. Kerajaan Allah juga mewujud melalui hal kecil yang berpengaruh positif. Dalam kehidupan nyata, Kerajaan Allah itu mewujud melalui keberadaan orang percaya. Orang percaya perlu selalu ingat bahwa segala tindakannya akan berpengaruh dalam kehidupan bersama. Kalau mereka ingin turut mewujudkan Kerajaan Allah, maka harus bertindak yang berpengaruh positif. Pengaruh positif itu akan membawa kebahagiaan bagi orang lain, sama seperti burung-burung yang bahagia bisa bersarang di sesawi dan orang-orang yang berbahagia karena makan roti yang empuk.

2. Kerajaan Allah itu tersembunyi, tetapi sangat berharga Makna ini digambarkan dengan harta terpendam dan mutiara yang sangat berharga. Ketika menemukan harta terpendam, orang akan menjual segala miliknya dan membeli ladang tempat terpendamnya harta itu. Ketika menemukan mutiara yang sangat berharga, orang menjual segala miliknya lalu membeli mutiara itu. Kerajaan Allah bisa sangat tersembunyi seperti harta terpendam, harus digali dari dalam tanah. Kerajaan Allah juga bisa sangat tersembunyi seperti mutiara yang tersimpan di dasar laut atau di lemari seorang kolektor. Namun sekalipun tersembunyi, Kerajaan Allah itu sangat berharga.
Dalam kehidupan nyata, Kerajaan Allah bisa jadi tidak tampak. Yang lebih tampak adalah kerajaan dunia yang memiliki teritori dan hukum-hukumnya. Bisa jadi yang mudah dilihat adalah dunia yang penuh dengan kejahatan. Kerajaan Allahtidak tampak. Jauh dan tak terjangkau. Namun sebenarnya Kerajaan Allahitu ada, terpendam di antara orang-orang percaya. Kerajaan Allah itu sangat berharga karena walaupun tak tampak, nilainya melebihi segala yang tampak. Satu kebaikan yang tak terpublikasikan, tentu jauh lebih berharga daripada banyak kejahatan yang membuat seseorang terkenal di seluruh dunia.

3. Kerajaan Allah itu penyaring antara yang benar dan salah Pukat digunakan untuk menggambarkan makna yang terakhir. Seperti pukat yang menangkap segala jenis ikan lalu memilah-milah antara yang baik dan tidak baik, demikian pula Kerajaan Allah. Tuhan akan membiarkan orang baik dan orang tidak baik hidup bersama. Namun akan ada waktunya diadakan pemisahan antara yang baik dan tidak baik. Pada saat itulah Kerajaan Allah terwujud sempurna pada akhir zaman. Marilah kita perkuat persekutuan kita dengan membenahi sikap ditengah berbagai peristiwa hidup, membangun realitas hidup Kerajaan Allah dan menjadi berkat bagi masyarakat. Tetap tangguh dan berbuah nyata. Tuhan memberkati. Amin.
PD

     

23 Juli 2017
ALLAH SANG PENYABAR
Yes. 44:6-8; Maz. 86:11-17; Roma 8:12-25; Mat. 13:24-30, 36-43

Di tengah penderitaan Israel, Allah berfirman melalui Yesaya, bahwa Allah hadir dan menolong mereka. Ia hadir sebagai Penebus (Yes 44:6) dan Gunung Batu (Yes 44:8) mereka. Firman-Nya menguatkan dan memberi harapan bagi mereka. Sehingga mereka tidak lagi gentar dan tidak takut dalam menghadapi apapun. Di dalam kondisi seperti ini, Allah juga memanggil mereka untuk menjadi saksi-saksi Allah (Yes 44:8 ..Kamulah saksi-saksiku!) yang hadir dan menolong umat. Bacaan pertama minggu ini merupakan panggilan umat untuk menjadi saksi tentang pribadi Allah yang mengasihi umat-Nya. Allah yang dengan sabar memelihara umat-Nya, meskipun kenyataannya umat sering mengecewakan Allah.

Bahkan dengan jelas dan tegas pemazmur menyatakan: 1) Allah itu penyayang dan panjang sabar (Maz 86:15). Pemazmur bersyukur dan memuliakan Allah yang telah melakukan perbuatan yang besar dan hebat di dalam hidupnya (12). Allah telah menolongnya dari kematian, semua karena kasih-Nya (13). Di sisi lain pemazmur memperlihatkan bahwa 2) manusia cenderung sombong dan sering melakukan yang salah. Keangkuhan dan kesombongan membuat manusia mudah melakukan kesalahan dan mengabaikan Allah (14). Dengan keangkuhannya, manusia merasa paling benar dan layak untuk mempersalahkan dan menghukum yang lain, padahal ada Allah. Dengan kesombongannya, manusia merasa paling suci dan pantas merendahkan dan menghina yang lain, padahal ada Allah. Pemazmur mengingatkan dan menasehatkan manusia untuk merendahkan diri, berharap, dan bertobat kepada Allah (16-17). Sebab Ia adalah Allah Sang Penyayang dan Allah Sang Penyabar.

Sabar dan nantikanlah dengan tekun janji yang Tuhan berikan. Demikian nasehat Rasul Paulus untuk jemaat-jemaat di Roma. Di tengah dunia ini penderitaan bukan hanya dirasakan oleh mereka, namun oleh seluruh makhluk (Roma 12:22-23).

Penderitaan itu digambarkan seperti sakit bersalin. Dengan segala hormat, tentu gambaran tentang penderitaan ini hanya bagi seorang ibu hamil dan melahirkan bayi yang bisa mengalami dan merasakan. Saya hanya bisa memperkirakannya, bahwa setelah proses melahirkan, sakit yang dirasakannya itu hilang sudah dan berganti sukacita, ketika mendengar tangisan sang buah hati, tanda hadirnya kehidupan yang baru. Penderitaan itu diganti dengan sukacita melalui hadirnya kehidupan yang baru. Melalui gambaran ini, Rasul Paulus menasehatkan umat untuk bersabar dalam penderitaannya dan tekun dalam menanti janji Tuhan digenapi.

Dalam kesabaran dan ketekunan itu, umat dipanggil untuk menjadi saksi dan menjadi teladan bagi seluruh makhluk dalam menghadapi penderitaan (19). Sebagai umat yang telah ditebus (17-18), inilah panggilan hidup barunya yaitu menjadi saksi dan teladan kesabaran dan ketekunan di tengah penderitaan. Kerajaan Sorga seumpama seorang yang menaburkan benih baik dan yang dengan sabar menanti hasilnya, meski benih itu ada diantara benih lalang (Mat. 13:24-31). Perumpamaan ini memperlihatkan: 1)kasih dan kesabaran dari sang penabur. Ia tidak memberi ijin pekerjanya mencabut lalang itu, karena sayang kepada gandum itu (29). Dan dengan sabar membiarkan keduanya bertumbuh sampai musim tuai (30). Siapa sang penabur itu? Dijelaskan dalam ayat 37 yaitu Anak Manusia. Dengan demikian, melalui perumpamaan ini dan melalui Anak Manusia, kita bisa mengenal Allah yang adalah Kasih dan Allah Sang Penyabar. Dan 2) bagi benih yang baik yaitu anak-anak Kerajaan, mari kita tetap tunjukkan dan buktikan bahwa kita hidup dengan menghasilkan kebaikan di tengah godaan-godaan si jahat yang bisa merusak sikap dan perilaku baik kita. Sehingga pada akhirnya kita dinyatakan oleh Tuhan sebagai orang benar di tengah dunia ini (43). Jika kita mengaku bahwa Bapa kita adalah Allah Sang Penyabar, maka kita yang adalah anak-anak-Nya harus mencerminkan pribadi Sang Bapa. Kiranya Roh Allah memampukan kita sampai pada waktu-Nya. Amin.
(dstheol)

 

16 Juli 2017
BERBUAH BERLIPAT GANDA
Yesaya 55:10-13 ; Mazmur 65:1-13; Roma 8:1-11: Matius 13:1-9; 18-23

Bacaan Yesaya 55:10-13, menyatakan bahwa Firman Tuhan turun ke bumi seperti hujan yang turun ke bumi dan tidak akan kembali ke langit, tetapi mengairi bumi. Suatu pernyataan bahwa Firman Tuhan yang keluar dari mulut-Nya tidak akan kembali dengan sia-sia. Itulah kehendak-Nya. Mazmur 65, merupakan pujian sebagai umat pilihan yang menerima kelimpahan dan kebaikan Tuhan. Begitu juga Roma 8 :1-11, umat pilihan-Nya dikaruniai Roh Kudus yang menghidupkan Firman-Nya dalam kehidupan umat-Nya.
Kita yang menerima Firman Allah adalah umat pilihan-Nya, kita juga menerima Roh Kudus untuk menghidupi Firman-Nya, kita seharusnya disebut orang-orang yang berbahagia.

Bacaan Matius 13:1-9; 18-23. Perumpamaan tentang penabur, penabur adalah orang yang menyampaikan Firman Tuhan, dalam bacaan ini adalah Yesus sendiri. Ada 4 sikap hati manusia sebagai lahan yang ditaburi benih Firman Tuhan, keempat sikap itu adalah :
1. Mereka tidak percaya bahwa Yesus sebagai Tuhan, oleh karena benih itu dimakan burung. Burung itu adalah iblis yang menggoda manusia melalui pikiran dan logika (ilmu pengetahuan), materi, hal-hal nyata yang berlawanan dengan iman, supaya tidak percaya kepada Yesus dan supaya mereka tidak diselamatkan.
2. Kegembiraan yang tidak disertai dengan komitmen. Tipe orang yang mencari berkat saja, memang tidak salah karena Tuhan selalu memberkati, tetapi orang ini tidak membangun relasi dengan Tuhan sebagai sumber berkat itu. Mereka hanya mau mencari manfaat, namun tidak mau membayar harga untuk membangun relasi. Yaitu ber-saat teduh yang disiplin dan melakukan Firman-Nya.
3. Semak duri adalah kekuatiran, kekayaan dan kenikmatan hidup (keinginan). Kekuatiran membuat orang mendua hati, Mata hatinya tidak fokus kepada Tuhan, tetapi lebih pada masalah, sehingga mereka tidak mendapatkan apa-apa. Mengejar kekayaan yang menjadi tujuan sehingga tidak mencari Tuhan yang adalah sumber segala sesuatu. Keinginan-keinginan akan kenikmatan hidup akan menumpulkan pertumbuhan rohani. Keinginan-keinginan hati tidak membangun atmosfir rohani karena berpusat pada hal-hal yang duniawi. “Cinta uang menyimpang dari iman dan menghasilkan berbagai-bagai duka” 1Timotius 6:10
4. Tanah yang subur memang dipilih, tetapi harus diolah, dikerjakan, dicangkul untuk digemburkan, diberi pupuk supaya tanaman yang ditanam menghasilkan buah yang baik. Saya punya teman yang punya kebun durian di atas lahan yang subur . Bibit yang ditanam bibit durian Mousang yang baik, setelah 6 tahun berbuah, tetapi rasanya hambar. Tanah yang subur tetap harus dikelola, diberi pupuk, batang pohon dilukai, harus dibersihkan dari hama. Di tahun yang ke sepuluh baru berbuah dengan kwalitas yang unggul. Kita adalah orang-orang pilihan Tuhan, seperti lahan yang subur. Orang yang mendengar Firman menerima dengan hati percaya penuh. Merespon Firman Tuhan yang didengar tidak hanya dengan pengertian logika saja, melainkan melahirkan komitmen, komitmen melahirkan ketekunan untuk terus melekat pada pokok anggur, yaitu Yesus Kristus. Maka akan menghasilkan buah 100 kali lipat, 60 kali lipat, 30 kali lipat.

Adanya sikap-sikap yang berbeda dari orang percaya karena sikap hati yang berbeda dalam menyambut Firman Tuhan. Menurut anda, dari 4 macam lahan benih ini, lahan manakah yang menggambarkan keadaan hati anda ?
(tonny iskandar)

 

     

9 Juli 2017
TERBUKA PADA CARA KERJA ALLAH
Zak. 9:9-12; Maz. 145:8-14; Roma 7:15-25; Mat. 11:16-19, 25-30

Manusia cenderung menghindar dan melarikan diri dari tanggungjawab. Sikap semacam ini bahkan sering muncul dalam kalimat-kalimat yang seolah-olah dilandasi oleh iman kepada Tuhan, seperti: “Saya pakai cara Tuhan”; Namun sesungguhnya muncul dari ketakutan terhadap situasi yang harus dihadapi. Contoh : Seseorang didiagnosa menderita penyakit yang serius dan dianjurkan untuk melakukan operasi, namun ia takut dan tidak bersedia menjalani pembedahan, lalu berkata, “Tidak. Saya tidak perlu menjalani operasi. Saya pakai cara Tuhan saja!” Sikap seperti inilah yang lebih sering kita jumpai pada orang-orang Kristen masa kini yang hanya berharap mukjizat dari Tuhan, namun tidak terbuka terhadap cara yang Tuhan sediakan baginya.

Pada Matius 11:16-19, kita mendapati sikap dari orang yang sok benar, yang sama dengan anak-anak yang duduk dipasar yang tidak memberikan respon terhadap ajakan dalam bentuk apapun. Karena orang tersebut merasa bijak (25), maka mereka justru menolak hikmat Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus. Cara kerja Allah di dalam diri Yesus mereka tolak. Cara kerja Allah dalam Zakharia 9:9-12, digambarkan “dalam kesederhanaan”. Yakni raja pemenang namun menunggang keledai beban yang masih muda. Bukan menunjukkan kekuatan, namun dengan lemah lembut.

Terbuka pada cara kerja Allah, adalah menerima cara kerja Allah dengan kerendahan hati dan dengan kelemahlembutan. Banyak orang memilih cara nya sendiri, menolak cara Allah. Cara manusia terbatas dan cara Allah demi kekekalan. Melalui firman Tuhan hari ini, kita belajar bagaimana menerima cara kerja Allah, pertama dengan bergantung pada anugerah Allah, sebagai “orang kecil”. Karena dengan menjadi orang kecil (rendah hati), maka Allah diagungkan. Makin kita merendah makin kita meninggikan Tuhan dan menerima segala cara kerja Allah. Yang kedua saat cara kerja Allah berakibat : kita mengalami tantangan dan beban berat (pikul salib dan menyangkal diri) adalah dengan yakin bahwa kita tidak sendiri. Kita bersama dengan Yesus. Yesus mau bersama kita, menemani dan meneladankan cara mengangkat beban hidup kita. Sehingga kita beroleh kelegaan. Kita dapat keluar sebagai pemenang di tengah perjuangan kita.

Bukan hal mudah, kita sadar akan keterbatasan kita. Makin kita “lemah, makin kuat dalam Tuhan”. Pengakuan dan percaya kita pada Yesus inilah kunci kemenangan Paulus melawan dosa. Dan melalui jalan tersebut, Paulus melihat anugerah Allah yang bekerja melalui Yesus (25). Haleluya. Amin.
PKM

 

 

2 Juli 2017
KERAMAHAN KEPADA ORANG KECIL
Yer. 28:5-9, Maz. 89:1-4, 15-18, Roma 6:12-23, Mat. 10;40-42

Apa yang ada dalam pikiran kita begitu mendengar kata keramahan? Senyum yang tulus? Sapaan yang meneduhkan? Sikap bersahabat bahkan kepada orang asing. Keramahan identik dengan sikap bersahabat kepada siapa saja dan akan sungguh menyenangkan bagi kita menerimanya apalagi jika kita baru bertemu dengan orang tersebut sudah di sambut sedemikian. Masih lekat di benak kita, kalau bangsa ini terkenal dengan keramahannya. Bersikap terbuka kepada orang asing dan rela membantu jika di minta.
Tetapi sungguh sayang, itu semua adalah kenangan atau cerita lama yang hanya bisa kita kenang. Jangankan kepada orang asing, kepada sesama rakyat bangsa ini kita sudah saling tidak ramah. Ada orang asing mendekat, kita sudah cemas kalau orang itu berniat jahat. Ada yang mengetuk pintu dan meminta pertolongan, pasti kita akan curiga kalau orang itu berniat jahat misalnya merampok rumah kita. Keramahan dari penjual atau sales pun kita anggap palsu hanya untuk mencari keuntungan. Tidak salah karena marak di televisi atau media online bagaimana kejahatan sudah merajalela sehingga sangat wajar kita waspada.
Lantas muncul sebuah pertanyaan sederhana, masihkah keramahan itu diperlukan? Atau perlukah kita umat-Nya bersikap ramah?

Mari kita memaknai arti keramahan menurut firman-Nya. Keramahan yang Ia ajarkan bukan sekedar kata-kata, sikap sopan atau berbasa basi. Keramahan yang Yesus ajarkan adalah menerima dan menolong mereka yang seringkali hanya di anggap orang kecil. Siapakah mereka orang kecil itu? Kita jangan terburu-buru menarik kesimpulan seperti pengemis, tuna wisma, pengamen dan lainnya. Benar mereka terlihat kurang mampu tetapi banyak juga kita mendengar bahwa sebenarnya mereka cukup berada walaupun tidak semua.

Matius 10:40-42 mengambarkan dengan detail bahwa orang kecil itu adalah para murid Yesus. Mereka mendapat tugas untuk memberitakan kabar sukacita kepada semua orang. Tetapi tugas itu sangat sulit karena tidak mudah meminta orang-orang mendengarkan apalagi di situasi dimana para murid di kejar untuk ditangkap dan dipenjarakan. Para murid pun bukan orang yang terpandang karena mereka berasal dari rakyat jelata yang sederhana (Matius 18:10). Jikalau pun ada yang menerima mereka, maka orang tersebut akan di aniaya seperti mereka. Pertanyaannya, adakah yang tetap menerima para murid? Jawabannya ada. Mereka yang menerima para murid memperlihatkan kepada kita apa itu arti keramahan yang sebenarnya.
Menyambut para murid yang sedang di kejar-kejar. Memberikan mereka tumpangan. Mendengarkan mereka dalam memberitakan firman Tuhan. Siap melindungi walaupun mereka pun terancam. Melalui keramahan mereka yang menerima para murid, injil terus diberitakan hingga saat ini dan sampai kepada kita juga. Oleh karena itu marilah kita tetap ramah kepada mereka orang kecil yang ada disekitar kita. Tentunya jika kita peka dan cermat kita pasti akan menyadari siapa saja mereka yang membutuhkan keramahan kita. Memberikan pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Mereka yang membutuhkan biaya pendidikan agar tidak putus sekolah. Memberikan persahabatan bagi mereka yang kesepian. Menunjukkan kepedulian bagi mereka yang tertimpa musibah, dan lainnya. Sambil kita terus mengingat kata-kata Yesus di Matius 10:40-42, bahwa siapa yang menyambut para murid berarti mereka juga menyambut Yesus. Jikalau para murid diidentikan sebagai orang kecil, sudahkan kita menyambut dengan penuh keramahan orang kecil seperti kita menyambut Tuhan kita Yesus Kristus? Amin
PD

     

25 Juni 2017
PENGHARAPAN DI TENGAH RATAPAN
Yer. 20:7-13; Maz. 69:7-18; Roma 6:1-11; Mat. 10:24-39

Ayat pada minggu ini merupakan kelanjutan dari pengutusan ke-dua belas murid Tuhan Yesus yang berlanjut dengan nasehat dan pesan-pesan pengutusanNya (Mat. 10). Untuk memahami ucapan-ucapan Tuhan Yesus memang kita harus berhati-hati memahaminya, karena jika tidak kita akan jatuh pada pemahaman yang salah akan maksud Tuhan Yesus. Panggilan ini bukan hanya kepada ke-dua belas murid Yesus, tetapi kepada kita juga orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Tuhan memanggil kita untuk memberitakan kabar sukacita dari Tuhan sebagai mana kita adalah tubuh Kristus. Dalam kehidupan kita sebagai orang kristen tidak jarang kita akan menghadapi tantangan mulai dari hal-hal diskriminasi sampai kepada perlakuan kasar dari orang-orang yang tidak menginginkan keberadaan kita. Namun demikian ada hal yang harus kita ingat bahwa Tuhan Yesus tidak pernah mengajarkan untuk membenci mereka, namun kita juga jangan jadi takut, sehingga kita tidak terjerumus dalam sikap fanatik yang picik dengan mengabaikan amanat agung Tuhan Yesus yaitu kasih dan pengampunan.

Nabi Yeremia dan Tuhan Yesus memberikan kita teladan untuk tetap setia kepada Allah. Tidak mudah mengkompromikan iman saat mengalami kesukaran dan penderitaan, tetapi selalu mengarahkan hidup pada pimpinan Roh Kudus. Tuhan Yesus berjanji: “... dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Setia tidak bergantung pada situasi dan kondisi, melainkan pada hidup pribadi yang terarah pada Sang Kristus.

Di pegunungan tinggi di barat daya Amerika Serikat tumbuh spesies pohon Pinus Longaeva yang memiliki masa hidupnya panjang. Bahkan diyakini sebagai salah satu organisme hidup tertua di dunia, dengan rentang waktu lebih dari 5.000 tahun. Pinus Longaeva tumbuh di ketinggian 5.000-10.000 kaki. Pada ketinggian ini, angin bertiup setiap saat, dan suhu udara dapat jatuh di bawah nol derajat Celcius. Kondisi ekstrim ini justru membuat pohon ini memiliki kayu yang sangat padat dan berdamar, sehingga tahan terhadap invasi serangga, jamur dan lainnya. Jika tumbuhan lainnya membusuk karena terserang hama, maka pohon ini tetap tegak bertahan. Kondisi ekstrim membuat Pinus Longaeva tumbuh menjadi pohon yang tangguh. Akarnya menancap ke dalam tanah dengan sangat kuat. Ia tetap bertahan di tengah segala macam tantangan. Kalau pohon saja bisa tumbuh seperti itu, masakan kita manusia, yang diberikan akal dan budi, mudah menyerah terhadap situasi dan kondisi!

Kalau pohon saja bisa bertahan terhadap segala macam kondisi ekstrim, masakan kita manusia, yang diberikan hikmat dan kecerdasan, mudah berlaku tidak setia?! AMIN.
PD

 

18 Juni 2017
BERSEDIA DIPILIH DAN DIUTUS
Kel. 19:2-8; Maz. 100, Roma 5:1-8; Mat. 9:35 - 10:8

Tuhan Allah memanggil dan memilih Abraham keluar dari sanak keluarganya dan dari bangsanya menuju ke tanah Kanaan; melalui keturunannya lahirlah bangsa yang besar, yaitu bangsa Israel. Tujuan Allah memanggil dan memilih bangsa Israel adalah supaya mereka menjadi bangsa yang kudus, bangsa yang memuliakan Tuhan; tujuan berikutnya adalah supaya bangsa Israel menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Artinya bangsa Israel memiliki tugas untuk membawa bangsa-bangsa lain memuliakan Tuhan.

Panggilan yang sama juga dilakukan oleh Tuhan Yesus kepada murid-muridNya. Tuhan Yesus memilih dan memanggil para murid dari latarbelakang, karekater dan status sosial yang berbeda-beda untuk menjadi penjala manusia. Sebagian besar latarbelakang para murid dulunya sebagai penjala ikan / nelayan. Panggilan yang sama juga Tuhan tunjukkan kepada gerejaNya kepada kita orang-orang yang percaya, untuk meneruskan pekerjaan apa yang telah Kristus kerjakan selama di dunia, yaitu bagaimana supaya setiap orang yang Dia jumpai menjadi percaya kepada Yesus Kristus yang diutus Allah Bapa ke dalam dunia. Itulah sebabnya Yesus mengajar / memberitakan firman (khotbah di bukit, Matius 5-7); Yesus menyembuhkan orang dari segala penyakit; mengusir roh jahat, membangkitkan orang mati dll, yang tujuannya jelas supaya orang percaya kepada Allah di dalam Yesus Kristus.

Ada beberapa hal penting untuk kita renungkan bersama: Pertama: Tuhan Allah yang telah memanggil dan memilih kita adalah Allah yang berkuasa, yang mengontrol dan pencipta serta pemilik alam semesta ini. Allah yang maha kuasa ini memanggil kita untuk berpartisipasi dalam pekerjaan Tuhan menyelamatkan dunia ini. Kedua: Pilihan dan panggilan Allah kepada kita bukan asal-asalan, Dia tidak pernah salah memilih dan memanggil kita untuk menjadi umatNya, menjadi kawan sekerjaNya dan kita dipilih dan dipanggil oleh Allah secara istimewa. Ketiga: Pentingya merespons dengan hati yang tulus dan sukacita untuk menerima panggilan dan pilihan Tuhan itu, tanpa banyak alasan dan pertimbangan, dan tanpa memikirkan untung dan ruginya atas panggilan Tuhan itu. Keempat: Bersedia melakukan tugas dan tanggungjawab dari panggilan tersebut dengan sukacita dan tulus hati. Tugas dan tanggungjawab dipandang bukan sebagai beban, tetapi sebagai bentuk penghargaan Allah kepada kita; karena Allah memandang kita layak menerima tugas dan tanggungjawab itu. Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk melaksanakan tugas dan panggilan kita sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Tuhan memberkati kita. Amin.
RDS

     

11 Juni 2017
PARTISIPASI YANG SEMPURNA
Kej. 1:1-2:4; Maz. 8; 2 Kor. 13:11-13; Mat. 28:16-20

Hari ini adalah Minggu Trinitas atau disebut juga Hari Raya Trinitas Mahakudus, yang dirayakan gereja pada hari Minggu pertama setelah Hari raya Pentakosta. Minggu Trinitas, mengingatkan akan iman kita kepada Allah Trinitas atau Allah Tritunggal, tiga pribadi Allah Yang Maha Esa: Allah Bapa, Allah Putra, Allah Roh Kudus. Kita ungkapkan iman kita dalam doa, ikrar Pengakuan Iman, dan puji-pujian, misalnya lagu pujian dari Kidung Jemaat No.242 MULIAKAN ALLAH BAPA, yang isi syairnya : Muliakan Allah Bapa, muliakan Putra-Nya, muliakan Roh Penghibur, Ketiganya Yang Esa! Haleluya, puji Dia kini dan selamanya!

Allah Tritunggal menciptakan alam semesta, bumi beserta isinya, termasuk manusia. Manusia diciptakan-Nya menurut gambar dan rupa Allah, dan diberi-Nya kuasa untuk mengelola dan merawat seluruh ciptaan-Nya (Kej 1:1- 2:4). Walaupun manusia gagal untuk menaati perintah-Nya, Allah tetap merancangkan keselamatan melalui Allah Putra Tentulah kita yang percaya kepada Allah Tritunggal ini, menyediakan diri kita untuk menerima keselamatan dan kehidupan baru yang ditawarkan Sang Bapa, melalui Anak dan Roh Kudus. Allah menjadikan manusia sebagai makhluk mulia, penguasa seluruh ciptaan, dan mengundang manusia untuk ikut berpartisipasi dalam mewujudkan kemuliaan Allah di dunia. Patutlah kita bersyukur, memuliakan, mengagungkan, dan menjadi saksi tentang karya Allah Trinitas yang sempurna (Mzm 8).

Memang sudah selayaknya bagi kita untuk bersaksi tentang Allah kita kepada orang lain, mengingat perintah Tuhan Yesus kepada para rasul-Nya yang mengatakan : “ Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. “ (Matius 28, 19-20). Karya penciptaan bukan hanya karya Bapa, melainkan juga karya Anak-Roh Kudus.

Karya keselamatan dan penebusan oleh Kristus, adalah juga karya Bapa-Roh Kudus. Pembaruan hidup oleh Roh Kudus adalah juga karya Allah Trinitas. Dalam persekutuan ilahi -Bapa, Anak dan Roh Kudus- kita dapat berpartisipasi dan mengalami kehidupan sejati.
Kita mempunyai tanggung jawab untuk berupaya menjadi sempurna, yaitu membangun komunitas yang memiliki persekutuan kasih yang indah dan harmonis, mengacu pada relasi kasih yang erat antara Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus (2 Kor 13:11-13). Marilah Saudara dan saya merenungkan kembali, apakah kita sudah berpartisipasi dalam menghadirkan keselamatan, damai-sejahtera, keadilan, dan keutuhan seluruh ciptaan? SELAMAT MERAYAKAN HARI TRINITAS! HORMAT BAGI ALLAH BAPA, ANAK, DAN ROH KUDUS
Nancy Hendranata

 

4 Juni 2017
ROH KUDUS MEMULIHKAN DAN MEMPERSATUKAN
Kis. 2:1-21; Maz. 104:24-35; 1 Kor. 12:3-13; Yoh. 20:19-23

Di dalam Perjanjian Lama, Pentakosta atau Shavuot merupakan pesta panen gandum pada hari kelima puluh sejak hari Sabat pertama setelah paskah. Perayaan ini juga disebut sebagai perayaan tujuh pekan karena panen gandum dilakukan pada minggu ketujuh setelah menanamnya pada musim semi. Perayaan ini dirayakan dengan perjamuan dan mengunjungi Yerusalem (Kis. 2:5-11). Perjamuan yang diadakan tersebut disediakan bagi semua orang (Ul. 16:9-11). Selain pesta panen, Pentakosta juga diperingati sebagai hari turunnya Sepuluh Perintah Allah (Hukum Taurat). Dengan demikian, perayaan ini juga dimaknai sebagai perayaan sejarah keselamatan.

Di dalam Perjanjian Baru, Pentakosta menjadi peringatan akan turunnya Roh Kudus. Dalam peristiwa itu, Allah menyatakan diri-Nya dalam bentuk lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap di setiap orang percaya yang hadir pada waktu itu (Kis. 2:3) dan mereka mulai berkata-kata dalam bahasa yang dipakai di negeri asal orang yang mendengarnya tentang perbuatan Allah (Kis. 2:4-11). Fokus utama peristiwa Pentakosta adalah berita tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah dalam karya penebusan Kristus yang memulihkan dan mempersatukan hubungan manusia dengan Allah dan manusia dengan sesamanya. Melalui pencurahan Roh Kudus, orang percaya dimampukan untuk memuliakan Allah dalam kehidupan bersama dengan sesama. Roh Kudus mengubahkan hidupnya. Dari sosok penakut dan pengecut – seperti Petrus – menjadi berani untuk memberitakan kebenaran (Kis. 2:14).

Roh Kudus berperan mengubah murid-murid yang mengalami ketakutan (Yoh. 20:19) menjadikan mereka bersukacita dan berani sebagai utusan Allah yang menyatakan damai sejahtera (Yoh. 20:20-22).

Demikian juga bagi setiap orang yang percaya kepada Yesus termasuk kita saat ini, Roh Kudus yang telah kita terima mengubah hidup kita yang takut dan kuatir menjadi berani memohon ampun dan memberi ampun, sehingga damai sejahtera bisa terwujud dalam hubungan antara sesama.
Menurut Rasul Paulus, Roh Kudus memberi karunia yang berbeda-beda untuk setiap orang percaya (1 Kor. 12:7). Karunia yang berbeda-beda tersebut saling melengkapi satu dengan yang lain (1 Kor. 12:8-11). Dan semua itu bertujuan untuk menyatakan bahwa segala perbuatan ajaib itu dilakukan oleh Allah (1 Kor. 12:6). Sehingga setiap orang yang melihat dan mengalaminya memuliakan Allah. Maz. 104:30-31, “Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi. Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!”

Berani di dalam kebenaran (Yoh. 16:13) dan berani menyatakan damai sejahtera adalah salah satu ciri orang yang dipenuhi Roh Kudus. Apakah ciri tersebut ada di dalam diri kita? Jika belum, mari kita buka hati dan mengijinkan Roh Kudus untuk mengubahkan diri kita. Jika sudah, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan senantiasa (Roma 12:10-11, “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan”).
dstheol

 

28 Mei 2017
TETAP MENYATU DI TENGAH TEKANAN
Kis. 1:6-14; Maz. 68:1-10, 32-35; 1 Pet 4:12-14, 5:6-11; Yoh. 17:1-11

Permasalahan hidup bisa menghampiri siapa saja, tanpa terkecuali. Dari permasalahan yang berkaitan dengan keluarga sampai berbangsa dan bernegara. Sebagai pengikut Kristus tidak jarang kita mengalami tekanan demi tekanan dan sikap memusuhi, seperti diremehkan, direndahkan, didiskriminasi, dipenjara bahkan dibunuh. Terhadap hal tersebut, beragam respon yang muncul dari orang Kristen saat menghadapi tekanan seperti itu. Ada yang membalas dengan melakukan hal yang sama yaitu ketika dihina balas menghina. Ada yang diam saja dan menghindar seperti mendelete pertemanan di medsos. Ada pula yang berkompromi seperti membiarkan yang menghina dan terkesan menerima perlakuan itu dikarenakan rasa takut. Tidak jarang situasi ini membuat orang-orang Kristen menjadi terpecah dan terbelah. Apakah ini yang dikehendaki Tuhan Yesus bahwa murid-Nya terpecah dan gentar? Tentu, bukan!

Seperti yang dialami para murid yang tetap tinggal di dalam dunia dan mengalami tekanan setelah Yesus naik ke sorga, Tuhan memerintahkan mereka untuk bersatu dan tekun menanti janji Tuhan (Kis. 1:4,8). Demikian juga doa Tuhan Yesus dalam Yoh. 17:11b yang menghendaki murid-murid tetap menyatu dengan Dia dan tetap tegar menghadapi tekanan dan permasalahan hidup. Tekanan dan penderitaan karena Kristus merupakan ujian iman bagi kita, karena itu rasul Petrus menasehatkan kita untuk tetap bersukacita. Dengan menderita dalam dan karena kebenaran sama seperti Kristus berarti kita turut ambil bagian dalam penderitaan Kristus yang menderita karena kebenaran Injil Kerajaan Allah.

Ketika tekanan itu datang, mari kita ingat bahwa kita memiliki Allah yang memelihara. Allah yang bahkan rela mati untuk menebus manusia. Allah yang senantiasa hadir dan menolong manusia. Allah yang mengasihi manusia. Ini bukan sekedar kata-kata dan kalimat yang indah hanya untuk menghibur saja, tetapi ini adalah pengakuan iman kita bersama bahwa kita memiliki dan dimiliki oleh Allah yang memelihara dengan kasih yang sangat besar. Pengakuan iman tersebut muncul dari pengalaman dan perjumpaan kita dengan Allah dalam kehidupan kita. Oleh karenanya, jangan takut dan jangan gentar menghadapi apapun.
Kita tidak mungkin bisa menghadapi tekanan dan penderitaan itu sendiri. Kita butuh Tuhan dan butuh sesama. Jangan lupakan Tuhan dan jangan lupakan sesama. Dan olehnya kita diundang menjadi satu dengan Tuhan dan hadir bagi sesama kita yang menderita. Tuhan memberkati.
dstheol

 

 

21 Mei 2017
TERUSLAH BERBUAT BAIK, JANGAN GENTAR ! ”
Kis. 17:22-31; Maz. 66:8-20; 1 Petr. 3:13-22; Yoh. 14:15-21

Bertahun-tahun lalu bangsa kita berjuang untuk mengutamakan persatuan dan kesatuan. Perbedaan tidak dipandang sebagai kendala. Perbedaan sudah ada sejak dahulu namun pendahulu-pendahulu kita memilih untuk mengedepankan persatuan dan kesatuan, memilih untuk menghargai perbedaan. Mereka mendirikan organisasi-organisasi yang mengutamakan persatuan dan kesatuan. Itulah inti kebangkitan nasional. Saat ini kita melihat kenyataan yang berbeda, menyedihkan karena saat ini sebagian orang memilih untuk mengedepankan perbedaan. Tidak hanya mengedepankan perbedaan bahkan banyak orang yang saat ini memilih menolak kebenaran. Kesamaan menjadi hal yang terpenting. Tidak masalah jika salah asal sama. Baik sama dalam agama, suku, daerah atau yang lainnya.

Apa yang terjadi di depan mata kita memperlihatkan kepada kita bahwa ternyata ada harga yang harus dibayar mahal untuk menjadi benar, bahkan ada harga yang harus dibayar saat kita ternyata dianggap berbeda. Ketika seseorang memperjuangkan kebenaran, yang dia alami adalah penolakan bahkan ancaman hukuman bisa saja menimpa. Sungguh sebuah ironi ketika seseorang berbuat benar bukan hanya untuk diri sendiri tetapi bahkan untuk negaranya, bukan sebuah penghargaan yang diterima tetapi penolakan dan hukuman. Kenyataan ini tidak hanya menimbulkan kemarahan namun juga mungkin menimbulkan kefrustasian untuk menjalankan kebenaran. Bahkan yang lebih memprihatinkan, orang mungkin tidak lagi ingin berada di negara ini. Negara ini dianggap sudah gagal mempertahankan apa benar. Yang ada di hati banyak orang sekarang adalah kemarahan yang akhirnya juga menimbulkan kegentaran, karena apa yang terpampang di depan mata kita terlalu besar dan terlalu sulit untuk dilawan. Sehingga pertanyaan sederhana muncul dihati kita, buat apa saya berbuat benar?

Pertanyaannya apakah Tuhan setuju dengan pilihan kita untuk diam? Mari kita renungkan dalam Yohanes 14 ayat 16-18. Roh Penolong yang diberikan Allah kepada umat manusia adalah Roh Kebenaran dan dunia tidak mengenalnya. Saat seorang dalam kehidupan berupaya melakukan kebenaran maka Injil Yohanes jelas mengatakan dunia tidak mengenalnya. dunia menolaknya.

Ini sudah kita lihat terjadi beribu-ribu tahun yang lampau, bahkan terjadi juga di dalam kehidupan kita di masa kini. Dunia tidak mengenalnya. Dunia menolaknya. Itu adalah sebuah kenyataan bahkan konsekuensi yang harus kita hadapi saat kita mau melakukan kebenaran. Melakukan kebenaran tidak menuai pujian dan pengakuan, tetapi membawa pada cemoohan dan penolakan. Lalu apa yang harus kita lakukan? haruskah kita berhenti dan menjadi gentar? Yohanes 14:17 jelas menekankan penyertaan Tuhan yang akan terus mengiringi orang yang melakukan kebenaran. Ada dua paradoks yang terjadi di sini, manusia yang tinggal di dunia akan mengalami penolakan saat ia melakukan kebenaran namun pada saat yang sama, saat ia melakukan hal itu, ia tidak melakukannya sendirian. Secara kasat mata ia seolah menjalani semua sendirian namun dibalik semua itu ada penyertaan Tuhan yang mengiringi. Penyertaan Tuhan bahkan dapat dinyatakan melalui keberadaan orang-orang yang mendukung dan menopang kita.

Hal ini lah yang harus kita pegang teguh, penyertaan Tuhan harusnya membuat kita semakin kuat dan kokoh dan tidak dikuasai oleh kegentaran apa pun bentuknya. Kita tetap berpegang pada janjiNya yang akan selalu menyertai kita.
Kemudian kita juga belajar dari teladan rasul Petrus bagaimana ia mengajarkan kebaikan dan kebenaran menjadi dua hal yang saling melekat. 1 Petrus 3:13 bicara soal kebaikan namun di ayat 14 yang dibicarakan adalah kebenaran. ayat 17 menekankan lebih baik menderita karena berbuat baik. Kebaikan dan kebenaran menjadi satu hal yang saling melengkapi dan tidak terpisah. Saat orang melakukan kebenaran maka kebenaran itu mewujud pada sebuah kebaikan bagi sesama. Kebaikan dan kebenaran bukan sesuatu yang berada di tataran konsep. Kebenaran mewujud pada sebuah tindakan kebaikan. Nyata dan jelas. ada sesuatu yang nyata, bisa dilihat, bisa dirasakan. Saat kita mau mempertahankan sebuah kebenaran maka itu akan terlihat dalam sebuah ukiran kebaikan. Saat ini bangsa kita membutuhkan orang yang mau melakukan kebenaran, orang yang berani menyatakan kebenaran dan berarti ada sebuah aksi nyata, ada sebuah kebaikan nyata. Apa yang kita sudah lakukan sebagai anak bangsa saat kita melihat ketidakadilan di sana? Apa yang kita sudah lakukan sebagai anak bangsa saat kita melihat penolakan di depan mata? Diam dan berpangku tangan bukanlah sebuah pilihan yang ideal. Lihat diri kita, setiap kita dapat melakukan kebaikan dan kebenaran. Melakukan kebenaran dan kebaikan sesuai dengan peranan kita. Kita menolak diam, Kita menolak gentar. Kita harus berani juga menyuarakan kebenaran bahkan menyatakan keberpihakan. Berpihak pada kebenaran. Diam bahkan lari seharusnya tidak lagi ada dalam hidup kita sebagai anak-anak Tuhan yang percaya pada Dia yang bangkit.

Oleh karena itu hidup yang kita jalani sekarang haruslah kita letakkan pada kerangka hidup bersama Allah. Gerakan-gerakan yang kita lakukan dalam hidup kita haruslah merupakan respon kita terhadap berkat dan pemeliharaan Tuhan. Kehidupan berbangsa dan bernegara kita juga kita letakkan dalam kerangka hidup bersama Allah. Tidak gentar memperjuangkan kebenaran dan melakukan kebaikan, berani bersikap, berpihak dan menyatakan dukungan, tidak takut dan pasif, tidak gentar dan pergi, namun sebaliknya terus berjuang dalam setiap kedudukan dan peranan kita. Paling tidak tindakan kita itu merespon anugerah dan penyertaan Allah (Kisah Para Rasul 17:28 sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada). Memperingati hari kebangkitan nasional, hari pertama dimana kita sebagai bangsa mengutamakan persatuan di atas perbedaan, mengutamakan kesatuan di atas keragaman, maka minggu ini sebagai GKI yang ada di tanah Indonesia mari kita: 1. Jangan gentar memperjuangkan kebenaran dalam hidup berbangsa dan bernegara kita, Tuhan menyertai kita. 2. Teruslah menyatakan kebenaran dalam kebaikan-kebaikan yang bisa kita lakukan untuk mendukung sesama sebangsa dan setanah air tanpa memandang perbedaan agama, suku dan warna kulit. 3. Teruslah berkarya dalam hidup kita di tanah air kita, sebagai respon kita terhadap anugerahNya, jangan gentar Mari terus mencintai Indonesia. Bangga sebagai bangsa Indonesia. Berkarya bagi Indonesia, Ibu Pertiwi yang melahirkan dan membesarkan kita. Teruslah berbuat baik, jangan gentar.

     

14 Mei 2017
PERGI DALAM DAMAI
Kis. 7:55–60; Maz. 31:1–5, 15-16; 1 Petr. 2:2 – 10; Yoh. 14:1–14

Rest in Peace (RIP) artinya Pergi Dalam Damai. Seseorang menyambut kematiannya dengan hati yang damai, rupanya jarang. Mungkin dengan perbandingan 1 : 10 atau lebih. Orang menyambut kematiannya dengan berbagai cara penangguhan karena belum siap pergi kerumah Bapa Surgawi. Orang-orang yang belum siap pergi biasanya karena 2 alasan, yaitu kurang percaya sepenuh hati pada ucapan Tuhan Yesus tentang Rumah Bapa Surgawi yang banyak tempat tinggal bagi orang percaya (Yohanes 14 : 1 – 14). Alasan kedua karena masih banyak yang diberati di dunia yang fana ini seperti harta benda, ikatan keluarga, dan belum mempunyai pengampunan yang tulus atau masih mempunyai ganjalan rasa atau dendam terpendam pada sesama. Tirulah Stefanus yang menyambut kematiannya dengan hati yang damai, bahkan sempat meniru ucapan Tuhan Yesus, yaitu: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kisah Para Rasul 7 : 60).

Ucapan Tuhan Yesus di kayu salib yaitu: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23 : 34). Oleh karena itu, marilah kita percaya dengan sepenuh hati kepada Tuhan Yesus seperti Raja Daud yang percaya dan bersandar sepenuhnya pada Allah, sebagai gunung batunya (Mazmur 31 : 1 – 5, 15 – 16) dan Yesus Kristus sebagai batu penjuru yang menyelamatkan dan membawa damai sejahtera sekalipun kita sedang menyambut kematian (I Petrus 2 : 2 – 10). Amin.
BHS

 

7 Mei 2017
AKU ADALAH PINTU
Kis. 2:42-47; Maz. 23; 1 Ptr. 2:19-25; Yoh. 10:1-10

Masih dalam rangkaian minggu Paskah, pada minggu Paskah IV ini, umat diajak untuk menghayati karya Allah lewat Yesus Kristus, bagaimana Ia membawa umat berjumpa dengan kehidupan yang lebih baik, lebih terhormat, lebih sukacita dari kehidupan yang sebelumnya. Hal ini akan kita hayati melalui kisah dalam Injil menurut Yohanes.

Teks Yohanes 10 sangat terkenal di kalangan umat Kristen karena mengingatkan umat tentang peran Yesus sebagai Gembala yang baik. Hal ini dikaitkan juga dengan kitab Mazmur 23, dimana Daud mengungkapkan “Tuhan adalah gembalaku”. Namun, ada hal menarik dalam bacaan ini yang menjadikannya sedikit berbeda dengan Mazmur 23, yaitu di sini Yesus tidak langsung menyebut diri-Nya sebagai Gembala. Terlebih dahulu, Ia menyebut diri-Nya sebagai pintu. Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan, karena seringkali ketika berhadapan dengan Yohanes 10, para pengkhotbah langsung mengarah pada Yesus Gembala yang baik, apalagi oleh LAI telah diberi judul “Gembala yang Baik”. Akibatnya, sebutan Yesus sebagai pintu – “Aku adalah Pintu” – terlewatkan begitu saja. Karena itulah di tahun liturgi ini, khotbah akan diarahkan pada sebutan Yesus yang adalah pintu, serta relevansinya bagi umat.

Bacaan leksionari telah dibagi dengan sangat baik untuk memahami teks tersebut: ditahun A yang dibaca adalah Yohanes 10:1-10, tahun B adalah Yohanes 10:11-18, dan Tahun C adalah Yohanes 10:22-30. Tahun ini (tahun A) kita akan fokus pada Yohanes 10:1-10.

Dengan memakai tema sesuai dengan pengakuan Yesus: “Aku adalah Pintu”, umat diajak untuk memahami apa artinya sebutan “Aku adalah Pintu”. Dengan demikian, semakin hari umat semakin merasakan dan mengalami penyertaan Tuhan dan belajar mempercayakan seluruh hidupnya kepada Tuhan.
Dian Penuntun Edisi 23

 

     

30 April 2017
BERELASI DENGAN TUHAN YESUS KRISTUS
Kis. 2:14, 36-41; Maz. 116:1-4, 12-19; 1 Petr. 1:17-23; Luk. 24:13-35

Tahu dan mengenal adalah dua kata yang berbeda maknanya. Tahu atau mengetahui lebih cenderung pada konsep, pemahaman melalui proses belajar, mendengar dan melihat. Sedangkan kata mengenal lebih cenderung pada soal relasi atau hubungan yang dekat. Contoh. Semua orang Kristen pasti tahu dan percaya bahwa Yesus telah mati di kayu salib untuk mengampuni segala dosa manusia, dan pada hari yang ketiga Dia telah bangkit dari kematian dan kemudian naik ke surga. Pengetahuan ini kita dapatkan melalui ibadah sekolah minggu, remaja, pemuda, ibadah umum, persekutuan, Pemahaman Alkitab, katekisasi dll. Kita semua percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Namun demikian tidak semua orang Kristen yang tahu tentang Yesus Kristus adalah Tuhan, dan mengenal Yesus secara pribadi dan membangun relasi yang intim denganNya.

Ketika Yesus bangkit dari kematian, kemudian Ia menampakkan diriNya berulang-ulang kepada para murid membuat para murid sadar bahwa Yesus bukan nabi biasa, tetapi Dia adalah Tuhan Allah sendiri. Perjumpaan para murid dengan Yesus yang bangkit menjelaskan relasi mereka semakin intens dengan Yesus. Relasi yang intens itu membuat para murid mengalami kelimpahan damai sejahtera, sukacita dan hati yang berkobar-kobar. Ketika Yesus naik ke sorga yang disaksikan oleh 500 orang lebih, para murid melanjutkan relasi dengan Yesus itu melalui doa bersama-sama, membicarakan isi firman Tuhan bersama-sama. (Kis 2:41-47).

Pemahaman mereka tentang Yesus Kristus dan pengenalan mereka akan Tuhan membawa mereka memiliki relasi yang intens dengan Yesus. Jadi mereka bukan hanya tahu dan mengenal Tuhan Yesus secara pribadi tetapi mereka lanjutkan dengan membangun relasi yang harmonis dengan Yesus Kristus, sehingga membuat mereka/ para murid mengalami pemulihan, perubahan dan kekuatan yang baru.

Refleksi untuk kita renungkan. Jika kita hanya mengetahui dan paham tentang ajaran kekristenan, tentang pokok-pokok iman Kristen, tentang Tuhan Yesus yang mati, bangkit dan naik ke sorga, tanpa pengenalan yang dilanjutkan dengan relasi yang baik dengan Tuhan Yesus, maka kita tidak akan mengalami perubahan hidup, pemulihan hidup dan sukacita dalam hati kita. Titik pentingnya adalah membangun relasi yang intim dengan Yesus Kristus yang telah bangkit, yang menjadi Tuhan dan Juruselamat hidup kita. Karena Dialah yang akan memperbaharui, memulihkan dan memberikan damai sejahtera dalam hidup kita. Tuhan Yesus memberkati.
DP

 

23 April 2017
KEBANGKITAN-NYA MENGOBARKAN KEBERANIAN & PENGHARAPAN
Kis. 2:14, 22-32; Maz. 16; 1 Petr. 1:3-9; Yoh. 20:19-31

Minggu ini kita memasuki minggu Paskah ke-2. Pada minggu ini, penghayatan kita tentang kebangkitan Kristus (Paskah) difokuskan pada upaya untuk membangkitkan (mengobarkan) kembali keberanian kita untuk bersaksi dan memiliki pengharapan akan masa depan yang lebih baik. Persoalannya, sekarang ini, Kebangkitan kristus (Paskah) dirayakan dengan meriah dan diakui menjadi dasar pemahaman keselamatan kita, namun dalam realitanya perayaan akan kebangkitan Kristus tersebut tidak memberi dampak yang signifikan dalam kehidupan berjemaat kita. Hal ini tampak nyata dari sikap atau perilaku kita yang sering takut untuk menunjukan identitas kita sebagai orang Kristen, dengan segala konsekuensinya, dan hidup kurang berpengharapan akan masa depan.

Dalam berbagai hal, banyak diantara kita yang sikapnya “biasa-biasa saja” tanpa menunjukan kegairahan, perubahan dan memberikan dampak tertentu. Mungkin Paskah saat ini hanya menjadi suatu perayaan tradisi gereja yang mulai kehilangan maknanya, atau mungkin juga Paskah hanya menjadi perayaan besar yang sarat dengan entertainment (hiburan). Akibatnya, perayaan dan penghayatan akan nilai-nilai Paskah tidak membawa perubahan apa pun dalam kehidupan berjemaat, apalagi mampu mengobarkan keberanian kita untuk bersaksi dan berpengharapan akan masa depan yang lebih baik.

Jikalau kita memperhatikan perjamuan kudus mula-mula, dari bacaan-bacaan kita, maka kita akan menemukan disana gambaran mengenai bagaimana kebangkitan Kristus menghapus ketakutan yang mencekam. Para murid takut karena Yesus disalibkan. Sejak perjumpaan dengan Kristus yang bangkit itu, mereka kembali berani bersaksi tentang siapa Kristus itu dan siapa diri mereka sebagai murid-murid Kristus, khususnya dalam Kisah Para Rasul 2:22-32. Mereka juga kembali berani beriman dan berpengharapan kepada Kristus, meskipun mereka sedang menghadapi tantangan dan penderitaan, seperti pengalaman Thomas dan anggota-anggota jemaat penerima surat I Petrus.

Inilah sikap iman dan dampak perubahan yang terjadi dalam pengalaman dan penghayatan ketika seseorang berjumpa dengan Kristus yang bangkit. Oleh karena itu, seharusnya perayaan dan penghayatan kebangkitan Kristus (Paskah) memberikan dampak dalam kehidupan berjemaat kita. Kebangkitan Kristus seharusnya memampukan kita untuk berani bersaksi dan berpengharapan untuk menghadapi masa depan. Amin.
DP

 

16 April 2017
KEBANGKITAN-NYA MENYELAMATKAN SEMUA
Yer. 31:1-6; Maz. 118:1-2,14-24; Kis. 10:34-43; Mat. 28:1-10

"Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya. " (Kis. 10: 43)
“Kebangkitan” adalah lawan dari “Kematian”, tanpa Kebangkitan tidak ada keselamatan dari kematian. Bacaan Kisah Para Rasul 10:34-43, membuktikan bahwa Yesus telah dibangkitkan Allah di hari ketiga dari kematian-Nya dan Yesus telah menampakkan Diri-Nya yang bangkit kepada para murid yang dijadikan saksi-saksi-Nya, bahwa Yesus yang bangkit menjadi Juruselamat dunia yaitu seluruh bangsa.
“Yesus Juruselamat dunia, bukan hanya juruselamat orang Kristen” kata Gus Dur.
Tetapi di kalangan Kristen sendiri masih banyak pertanyaan tentang “keselamatan milik siapa ?”, seringkali menjadi perdebatan yang tidak ada habisnya. Selalu ada kelompok-kelompok yang mengklaim bahwa keselamatan Allah hanya berhak dimiliki oleh mereka, bukan kelompok lain. Sehingga mendirikan tembok-tembok pemisah menganggap kelompok lain yang berbeda dianggap kafir, mereka merasa memiliki hak untuk mematikan eksistensi kelompok lain. Keselamatan dari Allah di dalam Kristus bagi semua bangsa, semua lapisan, semua strata masyarakat. “Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang” (Kis. 10:34)

Pada bacaan Injil Matius 28:1-10, Yang dipilih Allah untuk menjadi saksi pertama Kebangkitan Yesus adalah Maria Magdalena dan Maria yang lain, di mana perempuan di jaman itu merupakan warga kelas dua. Tuhan menjanjikan akan bertemu di Galilea. Galilea merupakan daerah para nelayan, tempat orang2 kasar, dianggap tempat orang rendahan tidak berpendidikan, kurang dalam hal sopan santun. Membuktikan Allah tidak membedakan orang dan dari mana asal-usulnya. Allah tidak SARA.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini , sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”(Yoh. 3:16)
Ayat di atas menyatakan keselamatan dengan menganugerahkan kehidupan yang kekal melalui kebangkitan Kristus tidak ditujukan kepada kelompok tertentu, agama tertentu, atau status tertentu, melainkan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Keselamatan bukanlah Agama, Keselamatan adalah relasi dengan Kasih Allah. Kita menaati Firman Allah bukan supaya memperoleh keselamatan, tetapi karena mengasihi Tuhan yang terlebih dahulu telah menganugerahkan Kasih Karunia kepada kita melalui Kematian dan Kebangkitan-Nya. “Selamat Paskah 2017, sebab Dia Bangkit !”
tonny iskandar

 

9 April 2017
MEMENANGKAN KEKERASAN DENGAN KELEMBUTAN
Yesaya 50 : 4-9; Mazmur 31 : 10-17; Filipi 2 : 5-11; Matius 27 : 11-54

Dalam tahun gerejawi, hari ini disebut sebagai hari Minggu Palmarum yang dikaitkan dengan masuknya Tuhan Yesus ke kota Yerusalem menjelang Jumat Agung. Ia memasuki kota Yerusalem bukan dengan kuda yaitu kendaraan perang yang lazim pada zaman itu, melainkan dengan keledai betina, kendaraan damai. Maka para orang Yahudi yang merupakan penduduk kota itu mengelu-elukan-Nya dengan tangkai dan daun palem, seraya berseru `Hosana, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan’. Kendati Tuhan Yesus sadar, bahwa kota Yerusalem akan menjadi kota yang justru membuat diri-Nya menderita dan seruan yang ramah itu akan berubah menjadi seruan `Salibkanlah Dia!’. Di kota itu telah siap kekerasan yang akan menerpa dan menerkam Dia. Tetapi itulah misi yang dibawa-Nya ke dalam dunia ini sebagai Juruselamat umat manusia. Untuk kenyataan itu, Rasul Paulus mengemukakan, bahwa kesetaraan-Nya dengan Allah itu tidak dipertahankan, sebaliknya dikorbankan-Nya sampai mati di kayu salib.

Sungguh sebuah peristiwa yang bertolak belakang, karena Dia yang datang dengan damai justru akan dibantai dengan kekerasan luar biasa. Itulah peristiwa yang sudah lama dinubuatkan berabad-abad yang lampau dan mencapai pemenuhannya pada lima hari kemudian, pada hari Jumat Agung. Injil Matius 27 : 11-54 merupakan rangkaian kesengsaraan yang harus dialami oleh Tuhan Yesus. Kesemuanya merupakan bagian dari langkah-Nya menjadi Juruselamat manusia, karena tanpa pengalaman itu keselamatan bagi kita tak mungkin kita peroleh. Itulah makna kekerasan yang dikalahkan oleh kelembutan. Kendati kekuasaan manusia begitu berjaya, namun tiga hari kemudian Paskah pagi membuyarkan kemenangan itu, sehingga muncul seruan `Hai maut, di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?’ (1 Kor. 15 : 55).

Selanjutnya, menjadi bagian kita sebagai orang Kristen untuk menghayati kekuatan kemenangan Tuhan Yesus yang lembut atas kekerasan yang dialami-Nya. Itulah praktik hidup Kristen yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari setelah kita menyatakan iman kita kepada Tuhan Yesus. Maka itulah pergumulan yang masih harus kita lakukan berupa penyangkalan diri untuk secara lembut menghadapi kekerasan sesama manusia. Tak mustahil, bahwa kehidupan kita pun tidak luput dari kekerasan. Oleh sebab itu, bercerminlah kepada penderitaan Tuhan Yesus, agar kita yang menjadi para pengikut-Nya, juga melakukan kehidupan seperti Dia. Tantangan ini tak mudah untuk kita hadapi, namun itulah panggilan kita sebagai para pengikut Tuhan Yesus di dunia yang penuh dengan kekerasan, termasuk dalam masalah kekerasan karena kita beriman Kristen. Hal itu merupakan bagian dari gereja yang berjuang di dalam dunia, agar dengan kelembutan dapat memasuki gereja yang menang di dalam surga. Semoga untuk maksud tersebut, kita tidak tercecer dalam arak-arakan para orang beriman.

Pekan ini merupakan kesempatan yang seyogianya kita gunakan untuk menghayati betapa kesengsaraan Tuhan Yesus itu memberikan pengaruh kepada kita sebagai para murid yang mendengar dengan telinga kita dan mengatakan dengan lidah kita. Kemudian kita dapat merasakan penderitaan-Nya, sehingga kita menghormati pesan yang disampaikan-Nya kepada kita, agar kita pun menempuh jalan kehidupan tanpa kekerasan, melainkan dengan kelembutan. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

     

2 April 2017
JIKA ENGKAU PERCAYA ENGKAU AKAN MELIHAT
Yehezkiel 37:1-14, Mazmur 130, Roma 8:6-11, Yohanes 11:1-45

Menjalani kehidupan ini ternyata tidaklah semudah yang dibayangkan. Permasalahan dan persoalan datang silih berganti. Terkadang apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan. Dan tentu tidak mudah untuk menerima semuanya itu. Ada sebagian yang kecewa dan marah dengan Tuhan. Namun ada yang sebagian tetap pasrah dan berserah kepada Tuhan.
Mereka yang kecewa dan marah sulit untuk melihat Tuhan hadir dan menolong mereka. Hati yang diliputi oleh kegelapan tidak akan mampu melihat bahwa orang-orang yang hadir di dekatnya yang mungkin hanya diam dan mendengar keluh kesahnya merupakan cara Tuhan dalam menolong mereka. Jika kita tidak percaya kepada Tuhan maka kita sulit untuk melihat Tuhan berkarya. Sama halnya dengan hati yang diliputi oleh kebencian yang membuat seseorang sulit untuk percaya kepada yang lain. Akibat ketidakpercayaannya itu, membuatnya sulit melihat yang baik di dalam diri yang lain. Sehingga apapun yang dibuat oleh orang lain selalu saja salah di matanya.

Dalam bacaan kita minggu ini, kita diperlihatkan betapa berkuasanya Allah. Ia menghidupkan umat-Nya. Ia memberikan pengharapan. Dan Ia adalah Allah yang hadir dan menolong umat-Nya yang menderita, serta memberikan kehidupan yang baru (Yeh. 37:1-14). Karena keyakinan dan kepercayaan yang demikian, Pemazmur mengajak umat untuk memohon dan berharap hanya kepada Tuhan saja (Maz. 130:7 Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan.). Penegasan akan kekuasaan Allah juga disampaikan oleh Yesus, .... Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah (Yoh. 11:40).

Di Minggu Prapaskah ke-5 ini, kita diundang untuk percaya kepada Yesus supaya melihat kemuliaan Allah sebagaimana yang dialami oleh Maria, Marta, Lazarus serta orang-orang di sekitar Yesus. Peristiwa bangkitnya Lazarus merupakan penegasan dari pihak Allah bahwa Yesus adalah utusan Allah (.... bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Yoh. 11;42). Namun tidak hanya sekedar sebagai utusan Allah saja, iman kita yang dikuatkan oleh Roh Allah (seperti yang dinasehatkan oleh Paulus dalam Roma 8:11) meyakini dan mempercayai bahwa Yesus adalah “Kebangkitan dan Hidup”. Yoh. 11:25-26 Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" Pertanyaan yang sama untuk diri kita saat ini adalah Percayakah engkau akan hal ini?
Tuhan menolong setiap kita untuk melihat karya-Nya yang luar biasa hebat dan dahsyat di dalam diri kita maupun orang lain. Amin
dstheo

 

26 Maret 2017
Melihat Tetapi Buta
1 Samuel 16:1-13, Mazmur 23, Efesus 5:8-14, Yohanes 9:1-41

Setiap orang pasti menikmati jika bisa melihat pemandangan yang indah. Bahkan melihat pemandangan menjadi suatu sarana refresing dari segala kepenatan dan rutinitas. Dengan melihat sesuatu yang indah membuat manusia bisa mengagumi keindahan ciptaan Tuhan. Akan sangat berbeda dengan keadaan saudara-sadara kita yang tidak bisa melihat. Segala keindahan itu hanya bisa mereka dengarkan dan bayangkan melalui imajinasi mereka.

Itu juga yang di alami seorang anak muda yang dijumpai Yesus saat Ia lewat bersama para murid-muridNya (Yoh.9:1-41). Yesus menjumpai seorang anak muda yang sudah buta sejak lahir. Yesus lalu meludah ke tanah, mengaduk ludah dan tanah itu, dan mengoleskan ke mata anak muda yang buta itu. Kemudian terjadilah mujizat itu dan anak muda itu bisa melihat (ayat 7). Sungguh menjadi suka cita besar bagi anak muda itu karena akhirnya ia bisa melihat dengan jelas apa yang selama ini ia bayangkan dan hayalkan menjadi realita. Tetapi sungguh disayangkan peristiwa sukacita ini mendatangkan masalah dan celah buat para orang Yahudi dan kaum Farisi untuk kembali menghujat Tuhan Yesus karena peristiwa ini terjadi pada hari Sabat. Yesus dianggap tidak menghormati hari Sabat oleh karena itu mujizat yang Tuhan Yesus lakukan dianggap tidak berasal dari Tuhan.

Mulailah disini terjadi perdebatan di kalangan orang Yahudi dan mengatakan bahwa bukan anak muda ini yang disembuhkan tetapi yang hanya mirip dengannya. Tetapi anak muda ini berusaha meyakinkan bahwa dialah yang disembuhkan itu (ayat 9).

Tidak puas dengan itu mereka memanggil orang tuanya dan mempertanyakan kembali. Mengapa anaknya yang buta itu sekarang bisa melihat? Orang tua mencari “jalan aman” bagi mereka dengan menjawab tanyakan sendiri kepada anak itu karena mereka tidak melihat langsung peristiwa penyembuhan itu (ayat 22-23). Dan aksi yang lebih ekstrim dari para orang Yahudi ini memaksa agar anak muda ini mengatakan Yesus sebagai orang berdosa (ayat 24). Anak muda ini dengan sangat berani menyatakan mujizat yang terjadi pada dirinya adalah karya Allah. Tidak mungkin jika Yesus itu berdosa karena jika Ia berdosa bagaimana bisa Allah berkenan dan mendengarkanNya? Dan keluarlah sebuah pertanyaan yang mengelitik dari anak muda ini yaitu “aneh juga bahwa kamu tidak tidak tahu dari mana Ia datang”.

Sudah sangat terlihat dengan jelas kesembuhan anak muda ini adalah karya Allah tetapi orang Yahudi dan kaum Farisi berulang-ulang mempertanyakannya. Sesuatu yang mereka lihat dengan jelas tetapi seperti tidak terlihat oleh mereka. Suatu keadaan yang sangat membingungkan bukan. Keadaan ini memperlihatkan bahwa mata hati mereka tertutup walaupun mata inderanya terbuka. Keadaan mata hati tertutup ini pun kerapkali menghampiri kita saat ini. Kita dikuasai keinginan-keinginan egoistik yang mementingkan diri sendiri dan terancam tinggal di dalam dosa. Sungguh sebuah ironi bukan ada seorang anak yang nekat membunuh ibunya hanya karena tidak dibelikan motor. Mata anak ini tidak buta secara fisik karena ia dapat menusuk tubuh ibunya dengan tepat. Tetapi mata hati dan pikirannya telah dibutakan oleh emosi/kemarahannya. Anak ini bisa melihat tetapi buta. Melalui renungan ini kembali kita diingatkan sebagai umat Allah kita memperoleh anugerah Tuhan yang mata hatinya telah dibukakan olehNya. Melalui iman kita dapat melihat terang dan mengalami kasih Tuhan yang besar. Marilah hendaknya kita hidup dalam kepekaan hati yang besar sehingga hidup sebagai anak-anak terang yang membuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran (Efesus 5:8-11). Kita melihat Yesus sebagai terang dunia dan kita meneladaniNya dengan menjadi terang bagi sesama kita. Selalu menjaga hati agar peka melihat karya penyelamatan Tuhan dalam segala keadaan, dan mensyukurinya dengan mewujudkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran dalam hidup kita.
Joice

     

19 Maret 2017
ANUGERAH ALLAH MENOPANG UMATNYA
KEL. 17:1-7, MAZMUR 95, YOHANES 4:5-42

Narasi Keluaran 17:1-7 menceriterakan umat Israel yang mengalami krisis air di padang gurun. Krisis air membuat ketakutan dan kegelisahan umat, tidak ada air berarti kelangsungan hidup mereka terancam. Itulah sebabnya umat Israel menjadi marah dan bertengkar dengan Musa, supaya Musa menyediakan air. Padahal Musa sendiri juga mengalami hal yang sama, yaitu tidak ada air, Musa juga tidak bisa menyediakan air. Sebenarnya mereka menjadi marah dan bertengkar dengan Musa bukan persoalan krisis air, tetapi ada persoalan yang lebih dalam adalah “KETIDAK PERCAYAAN MEREKA KEPADA PEMELIHARAAN TUHAN”. Hal ini terlihat dari ayat 7 yang mengatakan: “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak”. Mereka tidak percaya bahwa Tuhan hadir di tengah-tengah kehidupan mereka. Padahal Allah jelas-jelas hadir dalam kehidupan mereka melalui tiang awan dan tiang api. Ketidak percayaan kepada pemeliharaan Tuhan membuat kita ketakutan dan mudah marah dan bersungut-sungut. Allah memberikan air kepada umat Israel untuk menjelaskan bahwa Allah memelihara hidup mereka, Allah hadir di tengah-tengah kehidupan mereka. Bentuk kehadiran dan pemeriharaan Tuhan adalah dengan memenuhi kebutuhan makan dan minum.

Narasi Yohanes 4:5-42 menceriterakan perjumpaan dan percakapan seorang wanita Samaria dengan Tuhan Yesus di tepi sumur Yakub. Wanita Samaria pergi ke sumur Yakub di siang hari untuk menghindari perjumpaannya dengan orang banyak yang mau mengambil air di sumur itu. Orang-orang biasanya mengambil air di sumur itu pagi-pagi atau sore hari. Mengapa wanita ini menghindari perjumpaannya dengan orang banyak? Kalau kita membaca cerita ini secara lengkap dan teliti maka kita akan menemukan alasan mengapa wanita Samaria ini menghindari banyak orang. Persoalan yang dihadapinya adalah persoalan rumah tangganya, ia gagal membangun rumah tangga yang baik. Di sini kita menjumpai persoalan moral, persoalan spiritual, dan persoalan sosial.

Masyarakat sudah memandang wanita seperti itu adalah wanita yang tidak bermoral; masyarakat menjauhi wanita yang demikian dalam pergaulan sehari-hari. Perjumpaannya dengan Yesus telah mengubahkan hidupnya, moralnya, harga dirinya, dan spiritualnya. Yesus menawarkan air hidup, jika kamu minum air dari sumur Yakub ini akan haus lagi, tetapi jika engkau meminum air yang Kuberikan, kamu tidak akan haus untuk selama-lamanya (ayat 14-15). Anugerah Allah menjangkau wanita Samaria ini, ia mengalami apa artinya pengampunan, penerimaan & cinta kasih yang Yesus berikan. Ia mengalami perubahan, pembaharuan, pemulihan dan kemenangan hidup, semua itu karena anugerah Allah.

Pelajaran iman dari kedua narasi di atas adalah: Pertama, Anugerah Tuhan mencukupkan kebutuhan jasmani kita. Ia tidak akan membiarkan kita kelaparan dan kehausan. Ia memelihara dan merawat kita secara ajaib. Kedua, Anugerah Tuhan terbesar dalam hidup kita adalah kita diselamatkan dari dosa dan kutuk dosa; kita diangkat menjadi anakNya, menjadi milikNya, menjadi saksiNya di dunia ini. Untuk menyelamatkan kita, mengangkat kita menjadi anakNya, Ia yaitu Yesus Kristus harus mati di kayu salib. Ketiga, kita harus menghormati dan menghargai pengorbanan Kristus dengan cara hidup yang benar, hidup yang memuliakanNya, dan melayani Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati kita semua.
RDL

 

12 Maret 2017
MENJALANI HIDUP YANG PASTI
Kejadian 12 : 1-4; Mazmur 121; Roma 4: 1-5, 13-17; Yohanes 3 : 1-7

Siapa yang tahu dengan pasti jalan hidupnya? Satu-satunya yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri. Ada banyak hal yang tak terduga dalam hidup, ada suka dan duka, sukses dan gagal, sehat dan sakit, masalah, kesulitan, tantangan, kematian, dsb. Ditengah ketidakpastian tersebut, kita perlu punya pegangan hidup yang pasti. Tanpanya kita akan terombang-ambing dalam menjalani kehidupan yang tidak pasti ini. Perjalanan hidup kita sesungguhnya merupakan proses perjalanan iman, yaitu pengenalan kepada siapa atau apa yang kita imani. Beberapa tokoh berikut ini juga berjuang dalam perjalanan imannya.

Nikodemus (seorang ahli Farisi) berusaha memahami Tuhan Yesus dengan akal budinya (kepandaiannya sebagai ahli taurat), ia tahu bahwa Tuhan Yesus diutus dan disertai oleh Allah. Padahal pengenalan akan Yesus merupakan suatu proses yang dimulai dari kesediaan untuk terbuka terhadap karya Allah, kepandaian manusia tidak pernah akan cukup untuk mengenal Allah. Tuhan Yesus adalah Sumber Kehidupan, untuk mengenal Dia harus dimulai dengan percaya dan menerima Dia sebagai Juruselamat pribadi, itulah “lahir baru”. Bagi orang yang percaya, Tuhan Yesus mengaruniakan Roh Kudus di dalam hatinya untuk memimpin dan memperbaharui hidupnya dari hari kesehari.

Proses pembaharuan hati, roh, dan kehidupan merupakan proses perjalanan yang panjang. Seperti yang dialami oleh Abram dan Sarai, dimulai dari pemanggilan Tuhan untuk pergi ke tempat yang tidak mereka ketahui (Kej. 12:1). Meninggalkan keluarga besar berarti meninggalkan perlindungan dan rasa aman, apalagi tempat yang dituju belum diketahui lokasinya maupun keadaan yang sesungguhnya. Abram percaya kepada Allah Sang Pemilik Kehidupan dan mentaati kehendak-Nya. Sikap percaya dan taat tersebut diperhitungkan Tuhan sebagai kebenaran (Roma 4:3).

Masalahnya, perjalanan iman pada kenyataannya tidak selalu mudah, Abram terus menerus diuji imannya terhadap janji Tuhan untuk menurunkan suatu bangsa yang besar. Nikodemus diuji keberaniannya untuk membela Yesus di hadapan para pemimpin Yahudi, kemudian bersama Yusuf Arimatea menurunkan jenazah Yesus dan menguburkannya. Ternyata percaya kepada Tuhan Yesus harus teruji sepanjang hidupnya, melalui berbagai pengalaman hidup yang tidak selalu pasti.

Bagaimana perjalanan hidup kita? Hidup ini tidak selalu mudah, tetapi di dalam ketidakpastian hidup ini ada satu hal yang PASTI, yaitu penyertaan Tuhan di dalam setiap keadaan kita, seperti yang digambarkan oleh pemazmur dalam Maz.121.

Tetap melangkah dan jalani hidup dengan pasti, karena keyakinan bahwa Pertolongan kita datangnya dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi, yang tidak akan membiarkan kita dan yang tidak akan terlelap menjaga kita selamanya.

Pegang yang pasti dalam menjalani hidup yang tidak pasti! Penyertaan Tuhan adalah PASTI. Selamat menikmati penyertaan-Nya senantiasa dalam perjalanan hidup kita. Amin.
ESS

     

5 Maret 2017
BERSAMA ALLAH DALAM PENCOBAAN
Kej. 2:15-17, 3:1-7; Maz. 32; Roma 5:12-19; Mat. 4:1-11

Hari ini adalah minggu pertama Prapaskah yang merupakan perayaan Karya Sang Ilahi, baik Allah maupun Kristus. Sedangkan hari-hari lainnya di luar hari Minggu selama masa Prapaskah merupakan hari-hari penghayatan peristiwa kemenangan Kuasa yang Ilahi melawan kuasa jahat.

Pada zaman Adam dan Hawa, kuasa jahat atau si Penggoda atau si Iblis dalam bentuk binatang Ular, dapat membujuk dan mengalahkan Adam dan Hawa melalui tipu daya “Firman Allah yang dipelintir” yaitu “... sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kej. 2:17b) diubah atau dipelintir oleh ular menjadi “Sekali-kali kamu tidak akan mati, .... dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat”. (Kej. 3:4-5).

Rupanya tipu daya “Pelintiran Firman” dipraktekkan kembali oleh si Penggoda / Iblis kepada Yesus sesaat setelah Dia dibaptis dan telah berpuasa 40 hari 40 malam. Tenyata tipu daya tersebut tidak berhasil, meskipun dilakukan sebanyak tiga kali dengan cara dan pendekatan yang berbeda. Pertama, kelaparan tubuh Yesus dicobai oleh si Penggoda dengan perintah supaya batu-batu ini menjadi roti (Mat. 4:3). Cobaan kedua dengan pendekatan memaksakan dan memamerkan kuasa Ilahi yang dimiliki Yesus untuk menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah. (Mat. 4:6). Cobaan ketiga dengan pendekatan pemberian kekayaan, kuasa dan kemegahan duniawi yang fana, bila Yesus mau menyembah Iblis (Mat. 4:8-9).

Melalui sikap dan ucapan-ucapan yang tegas dan benar, Yesus kristus memenangkan pencobaan di padang gurun tersebut. kitapun bila bersama Allah dalam pencobaan, dimampukan mengatasi pencobaan hidup kita dengan penuh kemenangan seperti Yesus Kristus. Artinya kita semua memperoleh pengharapan keselamatan, bila kita bersama Allah dalam segala pencobaan di dunia ini.

Peristiwa pencobaan tersebut kiranya perlu dipahami juga sebagai anugerah Allah, sebagai bukti kebesaran Allah yang memegahkan karya keselamatan Kristus dan Allah yang berempati kepada kelemahan manusia. Oleh karena itu kiranya setiap kita bersama Allah merayakan kemenangan Kristus atas godaan si Iblis dengan turut setia bersama Allah melawan dan memenangkan setiap godaan hidup kita sehari-hari. Amin.
BHS

 

26 Februari 2017
KEMULIAAN TUHAN MEMULIHKAN KEHIDUPAN
Keluaran 24:12-18; Mazmur 2; 2 Petrus 1:16-21; Matius 17:1-9

Minggu ini merupakan minggu Transfigurasi adalah peringatan pada peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung. Namun banyak umat Kristen kurang memahami, sehingga biasanya berlalu begitu saja. Transfigurasi sebenarnya memiliki makna penting dalam penghayatan iman Kristen. Banyak umat Kristen percaya bahwa Yesus adalah Tuhan secara begitu saja tanpa pemahaman. Hal ini juga yang menjadi pengalaman iman saya, sampai pada percakapan saya dengan teman-teman Muslim. Mengapa umat Muslim tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan padahal Isi Al-Qur’an adalah Kitab Taurat, Kitab Zabur/Mazmur, Injil. Umat Muslim mengakui Yesus atau Isa sebagai Almasih (bahasa Arab=Almasiah, Mesias= Mesiakh (bahasa Ibrani), Kristus= Kristos (bahasa Yunani). Ini sama dengan pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias yang ditulis di Matius 16:16. Mesias berarti “Yang Diurapi”, Seperti Mesias yang dijanjikan Allah yang ditulis dalam Mazmur 2. Namun pengertian Petrus. Yesus adalah manusia biasa/Raja Yang Diurapi Allah, seperti yang dipahami umat Muslim.

Pengakuan Petrus ini terjadi sebelum dia menjadi saksi mata Yesus dimuliakan sebagai Anak Allah, Yaitu Allah sendiri, yang disebut peristiwa “Transfigurasi”. Umat muslim mengklaim bahwa dalam Injil menyatakan Yesus sebagai Mesias bukan Allah. Yang menyatakan Yesus adalah Allah adalah umat Kristen sendiri melalui Pengakuan iman yang ditulis oleh Raja Constantinopel sebagai Paus dalam konsili Vatikan, yang kita ucapkan sebagai pengakuan iman rasuli. Banyak umat Kristen tidak memahami dan menghayati peristiwa Transfigurasi sebagai bukti bahwa Yesus adalah Allah.

Petrus yang mengaku Yesus sebagai Mesias, menjadi saksi mata bahwa Yesus adalah Allah melalui kemuliaannya, di mana bersama Yakobus dan Yohanes (tiga orang saksi mata adalah sah). Yesus berubah rupa di depan mata mereka, wajah-Nya berubah seperti matahari bersinar terang” (Matius 17:2). Kemuliaan yang sama disaksikan Musa di atas gunung Sinai yang ditulis dalam Kitab Keluaran 24:12-18. Tampak Yesus bersama Musa yang mewakili Taurat yang diturunkan Allah dan Elia yang mewakili para Nabi yang diutus Allah.

Petrus, Yakobus dan Yohanes juga mendengar suara yang berkata :”Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia”. (ay.5). Kesaksian Petrus ditulis pada Surat 2 Petrus 1:16-21 meneguhkan umat percaya bahwa: Yesus adalah Tuhan Yang Mahamulia, Di dalam Yesus ada perkenan Allah, Perkataan-Nya/Firman-Nya harus ditaati. Maka tersungkurlah mereka menyembah Yesus sebagai Tuhan.
Peneguhan ini memulihkan kegalauan para murid setelah mereka mendengar perkataan Yesus yang harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga, (Matius 16:21) Jika umat Kristiani menghayati peristiwa Transfigurasi Yesus, kita menyembah Yesus sebagai Tuhan Yang Mahamulia, Dia yang memegang kendali, tidak ada apapun yang terjadi tanpa seijin Dia. Masa depan kita ada dalam genggaman tangan-Nya dan Kasih-Nya tidak berkesudahan. Amin.
tonny iskandar

     

19 Februari 2017
MELEPAS KEINGINAN MEMBALAS
Im. 19:1-2,9-18; Mzm. 119:33-40; 1 Kor. 3:10-11,16-23; Mat. 5:38-48

Membalas kebaikan dengan kebaikan, ataupun membalas kejahatan dengan kebaikan, tentulah sangat baik. Sayangnya, demi untuk mempertahankan harga diri atau mencapai tujuan tertentu, terkadang yg terjadi adalah justru hal yg sebaliknya. Firman Tuhan mengingatkan, orang yang menyimpan kebencian, menuntut balas, menaruh dendam, berbuat curang dalam peradilan, menyebarkan fitnah, mengancam hidup orang lain, dan melakukan kejahatan lainnya, akan mendatangkan dosa bagi dirinya sendiri. Allah menghendaki umat-Nya kudus, seperti Ia sendiri kudus (Im 19:1-2,9-18).
Orang percaya yang dapat membalas kejahatan dengan kebaikan, dan mengalah, bukanlah orang yang kalah, tetapi justru menjadi pemenang iman.

Ketika hati kita memberontak, dan merasa tidak rela untuk mengalah, kita dapat memohon kepada Tuhan, agar kita diberi kemampuan untuk taat kepada Tuhan sampai saat terakhir. Kita bukanlah pendengar- saja, tetapi pelaku firman. Orang yang takut akan Tuhan, dan berpegang kepada perintah Tuhan, akan berbahagia, tidak mendapat malu, mendapatkan kasih setia Tuhan, hidup dalam kelegaan, berpengharapan, mendapat penghiburan dalam sengsara, dan menerima keselamatan kekal (Mzm 119).

Rasul Paulus menggambarkan tiga macam orang di dunia, yaitu manusia duniawi, manusia rohani, dan orang Kristen duniawi. Termasuk yang manakah kita? Kita mengaku sebagai pengikut Kristus, tapi kehidupan kita masih selalu mengandalkan hikmat manusia duniawi.

Membalas kejahatan dengan hal yang lebih jahat lagi, mungkin secara duniawi sangat logis, atau masuk akal. “Rasain lu!” (Rasakan lebih dari apa yang pernah saya rasakan!). “Biar kapok!” (Jangan kau ulangi lagi perbuatanmu!). Tetapi sebagai orang Kristen, dasar hidup kita adalah Kristus. Kita hidup dalam kasih karunia Allah, menjadi bait Allah (rumah di mana Roh Allah berdiam), milik Allah yang kudus, terus mencari hikmat Allah (berpikir seperti yang Allah pikirkan). Allah tidak pernah berpikir jahat, dan merancangkan kesia-siaan. Ia mempertobatkan, bukan membinasakan, ataupun mencelakakan (1 Kor 3:10-11,16-23).

Kristus mengajar kita, agar tampil beda dibandingkan dengan manusia duniawi. Walaupun sulit, tapi karena pengenalan kita akan Allah, kita bisa mengasihi dan berdoa bagi musuh kita, sehingga kita tidak mempunyai musuh lagi, dan memenangkan hidup mereka (Mat. 5:38-48). Kiranya Bapa yang di sorga senantiasa menguduskan dan menyempurnakan kita semua. Amin.
Nancy Hendranata

 

12 Februari 2017
MEMILIH KEHIDUPAN
Ul. 30:15-20; Maz. 119:1-8; 1 Kor. 3:1-9; Mat. 5:21-37

Allah sebagai Pencipta dan Pemilik kehidupan memberi kehendak bebas pada manusia untuk memilih, tentu masing-masing pilihan mempunyai konsekuensinya sendiri. Menjelang akhir hidupnya Musa memperhadapkan umat Israel kepada pilihan yang menentukan masa depan mereka, “... aku menghadapkan kepadamu ... kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan,..” (Ulangan 30:15). Ada peran dan tanggungjawab umat yang tidak bisa dikesampingkan: memilih!

Musa : karena kasih Allah, menaati dan melakukan perintah-Nya mestinya bukan perkara yang sulit dan mustahil. “Sebab perintah ini…tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh... firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu,…” (Ul. 30:11-14). Dengan demikian, Musa mau menegaskan bahwa umat bisa, ini tergantung hati kita “mengalami Allah atau tidak”, ini juga pilihan hati : “mau atau tidak!?”

Apakah untungnya hidup taat dan setia kepada Allah? Tidak kurang dari seratus tujuh puluh enam ayat (Maz. 119), pemazmur menggubah syair untuk mengungkapkan kehidupan yang penuh bahagia ketika seseorang memilih taat, setia dan mengasihi Allah dengan melakukan perintah-Nya.
Yesus tampil berhadapan dengan hukum yang selama ini telah begitu kaku. Yesus menegaskan, “Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Mat. 5:17). Dalam bahasa Yunani, kata menggenapi mengandung pengertian “mengisi”. Serupa dengan mengisi tempayan air atau alat takaran gandum agar menjadi penuh. Hal ini menandakan bahwa ada “kekosongan” ketika umat melakukan hukum TUHAN. Kedatangan-Nya membawa kepenuhan takaran yang dikehendaki oleh Allah, sedangkan kepenuhan itu adalah “kasih”.

Yesus sangat mengerti isi hati manusia – inilah yang menjadi perhatian serius dari Yesus: isi hati manusia! Hati yang penuh dengan kemarahan, kebencian, keinginan untuk melenyapkan, membinasakan. Yesus dengan kematianNya-disalibkan, berkorban dan mengampuni, telah memotivasi manusia agar hidup dan hatinya penuh dengan kasih. Sebagaimana mendendam, perzinahan merupakan tindakan yang menjadikan sesama sebagai obyek pemuasan diri. Maka berzinah berarti ia tidak memilih kehidupan yang benar dan indah. Ia sedang merancang masa depan suram dan kematian!

Sepintas apa yang diajarkan Yesus begitu ekstrim. Namun, sebenarnya Ia ingin agar inti dari permasalahan yang selama ini hati belum tergenapi, tersentuh dan terisi kasih. Yesus : “Jika matamu yang kanan menyesatkan engkau,” kata Yesus, “cungkilah dan buanglah itu!” Yesus mau mengatakan bahwa masalahnya bukan pada tangan, kaki, atau mata kita – yang bermasalah adalah hati kita! Tubuh kita memang terlibat dalam tindakan dosa, tetapi pelaku kejahatan yang sebenarnya ada adalah di dalam diri dan imajinasi kita, di dalam hati kita. Itulah yang sedang digenapi oleh Yesus. Dia datang untuk mengisi, membuat penuh hukum TUHAN dengan cinta kasih yang benar.
Pertanyaan untuk kita: “Apakah hati kita sudah dipenuhi oleh cinta kasih kepada Tuhan?” Kalau itu sudah terjadi maka, tepat jika kita memilih kehidupan dan keberuntungan!
PKM

     

5 Februari 2017
PANCARKAN TERANGMU
Yes. 58:1-12; Maz. 112:1-10; 1 Kor. 2:1-16; Mat. 5:13-20

Kamu adalah garam dunia dan terang dunia, demikian Tuhan Yesus menyebut mereka yang sedang duduk mendengar pengajaran TuhanYesus di bukit (Mat. 5:13-14). Garam dan terang merupakan 2 unsur yang memiliki arti penting dalam kehidupan manusia. Tanpa garam, makanan menjadi hambar dan tidak enak. Tanpa terang, dunia ini akan gelap dan itu tanda dari tidak adanya kehidupan. Maka dengan cukup sederhana Tuhan Yesus ingin pendengarnya untuk menjadi pribadi yang menggarami memberi rasa sedap di tengah dunia ini. Dan menjadi pribadi yang menerangi semua orang sehingga mereka memuliakan Bapa di sorga.

Dalam Mat 5:13 Tuhan Yesus mengingatkan agar garam tidak tawar bukan agar tidak keasinan. Meski tidak berkaitan dengan garam yang keasinan, kita tetap bisa memaknai bahwa garam itu harus pas, tidak tawar dan tidak keasinan. Sehingga sebagai murid, kita diingatkan untuk menjadi garam yang menggarami dunia ini dengan pas dan tepat. Namun menjadi pribadi yang menggarami dengan ukuran yang pas dan tepat pastilah tidak mudah, karena itu kita perlu bertanya dan terus bergumul bersama Tuhan untuk bisa melakukannya.

Demikian juga halnya dengan undangan Tuhan agar kita menjadi terang yang menerangi semua orang tentu tidak mudah. Jika terlalu terang dan panas bisa membutakan dan membakar orang lain. Menjadi terang yang memancarkan terang yang pas dan yang membuat orang memuliakan Tuhan, maka sama seperti gambaran sebagai garam, kita perlu belajar untuk membangun hubungan yang intim dengan Sumber Terang itu. Jadi untuk menggarami dan menerangi orang, sehingga mereka memuliakan Tuhan, maka kita membutuhkan hikmat!

Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan (Maz. 111:10a). Dan Orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang berbahagia (Maz. 112:1). Ia tidak takut kabar celaka, karena ia percaya penuh kepada Tuhan (Maz. 112:7). Hikmat itulah yang akan membimbing ia agar menjadi terang dan garam yang tepat dan pas, seperti yang dinasehatkan oleh Paulus dalam 1 Kor. 2:5 yaitu supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.
Inilah undangan dari Tuhan untuk kita menggarami dan menerangi sekeliling kita agar mereka memuliakan Tuhan. Pancarkanlah terangmu dengan kekuatan dan hikmat yang dari Allah. Tuhan memberkati.
ds.theol

 

29 Januari 2017
PARA PEMILIK KEBAHAGIAAN”
Mikha 6:1-8; Maz. 15; 1 Kor. 1:18-31; Mat. 5:1-12

Kata bahagia selalu menarik perhatian banyak orang. Orang akan berkata siapa yang tidak ingin bahagia? Kemudian berbagai cara di tempuh untuk bahagia. Kebahagian pun seringkali dimaknai apabila kita memiliki benda-benda tertentu, punya status sosial atau bergaya hidup tertentu. Akhirnya untuk mendapatkan “kebahagiaan” itu orang memilih untuk menghalalkan segala cara termasuk menipu, menindas, atau mengambil yang bukan haknya. Gaya hidup yang konsumtif dan glamour pun lekat dalam definisi orang-orang yang dikatakan berbahagia. Tidak jarang ingin mendapatkan segala sesuatu dengan mudah dan cepat. Maka tidak heran jika ada orang yang bisa melakukan eksploitasi seks, konsumsi narkoba, bahkan menjadi pengedar. Sedemikiankah potret manusia dalam mencari kebahagiaan? Apakah kebahagian benar-benar kita dapatkan? Ataukah kehampaan yang terus mengusik perasaan kita?

Lantas apa makna bahagia itu sendiri? Mari kita melihat bagaimana Yesus mengajarkan kepada kita akan arti kebahagiaan itu (Matius 5:1-11). Dalam pengajaran Yesus di bukit sepuluh ayat berturut-turut Yesus mengatakan “berbahagialah”. Kata “berbahagialah” bukanlah lagi harapan yang akan terjadi atau keadaan yang akan datang atau sekedar kata menghibur hati. Tetapi sebagai ucapan selamat yang artinya bagaimana pengikut Yesus seharusnya hidup supaya mendapat kebahagiaan sejati yang sebenarnya sudah tersedia bagi kita semua dan tidak perlu kita cari lagi.

Oleh karena itu mari kita melihat makna kebahagiaan yang diungkapkan dalam empat hal ini.
Pertama, kebahagiaan bukan bergantung pada apa yang dirasakan atau dialami oleh seseorang. Ditengah berbagai definisi kebahagian yang seringkali bersumber pada kepemilikan, dalam ayat 3 Yesus ingin menegaskan bahwa kebahagiaan adalah saat kita menekankan sesuatunya di dalam Allah bukan lagi milik kita sebagai subjeknya.

Kedua, kebahagiaan menjadi milik setiap orang yang tahu menempatkan apa yang seharusnya menjadi prioritas. Ayat 6 menuliskan berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, dan tidak mementingkan kelaparan dan kehausan akan perkara-perkara yang lain yang belum tentu bermanfaat bagi kita.
Ketiga, kebahagiaan adalah milik orang yang mengerti bagaimana menghargai dirinya dan sesama. Ayat 5 dan 7 mengajarkan kita untuk mampu menempatkan dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang orang lain bukan hanya mementingkan dari sisi kita saja.
Dan yang keempat kebahagiaan menjadi milik orang yang suci hatinya(ayat 8). Kita akan merasakan kebahagiaan itu jika kita memiliki hati yang murni dan tulus tanpa ada motivasi atau kepentingan lain kepada sesama.

Orang-orang yang berbahagia adalah orang yang membawa damai. Melibatkan diri dalam pekerjaan Allah. Damai adalah segala sesuatu yang membuat dan membawa kebaikan bagi manusia. Itulah sebabnya orang yang membawa damai disebut sebagai anak Allah. Para pembawa damai tidak akan kehilangan kebahagiaannya, karena sumber kebahagiaan bukanlah terletak pada apa yang dialaminya, yang dapat berubah-ubah, namun kepada Allah yang akan mengubahkan segala sesuatu menjadi kebaikan.

Pada akhirnya, untuk keadaan paling buruk sekalipun yaitu dicela, dianiaya,serta difitnahkan segala sesuatu yang jahat, orang-orang yang disebut sebagai pengikut Kristus akan tetap disebut berbahagia karena Yesus menegaskan kepada kita bersukacitalah dan bergembiralah karena kita sudah mendapat bagian dalam kebahagiaan sejati yang disediakan Sang Sumber Kebahagiaan.
Joice

     

22 Januari 2017
MEMBERITAKAN INJIL DENGAN KEKUATAN ALLAH
Yes. 9:1-4; Maz. 27:1, 4-9; 1 Kor. 1:10-18; Mat. 4:12-23

Perintah Tuhan Yesus untuk memberitakan Injil tak asing bagi orang Kristen (Mat. 28 : 19-20). Perintah itu dimaksudkan, agar keselamatan yang telah diterima dan dialami oleh orang Kristen jangan dimonopoli bagi dirinya sendiri, melainkan juga dibagikan kepada sesama manusia. Itu berarti, bahwa orang Kristen dianjurkan untuk peduli dan memerhatikan orang-orang di sekitarnya. Tentu pada awalnya adalah pasangannya, orangtuanya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, kemudian kerabatnya, sanak familinya, menyusul tetangganya, dan seterusnya. Urut-urutan itu tidak berarti harus menunggu secara bergilir, sebab jika memungkinkan siapa pun boleh saja mendahului / meloncat kepada yang lain secara simultan, mengingat tindakan memberitakan Injil sebenarnya sedang berpacu dengan waktu, baik karena `selagi masih siang, akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja‘ (Yoh 9 : 4), maupun karena masa hidup seseorang dapat saja mendadak berakhir. Jika seseorang telah meninggal dunia, pemberitaan Injil kepadanya tak ada gunanya.

Sebelum kita memberitakan Injil kepada orang lain, terlebih dahulu kita periksa, sejauh mana Injil itu telah meyakinkan hati kita, sehingga kita percaya kepada Tuhan Yesus dan mengakui-Nya sebagai Juruselamat kita. Ibaratnya, seorang penjual obat tumbuh rambut baru dapat meyakinkan orang lain untuk mau membeli obat yang dijajakannya, jika rambut si penjual itu gondrong. Apa jadinya jika kepala si penjualnya gundul plontos, para calon pembeli tentu tak mau percaya kemujaraban obatnya, bukan? Praktik pemberitaan Injil kita lakukan dengan kata-kata (verbal) dan perbuatan.

Biasanya orang Kristen enggan untuk memberitakan Injil dengan kata-kata. Alasannya, malu ah, kok seperti pendeta saja. Kalau begitu, perilaku kehidupan itulah wujud pemberitaan Injil para anggota jemaat. Hal itulah yang diperingatkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat Korintus, sebab di tengah jemaat itu ada perselisihan antarsatu anggota dengan anggota yang lain. Tentu kenyataan itu tidak menarik hati orang non-Kristen untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Alasannya, yang sudah Kristen pun masih berselisih. Tepat jika ada orang yang menggambarkan kehidupan orang Kristen itu seperti kehidupan ikan di dalam aquarium, ke mana pun orang Kristen pergi dan di mana pun orang Kristen berada selalu dilihat oleh warga masyarakat.

Pada hal justru sukacita dalam kehidupan Kristen itulah yang merupakan kekuatan Allah untuk memberitakan Injil kepada orang lain di tengah masyarakat. Sejak zaman Tuhan Yesus, proses itu berlangsung mulai dari 4 orang murid (Mat. 4 : 18-22), 12 orang murid (Mat. 10 : 1-4), 70 orang murid (Luk. 10: 1-12, 17-20), 120 orang murid (Kis. 1 : 15), 3000 orang murid (Kis. 2 : 41), hingga ratusan juta orang murid pada dewasa ini. Maka sebagai bagian dari hmpunan para murid Tuhan Yesus di dunia, kita pun wajib memberitakan Injil kepada sesama manusia. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

15 Januari 2017
MELANGKAH DALAM INTEGRITAS
Yes. 49:1-7; Maz. 40:1-11; 1 Kor. 1:1-9; Yoh. 1:29-42

Orang beragama Kristen tidak sama dengan menjadi murid Kristus. Maksudnya orang Kristen belum tentu menjadi murid Kristus, tetapi murid Kristus pasti menjadi orang Kristen. Ungkapan di atas akan menjadi jelas setelah kita membahas renungan di bawah ini.

Ada empat hal penting dalam pembahasan firman ini.
Pertama, Allah memanggil orang-orang untuk menjadi murid-Nya. Andreas, Simon Petrus, Filipus dan Natanael, mereka dipanggil Yesus secara pribadi untuk menjadi murid-murid-Nya, dengan latar belakang yang berbeda-beda dan memiliki identitas yang baru yaitu sebagai murid Yesus. Pengalaman ini juga yang dialami oleh rasul Paulus, bahwa ia dapat menjadi hamba Kristus, pelayan Kristus karena kehendak Allah.
Kedua, Murid-murid Yesus dituntut untuk hidup sesuai dan selaras dengan status yang baru sebagai murid Yesus. Yesus harus menjadi sentral kehidupannya, karakter, model dan gaya kehidupan bagi para murid-Nya. Ini yang disebut sebagai integritas; integritas berarti gaya hidup yang sesuai dan selaras dengan status/ identitasnya. Inilah yang membedakan antara orang beragama Kristen dengan murid Yesus. Banyak orang yang mengaku sebagai orang Kristen tetapi gaya hidupnya seperti orang kafir/ orang yang tidak ber-Tuhan. Orang dapat disebut sebagai murid Yesus jika mereka benar-benar memiliki karakter sebagai murid Yesus Kristus, seperti yang dijelaskan dalam Matius 16:24, yaitu menyangkal dirinya. Ini berbicara tentang pertobatan, pembaharuan hidup, ciptaan baru, kehidupan yang baru, yaitu meninggalkan kehidupan dosa. Memikul salib berarti berbicara tentang harga yang harus dibayar sebagai seorang murid, pengorbanan, siap menderita karena iman, siap memberikan hidupnya bagi Tuhan dan sesama. Mengikut Yesus berarti mentaati kehendak Yesus dan tekun sampai mati, seperti Kristus taat pada Bapa-Nya sampai mati di kayu salib.

Ketiga, Andreas mengalami perjumpaannya dengan Yesus secara pribadi, ia menjadi murid Yesus, dan memiliki identitas yang baru. Ia membagikan pengalaman iman itu kepada saudaranya yaitu Simon dan seterusnya kepada orang lain. Pengalaman iman tidak untuk dinikmati sendiri, tetapi juga dibagikan kepada saudaranya, ini hal yang sangat penting. Simon Petrus, Filipus dan Natanael tidak akan menjadi murid Yesus jika tidak ada yang memperkenalkannya, mengajaknya dan mewartakannya.
Anggota keluarga kita, saudara kita, teman kita, sahabat kita dan tetangga kita tidak dapat mengenal Kristus jika kita tidak mewartakanNya, menawarkanNya dan memperkenalkanNya. Melalui renungan ini mari kita berjuang bukan untuk menjadi orang beragama Kristen, tetapi berjuang untuk menjadi murid Kristus. Murid Kristus yang hidup sesuai dengan karakter Kristus, yang berarti hidup berintegritas. Mari kita membagikan pengalaman iman itu kepada yang lain, supaya yang lain pun mengalami perjumpaan dengan Yesus. Tuhan memberkati. Amin.
RDL

 

     

8 Januari 2017
BAPTISAN SEBAGAI TANDA
Yes. 42:1-9; Mzm. 29; Kis. 10:34-43; Mat. 3:13-17

Tidak semua orang yang percaya kepada Kristus mau dibaptis, mengapa? Alasannya takut, kalau sudah dibaptis, nantinya harus ke gereja terus tiap Minggu. Alasan yang lain, karena melihat hidup orang yang sudah dibaptis, tidak berubah menjadi anak Tuhan yang lebih baik.
Kalau baptisan hanya kita lakukan karena tradisi, maka baptisan tidak akan ada dampaknya bagi kita. Hidup kekristenan kita akan sama saja, baik sebelum maupun setelah dibaptis.
Ada orang Kristen yang rajin melayani di gereja, tapi kehidupan sehari-hari mereka tidak mencerminkan sebagai anak-anak Tuhan. Kekristenan, baptisan, melayani di gereja, hanyalah tradisi turun temurun. Tradisi ini tidak mewarnai perilaku sehari-hari. Di gereja mereka terlihat baik, tapi di luar gereja mereka belum sungguh-sungguh religius. Mereka bagaikan orang Kristen yang hanya bajunya saja, bukan hatinya, hanya kulitnya, bukan isinya.

Yohanes Pembaptis berseru-seru di padang gurun Yudea, agar manusia bertobat. Lalu datanglah penduduk dari Yerusalem, seluruh Yudea, dan seluruh daerah Sungai Yordan, mengakui dosa, bertobat, dan dibaptis oleh Yohanes di Sungai Yordan. Tapi ketika orang-orang Farisi dan Saduki datang juga untuk dibaptis, Yohanes menasihatkan mereka, agar mereka benar-benar bertobat terlebih dahulu, dan menghasilkan buah sesuai dengan pertobatan (Mat. 3:2-9). Baptisan bukan karena ikut-ikutan, juga bukan karena tradisi keluarga, tapi baptisan adalah tanda pertobatan. Yesus juga minta dibaptis oleh Yohanes. Apakah Dia manusia berdosa, sehingga harus bertobat, dan dibaptis oleh Yohanes? Yesus dibaptis bukan untuk pertobatan, karena memang tidak ada yang perlu dipertobatkan di dalam diri-Nya. Yesus mengatakan, bahwa Dia dibaptis untuk menggenapi seluruh kehendak Allah (Mat. 3:13-16). Apa kehendak Allah dalam diri Tuhan Yesus, sehingga Ia harus turun ke dunia? Tuhan Yesus harus mati untuk menebus dosa-dosa manusia.

Yesus dibaptis, setidaknya kita pahami, karena :
1. Ia menunjukkan solidaritasnya dengan manusia. Ia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia, sama dengan manusia, orang-orang yang akan ditebus dan diselamatkan-Nya. Dia disamakan dengan mereka dalam segala hal, hanya Dia tidak berdosa (Ibr. 2:17)
2. Baptisan adalah kematian terhadap dosa, dan kebangkitan dari kuasa dosa. Yesus menyatakan kebangkitan-Nya didahului oleh kematian-Nya
3. Baptisan menjadi tanda awal untuk memulai pelayanan Yesus. Baptisan adalah tanda pembasuhan sebagaimana yang dijalani oleh para imam untuk memulai pelayanannya untuk mewakili kaum Israel di hadapan Tuhan (Kel. 29:4, Im. 8:24). Baptisan Yesus merupakan tanda yang harus dijalani oleh Yesus sebagai imam yang akan menanggung dosa manusia

4. Setelah dibaptis, Roh Kudus turun ke atas-Nya. Roh Kudus inilah yang akan menolong dan menguatkan manusia Yesus dalam menjalankan misi-Nya di dunia.
5. Setelah dibaptis, Allah sendiri memproklamirkan, bahwa Yesus adalah Anak-Nya yang dikasihi dan diperkenan-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya (Mat. 3:17; Kis. 10:34-42). Keselamatan adalah bagi semua bangsa, semua orang yang percaya kepada-Nya (Kis. 10: 43)

Nabi Yesaya sekitar 700-an tahun sebelumnya sudah menubuatkan tentang seorang hamba Tuhan yang dipilih dan diperkenan oleh Tuhan untuk menolong, menyelamatkan, dan menjadi terang bagi bangsa2 (Yes. 42:1-9). Bangsa Israel pada waktu itu sedang mengalami penindasan yang amat sangat dari bangsa Babel. Mereka berseru kepada Tuhan, mengapa Ia membiarkan mereka hidup menderita. Dunia mereka serasa gelap, dan masa depan juga begitu gelap, tanpa ada pengharapan sama sekali. Sama seperti kita, ketika menghadapi masalah yang besar, mungkin ada yang bertanya kepada Tuhan : “Tuhan, saya percaya Tuhan ada, tapi mengapa Tuhan mendiamkan, dan tidak menolong saya?” Yesaya menubuatkan, kepada hamba-Nya inilah Allah berkenan, dan menaruh Roh-Nya ke atas hamba-Nya. Tuhan tidak berkenan kepada sikap umat-Nya yang bergantung kepada patung (Yes. 42:8). Pertolongan kita datangnya hanyalah dari Tuhan Yesus, bukan dari patung atau berhala-berhala yang lain. Ketika kita mengalami kesulitan, hanya Tuhan Yesus yang dapat membebaskan kita. Ketika dunia serasa gelap, Tuhan Yesus yang akan menjadi terang bagi kita.

Pemazmur menyatakan, kemuliaan, kekuatan, kekuasaan hanya ada pada Tuhan. Ia-lah Raja untuk selama-lamanya. Hanya Tuhan sendirilah yang dapat memberikan kekuatan, dan memberkati umat-Nya dengan sejahtera (Mzm. 29).

Marilah Saudara dan saya merenungkan, sudahkah baptisan kita bermakna sebagai tanda pertobatan, percaya kepada Tuhan Yesus, dipersatukan dengan semua orang percaya sebagai satu tubuh Kristus, kesediaan diri untuk terus dibaharui, serta menjalani hidup yang berkenan kepada Allah? Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Nancy Hendranata

 

1 Januari 2017
BERKARYA KEBAIKAN DEMI MASA DEPAN
Pengkhotbah 3:1-13; Mazmur 8; Wahyu 21:1-6; Matius 25:31-46

Apa arti hidup ? Hidup itu adalah tugas, tekunilah. Yang lain mengatakan : Hidup adalah perjalanan, tempuhlah. Hidup adalah pemberian, hargailah. Jika kita mau dengar pendapat banyak orang, maka jawabnya mungkin akan berbeda-beda. Bagi kita yang ingin hidup bermakna, maka kita mesti memanfaatkan hidup ini, karena hidup tidak berulang. Sebagaimana di katakan orang di atas, hidup sebagai pemberian, namun akankah kita hanya isi dengan rutinitas saja? Tanpa gairah, tanpa tujuan, bahkan tidak ada sesuatu yang baik dan berarti? Hari ini, banyak orang hidupnya hanya mengulang dari apa yang pernah dilakukan, tanpa ada kerinduan untuk memberi lebih dari yang sebelumnya. Semua terjadi berulang, dan berlalu seperti hari kemarin.

Hari ini kita memasuki tahun baru 2017, penting untuk kita merenungankan : resolusi (pemecahan masalah) apa yang telah kita buat di tahun baru ini ? Firman Tuhan hari ini, menolong kita untuk bagaimana kita mengisi tahun baru kita.
Yang pertama : mengingatkan kita bahwa hidup yang kita jalani tak selamanya berjalan dengan mulus. Seringkali terjadi ada interupsi dari Tuhan yang menyadarkan kita, betapa rapuhnya kita. Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk untuk tertawa, ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari (Pengkhotbah 3:4). Tidak selamanya kita berhasil, tidak selamanya kita tertawa, kadang menangis, meratapi nasib buruk yang kita alami. Namun disadari atau tidak, kenyataan ini membawa kita pada kesadaran betapa kita membutuh Tuhan. Menolong kita untuk merendahkan diri, tetapi yakin bahwa semua dapat menjadi kebaikan bagi yang mengasihi Dia.
Kedua, dengan banyaknya interupsi yang di-ijinkan Tuhan terjadi dalam jalan hidup kita menolong kita untuk menyadari bahwa perjalanan hidup kita, bukan bukan sekedar berjalan, tetapi bagaimana kita mengisi dengan yang bermakna. Hidup bukan sekedar terjadinya urut-urutan peristiwa (kronos) tetapi juga kairos, yakni kesempatan dari Tuhan. Memaknai hidup sebagai kesempatan, akan menjadikan kita ingin menggunakannya dengan baik. Yakni berbuat kebaikan di masa depan kita, agar hidup ini tidak menjadi sia-sia

Pengkhotbah 3 mengingatkan kita bahwa ada waktu untuk lahir tetapi juga ada waktu untuk mati. Peristiwa kematian adalah akhir dari kehidupan manusia di dunia, dimana kesempatan untuk berbuat kebaikan tidak ada lagi.
Ketiga, Firman Tuhan mengingatkan kita agar kita menjadi domba bukan kambing. Maksudnya seperti yang disampaikan oleh penulis Matius, bahwa akan datang waktu dimana akan datang penghakiman dimana Tuhan Yesus sebagai Hakim, akan menghakimi setiap orang (selain iman) berdasarkan perbuatan (dari imannya). Ketika manusia hanya mengisi hari-harinya sebagai rutinitas saja, atau waktu sebagai kronos – manusia bisa kehilangan kemanusiaannya, hanya seperti robot – hidupnya hanya rutinitas yang menjemukan. Dan akhir dari semua itu adalah penghakiman. Dimana, bila tidak bisa lagi berbuat kebaikan (mengasihi) sesama. Ketika datang penghakiman maka habislah sudah kesempatannya.
Tuhan tahu bahwa hidup kita bernilai, bermakna atau tidak bagi sesama yang hina, lemah dan membutuhkan pertolongan. Kepada yang mengasihi, membantu sesama yang hina, itu sama dengan berbuat mengasihi Tuhan (melalui sesama).
Ke-empat, firman Tuhan mengingatkan kita, agar memakai hidup ini untuk berbuat kebaikan. Selagi ada waktu, kita dipanggil untuk melakukan kebaikan. Kebaikan menurut firman Tuhan adalah memanusiakan sesama. Melakukan kebaikan bagi yang paling hina. Dengan kebaikan berarti kita mengisi waktu sebagai kesempatan. Pada akhirnya layak sebagai domba (Matius 25:32-33).

Marilah kita mengisi tahun baru kita, bahkan setiap kesempatan agar segala sesuatu yang selalu ada waktunya itu : juga indah pada waktunya. Mari kita gunakan selagi masih ada waktu, karena ada waktunya kita tidak bisa berbagi lagi. Mari kita ingat bahwa kita ini apa dan siapa kita. Agar bisa berbuat dengan tulus, kita bisa belajar dari Pemazmur yang menyadari keberdosaannya.
PK

     
 
TAHUN 2016
 
     
 

25 Desember 2016
Keluarga Terang yang Menerangi Sekitarnya
Yesaya 52:7-10; Mazmur 98; Ibrani 1:1-12; Yohanes 1:1-14

Terang sesungguhnya yang menerangi setiap orang sedang datang ke dalam dunia, itulah Yesus Kristus. Jadi Yesus Kristus adalah sumber terang itu sendiri. Jika keluarga kita ingin menjadi terang bagi sekitar kita, maka kita harus memiliki terang itu sendiri, yaitu memiliki Yesus dalam kehidupan keluarga kita. Hanya orang yang percaya dan menerima terang itu, maka ia tidak akan hidup dan berjalan dalam kegelapan, tetapi akan hidup dan berjalan dalam terang. Dunia membutuhkan terang, atau dunia membutuhkan Yesus, karena dunia telah rusak dan gelap karena dosa. Itulah sebabnya, Yesus datang ke dalam dunia untuk menerangi.

Pertanyaan untuk kita renungkan bersama adalah bagaimana kita bisa menjadi terang? Konkretnya bagaimana? Pertama, kita secara pribadi harus memiliki terang itu, memiliki Yesus di dalam diri kita. Kita di dalam Yesus, dan Yesus di dalam kita, dengan demikian terang itu akan bercahaya melalui hidup kita. Kedua, secara konkret dalam kehidupan keluarga adalah hubungan yang harmonis antara suami-istri, orang tua-anak, akan menjadi contoh bagi orang-orang disekitar kita. Perkataan-perkataan yang positif, membangun, menyejukkan, memotivasi, bersyukur selalu akan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.

Dalam konteks pekerjaan, jika kita mengerjakan tugas dan tanggung jawab kita dengan baik, benar, jujur maka itu akan menjadi berkat bagi rekan kerja, perusahaan dan bagi keluarga. Dalam konteks bisnis dan usaha, jika kita menjalankan bisnis dengan jujur, memperhatikan etika/ norma-norma bisnis, dan tidak keluar dari nilai-nilai iman Kristen, maka itu akan menjadi berkat bagi rekan bisnis, bagi orang lain dan bagi keluarga. Dalam konteks pelayanan kita, jika kita melayani dengan tulus, penuh kasih, tidak memandang muka, tidak mementingkan diri sendiri, maka itu akan menjadi berkat bagi jemaat yang dilayaninya, maupun orang lain yang memperhatikan kita.

Kesimpulannya adalah dunia ini sungguh-sungguh membutuhkan terang itu. Sebab dunia dari hari ke hari bukan semakin baik, tetapi semakin gelap dan rusak karena dosa. Inilah saatnya orang Kristen & keluarga-keluarga Kristen harus mampu memancarkan sinar, meskipun sinarnya itu kecil, tetapi Tuhan memampukan kita semua untuk tetap bersinar di tengah-tengah dunia yang gelap ini. Amin
RDL

 
     

18 Desember 2016
Keluarga Terang yang Berbagi Kasih
Yesaya 7:10-16; Mazmur 80:1-7, 17-19; Roma 1:1-7; Matius 1:18-25

Minggu Adven keempat ini dilambangkan dengan cinta/kasih (love, agape,tresno). Kasih Allah yang begitu besar kepada umat-Nya sudah tidak tertahankan lagi, sehingga Ia rela hadir – seperti yang dinubuatkan dalam Yesaya 7:14, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” – di dalam rahim seorang perempuan bernama Maria (Matius 1:18 “...., ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, ....”). Namun kasih Allah yang begitu besar ini membuat terkejut dan tidak dapat dipahami oleh Yusuf, tunangan Maria. Yusuf memang seorang yang mengasihi Maria – dari mana kita tahu? nanti akan saya jelaskan – tapi apakah kasih yang dimilikinya saat itu adalah kasih yang diharapkan oleh Allah?

Di dalam Matius 1:18 dikatakan Yusuf adalah tunangannya, tapi tiba-tiba di ayat 19 dikatakan Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Jadi pertanyaannya adalah saat itu terjadi (Maria mengandung dan Yusuf belum tahu anak siapa dalam kandungan itu), status mereka tunangan atau menikah? Dalam tradisi Yahudi ada dua macam pertunangan: 1. Pertunangan – engagement (dijodohkan orang tua saat anak-anak). Pertunangan semacam ini bisa berakhir dengan pembatalan. 2. Pertunangan – bethrotal (terjadi antara dua orang sudah cukup umur). Mereka sudah disebut ‘suami istri’, tetapi mereka belum tinggal bersama dan belum boleh melakukan hubungan sex. Pertunangan ini hanya berlangsung 1 tahun. Pemutusan pertunangan ini dianggap sebagai perceraian dan dianggap sebagai dosa. Pada saat itu, Yusuf dan Maria ada pada pertunangan yang kedua ini – bethrotal. Jadi hubungan Yusuf dan Maria bukan karena perjodohan orang tua, tetapi karena ada cinta di antara mereka.

Yusuf dikatakan seorang yang tulus hati (ay 19 – bahasa Yunaninya dikaios: righteous, kebenaran, orang yang benar). Injil Matius ingin memperlihatkan sosok Yusuf yang memiliki kebenaran namun masih dalam tahap benar menurut dirinya sendiri (dalam PA Umum, Senin 24 Oktober 2016 saya pernah menjelaskan tentang perbedaan dikaios dengan alethei. Secara sederhana, dikaos dapat diartikan kebenaran dalam diri manusia menurut dirinya sendiri dan biasa disebut kebenaran relatif, sedangkan alethei kebenaran dalam diri Allah dan biasa disebut kebenaran mutlak/sejati). Matius ingin mengajak pembacanya menjadi seperti Yusuf yang berproses dari kebenaran relatif menjadi kebenaran mutlak/sejati yaitu tentang Anak dalam kandungan Maria yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa dan itu tanda bahwa Allah menyertai umat-Nya (ay. 20-23). Dan dalam kaitannya dengan cinta atau kasihnya kepada Maria, Matius ingin memperlihatkan proses perubahan cinta/kasih Yusuf menurut kehendaknya pribadi menjadi kasih Yusuf menurut kehendak Allah. Sehingga pada akhirnya Yusuf tetap mengambil Maria sebagai istrinya (ay 24).

Dengan demikian, di dalam perikop ini Matius ingin pembacanya: 1) tidak sekedar tahu dan menyadari tentang kasih Allah pada manusia, yang dengan rela mengutus Anak-Nya ke dalam rahim seorang perempuan; 2) tetapi juga mengajak pembacanya untuk memproses kasih di dalam dirinya menjadi kasih yang terlibat dan masuk dalam rangka keselamatan Allah bagi manusia. Secara simple kita diajak untuk memiliki kasih Allah, kasih Kristus, kasih kudus, kasih putih – agape. Karena itu, di Minggu Adven keempat ini pengharapan, damai, sukacita dan kasih sudah hadir di dalam rahim Maria – tanda kasih Allah pada umat-Nya; dan setiap umat diundang untuk memproses kasihnya (di sini kita mencoba memaknai sebuah proses perubahan cinta manusia menuju cinta Allah melalui sebuah proses degradasi warna ungu menuju putih yaitu merah muda).

Dan karena kita milik Kristus (Roma 1:6), marilah kita berproses dalam kasih itu dengan berupaya membagikan/memancarkan kasih Allah ke seluruh dunia sembari menyambut dan merayakan kelahiran-Nya yang sudah sangat dekat. Tuhanlah Cinta!
dstheol

 

 

11 Desember 2016
Keluarga Terang Keluarga Terang yang Berbagi Sukacita
Yesaya 35:1-10; Maz. 146:5-10; Yakobus 5:7-10; Matius 11: 2-11

Banyak peristiwa dan hal-hal lain yang membuat kita dapat bersukacita dan berbahagia. Bagi anak-anak suasana Natal memberikan sukacita tersendiri karena akan mendapatkan hadiah Natal dari kedua orang tuanya atau dari opah atau omahnya. Bagi orang tua suasana Natal juga membawa sukacita karena semua anggota keluarga bisa berkumpul di rumah dan pergi ke gereja bersama-sama merayakan Natal. Atau suasana natal membawa sukacita karena waktu yang tepat untuk berbagi kehidupan dengan orang lain. Namun demikian situasi dan kejadian-kejadian di sekitar kita seringkali mengganggu kita supaya kita kehilangan sukacita dan kebahagiaan itu.

Dalam Yesaya 35:1-10, menjelaskan tentang nubuatan kedatangan Sang Mesias, Sang Juruselamat. Ketika Ia datang akan memulihkan orang-orang yang terbelenggu oleh berbagai penyakit (ayat 5-6). Orang buta bisa melihat; orang kusta bisa ditahirkan; orang lumpuh dapat berjalan; orang bisu bisa bersorak sorai; orang tuli bisa mendengar; orang mati bisa dibangkitkan. Suasana sukacita dan sorak-sorai bagi orang yang mengalami pembebasan dan pemulihan digambarkan dalam ayat 6b–10. Suasana sukacita dikiaskan seperti mata air memancar di padang gurun dan sungai di padang belantara; tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam air; dan tanah gersang menjadi sumber-sumber air dll. Padang belantara, padang pasir dan padang gurun menjelaskan keadaan yang menyeramkan, tidak ada pengharapan, tidak ada kehidupan, keadaan yang sulit dan penuh ancaman telah diubahkan menjadi mata air yang mengalir. Air menjelaskan tentang kehidupan yang penuh dengan sukacita dan pengharapan. Sukacita ini akan terus mengalir dan mengalir; ini yang disebut sukacita abadi (ayat 10).

Dalam Matius 11:2-11, menjelaskan tentang penggenapan apa yang dinubuatkan oleh Yesaya 35:1-10. Ketika para murid Yohanes diutus untuk bertanya kepada Yesus: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Jawab Yesus: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.”

Ayat ini mau mengatakan bahwa Yesuslah yang telah melakukan itu sesuai dengan nubuatan nabi Yesaya.Betapa penuh sukacitanya mereka yang menga Betapa penuh sukacitanya mereka yang mengalami pembebasan, pemulihan dan keselamatan dari Yesus. Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku. Orang yang paling berbahagia dan bersukacita adalah orang yang menyambut, mengenal dan menjadikan Yesus Sang Mesias menjadi Tuhan dan Juruselamatnya. Yesus adalah anugerah terbesar yang Allah berikan kepada manusia sepanjang sejarah, dulu, sekarang dan yang akan datang. Orang yang menolak Yesus Kristus berarti telah kehilangan sukacita dan kebahagiaan terbesar dalam hidupnya. Tugas kita adalah berbagi sukacita dan kebahagiaan itu kepada orang lain. Kita diberkati untuk menjadi berkat.

Dalam Yakobus 5:7-10 menjelaskan tentang sikap yang benar ketika kita berbagi kehidupan selama di dunia ini. Tidak mudah untuk kita berbagi sukacita kepada orang lain; tantangan, hambatan, intimidasi, prasangka, ancaman dan lain-lain menghalangi kita. Namun demikian sikap yang harus kita tunjukkan adalah bersabar dan tetap bertekun seperti kesabaran dan ketekunan seorang petani; seperti kesabaran dan ketekunan Ayub. Jauhkan sikap bersungut-sungut apalagi menghakimi dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Semua hambatan, intimidasi dan ancaman tidak akan mengurangi bahkan merampas sukacita dan kebahagiaan kita dalam Kristus. Marilah kita sambut Sang Mesias, Raja Damai dengan semangat dan sukacita sorgawi. Amin. RS.
pkm

     

4 Desember 2016
Keluarga Terang yang Berbagi Damai
Matius 3:1-12; Yesaya 11:1-10; Roma 15: 1,2,5,7

Sumber shalom yang dimiliki manusia itu berasal dari Allah. Makna Shalom atau Eirene adalah : keharmonisan dengan Allah dan sesama, ketenangan, kemakmuran, keamanan / rasa aman, keutuhan jiwa dan pikiran.
Alkitab menjelaskan bahwa orang Kristen adalah pembawa damai - “Berbahagialah org yg membawa damai, karena mrk akan disebut anak-2 Allah”. Predikat sebagai anak-anak Allah adalah pembawa damai (Matius 5:9).
Konteks zaman kita : Dunia yang penuh dengan dendam dan permusuhan, baik di keluarga : ada anak tidak lagi berkomunikasi – dgn ortunya, krn sakit hati. Di negeri kita tidak jarang terjadi ketidak harmonisan antar agama, ras atau golongan. Dimana orang Kristen ? Kita perlu mengoreksi diri, karena kita belum membawa damai jika hanya mendoakan dan membela sepihak, juga belum melakukan apa-apa jika hanya diam / tidak peduli. Apalagi jika membubui sehingga yg benci makin tambah benci, yg tidak senang makin tambah tidak senang ... jelas bertolak belakang dengan predikat “pembawa damai”. Firman Tuhan hari ini hendak mengingatkan kita kembali agar bisa menjadi pembawa damai. Kita dapat menjadi pembawa damai bila :

1. Memulai hidup kita dari Allah
“Bertobatlah...luruskanlah jalan untuk Tuhan ... sambil mengaku dosanya, mrk di baptis oleh Yohanes ... ( Matius 3 : 2, 3,6 ). Banyak orang yang kehilangan semangat dan tidak tahu makna hidupnya. Tidak tahu mau kemana hidupnya ditujukan. Maka mulai-lah dari Allah. Coba diruntut kembali bagaimana kita menjadi pengikut Kristus ? Karena keturunan, pernikahan, kebiasaan / budaya / ikut-ikutan? Titik awal ini tidak salah, tetapi jika kita tidak benar-benar mengalami Allah, kita bisa tidak tahu kemana arah hidup kita. Bertobatlah – beri dirimu berdamai dengan Allah : AGAR HIDUP DIJALANKAN KARENA PANGGILAN DAN IMAN. Ingat tanpa panggilan – hidup kita tidak berarti apa-apa. Perlu klik ... dengan Allah. Maka BERTOBAT adalah cara kita kembali kita pada Allah. MAKA barulah kita dapat memetik HASIL-nya yakni DAMAI : yakni BUAH yg sesuai pertobatan (ay.8). Sosok pembawa damai adalah SEPERTI YOHANES Pembaptis, yg hidupnya dimulai dari Kristus : hidup “menjadi telunjuk” bagi Kristus. Makan madu hutan, pakaian dari kulit binatang, berani berkata benar - tidak takut menegur org farisi dan saduki sebagai “keturunan ular beludak” – menunjukkan karakter yang sudah diubahkan. Ia memiliki tujuan yang jelas yakni hidup untuk mempersiapkan jalan bagi Juruselamat.

2. Selama masih hidup di dunia – perjuangannya belum berakhir (alat bagi tujuan Allah).
Pada Firman Tuhan (Yesaya) ada nubuat : Damai AKAN memenuhi bumi –“ ... Sebab seluruh bumi penuh dgn pengenalan akan Tuhan, seperti air laut yang menutupi dasarnya “ (Yes 11:9b).
Tidak ada satu tempat pun yang tidak terlanda DAMAI ... HINGGA “ ... damai sejahtera berlimpah ... (Maz 72:7).. Jadi Apakah di rumah sudah ada damai ... disekitar ? Damai : menerima setiap orang apa adanya, dengan kasih, tidak membedakan. Perjuangannya tidak berhenti hingga : membuat serigala bisa tinggal bersama dengan domba, macan tutul dgn kambing, anak lembu dan anak singa (Yes 11:6). Kekuatan damai dari Alllah : membuat serigala bisa tinggal bersama dengan domba, macan tutul dgn kambing, anak lembu dan anak singa (Yes 11:6).

3. Memegang - petunjuk praktisnya
Dalam Roma 15, pembawa Damai, perlu mensyukuri kerukunan , karena kerukuman itu anugerah Tuhan : “Semoga Allah mengaruniakan kerukunan “ (5). WALAU BERBEDA – BERWARNA. bisa – menerima perbedaan – bhineka tunggal ika - TUJUAN SATU - satu hati, memuliakan Tuhan - walau sesama kita memiliki cara / agama beda. Petunjuk praktis R.Paulus adalah agar Jemaat tidak mencari kesenangan sendiri (1), mencari kesenangan sesama untuk membangunnya (2). Mempraktekan hidup saling menerima satu dengan yg lain.Menyadari PERLU TUHAN : Mazmur 72: (doa senantiasa) Umat Tuhan perlu hukum Tuhan turun atasnya ... agar hukum itu memandunya. MAKA akan bertindak ADIL DAN JUJUR. Kelak hasilnya adalah segala suku bangsa memuji Tuhan. Kepadanya bangsa2 menaruh harapan.
Marilah di HUT 29 tahun gki Pasteur kita tetap komit untuk yang terbaik bagi Tuhan. Jadikanku alatMu : juga untuk MENERIMA ORANG LAIN APA ADANYA : spt Kristus menerima kita (7). Menjadi pembawa damai yang bisa kita mulai dari dalam lingkup yang kecil dulu, yaitu di dalam keluarga. Selanjutnya kita bisa menjadi pembawa damai di lingkungan tempat tinggal, gereja, tempat kerja, dan dalam masyarakat luas. Selamat untuk menjadi inspirator damai. Amin.
pkm

 

27 Nopember 2016
KELUARGA YANG BERJALAN DALAM TERANG TUHAN
Yes. 2:1-5; Maz. 122; Rom. 13:11-14; Mat. 24:36-44

Adven adalah suatu masa dalam kalender gereja di mana orang Kristen menyambut dan merayakan kedatangan Kristus yang pertama (kedatangan-Nya ke dunia sebagai manusia), sembari menanti-nantikan kedatangan-Nya yang kedua (kedatangan-Nya pada akhir zaman dalam kemuliaan-Nya). Menyambut kedatangan-Nya, berarti memberi jawab atas kehadiran Yesus dalam hidup ini melalui kata, sikap dan perbuatan kita sehari-hari yang selaras dengan kehendak-Nya.

Hari ini, di minggu Adven I, kita diajak untuk berjaga-jaga dan siap sedia menyambut kedatangan-Nya – Mat. 24:42,44 “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang”, “Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga”.

Sebagaimana layaknya menyambut kehadiran orang yang sangat berarti di dalam kehidupan kita, maka kita pasti akan menyiapkan rumah kita dan semua orang yang tinggal serumah dengan kita sedemikian rupa, agar tamu kita kerasan tinggal di rumah kita. Seisi rumah pasti akan kita persiapkan dengan indah dan nyaman supaya para tamu merasa sejahtera tinggal bersama dengan kita. Makanan pun akan kita persiapkan dengan istimewa, demi tamu terhormat itu.

Lalu apa yang akan kita persiapkan jika Tuhan menjadi tamu agung di rumah kita? Apalagi kita sadar bahwa sesungguhnya Kristus Sang Penyelamat yang menentukan hidup-mati kita itu juga senantiasa hadir dalam hidup kita dan senantiasa menolong kita dan keluarga kita?

Tuhan tidak membutuhkan persiapan ruangan, atau persiapan makanan. Tuhan membutuhkan persiapan hati yang mau berjalan di dalam kehendak-Nya yaitu hati yang rindu berjalan menuju rumah Tuhan, seperti undangan yang dikumandangkan oleh Yesaya – ... "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; ....., dan Pemazmur – ... :"Mari kita pergi ke rumah TUHAN."

Dan persiapan hati yang demikian dapat dilihat dan diwujudkan melalui perbuatan-perbuatan yang baik serta meninggalkan perbuatan-perbuatan yang jahat. Paulus dengan tegas mengatakan: “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.“ (Roma 13:12-14).

Dan salah satu upaya kita berjalan dalam terang/menggunakan perlengkapan sejata terang adalah hadir untuk memberi harapan (HOPE) kepada mereka yang sedang dalam keputusasaan dan kedukaan – seperti yang dilakukan oleh Allah yang memberikan harapan (HOPE) kepada dunia yang dalam kegelapan melalui kehadiran Yesus Kristus. Dan bukan sebaliknya yaitu kehadiran kita membawa perselisihan dan pertentangan yang merupakan buah dari hawa nafsu dan iri hati.

Melalui bacaan dan renungan di atas, kita sebagai keluarga besar GKI Pasteur maupun sebagai anggota keluarga kecil kita masing-masing diundang untuk berjalan dalam terang Tuhan. Keluarga yang berjalan dalam terang Tuhan merupakan upaya kita memberi jawab atas kehadiran Yesus dalam hidup kita. Selamat menempuh perjalanan di dalam terang Tuhan untuk menyambut kedatangan-Nya. Tuhan memberkati.
dsteol

     

20 Nopember 2016
Yesus Kristus Raja Surgawi Sejati
Yer. 23:1-6; Maz. 46; Kol. 1:11-20; Luk. 23:33-43

Disadari atau tidak, hidup manusia dirundung berbagai ancaman dan rasa takut. Kita takut akan bencana, takut akan sakit penyakit, takut akan kematian, takut menghadapi kesulitan hidup, takut akan masa depan, takut akan peperangan, dan takut akan kerusuhan.

Hidup kita seperti domba tak bergembala yang tercerai-berai, berjalan kesana kemari, sehingga tersesat jauh dari padang kita yang sebenarnya. Gembala-gembala yang ada, yakni pimpinan kita, tidak dapat diandalkan. Penguasa dan raja-raja memikirkan diri sendiri sehingga tidak dapat menjaga kita.

Allah hendak membangkitkan para gembala sejati. Allah memanggil setiap kita untuk diangkatNya menjadi gembala atas domba-dombaNya, yang diperolehnya dengan harga yang mahal, yakni kematian PuteraNya di kayu salib (Luk. 23:33). Ia ingin kita untuk menjalankan tugas penggembalaan ini dengan mengikuti teladan Yesus. Kristus adalah Tunas adil bagi Daud. Ia memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri (Yer. 23:5). Maka kita dipanggil untuk menjadi gembala yang bijaksana, menerapkan keadilan dan kebenaran di mana kita ditempatkan. Kita mengembalikan para domba yang tersesat kembali ke padang mereka (Yer. 23:3).

Kita sering merasa tidak berdaya melakukan tugas penggembalaan ini. Sering kita merasa tidak punya waktu atau terlalu sibuk. Tetapi alasan yang sebenarnya, kita tidak merasa memiliki kemampuan serta takut mengalami kegagalan.

Kita tidak perlu merasa demikian, karena sebenarnya Allah sendirilah yang bekerja. Allah adalah pelindung dan penolong kita (Maz. 46). Dengan pertolongan Allah, kita menggembalakan domba-domba agar tidak takut oleh bencana serta ancaman peperangan. Terlebih kita bekerja sebagai pengabdian kita kepada sang Raja kita, yaitu Yesus Kristus. Di dalam Kristus semua telah diciptakan (Kol. 1:16). Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Oleh Kristus, Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri Allah (ay. 20).

KekuasaanNya tidak berhenti sampai di dunia ini saja. Ia yang pertama bangkit dari antara orang mati (18). Dan ia juga penguasa sorga. Saat kita matipun, Yesus membawa kita bersama-sama dengan Dia di dalam Firdaus (Luk. 23:43). Yesus Kristus adalah Raja Surgawi, maka semua yang ada di bumi maupun di surga ada dalam kuasa Kristus.

Sungguh luar biasa Raja kita, sehingga adalah sebuah kehormatan untuk dipanggil menjadi gembala bagi kemuliaan Yesus Kristus. Biarlah kita mengakui Kristus sebagai Raja Surgawi sejati, dengan cara menyerahkan hidup kita untuk bekerja bagiNya.
AL

 

13 Nopember 2016
Memperjuangkan Hidup di Hari ini dalam Pengharapan Akan Akhir Zaman
Maleakhi 4:1-2; Mazmur 98; 2 Tesalonika 3:6-13; Lukas 21:5-19

Sikap antisipatif atau sikap melakukan persiapan diri dalam menyongsong masa depan atau akhir zaman kadang kala berlebihan atau sebaliknya yaitu kurang peduli karena tidak tahu kapan akhir zaman itu terjadi. Membahas kapan terjadinya akhir zaman merupakan hal yang berlebihan dan ternyata meleset sehingga banyak orang yang kecewa dan bunuh diri, bahkan dalam antisipasinya mereka tidak bekerja lagi, harta bendanya mereka jual semua (2 Tesalonika 3). Sebaliknya mereka yang tidak peduli adanya pemahaman akhir zaman, melakukan pemuasan hawa nafsu duniawi.

Yesus menyebutkan tanda-tandanya seperti peperangan, pertikaian antar bangsa, bencana alam, penderitaan, kekejaman penguasa, hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. Ternyata tanda-tanda akhir zaman itu telah dimulai sejak Yesus naik ke Surga dan sampai sekarang hal tersebut masih terus terjadi, karena tanda-tanda tersebut merupakan tanda yang umum dan silih berganti terjadinya (Lukas 21:5-19; Malieakhi 4:1-2).

Rupanya Yesus berupaya memberikan kekuatan kepada murid-muridNya untuk memaknai hidup di masa sekarang, bahwa: lakukanlah kehendak Tuhan dengan setia, perjuangkanlah hari ini dengan sebaik mungkin dalam berkat dan penjagaan Yesus, dan pahamilah bahwa kesetiaan bukanlah hal yang sia-sia. (Mazmur 98).

Artinya menyongsong akhir zaman itu dipahami dengan keyakinan yang menumbuhkan pengharapan dan semangat menghargai hari ini dan bersandar sepenuhnya kepada Allah. “Tidak ada sehelai pun rambut kepalamu akan hilang” merupakan jaminan dari pemeliharaanNya. Jadi berbicara tentang akhir zaman menjadi bermakna dalam perjuangan kebaikan dan cinta kasih Kristus di masa sekarang, dalam waktu yang Allah anugerahkan kepada kita. Kiranya kesetiaan Allah dalam berkat dan penjagaan Yesus selalu menyemangati setiap kita untuk melakukan kehendakNya, Amin.
BHS

     

6 Nopember 2016
JAMINAN KESELAMATAN DALAM PENEBUS YANG HIDUP
Ay. 19:23-27; Maz. 17:1-9; 2 Tes. 2:1-5; 13-17; Luk. 20:27-38

Pada dasarnya keselamatan merupakan kebutuhan hakiki umat manusia. Di tengah masyarakat kita, kata `selamat’ sering kita dengar dan ucapkan, mulai dari selamat pagi, selamat jalan, selamat berulang tahun, dll. Orang Kristen memahami, bahwa keselamatan berlaku bagi kita, tak hanya keselamatan fisik pada waktu kita ada di dunia yang sementara ini, melainkan juga keselamatan jiwa kita dalam kehidupan yang kekal kelak. Keselamatan kita peroleh melalui peristiwa penebusan Tuhan Yesus yang berkorban di atas kayu salib, itu bukan usaha kita, tetapi karunia Allah (Rm. 3 : 23-25 a; Ef. 2:8, 9). Kendati kita tak boleh menyia-nyiakan keselamatan itu, tetapi harus merebut dan menjaganya sepanjang hidup kita di dunia ini (1 Tim. 6:12, Ibr. 6:4-6).

Keselamatan diperoleh melalui kewajiban untuk menebus dalam pelbagai kasus (Im. 25:23-34), yang dipraktikkan sebagai wujud budaya umat Israel. Tak terkecuali, masalah pernikahan levirat/ipar (Ul. 25:5), contohnya dialami oleh Rut yang ditebus oleh Boas (Rut 3:12-13). Pernikahan levirat/ipar ini menjadi pokok percakapan para orang Saduki --- yang tidak percaya adanya kebangkitan orang mati ---, dengan Tuhan Yesus. Mereka menganggap, bahwa keselamatan hanya berlaku di dunia ini, sedangkan di seberang sana kubur tidak berlaku. Pada hal keselamatan berlaku mulai di dunia ini hingga kepada kekekalan. Dasarnya, karena Tuhan Yesus adalah kebangkitan dan hidup. Ia adalah Tuhan atas orang yang hidup dan setiap orang yang percaya kepada-Nya adalah orang yang hidup, meskipun ia sudah mati (Yoh. 11:25-26).

Keyakinan ini juga dimiliki oleh Ayub, seorang yang amat menderita. Ia pernah marah kepada Allah dan merasa ditinggalkan oleh manusia, sehingga ia meminta, agar semua pengalaman pahitnya itu dicatat dalam kitab dan dipahat pada gunung batu. Namun kemudian ia sadar, bahwa ia memiliki Penebus yang hidup, sehingga bagaimana pun keadaannya, ia akan melihat Allah dalam iman kepada-Nya. Senada dengan penghayatan iman Ayub, pemazmur pasal 17 juga merasa yakin, bahwa kendati ia dimusuhi oleh manusia dan para orang jahat, ia beroleh perlindungan Allah. Allah itu hidup dan Ia mampu menjaga pemazmur.

Nyata, bahwa keselamatan kita tidak dijamin oleh manusia, melainkan oleh Tuhan Yesus, yang adalah Penebus yang hidup. Ia tak hanya menebus kita (Ef. 1:7), melainkan juga memelihara kita bersama-Nya sampai kepada hidup yang kekal. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

 

30 Oktober 2016
PERTOBATAN UNTUK KEADILAN
Yes. 1:10-18; Maz.32:1-7; 2 Tes.1:1-4, 11-12; Luk. 19:1-10

Percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi adalah keputusan terpenting dalam hidup kita, itu benar! Tetapi tidak berhenti sampai di situ saja, pertobatan juga harus diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, dalam relasi dengan sesama. Tidak sedikit orang yang mengaku Kristen tetapi dalam praktek hidupnya sehari-hari sadar atau tidak tetap menindas sesamanya, tidak peduli akan kebutuhan orang lain, yang penting adalah kepentingan diri sendiri. Contohnya : rajin ke gereja, berkata sopan/saleh dalam komunitas Kristen, selalu memberi persembahan; tetapi di luar gereja berkata-kata kasar, tidak peduli perasaan orang lain, yang penting saya untung, dan sebagainya.

Praktek hidup seperti di atas mirip dengan apa yang dikritik oleh Yesaya 1:10-18. Melalui nabi Yesaya, Tuhan menegur dengan keras kepada umat yang rajin mempersembahkan korban, berdoa, dan datang menghampiri-Nya, tetapi disamping itu juga melakukan ketidak-adilan. Tuhan minta umat berhenti berbuat jahat, belajar berbuat baik, mengusahakan keadilan, mengendalikan orang kejam, membela hak anak-anak yatim, memperjuangkan perkara janda-janda! Tuhan menjanjikan pengampunan bagi umat yang melakukan kehendak-Nya. Itulah kebahagiaan umat yang diampuni dosa-dosanya.

Kebahagiaan karena diampuni dosa-dosanya juga dialami oleh Zakheus. Zakheus adalah seorang kepala pemungut cukai di Yerikho, ia kaya tapi dihina dan dibenci, dikucilkan dan dihindari oleh orang-orang Yahudi. Penerimaan Tuhan Yesus atas Zakheus apa adanya menggerakkan hati Zakheus untuk melakukan pembaharuan hidup yang drastis. Zakheus yang tadinya memungut cukai dengan semena-mena dan memberatkan rakyat, sekarang berjanji akan memberikan separuh hartanya untuk orang miskin, dan berjanji tidak akan memeras lagi. Zakheus tidak beralih profesi, melainkan berubah perilakunya. Kekayaan dan kenikmatan hidup tidak lagi menjadi utama baginya, tetapi pertobatannya diwujudkan dalam kepedulian kepada kepentingan dan keadilan bagi orang lain.

Tuhan Yesus datang ke dunia untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, dan kita dipanggil bersama-Nya dalam menjalankan misinya tersebut. Hilang berarti berada di tempat yang salah atau tidak berada pada tempat yang semestinya, jadi harus dikembalikan ke tempat yang benar. Hilang juga berarti jauh dari Allah, sedangkan ditemukan berarti menempati kembali tempatnya yang semula sebagai anak yang taat dalam rumah dan keluarga Bapanya. Sudahkah pertobatan kita tercermin dalam hidup yang peduli kepada orang lain, sehingga yang terhilang ditemukan dan bertemu dengan Tuhan Yesus? Kiranya kemurahan Tuhan menolong kita untuk menghayati pertobatan yang nyata, yakni pertobatan yang terwujud dalam relasinya dengan sesama, yang membawa keadilan. Amin.
EES

     

16 Oktober 2016
KETIKA KRISTUS DI TENGAH KELUARGA, KITA MENANG DALAM PERGUMULAN DAN DOA
Kej. 32 : 22-31; Maz. 121; 2 Tim. 3:14-4:4; Luk. 18:1-8

“Ya, nanti saya gumulkan dulu.” Demikian jawaban yang sering diucapkan oleh anggota Jemaat apabila diminta untuk menjadi penatua ataupun anggota pengurus komisi.
Semoga jawaban itu bukan sekedar upaya untuk menolak dan menghindar dari sebuah panggilan pelayanan. Sebab, jika panggilan melayani itu benar-benar digumulkan dengan Tuhan, jawabannya sudah pasti MAU/OKE. Kenapa? karena Tuhan menghendaki setiap kita untuk melayani Dia.
Namun seringkali pergumulan itu bukan bersama Tuhan, tetapi pergumulan itu berkaitan/bersama dengan permasalahan-permasalahan yang akan dijalaninya ketika menjadi penatua atau pengurus. Bagaimana pekerjaannya? Bagaimana keluarganya? Bagaimana studinya? dan lain sebagainya. Sehingga jawaban dari panggilan pelayanan bisa jadi TIDAK/NO.

Dari situasi ini, jika kita mau jujur, maka belum semua anggota Jemaat meletakkan Kristus berada di dalam kehidupan pribadinya ataupun keluarganya. Sehingga belum nyata hasil kemenangan dalam doa dan pergumulan, karena sulitnya GKI Pasteur mendapatkan anggota Jemaat yang mau ambil bagian dalam kemajelisan ataupun kepengurusan komisi. Mari saat ini kita belajar dari firman Tuhan dan tema minggu ini, tentang kemenangan dalam pergumulan dan doa.

Dalam Lukas 18:1-8, Tuhan Yesus dengan sangat jelas – melalui perumpamaanNya – menekankan pentingnya berdoa yang dilakukan secara terus menerus (ayat 1), bukan berdoa saat dapat masalah. Dan berdoa bukan sekedar himbauan, namun sebuah perintah dan gaya hidup yang harus dimiliki oleh para pengikut-Nya.

Dalam perumpamaan itu ditutup dengan ..... Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (ayat 8). Apa maksudnya dan apa kaitannya antar doa dengan iman? Secara sederhana kita dapat simpulkan bahwa orang yang memiliki iman pastilah memiliki gaya hidup berdoa. Itulah sebabnya mengapa berdoa bukan sekedar himbauan tapi sebuah perintah, karena berkaitan dengan soal iman dari pengikutNya. Bergumul dan berdoa merupakan proses dialog yang terus menerus dilakukan antara umat dengan Tuhan. Hal itu merupakan upaya menyamakan dan menyatukan frekuensi antara kehendak Bapa dengan kehendak kita. Dan proses ini bukan hal yang mudah, kita bisa saja terluka karena keinginan Bapa tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Namun kita harus tetap siap sedia menerima dan menjalani apa yang dikehendaki Tuhan, sama seperti seseorang yang memberitakan firman Tuhan baik atau tidak waktunya (lih. 2 Tim. 4:2). Meskipun sulit, Tuhan pasti akan menolong kita seperti yang telah dirasakan dan dialami oleh pemazmur (lih. Maz 121).

Melalui renungan ini, mari bersama-sama kita menghayati bahwa:
1. Gaya hidup berdoa merupakan perintah Tuhan. Dan jika kita memiliki iman – adalah orang yang beriman – pastilah kita memiliki gaya hidup berdoa yang benar.
2. Jika Kristus menjadi pusat pergumulan dan doa kita, maka kita dan keluarga kita akan dimenangkan dalam menjalani permasalahan hidup ini. Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk memiliki kehidupan doa yang benar, dan mengarahkan pusat pergumulan dan doa kita kepada Kristus. Tuhan memberkati.
dsteol

 

9 Oktober 2016
KETIKA KRISTUS DI TENGAH KELUARGA, KITA TIDAK MELUPAKAN KEBAJIKANNYA
2 Raj. 5:1-3, 7-15, Maz. 111, 2 Tim. 2:1, 8-15, Luk. 17:11-19

Gereja seringkali disimbolkan sebagai bahtera, dan Yesus Kristus sebagai nahkodanya. Keluarga kita juga dapat disimbolkan sebagai bahtera, dan Kristus sebagai pemimpinnya. Keluarga sebagai bahtera sedang mengarungi lautan yang luas nan jauh. Perjalanannya akan menghadapi badai, ombak dan bahkan batu karang yang sewaktu-waktu dapat menenggelamkan bahtera itu. Namun demikian, kita tidak perlu takut dan kuatir, karena Yesus Kristus sebagai nahkoda dan pemimpinya; kita akan menikmati mujizat-mujizatNya, penyertaan dan pertolonganNya. Yang harus kita ingat dan sadari adalah jangan sampai kita melupakan kabaikanNya, pertolonganNya, berkatNya, dan penyertaanNya.

2 Raja-raja 5:1-27 menceritakan seorang Naaman sebagai panglima tentara bangsa Aram, dan juga sebagai kepala keluarga mengalami sakit kusta; melalui perantaraan Nabi Elisa, Naaman disembuhkan. Sebagai bentuk ucapan syukur dan terima kasih atas berkat kesembuhan itu, Naaman memberikan persembahan kepada Elisa, tetapi ia menolaknya. Naaman adalah orang Aram yang tidak mengenal Allah orang Israel, namun demikian ia mengerti dan tidak melupakan kebaikan Tuhan melalui Elisa.

Lukas 17:11-19 menceriterakan tentang 10 orang kusta yang datang kepada Yesus memohon disembuhkan; dalam perjalanan menuju ke tempat imam, dan dalam waktu yang sama mengalami kesembuhan. Tetapi, hanya satu orang yang kembali kepada Yesus untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas kesembuhan itu; ia adalah orang Samaria. Lalu Yesus bertanya: Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Dimakanah yang sembilan orang itu? Menurut para ahli tafsir, sembilan orang yang telah sembuh itu adalah orang Israel, yang beragama Yahudi. Mereka mengenal Allah, mengenal hukum Taurat dan kitab para nabi. Namun, mereka tidak mengerti dan tidak tahu membalas kebaikan Tuhan.

2 Timotius 2:1, 8-15 menjelaskan bagaimana Yesus Kristus yang telah menyelamatkan Timotius dari dosa dan hukuman Allah; dan juga telah memilih memilihnya menjadi hambaNya. Untuk membalas kebaikan dan karya Kristus itu Paulus meminta kepada Timotius untuk setia dan tekun menjalankan tugas pelayanan yang Tuhan percayakan. Timotius juga diminta untuk berusaha untuk hidup layak dihadapanNya. Bukankah Tuhan melimpahkan kebajikanNya kepada kita? Bagaimana kita membalaskan kebajikanNya itu?
RDL

     

2 Oktober 2016
Ketika Kristus di tengah keluarga tidak ada yang mustahil
Hab. 1:1-4; 2:1-4; Maz. 37:1-9; 2 Tim. 1:1-14; Luk. 17:5-10

Bulan keluarga : saat kita mengambil waktu untuk fokus memperhatikan : bagaimana praktek iman pada Kristus di terapkan dan dihayati? Apa dampak iman pada Kristus dalam hidup keluarga kita masing-masing? Misalkan saja menghadapi masalah ekonomi, kegagalan, sakit berat; Apakah orang kristen lebih sabar, lebih tekun, lebih kuat ... dibandingkan dengan keluarga-keluarga lain ? Menghadapi segala masalah, siapa yang menjadi pusat hidup kita ?

Tema renungan kita : “Ketika Kristus di tengah keluarga tidak ada yang mustahil”. Dari Injil Lukas 17 : 1 – 4 ... ditengah himpitan masalah maka mudah sekali terjadi penyesatan atau sulit mengampuni satu dengan yang lain. Para pengikut menyatakan dengan jujur : “Kami sudah beriman namun belum cukup “. Rasul2 itu berkata : “Tambahkan iman kami” (17:5). Yesus mengajarkan : sekiranya kamu memiliki iman .... yang cukup. Pointnya : Iman bukan berkat usaha keras, iman adalah karunia Allah “dalam iman ada kuasa.” Kuasa seperti “pohon ara yang akarnya panjang dan dalam itu akan dapat dipindahkan ke laut ...” ini hal yang MUSTAHIL secara fisik, iman justru dapat melakukan hal-hal yang mustahil secara fisik. Iman bisa membantu sesama dalam tobat ... orang yang paling keras pun yang diumpamakan dengan pohon ara ... dapat diremukkan oleh iman ..., lalu menjadi percaya.

Dengan menjadikan Yesus sebagai pusat, maka setiap orang dapat melewati malapetaka yang tersulit sekalipun. Contoh : sebuah kisah nyata yang dapat Saudara baca dalam : http://www.kisahnyatakristen.com/2012/08/24/bertahan-bersama-sauh-yang-kuat. Dikisahkan seorang bernama Andrea telah menjadi korban perkosaan. Dengan Kristus sebagai pusat hidupnya, Andrea bahkan telah membagikan kesaksian hidupnya. Ia menerima tawaran mengisi koran lokal untuk menjangkau para korban perkosaan dan hubungan insest. Bahkan Andrea kini pergi ke seluruh negara bagian untuk membagikan harapan dalam Yesus bagi para korban perkosaan. Dia juga telah menyelesaikan bukunya berjudul “Dilahirkan Untuk Hidup, Rencana Tuhan Untuk Hidup Anda”.

Kita sebagai keluarga, dimana Kristus di tengah kita, maka kita dimampukan oleh karunia yang sejak permulaan jaman, nyata dalam kedatangan Kristus, YANG OLEH INJIL MEMATAHKAN KUASA MAUT DAN MENDATANGAN HIDUP YG TIDAK DAPAT BINASA. Yang untuk injil kekuatan Allah, kita sebagai keluarga-keluarga di panggil, sebagaimana Rasul Paulus yang bersaksi pada Timotius : karenanya aku menderita karena Injil dan AKU TIDAK MALU ... SEBAB AKU PERCAYA BAHWA Dia berkuasa memelihara apa yang dipercayakan kepadaku hingga pada hari Tuhan.

Andrea Robert, mengalami trauma yang berat, namun ditengah pergumulan tersebut, Andrea memiliki sauh yang kuat. Seseorang yang tidak menempatkan Kristus di tengah hidupnya, tidak akan pernah mampu melewatinya. Andrea bersaksi : Saya bisa bangkit karena dalam iman, saya diberi tujuannya kemana hidup ini sedang menuju, dan hal ini yang menjadi faktor utama yang membangkitkan saya.

Percayalah kepada Tuhan, lakukan yang baik ... berlakulah setia. Serahkah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepadaNya, dan Ia akan bertindak (Mazmur 37:3,5). Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Lukas 1:37). Amin.

Selamat memasuki bulan keluarga.

pkm

 

25 September 2016
SPIRITUALITAS KEPUASAN HATI
Amos 6:1-7; Mazmur 146; 1 Timotius 6:6-19; Lukas 16:19-31

Kebahagiaan duniawi seringkali diukur dari tingkat kepuasan manusia, secara tidak disadari dunia mengejar kebahagiaan duniawi dengan ukuran materi. Jika kita balik manusia mengejar materi/kekayaan untuk meraih kepuasan yang dunia sebut kebahagiaan. Namun realita materi dunia bersifat fana yang tidak dapat memberi kepuasan yang menetap. Seberapa besarnya kekayaan yang diraih orang selalu belum pernah mencukupi rasa puas. Punya sepeda akan memuaskan jika punya motor, punya motor akan memuaskan jika punya mobil, punya mobil akan memuaskan jika punya rumah, punya rumah akan memuaskan kalau punya villa dan seterusnya seperti di atas langit ada langit.

1 Timotius 6:9-10 (TB) Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
Amos 6:1 (TB) "Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria, atas orang-orang terkemuka dari bangsa yang utama, orang-orang yang kepada mereka kaum Israel biasa datang! Firman ini mengatakan setiap orang yang mengandalkan manusia, kekayaan duniawi, kekuasaan disebut orang yang celaka bukan orang yang berbahagia atau mendapatkan kepuasan.
Mazmur 146:5-6 (TB) Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya: Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya,
1 Timotius 6:17 (TB) Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.

Kebahagiaan bukan mendapat jaminan dari materi yang fana, melainkan jaminan pertolongan Tuhan yang setia dan berkuasa memberikan kepuasan jiwa yang kekal , walaupun dalam kehidupan materi yang minim. Bacaan Lukas 16:19-31 tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin, kita tidak membahas akhir hidup mereka berdua yang sudah banyak kita ketahui. Kita akan melihat bacaan ini dari dua golongan manusia yaitu orang yang mengejar kebahagiaan melalui kepuasan duniawi dan kepuasan di dalam Tuhan.
Lukas 16:19-20 (TB) "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Jubah ungu lambang status orang kaya yang mengejar kebahagiaan melalui memuaskan jasmani bukan jiwani, bukti bahwa orang kaya ini tidak terpuaskan yaitu melakukannya setiap hari. Dunia biasanya mengenal nama orang-orang kaya, malahan majalah yang memuat ranking orang terkaya di dunia.

Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, Namun orang yang miskin ini punya nama yang dikenal Tuhan yaitu Lazarus, dalam bahasa Ibrani Lazarus berarti “Tuhan, penolongku”. Kebenaran Mazmur 146:5, yaitu kebahagiaan bagi orang yang mengandalkan Tuhan, Hanya Tuhan yang dapat memberikan kepuasan kekal. Kita semua mengetahui akhir dalam kehidupan kekal kedua golongan manusia ini.
tonny iskandar

     

18 September 2016
MEMAKAI UANG SECARA BERTANGGUNG JAWAB
AMOS 8:4-7; MAZMUR 113, 1 TIMOTIUS 2: 1-7; LUKAS 16: 1-13

Kata “monopoli” yang berarti menguasai oleh seseorang atau sekelompok orang atas orang banyak biasanya menimbulkan kesenjangan dan perbedaan yang mencolok seperti majikan terhadap pegawai atau budaknya dan terjadi kesewenang-wenangan karena kelicikan atau kecerdikan yang tidak jujur oleh kelompok yang kuat terhadap kelompok yang lemah. Terlebih dalam monopoli memakai uang yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Seringkali kita lupa berbagi dan mendistribusikan secara bertanggung jawab kepada mereka yang berkekurangan dan yang membutuhkan.

Karena egoisme dan kelicikan bendahara yang tidak jujur maka terjadi perbuatan yang jahat di mata Tuhan (Lukas 6: 1-13). Oleh karena itu secara terang dinyatakan oleh Nabi Amos (Amos 8:4-7) keberpihakan Allah kepada kaum yang lemah, orang miskin dan sengsara akibat ulah monopoli para pembesar yang semena-mena.

Padahal dalam Mazmur 113 dinyatakan oleh pemazmur bahwa Allah mengangkat orang yang miskin agar disejajarkan dengan kaum bangsawan, baru akan terjadi keseimbangan dan keadaan yang harmonis. Hal ini ditegaskan kembali oleh Rasul Paulus dalam 1 Timotius 2:1-7 bahwa karya keselamatan Allah bukan monopoli orang Yahudi saja melainkan bagi semua orang, termasuk kita. Pondasi iman ini sangat diperlukan untuk mengetahui bagaimana sikap yang tepat bagi orang percaya dalam mengelola harta dan uang yang dipercayakan kepada anak-anak Tuhan sehingga menggunakannya dengan bijaksana. Bagaimanakah dengan setiap kita yang diberi kelimpahan dan kepercayaan tersebut? Marilah kita berlaku bijaksana kepada sesama dan bertanggung jawab kepada Allah Bapa di surga. Amin.
BHS

 

4 September 2016
Bukan aku yang menentukan tapi, Dia?”
Ulangan 30:15-30; Maz 1; Filemon 1-21; Luk 14:25-33

Hidup ini adalah pilihan. Tiap hari kita harus memilih, dari hal hal yang sederhana seperti mau sarapan apa pagi ini, sampai pada hal yang serius seperti mengikat diri pada pasangan hidup. Allah menciptakan manusia dengan kebebasan untuk membuat pilihan sendiri. Kekuatan manusia ada pada kebebasannya untuk membuat keputusan dan memilih mana yang baik.

Salah satu keputusan terpenting dalam hidup manusia adalah membuat keputusan untuk mengikat diri pada sumber kehidupannya. Manusia harus menentukan pada relasi mana ia mengandalkan hidupnya. Rasa takut akan putusnya relasi andalan ini akan menghantui hidup manusia. Oleh sebab itu, keputusan manusia selalu ditentukan oleh rasa takut kehilangan ikatan yang diandalkannya itu. Banyak berkat Tuhan yang baik namun fana seperti harta benda, kedudukan, nama baik, bahkan keluarga dan nyawanya ternyata berubah menjadi andalan hidup. Kita menghabiskan waktu kita untuk belajar memperoleh dan menjaga hal-hal fana ini. Akibatnya kita terikat dan terbelenggu pada kebahagiaan semu. Rasa takut akan kehilangan hal-hal itu membuatnya tidak berdaya membuat keputusan yang terbaik. Mazmur 1 mengajarkan kebahagiaan datang dari kegemaran akan Firman Tuhan, Taurat, dan hukum-hukumNya. Kebahagiaan ini datang dari menghasilkan buah, serta mencapai keberhasilan dalam menjalankan kehendak Allah. Sebaliknya, keberhasilan memperoleh dan menjaga berkat-berkat fana adalah kebahagiaan semu, seperti sekam yang dapat ditiupkan angin setiap saat. Allah memang menawarkan ikatan denganNya. Bukan dengan paksaan, tetapi dengan ikatan perjanjian yang dibuat dengan sukarela. Kita diminta untuk menjadi murid Kristus, belajar hukum Allah, menjadi pintar dalam iman, dan memiliki pengetahuan yang sejati akan kehidupan kekal. Cakrawala berpikir kita menjadi lebih luas, sehingga kita mampu melihat bahwa semua perintah Allah adalah didikan yang membebaskan dan memerdekakan orang dari ikatan fana itu.

Alih-alih menyusahkan dan memberatkan, justru hukum hukum Allah menuntun kita pada kebahagiaan yang sejati. Untuk berhasil menjadi murid Kristus, kita harus melepaskan berbagai ikatan kepemilikan berkat-berkat fana, karena kita menjadi milik Kristus. Lukas mengajarkan bahwa mengikut Yesus itu seperti mendirikan menara. Ia memerlukan perencanaan yang matang, dengan menghitung anggaran supaya cukup. Kita memperoleh harta yang kekal itu dengan melepaskan ikatan kita pada milik kita yang fana.

Allah memberikan kebebasan kita untuk memilih. Tapi gunakanlah kebebasan kita untuk memilih taat kepada Allah, karena Ia merancangkan keselamatan dan damai sejahtera. Bukan kita yang menentukan tapi Dia. Paulus dalam suratnya pada Filemon, mencontohkan hal ini bekenaan urusan Onesimus. Ia tidak memaksa Filemon, tetapi memohon kepada Filemon, agar supaya Filemon mendapatkan kebebasan untuk memilih apa yang terbaik untuk Kristus. Pada Tuhan pun kita meminta, bukan memaksakan kehendak. Supaya Tuhan lah yang menentukan apa yang terbaik untuk kita. Dalam iman yang bertumbuh, kita mengetahui apa yang baik untuk Kristus.

Jadi setiap saat kita diberi pilihan oleh Allah: mengikuti kehendakNya atau berpaling dariNya. Kehendak Allah adalah kehidupan dan keberuntungan. Itulah firman, ketetapan dan peraturanNya. Berpaling dariNya membawa kita ke dalam kebinasaan. Dalam menjalani kehidupan dan membuat keputusan hendaklah bukan kita yang menentukan tapi Dia.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

     

28 Agustus 2016
GKI, SUDAHKAH MENJADI GEREJA YANG MENGINDONESIA?”
Amsal 25:6, 7; Mazmur 112; Ibrani 13:1-8, 15-16; Lukas 14:1, 7-14

Bermula, pada 20 September 1956 di persidangan sinode di Purwokerto, nama sinode gereja Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee Jawa Tengah, berganti menjadi Sinode Gereja Kristen Indonesia Jawa Tengah. Itu adalah langkah pertama berkaitan dengan penghayatan mengindonesia dari seluruh sinode gereja Tionghoa di Jawa Tengah, karena sadar akan kehadirannya di bumi Indonesia. Penghayatan itu terus bergulir dan susul menyusul, sehingga kedua sinode gereja Tionghoa yang lain pun berganti nama menjadi Gereja Kristen Indonesia Jawa Barat dan Jawa Timur.

Berikutnya, pada 24 Agustus 1988 dalam persidangan Sinode Am GKI di Wisma Kinasih, Ciawi, Bogor, ketiga sinode itu bergabung menjadi satu sinode Gereja Kristen Indonesia. Usaha penggabungan ketiga sinode itu dilakukan sejak Maret 1962, praktis makan waktu sekitar 26 tahun. Tentu penggabungan ketiga sinode itu baru secara de jure, sedangkan de facto-nya masih dalam proses yang terus menerus diusahakan, agar sampai kepada penggabungan secara paripurna pada waktu yang akan datang.

Judul khotbah berupa pertanyaan pada hari ini, mengusik hati dan pikiran kita, sehingga kita harus merenungkannya untuk dapat menjawabnya. Untuk tujuan itu, kita perlu melakukan introspeksi diri, apa yang telah kita capai dan apa yang belum berhasil kita capai. Namun sebelumnya, bahan khotbah pada hari ini menggiring kita untuk menghayati sikap hidup yang merendah (low profile) dalam kehidupan kita sebagai orang-orang GKI. Sikap merendah ini tidak sama dengan sikap rendah diri (minder), tidak percaya diri, atau tak punya nyali, tetapi sikap batin yang secara bijaksana memposisikan diri di hadapan pihak lain. Sikap demikian lebih mengundang simpati orang, mengingat pada umumnya orang tak menyukai sikap sombong, congkak, dan pongah, dengan penampilan petantang-petenteng.

Pesan dari Lukas 14:1, 7-14 adalah, agar orang memilih tempat duduk di belakang saat memenuhi undangan, agar ia dipersilakan duduk di depan, ketimbang sebaliknya. Menyusul, jika seseorang mengundang orang lain, undanglah mereka yang tak dapat membalas mengundang, karena mereka miskin, cacat, lumpuh, dan buta. Maksudnya, agar tak terjadi persaingan untuk saling merasa mampu menjadi pihak yang lebih tinggi. Alasannya, karena orang Kristen punya atasan yaitu Tuhan.

Lantas kita diminta untuk menaati perintah-perintah-Nya berupa memberi tumpangan, mengingat orang hukuman, memerhatikan orang tertindas, menjaga kekudusan pernikahan, tidak menghamba kepada uang, dan meneladani para pemimpin yang beriman teguh. Ketaatan semacam itu adalah sikap hidup orang yang benar dan yang takut kepada Tuhan. Maka model hidup semacam ini diperlukan di tengah masyarakat Indonesia dewasa ini, supaya menjadi teladan bagi warga masyarakat pada umumnya. Semoga GKI dalam usianya yang ke-28 dapat mempraktikkan model hidup semacam ini, sehingga melalui 221 buah jemaat GKI dari Batam sampai Bali, GKI dapat benar-benar meng-Indonesia. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

 

21 Agustus 2016
KESELAMATAN
Yes. 64:1-12; Maz. 118:19-27; Roma 3:21-31, 10:9; Yoh. 3:14-21

Keselamatan berarti pembebasan dari dosa dan akibat-akibatnya. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. (Yoh. 5:24). Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamainya Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. (Mat. 1:21). Karena itu manusia perlu diselamatkan, mengapa demikian? Sebab setiap orang berdosa baik dalam sifat dasarnya maupun dalam niatnya, sehingga ia berada di bawah hukuman mati.

Keselamatan bukan diperoleh manusia karena rajinnya kita ke gereja atau berapa kali kita sudah “khatam” (membaca sampai tamat) Alkitab, bukan juga karena perbuatan baik atau kesalehan kita, atau karena ini keturunan orang beriman, bukan juga karena baptisan percik atau selam yang sering di tuntut oleh denominasi tertentu, bukan juga salah satu agama, bukan salah satu pengajaran atau filsafat, bukan salah satu ilmu kebatinan yang dapat menyelamatkan manusia, melainkan yang dapat menyelamatkan manusia hanyalah satu, yaitu Allah sendiri. Itulah sebabnya Allah sendiri yang datang kepada manusia yang berdosa. Allah sendiri yang turun dari sorga ke dalam dunia yang penuh dengan dosa ini dalam wujud AnakNya yang tunggal: Yesus Kristus.
Cara Allah menyelamatkan manusia sungguh ajaib, yaitu Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia dan dunia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anaknya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16)

Maka satu-satunya yang dapat menyelamatkan manusia dari penjara dosa dan akibat-akibatnya hanyalah Tuhan Yesus Kristus sebagai mana FirmanNya : “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan”. (Kisah Para Rasul 4:12).
Dengan kedatangan Yesus Kristus ke dalam dunia maka “hutang dosa” itu sudah dihapuskan dan karena Tuhan Yesus kita dapat terlepas dari hukuman itu dan menerima keselamatan dan hidup yang kekal.

Keselamatan diperoleh karena percaya bahwa Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi kita dengan kesungguhan yang tulus untuk bertobat; seperti yang dikatakan firman Tuhan, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan (Roma 10:9).

Karena itu di dalam Kristus, keselamatan adalah anugerah, sehingga kita tidak boleh merasa bahwa itu semua adalah usaha dan perbuatan kita. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada yang memegahkan diri. “(Ef. 2:8-9).
Pdt. Em. Jahja Purwanto

     

14 Agustus 2016
Kristus Datang untuk Membawa Pemisahan
Yer. 23:23-29; Maz. 82; Ibr. 11:29 - 12:2; Luk. 12:49-56

Alkitab banyak memberi kesaksian tentang tujuan kedatangan Yesus Kristus adalah mengaruniakan kehidupan kekal, damai sejahtera dan kasih yang mempersatukan. Karena itu, kedatangan-Nya meruntuhkan tembok-tembok pemisah untuk menyatukan yang terpisah serta menghadirkan damai sejahtera kepada dua belah pihak, seperti kesaksian Rasul Paulus, yaitu: “Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan” (Ef. 2:14). Melalui kesaksian tersebut, maka setiap umat percaya dipanggil untuk mewujudkan perdamaian dengan semua orang dan menjauhkan diri dari pertentangan.

Karena itu, tidak mudah untuk memahami ucapan Yesus Kristus di dalam Lukas 12:51: “Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.” Ada yang menafsirkan makna dari ucapan tersebut artinya kedatangan Yesus Kristus membawa pemisahan secara moral dan rohani dari dosa dan dari segala sesuatu yang bertentangan dengan Yesus Kristus, kebenaran, dan Firman Allah. Namun bagaimana dengan ucapan Yesus Kristus selanjutnya di ayat 52 dan 53 yang menggambarkan pertentangan di dalam sebuah keluarga?

Ketika Ia berbicara tentang pertentangan dan konflik dalam keluarga, dimungkinkan bahwa hal itu berdasarkan dari pengalaman pribadi-Nya. Ada indikasi dalam kisah Injil tentang hal itu, yaitu beberapa anggota keluarga-Nya tidak percaya kepada-Nya (Yoh. 7:5 Sebab saudara-saudara-Nya sendiripun tidak percaya kepada-Nya.) dan bahkan menganggap Ia tidak waras : “Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi” (Markus 3:21). Satu hal yang pasti adalah meskipun Yesus Kristus berbicara tentang pertentangan, bukan berarti Ia mendukung pertentangan. Ia mengajarkan pengikut-Nya untuk hidup damai dengan siapapun, karena itulah tujuan kedatangan-Nya. Kata “aku datang” berasal dari kata elthon (aorist first indikatif-aktif) yang berarti sebuah tindakan sudah dilakukan di masa lampau.

Karena itu ayat 51 dapat dimaknai sebagai berikut bahwa akibat kedatangan-Nya maka akan menimbulkan pertentangan dalam keluarga. Dan ucapan-Nya itu menjadi kenyataan dalam kehidupan gereja mula-mula. Ketika satu atau dua anggota keluarga menerima Kristus sebagai Juruselamat, maka akan menimbulkan pertentangan dari anggota-anggota lain. Mereka bukan saja mengalami pertentangan tetapi penganiayaan.

Ibrani 11-29-12:2 menggambarkan konsekuensi dari akibat percaya/beriman kepada Yesus Kristus. Namun apa yang mereka alami saat itu karena imannya, pada akhirnya akan membawa pada keselamatan dan sukacita. Ucapan Yesus Kristus yang sangat tegas dan tajam ini hendak memperingatkan murid-murid-Nya bahwa kesetiaan mereka kepada-Nya bisa menimbulkan konflik, penganiayaan bahkan pengusiran oleh anggota keluarga yang lain. Supaya mereka tidak menyesal dikemudian hari dengan mengatakan,”Kami tidak pernah membayangkan bahwa ikut Yesus harus membayar dengan harga yang sangat mahal, mengorbankan harta dan ikatan keluarga!”. Sungguh berat dan tidak mudah mengikut Dia. Namun demikian, ingatlah nats ini: “Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang” (Lukas 12:43). Tuhan akan memisahkan antara hamba-Nya yang setia dan hamba-Nya tidak setia. Dan masing-masing akan menerima upahnya (Lukas 12:42-48).
ds.theologi

 

7 Agustus 2016
Yakin dan taat akan Janji Pemeliharaan Tuhan
Kejadian 15:1-6, Mazmur 33:12-22, Ibrani 11:1-3, 8-16, Lukas 12:32-40

Berbagai persoalan sering terjadi. Di tengah persoalan, manusia cenderung membanding-bandingkan dengan apa yang dialami orang lain. Ketika orang lain sepertinya lebih ringan maka orang menjadi khawatir dan panik. Mudah bertindak menyimpang. Namun orang yang yakin dan taat akan janji Tuhan, akan menyerahkan hidup dan masalahnya kepada Tuhan. Maka ia akan merasakan bahwa Tuhan senantiasa menuntun hidupnya. Hari ini kita mendengar & belajar dari Firman Tuhan :

Pertama, Yesus menuntun dan mengajar tentang fokus perhatian. Jika seseorang fokusnya terarah pada Tuhan, bukan pada dunia ini, maka ia akan merasakan tuntunan dan penyertaan Tuhan. Bahkan ia akan menjadi teladan, karena ia selalu siap dan sigap, fokus = menanti-nantikan kapan tuannya datang (Lukas 12:36). Dalam kitab Ibrani 11:9-11, disaksikan bagaimana iman Abraham, ia tinggal di kemah (dan selanjutnya Ishak dan Yakub), dengan setia akan janji Tuhan. “Sebab ia menanti-nantikan kota ... yang dibangun oleh Allah”.

Kedua, Meneladan pada Abraham Mengapa ? Karena iman, Abraham terarah pada Tuhan. Pada mulanya ia kuatir karena usianya sudah lewat untuk punya keturunan, namun ketika ia terarah pada Tuhan dan janji Tuhan, maka ia merasakan kebaikan Tuhan yang menuntun dan menjaminnya itu. “Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu sebagai kebenaran” (Kej 15:6). Bahkan Abraham menjadi salah satu tokoh iman.

Ketiga, Pegang Janji Tuhan Orang yang kalut bisa “ngedan” = nekad, melakukan yang sama dengan dunia. Pegang janji Tuhan senantiasa, seperti orang “berikat pinggang”, siap dalam segala keadaan, hidup dengan “pelita-pelita yang tetap menyala” (Lukas 12:35). Tuhan memanggil kita untuk menjadi orang yang tidak terlelap, tetapi terus berjaga-jaga, siap kapan pun waktunya (sikap penjaga rumah, yang selalu siap kapan pun tuan empunya rumah datang) untuk menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan (dalam segala keadaan).

Orang yang berpegang janji Tuhan-lah (percaya) yang akan berbahagia, seperti yang disaksikan pemazmur : “Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus, kita percaya” (Mazmur 33:21)

Keempat, Persoalan hidup ibarat ujian menuju dewasa Saat hadapi persoalan sepertinya sendirian, namun sesungguhnya Tuhan ada bersama kita, menjaga dan memberikan pertolongan dengan segera. Mari senantiasa kita menggantungkan hidup pada Tuhan, sekalipun harus melewati proses yang panjang dan berat, sebab janji Allah pasti akan digenapi di dalam cintaNya. Ilustrasi : “Kita tak pernah sendiri” Anak indian Cherokee – diuji dengan dibawa masuk hutan oleh ayahnya dengan di tutup matanya. Sampai pagi ia tidak boleh membuka tutup matanya. Maka malam itu ia menjadi sangat takut, karena mulai mendengar suara-suara di sekitarnya. Waktu fajar tiba, waktu baginya boleh membuka penutup matanya, ternyata ia melihat ayahnya duduk di dekatnya, dan ayahnya ada sejak anak itu masuk hutan. Kisah ini menggambarkan hidup kita, semua orang yang dikasihi Tuhan, bahwa hidup ini ibarat ujian. Setiap persoalan merupakan ujian. Melalui ujian itu, Tuhan ingin kita naik kelas. Dalam ujian, sepertinya kita ditinggalkan sendiri. Padahal tidak, Tuhan selalu berada dekat dengan kita. Di tengah segala masalah yang kita hadapi, tak pernah kita berjuang sendiri. Yakin dan taatlah akan janji pemeliharaan Tuhan. Amin.
pkm

     

31 Juli 2016
Menghindari Akhir Hidup yang Sia-sia
Pkh. 1:1-14; 2:18-23; Maz. 49; Kol. 3:1-11; Luk. 12:13-21

"Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu dan apa yang telah engkau sediakan, untuk siapakah nanti?”
Mengapa orang kaya dalam cerita ini disebut bodoh oleh Tuhan Yesus? Kebodohan pertama adalah, orang kaya ini memiliki pandangan hidup bahwa kehidupan yang ia jalani dan nikmati hanya di dunia ini saja; tidak ada kehidupan setelah kematian. Setelah kematian tidak ada urusan lagi. Itulah sebabnya selama hidup di dunia harus diisi dengan bersenang-senang; ia berkata beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah (hidup hedonis). Orientasi hidupnya hanya pada dunia ini; ia tidak mengenal, tidak mengerti tetang kehidupan abadi / kehidupan setelah kematian. Kebodohan kedua adalah orang kaya ini memandang harta kekayaannya itu dapat memberikan jaminan panjang umur di dunia ini; harta dapat membuat ia berbahagia, ketenangan, kesenangan dan lain sebaginya. Itulah sebabnya ia bekerja keras, dan dengan segala upaya untuk memperoleh harta itu tanpa menghiraukan nilai-nilai moral. Orang kaya ini menaruh pengharapannya dan hidupnya kepada harta yang ia kumpulkan, bukan pada Allah yang memberikan kehidupan. Firman Tuhan katakan: “Pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah engkau sediakan, untuk siapakah nanti? Kebodohan yang ketiga adalah, orang kaya ini memandang bahwa kehidupan dan harta yang ia miliki adalah untuk dirinya sendiri. Orientasi hidupnya pada dirinya sendiri, perhatikan kata ‘aku’ dalam cerita ini.

"Aku" menjelaskan bahwa pusat hidupnya adalah dirinya sendiri (individualis). Ia tidak berpikir bahwa masih ada orang lain; tidak peduli dengan persoalan orang lain; kehidupan anti sosial. Kehidupan seperti ini adalah kebodohan atau kehidupan yang sia-sia.

Kita menjadi orang yang bodoh jika kita memandang bahwa kehidupan yang kita jalani berhenti di dunia ini; dan orientasi kehidupan kita pada dunia ini; tidak ada kehidupan setelah kematian. Kita menjadi orang bodoh jika kita menaruh pengharapan dan kehidupan masa depan kita pada harta dunia, bukan pada Tuhan Yesus sumber kehidupan. Kita menjadi orang bodoh jika kita memandang bahwa kehidupan dan harta yang kita miliki hanya untuk diri kita sendiri; tidak peduli terhadap kesusahan dan penderitaan orang lain.

Apakah kita juga termasuk orang yang bodoh seperti dalam perumpamaan ini? Hanya diri kita masing-masing yang tahu jawabannya. Mari kita jalani kehidupan ini dengan kehidupan yang bermakna bagi orang lain, dan memuliakan Tuhan.
RDL

 

24 Juli 2016
BERDOA KEPADA ALLAH DALAM KERENDAHAN HATI
Kejadian 18:20-32; Mazmur 138; Kolose 2:6-15; Lukas 11:1-13

Dua hal penting dalam membangun hubungan orang percaya dengan Tuhan yaitu “Firman dan Doa”. Tanpa keduanya kita tidak dapat membangun hubungan dengan Tuhan. Melalui Firman Allah dalam Alkitab, Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia. Kita mengetahui pribadi Allah, karakter-Nya, Rencana-Nya dalam janji-janji-Nya. Ada lebih dari 7000 janji Allah dinyatakan dalam Alkitab. Doa merupakan sarana komunikasi antara Allah dengan manusia yang dapat dilakukan “kapan saja- di mana saja”, bebas pulsa dan bebas roaming. Walaupun sarana komunikasi tersedia tetapi jika menghubungkan dua pribadi yang tidak saling mengenal tidak akan membangun relasi seperti telpon salah sambung, tidak terjadi dialog. Demikian juga dengan berdoa, kita harus berdoa kepada Allah yang kita kenal, namun seringkali kita berdoa seperti menembak dalam kegelapan tanpa arah, untung-untungan kena sasaran, karena kita tidak mengenal betul kepada siapa kita berdoa. Dalam Doa sebenarnya siapakah yang terlebih dahulu membuka dialog ? Kita belajar dari bacaan Kejadian 18:20-32. Allah yang membuka dialog kepada Abraham tentang rencana-Nya untuk menghukum Sodom dan Gomora karena sangat berat dosanya. Abraham berdialog dengan Allah memohon keselamatan bagi orang-orang benar yang hidup di Sodom dan Gomora, karena di sana tinggal kerabat Abraham yaitu keluarga Lot. Abraham yang disebut sahabat Allah dalam dialog tidak menempatkan diri setara dengan Allah, dengan berkata: “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu”(ay.27). Sikap rendah hati menempatkan Allah sebagai pemilik otoritas tertinggi dalam hidupnya. Bagaimana sikap kita dalam doa ? bukankah seringkali secara tidak sadar kita dalam memohon dalam doa dengan bentuk perintah atau nasehat bagaimana sebaiknya Tuhan melakukan sesuatu sebagai jawaban doa kita. Ada kesaksian ketika seseorang mencari tempat parkir di mall yang penuh, berdoa kepada Tuhan untuk diberikan tempat parkir. Emangnya Tuhan tukang parkir. Hal ini terjadi karena kita berdoa kepada Allah yang tidak kita kenal. Karena kita tidak pernah membaca Alkitab, melalui Alkitab Tuhan membuka dialog dengan kita. Doa adalah bagian dari dialog Tuhan dengan umat-Nya, bukan dialog satu arah, kita yang nerocos Tuhan bagian mendengar saja.

Doa yang benar adalah respons kita terhadap Firman-Nya. Abraham berdialog dengan Tuhan untuk membela orang lain yang terancam kebinasaan. Mazmur 138, Daud berdoa dan menyembah Allah yang dia kenal, Allah Abraham, Allah yang sejati. Daud mengenal karakter Allah yang menjadi pengharapan hidupnya yaitu Kasih-Nya, Setia-Nya atas janji-janji-Nya, yang berpihak pada orang yang hina tapi menjauhi orang yang sombong. Daud mau meninggikan dan memuliakan Allah melebihi dari segala sesuatu. Bacaan Kolose 2:6-15, Paulus mengajarkan :”Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. (ay.7). Kita dapat melihat pertumbuhan iman kita dari isi doa kita kepada Tuhan sehari-hari. Apakah bagian terbesar berisi permohonan dan permintaan atau penyerahan diri kepada Rencana-Nya ? Apakah memberi perintah atau menundukkan diri pada otoritas Tuhan ? Apakah lebih banyak keluh kesah dari pada rasa syukur yang tulus kepada Tuhan ? Bacaan Lukas 11;1-15 Tuhan Yesus mengajarkan “Doa Bapa kami”, yang terdapat 4 bagian utama. Pertama, Apakah doa kita menguduskan Nama-Nya ?, Dengan doa yang benar kita menundukkan diri ke dalam Kerajaan-Nya di mana Kristus adalah Raja, supaya kehendak-Nya terjadi dalam hidup kita seperti kehendak-Nya di dalam sorga. Kedua, pengakuan hanya Tuhan andalan yang memelihara kehidupan kita setiap hari. Ketiga, pemulihan hubungan kita dengan Tuhan dan sesama hanya melalui pengampunan. Keempat, doa kita harus memuliakan Allah karena Allah pemilik Kerajaan kekal. Kita dapat memeriksa doa kita selama ini, Apakah sudah benar dan membawa pertumbuhan iman ke arah Kristus ?
tonny iskandar

     

10 Juli 2016

PERGILAH DAN PERBUATLAH DEMIKIAN

Ul. 30:9-14; Mzm. 25:1-10; Kol. 1:1-14; Luk. 10:25-37

Bacaan Injil hari ini diawali dengan sebuah maksud untuk mencobai Yesus oleh si ahli Taurat melalui sebuah pertanyaan (Luk 10:25). Namun ketika bertanya-jawab dengan Yesus, ahli Taurat ini mampu sampai kepada inti dari keseluruhan rencana Allah dengan dua perintah sederhana: “Mengasihi Allah dan mengasihi sesamamu!” (Luk 10:27). Melalui jawabannya kepada Yesus, ahli Taurat itu menunjukkan apa yang telah dikatakan oleh Musa kepada umat Israel berabad-abad sebelumnya: “… firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Ul 30:14).

Seperti yang diperlihatkan dalam percakapan Yesus dengan ahli Taurat itu, sejatinya Injil tidaklah sulit untuk dipahami. Injil itu bukan seperangkat rumusan teologis yang rumit, dan kita tidak perlu memahami inti pesan Injil itu melalui pendidikan yang bertahun-tahun lamanya. Melalui kasih Allah di dalam pengalaman kita sehari hari – seperti yang dinyatakan oleh pemazmur dalam Maz 25, sebuah ajakan untuk melihat kasih Allah dalam hidup kita – Allah telah menulis dalam hati kita masing-masing, agar kita semua mengetahui dan mengenal kebenaran itu. Namun ada sesuatu yang lebih dalam bacaan Injil hari ini daripada sekadar Yesus membenarkan pemahaman ahli Taurat, melainkan tentang melakukan pemahaman itu! Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup” (Luk 10:28).

Tetapi ternyata untuk membenarkan dirinya ahli Taurat itu bertanya lagi kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” (Luk 10:29). Menanggapi pertanyaan tersebut Yesus menjawabnya dengan sebuah perumpaman yang sangat indah dan tidak akan mudah untuk kita lupakan, yaitu “perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:30-35).

Untuk dapat memahami bagaimana mendalamnya perumpamaan ini, kita harus mengingat tentang persaingan dan kebencian antara orang Yahudi dan Samaria yang dilatarbelakangi oleh perbedaan ras, politik dan agama. Selama ini mereka berpikir bahwa kasih kepada sesamaku adalah kasih yang hanya untuk mereka yang satu suku dan satu agama. Perumpamaan itu jelas hendak mendobrak cara pandang yang sempit, tembok-tembok kesukuan, gerbang-gerbang tempat ibadah yang selama ini berdiri mapan dan kokoh.

Mengapa Injil sepertinya merupakan sebuah tantangan besar? Mengapa hanya ada sedikit saja “orang Samaria yang murah hati” yang dapat ditemukan di dunia ini? Karena Injil yang tidak sulit dipahami itu membutuhkan hanya membutuhkan otak yang berpikir benar, namun juga membutuhkan hati yang mau dibentuk. Seperti ditunjukkan oleh tanggapan Yesus terhadap si ahli Taurat, pemahaman kita akan kebenaran harus diiringi dengan tindakan melakukan kebenaran itu sebaik-baiknya seturut kemampuan kita masing-masing. Marilah sekarang kita berefleksi melalui pertanyaan ini: Apabila kita menempatkan diri kita dalam perumpamaan Yesus itu, maka kita (anda dan saya) tergolong kategori yang mana? Imam? Orang Lewi? Orang Samaria? Bila kita berjumpa dengan orang-orang yang menderita karena berbagai hal, apa yang akan kita lakukan: Kita melihat mereka tanpa bela rasa dan kemudian melanjutkan perjalanan kita, atau kita tergerak oleh kasih dan belas kasih-Nya dan kemudian memberikan pertolongan? Kembali kita diperhadapkan pada dalil klasik, bahwa “hidup adalah pilihan”!

DS S.Teol

 

3 Juli 2016
JANJI DAN BERKAT TUHAN BAGI UTUSAN-UTUSAN KRISTUS
Yesaya 66 : 10-14; Mazmur 66 : 1-9; Galatia 6 : 7-16; Lukas 10 : 1-20

Pada dasarnya pekerjaan Tuhan tidak sia-sia untuk dikerjakan oleh para umat Tuhan. Alasannya, karena Tuhan tak mungkin memerintahkan umat-Nya untuk mengerjakan pekerjaan yang tak jelas tujuannya. Semua pekerjaan Tuhan pasti punya makna, bahkan pekerjaan yang dianggap remeh-temeh oleh manusia sekali pun. Itulah sebabnya, Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Kolose menyatakan, bahwa apa pun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kol. 3:23). Artinya, sekiranya orang Kristen melakukan segala perbuatan yang sekecil apa pun, asal ditujukan kepada Tuhan dan untuk kemuliaan-Nya, pasti akan dihargai oleh-Nya (Mat. 25:21, 23).

Sebuah contoh, seorang kakek miskin, anggota sebuah jemaat, merasa sedih, sebab ia tak dapat memersembahkan sesuatu bagi Tuhan melalui gereja-Nya. Saat ia teringat banyak pintu kamar kecil di gedung gerejanya yang telah lama berkarat dan mengeluarkan bunyi kreat-kreot, segeralah ia mengolesi engsel-engsel pintu kamar kecil itu dengan minyak jelantah, sehingga tak lagi mengeluarkan bunyi yang tak enak didengar. Kendati pekerjaan itu kelihatan tak berarti dan tidak mendapat perhatian orang, namun ternyata amat berguna. Terlebih 70 orang murid Tuhan Yesus yang diutus untuk pergi memberitakan Injil, pasti punya arti yang besar bagi banyak orang yang belum percaya kepada-Nya. Maka janji dan berkat Tuhan Yesus menyertai mereka sampai Ia menyatakan : ”Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit”. Kendati demikian, Ia memerintahkan, agar para murid itu jangan gembira karena kekalahan Iblis, sebaliknya bersukacita, karena nama mereka terdaftar di sorga (ay. 20). Begitulah janji dan berkat Tuhan disampaikan kepada para murid itu, sehingga mereka merasakan, bahwa pelayanan mereka tak sia-sia.

Hal itu juga sejalan dengan pernyataan Rasul Paulus lainnya, bahwa persekutuan dengan Tuhan membuat jerih payah orang Kristen tidak sia-sia (1 Kor. 15:58 b). Itulah juga makna menabur dalam Roh dan bukan menabur dalam daging (Gal. 6:8-10). Dapatkah kerangka berpikir demikian menjadi motivasi kita untuk melayani pekerjaan Tuhan? Ada beraneka ragam pekerjaan Tuhan tersedia di dunia ini, silakan kita masing-masing memilihnya dalam semangat pelayanan kita kepada Tuhan, selagi kita masih punya waktu dalam kehidupan kita, sebab ada saatnya akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja (Yoh. 9:4 b). Istilah `malam’ dapat kita maknai dengan `ajal kita’, `kesulitan’, `larangan/gangguan pihak lain’, `tertutupnya kesempatan’, dll. Kiranya kita dapat menanggapi perkara pengutusan Tuhan Yesus kepada kita ini dengan sebaik-baiknya. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

     

26 Juni 2016
Mengikut Yesus, Keputusanku
1 Raj. 19:15-16, 19-21; Maz. 16; Gal. 5:1, 13-26; Luk. 9:51-62

Tuhan Yesus berinisiatif memanggil setiap orang untuk menjadi pengikut-Nya. Namun demikian, Allah memberikan kebebasan setiap orang untuk mengambil keputusan apakah menyambut panggilan itu atau menolaknya dengan bermacam-macam alasan. Contohnya adalah ketika Yesus melawat daerah Samaria (Luk. 9:51-55). Penduduk Samaria menolakNya secara frontal. Ada juga yang menolak panggilan itu dengan bermacam-macam alasan (Luk. 9:57-62). Namun dalam Yoh. 4, diceritakan bahwa penduduk di kampung lain di Samaria meminta kepada Yesus untuk tinggal beberapa hari di kampung itu, kemudian penduduk kampung itu menjadi percaya kepada Yesus.

Hal penting untuk kita perhatikan & renungkan ketika kita menjadi pengikut Yesus :
Pertama, Mengikut Yesus berarti sebuah perjalanan iman. Dibutuhkan komitmen untuk berjalan bersama dengan Yesus kemanapun Yesus pergi, meneladani apa yang Dia lakukan dan ajarkan. Komitmen untuk hidup sesuai dengan kehendakNya dan setia mengikut Yesus sampai akhir. Itulah pentingnya untuk merubah hidup yang berkarakter seperti Kristus. Bukan menjadi pengikut Kristus, tanpa pertobatan.

Kedua, Mengikut Yesus berarti ada harga yang harus dibayar. Yesus ditolak oleh orang Samaria, diusir oleh penduduk kota Gerasa; puncaknya Yesus menderita, disiksa dan mati di salibkan. Itulah sebabnya salah satu syarat mengikut Yesus adalah memikul salib. Yesus juga mengatakan dalam Yoh. 15:18-25, bahwa dunia akan membenci dan menyiksa kamu, karena kamu bukan berasal dari dunia ini. Rasul Paulus juga mengatakan bahwa kamu dipanggil bukan saja untuk diselamatkan tetapi juga untuk menderita bersama dengan Dia. Jadi penderitaan karena mengikut Yesus adalah bagian dari perjalanan iman, bagian dari harga yang harus dibayar.

Ketiga, Mengikut Yesus berarti hidup dipimpin oleh Roh Kudus (Gal. 5:13-26). Ketika seseorang mengambil keputusan mengikut Yesus, berarti ia siap hidup untuk dipimpin oleh Roh Kudus. Hidupnya tidak lagi dipimpin oleh keinginan dan pikiran sendiri, atau kuasa-kuasa lain, tetapi dipimpin dan dikontrol oleh Roh Kudus. Orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh Kudus akan menghasilkan buah-buah kebenaran, menunjukkan sifat dan karakter Kristus.

Jika kita memutuskan untuk menjadi pengikut Yesus, mari kita menjadi pengikut Kristus yang berkualitas, berintegritas dan berdampak positif bagi lingkungan di mana kita berada. Bukan menjadi pengikut Kristus yang abal-abal, tanpa pertobatan, tanpa perubahan hidup, dan tidak menjadi seperti polisi tidur/ batu sandungan bagi orang lain.
RDL

 

19 Juni 2016
Tuhan Yesus Sang Pembebas
Yes. 65:1-9; Maz. 22:19-28; Gal. 3:23-29; Luk. 8:26-39

Begitu banyaknya ragam ciptaan di alam semesta ini membuktikan betapa Allah kita adalah Pencipta Yang Maha Karya. Sayangnya, manusia yang terbatas kemampuannya ini tidak sanggup menanggapi keanekaragaman yang tidak terbatas itu dalam menjalani kehidupan. Orang membuat batasan-batasan, dan hanya merasa nyaman kalau hidup dalam kotak batasan yang dibuatnya sendiri. Batasan-batasan (wilayah, kultural, nilai-nilai, keyakinan, aturan-aturan hidup, suku, gender, dll) yang dibuat pada akhirnya menjadi tembok pemisah kehidupan yang kuat antara manusia yang satu dengan yang lainnya.

Manusia terbelenggu oleh batasan-batasan yang dibuatnya sendiri, dan juga terbelenggu oleh dosa, sakit penyakit, kesusahan, penderitaan hidup, ketidakberdayaan, ketertindasan, kemiskinan, keterasingan, dll. Bagaimanakah manusia yang serba terbelenggu ini dapat bebas, dan apakah atau siapakah yang dapat membebaskannya?

Manusia mencari pembebasan dari belenggu-belenggu kehidupan dengan menempuh jalan yang tidak baik, mengikuti rancangannya sendiri, menyakitkan hati Tuhan, mencari pertolongan yang sia-sia kepada dewa-dewa dan roh-roh. Allah melalui Nabi Yesaya telah menubuatkan akan memberikan Sang Pembebas dari keturunan Yakub, dari Yehuda, untuk memberikan keselamatan bagi semua orang yang kembali kepada-Nya. Allah ternyata selalu menemui manusia, dan berkenan mengulurkan tangan-Nya, sekalipun manusia tidak mencari-Nya, bahkan memberontak kepada-Nya (Yes 65:1-9).

Daud percaya hanya Allah yang sanggup meluputkannya dari belenggu-belenggu hidupnya, karena itu ia berseru kepada Allah dalam kesusahan, dan bahaya maut. Daud mengajak umat Tuhan, agar memasyhurkan nama-Nya, memuji, mencari, dan sujud menyembah Tuhan. Tuhan akan mendengar dan menolong semua orang yang takut akan Dia (Mzm 22:19-28).

Hukum Taurat tidak dapat membebaskan manusia dari dosa. Hukum Taurat diberikan hanya sebagai penuntun sampai Kristus datang. Keselamatan dapat diterima oleh anak-anak Allah yang mempunyai iman kepada Yesus Kristus, tidak terbatas oleh suku, kedudukan, jenis kelamin (Gal 3:23-29).

Tuhan Yesus telah menjadi pembebas bagi seorang laki-laki di Gerasa. Orang itu terbelenggu oleh setan-setan. Ia juga dibelenggu rantai oleh orang-orang di situ, dan diasingkan. Kehadirannya tidak diinginkan oleh orang lain, karena ia dianggap hidup di luar nilai-nilai dan tradisi Yahudi. Ia dirasuk setan, tidak waras, tidak berpakaian, hidup di kuburan (tempat mayat, yang pada waktu itu dianggap sesuatu yang najis). Dan hidup di Gerasa yang dianggap najis oleh bangsa Yahudi (wilayah pemerintahan orang Romawi sang penjajah, daerah orang non Yahudi, penyembah dewa-dewi, tempat beternak babi/binatang yang dinajiskan oleh orang Yahudi, dan babi dipelihara untuk konsumsi bangsa penjajah).
Yesus menghadirkan karya keselamatan Allah di dalam kehidupan orang-orang Romawi-Yunani (orang non Yahudi) melalui kehidupan orang yang kerasukan setan, yang telah diasingkan dan dibuang oleh kehidupan sosial masyarakat. Orang yang telah dipulihkan itu merasakan suatu anugerah yang sangat besar dalam hidupnya. Ia tidak hanya bersyukur atas pemulihan yang diterimanya, lebih dari itu ia menjadi pemberita karya keselamatan Allah di tengah-tengah orang-orang non Yahudi (Lks 8:26-39).

Tuhan Yesus adalah Sang Pembebas yang menyembuhkan, dan membebaskan semua umat manusia dari berbagai belenggu batasan-batasan yang dibuat oleh manusia, belenggu penderitaan, dan belenggu dosa. Ia datang ke dunia untuk semua orang di seluruh dunia. Ia tidak memilih-milih manusia untuk dibebaskan dan diselamatkan. Ia memberikan kasih-Nya kepada semua orang tanpa terkecuali. Sudahkah kita yang mengaku sebagai pengikut-Nya, dan orang yang sudah menerima keselamatan daripada-Nya, meneladani Dia dengan mewujudnyatakan pembebasan, merayakan, dan memberitakan kasih anugerah Allah kepada sesama tanpa memilih-milih?
Nancy Hendranata

     

12 Juni 2016
Komunitas Cinta Kasih
2 Sam. 11:26 - 12:10, 13-15; Maz. 32; Gal. 2:15-21; Luk. 7:36 - 8:3

Komunitas yang dibentuk Allah di dunia ini mengalami berbagai perkembangan, dimulai dari komunitas bangsa Yahudi, komunitas murid-murid Yesus, dan sekarang ini komunitas cinta kasih yang adalah tubuh Kristus sendiri. Komunitas ini terus bertumbuh dalam pengenalan akan Allah dan bertransformasi semakin mendekati maksud Allah.

Pada komunitas Yahudi, kesadaran akan Allah ditumbuhkan melalui hukum Taurat, yaitu peringatan akan dosa, yaitu keterpisahan manusia dari Allah. Hukum Taurat berisikan larangan-larangan terhadap perbuatan-perbuatan yang alamiah bagi manusia. Apa yang dianggap alamiah dan kebiasaan oleh manusia dinyatakan sebagai pelanggaran oleh Allah.

Daud merancangkan skema rahasia membunuh Uria untuk merebut istrinya. Dalam komunitas Yahudi, Daud adalah raja besar, dan ia merasa bisa mengelabui komunitasnya ini dengan skema jahatnya itu. Memang ia berhasil, tetapi ia lupa bahwa Allah tidak bisa dikelabui. Dalam komunitas ini, muncul nabi Natan yang dengan kuasa Tuhan memperlihatkan pada Daud betapa jahatnya perbuatannya. Daud dimampukan melihat dosa dari perspektif Allah, betapa Daud sudah gagal mencintai anggota komunitasnya sendiri, dan menista Allah. Hati Daud remuk, dan dia meratap mohon pengampunan, memohon Allah tidak meninggalkannya.

Yesus mengajarkan pada murid-muridNya bahwa dosa adalah gagal mengasihi Allah dan sesama. Dosa adalah gagal mengenali dan memulihkan relasi dengan Allah. Dosa adalah gagal beriman, yakni mengimani Yesus adalah Allah.

Ini terlihat pada peristiwa kunjungan Yesus ke rumah Simon orang Farisi. Suatu kebiasaan Yahudi apabila orang terhormat datang bertamu, tuan rumah akan membasuh kakinya. Tapi Simon dan orang dalam komunitas itu melihat Yesus sekedar guru seperti mereka juga. Jadi ia tidak bersedia membasuh kaki Yesus. Komunitas ini juga menilai perempuan yg terkenal berdosa itu sebagai kenajisan. Sehingga tersentuh wanita ini pun dipandang berdosa. Komunitas ini bangga dengan pengetahuan mereka akan siapa yang berdosa dan najis. Tapi Yesus menjungkir-balikkan pemahaman ini. Perempuan ini begitu terkejut melihat kaki Tuhan tidak dibasuh, maka ia segera membasuh kaki Tuhan dengan ciuman, kasih, air mata, dan minyak wangi. Perempuan itu menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan, ini memampukannya untuk mengasihi Yesus, dan imannya ini mengampuni dosanya.

Komunitas cinta kasih yang juga diperjuangkan Rasul Paulus adalah komunitas yang tidak menghakimi menggunakan hukum Taurat, melainkan komunitas yang melakukan kasih itu didasarkan pada iman bahwa Kristus adalah Tuhan. Komunitas ini memang tidak melanggar hukum Taurat. Tapi bukan karena takut akan hukuman atau dikendalikan oleh berbagai penghakiman masyarakat. Komunitas cinta kasih tidak ingin melanggar hukum Taurat karena ia mengasihi Allah dan sesama. Kasih ini datang dari pengetahuannya akan Allah dan siapa Kristus itu.
AL

 

5 Juni 2016
KETIKA ALLAH MELAWAT UMAT-NYA
1 Raja-raja 17:17-24, Mazmur 30, Galatia 1:11-24, Lukas 7:11-17

Narasi janda Sarfat yang diceritakan dalam 1 Raj. 17:17-24 dan narasi janda dari Nain yang diceritakan dalam Luk. 7:11-17 dan Maz. 30 dan Gal. 1:11-24, memberikan beberapa pesan penting untuk kita renungkan bersama.

1. Pentingnya respon positif terhadap lawatan Allah. Janda dari Sarfat merespon lawatan Allah dengan intropeksi diri sebagai orang yang berdosa di hadapan Allah. Respon berikutnya adalah memuliakan Allah setelah menyaksikan anaknya hidup kembali; bahwa firman Allah adalah benar. Janda dari Nain juga merespon lawatan Allah dengan positif, yaitu pengakuan bahwa Allah sedang melawat umat-Nya.

2. Lawatan Allah mendatangkan kekuatan & penghiburan. Tuhan Yesus berkata kepada janda dari Nain: Jangan menangis. Pemazmur berkata: “Aku yang meratap Kau-ubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kau-buka, pinggangku Kau-ikat dengan sukacita.” Lawatan Allah mendatangkan kekuatan & penghiburan.

3. Lawatan Allah kadangkala melawan aturan atau tradisi/ adat istiadat yang berlaku pada zamannya. Yesus menyentuh mayat anak muda, menurut tradisi Yahudi orang yang menyentuh mayat itu najis selama kurang lebih tujuh hari. Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari sabat, itu berarti Yesus melanggar aturan sabat. Petrus dalam penglihatan (Kis. 10:14-16) harus memakan makanan haram menurut aturan agama Yahudi. Kisah di atas menjelaskan dan menegaskan bahwa lawatan dan pekerjaan Allah tidak dapat dibatasi dan digagalkan oleh aturan dan tembok apapun. Seringkali, kita yang membatasi karya dan lawatan Allah dengan membuat banyak aturan ini dan itu. Dan yang lebih memprihatinkan adalah aturan yang manusia buat kita anggap lebih besar kuasanya dari pada firman Tuhan.

4. Lawatan Allah membawa kehidupan dan pemulihan. Kedua anak yang telah mati menjadi hidup kembali. Elia menyerahkan anak itu kepada ibunya; Tuhan Yesus menyerahkan anak itu kepada ibunya. Lawatan Allah memberikan kehidupan dan pemulihan. Ketidakberdayaan menghadapi kematian diganti dengan kehidupan. Pemazmur berkata: “Tuhan, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur.”

5. Lawatan Allah membawa perubahan hidup. Dialami oleh janda dari Sarfat, janda dari Nain, oleh Pemazmur dan oleh Rasul Paulus sendiri. Mereka diubahkan dari kesedihan, ketidakberdayaan dengan sukacita dan kelepasan dari persoalan yang berat. Rasul Paulus diubahkan dari kemarahan, kebencian, dan kekejaman menjadi pribadi yang penuh dengan cinta kasih, kesabaran dan pengampunan.

Ketika Allah melawat kita, dengan rendah hati dan rela hati untuk diubah oleh Allah, inilah kira-kira ringkasan khotbah saya. Tuhan memberkati. Amin.
RDS

     

29 Mei 2016
DI HADAPAN ALLAH YANG MAHAKUASA:
YAKINLAH DAN DAPATKANLAH BUKTINYA
1 Raj. 8:22-23, 41-43; Maz. 96:1-9; Gal. 1:1-12; Luk. 7:1-10

Kalimat-kalimat atau kata-kata seperti ini: Tidak ada yang mustahil bagi Allah; Allah pasti memberi yang terbaik; dan Allah mengasihi semua ciptaan-Nya, pasti pernah dan sering kita baca ataupun dengar. Kalimat-kalimat atau kata-kata itu muncul tentu bukan secara tiba-tiba. Ada yang melatarbelakangi seseorang menuliskan ataupun mengucapkannya yaitu pengetahuan maupun pengalaman yang dilihat dan dialami oleh orang tersebut. Dalam bacaan kita minggu ini, kita disajikan pengetahuan dan pengalaman yang diungkapkan oleh para tokoh Alkitab yang melihat karya Allah di dalam hidupnya ataupun di dalam ciptaan-Nya.

Yang pertama, 1 Raja-raja 8 mengisahkan bahwa keyakinan Salomo kepada Allah semakin kuat, sebab ia mengalami dan membuktikan janji Allah yang digenapi dalam pembangunan Bait Allah. Melalui hal itu, Salomo yakin bahwa Allah adalah yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Nya (ay. 23-24) dan bangsa asing yang dengan segenap hati hidup di hadapan-Nya (41-43).

Yang kedua, pemazmur menyanyikan dan menceritakan segala perbuatan Allah yang ajaib yang dilakukan baik kepada umat Israel maupun kepada segala ciptaan yang ada. Hal tersebut berasal dari keyakinan dan bukti tentang perbuatan Allah yang dialaminya. Bagi pemazmur Allah adalah Raja (ay. 10) dan Sang Pencipta Langit (ay. 5). Pemazmur mengajak seluruh ciptaan Allah untuk melihat dan mendapatkan pengalaman yang sama dengannya dan pada akhirnya menyatakan keyakinan yang sama tentang siapa Allah.

Yang ketiga, Paulus mengawali suratnya kepada jemaat-jemaat Galatia dengan sebuah keyakinan bahwa semua yang dialaminya berkat Allah yang berkuasa di dalam dirinya. Sehingga ia pun yakin bahwa kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Tuhan Yesus menyertai mereka. Keyakinan dan keteguhan Paulus ternyata tidak sejalan dengan situasi yang dialami oleh jemaat-jemaat Galatia yang ternyata mudah goyah dan meninggalkan imannya (ay.6). Paulus menegur Jemaat yang mudah terpengaruh oleh pemberitaan “injil-injil” lain.

“Injil-injil” lain itu seperti apa? Kita tidak mendapatkan penjelasan yang lengkap. Namun Paulus memberikan patokan dari injil yang benar yaitu jika injil itu berisi untuk menyenangkan dan berkenan kepada manusia dan bukan Allah atau Kristus, maka injil itu bukanlah injil yang benar (ay. 10-12). Karena itu, Paulus mengajak Jemaat untuk menyakini bahwa injil yang benar adalah yang berisikan tentang kemuliaan hanya bagi Allah Bapa kita, dan Tuhan Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita (ay 3-5).

Yang keempat, Lukas mengisahkan seorang perwira yang memiliki iman yang besar yang tidak pernah dijumpai Yesus sekalipun di antara orang Israel. Gambaran iman dari perwira ini dapat kita lihat dalam 7:8 yaitu iman yang patuh dan taat kepada atasannya. Sebagai seorang prajurit apa yang menjadi kehendak atasannya harus ditaatinya. Dan apa yang dikehendaki oleh atasannya pasti akan terlaksana. Dalam pengetahuan dan pengalaman yang dilihatnya, perwira itu melihat bahwa Yesus bukan sekedar atasan, tetapi lebih dari itu yaitu pribadi yang sangat berkuasa, yang membuat dirinya tidak layak menghadap kepada-Nya (6-7). Melalui kisah tersebut Lukas ingin mengajak umat untuk meyakini bahwa Yesus Mahakuasa dan umat diningatkan untuk menjadi pribadi yang taat kepada Atasannya.

Dari keempat kisah di atas, marilah kita renungkan pertanyaan-pertanyaan ini: Melalui pengalaman Saudara, siapakah Yesus bagi Saudara? Mengapa demikian? Siapkah Saudara mengakuinya dan taat di hadapan Allah serta berani menceritakannya kepada semua orang? Kiranya Roh Kudus memampukan kita semua. Amin
dstheologi

 

22 Mei 2016
FIRMAN TUHAN PERISAI HIDUPKU
Kisah Para Rasul 17:10-15, Mazmur 119:1-9, Filipi 2:12-18, Yohanes 8:30-36

Kisah Para Rasul 17:10-15 menjelaskan tentang ketekunan dan kesungguhan orang-orang Yahudi di kota Berea mempelajari firman Tuhan. Bukan hanya ketekunan dan kesungguhan, tetapi juga mereka menerima firman Tuhan itu dengan kerelaan hati. Akibat ketekunan dan kesungguhan itu, akhirnya mereka menjadi percaya kepada Tuhan Yesus dan menjadi pengikut Kristus. Bisa dikatakan gereja mulai hadir di kota Berea ini.

Mazmur 119:1-9 menjelaskan tentang dua hal yaitu: Pertama, Komitmen pemazmur untuk mentaati firman Tuhan dalam kehidupannya sehari-hari. Menjadikan firman Tuhan menjadi bagian hidupnya. Kedua, Pemazmur menyaksikan bahwa ketaatan kepada firman Tuhan membawa kebahagiaan dan sukacita dan melimpah dengan syukur; hidupnya tidak akan dipermalukan Tuhan. Jika kita bandingkan dengan Mazmur 1:1-3 dan Mazmur 19:12 maka orang yang mencintai firman dan merenungkan firman itu siang dan malam akan mendapat upah yang besar; apa yang kita perbuat berhasil. Filipi 2:12-18 menjelaskan tentang nasehat rasul Paulus kepada jemaat di Filipi supaya mereka menjadikan firman Tuhan sebagai pondasi, penuntun dan pembimbing dalam kehidupan berjemaat dan dalam kehidupan sehari-hari. Jika jemaat Filipi hidup dalam kebenaran firman Tuhan, maka mereka akan hidup tidak bercela, mereka akan hidup bercahaya seperti bintang dan hidup dalam kekudusan Tuhan.

Yohanes 8:30-36 menjelaskan salah satu ciri seseorang menjadi murid Yesus Kristus adalah memberlakukan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain jika seseorang tidak mentaati firman Tuhan dalam hidup sehari-hari, maka bukanlah murid Yesus Kristus, meskipun ia mengaku sebagai orang Kristen.

Aplikasinya untuk kita: Mari kita membukan hati dan pikiran kita untuk diisi dan dikoreksi oleh firman kebenaran. Firman itulah yang akan memperbaharui, memperbaiki dan menuntun kita kepada kekudusan dan kebenaran Allah. Pada hari anak ini dalam kitab Ulangan 6:6-9 mengingatkan kita sebagai orang tua tentang tugas dan tanggungjawab yang sangat penting, yaitu mengajarkan firman kepada anak-anak kita, ketika kita dalam keadaan apapun, dan di tempat apapun. Mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak bukanlah tugas utama guru sekolah minggu, tetapi tugas orang tua. Mari kita membentuk dan mempersiapkan generasi penerus kita menjadi generasi yang berkualitas dan yang mencintai Tuhan; dimulai dari mana? Kita mulai dari diri kita sebagai orang tua marilah kita mulai mengajarkan kebenaran firman Tuhan kepada anak-anak kita. Tuhan memberkati kita. Firman yang kita ajarkan kepada anak-anak akan menjadi perisai hidup bagi anak-anak kita. Amin.
RDL

     

15 Mei 2016
ROH KUDUS PENOLONG PARA PEKERJA KRISTUS
Kis. 2:1-21; Maz. 104:24-35; Rom. 8:14-17; Yoh. 14:8-17, 25-27

Setelah Yesus kembali pada Sang Bapa, murid-murid adalah pekerja Kristus untuk melanjutkan apa yang sudah Yesus kerjakan. Yesus tahu pekerjaan itu tidak mudah malah cenderung sulit. Oleh karenanya, Ia meminta kepada Bapa seorang Penolong untuk mengajarkan, mengingatkan segala sesuatu yang telah mereka terima dari Yesus dan agar berani menjadi saksi iman. Roh Kudus menjadi cara kehadiran yang baru dari Yesus bagi para murid.

Janji Yesus segera digenapi tidak lama setelah kenaikan-Nya ke sorga. Tepat ketika perayaan Pentakosta di mana setiap orang Yahudi wajib berkumpul dan merayakan pemberian Taurat kepada Musa di Gunung Sinai dan sekaligus juga perayaan pengucapan syukur atas berkat Tuhan melalui hujan dan kesuburan tanah sehingga mereka dapat memetik hasil panen. Turun-nya Roh Kudus berdampak, murid-murid mampu berbicara dalam pelbagai bahasa kepada orang-orang yang datang dari pelbagai penjuru untuk menghadiri perayaan itu (Kisah Para Rasul 2 :1-21). Sehingga bahasa tidak lagi menjadi hambatan untuk mereka mendengar Injil. Roh Kudus memimpin para murid dan juga orang-orang yang telah menjadi percaya untuk terus menyaksikan Injil Tuhan. Kesaksian para murid ini begitu efektif.

“Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” Begitu kata Paulus dalam Roma 8:14.

“Dipimpin Roh Allah” apa maksudnya? Apakah itu berarti, Roh Allah itu menguasai manusia sepenuhnya sehingga manusia itu bagaikan “robot” (pasif) yang menuruti saja apa yang dimaui oleh Roh itu? “Dipimpin” (agontai), dapat diartikan “membiarkan diri untuk dipimpin” (bnd. 1 Kor.11:6; Gal.5:12). Maka, yang diutamakan di sini bukan karunia-karunia sesaat spektakuler yang membuat banyak orang terheran-heran, melainkan bimbingan Roh dalam kehidupan sehari-hari agar manusia yang dipimpin-Nya mampu hidup seperti yang dicontohkan Kristus. Roh itu memimpin manusia agar dapat “mematikan perbuatan-perbuatan tubuh atau nafsu kedagingan”. Manusia tidak Pasif! Melainkan manusialah yang menghadapinya dengan kekuatan dari Roh yang memimpin itu.

Kalau seseorang membiarkan diri dipimpin oleh Roh Allah, maka Roh itulah yang merupakan pusat kegiatan di dalam diri orang itu. Peran Roh tidak meniadakan atau menggantikan kegiatan manusia melainkan mencetuskan dan memotivasi kegiatan kita. Itulah yang disebut “membiarkan diri dipimpin oleh Roh Allah”. Pimpinan Roh Allah itu membuat manusia menjadi “anak Allah”. Menjadi anak, berarti seseorang itu dibentuk oleh sifat Bapa untuk menjadi serupa, atau memiliki ciri-ciri yang sama. Selain itu, relasi antara anak dengan bapaknya dalam hubungan yang sangat akrab, dan khusus. Mereka sehati-sepikir, seiya-sekata, dan intim. Seperti apa yang Yesus katakan dalam Yohanes 14:10, “Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Kukatakan kepadamu tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.”

Penerimaan hidup yang dipimpin oleh Roh Allah menurut keyakinan dan pengalaman orang-orang Kristen pada zaman Perjanjian Baru terjadi bersamaan dengan penerimaan baptisan (lih. Kis 10:47; 19:2; 1 Kor. 6:11; 12:13; 2 Kor. 1:22; 1 Pet. 1:2). Dalam baptisan mereka menerima kedudukan sebagai anak, sekaligus menerima Roh yang menolong para murid untuk sanggup hidup sesuai dengan status baru sebagai anak-anak Allah. Selamat menerima Roh Kudus, Penolong kita untuk berkarya bagi Tuhan. Amin.
PK

 

8 Mei 2016
Semua Adalah Satu!
Kis. 16:16-34; Maz. 97; Why. 22:12-21; Yoh. 17:20-26

Kesatuan adalah tema penting di dalam kehidupan persekutuan orang percaya. Ia menjadi tema yang perlu ada untuk mendasari kehidupan setiap persekutuan. Kesatuan adalah kekuatan dari kehidupan orang percaya di tengah-tengah dunia yang menekan dan mengancam kehidupan iman. Setiap orang membutuhkan dorongan kekuatan untuk melewati semua tantangan tersebut. tanpa sebuah kesatuan, maka orang percaya bukan saja tidak dapat memenuhi panggilan imannya dalam dunia ini, orang percaya juga dapat terpecah belah dalam persekutuannya. Dengan keterpecahan ini, gereja di mana orang percaya bertumbuh, tidak dapat lagi hidup dalam kemuliaan Allah serta kebenaran firman-Nya.

Kesatuan adalah isi dari doa Tuhan Yesus pada murid-muridnya. Di dalam doa-Nya Ia menaikkan tema tentang kesatuan para murid dan orang-orang percaya. Di dalam doa tersebut ada banyak hal yang perlu untuk dipelajari tentang apa arti kesatuan. Untuk itulah tema hari ini menjadi relevan di tengah-tengah ada banyaknya perpecahan yang terjadi di antara gereja Tuhan dan juga orang-orang percaya. Melalui doa Yesus kita kembali merenungkan secara dalam apa arti “semua adalah satu”.

Doa Yesus dapat dikatakan sebagai doa yang sifatnya pastoral. Hal ini dapat dimengerti ketika kita meletakan bagian doa ini dalam sebuah peta naratif yang panjang dari pasal-pasal sebelumnya. Sebagaimana diketahui, bahwa di penghujung waktu mendekatnya peristiwa penangkapan dan penyaliban, Yesus begitu konsentrasi mendampingi murid-murid. Ia mengajar dan berupaya menguatkan mereka untuk siap menghadapi kenyataan yang akan dihadapi di depan. Ia berbicara banyak hal, seperti kematian, perpisahan, kesedihan, dan ancaman terhadap para murid akibat iman percaya mereka.

Yesus berupaya membangun keteguhan hati para murid agar siap sedia menghadapi kenyataan yang akan terjadi di depan. Keyataan yang tidak bisa dihindari karena itu adalah jalan yang harus dilewati. Yesus juga menjanjikan Penghibur yang akan menuntun mereka kepada seluruh kebenaran yang telah disampaikanNya. Setelah panjang lebar melakukan percakapan pastoral dengan para murid. Tibalah bagi Yesus mengakhiri seluruh percakapan tersebut dengan menaikkan doa bagi mereka. Doa yang memberikan kekuatan dan pengharapan bagi yang didoakan. Doa seorang gembala akan domba-dombanya.
Dian Penuntun

 

1 Mei 2016
KASIH KRISTUS KEKUATAN BARU DALAM MELAKSANAKAN VISI BARU
Kisah 16 : 9-15; Mzm. 67; Wahyu 21 : 10, 22 - 22 : 5; Yohanes 14 : 23-29

Kehadiran gereja dan orang Kristen di dunia ditugasi untuk melakukan pemberitaan Injil (PI) kepada orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus. Prinsip ini sudah ada pada zaman Perjanjian Lama (PL), sebagaimana termuat dalam Mzm. 67 sehingga dapat kita sebut sebagai `PI dalam PL’. Tentang hasilnya, kita serahkan kepada Tuhan, Dialah yang berkuasa untuk menggerakkan hati para pendengar masing-masing untuk percaya kepada-Nya. Sekiranya kita merasa lemah, takut, dan tak berdaya, Tuhan Yesus melengkapi kita dengan kasih-Nya sebagai kekuatan untuk melaksanakan misi-Nya. Maka dalam ketaatan kepada perintah dan kehendak Tuhan, kita melakukan penugasan itu. Lalu kita pun berada dalam kasih-Nya dan Ia diam dalam diri kita (Yoh. 14 : 23), sehingga secara estafet kita pun meneruskan kasih Tuhan itu kepada sesama kita melalui pemberitaan Injil.

Hal ini dikemukakan dalam pemberitaan tentang kehadiran Roh Kudus, yang juga disebut Penghibur itu. Sejatinya Dia tak lain adalah pribadi Tuhan Yesus sendiri, yang secara Roh menyertai para murid-Nya, sesudah ketidak-hadiran-Nya secara fisik. Singkatnya, kendati secara fisik Tuhan Yesus tak hadir, namun dalam wujud Roh Kudus, Ia hadir. Pengalaman Saulus ---- yang semula menjadi penganiaya jemaat, namun kemudian bertobat menjadi Rasul Paulus --- saat dijumpai oleh Tuhan Yesus dalam perjalanannya ke Damsyik adalah buktinya. Oleh sebab itu, Tuhan Yesus menyatakan perintah dan penyertaan-Nya kepada para murid-Nya untuk melaksanakan misi mereka, baik secara langsung, maupun melalui penglihatan.

Secara konkret misi yang diemban oleh para murid dalam penugasan mereka ke pelbagai tempat (Petrus ke Roma, Tomas ke India), dan khususnya Rasul Paulus saat memberitakan Injil kepada Lidia di Filipi, adalah karena mereka semua dengan kasih Kristus berbicara kepada para pendengarnya. Kasih Kristus adalah kekuatan untuk menghubungkan mereka dengan Tuhan Yesus dan itu merupakan dunamis (kekuatan, dinamit) Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya (Roma 1 : 16, 17).

Kemana visi penugasan para murid, Rasul Paulus, dan orang Kristen pada masa kini? Visinya adalah kepergian para orang percaya ke Yerusalem baru, yakni surga, yang sebenarnya juga dirindukan oleh setiap manusia. Bagaimana lukisan suasana surgawi itu? Suasananya dilukiskan dengan jelas melalui penglihatan kepada Rasul Yohanes dalam Wahyu 21-22. Tentu tentang saatnya para orang percaya memasuki suasana surgawi itu, waktunya ditentukan oleh Tuhan. Maka sementara belum tiba waktunya, tugas gereja dan orang Kristen adalah melaksanakan misi Tuhan Yesus pada waktu sekarang ini. Dengan demikian nyata bagi kita, bahwa misi kita di dunia, sedangkan visinya menuju ke surga, dan Tuhan Yesus memberikan kasih-Nya sebagai kekuatan kepada kita. Maka tugas orang Kristen memberitakan Injil kepada orang yang belum percaya adalah wujud mengasihi dia, agar ia pun beroleh keselamatan sama seperti kita. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

25 April 2016
Kasih Kristus, Kekuatan yang Baru bagi Komunitas yang Baru
Kis. 11:1-18; Maz. 148; Why. 21:1-6; Yoh. 13:31-35

Jika kita mencermati kehidupan berbangsa dan bermasyarakat kita, maka sungguh memprihatinkan, sebab banyak konflik horisontal yang terjadi di dalam masyarakat kita. Kita masih ingat peristiwa konflik di Poso, Ambon, Tolikara/ Papua, Aceh dll. Banyak hal yang melatarbelakangi terjadi konflik, apakah karena perbedaan suku, agama, ataupun perbedaan politik. Yang sungguh memprihatinkan bagi saya secara pribadi adalah adanya kekerasan, pengrusakan rumah ibadah, dan pembunuhan karena perbedaan keyakinan/ agama. Kekerasan/ konflik atas nama agama: Agama ditampilkan dengan wajah kebencian, kemarahan dan kekejaman, agama bukan ditampilkan wajah yang penuh dengan welas asih, keramahan, kelemah lembutan dan cinta kasih. Sungguh aneh dan ajaib, jika agama ditampilkan dengan wajah kebencian dan permusuhan.

Yesus Kristus dalam pengajaranNya Yohanes 13:35-35 telah meletakkan dasar atau pondasi bagi kehidupan pengikut Kritus, yaitu kehidupan yang dibangun di atas dasar kasih Kristus. Kasih Kristus yang tidak dibatasi oleh perbedaan-perbedaan apapun. Apakah perbedaan ras/ suku, bangsa, agama/ keyakinan, status sosial ekonomi dan lain sebagainya. Kasih Kristus yang bersedia dan rela menerima dan menghargai semua perbedaan dan semua latarbelakang apapun. Kasih Kristus menentang perilaku ‘rasis’, menentang perilaku pengkotak-kotakkan/ sekat-sekat apapun. Kasih Kristus inilah yang harus terus dekembangkan dan diperjuangkan dalam membangun komunitas umat Tuhan, baik dalam lingkup keluarga, lingkup jemaat dan masyarakat.

Kehidupan jemaat mula-mula yang diceriterakan dalam Kisah Para Rasul telah belajar dan menghidupi cinta kasih Kristus dalam membangun komunitas mereka yang baru. Itulah sebabnya komunitas ini dipakai oleh Tuhan menjadi berkat, menjadi contoh kehidupan yang baik dan benar, sehingga banyak orang-orang menjadi percaya kepada Yesus Kristus. Pertanyaan refleksi bagi kita sebagai murid Yesus, dan sebagai gerejaNya adalah: Apakah kita sudah menampilkan dan mewujudnyatakan kehidupan yang penuh dengan cinta kasih Yesus, baik dalam keluarga ataupun dalam jemaat? Kiranya Tuhan memberkati. Amin.
RDL

     

17 April 2016
Kasih Allah: Penopang Bagi Yang Lemah
Kisah 9:36-43; Maz 23; Wahyu 7:9-17; Yohanes 10:22-30

Hiruk pikuk kehidupan manusia hari ini pada dasarnya ditujukan pada bagaimana mendapatkan kemuliaan hidup serta mempertahankan selama mungkin. Dalam kebingungan nya, manusia menggunakan pengalaman serta cara-cara sendiri untuk menggapai impiannya itu. Namun kita tahu bersama, pada akhirnya kehidupan manusia pada umumnyta penuh penderitaan, kosong, tidak bermakna, dan selalu berakhir di liang kubur.

Mesias datang untuk menyelamatkan manusia dari kehidupan yang sia-sia. Umat Yahudi memang janji Allah akan datangnya Mesias yang mengangkat kemulian kehidupna mereka. Saat Yesus datang, banyak yang menyambutnya sebagai sang Mesias, tetapi justru pemimpin Yahudi meragukanNya. Selain tidak sesuai dengan pemahaman mereka, Mesias ternyata mengajarkan kasih Allah sebagai dasar dari kemuliaan kehidupan, bukan kepatuhan pada berbagai displin hukum Taurat. Mereka menuntut bukti dan kesaksian sebelum mereka menerima bahwa Yesus itu benar Mesias.

Kesaksian Mesias itu melakukan pekerjaan-pekerjaan kasih dalam nama Bapa. Mesias penuh kasih menggembalakan domba-domba yang diberikan Bapa kepadaNya. Domba-domba yang mendengar suara Mesias dan mengikutiNya mendapatkan hidup yang kekal (Yoh 10:25-29). Itulah bukti bahwa Yesus adalah Mesias. Tidak jarang kita bersikap seperti orang-orang Yahudi yang sudah mendengar ajakan Gembala, tapi tidak percaya. Kita tidak percaya bahwa Gembala akan menuntun kita pada kehidupan yang luar biasa. Mari kita melihat dua contoh domba lemah yang mengikuti Gembala: Daud dan Petrus.

Mazmur 23 menggambarkan bagaimana Gembala menuntun Daud. Dalam tuntunan Gembala, kehidupan Daud berubah menjadi seorang kecil dan lemah, menjadi pahlawan besar dan raja legendaris yang terus diingat orang sampai hari ini. Suatu kehidupan yang luar biasa. Kemudian Petrus adalah contoh lain apa yang terjadi saat domba Kristus dipakaiNya menjadi gembala. Nelayan yang lemah ini menjadi alat Kristus untuk yang mengabarkan Kasih Allah kepada semua orang. Ia tidak lelah memperhatikan domab-domba yang sudah ditebus dengan darah Kristus itu. Petruspun sampai diberikan anugerah untuk membangkitkan Tabita dari kematian, suatu kuasa yang sangat besar (Kis 9:40).

Pada akhirnya, kemana Gembala menuntun domba-dombaNya? Kepada sebuah kemuliaan kekal di hadirat Allah, di mana tidak ada lagi lapar dan dahaga, dan berbagai penderitaan (Wah 7:15-17), Dalam kemuliaan kekal ini kita tidak lagi menjadi makhluk duniawi yang dipenuhi berbagai kelemahan, tetapi menjadi makhluk kasih yang kekal.

Oleh sebab itu mari kita selalu menjadi domba Kristus yang taat pada suaraNya, serta terus menjalani kehdiupan ini dalam tuntunan sang Gembala. Sebagai orang lemah, kita dikuatkan oleh Kasih Allah. Tidak saja kehidupan kita di dunia ini menjadi luar biasa, tetapi kita juga mendapatkan kehidupan yang kekal di hadirat Allah kita.
AL

 

10 April 2016
PERJUMPAAN YANG MENUMBUHKAN IMAN DAN PERTOBATAN
Yoh 21:1-19; Kisah Para Rasul 9:1-20

Fokus pertama injil Yohanes dalam pasal 21 ini adalah Petrus. Dialah yang berinisiatif untuk pergi mencari ikan. Dia jugalah yang segera menuruti perintah Yesus untuk mengambil beberapa ikan yang telah mereka tangkap.
Dalam bagian ini tampil dialog antara Yesus dan Petrus. Dalam ayat 15-17, Yesus tiga kali bertanya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari mereka ini?” Petrus menjawab bahwa ia mengasihi-Nya. Tiga kali menyangkal, maka tiga kali pula ia harus menyatakan kasihnya kepada Yesus. Penegasan ini menjadi penting untuk mengembalikan keyakinan diri Petrus dalam mengemban tugas yang berat, yakni mengembalakan domba-domba-Nya.

Pertanyaan Yesus, “Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari mereka ?” Yang dimaksud dengan “mereka” itu bisa teman-teman, atau pekerjaannya, juga ketika pekerjaan itu menghasilkan uang, penghidup an, kepopuleran, pendeknya yang hebat-hebat seperti itu. Pendeknya, apakah kasihnya kepada Yesus melebih segalanya? Dan Petrus menjawabnya, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.”

Setelah Yesus memberikan tugas pengutusan kepada Petrus, kemudian Yesus berbicara tentang masa lalu dan masa depan Petrus yang menyatakan bahwa Petrus akan mati dengan memuliakan Allah.

Perjumpaan Tuhan Yesus yang bangkit dengan Simon Petrus, anak Yohanes mengajarkan kepada kita bahwa Yesus sanggup memulihkan kepercayaan diri dari seorang yang telah menyangkal tiga kali berturut-turut. Perjumpaan itu akhirnya menumbuhkan iman yang baru. Iman yang siap melakukan tugas perutusan bahkan sampai mati. Kini, kematian bagi Petrus – kendatipun bagi Petrus dengan jalan mengerikan - tidak lagi menjadi momok yang menakutkan. Melainkan, sama seperti yang dijalani Yesus, merupakan jalan memuliakan Allah. Paralel dari kisah Petrus ini, kita dapat menemukannya dalam diri Saulus (Kisah Para Rasul 9:1-20). Perjumpaan dari seorang penganiaya murid-murid Tuhan, kini berubah total. Ia menyerahkan dirinya bagi pekerjaan Tuhan.

Bila Petrus, Yohanes, selanjutnya Paulus dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lain mengalami perubahan radikal dalam kehidupan mereka karena berjumpa dengan Kristus yang bangkit, bagaimana dengan kita? Apakah kita harus mengalami perjumpaan seperti pengalaman mereka? Ya, perjumpaan mutlak harus terjadi apabila kita ingin berubah. Namun, perjumpaan itu tidak harus disimpulkan seperti pengalaman mereka. Pembacaan Kitab Suci dan perenungannya, perjumpaan dengan sesama, refleksi atas pengalaman hidup (khususnya yang tidak menyenangkan), itu semua dapat dipakai-Nya untuk menjadi sarana perjumpaan. Sudahkah melalui itu, iman kita tumbuh dan kita mengalami pembaruan hidup seperti yang dikehendaki-Nya?

 

     

3 April 2016
JADIKANKU ALATMU
1 Korintus 12:12-31

Disadari atau tidak, bahwa masih banyak anggota Jemaat yang belum terlibat mengambil bagian dalam pelayanan, padahal ia memiliki talenta. Jika sebuah Jemaat diberi Tuhan 700 anggota Jemaat, maka sekaya itulah talenta Jemaat tersebut. Jika setiap anggota berbagi satu talenta saja, maka ada paduan 700-an lebih talenta dalam Jemaat tersebut. Kita yakin bahwa dengan perpaduan antara kurang lebih 700 orang anggota Jemaat GKI Pasteur, kita dapat melaksanakan tugas panggilan secara maksimal sebagai gereja, khususnya di Kota Bandung.
1 Korintus 12:12 “Kamu adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya”. Jemaat sebagai kesatuan tubuh menggambarkan pada kita tentang indahnya relasi, kerjasama, persaudaraan, persahabatan dalam Jemaat. Tentang wujud persekutuan seperti apa yang mesti dibangun, dan bagaimana tiap anggota mesti mewujudkan fungsi dan perannya dalam tubuh. Untuk hal inilah maka GKI Pasteur mengambil tema “JADIKANKU ALATMU” - “Terlibat bersama meningkatkan persekutuan, kecintaan, kepemimpinan dan pelayanan gereja”

Sebagai bagian dari GKI, maka tema tahunan ini merupakan misi ke 7 GKI yakni: mewujud kan dan meningkatkan persekutuan orang-orang percaya tanpa memandang perbedaan – perbedaan dan misi ke tujuh yakni : mengembang kan sumber daya manusia yang memadai. Jadi Firman Tuhan dan tema tahunan GKI Pasteur – mengingatkan kita akan beberapa hal:
1. Jemaat GKI Pasteur adalah bagian dari tubuh Kristus, yang anggota di dalamnya tak terpisah satu dengan yang lain.
2. Yang empunya tubuh adalah Kristus, karena Kristus adalah Tuhan dan Kepala Gereja.
3. Karenanya setiap Jemaat dan anggota Jemaat adalah alat Tuhan
4. Kesadaran sebagai alat, diharapkan menimbulkan pemahaman dan kesadaran bahwa “aku tidak boleh tinggal diam, dan aku mau jadi alatNya”.
5. Maka “Jadikanku alatMu”, adalah kesediaan diri / hati, bukan karena disuruh.
6. Tema tahunan ini juga bertumpu pada kata kunci “terlibat”, Sebagaimana anggota tubuh, maka tiap anggota dalam tubuh punya peran. Setiap peran itu penting, sekecil apapun.

Contoh: pankreas, salah satu fungsinya: memproses kadar gula dalam darah agar tergunakan dan terbagi sesuai kebutuhan tubuh. Bila pankreas telah tidak berfungsi baik, segala penyakit segera bermunculan – tak terkendali. Pankreas yang kecil mengingatkan kita bahwa tidak ada pelayanan yang kecil dan tidak berarti, semua di dalam tubuh Kristus, semua penting dan berarti.

“Kamu adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya”, menginspirasi kita, karena sangat mungkin dimasa kini, banyak gereja / “tubuh” yang sedang sakit, karena banyak alat dalam tubuh yang tidak berfungsi. Banyak anggota tubuh yang sudah nyaman berdiam diri, padahal tidak terlibat.
Jika digambarkan sebagai permainan sepakbola, maka semakin banyak yang tidak ambil bagian, maka tim sepakbola mudah kalah. Setiap bagian tubuh harus melakukan yang terbaik untuk kehidupan tubuh.
Keterlibatan tiap anggota sangat ditunggu, namun bukan berarti kita boleh menjadi sombong. Karena Penentu dasar untuk dapat melayani adalah Kristus. Kristuslah yang mengundang dan menempatkan kita untuk melayani. Kristus juga teladan dan anugerah terbesar hidup kita. Kristus berkata: “Mesias datang bukan untuk dilayani melainkan melayani” (Matius 20:28).
Pada akhirnya, pelayanan terjadi dan menjadi berkenan karena kemurahan Allah. “Karena kemurahan Allah, aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah : itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1). Selamat mempersembahkan yang terbaik ... mari kita serahkan talenta ini, karena semua di dalam tubuh kita telah ditebus oleh Kristus, milik Kristus ... Tuhan memberkati. Amin.
pkm

 

27 Maret 2016
KEBANGKITAN-NYA MENGUBAHKU
Yesaya 25 :6-9; Mazmur 114; 1 Korintus 5:6-8; Lukas 24:13-35

Keyakinan Kristen mengakui, bahwa kebangkitan Tuhan Yesus membawa perubahan menuju kepada hal-hal yang lebih baik dalam kehidupan para pengikut-Nya. Benarkah? Bagaimana kenyataannya dalam praktik? Tentu, sebuah idealisme yang semestinya diwujudkan oleh para pengikut Tuhan Yesus. Kata `semestinya’ membuka kemungkinan tidak terwujudnya idealisme itu. Kenyataannya, ada saja orang-orang yang berstatus sebagai orang Kristen sebab ia telah dibaptis, namun perilakunya tidak berubah. Mereka masih melakukan dosa-dosa, berupa tindak kekerasan, mengintimidasi, menipu, korupsi, berzinah, menyembah berhala, dan menyimpan dendam (Galatia 5 : 19-21). Agaknya, semua tindakan itu `lolos’ dari pengamatan Majelis Jemaat, sehingga mulus-mulus saja. Atau, ada pembiaran yang menantang, seolah-olah mereka berkata :”Ini dadaku, mana dadamu?”. Pada hal, semestinya terjadi perubahan drastis dalam diri mereka ketika mereka menyatakan percaya dan mengakui Tuhan Yesus sebagai Juruselamat mereka, lalu mewujudkan kehidupan yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Oleh sebab itu, orang Kristen hendaknya benar-benar paham, bagaimana menghayati iman Kristen dalam kehidupannya. Pengajaran melalui katekisasi, pemahaman Alkitab, diskusi rohani dalam kelompok-kelompok di tengah jemaat, hendaknya mengubah penghayatan iman dari Kristen KTP, menjadi Kristen sejati. Kesejatian Kristen itu dinampakkan dalam praktik kehidupan kita sehari-hari.

Ketika kebangkitan Tuhan Yesus terjadi dan Ia menampakkan diri kepada dua orang murid-Nya yang sedang ke kampung Emaus, akhirnya mata mereka terbuka saat Tuhan Yesus memecah-mecahkan roti, sehingga mereka mengenali Dia. Lalu kehidupan mereka pun diubah dari tak percaya dan ragu-ragu, menjadi percaya kepada Tuhan Yesus yang berkuasa atas maut itu. Amat diharapkan, bahwa perubahan itu juga terjadi dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen, melalui roti yang dipecah-pecahkan dalam perayaan Perjamuan Kudus sebagai penanda pengorbanan tubuh-Nya di kayu salib. Maka perubahan itu dinampakkan dalam sikap hidup, misalnya tidak lagi bermain mata dengan dosa, setia mengikut Tuhan Yesus, mengasihi Dia dan sesama, dan menaati perintah dan kehendak-Nya. Sama sebagaimana dinyanyikan melalui PKJ 239 dengan salah satu kalimatnya `Perubahan besar di kehidupanku sejak Yesus di hatiku’. Mudah-mudahan kalimat itu tidak hanya kita nyanyikan, tetapi juga kita praktikkan dalam kehidupan kita masing-masing. Dengan demikian, peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian itu mengubah sikap hidup kita, tak hanya sebatas idealisme, tetapi benar-benar nyata, sehingga menjadi kesaksian di hadapan banyak orang. Selamat Hari Paska 2016, kiranya kebangkitan-Nya mengubah sikap hidup kita. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

     

20 Maret 2016
KASIH YANG KONSISTEN BUKAN YANG AMBIGU
Liturgi Palma Mazmur 118:1-2, 19-29 Lukas 19:28-40
Liturgi Sengsara Yesaya 50:4-9 ; Mazmur 31:9-16; Filipi 2:5-11 ; Lukas 23:26-32

Renungan minggu ini terdiri dari dua liturgi, yaitu liturgi Palma dan liturgi Sengsara Liturgi Palma.
Dalam bacaan Mazmur 118 dan Lukas 19:28-40. Mazmur Daud merupakan pujian syukur atas kebaikan Tuhan, Kasih Setia Tuhan yang tidak pernah berubah. Orang percaya bersyukur bukan hanya jika menerima berkat atau dilepaskan dari masalah, melainkan rasa syukur karena kebaikan dan kasih setia-Nya yang konsisten, tidak pernah berubah.

Yesus memasuki Yerusalem dengan menunggang keledai, yang menurut adat Yahudi keledai adalah tunggangan raja di masa damai, sedangkan kuda menjadi tunggangan raja di masa perang. Yesus disambut sebagai Raja Damai dan Mesias. Tetapi sebagian besar harapan dari bangsa Israel adalah Yesus sebagai raja Israel secara politis yang akan membebaskan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Romawi, melalui Kuasa Allah yang mereka lihat dalam diri Yesus. Mereka tidak melihat Rancangan Kasih Allah untuk menyelamatkan dunia di dalam diri Yesus, selain berharap untuk kepentingan bangsa Israel untuk bebas dari penjajahan bangsa Romawi. Pengaharapan demi kepentingan diri sendiri bersifat ambigu atau mendua, mudah berubah-ubah demi kepentingan. Kita melihat sambutan ketika Yesus memasuki kota Yerusalem, mereka menyerukan Mazmur Daud, tetapi mereka memahami dalam agenda bangsa Israel bukan agenda Allah.

Liturgi Sengsara melalui bacaan Lukas 23:26-32 Di tengah teriakan: Salibkan Dia, Salibkan Dia ! dari mulut yang sama ketika menyambut Yesus dengan Mazmur Daud dan lambaian daun palma. Sikap ambigu atau mendua yang mudah berubah demi kepentingan diri sendiri. Hadir sosok Simon yang dicatat Alkitab sebagai orang dari Kirene di luar Yerusalem, yang sebagai umat Allah datang ke Yerusalem untuk beribadah di Bait Allah di hari Sabat. Simon berjumpa dengan Yesus sebagai Mesias secara pribadi di salib yang dipikul Yesus. Simon menerima Kasih kekal Allah dalam perjumpaan ini. Perjumpaan yang mengubah hidup Simon dan keluarganya (isteri, Alexander dan Rufus) yang di katakan oleh Paulus sebagai orang pilihan Allah (Markus 15:21; Roma 16:30). Barangsiapa menerima Kasih karunia Allah yang kekal menjadikan kita “ciptaan baru”, yang tetap konsisten dalam Kasih Allah. Apakah anda sudah menerima Kasih Allah secara utuh dalam segala situasi atau masih bersifat situasional, keraguan atau berubah-ubah ?
Tonny Iskandar

 

13 Maret 2016
Jalan Baru Dalam Pertobatan
Yes. 43:16-21; Maz. 126; Fil. 3:4-14; Yoh. 12:1-8

Dalam renungan kali ini kita akan fokus pada dua tokoh, yaitu Maria dari Betania dan Yudas Iskariot.
Maria saudara dari Lazarus yang baru saja dibangkitkan oleh Yesus dari kematian menunjukkan kualitas spiritual yang patut kita contoh dalam kehidupan sehari-hari kita. Bukti kualitas spiritual yang pertama adalah ia mengurapi kaki Yesus dengan minyak Narwastu sebagai bentuk rasa syukurnya kepadaNya yang telah membangkitkan Lazarus saudaranya. Maria manyadari bahwa karena kasih dan kuasa Kristus, maka Lazarus bisa hidup kembali. Inilah kuasa dan pertolongan Kristus yang luar biasa yang patut disyukuri oleh Maria. Bukti kedua adalah Maria meminyaki kaki Yesus dengan minyak Narwastu dan menyekanya dengan rambutnya membuktikan bahwa ia sangat mengasihi dan mempedulikan Yesus yang sebentar lagi akan mengalami penderitaan dan penyaliban. Itulah sebabnya Yesus memujinya sebagai perbuatan yang akan mengingatkan hari penguburanNya.

Tokoh kedua adalah Yudas Iskariot salah satu dari 12 murid Yesus. Yang menarik dari tokoh ini adalah Yudas Iskatiot meskipun sudah bertahun-tahun menjadi murid Yesus, mengikuti Yesus kemana Dia pergi; mendengarkan Yesus ketika Dia mengajar, menyaksikan Yesus ketika Dia melakukan mujizat-mujizat, namun kualitas spiritualnya jauh lebih rendah daripada Maria. Ironis memang seperti peribahasa mengatakan “Tikus mati di lumbung padi”, yang artinya tikus mati di tengah-tengah kelimpahan makanan. Bukti rendahnya spiritualitas Yudas Iskariot adalah ia memprotes apa yang dilakukan Maria kepada Yesus.

Alasan keberatannya adalah karena sebagai bentuk pemborosan belaka, lebih baik uang tersebut dibagikan kepada orang miskin. Sebenarnya bukan soal pemborosan atau soal orang miskin, tetapi lebih pada persoalan karakter Yudas sendiri yang suka mengambil uang. Jika minyak itu dijual dan diserahkan kepada Yudas sebagai bendahara, maka ia ada kesempatan untuk mencuri uang tersebut, lihat Yoh 12:6.

Apa yang bisa kita pelajari dari kedua tokoh tersebut di atas? Kita dapat meneladani spiritualitas Maria yang sungguh-sungguh mengasihi dan mempedulikan Yesus dengan cara mengorbankan apa yan ia miliki dan merendahkan dirinya dengan cara menyeka minyak dengan rambutnya. Jauhkan sikap hati yang keras seperti Yudas meskipun sudah ditegur berkali-kali oleh Yesus, tetapi tidak mau bertobat, ia memilih menyangkal Yesus. Kiranya Tuhan memberkati kita, amin.

     

6 Maret 2016
SALING MENGAMPUNI DALAM KERAHIMAN ALLAH
Yosua 5:9-12 ; Maz. 32:1-11; 2 Kor. 5:16-21; Luk. 15:1-3, 11-32

Bagaimanakah perasaan dari sang ayah dalam perumpamaan itu (Luk 15:12) ketika anak bungsunya meminta harta warisan/harta gono gini – sikap anak bungsu secara tidak langsung sama dengan mendoakan atau menganggap ayahnya/orang tuanya mati? Saya tidak sanggup membayangkan rasa pedih dan hancur yang dialami oleh sang ayah tersebut. Dikhianati oleh teman atau sahabat saja, hati kita begitu sakit. Apalagi dari keluarga, anak sendiri! Bukan hanya sakitnya tuh di sini, tetapi sakitnya bikin mau mati saja. Kepedihan hati sang ayah tidak bisa kita tangkap dari sang ayah, kerena teks tidak menggambarkannya.

Namun kepedihan sang ayah dapat dirasakan, muncul, dan terwakili melalui kemarahan anak sulung, ketika anak bungsu yang berkhianat disambut dengan sukacita (ay. 28). Kemarahan anak sulung yang tidak mau masuk bukan berasal dari iri hatinya meski ia mengeluhkan sikap ayahnya (lih. ay. 29-30), tapi itu berasal dari hati yang terluka sangat dalam. Bagi anak sulung tidak mudah untuk mengampuni adiknya yang bukan hanya menghianati sang ayah tapi juga dirinya. Namun sang ayah tidak berhenti untuk membujuk anak sulungnya untuk berproses mengasihi adiknya. Sang ayah tidak membiarkan anak sulungnya larut dalam kepedihan dan sakit hatinya, dan mengajaknya untuk ikut bersukacita (ay 31-32).

Melalui perumpamaan ini, Yesus ingin mengatakan; yang pertama tentang betapa besar luas dan dalamnya kasih Allah kepada umat-Nya. Seberapapun besar dosa umat jika ia sadar akan dosanya dan mau bertobat, Allah tetap mengampuni. Kedua, Yesus ingin menggambarkan betapa tidak mudahnya mengampuni keluarga sendiri bahkan oleh orang-orang yang hidupnya dekat dengan Allah sekalipun. Namun demikian, Allah tidak berhenti mengubah hati anak sulung untuk mengasihi anak bungsu. Yesus ingin mengajak orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat untuk mengampuni dan mengasihi pemungut cukai dan orang-orang berdosa sebagai keluarga.

Perumpamaan ini merupakan undangan untuk kita semua baik kita yang merasa sebagai anak-anak bungsu, dan kita yang merasa sebagai anak-anak sulung. Bagi anak-anak bungsu yang telah berkhianat kepada Allah, melanggar perintah Allah, dan melakukan perbuatan yang tidak berkenan kepada-Nya. Kita diundang untuk bertobat dan kembali kepada Allah. Allah menyediakan kasih dan sukacita yang berlimpah, sehingga melalui itu kita melupakan kepedihan dari penghianatan kita, dan melalui itu kita bisa digerakan untuk berkomitmen dan pastinya tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Dan bagi anak-anak sulung diundang untuk ikut bersukacita bersama Allah.

Kita diundang untuk berproses melupakan penghianatan, kesalahan dan dosa saudara-saudara kita, sama seperti Allah mengampuni mereka. Bukankah mereka adalah keluarga kita, keluarga Allah yang diikat oleh keimanan kita pada Kristus? Dan bukankah kerahiman Allah merupakan gambaran sebuah keluarga dan juga proses kehidupan baru? Jadi sebagai anak-anak Allah marilah kita saling mengampuni dan berproses dalam kerahiman Allah untuk menjadi manusia baru (ciptaan baru – lih. 2 Kor. 17), manusia yang berkenan kepada Allah.
denni setiawan

 

21 Februari 2016
IKUTILAH TELADAN TOKOH IMAN SAAT HIDUP PENUH PERSOALAN
Kejadian 15 : 1 - 18; Mazmur 27; Filipi 3 : 17 - 4 : 1; Lukas 13 : 31 – 35

Setiap orang pasti pernah didera oleh persoalan hidup, baik yang ringan, maupun yang berat. Kendati orang berkeinginan untuk bebas dari beban-beban, tetap saja beban itu muncul dalam perjalanan hidupnya. Akibatnya, orang pun berwajah muram, tak bersemangat, sangat menderita, bahkan sampai jatuh sakit. Kepada siapa manusia hendak meminta tolong? Jelas, bahwa orang beriman meminta tolong dan berseru kepada Allah, karena Dialah sumber pertolongan yang sejati. Untuk memperoleh pertolongan Allah, haruslah manusia punya iman yang kuat untuk berharap.

Alkitab berbicara tentang para tokoh iman yang ketika mereka mengalami kesulitan dan berbeban berat, segera berseru kepada Allah. Bacaan kita hari ini berkisah tentang Abram, Daud, Rasul Paulus, juga Tuhan Yesus sendiri. Abram menghadapi persoalan tak punya anak kandung, Daud karena ancaman peperangan yang bertubi-tubi, Rasul Paulus bergumul di dalam penjara akibat pengnjilannya; dan Tuhan Yesus karena misi-Nya selaku Juruselamat manusia dan harus mati di Yerusalem.

Menghadapi persoalan dalam kehidupan ini, banyak orang yang lari dan cari selamat sendiri, bersembunyi seperti burung unta menyembunyikan kepalanya ke dalam pasir saat diburu oleh pemburu, atau dengan sikap tabah menghadapi persoalan itu sampai tuntas. Harapan kita, hendaknya kita menghadapinya dengan sikap tabah sampai tuntas dan tidak setengah jalan. Bagaimana jika kita tak punya kekuatan? Itulah masalahnya, sebab sehebat-hebatnya manusia hidup, tetap ada yang lebih hebat, sehingga manusia kalah saat menghadapinya. Maka semua bacaan firman Allah pada hari ini, mengarahkan hati kita kepada para tokoh iman, tak hanya yang diberitakan melalui Alkitab (baca Ibrani 11), tetapi juga sepanjang zaman ada saja orang-orang Kristen dengan keteladanan iman yang mengagumkan.

Betapa banyak tokoh iman seperti Toyohiko Kagawa (penginjil Jepang yang tak pernah punya dua helai baju), John Sung (penginjil dari China yang membuang ijazah gelar dokternya), William Booth (pendiri Bala Keselamatan di Inggris, yang mengasihi para kaum papa), John R. Mott (pendorong gerakan ekumenis dunia dari USA), Nommensen (penginjil dari Jerman yang menginjili tanah Batak dan siap mati seperti para penginjil sebelumnya), dll. Mereka bukan orang-orang yang bebas tanpa persoalan, karena itu mereka terus menerus bergumul dan tetap tegar, sehingga dapat bertahan sampai akhir.

Oleh sebab itu, teladanilah mereka semua dalam iman, bahwa Tuhan Allah pasti berkenan menyertai mereka yang dengan sungguh-sungguh melaksanakan tugas mereka. Kata kuncinya adalah iman, bahwa sepanjang kita juga beriman seperti mereka, yakinlah akan penyertaan dan perlindungan Allah. Sama seperti yang diharapkan oleh Daud di dalam Mazmur 27, bahwa Tuhan Allah adalah terang, keselamatan, dan benteng hidup yang tangguh. Kepada-Nyalah orang percaya menyandarkan hidup dan keberadaannya di dunia ini.

Persoalan boleh saja datang dan pergi, yang jelas jika kita berlindung kepada Allah, maka Ia akan senantiasa mendampingi kita dan melepaskan beban berat persoalan itu pada waktu yang ditentukan-Nya. Bersyukurlah kepada Allah yang berkenan menyertai kita dalam kehidupan kita masing-masing. Amin.
Oleh Pdt. Em. Budhiadi Henoch

     

14 Februari 2016
MENANG ATAS PENCOBAAN
Ul. 26:1-11; Maz. 91:1-2, 9-16; Rom. 10:8-13; Luk. 4:1-13

Selama kita masih hidup, maka kita pasti akan menghadapi masalah. Dan salah satu wujud dari masalah itu sendiri adalah apa yang disebut dengan pencobaan. Pencobaan adalah suatu godaan dari si Jahat/Iblis untuk melakukan sesuatu yang buruk/merugikan dan tentu bertentangan dengan kehendak Allah. Pencobaan muncul bukan hanya dalam keadaan kekurangan, tapi juga kelimpahan. Pengalaman hidup kita memberikan gambaran nyata tentang kelimpahan bisa menjadi pencobaan dalam diri kita, yaitu ketika kita melupakan Sang Pemberi berkat. Bagaimanakah seharusnya seorang beriman itu menghadapi pencobaan yang datang?

Kabar baik dari bacaan Injil hari ini adalah, bahwa dalam perjuangan melawan si Jahat atau Iblis kita tidak sendiri. Ada Yesus! Dia telah terlibat konflik nyata dengan si Iblis dan telah mengalahkannya dengan sangat menyakinkan. Dalam keadaan kekurangan yaitu lapar, Iblis mencobai Yesus. Perhatikanlah jawaban – jawaban Yesus kepada Iblis yang menggoda! Yesus selalu memulai jawaban-Nya dengan kata-kata ‘ada tertulis’, artinya Dia berpegang teguh pada firman Allah (lihat Luk. 4:4.8.10.12). Selama empat puluh hari di padang gurun Yudea, Yesus tetap taat dan setia kepada Allah Bapa. Pesan Yesus kepada murid-murid-Nya yang wajib diperhatikan ketika menghadapi pencobaan yaitu: Hidupilah kehidupan rohani/berpikir rohani (Luk. 4:4); Menyembah Tuhan saja (Luk. 4:7); dan Jangan mencobai Tuhan (Luk. 4:12).

Ul. 26:1-11 berbicara tentang mempersembahkan hasil yang pertama yang didapat oleh orang Israel dari Kanaan kepada Allah. Perintah tersebut merupakan pengajaran bagi orang Israel agar tidak jatuh dalam pencobaan. Pencobaan yang membuat mereka melupakan Allah yang telah memberikan berkat-Nya. Israel harus mengingat bahwa Allah lebih dulu menepati janji-Nya, dengan membawa mereka masuk ke Kanaan (ay. 3, 5-9). Melalui penghayatan yang seperti ini, diharapkan orang Israel dalam kelimpahan tidak menjadi lupa diri dan bisa menjauhkan diri dari sikap yang serakah – segala berkat hanya ditujukan untuk kepuasan diri sendiri tanpa sedikitpun merasa bersalah mengabaikan yang kekurangan.

Pemazmur mengajak kita untuk semakin mengandalkan Allah dalam menghadapi pencobaan. Ia dengan tegas menyerukan bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan dan kubu pertahanannya (ay. 2), dan dengan yakin bahwa Allah pasti menolongnya (ay.14-16). Di tengah pencobaan yang sedang dihadapi seruan dan keyakinan ini menjadi sangat penting, agar kita tidak berpaling dari Tuhan dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri atau kekuatan lain yang bukan Tuhan.

Belajar dari keteladanan Yesus dan bacaan – bacaan kita hari ini adalah ketika menghadapi pencobaan, umat harus benar-benar mengandalkan firman Allah. Dan firman Allah itu bukan sekedar diketahui, tetapi dilakukan! Sebab Iblis juga tahu (ketika mencobai Yesus, ia menggunakan firman Allah dalam ay.10 yang merupakan Maz. 91:11-12), tetapi tidak pernah mau melakukan. Inilah yang membedakan anak-anak Allah dengan anak-anak Iblis. Anak-anak Allah akan menjadi pemenang, jika ia tahu dan melakukan firman Allah! Selamat berjuang sebagai anak-anak Allah. Tuhan memberkati
denni setiawan

 

7 Februari 2016
MENGALAMI KEMULIAAN ALLAH DALAM KRISTUS
Keluaran 34:29-35, Mazmur 99, 2 Korintus 3:12-4:2, Lukas 9:28-43

Menjadi orang Kristen kadangkala tidak terlihat keistimewaannya. Banyak orang Kristen yang tidak memperlihatkan sikap hidup yang berbeda dengan dunia, hilang semangat, hilang sukacitanya, khususnya ketika menderita. Padahal sebagai pengikut Kristus seharusnya kemuliaan Tuhan terpancar dalam hidup kita dengan sendirinya.

Kadang-kadang memang kita memerlukan sesuatu untuk bangkit dari kelelahan, situasi tertekan dalam hidup kita. Seperti yang dihadapi oleh ketiga murid Yesus. Pada waktu Yesus membawa mereka ke atas gunung untuk berdoa. Sebelumnya, Yesus untuk pertama kalinya memberitahukan para murid-Nya tentang penderitaan, kematian dan kebangkitan yang akan dialami-Nya, juga Dia mengajarkan kepada mereka syarat-syarat dalam mengikut Dia (Luk 9:22-27). Kita membayangkan betapa mengagetkan. Saat itu murid-murid memerlukan tokoh panutan yang dapat menguatkan. Kata “figur” berarti bentuk; wujud; tokoh. Minggu ini, gereja seluruh dunia merayakan hari Minggu “Transfigurasi”. Yesus adalah figur yang mengalami perubahan bentuk, wujud (trans-figur) saat mengalami kemuliaan dan diapit oleh kehadiran Musa dan Elia. Musa, adalah sang penerima Taurat. Elia, adalah sang penyuara kehendak Allah yang berperang melawan yang bisa menjauhkan seseorang dari Tuhan.

Di atas gunung itu, tiga orang murid-Nya diberi kesempatan untuk menyaksikan dengan mata sendiri Yesus dalam segala kemuliaan ilahi-Nya berdiri bersama Musa serta Elia yang berdiri di dekat-Nya (Luk 9:32). Saat itu terdengarlah suara dari dalam awan itu: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia” (Luk 9:34-36).

Di zaman Perjanjian Lama (Kel.25:29-35) wajah Musa bercahaya sebagai tanda kemuliaan Allah setelah ia berbicara dengan Tuhan. Apabila orang Israel melihat muka yang bercahaya itu, mereka tidak sanggup menatapnya sehingga Musa menyelubungi wajahnya. Musa menyampaikan pada umat Israel apa yang telah diperintahkan Tuhan kepadanya. Muka yang bercahaya itu sesungguhnya adalah tanda bagaimana Tuhan menunjukkan kemuliaanNya melalui Musa agar hamba-hambaNya setia mengerjakan pekerjaanNya di muka bumi ini. Tanda yang berwujud cahaya itu hanya sementara, namun harus ditindaklanjuti dengan pelaksanaan perintah yang disampaikannya.

Dalam Mazmur 99:1-9, kemuliaan Tuhan digambarkan sebagai Raja yang kudus. Ia duduk di atas kerub-kerub, Ia tinggi mengatasi segala bangsa. Seluruh perikop ini bukan saja mengangkat Tuhan sebagai pemegang penuh kekuasaan, sehingga bangsa-bangsa gemetar, tapi kemuliaanNya dinyatakan sebagai penegak kebenaran, hukum dan keadilan.

Sayangnya kadangkala perasaan-perasaan negatif yang ada di tengah penderitaan menutupi kemuliaan Tuhan. Dengan tetap memelihara dan mengalami perjumpaan dengan Tuhan saja, maka orang Kristen akan membiarkan cahaya kemuliaan Tuhan bersinar terang dalam hidupnya. Untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan, orang Kristen harus memiliki sikap tunduk dan takluk kepada Allah, karena sikap ini akan ‘menyingkapkan selubung’ pada mata hati manusia untuk melihat kemuliaan Allah di dalam Kristus (2 Kor 3:12-18).

Kisah Orang Samaria yang Murah Hati (Lukas 9:28-36) dan tindakan Maria yang memilih duduk di kaki Yesus ketimbang melayani para tamu seperti yang dilakukan saudaranya, Marta (Luk. 9:37-43), mau menerangkan bahwa tidak ada selubung yang menutupi hati orang-orang yang tulus merasakan kemuliaan Allah (2 Kor.3:16). Selubung yang menutupi wajah Musa sebetulnya untuk menutupi kenyataan bahwa cahaya itu hanya berlangsung sementara. Yang penting adalah tindaklanjut pesan cahaya itu.

Bila ada gejolak di hati kita saat disadarkan bahwa Tuhan sungguh berpihak pada kita, janganlah hanya menyatakan syukur yang akan segera diselubungi oleh dinamika kehidupan kita dengan berbagai permasalahannya. Tuhan menghendaki agar cahaya kemuliaan itu tidak sirna dan terus menggerakkan kita untuk lebih bertanggungjawab atas kepercayaan dan karunia yang Tuhan berikan pada kita untuk meneruskan karya Nya di muka bumi ini. Amin.
pkm

     

31 Januari 2016
MENGHADIRKAN KRISTUS DAN KASIH-NYA BERSAMA-SAMA
Yer. 1:4-10; Maz. 71:1-6; 1 Kor. 13:1-13; Luk. 4:21-30

Allah sudah mengenal kita sejak kita masih dalam kandungan. Kita telah dipilih Allah sejak semula untuk hadir di dunia ini membawa Kasih dari Allah. Kita hadir di dunia ini bukan untuk diri kita sendiri, tetapi untuk membawa Karya Allah melalui hidup kita bagi sesama (Yer. 1:5). Nubuat Nabi Yeremia ini juga berlaku untuk setiap orang.

Rasul Paulus menekankan betapa pentingnya pelayanan Kasih itu. Dari semua hal yang penting, kasih lah yang paling utama (1 Kor. 13:13). Tanpa kasih hidup manusia sama sekali tidak bermakna. Tanpa kasih hidup kita tidak kekal. Ia berpanjang-panjang menjelaskan semua hal yang kita anggap baik, dan betapa hal-hal itu tidak berarti tanpa kasih.

Kristus sendiri menjelaskan nubuat Nabi Yesaya apa artinya orang yang hidup tanpa kasih (Luk. 4:21). Orang tanpa Kasih dari Allah itu hidup seperti orang miskin, orang tawanan, orang buta, dan orang tertindas. Ia tidak berdaya karena ia dimotivasi oleh keserakahan, trauma, kebodohan, dan ketakutan. Situasi yang menakutkan membuat ia lumpuh, tidak sanggup menjalankan tugas yang dinubuatkan Yeremia itu.

Jelaslah betapa pentingnya arti hidup kita bagi sesama kita. Melalui kita dan pelayanan kasih kita itu, sesama kita memperoleh hidup. Melalui pelayanan kasih kita, orang dibebaskan dari keterikatannya pada dunia. Melalui kasih orang dicelikkan matanya akan kebenaran Allah. Melalui kasih orang dibebaskan dari kekejaman penindasan. Penderitaan manusia masih terjadi di mana-mana karena orang Kristen tidak menjalankan missi pelayanan kasih itu.

Pemazmur menjelaskan bahwa ada beberapa hambatan bagi kita untuk melaksanakan tugas kita itu. Pertama datang dari dalam diri kita, yaitu kita terlalu sensitif untuk merasa malu. Kita haus akan persetujuan (approval) orang lain. Kedua datang dari orang lain yang lalim dan kejam kepada kita (Maz. 71:1-6). Itu menyebabkan kita mengurung diri dan tidak bersedia hadir dalam masyarakat dengan membawa kasih itu.

Kita perlu menyerahkan kekuatiran dan kecemasan kita kepada Alah, gunung batu kita. Ia lah yang akan melindungi kita. Ia lah yang akan menguatkan kita. Ialah yang mencukupkan kebutuhan hidup pelayan Kasih kita. Karena pada dasarnya Ia lah yang bekerja melalui kita. Sehingga tugas kita adalah menyerahkan diri kita untuk dipakai Allah menghadirkan Kristus dan KasihNya. Tugas kita adalah meninggalkan cara hidup yang menghalangi Allah bekerja melalui kita. Kita diminta setia menjadi alatNya. Kita sendiri tidak menutup diri, tapi hadir bagi sesama menjadi suri teladan orang yang sudah mendapatkan pelayanan Kasih oleh Kristus.
AL

 

24 Januari 2016
BACALAH DAN DENGARLAH
Neh 8:1-10; Mzm 19; 1 Kor 12:12-31; Lks 4:14-21

Bulan Juni 2015 yang lalu, Bidang Bina GKI Pasteur mengadakan kampanye Pemahaman Alkitab. Mengapa kampanye ini dianggap perlu? Mestinya karena Bidang Bina ingin agar jemaat lebih merasakan perlunya menyediakan waktu khusus untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan. Mungkin saja sudah banyak jemaat yang membaca buku renungan dan atau Alkitab. Tapi sebaiknya Alkitab tidak hanya sekedar dibaca, tapi benar-benar dimengerti, dan direnungkan, agar firman Tuhan itu betul-betul berbicara secara pribadi kepada kita. Bagi jemaat yang merasa kesulitan untuk mengerti isi Alkitab, bisa datang ke kelompok-kelompok Pemahaman Alkitab, agar dapat membahas sebagian firman Tuhan secara bersama-sama.

Ketika Imam Ezra membacakan beberapa bagian dari kitab Taurat Musa, yakni kitab hukum yang diberikan Tuhan kepada bangsa Israel, seluruh umat mendengarkan dengan segala kesungguhan hati. Mereka bukan hanya sekedar mendengarkan saja, tetapi berusaha mengerti, dan benar-benar menghayati dengan gerak tubuh mereka. Pada waktu Ezra membuka kitab itu, semua orang bangkit berdiri, mengangkat tangan, berlutut, sujud menyembah kepada Tuhan dengan muka sampai ke tanah. Mereka sangat bersungguh-sungguh dalam mendengarkan, dan menaruh perhatian yang penuh kepada pembacaan hukum Tuhan. Semua orang menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu (Neh. 8:1-10). Ini menunjukkan, bahwa firman Tuhan bisa memberikan pengajaran, teguran, nasihat, mendatangkan pertobatan, penghiburan, pemulihan, kelegaan, memberi jalan keluar, hikmat, kedamaian, dan semua kebaikan yang datangnya dari Tuhan.

Pemazmur memberikan kesaksian, bahwa dalam hukum-hukum-Nya, dan dalam pekerjaan tangan-Nya, kita dapat melihat kemuliaan Tuhan. Tuhan memberikan peraturan-peraturan bukan untuk mengekang dan menyusahkan manusia, tetapi sebaliknya, karena Tuhan sangat mengasihi segenap ciptaan-Nya, dan pemeliharaan Tuhan tidak pernah berhenti.
Hukum-hukum itu berguna sempurna bagi manusia, yaitu untuk menyegarkan jiwa, memberikan hikmat Tuhan, menyukakan hati manusia, membuat mata bercahaya, menunjukkan kebenaran, keadilan, lebih indah daripada emas tua, lebih manis daripada madu murni. Orang yang berpegang padanya akan mendapat upah yang besar dari Tuhan sendiri (Mzm. 19).

Firman Tuhan mengingatkan, bahwa semua orang percaya adalah anggota-anggota tubuh Kristus, yang menerima karunia yang berbeda-beda, saling membutuhkan dan memperlengkapi satu dengan yang lain. Karena itu, baiklah kita menerapkan firman Tuhan, dengan mewujudkan kebenaran dan keadilan, saling menghormati keunikan masing-masing orang, menghargai setiap karya pelayanan, menerima keberadaan setiap orang dengan belas kasih dan pengampunan, seperti yang telah Kristus lakukan terhadap kita. Selain saling memperhatikan sesama orang percaya, kitapun diberi karunia untuk mengajarkan firman Tuhan, dan menjadi saksi Kristus bagi orang yang belum percaya kepada-Nya (1 Kor. 12:12-31).

Selama Tuhan Yesus hidup di dunia, Ia memberi teladan ketekunan-Nya untuk pergi ke tempat ibadah, dan juga membuka Alkitab. Tuhan Yesus mengajarkan pentingnya membaca, dan mendengar suara Tuhan melalui firman Tuhan. Hidup orang percaya dipimpin oleh Roh Tuhan, sehingga dimampukan-Nya untuk menyampaikan kabar baik yang memberi pembebasan dan penyelamatan sejati di dalam Kristus (Lks. 4:14-21).

Banyak orang yang tidak bisa hidup tanpa gadget, tapi banyak orang Kristen yang hidup tanpa merasa perlu Alkitab. Jika hp kita tertinggal di rumah, kita akan balik ke rumah untuk mengambilnya. Sesibuk apapun, jika hp kita berbunyi yang menandakan ada berita yang masuk, segera kita akan melihatnya.
Setelah membaca dan mendengarkan suara Tuhan dari ayat-ayat yang kita bahas di atas, masihkah kita menganggap gadget kita lebih penting daripada Alkitab? Menurut survey, rata-rata orang Indonesia membuka hp sebanyak 150 kali per hari (tidak penting angkanya benar atau tidak, tapi yang jelas angkanya sangat besar). Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing, berapa kali per hari kita membuka Alkitab? Seberapa penting firman Tuhan bagi kita? Kiranya Tuhan menolong kita semua, agar semakin merindukan firman-Nya dalam memandu hidup kita. Amin.
Nancy Hendranata

     

17 Januari 2016
TEMPAYAN KOSONG MENJADI PENUH
Yesaya 62:1-5, Mazmur 36:6-11, I Korintus 12:1-11, Yohanes 2:1-11

Dalam renungan ini kita fokus di pembahasan Tempayan. Mengapa tempayan? Karena sangat jarang pengkhotbah membahas tempayan ini. Tempayan bagi tradisi Yahudi terbuat dari tanah yang biasanya digunakan untuk tempat air. Pada umumnya tempayan ditaruh di depan rumah yang telah dipenuhi dengan air. Sebelum orang masuk ke rumah, ia harus membasuh kaki dan tangan terlebih dahulu dengan air dari tempayan itu. Tempayan bukanlah barang yang berharga bagi orang Yahudi, bukan barang yang memiliki nilai tinggi secara ekonomi. Namun barang tersebut dipakai untuk sesuatu yang sangat penting dan berharga, yaitu membasuh tangan dan kaki sebagai lambang penyucian.

Tempayan mengkiaskan hidup kita. Hidup kita yang sebenarnya tidak berarti dan tidak berharga karena dosa telah merusaknya dan mengotori kita. Kita diciptakan oleh Allah dari debu dan tanah, yang menjelaskan kita tidak memiliki kekuatan dan kemuliaan. Ketika Allah menghembuskan rohNya ke dalam diri manusia, maka pada saat itulah manusia menjadi mahluk hidup. Hanya oleh karena kasih karunia Allah yang membuat hidup kita berharga dan mulia.

Tempayan yang kosong dan tak berarti itu akan menjadi berharga dan berarti ketika Tuhan mengisinya dengan air dan mengubahnya menjadi anggur yang terbaik. Itulah yang dialami oleh keluarga yang sedang melaksanakan pesta pernikahan.

Keluarga ini telah diberkati oleh Allah dengan air anggur yang melimpah, dan menjadi berkat bagi para pengunjung pernikahan itu. Allah telah mengubah pesta perkawinan dari kemuraman, ketakutan dan kecemasan karena krisis air anggur, kasih karunia Tuhan Yesus telah mengubahnya menjadi perkawinan yang penuh dengan sukacita.

Keluarga dan hidup kita seringkali diperhadapkan pada kesulitan, ketakutan, kecemasan, dan seringkali kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan. Namun demikian, oleh kasih karunia dan berkat Tuhan, kita bisa melewati semua itu dengan kekuatan dan sukacita. Kita yang sebebnarnya tidak memiliki kekuatan dan kemampuan apa-apa untuk menyelesaikan semua itu, tetapi ternyata Tuhan memberikan kekuatan dan berkat. Tempayan yang kosong itu telah dibuat-Nya menjadi penuh air kehidupan yang mendatangkan kehidupan dan sukacita. Tuhan memberkati kita, Amin.
RDS

 

10 Januari 2016
“KETIKA YESUS JUGA DIBAPTISKAN”
Yes. 43:1-7; Maz 29; Kis. 8:14-17; Luk. 3:15-17, 21-22

Melalui peristiwa baptisan dalam Injil Lukas tersebut di atas, kita menemukan dua hal yang bisa kita renungkan bersama dalam minggu ini.

Yang pertama, Yesus hadir sebagai pribadi yang diperkenan dan dikasihi Allah Bapa untuk menyertai perjalanan kehidupan kita. Allah melalui Yesaya pernah bersabda demikian ....: "Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.

Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau ... (Yes 43:1-2). Oleh karenanya, kita tidak perlu berlarut-larut hidup dalam kegelisahan, kekuatiran, ketakutan dan sebagainya yang membuat kita jatuh lagi dalam dosa. Dan kita tidak perlu takut menghadapi tantangan dan masalah, sebab Allah menyertai kita.

Yang kedua, kita diingatkan untuk menjalani hidup ini dengan doa. Kisah Para Rasul menceritakan tentang bagaimana kehidupan para murid dengan berdoa. Salah satunya seperti yang terdapat dalam pasal 8:15, "Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus ". Kehidupan berdoa itulah yang memampukan para murid untuk menjadi saksi Kristus di tengah hambatan dan tantangan hidup. Melalui pengisahan baptisan Lukas dan keteladanan para murid, kita diingatkan kembali tentang pentingnya menjalani kehidupan ini dengan berdoa.

Melalui kedua hal ini, marilah kita hadapi segala permasalahan dan pergumulan yang sedang ataupun yang akan melanda kita di tahun 2016 ini. Semoga dengan iman dan kehidupan spiritual yang benar, kita boleh dan siap untuk ditampi oleh Sang Penampi yang sudah datang. Tuhan memberkati.
denni setiawan

     

3 Januari 2016
Terang Menerangi Kegelapan
Yer. 31:7-14; Mzm. 147:12-20; Ef. 1:3-14; Yoh. 1:1-9

Selama manusia di dunia, ia berada dalam realitas kegelapan yakni kekelaman, kesesakkan, tiadanya harapan, dan bahkan kematian. Manusia dibelenggu ketakutan. Masa depan yang masih misteri menjadi mengkhawatirkan karena sesuatu yang buruk bisa terjadi. Keadaan tersebut membuat manusia tidak mampu mensyukuri kuasa dan kasih Tuhan yang telah dan sedang mereka rasakan.
Jadi hidup dan terang adalah dua aspek yang dibutuhkan oleh setiap mahluk hidup. Seperti tanaman tanpa cahaya matahari (terang), ia akan mati. Injil Yohanes menyatakan : “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh. 1:4-5). Di dalam diri Kristus terdapat daya yang menghidupkan dan terang yang menerangi setiap aspek kehidupan. Kristus sebagai Terang, mampu menembus kegelapan sehingga tersedia harapan, kelegaan, semangat hidup, sukacita, dan daya kehidupan.

Memasuki tahun baru 2016, dengan iman pada Kristus seseorang tidak perlu takut. Bukan karena hidupnya akan mudah, bukan juga karena ia cukup kuat untuk menghadapi masalah. Tetapi karena di dalam hidup itu ada Kristus. Ia adalah Terang kehidupan. Karena itu, andaikata pun hari esok seseorang dilingkupi kegelapan, namun bila ia menjalaninya bersama dengan Kristus, maka kegelapan akan dikalahkan. Lebih dari itu, ia bahkan bisa menghadirkan terang Tuhan di tengah kegelapan.

Pada masa ini kita melihat fenomena kekerasan atas nama Tuhan. Hal ini mengingatkan kita agar setiap klaim kebenaran harus bersedia diuji dan diklarifikasi, khususnya mesti dikaitkan dengan penghormatan dan penghargaan akan martabat kemanusiaan. Karena setiap klaim kebenaran yang merendahkan dan menista martabat kemanusiaan walaupun dianggap sebagai kebenaran Allah atau diturunkan dari sorga, harus kita tolak. Sebab hakikat kebenaran Allah senantiasa mendatangkan damai-sejahtera dan keselamatan (syalom), kehidupan dan terang yang membebaskan umat manusia.

Kebenaran Allah tidak akan mendatangkan ketakutan, kecemasan dan kegelisahan sebaliknya sukacita dan damai-sejahtera. Tuhan Yesus berkata: “... kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:32). Gambaran kebenaran Allah terlukis dalam Yeremia 31 ayat 13 yang berkata: “Pada waktu itu anak-anak dara akan bersukaria menari beramai-ramai, orang-orang muda dan orang-orang tua akan bergembira. Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur mereka dan menyukakan mereka sesudah kedukaan mereka.”

Apa peran umat Kristen di tengah dunia yang membutuhkan terang ini ? Umat Kristen dinantikan untuk membawa pembaruan sehingga mengubah setiap kesedihan, penderitaan dan penindasan menjadi realitas syalom. Setiap umat percaya dipanggil menghadirkan terang (=kebenaran) Kristus yang menerangi kekelaman hidup sehingga mendatangkan pengharapan dan sukacita, penghargaan akan kehidupan, dan penghormatan akan martabat manusia, serta perlindungan setiap orang untuk hidup setara dan tanpa diskriminasi. Peran umat kristen adalah menyaksikan bahwa Allah yang disembah berlimpah kebijaksanaan yang tak terhingga (Maz 147:5). Selamat menjalani hidup di tahun baru 2016, untuk turut membawa kebenaran (terang) yang mengubahkan. Selamat menjadi umat yang menjadi puji-pujian bagi kemulianNya (Ef. 1:12). Amin.
pkm

 

27 Desember 2015
Makin Dikasihi Oleh Allah dan Manusia
1 Samuel 2:18-20, 26; Mazmur 148; Kolose 3:12-17; Lukas 2:41-52

Apakah iman anda dan saya bertumbuh? Bagaimana caranya untuk mengetahui pertumbuhan iman kita? Dan bagaimana menumbuhkannya? Ciri-ciri pertumbuhan iman kita adalah bertambahnya belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran (Kolose 3:12).

Dengan kita mempelajari kehidupan Tuhan Yesus dan Samuel pada masa kecilnya, kita akan memahami pertumbuhan iman, yang artinya makin dikasihi oleh Allah dan manusia karena kita menjadi manusia baru (1 Samuel 2:18-20,26; Lukas 2:41-52).

Salah satu praktik pertumbuhan iman adalah pengembangan moral dan etika kehidupan kita seperti penerapan perilaku mengantri pada kehidupan sehari-hari. Dalam praktik mengantri, kita belajar banyak hal (diambil dari fanspage Ayah Edy), antara lain:

  • Kita belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
  • Kita belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika kita di antrian paling belakang.
  • Kita belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting.
  • Kita belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
  • Kita belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
  • belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
  • Kita belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
  • Kita belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
  • Kita belajar disiplin, teratur, dan kerapian.
  • Kita belajar memiliki rasa malu, jika kita menyerobot antrian dan hak orang lain
  • Kita belajar bekerja sama dengan orang-orang yang ada di dekatnya jika sementara mengantri kita harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
  • Kita belajar jujur pada diri sendiri pada orang lain dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya.

Jadi rupanya praktik perbuatan mengantri lebih diperlukan dari pengetahuan matematik bagi banyak orang. Oleh karena itu marilah kita belajar mempraktikan mengantri tersebut sebagai praktik pertumbuhan iman kita masing-masing sehingga kita semakin dikasihi oleh Allah dan manusia. Selamat mencoba dan kiranya Allah Bapa Surgawi memberkati setiap kita yang mempraktikannya sebagai orang yang dikasihi oleh Allah dan manusia, Amin
BHS

     

20 Desember 2015
Menghayati Kerendahan Hati Maria, Ibu Yesus
Mikha 5:2-5; Lukas 1:46-55; Ibrani 10:5-10; Lukas 1:35-56

Di hiruk-pikuk dunia yang didominasi laki-laki, tampil Maria, seorang perempuan yang rendah hati, jujur, sederhana namun mengenal Allah. Ia seorang perempuan biasa yang siap menjalani rutinitas kehidupan, berencana menikah dengan pemuda Yusuf, dan nanti melahirkan dan membesarkan anak mereka. Sama dengan semua orang Israel, iapun senantiasa menanti akan kedatangan Mesias yang akan menyelamatkan bangsanya.
Tidak ia sangka bahwa Allah mengutus Gabriel, memanggilnya untuk mengambil bagian dalam rencana Allah. Maria akan mengandung, melahirkan, dan membesarkan seorang anak yang berasal dari Allah. Maria akan dikaruniai Roh Kudus yang menuntunnya menjalankan kehendak Allah (Luk. 1:35).

Kegembiraan sejati terjadi saat kita dipilih Allah untuk berkarya di dunia (Luk. 1:46-49). Maria menyadari semua yang baik di dunia ini adalah buah karya Allah, sehingga Maria amat bersyukur boleh menjadi bagian dari karya besar Allah. Ketaatan Maria itulah yang menguatkannya mendampingi Yesus sejak kecil, dewasa, dan mati di kayu salib. Maria sendiri berperan besar dalam pembangunan jemaat Kristus yang pertama.

Allah menghendaki bukan korban bakaran. Korban bakaran itu adalah peringatan akan dosa. Allah menghendaki kita melakukan kehendak-Nya, mengambil bagian dalam rencana-Nya (Ibrani 10:9-10). Roh Kudus akan turun ke dalam diri kita untuk menuntun kita pada kehendak Allah.

Komitmen kita untuk hidup sesuai kehendak dan rencana Allah haruslah dibarengi dengan karakter yang rendah hati dan penuh syukur kepada Allah. Karakter yang buruk akan menggagalkan kita dalam memenuhi komitmen itu. Kesombongan selalu menggagalkan karya orang yang bertalenta besar sekalipun. Oleh sebab itu kita harus bersedia untuk mengosongkan diri, tidak tergoda oleh berbagai kehendak dan rencana sendiri.

Semua anak yang kita lahirkan berasal dari Allah. Wajar bila kita ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita. Namun Maria mengajarkan setiap perempuan untuk rendah hati, setia membesarkan dan mendidik anaknya untuk hidup dalam rencana Allah. Berbahagialah setiap perempuan yang melahirkan dan membesarkan putera-puterinya dan menjadi alat damai sejahtera Allah, yang bergerak dalam kekuatan Allah, dan dalam kemegahan nama Tuhan Allahnya (Mikha 5:3-4)
AL

 

13 Desember 2015
Siap Ditampi Oleh Penghakiman-Nya
Zefanya 3:14-20, Yesaya 12:2-6, Filipi 4:4-7, Lukas 3:7-18

Minggu ini kita memasuki Masa adven ketiga yang bernuansa kegembiraan, sebab pengharapan umat akan pertolongan Allah mulai menyala. Ini menjadi sebuah pertanda bahwa pengharapan itu mestinya mendatangkan sukacita. Pada adven ini kita mempersiapkan dri untuk menyambut Kristus dalam dunia dan dalam hati kita. Konsep ini sesuai dengan gagasan Zefanya tentang Tuhan, sebagai pahlawan yang memberi kemenangan . Tuhan bergirang karena pembaharuan dalam kasihNya (Zef 3:17). Hal senada diungkapkan Yesaya (12:2-6). Umat diajak tak hanya terpaku pada derita, namun juga merayakan dengan penuh pengharapan kehadiran Allah dalam kehidupan mereka. Sekaligus umat menghayati kedatangan Tuhan yang kian mendekat, mendapat panggilan untuk memancarkan kebaikan hati dalam sukacita dan damai sejahtera Kristus (Filipi 4:4-7).

Bagaimana kita masuk ke dalam sukacita ? Tidak lain adalah melalui pertobatan, yang diawali dengan kesediaan untuk mengoreksi diri dan menata diri. Pertobatan yang diwarnai oleh pengharapan akan kedatangan Tuhan, dimana kita dipanggil untuk menyesuaikan diri dengan kehendak Tuhan. Pertobatan yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis (Lukas 3:7-18) ini bertujuan agar kita dapat menyambut Kristus Sang Penyelamat dengan sukacita.

Berita adven adalah ajakan untuk melihat segala kesuraman dan penderitaan dalam perspektif yang lebih berpengharapan, sehingga ada sukacita yang menyeruak melalui pemaknaan iman yang tepat dan krisis.

Nah ditengah situasi hidup yang penuh tantangan, tekanan ekonomi yang tak kunjung reda, belum lagi adanya berbagai persoalan keluarga, semua menantang kita untuk menapaki jalan adven, dimana iman dan pengharapan kita harus dapat menjawab tantangan zaman. Melalui perenungan dalam konteks inilah kita “siap ditampi oleh oleh penghakimanNya”.

Dengan demikian Natal akan disambut dengan sukacita dalam seluruh hati dan pikiran, bukan disambut dengan ketakutan akan hukuman. Natal dengan demkian menjadi hal yang dirindukan dan dirayakan, dalam seluruh kehidupan. Marilah kita sekarang ini merefleksikan hal iman kita, apakah kehidupan iman kita telah mendatangkan sukacita.
Marilah kita menggunakan waktu ini sebagai kesempatan kita untuk merendahkan diri dan bertobat. Karena apa yang Tuhan harapkan dari kita bukan sekedar hidup biasa, tetapi hidup yang berkontribusi bagi kehidupan di sekeliling kita. Amin.
pkm

     

6 Desember 2015
Tugas Kenabian Masa Kini
Mal. 3:1-4, Luk. 1:68-79, Fil. 1:3-11, Luk. 3:1-6

Penindasan yang berkepanjangan membuat bangsa Israel menjadi skeptis. Apalagi ketika Bait Allah sudah diselesaikan, namun penyelesaian pembangunan itu tidak mengantarkan zaman Mesias yang diharap-harapkan. Ketaatan dan kesetiaan mereka kepada Tuhan yang telah mereka perjuangkan di tengah penindasan bangsa Persia (Pemerintahan Persia 520-340 sM) selama ini seakan-akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka. Keadaan ini membuat bangsa Israel tidak lagi memercayai Tuhan dan tidak lagi mengharapkan kedatangan Sang Mesias. Akibatnya umat menjadi tidak taat kepada Allah dan mulai mengikuti bangsa lain menyembah berhala (Mal 2:11). Ketika umat tidak lagi taat kepada Allah, maka umat juga tidak perlu patuh dan taat kepada sesamanya. Perselingkuhan dan perceraian (Mal. 2:14-16) menjadi sebuah kebiasaan – hal yang wajar/lumrah. Kehidupan rohani yang buruk mengakibatkan situasi penindasan, pemerasan, fitnah dan macam-macam bentuk ketidakadilan sosial (Mal.3:5).

Di tengah kondisi seperti itu, Firman Tuhan melalui nabi Maleakhi menyerukan pertobatan dan pengampunan dosa kepada bangsa Israel (Mal. 3:1-4). Beritanya adalah bahwa Tuhan akan mengirimkan utusan-Nya dan Tuhan akan datang. Ini berarti masih ada waktu bagi umat untuk bertobat dan mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan. Dan sejatinya seruan ini memperlihatkan bahwa masih ada ruang di hati Allah bagi bangsa yang berlaku khianat. Allah masih mengingat dan tetap mengasihi mereka (Mal 1:2).

Pertama-tama seruan itu ditujukan kepada kaum Lewi (3:3) sebagai rohaniawan dan yang kedua kepada kaum Yehuda (4) sebagai para pemimpin dan penguasa yang berkedudukan di Yerusalem. Allah akan mengampuni dosa umat yang melekat dalam diri mereka seperti emas dan perak yang dibakar sampai menjadi murni tanpa kotoran yang melekat. Dan gambaran pemurnian tersebut bisa juga bermakna bahwa Allah akan menguji pertobatan umat. Umat yang didapatinya bertobat akan menerima pengampunan. Sedangkan umat yang didapatinya tidak bertobat akan terbakar seperti kotoran yang melekat pada emas ataupun perak.

Setelah ± 500 tahun dari waktu itu, Injil Lukas memberikan kesaksian tentang kelahiran utusan Tuhan (1:76) namanya Yohanes (63). Ia menyerukan pertobatan dan pengampunan dosa bukan saja kepada para rohaniawan (Hanas dan Kayafas – Luk 3:2) dan pemimpin atau penguasa (kaisar, raja dan wali negri – Luk 3:1), tetapi kepada seluruh bangsa Israel dan bangsa lain (Daerah Yordan dan sungai Yordan – identik dengan pemulihan dan pengampunan dosa bagi umat dan bagi bangsa lain – Naaman sembuh di sungai Yordan, II Raja-Raja 5:1-27). Kedatangan utusan mempunyai arti yang pertama, tanda bahwa Tuhan adalah Tuhan yang setia dan pasti menggenapi janji-Nya. Kedua, berarti sudah dekat waktu Tuhan datang, sudah dekat Tuhan menggenapi janji-Nya. Oleh karenanya, umat diingatkan untuk bertobat. Umat diundang untuk hidup lurus tidak bengkok atau untuk hidup di jalan Tuhan. Dan umat diundang untuk ambil bagian dalam mempersiapkan jalan dan kedatangan Tuhan. Di tengah situasi penindasan oleh pemerintah dan di sisi lain adanya pertikaian dan perpecahan membuat Jemaat di Filipi menderita. Dalam situasi tersebut, tidak mudah bagi mereka untuk bisa setia dan taat kepada Tuhan dalam menantikan janji Tuhan. Namun Rasul Paulus yang juga mengalami kondisi yang sama yaitu dipenjarakan dan ada sekelompok orang yang menentangnya (Fil. 1:27-30; 2:21) melalui suratnya, ia tetap mendoakan dan menyuarakan suara kenabiannya agar mereka tetap memilih dan melakukan yang baik, supaya mereka tidak bercacat pada saat kedatangan Kristus (Fil. 1:9-11).

Di Masa Adven kedua ini, kita sebagai Jemaat GKI Pasteur yang telah berusia 28 tahun serta bagian dari umat Tuhan masa kini yang menanti pengenapan janji dan kedatangan Tuhan kedua kali, marilah kita berefleksi melalui pertanyaan ini: 1. Apakah kita sebagai pribadi maupun gereja sudah hidup di jalan Tuhan yang rata dan lurus? 2. Sudahkah kita menyuarakan kebenaran dan keadilan sebagai tugas kenabian yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan? ......................Selamat berefleksi dan beraksi. Tuhan memberkati.
denni setiawan

 

29 Nopember 2015
CERMAT MEMBACA TANDA-TANDA ZAMAN
Yeremia 33:14-16; Mazmur 25:1-10; 1 Tesalonika 3:9-13; Lukas 21:25-36

Masa Advent membawa kita untuk melihat masa penantian Janji Tuhan di masa lampau dan masa kini.
Masa lampau ketik

a umat Israel dalam pembuangan di Babel merindukan kedatangan Mesias yang dijanjikan Allah yang akan membebaskan umat-Nya dari kesesakan. Yang digenapi Allah di dalam diri Kristus, lahir sebagai bayi yang lemah di tengah kemiskinan dunia, namun dalam kemuliaan sorgawi. Karena Allah sendiri mau merendahkan diri turun ke bumi sebagai seorang hamba, yaitu Yesus keturunan raja Daud yang menjadi pembebas manusia dari kuasa dosa dan memberikan keselamatan bagi dunia. Janji Allah ini dinubuatkan nabi Yeremia bagi bangsa Israel yaitu kedatangan Raja Damai, keturunan raja Daud.

Mazmur 25 menuliskan bagaimana umat Allah menyiapkan diri menyambut kedatangan Mesias dengan bertobat dan mengikut jalan Allah. Tanda-tanda kosmis yang menyertai kelahiran Kristus dibaca oleh orang-orang majus melalui munculnya bintang terang di Timur, dan mereka mengikutinya untuk berjumpa dengan Mesias yang telah lahir.

Masa penantian di masa kini adalah menantikan kedatangan Kristus yang kedua kalinya ke dunia, bukan lagi sebagai bayi yang lemah melainkan sebagai Raja dan Hakim yang Agung.
Jemaat Tesalonika menanggapi berita bahwa Yesus "segera" datang kembali dengan penuh iman, walaupun mereka mengalami penganiayaan dari kelompok Yahudi fundamentalis, ancaman perpecahan di kalangan orang percaya, dan lingkungan yang bobrok karena kemerosotan moral penduduk Tesalonika. Surat Paulus kepada jemaat Tesalonika ini merupakan peneguhan akan tanda-tanda kedatangan-Nya dan mendoakan untuk tetap siap sedia dalam iman.

Tesalonika 3:13 (TB) Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya.
Tujuan Yesus menunjukkan tanda-tanda kedatangan-Nya yang kedua kali sepasti kedatangan-Nya yang pertama kali, tetapi tidak satupun yang tahu waktu yang tepat akan kedatangan-Nya. Seperti seorang wanita yang mau melahirkan mengetahui tanda-tandanya namun tidak tahu pasti waktu kelahiran bayinya.
Lukas 21, Tuhan Yesus mengatakan tanda-tanda kedatangan-Nya yang kedua kalinya akan didahului dengan peristiwa kosmis yang menggoncangkan luar biasa. Manusia duniawi menjadi sangat bobrok karena kemerosotan moral. Tuhan Yesus berpesan kepada umat-Nya bahwa "Saat penyelamatan sudah dekat" Hari Tuhan bukan kiamat bagi orang yang mengimani Kristus, melainkan merupakan "Hari keselamatan". "...perkataan-Ku, tidak akan berlalu" Firman-Nya pasti digenapi sepenuh-Nya, tentunya bagi siapa yang berpegang pada Firman-Nya. "Berjaga-jaga dan berdoa", merupakan sikap yang selau siap sedia bagi setiap orang percaya. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

     

22 Nopember 2015
KARAKTER RAJAWI DI TENGAH DERITA
2 Samuel 23 : 1-7; Mazmur 132; Wahyu 1 : 4-8; Yohanes 18 : 33-37

Setiap pekerjaan atau profesi punya karakternya masing-masing, demikian pula dengan pelaksana pekerjaan dan profesi itu. Contoh, seorang pramuniaga semestinya melayani calon pembeli dengan sebaik-baiknya, karena calon pembeli adalah `raja’. Seorang sopir bus kota seharusnya mengemudikan busnya dengan baik demi keselamatan para penumpangnya. Dalam praktik, dapat terjadi pramuniaga melayani dengan sikap judes, atau sopir bus kota mengemudikan busnya dengan ugal-ugalan. Nyata, karakter pekerjaan/profesi tidak sesuai dengan karakter pelaksananya.

Sama halnya, karakter jabatan seorang raja adalah memerintah dengan bijaksana, memenuhi kebutuhan SPP (sandang, pangan, dan papan) rakyatnya dengan baik, serta melindungi rakyatnya dari penyakit, bencana alam, dan agresi negara lain. Sekiranya rajanya memahami karakter jabatan tersebut dan melaksanakannya, maka ia adalah seorang raja yang rajawi. Bagaimana jika kita mengikuti alur lakon cerita wayang `Petruk dadi ratu’ (Ams. 30 : 22)? Seorang punakawan (hamba) yang jadi raja? Apa jadinya? Tentu ia akan memerintah dengan cara yang tidak baik.

Bacaan kita hari ini berbicara tentang tokoh Raja Daud yang benar-benar rajawi, sebab ia menjadi raja yang takut kepada Allah, memerintah rakyatnya dengan baik, dan berani menghadapi orang-orang durjana. Maka Daud harus mengalami banyak penderitaan dalam melaksanakan tugas jabatannya sebagai raja. Hal ini dikisahkannya melalui 2 Samuel 23:1-7 dan Mazmur 132, sehingga Raja Daud adalah seorang raja yang benar-benar rajawi. Juga Tuhan Yesus yang berdialog dengan Pilatus dan menyatakan jati diri-Nya sebagai Raja dari kerajaan sorgawi, Ia menghadirkan kebenaran. Sementara Pilatus sendiri tidak mendasarkan keputusan pengadilannya pada kebenaran, terbukti kendati Tuhan Yesus tak bersalah, tetapi harus menjalani hukuman salib.

Kenyataan itu bertolak belakang dengan Tuhan Yesus yang menghadirkan kebenaran salib melalui penderitaan-Nya untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa. Kesemuanya itu terjadi, karena Tuhan Yesus adalah Saksi yang setia, Alfa dan Omega, yang Mahakuasa, yang ada sebelum semuanya ada, dan yang masih ada sesudah semuanya tiada (Yoh. 8:28).

Sekarang, bagaimana kena mengena dengan kita selaku para pengikut Tuhan Yesus? Bukankah kepada kita juga diberikan jabatan raja (1 Ptr. 2:9 -10)?. Adakah kita juga punya karakter rajawi? Jika kita punya, karakter rajawi itu kita nampakkan dengan cara memerintah diri kita sendiri untuk taat kepada perintah Tuhan Yesus, melengkapi diri kita dengan SPP dalam arti rohani, dan kita mampu menjaga diri dari serangan kuasa kegelapan.

Sesudah itu, kita pun mewujudkan karakter rajawi kita dalam persekutuan gerejawi dan tugas Kristiani berupa kesaksian dan pelayanan kita. Silakan kita berkiprah melalui kehidupan kita di tengah jemaat dan masyarakat, sekali pun harus memikul beban penderitaan karena keberimanan kita kepada Tuhan Yesus. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

15 Nopember 2015
Menghadap Allah dengan hati yang tulus
1 Sam 1:4-20; 1Sam 2:1-10; Ibr 10:11-25;Mark 13:1-8

Jika ada seorang bertanya kepada kita, apakah kita sudah sungguh-sungguh menyiapkan diri dan hati kita ketika kita datang kepada Tuhan untuk beribadah kepadaNya? Ambil contoh paling sederhana saja, ketika kita beribadah setiap hari Minggu di gereja, apa yang kita lakukan ketika kita datang ke gereja? Apakah saat kita datang kita benar-benar fokus ketika kita memuji Tuhan dan ketika kita mendengarkan Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pendeta? Atau kita malah masih sibuk SMS-an, BBM-an, meng-update status, atau sibuk bercanda dengan teman-teman kita?

Sayangnya masih cukup banyak orang Kristen yang seperti ini. Mereka tidak sadar bahwa ketika mereka datang beribadah di gereja, sesungguhnya kita sedang masuk ke tempat yang kudus, bahkan maha kudus (Ibr 10:19b). Bangsa Israel di zaman Perjanjian Lama, mereka tidak dapat sembarangan masuk ke tempat kudus. Hanya para imam yang boleh masuk ke tempat kudus. Bahkan hanya Imam Besar yang boleh masuk ke tempat maha kudus di kemah pertemuan maupun di Bait Allah. Ada persyaratan-persyaratan tertentu bagi imam itu yaitu mereka harus menguduskan diri sebelum mereka boleh masuk ke sana dan tidak sembarang orang yang boleh menghadap Tuhan di tempat kudusNya.

Akan tetapi, di masa Perjanjian Baru, dengan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, maka darah Yesus itulah yang menguduskan kita dan membuat kita dapat masuk ke dalam tempat kudus.
Jika kita mau sungguh-sungguh renungkan, sebenarnya ini adalah anugerah dan karunia Tuhan yang luar biasa, bahwa kita boleh datang kepada Allah melalui Yesus Kristus. Oleh karena itu ayat selanjutnya mengatakan bahwa kita harus menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh (Ibr 10: 22a). Hati yang tulus ikhlas menggambarkan sikap hati kita yang bersih dari motivasi yang tidak benar dalam menghadap Tuhan.

Ini menjadi perhatian dan peringatan bagi kita, agar kita sungguh-sungguh memiliki sikap hati yang benar dan kudus ketika kita datang ke hadirat Tuhan. Jangan sembarangan menghadap hadirat Tuhan. Jadilah anak-anak Tuhan yang hidup sungguh-sungguh di hadapan Tuhan, sungguh-sungguh beribadah dan sungguh-sungguh melayani Tuhan.
denni setiawan

     

8 Nopember 2015
Korban Kristus yang Sempurna Menjadi Dasar Kepercayaan Umat Tuhan
Rut 3:1-5, 4:13-17; Maz. 127; Ibr. 9:24-28; Mark. 12:38-44

Sejak manusia jatuh dalam dosa (Kej. 3), hidup manusia jauh dari Allah. Akibatnya manusia tidak lagi dapat merasakan kedamaian dan sukacita hidup. Dosa membuat manusia hidup dalam bayang-bayang maut. Hidup berjumpa dan bersama Allah menjadi sebuah kehidupan yang diharapkan dan dirindukan. Melalui korban penebus dosa, orang Yahudi berupaya menghampiri Allah. Namun korban penebus dosa yang berasal dari manusia itu bersifat sementara. Karenanya, mereka berulang kali melakukan korban penebus dosa untuk menghadap Allah. Orang Yahudi menghayati benar bahwa berjumpa dan hidup bersama Allah merupakan hidup yang sempurna, dan sebuah kehidupan yang istimewa, bagaikan seorang yang menemukan harta terpendam dan rela menjual seluruh miliknya untuk mendapatkannya (Mat 13:44 – tentang Kerajaan Allah bagaikan harta yang terpendam). Oleh karenanya, korban penebus dosa menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.

Berbeda dengan orang Yahudi yang berulang kali dan masih berharap bisa berjumpa dengan Allah, kita yang percaya kepada Kristus sebagai korban penebus dosa telah menerima anugerah tersebut, yaitu berjumpa dan hidup bersama Allah. Bukankah ini sebuah anugerah yang istimewa dan luar biasa? Jika kita meletakan dasar iman dan kepercayaan pada korban Kristus, maka kehidupan kita merupakan kehidupan yang sempurna. Karena korban Kristus yang sekali itu – dan memang cukup sekali karena Yesus berasal dari Allah – mampu menjumpakan umat yang berdosa dengan Allah Yang Kudus untuk selamanya (Ibr. 9:24-28). Adakah kita akan merasa kekurangan jika Allah hadir dan hidup di dalam kita? Tidak! Karena Kristus yang menjaminnya (Ibr. 9:24,... guna kepentingan kita).

Oleh karenanya, iman dan kepercayaan melalui korban Kristus ini, seharusnya mengubah hidup kita dari hidup yang selalu merasa kekurangan menjadi hidup yang selalu merasa kecukupan. Mengubah hidup yang selalu haus dan lapar akan harta dan kekuasaan menjadi hidup yang penuh syukur dengan apa yang dimilikinya. Janda dalam kisah Mark 12:41-44 merupakan teladan kehidupan yang penuh syukur kepada Allah.

Kata-kata Tuhan Yesus tentang janda tersebut dalam bahasa populer sekarang ini mungkin seperti ini, “Janda itu memilih untuk tidak punya apa-apa, tetapi yang penting punya Allah.” Ia memberikan semua nafkahnya dan ia tidak takut untuk kekurangan, kelaparan ataupun kehausan. Baginya yang terpenting adalah ia sudah memberikan yang terbaik untuk Allah. Dan ia pun pasti telah meyakini bahwa Allah tidak akan meninggalkan dan menelantarkannya.

Adakah harta di dunia ini yang melebihi dari sebuah kehidupan berjumpa dan bersama Allah? Tidak. Demikian Salomo menghayati bahwa Allah adalah satu-satunya sumber kehidupan. Semuanya sia-sia jika tanpa Tuhan (Maz.127). Tanpa Tuhan, sehebat apapun manusia itu berusaha semua akan sia-sia. Tanpa Tuhan manusia akan selalu merasa kurang dan tidak sempurna. Umat Kristen seharusnya merupakan umat yang senantiasa merasa cukup, merasa sempurna – bukan bermaksud untuk menjadi sombong, karena kesempurnaan hidup adalah ketika kita telah mampu menghayati dan mendapatkan hidup bersama Allah –, dan senantiasa bersyukur. Karena itu, seorang Kristen tidak akan pernah berkeinginan menindas yang lain apalagi yang lemah. Seperti ahli-ahli Taurat yang sudah kaya dan terpandang, tetapi masih mau menelan si miskin yaitu janda-janda (Mark. 12:40). Bagi seorang Kristen sejati yang memahami bahwa korban Kristus sempurna karena memampukan ia hidup dengan sempurna, maka ia akan berusaha memprioritaskan Allah dalam kehidupannya. Seperti lirik dalam lagu ini, “Kaulah Harapanku”:

Bukan dengan kekuatanku
Ku dapat jalani hidupku
Tanpa Tuhan yang di sampingku
Ku tak mampu sendiri
Engkaulah kuatku
Yang menopangku

Biarlah setiap kita yang percaya kepada Kristus boleh mengimani bahwa tanpa Tuhan hidup kita sia-sia! Amin.
denni setiawan

 

1 Nopember 2015
Disucikan oleh karya Kristus dilayakkan untuk beribadah kepada Allah yang hidup
Rut 1:1-18; Mazmr 146; Ibrn 9:11-14; Markus 12:28-34

Kasih sepenuh hati akan terasa berbeda jika dibandingkan dengan kasih setengah hati (terpaksa). Hanya kasih sepenuh hatilah yang dapat menyentuh hati seseorang. Ada kasih dari seorang ibu rumah tangga yang mempekerjakan seorang pemudi. Pemudi ini dapat merasakan kasih sepenuh hati dalam keluarga dimana ia bekerja. Akhirnya pemudi ini memutuskan menjadi pengikut Kristus. Sekalipun pemudi ini diusir oleh ayah-ibu kandungnya, ia tetap pada keputusannya. Sentuhan kasih Kristus, telah menariknya untuk menjadi murid Kristus.

Hati ibu rumah tangga di atas telah disucikan oleh pengorbanan Kristus. Korban Kristus, telah mengubahnya dan memampukannya mengasihi sepenuh hati. Perbuatan manusia dalam ibadah korban (uang – waktu –talenta, korban bakaran / sembelihan), tak cukup untuk menyucikan hati. Hanya korban Yesuslah yang mampu menyucikan manusia secara menyeluruh. FT sebagai dasar : “... betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.”(Ibrani 9:14). Bahkan korban Kristus, telah melayakkan kita beribadah pada Allah yang hidup. Yesus sendiri mengajarkan bahwa kasih pada Allah dan sesama adalah hukum yang terutama, yang ditegaskan oleh pendapat ahli Taurat : “itu lebih utama dari korban bakaran dan sembelihan” (Markus 12:33).

Korban Kristus memungkinkan manusia meninggalkan perbuatan-perbuatan yang membawa maut dan menjadi hamba Allah yang hidup. Dengan kata lain, korban Kristus bukan saja menyebabkan manusia memperoleh pengampunan dari dosa-dosa masa lalunya, tetapi juga memungkinkan manusia untuk menghayati hidup yang mengabdi kepada Allah. Korban Yesus tidak saja melunasi hutang; kurban itu memberi kemenangan. Kemenangan itulah yang memungkinkan kita sekarang ini dapat beribadah kepada Allah yang hidup.

Banyak orang sudah menjadi cukup puas ketika melayani Tuhan hanya pada level formalitas. Padahal bukan itu yang Tuhan kehendaki! Tuhan menghendaki kita beribadah dalam keseluruhan hidup kita. Sebagai umat yang telah disucikan oleh Kristus, dan dilayakkan beribadah pada Allah, kiranya hidup kita berbuah. Sebagaimana hidup dalam diri Naomi – dalam terminologi kekristenan tertentu – berhasil “memenangkan jiwa” Rut, sehingga Rut, yang tadinya perempuan Moab, bangsa asing kini sepenuhnya percaya kepada Allahnya Naomi (Rut. 1:1-18).

Kiranya kita sekalian makin menyatakan kasih yang menyentuh hati, kasih dari hati yang telah dikuduskan, sikap yg menunjukkan suatu perubahan bahwa kita milikNya. Karena ibadah sejati bermula di tersentuhnya hati manusia sehingga manusia itu merasakan, mengalami & kemudian tergerak melakukan sebuah tindakan mulia. Amin.
pkm

 

     

25 Oktober 2015
"KELUARGA SEBAGAI PERSEMBAHAN TERBAIK BAGI ALLAH"
Ayub 42:1-17, Maz 34, Ibrani 7:23-28, Markus 10:46-52

Seorang anak pasti serupa atau mirip dengan orang tuanya. Ini berarti bahwa anak dan orang tua mempunyai ikatan yang sangat dekat dan intim. Demikian juga, ketika dikatakan dalam Kej. 1:26-27 bahwa manusia itu diciptakan serupa dengan gambar Allah. Itu berarti bahwa manusia mempunyai ikatan yang sangat intim dengan Allah ketimbang ciptaan lainnya. Bisa dikatakan bahwa dalam kisah Kejadian, Allah menciptakan keluarga. Sehingga Allah bisa kita sapa dengan Bapa dan kita manusia adalah anak-anak-Nya. Namun karena dosa, Allah tidak bisa lagi kita sapa dengan Bapa tapi Tuhan, dan manusia bukan lagi anak tetapi hamba. Tapi syukur kepada Allah, karena kasih dan pengorbanan Anak-Nya Yesus Kristus yang menghapuskan dosa manusia (Ibrani 7:25-27), sehingga siapa yang percaya kepada-Nya diangkat kembali menjadi anak-anak Allah. Inilah Keluarga Allah yang baru, keluarga yang bukan terikat pada keturunan, suku, dan ras tetapi keluarga yang terikat oleh kasih dan pengorbanan Yesus Kristus serta yang beriman kepada-Nya.

Di dalam keluarga Allah ini, masing-masing anggotanya sudah seharusnya memberikan kasih kepada anggota yang lain. Karena hal itu yang diteladankan oleh Bapa kita di dalam diri Yesus Kristus yang menjadi korban penebus dosa (Ibr. 7:27). Kasih itu juga diperlihatkan-Nya ketika Ia mengasihi orang buta dan menyembuhkannya (Mark. 10:50-52). Begitu juga dengan kasih yang Ia berikan kepada Ayub dan Daud. Karena kasih-Nya kehidupan Ayub dipulihkan (Ayub 42:10). Dan karena kasih-Nya jugalah Daud mendapatkan pertolongan (Maz 34). Oleh karena itu, barangsiapa yang percaya dan beriman kepada Yesus dan sadar bahwa dirinya adalah anak-anak Allah, maka kasih yang telah ia terima dari Allah haruslah terpancar kepada setiap anggota keluarga dan semua orang.

Kasih yang seperti apa yang bisa kita wujudnyatakan kepada yang lain? Salah satunya adalah kasih yang saling mengampuni. Sama seperti Bapa sudah mengampuni kita, demikian juga semestinya kita mengampuni anggota keluarga kita dan orang lain. Tidak mudah untuk mengampuni. Ya, jika hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri. Namun jika kita benar-benar berniat mengampuni dan disertai doa yang tertuju kepada-Nya, maka tidak ada yang mustahil bagi-Nya untuk memampukan kita mengampuni. Apalagi yang kita ampuni adalah anggota keluarga sendiri. Apabila pengampunan itu benar-benar terjadi, maka pastilah setiap anggota keluarga Allah tidak akan lagi menggunakan topeng kemunafikan (di depan baik, di belakang jahat). Setiap anggota keluarga akan memperlihatkan wajah yang jujur penuh kasih yang tulus dan pengampunan.

Dari bacaan kita minggu ini ada satu hal lagi yang harus dimiliki dan diterapkan oleh anggota-anggota keluarga Allah, selain dari kasih dan pengampunan yaitu ketaatan. Ayub, Daud, dan bahkan Yesus sendiri juga meneladankan ketaatan kepada Allah Bapa. Dalam situasi apapun entah itu menyenangkan ataupun menyengsarakan, baik Ayub maupun Daud mengajak kita untuk menujukan/mengarahkan pandangan kita kepada-Nya (Maz 34:6, Ayub 42:5). Sehingga kita boleh merasakan damai dan sukacita dalam keadaan apapun. Ketaatan menjadi bagian penting bagi setiap orang beriman untuk membuktikan imannya kepada Allah dan kepada sesamanya. Taat beribadah, taat terhadap perintah-perintah-Nya dan taat menjalankan kehidupan sebagai anak-anak Allah. Inilah persembahan yang terbaik bagi Allah ketika masing-masing anggotanya boleh hidup taat kepada Allah, saling mengasihi dan mengampuni satu dengan yang lain.
denni setiawan

 

18 Oktober 2015
"Keluarga Yang Tetap Taat Walaupun Berat"
Ayub 38:1-7; Maz. 104:1-9, 24-25; Ibr. 5:1-10; Mark. 10:35-45

Keluarga Zebedeus layak menjadi pelajaran dan teladan bagi kita. Keluarga ini adalah pengikut Kristus sejak semula. Kedua putera Zebedeus, Yohanes dan Yakobus, menjadi murid Yesus yang tertua dan terkemuka. Ibu mereka, Salome, sangat mendukung Yohanes dan Yakobus menjadi murid Yesus. Peran Zebedeus sebagai ayah rupanya sangat penting pada jemaat mula-mula ini, sehingga nama Zebedeus sering digunakan untuk menyebut Yohanes dan Yakobus (Mark. 10:35, Mat. 20:20).

Kita tahu peran keluarga sangat sentral dalam keberhasilan hidup kita di dunia ini. Keluarga adalah dasar kita bermasyarakat. Di dalam keluarga kita belajar bagaimana mengasihi dan membangun sesama. Dalam keluarga kita belajar saling berbagi, mendukung, menjaga dan melindungi. Juga dalam keluarga kita belajar pembagian otoritas, tugas, dan tanggung jawab.
Allah sendiri yang membentuk keluarga yang serupa dengan Keluarga ilahi. Dengan mengajarkan Allah Bapa dan Anak, dan menyebut kita yang dikasihiNya sebagai anak-anakNya (Maz. 2:7, Ibr. 5:5, Ayub 38:7), Alkitab menggambarkan kehidupan Allah sebagai kehidupan keluarga. Hubungan kita dengan Allah dan sesama adalah hubungan keluarga.
Kita dilahirkan kembali, diperanakkan Allah, dijadikan anakNya, saat kita beriman kepadaNya, saat kita menyadari akan kehadiran Allah dan kekuasaanNya (Ibr. 5:5). Anak-anakNya menyadari bahwa Allah berkuasa atas alam semesta dan kehidupan manusia (Maz. 104:1-9). Sebagai anak-anak Allah, kita menyadari bahwa kehidupan kita adalah ekpresi dari Roh Allah (ay. 30). Allah yang menciptakan dunia ini dengan hikmat yang jauh melebihi pemahaman manusia (Ayub 38:4).

Menyadari kedahsyatan penciptaanNya, kita tidak bisa lain bersorak-sorai memuliakan Bapa kita (ay. 7). Ibu dari Yohanes dan Yakobus ingin sekali Yesus memberikan kemuliaan bagi kedua putera nya itu. Mereka berharap dengan mendukung pelayanan Yesus, maka keluarga ini akan mendapat kehormatan. Tetapi Yesus mendidik mereka bahwa kemuliaan dan hormat itu adalah hak Bapa kita. Bahwa kita menjadi anak-anakNya sudah suatu kehormatan besar. Yesus meneladankan bahwa orang yang paling melayani adalah orang yang paling terkemuka di mata Allah.

Kristus datang untuk melayani bahkan sampai memberikan nyawaNya menjadi tebusan banyak orang (Mark. 10:43-45). Oleh sebab iman ini, maka Kristus telah taat meskipun harus menderita (Ibr. 5:8). Penderitaan ini membawanya kepada kesempurnaanNya. Alkitab mengisahkan bahwa keluarga Zebedeus taat kepada didikan Yesus itu. Mereka tidak lagi mengejar kemuliaan keluarga.
Tradisi gereja mencatat pelayanan dan ketaatan Yohanes dan Yakobus sampai menjadi martir bagi Kristus. Salome, ibu mereka, adalah seorang pelayan dan sosok ibu yang setia mengurus jemaat mula-mula. Karena memilih taat walaupun berat, keluarga Zebedeus telah dipakai Allah dengan hebat.
Allah sendiri yang menetapkan dan membangun keluarga kita, sebagai bagian dari keluarga Allah. Melalui keluarga, Allah memberikan berkat kehidupan bagi setiap orang. Allah juga memanggil setiap keluarga untuk taat sebagai keluarga Allah, membangun tubuh Kristus dan melayani sesama. Walaupun berat, marilah kita taat kepada panggilan ini, sehingga keluarga kita membawa penghormatan dan kemuliaan bagi Bapa kita.
AL

     

11 Oktober 2015
"KELUARGA YANG MENGUTAMAKAN KEHENDAK TUHAN"
Ayub 23:1-17; Mazmur 22:2-16; Ibrani 4:12-16; Markus 10:17-31

Kali ini bacaan Ayub dan Mazmur sangat luar biasa, karena kehidupannya diperhadapkan dengan pilihan-pilihan yang menyesakkan, yang tidak menyenangkan, tapi ternyata mereka memilih yang tepat karena mengutamakan pada kehendak Tuhan, sekalipun sangat menderita dan menyakitkan secara hukum dunia atau hukum kedagingan. Begitu juga sewaktu seorang kaya yang mendambakan kehidupan kekal, diperhadapkan pada 2 pilihan: mengikut Yesus atau mengikut mamon. Berhubung terikat oleh kekayaannya yang berlimpah-limpah, sehingga dia batal mengikut Yesus.

Saat ini, mamon itu dapat berupa kepandaian atau pekerjaan tertentu, anak kesayangan, ucapan keluarga diatas segala-galanya. Cara berpikir itulah yang perlu ditata hirarki keutamaannya, yang utama & pertama adalah mengikut Yesus, tanpa keterikatan dengan hal-hal lainnya, barulah orang tersebut dapat disebut mengutamakan kehendak Tuhan. Orang tersebut kemudian mengajak pasangan dan keluarganya untuk mengikut dan memilih dan mengutamakan kehendak Tuhan sekalipun diperhadapkan dengan kesulitan-kesulitan hidup.

Dalam bulan keluarga ini, kiranya setiap keluarga diberkati waktu dan tempat untuk melakukan perenungan dan kegiatan yang mengutamakan kehendak Tuhan. Amin.
BHS

 

 

 

4 Oktober 2015
"Keluarga Pejuang Kristus"
Ibrani 1:1-4, 2:5-12; Markus 10:2-16

Sebagai keluarga, apakah yang sedang kita perjuangkan? Mungkin kita sedang berjuang untuk pendidikan anak-anak kita, atau pekerjaan kita karena kelesuan ekonomi dunia, atau mempertahankan keutuhan rumah tangga kita. Apapun yang sedang kita perjuangkan, sadarkah kita bahwa kita mestinya bertindak sebagai pejuang Kristus. Karena firman Tuhan mengajarkan bahwa kita sebagai Jemaat (yang dikuduskan – Ibr 2:11) kita ini berasal dari “Satu Tuhan, Satu Bapa,” satu keluarga – Kristus menyebut kita sebagai saudara. Ketika kita mengetahui kita dari yang Satu, maka pendidikan anak, pekerjaan, keluarga tidak lepas dari tujuan Kristus.

Apa yang diperjuangkan Kristus? Penulis Ibrani menyebutkan bahwa “Yesus adalah Allah yang berjuang untuk membawa banyak orang kepada kemuliaan dan memimpin kepada keselamatan, dan dijalani Kristus dengan penderitaan (penuh perjuangan).” (Ibr 2:10). Hasil perjuangan Kristus sangat dirasakan oleh penulis surat Ibrani. Mereka menyampaikan rasa takjubnya dengan mengutip Mazmur 8:5-7 “Apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya ... mengindahkannya?”.

Injil Markus 10:2-16, terdapat sikap nyata yang sangat penting, sebab manusia di jaman Yesus, cenderung bersikap merendahkan perempuan dan anak-anak.Yesus datang untuk mengangkat martabat perempuan. Perkawinan saat itu menjadi sangat tidak aman bagi perempuan. Fakta mendasar : hukum Yahudi, perempuan hampir dianggap sebagai benda. Tidak punya hak hukum. Selalu jadi tumpuan kesalahan laki-laki. Laki-laki bisa menceraikan istrinya dengan alasan apa saja. Tetapi Laki-laki hanya bisa diceraikan jika laki-laki itu bersedia. Yesus tidak menghendaki “kesewenang-wenangan” laki-laki pada perempuan yang hanya akan berdampak pada menurunnya moralitas perkawinan. Yesus mengacu kepada kisah penciptaan (Kejadian 1:27 dan 2;24) yang lebih mendasar dari hukum Musa. Pandangan Yesus : pernikahan sifatnya adalah permanen, kalau dua orang itu telah dipersatukan itu menyatu dalam ikatan sedemikian rupa sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan lagi.

Sikap yang juga diperjuangkan Kristus adalah sikap menerima anak-anak, karena itu Yesus marah kepada murid-muridNya karena bersikap menghalang-halangi anak-anak yang hendak datang pada Yesus. Bagi Yesus siapa yang bersikap adil pada anak-anak (sesama yang lemah), dialah yang empunya Kerajaan Allah (hidup dalam damai). Kristus memanggil kita sebagai saudara (Ibr 2:11). Kristus sedang terus berjuang membawa setiap orang pada kemuliaan dan keselamatan, masakan kita akan menutup mata mana kala ada ketidakadilan, penindasan, pelecehan seksual, kekerasan terhadap keluarga, khususnya terhadap perempuan dan anak-anak.

Waktu sekarang ini kita perlu prihatin, dengan perkembangan teknologi, yang mengakibatkan manusia menjadi makhluk asing bagi sesama. Banyak keluarga anggotanya teralienasi. Karena masing-masing sibuk dengan kecanggihan alat teknologi. Manusia jika tidak waspada, ia menjadi korban penindasan teknologi. Perjuangan Kristus dimasa ini, adalah perjuangan tiap keluarga pengikut Kristus agar tidak terjajah oleh karya / produk dunia modern. Hingga justru dapat memanfaatkannya karya dunia modern bagi keharmonisan keluarga, keutuhan keluarga. Sebab itulah perjuangan Kristus, ketika Ia mengingatkan umat yang tegar hati, untuk kembali hidup sebagai umat yang berpegang pada Firman yang mula-mula.

Dalam perjuangan dan keprihatinanNya, Yesus mengatakan, “Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan….sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Markus 10:6,8,9). Marilah kita – keluarga-keluarga, kita adalah keluarga pejuang Kristus ... berjuanglah demi kemuliaan dan keselamatan / keutuhan keluarga. Berjuanglah ... sekalipun harus menderita / berjuang keras. Tidak ada perjuangan yang mudah, tetapi yakinlah : tidak ada perjuangan yang sia-sia. Amin.
pkm

 

27 September 2015
"DOSA PENGHALANG KEBAIKAN"
Est. 7:1-10; 9:20-22; Mzm. 124; Yak. 5:13-20; Mrk. 9:38-50

Apakah setiap orang yang mengalami kebaikan akan bersyukur, dan kemudian juga melakukan kebaikan kepada orang lain? Haman yang diberi kekuasaan yang besar oleh Raja Ahasyweros menjadi sombong. Karena Mordekhai tidak berlutut dan tidak sujud kepadanya - seperti yang dilakukan oleh semua pegawai raja lainnya -, ia menjadi marah, benci, dan bahkan iri hati ketika Mordekhai menerima hadiah dari raja. Haman berencana untuk membunuh Mordekhai beserta bangsanya, yakni semua orang Yahudi yang ada di seluruh kerajaan Ahasyweros. Melalui Ester, rencana jahat Haman diketahui oleh raja. Raja kemudian menghukum mati Haman dengan disulakan di tiang setinggi lima puluh hasta (kira-kira 25 meter), yakni tiang yang sebenarnya didirikan Haman untuk Mordekhai. Dosa menjadi penghalang bagi Haman untuk menikmati kenyamanan yang sebenarnya sudah tersedia baginya (Est. 7:1-10; 9:20-22)

Orang yang hidup dekat Tuhan, dan selalu berserah kepada-Nya, akan menerima kebaikan Tuhan tanpa terhalang. Tuhan akan berpihak kepadanya, dan memberikan pertolongan yang tepat. Selayaknyalah kita selalu memuji Dia, dan berseru: Pertolongan kita adalah dalam nama Tuhan, yg menjadikan langit dan bumi (Mzm 124)

Penderitaan, sakit penyakit, dan hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya, pasti akan kita alami di dunia ini. Janganlah semua ini menjadi penghalang bagi kita untuk datang kepada Tuhan. Dalam menghadapi segala kesulitan hidup ini, baiklah kita berdoa dengan penuh iman, mengaku dosa, dan saling mendoakan. Tuhan akan menjawab doa-doa syafaat umat-Nya seturut kehendak dan waktu Tuhan.

Apapun yang kita terima daripada-Nya, pastilah yang terbaik bagi setiap anak-anak-Nya. Doa yang lahir dari iman akan memulihkan, mengampuni dosa, menyelamatkan jiwa, dan menutupi banyak dosa (Yak. 5:13-20).

Allah menciptakan setiap manusia secara sempurna, menurut yang dikehendaki-Nya, dan dengan karunia yang berbeda-beda. Semua ciptaan Tuhan adalah mahakarya-Nya, yang patut kita kasihi. Keanekaragaman, perbedaan-perbedaan yang ada di antara umat Tuhan, janganlah menjadi penghalang bagi kita untuk saling menerima keberadaan setiap individu. Justru sebaliknya, keistimewaan masing-masing individu ini kita terima dengan penuh rasa syukur, karena dapat memperkaya, mendatangkan kebaikan, dan menyempurnakan karya manusia dalam kehidupan bersama. Sebagai pengikut Kristus, hendaklah kita selalu menjadi berkat bagi kehidupan bersama, dan selalu hidup berdamai dengan setiap orang (Mrk. 9:38-50).

Marilah kita meninggalkan dosa, sebab ia bisa menjadi penghalang bagi karunia Allah bagi kita, dan juga menghalangi kita untuk berbuat kebaikan bagi sesama. Amin.
Nancy

 

20 September 2015
"DI ANTARA DUA PILIHAN ALLAH ATAU DUNIA"
Amsal 31: 10-31; Mazmur 1; Yakobus 3:13-4:8; Markus 9:30-37

Yakobus 4:4 “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” Firman Tuhan ini secara jelas menggambarkan ada dua zona yang saling bertentangan yaitu hidup menurut keinginan Allah atau hidup menurut keinginan diri sendiri/dunia. Banyak orang Kristen yang kagum akan Kasih Kristus, kagum akan Kuasa-Nya, kagum akan Hikmat-Nya, kagum akan Pengorbanan-Nya, tetapi sedikit yang mau hidup mengikut Kristus. Allah tidak membutuhkan "pengagum" melainkan "pengikut".

Pada Mazmur 1, ada kelompok orang yang pertama adalah kelompok orang fasik, orang berdosa, pencemooh yang hidupnya menentang Tuhan. Kehadiran kelompok ini selalu membawa masalah, tidak membangun orang lain, pembawa pertentangan menganggap diri "kritis", tidak peduli kepentingan orang lain, orang yang demikian selalu tidak diharapkan kehadirannya. Bahkan mungkin orang bergembira dengan kematiannya.

Kelompok kedua, adalah orang suka mengkompromikan jalan Tuhan dengan jalan dunia yang jelas bertentangan. Orang yang tidak punya pendirian, plintat-plintut. Dunia mengatakan orang yang bisa mengambil jalan tengah itu orang yang bijaksana (?), misalnya menyuap, kolusi, cari selamat diri sendiri. Orang Kristen yang berkompromi dengan cara dunia, tidak akan mendapatkan apa-apa dari Tuhan. Hidupnya biasa-biasa saja, tidak punya pengaruh apa-apa bagi orang lain, kehadirannya tidak berdampak apa-apa. Orang mudah melupakan walau pernah mengenalnya.

Kelompok ketiga adalah orang yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Amsal 31:10-31 berkata Siapakah yang akan mendapatkan isteri yang cakap ? Jawabnya : Mazmur 128:1-3 .... Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!. Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Ya, isteri yang cakap adalah berkat kebahagiaan bagi suami yang takut akan Tuhan. Jelas sudah renungan firman Allah hari ini, bahwa ada dua pilihan yang diperhadapkan kepada manusia antara menerima Yesus sebagai Tuhan dengan menyerahkan hidupnya kepada keinginan Tuhan atau menyerahkan hidup kepada keinginan daging/dunia. Yang jelas Golput tidak punya hak apa-apa dari Tuhan, karena tidak melakukan kewajiban dan tanggung jawab apa-apa kepada Tuhan. Pertumbuhan iman kita kepada Tuhan bukan diukur dari seberapa banyak pengetahuan kita tentang Firman Tuhan, melainkan seberapa besar kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan. Di zona manakah hidup anda saat ini ?, selama masih ada kesempatan pergunakanlah untuk mengambil keputusan pada pilihan yang benar. Amin.
Tonny I.

     

13 September 2015
"MENGENDALIKAN LIDAH, MEMBANGUN KEHIDUPAN"
Amsal 1 : 20-33; Mazmur 19; Yakobus 3 : 1-12; Markus 8 : 27-38

Alkisah, ada seorang raja yang pada suatu hari memerintahkan juru masak istananya untuk memasak masakan yang paling enak. Lalu si juru masak pun menyajikan masakan yang paling enak dari bahan dasar lidah sapi. Setelah menikmati masakan itu, sang baginda merasa puas dan memuji kehebatan si juru masak itu.

Pada pekan berikutnya, raja itu memerintahkan lagi si juru masak, namun kali ini untuk memasak masakan yang paling tidak enak. Si juru masak pun bergegas pergi ke dapur istana untuk memasak masakan yang paling tidak enak dan setelah siap, ia pun segera menyajikannya kepada sang baginda. Setelah menikmati masakan yang paling tidak enak itu, raja merasa heran dan bertanya kepada si juru masak itu :”Lho, ini sama saja dengan masakanmu pekan yang lalu? Coba jelaskan!”. Lalu jawab si juru masak itu :”Ampun baginda, hamba memasak masakan yang sama dari bahan dasar lidah sapi. Alasan hamba, lidah itu digunakan untuk berkata-kata yang serba baik, tetapi juga untuk membicarakan hal-hal yang serba buruk. Baginda meminta masakan yang paling enak dan yang paling tidak enak. Hamba pikir, itu sama saja dengan lidah manusia yang selalu menyampaikan kata-kata yang baik berupa pujian, di samping kata-kata yang jahat berupa kutukan kepada sesama manusia”.

Kendati kenyataannya memang begitu, namun semestinya tidak demikian. Surat Yakobus menyatakan, bahwa air tawar, air pahit, dan air asin, semestinya tidak ke luar dari mata air yang sama. Juga pohon ara semestinya tak dapat menghasilkan buah zaitun, atau buah anggur. Karena itu lidah harus dikendalikan sesuai dengan kehendak Allah. Jika tidak dikendalikan, amat berbahaya dan dapat merusak tatanan kehidupan yang baik di tengah keluarga, jemaat, dan masyarakat.

Disebutkan, bahwa lidah ibarat api yang dapat membakar, penuh racun, dunia kejahatan, buas, dan dapat menodai seluruh tubuh. Itulah yang sering kita jumpai dalam praktik berupa fitnah, gosip, caci maki, sumpah serapah, kutukan, dan umpatan. Pada hal lidah yang terkendali akan menghadirkan tutur kata yang baik, kata-kata penghiburan, ungkapan simpati, dan ucapan yang bersahabat.

Untuk mewujudkan semua hal yang baik itu, kita harus mengetahui hakikat rambu-rambu yang diberikan Allah, sebagaimana disebutkan dalam Mazmur 19 : 8-10. Begitu pula kita harus tahu ke alamat mana kita mencari sumbernya yang tak lain adalah Sang Hikmat yakni Allah sendiri (Ams. 1 : 20, 21; Yak. 3 : 17, 18).

Belajar dari Allah, maka kita akan dapat memiliki hikmat untuk mengendalikan lidah. Kita pun akan pandai memertimbangkan, kapan kita berkata-kata, kapan kita diam, di forum apa kita berbicara, dan dengan siapa saja kita bercakap-cakap. Jangan seperti Petrus yang tanpa pertimbangan yang baik dan merasa sok benar, menegor Tuhan Yesus (Mrk. 8 : 32 b). Dari semua pertimbangan yang baik itu, pada akhirnya kita akan membangun kehidupan bersama orang lain dalam suasana damai, baik yang seiman, maupun yang sebangsa dan setanah air. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

6 September 2015
"TIDAK DISKRIMINATIF, NAMUN BERBELA RASA"
Ams. 22:1-9, 22-23; Maz. 125; Yak. 2:1-17; Mark. 7:24-37

Kalau hujan turun, masak cuma rumah saya yang basah?” Demikian sebuah kalimat yang tertulis dalam sebuah buku yang ditulis Pdt. L. Z. Raprap. Tentu, kita bisa langsung memahami makna yang tersirat di dalamnya. Yang pertama, Tuhan yang mengatur dan memberi berkat kepada siapapun yang Tuhan mau. Tuhan tidak bisa diatur atau dipaksa, sebab Ia adalah yang berkuasa dan bukan manusia. Yang kedua, Tuhan menyapa siapapun tanpa membedakan latar belakang manusia. Seperti yang dilakukan oleh Yesus kepada perempuan Siro-Fenesia (Mark. 7:24-37).

Dalam suatu perjalanan pelayanan-Nya, Yesus memasuki daerah Tirus. Tirus merupakan kota yang sebagian besar penduduknya hidup dalam kepercayaan kepada dewa-dewa. Penekanan dalam teks tentang kota dan perempuan Siro – Fenesia menunjukan bahwa Yesus menyapa dan melayani orang-orang yang dianggap oleh orang Yahudi sebagai bangsa yang najis. Bagi orang Yahudi, mereka tidak berhak dan layak menerima kasih, anugerah dan berkat dari Allah.

Jaman itu, seorang perempuan entah itu dari bangsa Yahudi maupun bangsa lain juga merupakan kelompok yang diperlakukan secara diskriminatif. Di tengah perjumpaan dan perlakuan yang diskriminatif itu, jika Yesus mengabaikan perempuan itu, maka Yesus tidak dianggap salah oleh masyarakat pada umumnya.

Namun di sinilah tindakan Yesus menunjukkan bahwa kasih Allah yang tak terbatas itu, tidak bisa dibatasi oleh manusia. Tindakan kasih Yesus adalah gerakan kasih yang membongkar sekat-sekat diskriminasi. Yesus berusaha membongkar sekat-sekat kebencian yang telah mengakar antara Yahudi dan non-Yahudi. Dan tindakan kasih itu bukan berarti tanpa tantangan dan hambatan bukan saja dari pihak suku bangsanya sendiri (Yahudi), tapi juga dari pihak penduduk Tirus itu sendiri yang membenci orang Yahudi.

Peristiwa tersebut, semestinya menggugah iman para murid untuk juga hidup dalam tindakan kasih yang melampaui, mendobrak, dan membongkar tembok-tembok kesukuan dan keakuan. Namun pada kenyataannya itu belum terjadi.

Dalam surat Yakobus, tersirat bahwa umat/jemaat belum mampu untuk mengasihi mereka yang berbeda Iman umat masih diamalkan dengan memandang muka (2:1), yang berarti mereka mengasihi hanya kepada orang-orang tertentu saja. Setidaknya tersirat ada pembedaan antara mereka yang kaya dan yang miskin. Umat masih melakukan kasih yang diskriminatif. Berlaku baik, ramah, senyum hanya kepada yang banyak memberi, dan berlaku kurang baik/menyenangkan, cemberut, muram terhadap yang tidak banyak memberi (2-6). Karena itu, Yakobus mengingatkan umat untuk hidup dalam kasih kepada siapapun tanpa membeda-bedakan, kaya atau miskin.

Sebagai murid Yesus yang taat, setia dan sungguh mengasihi, maka seyogyanya kita juga meneladan Sang Guru dan Juru. Mari kita bersikap dan berperilaku menyapa dengan kasih, senyum dan kehangatan kepada siapapun. Kepada yang berkuasa maupun yang tidak berkuasa, tersenyumlah. Kepada yang kaya maupun pas-pasan, layanilah dengan hangat. Kepada yang memberi berkat maupun yang memberi tugas, terimalah dengan kegembiraan dan bukan dengan muka murung. Tentu, sebuah perubahan dari diri kita akan dapat tantangan. Orang mungkin akan mencibir dan mengatakan, tumben, kok bisa, lagi ada maunya tuh dsb. Tapi hal itu harus tetap kita lakukan untuk memperlihatkan kesungguhan hati kita mengasihi yang lain. Sapalah, sambutlah, dan terimalah siapapun dengan kasih yang Tuhan Yesus teladankan.
denni setiawan

     

30 Agustus 2015
"HIDUP BERGAIRAH DALAM SUKACITA DAN KEGEMBIRAAN TUHAN"
Kidung Agung 2:8-13, Maz 45:2-10, Yak 1:17-27, Mark 7:1-23

Jika kita lihat dan renungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi sampai sekarang ini, maka kita akan menyadari bahwa seorang Kristen atau non-Kristen sekarang ini tidak ada bedanya. Perilaku yang jahat, buruk, dan berdosa seperti; korupsi, mencuri, membunuh selingkuh, menganiaya dan lain sebagainya, dilakukan juga oleh orang Kristen. Tentu, sikap dan perilaku buruk oleh orang-orang Kristen tidak serta-merta karena dia tidak rajin ke gereja, tidak ikut pelayanan, tidak baca Firman ataupun jarang berdoa. Karena pada kenyataannya seorang hamba Tuhan, aktivis, pelayan gerejawi yang rajin atau umat yang setia beribadah juga tidak luput dari sikap dan perilaku yang berdosa. Sepertinya orang Kristen tidak kebal terhadap perilaku yang buruk, menyimpang dan berdosa. Tidak ada bedanya! Artinya apa yang menjadi pesan Rasul Paulus untuk tidak serupa dengan dunia (Roma 12:2,), tidak terwujud. Mengapa demikian?

Kemungkinan yang pertama, sikap dan perilaku buruk seorang Kristen terjadi untuk sesuatu yang dikehendaki Tuhan (atau dalam bahasa yang umum, ada rancangan/rencana Tuhan di balik itu). Jika demikian halnya, maka diperlukan hati yang terbuka dari orang yang melakukan dan orang-orang yang berada di sekitarnya (misal, sebagai teman ataupun keluarga) untuk terus bergumul dan melihat hal-hal yang buruk tersebut melalui kaca mata Allah. Sehingga pada akhirnya, baik yang melakukan maupun orang-orang sekitarnya boleh berubah, bertumbuh dan semakin dewasa imannya. Kemungkinan yang kedua, kehidupan rohani (beribadah, berdoa, pelayanan dll) yang selama ini dijalani hanyalah sekedar rutinitas, kewajiban atau bahkan mempunyai motivasi yang lain (mencari nama/pujian, mencari keuntungan pribadi, dll), dan bukan dilakukan dengan sepenuh hati yang mencintai Tuhan dan sesama.

Apapun kemungkinan penyebab perilaku buruk dari orang-orang Kristen, kita hanya bisa menduga-duganya. Namun yang perlu kita sadari kembali adalah menjadi seorang Kristen merupakan anugerah terbesar yang kita terima dari Allah. Kita tidak hanya dihapus dosanya dan tidak mendapat hukuman atas dosa tersebut, tetapi kita justru diangkat jadi anak-Nya dan mendapat hak seorang anak Allah. Adakah kasih yang lebih besar dari hal ini? Tidak ada! Bolehkah kita menyia-nyiakan kasih ini dengan hidup seenaknya? Tidak!

Dalam bacaan Injil minggu ini, Tuhan Yesus mengingatkan kepada murid-murid-Nya untuk jujur dari hati dalam melakukan apa yang Tuhan perintahkan/kehendaki tidak seperti seorang munafik (Mark 7:6). Seorang munafik, menjadikan Tuhan sebagai alasan untuk tidak mengasihi dan berbuat sesuatu untuk orang tuanya (11-12). Sedangkan di dalam perbandingan antara yang najis dan tidak najis (18-23), tersirat bahwa Tuhan Yesus mengharapkan murid-murid-Nya untuk melakukan segala sesuatunya dari hati. Hati yang benar-benar mengasihi Allah dan sesama (Mark 12:30).

Surat Yakobus menuliskan mengenai hati yang menjadi tempat untuk Firman Tuhan bertumbuh (Yak 1:21). Hati tersebut adalah hati yang telah dipersiapkan untuk Firman bertumbuh yaitu dengan cara membuang perasaan-perasaan yang negatif dan niat-niat yang jahat. Lalu dalam kitab Kidung Agung, hati yang mencintai digambarkan dengan sebuah kegairahan menyambut sang kekasih dan juga kegairahan menghampiri sang kekasih dengan senyum dan kebahagiaan. Hati yang mendapatkan kelegaan dari beban hidup seperti sang kekasih yang meloncat-loncat (Kid. 2:8). Hati yang mencintai juga diperlihatkan dalam sebuah gambaran yang membangunkan (10) dan memunculkan sebuah harapan, kehidupan yang baru, suasana dan kegairahan (11-13). Dan Pemazmur menggambarkan tentang hati yang meluap-luap karena cinta yang dirasakannya dari Allah. Cinta yang membuatnya tidak tahan untuk menceritakan betapa hebat dan luar biasanya karya Allah dalam dirinya, bangsanya dan seluruh alam semesta ini.

Kata para pecinta : gunung tinggi kan kudaki, samudra dalam kan kuselami, lautan luas kan kusebrangi, tebing terjal kan kulintasi, demi cintaku padamu. Sama seperti sepasang kekasih yang selalu mengingat kata-kata/pesan-pesan dari pasangannya. Walaupun berat, tetap ia akan berusaha dengan segenap hatinya melakukannya. Demikian juga semestinya seorang Kristen yang dikasihi dan mengasihi Allah. Ia akan selalu ingat perintah-perintah Tuhan dan berusaha untuk melakukannya. Tidak ada yang berat dan sulit untuk itu, karena kasih Allah membuat hatinya bergairah, bersukacita dan bergembira.
denni setiawan

 

23 Agustus 2015
"MERAYAKAN RUMAH ALLAH, MERAYAKAN KEHIDUPAN BERSAMA"
1 Raj. 8:22-30, 41-43; Maz. 84; Ef. 6:10-20; Yoh. 6:56-69

Memiliki rumah merupakan dambaan setiap orang. Mengapa rumah? Setiap orang mempunyai alasan yang berbeda; supaya aman, tidak kepanasan atau kehujanan, tempat bertemu dengan keluarga, melepaskan kelelahan dsb. Bagaimana dengan gereja yang juga disebut sebagai rumah Allah, seorang pria berkata. “Setiap kali saya masuk ke dalam gereja, semua beban rasanya hilang. Hidup menjadi lebih ringan, lebih mudah. Apa saya tinggal di gereja saja ya supaya merasa tanpa beban setiap hari?” lanjutnya diiring tawa kecil.

Rupanya hal ini pun yang dirasakan oleh Raja Salomo, dia merasakan kehadiran Allah dan kedamaian-Nya ketika berada di bait Allah. Namun apakah Salomo merasa bangga setelah berhasil mendirikan Bait Suci? Di satu pihak, tentu saja Salomo merasa bangga karena telah berhasil menggenapi janji Allah dengan mendirikan Bait Suci yang amat megah. Ayahnya pun, Daud, tak diizinkan untuk membangun Bait Suci. Di sisi lain, Salomo sadar bahwa Allah tak mungkin dilokalisasi (ditempatkan dalam sebuah ruangan yang terbatas). Keberadaan dan kuasa Allah tak bisa dibatasi oleh tempat.

Pada umumnya, orang Kristen mengetahui secara akal bahwa Allah ada di mana-mana dan kuasa-Nya tidak terbatas. Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang Kristen yang cara hidupnya bertentangan dengan apa yang diketahuinya secara akal.

Banyak orang Kristen yang takut berbuat dosa di gereja, tetapi tidak takut berbuat dosa di rumah atau dalam pekerjaan. Banyak orang Kristen yang dari luar kelihatan saleh, bahkan mungkin menduduki posisi penting dalam gereja, tetapi hatinya penuh dengan kebusukan. Banyak orang Kristen yang yakin bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan penyakit ringan, tetapi dia tidak berharap kepada Tuhan saat menghadapi penyakit berat. Banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa Tuhan bisa menyelesaikan masalah kecil, tetapi ia mencari pertolongan alternatif saat menghadapi persoalan besar. Membatasi kuasa dan kehadiran Tuhan berarti tidak menyadari bahwa Allah tak mungkin dibatasi oleh tembok gereja.

Hari ini GKI merayakan ulangtahunnya yang ke-27, usia ini merupakan usia produktif, yang merupakan kesempatan gereja untuk kembali melihat akan tugas dan fungsinya sebagai rumah Allah, sudahkan gereja menjadi rumah bagi kehidupan bersama?, sudahkah sesama yang berada di sekitar kita melihat diri kita (sebagai gereja) sebagai gambaran Allah yang menyatakan karya keselamatan Allah?
UQ

     

16 Agustus 2015
"HIDUPLAH SEBAGAI ORANG ARIF"
I Raja-Raja 2 : 10-12, 3 : 2-14; Mazmur 111; Efesus 5 : 15-21; Yohanes 6 : 51-58

Apakah kita bersedia menjalani kehidupan sehari-hari secara arif? Tentu, kita ingin sebagai orang arif, tapi kenyataannya kita sering seperti orang bebal, misalnya kita sering mengulang kesalahan yang sama, kita sering menutup-nutupi kesalahan, kita sering menjalani hidup kurang terbuka, bahkan dengan sembunyi-sembunyi, karena banyak hal yang memalukan.

Hidup sebagai orang arif artinya orang yang bersedia menjalani hidup dengan seksama, jauh dari kesembronoan, namun hidup dalam ungkapan syukur dan kerendahan hati, bersedia tunduk dan menghargai dan mendahulukan kepentingan sesamanya. Hidup arif dan bijaksana akan menjadikan anugerah kehidupan kian berarti, seperti Raja Salomo yang meminta hikmat kepada Tuhan dan mengenakan hikmat tersebut, sehingga dia dikenal sebagai raja yang bijak.

Baiklah kita selalu mengingat Mazmur 111 : 10 “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepadaNya tetap untuk selamanya.” Kiranya kita dimampukan hidup sebagai orang yang arif, amin. (BHS).
BHS

 

2 Agustus 2015
"DIUTUS DAN DIPERLENGKAPI"
Efesus 4:1-16

Pada umumnya anak-anak yang berprestasi dalam pendidikan dan memiliki karakter yang baik karena lingkungan keluarga dimana dia dibesarkan dan diasuh adalah keluarga yang kondusif. Artinya sebuah keluarga yang diwarnai dengan kedamaian, kerukunan dan kebahagiaan. Tetapi sebaliknya, jika sebuah keluarga tidak ada kedamaian, kerukunan dan yang ada hanyalah konflik, maka hal tersebut akan mempengaruhi prestasi anak-anak di sekolah dan membentuk karakter anak yang buruk. Gereja adalah persekutuan/ komunitas orang-orang percaya dimana mereka bersama-sama bertumbuh untuk saling melayani, melengkapi, menolong dan membangun iman dan karakter satu dengan yang lainnya. Jika kondisi di atas terbangun dengan baik, maka orang-orang percaya/ gereja akan menjadi saksi-saksi Kristus yang efektif. Tetapi sebaliknya, jika terjadi ketidaknyamanan atau konflik, maka dunia akan menertawakannya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berdoa khusus masalah ini dalam Yohanes 17, supaya orang-orang percaya/ gereja menjadi satu dan supaya dunia percaya bahwa Yesus adalah Tuhan.

Surat Efesus 4:1-16, membahas beberapa hal penting untuk kita perhatikan :

1. Tuhan memberikan karunia-karunia rohani kepada setiap jemaat sesuai ukuran pemberianNya. Tidak ada seorangpun yang tidak mendapatkan karunia rohani dari Allah; yang penting adalah bagaimana masing-masing mengenali dan mempergunakan karunia itu. Karunia rohani yang kita terima dari Allah bukan untuk dibandingkan dengan karunia yang dimiliki oleh orang lain, tetapi untuk dipergunakan dengan baik.

2. Tuhan memberikan karunia-karunia kepada setiap orang untuk melayani jemaat, untuk pembangunan tubuh Kristus bukan untuk kebanggaan diri. Jika karunia-karunia itu dipakai untuk menyombongkan diri dan merendahkan orang lain, maka persekutuan itu menjadi rusak, dan rentan terjadi konflik, dan akan melukai hati banyak orang, bahkan pembangunan tubuh Kristus pun terhambat dan bahkan hancur.
3. Ketika orang-orang percaya mempergunakan karunia-karunia untuk melayani satu dengan yang lain, pada saat itulah mereka bersama-sama dapat bertumbuh dengan lebih dewasa. Bahkan melalui masalah, perbedaan pendapat dan konflik yang terjadi pun dapat dipakai sebagi media pembelajaran bersama untuk lebih dewasa dalam iman dan karakter.

Catatan untuk kita pahami adalah:
1. Melayani dengan satu karunia pun itu sudah lebih dari cukup. Artinya melayani tidak perlu menunggu menjadi orang yang ‘mumpuni’ atau sempurna. Justru ketika kita melayani, kita sedang dalam proses untuk menjadi lebih baik.
2. Perbedaan karunia dan latarbelakang dapat menjadi media konflik jika tidak diolah / dikelola dengan baik dan bijak. Melayani berarti siap menghadapi masalah dan konflik; gereja ada masalah dan konflik itu iya, karena gereja belum sempurna di dunia ini. Kesempurnaan terjadi ketika kita dipanggil oleh Tuhan kembali ke pangkuanNya. Mari kita bertumbuh bersama.
RDS

     

26 Juli 2015
"KASIH ALLAH MELAMPAUI YANG DIDOAKAN DAN DIPIKIRKAN ?"
2 Samuel 11 : 1-15; Mazmur 14; Efesus 3 : 14-21; Yohanes 6 : 1-21

Seorang gadis Kristen bercita-cita menjadi hamba Tuhan dan ia memohon doa kepada Tuhan, agar cita-citanya tercapai. Malang baginya, kakak iparnya meninggal dunia dengan meninggalkan tiga orang anak. Oleh sebab itu, ia terbeban untuk mengasuh ke tiga keponakannya dan praktis hari-hari kehidupannya habis untuk memerhatikan mereka. Menyusul, abangnya yakni ayah dari ke tiga keponakan itu juga meninggal dunia, sehingga dia merasa tak mungkin dapat merealisasikan cita-citanya menjadi hamba Tuhan. Dengan keprihatinan yang amat sangat, ia membanting tulang mencari nafkah, demi memenuhi kebutuhan hidup keponakan-keponakannya itu.

Tahun demi tahun telah lewat, keponakan-keponanakannya bertumbuh menjadi besar. Ternyata satu demi satu pada akhirnya mereka semua menjadi hamba-hamba Tuhan yang setia. Mereka melayani di pelbagai lapangan pekerjaan Tuhan, sehingga banyak orang yang percaya kepada Tuhan Yesus.

Nyata bagi kita, bahwa doa yang dinaikkan kepada Tuhan oleh gadis itu tidak terkabul, sebab dia sendiri gagal menjadi hamba Tuhan, tetapi Tuhan menjawab doanya dengan menjadikan ke tiga orang keponakannya itu menjadi hamba-hamba-Nya. Itulah kasih Allah yang melampaui permohonan doa gadis tersebut.

Dalam kenyataan hidup orang percaya, sering terjadi, bahwa Tuhan memberikan sesuatu yang melebihi harapan, sehingga orang percaya terkagum-kagum atas karunia Tuhan itu. Begitu pula kita yang merindukan karunia Tuhan akan dapat meraih sesuatu yang melebihi permohonan doa kita kepada Tuhan. Istilahnya, meminta sejengkal diberi lima jengkal. Hal ini didoakan oleh Rasul Paulus untuk jemaat Efesus, agar mereka memahami betapa lebar, panjang, tinggi, dan dalamnya kasih Kristus (ay. 18). Ya, kasih Kristus pada hakikatnya melampaui batas-batas apa pun.

Daud jatuh ke dalam dosa perzinahan, berlanjut dengan dosa kebohongan dan dosa akal bulus, lalu memuncak ke dosa pembunuhan dengan menggunakan tangan musuh Israel. Itulah yang dikatakan `dosa melahirkan dosa’, alias beranak pinak menjadi banyak. Hakikat sifat dosa memang begitu, sehingga kita harus berusaha, agar tidak jatuh ke dalam dosa dan selalu waspada. Terhadap Daud, Tuhan tetap mengasihinya, sehingga kendati dihukum Tuhan dengan pelbagai macam hukuman, pada akhirnya Daud mendapat pengampunan-Nya. Oleh sebab itu, meskipun manusia itu bebal, tetapi Tuhan tetap mengaruniai banyak hal yang baik.

Lima ketul roti dan dua ekor ikan, terlalu sedikit untuk dapat mencukupi kebutuhan lima ribu orang. Namun dalam tangan Tuhan Yesus, yang sedikit itu dapat menjadi banyak, bahkan ada lebihnya sebanyak dua belas bakul penuh. Tidakkah hal itu mengherankan? Di dalam tangan Tuhan tak ada perkara yang mustahil! Oleh sebab itu, kita harus menghitung berkat Tuhan, agar kita selalu diliputi dengan ucapan syukur kepada Tuhan. Berikutnya, Tuhan Yesus juga menolong Petrus dan para murid-Nya yang lain dari bahaya ombak danau Galilea yang mengancam hidup mereka. Sejatinya, pertolongan-Nya melebihi seruan mereka untuk meminta tolong.

Tuhan mampu memberi pengampunan kepada kita, Ia tidak mengingat-ingat dosa kita. Ia mampu dan berkuasa untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa, dan menolong kita pada saat genting, sebagaimana dialami oleh Petrus dan para murid Tuhan Yesus lainnya. Yakinlah, bahwa pengalaman mereka mendapat pertolongan, pasti juga akan kita alami, karena kita semua adalah juga para murid-Nya. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

19 Juli 2015
" MENGAPA KRISTUS MERUNTUHKAN TEMBOK PEMISAH ? "
2 Sam. 7:1-14; Mzm. 89:21-38; Ef. 2:11-22; Mrk. 6:30-34

Sebagai makhluk sosial, manusia dalam hidupnya saling membutuhkan orang lain. Dapat dipahami, dalam interrelasi itu, manusia cenderung hidup dalam kelompok-kelompok yang mempunyai kesamaan, misalnya kesamaan suku, hobby, agama, ideologi, atau profesi. Hal yang tidak wajar, adalah jika kelompok-kelompok itu berubah menjadi komplotan, geng, atau apapun namanya yang gaya dan sikap hidupnya eksklusif (hanya untuk kalangan terbatas), introvert (memusatkan pikiran kepada kelompok sendiri), dan paranoid (orang yang berbeda dianggap musuh). Orang-orang yang seperti ini menciptakan tembok pemisah dengan orang-orang lain.

Tuhan Yesus meneladankan dan mengajarkan, agar kita tidak memikirkan kepentingan diri sendiri, tetapi lebih mengutamakan orang lain, menolong dengan tanpa membuat tembok pemisah, selalu berbelas kasihan kepada siapapun, tanpa membeda-bedakan (Mrk. 6:30-34).

Dahulu orang Yahudi, orang yang bersunat, menganggap diri mereka sebagai umat pilihan Tuhan yang eksklusif, dan keselamatan hanyalah eksklusif bagi mereka. Ada tembok pemisah antara orang Yahudi dan orang yang bukan Yahudi. Orang yang tidak termasuk kewargaan Israel tidak mendapat harapan untuk keselamatan, bahkan mereka adalah manusia tanpa Allah, tidak mendapat kesempatan untuk bisa mengenal dan berjumpa dengan Allah. Firman Tuhan mengingatkan kita, bahwa kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan. Salib-Nya telah memperdamaikan manusia dengan Allah, serta manusia dengan manusia. Ia memberikan damai sejahtera kepada umat-Nya, menjadikan mereka orang-2 kudus, anggota-anggota keluarga Allah, dan menjadi tempat kediaman Allah (Ef. 2:11-22).

Umat-Nya adalah kemah tempat kediaman Allah. Karena itu, sebagai anak-anak Tuhan, kita percaya, Ia senantiasa mendiami kita, bersama-sama dengan kita, menyertai dan melindungi di segala tempat yang kita jalani, menjadikan kita berhasil, dan menempatkan kita.
Sebagai Bapa, Ia akan mendidik, bahkan menghukum, jika kita melakukan kesalahan. Tetapi seperti janji-Nya, bahwa kasih setia-Nya kepada anak-anak-Nya, tidak akan hilang dari dahulu sampai selama-lamanya ( 2 Sam. 7:1-14; Mzm. 89:21-38).

Allah telah menyelamatkan dan memelihara seluruh ciptaan tanpa membeda-bedakan, kasih setia-Nya kekal selama-lamanya. Marilah kita mengucap syukur dengan setia mengikuti pengajaran-Nya, menghargai keperbedaan latar belakang dalam kehidupan bersama.
Allah diam di dalam kita, karena itu kiranya, di manapun Tuhan menempatkan kita, orang di sekeliling kita dpt merasakan kasih-Nya melalui hidup kita. Dengan demikian, mereka dapat mengenal dan berjumpa dengan Allah sendiri. Amin.
Nancy Hendranata

     

12 Juli 2015
" SIAPAKAH RAJA KEMULIAAN ? "
2 Samuel 6:1-5,12-19; Mazmur 24; Efesus 1:3-14; Markus 6:14-29

Manusia sering mencari kemuliaan dan puji-pujian dunia melalui kekayaan dan kekuasaan. Pada bacaan Injil Markus, sosok Herodes mewakili hasrat manusia ini secara sempurna yaitu mau memuliakan diri melalui kekuasaan dan kekayaan tanpa takut akan Allah. Herodes mau melakukan apa saja demi pujian manusia. Dia tidak menghiraukan teguran Yohanes Pembaptis, sebagai hamba Tuhan ketika dia menikahi Herodias isteri Filipus adiknya. Herodes takut dipermalukan di depan para tamunya dengan memenuhi permintaan anak tirinya yang dijanjikan pasti dipenuhinya. Sekalipun memenggal kepala Yohanes Pembaptis hamba Allah sebagai hadiah permintaan anak tirinya. Berbeda dengan Raja Daud yang begitu memuliakan Allah ketika membawa Tabut Allah, tempat Allah bersemayam di atas Kerubim. Daud memuliakan Allah dengan menari sekuat tenaga tanpa malu di hadapan manusia, walaupun Daud dipandang rendah oleh Mikhal puteri Saul (2 Sam. 6:16, 21-22). Daud memuliakan Allah, tanpa peduli “apa kata dunia”. Mikhal mandul sampai matinya.

Mazmur Daud 24, mengungkapkan Raja Kemuliaan adalah Sang Pencipta yang wajib dimuliakan oleh segala ciptaan-Nya. Dialah pemilik segala ciptaan-Nya, segala milik-Nya patut memuliakan-Nya. Raja Kemuliaan adalah Kristus sendiri yang sudah datang dengan membuka pintu-pintu gerbang hati manusia.
Yesus Kristus datang mencari manusia berdosa untuk diselamatkan, kita dipilih-Nya bukan memilih-Nya untuk menerima Kasih Karunia Tuhan.

“Sebab di dalam Dia dan oleh Darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan Kasih karunia-Nya” (Efesus 1:7).

Memuliakan Allah jauh lebih mulia daripada segala kemuliaan duniawi. Efesus 1:3, 13-14 “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Di dalam Dia kamu juga — karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu — di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.”

Roh Kudus merupakan jaminan paling nyata dalam kehidupan orang percaya yang menolong pengikut Kristus melakukan kehendak-Nya yang mulia. Dengan demikian kita dapat hidup memuliakan Sang Raja Kemuliaan, Yesus Kristus, Tuhan kita. Bunda Teresa, sangat dimuliakan dan dihormati oleh dunia, karena Allah yang meninggikan. Bagaimana itu bisa terjadi ? apa yang dilakukannya ?
Bunda Teresa mengatakan : “Aku melakukan bukan yang kuingin lakukan, tetapi aku melakukan yang Kristus inginkan dalam diriku.” Haleluya, Amin.
tonny iskandar

 

5 Juli 2015
" KEKUATAN ALLAH DALAM MENGHADAPI PERGUMULAN HIDUP "
2 Sam. 5:1-10; Maz. 48; 2 Kor. 12:2-10; Mark. 6:1-13

Daud mengalahkan Goliat, dan tidak lama kemudian telah menjadi raja dan : “... makin lama makin besarlah kuasa Daud, sebab TUHAN, Allah semesta alam, menyertainya.” (2 Sam. 5:10). Apa yang dapat kita pelajari dari kisah Daud ini? Minimal, kita bisa melihat, untuk menjadi besar, ia harus berani berhadapan dengan tantangan. Ketika TUHAN “membesarkan” Daud, Ia tidak membebaskan Daud dari tantangan. Bahkan, semakin besar musuh atau tantangan yang dihadapi kelak akan berdampak signifikan dalam kesuksesan yang diraihnya.

Mari kita tengok doa-doa yang sering kita panjatkan manakala kesulitan menerpa kita. Apa yang sering kita minta? Pengalaman menunjukkan bahwa di tengah situasi sulit dan terjepit, kita lebih banyak meminta agar TUHAN mengangkat pergumulan itu ketimbang memohon agar TUHAN memberi kemampuan untuk kita dapat mengatasinya.

Untuk meminta dengan doa agar Tuhan menyanggupkan kita mengatasi (bukan menyingkirkan) masalah, ternyata memerlukan proses yang tidak mudah. Proses Paulus Rasul : meskipun giat dalam pekerjaan TUHAN, ternyata pernah dianiaya, dilecehkan, diragukan kerasulannya, dan bahkan sakit “duri dalam dagingnya”. Tiga kali berseru kepada Tuhan, namun Tuhan berkata lain (2 Kor. 12:8). Duri dalam daging adalah penderitaan, halangan Paulus untuk mengerjakan tugas panggilannya.

Tuhan tidak mengangkat dan melenyapkan sakit penyakit Paulus, bukan karena Tuhan tidak adil dan tidak mengasihi Paulus. Tuhan punya rancangan sendiri. Tuhan memberi Paulus kekuatan untuk menanggungnya. Ia melatihnya, memberi kemampuan. Tuhan mendidiknya agar tangguh (tidak manja atau cengeng).

Tuhan itu laksana seorang ayah yang tinggal di tepi sungai. Ia tidak memindahkan sungai atau rumah itu agar jauh dari jangkauan anaknya. Melainkan sang ayah melatih kemampuan anaknya agar bisa berenang supaya tidak dihanyutkan oleh air sungai itu.

Seperti dalam Injil Markus 6:6b-13, keduabelas rasul diutus untuk memberitakan Injil. Ia tidak melenyapkan rintangan-rintangan, namun Yesus memberi kuasa agar dapat mengatasinya. “Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat,…” (Mark. 6:7). Kuasa-kuasa jahat tidak disingkirkan agar para murid mudah mengerjakan tugas perutusan mereka. Kuasalah (kekuatan Allah) yang diberikan Yesus, agar setiap rintangan dapat diatasi.

Jadi dalam kehidupan ini, siapa pun tidak steril dari masalah, pergumulan, penderitaan dan kesulitan hidup lainnya. Namun yakinlah bahwa Allah di dalam Yesus Kristus telah memberi kita “modal” berupa iman, talenta, hikmat, nalar, fisik dan yang lainnya agar kita mampu memenangkan pergumulan hidup ini! Tuhan juga memberikan “sarana spiritual” berupa Perjamuan Kudus (PK) yang hari ini kita rayakan. PK dilaksanakan untuk merayakan keselamatan, bahwa orang percaya ada dalam naungan Allah yang nyata dan tetap. Pemazmur : Allah kita tetap Allah seterusnya – selamanya. Dialah yang memimpin kita (Maz. 48:15) dalam segala pergumulan hidup. Percayakan diri - berserah pada Allah.

Berserah tak sama dengan menyerah. Menyerah berarti tak mau berusaha lagi karena merasa gagal dan takut gagal lagi. Tetapi orang yang berserah kepada Tuhan adalah orang yang tetap melakukan bagiannya dengan maksimal namun mempercayakan hasil akhirnya kepada Tuhan dan tak kecewa dengan keputusan-Nya. Amin.
PKM

     

28 Juni 2015
" Kasih: Kekayaan yang Mempersatukan "
2 Sam. 1:1, 17-27; Maz. 130; 2 Kor. 8:7-15; Mark. 5:21-43

Dalam bacaan-bacaan kita hari ini, kita disuguhkan contoh-contoh tindakan kasih.
Yang pertama, Daud yang bersedih dan meratap atas kematian Saul dan Yonathan. Jika Daud meratap untuk Yonathan maka itu adalah hal yang wajar. Sebab Yonathan adalah sahabatnya dan Daud merasakan cinta dan kasih sayang yang luar biasa dari Yonathan (2 Sam 1:26). Tetapi untuk apa Daud meratapi kematian Saul. Bukankah selama ini, Saul adalah orang yang menginginkan kematiannya. Secara alamiah tentunya manusia akan merasa tenang atau senang, jika orang yang menjadi rintangan dan yang mengancam dirinya itu tiada lagi. Namun Daud berbeda dari kebanyakan orang, Daud justru merasa prihatin dan sedih atas kematian Saul. Apa rahasianya, sehingga Daud bisa seperti itu? Tentu semua setuju, jika Daud adalah orang yang memiliki hati yang mengasihi. Hati yang penuh kasih, baik kepada yang mengasihinya maupun yang membencinya.

Yang kedua, Paulus yang peduli terhadap keadaan jemaat Korintus yang dalam kondisi tidak akur (1 Kor. 1 dan 2). Sebagian Jemaat Korintus meragukan kerasulan dan pelayanan Paulus. Namun demikian, Paulus tidak malah membenci ataupun memprovokasi anggota jemaat yang berada di pihaknya. Tetapi Paulus berusaha mendamaikan dan mengingatkan mereka untuk bersatu. Dalam perikop yang menjadi bacaan kita hari ini merupakan bagian dari upaya Paulus memberikan contoh dan teladan serta mendorong Jemaat Korintus/Jemaat Non-Yahudi untuk mengasihi dan memberi bantuan kepada Jemaat Yahudi di Yerusalem yang seringkali juga memandang sebelah mata terhadap pelayanan Paulus. Apa rahasianya? Tentu jawabannya masih sama, yaitu hati yang penuh kasih. Sama seperti yang dimiliki oleh Daud.

Dan yang ketiga, tentu kasih dari Tuhan Yesus yang menyembuhkan perempuan yang mengalami pendarahan selama 12 tahun dan anak Yairus yang berusia 12 tahun. Dalam perikop ataupun peristiwa itu, kita bisa melihat bahwa kasih adalah kekuatan dan daya yang memulihkan dan menyembuhkan. Kasih bukan benda, objek, ataupun sesuatu yang mati. Jika kasih adalah daya, penggerak dan kekuatan, maka kasih itu bisa melakukan sesuatu seperti pemulihan, menghidupkan, memperdamaikan, dan tentunya mempersatukan.

Sebagai manusia yang lemah, kita pasti ingin memiliki kasih seperti kasih Daud, kasih Paulus, apalagi kasih Yesus. Sehingga kita bisa mengasihi saudara yang sudah melukai kita, orang yang menghancurkan bisnis kita dan orang yang telah membuat hati kita terluka. Seperti yang Tuhan kehendaki yaitu mengasihi sesama kita. Mungkinkah itu terjadi? Ya dan pasti. Jika kita mau berproses dan diproses Tuhan dalam beriman untuk itu. Ketika bayangan orang yang melukai terlintas dalam hidup kita, maka berbahagialah kita karena sejatinya Tuhan sangat mengasihi kita agar kita mau berdamai dengannya. Kita sedang diproses untuk memiliki kasih yang mendamaikan dan mempersatukan.
DS

 

21 Juni 2015
" TEGUH BERTUMBUH DI TENGAH HIDUP YANG GADUH "
1 Sam. 17:37,41-49; Maz. 9:10-21; 2 Kor. 6:1-10; Mark. 4:35-41

Setiap orang menyadari bahwa hidup ini pasti tidak selalu lancar. Terkadang, atau sering seseorang harus berhadapan dengan berbagai tantangan, kesulitan dan persoalan. Dalam situasi seperti ini, tidak jarang hidup beriman dihayati sebagai bentuk menghindari tantangan, kesulitan dan persoalan. Seakan-akan, semakin beriman seseorang, semakin absen persoalan dari kehidupan; semuanya lancar dan beres.

Hidup beriman yang dihayati sebagai hidup yang lancar dan beres tentu bukanlah iman yang bisa dipertanggungjawabkan. Iman yang sejati ialah iman yang tetap berbicara dalam segala keadaan, yang memberi keberanian dan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi dalam hidup dan bukan menghindari kesulitan, tantangan dan persoalan. Anthony Robbins pernah mengatakan sesuatu yang menarik, seperti dalam tema hari ini, “Every problem is a gift – without problems we would not grow”. Jadi, segala kesulitan, tantangan dan persoalan hidup itu sesungguhnya adalah hadiah atau pemberian yang pantas disyukuri, karena semua itu dapat membuat kita semakin bertumbuh. Kita dapat belajar, diperkaya oleh pengalaman dan semakin bijaksana, manakala kita bersedia menghadapi kesulitan, tantangan dan persoalan dalam hidup kita.

Dalam Bacaan I, 1 Samuel 17:32-49, dikisahkan bagaimana Saul yang menjadi tawar hati oleh karena keperkasaan Goliat-tengah diyakinkan oleh Daud, supaya dirinya diizinkan berperang melawan Goliat. Daud meyakinkan Saul, dengan menceritakan pengalamannya sebagai gembala yang terbiasa bertarung habis-habisan melawan binatang buas (ayat 34-36). Daud yakin mampu mengalahkan Goliat, karena penyertaan Tuhan selama ini atas dirinya sudah melepaskannya dari cakar singa dan beruang. Allah yang sama akan melepaskannya dari tangan Goliat (ayat 37). Keyakinan Daud akan penyertaan dan perlindungan Tuhan terbukti nyata dengan kemenangannya melawan Goliat. Pengalaman iman Daud bertumbuh semenjak ia menjadi gembala, terlebih setelah mengalami kemenangan atas Goliat. Situasi sulit dihadapi Daud dengan keyakinan akan pertolongan Tuhan.

Rasul Paulus dan Daud menceritakan perbuatan ajaib Tuhan, kuasa Tuhan atas mereka, seperti yang juga disaksikan dalam Mazmur 9. Pemazmur meyakini keajaiban perbuatan Tuhan, terutama bagi mereka yang dalam ketertindasan dan kelemahan. Namun, tidak semua orang bisa seperti Rasul Paulus dan Daud. Terkadang, seseorang bisa menjadi tawar hati seperti Saul, atau seperti murid-murid yang ketakutan meskipun ada Yesus bersama mereka.

Melalui tema hari ini, kita akan belajar dari tokoh Rasul Paulus, juga Daud, yang bersaksi tentang pengalaman imannya dalam menghadapi berbagai kesulitan, tantangan dan persoalan bersama dengan Tuhan yang berkuasa. Kita juga akan belajar dari pengalaman iman murid-murid Yesus yang ketakutan menghadapi badai dahsyat. Mereka juga belajar bersama Tuhan Yesus menghadapi badai dahsyat, dan dalam situasi seperti itulah mereka makin mengenal kuasa-Nya.
DP

     

14 Juni 2015
" IMAN YANG MEMPERBAHARUI MATA HATI "
I Samuel 15:34- 16:13, Mazmur 20, 2 Korintus 5:6-17, Markus 4:26-3

Tidak sedikit orang terpaksa memakai kaca mata karena tidak bisa melihat dan membaca dengan jelas. Secara rohaniah kita juga membutuhkan kaca mata iman supaya mampu memandang, menilai dan menafsirkan realitas kehidupan secara lebih utuh dan berkualitas. Beberapa hal penting berhubungan dengan tema tersebut.

Pertama, 2 Kor. 5:17, mengatakan: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Iman kepada Kristus yang memperbaharui hati, pikiran, jiwa, roh, kehendak, emosi dll, menjadi dasar utama untuk memandang dan menyikapi realitas hidup kita. Iman yang demikianlah yg mestinya kita miliki, sehingga kita tidak salah menilai, bertindak dan memaknai kehidupan ini. Singkatnya iman di dalam Yesus Kristus inilah yang menjadi kaca mata kita untuk menilai, memahami, menyikapi hidup pada diri sendiri, orang lain, maupun terhadap Tuhan.

Kedua, 2 Kor. 5:16: “Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilaiNya demikian.” Rasul Paulus menyaksikan bahwa dulu sebelum dia berjumpa dengan Kristus dan bertobat, ia menilai Kristus menurut ukuran manusia. Artinya, Yesus Kristus dan para pengikutNya harus dimusnahkan karena mengajarkan ajaran sesat. Itulah sebabnya rasul Paulus giat menganiaya dan membunuh para pengikut Kristus. Tetapi, setelah beriman kepada Kristus, ia menilai Kristus dengan kaca mata iman. Kristus adalah segala-galanya, bahkan Kristus menjadi tujuan dari seluruh kehidupannya. Hidup adalah bagi Kristus, mati adalah keuntungan.

Ketiga, Apa implikasinya bagi kita sekarang?

1. Kita harus sungguh-sungguh mengalami pembaharuan hidup oleh dan melalui iman kepada Yesus Kristus. Tanpa pengalaman iman, kita akan memandang kehidupan ini dengan kacamata gelap, kabur dan tidak jelas. Jika mata hatimu gelap, maka seluruh kehidupanmu juga gelap. Sebab dari dalam hati akan keluar segala yang jahat dan yang menajiskan (Mark. 7:20-21).
2. Memandang dan memperlakukan orang lain/ sesama seperti memandang dan memperlakukan dirinya sendiri. Sebagaimana Tuhan Yesus menerima, mengampuni, menghargai dan tidak menghakimi dirinya, maka kita akan melakukan itu kepada sesama/ orang lain.
3. Masalah dan persoalan hidup kita sikapi sebagai bentuk ujian iman dan pembentukan karakter, bukan sebagai ancaman yang menakutkan. Karena Kristus telah menyelesaikan dan telah mengalahkan semuanya itu di kayu salib.
4. Yesus Kristus adalah sumber kehidupan, kebahagiaan, damai sejahtera dan terang hidup dan kasihNya tidak pernah berhenti mengalir dalam kehidupan kita.
RDL

 

7 Juni 2015
" MENJADI SEPERTI YANG TUHAN MAU "
Markus 3:13-15; 10:15

Rekrutmen karyawan wajar dengan meneliti pelamar dan memilih yang sesuai kriteria yang diperlukan. Bagaimana dengan Yesus saat memanggil dan memilih 12 orang untuk dijadikan murid? Apakah Yesus juga mengajukan prasyarat bagi mereka? Melihat karakter dari murid-murid-Nya, apakah Yesus memilih mereka tanpa menyeleksi lebih dahulu? Apakah Ia tidak tahu Yudas Iskariot akan berkhianat? Bukankah Yudas Iskariot lemah dalam soal uang, mengapa justru dipercaya menjadi bendahara mengurusi soal keuangan, apakah Yesus tidak keliru dalam hal ini? Pikiran Yesus tidak terjangkau oleh manusia! Dia mau mendidik dan merubah watak manusia.

Tuhan memanggil seseorang apa adanya dan rindu mengubah karakter manusia menjadi seperti karakter-Nya. Seperti mengubah tabiat Petrus yang mudah menyangkal Yesus karena takut menderita sengsara (Mat. 26:69-74) menjadi pekabar Injil yang berani (Kis. 4). Yesus memulihkan iman Tomas yang tidak percaya akan kebangkitan-Nya (Yoh. 20:24-29).

Bagaimana dengan Yudas Iskariot ? Sejak awal Yesus mengetahui sifat Yudas Iskariot (=pembohong) dan sifat aslinya tidak dapat ditutup-tutupi di hadapan-Nya. Sebenarnya Yudas mendapat anugerah/karunia Allah tetapi dia menyia-nyiakan didikan perkataan/Firman Yesus dan tidak mau diubah, dan akhirnya mengkhianati Yesus. Dengan kata lain, iman dari Yudas Iskariot tidak pernah bertumbuh.

Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan.”

12 murid ini dipanggil untuk ‘diasingkan’ agar selalu bersama Yesus. Untuk apa? Untuk memperoleh didikan khusus selama ± 3½ tahun. Faktanya, tidaklah mudah orang hidup bersama dengan latar belakang berbeda. Seorang nelayan tinggal bersama pemungut cukai. Mereka berbeda kebiasaan dan tingkat kecerdasan, di sinilah iman dan kesediaan menerima panggilan Tuhan diuji.

Menyia-nyiakan anugerah Allah sama dengan menyia-nyiakan hidup. Manusia adalah makhluk yang telah jatuh dosa, ia hina. Namun Tuhan tetap menghargai manusia dan mengasihinya. Tuhan Yesus datang dan memberikan diriNya, agar manusia dapat menjadi seperti yang Tuhan mau. Mau menerima keselamatan, mau mengubah karakternya, mau diutusNya, dan melakukan kehendakNya sekaligus memberikan damai sejahtera pada yang melakukannya.

Hari ini kita memperingati hari anak dan ada anak yang dibaptiskan bersama dengan baptis dewasa dan sidi. Semua menjadi tanda bahwa inilah persekutuan orang percaya yang menyambut Kerajaan Allah. Dimana Roh Kudus telah menerangi dan merubah karakter buruk kita untuk menjadi seperti yang Tuhan mau. MENJADI murid-murid yang “menyertai Yesus dan sedia diutusNya” ... Yesus : “Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya” (Mrk 10:15).

Iman kristen bermula dari satu kelompok, dari persekutuan. Majemuk tetapi berpadu menjadi satu. Intisarinya adalah murid-murid yang dibentuk untuk mengikatkan manusia pada sesamanya dan menempatkan manusia dengan tugas : agar hidup bersama orang lain dan untuk hidup satu sama lain. Untuk itu diperlukan sifat anak kecil yang pada dasarnya memiliki kerendahan hati, taat, belum ada kepalsuan, dan mudah menaruh percaya. Sikap hati seperti anak-anak dan bimbingan Roh Kudus diperlukan setiap murid Yesus, untuk tekun belajar memelihara iman, kesetiaan, pengenalan akan Yesus dan menjalankan kehendakNya. Amin.
PKM

     

31 Mei 2015
" KARYA TRINITAS YANG MEMBAHARUI: DARI ATAS KE DALAM "
Yes. 6:1-8, Maz. 29, Roma 8:12-17, Yoh. 3:1-17

Ada pertanyaan yang menarik seputar tema di atas dalam persiapan Ibadah hari kamis yang lalu, yaitu mengapa dari atas ke dalam? Pertanyaan tersebut bukan hanya sekedar mempertanyakan soal logika berpikir tentang antonim/lawan kata atas=bawah, ke luar=ke dalam. Secara logis semestinya dari atas ke bawah, atau dari luar ke dalam. Tetapi lebih dari itu. Apa makna pembaharuan dari atas ke dalam? Tentu tema tersebut masih terkait dengan peristiwa Pentakosta minggu lalu, di mana murid-murid Yesus menerima pencurahan Roh Kudus yang dari atas. Dan apakah Roh yang dari atas itu hanya turun ke bawah, dalam arti hanya memperbaharui logika/pemahaman murid-murid tentang Yesus atau lebih dari itu? Saya tegaskan lebih dari itu yaitu pembaharuan ke dalam, terkhusus dalam rangkaian bacaan leksionari kita.
Apa maksudnya?

Bacaan 1 memperlihatkan dengan jelas gambaran tentang sebuah pengampunan yang diberikan Allah kepada Yesaya karena dosa yang diperbuat mulut, melalui bara yang disentuhkan ke mulut Yesaya (6:7). Dalam kaitannya dengan membaharui dari atas ke dalam, Allah membaharui umatnya pertama-tama dengan mengampuni perkataan dan perbuatan umat-Nya. Kemudian Allah menguduskan umat-Nya untuk berbuat dan melakukan hal-hal yang kudus tentunya. Dengan pengampunan dan pengudusan yang dari Allah, umat seharusnya berani dan siap seperti Yesaya dengan mengatakan, “Ini aku, utuslah aku!” Yang merupakan tema dan panggilan kita sebagai anggota Jemaat GKI Pasteur, Bandung, tahun 2015-2016.

Bacaan 2 dari Roma menyaksikan pembaharuan yang Allah berikan sungguh luar biasa. Kita sebagai umat-Nya dijadikannya anak yang berhak menerima janji-janji Allah (8:17). Dan kita tidak lagi diperbudak oleh dosa dan nafsu kedagingan, ketika Roh Allah itu memimpin roh kita. Melalui pimpinan Roh Allah yang masuk ke dalam hidup kita dan memimpin roh kita, kita boleh menikmati persekutuan yang dekat, hangat dan intim bersama Allah – kita berseru “ya Abba, ya Bapa!” (8:15). Sehingga dengan dan olehnya, kita dimampukan untuk melalui dan mengalami penderitaan bersama-sama dengan Kristus. Yang pada akhirnya kita juga memperoleh kemuliaan bersama-sama dengan Kristus.

Bacaan Injil Yohanes merupakan gambaran pembaharuan dalam cara pandang, cara berpikir dan cara memahami tentang kelahiran baru dalam Allah. Dan hal itu berkaitan dengan pembaharuan roh manusia. Pemahaman Nikodemus tentang segala sesuatu yang dari Allah/Roh masih hanya dalam tahapan logika, pikiran, atau otak manusia.
Di sini Yesus menjelaskan kepada Nikodemus bahwa untuk percaya pada Allah dan pembaharuan yang Allah lakukan, tidak akan mungkin hanya menggunakan pikirannya saja.

Tetapi perlunya roh manusia (orang biasanya mengatakan hati atau hati nurani atau perasaan atau jiwa) untuk boleh terbuka dan menerima pimpinan Roh Allah. Allah yang misteri itu tidak mungkin bisa dimengerti, dialami dan dirasakan hanya dengan akal budi atau pikiran saja. Karena itu, di bagian lain dalam pengajaran-Nya, Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya untuk mengasihi Allah dengan segenap hatimu, jiwamu dan akal budimu (Mat. 22:37).

Dengan demikian, pembaharuan yang dari atas ke dalam adalah pembaharuan yang dilakukan oleh Allah dalam segenap aspek hidup manusia (roh/jiwa/hati, akal budi dan perbuatan) dan segenap aspek kehidupan manusia (keluarga dan masyarakat, kehidupan pribadi dan sosial, dsb). Dan semua itu untuk kemuliaan Tuhan, sehingga Mazmur 29 dapat menjadi pengalaman iman bagi umat manusia.
denni setiawan (ds)

 

24 Mei 2015
" Karya Roh Kudus Bagi Dunia "
Kisah Para Rasul 2:1-21; Maz 104:24-35; Roma 8:22-27; Yoh 15:26-27, 16:4b-15

Seperti apakah karya Roh Kudus dalam gereja ? Bahasa Roh yang muncul dalam kisah Pentakosta (Kisah 1) sebagai contoh, adalah bahasa yang dimengerti manusia, sehingga bermacam-macam orang dari berbagai tempat memahami apa yang dimaksudkan. Gereja mesti terus mengoreksi diri, apakah kehadirannya di dunia mampu menterjemahkan dengan jelas maksud karya Roh Kudus dalam dunia.
Pertama, gereja yang dipenuhi oleh Roh Kudus adalah gereja dipenuhi oleh suka cita yang luar biasa. Dan bila benar-benar ada sukacita, maka dengan sendirinya kita akan terdorong untuk membagikan dan menceritakan tentang Dia kepada orang-orang lain.
Kedua, gereja yang dipenuhi oleh Roh Kudus adalah gereja yang beriman, berharap dan mengasihi. “Demikian tinggal ketiga hal ini yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar diantaranya adalah kasih” (IKor 13:13). Berharap berarti berani berjalan di depan, tidak hanya terus menoleh ke belakang. Berharap berarti gereja berani terus maju ke depan dan tidak tertelan oleh kenyataan. Terus mencari kemungkinan-kemungkinan baru, tidak hanya meneruskan kebiasaan – kebiasaan lama. Mengasihi berarti menterjemahkan baik iman maupun pengharapannya itu dalam sikap dan tindakan nyata terhadap sesama. Sikap kesetiakawanan yang penuh. kepedulian yang tulus. Membuka hati dan mengulurkan tangan. Saling berbagi dan membagi. Kalau gereja dan orang kristiani benar-benar mengasihi, ah, mungkin Bidang Kespel – Kesaksian dan Pelayanan tak perlu lagi ada. Kasih itu sendiri yang akan menjadi saksi yang paling otentik dan efektif.

Karya Roh yang manusiawi itu juga dinampakkan dalam perkataan Yesus dalam injil Yohanes (Yoh 15), yaitu bahwa Roh yang datang adalah Roh yang menginsafkan dunia akan dosa, penghakiman, dan meyakinkan orang akan kebenaran. Gereja menjadi komunitas percontohan bagi dunia.

Gereja di tengah dunia tak lepas dari derita, namun Roh Kudus memampukan gereja untuk turut berkarya dalam karya Roh Kudus bagi dunia. Untuk hal ini, gereja perlu mewaspadai adanya begitu banyak jebakan di masa kini, yang disadari atau tidak, orang bisa menjadi konsumtif, hedonis, dan egois. Ketika komunitas kristen jatuh pada pola dunia semacam itu, ia tidak menjadi komunitas percontohan. Karya Roh Kudus dalam peristiwa Pentakosta memampukan umat berperan aktif memperjuangkan persekutuan yang patut diteladani dunia.

 

     

17 Mei 2015
"DIKUDUSKAN DALAM KEBENARAN FIRMAN "
Kisah Para Rasul 1:15-17,21-26 ; Mazmur 1 ; 1 Yohanes 5:9-13 ;
Yohanes 17:6-19

Kristen sejati bukanlah agama, karena agama berisi peraturan-peraturan dan ritual usaha manusia mencari Allah untuk diselamatkan. KeKristenan adalah upaya Allah mencari manusia berdosa melalui Yesus Kristus untuk menyelamatkannya. KeKristenan bukan hanya karena mengaku Kristen, KeKristenan bukan hanya tambahan atau sebagai nilai plus dalam hidup anda. KeKristenan berarti Yesus Kristus datang ke dalam kehidupan anda, dan mengambil alih pimpinan dalam hidup anda. Kekristenan bukan seperti orang membeli tiket pertandingan dan duduk di tepi lapangan sebagai penonton. Kekristenan sejati di mana kita ikut terlibat di dalam lapangan, tidak hidup untuk dirinya sendiri tetapi untuk kemuliaan Allah.

Injil Yohanes 17:6-19, adalah bagian doa syafaat Tuhan Yesus untuk para muridNya, sebagai milik Allah karena hidup menuruti Firman Allah yang adalah Kristus sendiri. Isi doaNya supaya Yesus dipermuliakan melalui kehidupan murid-muridNya dan mereka dipelihara dalam namaNya yang telah diberikan oleh Allah Bapa yaitu disatukan dalam nama Yesus. Yesus telah memberikan Firman Kebenaran yang bukan dari dunia, yang menjadikan mereka bukan dari dunia, dan dunia membenci mereka, tetapi Allah tetap melindungi mereka dari yang jahat yaitu hikmat orang fasik (Mazmur 1). Allah mengutus AnakNya ke dunia dan mengutus murid-muridNya ke tengah dunia untuk menyampaikan kebenaran Injil yang mereka hidupi.

Doa untuk pelayananNya, doa untuk pelayanan murid-muridNya, serta bagi bagi orang-orang yang menjadi murid oleh pelayanan mereka, supaya mereka menjadi satu seperti Bapa di dalam Anak, dan Anak di dalam Bapa, dan setiap orang percaya di dalam Anak dikuduskan oleh Kebenaran Firman Allah. (1 Yohanes 5:11-12).

Dunia mengenal Yesus sebagai orang yang sangat terkenal, tetapi tidak banyak orang Kristen sendiri mengenal Alkitab, apalagi hidup dalam Firman Allah. Mahatma Gandhi pernah berkata : Saya mengasihi Yesus Kristus, tetapi saya membenci orang Kristen karena tidak hidup berpadanan dengan Alkitab. Kalau Kristus hidup disetiap orang Kristen, pasti seluruh India menjadi pengikut Kristus. Kita dikuduskan oleh kebenaran Firman Allah, dan Allah Roh Kudus memberi kita kuasa untuk memberitakan Injil untuk keselamatan dunia.
Sudahkah anda hidup selaras dengan Firman Tuhan ?
Apa yang anda inginkan dalam kehidupan anda ?
tonny iskandar

 

10 Mei 2015
" KEKUATAN KASIH SEBAGAI KARAKTER PARA ‘SAHABAT ALLAH’ "
Kis. 10:44-48; Mzm. 98; 1 Yoh. 5:1-6; Yoh. 15:9-17

Sekarang ini sedang terjadi tren untuk mengukur indeks kebahagiaan dunia. Berbagai lembaga melakukan survei dengan memakai berbagai metode dan faktor penentu kebahagiaan seseorang. PBB memrakarsai survei melalui Sustainable Development Solutions Network (SDSN), dan telah menyatakan Swiss sebagai negara paling bahagia dunia (Kompas, 25 April 2015). Lembaga survei yang lain menetapkan bukan Swiss yang mempunyai indeks kebahagiaan tertinggi. Jadi, tidak ada satu kriteria yang pasti untuk kebahagiaan. Menurut SDSN, tingkat kemakmuran yang lebih tinggi, hanyalah satu faktor yang agak berpengaruh. Hal lain yang sangat penting untuk kebahagiaan adalah masyarakat yang saling memercayai, masyarakat yang murah hati dan ringan tangan membantu.

Semua ini dapat terpenuhi oleh hal yang orang Kristen kenal dengan “kasih”. Jika demikian halnya, maka seyogianya bagi kita, tidaklah sulit untuk memenuhi persyaratan hidup bahagia ini. Tuhan Yesus mengajar kita, agar kita senantiasa menerapkan kasih dalam kehidupan kita. Kita tinggal di dalam kasih Kristus, dan kasih Kristus itulah yang menghidupi kita, serta memancar keluar dalam kehidupan setiap orang percaya. Kristus menyebut kita sahabat-sahabat-Nya, jikalau kita mengerti apa yang Dia beritahukan dan perintahkan bagi kita, yaitu mengasihi seorang akan yang lain. Biasanya seseorang yang bersukacita, akan lebih mudah untuk melakukan perbuatan kasih. Kristus menaruh sukacita-Nya yang penuh untuk memberi kekuatan yang memampukan kita untuk saling mengasihi. Ia sendiri telah memberi teladan bagaimana mengasihi dengan kasih yang agung, yaitu menyerahkan nyawa-Nya bagi kita semua, para sahabat-Nya

Kita telah dipilih dan ditetapkan-Nya untuk turut ambil bagian dalam karya kasih-Nya dengan pergi membagikan keselamatan yang daripada-Nya, dan menghasilkan buah, memberikan hidup kita bagi kebahagiaan setiap ciptaan Tuhan.

Kita juga disebut anak-anak Allah, jika kita menuruti perintah-perintah-Nya, yaitu mengutamakan kasih kepada Allah dan sesama kita, melebihi apapun yang ada di dunia. Kita tidak akan berhasil untuk menaati perintah-perintah-Nya, jika kita hanya mengandalkan diri sendiri, tetapi setiap orang yang beriman kepada-Nya, akan dimampukan-Nya untuk mengalahkan segala godaan dunia.

Jadi, apakah kita bisa menjadi anak-anak Allah dan para sahabat-Nya yang setia? Jawabnya pasti bisa. Karena Tuhan sendiri yang memberi kekuatan kasih dan kuasa kepada kita untuk menuruti kehendak-Nya, yaitu hidup saling mengasihi, tidak lelah mewujudkan kasih secara nyata dalam seluruh kehidupan kita, serta membawa orang lain untuk menjadi anak-anak dan para sahabat Allah juga. Amin.
Nancy Hendranata

     

3 Mei 2015
" MELEKAT PADA KRISTUS "
Kisah Para Rasul 8 : 26-40; Mazmur 22 : 26-32; 1 Yohanes 4 : 7-21; Yohanes 15 : 1-8

Apa arti 'melekat’? Melekat berarti `lengket’, punya hubungan akrab yang mengikat tak terpisahkan. Ya, melekat di antara seseorang dengan temannya, sehingga di mana ada si A, pasti si B juga ada di sana. Demikian pula ikatan suami dan istri, kakak dan adiknya, tak hanya berdekatan dalam masalah jarak, tetapi juga berkaitan dengan suasana hati kedua belah pihak yang bersangkutan. Begitu pula hubungan di antara orang Kristen dengan Tuhan Yesus, dekat, akrab, mengikat, dan tak terpisahkan.

Memang begitukah hubungan kita dengan Tuhan Yesus? Seyogianya begitu, sehingga lukisan yang dikemukakan dalam Yoh. 15:1-8 adalah hubungan di antara pokok anggur dengan ranting-rantingnya. Pokok anggur adalah Tuhan Yesus, sedangkan ranting-ranting-Nya adalah kita (ay. 5). Tanda dan bukti keakraban hubungan itu tampak ketika ranting-ranting itu tinggal/melekat pada pokok anggur dan berbuah banyak. Sebaliknya jika tidak akrab, ranting-ranting itu tidak berbuah, bahkan kering, sehingga harus dipotong, dikumpulkan, lalu dicampakkan ke dalam api untuk dibakar (ay. 2, 6). Itulah hubungan vertikal di antara kita dengan Tuhan. Bagaimana hubungan horizontal kita dengan sesama manusia?

Keadaan melekat dengan Tuhan itu berpengaruh besar terhadap hubungan kita dengan sesama. Wujudnya adalah kasih, ya, kasih kepada sesama tanpa menaruh kebencian, mengingat Allah terlebih dahulu mengasihi kita yang membuat kita tinggal di dalam Dia, maka semestinya kita juga mengasihi sesama manusia (1 Yoh. 4:12,16,20). Ibarat bola sodok yang disodok pemainnya secara berantai akan mengena kepada bola-bola sasaran berikutnya. Keadaan itu diawali ketika kita mengakui, bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Allah yang menjadi Juruselamat kita, lantas kita pun menghampiri orang lain untuk bersaksi tentang Dia (ay. 14-16).

Sekiranya kita telah sampai pada tahap demikian, kita pun berada dalam keadaan melekat pada Allah dan mengasihi sesama manusia. Sebuah keadaan yang ideal, sebab begitulah yang Allah kehendaki terjadi pada diri kita selaku orang-orang Kristen, agar kita tidak memonopoli keselamatan bagi diri kita sendiri, tetapi siap untuk berbagi dengan orang-orang lain.

Ketika Filipus menjumpai sida-sida (eunugh, pria yang dikebiri) yang berjabatan sebagai Menteri Keuangan Etiopia dalam perjalanannya ke Yerusalem, Filipus diliputi oleh keadaan melekat pada Allah, sehingga ia pun tergerak dalam kasihnya untuk menjumpai sida-sida itu dan membimbingnya (Kis. 8:27-31). Maklum, sida-sida itu `masih belajar’ mengenal Tuhan Yesus melalui bacaan dari kitab nabi Yesaya 53:7,8.
Uraian dan keterangan Filipus itu mengantar sida-sida tersebut dalam iman kepada Tuhan Yesus, sehingga pada saat itu juga ia minta dibaptis (Kis. 8 : 36-39 a).

Nyata, bahwa keakraban kita dengan Tuhan membuat kita pun akrab dengan sesama manusia. Tentu jika sebaliknya, maka kebalikannyalah yang terjadi. Oleh sebab itu, melekatlah kepada Tuhan, agar hati kita tergerak untuk membawa orang datang dan percaya kepada Tuhan Yesus, baik mereka yang punya hubungan darah dengan kita yaitu anak cucu (Mzm. 22 : 31), maupun bangsa yang akan lahir (ay. 32). Sekali lagi melekatlah pada Tuhan, maka hati kita akan digerakkan oleh-Nya untuk melakukan kehendak-Nya. Amin .
Oleh Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

26 April 2015
" Tawaran Gembala Agung: Hidup Berkelimpahan Dalam Komunitas "
1 Yoh 3:16-22; Maz 23; Kis 4:5-12; Yoh 10:11-118

Sesuatu yang luar biasa terjadi dalam hidup Petrus dan Yohanes, serta para murid Yesus, ketika Roh Kudus dicurahkan memenuhi hidup mereka. Mereka menyadari apa arti hidup yang kekal, hidup yg diberkati dengan kepenuhan dan kelimpahan kasih karunia Roh. Maka dengan berani mereka mengabarkan Injil kerajaan Allah di Bait Allah.

Orang yang berkekurangan adalah pemberian dari Allah untuk orang yang berkelebihan, sebagai kesempatan untuk membagikan apa yang ia punyai. Seorang pengemis yang lumpuh sehingga tidak bisa memenuhi kehidupannya secara mandiri. Maka sepanjang hidupnya ia meminta-minta uang di pelataran Bait Allah. Saat ia mengemis pada Petrus dan Yohanes, mereka menjawab “Emas dan perak tidak ada padaku, tapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu”.

Dunia menyamakan kelimpahan dengan berlebihnya kekayaan emas, perak, atau harta benda. Tapi kelimpahan yang Tuhan janjikan jauh lebih besar dari itu. Ia menjanjikan kepenuhan hidup dalam Roh Kudus, yang berekspresi dalam berbagai Karunia Roh. Maka Petrus dan Yohanes memberikan lebih dari emas dan perak: kekuatan untuk menjalani kehidupan. Maka orang lumpuh ini bisa berhenti mengemis, dan mampu memenuhi kebutuhannya, dan bahkan mampu menjadi berkat bagi orang lain.

Kematian dan kebangkitan Kristus telah merontokkan belenggu kuasa dosa. Kita disucikan untuk bisa menerima Allah hidup dalam diri kita setiap saat. Kita dilahirkan kembali dalam air dan Roh. Air hidup dari Allah menyegarkan jiwa kita. Roh Kudus seperti angin besar yang mengembangkan layar bahtera hidup kita secara penuh, mendorong orang percaya mengarungi samudera kehidupan, ke tujuan manapun Allah mengehendaki.

Kita, yang selalu berdoa memohon berkat dari Allah tapi tidak mau membagikan kepada yang membutuhkan, tidaklah berbeda dengan pengemis lumpuh di pelataran Bait Allah. Bukan itu visi Allah tentang hidup manusia. Petrus dan Yohanes melihat bahwa kita tidak butuh emas atau perak, karena itu akan menahan kita tetap lumpuh seperti pengemis. Kita butuh Roh Kudus, yang menguatkan kaki kita untuk berjalan ke mana Allah menghendaki.

Hidup berkelimpahan berarti hidup yang dipenuhi Roh Kudus, sehingga kita menghidupi hidup yang sebenarnya. Melalui kepenuhan dalam Roh dan berkat kasih, Allah menggunakan kita untuk memberikan karunia Nya kepada manusia.

Allah menggembalakan manusia melalui Roh Kudus dalam hidup kita. Hidup kita tidak lagi kempes, mengkerut, lumpuh, dan layu oleh ketakutan dan beban hidup. Kita tidak lagi hidup dlm ketakutan melakukan kebenaran, karena Yesus adalah Gembala yg menyertai kita dalam gunung sukacita maupun lembah kekelaman.

Marilah kita membangun komunitas kita, baik di dalam jemaat maupun di masyarakat, melalui karunia Roh yang sudah Allah curahkan bagi kita dengan melimpah.
AL

     

19 April 2015
" KEBANGKITAN ADALAH PENERIMAAN "
Kis. 3:12-19; Mazmur 4; I Yohanes 3:1-7; Lukas 24: 36-48

Paskah adalah peristiwa Perayaan penerimaan, dimana Tuhan Yesus menjadi tuan rumah yang menyediakan makanan yang memuaskan dengan penuh kasih. Ia membangun suasana keriaan dan kehangatan untuk para tamu undangan. Ketika Yesus Kristus bangkit dari kuburan dan menjumpai para murid, baik secara individu maupun secara kelompok. Perjumpaan Yesus dengan mereka membuktikan bahwa Yesus telah menerima dan mengampuni dosa dan kesalahan mereka. Petrus seorang murid yang menghianati Yesus tiga kali, dosa penghianatan yang besar, namun Yesus telah menjumpai dia secara pribadi dalam Yoh. 21:15-19. Dalam perjumpaan itulah Petrus diterima, diampuni dan dipulihkan oleh Yesus Kristus. Thomas yang tidak percaya bahwa Yesus telah bangkit, meskipun para murid telah menyaksikannya, namun ia tetap tidak percaya. Kemudian Yesus menjumpainya secara pribadi, dan pada saat itulah Thomas mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Allah. Ketika dua orang murid dalam perjalanan menuju ke Emaus, mereka tidak percaya bahwa Yesus telah bangkit seperti apa yang diperbincangkan oleh banyak orang. Yesus Kristus menjumpai mereka dalam perjalanan itu, maka merekapun akhirnya percaya; iman mereka dipulihkan. Ketika Yesus mati, dikuburkan para murid dalam suasana ketakutan, kecemasan, rasa bimbang menguasai mereka, Yesus menjumpai mereka dan mengatakan “Damai Sejahtera bagi kamu semua”. Melalui perjumpaan itu suasana ketakutan, keputus-asaan dan kebimbangan berubah menjadi suasana yang ceria, sukacita dan penuh pengharapan. Yesus menjumpai para murid membuktikan bahwa Yesus telah menerima dan mengampuni mereka apa adanya, dan Yesus memulihkan hati, iman dan pengharapan mereka.

Penerimaan dan pengampunan adalah wujud dari kasih karunia Allah yang sangat besar (I Yoh. 3:1). Yesus tidak mengungkit-ungkit dosa dan kesalahan Petrus, Thomas, dua orang murid yang berjalan menuju ke Emaus dan semua murid. Yesus dengan cinta kasihnya yang besar mengampuni dosa dan kesalahan mereka dan menerima mereka apa adanya.

Sekarang mereka, murid-murid yang istimewa, mereka adalah anak-anak Allah, mereka akan dipakai oleh Allah untuk meneruskan tugas dan misi Yesus Kristus di dunia ini. Mereka yang akan mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini dengan sikap dan perilaku yang berbeda dengan orang lain.

Ketika mereka menerima kuasa Roh Kudus sesuai dengan yang Yesus janjikan, maka mereka dengan semangat memberitakan Yesus Kristus yang bangkit. Mereka tidak lagi takut dipenjara, takut mati, takut pada penguasa, tetapi sebaliknya mereka berani mati karena Injil Yesus Kristus yang mereka beritakan. Kehidupan mereka diubahkan dan dipulihkan oleh kuasa Roh Kudus, mereka mewujudnyatakan iman mereka dengan buah-buah pertobatan. Mereka semangat berkumpul bersekutu, berdoa, mempelajari firman Tuhan, mereka murah hati/ mau berbagi, mereka sehati sepikir, mereka dengan sukacita dan tulus hati lakukan semua itu. Itulah gaya hidup jemaat/ gereja mula-mula.

Bagaimana dengan gereja masa kini, bagaimana dengan kita? Ketika gereja melayani orang dengan mamandang muka, status sosial, latarbelakang dan apapun itu, ketika gereja melakukan pelayanan diskriminasi, itu berarti bertentangan dengan hakekat gereja itu sendiri. Ketika kita merasa paling benar dan memandang orang lain salah, sadarlah bahwa kita telah diterima dan diampuni dosa oleh Kristus karena kasihNya yang sangat besar pada kita. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk melakukan yang benar sebagai wujud syukur kita atas kebangkitanNya. Amin
RDS

 

12 April 2015
" KUASA KEBANGKITAN YESUS MEMAMPUKAN UMAT UNTUK BERBAGI "
Kisah Para rasul 4:32-35, Mazmur 133, 1 Yohanes 1:1 – 2:2, Yohanes 20:19-31

Dalam Injil Yohanes 20:19-20 disaksikan bahwa setelah kebangkitan, Yesus menampakkan diri-Nya kepada murid-murid di sebuah rumah. Di tengah perasaan takut terhadap orang-orang Yahudi, kehadiran Yesus yang tiba-tiba (bahasa srimulatnya mak jegagig/mak bedunduk) masuk dalam rumah yang terkunci rapat itu, sambil memberi salam dan menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya membuat murid-murid bersukacita. Yesus meyakinkan kepada para murid bahwa Ia benar-benar bangkit. Kebangkitan-Nya memberikan harapan bagi murid-murid yang dirundung kesedihan dan ketakutan. Kehadiran-Nya mengubah ketakutan menjadi sukacita.

Dalam peristiwa itu, Yesus memberikan tugas kepada murid-murid untuk menjadi utusan Bapa sama seperti Yesus (21) yaitu memberitakan berita sukacita tentang Allah yang karena kasih-Nya yang besar mencari umat-Nya yang telah memberontak, untuk memberikan pengampunan dan perdamaian di dalam diri-Nya. Allah menawarkan ruang hati-Nya untuk diisi oleh umat-Nya yang berdosa. Dalam menjalankan tugas tersebut Yesus menguatkan mereka dengan Roh Kudus (22). Sehingga mereka mampu untuk memberikan pengampunan dan melihat, mempertimbangkan dan menyatakan sebuah kebenaran atau dosa (23).

Namun sayang, saat peristiwa itu terjadi, Tomas tidak bersama-sama dengan mereka (24). Tomas yang mendengar bahwa murid-murid yang lain telah melihat Yesus, tidak lantas percaya begitu saja. Ia ingin bukti dan ingin melihatnya sendiri. Dan setelah ia mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus, ia menjadi percaya. Sehingga sukacita yang menguasai dirinya memampukan ia menyebut Yesus sebagai Tuhanku & Allahku (28). Inilah kredo (pengakuan iman) yang pertama kali tentang jati diri Yesus. Tomas mewakili umat yang belum mampu untuk merasakan kasih Tuhan. Bagi umat yang belum mampu menyadari kasih Allah dalam hidupnya, cenderung sulit untuk hidup mengasihi dan berbagi kepada sesamanya.

Di tengah kehidupan yang egosentris saat ini, pengorbanan diri Yesus semestinya menjadi pemicu bagi kesadaran umat untuk hidup berbagi. Sehingga kehidupan Yesus yang berbagi segalanya (kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya), menjadi gaya hidup orang beriman. Di samping itu, ternyata gaya hidup orang beriman yang berbagi semakin dapat dihayati dan dilakukan, ketika umat meyakini bahwa Roh Kudus yang dicurahkan memampukannya untuk hidup berbagi. Semangat dan gaya hidup berbagi inilah yang bisa kita lihat di dalam kehidupan jemaat mula-mula (Kis. 4:32-35).

Kristus yang bersedia berbagi keselamatan melalui pengorbanan-Nya merupakan undangan bagi setiap orang yang beriman. Dan kebangkitan Kristus mengutus umat untuk hidup berbagi. Sehingga berbagi menjadi gaya hidup pengikut Kristus. Kita bisa berbagi untuk meringankan beban ekonomi sesama melalui harta yang Tuhan titipkan kepada kita. Kita bisa berbagi untuk meringankan kesedihan sesama melalui kehadiran kita (waktu dan tenaga untuk mendampingi). Berbagi dapat dikerjakan dalam segala aspek kehidupan manusia. Selamat menjalani kehidupan yang berbagi, sebuah laku spiritual yang diilhami Roh Kudus dan yang meneladani Allah di dalam diri Yesus yang terlebih dahulu membagi kasih-Nya kepada manusia. Amin
ds

     

5 April 2015
"Ini aku utuslah aku, membawa damai sejahteraMu"
Yesaya 8:5-8 dan Lukas 24:13-36, 45-48

Berbicara mengenai perubahan, perubahan merupakan salah satu tanda kehidupan, selama hidup kita, perubahan tak dapat dihindari. Dalam kenyataannya : banyak orang enggan berubah, ada orang yang mengatakan : tidak mungkin berubah, ada juga yang terlanjur merasa nyaman dengan kondisinya yang buruk dan membuang banyak kesempatan untuk memperbaikinya. Jadi berubah ke hal yang lebih baik tidaklah mudah.
Lukas 24: 13-48, kebangkitan Yesus membawa perubahan pada Kleopas, dan murid-muridNya. Para murid yang dirundung dukacita dan ketakutan DI-UBAH menjadi orang-orang yang penuh sukacita dan semangat. Dampaknya, mereka juga terdorong untuk menularkan sukacita itu kepada rekan-rekan mereka. Perubahan juga terjadi pada Yesaya : “Ini aku utuslah aku.” PERUBAHAN terjadi karena tadinya menyangka akan celaka, dan binasa karena dosa namun ternyata mendapat yang sebaliknya : “Pengampunan”. Karena itulah tak dapat tidak, yang ada adalah rasa syukur yang penuh sukacita, sehingga menjawab “Ini aku utuslah aku.”

Apakah kebangkitan Kristus telah mengubah kita, dan membawa semangat baru ? Yesus meneguhkan (menetapkan) : “kamu adalah saksi dari semuanya ini.” Saksi siapa dan menyaksikan apa ? Saksi menurut Yesus, saksi tentang “KEHIDUPAN” yang datang dari Yesus yang bangkit. Yang murid-murid sendiri mengalami yakni datangnya “damai yang menghidupkan.” Damai yang bukan murahan, damai sejahtera yang murid-murid sendiri mengalaminya karena KEBANGKITAN KRISTUS. Damai sejahtera yang berasal dari kuasa dan CINTANYA Tuhan. Damai yang menghidupkan.

Menjadi PEMBAWA DAMAI yang menghidupkan, tidak bisa tidak, satu-satunya cara adalah dengan meneladan Kristus. Sebuah perumpamaan yang telah diajarkan Yesus di Injil Lukas adalah “mempraktekan hidup sebagai sesama manusia”. Lukas 10:37, Yesus bertanya : “Siapa sesama manusia ? Lalu ada yang menjawab : “Org yang menunjukkan belas kasihan.” Kata Yesus : “Pergilah dan perbuatlah demikian.”

Elie Wiesel, sastrawan berdarah Yahudi, peraih nobel perdamaian 1986, saksi hidup kekejaman rezim Hitler, mengungkapkan : “Lawan dari kasih bukan kebencian, melainkan ketidakpedulian. Lawan dari iman, bukan ajaran sesat ... tetapi ketidakpedulian, lawan dari kehidupan bukan kematian, tetapi ketidakpedulian .“ Dalam perumpamaan Yesus, apakah yang membedakan antara orang Samaria dengan 2 tokoh lainnya (2 orang Israel?) ... Bedanya pada KEPEDULIAN ... yang membedakan adalah DAMPAK-nya ... yakni MENGHIDUPKAN.

Orang yang dirampok nyaris mati .... jika semua orang seperti 2 tokoh lain itu, nyawanya melayang ... Namun karena ada orang yang peduli... jiwanya tertolong, ia tetap hidup! Lihatlah, betapa BATAS antara hidup dan mati ditentukan oleh sebuah KEPEDULIAN Mungkin yang kita lakukan hanya sebentuk KEPEDULIAN SEDERHANA : mendoakan orang sakit, menepuk pundak si gagal, mengantar si Oma / Opa ke gereja, memberi beasiswa, tetap berbuat baik walau dirugikan pesaing bisnisnya dsb ... INGAT, SEMUA ITU sudah BERPIHAK PADA KEHIDUPAN.

Hari ini kita memperingati KEMENANGAN kita dari maut. Hari ini kita memperingati peristiwa perjamuan yang mengingatkan murid-muridNya akan Kristus. Kristus yang telah mati dan sudah bangkit. Saat ini pula, mari kita wujudkan undangan dan penetapan kita muridNya sebagai SAKSI. Hari ini Allah mengingatkan kita : “SIAPAKAH yang akan Ku-utus, siapakah yang mau pergi untuk Aku? Maukah kita sadari bahwa Kristus SUDAH MENGUBAH kita? (Otomatis kita juga ditetapkan juga sebagai utusan / saksi). Mari kita baharui KOMITMEN kita untuk hidup sebagai UTUSAN TUHAN DAN menjawab undangan-Nya : Ini aku utuslah aku? Amin.
pkm

 

29 Maret 2015
"MENGOSONGKAN DIRI, TAAT MEMIKUL SALIB"
Minggu Palma Yes. 50:4-9a, Maz. 118:1-2, 19-29; Fil. 2:5-11; Yoh. 12:12-16

“Tidak ada Kasih tanpa pengorbanan”, kalimat ini menegaskan bahwa cinta tanpa pengorbanan adalah “cinta palsu”. Kadar sebuah cinta dapat diukur dari besar kecilnya pengorbanannya. Seseorang rela mengorbankan apa saja demi yang dicintainya, apakah pacar, isteri/suami, keluarga, uang, pekerjaan, kedudukan atau Tuhan. Besarnya Kasih Allah kepada manusia berdosa di dunia adalah sebesar kerelaan menyerahkan nyawa AnakNya yang Tunggal yaitu Yesus Kristus.

Pada bacaan Markus 11:1-11, membuktikan ke mahatahuan Yesus akan masa depan, ketika menyuruh murid-muridnya meminjam seekor keledai muda yang belum pernah ditunggangi yang akan mereka jumpai, sampai detil percakapan antara murid-murid dengan pemilik keledai dan jawaban yang harus dikatakan murid-muridNya, “Yesus adalah jawaban”. Yesus mengetahui bahwa Dia akan dielu-elukan disambut sebagai pahlawan dan Raja Israel, Yohanes 12:13 mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel! " dan Yesus juga mengetahui apa yang akan terjadi beberapa hari berikutnya seruan “Hosana” berubah menjadi “Salibkan Dia”. Yesus mengetahui Rancangan Besar Allah Bapa dalam rangka menyelamatkan umat manusia dari kuasa dosa dengan mengorbankan diriNya sampai mati di kayu salib.

Filipi 2:5-8 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama , menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah , tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri , dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia . Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Apakah anda mengasihi Tuhan ? Kita dengan mudah menjawab dengan mengatakan :”ya, saya mengasihi Tuhan”. Apa buktinya ? Seberapa besarkah waktu yang anda korbankan untuk Tuhan ? apakah sisa waktu kita atau sepenuh waktu kita ? Seberapa besar pikiran kita dikuasai oleh pikiran Tuhan ? seberapa besar harta milik kita yang tidak kita pertahankan tetapi dikorbankan bagi Tuhan ? Ini semua merupakan ukuran seberapa besar Kasih dan ketaatan kita kepada Tuhan.

Filipi 2:9-11 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia j dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut l segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan, " bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Bagi siapa saja yang mengosongkan diri dan menaruh pikiran, perasaan dan perbuatan Kristus akan menyenangkan hati Allah dan Allah akan memuliakannya, bukan dunia yang memuliakan. Kemuliaan yang datang dari Allah bersifat kekal, sedangkan dari manusia mudah berubah dari “Hosana” menjadi “Salibkanlah Dia”. Renungkanlah, apa yang sudah kita berikan bagi Tuhan, itulah cinta kita.
tonny iskandar

 

22 Maret 2015
"SIAPA MENCINTAI NYAWA AKAN KEHILANGAN NYAWANYA"
Yer. 31:31-34; Mzm. 51:3-14; Ibr. 5:5-10; Yoh. 12:20-33

Allah menciptakan setiap makhluk hidup dengan segala kelengkapan tubuh dan organnya untuk mampu mempertahankan nyawa. Dalam keadaan terancam musuh, dengan spontan cumi-cumi akan mengeluarkan sejenis tinta dari dalam tubuhnya agar air laut menjadi keruh, dan cumi-cumi dapat melepaskan diri dari kejaran musuhnya, ular bersenjatakan bisanya, tanaman mawar dengan duri-durinya, dsb. Demikian juga dengan manusia, dan makhluk-makhluk hidup lainnya, secara naluriah akan berjuang untuk kelangsungan hidupnya.

Jadi bagaimana dengan judul kita di atas? Bukankah kita harus mencintai nyawa yang telah diberikan Allah kepada kita? Kalimat tersebut di atas adalah penggalan ajaran Tuhan Yesus dalam Yoh. 12:20-33. Tuhan Yesus menginginkan agar kita tidak mencintai nyawa, yang artinya egois (selalu hanya memikirkan keinginan, kesenangan dan kepentingan diri sendiri saja), melainkan berkorban bagi banyak orang (mematikan egoisme, ataupun mungkin saja sampai harus berkorban nyawa, jika itu memang mendesak diperlukan). Sebagai pelayan Tuhan Yesus, kita mengikuti teladan-Nya yang tidak menyayangkan nyawa-Nya bagi keselamatan umat-Nya.

Sebagai Imam Besar, Ia telah mengurbankan diri-Nya bagi penebusan dosa manusia. Kematian-Nya di atas kayu salib, menjadi jalan bagi orang percaya untuk kembali kepada Bapa, menghidupkan banyak orang, dan tidak mati (hidup terpisah dari Allah) (Ibr. 5:5-10).

Allah Sang Pencipta sangat memperhatikan dan mengasihi ciptaan-Nya. Ia yang telah memberi hidup kepada manusia, ingin agar manusia hidup dengan mengenal Dia,
- Dia adalah Allah yang sanggup memberi kita kelepasan dari segala tekanan hidup, karena Dia adalah Allah yang sama yang telah membebaskan umat-Nya dari ketidaknyamanan hidup karena perbudakan di tanah Mesir. - Dia adalah Allah yang mengambil alih penebusan dosa kita melalui Tuhan Yesus, sehingga kita dapat keluar dari kungkungan dosa, dan menjadi umat-Nya.

- Dia adalah Allah yang memberikan perjanjian yang baru, yaitu semua manusia -tanpa terkecuali - pasti diberi kesempatan dan kesanggupan untuk dapat mengenal Dia, karena Allah menaruh Taurat-Nya dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka. Hanya hati yang beballah yang tidak bisa mengenali Allahnya (Yer. 31:31-34).

Sekalipun kita hidup secara lahiriah, tetapi sebenarnya kita mati, binasa, jika kita hidup dalam gelimang dosa. Padahal kita diperanakkan dalam dosa, dan mudah terjatuh dalam dosa. Karena itu, Pemazmur mengajak kita untuk terus menerus mengakui segala dosa, pelanggaran, kesalahan, apa yang jahat di mata Tuhan. Barangsiapa datang kepada-Nya dengan batin yang benar, Allah yang adil, penuh kasih setia, dan rahmat, akan membersihkan kita dari segala dosa, menjadikan kita lebih putih dari salju, memperlengkapi kita dengan roh yang rela. Rela berkorban apapun, karena sukacita yang berlimpah akan keselamatan yang kita terima. Rela berkorban apapun demi untuk memuliakan Tuhan, memberitakan keadilan-Nya, dan membawa orang lain kepada Tuhan (Mzm. 51:3-14).

Marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk terus menerus memperbaharui batin kita, membuat kita risih dengan dosa-dosa kita, terus bergumul untuk mencari pengampunan dari Tuhan, mengajarkan hikmat dan kebenaran Firman-Nya, serta memampukan kita untuk berkorban demi menghidupkan dan menyejahterakan sesama. Amin
Nancy Hendranata

 

15 Maret 2015
"MERAYAKAN HIDUP DALAM ANUGERAH KESELAMATAN-NYA"
Bilangan 21:4-9, Mazmur 107:1-3, 17-22, Efesus 2:1-10, Yohanes 3:14-21

Tidak sedikit orang yang tidak biasa, bahkan tidak bisa merayakan hidup. Mengapa? Alasannya, karena mereka hidup dalam realitas yang pahit. Sebagian lagi orang tidak memiliki ketrampilan yang memadai untuk masuk di dunia kerja, sehingga hidup dalam kekurangan. Sebagian lagi mengalami cacat fisik atau menyandang penyakit kronis lainnya. Sebagian lagi tidak memiliki akses untuk studi, sekalipun mereka memiliki kemampuan intelektual yang memadai. Sebagian lagi kita menyaksikan banyak keluarga yang berada di ambang kehancuran dll. Kita mengerti dan memahami kondisi demikian. Namun, hal merayakan hidup sebenarnya tidak bergantung pada kondisi tertentu.

Banyak juga orang yang hidup mapan dan sukses, tapi banyak juga yang tidak tahu dan tidak mau merayakan hidup. Mengapa? Ada pepatah mengatakan, ‘rumput tetangga terlihat lebih hijau ‘. Pada umumnya orang sulit merayakan hidup karena membandingkan diri dengan orang lain. Ada yang memadang rendah dirinya, merasa tidak berguna, merasa gagal sementara melihat teman/ sahabat lebih sukses dll.

Namun demikian sebagian orang berhasil dan sanggup merayakan hidup. Bagaimana merayakan hidup itu? Merayakan hidup berarti menjalani kehidupan dengan rasa syukur, tetap semangat dan bersukacita meskipun kondisi yang kita alami tidak menyenangkan atau tidak sesuai dengan harapan kita. Itulah sebabnya rasul Paulus mengatakan: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah.” Tidak bisa disangkal bahwa berkat dan Tuhan begitu besar, pemeliharaan Tuhan atas hidup kita begitu ajaib. Teristimewa Tuhan Allah melalui Yesus Kristus menyelamatkan kita dari kutuk dosa dan hukuman itu. Tuhan Allah menyelamatkan umat Israel dari patukan ular-ular Tedung. Tuhan memelihara umatNya sampai selama-lamanya.

Tidak ada alasan untuk tidak selalu bersyukur atau mensyukuri atas hidup ini. Merayakan hidup berarti menjalani kehidupan yang bermakna bagi sesama. Kehidupan yang mendatangkan damai sejahtera dan menjadi berkat bagi orang lain, mau berbagi dengan orang lain. Kita diselamatkan oleh Allah untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik bagi Allah.

Bagaimana kita dapat merayakan hidup ini? Pertama, kita mesti membangun relasi dengan Tuhan secara intens. Ketika kita memiliki hubungan yang intens dengan Allah, maka kita akan memahami dan menangkap isi hati Allah, apa yang menyenangkan isi hati Allah. Kedua, kita harus belajar menghitung berkat-berkat Tuhan, menghayati kasih dan pemeliharaanNya yang ajaib. Pada akhirnya kita akan menemukan satu kesimpulan bahwa kasih dan kebaikan Tuhan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Ketiga, dalam momen Paskah ini kita mestinya sungguh-sungguh menghayati pengorbanan Kristus di kayu salib untuk pengampunan dosa dan keselamatan kita. Tidak ada orang yang mau mati untuk orang lain, pengorbananNya terlalu mahal dan agung. Jika Kristus tidak mati di kayu salib, maka kita adalah orang-orang yang paling malang di dunia ini.

Kesimpulannya adalah hanya orang yang sungguh-sungguh memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan; orang yang mampu menghayati kasih dan kebaikan Tuhan; dan hanya orang yang mengalami pengampunan dan keselamatan dari Tuhan, yang mampu merayakan kehidupan ini. Tuhan memberkati. Amin
RDS

     

8 Maret 2015
"PENGUDUSAN DIRI DENGAN MENAATI FIRMAN TUHAN"
Keluaran 20 : 1-17; Mazmur 19, 1 Korintus 1 : 18-25; Yohanes 2 : 13-22

Pernahkah Anda mempertimbangkan konsekuensi menjadi orang Kristen? Jika belum pernah, dikhawatirkan Anda menyesal menjadi orang Kristen. Mengapa? Sebab ruang gerak hidup sebagai orang Kristen dibatasi oleh Sepuluh Hukum Allah, sebagaimana dimuat dalam Kel. 20:1-17. Bandingkan, sekiranya Anda belum menjadi Kristen, alangkah bebasnya!

Pada hakikatnya Sepuluh Hukum dapat diibaratkan sebagai cermin untuk mengetahui noda yang ada dalam kehidupan kita; juga rambu-rambu di tepi perjalanan hidup kita, agar tidak jatuh ke dalam jurang dosa; dan pelatih, agar kehidupan kita menjadi makin sesuai dengan kehendak Allah. Itulah yang digaungkan oleh pemazmur 19, bahwa ketetapan Allah yang disebut dengan pelbagai istilah benar-benar memberikan ketenteraman bagi kehidupan orang percaya. Rasul Paulus mengingatkan, bahwa keputusan untuk menjadi orang Kristen dianggap bodoh oleh orang Yunani dan lemah oleh orang Yahudi, namun itulah justru hikmat Allah yang benar dan memberikan jaminan untuk kehidupan kekal. Maka kebebasan Kristen adalah seperti kebebasan ikan di dalam akuarium yang dibatasi dengan air, di luar akuarium ikan itu akan mati. Tuhan menganggap kebebasan semacam itu cukup. Jadi, bersyukurlah Anda memiliki iman Kristen.

Amat diharapkan, bahwa iman Kristen tidak ditukar dengan perkara-perkara lain, misalnya dengan materi/kebendaan duniawi, popularitas, jabatan bergengsi, daya tarik sesaat yang mengenakkan badan dan hati, sanjungan di tengah masyarakat, dan lain-lain. Namun jika orang Kristen lemah dan kalah, maka ia mau menukarnya, sesudah itu iman Kristennya pun dicampakkan dan ditinggalkan. Atas semua perkara yang menggoda itu, hendaknya orang Kristen waspada, sebab kesemuanya itu akan meruntuhkan kekudusan diri. Pada hal kita diminta untuk hidup dalam kekudusan Allah dengan menjauhkan diri dari semua hal tersebut.

Selanjutnya, orang Kristen dihadirkan di dunia untuk menjadi garam dan terang dunia (Mat. 5:13-16). Sayang pada kenyataannya, sering orang Kristenlah yang justru digarami dan diterangi oleh dumia. Akibatnya, kesaksian orang Kristen bantut, tidak berkembang, dan mati. Alih-alih mempengaruhi, malah orang Kristen yang terbawa arus ke sana, tak peduli anak pendeta atau cucu pendeta sekali pun. Oleh sebab itu, bagian-bagian dari firman Allah pada hari ini, hendaknya dapat menggugah hati dan pikiran kita untuk kembali kepada titik awal bertunasnya iman Kristen kita. Lantas kita kembangkan dalam kesaksian hidup kita, sebagaimana dipesankan oleh Rasul Petrus dalam 1 Petrus 3:15, 16. Dengan demikian, kita dapat menjawab kekhawatiran Tuhan Yesus yang dikatakan-Nya dalam Lukas 18 : 8 b, dengan jawaban :”Tidak Tuhan, kami masih tetap setia beriman kepada Tuhan dan Tuhan akan menjumpai kami saat kedatangan Tuhan kembali”. Amin
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

1 Maret 2015
"Memikirkan apa yang dipikirkan Allah"
Kej. 17:1-7, 15-16; Maz. 22:23-32; Rom. 4:13-25; Mark. 8:31-38

Pernahkah anda mendengar seseorang mengatakan kepada anda bahwa anda tidak pernah mengerti apa yang mereka pikirkan atau inginkan? Entah itu pasangan anda, anak, rekan kerja, atau sahabat dekat anda. Memikirkan menurut kamus bahasa Indonesia artinya adalah memperhatikan atau mempedulikan. Mungkin anda pernah merenungkan, jikalau memikirkan apa yang dipikirkan oleh manusia saja sudah sulit apalagi memikirkan apa yang dipikirkan Allah, mengingat Allah sulit sekali dijangkau oleh indera kita.

Betapa sulitnya memahami jalan pikiran Allah, sehingga Abraham yang sekalipun dikatakan sebagai Bapa orang beriman, dalam perjalanannya mengalami kesulitan dalam memahami jalan pikiran Allah. Bagaimana janji tentang keturunan yang seperti bintang di langit dan pasir di laut akan tergenapi, jikalau saat dirinya dan Sarah telah sampai di usia senja dan juga belum memiliki keturunan. Bahkan Alkitab mencatat akhirnya Sarah berinisiatif untuk memberikan hambanya, Hagar kepada Abraham demi mendapatkan keturunan. Begitu sulitnya memahami rencana dan jalan pikiran Allah, sehingga seringkali manusia mencari jalannya sendiri, jalan pintas yang menguntungkan baginya. Demikian juga Petrus. Dengan lancangnya dia menegor Yesus dan mengatakan tidak sepantasnya Sang Mesias itu menderita. Petrus tidak mau menerima dan mengerti apa yang dipikirkan Yesus. Itulah sebabnya Yesus menegur dia "Enyahlah iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia".(Mark 8:33b).

Yesus menghendaki Petrus memikirkan apa yang dipikirkan Allah. Pikiran Allah adalah memberi keselamatan bagi dunia. Penderitaan dan kematian Yesus adalah wujud dari misi Allah untuk menyelamatkan manusia. Sebagai seorang murid, Petrus seharusnya meninggalkan cara pikir yang lama yang egois. Sebagai gantinya ia harus memusatkan pikiran kepada Allah, lalu bagaimana caranya? Jawab Yesus : "setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku." (Mark 8:34). Hanya dengan cara ini seseorang dapat memikirkan apa yang dipikirkan Allah. Saat ini apa yang sedang kita pikirkan? Apakah kita berpikir bagaimana caranya menggapai kepuasan hidup?, apakah kita cenderung mengambil inisiatif tanpa melibatkan Tuhan?

Apakah kita senantiasa cenderung berpikir egois?. Jika demikian berarti kita sedang menjauh dari rencana Allah. Seharusnya sebagai pengikut Kristus semakin lama kita semakin memahami dan mengerti tentang kehendak Allah. Hanya mereka yang memikirkan apa yang Kristus pikirkan lah yg akan hidup seturut dengan rencana-Nya.
Wyk

     

22 Februari 2015
"DIBAPTIS DAN DICOBAI AGAR SIAP MEMBERITAKAN INJIL"
Kejadian 9:8-17; Mazmur 25:1-10; I Petrus 3:18-22; Markus 1:9-15

PERSIAPAN merupakan hal penting sebelum acara / kegiatan. Contoh : persiapan ibadah. Selain bersaat teduh sebelum ibadah, kita mesti menyiapkan persembahan dan lain-lain. Bayangkan bila tidak persiapan dengan baik, bisa-bisa tidak sadar bahwa tiket pesawat-lah yang kita masukkan ke dalam kantong kolekte. Mungkin Tuhan hanya tersenyum karena hari itu menerima persembahan berupa tiket. Tetapi jika waktu pulang kebaktian dengan jadwal keberangkatan pesawat “mepet”, bisa-bisa kita batal berangkat.

Pentingnya persiapan, merupakan pesan penting dalam Firman Tuhan / tema kebaktian hari ini. Markus 1:9-15 - peristiwa baptisan dan pencobaan adalah PERSIAPAN Yesus sebelum Ia berkarya. Demikian pula bagi setiap utusan-Nya, untuk menjadi garam dan terang dunia, ia mesti dibaptis. Pertama, melalui baptisan seseorang yakin bahwa ia sudah dipermandikan – dosa disucikan, menerima penyelamatan oleh Yesus Kristus. Orang yang diutus ia mempercayakan hidupnya pada Tuhan dan Tuhan sudah menyelamatkannya. Ia yakin bahwa ia “dikasihi, menjadi anak dan berkenan pada Allah” (ayat 11). Sekarang telah terhizab menjadi bagian dari Gereja-Nya – tubuh Kristus. Tanpa baptisan, seseorang tidak siap menjadi utusan. Kedua, sebelum berkarya, Roh memimpin Yesus ke padang Gurun, selama 40 hari, dicobai iblis. Tinggal diantara binatang-binatang liar. Pencobaan mengingatkan kita agar waspada, bahwa iblis tidak senang bila kita melakukan kehendakNya. Pencobaan yang terjadi, menebalkan “nilai kesetiaan – komitmen” kita, bahwa kita setia. Sikap menerima pencobaan yang mesti terjadi, teramat penting. Karena nilai-nilai itu berguna untuk mereka yang kepadanya kita akan menjadi alat berkatNya.

Relevansi:
Pertama, sebagaimana baptisan sebagai persiapan PI, maka dalam suasana Imlek ini, maka bila dilihat dari persiapan menyambut Tahun Baru Imlek, nyatalah bawa perayaan ini didahului dengan acara membersihkan rumah dan diri. Pakaian baru juga disiapkan untuk dipakai pada tahun yang baru.

Semuanya ini memiliki makna simbolik, yakni bahwa pada tahun baru semuanya harus baru. Membersihkan seluruh rumah merupakan tanda lahir dari sikap membersihkan diri. Bukankah kebiasaan menyambut Tahun Baru Imlek dengan “bersih-bersih” ini seiring dengan penghayatan Rabu Abu dan Masa Prapaskah kita?

Kedua, pada masa ini banyak orang yang “keluar dari masalah besar”, dan karena masalah besar itulah ia terpanggil untuk memberita kan Injil. Ketika dicobai iblis, itulah pembuktian iman / kesetiaan; ujian – bahwa ia mengenal Tuhan dan percaya Tuhan. Ada seseorang yang telah difonis sakit yang mematikan. Sejak itu ia peka, mudah tergerak menolong sesama. Dari Eropa, tergerak hingga datang ke Rwanda. Dan kemudian banyak orang di Rwanda percaya Yesus.

Penutup : Persiapan kita, adalah beriman teguh bahwa Allah setia pada janjiNya.
Pada jaman Nuh (Kej 9:8-17), Allah tetap peduli atas keselamatan manusia dari dosa. Allah memberi tanda perjanjian keselamatan-Nya, dengan “busur di awan / pelangi”, pada kita sekarang dengan tanda baptisan. Penulis 1 Petrus 3:18-22, menyatakan (zaman setelah Yesus), karya Allah sempurna, sebab “Kristus telah mati sekali dan bangkit dan itu cukup” untuk keselamatan manusia. Tetapi adil juga untuk mereka yang hidup di zaman Nuh. Mereka juga diselamatkan dengan cara yang adil. Jadi cara Tuhan mempersiapkan kita untuk menjadi pemberita Injil, sudah disediakan jauh dimasa lampau, dan kita bisa yakin seperti kata Pemazmur (Maz 25 : 1-10) bahwa : Tuhan membimbing (setiap) orang yang rendah hati. Jika kita pada Tuhan percaya dan berpegang pada perjanjianNya, umat berada dalam jalan dan keselamatan-Nya. Amin.
pkm

 

15 Februari 2015
"DIMULIAKAN DALAM KEMULIAAN KRISTUS"
2 Raja-raja 2:1-12; Mazmur 50:1-6; 2 Korintus 4:3-6; Markus 9:2-9

Hidup dalam kemuliaan adalah dambaan setiap orang. Tidak salah jika seseorang ingin hidupnya mulia. Namun seringkali orang menganggap bahwa kemuliaan itu berasal dari kekayaan, sehingga dalam hidupnya selalu berusaha untuk menumpuk harta kekayaan. Adapula yang menganggap bahwa kemuliaan itu berasal dari kedudukan dan kekuasaan, sehingga seluruh hidupnya ditujukan untuk meraih kedudukan dan kekuasaan. Untuk menjadi mulia menurut mereka, banyak cara yang tidak mulia yang dilakukan – cara-cara yang kotor dilakukan demi ambisi kemuliaannya. Bahkan jika perlu iman ditukar dengan kekayaan, kekuasaan dan kedudukan. Bagaimana dengan kita? Darimanakah kemuliaan kita berasal?

Di dalam Markus 9:2-9 dikisahkan bahwa Yesus dimuliakan di atas gunung. Dan peristiwa itu disaksikan oleh Petrus, Yakobus dan Yohanes. Mereka melihat Yesus berubah rupa dan berpakaian putih berkilat-kilat bersama Elia dan Musa. Kemudian datanglah awan yang menaungi mereka dan terdengarlah suara Allah "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia." Peristiwa ini ingin memperlihatkan kualitas dari pribadi Yesus yang adalah Anak Allah. Ia yg akan memberitakan kebenaran Allah – karena itu dengarkanlah Dia. Dan Dialah cahaya kemuliaan Allah yg memancar bagi dunia, yaitu tempat dimana manusia berdosa dan berada di dalam kegelapan. Cahaya yg mampu untuk menerangi manusia yg hidup dlm kegelapan, yaitu hidup terikat oleh kuasa dosa.

Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus (2 Kor. 4:6).

Demikian nasehat Rasul Paulus bahwa cahaya kemuliaan Allah menyinari hati dan yang menuntun kita kepada Kristus dan karya penebusan-Nya serta panggilan-Nya. Terang yang memancar di hati kita, mempersekutukan kita dengan kemuliaan Kristus. Kita beroleh hidup dalam kemuliaan Kristus ketika kita menanggapi panggilan-Nya. Hidup dalam kemuliaan Kristus berarti menjalani hidup dengan menjalankan perintah dari Sang Sumber Kemuliaan itu sendiri. Kita diundang untuk masuk ke dalam kehidupan yang berkualitas baik secara rohani maupun jasmani. Kehidupan yang dimuliakan dalam kemuliaan Kristus merupakan kehidupan yang terbebas dari belenggu dosa. Inilah hidup dalam kemuliaan sejati, yang jauh melebihi segala kemuliaan yang dapat diperoleh dari dunia ini.

Oleh karenanya, sebagai umat yang telah dipanggil dan dipersatukan dalam kemuliaan Kristus, kita memiliki tanggung jawab untuk memancarkan kemuliaan Kristus bagi dunia melalui hidup yang berkualitas. Marilah kita renungkan: Apakah hidup kita sudah memancarkan kasih Kristus, sehingga mereka yang masih dalam kegelapan boleh melihat terang Kristus? Jika belum, marilah kita berusaha melakukannya. Namun jika sudah, tetaplah untuk setia melakukannya. Kiranya Kristus memampukan kita. Amin. DS

     

8 Februari 2015
"LEBIH DARI MUJIZAT"
Yes. 40:21-31, Maz. 147:1-11; I Kor. 9:16-23; Mark. 1:29-39

Berbicara tentang mujizat tidak selalu menyangkut hal-hal yang spektakuler, seperti sembuh dari penyakit yang berat, dilepaskan dari roh jahat, diselamatkan dari bencana atau kecelakaan dll. Namun, mujizat juga dapat kita pahami dalam kehidupan sehari-hari yang nampaknya sederhana, sepele tidak spektakuler, seperti ketika kita dapat bangun dari tidur, tubuh masih sehat, itu juga adalah mujizat Tuhan. Ketika kita melihat anak-anak sehat, hidup rukun, damai dan saling pengertian itu juga adalah mujizat Tuhan. Ketika kita masih dapat menikmati makanan yang ada dengan rasa syukur itu adalah mujizat Tuhan. dll.

Dalam bacaan Yesaya 40:21-31 dan Mazmur 147:1-11 memberikan gambaran yang jelas bagi kita bahwa kehadiran Tuhan di tengah-tengah umatNya adalah sebuah mujizat. Melalui kehadiranNya Ia memberikan kekuatan baru bagi umat, memberikan semangat yang baru, sehingga umat tidak merasa lelah, letih dan lesu. Ini adalah mujizat Tuhan yang mereka alami. Umat digambarkan seperti burung Rajawali yang dapat terbang tinggi dengan mudah ia melewati kencangnya angin di atas langit. Melalui kehadairan Tuhan dalam kehidupan kita, kita mendapat kekuatan, semangat yang baru dari Tuhan, sehingga kita dimampukan untuk menghadapi dan melewati badai kehidupan yang berat. Ini adalah mujizat dari Tuhan.

Bacaan Markus 1:29-31 dan I Korintus 9:16-23
Markus menceriterakan banyak mujizat yang Yesus lakukan, seperti menyembuhkan mertua Simon Petrus dari sakit demam, banyak orang disembuhkan oleh Yesus dari segala macam penyakit, ada juga yang dibebaskan dari roh jahat. Yang menarik dari bacaan Markus ini adalah: Pertama, Setelah mertua Simon Petrus disembuhkan dari penyakit, ia langsung melayani Yesus dan para murid. Kedua, Mereka/ orang banyak yang disembuhkan dari segala macam penyakit dan dari kuasa roh jahat berusaha mencari Yesus, untuk melihat Yesus melakukan mujizat lagi atau mereka ingin menikmati mujizat lagi dari Tuhan.

Dua respons yang berbeda.
Mertua Simon Petrus merespons mujizat dan kasih Tuhan itu dengan melayani (menyediakan makanan, minuman dan perbekalan) untuk Tuhan Yesus dan para murid. Sedangkan mereka/ orang banyak itu mencari Yesus untuk melihat dan menikmati mujizat kembali untuk mereka sendiri. Apa artinya? Mereka hanya mau menerima mujizat dan pertolongan Tuhan saja, tetapi tidak mau membagikan pengalaman itu kepada orang lain. Kuasa dan mujizat Tuhan yang mereka alami hanya menjadi milik mereka sendiri.

Rasul Paulus adalah contoh orang yang mengalami kuasa dan mujizat Tuhan Yesus. Ia mengalami bagaimana Kristus mengampuni dosanya, bagaimana Kristus menyelamatkannya dan bagaimana Kristus mengubah hidupnya. Sebagai respons atas kuasa dan mujizat Tuhan itu, ia menyerahkan hidupnya untuk memberitakan Injil ke mana Tuhan utus. Ia mau supaya sebanyak mungkin mengenal Injil Yesus Kristus dan diselamatkan. Ini yang dapat kita sebut sebagai LEBIH DARI MUJIZAT.

Marilah kita menjadi orang-orang yang bukan penikmat mujizat semata, tetapi menjadi orang-orang penyalur mujizat Tuhan. Tuhan memberkati. Amin
RDS

 

1 Februari 2015
"MENGAJAR DAN BERKATA-KATA DENGAN KUASA"
Ul. 18:15-20; Maz. 111; 1 Kor. 8:1-13; Mark. 1:21-28

Di dalam Markus 1:21 dikisahkan bahwa Yesus mengambil bagian dalam pengajaran di dalam rumah ibadat. Tentu bukan hanya Yesus satu-satunya yang mengajar dan yang menyampaikan Firman Tuhan, karena ada ahli-ahli Taurat dan golongan Farisi. Oleh Markus kisah tersebut digunakannya untuk memperlihatkan bahwa ada perbedaan antara Yesus dengan ahli Taurat dalam hal penyampaian Firman yaitu Yesus diungkapkan sebagai orang yang berkuasa tidak seperti ahli-ahli Taurat (lih. Mark. 1:22). Hal tersebut dipertegas melalui teriakan orang yang kerasukan roh jahat,” Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Jadi dalam kisah ini Markus ingin menegaskan kepada pembacanya bahwa Yesus adalah Yang Kuasa dan Yang Kudus dari Allah.

Selain untuk mempertegas jati diri Yesus, peristiwa tersebut juga digunakan Markus untuk memperlihatkan bahwa kuasa yang dimiliki oleh Yesus adalah kuasa yang berdampak baik. Yang pertama, pengajaran yang disampaikannya membuat yang mendengar takjub. Arti takjub di sini tidak sekedar memukau atau membuat heran tetapi pengajaran-Nya memberikan pencerahan dan membuka pikiran mereka sehingga mendapatkan pengharapan. Yang kedua, Yesus mengusir roh jahat di dalam diri seseorang yang kerasukan. Roh jahat merupakan kekuatan yang membuat sengsara dan menderita manusia. Dengan diusirnya roh jahat itu dari tubuh orang tersebut membuat dia tidak lagi menderita dan sengsara melainkan mendapatkan keselamatan dan kedamaian. Jadi dari kedua hal di atas, pengajaran-Nya berkuasa menyelamatkan yang mendengar dan yang kerasukan roh jahat. Dengan demikian pembebasan manusia dari kuasa jahat (roh jahat) memberikan bukti bahwa kehadiran Yesus ke dunia tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memberitakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat (Mark. 1:15).

Dengan memahami kisah tersebut, setidaknya ada 2 hal yang bisa kita dapatkan.
Yang pertama, kita yang saat ini mungkin sedang mengalami keadaan yang baik ataupun keadaan yang kurang baik/sulit diingatkan untuk tetap memegang iman kepada Yesus sebagai Yang Kudus dari Allah. Dan di dalam pengharapan itu, kita diingatkan untuk tetap yakin dan percaya bahwa kehadiran-Nya di dunia ini dan dalam kehidupan kita adalah untuk memberikan keselamatan dan damai sejahtera, dan bukan untuk memberikan cobaan ataupun beban kepada umat-Nya.
Yang kedua, melalui kisah tersebut dan teladan dari Yesus tentang pengajaran, kita sebagai murid-murid-Nya juga diajak untuk mengajarkan tentang Kerajaan Allah kepada orang-orang di sekitar kita dalam membagikan pengajaran, pengetahuan dan pengalaman tentang Kerajaan Allah itu harus didasarkan dengan kasih. Sebab tanpa dasar kasih semuanya itu hanya akan membawa pada keegoisan, kesombongan dan arogansi. Dan dengan kasih, kita tidak menjadi salah dalam memahami tujuan dari pengajaran tentang Kerajaan Allah yaitu menjadikan mereka yang mendengar sebagai warga Kerajaan Allah yang mendapat bagian keselamatan dan kehidupan yang damai sejahtera, dan bukan untuk menjadikan mereka beragama Kristen. Sekali lagi untuk mengingatkan kita bahwa kedatangan Yesus Kristus bukan untuk mendirikan agama Kristen tetapi memberitakan Kerajaan Allah.

Pertanyaannya siapkah kita untuk bertanggung jawab kepada Tuhan dalam hal memegang pengajaran-Nya dan juga membagikan pengajaran-Nya dengan dasar kasih kepada Allah dan sesama? Kiranya Tuhan menuntun kita untuk merenungkan dan melakukannya. Tuhan memberkati, Amin ds

 

25 Januari 2015
"Dipanggil untuk Bertobat, Percaya & Mengikut Dia"
Yun. 3:1-5, 10; Maz. 62:6-13; 1 Kor. 7:29-31; Mark. 1:14-20

Pemahaman pertobatan seringkali dangkal dan sederhana. Ada juga yang menanggapi seruan bertobat dengan cara berpikir dan seleranya dirinya sendiri. Hal inilah yang bisa mengakibatkan seseorang tidak dapat menghayati dan menyelami panggilan Yesus dengan cara yang benar, sebagaimana dikehendakiNya.

Firman Tuhan pada hari ini berisikan panggilan pertobatan yang berpusat pada bacaan pertama (pertobatan Niniwe – Yunus 3:1-5) dan Injil (pemanggilan murid - Mark. 1:14-20). Undangan bertobat dari Tuhan didasari rasa kasih Tuhan untuk memberikan pengampunan tanpa batas untuk menyelamatkan manusia. Kasih Allah seperti apa, tergambar melalui kisah pertobatan Niniwe. Rencana hukuman dari Tuhan atas Niniwe berubah menjadi tindakan pengampunan dan penyelamatan. Kisah Niniwe ini, memperkenalkan SISI KASIH ALLAH YANG LUAR BIASA DALAM, dan juga kelembutan hati Allah, yang mudah digerakkan oleh belas kasihan.

Pertobatan disini menjadi respon cinta karena cinta kasih Allah. Karena manusia meneguk cinta kasih Allah. Pertobatan terjadi karena umat menikmati dan merayakan dengan puas cinta kasih Allah.

Sikap orang Niniwe – yang menyesali dosa dengan puasa, memakai kain kabung, duduk di abu (5-6), berpuasa dan sikap murid-murid Yesus meninggal kan segala sesuatu untuk mengikut Yesus memberi pesan kepada kita : bertobat bukan hanya menyesal, tetapi mesti diikuti perubahan sikap hidup.

Pertobatan yang lahir dari rasa cinta tidak akan berhenti pada sebuah ungkapan hati yang menyesal, atau sebentuk ritual penyesalan, tetapi diikuti seluruh hidup yang diubah arah orientasinya, yaitu kepada Injil. Yesus mengajarkan bahwa bertobat adalah : percaya kepada Injil (Mrk 1:15). Jadi pertobatan yang Yesus harap bukan sekedar moralitas, nilai kepatuhan hidup sosial, atau nilai kemanusiaan, tetapi pertobatan yang berpusat pada kebenaran : hidup yang diselamatkan, sebagai- mana diberitakan dalam INJIL. Injil sebagai khabar baik, menjadi dasar hidup setiap pengikut Yesus.

Pertobatan yang membawa perubahan sikap hidup terjadi hanya atas dasar kasih. Kasih jugalah yang memampukan kita untuk bertahan diperjalanan dan perjuangan kita sebagai murid. Rasa kasih yang begitu besar yang memampukan seseorang untuk memberi diri secara utuh. Yakni sebagai murid, untuk menyatakan cinta pada sesama, membangun persekutuan antar manusia di dalam kasih. Jemaat yang dikasihi Tuhan, undangan ini mendesak (1 Kor. 7:29-31) untuk disebar dan dibawa oleh para pengikut Kristus di masa kini. Yesus telah melakukannya bagi kita, dan kita mengikut Dia menjadi rekan sekerja Allah untuk melakukan hal yang sama di dunia ini. Sehingga tidak hanya “satu kota Niniwe” yang bertobat, tetapi seluruh dunia akan kagum, hormat dan percaya kepada Allah, karena mereka sendiri “suatu saat” telah meneguk nikmatnya, indahnya dan merdekanya hidup di dalam kasih Tuhan. AMIN. pkm

 

18 Januari 2015
"Dipanggil Untuk Mengikut Yesus"
1 Sam. 3:1-10; Maz. 139:1-6, 13-18; 1 Kor. 6:12-20; Yoh. 1:43-51

Sejak semula Allah telah berinisiatif menciptakan manusia untuk seturut dengan rencanaNya. Kita diciptakan menurut gambar dan kemuliaanNya. Kita diciptakan untuk mengambil bagian dalam kehidupan yang ajaib bersamaNya. Namun demikian, manusia jatuh ke dalam dosa, terpisah dari Allah, dan kehilangan kemuliaanNya. Maka Allah kembali mengambil inisiatif melakukan karya penyelamatanNya melalui AnakNya Yesus Kristus. Allah tidak pernah berhenti memanggil semua anak-anakNya yang dikasihiNya untuk diselamatkan.

Allah memanggil semua manusia kepadaNya, tanpa memandang latar belakang atau usia. Samuel dipanggilNya sejak kecil. Murid-murid Yesus dipanggil saat dewasa. Allah begitu mengenal kita (Maz. 139:1), sehingga Ia berfirman sesuai dengan keadaan diri kita. Allah telah menyiapkan kita sejak masih dalam kandungan untuk mengambil peran dan tugas dalam rencana Nya yang besar dan ajaib di dunia ini.

Allah berbicara memanggil melalui FirmanNya dan mereka yang diutusNya. Firman Allah yang kita dengar dapat kita pahami melalui pertolongan Roh Kudus. Kita bercakap dengan Allah melalui doa, pembacaan Firman dan pelayanan Firman. Tetapi tidak semua orang dapat mendengar panggilanNya dan yang mendengar panggilanNya, tidak semua mau memenuhi panggilanNya. Tidak semua yang mau memenuhi panggilanNya tahu cara menjawab Allah.

Kita tidak bisa mendengar Roh Allah dalam diri kita karena kita membiarkan tubuh kita berdosa. Tubuh kita adalah baik Allah, tempat Roh Allah bersemayam. Dosa seperti percabulan menjauhkan kita dari Roh Allah. Mengikut Kristus berarti mengikatkan diri dengan Kristus, sehingga menjadi satu Roh dengan Dia (1 Kor. 6:16).

Kita tidak bisa menjawab panggilan Allah karena kita lebih mengutamakan apa yang dipahami dan ditawarkan dunia. Kita tidak mau membuat Kristus hidup di dalam kita, dengan terus mempertahankan ego kita. Akibatnya kita tidak bisa lagi mengambil bagian dalam rencana Allah yang besar di dunia ini.

Hendaklah kita seperti Samuel. Allah berbicara pada Samuel, dan ia menjawab: Berbicaralah TUHAN sebab hamba Mu ini mendengar. (1 Sam. 3:10).

Hendaklah kita seperti murid-murid Yesus. Saat Yesus berkata: Ikutlah Aku, mereka meninggalkan segala sesuatu untuk mengikutinya kemanapun Ia pergi (Yoh. 1:43-51). Dan kita menyaksikan bagaimana hidup Samuel, murid-murid Yesus, dan semua yang menyerahkan hidupnya untuk mengikut Kristus akan menemukan hidup yang ajaib dan sungguh luar biasa. Hidup yang mulia sebagaimana rencana Allah yang sebenarnya.

Pada akhirnya setiap orang, suka atau tidak, pasti akan memenuhi pangilan Tuhan, yaitu saat ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Berbahagialah kita di saat Kristus menemukan kita sudah setia mengikutNya sepanjang hidup kita di dunia ini. Amin. AL

 

11 Januari 2015
"DIKASIHI DAN DIPERKENAN ALLAH "
Kej. 1:1-5; Maz. 29; Kis. 19:1-7; Mark. 1:4-11

Dikasihi dan diperkenan oleh Allah pada umumnya kita memahaminya harus juga diikuti dengan bermacam-macam syarat yang harus dipenuhi. Seperti hidup memuliakan Tuhan, menyenangkan hati Tuhan, melakukan doa pujian dan penyembahan, dan lain sebagainnya. Pemahaman seperti ini baik-baik saja, namun tidak semua baik dan benar. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Ayat ini mau menjelaskan bahwa Allah mengasihi dan berkenan kepada kita manusia bukan karena kita baik, benar dan telah melakukan rirual-ritual keagamaan kita, tetapi karena kita berdosa, jahat dan tidak layak. Kasih yang Allah nyatakan adalah kasih walaupun, kasih yang tulus; walaupun manusia jahat dan berdosa Allah mengasihinya.

Persoalannya adalah bagaimana kita merespon kasih dan kebaikan Allah itu. Jika Allah mengasihi kita demikian rupa, maka kasih yang kita tunjukkan kepada Allah dan sesama juga adalah kasih yang demikian. Artinya kasih yang kita wujudkan adalah kasih yang walaupun, kasih yang tanpa syarat.

Dalam bacaan ibadah ini ada beberapa hal penting yang dapat kita pelajari untuk memotivasi kita mewujudkan kasih yang sesungguhnya. Pertama: Tuhan Yesus mengasihi kita apa adanya, meskipun kita sering jatuh dalam dosa, hidup kita kacau, hidup kita penuh dengan kegelapan. Dia mengasihi kita dan mengampuni kita, bahkan memberkati kita. Sungguh kita bersyukur dicintai dan dikasihi oleh Allah sedemikian rupa. Kedua, kesediaan untuk dikoreksi, diperbaharui dan diluruskan oleh kuasa Roh Kudus, sehingga sifat dan karakter kita mencerminkan kasih dan sifat Allah itu sendiri. Ketiga, meneladani kehidupan dan pelayanan Yesus Kristus. Kasih dan pengorbanan Yesus Kristus tulus dan murni ini mestinya menjadi dasar dan patokan ketika kita berelasi dengan Tuhan dan sesama. Kerendahan hati Yesus juga menjadi dasar dan ukuran ketika kita berelasi dengan Tuhan dan sesama.Jika Tuhan menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa mestinya kita juga bersedia merendahkan diri.Selamat berjuang mewujudkan kasih dan pengorbanan Kristus. Tuhan memberkati kita. RDL

 

4 Januari 2015
"MENELADANI MAJUSI"
Yes 60:1-6; Maz 72:1-7, 11-15; Ef 3:1-12; Mat 2:1-12

Kisah orang majus sangat dikenal di kalangan orang barat ... bahkan rakyat menambahkan kisah orang majus tersebut dengan MENAMBAHKAN bahwa orang majus yang datang dari jauh ke Betlehem itu berjumlah 3 : yakni Gaspar, Melkior dan Baltasar. Tradisi lain bahkan menceritakan ada 4 orang majus... yang seorang lagi bernama Artaban.

Arti kehadiran Raja, Mesias, tergambar dalam doa Salomo (Mazmur 72). Ia adalah Raja yang adil, pembela kaum tertindas, pembawa damai, umurnya begitu panjang ... selama masih ada matahari dan bulan. Ia akan menebus nyawa mereka dari penindasan sebab darah mereka mahal dimatanya”. Setiap orang akan memuliakannya selama-lamanya.

Sebagai murid Yesus, umat Kristen seharusnya turut mengundang segala makhluk untuk hidup di dalam anugerah Sang Raja (Mrk 16:15). Yesus pun menyebut muridNya : “Kamu adalah terang dunia”, agar segala mahluk datang kepada Kristus. Berkaitan dengan peran ‘pengundang” tersebut, hari ini, di Minggu pertama Januari (terdekat dengan tanggal 6 Januari) gereja memperingati Epifani (menampakkan diri). Kristus benar-benar menampakkan diriNya sebagai Juruselamat dunia (bukan hanya untuk orang Yahudi saja) terbuktikan saat orang-orang majus dari Timur datang dan berjumpa dengan Yesus.

Peran gereja atau orang kristen menjadi jelas dengan menggabungkan berita Yesaya 60 dengan Efesus 3. Umat yang telah diterangi pada waktunya ikut serta menerangi dunia. Namun peran ini sering terabaikan. Kitab Yesaya selain sebagai nubuatan, sekaligus menggugah umat Tuhan. “Bangkitlah, menjadi teranglah ... sebab terangmu datang”. Rasul Paulus, mengajarkan bahwa sebagai umat dirinya juga dipanggil dengan segala karunia dari Tuhan untuk turut membuka rahasia Allah, yang abadi dalam Kristus bahwa orang-orang bukan Yahudi pun turut menjadi ahli waris dan anggota-anggota tubuh ... mereka juga peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus.

Bagaimana meneladan majusi dalam rangka turut serta membawa dunia sampai pada pengenalan akan “penampakkan Kristus bagi dunia”? Mari kita mengikuti perjalanan orang majus ke empat (sebagai cerita yang ditambahkan) yang awalnya membawa emas, perak dan permata dan hadiah lain untuk Raja yang baru lahir .. dan dalam mengikuti bintang ... bertemu dengan penduduk yang sedang perang ... kemudian berhasil mendamaikan ... kemudian bertemu dengan 2 anak yang hendak dijual untuk melunasi hutang ortu pada saudagar karena ibunya sakit keras ... melihat hal tersebut Artaban menangis karena ia ingin menolong tetapi hartanya sudah habis.. lalu mengajukan diri mengganti 2 anak tersebut, dan ia diterima dan dipekerjakan di kapal sebagai budak ... kerjanya baik.. dan akhirnya bisa bebas dan melanjutkan perjalananan mencari Raja yang baru dilahirkan ... 30 tahun sudah ... dan akhirnya ia sampai di Yerusalem ... ia menghadap Pilatus ... dan Imam besar ... saat itu kehebohan terjadi karena seorang yang akan disalib ... sampailah Artaban di Gollgota .. saat itu Artaban bertanya dalam hati ... DIAKAH ORANG YANG AKU CARI-CARI ? Artaban jadi ingat hartanya yang banyak dan ia ingin membayar hukuman Yesus namun ia sadar bahwa hartanya sudah habis. Artaban menangis dan menyesal. Artaban memandang wajah Yesus, ketika itu Yesus tersenyum padanya dan berkata : Jangan menyesal dan sedih Artaban ... engkau menemukan Sang Raja itu ... Engkau telah menolong Aku ... hampir sepanjang hidupmu. Ketika Aku lapar, engkau memberi Aku makan. Ketika Aku haus, engkau memberi Aku minum. Ketika Aku telanjang, engkau memberi Aku pakaian, ketika Aku sebagai orang asing dan ketika Aku di penjara, engkau membebaskan Aku.

Kristus sungguh bersukacita dengan apapun yang kita lakukan, walaupun yang kita lakukan tidak spektakuler, biasa sekali. Apapun peran kita dalam rangka kasih maka kita sedang memancarkan terang yang memandu dunia kepada Kristus, Sang Imanuel.

Hari ini kita merayakan perjamuan kudus. Kiranya setiap kita sadar bahwa menerima roti dan anggur, berarti kita menyatu dengan tubuh Kristus. Berarti pula kita sedia untuk turut serta membagi hidup kita seperti Kristus. Agar makin banyak orang mengenal dan tertuntun untuk berjumpa dengan Kristus dan menerimaNya sebagai Juruselamat hidupnya. Amin. pkm

     

28 Desember 2014
"HIDUP DALAM TERANG ALLAH"
Yes 52:7-10, Maz 98, Ibrani 1:1-4, Yoh 1:1-14

Tentu sebagai orang Kristen kita tahu apa itu hidup dalam terang Allah yaitu hidup di dalam jalan kebenaran, hidup di dalam ketaatan dan kesetiaan kepada Allah, hidup melaksanakan perintah-perintah Allah seperti mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Sejak masih anak – anak kita juga diajarkan untuk hidup berbuat baik dan benar. Sebaliknya kita dilarang untuk hidup dalam kegelapan yaitu, hidup jauh dari Allah, hidup tidak taat dan tidak setia, memberontak kepada Allah, hidup dalam kebencian. Dalam bahasa yang sering kita dengar hidup dalam terang Allah adalah hidup yang dipimpin Roh, sedangkan hidup dalam kegelapan adalah hidup menurut kedagingan demikian nasehat Rasul Paulus untuk Jemaat Galatia (lih. Gal. 5:19-23).

Ketika membaca dan mendengar dari kesaksian Injil Yohanes bahwa Yesus adalah Firman yang bersama-sama dengan Allah dan yang telah menjadi manusia, Yesus adalah terang (Yoh. 1:1-14), kita juga bisa mempercayainya. Ketika Yesaya (52:7-10) maupun Pemazmur (98) bersaksi tentang kebaikan dan karya Tuhan, kita pun mengamininnya, bahkan kita juga telah mengalami karya Allah dalam hidup kita. Kita yakin bahwa Allah dalam diri Yesus Kristus telah menyucikan dosa manusia dan Ia adalah cahaya kemuliaan Allah (Ibr. 1:1-4). Namun kenyataannya, banyaknya kesaksian tentang kebaikan Allah dan kasih Allah yang kita baca, kita dengar bahkan kita alami sendiri, tidak menjamin kita hidup dalam terang Allah, hidup dalam kasih, ketaatan dan kebenaran. Seringkali kita gagal untuk tetap berada dalam jalan terang Allah. Seringkali kita tergoda dan jatuh dalam pencobaan dan keberdosaan. Mengapa demikian? Padahal kita juga sudah dibaptis, kita sering berdoa, sering baca Alkitab, sering melayani, dan tidak pernah absen ke gereja, tetapi masih saja gagal untuk mengasihi, gagal untuk mengampuni dan gagal berbuat benar sesuai kehendak Allah.

Apakah cara baptisannya yang salah? Apakah cara berdoanya yang salah? Apakah cara membaca Alkitab, melayani ataupun ke gerejanya yang salah? Jawabnya bisa ya bisa tidak! Tapi yang pasti adalah apakah ketika kita dibaptis, hidup dan hati kita terbuka untuk terang Allah atau tidak?

Dimana pun (di gedung gereja, di kolam atau di sungai bahkan sungai Yordan) dan dengan cara apapun (dipercik, diselam ataupun ditenggelamkan) baptisannya, jika hati dan hidupnya tidak terbuka untuk terang Allah maka tidak ada gunanya. Demikian pula dengan berdoa, baca Alkitab, melayani maupun aktif beribadah, semuanya akan sia-sia, akan kosong dan bahkan bisa menjadi batu sandungan bagi yang lain, jika ternyata kita melakukan semua itu dengan hati yang bebal, hati yang membatu, yang tidak mengijinkan terang dan kehendak Allah menyinari dan mengubahkan hati dan hidup kita. Jadi marilah kita membuka hati dan hidup kita kepada Terang yang sudah datang yaitu Yesus Kristus Tuhan, supaya kita beroleh hidup di dalam terang Allah. Selamat Natal dan Selamat menyambut Tahun Baru, kiranya kelahiran-Nya boleh kita sambut dengan hati yang terbuka dan yang mau diubahkan oleh kehendak Allah, sehingga kita boleh memasuki tahun yang baru dengan harapan yang baru dan diterangi kasih Allah. Tuhan memberkati.
DS

 

21 Desember 2014
"Taat dan Setia Seperti Maria"
2 Samuel 7:1-11,16, Lukas 1:46-55, Roma 16:25-27, Lukas 1:26-38

Ada 3 hal yang seringkali diidentikan dengan ketaatan adalah :
1. Hukuman; Misalnya, menjalankan aturan agama karena takut dihukum
2. Hadiah; Misalnya, bersikap taat karena dijanjikan kenikmatan hidup, kesuksesan dan berkat-berkat jasmani
3. Batasan; Ketaatan terkadang menimbulkan batasan yang seringkali merepotkan, misalnya ketika seseorang ingin mempunyai SIM, jika dia taat dan mengikuti aturan yang ada itu artinya dia siap-siap untuk direpotkan karena harus terus menerus mengulang tes berkali-kali.

Di sekolah tempat saya mengajar ada semacam aturan yang biasa diberikan oleh seorang guru, yakni jika anak-anak bersikap baik ataupun taat mereka akan diperbolehkan untuk menaikan "pin" yang nantinya akan dapat mereka pakai untuk mendapatkan stationery, dan hal itu cukup ampuh untuk membuat anak-anak menjadi taat. Tapi begitulah anak-anak bukan? Terkadang kita memang harus membujuk mereka untuk melakukan sesuatu supaya mereka taat, meskipun sebenarnya hal itu baik untuk mereka. Bagaimana dengan kita? jika kita mengaku percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat kita tetapi kita masih berpikir tentang 3 hal di atas, maka bukankan tidak ada bedanya kita dengan seorang anak kecil? Seharusnya orang yang sudah mengaku percaya dan lahir baru, menunjukkan seberapa dewasanya iman percaya mereka, dan hal ini ditunjukkan oleh Maria.

Maria berkata : "sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (Luk.1:38). Dari perkataan Maria ini terkandung kepercayaan penuh kepada seorang pribadi yang dia tahu Luar biasa. Kepercayaan itu menghasilkan ketaatan dan kesetiaan. Maria taat dan setia meskipun dia tahu akan resiko yang dia harus hadapi; kemungkinan akan direndahkan, dikucilkan, bahkan mungkin dihukum mati karena dianggap berzinah. Namun Maria tahu semua itu tidak ada artinya dibandingkan dengan anugerah dan kepercayaan yang Allah berikan kepadanya. Ketaatan bagi Maria bukan sekedar keputusan dalam hati, tetapi dia wujudkan dalam tindakan nyata meskipun dia harus mempertaruhkan masa depannya.

Bagaimana dengan kita? Apakah kepercayaan kita sudah cukup dewasa untuk dapat menghasilkan rasa taat dan setia seperti Maria? Ataukah masih hanya sekedar pengakuan namun tanpa tindakan nyata?

UQ

     

14 Desember 2014
"Terang Yang Mengalahkan Kegelapan"
Yes. 61:1-4, 8-11; Maz. 126; 1 Tes. 5:16-24; Yoh. 1:6-8, 19-28

Allah sudah memberkati hidup manusia, tapi manusia tidak memahaminya. Akibatnya manusia seperti domba yang berjalan kesana-kemari tanpa tujuan, dan jatuh ke dalam dosa, penderitaan dan pelbagai pencobaan. Allah adalah Firman, Roh dan kasih. Firman dan Roh Allah datang ke dunia ibarat api obor (suluh) yang memberi kehangatan kasih, penghiburan, serta penuntun langkah manusia yang sedang berjalan dalam gelap itu.

Bagaimana bisa sebuah Cahaya Terang bekerja membebaskan manusia dari kesengsaraan? Kesengsaraan manusia akibat manusia gagal saling mengasihi. Manusia mengutamakan diri sendiri, bukan Allah. Manusia mencari perkenan orang lain, bukan perkenan Allah. Manusia di tawan oleh keinginan sendiri, bukan keinginan Allah. Dalam kegelapan, manusia tidak bisa melihat bahwa hidup ini adalah tentang Allah. Ia tidak bisa melihat penyertaan Allah dalam hidupnya. Maka ia mengandalkan dirinya sendiri, dan terjebak dan terjerumus ke dalam rupa-rupa kesengsaraan.

Yesus Kristus adalah terang dunia. Terang yang membawa kehidupan. Ia memperlihatkan adanya persekutuan Tubuh Kristus yang saling bersaksi dan melayani. Ia menaruh Roh penghibur dan penuntun ke dalam setiap hati yang percaya kepadaNya. Ia membuat manusia mengerti bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya sendiri. Suara Allah, yakni Firman Nya, menjelaskan kebenaran akan kehidupan ini. Manusia tidak lagi berjalan sendiri dalam kegelapan, karena suara Gembala yang penuh kasih, yakni Firman, menerangi tujuan hidup serta jalan menuju ke sana.

Dengan mengutamakan Allah, hidup manusia menjadi jauh lebih sederhana. Ia tidak lagi bergantung dari pengakuan dan perkenan orang lain. Ia tidak lagi cemas, takut, sepi, terisolasi, dan terpenjara karena Allah menemani nya setiap saat. Hidupnya menjadi kudus, dan tidak membutuhkan lagi berbagai keinginan yang ditawarkan dunia.

Dengan mata hati yang sudah diterangi Roh Allah itu, manusia mampu melihat sesama nya yang sedang kesusahan, dan perlu dibantu. Manusia jadi mampu melihat reruntuhan kota-kota dan membangunnya kembali. Melaluinya, benih dari Allah tumbuh subur menjadi pohon yang berbuah, membawa berkat bagi banyak orang.

Maka kebahagiaan datang dalam hidupnya, sebagai ganti dari kesengsaraan.

Oleh sebab itu mari kita menyambut datangnya Tuhan kita, yang datang sebagai Terang Dunia. Jangan padamkan api Roh dalam diri kita. Melalui kita, api itu menyinari dunia, sehingga semakin banyak orang yang sedang berjalan dalam gelap bisa melihat terang.

Mungkin kita sedang mengalami berbagai penderitaan, kesengsaraan, dan hidup kita seakan gelap. Datanglah pada Terang itu. Biarlah terang itu mengubah cara kita melihat diri kita dan dunia ini. Terang Tuhan membawa harapan di tengah-tengah kekelaman penderitaan manusia.

AL

 

 

7 Desember 2014
"Menyiapkan Jalan Bagi-Nya "
Yes. 40:1-11; Mark. 1:1-8

Masyarakat kota Roma menyambut kaisar dengan antusias, pesta, tarian, dan hingar-bingar musik. Tujuan : Kaesar bergembira. Apa yang kita siapkan untuk menyambut keda- tangan Raja, Sang Mesias kita? Apakah sekedar menyiap-kan, ibadah, musik, dekorasi, dan hidangan yang lezat ? Mestinya ada yang lebih dari itu. Apa?

Dalam Injil Markus 1:1-8, dikisahkan sebelum kedatangan Mesias ada seseorang yang diutus Tuhan menyiapkan jalan bagi-Nya. Bahkan jauh sebelum, Yesaya telah menubuatkannya (Yesaya 40:1-11). Bahwa sang utusan itu akan tampil untuk menutup lembah dan memangkas gunung agar menjadi dataran yang rata menjelang kedatangan Mesias. Utusan tersebut ternyata adalah Yohanes Pembaptis. Nah, bagaimana menyiapkan jalan bagi Tuhan ? 1.

Buang segala penghalang Yesaya 40 : 4; Menutup lembah dan memangkas gunung. Memangkas hambatan yang membuat orang sulit untuk bertemu dengan Allah. Bukan dengan membawa buldozer untuk meratakan jalan di padang gurun. Penghalang di sini menunjuk pada Yesaya 59:1,2 yang adalah DOSA yang harus disingkirkan melalui pertobatan. Ada seorang laki-laki membaca koran pagi dan menjadi sangat terkejut. Mengapa? Berita-nya salah. Si pembaca masih hidup tetapi diberitakan : “Mati”. Berita itu tercetak tebal, headline bunyinya, “Matinya Raja Dinamit” - seorang “pedagang kematian”.Ia bergumul, apakah dirinya sungguh-sungguh ingin dikenang orang sebagai seorang “pedagang kematian”?

“Tidak!” pikirnya, “aku tidak ingin anak-cucuku dan orang-orang lain menyebut diriku sebagai seorang pembuat dan penyebar kematian!” Mulai saat itu, ia mencurahkan tenaga dan uang yg dimilikinya untuk menciptakan perdamaian dan kebaikan bagi umat manusia. Benar orang mengenangnya sebagai agen perdamaian. Dialah Alfred Nobel seorang pendiri Yayasan Hadiah Nobel Perdamaian. Ratakan jalan, sebelum Mesias itu datang yang kedua kalinya ... koreksi dan adakanlah waktu untuk merendahkan diri, dan baharui hidup, agar kelak Tuhan datang dan akan berkata: “Mari masuklah dalam kebahagiaan Tuan-mu.”

2. Hidup yang dihidupi oleh penyelamatan MESIAS Yesaya 40 : ... Berserulah !! Nabi Yesaya bertanya: “Apa yang harus kuserukan ?” Jawab : “ Seluruh manusia : seperti rumput – bunga dipadang, rumput kering bunga layu ... Hidup manusia itu SEMENTARA .... ingatlah itu. HANYA FIRMAN Allah kekal. Tidak ada jalan menuju kekekalan tanpa menerima PENYELAMATAN dari Allah.

Firman Tuhan mengajak umat untuk hidup bermakna – Melalui memberi diri di baptis. Hanya melalui “menjadi milik Tuhan” (dibersihkan dari dosa / baptis), maka hidup ini tidak sia-sia. Hidup yang ada di manusia dosa – fana. Seperti rumput / bunga rumput yang sebentar adanya, segera lisut, layu, gugur, kering dan jadi tanah. Memberi diri dibaptis, adalah jawaban manusia terhadap niat Allah untuk mengubah hidup yang sia-sia, menjadi hidup yang kekal.

Firman Tuhan mengajak umat untuk hidup bermakna – Melalui hidup sebagai hamba bagi Tuhan. Kita perlu sekali untuk menerapkan hidup seperti Yohanes Pembaptis. Seluruh dirinya menjadi hamba Tuhan. Utusan Tuhan. Tidak ada yang untuk dirinya. Hidupnya menyesuaikan diri dengan tempat dimana Tuhan memberi dia rumah. Yakni padang gurun, yang adanya belalang dia makan belalang. Madu, ia minum madu, dan bulu unta untuk pakaiannya. Bahkan orang menyebut Yohanes sebagai “jari telunjuk Allah”. Hidupnya / sikapnya / tujuannya hanya untuk menunjuk Allah. Mengarahkan manusia pada kemuliaan Allah semata. Hidup yang bermakna adalah ketika hidup ini seluruhnya dipersembahkan bagi Allah.

3. Menjadi jemaat yang turut mewujudkan kemuliaan Tuhan Adven ke 2 ini, sekaligus Jemaat GKI Pasteur memperingati 27 tahun GKI Pasteur, kita bersyukur, karena Tuhan mengingatkan kita, untuk bersyukur, sebab kita semua adalah umat Tuhan, Gereja Yesus Kristus. Kita ingat, kita sadar, dan kita bersyukur : Terpujilah Tuhan Raja Segala Raja, hormat bagi kemuliaanNya ... yang telah ,mengubahkan kita memiliki hidup bermakna, karena Mesias. Hari ini juga kita merenungkan kembali arti panggilan Jemaat sebagai hamba Tuhan. Agar menelaah kembali kearah mana sebagai “Jemaat GKI Pasteur” yang adalah gereja Tuhan Yesus. Meninjau arah yang mesti diluruskan, mana jalan-jalan yang mesti diratakan untuk membuat kemanusiaan yang berdosa ini makin layak di hadapan Tuhan. Membuang semua yang diarahkan untuk kemuliaan diri. Sekaligus ajakan agar peka akan apa-apa yang menjadi "cacat" dan "noda" kemanusiaan: kemelaratan, ketakadilan, perbedaan yang kurang memberi keleluasaan untuk berkembang.

SELAMAT Ulang Tahun kita bersama, ayo ... jadilah Jemaat yang terus mewujudnyatakan harapan – kedatangan Tuhan ke-dua kali ... yakni datangnya damai sejahtera tanpa cacad, damai sejati nan sempurna. Wujudkan sekarang saja harapan ini, dengan hidup berbagi kasih dan sukacita dari Tuhan, Penyelamat kita. Lakukan yang lebih banyak lagi, tingkatkan kualitasnya. Bawalah bunga pada dunia - agar dunia ini penuh keharuman. Bagikan saputangan, sekalipun hanya sekedar mengusap dan menghapus air mata, bawalah payung agar orang turut berteduh di tengah dinginnya air hujan. Bawalah semua yang berguna bagi sesama, sebagai GKI Pasteur pembawa damai sejahtera Tuhan. Inilah waktu dan kesempatan bagi kita sebelum kedatanganNya.

Viva GKI Pasteur – selamat menjadi jemaat seharum bunga kasih Tuhan ...
Maranatha ... sampai Tuhan datang.  Amin.


pkm

     

30 Nopember 2014
"BERJAGA HINGGA KESUDAHAN"
Yes 64 : 1-9; Maz 80:1-7, 17-19; 1 Kor 1: 3-9; Mark13: 24-37

Kata ADVEN (Latin Adventus) artinya ‘kedatangan'. Pertama kali kata Adven dipakai secara umum dalam Imperium Romawi. Kata ini digunakan untuk menyambut kedatangan seorang kaisar yang dianggap sebagai dewa. Adven juga terkait dengan masa penantian kedatangan Mesias oleh umat Israel dalam Perjanjian Lama. Berdasarkan latar belakang itu maka beberapa abad kemudian kata yang sama dipakai dalam gereja untuk menyatakan bahwa yang datang itu bukanlah kaisar, melainkan Yesus Kristus yang adalah Raja dan Tuhan. Kedatangan Kristus yang diperingati gereja pada masa Adven mempunyai makna ganda. Tidak hanya menunjuk kepada kedatangan Kristus pada hari Natal, tetapi juga menunjuk pada kedatangan-Nya yang kedua pada akhir zaman.

Kedatangan Yesus yang pertama ditunjukkan dalam peristiwa Natal. Pada kedatangan-Nya yang pertama ini Yesus mendata-ngi ruang hidup manusia dengan segala kesederhanaan-Nya dan kehinaan-Nya, agar manusia yang arogan, tinggi hati, maunya menang sendiri, merasa benar sendiri, berlumur dosa menjadi luluh dan luruh dalam pelukan Yesus. Ia memanggil setiap manusia yang berbeban berat untuk bersimpuh di hadapan-Nya dan menerima pembebasan serta penyelamatan.

Kitab-kitab Perjanjian Baru menggambarkan kedatangan Yesus yang kedua kalinya dalam kemuliaan-Nya dan kemegahan-Nya. Ia datang sebagai Raja yang memerintah dan berdaulat (Why. 21: 1-8). Ia datang sebagai “mempelai laki-laki” bagi “mempelai perempuan-Nya”, yakni Jemaat atau Gereja (Why.22:6-17). Ia datang sebagai hakim yang adil bagi manusia dan menjemput manusia memasuki Kerajaan-Nya yang abadi (Mat.25:31-46).

Kendati penggambaran kedatangan Yesus yang kedua cukup jelas, namun kapan waktunya Ia datang, Alkitab tidak memberi keterangan yang jelas. Alkitab hanya memberi petunjuk bahwa kedatangan-Nya tidak terduga, seperti seorang pencuri yang kedatangannya tidak ada yang tahu dan tidak akan pernah memberi tahu (Luk. 12: 39). Di sinilah makna pesan Yesus dalam Injil Markus 13: 33-37 menjadi penting untuk diperhati-kan, yakni supaya kita berhati-hati dalam menjalani hidup, tidak lengah dan tetap waspada kalau sewaktu-waktu Ia datang.

Minggu-minggu Adven yang diperingati selama empat minggu harus memampukan kita mendalami kedua aspek kedatangan Yesus. Di antara dua kedatangan itu kita dipanggil untuk menjadi rekan sekerja Allah dalam menghadirkan Kerajaan Allah di muka bumi ini. Yaitu suatu Kerajaan dimana ada kedamaian, keadilan, kesejahteraan dan cinta kasih persaudaraan semua orang tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan.

Selain itu, pada masa adven ini pula kita didorong untuk tetap serius dalam menantikan keselamatan yang datang dari Tuhan Yesus dan memantapkan diri untuk hidup secara benar dan bermutu sambil terus bersaksi. Ragam kegiatan seperti menghias pohon natal bersama anggota keluarga di rumah atau di Gereja, mendengarkan lagu-lagu pujian, mengikuti latihan Koor, latihan Drama Natal, mengikuti Persekutuan Doa, berpuasa dan berkarya bagi kemuliaan nama Tuhan melalui aksi sosial adalah sarana yang baik untuk kita lakukan demi pertumbuhan spiritualitas kita.
LPPS GKI

 

23 Nopember 2014
"KEPUTUSANKU: MENGIKUT YESUS, RAJAKU!"
Yeh. 34:11-16, 20-24; Maz. 100; Ef. 1:15-23; Mat. 25:31-46

Tentu kita tidak asing dengan lagu yang liriknya demikian: “Ikut, ikut, ikut Tuhan Yesus: ‘ku tetap mendengar dan mengikutNya. Ikut, ikut, ikut Tuhan Yesus; ya, ke mana juga ‘ku mengikutNya!” Lagu yang tercatat dalam KJ. 370 dengan syair aslinya Down in the Valley with My Saviour I Would Go, ditulis oleh William Orcutt Cushing (1823 – 1902). Orang tua dari William Cushing merupakan kelompok orang yang tidak percaya pada keilahian Yesus dan ia dididik dalam lingkungan orang-orang yang demikian. Namun saat ia mempelajari Alkitab secara pribadi, ia menjadi orang yang percaya akan keilahian Yesus. Sehingga di usianya yang ke delapan belas, ia memutuskan untuk menjadi pendeta. Dan syair lagu tersebut ditulis tahun 1987, di saat usianya 55 tahun dan sedang mengalami sakit (diambil dari http://wordwisehymns.com/ 2014/06/27/follow-on/). William O. Cushing memutuskan mengikuti Yesus sebagai Juruselamatnya kemanapun & apapun yang Yesus kehendaki dalam keadaan apapun.

Mengikut Yesus adalah sebuah keputusan yang tidak main-main. Begitu kita memutuskan untuk ikut Dia, maka tidak ada jalan untuk kembali kepada masa lalu dan manusia lama kita. Sekali kita memutuskan untuk mengikut Dia, maka mau tidak mau, suka tidak suka semua yang menjadi kehendak Dia harus kita laksanakan dalam kondisi apapun, baik senang ataupun susah, sukses atau gagal, sehat atapun sakit. Namun kenyataannya tidak sedikit yang mengingkari imannya kepada Yesus karena merasa kebutuhannya tidak dipenuhi. Mereka adalah orang-orang yang mengikut Yesus hanya jika kehendakNya menguntungkan dirinya. Mereka mengikut Yesus hanya jika tidak ada hambatan, rintangan ataupun penderitaan. Begitu ada rintangan dan penderitaan mereka tidak lagi mengikuti Yesus.

Domba dan kambing dalam Mat. 25:31-46 merupakan gambaran dari mereka yang mengaku mengikut Yesus. Domba digambarkan sebagai mereka yang mengaku mengikut Yesus dan benar-benar melakukan kehendak Yesus (35,36,40). Sedangkan kambing digambarkan sebagai mereka yang mengaku mengikut Yesus namun tidak melakukan kehendak Yesus dalam hidupnya (42,43,45). Jadi banyak yang mengikut Sang Gembala Agung, namun hanya domba – domba yang akan menerima Kerajaan yang telah disediakan Bapa (lih. Mat. 25:34). Sedangkan kambing–kambing akan masuk ke tempat siksaan yang kekal (41 dan 46).

Marilah kita merenungkannya, apakah keputusan kita untuk mengikuti Yesus dan kehendakNya sudah sungguh-sungguh terwujud dalam kehidupan kita? Marilah kita bercermin melalui gambaran yang Tuhan Yesus berikan, domba atau kambingkah kita ini di hadapan Tuhan Yesus? Mata Tuhan melihat apa yang kita perbuat.
DS

     

16 Nopember 2014
"BILA TUHAN MENGUTUS"
Hakim-hakim 4:1-7, Mazmur 123, I Tesalonika 5:1-11; Matius 25:14-30

Beberapa hal penting yang harus dimiliki oleh seorang utusan Tuhan adalah:

Pertama, Seorang utusan menyadari dengan sungguh bahwa ia dipilih dan diutus oleh Tuhan. Seorang pilihan dan seorang utusan bukanlah orang sembarangan. Ia dipilih dan diutus oleh Tuhan. Ketika Tuhan memilih dan mengutus seseorang untuk menjadi utusanNya tidaklah asal pilih. Ketika seseorang menyakini akan pilihan dan pangutusan ini, maka ia akan melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh.

Kedua, seorang utusan harus sungguh mengenal siapa yang mengutusnya. Ketika seorang utusan mengenal secara benar siapa yang mengutusnya, maka dalam menjalankan tugasnya tidak dikuasai oleh rasa takut dan kuatir meskipun banyak hambatan dan tantangan. Contoh, Nabi Nehemia ketika membangun tembok Yerusalem yang hancur, ia tidak takut meskipun banyak tantangan baik tantangan dari dalam dan dari luar. Ia dapat menyelesaikan pembangunan tembok itu dengan baik. Seorang utusan hanya memandang dan mengharapkan pertolongan dan bantuan dari Sang Pengutus, bukan mengharapkan dari pertolongan orang lain. Seorang utusan hanya fokus pada tugas dan tanggungjawab yang diberikan oleh Sang Pengutus.

Ketiga, seorang utusan harus memahami dengan benar akan tugas dan tanggungjawabnya sebagi utusan. Pemahaman ini penting sehingga seorang utusan tidak salah dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Seorang hamba, dalam cerita Matius 25, tugas dan tanggungjawabnya itu jelas yaitu mengembangkan uang yang diberikan oleh sang tuannya.

Itulah sebabnya hamba yang pertama dan hamba yang kedua menjalankan tugas itu dengan baik dan sukses. Namun hamba yang menerima satu talenta itu tidak memahami akan tugas dan tanggungjawabnya, itulah sebabnya ia pergi menguburkan talenta itu dan tidak menghasilkan apa-apa.

Keempat, seorang utusan mengenali dan menyadari akan kekurangan dan kelebihannya. Ketika seorang utusan menyadari akan kekurangan dan kelebihannya, maka ia tidak akan menyombongkan diri, tetapi ia akan semakin bergantung sepenuhnya kepada sang Pengutus. Ia juga akan terus belajar dan belajar untuk diperlengkapi supaya pelayanannya semakin baik.

Kelima, seorang utusan memiliki pikiran dan perasaan seperti Kristus. Yesus Kristus adalah standar kebaikan dan kebenaran yang sempurna. Jika Kristus yang penuh dengan belas kasihan, maka seorang utusanNya semestinya memiliki karakter yang demikian. Pelayanan Yesus lahir dari hati yang penuh dengan belas kasihan, maka dampak pelayanaNya kita nikmati sampai hari ini. Siapakah seorang utusan itu? Orang yang percaya dan yang menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
RDL

 

9 Nopember 2014
"Mengapa Melayani? "
Yosua 24:1-3, 14-25; Mazmur 78:1-7; 1 Tesalonika 4:13-18; Matius 25:1-13

Mengapa melayani? Mungkin ada yg memberi alasan: karena tugas setiap orang percaya, ingin menyatakan kasih Tuhan, mengaktualisasikan diri sesuai talenta, menyalurkan bakat, ingin menjadi berkat, dan sebagainya. Semua jawaban tersebut benar. Namun dalam perikop Yosua 24, umat diajak untuk belajar menghayati tugas melayani bukan sekedar kewajiban, aktualisasi diri, menyalurkan bakat, atau menjadi berkat.

Yosua 24, menyegarkan kembali ingatan umat, bahwa Tuhanlah yang mengambil (Yos 24:3) Abraham untuk beribadah pada Allah. Tuhanlah yang membawa (6) Israel dari Mesir, dan tanah Kanaan menjadi rumah bagi Israel, diperoleh dengan tanpa bersusah-susah, karena pemberian Tuhan (13). Yosua dan umat Israel, karena mengingat semua kasih Tuhan tersebut, menyatakan : “Hanya kepada Tuhan saja kami beribadah, dan firmanNya akan kami dengarkan” (24:21,24). Antusiasme umat Israel dan Yosua, kental berada dalam diri Pemazmur yang rindu mengenalkan, menceritakan karya Tuhan, agar tiap keturunan/angkatan mengenal dan menaruh percaya pada Tuhan dan melayaniNya (Mz 78). Kitab Yosua 24 dan Mazmur 78 bersaksi : “Temukan sumber spritualitas iman yang terdalam, yaitu melayani (ibadah) karena seluruh karya keselamatan Allah telah dialami. Tanpa mendasarkan pelayanan pada sumber spiritualitas yang tepat dan benar, kualitas pelayanan/ibadah akan rendah”.

Sekalipun umat melayani Tuhan, bukan berarti tidak mengalami kedukaan. Surat R.Paulus pada jemaat (1 Tes 4:13-18), memberi penghiburan, yang menekankan : “orang percaya memiliki pengharapan.” Yang mati akan dibangkitkan kembali, yang hidup akan diangkat, yakni pada saat kedatangan Tuhan kembali (parousia). Setiap orang percaya, dengan demikian akan melayani Tuhan sampai akhir.

Bahkan melayani dengan sikap hati yang senantiasa siap dan dengan antusias menyongsong kedatangan Tuhan (mempelai). Matius 25:1-13 : kehidupan umat Tuhan di kancah dunia bukan seperti sikap ke-lima gadis bodoh, tanpa persediaan minyak sehingga tidak siap menyambut kedatangan mempelai yang datang terlambat.

Sikap umat adalah seperti ke-lima gadis bijaksana yang selalu siap menyongsong, sehingga dapat masuk untuk menemui para mempelai pria yang datang dan ikut dalam pesta perjamuan.

Pada Firman Tuhan hari ini, kita makin menemukan dan merasakan bahwa kasih Allah yang menyertai sepanjang hidup umat-Nya (sampai kedatangan Tuhan / parousia) : begitu agung, mulia dan mengharukan. Rahmat Allah berkenan mengaruniakan kepada kita, manusia yang sebenarnya tidak layak, namun dari anugerahNya kita diperkenankan dihisabkan dalam perjanjianNya. Karena itu motivasi kita melayani Tuhan adalah: pertama, ucapan syukur atas anugerah Tuhan. Kedua, bertanggungjawab atas ikatan perjanjian yang telah diikrarkan di hadapan Allah. Ketiga, pada dirinya, kasih lahir dari hati kita yang telah dibarui oleh keselamatan Allah.

Melayani lahir dari kedalaman batin kita. Melayani adalah tindakan ibadah, tidak ada pemisahan antara bidang sekuler dan rohaniah. Pelayanan bersifat holistic (utuh dan menyeluruh), bukan parsial (sebagian atau lingkup tertentu). Maka sekarang marilah kita koreksi diri kita, sambil merenungkan kembali : “Mengapa melayani?”. Hari ini kita tanggapi panggillan Tuhan dengan menguduskan setiap bidang kehidupan sebagai pelayanan syukur (ibadah) kita karena berkat anugerahNya.
pkm

     

2 Nopember 2014
"ALLAH MENGARUNIAKAN KELELUASAAN HIDUP"
Yosua 3:7-17; Mazmur 107:1-7, 33-37; I Tesalonika 2:9-13; Matius 23:1-12

Apa pendapat Anda saat Anda dibaptis dan menjadi orang Kristen? Anda merasa terikat oleh hukum-hukum Allah, tak leluasa bergerak, atau justru bebas dari dosa, lalu berlari ke sana ke mari seperti kuda lepas kandang? Bagaimana Anda menghayati kehidupan Anda sebagai seorang Kristen yang telah dibebaskan dari cengkeraman dosa, lalu leluasa untuk menempuh kehidupan Kristen Anda?

Judul renungan di atas mengungkapkan adanya keleluasaan yang dikaruniakan Allah kepada kita. Keleluasaan sebatas apa, sehingga benar-benar kita dalam kegembiraan hidup sebagai orang Kristen menampilkan suasana baru. Ada gambaran yang sering dikemukakan, bahwa hidup orang Kristen adalah ibarat ikan yang berada di dalam air, karena air adalah habitat ikan. Keleluasaan hidup ikan ada di dalam air dan tidak di luarnya. Begitu ikan itu ingin lebih leluasa berada di luar air, justru ikan itu akan mati. Pada hakikatnya, seperti ikan itulah kehidupan kita sebagai orang Kristen, yakni keleluasaan hidup berada di lingkungan Allah dan tidak di luarnya.

Yosua adalah pemimpin umat Israel, pengganti Musa. Semua kewibawaan sebagai pemimpin yang ada pada Musa, juga ada pada Yosua, sehingga Yosua tampil secara mantap dengan penyertaan Allah. Begitu pula Allah hidup di tengah umat Israel dan menyertai mereka dengan kasih dan kesetiaan-Nya. Segala kesulitan diselesaikan-Nya dengan kekuasaan-Nya yang ajaib, termasuk menyibak air sungai Yordan dan menghalau bangsa-bangsa yang berdiam di sekitar Israel. Dengan demikian, terpeliharalah iman dan kekhususan Israel sebagai umat pilihan Allah, sehingga mereka leluasa mengamalkan iman mereka. Pengalaman umat Israel pada zaman Yosua ternyata dihayati pula oleh pemazmur 107, sehingga ia menyaksikan kemurahan Allah dan mensyukurinya.

Berikutnya, keleluasaan juga diwujudkan dalam pelayanan Rasul Paulus melalui kesaksiannya kepada jemaat Tesalonika. Ia leluasa melayani pemberitaan Injil, di samping ia juga leluasa untuk membuat kemah yang dijual, agar tak membebani jemaat dalam masalah finansial. Landasannya, hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Menyusul, para orang Yahudi pada zaman Tuhan Yesus, hendaknya juga dengan leluasa melaksanakan firman Allah, sebagaimana yang diajarkan oleh para orang Farisi, namun tidak mengikuti perilaku mereka, sebab perilaku mereka tidak pantas menjadi teladan. Nyata bagi kita, bahwa keleluasaan yang Allah berikan tidak disalah-gunakan, melainkan dengan penuh syukur dinikmati sebagai karunia-Nya. Artinya, betapa pun leluasanya, tetap saja kita harus mempertanggung-jawabkannya dengan baik dalam ketaatan kepada kehendak Allah. Hal itu diingatkan oleh Rasul Paulus dalam Galatia 5 : 13, agar kemerdekaan (keleluasaan) pemberian Allah itu digunakan dalam pelayanan kasih kepada sesama dan tidak untuk berbuat dosa. Amin.
Oleh Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

 

26 Oktober 2014
"Keluarga : Gereja terkecil yang membawa pengharapan di tengah dunia "
Ul. 34:1-12, Maz. 90:1-6, 13-17, 1 Tes. 2:1-8, Mat. 22:34-46

Di tengah hiruk-pikuk kegiatan orang zaman modern ini, sukacita dan kedamaian di dalam keluarga menjadi hal yang paling dirindukan, namun begitu banyak tantangan yang dihadapi keluarga menyebabkan sulitnya setiap anggota keluarga dapat merasakan sukacita dan kedamaian bahkan hal tersebut berdampak juga untuk bisa menghidupkan dan mengembangkan sebuah tradisi religius dalam rumah tangga.
Berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi seperti fenomena TV, internet, HP, dll, adalah suatu tantangan tersendiri bagi keluarga untuk menciptakan suasana religius di dalam rumah tangganya. Satu pertanyaan kritis dan reflektif bagi kita: Ketika dunia dipengaruhi perkembangan teknologi yang begitu hebat, budaya materialisme dan hedonisme yang merajalela, apakah orang tua masih mampu memberikan bekal rohani yang baik bagi anak-anaknya? dan apakah anak-anak cukup bisa melihat dan menghargai fungsi dari sebuah keluarga di dalam kehidupan perkembangan mereka?

Ketiga bacaan kita hari ini mengingatkan kita akan pribadi Allah yang dapat dipercaya, artinya dalam keluarga seharusnya Allah yang menjadi pusat utama dalam kehidupan keluarga. Sebagai Gereja mini, keluarga harus memberikan bekal iman yang mendalam bagi setiap anggotanya khususnya dalam hal ini adalah anak-anak. Pengenalan pertama tentang Gereja atau iman Kristen justru terjadi dalam keluarga. Keluarga sebagai gereja kecil tidak lain sebuah tempat di mana kita mengenal iman dan merasakan sebuah persekutuan cinta. Dalam keluargalah kita pertama kali mengenal nilai-nilai kekristenan yang menjadi dasar untuk membangun gereja secara universal. Apabila keluarga-keluarga kristen sungguh mengenal dan mendalami peran keluarga sebagai gereja mini hal ini pasti berdampak dan dapat mempengaruhi masyarakatnya secara positif, sehingga Keluarga sebagai gereja terkecil dapat membawa pengharapan di tengah dunia.
Wyk

     

19 Oktober 2014
"Keluarga Menghayati Penyertaan Tuhan"
Kel. 33:12-23, Maz 99, 1 Tes 1:1-10, Mat 22:15-22

Dalam percakapan antara Musa dan Tuhan di Keluaran 33, Musa menyatakan bahwa perjalanan kehidupan dirinya dan bangsa Israel tidaklah sempurna dan bermakna tanpa penyertaan Tuhan. Musa yang telah mengalami penyertaan Tuhan memberikan pengakuan bahwa Tuhan yang memulai karya pembebasan dan pemeliharaan atas dirinya dan bangsanya. Oleh karenanya, Musa sangat bergantung dan berharap pada pimpinan Tuhan saja (ay. 15). Dalam kondisi yang baik ataupun tidak baik, Musa memberikan teladan yang berkenan di hadapan Tuhan yaitu hidup yang bergantung dan berharap pada penyertaan Tuhan. Apapun yang hendak dilakukan, Musa senantiasa mencari kehendak Tuhan dalam hidupnya. Inilah teladan yang patut kita contoh yaitu mencari kehendak Tuhan dalam kehidupan kita dan keluarga kita.

Begitu juga dengan pemazmur yang menyatakan bahwa Tuhan adalah Raja yang kuat dan yang berkarya dalam kehidupan umat. Pengakuan ini muncul dari pengalaman hidup pemazmur atas penyertaan Tuhan selama hidupnya. Pemazmur menyadari bahwa kehidupannya dan bangsanya sering tidak setia, sering berdosa dan melalukan apa yang jahat di hadapan Tuhan. Namun demikian, Tuhan tetap setia dan adil. Tuhan memberikan pengampunan kepada umat-Nya dan keadilan dalam penghukuman-Nya (Maz. 99:8), supaya umat boleh belajar hormat dan tunduk serta menyembah hanya kepada Tuhan saja (ay. 9). Sehingga dengannya kasih dan kesetiaan Tuhan menjadi harapan bagi umat dalam menjalani kehidupannya.

Jemaat di Tesalonika merupakan jemaat yang baru percaya kepada Yesus Kristus. Sebelumnya mereka adalah penyembah-penyembah berhala (1 Tes. 1:9). Kini dalam menjalani hidupnya yang baru ternyata mereka harus mengalami penindasan karena iman mereka (ay. 6) dan itu membuat mereka bimbang dan ragu akan penyertaan Tuhan selama ini. Dalam kondisi seperti itu, rasul Paulus memberikan nasehat dan semangat, agar mereka tetap hidup dalam iman yang selama ini telah mereka pegang teguh (ay. 3-4). Ia meyakinkan jemaat bahwa meski mereka harus mengalami penindasan, Tuhan akan senantiasa menyertai mereka melalui Roh Kudus-Nya (ay.6). Sehingga pengharapan dan penantian jemaat akan kedatangan Anak-Nya dari sorga tidaklah sia-sia, sebab Dia-lah yang akan menyelamatkan jemaat dari murka yang akan datang (ay. 10).

Demikian juga dengan setiap kita saat ini yang mungkin dalam pergumulan yang berat. Tetaplah percaya dan berpegang teguh pada Tuhan. Pengharapan dan penantian kita pastilah tidak akan sia-sia.

Dalam Mat. 22:16 orang-orang Farisi dan Herodian (orang-orang yang secara politis mendukung keluarga Herodes Agung dan anaknya Herodes Antipas untuk menjadi raja di Yerusalem) ingin menjebak Yesus dengan pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar. Namun pertanyaan jebakan itu dipakai-Nya untuk mengajar orang-orang yang ada di sana tentang kewajiban manusia (ay. 21). Nah sekarang pertanyaannya adalah, apa yang menjadi kewajiban manusia kepada Allah? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah melakukan perintah-perintah Allah dengan segenap hati dan segenap jiwa dan akal budi. Oleh karenanya, ketika kita menyadari dan mengalami penyertaan Tuhan bahwa Ia yang telah menolong, memimpin dan memberkati kita dan keluarga kita, apakah kita sudah melakukan kewajiban kita kepada-Nya? Apakah kita sudah melakukan perintah-perintah-Nya? Marilah kita merenungkannya.
DS

 

 

12 Oktober 2014
"JANGAN BERIMAN KEPADA ILAH YANG PALSU"
Kel. 32:1-14; Maz. 106:1-6, 19-23; Filip. 4:1-9; Mat. 22:1-14

Bertitik tolak dari arti / makna kata “beriman”, maka beriman berarti kita mempercayakan seluruh kehidupan kita dan menyembah kepada apa atau siapa yang kita imani. Ketika kita beriman kepada Yesus Kristus, itu berarti kita menyerahkan seluruh hidup kita dan menyembah Yesus Kristus sebagai Tuhan atas hidup kita. Ketika umat Israel ramai-ramai menyembah patung lembu emas yang mereka buat itu berarti mereka dengan sadar menyerahkan seluruh hidupnya kepada lembu emas itu (beriman). Dari bacaan kitab keluaran di atas menjelaskan bahwa umat Israel dengan mudahnya meninggalkan Tuhan dan berpaling kepada ilah lain. Umat Israel barangkali sangat kecewa ditinggalkan Musa selama 40 hari di atas gunung. Dengan perginya Musa mereka berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkan mereka dan sudah tidak peduli lagi terhadap mereka. Itulah sebabnya mereka menggantikan posisi Tuhan dengan lembu emas. Pelajaran yang dapat kita renungkan adalah bukankah seringkali kita juga merasa ditinggalkan Allah, tidak dipedulikan oleh Allah, kemudian kita menjadi kecewa dan marah sama Tuhan; mulai malas bedoa, malas baca firman, malas beribadah dan selanjutnya meninggalkan Tuhan.

Bacaan Matius 22:1-22, memberikan pesan sebagai berikut:
Pertama, Kerajaan sorga telah Allah sediakan bagi yang mau datang kepada Allah dalam Yesus Kristus. Allah menyediakan tempat yang sangat istimewa bagi manusia, yaitu Kerajaan Sorga. Kerajaan Sorga bukanlah hayalan, ilusi orang beriman, tetapi tempat yang Allah sediakan.
Kedua, Allah tak henti-hentinya memanggil manusia untuk masuk ke dalam Kerajaan sorga dengan cara mengutus hamba-hambanya untuk memberitakan undangan itu. Undangan itu disampaikan kepada semua orang dan kepada semua tempat.

Ketiga, manusia memiliki kebebasan untuk memilih. Apakah manusia memilih dan menyambut undangan Allah itu atau menolak undangan itu. Ini yang sering disebut dengan free will yang dimiliki oleh manusia. Allah tidak memaksa manusia untuk menyambut undanganNya, meskipun Allah bisa untuk memaksakan manusia. Allah memberikan kebebasan manusia untuk memilih jalan hidupnya. Ada ribuan macam alasan manusia untuk menolak undangan Allah itu.

Keempat, manusia yang menolaknya dan yang membunuh para utusannya akan dihukum. Mereka akan menerima konsekuensi dari penolakkannya. Dalam menjalani kehidupan ini seringkali kita diperhadapkan pada pilihan-pilihan, kemudian kita harus memilih salah satu dari sekian pilihan itu.

Apakah kita memilih beriman kepada Tuhan Yesus Kristus atau beriman kepada mamon? Ketika kita memilih untuk beriman kepada Yesus Kristus berarti kita menyerahkan seluruh kehidupan kita dan sujud menyembah kepada Tuhan Yesus. Kita pada akhirnya dapat menikmati tempat yang Tuhan sediakan bagi kita, yaitu sorga. Ketika kita memilih untuk beriman kepada mamon, berarti kita menyerahkan seluruh hidup kita dan taat kepada kehendak mamon.
RDL

     

5 Oktober 2014
"Keluarga Mencari Tuhan"
Kel. 20 : 1-4, 7-9, 12-20; Mz. 19; Fil. 3:4-14; Mat. 21:33-46

Puji Tuhan, Minggu ini kita mengawali Bulan Keluarga Tahun 2014. Firman Tuhan hari ini , mengajak kita sebagai keluarga “yang sedang melakukan perjalanan” untuk hidup berfokus pada Tuhan. Tuhan dan FirmanNya menjadi Teman perjalanan hidup kita, agar hidup kita tidak berbelok arah kepada jalan hidup yang menuju kehancuran.
Seperti umat Allah sejak di zaman Perjanjian Lama dipanggil untuk hidup setia berbakti kepada Allah saja, demikian Tuhan ingin supaya setiap keluarga setia memelihara persekutuan dengan Allah dan dengan sesama dalam hidup sehari-hari. Itulah sebabnya Allah memberikan Sepuluh Perintah Tuhan untuk ditaati oleh umatNya (Keluaran 20).

Pada masa ini, banyak keluarga Kristen mencari Tuhan saat butuh bantuan saja. Karena itu tak heran bahwa setelah peristiwa 11 September 2001, konon orang Amerika mulai kembali berdoa. Demikian dalam praktek kehidupan, Allah sebenarnya sering tidak dicari, tidak diperlukan karena semua berjalan terkendali dan normal. Padahal jika setiap keluarga selalu setia “mencari Tuhan” maka demikian kata-kata Firman Tuhan : “ ... Tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau ... (Mzm 9:10) …. tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik (Mzm 34:11) …selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil (2 Taw 26:5).

Dalam surat Filipi pasal 3, Rasul Paulus memaparkan tiga pokok pikiran yang menarik, yaitu tentang kehidupan Paulus dahulu sebelum mengenal Kristus, penilaian Paulus atas hidupnya dahulu, dan tujuan arah hidupnya sekarang setelah mengenal Kristus. Itulah sebabnya Paulus mengajak kita untuk berjuang : “melupakan yg dibelakang, mengarahkan diri pada tiap perkara di depanku” .. berlari ke tujuan untuk memperoleh hadiah panggilan sorgawi”

Bagi setiap keluarga, perumpamaan tentang para penggarap kebun anggur, hendak mengajarkan kepada kita tentang anugerah Allah yang harus direspon dan dimanfaatkan dengan baik.

Namun sayang, banyak orang merespon dengan cara yang salah, mereka lebih focus pada “apa yang dipercayakan Tuhan. Banyak orang terbelenggu oleh harta dunia bukan focus pada Tuhan sebagai yang empunya kebun anggur, yang berharap semua orang mengarahkan tujuan pada Tuhan. Tuhan melalui perumpamaan ini, Yesus rindu supaya hidup kita dan seluruh keluarga sungguh-sungguh berfokus mencari Tuhan dan FirmanNya.

Belajar dari Pemazmur : “Ia seorang yang sangat gemar akan Firman Tuhan”. Katanya : “Firman Tuhan / Taurat Tuhan itu menyegarkan jiwa, memberikan hikmat, menyukacitakan hati, menyadarkan dan memberi peringatan. Dengan rendah hati, Pemazmur menyebut diri “hamba-Mu”. Pemazmur merasakan dalam hidup jika tanpa Tuhan, banyak hal yang tak dapat disadari ... manusia terbatas, mudah tersesat ...Firman Tuhanlah yang akan membawa kedalam kebenaran. Setiap keluarga diladang dunia ini boleh saja memanfaatkan buah-buah perkembangan peradaban manusia khususnya teknologi, namun dengan tetap waspada, agar jangan sampai terjebak diperbudak oleh teknologi itu. Sebaliknya, justru Saudara dapat memanfaatkan secara kritis hasil teknologi itu untuk menjadi alat yang membantu kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Mengalami hidup berjalan dengan Teman seperjalanan kita, yaitu Yesus Kristus.

Jangan lupa juga bahwa ‘mencari Tuhan’ juga tak bisa dilepaskan dengan memperhatikan dan mengasihi sesama, terutama yang kecil dan miskin. Sebab dalam diri mereka-lah kita dapat ‘melihat wajah Tuhan', “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat 25:40). Tuhan dapat kita temukan pada wajah sesame yang berkekurangan. Selamat menjadi keluarga yang mencari Tuhan, sehingga dalam perjalanan tiap keluarga mampu peka dan peduli pada mereka yang membutuhkan pertolongan. Selamat memasuki Bulan Keluarga. Amin.
PKM

 

28 September 2014
"Pemeliharaan Allah yang Ajaib"
Kel. 17:1-7; Maz 78:1-4, 12-16; Filp. 2:1-13; Mat. 21:23-3

Perjalanan jauh dan panjang yang harus ditempuh oleh orang Israel pastilah melelahkan dan banyak tantangannya. Lamanya perjalanan yang harus dijalani selama kurang lebih 40 tahun, menghadapkan mereka pada berbagai peristiwa dan pengalaman baru yang tentunya belum dan tidak akan pernah mereka alami jika mereka tidak mengikuti Allah. Pengalaman mengikut Allah ternyata tidak semudah dan tidak seenak yang mereka harapkan. Mereka berharap bahwa mengikut Allah, mereka tidak perlu dan tidak harus mengalami kehausan, kelaparan dan penderitaan. Tapi ternyata, harapan dan keinginan mereka berbeda dengan kehendak Allah. Karena itu mereka sering mengeluh dan menggerutu, bahkan tidak jarang mereka memberontak terhadap Allah. Namun demikian, Allah tetap memelihara mereka dengan perbuatan-perbuatan yang ajaib melalui hamba-hamba-Nya (lih. Kel.17:6-7).

Karena perbuatan dan pemeliharaan Allah yang ajaib inilah Asaf (Asaf diketahui sebagai penyanyi dan pemusik di jaman Raja daud – band.1 Taw. 6:39; 15:17-19; 16:1-7,37) mengingatkan generasi muda Israel – angkatan yang kemudian, lih. Maz 78:4 – untuk tidak melupakan sejarah ajaib yang telah Allah lakukan dalam kehidupan bangsa Israel. Asaf memberi pesan penting bagi angkatan kemudian untuk tidak terlena dan terjerumus mengagungkan tokoh-tokoh Israel karena masa kejayaan yang pernah bangsa Israel alami. Tetapi mereka harus mengingat bahwa kejayaan dan keberhasilan bangsa Israel karena Allah yang melakukan semua itu. Sehingga Allah yang harus dipuji dan diagungkan oleh angkatan muda dan bukannya raja, pejabat, imam atau tokoh-tokoh lainnya.

Ternyata perjalanan iman Paulus untuk menjadi pengikut setia Tuhan juga tidak mudah dan banyak tantangannya. Ia harus mengalami penderitaan, difitnah dan bahkan dipenjara karena imannya. Bahkan di tengah kesulitan dan penderitaan yang dialaminya, ia harus tetap menjadi teladan dari balik jeruji bagi saudara-saudara seimannya di Filipi yang sedang dalam pertikaian. Sebuah tantangan yang berat bagi mereka yang beriman kepada Kristus. Namun demikian, sama seperti Allah memelihara bangsa Israel, seperti itu juga Allah memelihara Paulus.

Allah melakukan banyak perbuatan ajaib dalam kehidupan pelayanannya; Allah menyelamatkan Paulus dari upaya pembunuhan di Ikonium (Kis.14), di Filipi (16), di Tesalonika (17) dan banyak lagi perbuatan dan pemeliharaan Allah yang ajaib yang dialami Paulus.

Keraguan terhadap Yesus dan perasaan tersaingi menjadi hambatan bagi tokoh-tokoh agama Yahudi untuk mengalami kasih dan pemeliharaan Allah melalui diri Yesus. Bahkan melalui perumpamaan tentang dua orang anak, Yesus menyindir mereka yang tidak percaya pada pemberitaan kebenaran Yohanes (lih. Mat. 21:32). Keraguan dan ketidakpercayaan membuat mereka tidak mengalami perbuatan dan pemeliharaan Allah yang dialami dan dirasakan oleh mereka yang percaya kepada Allah. Dengan demikian Yesus ingin menyatakan bahwa kuasa dan keajaiban yang dilakukannya itu berasal dari Allah. Dan yang hanya bisa dilihat, dialami dan dirasakan oleh mereka yang percaya kepada Allah. Menjadi pengikut Kristus bukan berarti hilangnya semua tantangan dan masalah yang ada. Tetapi menjadi pengikut Kristus berarti sebuah proses untuk hidup berserah dan mempercayakan diri pada pemeliharaan Allah yang terus menerus dalam kondisi apa pun. Sekiranya kondisi kita tidak baik, mari kita ingat apa yang telah Allah berikan sampai dengan saat ini (seperti pemazmur yang mengingatkan bangsa Israel akan perbuatan ajaib Allah di masa lalu). Dan pesan Injil Matius jelas bahwa orang yang percaya kepada Allah pasti akan mengalami perbuatan dan pemeliharaan Allah yang ajaib (seperti yang telah dialami Paulus). Mari kita bersujud dan berseru (seperti ayah anak yang bisu – Mark. 9:24), “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Kiranya Tuhan menolong kita, amin.
DS

     

21 September 2014
"Hidup Dalam Anugerah"
Kel 16:2-15; Maz 105:1-6, 37-45; Filipi 1:21-30; Mat. 20:1-16

Suatu prinsip mendasar hidup sebagai orang Kristen adalah hidup dalam anugerah Allah. Bacaan kita hari ini memberi peringatan agar orang Kristen tidak hidup sebagai budak atau orang upahan, melainkan hidup merdeka sepadan dengan keselamatan kita.

Allah mengutus Musa untuk menyelamatkan bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Bangsa Israel diperbudak Firaun dan orang Mesir selama empat ratus tahun, sehingga dihinggapi mentalitas budak. Mereka bersedia merendahkan status mereka dari umat Allah menjadi budak Mesir, demi rasa aman, dan kenyang oleh daging dan roti. Meskipun mereka melihat sendiri bukti kebesaran Allah dalam melindungi mereka dari musuh, mental budak sukar dihilangkan. Saat menghadapi kesukaran kehidupan di padang gurun, mereka terkenang-kenang masa perbudakan, di mana mereka duduk makan daging dan roti sampai kenyang (Kel. 16:3). Allah sampai harus mendatangkan daging dan roti dari langit, air yang segar dari dinding batu (Maz. 105) untuk memperlihatkan bahwa bangsa Israel bisa hidup mulia tanpa memperbudak dirinya.

Bacaan kita juga mengkritik mentalitas hidup orang upahan. Mentalitas ini juga tidak mengenal prinsip anugerah Allah. Hidup adalah mencari upah, dengan perhitungan transaksional, berdagang, dan untung-rugi. Mereka mau menerima anugerah bagi diri sendiri, tetapi memprotes Tuhan saat Ia memberi upah yang sama besar pada orang yang bekerja lebih sedikit. Orang upahan merasa berhak atas anugerah upah, karena sudah patuh bertransaksi. Mata mereka terpaku pada upah dinar, serta membandingkan dengan upah dinar orang lain. Mereka lupa bahwa upah terbesar adalah kehormatan besar diundang bekerja di ladang Tuhan.

Yesus datang memberikan anugerah terbesar, yaitu nyawaNya untuk keselamatan kita. Tujuan hidup kita di dunia ini bukan mencari makan, mendapat upah besar, dan menikmati kesenangan. Orang Kristen dibebaskan dari perbudakan dunia. Kita tidak mementingkan upah, dan tidak iri melihat anugerah Allah pada orang lain. Karena anugerah Allah sama bagi setiap orang yaitu keselamatan, rasa syukur dan undangan untuk bekerja di ladangNya. Upah dinar cukuplah sesuai dengan kebutuhan kita, dan sesuai dengan kasih karunia Allah.

Allah hendak mengajarkan umatnya akan sebuah hidup yang mulia yang tidak bisa diberikan dunia: Hidup dalam Anugerah. Bebas dari perbudakan dan bebas dari mentalitas upahan. Hidup ini lebih besar dari sekedar cari makan atau mendapatkan laba. Hidup ini adalah tentang memuliakan Allah. Hidup ini tentang kehormatan diundang bekerja menghasilkan buah di ladang Allah. Ingatlah Allah tidak sembarangan merekrut orang. Ia memilih orang yang kepadanya Ia berbelas kasihan, orang yang Ia pandang berharga dan layak untuk melayaniNya. Orang yang Ia sukai untuk berada di hadiratNya. Kejarlah undangan Allah itu. Janganlah kita menjadi budak dunia atau menjadi pengangguran atau orang upahan di mata Allah.

Kita pun tidak boleh memperlakukan sesama kita seperti budak atau orang upahan. Kita tidak boleh memeras atau merampas kehormatannya. Kita tidak boleh memperlakukan orang sekedar obyek transaksional. Orang yang bekerja pada kita harus diperlakukan sebagai umat kepunyaan Allah. Betapa mulia nya bila melalui buah-buah pekerjaan kita Anugerah Allah mengalir dan memelihara hidup sesama kita. Jadi hidup dalam Anugerah Allah juga berarti hidup kita menjadi berkat untuk sesama kita.
(AL)

 

14 September 2014
"MENANG TANPA BERPERANG"
Keluaran 14:19-31; Mazmur 114; Roma 14:1-12; Matius 18:21-35

Apa arti "menang tanpa berperang" atau "lebih dari pemenang" ? Seorang aktor yang berperan sebagai seorang pahlawan, dia tahu bahwa siapapun lawannya mau besar, kecil fisiknya atau kekuasaannya pasti dia kalahkan meskipun dalam dia berakting sepertinya hampir kalah tapi akhirnya pasti menang. Mengapa demikian ? Karena memang demikian skenario ceritanya. Aktor hanya mengikuti kata sutradara. Ini yang disebut "lebih dari pemenang", karena sudah tahu hasil akhirnya.

Empat (4) Bacaan kita ini berbicara tentang "rancangan dan kuasa Tuhan" dalam kehidupan bangsa Israel dan orang percaya. Tetapi bangsa Israel dan orang percaya sering tidak selaras dengan rancangan dan kuasa Tuhan. Allah adalah Allah yang bertindak, KuasaNya menggenapi rancanganNya bagi umatNya. Bacaan Keluaran mengisahkan Allah berperang melawan prajurit Mesir yang sedang mengejar bangsa Israel keluar dari Mesir, tetapi peristiwa besar ini tidak cukup untuk merendahkan hati bangsa Israel ketika mereka bersungut-sungut di padang gurun terhadap Allah, karena mereka tidak mau taat kepada Allah, hatinya mulai serong kepada berhala dunia. Pemazmur mengajak umat untuk mengingat kembali peristiwa ajaib yang dilakukan Allah untuk memenangkan peperangan bangsa Israel, walaupun mereka tidak berperang melawan tentara Mesir, supaya mereka menyadari betapa besarnya Kasih karunia Allah bagi mereka yang terdiri dari orang lemah, wanita tua, anak-anak yang tidak mungkin menang dalam peperangan melawan pasukan berkereta dengan senjata lengkap.

Dalam bacaan Roma 14:1-12 Jika kita yang lemah dimenangkan oleh Tuhan, kita tidak pantas memperlakukan tidak layak terhadap orang yang lebih lemah dari kita. Sikap sering menghakimi saudara sendiri dengan peraturan-peraturan buatan manusia. Keadilan Allah adalah Kasih Karunia yang diberlakukan bagi umatNya.

Perumpamaan dalam Matius 18:21-35 tentang seorang hamba yang berhutang kepada raja sebesar 10.000 talenta, 1 talenta= 6.000 dinar, 1 dinar adalah upah sehari bekerja. 10.000 talenta= 60 juta hari kerja, setara dengan bekerja selama 164 tahun. Suatu nilai  hutang yang tidak mungkin terbayar. Tetapi raja menghapuskan hutangnya, hanya karena Kasih karunia. Apakah layak hamba ini memenjarakan hamba lain yang berhutang kepadanya sebesar 100 dinar atau senilai 100 hari kerja. Tetapi sering kita  juga bersikap seperti hamba yang jahat terhadap sesama saudara dengan memakai hukum dunia, sedangkan kita menerima hukum Kasih karunia dari Tuhan.

     

7 September 2014
"BERTUMBUH DALAM PERSEKUTUAN"
Keluaran 12 : 1-14; Mazmur 149; Roma 13 : 8-14; Matius 18 : 15-20

Persekutuan terbentuk secara bertahap, mulai dari suami dan istri, orangtua dan anak-anak, marga, dan suku, hingga sebuah bangsa. Bahkan dapat saja berlanjut kepada persekutuan antarumat manusia. Itulah persekutuan yang berproses secara biologis. Di samping persekutuan semacam itu, kita juga mengenal persekutuan yang berproses secara spiritual, dalam keberimanan kepada Tuhan Yesus Kristus. Tak salah, jika kita mengenal persekutuan dalam ikatan tubuh Kristus yaitu gereja-Nya, yang bertumbuh mulai dari gereja lokal, klasikal, sewilayah sinode, dan sinodal. Itulah yang ada di lingkungan GKI yang baru saja berulang tahun ke-26, meliputi jemaat-jemaat GKI dari Batam sampai Bali. Jika kita perluaskan, kita mengenal ikatan gereja di tingkat nasional (PGI), Asia (CCA), dan dunia (WCC), kendati kita mengetahui adanya gereja-gereja di luar ikatan-ikatan tersebut. Kenyataan itulah yang mendorong Tuhan Yesus melalui visi-Nya untuk mendoakan, sebagaimana kita ketahui dalam Yoh. 17:21 `supaya mereka menjadi satu’, kendati pada saat itu belum ada sebuah jemaat pun yang terbentuk secara formal.

Melalui kitab Keluaran 12, kita mengetahui adanya persekutuan sebagai sebuah umat / bangsa terbentuk, lengkap dengan ketentuan-ketentuan teokratis yang berlaku dan disebut sebagai `qahal’ (jemaah). Peristiwa terbentuknya umat Israel, mirip dengan terbentuknya negara Republik Indonesia --- minus teokratisnya --- sebagai sebuah negara yang merdeka pada 17 Agustus 1945. Tentu sebagai sebuah umat/bangsa, mereka bertumbuh dalam sejarah berupa bermukimnya mereka di tanah Kanaan, diperintah pada zaman para hakim, lalu menjadi kerajaan Israel Bersatu pada zaman raja Saul (1052-1012 s.M), Daud (1012-972 s.M), dan Salomo (972-932 s.M).

Berita dari Mazmur 149 mengumandangkan kebanggaan pemazmur yang menyebut umat Israel sebagai bani Sion, yang menampakkan ketaatan mereka. Tanpa ketaatan kepada Allah, niscaya mereka tak mungkin mengagungkan-Nya sedemikian rupa. Hal ini senada dengan dibangunnya jemaat Kristen di atas dasar kasih sebagai tubuh Tuhan Yesus Kristus. Itulah yang disampaikan Rasul Paulus dalam Roma 13, agar segenap anggota jemaat saling menjalin hubungan, lengkap dengan persyaratannya, demi pertumbuhan persekutuan itu. Itulah persekutuan gereja yang disebut `ekklesia’ (dipanggil ke luar) dan `kuriake’ (milik Tuhan).

Sekiranya terjadi gangguan terhadap persekutuan, pesan Tuhan Yesus dalam Matius 18 dapat dijadikan dasar digunakan untuk mengatasinya. Prinsipnya, jangan sampai pertumbuhan persekutuan orang percaya itu bantut, pudar, atau menyimpang dari hakikatnya sebagai tubuh Kristus. Tanpa persekutuan, gereja kehilangan jati dirinya. Oleh sebab itu, GKI memasukkan gagasan persekutuan (koinonia) bukan sebagai salah satu tugasnya, melainkan sebagai hakikatnya dari gereja Tuhan Yesus. Maka setiap anggota jemaat terpanggil untuk menjaga persekutuan itu, supaya tetap bertumbuh dan langgeng, lalu dapat mewujudkan tugas kesaksian dan pelayanannya. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

31 Agustus 2014
"MENYANGKAL DIRI, MEMIKUL SALIB, DAN MENGIKUT YESUS "
Kel. 3:1-15; Mzm. 105:1-6,23-26,45; Rm. 12:9-21; Mat. 16:21-28

Siapakah yang tidak ingin hidup bahagia? Manusia mempunyai kecenderungan untuk hidup senang, dan jika mungkin, secara instan pula. Ada orang Kristen yang mempunyai pola pikir yang salah, karena pikirnya Tuhan pasti membuat orang Kristen hidup senang dengan berkat duniawi yang berlimpah.

Memang Allah bisa saja menolong dan memberkati manusia secara instan, tetapi Allah kadang menginginkan agar manusia menjadi mitra Allah, menanggapi panggilan-Nya, memberikan hidupnya untuk bekerja bersama-sama dengan Allah dalam mendatangkan pertolongan-Nya bagi dirinya ataupun bagi orang lain.

Allah menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang peduli, memperhatikan kesengsaraan umat-Nya, ketika bangsa Israel yang diperbudak di Mesir berseru memohon pertolongan kepada-Nya. Ia adalah Allah yang kudus, setia kepada perjanjian-Nya untuk selama-lamanya. Allah memanggil Musa untuk menyelamatkan umat-Nya. Dan Musa menyerahkan seluruh sisa hidupnya untuk dipakai Allah menjadi pemimpin yang membebaskan bangsanya dari penindasan, dan menuntun mereka ke negeri perjanjian yang penuh berkat (Kel. 3:1-15).

Kebahagiaan yang sejati dapat kita miliki, yaitu jika kita merasa terberkati dan dapat senantiasa bersyukur, dengan mengingat segala perkara yang telah Allah perbuat di dalam hidup kita. Kita naikkan puji-pujian, bernyanyi, bermazmur, mencari Dia, setia, bekerja dan bersaksi bagi-Nya (Mzm. 105).

Tuhan Yesus mengajarkan, agar pengikut-Nya selalu menyelaraskan pikirannya dengan pikiran Allah. Ia bukanlah orang yang memikirkan kesenangan pribadinya sendiri, tetapi orang yang rela berkorban, bahkan berkorban nyawa sekalipun (Mat. 16:21-28).

Pada jaman kekristenan mula-mula, banyak pengikut Kristus yang rela berkorban sebagai martir. Mungkin kita di sini saat ini tidak perlu sampai berkorban nyawa, tetapi kita “berkorban” dengan mengesampingkan keutamaan diri kita sendiri, misalnya saling mendahului dalam memberi hormat, melayani Tuhan dengan giat, bersukacita dalam pengharapan, bersabar dalam kesesakan, bertekun dalam doa, membantu orang lain, memberi tumpangan, memberkati orang yang menganiaya kita, sehati sepikir dalam hidup bersama, tidak sombong, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melakukan apa yang baik bagi semua orang, hidup berdamai dengan semua orang, saling mengasihi (Rm. 12:9-21).

Dengan demikian kita menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Yesus, seperti persyaratan yang Tuhan Yesus sendiri berikan bagi pengikut-Nya.
Jadi, maukah kita menjadi orang Kristen yang selalu memberikan hidup kita bagi Dia dan sesama? Tuhan akan membalaskannya dengan kebahagiaan yang sejati (Mat. 16:27). Amin.
Nancy Hendranata

     

24 Agustus 2014
"DIPANGGIL UNTUK MEWUJUDNYATAKAN IBADAH
YANG BERKENAN KEPADA ALLAH
"
Keluaran 1:8-2:10, Mazmur 124, Roma 12:1-8, Matius 16:13-20

GKI hadir di tengah-tengah bangsa Indonesia tentu bukan karena kebetulan, tetapi kita pahami dengan mata iman bahwa kehadiranya di tengah bangsa Indonesia karena Tuhan punya rencana atau agenda yang Tuhan mau nyatakan melalui gerejaNya.

Agenda pertama dan terbesar yang Allah inginkan adalah supaya gerejaNya dimanapun mereka berada dan dalam keadaan apapun melanjutkan misiNya yaitu membawa sebanyak mungkin orang untuk berjumpa dengan Kristus dan mereka mengalami pemulihan, pengampunan dan keselamatan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata sama seperti Bapa mengutus Aku ke dalam dunia, demikian juga Aku mengutus kamu/gereja (Yoh. 17:18), tujuannya adalah supaya dunia percaya bahwa Yesus Kristus diutus oleh Bapa untuk menyelamatkan manusia di dunia ini. Agenda Allah ini mestinya disadari, dihayati dan dilakukan oleh gerejaNya dimanapun berada. Ketika gereja mengabaikan mandat dan agenda Allah ini, kemudian gerejaNya sibuk dengan urusan-urusan yang tidak sesuai dengan agendaNya, maka gereja itu akan mengalami kelesuan, kemunduran bahwa jangan-jangan gereja di Indonesia akan mengalami seperti yang dialami gereja-gereja di Eropa.

Agenda Allah yang kedua adalah supaya setiap orang memuliakan Allah, memiliki relasi yang intens dengan Allah, kemudian menghasilkan buah-buah yang benar dan yang berkenan kepada Allah. Agenda yang kedua ini kita hubungkan dengan tema kita hari ini : Dipanggil untuk mewujudnyatakan ibadah yang berkenan kepada Allah. Berbicara tentang ibadah, kita pahami sebagai keutuhan hidup orang percaya; artinya di manapun kita berada dan dalam keadaan apapun hendaknya ibadah itu kita wujudkan dan kita lakukan. Pemahaman yang keliru adalah jika kita memahami ibadah hanya terjadi di gedung gereja, di tempat-tempat persekutuan, di tempat-tempat ibadah lainnya; di luar semua itu bukan ibadah. Pemahaman ini sangat tidak tepat. Bahaya dari pemahaman ini adalah kehidupan kita ini terkotak-kotak atau lebih tepat manusia bunglon; artinya kalau kita lagi berada di gereja atau di tempat persekutuan kita menjadi manusia setengah malaikat. Tetapi ketika kita berada di luar gereja dan tempat-tempat persekutuan kita menjadi manusia setengah iblis. Saya tegaskan pemahaman ini sangat tidak tepat. Tetapi jika ada orang yang meyakini bahwa pemahaman yang demikian dianggap benar, bisa juga kita kritisi bahwa berada di gereja dan di tempat-tempat persekutuan tidak menjamin mereka sudah sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan.

Bisa saja terjadi tubuhnya ada dalam gereja atau di tempat persekutuan, tetapi hati dan pikirannya melayang-layang kemana saja, sehingga ibadah yang mereka lakukan tidak membawa dampak apapun dalam kehidupannya setelah mereka pulang ke rumah dan masuk dalam dunia pekerjaan. Jangan-jangan yang terjadi adalah ketika kita berada dalam gereja kita tidak beribadah kepada Tuhan, tetapi beribadah kepada HP, GT atau tertidur (hanya Tuhan yang tahu).

Ibadah yang benar dan berkenan kepada Allah dan yang sejati adalah seluruh hidup kita adalah untuk memuliakan Allah. Ketika kita menyerahkan seluruh kehidupan kita kepada Allah, maka ketika kita sedang berada dimanapun (di gereja atau di tempat lain) pastikan bahwa seluruh aspek kehidupan serta keberadaan kita adalah dalam kerangka memuliakan Allah. Baik dalam pekerjaan, berbisnis atau hal lainnya.

Pertanyaan untuk kita renungkan bersama-sama lebih dalam adalah: Apakah perkerjaan yang kita lakukan saat ini dapat memuliakan Tuhan atau tidak? Apakah bisnis yang kita jalani sekarang ini memuliakan Tuhan, atau Allah dimuliakan atau tidak? Apakah keluarga dan anak-anak kita sekarang memuliakan Tuhan atau tidak? Apakah keputusan-keputusan yang kita lakukan, Tuhan dimuliakan atau tidak? Apakah perkataan-perkataan kita selama ini memuliakan Tuhan atau tidak? Apakah ibadah yang kita jalani di gereja dan di tempat-tempat persekutuan sungguh-sungguh Tuhan dimuliakan atau tidak? Biarlah pertanyaan-pertanyaan di atas menolong kita untuk merefleksikan diri kita masing-masing, sehingga keberadaan kita sebagai gerejaNya dapat dan menjadi bersinar serta berbuah lebih baik lagi. Tuhan memberkati kita yang terus berharap kepada kuasaNya. Amin.
RDL

 

17 Agustus 2014
"Dipanggil untuk Memerdekakan "
Kej. 45:1-15; Mzm. 133; Rom. 11:1-2, 29-32; Mat. 15:21-28

Merdeka! Merdeka! Merdeka! Demikian teriakan lantang dari seluruh bangsa Indonesia ketika merayakan HUT RI ini di setiap tanggal 17 Agustus. Memang bangsa Indonesia tidak lagi dibawah penjajahan bangsa asing. Bangsa Indonesia telah merdeka dari mereka. Tetapi apakah bangsa Indonesia sudah benar-benar merdeka? Apakah bangsa Indonesia sudah bebas dari penjajahan dalam bentuk ketidakadilan, kebodohan, kemiskinan dan lain sebagainya? Tentu dengan pasti kita bisa menjawab, belum! Karena masih banyak ketidakadilan terhadap warga negara. Bahkan muncul slogan yang mengkritik terjadinya ketidakadilan di negara ini, seperti Orang miskin dilarang sakit! Orang miskin dilarang sekolah! Oleh karenanya bangsa ini butuh orang-orang yang mau menegakkan keadilan sosial dan yang membebaskan bangsa dari belenggu kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan. Sebagai bagian dari bangsa ini, pengikut Kristus juga harus terlibat di dalam menegakan keadilan sosial, menyuarakan kebenaran dan keadilan bagi siapapun entah itu seiman ataupun tidak. Untuk itu umat perlu meningkatkan partisipasinya di tengah bangsa ini dengan berupaya menyuarakan kebenaran dan keadilan di lingkungan tempat tinggalnya dan pekerjaannya bagi siapapun. Mari kita belajar pada Yusuf dan Tuhan Yesus.

Yusuf yang telah disia-siakan oleh saudara-saudaranya telah dipakai Tuhan untuk sebuah rencana yang besar. Sebuah rencana untuk keselamatan bangsanya. Yusuf berani menyuarakan kebenaran dan keadilan di depan para pejabat pemerintahan Firaun bahkan di depan Firaun meski nyawanya terancam. Karena suara kebenaran dan keadilan serta kehidupannya yang baik berkat hubungannya yang baik dengan Allah, ia mendapat posisi yang sangat amat bagus. Dengan kekuasaanya, ia bisa saja menghukum saudara-saudaranya yang datang kepadanya, tetapi tidak ia lakukan. Hal itu dikarenakan Yusuf melihat bahwa semua itu terjadi atas kehendak Allah (Kej. 45:7). Yusuf menjadi pemimpin bangsa yang mampu menyelamatkan atau memerdekakan bangsanya dari kelaparan dan kemiskinan (Kej. 45:11). Kehadirannya boleh menjadi berkat bagi bangsanya maupun bangsa lain (Mesir). Allah ingin menyelamatkan bukan hanya sebuah bangsa (Israel) tetapi juga bangsa lain (Mesir) melalui Yusuf. Allah melalui kehidupan Yusuf telah menjadi Pembebas bagi bangsa Israel dan Mesir dari kelaparan dan kemiskinan.

Demikian juga dalam kisah perempuan Kanaan yang dengan kegigihan dan kepercayaan yang dimilikinya meminta kesembuhan anaknya kepada Tuhan Yesus dan ia pun mendapatkan pertolongan itu.

Tuhan Yesus menjadi Pembebas bagi anak perempuan dari perempuan Kanaan dari penderitaan yang dialami dan yang menurut pandangan Yahudi mereka orang kafir yang jauh dari keselamatan Allah. Dalam dialog Tuhan Yesus dan perempuan Kanaan kita bisa melihat gambaran sebuah pandangan Yahudi yang masih dipegang teguh – keselamatan hanya untuk dan dimiliki oleh orang Yahudi saja. Tetapi oleh Tuhan Yesus gambaran tentang pandangan itu hendak dikritisi dan dibantah. Sehingga Tuhan Yesus memberikan kesembuhan juga bagi anak perempuan Kanaan itu, yang notabene adalah bangsa lain yang dianggap kafir oleh orang Yahudi. Jadi Tuhan Yesus bukan saja membebaskan anak perempuan Kanaan itu dari sakit atau penderitaannya, tetapi Tuhan Yesus membebaskan semua orang yang melihat dan mendengar peristiwa itu dari belenggu pemahaman yang sempit soal keselamatan yaitu bahwa keselamatan bukan hanya untuk satu bangsa saja, melainkan untuk seluruh bangsa di dunia ini!

Jika Tuhan Yesus saja menyatakan keselamatan atau kemerdekaan untuk seluruh bangsa, ras, suku bahkan agama, maka kitapun sebagai murid-muridNya perlu menyatakan kemerdekaan itu untuk semua orang. Dan itu artinya kita dipanggil untuk memerdekakan orang lain. Kita dipanggil untuk menyuarakan keadilan dan kebenaran di lingkungan pekerjaan kita. Kita dipanggil untuk membebaskan orang lain dari belenggu kemiskinan dan kebodohan. Kita dipanggil untuk membebaskan diri kita dan orang lain dari belenggu pemahaman dan pemikiran yang sempit, yang eksklusif dan egosentris. Tuhan menolong kita menjadi agen – agen kebebasan dan kemerdekaan. Amin.
DS

     

10 Agustus 2014
"Iri Hati Memadamkan Cinta "
Kej.37:1-4, 12-28; Mzm.105:1-6, 16-22, 45; Rom.10:5-15; Mat 14:22-33

Di dalam diri manusia, terdapat suatu ‘virus’ yang sangat mematikan jika dia berkembang biak, virus itu yang senantiasa berusaha mencuri sukacita dan berkat Tuhan dari kita. Virus ini ada dalam diri orang Kristen maupun Non-Kristen, tua maupun muda, pria maupun wanita. Nama virus itu adalah Iri Hati. Menurut kamus, iri hati itu adalah perasaan tidak senang/tidak suka/tidak berbahagia ketika kita melihat/mendengar kebahagiaan, keberhasilan, kelebihan dan keberuntungan orang lain. Iri hati itu seringkali bersembunyi dalam diri setiap orang. Ada 3 hal buruk yang disebabkan oleh sifat iri hati:

1. Iri hati merusak hubungan kita dengan Tuhan;
Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!” (Kej. 37:20). Ayat di atas menunjukkan bagaimana iri hati membuat saudara-saudara Yusuf benci kepada Yusuf yang berujung kepada niat pembunuhan, padahal mereka tahu membunuh itu dapat merusak hubungan mereka dengan Tuhan. begitupun kita, seringkali karena iri hati Banyak orang merasa lebih puas melampiaskan kebencian dengan melukai bahkan membunuh ketimbang berdamai. Hal ini sama dengan rusaknya hubungan kita dengan Tuhan.

2. Iri hati merusak hubungan kita dengan sesama;
Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah.” (Kej. 37:4). Iri hati seringkali menjadi alasan bagi seseorang untuk membenci sesamanya tanpa alasan yang jelas. Orang yang sudah terkena virus iri hati ini senantiasa memandang sesamanya sebagai musuh, sehingga perbuatan baik apapun yang dilakukan oleh sesamanya itu akan senantiasa dinilai buruk.

3. Iri hati merusak diri kita sendiri;
Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Mat. 14:31). Iri hati itu tidak memberikan keuntungan sama sekali, namun justru membuat kita tidak merasakan sukacita dan berkat yang sudah Tuhan sediakan bagi kita. Tuhan ingin kita bisa mengalahkan iri hati dalam diri kita. Anugerah dan berkat bagi setiap orang berbeda-beda, telah Tuhan sediakan sesuai kemampuan setiap kita. Belajarlah mengucap syukur atas berkat yang sudah Tuhan sediakan bagi kita, maka kita akan dapat mengalahkan iri hati di dalam diri kita. Yakinlah bahwa Tuhan tahu apa yang kita butuhkan, dan Tuhan akan sediakan bahkan sebelum kita memintanya sekalipun. Amin.
UQ

 

3 Agustus 2014
"Bergumul Bersama Tuhan, Berdamai Dengan Diri Sendiri "
Kej. 32:22-31; Maz. 17:1-7, 15; Rom. 9:1-5; Mat. 14:13-21

Sepanjang hidupnya Yakub adalah orang selalu mencari aman. Ia diam di kemah, senang memasak, dan sangat disayang Ribka, ibunya. Besar kemungkinan ia kurang mendapatkan perhatian Ishak, ayahnya, sehingga ia tidak mempunyai keberanian karena kehilangan figur ayah. Dalam menghadapi persoalan hidupnya, Yakub cenderung mengakali orang lain, menipu atau, kalau itu tidak berhasil, melarikan diri. Meskipun dengan cara seperti ini ia mampu menggapai banyak keberhasilan, ia sadar bahwa ini bukan cara hidup yang sejati. Sampai suatu hari ia menghadapi ujian hidup yang berat, di mana ia harus menghadapi akibat kesalahan masa lalunya terhadap Esau, kakaknya. Semua yang ia kasihi dan yang ia capai selama hidupnya terancam. Apakah ia akan kembali memanipulasi kakaknya itu, atau melarikan diri?
Allah mengetahui pergumulan Yakub. Allah tidak melupakan, di balik semua kelemahan Yakub ini, betapa Yakub sangat menghargai berkat Allah dan tidak pernah mengingkari imannya kepada Allah. Allah mengetahui isi hati Yakub. Yakub bukan orang yang menyukai kekerasan. Ia selalu berseru kepada Allah dalam kesesakannya. Ia mengandalkan kasih setia Allah yang ajaib.
Maka Allah sendiri yang menjenguk Yakub dan mengujinya. Ia menyamar dan menantang Yakub. Yakub dalam keputusasaan nya kali ini memutuskan untuk melawan. Yakub sangat menderita dalam pergulatan ini. Tetapi Yakub tidak melarikan diri, dan memilih untuk terus bertarung, tidak mau melepaskan diri dari masalah yang menyakitkan nya. Maka Allah pun memberkatinya, dan berjanji pada Yakub untuk tidak pernah meninggalkan Yakub.
Yakub menyadari hidupnya bukanlah untuk dirinya lagi, tetapi untuk menjadi alat rencana Allah menghadirkan Mesias. Melalui Yakub dan keturunannya, Allah memberkati semua manusia melalui kitab-kitab suci, orang kudus, dan keselamatan melalui Yesus Kristus. Figur ayah yang hilang dari Yakub dipulihkan dalam Bapa rohaninya, yaitu Allah sendiri. Kehilangan secara jasmani dipulihkan melalui kehadiran secara rohani.

Seringkali jalan hidup kita tidak sempurna, sehingga sama seperti Yakub, kita tidak berkembang dengan baik. Kita mengalami ketakutan dan kekuatiran dalam hidup. Kita bergumul dengan kekurangan diri kita. Kita mendasari keberhasilan hidup kita, beserta segala kekuatiran kita, pada hal-hal jasmaniah. Pemenuhan kebutuhan jasmaniah bukanlah hal yang sukar bagi Allah. Mudah bagi Allah untuk mengenyangkan lima ribu orang dengan memberkati lima roti dan dua ikan.
Tetapi Allah ingin mengingatkan kita bahwa ada rencana Allah yang besar bagi dunia ini. Allah memanggil manusia untuk mengambil bagian dalam rencana karya keselamatan ini. Semua penderitaan dan pergumulan hidup kita adalah cara Allah untuk menyadarkan kita agar berpindah fokus, dari fokus pada hal-hal duniawi dan kepentingan diri menjadi fokus pada Allah dan rencanaNya. Dengan menyerahkan diri dan hati kita seturut maksud dan janji Allah, maka timbul kedamaian dalam hati kita.
Setelah peristiwa perubahan fokus ini, hidup Yakub berubah dari seorang yang selalu egois, cemas dan melarikan diri dari setiap persoalan, menjadi sosok yang legendaris bagi karya Allah di dunia. Mungkin hidup kita penuh pergumulan, kekecewaan, dan ketakutan. Marilah kita menyadari sebuah kebenaran: hidup ini adalah tentang Allah, bukan tentang diri kita sendiri.
Amin.
AL

     

27 Juli 2014
"IKATAN PERJANJIAN ALLAH DENGAN MANUSIA "
Kej.29:15-28; Mazmur 105:1-11,45; Roma 8:26-39; Matius 13:31-33,44-52

Suatu perjanjian apapun seperti perjanjian jual-beli, perjanjian kerja-sama sampai perjanjian pernikahan semuanya harus didasarkan atas “kepercayaan”. Saling percaya yang melahirkan komitmen dalam ikatan janji, di mana dalam suatu perjanjian ada hak dan kewajiban yang harus ditaati pihak-pihak yang mengikat janji. Ikat janji dapat gugur jika ada satu pihak ingkar janji dan tidak dapat dipercaya lagi dan harus menanggung resiko perjanjian. Suatu perjanjian pada hakekatnya adalah saling menyerahkan dan saling menerima. Perjanjian jual beli, ada yang menyerahkan barang /jasa dan menerima uang sesuai perjanjian. Ikat janji pernikahan satu pihak menyerahkan diri sebagai suami/isteri, pihak lain menerima sebagai suami/istri. Kesetiaan adalah melaksanakan kewajiban dengan tunduk pada perjanjian dan berhak atas janji-janji yang ada dalam perjanjian itu.

Allah mengikat janji dengan umatNya dengan menyerahkan AnakNya yang Tunggal dari kelahiranNya, kehidupanNya, kematianNya di kayu salib sampai kebangkitanNya bagi orang yang percaya memperoleh hak hidup kekal serta janji-janjiNya yang diberikan kepada kita. Apa bagian kita ? Kita hanya melandaskan pada percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan komitmen menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan melalui pertobatan.

Bacaan kita hari ini adalah beberapa hal yang berkaitan dengan suatu perjanjian. Kejadian 29:15-28. Yakub mengadakan perjanjian dengan Laban, yaitu Yakub mau bekerja kepada Laban selama 7 tahun demi mendapatkan Rachel anak kedua Laban yang dicintainya, setelah 7 tahun Yakub bekerja Yakub meminta hak untuk mendapatkan Rachel sebagai istrinya.
Karena menurut tradisi orang Yahudi tidak baik menikahkan anak ke dua sebelum anak sulungnya menikah, Laban menipu Yakub dengan memberikan Lea kepada Yakub. Untuk mendapatkan Rachel yang dicintai Yakub harus bekerja lagi selama 14 tahun. Yakub sebagai orang yang dapat dipercaya dalam perjanjian, Yakub bekerja lagi selama 7 tahun untuk mendapatkan Rachel. Namun waktu 14 tahun itu tidak terasa berat bagi Yakub karena rasa cintanya yang besar, walaupun Laban tidak sepenuhnya setia pada perjanjiannya.

Allah juga mendasarkan perjanjianNya dengan manusia dengan Kasih yang besar, walaupun manusia sering tidak setia, Allah tetap setia dalam menyerahkan PutraNya yang Tunggal untuk keselamatan manusia.

Roma 8:26-39, Menyatakan Allah merupakan pihak yang proaktif dalam perjanjianNya yaitu dengan mengutus Roh Kudus untuk menolong manusia untuk dapat melaksanakan komitmen ikat janji dengan Tuhan. Allah ikut bekerja (bukan ongkang-ongkang) untuk kebaikan orang-orang yang mengasihi Dia (yang mengikat janji kepada Tuhan) Roma 8:28.

Matius 13:31-33, 44-52. Melalui ikat Janji ini Allah mengubah hidup manusia dari hidup yang sia-sia (berpusat pada diri sendiri/terbukti dari apa yang kita raih di dunia tidak pernah mendatangkan kepuasan dan tidak ada yang dibawa ketika mati) menjadi hidup yang bermakna (menjadi berkat bagi orang lain dengan memberikan nilai-nilai yang kekal : keselamatan, damai sejahtera, hidup baru).
Kita seperti biji sesawi yang kecil, siap ditabur menjadi bibit pohon Sinapi yang besar dimana menjadi tempat kehidupan bermacam burung. Ragi segenggam yang dicampurkan pada adonan dapat mengkhamirkan 3 sukat tepung adonan (1 sukat=12 liter). Adonan menjadi mengembang dan indah.
Orang percaya yang siap ditaburkan dan diaduk dalam perjanjian dengan Tuhan akan memberi pengaruh yang besar bagi sesama maupun lingkungan kita. Selama orang percaya hanya bergaul dengan sesama orang percaya seperti biji sesawi dan ragi di dalam toples, tidak bermakna apa-apa. Kita harus siap ditabur memberi kehidupan baru bagi dunia yang sudah disiapkan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus.

Kita menyadari bahwa Kerajaan Sorga yang disediakan Allah dalam perjanjianNya merupakan harta yang sangat berharga jauh lebih berharga dari seluruh kehidupan kita yang fana di dunia ini. Sehingga kita rela menyerahkan seluruh hidup kita untuk masuk dalam KerajaanNya. Mazmur 105, merupakan Pujian bagi Tuhan yang mau mengikat perjanjian dengan manusia, yang selalu Setia dan selalu menggenapi setiap janjiNya, walaupun manusia seringkali tidak setia kepada Tuhan.
Bersyukurlah kepada Tuhan, serukanlah NamaNya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa” Mazmur 105:1.
Amin.
tonny iskandar

 

20 Juli 2014
"PERJUMPAAN DI TENGAH PELARIAN "
Kej. 28:10-19, Mazmur 139:1-12, 23-24, Roma 8:12-25, Mat 13:24-30, 36-43

Pergumulan hidup tiada habis-habisnya. Ada pergumulan hidup yang disebabkan oleh kesalahan diri sendiri, ada juga yang disebabkan oleh karena kesalahan orang lain, ada pula yang tidak dapat dijelaskan apa sebabnya. Yakub menghadapi pergumulan hidup karena kesalahannya sendiri, yaitu menipu kakak dan ayahnya. Akibatnya ia harus meninggalkan ayah, ibu dan kakaknya kemudian melarikan diri ke tempat yang jauh. Dalam pelarian bukan berarti masalah dan pergumulan itu berakhir, bahkan sepanjang kehidupannya ia selalu bergelut dengan pergumulan itu. Salah satu contoh Yakub harus menelan pil pahit karena ditipu oleh Laban, mertuannya itu. Dia juga harus hidup dikuasai oleh rasa bersalah dan ketakutan jika bertemu dengan Esau kakaknya. Namun, dalam kesalahan dan pergumulan itu, Allah Abraham dan Allah Ishak tidak membiarkan Yakub dalam kesalahan dan penderitaan. Allah menjumpainya secara pribadi di BETEL. Di tempat inilah Yakub bergumul dengan Tuhan, dan dalam pergumulan itu Yakub mengalami perubahan nama dan identitasnya, bahwa saat itu Allah mengubah nama Yakub (artinya penipu), menjadi Israel (artinya menang). (Kej. 32:28). Dia bukan lagi sebagai seorang penipu, tetapi sebagai orang yang telah menang, mengalahkan dosa dan kesalahan masa lalunya. Yakub yang dulu, adalah gambaran kehidupan masa lalu, sedangkan Israel setelah berjumpa dengan Tuhan adalah kehidupan yang telah diperbaharui oleh Tuhan.

Jika pada saat ini kita sedang menghadapi pergumulan dan persoalan yang akhirnya membuat kita menjadi putus asa; apakah disebabkan oleh kesalahan kita sendiri, atau kesalahan orang lain, atau oleh apa saja yang sulit kita mengerti. Namun, satu hal yang kita yakini bahwa Allah dalam Yesus Kristus akan menjumpai kita, menyapa kita secara pribadi, dan pada saat itulah kita dipulihkan, diubahkan dan dimerdekakan/ menang. Sebagaimana Tuhan berjanji kepada Yakub, bahwa Ia akan menyertai, melindungi dan memberkati Yakub, maka Tuhan pun akan menyertai, melindungi dan menolong kita.

Hal yang kita pelajari dalam cerita Yakub ini bahwa Tuhan oleh karena kasihNya mau menjumpai kita dalam keadaan apapun, Ia mau menerima dan merangkul kita ketika kita dalam ketakutan dan tertekan.

Kesaksian dari seorang pemazmur yang meyakini bahwa Tuhan telah mengurung manusia dari belakang, depan, dan atas untuk melindungi dan menuntun manusia dalam kehidupannya, meskipun dalam keadaan terpojok & tertekan, ia tetap meyakini bahwa Allah tetap menjaga dan melindunginya. Karena itu dalam keadaan apapun kita harus tetap mempercayai Tuhan dengan segenap hati bahwa Ia akan menjaga dan melindungi kita. Kiranya Tuhan memberikan kekuatan dalam menjalani hidup ini yang penuh dengan ketidakpastian. GBU.
RDL

     

13 Juli 2014
"Rivalitas Vs Solidaritas "
Kej. 25:19-34; Maz. 119:105-112; Rom. 8:1-11; Mat. 13:1-9, 18-23

Dalam setiap perlombaan, atlet ataupun tim bersaing untuk menjadi yang terbaik. Mereka harus mengeluarkan segenap kemampuan mereka untuk mengalahkan yang lain. Karena dalam sebuah pertandingan harus ada yang menang dan ada yang kalah, maka mereka yang bersaing harus siap menang dan harus siap kalah. Artinya bahwa yang menang harus siap menunjukan dirinya pantas menjadi pemenang dengan sikap – sikap yang tidak merendahkan yang kalah, sedangkan yang kalah harus berjiwa besar dan berlapang dada untuk mengakui kemenangan pihak yang lain. Oleh karena itu, dalam sebuah pertandingan pemain perlu memiliki sikap yang fair (adil) dan sportif (jujur).

Sikap dan tindakan yang dewasa, yang bijak dan baik dalam menanggapi setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini – entah itu peristiwa yang baik (jagoan kita menang) maupun yang buruk (jagoan kita kalah) – bisa terwujud jika kita memahami bahwa ketika hidup kita dan pikiran kita tidak lagi terbelenggu oleh kesenangan dan keinginan kita semata. Sikap dan tindakan yang bijak muncul jika kita memahami apa arti hidup yang dipimpin oleh Roh. Roma 8:6 “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera”, setiap orang yang dipimpin oleh Roh Allah akan mencari dan mengusahakan kehidupan dan bukan kematian. Orang yang dipimpin Roh Allah akan mengusahakan damai sejahtera ketimbang permusuhan dan keributan bahkan perpecahan.

Pemenang yang dipimpin oleh Roh Allah, tidak akan menjadi sombong dan menghina mereka yang kalah.
Pemenang tidak akan melakukan tindakan yang membuat yang kalah menjadi orang yang memusuhi pemenang. Pemenang akan merangkul mereka dengan sikap kebersamaan (solidaritas). Begitu juga dengan mereka yang kalah. Mereka yang dipimpin Roh Allah akan berjiwa besar mengakui kemenangan lawannya dan tidak memusuhinya. Ia akan bersama-sama dengan pemenang mengusahakan kehidupan yang lebih baik, kehidupan yang damai sehjahtera.
Persoalannya maukah kita dipimpin Roh Allah? Kalau tidak, maka yang kita dapatkan adalah kekacauan, kehancuran dan kematian. Tetapi kalau kita mau dipimpin Roh Allah dan menginginkan kehidupan yang lebih baik dan penuh damai sejahtera, maka kita harus siap menjadi tanah yang baik bagi Firman Tuhan yang ditaburkan (Matius 13:23). Sehingga ketika kita menjadi tanah yang baik maka pimpinan dari Roh Allah akan memampukan kita menghadapi apapun yang terjadi didepan kita – kemenangan dan kekalahan – akan disikapi dengan tenang dan bijaksana.
DS

 

6 Juli 2014
"Allah menuntun dan menolong "
Kej 24:34-38;42-49;58-67; Maz 45:11-18; Roma 7:15-25; Mat 11:16-19,25-30

Menjalani hidup seperti yang Tuhan kehendaki bukan perkara yang mudah. Malah tidak jarang, hidup seperti itu mengundang keputus-asaan, terutama ketika kita berada dalam situasi sulit dan dilematis. Betapa sulit menghadapi kedagingan - Roma 7:15-25, manusia perlu tuntunan Tuhan, mengapa ? R. Paulus : “Sebab apa yang aku perbuat …. adalah apa yang aku benci…” (15). Aku manusia celaka, namun syukur ada penolong yang mampu melepaskan aku dari tubuh maut ini yakni Yesus Kristus (25).

Dalam menghadapi situasi dilematis, kita belajar pada Abraham. Sebenarnya, di usianya yang sudah semakin renta, Abraham bisa saja mencarikan perempuan Kanaan - yang sehari-hari bisa dijumpai - sebagai istri bagi anaknya, Ishak. Selain mudah dilakukan, Abraham tidak perlu menunggu lama untuk memperoleh seorang menantu dari kaumnya.
Namun Abraham – bergantung pada Allah (Kej. 24). Abraham selalu pegang janji Tuhan, untuk menjadikannya bangsa yang besar dan menjadi berkat bagi banyak bangsa dan ia mengutus hambanya untuk mencarikan istri bagi Ishak dari kaumnya di tempat asalnya sendiri, sekalipun jalan ini sangatlah sulit dan nyaris mustahil berhasil.

Selain iman, saat menghadapi persoalan, kita harus fokus dan rendah hati. Fokus karena kita tidak mungkin pikul semua masalah. Bagai baterai – maksimal hanya untuk 1 lampu, maka jika kita memasang 5 bola lampu dengan tenaga satu baterai, lampu-lampu itu akan meredup dan gelap dengan sangat cepat! Beban bila terlalu banyak dan besar membuat kita letih.

Orang rendah hati akan terbuka pada tuntunan dan pertolongan Tuhan. Itulah yang Yesus katakan kepada orang-orang yang berusaha keras untuk taat kepada Tuhan, tetapi sadar bahwa mereka tidak mampu. Yesus mengundang siapa pun - yang sadar bahwa dirinya berada dalam keletihan perjuangan iman - untuk datang kepada-Nya. Ia berjanji memberi kelegaan (Matius 11:28). Sikap rendah hati – adalah sikap berlutut, seperti sikap - jika kita terjebak dalam badai petir yang dahsyat di tempat terbuka, maka kita sebaiknya berlutut, membungkukkan tubuh ke depan, dan meletakkan kedua tangan di atas lutut. Dengan demikian, apabila petir menyambar di dekat tubuh kita, kecil kemungkinan tubuh kita akan berfungsi sebagai konduktor.
Pengamanan yang maksimum tergantung pada seberapa rendah posisi tubuh Anda. Hal yang sama juga berlaku bagi orang-orang kristiani yang terjebak dalam badai kehidupan - kita harus mengambil sikap rohani yang rendah hati, karena kesombongan hanya membahayakan hidup kita. Allah akan menuntun dan menolong mereka yang mau di tuntun dan di tolong Allah. “Mata Tuhan tertuju pada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong” (Maz 34:16).
Bersyukur dan bersandarlah pada Tuhan Yesus – satu-satunya yang bisa menolong kita dari maut dan setia menyediakan jalan keluar di setiap masalah hidup kita. 1 Kor 10:13 “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” Amin.
PKM

     

29 Juni 2014
" TUHAN MENYEDIAKAN, MANUSIA MENGUSAHAKAN KELEGAAN "
Kejadian 22:1-14, Mazmur 13, Roma 6:12-23, Matius 10:40-42

Tuhan Yesus paling mengerti apa yang menjadi kebutuhan manusia, itulah sebab Dia menyediakan apa yang dibutuhkan manusia. Apa yang Tuhan sediakan untuk kita? Pertama, Dia menyediakan pertolongan kepada kita. Abraham memiliki iman dan keyakinan bahwa Tuhan akan menyediakan anak domba untuk dikorbankan sebagai persembahan kepada Allah; meskipun pada waktu Ishak bertanya kepada Abraham, mana anak dombanya untuk dikorbankan” belum ada anak dombanya. Allah juga menyediakan sumur bagi Hagar dan anaknya sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupannya. Pemazmur dalam kesaksiannya di Mazmur 13 mengungkapkan keyakinan akan pertolongan Tuhan; ia tetap percaya pada Allah dan bersorak-sorak kepada Allah karena penyelamatanNya. Allah selalu tepat dan tidak pernah terlambat menyediakan pertolongan bagi kita. Allah memelihara kita secara ajaib. Kedua, dalam Roma 6:12-23 Allah dalam Yesus Kristus menyediakan jalan keselamatan, jalan pengampunan dosa, jalan dimana kita dapat hidup bersama dengan Allah di sorga. Manusia membutuhkan pengampunan dosa, manusia membutuhkan jalan keselamatan, manusia membutuhkan relasi yang akrab dengan Allah. Yesus Kristus telah menyediakan semua kebutuhan itu.

Bagi kita yang telah menerima pertolongan Tuhan, ada tugas dan tanggung jawab yang harus kita lakukan.
Pertama, bacaan Roma 6:12-23 mengingatkan kita yang telah menerima pengampunan dosa, penebusan dosa dan keselamatan dalam Yesus Kristus jangan hidup lagi dalam dosa. Tetapi hidup sebagai orang-orang yang merdeka, sebagai hamba-hamba Allah; melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah sebagai tuan kita. Kehidupan yang mendatangkan damai sejahtera, kerukunan, saling memberkati dan memberikan kelegaan bagi sesama dll.

Kedua, sesuai dengan bacaan Matius 10:40-42 tugas dan tanggungjawab kita adalah melaksanakan tugas pengutusan, yaitu tugas mewartakan kabar baik, Injil Yesus Kristus yang mendatangkan pengampunan dosa, kemerdekaan dan keselamatan bagi manusia yang mau menyambutnya. Bagi yang melaksanakan tugas pengutusan akan mendapatkan upahnya dari Sang Pengutus. Bagi yang menyambut orang utusan ia akan mendapatkan upahnya. Ketiga, untuk melaksanakan tugas pengutusan itu kita harus bergantung sepenuhnya kepada Sang Pengutus, tidak bergantung kepada siapapun. Para utusan tidak perlu membawa bekal, tujuannya supaya mereka sungguh bergantung sepenuhnya kepada pemeliharaan Tuhan. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk menjalani kehidupan ini dengan iman.
Rdls

 

22 Juni 2014
"Tuhan Menolong Mereka yang Tertindas "
Kej. 21:8-21; Mzm. 86:1-10, 16-17; Rom. 6:1-11; Mat. 10:24-39

Dunia menempatkan orang-orang dari golongan terpandang, kaum jetset yang hampir memiliki segalanya di tempat-tempat istimewa, cenderung memandang rendah kaum papa yang hanya memiliki diri mereka sendiri. Cara pandang ini bisa mempengaruhi siapapun, termasuk orang Kristen. Orang-orang sering lupa bahwa kita tidak boleh membeda-bedakan orang karena perbedaan yang dimilikinya. Pembedaan itu akan menimbulkan penindasan dan penderitaan terhadap mereka yang lemah. Pandangan dunia tentu berbeda dengan cara pandang Allah. Jika manusia melihat rupa tetapi Tuhan melihat hati. (1 Samuel 16 :7). Bagi mereka yg tertindas, menderita, lemah dan terabaikan, Allah hadir untuk menolong mereka.
Ingat cerita Hagar? Ketika ia tertindas dan melarikan diri, siapakah yang mencarinya? Allahlah yang mencari dia. Seringkali dalam pandangan kita, Hagar hanyalah seorang budak yang kemudian melahirkan Ismael dan sebuah agama besar lain. Sosok yang hina, terbuang dan tertindas. Tetapi inilah rahasia dan kenyataan yang luar biasa. Adalah Allah sendiri yang memperhatikan penderitaan Hagar dan menolongnya ketika ia kehausan dan Ismael hendak mati. Adalah Allah yang bersabda, “Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring.”

Dari kisah ini kita diingatkan dua hal. Yang pertama adalah bahwa kadang ataupun seringkali kita merasa terhina sebagaimana dunia memandang kita dan seringkali kita merasa terbuang karena sistem budaya dan keagamaan yang terjadi. Tetapi satu hal yang pasti bahwa Allah mengasihi orang-orang yang tertindas, menderita dan terbuang. Dunia merendahkan orang yang tertindas, tetapi Allah tetap berbelas kasihan.
Yang kedua, kita diundang Tuhan untuk peduli dan menolong mereka yang tertindas, menderita dan terabaikan. Kita diajak ambil bagian didalam karya Allah di dunia ini yaitu menyelamatkan dunia ini melalui kehadiran kita untuk peduli dan menolong mereka yang tertindas, dan tidak menjadi yang penindas bagi yang lemah dan menderita. Tuhan memberkati.
DS

     

15 Juni 2014
" Inspirasi dari Allah Trinitas Yang Mencipta–Menyelamatkan – Memelihara "
Kejadian 1:1-5,26-31; Mazmur 8; 2 Korintus 12:13-14; Matius 28:16-20

Ada yang terinspirasi untuk membuat lampion dari kulit jagung. Padahal kulit jagung biasanya hanya untuk makanan kambing atau malah dibuang ke tempat sampah. Pengrajin ini (Dari Klaten–Jawa Tengah) mengalami perubahan nasib, karena inspirasi “kulit jagung“, dan hasil karyanya telah sampai ke Manca Negara. Jika hidup pengrajin lampion itu diubahkah karena inspirasi yang ia peroleh, apalagi jika kita menerima Inspirasi langsung dari Allah.

Hari ini, disaat jemaat memperingati hari Trinitas dan hari Ayah, kita merenungkan inspirasi apa di balik Allah yang berkarya sebagai : Bapa – Anak dan Roh Kudus, Allah Trinitas ? Beberapa hal ini kiranya dapat bermanfaat untuk hidup yang lebih baik di jemaat dan keluarga - bersama ayah yang kita hormati dan kita cintai :

1. HIDUP BENAR – adalah MENYERUPA ALLAH. Sebagaimana manusia diciptakan sebagai GAMBAR Allah (Kej 1:26). Hal ini mendorong kita untuk kreatif – hidup penuh kasih – dan peduli memelihara hidup yang berkenan.

2. SETIAP ORANG DIUNDANG MENJADI KELUARGA ALLAH – “... Baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus (Matius 28:19b-20). Pembawa undangan yang benar – adalah pelayan yang baik dari rumah tangga Allah; Penuh kasih dan berhati seperti :
• Seorang ayah dimana anaknya yakin kasih Bapa yang penuh padanya. Sehingga anaknya menghargai milik ayahnya seperti miliknya sendiri.
• Seorang anak yang setia pada Bapa. Sikap yang siap memberikan hidupnya – berkorban dalam kasih demi terwujudnya keselamatan
• Siap mendampingi seperti penyertaan Roh Kudus, agar orang yang di “titipkan” Tuhan (kepadanya) tahu bagaimana hidup benar.

3. KARYA BERSAMA KARYA TERBAIK.
Pada anak kalimat “… baiklah Kita menciptakan manusia sesuai dengan gambar dan rupa Kita…” (Kej 1:26), Allah adalah KITA (Bapa, Anak, Roh Kudus), yakni pribadi yang berkarya bersama dengan tujuan karya cipta yang sangat baik. Inspirasi ini mengubahkan kita untuk menjauhi sikap otoriter - memaksakan kehendak, suka menjadikan diri sendiri sebagai pusat (egosentris). Allah adalah KITA, mengajar jemaatNya untuk demokratis, suka melibatkan, dan menerima kepelbagaian. Siap bersehati sepikir, dalam satu kasih“ (2 Kor 12:13-14)

4. KARYA TERBAIK – adalah BELARASA PADA YANG LEMAH. Yakni ketika kita tidak hanya sibuk dengan urusan kita sendiri-sendiri, tetapi mengingat mereka yang lemah dan tak berdaya. Maka pada saat seperti itulah - Allah dimuliakan. Seperti yang dirasakan pemazmur ketika ia mendapat belarasa karena “diingat” Allah, sehingga mengungkapkan perasaan hatinya yang terdalam :“Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya ? … Ya Tuhan, Tuhan kami betapa mulianya namaMu di seluruh bumi!” ( Mazmur 8:5, 10). Amin.
PKM

 

8 Juni 2014
"DIUTUS DAN DIMAMPUKAN UNTUK BERSAMA MENJADI SAKSI"
Bil. 11:24-30; Maz. 104:24-35; 1 Kor. 12:3-13; Yoh. 20:19-23

Menjadi saksi menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah orang yang melihat atau mengetahui sendiri sesuatu kejadian. Padahal peristiwa penyelamatan manusia oleh Yesus Kristus terjadi sekitar 2000 tahun yang lalu, jadi kita bukanlah saksi kejadian melainkan saksi iman atau menyaksikan sebagai keyakinan atau iman percaya bahwasannya peristiwa itu pernah terjadi dan kita sebagai pengikut Yesus Kristus diutus dan dimampukan untuk bersama menjadi saksiNya, dengan tujuan :

1. Mengajak sesama manusia untuk menghayati bahwa peristiwa Pentakosta adalah peristiwa dimana manusia dipercaya untuk menjadi saksi Kristus.
2. Mengajak sesama manusia bahwasanya setiap kita dipanggil bersama-sama dalam keragaman hidup atas kasih karuniaNya.
3. Mengajak sesama manusia untuk melihat dan mempergunakan kasih karunia Roh yang ada dalam diri setiap kita untuk menyiarkan karya keselamatan Yesus Kristus dalam tata cara kehidupan yang baik dan berkenan dihadapan Allah.

Kiranya setiap kita dimampukan dan diubahkan dari kondisi yang tidak baik menjadi baik atau dari kondisi yang baik menjadi lebih baik lagi atau dari pemahaman yang mustahil menjadi tidak mustahil bagi Roh Allah yang membimbing setiap kita dalam bersaksi di kehidupan sehari-hari kepada sesama manusia, Amin. BHS

     

1 Juni 2014
"Ditinggikan oleh Tangan Tuhan yang Kuat"
Kis. 1:6-14; Mzm. 68:1-10, 32-35; 1 Petr. 4:12-14, 5:6-11; Yoh. 17:1-11

Sebuah peribahasa mengatakan “Putuslah Ranting Tempat Bergantung, Terbanglah Tanah Tempat Berpijak”. Peribahasa ini sering digunakan untuk orang-orang yang kehilangan pegangan hidup. Sikap demikian – tentu saja – membuat yang bersangkutan kehilangan pengharapan. Proses dan pasca kenaikan Tuhan Yesus ke sorga menimbulkan kegelisahan para murid. Mereka seolah-olah kehilangan pegangan hidup mereka. Mereka seperti orang yang terpuruk dan yang berada dalam kondisi yang paling rendah. Namun situasi tersebut, justru digunakan Tuhan Yesus untuk menggugah para murid dalam kehidupan yang beriman pada sebuah kepastian keyakinan bahwa mereka tetap berada dalam ‘cengkeraman’ anugerah-Nya.

Kata “ditinggikan” dalam tema kotbah saat ini mengindikasikan adanya posisi yang “rendah” yang yang dihadapi manusia. Tanpa harus diperdebatkan, kerendahan dalam frasa ini tentu dimaksudkan pada posisi manusia yang telah berdosa, yang hendak ‘diangkat’ Tuhan dari kerendahannya. Harap dipahami bahwa posisi rendah dalam kondisi ini bukanlah sebuah kondisi “rendah hati” atau “rendah diri” , melainkan keadaan manusia yang terpuruk, dijerat dorongan emosi tak terkendali, dan membutuhkan topangan Tuhan untuk keluar atau mampu mengendalikan diri dari tekanan emosi dan nafsu. Sehingga emosi dan nafsu yang dipercayakan Tuhan menjadi anugerah besar sebagai landasan hidup, bukan menjadi ajang pemuasan diri. Mengendalikan diri menjadi sebuah pergumulan yang sangat berat dalam hidup manusia. Apalagi ketika pengendalian diri itu berhubungan dengan kuasa atau kekuasaan. Sebagaimana kita ketahui melalui berbagai media, penyelewengan kekuasaan bukan saja telah merambah ranah politik, tetapi juga memasuki gereja.

Manusia yang dipercaya Tuhan untuk menggunakan kuasanya cenderung untuk menyelewengkannya. Kuasa yang seharusnya menjadi sarana kemuliaan-Nya justru menjadi ajang kebanggaan dan pemuasan diri semata. Di sinilah manusia ditantang untuk bertarung melawan godaan, antara bersandar pada anugerah Tuhan atau mewujudkan pemuasan diri yang justru semakin memperburuk keberadaan manusia.

Dalam pandangan Steven McCornack (Reflect and Relate), situasi manusia dalam kondisi pemuasan diri merupakan violence conflict. Mengapa demikian? Karena pemuasan diri dalm kekuasaan bukan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan martabat hidup manusia, melainkan menjadi sarana pemenuhan kepentingan diri. Padahal, kuasa yang Allah hadirkan justru dimaksudkan sebagai sarana untuk meninggikan nilai (value) dan martabat manusia. Inilah pesan dari tema minggu ini, yakni ajakan kepada manusia untuk menilik secara mendalam nilai dan martabat kemanusiaan yang terbebas dari cengkeraman kuasa iblis, yang sering mewujud dalam gelombang pemuasan diri.
DP ed

 

25 Mei 2014
RAJIN BERBUAT BAIK
Kis. 17:22-31; Maz. 66:8-20; 1 Petr. 3:13-22; Yoh. 14:15-21

Allah merancang manusia untuk mengasihi, menyembah dan memuliakan Allah. (Yoh. 14:15,21). Ia hendak menumbuhkan manusia menjadi murni, sehingga layak masuk ke dalam rumahNya (Maz 66:10,13). Kita datang ke hadiratnya membawa persembahan berkat yang sudah kita terima (Maz. 66:15). Dan persembahan yang Ia inginkan adalah menuruti perintahNya untuk mengasihi, menyembah, dan memuliakan Allah. Memang semua manusia mencari kebahagiaan. Orang Atena percaya dengan penyembahan kepada Allah untuk kebahagiaan mereka. Untuk itu mereka juga mendirikan mezbah memberikan persembahan. Mereka rajin memberi makan para dewa dengan harapan dewa akan membalas memberikan semua yang mereka inginkan (Kis. 17:22-31).

Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa kebahagiaan yang sejati terjadi apabila kita hidup menurut rancangan Allah, yaitu mengasihi Nya. Mengasihi Allah berarti melakukan perintahNya seturut dengan Roh Kebenaran. Kebahagiaan datang saat kita rajin melakukan perbuatan yang baik dan benar. Kasih kita pada Yesus kita perlihatkan dengan rajin berbuat baik sesuai perintahNya.
Bahkan sekalipun kita harus menderita juga karena kebenaran kita akan berbahagia (I Pet. 3:14). Seperti Nuh yang sabar menurut kehendak Allah, meskipun bertentangan dengan hikmat dunia, ia akhirnya diselamatkan dan berbahagia oleh kebenaran Allah.

Bagaimana kita yang lemah ini sanggup melakukannya? Bagaimana kita tahan mengahdapi kekeliruan hikmat dunia? Bapa kita mengaruniakan Roh Kudus, Roh Kebenaran, yang akan menolong kita (Yoh. 14:16). Roh ini akan menyalakan semangat kita untuk rajin berbuat baik. Kita harus bertumbuh sehingga kita semakin mampu untuk menjalankan tugas kita itu. Dengan rajin berbuat baik maka kita semakin kuat dalam menjalankan tugas kita. Jadi kita tidak berbuat baik agar Allah mengganjar kita dengan semua keinginan kita. Tetapi kita rajin berbuat baik karena itu tanda Roh Kebenaran menyala dalam hati kita. Kita akan diberkati dengan kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan yang datang karena manusia hidup sesuai dengan rancangan Allah.
Armein Z.R. Langi

     

18 Mei 2014
"IMAN YANG DITANAM SEJAK MASIH TUNAS"
Kel. 3 : 1-10; Mazmur 31 : 1-5, 15-16; 1 Petrus 2 : 2-10; Lukas 2 : 47-52

Sebagai orangtua, siapa yang pernah tahu akan seperti apa anak-anak kita kelak? Begitu juga dengan orangtua Musa; mereka tidak pernah menduga bahwa suatu saat Tuhan memanggil Musa menjadi utusan-Nya, untuk membawa umat-Nya, orang Israel, keluar dari perbudakan di Mesir (Kel. 3:1-10). Musa dilahirkan disaat bangsanya diperbudak, situasi dan kondisinya tidak aman, seperti adanya ancaman pembunuhan dari Firaun. Musa diselamatkan Tuhan dengan dihanyut kan di sungai Nil dan “diangkat dari air” oleh puteri Firaun. Tuhan masih memberi kesempatan ibu kandung Musa (Yokebet), untuk mengasuhnya walaupun setelah itu (masa kanak-kanaknya) ia terpaksa berpisah dengan orangtuanya. Didikan orang tuanya, dan hikmat Tuhan menjadi kan kasihnya pada Tuhan dan bangsanya bertumbuh. Musa terpanggil untuk lebih memilih (Tuhan) menyelamatkan / membebaskan bangsanya daripada menjadi pejabat di istana Firaun. Melalui kesulitan yang dialami dirinya dan bangsanya, seiring dengan bertambah usianya, Musa banyak belajar akan kesetiaan dan kasih Allah. Iman yang diwariskan / diajarkan orangtuanya dan dari keturunan-keturunan sebelumnya (ayat 6) membawa Musa untuk belajar setia di dalam jalan Tuhan.

Tuhan Yesus menjadi teladan anak yang bertumbuh dalam iman yang ditanam sejak masih tunas, sehingga Ia makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besarnya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia (Luk. 2:47-52). Pasti ini menjadi kerinduan setiap orangtua yang mengasihi anak-anaknya dan menaruh pengharapan hanya kepada Tuhan Yesus, yang adalah jalan, kebenaran dan hidup.

Tuhan tidak menjanjikan jalan tanpa hambatan bagi anak-anakNya, tapi penyertaan di setiap jalan yang harus dilalui. Seperti juga Daud, mengalami perlawanan karena musuh2nya dan orang-orang yang mengejarnya (Maz. 31:1-5; 15-16), tetapi ia tetap percaya kepada Tuhan, karena bagi Daud Tuhan adalah :
- Bukit batu dan pertahanan; Ia seperti seorang bapa yang menuntun dan membimbing anaknya ke jalan yang benar
- Tempat perlindungan, sekalipun dalam kondisi tidak aman, kasih setia-Nya yang besar dapat senantiasa diandalkan
- Pembebas umat. Ia memberikan pembebasan yang utuh berupa keselamatan jiwa, sehingga umat dapat menjalani hidup dengan bermakna dan berharga.

Tuhan Yesus adalah batu penjuru bagi orang yang percaya kepada-Nya (1 Pet. 2 : 2-10). Sebagaimana bangunan memerlukan satu penjuru yang akan menjadi titik pusat (penopang) dari seluruh bangunan itu, begitulah hidup setiap orang Kristen, harus dipusatkan pada Tuhan Yesus. Setiap orang, termasuk anak-anak, harus belajar dan bertumbuh dalam iman kepada Tuhan Yesus dalam segala hal kehidupan mereka, tidak tergantung kepada orang lain, termasuk kepada orangtua mereka. Iman yang bertumbuh akan nampak dalam kehidupan orang yang memusatkan hidupnya kepada Tuhan Yesus, yaitu melalui tindakan mereka yang menyatakan perbuatan-perbuatan besar Allah dalam kehidupannya. Selamat mewariskan iman kepada anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Semoga anak-anak kita terus bertumbuh imannya dan tetap setia pada Tuhan ketika menghadapi setiap ujian dalam hidupnya. Amin.
ESS

 

11 Mei 2014
"HIDUP BARU DALAM ASUHAN SANG GEMBALA AGUNG"
Kisah Para Rasul 2 :42-47; Mazmur 23; I Petrus 2:19-25; Yohanes 10:1-10

Sebagai komunitas baru di tengah masyarakat Yahudi, jemaat Kristen perdana menampilkan wujud kehidupan yang simpatik. Sebuah kehidupan yang berbeda dengan kehidupan warga masyarakat pada umumnya. Disebutkan, bahwa komunitas Kristen itu menampakkan ciri-cirinya sebagai berikut : bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam persekutuan, mereka memecahkan roti perjamuan kudus dan berdoa. Juga mereka bersatu dengan berkumpul dan tidak memermasalahkan kepemilikan materi mereka, tetapi rela berbagi. Bahkan secara bergilir, mereka makan bersama dengan gembira dan tulus hati dalam suasana memuji Allah. Akibatnya, komunitas Kristen perdana itu disukai semua orang. Itulah hidup baru dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus, Sang Gembala Agung.

Bagaimana figur Sang Gembala Agung? Baik dari Mazmur 23, maupun dari Yohanes 10, kita mendapat gambaran, bahwa Sang Gembala Agung itu benar-benar menjamin keselamatan jasmani dan rohani para `domba’-Nya. Betapa tidak, kesaksian Daud menunjukkan hal itu, sehingga ia merasa aman dalam asuhan-Nya. Begitu pula Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai gembala yang baik dengan kriteria bersedia menjaga kawanan domba-Nya dengan memertaruhkan nyawa-Nya. Ia mengenal nama para domba-Nya, berkenan menuntun mereka, melindungi mereka, bahkan memberi mereka hidup yang berkelimpahan. Jika disinggung, bahwa Ia adalah pintu, maka pintu yang dimaksudkan adalah pintu kandang domba, sehingga siapa dan apa pun yang akan masuk dan keluar kandang domba itu, pasti tidak lolos dari pengawasan-Nya.

Berikutnya, kesediaan Tuhan Yesus menjadi Gembala kawanan domba yakni jemaat para orang percaya yang adalah milik-Nya, dilaksanakan sampai tuntas dengan pengorbanan diri-Nya di kayu salib. Pengalaman-Nya sebagai penjamin keselamatan para pengikut-Nya, menjadi teladan bagi mereka untuk menderita dan berkorban, kendati sebenarnya bukan menjadi tanggungan mereka.

Maka inti dari berita firman Allah pada hari ini adalah, bahwa semua penderitaan yang harus dialami oleh para pengikut Tuhan Yesus, sudah masuk dalam penjaminan-Nya. Pada akhirnya, keteladanan-Nya untuk menanggung beban demi kesejahteraan jasmani dan rohani para domba, merupakan wujud asuhan Sang Gembala Agung. Ekstremnya, hal ini paralel dengan Matius 10:28, bahwa Allah yang Mahakuasa punya kelebihan terhadap kekuasaan apa pun yang ada di dunia ini. Oleh sebab itu, laksanakan hidup baru dalam asuhan-Nya! Amin. .
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

     

4 Mei 2014
"Iman yang Membalas Keselamatan dari Tuhan"
Kis. 2:14, 36-41; Mzm. 116:1-4, 12-19; 1 Petr. 1:17-23; Luk. 24:13-35

Peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang baru saja kita peringati adalah jalan yang Allah sediakan bagi manusia untuk memperoleh pengampunan dosa, memperoleh keselamatan dan memperoleh hubungan yang harmonis dengan Allah. Persoalannya adalah pada diri manusia itu sendiri; apakah manusia menyambut tawaran Allah itu atau tidak. Peristiwa hari Pentakosta yang diceritakan dalam Kisah Para Rasul 2 memberikan pembelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Ketika rasul Petrus memberitakan tentang peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus dan semua kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu menjadi Tuhan dan Kristus/ Juruselamat. Respon yang terjadi pada waktu itu adalah: Apakah yang harus kami perbuat?

Petrus menjelaskan apa yang harus diperbuat oleh para pendengar adalah:
Pertama, Bertobat dan berilah dirimu dibaptis. Bertobat berarti menyadari kesalahannya, mengakuinya dan berbalik arah yang benar (Yunani / metanoeo) dan (Ibrani adalah syuv yang berarti berbalik ke arah yang seharusnya) Pertobatan adalah syarat mutlak bagi setiap pengikut Kristus. Kehidupan iman pada Kristus tanpa pertobatan adalah iman yang semu, munafik dan seperti kuburan yang kelihatan indah tetapi isinya penuh tulang belulang. Sedangkan baptisan adalah lambang/ meterai bahwa kita telah bertobat dan menjadi anak-anak Allah/ keluarga Allah.
Kedua, adalah berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini ayat 40. Angkatan jahat dalam bahasa Yunani adalah skoleos yang berarti tidak jujur, tidak tulus, tidak lurus dan jahat. Jika kita hubungkan dengan konteks kehidupan keagamaan orang-orang Yahudi pada saat itu, maka kata skoleos berarti kehidupan keagamaan yang sangat formal, tidak manusiawi, dan penuh kemunafikan, serta penuh pamrih dan egois.

Jika kita hubungkan dengan kehidupan sosial ekonomi pada saat itu, maka skoleos berarti menunjuk pada kehidupan yang hedonis, yang hanya mencari kepuasan dan kenikmatan duniawi. Dengan demikian angkatan jahat yang Petrus maksudkan adalah para pendengar untuk sungguh membuang kehidupan keagamaan yang penuh dengan formalitas dan kemunafikan, dan juga membuang segala macam bentuk kepuasan dan kenikmatan duniawi.

Bagaimana respon kita terhadap peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus yang diberitakan oleh para murid, secara khusus yang disampaikan oleh Petrus? Jangan sampai terjadi seperti yang dialami oleh dua murid Yesus yang sedang melakukan perjalanan ke Emaus. Mereka sangat lamban untuk merespon peristiwa kebangkitan Yesus, sehingga Yesus mengecam sikap mereka.

Jangan sampai terjadi juga kita sudah sekian kali memperingati peristiwa Paskah, bahkan Jumat Agung melalui Perjamuan Kudus yang kita ikuti, namun kita tidak pernah mengalami pertobatan yang sesungguhnya kepada Tuhan. Kita tidak mengalami pertumbuhan iman, kita tidak mengalami perubahan hidup, dan kita tidak pernah mengalami perubahan karakter. Iman tanpa perbuatan adalah mati dan kosong. Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk merespons peristiwa Paskah secara benar, yaitu memberi diri kita untuk diperbaharui. Amin.
Rds

 

27 April 2014
"IMAN YANG BERJUMPA DENGAN KRISTUS YANG BANGKIT"
Kis. 2:14, 22-32; Mzm. 16; 1 Ptr. 1:3-9; Yoh. 20:19-31

Seseorang yang kelihatannya religius, rajin beribadah, dan sering menyebut nama Kristus dalam hampir setiap ucapannya, bisa saja mempunyai perilaku yang menjadi batu sandungan bagi orang lain. Apakah yang menjadi penyebabnya? Beriman kepada Tuhan Yesus bukan hanya karena terlahir sebagai orang Kristen, atau karena pemberitaan Injil saja, melainkan terkait erat dengan ketaatan, kesetiaan dan kasih kepada Tuhan dan sesama. Setiap orang yang beriman kepada Tuhan Yesus harus mengalami perjumpaan dengan Kristus secara pribadi, berproses secara terus menerus, sehingga imannya semakin dewasa, dan kuat mengakar.

Setelah peristiwa penyaliban Tuhan Yesus, para murid mengalami masa-masa yang suram, karena mereka merasa kecewa, putus asa, cemas, takut, karena Yesus -yang mereka harapkan menjadi raja- telah mati disalib, dan sebagai pengikut-Nya mereka merasa terancam hidupnya. Tetapi ketika mereka berjumpa secara fisik dengan Tuhan Yesus yang bangkit, mereka mengalami perubahan hidup yang luar biasa. Mereka menjadi berani, dan bersaksi kepada banyak orang, bahwa Yesus adalah Mesias (Kis. 2:14, 22-32). Demikian juga Saulus yang berjumpa dengan Kristus dalam peristiwa Damsyik, mengalami titik balik perubahan hidup hingga ia menjadi Paulus sang Rasul. Raja Daud juga mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Ia banyak mengalami ancaman dan pengkhianatan, namun ia tetap dapat merasakan kebaikan Allah dalam hidupnya, karena ia senantiasa mendekatkan diri dan mengalami perjumpaan dengan Tuhan, serta mencari didikan Tuhan melalui hati nuraninya (Mzm. 16).

Walau menghadapi segala kesulitan, kita dapat terus bersyukur dan bergembira, karena kita mempunyai Allah yang hidup, Allah yang sangat berkuasa atas segala apapun, Allah yang berdaulat atas kehidupan. Kita sudah mencapai tujuan iman kita, yaitu kehidupan yang kekal, kehidupan yang baru di dalam Kristus, mempunyai harapan untuk bangkit dari keterpurukan, menjalani kehidupan dengan kekuatan yang dari Tuhan. Kita sekarang tidak melihat Tuhan Yesus secara fisik, tapi bisa merasakan kehadiran-Nya di dalam hidup kita, karena Ia senantiasa hadir bagi orang yang percaya kepada Dia dan mengasihi-Nya (1 Ptr. 1: 3-9). Kehadiran-Nya mengubah kegelapan menjadi terang, ketakutan menjadi sukacita dan damai sejahtera. Kita diperlengkapi oleh Roh Kudus untuk menjadi utusan dan saksi Kristus, agar makin banyak orang yang menjadi percaya kepada-Nya (Yoh. 20:19-31).

Dalam masa-masa Paskah ini, kita mau mengingat Kristus yang bangkit. Tetap hidup dalam kasih-Nya, memelihara iman, dan menghayatinya dalam kehidupan. Tetap memiliki kekuatan dan pengharapan, walau kesulitan dan penderitaan silih berganti. Setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita menjadi sebuah proses yang semakin mendewasakan iman dan cara pandang kita terhadap Tuhan, hidup, sesama, dan diri sendiri. Marilah kita memberi kesaksian yang sungguh-sungguh, sehingga semakin banyak orang yang berjumpa dengan Kristus yang bangkit, mengalami Kristus, menikmati dan mensyukuri hidupnya.
Nancy Hendranata

     

20 April 2014
"BANGKIT DENGAN HIDUP YANG BARU"
Kej. 1:1-5;2:1-4, Maz. 136:1-9, 23-26, Rom. 6:3-11, Mat. 28:1-10

Ciptaan Allah pada hari pertama adalah menjadikan "Terang" yang memisahkan "gelap". Gelap melambangkan kematian dan Terang melambangkan kebangkitan.

Pada bacaan Injil Matius 28:1-10, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap Maria Magdalena, Maria yang lain dan Salome (Markus 16:1) pergi ke kubur Yesus dengan sikap hati yang sedih karena percaya bahwa Yesus sudah mati; dengan membawa rempah-rempah dan minyak untuk mengharumkan jasad Yesus. Mereka sudah kehilangan iman akan perkataan Yesus yang akan bangkit di hari yang ketiga. Ternyata mereka menjadi saksi pertama atas kebangkitan Yesus, batu pintu kubur dibuka oleh malaikat yang bersinar terang, kubur kosong, dan mereka berjumpa dengan Yesus yang bangkit, mereka menyembahnya sebagai Tuhan, memberi damai dan sukacita yang besar, dan mereka diminta untuk mengabarkan tentang kebangkitanNya kepada murid-murid yang lain. Kebangkitan Yesus mengubah hidup para wanita ini dari duka cita menjadi sukacita, ketakutan menjadi keberanian memberitakan KebangkitanNya, dari suasana kegelapan melihat terang KebangkitanNya.

Banyak orang Kristen yang percaya atas kematian Yesus di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Tetapi banyak juga yang meragukan kebangkitanNya. Kisah penyaliban Yesus dapat kita peringati (di hari Jum'at Agung) dengan mengharu birukan perasaan kita, tetapi apa arti KebangkitanNya yang merupakan kenyataan bagi hidup kita? KebangkitanNya adalah satu-satunya bukti bahwa Yesus adalah Tuhan, yang harus disembah. (perempuan-perempuan itu menyembah Yesus yang bangkit).

Bukti bahwa kita sebagai orang Kristen yang lebih percaya tentang kematianNya (kegelapan) dari pada KebangkitanNya (Terang Tuhan), adalah iman yang byar-pet (gelap-terang), iman yang naik turun tidak berkemenangan. Hidup kita tidak mengalami perubahan menjadi "hidup baru" yang bermakna dan memuliakan Tuhan. Roma 6:5 Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.

Roma 6:9-10; Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.

Apakah kebangkitanNya sudah mengubah hidup kita bagi kemuliaan Allah dalam Kristus, atau masih sering mempermalukan Tuhan? atau menjadi batu sandungan bagi sesama kita ? Sambutlah kebangkitanNya dalam hidupmu, itulah "hidup baru" dalam Tuhan Yesus. Amin “Selamat Paskah 2014, sebab Dia Hidup !”
tonny iskandar

 

13 April 2014
"AKULAH SANG PEMENANG"
Yes. 50:4-9; Maz. 31:9-16; Flp. 2:5-11; Mat. 21:1-11

Bagi penduduk kota Filipi sebagai kota koloni Romawi adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan yang besar. Mereka sangat antusias menerima budaya, agama dan nilai-nilai hidup bangsa Romawi menjadi bagian penting dalam meningkatkan status sosial mereka. Bentuk kebanggaan tersebut dinyatakan melalui kegunaan bahasa Romawi, pemakaian gelar-gelar Romawi oleh para pejabat pemerintah dll. Sebagai miniature Roma, maka cara pandang orang-orang Romawi ikut mempengaruhi kehidupan masyarakat Filipi. Nilai yang paling mencolok adalah sikap hidup yang mengejar kehormatan. Untuk mendapatkan kehormatan dilakukan dengan cara menaikan status sosial dan kedudukannya di tengah masyarakat. Peningkatan status soasil didapatkan dengan mengejar prestasi yang diakui oleh pemerintah Romawi. Semakin tinggi status soasilnya semakin tinggi penghormatan yang ia dapatkan. Nilai kehidupan seperti inilah yang sangat mempengaruhi kehidupan jemaat di Filipi. Anggota jemaat juga saling mengejar dan memperebutkan kehormatan dan posisi/ jabatan dengan cara merendahkan orang lain dan menganggap diri lebih utama/ hebat. Mereka berlomba untuk meninggikan diri satu di atas yang lain. Itulah sebabnya rasul Paulus memberikan nasehat kepada jemaat Filipi untuk meneladani kehidupan Yesus Kristus yang merendahkan diriNya serendah-rendahnya sebagai hamba dan taat sampai mati di atas kayu salib. Yesus Kristus rela melepaskan status kemuliaanNya, kehormatanNya, kedudukanNya sebagai Allah menjadi manusia hamba. Rasul Paulus mengajar kepada jemaat supaya jemaat memiliki keberanian dan kerelaan hati untuk melepaskan hak sebagaimana Tuhan Yesus melepaskan kesetaraanNya dengan Allah. Kata kesetaraan tentunya penting untuk dimaknai dalam konteks jemaat Filipi. Bagi masyarakat di kota Filipi kesetaraan menunjukkan pada status dan hak yang sama.

Sebagai contoh, orang Filipi merasa bangga apabila memiliki status kewarganegaraan Romawi. Kesetaraan sebagai warga negara Romawi akan berimbas pada status dan hak mereka, baik secara politik, ekonomi maupun sosial. Melalui kesetaraan ini kehidupan mereka akan mendapat jaminan yang utuh. Tidak heran kalau mereka berjuang mengejar kesetaraan itu.

Oleh karena itu dapat dipahami mengapa kepada jemaat Filipi Paulus mengatakan ..” yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.” Melalui nasehat ini Paulus mau menunjukkan bahwa Tuhan Yesus yang sudah memiliki kemuliaan dan kehormatan yang besar, dan berhak untuk mendapatkan penghormatan dan kemuliaan itu ketika berada dalam dunia ini, justru melepaskan hakNya demi sebuah keselamatan bagi manusia berdosa.

Dalam hal tersebut jemaat Filipi didorong untuk meneladani sikap Tuhan Yesus. Ia tidak mengejar kemuliaan dan kehormatan, melainkan melepaskan hak kemuliaan dan kehormatan. Jemaat diajak untuk hidup tidak semata-mata untuk dirinya sendiri tetapi juga panggilan untuk keselamatan bagi orang lain. Setiap jemaat di Filipi diajak untuk bertanggung jawab akan kehidupan orang lain. Ketika kita ikut bertanggung jawab atas hidup orang lain pada saat itulah kita melapaskan hak kemudian kita memperolah kemuliaan dan kehormatan dari Allah. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia karena Dia relah merendahkan diriNya, melepaskan hakNya. Kemenangan terbesar adalah ketika kita rela merendahkan diri dan melepaskan haknya untuk orang lain. Tuhan Yesus berkata: “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, tetapi barangsiapa merendahkan dirinya ia akan ditinggikan.

Kehormatan dan kemuliaan didapat bukan karena status atau jabatan yang melekat pada dirinya, melainkan melalui pelayanan kepada sesama. Pelayanan kepada sesama adalah bentuk spiritualitas yang meneladani Tuhan Yesus, yaitu spiritualitas yang merendahkan diri bukan meninggikan diri. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk memiliki spiritualitas yang merendahkan diri, bukan meninggikan diri. Amin.
RDS

     

6 April 2014
"Akulah Kebangkitan dan Hidup"
Yeh. 37:1-14; Mzm. 130; Rom. 8:6-11; Yoh. 11:1-17, 33-45

Dalam kitab Yehezkiel diceritakan di sana bahwa kehancuran Bait Allah dan penderitaan yang dialami bangsa Israel pada masa perbudakan bangsa Babel membuat bangsa tersebut kehilangan harapan. Mereka putus asa dan seakan-akan Allah pun tidak akan mampu menolongnya. Dalam keputusasaannya yang sedemikian parahnya, bangsa Israel digambarkan seperti tulang-tulang kering (Yeh. 37:4). Israel bagaikan mayat-mayat hidup, mereka hidup tetapi tidak punya jiwa. Hidup mereka tidak lagi diisi dengan kehidupan yang bergaul dengan Allah. Karena itu hidup yang mereka jalani menjadi serupa dengan bangsa yang tidak mengenal Allah. Namun Allah tetap setia meski bangsa Israel tidak setia, Allah akan menghidupkan mereka kembali (5). Dan Allah juga berjanji akan mengembalikan mereka ke tanah asalnya (14). Allahlah yang membangkitkan dan menghidupkan bangsa Israel menjadi bangsa yang mempunyai hidup lebih bermakna dan lebih baik. Allahlah yang senantiasa memulai perubahan hidup yang lebih baik untuk setiap umat yang mau menyambut kasih, kemurahan dan kesetiaan Allah.

Dengan melihat Allah yang bertindak demikian bagi bangsa Israel, kita diajak juga untuk melihat Allah yang membangkitkan dan menghidupkan di dalam kehidupan masing-masing pribadi kita. Kegagalan dan keterpurukan merupakan bagian dari sebuah kehidupan. Mungkin saat ini kita ada dalam kondisi yang sama seperti bangsa Israel, kecewa, tanpa pengharapan dan putus asa.

Karenanya hidup kita mulai jauh dari persekutuan dengan Allah. Jauh dari persekutuan dengan Allah bukan saja hanya diartikan orang tersebut tidak/jarang beribadah atau ke gereja, tetapi itu juga bisa berarti dan terjadi di dalam kehidupan seseorang yang rajin beribadah dan persekutuan.

Berdoa dan beribadah hanya sebagai rutinitas tanpa makna dan tanpa upaya kita untuk berubah, hal itu hanya akan membuatnya terlihat seperti mayat hidup saja. Pergi ke gereja hanya sekedar karena orang Kristen, “karena Kristen ya ke gereja.” Namun meski kita berbuat demikian, Allah tetap masih setia dan terus dengan sabar menanti perubahan dalam hidup kita. Bahkan karena kasihNya, Ia terus menerus mengampuni kita dan berjanji memberi kita kehidupan yang lebih baik. Maka sebagai orang Kristen yang cengli (tahu diri, tahu arti balas budi) yang sudah menerima pengampunan itu, maka sudah sepantasnya kita bangkit dari keterpurukan kita dan kita hidup sesuai dengan apa yang difirmankanNya kepada kita. Hidup untuk mengasihi Allah dan sesama.

Bikin hidup lebih hidup, demikian slogan dari sebuah iklan yang sejatinya kurang tepat untuk dislogankan dalam iklan produk tersebut. Bagaimana mungkin seseorang akan lebih hidup jika orang tersebut mengkonsumsi barang yang di dalamnya ada peringatan pemerintah bahwa hal tersebut akan menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan? Hanya orang (maaf) bodoh saja yang mau terbujuk untuk mengkonsumsi barang tersebut. Slogan yang semestinya untuk barang tersebut adalah bikin hidup bagai mayat hidup (zombie). Mungkin perkataan ini keras, tetapi biarlah hal ini boleh menggugah hati nurani kita untuk kembali merenungkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak sehat dalam diri kita serta apakah masih ada kedegilan dalam hati kita yang senantiasa kita pertahankan karena sejatinya kita tidak mau terbuka dan diubah oleh Allah yang bangkit dan hidup. Jadi hanya Allah saja yang pantas untuk menyandang slogan tersebut, yaitu bikin hidup lebih hidup. Tuhan memberkati.
DS

 

30 Maret 2014
"AKULAH TERANG DUNIA!"
I Samuel 16 : 1-13; Mazmur 23; Efesus 5 : 8-14; Yohanes 9 : 1-23, 37-41

Frances Jane Crosby (Fanny Crosby, 1820 - 1915) adalah seorang tunanetra. Ia tak lagi dapat melihat dengan matanya akibat malpraktik dokter. Kendati demikian, keadilan Tuhan membuka kemungkinan baginya untuk berprestasi dengan karangan dan tulisan yang digunakan dalam penyusunan syair dalam sejumlah nyanyian rohani. Itulah yang diartikan, bahwa ia tak dapat melihat dengan mata jasmaninya, namun dimampukan Tuhan untuk melihat dengan mata rohaninya. Kita bersyukur dapat menyanyikan penghayatan rohaninya itu antara lain melalui NKB 3, 124, 178, 184 dan dari KJ 26, 293, 362, 368, 388, 392, 402, 408. Sangat produktif, kendati matanya tak berfungsi.

Jika kita perhatikan ayat-ayat firman Allah pada hari ini, tahulah kita, bahwa Allah begitu tajam menembus isi hati manusia, sehingga I Sam. 16 : 7 menyatakannya. Kita juga dapat menjumpai betapa Daud dengan mata rohaninya dapat merasakan penggembalaan Allah yang dituangkan dalam Mazmur 23. Menyusul pengakuan rasul Paulus tentang jemaat Efesus yang semula adalah kegelapan itu sendiri, telah diubah menjadi anak-anak terang. Lantas mereka diminta untuk melakukan kebaikan kebenaran, dan keadilan dalam praktik hidup mereka sehari-hari, tentu dengan kriteria Allah. Berikutnya, pengalaman seorang yang buta sejak lahir menunjukkan betapa kuasa Tuhan Yesus membuka kehidupannya dalam gelap, diubah menjadi kehidupan dalam terang. Perkembangan pengakuannya menunjukkan kepada kita, bahwa orang ini benar-benar menghayati tindakan Tuhan Yesus. Awalnya menyatakan `orang yang disebut Yesus’ (ay.11), berkembang menjadi `Ia adalah seorang nabi’ (ay. 17), berlanjut`Ia datang dari Allah’ (33), sampai akhirnya percaya kepada Anak Manusia itu (ay. 35-37).

Hidup dalam terang adalah hakikat kehidupan Kristen, sebab Tuhan Yesus adalah terang dunia. Jika kita mengaku, bahwa kita adalah anak-anak terang, itu berarti kehendak Tuhan Yesuslah yang menjadi pedoman hidup kita. Hal ini juga dikemukakan oleh Thomas a Kempis, yang menulis bukunya berjudul `Imitatio Christi’ (Meniru Kristus).

Kita berharap, bahwa kita semua tak hanya mengakui Tuhan Yesus adalah terang dunia, melainkan menghayati-Nya dalam kehidupan kita masing-masing. Dengan demikian kita pun menjadi saksi kebaikan, kebenaran, dan keadilan-Nya. Semoga kita peka dalam kehidupan Kristen kita, baik dalam berpikir, berkata, maupun berbuat. Lalu sesudah kita bergaul dengan orang lain,