Beranda Tentang GKI Pasteur

Pembinaan Jemaat

Kontemplasi Warta Jemaat

Hubungi Kami

Login
 
 

18 Juni 2017
BERSEDIA DIPILIH DAN DIUTUS
Kel. 19:2-8; Maz. 100, Roma 5:1-8; Mat. 9:35 - 10:8

Tuhan Allah memanggil dan memilih Abraham keluar dari sanak keluarganya dan dari bangsanya menuju ke tanah Kanaan; melalui keturunannya lahirlah bangsa yang besar, yaitu bangsa Israel. Tujuan Allah memanggil dan memilih bangsa Israel adalah supaya mereka menjadi bangsa yang kudus, bangsa yang memuliakan Tuhan; tujuan berikutnya adalah supaya bangsa Israel menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Artinya bangsa Israel memiliki tugas untuk membawa bangsa-bangsa lain memuliakan Tuhan.

Panggilan yang sama juga dilakukan oleh Tuhan Yesus kepada murid-muridNya. Tuhan Yesus memilih dan memanggil para murid dari latarbelakang, karekater dan status sosial yang berbeda-beda untuk menjadi penjala manusia. Sebagian besar latarbelakang para murid dulunya sebagai penjala ikan / nelayan. Panggilan yang sama juga Tuhan tunjukkan kepada gerejaNya kepada kita orang-orang yang percaya, untuk meneruskan pekerjaan apa yang telah Kristus kerjakan selama di dunia, yaitu bagaimana supaya setiap orang yang Dia jumpai menjadi percaya kepada Yesus Kristus yang diutus Allah Bapa ke dalam dunia. Itulah sebabnya Yesus mengajar / memberitakan firman (khotbah di bukit, Matius 5-7); Yesus menyembuhkan orang dari segala penyakit; mengusir roh jahat, membangkitkan orang mati dll, yang tujuannya jelas supaya orang percaya kepada Allah di dalam Yesus Kristus.

Ada beberapa hal penting untuk kita renungkan bersama: Pertama: Tuhan Allah yang telah memanggil dan memilih kita adalah Allah yang berkuasa, yang mengontrol dan pencipta serta pemilik alam semesta ini. Allah yang maha kuasa ini memanggil kita untuk berpartisipasi dalam pekerjaan Tuhan menyelamatkan dunia ini. Kedua: Pilihan dan panggilan Allah kepada kita bukan asal-asalan, Dia tidak pernah salah memilih dan memanggil kita untuk menjadi umatNya, menjadi kawan sekerjaNya dan kita dipilih dan dipanggil oleh Allah secara istimewa. Ketiga: Pentingya merespons dengan hati yang tulus dan sukacita untuk menerima panggilan dan pilihan Tuhan itu, tanpa banyak alasan dan pertimbangan, dan tanpa memikirkan untung dan ruginya atas panggilan Tuhan itu. Keempat: Bersedia melakukan tugas dan tanggungjawab dari panggilan tersebut dengan sukacita dan tulus hati. Tugas dan tanggungjawab dipandang bukan sebagai beban, tetapi sebagai bentuk penghargaan Allah kepada kita; karena Allah memandang kita layak menerima tugas dan tanggungjawab itu. Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk melaksanakan tugas dan panggilan kita sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Tuhan memberkati kita. Amin.
RDS

 
     

11 Juni 2017
PARTISIPASI YANG SEMPURNA
Kej. 1:1-2:4; Maz. 8; 2 Kor. 13:11-13; Mat. 28:16-20

Hari ini adalah Minggu Trinitas atau disebut juga Hari Raya Trinitas Mahakudus, yang dirayakan gereja pada hari Minggu pertama setelah Hari raya Pentakosta. Minggu Trinitas, mengingatkan akan iman kita kepada Allah Trinitas atau Allah Tritunggal, tiga pribadi Allah Yang Maha Esa: Allah Bapa, Allah Putra, Allah Roh Kudus. Kita ungkapkan iman kita dalam doa, ikrar Pengakuan Iman, dan puji-pujian, misalnya lagu pujian dari Kidung Jemaat No.242 MULIAKAN ALLAH BAPA, yang isi syairnya : Muliakan Allah Bapa, muliakan Putra-Nya, muliakan Roh Penghibur, Ketiganya Yang Esa! Haleluya, puji Dia kini dan selamanya!

Allah Tritunggal menciptakan alam semesta, bumi beserta isinya, termasuk manusia. Manusia diciptakan-Nya menurut gambar dan rupa Allah, dan diberi-Nya kuasa untuk mengelola dan merawat seluruh ciptaan-Nya (Kej 1:1- 2:4). Walaupun manusia gagal untuk menaati perintah-Nya, Allah tetap merancangkan keselamatan melalui Allah Putra Tentulah kita yang percaya kepada Allah Tritunggal ini, menyediakan diri kita untuk menerima keselamatan dan kehidupan baru yang ditawarkan Sang Bapa, melalui Anak dan Roh Kudus. Allah menjadikan manusia sebagai makhluk mulia, penguasa seluruh ciptaan, dan mengundang manusia untuk ikut berpartisipasi dalam mewujudkan kemuliaan Allah di dunia. Patutlah kita bersyukur, memuliakan, mengagungkan, dan menjadi saksi tentang karya Allah Trinitas yang sempurna (Mzm 8).

Memang sudah selayaknya bagi kita untuk bersaksi tentang Allah kita kepada orang lain, mengingat perintah Tuhan Yesus kepada para rasul-Nya yang mengatakan : “ Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. “ (Matius 28, 19-20). Karya penciptaan bukan hanya karya Bapa, melainkan juga karya Anak-Roh Kudus.

Karya keselamatan dan penebusan oleh Kristus, adalah juga karya Bapa-Roh Kudus. Pembaruan hidup oleh Roh Kudus adalah juga karya Allah Trinitas. Dalam persekutuan ilahi -Bapa, Anak dan Roh Kudus- kita dapat berpartisipasi dan mengalami kehidupan sejati.
Kita mempunyai tanggung jawab untuk berupaya menjadi sempurna, yaitu membangun komunitas yang memiliki persekutuan kasih yang indah dan harmonis, mengacu pada relasi kasih yang erat antara Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus (2 Kor 13:11-13). Marilah Saudara dan saya merenungkan kembali, apakah kita sudah berpartisipasi dalam menghadirkan keselamatan, damai-sejahtera, keadilan, dan keutuhan seluruh ciptaan? SELAMAT MERAYAKAN HARI TRINITAS! HORMAT BAGI ALLAH BAPA, ANAK, DAN ROH KUDUS
Nancy Hendranata

 

4 Juni 2017
ROH KUDUS MEMULIHKAN DAN MEMPERSATUKAN
Kis. 2:1-21; Maz. 104:24-35; 1 Kor. 12:3-13; Yoh. 20:19-23

Di dalam Perjanjian Lama, Pentakosta atau Shavuot merupakan pesta panen gandum pada hari kelima puluh sejak hari Sabat pertama setelah paskah. Perayaan ini juga disebut sebagai perayaan tujuh pekan karena panen gandum dilakukan pada minggu ketujuh setelah menanamnya pada musim semi. Perayaan ini dirayakan dengan perjamuan dan mengunjungi Yerusalem (Kis. 2:5-11). Perjamuan yang diadakan tersebut disediakan bagi semua orang (Ul. 16:9-11). Selain pesta panen, Pentakosta juga diperingati sebagai hari turunnya Sepuluh Perintah Allah (Hukum Taurat). Dengan demikian, perayaan ini juga dimaknai sebagai perayaan sejarah keselamatan.

Di dalam Perjanjian Baru, Pentakosta menjadi peringatan akan turunnya Roh Kudus. Dalam peristiwa itu, Allah menyatakan diri-Nya dalam bentuk lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap di setiap orang percaya yang hadir pada waktu itu (Kis. 2:3) dan mereka mulai berkata-kata dalam bahasa yang dipakai di negeri asal orang yang mendengarnya tentang perbuatan Allah (Kis. 2:4-11). Fokus utama peristiwa Pentakosta adalah berita tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah dalam karya penebusan Kristus yang memulihkan dan mempersatukan hubungan manusia dengan Allah dan manusia dengan sesamanya. Melalui pencurahan Roh Kudus, orang percaya dimampukan untuk memuliakan Allah dalam kehidupan bersama dengan sesama. Roh Kudus mengubahkan hidupnya. Dari sosok penakut dan pengecut – seperti Petrus – menjadi berani untuk memberitakan kebenaran (Kis. 2:14).

Roh Kudus berperan mengubah murid-murid yang mengalami ketakutan (Yoh. 20:19) menjadikan mereka bersukacita dan berani sebagai utusan Allah yang menyatakan damai sejahtera (Yoh. 20:20-22).

Demikian juga bagi setiap orang yang percaya kepada Yesus termasuk kita saat ini, Roh Kudus yang telah kita terima mengubah hidup kita yang takut dan kuatir menjadi berani memohon ampun dan memberi ampun, sehingga damai sejahtera bisa terwujud dalam hubungan antara sesama.
Menurut Rasul Paulus, Roh Kudus memberi karunia yang berbeda-beda untuk setiap orang percaya (1 Kor. 12:7). Karunia yang berbeda-beda tersebut saling melengkapi satu dengan yang lain (1 Kor. 12:8-11). Dan semua itu bertujuan untuk menyatakan bahwa segala perbuatan ajaib itu dilakukan oleh Allah (1 Kor. 12:6). Sehingga setiap orang yang melihat dan mengalaminya memuliakan Allah. Maz. 104:30-31, “Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi. Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!”

Berani di dalam kebenaran (Yoh. 16:13) dan berani menyatakan damai sejahtera adalah salah satu ciri orang yang dipenuhi Roh Kudus. Apakah ciri tersebut ada di dalam diri kita? Jika belum, mari kita buka hati dan mengijinkan Roh Kudus untuk mengubahkan diri kita. Jika sudah, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan senantiasa (Roma 12:10-11, “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan”).
dstheol

 

28 Mei 2017
TETAP MENYATU DI TENGAH TEKANAN
Kis. 1:6-14; Maz. 68:1-10, 32-35; 1 Pet 4:12-14, 5:6-11; Yoh. 17:1-11

Permasalahan hidup bisa menghampiri siapa saja, tanpa terkecuali. Dari permasalahan yang berkaitan dengan keluarga sampai berbangsa dan bernegara. Sebagai pengikut Kristus tidak jarang kita mengalami tekanan demi tekanan dan sikap memusuhi, seperti diremehkan, direndahkan, didiskriminasi, dipenjara bahkan dibunuh. Terhadap hal tersebut, beragam respon yang muncul dari orang Kristen saat menghadapi tekanan seperti itu. Ada yang membalas dengan melakukan hal yang sama yaitu ketika dihina balas menghina. Ada yang diam saja dan menghindar seperti mendelete pertemanan di medsos. Ada pula yang berkompromi seperti membiarkan yang menghina dan terkesan menerima perlakuan itu dikarenakan rasa takut. Tidak jarang situasi ini membuat orang-orang Kristen menjadi terpecah dan terbelah. Apakah ini yang dikehendaki Tuhan Yesus bahwa murid-Nya terpecah dan gentar? Tentu, bukan!

Seperti yang dialami para murid yang tetap tinggal di dalam dunia dan mengalami tekanan setelah Yesus naik ke sorga, Tuhan memerintahkan mereka untuk bersatu dan tekun menanti janji Tuhan (Kis. 1:4,8). Demikian juga doa Tuhan Yesus dalam Yoh. 17:11b yang menghendaki murid-murid tetap menyatu dengan Dia dan tetap tegar menghadapi tekanan dan permasalahan hidup. Tekanan dan penderitaan karena Kristus merupakan ujian iman bagi kita, karena itu rasul Petrus menasehatkan kita untuk tetap bersukacita. Dengan menderita dalam dan karena kebenaran sama seperti Kristus berarti kita turut ambil bagian dalam penderitaan Kristus yang menderita karena kebenaran Injil Kerajaan Allah.

Ketika tekanan itu datang, mari kita ingat bahwa kita memiliki Allah yang memelihara. Allah yang bahkan rela mati untuk menebus manusia. Allah yang senantiasa hadir dan menolong manusia. Allah yang mengasihi manusia. Ini bukan sekedar kata-kata dan kalimat yang indah hanya untuk menghibur saja, tetapi ini adalah pengakuan iman kita bersama bahwa kita memiliki dan dimiliki oleh Allah yang memelihara dengan kasih yang sangat besar. Pengakuan iman tersebut muncul dari pengalaman dan perjumpaan kita dengan Allah dalam kehidupan kita. Oleh karenanya, jangan takut dan jangan gentar menghadapi apapun.
Kita tidak mungkin bisa menghadapi tekanan dan penderitaan itu sendiri. Kita butuh Tuhan dan butuh sesama. Jangan lupakan Tuhan dan jangan lupakan sesama. Dan olehnya kita diundang menjadi satu dengan Tuhan dan hadir bagi sesama kita yang menderita. Tuhan memberkati.
dstheol

 

 

21 Mei 2017
TERUSLAH BERBUAT BAIK, JANGAN GENTAR ! ”
Kis. 17:22-31; Maz. 66:8-20; 1 Petr. 3:13-22; Yoh. 14:15-21

Bertahun-tahun lalu bangsa kita berjuang untuk mengutamakan persatuan dan kesatuan. Perbedaan tidak dipandang sebagai kendala. Perbedaan sudah ada sejak dahulu namun pendahulu-pendahulu kita memilih untuk mengedepankan persatuan dan kesatuan, memilih untuk menghargai perbedaan. Mereka mendirikan organisasi-organisasi yang mengutamakan persatuan dan kesatuan. Itulah inti kebangkitan nasional. Saat ini kita melihat kenyataan yang berbeda, menyedihkan karena saat ini sebagian orang memilih untuk mengedepankan perbedaan. Tidak hanya mengedepankan perbedaan bahkan banyak orang yang saat ini memilih menolak kebenaran. Kesamaan menjadi hal yang terpenting. Tidak masalah jika salah asal sama. Baik sama dalam agama, suku, daerah atau yang lainnya.

Apa yang terjadi di depan mata kita memperlihatkan kepada kita bahwa ternyata ada harga yang harus dibayar mahal untuk menjadi benar, bahkan ada harga yang harus dibayar saat kita ternyata dianggap berbeda. Ketika seseorang memperjuangkan kebenaran, yang dia alami adalah penolakan bahkan ancaman hukuman bisa saja menimpa. Sungguh sebuah ironi ketika seseorang berbuat benar bukan hanya untuk diri sendiri tetapi bahkan untuk negaranya, bukan sebuah penghargaan yang diterima tetapi penolakan dan hukuman. Kenyataan ini tidak hanya menimbulkan kemarahan namun juga mungkin menimbulkan kefrustasian untuk menjalankan kebenaran. Bahkan yang lebih memprihatinkan, orang mungkin tidak lagi ingin berada di negara ini. Negara ini dianggap sudah gagal mempertahankan apa benar. Yang ada di hati banyak orang sekarang adalah kemarahan yang akhirnya juga menimbulkan kegentaran, karena apa yang terpampang di depan mata kita terlalu besar dan terlalu sulit untuk dilawan. Sehingga pertanyaan sederhana muncul dihati kita, buat apa saya berbuat benar?

Pertanyaannya apakah Tuhan setuju dengan pilihan kita untuk diam? Mari kita renungkan dalam Yohanes 14 ayat 16-18. Roh Penolong yang diberikan Allah kepada umat manusia adalah Roh Kebenaran dan dunia tidak mengenalnya. Saat seorang dalam kehidupan berupaya melakukan kebenaran maka Injil Yohanes jelas mengatakan dunia tidak mengenalnya. dunia menolaknya.

Ini sudah kita lihat terjadi beribu-ribu tahun yang lampau, bahkan terjadi juga di dalam kehidupan kita di masa kini. Dunia tidak mengenalnya. Dunia menolaknya. Itu adalah sebuah kenyataan bahkan konsekuensi yang harus kita hadapi saat kita mau melakukan kebenaran. Melakukan kebenaran tidak menuai pujian dan pengakuan, tetapi membawa pada cemoohan dan penolakan. Lalu apa yang harus kita lakukan? haruskah kita berhenti dan menjadi gentar? Yohanes 14:17 jelas menekankan penyertaan Tuhan yang akan terus mengiringi orang yang melakukan kebenaran. Ada dua paradoks yang terjadi di sini, manusia yang tinggal di dunia akan mengalami penolakan saat ia melakukan kebenaran namun pada saat yang sama, saat ia melakukan hal itu, ia tidak melakukannya sendirian. Secara kasat mata ia seolah menjalani semua sendirian namun dibalik semua itu ada penyertaan Tuhan yang mengiringi. Penyertaan Tuhan bahkan dapat dinyatakan melalui keberadaan orang-orang yang mendukung dan menopang kita.

Hal ini lah yang harus kita pegang teguh, penyertaan Tuhan harusnya membuat kita semakin kuat dan kokoh dan tidak dikuasai oleh kegentaran apa pun bentuknya. Kita tetap berpegang pada janjiNya yang akan selalu menyertai kita.
Kemudian kita juga belajar dari teladan rasul Petrus bagaimana ia mengajarkan kebaikan dan kebenaran menjadi dua hal yang saling melekat. 1 Petrus 3:13 bicara soal kebaikan namun di ayat 14 yang dibicarakan adalah kebenaran. ayat 17 menekankan lebih baik menderita karena berbuat baik. Kebaikan dan kebenaran menjadi satu hal yang saling melengkapi dan tidak terpisah. Saat orang melakukan kebenaran maka kebenaran itu mewujud pada sebuah kebaikan bagi sesama. Kebaikan dan kebenaran bukan sesuatu yang berada di tataran konsep. Kebenaran mewujud pada sebuah tindakan kebaikan. Nyata dan jelas. ada sesuatu yang nyata, bisa dilihat, bisa dirasakan. Saat kita mau mempertahankan sebuah kebenaran maka itu akan terlihat dalam sebuah ukiran kebaikan. Saat ini bangsa kita membutuhkan orang yang mau melakukan kebenaran, orang yang berani menyatakan kebenaran dan berarti ada sebuah aksi nyata, ada sebuah kebaikan nyata. Apa yang kita sudah lakukan sebagai anak bangsa saat kita melihat ketidakadilan di sana? Apa yang kita sudah lakukan sebagai anak bangsa saat kita melihat penolakan di depan mata? Diam dan berpangku tangan bukanlah sebuah pilihan yang ideal. Lihat diri kita, setiap kita dapat melakukan kebaikan dan kebenaran. Melakukan kebenaran dan kebaikan sesuai dengan peranan kita. Kita menolak diam, Kita menolak gentar. Kita harus berani juga menyuarakan kebenaran bahkan menyatakan keberpihakan. Berpihak pada kebenaran. Diam bahkan lari seharusnya tidak lagi ada dalam hidup kita sebagai anak-anak Tuhan yang percaya pada Dia yang bangkit.

Oleh karena itu hidup yang kita jalani sekarang haruslah kita letakkan pada kerangka hidup bersama Allah. Gerakan-gerakan yang kita lakukan dalam hidup kita haruslah merupakan respon kita terhadap berkat dan pemeliharaan Tuhan. Kehidupan berbangsa dan bernegara kita juga kita letakkan dalam kerangka hidup bersama Allah. Tidak gentar memperjuangkan kebenaran dan melakukan kebaikan, berani bersikap, berpihak dan menyatakan dukungan, tidak takut dan pasif, tidak gentar dan pergi, namun sebaliknya terus berjuang dalam setiap kedudukan dan peranan kita. Paling tidak tindakan kita itu merespon anugerah dan penyertaan Allah (Kisah Para Rasul 17:28 sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada). Memperingati hari kebangkitan nasional, hari pertama dimana kita sebagai bangsa mengutamakan persatuan di atas perbedaan, mengutamakan kesatuan di atas keragaman, maka minggu ini sebagai GKI yang ada di tanah Indonesia mari kita: 1. Jangan gentar memperjuangkan kebenaran dalam hidup berbangsa dan bernegara kita, Tuhan menyertai kita. 2. Teruslah menyatakan kebenaran dalam kebaikan-kebaikan yang bisa kita lakukan untuk mendukung sesama sebangsa dan setanah air tanpa memandang perbedaan agama, suku dan warna kulit. 3. Teruslah berkarya dalam hidup kita di tanah air kita, sebagai respon kita terhadap anugerahNya, jangan gentar Mari terus mencintai Indonesia. Bangga sebagai bangsa Indonesia. Berkarya bagi Indonesia, Ibu Pertiwi yang melahirkan dan membesarkan kita. Teruslah berbuat baik, jangan gentar.

     

14 Mei 2017
PERGI DALAM DAMAI
Kis. 7:55–60; Maz. 31:1–5, 15-16; 1 Petr. 2:2 – 10; Yoh. 14:1–14

Rest in Peace (RIP) artinya Pergi Dalam Damai. Seseorang menyambut kematiannya dengan hati yang damai, rupanya jarang. Mungkin dengan perbandingan 1 : 10 atau lebih. Orang menyambut kematiannya dengan berbagai cara penangguhan karena belum siap pergi kerumah Bapa Surgawi. Orang-orang yang belum siap pergi biasanya karena 2 alasan, yaitu kurang percaya sepenuh hati pada ucapan Tuhan Yesus tentang Rumah Bapa Surgawi yang banyak tempat tinggal bagi orang percaya (Yohanes 14 : 1 – 14). Alasan kedua karena masih banyak yang diberati di dunia yang fana ini seperti harta benda, ikatan keluarga, dan belum mempunyai pengampunan yang tulus atau masih mempunyai ganjalan rasa atau dendam terpendam pada sesama. Tirulah Stefanus yang menyambut kematiannya dengan hati yang damai, bahkan sempat meniru ucapan Tuhan Yesus, yaitu: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kisah Para Rasul 7 : 60).

Ucapan Tuhan Yesus di kayu salib yaitu: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23 : 34). Oleh karena itu, marilah kita percaya dengan sepenuh hati kepada Tuhan Yesus seperti Raja Daud yang percaya dan bersandar sepenuhnya pada Allah, sebagai gunung batunya (Mazmur 31 : 1 – 5, 15 – 16) dan Yesus Kristus sebagai batu penjuru yang menyelamatkan dan membawa damai sejahtera sekalipun kita sedang menyambut kematian (I Petrus 2 : 2 – 10). Amin.
BHS

 

7 Mei 2017
AKU ADALAH PINTU
Kis. 2:42-47; Maz. 23; 1 Ptr. 2:19-25; Yoh. 10:1-10

Masih dalam rangkaian minggu Paskah, pada minggu Paskah IV ini, umat diajak untuk menghayati karya Allah lewat Yesus Kristus, bagaimana Ia membawa umat berjumpa dengan kehidupan yang lebih baik, lebih terhormat, lebih sukacita dari kehidupan yang sebelumnya. Hal ini akan kita hayati melalui kisah dalam Injil menurut Yohanes.

Teks Yohanes 10 sangat terkenal di kalangan umat Kristen karena mengingatkan umat tentang peran Yesus sebagai Gembala yang baik. Hal ini dikaitkan juga dengan kitab Mazmur 23, dimana Daud mengungkapkan “Tuhan adalah gembalaku”. Namun, ada hal menarik dalam bacaan ini yang menjadikannya sedikit berbeda dengan Mazmur 23, yaitu di sini Yesus tidak langsung menyebut diri-Nya sebagai Gembala. Terlebih dahulu, Ia menyebut diri-Nya sebagai pintu. Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan, karena seringkali ketika berhadapan dengan Yohanes 10, para pengkhotbah langsung mengarah pada Yesus Gembala yang baik, apalagi oleh LAI telah diberi judul “Gembala yang Baik”. Akibatnya, sebutan Yesus sebagai pintu – “Aku adalah Pintu” – terlewatkan begitu saja. Karena itulah di tahun liturgi ini, khotbah akan diarahkan pada sebutan Yesus yang adalah pintu, serta relevansinya bagi umat.

Bacaan leksionari telah dibagi dengan sangat baik untuk memahami teks tersebut: ditahun A yang dibaca adalah Yohanes 10:1-10, tahun B adalah Yohanes 10:11-18, dan Tahun C adalah Yohanes 10:22-30. Tahun ini (tahun A) kita akan fokus pada Yohanes 10:1-10.

Dengan memakai tema sesuai dengan pengakuan Yesus: “Aku adalah Pintu”, umat diajak untuk memahami apa artinya sebutan “Aku adalah Pintu”. Dengan demikian, semakin hari umat semakin merasakan dan mengalami penyertaan Tuhan dan belajar mempercayakan seluruh hidupnya kepada Tuhan.
Dian Penuntun Edisi 23

 

     

30 April 2017
BERELASI DENGAN TUHAN YESUS KRISTUS
Kis. 2:14, 36-41; Maz. 116:1-4, 12-19; 1 Petr. 1:17-23; Luk. 24:13-35

Tahu dan mengenal adalah dua kata yang berbeda maknanya. Tahu atau mengetahui lebih cenderung pada konsep, pemahaman melalui proses belajar, mendengar dan melihat. Sedangkan kata mengenal lebih cenderung pada soal relasi atau hubungan yang dekat. Contoh. Semua orang Kristen pasti tahu dan percaya bahwa Yesus telah mati di kayu salib untuk mengampuni segala dosa manusia, dan pada hari yang ketiga Dia telah bangkit dari kematian dan kemudian naik ke surga. Pengetahuan ini kita dapatkan melalui ibadah sekolah minggu, remaja, pemuda, ibadah umum, persekutuan, Pemahaman Alkitab, katekisasi dll. Kita semua percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Namun demikian tidak semua orang Kristen yang tahu tentang Yesus Kristus adalah Tuhan, dan mengenal Yesus secara pribadi dan membangun relasi yang intim denganNya.

Ketika Yesus bangkit dari kematian, kemudian Ia menampakkan diriNya berulang-ulang kepada para murid membuat para murid sadar bahwa Yesus bukan nabi biasa, tetapi Dia adalah Tuhan Allah sendiri. Perjumpaan para murid dengan Yesus yang bangkit menjelaskan relasi mereka semakin intens dengan Yesus. Relasi yang intens itu membuat para murid mengalami kelimpahan damai sejahtera, sukacita dan hati yang berkobar-kobar. Ketika Yesus naik ke sorga yang disaksikan oleh 500 orang lebih, para murid melanjutkan relasi dengan Yesus itu melalui doa bersama-sama, membicarakan isi firman Tuhan bersama-sama. (Kis 2:41-47).

Pemahaman mereka tentang Yesus Kristus dan pengenalan mereka akan Tuhan membawa mereka memiliki relasi yang intens dengan Yesus. Jadi mereka bukan hanya tahu dan mengenal Tuhan Yesus secara pribadi tetapi mereka lanjutkan dengan membangun relasi yang harmonis dengan Yesus Kristus, sehingga membuat mereka/ para murid mengalami pemulihan, perubahan dan kekuatan yang baru.

Refleksi untuk kita renungkan. Jika kita hanya mengetahui dan paham tentang ajaran kekristenan, tentang pokok-pokok iman Kristen, tentang Tuhan Yesus yang mati, bangkit dan naik ke sorga, tanpa pengenalan yang dilanjutkan dengan relasi yang baik dengan Tuhan Yesus, maka kita tidak akan mengalami perubahan hidup, pemulihan hidup dan sukacita dalam hati kita. Titik pentingnya adalah membangun relasi yang intim dengan Yesus Kristus yang telah bangkit, yang menjadi Tuhan dan Juruselamat hidup kita. Karena Dialah yang akan memperbaharui, memulihkan dan memberikan damai sejahtera dalam hidup kita. Tuhan Yesus memberkati.
DP

 

23 April 2017
KEBANGKITAN-NYA MENGOBARKAN KEBERANIAN & PENGHARAPAN
Kis. 2:14, 22-32; Maz. 16; 1 Petr. 1:3-9; Yoh. 20:19-31

Minggu ini kita memasuki minggu Paskah ke-2. Pada minggu ini, penghayatan kita tentang kebangkitan Kristus (Paskah) difokuskan pada upaya untuk membangkitkan (mengobarkan) kembali keberanian kita untuk bersaksi dan memiliki pengharapan akan masa depan yang lebih baik. Persoalannya, sekarang ini, Kebangkitan kristus (Paskah) dirayakan dengan meriah dan diakui menjadi dasar pemahaman keselamatan kita, namun dalam realitanya perayaan akan kebangkitan Kristus tersebut tidak memberi dampak yang signifikan dalam kehidupan berjemaat kita. Hal ini tampak nyata dari sikap atau perilaku kita yang sering takut untuk menunjukan identitas kita sebagai orang Kristen, dengan segala konsekuensinya, dan hidup kurang berpengharapan akan masa depan.

Dalam berbagai hal, banyak diantara kita yang sikapnya “biasa-biasa saja” tanpa menunjukan kegairahan, perubahan dan memberikan dampak tertentu. Mungkin Paskah saat ini hanya menjadi suatu perayaan tradisi gereja yang mulai kehilangan maknanya, atau mungkin juga Paskah hanya menjadi perayaan besar yang sarat dengan entertainment (hiburan). Akibatnya, perayaan dan penghayatan akan nilai-nilai Paskah tidak membawa perubahan apa pun dalam kehidupan berjemaat, apalagi mampu mengobarkan keberanian kita untuk bersaksi dan berpengharapan akan masa depan yang lebih baik.

Jikalau kita memperhatikan perjamuan kudus mula-mula, dari bacaan-bacaan kita, maka kita akan menemukan disana gambaran mengenai bagaimana kebangkitan Kristus menghapus ketakutan yang mencekam. Para murid takut karena Yesus disalibkan. Sejak perjumpaan dengan Kristus yang bangkit itu, mereka kembali berani bersaksi tentang siapa Kristus itu dan siapa diri mereka sebagai murid-murid Kristus, khususnya dalam Kisah Para Rasul 2:22-32. Mereka juga kembali berani beriman dan berpengharapan kepada Kristus, meskipun mereka sedang menghadapi tantangan dan penderitaan, seperti pengalaman Thomas dan anggota-anggota jemaat penerima surat I Petrus.

Inilah sikap iman dan dampak perubahan yang terjadi dalam pengalaman dan penghayatan ketika seseorang berjumpa dengan Kristus yang bangkit. Oleh karena itu, seharusnya perayaan dan penghayatan kebangkitan Kristus (Paskah) memberikan dampak dalam kehidupan berjemaat kita. Kebangkitan Kristus seharusnya memampukan kita untuk berani bersaksi dan berpengharapan untuk menghadapi masa depan. Amin.
DP

 

16 April 2017
KEBANGKITAN-NYA MENYELAMATKAN SEMUA
Yer. 31:1-6; Maz. 118:1-2,14-24; Kis. 10:34-43; Mat. 28:1-10

"Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya. " (Kis. 10: 43)
“Kebangkitan” adalah lawan dari “Kematian”, tanpa Kebangkitan tidak ada keselamatan dari kematian. Bacaan Kisah Para Rasul 10:34-43, membuktikan bahwa Yesus telah dibangkitkan Allah di hari ketiga dari kematian-Nya dan Yesus telah menampakkan Diri-Nya yang bangkit kepada para murid yang dijadikan saksi-saksi-Nya, bahwa Yesus yang bangkit menjadi Juruselamat dunia yaitu seluruh bangsa.
“Yesus Juruselamat dunia, bukan hanya juruselamat orang Kristen” kata Gus Dur.
Tetapi di kalangan Kristen sendiri masih banyak pertanyaan tentang “keselamatan milik siapa ?”, seringkali menjadi perdebatan yang tidak ada habisnya. Selalu ada kelompok-kelompok yang mengklaim bahwa keselamatan Allah hanya berhak dimiliki oleh mereka, bukan kelompok lain. Sehingga mendirikan tembok-tembok pemisah menganggap kelompok lain yang berbeda dianggap kafir, mereka merasa memiliki hak untuk mematikan eksistensi kelompok lain. Keselamatan dari Allah di dalam Kristus bagi semua bangsa, semua lapisan, semua strata masyarakat. “Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang” (Kis. 10:34)

Pada bacaan Injil Matius 28:1-10, Yang dipilih Allah untuk menjadi saksi pertama Kebangkitan Yesus adalah Maria Magdalena dan Maria yang lain, di mana perempuan di jaman itu merupakan warga kelas dua. Tuhan menjanjikan akan bertemu di Galilea. Galilea merupakan daerah para nelayan, tempat orang2 kasar, dianggap tempat orang rendahan tidak berpendidikan, kurang dalam hal sopan santun. Membuktikan Allah tidak membedakan orang dan dari mana asal-usulnya. Allah tidak SARA.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini , sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”(Yoh. 3:16)
Ayat di atas menyatakan keselamatan dengan menganugerahkan kehidupan yang kekal melalui kebangkitan Kristus tidak ditujukan kepada kelompok tertentu, agama tertentu, atau status tertentu, melainkan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Keselamatan bukanlah Agama, Keselamatan adalah relasi dengan Kasih Allah. Kita menaati Firman Allah bukan supaya memperoleh keselamatan, tetapi karena mengasihi Tuhan yang terlebih dahulu telah menganugerahkan Kasih Karunia kepada kita melalui Kematian dan Kebangkitan-Nya. “Selamat Paskah 2017, sebab Dia Bangkit !”
tonny iskandar

 

9 April 2017
MEMENANGKAN KEKERASAN DENGAN KELEMBUTAN
Yesaya 50 : 4-9; Mazmur 31 : 10-17; Filipi 2 : 5-11; Matius 27 : 11-54

Dalam tahun gerejawi, hari ini disebut sebagai hari Minggu Palmarum yang dikaitkan dengan masuknya Tuhan Yesus ke kota Yerusalem menjelang Jumat Agung. Ia memasuki kota Yerusalem bukan dengan kuda yaitu kendaraan perang yang lazim pada zaman itu, melainkan dengan keledai betina, kendaraan damai. Maka para orang Yahudi yang merupakan penduduk kota itu mengelu-elukan-Nya dengan tangkai dan daun palem, seraya berseru `Hosana, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan’. Kendati Tuhan Yesus sadar, bahwa kota Yerusalem akan menjadi kota yang justru membuat diri-Nya menderita dan seruan yang ramah itu akan berubah menjadi seruan `Salibkanlah Dia!’. Di kota itu telah siap kekerasan yang akan menerpa dan menerkam Dia. Tetapi itulah misi yang dibawa-Nya ke dalam dunia ini sebagai Juruselamat umat manusia. Untuk kenyataan itu, Rasul Paulus mengemukakan, bahwa kesetaraan-Nya dengan Allah itu tidak dipertahankan, sebaliknya dikorbankan-Nya sampai mati di kayu salib.

Sungguh sebuah peristiwa yang bertolak belakang, karena Dia yang datang dengan damai justru akan dibantai dengan kekerasan luar biasa. Itulah peristiwa yang sudah lama dinubuatkan berabad-abad yang lampau dan mencapai pemenuhannya pada lima hari kemudian, pada hari Jumat Agung. Injil Matius 27 : 11-54 merupakan rangkaian kesengsaraan yang harus dialami oleh Tuhan Yesus. Kesemuanya merupakan bagian dari langkah-Nya menjadi Juruselamat manusia, karena tanpa pengalaman itu keselamatan bagi kita tak mungkin kita peroleh. Itulah makna kekerasan yang dikalahkan oleh kelembutan. Kendati kekuasaan manusia begitu berjaya, namun tiga hari kemudian Paskah pagi membuyarkan kemenangan itu, sehingga muncul seruan `Hai maut, di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?’ (1 Kor. 15 : 55).

Selanjutnya, menjadi bagian kita sebagai orang Kristen untuk menghayati kekuatan kemenangan Tuhan Yesus yang lembut atas kekerasan yang dialami-Nya. Itulah praktik hidup Kristen yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari setelah kita menyatakan iman kita kepada Tuhan Yesus. Maka itulah pergumulan yang masih harus kita lakukan berupa penyangkalan diri untuk secara lembut menghadapi kekerasan sesama manusia. Tak mustahil, bahwa kehidupan kita pun tidak luput dari kekerasan. Oleh sebab itu, bercerminlah kepada penderitaan Tuhan Yesus, agar kita yang menjadi para pengikut-Nya, juga melakukan kehidupan seperti Dia. Tantangan ini tak mudah untuk kita hadapi, namun itulah panggilan kita sebagai para pengikut Tuhan Yesus di dunia yang penuh dengan kekerasan, termasuk dalam masalah kekerasan karena kita beriman Kristen. Hal itu merupakan bagian dari gereja yang berjuang di dalam dunia, agar dengan kelembutan dapat memasuki gereja yang menang di dalam surga. Semoga untuk maksud tersebut, kita tidak tercecer dalam arak-arakan para orang beriman.

Pekan ini merupakan kesempatan yang seyogianya kita gunakan untuk menghayati betapa kesengsaraan Tuhan Yesus itu memberikan pengaruh kepada kita sebagai para murid yang mendengar dengan telinga kita dan mengatakan dengan lidah kita. Kemudian kita dapat merasakan penderitaan-Nya, sehingga kita menghormati pesan yang disampaikan-Nya kepada kita, agar kita pun menempuh jalan kehidupan tanpa kekerasan, melainkan dengan kelembutan. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

     

2 April 2017
JIKA ENGKAU PERCAYA ENGKAU AKAN MELIHAT
Yehezkiel 37:1-14, Mazmur 130, Roma 8:6-11, Yohanes 11:1-45

Menjalani kehidupan ini ternyata tidaklah semudah yang dibayangkan. Permasalahan dan persoalan datang silih berganti. Terkadang apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan. Dan tentu tidak mudah untuk menerima semuanya itu. Ada sebagian yang kecewa dan marah dengan Tuhan. Namun ada yang sebagian tetap pasrah dan berserah kepada Tuhan.
Mereka yang kecewa dan marah sulit untuk melihat Tuhan hadir dan menolong mereka. Hati yang diliputi oleh kegelapan tidak akan mampu melihat bahwa orang-orang yang hadir di dekatnya yang mungkin hanya diam dan mendengar keluh kesahnya merupakan cara Tuhan dalam menolong mereka. Jika kita tidak percaya kepada Tuhan maka kita sulit untuk melihat Tuhan berkarya. Sama halnya dengan hati yang diliputi oleh kebencian yang membuat seseorang sulit untuk percaya kepada yang lain. Akibat ketidakpercayaannya itu, membuatnya sulit melihat yang baik di dalam diri yang lain. Sehingga apapun yang dibuat oleh orang lain selalu saja salah di matanya.

Dalam bacaan kita minggu ini, kita diperlihatkan betapa berkuasanya Allah. Ia menghidupkan umat-Nya. Ia memberikan pengharapan. Dan Ia adalah Allah yang hadir dan menolong umat-Nya yang menderita, serta memberikan kehidupan yang baru (Yeh. 37:1-14). Karena keyakinan dan kepercayaan yang demikian, Pemazmur mengajak umat untuk memohon dan berharap hanya kepada Tuhan saja (Maz. 130:7 Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan.). Penegasan akan kekuasaan Allah juga disampaikan oleh Yesus, .... Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah (Yoh. 11:40).

Di Minggu Prapaskah ke-5 ini, kita diundang untuk percaya kepada Yesus supaya melihat kemuliaan Allah sebagaimana yang dialami oleh Maria, Marta, Lazarus serta orang-orang di sekitar Yesus. Peristiwa bangkitnya Lazarus merupakan penegasan dari pihak Allah bahwa Yesus adalah utusan Allah (.... bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Yoh. 11;42). Namun tidak hanya sekedar sebagai utusan Allah saja, iman kita yang dikuatkan oleh Roh Allah (seperti yang dinasehatkan oleh Paulus dalam Roma 8:11) meyakini dan mempercayai bahwa Yesus adalah “Kebangkitan dan Hidup”. Yoh. 11:25-26 Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" Pertanyaan yang sama untuk diri kita saat ini adalah Percayakah engkau akan hal ini?
Tuhan menolong setiap kita untuk melihat karya-Nya yang luar biasa hebat dan dahsyat di dalam diri kita maupun orang lain. Amin
dstheo

 

26 Maret 2017
Melihat Tetapi Buta
1 Samuel 16:1-13, Mazmur 23, Efesus 5:8-14, Yohanes 9:1-41

Setiap orang pasti menikmati jika bisa melihat pemandangan yang indah. Bahkan melihat pemandangan menjadi suatu sarana refresing dari segala kepenatan dan rutinitas. Dengan melihat sesuatu yang indah membuat manusia bisa mengagumi keindahan ciptaan Tuhan. Akan sangat berbeda dengan keadaan saudara-sadara kita yang tidak bisa melihat. Segala keindahan itu hanya bisa mereka dengarkan dan bayangkan melalui imajinasi mereka.

Itu juga yang di alami seorang anak muda yang dijumpai Yesus saat Ia lewat bersama para murid-muridNya (Yoh.9:1-41). Yesus menjumpai seorang anak muda yang sudah buta sejak lahir. Yesus lalu meludah ke tanah, mengaduk ludah dan tanah itu, dan mengoleskan ke mata anak muda yang buta itu. Kemudian terjadilah mujizat itu dan anak muda itu bisa melihat (ayat 7). Sungguh menjadi suka cita besar bagi anak muda itu karena akhirnya ia bisa melihat dengan jelas apa yang selama ini ia bayangkan dan hayalkan menjadi realita. Tetapi sungguh disayangkan peristiwa sukacita ini mendatangkan masalah dan celah buat para orang Yahudi dan kaum Farisi untuk kembali menghujat Tuhan Yesus karena peristiwa ini terjadi pada hari Sabat. Yesus dianggap tidak menghormati hari Sabat oleh karena itu mujizat yang Tuhan Yesus lakukan dianggap tidak berasal dari Tuhan.

Mulailah disini terjadi perdebatan di kalangan orang Yahudi dan mengatakan bahwa bukan anak muda ini yang disembuhkan tetapi yang hanya mirip dengannya. Tetapi anak muda ini berusaha meyakinkan bahwa dialah yang disembuhkan itu (ayat 9).

Tidak puas dengan itu mereka memanggil orang tuanya dan mempertanyakan kembali. Mengapa anaknya yang buta itu sekarang bisa melihat? Orang tua mencari “jalan aman” bagi mereka dengan menjawab tanyakan sendiri kepada anak itu karena mereka tidak melihat langsung peristiwa penyembuhan itu (ayat 22-23). Dan aksi yang lebih ekstrim dari para orang Yahudi ini memaksa agar anak muda ini mengatakan Yesus sebagai orang berdosa (ayat 24). Anak muda ini dengan sangat berani menyatakan mujizat yang terjadi pada dirinya adalah karya Allah. Tidak mungkin jika Yesus itu berdosa karena jika Ia berdosa bagaimana bisa Allah berkenan dan mendengarkanNya? Dan keluarlah sebuah pertanyaan yang mengelitik dari anak muda ini yaitu “aneh juga bahwa kamu tidak tidak tahu dari mana Ia datang”.

Sudah sangat terlihat dengan jelas kesembuhan anak muda ini adalah karya Allah tetapi orang Yahudi dan kaum Farisi berulang-ulang mempertanyakannya. Sesuatu yang mereka lihat dengan jelas tetapi seperti tidak terlihat oleh mereka. Suatu keadaan yang sangat membingungkan bukan. Keadaan ini memperlihatkan bahwa mata hati mereka tertutup walaupun mata inderanya terbuka. Keadaan mata hati tertutup ini pun kerapkali menghampiri kita saat ini. Kita dikuasai keinginan-keinginan egoistik yang mementingkan diri sendiri dan terancam tinggal di dalam dosa. Sungguh sebuah ironi bukan ada seorang anak yang nekat membunuh ibunya hanya karena tidak dibelikan motor. Mata anak ini tidak buta secara fisik karena ia dapat menusuk tubuh ibunya dengan tepat. Tetapi mata hati dan pikirannya telah dibutakan oleh emosi/kemarahannya. Anak ini bisa melihat tetapi buta. Melalui renungan ini kembali kita diingatkan sebagai umat Allah kita memperoleh anugerah Tuhan yang mata hatinya telah dibukakan olehNya. Melalui iman kita dapat melihat terang dan mengalami kasih Tuhan yang besar. Marilah hendaknya kita hidup dalam kepekaan hati yang besar sehingga hidup sebagai anak-anak terang yang membuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran (Efesus 5:8-11). Kita melihat Yesus sebagai terang dunia dan kita meneladaniNya dengan menjadi terang bagi sesama kita. Selalu menjaga hati agar peka melihat karya penyelamatan Tuhan dalam segala keadaan, dan mensyukurinya dengan mewujudkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran dalam hidup kita.
Joice

     

19 Maret 2017
ANUGERAH ALLAH MENOPANG UMATNYA
KEL. 17:1-7, MAZMUR 95, YOHANES 4:5-42

Narasi Keluaran 17:1-7 menceriterakan umat Israel yang mengalami krisis air di padang gurun. Krisis air membuat ketakutan dan kegelisahan umat, tidak ada air berarti kelangsungan hidup mereka terancam. Itulah sebabnya umat Israel menjadi marah dan bertengkar dengan Musa, supaya Musa menyediakan air. Padahal Musa sendiri juga mengalami hal yang sama, yaitu tidak ada air, Musa juga tidak bisa menyediakan air. Sebenarnya mereka menjadi marah dan bertengkar dengan Musa bukan persoalan krisis air, tetapi ada persoalan yang lebih dalam adalah “KETIDAK PERCAYAAN MEREKA KEPADA PEMELIHARAAN TUHAN”. Hal ini terlihat dari ayat 7 yang mengatakan: “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak”. Mereka tidak percaya bahwa Tuhan hadir di tengah-tengah kehidupan mereka. Padahal Allah jelas-jelas hadir dalam kehidupan mereka melalui tiang awan dan tiang api. Ketidak percayaan kepada pemeliharaan Tuhan membuat kita ketakutan dan mudah marah dan bersungut-sungut. Allah memberikan air kepada umat Israel untuk menjelaskan bahwa Allah memelihara hidup mereka, Allah hadir di tengah-tengah kehidupan mereka. Bentuk kehadiran dan pemeriharaan Tuhan adalah dengan memenuhi kebutuhan makan dan minum.

Narasi Yohanes 4:5-42 menceriterakan perjumpaan dan percakapan seorang wanita Samaria dengan Tuhan Yesus di tepi sumur Yakub. Wanita Samaria pergi ke sumur Yakub di siang hari untuk menghindari perjumpaannya dengan orang banyak yang mau mengambil air di sumur itu. Orang-orang biasanya mengambil air di sumur itu pagi-pagi atau sore hari. Mengapa wanita ini menghindari perjumpaannya dengan orang banyak? Kalau kita membaca cerita ini secara lengkap dan teliti maka kita akan menemukan alasan mengapa wanita Samaria ini menghindari banyak orang. Persoalan yang dihadapinya adalah persoalan rumah tangganya, ia gagal membangun rumah tangga yang baik. Di sini kita menjumpai persoalan moral, persoalan spiritual, dan persoalan sosial.

Masyarakat sudah memandang wanita seperti itu adalah wanita yang tidak bermoral; masyarakat menjauhi wanita yang demikian dalam pergaulan sehari-hari. Perjumpaannya dengan Yesus telah mengubahkan hidupnya, moralnya, harga dirinya, dan spiritualnya. Yesus menawarkan air hidup, jika kamu minum air dari sumur Yakub ini akan haus lagi, tetapi jika engkau meminum air yang Kuberikan, kamu tidak akan haus untuk selama-lamanya (ayat 14-15). Anugerah Allah menjangkau wanita Samaria ini, ia mengalami apa artinya pengampunan, penerimaan & cinta kasih yang Yesus berikan. Ia mengalami perubahan, pembaharuan, pemulihan dan kemenangan hidup, semua itu karena anugerah Allah.

Pelajaran iman dari kedua narasi di atas adalah: Pertama, Anugerah Tuhan mencukupkan kebutuhan jasmani kita. Ia tidak akan membiarkan kita kelaparan dan kehausan. Ia memelihara dan merawat kita secara ajaib. Kedua, Anugerah Tuhan terbesar dalam hidup kita adalah kita diselamatkan dari dosa dan kutuk dosa; kita diangkat menjadi anakNya, menjadi milikNya, menjadi saksiNya di dunia ini. Untuk menyelamatkan kita, mengangkat kita menjadi anakNya, Ia yaitu Yesus Kristus harus mati di kayu salib. Ketiga, kita harus menghormati dan menghargai pengorbanan Kristus dengan cara hidup yang benar, hidup yang memuliakanNya, dan melayani Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati kita semua.
RDL

 

12 Maret 2017
MENJALANI HIDUP YANG PASTI
Kejadian 12 : 1-4; Mazmur 121; Roma 4: 1-5, 13-17; Yohanes 3 : 1-7

Siapa yang tahu dengan pasti jalan hidupnya? Satu-satunya yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri. Ada banyak hal yang tak terduga dalam hidup, ada suka dan duka, sukses dan gagal, sehat dan sakit, masalah, kesulitan, tantangan, kematian, dsb. Ditengah ketidakpastian tersebut, kita perlu punya pegangan hidup yang pasti. Tanpanya kita akan terombang-ambing dalam menjalani kehidupan yang tidak pasti ini. Perjalanan hidup kita sesungguhnya merupakan proses perjalanan iman, yaitu pengenalan kepada siapa atau apa yang kita imani. Beberapa tokoh berikut ini juga berjuang dalam perjalanan imannya.

Nikodemus (seorang ahli Farisi) berusaha memahami Tuhan Yesus dengan akal budinya (kepandaiannya sebagai ahli taurat), ia tahu bahwa Tuhan Yesus diutus dan disertai oleh Allah. Padahal pengenalan akan Yesus merupakan suatu proses yang dimulai dari kesediaan untuk terbuka terhadap karya Allah, kepandaian manusia tidak pernah akan cukup untuk mengenal Allah. Tuhan Yesus adalah Sumber Kehidupan, untuk mengenal Dia harus dimulai dengan percaya dan menerima Dia sebagai Juruselamat pribadi, itulah “lahir baru”. Bagi orang yang percaya, Tuhan Yesus mengaruniakan Roh Kudus di dalam hatinya untuk memimpin dan memperbaharui hidupnya dari hari kesehari.

Proses pembaharuan hati, roh, dan kehidupan merupakan proses perjalanan yang panjang. Seperti yang dialami oleh Abram dan Sarai, dimulai dari pemanggilan Tuhan untuk pergi ke tempat yang tidak mereka ketahui (Kej. 12:1). Meninggalkan keluarga besar berarti meninggalkan perlindungan dan rasa aman, apalagi tempat yang dituju belum diketahui lokasinya maupun keadaan yang sesungguhnya. Abram percaya kepada Allah Sang Pemilik Kehidupan dan mentaati kehendak-Nya. Sikap percaya dan taat tersebut diperhitungkan Tuhan sebagai kebenaran (Roma 4:3).

Masalahnya, perjalanan iman pada kenyataannya tidak selalu mudah, Abram terus menerus diuji imannya terhadap janji Tuhan untuk menurunkan suatu bangsa yang besar. Nikodemus diuji keberaniannya untuk membela Yesus di hadapan para pemimpin Yahudi, kemudian bersama Yusuf Arimatea menurunkan jenazah Yesus dan menguburkannya. Ternyata percaya kepada Tuhan Yesus harus teruji sepanjang hidupnya, melalui berbagai pengalaman hidup yang tidak selalu pasti.

Bagaimana perjalanan hidup kita? Hidup ini tidak selalu mudah, tetapi di dalam ketidakpastian hidup ini ada satu hal yang PASTI, yaitu penyertaan Tuhan di dalam setiap keadaan kita, seperti yang digambarkan oleh pemazmur dalam Maz.121.

Tetap melangkah dan jalani hidup dengan pasti, karena keyakinan bahwa Pertolongan kita datangnya dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi, yang tidak akan membiarkan kita dan yang tidak akan terlelap menjaga kita selamanya.

Pegang yang pasti dalam menjalani hidup yang tidak pasti! Penyertaan Tuhan adalah PASTI. Selamat menikmati penyertaan-Nya senantiasa dalam perjalanan hidup kita. Amin.
ESS

     

5 Maret 2017
BERSAMA ALLAH DALAM PENCOBAAN
Kej. 2:15-17, 3:1-7; Maz. 32; Roma 5:12-19; Mat. 4:1-11

Hari ini adalah minggu pertama Prapaskah yang merupakan perayaan Karya Sang Ilahi, baik Allah maupun Kristus. Sedangkan hari-hari lainnya di luar hari Minggu selama masa Prapaskah merupakan hari-hari penghayatan peristiwa kemenangan Kuasa yang Ilahi melawan kuasa jahat.

Pada zaman Adam dan Hawa, kuasa jahat atau si Penggoda atau si Iblis dalam bentuk binatang Ular, dapat membujuk dan mengalahkan Adam dan Hawa melalui tipu daya “Firman Allah yang dipelintir” yaitu “... sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kej. 2:17b) diubah atau dipelintir oleh ular menjadi “Sekali-kali kamu tidak akan mati, .... dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat”. (Kej. 3:4-5).

Rupanya tipu daya “Pelintiran Firman” dipraktekkan kembali oleh si Penggoda / Iblis kepada Yesus sesaat setelah Dia dibaptis dan telah berpuasa 40 hari 40 malam. Tenyata tipu daya tersebut tidak berhasil, meskipun dilakukan sebanyak tiga kali dengan cara dan pendekatan yang berbeda. Pertama, kelaparan tubuh Yesus dicobai oleh si Penggoda dengan perintah supaya batu-batu ini menjadi roti (Mat. 4:3). Cobaan kedua dengan pendekatan memaksakan dan memamerkan kuasa Ilahi yang dimiliki Yesus untuk menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah. (Mat. 4:6). Cobaan ketiga dengan pendekatan pemberian kekayaan, kuasa dan kemegahan duniawi yang fana, bila Yesus mau menyembah Iblis (Mat. 4:8-9).

Melalui sikap dan ucapan-ucapan yang tegas dan benar, Yesus kristus memenangkan pencobaan di padang gurun tersebut. kitapun bila bersama Allah dalam pencobaan, dimampukan mengatasi pencobaan hidup kita dengan penuh kemenangan seperti Yesus Kristus. Artinya kita semua memperoleh pengharapan keselamatan, bila kita bersama Allah dalam segala pencobaan di dunia ini.

Peristiwa pencobaan tersebut kiranya perlu dipahami juga sebagai anugerah Allah, sebagai bukti kebesaran Allah yang memegahkan karya keselamatan Kristus dan Allah yang berempati kepada kelemahan manusia. Oleh karena itu kiranya setiap kita bersama Allah merayakan kemenangan Kristus atas godaan si Iblis dengan turut setia bersama Allah melawan dan memenangkan setiap godaan hidup kita sehari-hari. Amin.
BHS

 

26 Februari 2017
KEMULIAAN TUHAN MEMULIHKAN KEHIDUPAN
Keluaran 24:12-18; Mazmur 2; 2 Petrus 1:16-21; Matius 17:1-9

Minggu ini merupakan minggu Transfigurasi adalah peringatan pada peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung. Namun banyak umat Kristen kurang memahami, sehingga biasanya berlalu begitu saja. Transfigurasi sebenarnya memiliki makna penting dalam penghayatan iman Kristen. Banyak umat Kristen percaya bahwa Yesus adalah Tuhan secara begitu saja tanpa pemahaman. Hal ini juga yang menjadi pengalaman iman saya, sampai pada percakapan saya dengan teman-teman Muslim. Mengapa umat Muslim tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan padahal Isi Al-Qur’an adalah Kitab Taurat, Kitab Zabur/Mazmur, Injil. Umat Muslim mengakui Yesus atau Isa sebagai Almasih (bahasa Arab=Almasiah, Mesias= Mesiakh (bahasa Ibrani), Kristus= Kristos (bahasa Yunani). Ini sama dengan pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias yang ditulis di Matius 16:16. Mesias berarti “Yang Diurapi”, Seperti Mesias yang dijanjikan Allah yang ditulis dalam Mazmur 2. Namun pengertian Petrus. Yesus adalah manusia biasa/Raja Yang Diurapi Allah, seperti yang dipahami umat Muslim.

Pengakuan Petrus ini terjadi sebelum dia menjadi saksi mata Yesus dimuliakan sebagai Anak Allah, Yaitu Allah sendiri, yang disebut peristiwa “Transfigurasi”. Umat muslim mengklaim bahwa dalam Injil menyatakan Yesus sebagai Mesias bukan Allah. Yang menyatakan Yesus adalah Allah adalah umat Kristen sendiri melalui Pengakuan iman yang ditulis oleh Raja Constantinopel sebagai Paus dalam konsili Vatikan, yang kita ucapkan sebagai pengakuan iman rasuli. Banyak umat Kristen tidak memahami dan menghayati peristiwa Transfigurasi sebagai bukti bahwa Yesus adalah Allah.

Petrus yang mengaku Yesus sebagai Mesias, menjadi saksi mata bahwa Yesus adalah Allah melalui kemuliaannya, di mana bersama Yakobus dan Yohanes (tiga orang saksi mata adalah sah). Yesus berubah rupa di depan mata mereka, wajah-Nya berubah seperti matahari bersinar terang” (Matius 17:2). Kemuliaan yang sama disaksikan Musa di atas gunung Sinai yang ditulis dalam Kitab Keluaran 24:12-18. Tampak Yesus bersama Musa yang mewakili Taurat yang diturunkan Allah dan Elia yang mewakili para Nabi yang diutus Allah.

Petrus, Yakobus dan Yohanes juga mendengar suara yang berkata :”Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia”. (ay.5). Kesaksian Petrus ditulis pada Surat 2 Petrus 1:16-21 meneguhkan umat percaya bahwa: Yesus adalah Tuhan Yang Mahamulia, Di dalam Yesus ada perkenan Allah, Perkataan-Nya/Firman-Nya harus ditaati. Maka tersungkurlah mereka menyembah Yesus sebagai Tuhan.
Peneguhan ini memulihkan kegalauan para murid setelah mereka mendengar perkataan Yesus yang harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga, (Matius 16:21) Jika umat Kristiani menghayati peristiwa Transfigurasi Yesus, kita menyembah Yesus sebagai Tuhan Yang Mahamulia, Dia yang memegang kendali, tidak ada apapun yang terjadi tanpa seijin Dia. Masa depan kita ada dalam genggaman tangan-Nya dan Kasih-Nya tidak berkesudahan. Amin.
tonny iskandar

     

19 Februari 2017
MELEPAS KEINGINAN MEMBALAS
Im. 19:1-2,9-18; Mzm. 119:33-40; 1 Kor. 3:10-11,16-23; Mat. 5:38-48

Membalas kebaikan dengan kebaikan, ataupun membalas kejahatan dengan kebaikan, tentulah sangat baik. Sayangnya, demi untuk mempertahankan harga diri atau mencapai tujuan tertentu, terkadang yg terjadi adalah justru hal yg sebaliknya. Firman Tuhan mengingatkan, orang yang menyimpan kebencian, menuntut balas, menaruh dendam, berbuat curang dalam peradilan, menyebarkan fitnah, mengancam hidup orang lain, dan melakukan kejahatan lainnya, akan mendatangkan dosa bagi dirinya sendiri. Allah menghendaki umat-Nya kudus, seperti Ia sendiri kudus (Im 19:1-2,9-18).
Orang percaya yang dapat membalas kejahatan dengan kebaikan, dan mengalah, bukanlah orang yang kalah, tetapi justru menjadi pemenang iman.

Ketika hati kita memberontak, dan merasa tidak rela untuk mengalah, kita dapat memohon kepada Tuhan, agar kita diberi kemampuan untuk taat kepada Tuhan sampai saat terakhir. Kita bukanlah pendengar- saja, tetapi pelaku firman. Orang yang takut akan Tuhan, dan berpegang kepada perintah Tuhan, akan berbahagia, tidak mendapat malu, mendapatkan kasih setia Tuhan, hidup dalam kelegaan, berpengharapan, mendapat penghiburan dalam sengsara, dan menerima keselamatan kekal (Mzm 119).

Rasul Paulus menggambarkan tiga macam orang di dunia, yaitu manusia duniawi, manusia rohani, dan orang Kristen duniawi. Termasuk yang manakah kita? Kita mengaku sebagai pengikut Kristus, tapi kehidupan kita masih selalu mengandalkan hikmat manusia duniawi.

Membalas kejahatan dengan hal yang lebih jahat lagi, mungkin secara duniawi sangat logis, atau masuk akal. “Rasain lu!” (Rasakan lebih dari apa yang pernah saya rasakan!). “Biar kapok!” (Jangan kau ulangi lagi perbuatanmu!). Tetapi sebagai orang Kristen, dasar hidup kita adalah Kristus. Kita hidup dalam kasih karunia Allah, menjadi bait Allah (rumah di mana Roh Allah berdiam), milik Allah yang kudus, terus mencari hikmat Allah (berpikir seperti yang Allah pikirkan). Allah tidak pernah berpikir jahat, dan merancangkan kesia-siaan. Ia mempertobatkan, bukan membinasakan, ataupun mencelakakan (1 Kor 3:10-11,16-23).

Kristus mengajar kita, agar tampil beda dibandingkan dengan manusia duniawi. Walaupun sulit, tapi karena pengenalan kita akan Allah, kita bisa mengasihi dan berdoa bagi musuh kita, sehingga kita tidak mempunyai musuh lagi, dan memenangkan hidup mereka (Mat. 5:38-48). Kiranya Bapa yang di sorga senantiasa menguduskan dan menyempurnakan kita semua. Amin.
Nancy Hendranata

 

12 Februari 2017
MEMILIH KEHIDUPAN
Ul. 30:15-20; Maz. 119:1-8; 1 Kor. 3:1-9; Mat. 5:21-37

Allah sebagai Pencipta dan Pemilik kehidupan memberi kehendak bebas pada manusia untuk memilih, tentu masing-masing pilihan mempunyai konsekuensinya sendiri. Menjelang akhir hidupnya Musa memperhadapkan umat Israel kepada pilihan yang menentukan masa depan mereka, “... aku menghadapkan kepadamu ... kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan,..” (Ulangan 30:15). Ada peran dan tanggungjawab umat yang tidak bisa dikesampingkan: memilih!

Musa : karena kasih Allah, menaati dan melakukan perintah-Nya mestinya bukan perkara yang sulit dan mustahil. “Sebab perintah ini…tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh... firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu,…” (Ul. 30:11-14). Dengan demikian, Musa mau menegaskan bahwa umat bisa, ini tergantung hati kita “mengalami Allah atau tidak”, ini juga pilihan hati : “mau atau tidak!?”

Apakah untungnya hidup taat dan setia kepada Allah? Tidak kurang dari seratus tujuh puluh enam ayat (Maz. 119), pemazmur menggubah syair untuk mengungkapkan kehidupan yang penuh bahagia ketika seseorang memilih taat, setia dan mengasihi Allah dengan melakukan perintah-Nya.
Yesus tampil berhadapan dengan hukum yang selama ini telah begitu kaku. Yesus menegaskan, “Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Mat. 5:17). Dalam bahasa Yunani, kata menggenapi mengandung pengertian “mengisi”. Serupa dengan mengisi tempayan air atau alat takaran gandum agar menjadi penuh. Hal ini menandakan bahwa ada “kekosongan” ketika umat melakukan hukum TUHAN. Kedatangan-Nya membawa kepenuhan takaran yang dikehendaki oleh Allah, sedangkan kepenuhan itu adalah “kasih”.

Yesus sangat mengerti isi hati manusia – inilah yang menjadi perhatian serius dari Yesus: isi hati manusia! Hati yang penuh dengan kemarahan, kebencian, keinginan untuk melenyapkan, membinasakan. Yesus dengan kematianNya-disalibkan, berkorban dan mengampuni, telah memotivasi manusia agar hidup dan hatinya penuh dengan kasih. Sebagaimana mendendam, perzinahan merupakan tindakan yang menjadikan sesama sebagai obyek pemuasan diri. Maka berzinah berarti ia tidak memilih kehidupan yang benar dan indah. Ia sedang merancang masa depan suram dan kematian!

Sepintas apa yang diajarkan Yesus begitu ekstrim. Namun, sebenarnya Ia ingin agar inti dari permasalahan yang selama ini hati belum tergenapi, tersentuh dan terisi kasih. Yesus : “Jika matamu yang kanan menyesatkan engkau,” kata Yesus, “cungkilah dan buanglah itu!” Yesus mau mengatakan bahwa masalahnya bukan pada tangan, kaki, atau mata kita – yang bermasalah adalah hati kita! Tubuh kita memang terlibat dalam tindakan dosa, tetapi pelaku kejahatan yang sebenarnya ada adalah di dalam diri dan imajinasi kita, di dalam hati kita. Itulah yang sedang digenapi oleh Yesus. Dia datang untuk mengisi, membuat penuh hukum TUHAN dengan cinta kasih yang benar.
Pertanyaan untuk kita: “Apakah hati kita sudah dipenuhi oleh cinta kasih kepada Tuhan?” Kalau itu sudah terjadi maka, tepat jika kita memilih kehidupan dan keberuntungan!
PKM

     

5 Februari 2017
PANCARKAN TERANGMU
Yes. 58:1-12; Maz. 112:1-10; 1 Kor. 2:1-16; Mat. 5:13-20

Kamu adalah garam dunia dan terang dunia, demikian Tuhan Yesus menyebut mereka yang sedang duduk mendengar pengajaran TuhanYesus di bukit (Mat. 5:13-14). Garam dan terang merupakan 2 unsur yang memiliki arti penting dalam kehidupan manusia. Tanpa garam, makanan menjadi hambar dan tidak enak. Tanpa terang, dunia ini akan gelap dan itu tanda dari tidak adanya kehidupan. Maka dengan cukup sederhana Tuhan Yesus ingin pendengarnya untuk menjadi pribadi yang menggarami memberi rasa sedap di tengah dunia ini. Dan menjadi pribadi yang menerangi semua orang sehingga mereka memuliakan Bapa di sorga.

Dalam Mat 5:13 Tuhan Yesus mengingatkan agar garam tidak tawar bukan agar tidak keasinan. Meski tidak berkaitan dengan garam yang keasinan, kita tetap bisa memaknai bahwa garam itu harus pas, tidak tawar dan tidak keasinan. Sehingga sebagai murid, kita diingatkan untuk menjadi garam yang menggarami dunia ini dengan pas dan tepat. Namun menjadi pribadi yang menggarami dengan ukuran yang pas dan tepat pastilah tidak mudah, karena itu kita perlu bertanya dan terus bergumul bersama Tuhan untuk bisa melakukannya.

Demikian juga halnya dengan undangan Tuhan agar kita menjadi terang yang menerangi semua orang tentu tidak mudah. Jika terlalu terang dan panas bisa membutakan dan membakar orang lain. Menjadi terang yang memancarkan terang yang pas dan yang membuat orang memuliakan Tuhan, maka sama seperti gambaran sebagai garam, kita perlu belajar untuk membangun hubungan yang intim dengan Sumber Terang itu. Jadi untuk menggarami dan menerangi orang, sehingga mereka memuliakan Tuhan, maka kita membutuhkan hikmat!

Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan (Maz. 111:10a). Dan Orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang berbahagia (Maz. 112:1). Ia tidak takut kabar celaka, karena ia percaya penuh kepada Tuhan (Maz. 112:7). Hikmat itulah yang akan membimbing ia agar menjadi terang dan garam yang tepat dan pas, seperti yang dinasehatkan oleh Paulus dalam 1 Kor. 2:5 yaitu supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.
Inilah undangan dari Tuhan untuk kita menggarami dan menerangi sekeliling kita agar mereka memuliakan Tuhan. Pancarkanlah terangmu dengan kekuatan dan hikmat yang dari Allah. Tuhan memberkati.
ds.theol

 

29 Januari 2017
PARA PEMILIK KEBAHAGIAAN”
Mikha 6:1-8; Maz. 15; 1 Kor. 1:18-31; Mat. 5:1-12

Kata bahagia selalu menarik perhatian banyak orang. Orang akan berkata siapa yang tidak ingin bahagia? Kemudian berbagai cara di tempuh untuk bahagia. Kebahagian pun seringkali dimaknai apabila kita memiliki benda-benda tertentu, punya status sosial atau bergaya hidup tertentu. Akhirnya untuk mendapatkan “kebahagiaan” itu orang memilih untuk menghalalkan segala cara termasuk menipu, menindas, atau mengambil yang bukan haknya. Gaya hidup yang konsumtif dan glamour pun lekat dalam definisi orang-orang yang dikatakan berbahagia. Tidak jarang ingin mendapatkan segala sesuatu dengan mudah dan cepat. Maka tidak heran jika ada orang yang bisa melakukan eksploitasi seks, konsumsi narkoba, bahkan menjadi pengedar. Sedemikiankah potret manusia dalam mencari kebahagiaan? Apakah kebahagian benar-benar kita dapatkan? Ataukah kehampaan yang terus mengusik perasaan kita?

Lantas apa makna bahagia itu sendiri? Mari kita melihat bagaimana Yesus mengajarkan kepada kita akan arti kebahagiaan itu (Matius 5:1-11). Dalam pengajaran Yesus di bukit sepuluh ayat berturut-turut Yesus mengatakan “berbahagialah”. Kata “berbahagialah” bukanlah lagi harapan yang akan terjadi atau keadaan yang akan datang atau sekedar kata menghibur hati. Tetapi sebagai ucapan selamat yang artinya bagaimana pengikut Yesus seharusnya hidup supaya mendapat kebahagiaan sejati yang sebenarnya sudah tersedia bagi kita semua dan tidak perlu kita cari lagi.

Oleh karena itu mari kita melihat makna kebahagiaan yang diungkapkan dalam empat hal ini.
Pertama, kebahagiaan bukan bergantung pada apa yang dirasakan atau dialami oleh seseorang. Ditengah berbagai definisi kebahagian yang seringkali bersumber pada kepemilikan, dalam ayat 3 Yesus ingin menegaskan bahwa kebahagiaan adalah saat kita menekankan sesuatunya di dalam Allah bukan lagi milik kita sebagai subjeknya.

Kedua, kebahagiaan menjadi milik setiap orang yang tahu menempatkan apa yang seharusnya menjadi prioritas. Ayat 6 menuliskan berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, dan tidak mementingkan kelaparan dan kehausan akan perkara-perkara yang lain yang belum tentu bermanfaat bagi kita.
Ketiga, kebahagiaan adalah milik orang yang mengerti bagaimana menghargai dirinya dan sesama. Ayat 5 dan 7 mengajarkan kita untuk mampu menempatkan dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang orang lain bukan hanya mementingkan dari sisi kita saja.
Dan yang keempat kebahagiaan menjadi milik orang yang suci hatinya(ayat 8). Kita akan merasakan kebahagiaan itu jika kita memiliki hati yang murni dan tulus tanpa ada motivasi atau kepentingan lain kepada sesama.

Orang-orang yang berbahagia adalah orang yang membawa damai. Melibatkan diri dalam pekerjaan Allah. Damai adalah segala sesuatu yang membuat dan membawa kebaikan bagi manusia. Itulah sebabnya orang yang membawa damai disebut sebagai anak Allah. Para pembawa damai tidak akan kehilangan kebahagiaannya, karena sumber kebahagiaan bukanlah terletak pada apa yang dialaminya, yang dapat berubah-ubah, namun kepada Allah yang akan mengubahkan segala sesuatu menjadi kebaikan.

Pada akhirnya, untuk keadaan paling buruk sekalipun yaitu dicela, dianiaya,serta difitnahkan segala sesuatu yang jahat, orang-orang yang disebut sebagai pengikut Kristus akan tetap disebut berbahagia karena Yesus menegaskan kepada kita bersukacitalah dan bergembiralah karena kita sudah mendapat bagian dalam kebahagiaan sejati yang disediakan Sang Sumber Kebahagiaan.
Joice

     

22 Januari 2017
MEMBERITAKAN INJIL DENGAN KEKUATAN ALLAH
Yes. 9:1-4; Maz. 27:1, 4-9; 1 Kor. 1:10-18; Mat. 4:12-23

Perintah Tuhan Yesus untuk memberitakan Injil tak asing bagi orang Kristen (Mat. 28 : 19-20). Perintah itu dimaksudkan, agar keselamatan yang telah diterima dan dialami oleh orang Kristen jangan dimonopoli bagi dirinya sendiri, melainkan juga dibagikan kepada sesama manusia. Itu berarti, bahwa orang Kristen dianjurkan untuk peduli dan memerhatikan orang-orang di sekitarnya. Tentu pada awalnya adalah pasangannya, orangtuanya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, kemudian kerabatnya, sanak familinya, menyusul tetangganya, dan seterusnya. Urut-urutan itu tidak berarti harus menunggu secara bergilir, sebab jika memungkinkan siapa pun boleh saja mendahului / meloncat kepada yang lain secara simultan, mengingat tindakan memberitakan Injil sebenarnya sedang berpacu dengan waktu, baik karena `selagi masih siang, akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja‘ (Yoh 9 : 4), maupun karena masa hidup seseorang dapat saja mendadak berakhir. Jika seseorang telah meninggal dunia, pemberitaan Injil kepadanya tak ada gunanya.

Sebelum kita memberitakan Injil kepada orang lain, terlebih dahulu kita periksa, sejauh mana Injil itu telah meyakinkan hati kita, sehingga kita percaya kepada Tuhan Yesus dan mengakui-Nya sebagai Juruselamat kita. Ibaratnya, seorang penjual obat tumbuh rambut baru dapat meyakinkan orang lain untuk mau membeli obat yang dijajakannya, jika rambut si penjual itu gondrong. Apa jadinya jika kepala si penjualnya gundul plontos, para calon pembeli tentu tak mau percaya kemujaraban obatnya, bukan? Praktik pemberitaan Injil kita lakukan dengan kata-kata (verbal) dan perbuatan.

Biasanya orang Kristen enggan untuk memberitakan Injil dengan kata-kata. Alasannya, malu ah, kok seperti pendeta saja. Kalau begitu, perilaku kehidupan itulah wujud pemberitaan Injil para anggota jemaat. Hal itulah yang diperingatkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat Korintus, sebab di tengah jemaat itu ada perselisihan antarsatu anggota dengan anggota yang lain. Tentu kenyataan itu tidak menarik hati orang non-Kristen untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Alasannya, yang sudah Kristen pun masih berselisih. Tepat jika ada orang yang menggambarkan kehidupan orang Kristen itu seperti kehidupan ikan di dalam aquarium, ke mana pun orang Kristen pergi dan di mana pun orang Kristen berada selalu dilihat oleh warga masyarakat.

Pada hal justru sukacita dalam kehidupan Kristen itulah yang merupakan kekuatan Allah untuk memberitakan Injil kepada orang lain di tengah masyarakat. Sejak zaman Tuhan Yesus, proses itu berlangsung mulai dari 4 orang murid (Mat. 4 : 18-22), 12 orang murid (Mat. 10 : 1-4), 70 orang murid (Luk. 10: 1-12, 17-20), 120 orang murid (Kis. 1 : 15), 3000 orang murid (Kis. 2 : 41), hingga ratusan juta orang murid pada dewasa ini. Maka sebagai bagian dari hmpunan para murid Tuhan Yesus di dunia, kita pun wajib memberitakan Injil kepada sesama manusia. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

15 Januari 2017
MELANGKAH DALAM INTEGRITAS
Yes. 49:1-7; Maz. 40:1-11; 1 Kor. 1:1-9; Yoh. 1:29-42

Orang beragama Kristen tidak sama dengan menjadi murid Kristus. Maksudnya orang Kristen belum tentu menjadi murid Kristus, tetapi murid Kristus pasti menjadi orang Kristen. Ungkapan di atas akan menjadi jelas setelah kita membahas renungan di bawah ini.

Ada empat hal penting dalam pembahasan firman ini.
Pertama, Allah memanggil orang-orang untuk menjadi murid-Nya. Andreas, Simon Petrus, Filipus dan Natanael, mereka dipanggil Yesus secara pribadi untuk menjadi murid-murid-Nya, dengan latar belakang yang berbeda-beda dan memiliki identitas yang baru yaitu sebagai murid Yesus. Pengalaman ini juga yang dialami oleh rasul Paulus, bahwa ia dapat menjadi hamba Kristus, pelayan Kristus karena kehendak Allah.
Kedua, Murid-murid Yesus dituntut untuk hidup sesuai dan selaras dengan status yang baru sebagai murid Yesus. Yesus harus menjadi sentral kehidupannya, karakter, model dan gaya kehidupan bagi para murid-Nya. Ini yang disebut sebagai integritas; integritas berarti gaya hidup yang sesuai dan selaras dengan status/ identitasnya. Inilah yang membedakan antara orang beragama Kristen dengan murid Yesus. Banyak orang yang mengaku sebagai orang Kristen tetapi gaya hidupnya seperti orang kafir/ orang yang tidak ber-Tuhan. Orang dapat disebut sebagai murid Yesus jika mereka benar-benar memiliki karakter sebagai murid Yesus Kristus, seperti yang dijelaskan dalam Matius 16:24, yaitu menyangkal dirinya. Ini berbicara tentang pertobatan, pembaharuan hidup, ciptaan baru, kehidupan yang baru, yaitu meninggalkan kehidupan dosa. Memikul salib berarti berbicara tentang harga yang harus dibayar sebagai seorang murid, pengorbanan, siap menderita karena iman, siap memberikan hidupnya bagi Tuhan dan sesama. Mengikut Yesus berarti mentaati kehendak Yesus dan tekun sampai mati, seperti Kristus taat pada Bapa-Nya sampai mati di kayu salib.

Ketiga, Andreas mengalami perjumpaannya dengan Yesus secara pribadi, ia menjadi murid Yesus, dan memiliki identitas yang baru. Ia membagikan pengalaman iman itu kepada saudaranya yaitu Simon dan seterusnya kepada orang lain. Pengalaman iman tidak untuk dinikmati sendiri, tetapi juga dibagikan kepada saudaranya, ini hal yang sangat penting. Simon Petrus, Filipus dan Natanael tidak akan menjadi murid Yesus jika tidak ada yang memperkenalkannya, mengajaknya dan mewartakannya.
Anggota keluarga kita, saudara kita, teman kita, sahabat kita dan tetangga kita tidak dapat mengenal Kristus jika kita tidak mewartakanNya, menawarkanNya dan memperkenalkanNya. Melalui renungan ini mari kita berjuang bukan untuk menjadi orang beragama Kristen, tetapi berjuang untuk menjadi murid Kristus. Murid Kristus yang hidup sesuai dengan karakter Kristus, yang berarti hidup berintegritas. Mari kita membagikan pengalaman iman itu kepada yang lain, supaya yang lain pun mengalami perjumpaan dengan Yesus. Tuhan memberkati. Amin.
RDL

 

     

8 Januari 2017
BAPTISAN SEBAGAI TANDA
Yes. 42:1-9; Mzm. 29; Kis. 10:34-43; Mat. 3:13-17

Tidak semua orang yang percaya kepada Kristus mau dibaptis, mengapa? Alasannya takut, kalau sudah dibaptis, nantinya harus ke gereja terus tiap Minggu. Alasan yang lain, karena melihat hidup orang yang sudah dibaptis, tidak berubah menjadi anak Tuhan yang lebih baik.
Kalau baptisan hanya kita lakukan karena tradisi, maka baptisan tidak akan ada dampaknya bagi kita. Hidup kekristenan kita akan sama saja, baik sebelum maupun setelah dibaptis.
Ada orang Kristen yang rajin melayani di gereja, tapi kehidupan sehari-hari mereka tidak mencerminkan sebagai anak-anak Tuhan. Kekristenan, baptisan, melayani di gereja, hanyalah tradisi turun temurun. Tradisi ini tidak mewarnai perilaku sehari-hari. Di gereja mereka terlihat baik, tapi di luar gereja mereka belum sungguh-sungguh religius. Mereka bagaikan orang Kristen yang hanya bajunya saja, bukan hatinya, hanya kulitnya, bukan isinya.

Yohanes Pembaptis berseru-seru di padang gurun Yudea, agar manusia bertobat. Lalu datanglah penduduk dari Yerusalem, seluruh Yudea, dan seluruh daerah Sungai Yordan, mengakui dosa, bertobat, dan dibaptis oleh Yohanes di Sungai Yordan. Tapi ketika orang-orang Farisi dan Saduki datang juga untuk dibaptis, Yohanes menasihatkan mereka, agar mereka benar-benar bertobat terlebih dahulu, dan menghasilkan buah sesuai dengan pertobatan (Mat. 3:2-9). Baptisan bukan karena ikut-ikutan, juga bukan karena tradisi keluarga, tapi baptisan adalah tanda pertobatan. Yesus juga minta dibaptis oleh Yohanes. Apakah Dia manusia berdosa, sehingga harus bertobat, dan dibaptis oleh Yohanes? Yesus dibaptis bukan untuk pertobatan, karena memang tidak ada yang perlu dipertobatkan di dalam diri-Nya. Yesus mengatakan, bahwa Dia dibaptis untuk menggenapi seluruh kehendak Allah (Mat. 3:13-16). Apa kehendak Allah dalam diri Tuhan Yesus, sehingga Ia harus turun ke dunia? Tuhan Yesus harus mati untuk menebus dosa-dosa manusia.

Yesus dibaptis, setidaknya kita pahami, karena :
1. Ia menunjukkan solidaritasnya dengan manusia. Ia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia, sama dengan manusia, orang-orang yang akan ditebus dan diselamatkan-Nya. Dia disamakan dengan mereka dalam segala hal, hanya Dia tidak berdosa (Ibr. 2:17)
2. Baptisan adalah kematian terhadap dosa, dan kebangkitan dari kuasa dosa. Yesus menyatakan kebangkitan-Nya didahului oleh kematian-Nya
3. Baptisan menjadi tanda awal untuk memulai pelayanan Yesus. Baptisan adalah tanda pembasuhan sebagaimana yang dijalani oleh para imam untuk memulai pelayanannya untuk mewakili kaum Israel di hadapan Tuhan (Kel. 29:4, Im. 8:24). Baptisan Yesus merupakan tanda yang harus dijalani oleh Yesus sebagai imam yang akan menanggung dosa manusia

4. Setelah dibaptis, Roh Kudus turun ke atas-Nya. Roh Kudus inilah yang akan menolong dan menguatkan manusia Yesus dalam menjalankan misi-Nya di dunia.
5. Setelah dibaptis, Allah sendiri memproklamirkan, bahwa Yesus adalah Anak-Nya yang dikasihi dan diperkenan-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya (Mat. 3:17; Kis. 10:34-42). Keselamatan adalah bagi semua bangsa, semua orang yang percaya kepada-Nya (Kis. 10: 43)

Nabi Yesaya sekitar 700-an tahun sebelumnya sudah menubuatkan tentang seorang hamba Tuhan yang dipilih dan diperkenan oleh Tuhan untuk menolong, menyelamatkan, dan menjadi terang bagi bangsa2 (Yes. 42:1-9). Bangsa Israel pada waktu itu sedang mengalami penindasan yang amat sangat dari bangsa Babel. Mereka berseru kepada Tuhan, mengapa Ia membiarkan mereka hidup menderita. Dunia mereka serasa gelap, dan masa depan juga begitu gelap, tanpa ada pengharapan sama sekali. Sama seperti kita, ketika menghadapi masalah yang besar, mungkin ada yang bertanya kepada Tuhan : “Tuhan, saya percaya Tuhan ada, tapi mengapa Tuhan mendiamkan, dan tidak menolong saya?” Yesaya menubuatkan, kepada hamba-Nya inilah Allah berkenan, dan menaruh Roh-Nya ke atas hamba-Nya. Tuhan tidak berkenan kepada sikap umat-Nya yang bergantung kepada patung (Yes. 42:8). Pertolongan kita datangnya hanyalah dari Tuhan Yesus, bukan dari patung atau berhala-berhala yang lain. Ketika kita mengalami kesulitan, hanya Tuhan Yesus yang dapat membebaskan kita. Ketika dunia serasa gelap, Tuhan Yesus yang akan menjadi terang bagi kita.

Pemazmur menyatakan, kemuliaan, kekuatan, kekuasaan hanya ada pada Tuhan. Ia-lah Raja untuk selama-lamanya. Hanya Tuhan sendirilah yang dapat memberikan kekuatan, dan memberkati umat-Nya dengan sejahtera (Mzm. 29).

Marilah Saudara dan saya merenungkan, sudahkah baptisan kita bermakna sebagai tanda pertobatan, percaya kepada Tuhan Yesus, dipersatukan dengan semua orang percaya sebagai satu tubuh Kristus, kesediaan diri untuk terus dibaharui, serta menjalani hidup yang berkenan kepada Allah? Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Nancy Hendranata

 

1 Januari 2017
BERKARYA KEBAIKAN DEMI MASA DEPAN
Pengkhotbah 3:1-13; Mazmur 8; Wahyu 21:1-6; Matius 25:31-46

Apa arti hidup ? Hidup itu adalah tugas, tekunilah. Yang lain mengatakan : Hidup adalah perjalanan, tempuhlah. Hidup adalah pemberian, hargailah. Jika kita mau dengar pendapat banyak orang, maka jawabnya mungkin akan berbeda-beda. Bagi kita yang ingin hidup bermakna, maka kita mesti memanfaatkan hidup ini, karena hidup tidak berulang. Sebagaimana di katakan orang di atas, hidup sebagai pemberian, namun akankah kita hanya isi dengan rutinitas saja? Tanpa gairah, tanpa tujuan, bahkan tidak ada sesuatu yang baik dan berarti? Hari ini, banyak orang hidupnya hanya mengulang dari apa yang pernah dilakukan, tanpa ada kerinduan untuk memberi lebih dari yang sebelumnya. Semua terjadi berulang, dan berlalu seperti hari kemarin.

Hari ini kita memasuki tahun baru 2017, penting untuk kita merenungankan : resolusi (pemecahan masalah) apa yang telah kita buat di tahun baru ini ? Firman Tuhan hari ini, menolong kita untuk bagaimana kita mengisi tahun baru kita.
Yang pertama : mengingatkan kita bahwa hidup yang kita jalani tak selamanya berjalan dengan mulus. Seringkali terjadi ada interupsi dari Tuhan yang menyadarkan kita, betapa rapuhnya kita. Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk untuk tertawa, ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari (Pengkhotbah 3:4). Tidak selamanya kita berhasil, tidak selamanya kita tertawa, kadang menangis, meratapi nasib buruk yang kita alami. Namun disadari atau tidak, kenyataan ini membawa kita pada kesadaran betapa kita membutuh Tuhan. Menolong kita untuk merendahkan diri, tetapi yakin bahwa semua dapat menjadi kebaikan bagi yang mengasihi Dia.
Kedua, dengan banyaknya interupsi yang di-ijinkan Tuhan terjadi dalam jalan hidup kita menolong kita untuk menyadari bahwa perjalanan hidup kita, bukan bukan sekedar berjalan, tetapi bagaimana kita mengisi dengan yang bermakna. Hidup bukan sekedar terjadinya urut-urutan peristiwa (kronos) tetapi juga kairos, yakni kesempatan dari Tuhan. Memaknai hidup sebagai kesempatan, akan menjadikan kita ingin menggunakannya dengan baik. Yakni berbuat kebaikan di masa depan kita, agar hidup ini tidak menjadi sia-sia

Pengkhotbah 3 mengingatkan kita bahwa ada waktu untuk lahir tetapi juga ada waktu untuk mati. Peristiwa kematian adalah akhir dari kehidupan manusia di dunia, dimana kesempatan untuk berbuat kebaikan tidak ada lagi.
Ketiga, Firman Tuhan mengingatkan kita agar kita menjadi domba bukan kambing. Maksudnya seperti yang disampaikan oleh penulis Matius, bahwa akan datang waktu dimana akan datang penghakiman dimana Tuhan Yesus sebagai Hakim, akan menghakimi setiap orang (selain iman) berdasarkan perbuatan (dari imannya). Ketika manusia hanya mengisi hari-harinya sebagai rutinitas saja, atau waktu sebagai kronos – manusia bisa kehilangan kemanusiaannya, hanya seperti robot – hidupnya hanya rutinitas yang menjemukan. Dan akhir dari semua itu adalah penghakiman. Dimana, bila tidak bisa lagi berbuat kebaikan (mengasihi) sesama. Ketika datang penghakiman maka habislah sudah kesempatannya.
Tuhan tahu bahwa hidup kita bernilai, bermakna atau tidak bagi sesama yang hina, lemah dan membutuhkan pertolongan. Kepada yang mengasihi, membantu sesama yang hina, itu sama dengan berbuat mengasihi Tuhan (melalui sesama).
Ke-empat, firman Tuhan mengingatkan kita, agar memakai hidup ini untuk berbuat kebaikan. Selagi ada waktu, kita dipanggil untuk melakukan kebaikan. Kebaikan menurut firman Tuhan adalah memanusiakan sesama. Melakukan kebaikan bagi yang paling hina. Dengan kebaikan berarti kita mengisi waktu sebagai kesempatan. Pada akhirnya layak sebagai domba (Matius 25:32-33).

Marilah kita mengisi tahun baru kita, bahkan setiap kesempatan agar segala sesuatu yang selalu ada waktunya itu : juga indah pada waktunya. Mari kita gunakan selagi masih ada waktu, karena ada waktunya kita tidak bisa berbagi lagi. Mari kita ingat bahwa kita ini apa dan siapa kita. Agar bisa berbuat dengan tulus, kita bisa belajar dari Pemazmur yang menyadari keberdosaannya.
PK

 
TAHUN 2016
 
 

25 Desember 2016
Keluarga Terang yang Menerangi Sekitarnya
Yesaya 52:7-10; Mazmur 98; Ibrani 1:1-12; Yohanes 1:1-14

Terang sesungguhnya yang menerangi setiap orang sedang datang ke dalam dunia, itulah Yesus Kristus. Jadi Yesus Kristus adalah sumber terang itu sendiri. Jika keluarga kita ingin menjadi terang bagi sekitar kita, maka kita harus memiliki terang itu sendiri, yaitu memiliki Yesus dalam kehidupan keluarga kita. Hanya orang yang percaya dan menerima terang itu, maka ia tidak akan hidup dan berjalan dalam kegelapan, tetapi akan hidup dan berjalan dalam terang. Dunia membutuhkan terang, atau dunia membutuhkan Yesus, karena dunia telah rusak dan gelap karena dosa. Itulah sebabnya, Yesus datang ke dalam dunia untuk menerangi.

Pertanyaan untuk kita renungkan bersama adalah bagaimana kita bisa menjadi terang? Konkretnya bagaimana? Pertama, kita secara pribadi harus memiliki terang itu, memiliki Yesus di dalam diri kita. Kita di dalam Yesus, dan Yesus di dalam kita, dengan demikian terang itu akan bercahaya melalui hidup kita. Kedua, secara konkret dalam kehidupan keluarga adalah hubungan yang harmonis antara suami-istri, orang tua-anak, akan menjadi contoh bagi orang-orang disekitar kita. Perkataan-perkataan yang positif, membangun, menyejukkan, memotivasi, bersyukur selalu akan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.

Dalam konteks pekerjaan, jika kita mengerjakan tugas dan tanggung jawab kita dengan baik, benar, jujur maka itu akan menjadi berkat bagi rekan kerja, perusahaan dan bagi keluarga. Dalam konteks bisnis dan usaha, jika kita menjalankan bisnis dengan jujur, memperhatikan etika/ norma-norma bisnis, dan tidak keluar dari nilai-nilai iman Kristen, maka itu akan menjadi berkat bagi rekan bisnis, bagi orang lain dan bagi keluarga. Dalam konteks pelayanan kita, jika kita melayani dengan tulus, penuh kasih, tidak memandang muka, tidak mementingkan diri sendiri, maka itu akan menjadi berkat bagi jemaat yang dilayaninya, maupun orang lain yang memperhatikan kita.

Kesimpulannya adalah dunia ini sungguh-sungguh membutuhkan terang itu. Sebab dunia dari hari ke hari bukan semakin baik, tetapi semakin gelap dan rusak karena dosa. Inilah saatnya orang Kristen & keluarga-keluarga Kristen harus mampu memancarkan sinar, meskipun sinarnya itu kecil, tetapi Tuhan memampukan kita semua untuk tetap bersinar di tengah-tengah dunia yang gelap ini. Amin
RDL

 
     

18 Desember 2016
Keluarga Terang yang Berbagi Kasih
Yesaya 7:10-16; Mazmur 80:1-7, 17-19; Roma 1:1-7; Matius 1:18-25

Minggu Adven keempat ini dilambangkan dengan cinta/kasih (love, agape,tresno). Kasih Allah yang begitu besar kepada umat-Nya sudah tidak tertahankan lagi, sehingga Ia rela hadir – seperti yang dinubuatkan dalam Yesaya 7:14, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” – di dalam rahim seorang perempuan bernama Maria (Matius 1:18 “...., ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, ....”). Namun kasih Allah yang begitu besar ini membuat terkejut dan tidak dapat dipahami oleh Yusuf, tunangan Maria. Yusuf memang seorang yang mengasihi Maria – dari mana kita tahu? nanti akan saya jelaskan – tapi apakah kasih yang dimilikinya saat itu adalah kasih yang diharapkan oleh Allah?

Di dalam Matius 1:18 dikatakan Yusuf adalah tunangannya, tapi tiba-tiba di ayat 19 dikatakan Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Jadi pertanyaannya adalah saat itu terjadi (Maria mengandung dan Yusuf belum tahu anak siapa dalam kandungan itu), status mereka tunangan atau menikah? Dalam tradisi Yahudi ada dua macam pertunangan: 1. Pertunangan – engagement (dijodohkan orang tua saat anak-anak). Pertunangan semacam ini bisa berakhir dengan pembatalan. 2. Pertunangan – bethrotal (terjadi antara dua orang sudah cukup umur). Mereka sudah disebut ‘suami istri’, tetapi mereka belum tinggal bersama dan belum boleh melakukan hubungan sex. Pertunangan ini hanya berlangsung 1 tahun. Pemutusan pertunangan ini dianggap sebagai perceraian dan dianggap sebagai dosa. Pada saat itu, Yusuf dan Maria ada pada pertunangan yang kedua ini – bethrotal. Jadi hubungan Yusuf dan Maria bukan karena perjodohan orang tua, tetapi karena ada cinta di antara mereka.

Yusuf dikatakan seorang yang tulus hati (ay 19 – bahasa Yunaninya dikaios: righteous, kebenaran, orang yang benar). Injil Matius ingin memperlihatkan sosok Yusuf yang memiliki kebenaran namun masih dalam tahap benar menurut dirinya sendiri (dalam PA Umum, Senin 24 Oktober 2016 saya pernah menjelaskan tentang perbedaan dikaios dengan alethei. Secara sederhana, dikaos dapat diartikan kebenaran dalam diri manusia menurut dirinya sendiri dan biasa disebut kebenaran relatif, sedangkan alethei kebenaran dalam diri Allah dan biasa disebut kebenaran mutlak/sejati). Matius ingin mengajak pembacanya menjadi seperti Yusuf yang berproses dari kebenaran relatif menjadi kebenaran mutlak/sejati yaitu tentang Anak dalam kandungan Maria yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa dan itu tanda bahwa Allah menyertai umat-Nya (ay. 20-23). Dan dalam kaitannya dengan cinta atau kasihnya kepada Maria, Matius ingin memperlihatkan proses perubahan cinta/kasih Yusuf menurut kehendaknya pribadi menjadi kasih Yusuf menurut kehendak Allah. Sehingga pada akhirnya Yusuf tetap mengambil Maria sebagai istrinya (ay 24).

Dengan demikian, di dalam perikop ini Matius ingin pembacanya: 1) tidak sekedar tahu dan menyadari tentang kasih Allah pada manusia, yang dengan rela mengutus Anak-Nya ke dalam rahim seorang perempuan; 2) tetapi juga mengajak pembacanya untuk memproses kasih di dalam dirinya menjadi kasih yang terlibat dan masuk dalam rangka keselamatan Allah bagi manusia. Secara simple kita diajak untuk memiliki kasih Allah, kasih Kristus, kasih kudus, kasih putih – agape. Karena itu, di Minggu Adven keempat ini pengharapan, damai, sukacita dan kasih sudah hadir di dalam rahim Maria – tanda kasih Allah pada umat-Nya; dan setiap umat diundang untuk memproses kasihnya (di sini kita mencoba memaknai sebuah proses perubahan cinta manusia menuju cinta Allah melalui sebuah proses degradasi warna ungu menuju putih yaitu merah muda).

Dan karena kita milik Kristus (Roma 1:6), marilah kita berproses dalam kasih itu dengan berupaya membagikan/memancarkan kasih Allah ke seluruh dunia sembari menyambut dan merayakan kelahiran-Nya yang sudah sangat dekat. Tuhanlah Cinta!
dstheol

 

 

11 Desember 2016
Keluarga Terang Keluarga Terang yang Berbagi Sukacita
Yesaya 35:1-10; Maz. 146:5-10; Yakobus 5:7-10; Matius 11: 2-11

Banyak peristiwa dan hal-hal lain yang membuat kita dapat bersukacita dan berbahagia. Bagi anak-anak suasana Natal memberikan sukacita tersendiri karena akan mendapatkan hadiah Natal dari kedua orang tuanya atau dari opah atau omahnya. Bagi orang tua suasana Natal juga membawa sukacita karena semua anggota keluarga bisa berkumpul di rumah dan pergi ke gereja bersama-sama merayakan Natal. Atau suasana natal membawa sukacita karena waktu yang tepat untuk berbagi kehidupan dengan orang lain. Namun demikian situasi dan kejadian-kejadian di sekitar kita seringkali mengganggu kita supaya kita kehilangan sukacita dan kebahagiaan itu.

Dalam Yesaya 35:1-10, menjelaskan tentang nubuatan kedatangan Sang Mesias, Sang Juruselamat. Ketika Ia datang akan memulihkan orang-orang yang terbelenggu oleh berbagai penyakit (ayat 5-6). Orang buta bisa melihat; orang kusta bisa ditahirkan; orang lumpuh dapat berjalan; orang bisu bisa bersorak sorai; orang tuli bisa mendengar; orang mati bisa dibangkitkan. Suasana sukacita dan sorak-sorai bagi orang yang mengalami pembebasan dan pemulihan digambarkan dalam ayat 6b–10. Suasana sukacita dikiaskan seperti mata air memancar di padang gurun dan sungai di padang belantara; tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam air; dan tanah gersang menjadi sumber-sumber air dll. Padang belantara, padang pasir dan padang gurun menjelaskan keadaan yang menyeramkan, tidak ada pengharapan, tidak ada kehidupan, keadaan yang sulit dan penuh ancaman telah diubahkan menjadi mata air yang mengalir. Air menjelaskan tentang kehidupan yang penuh dengan sukacita dan pengharapan. Sukacita ini akan terus mengalir dan mengalir; ini yang disebut sukacita abadi (ayat 10).

Dalam Matius 11:2-11, menjelaskan tentang penggenapan apa yang dinubuatkan oleh Yesaya 35:1-10. Ketika para murid Yohanes diutus untuk bertanya kepada Yesus: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Jawab Yesus: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.”

Ayat ini mau mengatakan bahwa Yesuslah yang telah melakukan itu sesuai dengan nubuatan nabi Yesaya.Betapa penuh sukacitanya mereka yang menga Betapa penuh sukacitanya mereka yang mengalami pembebasan, pemulihan dan keselamatan dari Yesus. Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku. Orang yang paling berbahagia dan bersukacita adalah orang yang menyambut, mengenal dan menjadikan Yesus Sang Mesias menjadi Tuhan dan Juruselamatnya. Yesus adalah anugerah terbesar yang Allah berikan kepada manusia sepanjang sejarah, dulu, sekarang dan yang akan datang. Orang yang menolak Yesus Kristus berarti telah kehilangan sukacita dan kebahagiaan terbesar dalam hidupnya. Tugas kita adalah berbagi sukacita dan kebahagiaan itu kepada orang lain. Kita diberkati untuk menjadi berkat.

Dalam Yakobus 5:7-10 menjelaskan tentang sikap yang benar ketika kita berbagi kehidupan selama di dunia ini. Tidak mudah untuk kita berbagi sukacita kepada orang lain; tantangan, hambatan, intimidasi, prasangka, ancaman dan lain-lain menghalangi kita. Namun demikian sikap yang harus kita tunjukkan adalah bersabar dan tetap bertekun seperti kesabaran dan ketekunan seorang petani; seperti kesabaran dan ketekunan Ayub. Jauhkan sikap bersungut-sungut apalagi menghakimi dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Semua hambatan, intimidasi dan ancaman tidak akan mengurangi bahkan merampas sukacita dan kebahagiaan kita dalam Kristus. Marilah kita sambut Sang Mesias, Raja Damai dengan semangat dan sukacita sorgawi. Amin. RS.
pkm

     

4 Desember 2016
Keluarga Terang yang Berbagi Damai
Matius 3:1-12; Yesaya 11:1-10; Roma 15: 1,2,5,7

Sumber shalom yang dimiliki manusia itu berasal dari Allah. Makna Shalom atau Eirene adalah : keharmonisan dengan Allah dan sesama, ketenangan, kemakmuran, keamanan / rasa aman, keutuhan jiwa dan pikiran.
Alkitab menjelaskan bahwa orang Kristen adalah pembawa damai - “Berbahagialah org yg membawa damai, karena mrk akan disebut anak-2 Allah”. Predikat sebagai anak-anak Allah adalah pembawa damai (Matius 5:9).
Konteks zaman kita : Dunia yang penuh dengan dendam dan permusuhan, baik di keluarga : ada anak tidak lagi berkomunikasi – dgn ortunya, krn sakit hati. Di negeri kita tidak jarang terjadi ketidak harmonisan antar agama, ras atau golongan. Dimana orang Kristen ? Kita perlu mengoreksi diri, karena kita belum membawa damai jika hanya mendoakan dan membela sepihak, juga belum melakukan apa-apa jika hanya diam / tidak peduli. Apalagi jika membubui sehingga yg benci makin tambah benci, yg tidak senang makin tambah tidak senang ... jelas bertolak belakang dengan predikat “pembawa damai”. Firman Tuhan hari ini hendak mengingatkan kita kembali agar bisa menjadi pembawa damai. Kita dapat menjadi pembawa damai bila :

1. Memulai hidup kita dari Allah
“Bertobatlah...luruskanlah jalan untuk Tuhan ... sambil mengaku dosanya, mrk di baptis oleh Yohanes ... ( Matius 3 : 2, 3,6 ). Banyak orang yang kehilangan semangat dan tidak tahu makna hidupnya. Tidak tahu mau kemana hidupnya ditujukan. Maka mulai-lah dari Allah. Coba diruntut kembali bagaimana kita menjadi pengikut Kristus ? Karena keturunan, pernikahan, kebiasaan / budaya / ikut-ikutan? Titik awal ini tidak salah, tetapi jika kita tidak benar-benar mengalami Allah, kita bisa tidak tahu kemana arah hidup kita. Bertobatlah – beri dirimu berdamai dengan Allah : AGAR HIDUP DIJALANKAN KARENA PANGGILAN DAN IMAN. Ingat tanpa panggilan – hidup kita tidak berarti apa-apa. Perlu klik ... dengan Allah. Maka BERTOBAT adalah cara kita kembali kita pada Allah. MAKA barulah kita dapat memetik HASIL-nya yakni DAMAI : yakni BUAH yg sesuai pertobatan (ay.8). Sosok pembawa damai adalah SEPERTI YOHANES Pembaptis, yg hidupnya dimulai dari Kristus : hidup “menjadi telunjuk” bagi Kristus. Makan madu hutan, pakaian dari kulit binatang, berani berkata benar - tidak takut menegur org farisi dan saduki sebagai “keturunan ular beludak” – menunjukkan karakter yang sudah diubahkan. Ia memiliki tujuan yang jelas yakni hidup untuk mempersiapkan jalan bagi Juruselamat.

2. Selama masih hidup di dunia – perjuangannya belum berakhir (alat bagi tujuan Allah).
Pada Firman Tuhan (Yesaya) ada nubuat : Damai AKAN memenuhi bumi –“ ... Sebab seluruh bumi penuh dgn pengenalan akan Tuhan, seperti air laut yang menutupi dasarnya “ (Yes 11:9b).
Tidak ada satu tempat pun yang tidak terlanda DAMAI ... HINGGA “ ... damai sejahtera berlimpah ... (Maz 72:7).. Jadi Apakah di rumah sudah ada damai ... disekitar ? Damai : menerima setiap orang apa adanya, dengan kasih, tidak membedakan. Perjuangannya tidak berhenti hingga : membuat serigala bisa tinggal bersama dengan domba, macan tutul dgn kambing, anak lembu dan anak singa (Yes 11:6). Kekuatan damai dari Alllah : membuat serigala bisa tinggal bersama dengan domba, macan tutul dgn kambing, anak lembu dan anak singa (Yes 11:6).

3. Memegang - petunjuk praktisnya
Dalam Roma 15, pembawa Damai, perlu mensyukuri kerukunan , karena kerukuman itu anugerah Tuhan : “Semoga Allah mengaruniakan kerukunan “ (5). WALAU BERBEDA – BERWARNA. bisa – menerima perbedaan – bhineka tunggal ika - TUJUAN SATU - satu hati, memuliakan Tuhan - walau sesama kita memiliki cara / agama beda. Petunjuk praktis R.Paulus adalah agar Jemaat tidak mencari kesenangan sendiri (1), mencari kesenangan sesama untuk membangunnya (2). Mempraktekan hidup saling menerima satu dengan yg lain.Menyadari PERLU TUHAN : Mazmur 72: (doa senantiasa) Umat Tuhan perlu hukum Tuhan turun atasnya ... agar hukum itu memandunya. MAKA akan bertindak ADIL DAN JUJUR. Kelak hasilnya adalah segala suku bangsa memuji Tuhan. Kepadanya bangsa2 menaruh harapan.
Marilah di HUT 29 tahun gki Pasteur kita tetap komit untuk yang terbaik bagi Tuhan. Jadikanku alatMu : juga untuk MENERIMA ORANG LAIN APA ADANYA : spt Kristus menerima kita (7). Menjadi pembawa damai yang bisa kita mulai dari dalam lingkup yang kecil dulu, yaitu di dalam keluarga. Selanjutnya kita bisa menjadi pembawa damai di lingkungan tempat tinggal, gereja, tempat kerja, dan dalam masyarakat luas. Selamat untuk menjadi inspirator damai. Amin.
pkm

 

27 Nopember 2016
KELUARGA YANG BERJALAN DALAM TERANG TUHAN
Yes. 2:1-5; Maz. 122; Rom. 13:11-14; Mat. 24:36-44

Adven adalah suatu masa dalam kalender gereja di mana orang Kristen menyambut dan merayakan kedatangan Kristus yang pertama (kedatangan-Nya ke dunia sebagai manusia), sembari menanti-nantikan kedatangan-Nya yang kedua (kedatangan-Nya pada akhir zaman dalam kemuliaan-Nya). Menyambut kedatangan-Nya, berarti memberi jawab atas kehadiran Yesus dalam hidup ini melalui kata, sikap dan perbuatan kita sehari-hari yang selaras dengan kehendak-Nya.

Hari ini, di minggu Adven I, kita diajak untuk berjaga-jaga dan siap sedia menyambut kedatangan-Nya – Mat. 24:42,44 “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang”, “Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga”.

Sebagaimana layaknya menyambut kehadiran orang yang sangat berarti di dalam kehidupan kita, maka kita pasti akan menyiapkan rumah kita dan semua orang yang tinggal serumah dengan kita sedemikian rupa, agar tamu kita kerasan tinggal di rumah kita. Seisi rumah pasti akan kita persiapkan dengan indah dan nyaman supaya para tamu merasa sejahtera tinggal bersama dengan kita. Makanan pun akan kita persiapkan dengan istimewa, demi tamu terhormat itu.

Lalu apa yang akan kita persiapkan jika Tuhan menjadi tamu agung di rumah kita? Apalagi kita sadar bahwa sesungguhnya Kristus Sang Penyelamat yang menentukan hidup-mati kita itu juga senantiasa hadir dalam hidup kita dan senantiasa menolong kita dan keluarga kita?

Tuhan tidak membutuhkan persiapan ruangan, atau persiapan makanan. Tuhan membutuhkan persiapan hati yang mau berjalan di dalam kehendak-Nya yaitu hati yang rindu berjalan menuju rumah Tuhan, seperti undangan yang dikumandangkan oleh Yesaya – ... "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; ....., dan Pemazmur – ... :"Mari kita pergi ke rumah TUHAN."

Dan persiapan hati yang demikian dapat dilihat dan diwujudkan melalui perbuatan-perbuatan yang baik serta meninggalkan perbuatan-perbuatan yang jahat. Paulus dengan tegas mengatakan: “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.“ (Roma 13:12-14).

Dan salah satu upaya kita berjalan dalam terang/menggunakan perlengkapan sejata terang adalah hadir untuk memberi harapan (HOPE) kepada mereka yang sedang dalam keputusasaan dan kedukaan – seperti yang dilakukan oleh Allah yang memberikan harapan (HOPE) kepada dunia yang dalam kegelapan melalui kehadiran Yesus Kristus. Dan bukan sebaliknya yaitu kehadiran kita membawa perselisihan dan pertentangan yang merupakan buah dari hawa nafsu dan iri hati.

Melalui bacaan dan renungan di atas, kita sebagai keluarga besar GKI Pasteur maupun sebagai anggota keluarga kecil kita masing-masing diundang untuk berjalan dalam terang Tuhan. Keluarga yang berjalan dalam terang Tuhan merupakan upaya kita memberi jawab atas kehadiran Yesus dalam hidup kita. Selamat menempuh perjalanan di dalam terang Tuhan untuk menyambut kedatangan-Nya. Tuhan memberkati.
dsteol

     

20 Nopember 2016
Yesus Kristus Raja Surgawi Sejati
Yer. 23:1-6; Maz. 46; Kol. 1:11-20; Luk. 23:33-43

Disadari atau tidak, hidup manusia dirundung berbagai ancaman dan rasa takut. Kita takut akan bencana, takut akan sakit penyakit, takut akan kematian, takut menghadapi kesulitan hidup, takut akan masa depan, takut akan peperangan, dan takut akan kerusuhan.

Hidup kita seperti domba tak bergembala yang tercerai-berai, berjalan kesana kemari, sehingga tersesat jauh dari padang kita yang sebenarnya. Gembala-gembala yang ada, yakni pimpinan kita, tidak dapat diandalkan. Penguasa dan raja-raja memikirkan diri sendiri sehingga tidak dapat menjaga kita.

Allah hendak membangkitkan para gembala sejati. Allah memanggil setiap kita untuk diangkatNya menjadi gembala atas domba-dombaNya, yang diperolehnya dengan harga yang mahal, yakni kematian PuteraNya di kayu salib (Luk. 23:33). Ia ingin kita untuk menjalankan tugas penggembalaan ini dengan mengikuti teladan Yesus. Kristus adalah Tunas adil bagi Daud. Ia memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri (Yer. 23:5). Maka kita dipanggil untuk menjadi gembala yang bijaksana, menerapkan keadilan dan kebenaran di mana kita ditempatkan. Kita mengembalikan para domba yang tersesat kembali ke padang mereka (Yer. 23:3).

Kita sering merasa tidak berdaya melakukan tugas penggembalaan ini. Sering kita merasa tidak punya waktu atau terlalu sibuk. Tetapi alasan yang sebenarnya, kita tidak merasa memiliki kemampuan serta takut mengalami kegagalan.

Kita tidak perlu merasa demikian, karena sebenarnya Allah sendirilah yang bekerja. Allah adalah pelindung dan penolong kita (Maz. 46). Dengan pertolongan Allah, kita menggembalakan domba-domba agar tidak takut oleh bencana serta ancaman peperangan. Terlebih kita bekerja sebagai pengabdian kita kepada sang Raja kita, yaitu Yesus Kristus. Di dalam Kristus semua telah diciptakan (Kol. 1:16). Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Oleh Kristus, Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri Allah (ay. 20).

KekuasaanNya tidak berhenti sampai di dunia ini saja. Ia yang pertama bangkit dari antara orang mati (18). Dan ia juga penguasa sorga. Saat kita matipun, Yesus membawa kita bersama-sama dengan Dia di dalam Firdaus (Luk. 23:43). Yesus Kristus adalah Raja Surgawi, maka semua yang ada di bumi maupun di surga ada dalam kuasa Kristus.

Sungguh luar biasa Raja kita, sehingga adalah sebuah kehormatan untuk dipanggil menjadi gembala bagi kemuliaan Yesus Kristus. Biarlah kita mengakui Kristus sebagai Raja Surgawi sejati, dengan cara menyerahkan hidup kita untuk bekerja bagiNya.
AL

 

13 Nopember 2016
Memperjuangkan Hidup di Hari ini dalam Pengharapan Akan Akhir Zaman
Maleakhi 4:1-2; Mazmur 98; 2 Tesalonika 3:6-13; Lukas 21:5-19

Sikap antisipatif atau sikap melakukan persiapan diri dalam menyongsong masa depan atau akhir zaman kadang kala berlebihan atau sebaliknya yaitu kurang peduli karena tidak tahu kapan akhir zaman itu terjadi. Membahas kapan terjadinya akhir zaman merupakan hal yang berlebihan dan ternyata meleset sehingga banyak orang yang kecewa dan bunuh diri, bahkan dalam antisipasinya mereka tidak bekerja lagi, harta bendanya mereka jual semua (2 Tesalonika 3). Sebaliknya mereka yang tidak peduli adanya pemahaman akhir zaman, melakukan pemuasan hawa nafsu duniawi.

Yesus menyebutkan tanda-tandanya seperti peperangan, pertikaian antar bangsa, bencana alam, penderitaan, kekejaman penguasa, hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. Ternyata tanda-tanda akhir zaman itu telah dimulai sejak Yesus naik ke Surga dan sampai sekarang hal tersebut masih terus terjadi, karena tanda-tanda tersebut merupakan tanda yang umum dan silih berganti terjadinya (Lukas 21:5-19; Malieakhi 4:1-2).

Rupanya Yesus berupaya memberikan kekuatan kepada murid-muridNya untuk memaknai hidup di masa sekarang, bahwa: lakukanlah kehendak Tuhan dengan setia, perjuangkanlah hari ini dengan sebaik mungkin dalam berkat dan penjagaan Yesus, dan pahamilah bahwa kesetiaan bukanlah hal yang sia-sia. (Mazmur 98).

Artinya menyongsong akhir zaman itu dipahami dengan keyakinan yang menumbuhkan pengharapan dan semangat menghargai hari ini dan bersandar sepenuhnya kepada Allah. “Tidak ada sehelai pun rambut kepalamu akan hilang” merupakan jaminan dari pemeliharaanNya. Jadi berbicara tentang akhir zaman menjadi bermakna dalam perjuangan kebaikan dan cinta kasih Kristus di masa sekarang, dalam waktu yang Allah anugerahkan kepada kita. Kiranya kesetiaan Allah dalam berkat dan penjagaan Yesus selalu menyemangati setiap kita untuk melakukan kehendakNya, Amin.
BHS

     

6 Nopember 2016
JAMINAN KESELAMATAN DALAM PENEBUS YANG HIDUP
Ay. 19:23-27; Maz. 17:1-9; 2 Tes. 2:1-5; 13-17; Luk. 20:27-38

Pada dasarnya keselamatan merupakan kebutuhan hakiki umat manusia. Di tengah masyarakat kita, kata `selamat’ sering kita dengar dan ucapkan, mulai dari selamat pagi, selamat jalan, selamat berulang tahun, dll. Orang Kristen memahami, bahwa keselamatan berlaku bagi kita, tak hanya keselamatan fisik pada waktu kita ada di dunia yang sementara ini, melainkan juga keselamatan jiwa kita dalam kehidupan yang kekal kelak. Keselamatan kita peroleh melalui peristiwa penebusan Tuhan Yesus yang berkorban di atas kayu salib, itu bukan usaha kita, tetapi karunia Allah (Rm. 3 : 23-25 a; Ef. 2:8, 9). Kendati kita tak boleh menyia-nyiakan keselamatan itu, tetapi harus merebut dan menjaganya sepanjang hidup kita di dunia ini (1 Tim. 6:12, Ibr. 6:4-6).

Keselamatan diperoleh melalui kewajiban untuk menebus dalam pelbagai kasus (Im. 25:23-34), yang dipraktikkan sebagai wujud budaya umat Israel. Tak terkecuali, masalah pernikahan levirat/ipar (Ul. 25:5), contohnya dialami oleh Rut yang ditebus oleh Boas (Rut 3:12-13). Pernikahan levirat/ipar ini menjadi pokok percakapan para orang Saduki --- yang tidak percaya adanya kebangkitan orang mati ---, dengan Tuhan Yesus. Mereka menganggap, bahwa keselamatan hanya berlaku di dunia ini, sedangkan di seberang sana kubur tidak berlaku. Pada hal keselamatan berlaku mulai di dunia ini hingga kepada kekekalan. Dasarnya, karena Tuhan Yesus adalah kebangkitan dan hidup. Ia adalah Tuhan atas orang yang hidup dan setiap orang yang percaya kepada-Nya adalah orang yang hidup, meskipun ia sudah mati (Yoh. 11:25-26).

Keyakinan ini juga dimiliki oleh Ayub, seorang yang amat menderita. Ia pernah marah kepada Allah dan merasa ditinggalkan oleh manusia, sehingga ia meminta, agar semua pengalaman pahitnya itu dicatat dalam kitab dan dipahat pada gunung batu. Namun kemudian ia sadar, bahwa ia memiliki Penebus yang hidup, sehingga bagaimana pun keadaannya, ia akan melihat Allah dalam iman kepada-Nya. Senada dengan penghayatan iman Ayub, pemazmur pasal 17 juga merasa yakin, bahwa kendati ia dimusuhi oleh manusia dan para orang jahat, ia beroleh perlindungan Allah. Allah itu hidup dan Ia mampu menjaga pemazmur.

Nyata, bahwa keselamatan kita tidak dijamin oleh manusia, melainkan oleh Tuhan Yesus, yang adalah Penebus yang hidup. Ia tak hanya menebus kita (Ef. 1:7), melainkan juga memelihara kita bersama-Nya sampai kepada hidup yang kekal. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

 

30 Oktober 2016
PERTOBATAN UNTUK KEADILAN
Yes. 1:10-18; Maz.32:1-7; 2 Tes.1:1-4, 11-12; Luk. 19:1-10

Percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi adalah keputusan terpenting dalam hidup kita, itu benar! Tetapi tidak berhenti sampai di situ saja, pertobatan juga harus diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, dalam relasi dengan sesama. Tidak sedikit orang yang mengaku Kristen tetapi dalam praktek hidupnya sehari-hari sadar atau tidak tetap menindas sesamanya, tidak peduli akan kebutuhan orang lain, yang penting adalah kepentingan diri sendiri. Contohnya : rajin ke gereja, berkata sopan/saleh dalam komunitas Kristen, selalu memberi persembahan; tetapi di luar gereja berkata-kata kasar, tidak peduli perasaan orang lain, yang penting saya untung, dan sebagainya.

Praktek hidup seperti di atas mirip dengan apa yang dikritik oleh Yesaya 1:10-18. Melalui nabi Yesaya, Tuhan menegur dengan keras kepada umat yang rajin mempersembahkan korban, berdoa, dan datang menghampiri-Nya, tetapi disamping itu juga melakukan ketidak-adilan. Tuhan minta umat berhenti berbuat jahat, belajar berbuat baik, mengusahakan keadilan, mengendalikan orang kejam, membela hak anak-anak yatim, memperjuangkan perkara janda-janda! Tuhan menjanjikan pengampunan bagi umat yang melakukan kehendak-Nya. Itulah kebahagiaan umat yang diampuni dosa-dosanya.

Kebahagiaan karena diampuni dosa-dosanya juga dialami oleh Zakheus. Zakheus adalah seorang kepala pemungut cukai di Yerikho, ia kaya tapi dihina dan dibenci, dikucilkan dan dihindari oleh orang-orang Yahudi. Penerimaan Tuhan Yesus atas Zakheus apa adanya menggerakkan hati Zakheus untuk melakukan pembaharuan hidup yang drastis. Zakheus yang tadinya memungut cukai dengan semena-mena dan memberatkan rakyat, sekarang berjanji akan memberikan separuh hartanya untuk orang miskin, dan berjanji tidak akan memeras lagi. Zakheus tidak beralih profesi, melainkan berubah perilakunya. Kekayaan dan kenikmatan hidup tidak lagi menjadi utama baginya, tetapi pertobatannya diwujudkan dalam kepedulian kepada kepentingan dan keadilan bagi orang lain.

Tuhan Yesus datang ke dunia untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, dan kita dipanggil bersama-Nya dalam menjalankan misinya tersebut. Hilang berarti berada di tempat yang salah atau tidak berada pada tempat yang semestinya, jadi harus dikembalikan ke tempat yang benar. Hilang juga berarti jauh dari Allah, sedangkan ditemukan berarti menempati kembali tempatnya yang semula sebagai anak yang taat dalam rumah dan keluarga Bapanya. Sudahkah pertobatan kita tercermin dalam hidup yang peduli kepada orang lain, sehingga yang terhilang ditemukan dan bertemu dengan Tuhan Yesus? Kiranya kemurahan Tuhan menolong kita untuk menghayati pertobatan yang nyata, yakni pertobatan yang terwujud dalam relasinya dengan sesama, yang membawa keadilan. Amin.
EES

     

16 Oktober 2016
KETIKA KRISTUS DI TENGAH KELUARGA, KITA MENANG DALAM PERGUMULAN DAN DOA
Kej. 32 : 22-31; Maz. 121; 2 Tim. 3:14-4:4; Luk. 18:1-8

“Ya, nanti saya gumulkan dulu.” Demikian jawaban yang sering diucapkan oleh anggota Jemaat apabila diminta untuk menjadi penatua ataupun anggota pengurus komisi.
Semoga jawaban itu bukan sekedar upaya untuk menolak dan menghindar dari sebuah panggilan pelayanan. Sebab, jika panggilan melayani itu benar-benar digumulkan dengan Tuhan, jawabannya sudah pasti MAU/OKE. Kenapa? karena Tuhan menghendaki setiap kita untuk melayani Dia.
Namun seringkali pergumulan itu bukan bersama Tuhan, tetapi pergumulan itu berkaitan/bersama dengan permasalahan-permasalahan yang akan dijalaninya ketika menjadi penatua atau pengurus. Bagaimana pekerjaannya? Bagaimana keluarganya? Bagaimana studinya? dan lain sebagainya. Sehingga jawaban dari panggilan pelayanan bisa jadi TIDAK/NO.

Dari situasi ini, jika kita mau jujur, maka belum semua anggota Jemaat meletakkan Kristus berada di dalam kehidupan pribadinya ataupun keluarganya. Sehingga belum nyata hasil kemenangan dalam doa dan pergumulan, karena sulitnya GKI Pasteur mendapatkan anggota Jemaat yang mau ambil bagian dalam kemajelisan ataupun kepengurusan komisi. Mari saat ini kita belajar dari firman Tuhan dan tema minggu ini, tentang kemenangan dalam pergumulan dan doa.

Dalam Lukas 18:1-8, Tuhan Yesus dengan sangat jelas – melalui perumpamaanNya – menekankan pentingnya berdoa yang dilakukan secara terus menerus (ayat 1), bukan berdoa saat dapat masalah. Dan berdoa bukan sekedar himbauan, namun sebuah perintah dan gaya hidup yang harus dimiliki oleh para pengikut-Nya.

Dalam perumpamaan itu ditutup dengan ..... Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (ayat 8). Apa maksudnya dan apa kaitannya antar doa dengan iman? Secara sederhana kita dapat simpulkan bahwa orang yang memiliki iman pastilah memiliki gaya hidup berdoa. Itulah sebabnya mengapa berdoa bukan sekedar himbauan tapi sebuah perintah, karena berkaitan dengan soal iman dari pengikutNya. Bergumul dan berdoa merupakan proses dialog yang terus menerus dilakukan antara umat dengan Tuhan. Hal itu merupakan upaya menyamakan dan menyatukan frekuensi antara kehendak Bapa dengan kehendak kita. Dan proses ini bukan hal yang mudah, kita bisa saja terluka karena keinginan Bapa tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Namun kita harus tetap siap sedia menerima dan menjalani apa yang dikehendaki Tuhan, sama seperti seseorang yang memberitakan firman Tuhan baik atau tidak waktunya (lih. 2 Tim. 4:2). Meskipun sulit, Tuhan pasti akan menolong kita seperti yang telah dirasakan dan dialami oleh pemazmur (lih. Maz 121).

Melalui renungan ini, mari bersama-sama kita menghayati bahwa:
1. Gaya hidup berdoa merupakan perintah Tuhan. Dan jika kita memiliki iman – adalah orang yang beriman – pastilah kita memiliki gaya hidup berdoa yang benar.
2. Jika Kristus menjadi pusat pergumulan dan doa kita, maka kita dan keluarga kita akan dimenangkan dalam menjalani permasalahan hidup ini. Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk memiliki kehidupan doa yang benar, dan mengarahkan pusat pergumulan dan doa kita kepada Kristus. Tuhan memberkati.
dsteol

 

9 Oktober 2016
KETIKA KRISTUS DI TENGAH KELUARGA, KITA TIDAK MELUPAKAN KEBAJIKANNYA
2 Raj. 5:1-3, 7-15, Maz. 111, 2 Tim. 2:1, 8-15, Luk. 17:11-19

Gereja seringkali disimbolkan sebagai bahtera, dan Yesus Kristus sebagai nahkodanya. Keluarga kita juga dapat disimbolkan sebagai bahtera, dan Kristus sebagai pemimpinnya. Keluarga sebagai bahtera sedang mengarungi lautan yang luas nan jauh. Perjalanannya akan menghadapi badai, ombak dan bahkan batu karang yang sewaktu-waktu dapat menenggelamkan bahtera itu. Namun demikian, kita tidak perlu takut dan kuatir, karena Yesus Kristus sebagai nahkoda dan pemimpinya; kita akan menikmati mujizat-mujizatNya, penyertaan dan pertolonganNya. Yang harus kita ingat dan sadari adalah jangan sampai kita melupakan kabaikanNya, pertolonganNya, berkatNya, dan penyertaanNya.

2 Raja-raja 5:1-27 menceritakan seorang Naaman sebagai panglima tentara bangsa Aram, dan juga sebagai kepala keluarga mengalami sakit kusta; melalui perantaraan Nabi Elisa, Naaman disembuhkan. Sebagai bentuk ucapan syukur dan terima kasih atas berkat kesembuhan itu, Naaman memberikan persembahan kepada Elisa, tetapi ia menolaknya. Naaman adalah orang Aram yang tidak mengenal Allah orang Israel, namun demikian ia mengerti dan tidak melupakan kebaikan Tuhan melalui Elisa.

Lukas 17:11-19 menceriterakan tentang 10 orang kusta yang datang kepada Yesus memohon disembuhkan; dalam perjalanan menuju ke tempat imam, dan dalam waktu yang sama mengalami kesembuhan. Tetapi, hanya satu orang yang kembali kepada Yesus untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas kesembuhan itu; ia adalah orang Samaria. Lalu Yesus bertanya: Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Dimakanah yang sembilan orang itu? Menurut para ahli tafsir, sembilan orang yang telah sembuh itu adalah orang Israel, yang beragama Yahudi. Mereka mengenal Allah, mengenal hukum Taurat dan kitab para nabi. Namun, mereka tidak mengerti dan tidak tahu membalas kebaikan Tuhan.

2 Timotius 2:1, 8-15 menjelaskan bagaimana Yesus Kristus yang telah menyelamatkan Timotius dari dosa dan hukuman Allah; dan juga telah memilih memilihnya menjadi hambaNya. Untuk membalas kebaikan dan karya Kristus itu Paulus meminta kepada Timotius untuk setia dan tekun menjalankan tugas pelayanan yang Tuhan percayakan. Timotius juga diminta untuk berusaha untuk hidup layak dihadapanNya. Bukankah Tuhan melimpahkan kebajikanNya kepada kita? Bagaimana kita membalaskan kebajikanNya itu?
RDL

     

2 Oktober 2016
Ketika Kristus di tengah keluarga tidak ada yang mustahil
Hab. 1:1-4; 2:1-4; Maz. 37:1-9; 2 Tim. 1:1-14; Luk. 17:5-10

Bulan keluarga : saat kita mengambil waktu untuk fokus memperhatikan : bagaimana praktek iman pada Kristus di terapkan dan dihayati? Apa dampak iman pada Kristus dalam hidup keluarga kita masing-masing? Misalkan saja menghadapi masalah ekonomi, kegagalan, sakit berat; Apakah orang kristen lebih sabar, lebih tekun, lebih kuat ... dibandingkan dengan keluarga-keluarga lain ? Menghadapi segala masalah, siapa yang menjadi pusat hidup kita ?

Tema renungan kita : “Ketika Kristus di tengah keluarga tidak ada yang mustahil”. Dari Injil Lukas 17 : 1 – 4 ... ditengah himpitan masalah maka mudah sekali terjadi penyesatan atau sulit mengampuni satu dengan yang lain. Para pengikut menyatakan dengan jujur : “Kami sudah beriman namun belum cukup “. Rasul2 itu berkata : “Tambahkan iman kami” (17:5). Yesus mengajarkan : sekiranya kamu memiliki iman .... yang cukup. Pointnya : Iman bukan berkat usaha keras, iman adalah karunia Allah “dalam iman ada kuasa.” Kuasa seperti “pohon ara yang akarnya panjang dan dalam itu akan dapat dipindahkan ke laut ...” ini hal yang MUSTAHIL secara fisik, iman justru dapat melakukan hal-hal yang mustahil secara fisik. Iman bisa membantu sesama dalam tobat ... orang yang paling keras pun yang diumpamakan dengan pohon ara ... dapat diremukkan oleh iman ..., lalu menjadi percaya.

Dengan menjadikan Yesus sebagai pusat, maka setiap orang dapat melewati malapetaka yang tersulit sekalipun. Contoh : sebuah kisah nyata yang dapat Saudara baca dalam : http://www.kisahnyatakristen.com/2012/08/24/bertahan-bersama-sauh-yang-kuat. Dikisahkan seorang bernama Andrea telah menjadi korban perkosaan. Dengan Kristus sebagai pusat hidupnya, Andrea bahkan telah membagikan kesaksian hidupnya. Ia menerima tawaran mengisi koran lokal untuk menjangkau para korban perkosaan dan hubungan insest. Bahkan Andrea kini pergi ke seluruh negara bagian untuk membagikan harapan dalam Yesus bagi para korban perkosaan. Dia juga telah menyelesaikan bukunya berjudul “Dilahirkan Untuk Hidup, Rencana Tuhan Untuk Hidup Anda”.

Kita sebagai keluarga, dimana Kristus di tengah kita, maka kita dimampukan oleh karunia yang sejak permulaan jaman, nyata dalam kedatangan Kristus, YANG OLEH INJIL MEMATAHKAN KUASA MAUT DAN MENDATANGAN HIDUP YG TIDAK DAPAT BINASA. Yang untuk injil kekuatan Allah, kita sebagai keluarga-keluarga di panggil, sebagaimana Rasul Paulus yang bersaksi pada Timotius : karenanya aku menderita karena Injil dan AKU TIDAK MALU ... SEBAB AKU PERCAYA BAHWA Dia berkuasa memelihara apa yang dipercayakan kepadaku hingga pada hari Tuhan.

Andrea Robert, mengalami trauma yang berat, namun ditengah pergumulan tersebut, Andrea memiliki sauh yang kuat. Seseorang yang tidak menempatkan Kristus di tengah hidupnya, tidak akan pernah mampu melewatinya. Andrea bersaksi : Saya bisa bangkit karena dalam iman, saya diberi tujuannya kemana hidup ini sedang menuju, dan hal ini yang menjadi faktor utama yang membangkitkan saya.

Percayalah kepada Tuhan, lakukan yang baik ... berlakulah setia. Serahkah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepadaNya, dan Ia akan bertindak (Mazmur 37:3,5). Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Lukas 1:37). Amin.

Selamat memasuki bulan keluarga.

pkm

 

25 September 2016
SPIRITUALITAS KEPUASAN HATI
Amos 6:1-7; Mazmur 146; 1 Timotius 6:6-19; Lukas 16:19-31

Kebahagiaan duniawi seringkali diukur dari tingkat kepuasan manusia, secara tidak disadari dunia mengejar kebahagiaan duniawi dengan ukuran materi. Jika kita balik manusia mengejar materi/kekayaan untuk meraih kepuasan yang dunia sebut kebahagiaan. Namun realita materi dunia bersifat fana yang tidak dapat memberi kepuasan yang menetap. Seberapa besarnya kekayaan yang diraih orang selalu belum pernah mencukupi rasa puas. Punya sepeda akan memuaskan jika punya motor, punya motor akan memuaskan jika punya mobil, punya mobil akan memuaskan jika punya rumah, punya rumah akan memuaskan kalau punya villa dan seterusnya seperti di atas langit ada langit.

1 Timotius 6:9-10 (TB) Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
Amos 6:1 (TB) "Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria, atas orang-orang terkemuka dari bangsa yang utama, orang-orang yang kepada mereka kaum Israel biasa datang! Firman ini mengatakan setiap orang yang mengandalkan manusia, kekayaan duniawi, kekuasaan disebut orang yang celaka bukan orang yang berbahagia atau mendapatkan kepuasan.
Mazmur 146:5-6 (TB) Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya: Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya,
1 Timotius 6:17 (TB) Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.

Kebahagiaan bukan mendapat jaminan dari materi yang fana, melainkan jaminan pertolongan Tuhan yang setia dan berkuasa memberikan kepuasan jiwa yang kekal , walaupun dalam kehidupan materi yang minim. Bacaan Lukas 16:19-31 tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin, kita tidak membahas akhir hidup mereka berdua yang sudah banyak kita ketahui. Kita akan melihat bacaan ini dari dua golongan manusia yaitu orang yang mengejar kebahagiaan melalui kepuasan duniawi dan kepuasan di dalam Tuhan.
Lukas 16:19-20 (TB) "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Jubah ungu lambang status orang kaya yang mengejar kebahagiaan melalui memuaskan jasmani bukan jiwani, bukti bahwa orang kaya ini tidak terpuaskan yaitu melakukannya setiap hari. Dunia biasanya mengenal nama orang-orang kaya, malahan majalah yang memuat ranking orang terkaya di dunia.

Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, Namun orang yang miskin ini punya nama yang dikenal Tuhan yaitu Lazarus, dalam bahasa Ibrani Lazarus berarti “Tuhan, penolongku”. Kebenaran Mazmur 146:5, yaitu kebahagiaan bagi orang yang mengandalkan Tuhan, Hanya Tuhan yang dapat memberikan kepuasan kekal. Kita semua mengetahui akhir dalam kehidupan kekal kedua golongan manusia ini.
tonny iskandar

     

18 September 2016
MEMAKAI UANG SECARA BERTANGGUNG JAWAB
AMOS 8:4-7; MAZMUR 113, 1 TIMOTIUS 2: 1-7; LUKAS 16: 1-13

Kata “monopoli” yang berarti menguasai oleh seseorang atau sekelompok orang atas orang banyak biasanya menimbulkan kesenjangan dan perbedaan yang mencolok seperti majikan terhadap pegawai atau budaknya dan terjadi kesewenang-wenangan karena kelicikan atau kecerdikan yang tidak jujur oleh kelompok yang kuat terhadap kelompok yang lemah. Terlebih dalam monopoli memakai uang yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Seringkali kita lupa berbagi dan mendistribusikan secara bertanggung jawab kepada mereka yang berkekurangan dan yang membutuhkan.

Karena egoisme dan kelicikan bendahara yang tidak jujur maka terjadi perbuatan yang jahat di mata Tuhan (Lukas 6: 1-13). Oleh karena itu secara terang dinyatakan oleh Nabi Amos (Amos 8:4-7) keberpihakan Allah kepada kaum yang lemah, orang miskin dan sengsara akibat ulah monopoli para pembesar yang semena-mena.

Padahal dalam Mazmur 113 dinyatakan oleh pemazmur bahwa Allah mengangkat orang yang miskin agar disejajarkan dengan kaum bangsawan, baru akan terjadi keseimbangan dan keadaan yang harmonis. Hal ini ditegaskan kembali oleh Rasul Paulus dalam 1 Timotius 2:1-7 bahwa karya keselamatan Allah bukan monopoli orang Yahudi saja melainkan bagi semua orang, termasuk kita. Pondasi iman ini sangat diperlukan untuk mengetahui bagaimana sikap yang tepat bagi orang percaya dalam mengelola harta dan uang yang dipercayakan kepada anak-anak Tuhan sehingga menggunakannya dengan bijaksana. Bagaimanakah dengan setiap kita yang diberi kelimpahan dan kepercayaan tersebut? Marilah kita berlaku bijaksana kepada sesama dan bertanggung jawab kepada Allah Bapa di surga. Amin.
BHS

 

4 September 2016
Bukan aku yang menentukan tapi, Dia?”
Ulangan 30:15-30; Maz 1; Filemon 1-21; Luk 14:25-33

Hidup ini adalah pilihan. Tiap hari kita harus memilih, dari hal hal yang sederhana seperti mau sarapan apa pagi ini, sampai pada hal yang serius seperti mengikat diri pada pasangan hidup. Allah menciptakan manusia dengan kebebasan untuk membuat pilihan sendiri. Kekuatan manusia ada pada kebebasannya untuk membuat keputusan dan memilih mana yang baik.

Salah satu keputusan terpenting dalam hidup manusia adalah membuat keputusan untuk mengikat diri pada sumber kehidupannya. Manusia harus menentukan pada relasi mana ia mengandalkan hidupnya. Rasa takut akan putusnya relasi andalan ini akan menghantui hidup manusia. Oleh sebab itu, keputusan manusia selalu ditentukan oleh rasa takut kehilangan ikatan yang diandalkannya itu. Banyak berkat Tuhan yang baik namun fana seperti harta benda, kedudukan, nama baik, bahkan keluarga dan nyawanya ternyata berubah menjadi andalan hidup. Kita menghabiskan waktu kita untuk belajar memperoleh dan menjaga hal-hal fana ini. Akibatnya kita terikat dan terbelenggu pada kebahagiaan semu. Rasa takut akan kehilangan hal-hal itu membuatnya tidak berdaya membuat keputusan yang terbaik. Mazmur 1 mengajarkan kebahagiaan datang dari kegemaran akan Firman Tuhan, Taurat, dan hukum-hukumNya. Kebahagiaan ini datang dari menghasilkan buah, serta mencapai keberhasilan dalam menjalankan kehendak Allah. Sebaliknya, keberhasilan memperoleh dan menjaga berkat-berkat fana adalah kebahagiaan semu, seperti sekam yang dapat ditiupkan angin setiap saat. Allah memang menawarkan ikatan denganNya. Bukan dengan paksaan, tetapi dengan ikatan perjanjian yang dibuat dengan sukarela. Kita diminta untuk menjadi murid Kristus, belajar hukum Allah, menjadi pintar dalam iman, dan memiliki pengetahuan yang sejati akan kehidupan kekal. Cakrawala berpikir kita menjadi lebih luas, sehingga kita mampu melihat bahwa semua perintah Allah adalah didikan yang membebaskan dan memerdekakan orang dari ikatan fana itu.

Alih-alih menyusahkan dan memberatkan, justru hukum hukum Allah menuntun kita pada kebahagiaan yang sejati. Untuk berhasil menjadi murid Kristus, kita harus melepaskan berbagai ikatan kepemilikan berkat-berkat fana, karena kita menjadi milik Kristus. Lukas mengajarkan bahwa mengikut Yesus itu seperti mendirikan menara. Ia memerlukan perencanaan yang matang, dengan menghitung anggaran supaya cukup. Kita memperoleh harta yang kekal itu dengan melepaskan ikatan kita pada milik kita yang fana.

Allah memberikan kebebasan kita untuk memilih. Tapi gunakanlah kebebasan kita untuk memilih taat kepada Allah, karena Ia merancangkan keselamatan dan damai sejahtera. Bukan kita yang menentukan tapi Dia. Paulus dalam suratnya pada Filemon, mencontohkan hal ini bekenaan urusan Onesimus. Ia tidak memaksa Filemon, tetapi memohon kepada Filemon, agar supaya Filemon mendapatkan kebebasan untuk memilih apa yang terbaik untuk Kristus. Pada Tuhan pun kita meminta, bukan memaksakan kehendak. Supaya Tuhan lah yang menentukan apa yang terbaik untuk kita. Dalam iman yang bertumbuh, kita mengetahui apa yang baik untuk Kristus.

Jadi setiap saat kita diberi pilihan oleh Allah: mengikuti kehendakNya atau berpaling dariNya. Kehendak Allah adalah kehidupan dan keberuntungan. Itulah firman, ketetapan dan peraturanNya. Berpaling dariNya membawa kita ke dalam kebinasaan. Dalam menjalani kehidupan dan membuat keputusan hendaklah bukan kita yang menentukan tapi Dia.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

     

28 Agustus 2016
GKI, SUDAHKAH MENJADI GEREJA YANG MENGINDONESIA?”
Amsal 25:6, 7; Mazmur 112; Ibrani 13:1-8, 15-16; Lukas 14:1, 7-14

Bermula, pada 20 September 1956 di persidangan sinode di Purwokerto, nama sinode gereja Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee Jawa Tengah, berganti menjadi Sinode Gereja Kristen Indonesia Jawa Tengah. Itu adalah langkah pertama berkaitan dengan penghayatan mengindonesia dari seluruh sinode gereja Tionghoa di Jawa Tengah, karena sadar akan kehadirannya di bumi Indonesia. Penghayatan itu terus bergulir dan susul menyusul, sehingga kedua sinode gereja Tionghoa yang lain pun berganti nama menjadi Gereja Kristen Indonesia Jawa Barat dan Jawa Timur.

Berikutnya, pada 24 Agustus 1988 dalam persidangan Sinode Am GKI di Wisma Kinasih, Ciawi, Bogor, ketiga sinode itu bergabung menjadi satu sinode Gereja Kristen Indonesia. Usaha penggabungan ketiga sinode itu dilakukan sejak Maret 1962, praktis makan waktu sekitar 26 tahun. Tentu penggabungan ketiga sinode itu baru secara de jure, sedangkan de facto-nya masih dalam proses yang terus menerus diusahakan, agar sampai kepada penggabungan secara paripurna pada waktu yang akan datang.

Judul khotbah berupa pertanyaan pada hari ini, mengusik hati dan pikiran kita, sehingga kita harus merenungkannya untuk dapat menjawabnya. Untuk tujuan itu, kita perlu melakukan introspeksi diri, apa yang telah kita capai dan apa yang belum berhasil kita capai. Namun sebelumnya, bahan khotbah pada hari ini menggiring kita untuk menghayati sikap hidup yang merendah (low profile) dalam kehidupan kita sebagai orang-orang GKI. Sikap merendah ini tidak sama dengan sikap rendah diri (minder), tidak percaya diri, atau tak punya nyali, tetapi sikap batin yang secara bijaksana memposisikan diri di hadapan pihak lain. Sikap demikian lebih mengundang simpati orang, mengingat pada umumnya orang tak menyukai sikap sombong, congkak, dan pongah, dengan penampilan petantang-petenteng.

Pesan dari Lukas 14:1, 7-14 adalah, agar orang memilih tempat duduk di belakang saat memenuhi undangan, agar ia dipersilakan duduk di depan, ketimbang sebaliknya. Menyusul, jika seseorang mengundang orang lain, undanglah mereka yang tak dapat membalas mengundang, karena mereka miskin, cacat, lumpuh, dan buta. Maksudnya, agar tak terjadi persaingan untuk saling merasa mampu menjadi pihak yang lebih tinggi. Alasannya, karena orang Kristen punya atasan yaitu Tuhan.

Lantas kita diminta untuk menaati perintah-perintah-Nya berupa memberi tumpangan, mengingat orang hukuman, memerhatikan orang tertindas, menjaga kekudusan pernikahan, tidak menghamba kepada uang, dan meneladani para pemimpin yang beriman teguh. Ketaatan semacam itu adalah sikap hidup orang yang benar dan yang takut kepada Tuhan. Maka model hidup semacam ini diperlukan di tengah masyarakat Indonesia dewasa ini, supaya menjadi teladan bagi warga masyarakat pada umumnya. Semoga GKI dalam usianya yang ke-28 dapat mempraktikkan model hidup semacam ini, sehingga melalui 221 buah jemaat GKI dari Batam sampai Bali, GKI dapat benar-benar meng-Indonesia. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

 

21 Agustus 2016
KESELAMATAN
Yes. 64:1-12; Maz. 118:19-27; Roma 3:21-31, 10:9; Yoh. 3:14-21

Keselamatan berarti pembebasan dari dosa dan akibat-akibatnya. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. (Yoh. 5:24). Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamainya Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. (Mat. 1:21). Karena itu manusia perlu diselamatkan, mengapa demikian? Sebab setiap orang berdosa baik dalam sifat dasarnya maupun dalam niatnya, sehingga ia berada di bawah hukuman mati.

Keselamatan bukan diperoleh manusia karena rajinnya kita ke gereja atau berapa kali kita sudah “khatam” (membaca sampai tamat) Alkitab, bukan juga karena perbuatan baik atau kesalehan kita, atau karena ini keturunan orang beriman, bukan juga karena baptisan percik atau selam yang sering di tuntut oleh denominasi tertentu, bukan juga salah satu agama, bukan salah satu pengajaran atau filsafat, bukan salah satu ilmu kebatinan yang dapat menyelamatkan manusia, melainkan yang dapat menyelamatkan manusia hanyalah satu, yaitu Allah sendiri. Itulah sebabnya Allah sendiri yang datang kepada manusia yang berdosa. Allah sendiri yang turun dari sorga ke dalam dunia yang penuh dengan dosa ini dalam wujud AnakNya yang tunggal: Yesus Kristus.
Cara Allah menyelamatkan manusia sungguh ajaib, yaitu Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia dan dunia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anaknya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16)

Maka satu-satunya yang dapat menyelamatkan manusia dari penjara dosa dan akibat-akibatnya hanyalah Tuhan Yesus Kristus sebagai mana FirmanNya : “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan”. (Kisah Para Rasul 4:12).
Dengan kedatangan Yesus Kristus ke dalam dunia maka “hutang dosa” itu sudah dihapuskan dan karena Tuhan Yesus kita dapat terlepas dari hukuman itu dan menerima keselamatan dan hidup yang kekal.

Keselamatan diperoleh karena percaya bahwa Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi kita dengan kesungguhan yang tulus untuk bertobat; seperti yang dikatakan firman Tuhan, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan (Roma 10:9).

Karena itu di dalam Kristus, keselamatan adalah anugerah, sehingga kita tidak boleh merasa bahwa itu semua adalah usaha dan perbuatan kita. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada yang memegahkan diri. “(Ef. 2:8-9).
Pdt. Em. Jahja Purwanto

     

14 Agustus 2016
Kristus Datang untuk Membawa Pemisahan
Yer. 23:23-29; Maz. 82; Ibr. 11:29 - 12:2; Luk. 12:49-56

Alkitab banyak memberi kesaksian tentang tujuan kedatangan Yesus Kristus adalah mengaruniakan kehidupan kekal, damai sejahtera dan kasih yang mempersatukan. Karena itu, kedatangan-Nya meruntuhkan tembok-tembok pemisah untuk menyatukan yang terpisah serta menghadirkan damai sejahtera kepada dua belah pihak, seperti kesaksian Rasul Paulus, yaitu: “Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan” (Ef. 2:14). Melalui kesaksian tersebut, maka setiap umat percaya dipanggil untuk mewujudkan perdamaian dengan semua orang dan menjauhkan diri dari pertentangan.

Karena itu, tidak mudah untuk memahami ucapan Yesus Kristus di dalam Lukas 12:51: “Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.” Ada yang menafsirkan makna dari ucapan tersebut artinya kedatangan Yesus Kristus membawa pemisahan secara moral dan rohani dari dosa dan dari segala sesuatu yang bertentangan dengan Yesus Kristus, kebenaran, dan Firman Allah. Namun bagaimana dengan ucapan Yesus Kristus selanjutnya di ayat 52 dan 53 yang menggambarkan pertentangan di dalam sebuah keluarga?

Ketika Ia berbicara tentang pertentangan dan konflik dalam keluarga, dimungkinkan bahwa hal itu berdasarkan dari pengalaman pribadi-Nya. Ada indikasi dalam kisah Injil tentang hal itu, yaitu beberapa anggota keluarga-Nya tidak percaya kepada-Nya (Yoh. 7:5 Sebab saudara-saudara-Nya sendiripun tidak percaya kepada-Nya.) dan bahkan menganggap Ia tidak waras : “Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi” (Markus 3:21). Satu hal yang pasti adalah meskipun Yesus Kristus berbicara tentang pertentangan, bukan berarti Ia mendukung pertentangan. Ia mengajarkan pengikut-Nya untuk hidup damai dengan siapapun, karena itulah tujuan kedatangan-Nya. Kata “aku datang” berasal dari kata elthon (aorist first indikatif-aktif) yang berarti sebuah tindakan sudah dilakukan di masa lampau.

Karena itu ayat 51 dapat dimaknai sebagai berikut bahwa akibat kedatangan-Nya maka akan menimbulkan pertentangan dalam keluarga. Dan ucapan-Nya itu menjadi kenyataan dalam kehidupan gereja mula-mula. Ketika satu atau dua anggota keluarga menerima Kristus sebagai Juruselamat, maka akan menimbulkan pertentangan dari anggota-anggota lain. Mereka bukan saja mengalami pertentangan tetapi penganiayaan.

Ibrani 11-29-12:2 menggambarkan konsekuensi dari akibat percaya/beriman kepada Yesus Kristus. Namun apa yang mereka alami saat itu karena imannya, pada akhirnya akan membawa pada keselamatan dan sukacita. Ucapan Yesus Kristus yang sangat tegas dan tajam ini hendak memperingatkan murid-murid-Nya bahwa kesetiaan mereka kepada-Nya bisa menimbulkan konflik, penganiayaan bahkan pengusiran oleh anggota keluarga yang lain. Supaya mereka tidak menyesal dikemudian hari dengan mengatakan,”Kami tidak pernah membayangkan bahwa ikut Yesus harus membayar dengan harga yang sangat mahal, mengorbankan harta dan ikatan keluarga!”. Sungguh berat dan tidak mudah mengikut Dia. Namun demikian, ingatlah nats ini: “Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang” (Lukas 12:43). Tuhan akan memisahkan antara hamba-Nya yang setia dan hamba-Nya tidak setia. Dan masing-masing akan menerima upahnya (Lukas 12:42-48).
ds.theologi

 

7 Agustus 2016
Yakin dan taat akan Janji Pemeliharaan Tuhan
Kejadian 15:1-6, Mazmur 33:12-22, Ibrani 11:1-3, 8-16, Lukas 12:32-40

Berbagai persoalan sering terjadi. Di tengah persoalan, manusia cenderung membanding-bandingkan dengan apa yang dialami orang lain. Ketika orang lain sepertinya lebih ringan maka orang menjadi khawatir dan panik. Mudah bertindak menyimpang. Namun orang yang yakin dan taat akan janji Tuhan, akan menyerahkan hidup dan masalahnya kepada Tuhan. Maka ia akan merasakan bahwa Tuhan senantiasa menuntun hidupnya. Hari ini kita mendengar & belajar dari Firman Tuhan :

Pertama, Yesus menuntun dan mengajar tentang fokus perhatian. Jika seseorang fokusnya terarah pada Tuhan, bukan pada dunia ini, maka ia akan merasakan tuntunan dan penyertaan Tuhan. Bahkan ia akan menjadi teladan, karena ia selalu siap dan sigap, fokus = menanti-nantikan kapan tuannya datang (Lukas 12:36). Dalam kitab Ibrani 11:9-11, disaksikan bagaimana iman Abraham, ia tinggal di kemah (dan selanjutnya Ishak dan Yakub), dengan setia akan janji Tuhan. “Sebab ia menanti-nantikan kota ... yang dibangun oleh Allah”.

Kedua, Meneladan pada Abraham Mengapa ? Karena iman, Abraham terarah pada Tuhan. Pada mulanya ia kuatir karena usianya sudah lewat untuk punya keturunan, namun ketika ia terarah pada Tuhan dan janji Tuhan, maka ia merasakan kebaikan Tuhan yang menuntun dan menjaminnya itu. “Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu sebagai kebenaran” (Kej 15:6). Bahkan Abraham menjadi salah satu tokoh iman.

Ketiga, Pegang Janji Tuhan Orang yang kalut bisa “ngedan” = nekad, melakukan yang sama dengan dunia. Pegang janji Tuhan senantiasa, seperti orang “berikat pinggang”, siap dalam segala keadaan, hidup dengan “pelita-pelita yang tetap menyala” (Lukas 12:35). Tuhan memanggil kita untuk menjadi orang yang tidak terlelap, tetapi terus berjaga-jaga, siap kapan pun waktunya (sikap penjaga rumah, yang selalu siap kapan pun tuan empunya rumah datang) untuk menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan (dalam segala keadaan).

Orang yang berpegang janji Tuhan-lah (percaya) yang akan berbahagia, seperti yang disaksikan pemazmur : “Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus, kita percaya” (Mazmur 33:21)

Keempat, Persoalan hidup ibarat ujian menuju dewasa Saat hadapi persoalan sepertinya sendirian, namun sesungguhnya Tuhan ada bersama kita, menjaga dan memberikan pertolongan dengan segera. Mari senantiasa kita menggantungkan hidup pada Tuhan, sekalipun harus melewati proses yang panjang dan berat, sebab janji Allah pasti akan digenapi di dalam cintaNya. Ilustrasi : “Kita tak pernah sendiri” Anak indian Cherokee – diuji dengan dibawa masuk hutan oleh ayahnya dengan di tutup matanya. Sampai pagi ia tidak boleh membuka tutup matanya. Maka malam itu ia menjadi sangat takut, karena mulai mendengar suara-suara di sekitarnya. Waktu fajar tiba, waktu baginya boleh membuka penutup matanya, ternyata ia melihat ayahnya duduk di dekatnya, dan ayahnya ada sejak anak itu masuk hutan. Kisah ini menggambarkan hidup kita, semua orang yang dikasihi Tuhan, bahwa hidup ini ibarat ujian. Setiap persoalan merupakan ujian. Melalui ujian itu, Tuhan ingin kita naik kelas. Dalam ujian, sepertinya kita ditinggalkan sendiri. Padahal tidak, Tuhan selalu berada dekat dengan kita. Di tengah segala masalah yang kita hadapi, tak pernah kita berjuang sendiri. Yakin dan taatlah akan janji pemeliharaan Tuhan. Amin.
pkm

     

31 Juli 2016
Menghindari Akhir Hidup yang Sia-sia
Pkh. 1:1-14; 2:18-23; Maz. 49; Kol. 3:1-11; Luk. 12:13-21

"Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu dan apa yang telah engkau sediakan, untuk siapakah nanti?”
Mengapa orang kaya dalam cerita ini disebut bodoh oleh Tuhan Yesus? Kebodohan pertama adalah, orang kaya ini memiliki pandangan hidup bahwa kehidupan yang ia jalani dan nikmati hanya di dunia ini saja; tidak ada kehidupan setelah kematian. Setelah kematian tidak ada urusan lagi. Itulah sebabnya selama hidup di dunia harus diisi dengan bersenang-senang; ia berkata beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah (hidup hedonis). Orientasi hidupnya hanya pada dunia ini; ia tidak mengenal, tidak mengerti tetang kehidupan abadi / kehidupan setelah kematian. Kebodohan kedua adalah orang kaya ini memandang harta kekayaannya itu dapat memberikan jaminan panjang umur di dunia ini; harta dapat membuat ia berbahagia, ketenangan, kesenangan dan lain sebaginya. Itulah sebabnya ia bekerja keras, dan dengan segala upaya untuk memperoleh harta itu tanpa menghiraukan nilai-nilai moral. Orang kaya ini menaruh pengharapannya dan hidupnya kepada harta yang ia kumpulkan, bukan pada Allah yang memberikan kehidupan. Firman Tuhan katakan: “Pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah engkau sediakan, untuk siapakah nanti? Kebodohan yang ketiga adalah, orang kaya ini memandang bahwa kehidupan dan harta yang ia miliki adalah untuk dirinya sendiri. Orientasi hidupnya pada dirinya sendiri, perhatikan kata ‘aku’ dalam cerita ini.

"Aku" menjelaskan bahwa pusat hidupnya adalah dirinya sendiri (individualis). Ia tidak berpikir bahwa masih ada orang lain; tidak peduli dengan persoalan orang lain; kehidupan anti sosial. Kehidupan seperti ini adalah kebodohan atau kehidupan yang sia-sia.

Kita menjadi orang yang bodoh jika kita memandang bahwa kehidupan yang kita jalani berhenti di dunia ini; dan orientasi kehidupan kita pada dunia ini; tidak ada kehidupan setelah kematian. Kita menjadi orang bodoh jika kita menaruh pengharapan dan kehidupan masa depan kita pada harta dunia, bukan pada Tuhan Yesus sumber kehidupan. Kita menjadi orang bodoh jika kita memandang bahwa kehidupan dan harta yang kita miliki hanya untuk diri kita sendiri; tidak peduli terhadap kesusahan dan penderitaan orang lain.

Apakah kita juga termasuk orang yang bodoh seperti dalam perumpamaan ini? Hanya diri kita masing-masing yang tahu jawabannya. Mari kita jalani kehidupan ini dengan kehidupan yang bermakna bagi orang lain, dan memuliakan Tuhan.
RDL

 

24 Juli 2016
BERDOA KEPADA ALLAH DALAM KERENDAHAN HATI
Kejadian 18:20-32; Mazmur 138; Kolose 2:6-15; Lukas 11:1-13

Dua hal penting dalam membangun hubungan orang percaya dengan Tuhan yaitu “Firman dan Doa”. Tanpa keduanya kita tidak dapat membangun hubungan dengan Tuhan. Melalui Firman Allah dalam Alkitab, Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia. Kita mengetahui pribadi Allah, karakter-Nya, Rencana-Nya dalam janji-janji-Nya. Ada lebih dari 7000 janji Allah dinyatakan dalam Alkitab. Doa merupakan sarana komunikasi antara Allah dengan manusia yang dapat dilakukan “kapan saja- di mana saja”, bebas pulsa dan bebas roaming. Walaupun sarana komunikasi tersedia tetapi jika menghubungkan dua pribadi yang tidak saling mengenal tidak akan membangun relasi seperti telpon salah sambung, tidak terjadi dialog. Demikian juga dengan berdoa, kita harus berdoa kepada Allah yang kita kenal, namun seringkali kita berdoa seperti menembak dalam kegelapan tanpa arah, untung-untungan kena sasaran, karena kita tidak mengenal betul kepada siapa kita berdoa. Dalam Doa sebenarnya siapakah yang terlebih dahulu membuka dialog ? Kita belajar dari bacaan Kejadian 18:20-32. Allah yang membuka dialog kepada Abraham tentang rencana-Nya untuk menghukum Sodom dan Gomora karena sangat berat dosanya. Abraham berdialog dengan Allah memohon keselamatan bagi orang-orang benar yang hidup di Sodom dan Gomora, karena di sana tinggal kerabat Abraham yaitu keluarga Lot. Abraham yang disebut sahabat Allah dalam dialog tidak menempatkan diri setara dengan Allah, dengan berkata: “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu”(ay.27). Sikap rendah hati menempatkan Allah sebagai pemilik otoritas tertinggi dalam hidupnya. Bagaimana sikap kita dalam doa ? bukankah seringkali secara tidak sadar kita dalam memohon dalam doa dengan bentuk perintah atau nasehat bagaimana sebaiknya Tuhan melakukan sesuatu sebagai jawaban doa kita. Ada kesaksian ketika seseorang mencari tempat parkir di mall yang penuh, berdoa kepada Tuhan untuk diberikan tempat parkir. Emangnya Tuhan tukang parkir. Hal ini terjadi karena kita berdoa kepada Allah yang tidak kita kenal. Karena kita tidak pernah membaca Alkitab, melalui Alkitab Tuhan membuka dialog dengan kita. Doa adalah bagian dari dialog Tuhan dengan umat-Nya, bukan dialog satu arah, kita yang nerocos Tuhan bagian mendengar saja.

Doa yang benar adalah respons kita terhadap Firman-Nya. Abraham berdialog dengan Tuhan untuk membela orang lain yang terancam kebinasaan. Mazmur 138, Daud berdoa dan menyembah Allah yang dia kenal, Allah Abraham, Allah yang sejati. Daud mengenal karakter Allah yang menjadi pengharapan hidupnya yaitu Kasih-Nya, Setia-Nya atas janji-janji-Nya, yang berpihak pada orang yang hina tapi menjauhi orang yang sombong. Daud mau meninggikan dan memuliakan Allah melebihi dari segala sesuatu. Bacaan Kolose 2:6-15, Paulus mengajarkan :”Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. (ay.7). Kita dapat melihat pertumbuhan iman kita dari isi doa kita kepada Tuhan sehari-hari. Apakah bagian terbesar berisi permohonan dan permintaan atau penyerahan diri kepada Rencana-Nya ? Apakah memberi perintah atau menundukkan diri pada otoritas Tuhan ? Apakah lebih banyak keluh kesah dari pada rasa syukur yang tulus kepada Tuhan ? Bacaan Lukas 11;1-15 Tuhan Yesus mengajarkan “Doa Bapa kami”, yang terdapat 4 bagian utama. Pertama, Apakah doa kita menguduskan Nama-Nya ?, Dengan doa yang benar kita menundukkan diri ke dalam Kerajaan-Nya di mana Kristus adalah Raja, supaya kehendak-Nya terjadi dalam hidup kita seperti kehendak-Nya di dalam sorga. Kedua, pengakuan hanya Tuhan andalan yang memelihara kehidupan kita setiap hari. Ketiga, pemulihan hubungan kita dengan Tuhan dan sesama hanya melalui pengampunan. Keempat, doa kita harus memuliakan Allah karena Allah pemilik Kerajaan kekal. Kita dapat memeriksa doa kita selama ini, Apakah sudah benar dan membawa pertumbuhan iman ke arah Kristus ?
tonny iskandar

     

10 Juli 2016

PERGILAH DAN PERBUATLAH DEMIKIAN

Ul. 30:9-14; Mzm. 25:1-10; Kol. 1:1-14; Luk. 10:25-37

Bacaan Injil hari ini diawali dengan sebuah maksud untuk mencobai Yesus oleh si ahli Taurat melalui sebuah pertanyaan (Luk 10:25). Namun ketika bertanya-jawab dengan Yesus, ahli Taurat ini mampu sampai kepada inti dari keseluruhan rencana Allah dengan dua perintah sederhana: “Mengasihi Allah dan mengasihi sesamamu!” (Luk 10:27). Melalui jawabannya kepada Yesus, ahli Taurat itu menunjukkan apa yang telah dikatakan oleh Musa kepada umat Israel berabad-abad sebelumnya: “… firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Ul 30:14).

Seperti yang diperlihatkan dalam percakapan Yesus dengan ahli Taurat itu, sejatinya Injil tidaklah sulit untuk dipahami. Injil itu bukan seperangkat rumusan teologis yang rumit, dan kita tidak perlu memahami inti pesan Injil itu melalui pendidikan yang bertahun-tahun lamanya. Melalui kasih Allah di dalam pengalaman kita sehari hari – seperti yang dinyatakan oleh pemazmur dalam Maz 25, sebuah ajakan untuk melihat kasih Allah dalam hidup kita – Allah telah menulis dalam hati kita masing-masing, agar kita semua mengetahui dan mengenal kebenaran itu. Namun ada sesuatu yang lebih dalam bacaan Injil hari ini daripada sekadar Yesus membenarkan pemahaman ahli Taurat, melainkan tentang melakukan pemahaman itu! Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup” (Luk 10:28).

Tetapi ternyata untuk membenarkan dirinya ahli Taurat itu bertanya lagi kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” (Luk 10:29). Menanggapi pertanyaan tersebut Yesus menjawabnya dengan sebuah perumpaman yang sangat indah dan tidak akan mudah untuk kita lupakan, yaitu “perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:30-35).

Untuk dapat memahami bagaimana mendalamnya perumpamaan ini, kita harus mengingat tentang persaingan dan kebencian antara orang Yahudi dan Samaria yang dilatarbelakangi oleh perbedaan ras, politik dan agama. Selama ini mereka berpikir bahwa kasih kepada sesamaku adalah kasih yang hanya untuk mereka yang satu suku dan satu agama. Perumpamaan itu jelas hendak mendobrak cara pandang yang sempit, tembok-tembok kesukuan, gerbang-gerbang tempat ibadah yang selama ini berdiri mapan dan kokoh.

Mengapa Injil sepertinya merupakan sebuah tantangan besar? Mengapa hanya ada sedikit saja “orang Samaria yang murah hati” yang dapat ditemukan di dunia ini? Karena Injil yang tidak sulit dipahami itu membutuhkan hanya membutuhkan otak yang berpikir benar, namun juga membutuhkan hati yang mau dibentuk. Seperti ditunjukkan oleh tanggapan Yesus terhadap si ahli Taurat, pemahaman kita akan kebenaran harus diiringi dengan tindakan melakukan kebenaran itu sebaik-baiknya seturut kemampuan kita masing-masing. Marilah sekarang kita berefleksi melalui pertanyaan ini: Apabila kita menempatkan diri kita dalam perumpamaan Yesus itu, maka kita (anda dan saya) tergolong kategori yang mana? Imam? Orang Lewi? Orang Samaria? Bila kita berjumpa dengan orang-orang yang menderita karena berbagai hal, apa yang akan kita lakukan: Kita melihat mereka tanpa bela rasa dan kemudian melanjutkan perjalanan kita, atau kita tergerak oleh kasih dan belas kasih-Nya dan kemudian memberikan pertolongan? Kembali kita diperhadapkan pada dalil klasik, bahwa “hidup adalah pilihan”!

DS S.Teol

 

3 Juli 2016
JANJI DAN BERKAT TUHAN BAGI UTUSAN-UTUSAN KRISTUS
Yesaya 66 : 10-14; Mazmur 66 : 1-9; Galatia 6 : 7-16; Lukas 10 : 1-20

Pada dasarnya pekerjaan Tuhan tidak sia-sia untuk dikerjakan oleh para umat Tuhan. Alasannya, karena Tuhan tak mungkin memerintahkan umat-Nya untuk mengerjakan pekerjaan yang tak jelas tujuannya. Semua pekerjaan Tuhan pasti punya makna, bahkan pekerjaan yang dianggap remeh-temeh oleh manusia sekali pun. Itulah sebabnya, Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Kolose menyatakan, bahwa apa pun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kol. 3:23). Artinya, sekiranya orang Kristen melakukan segala perbuatan yang sekecil apa pun, asal ditujukan kepada Tuhan dan untuk kemuliaan-Nya, pasti akan dihargai oleh-Nya (Mat. 25:21, 23).

Sebuah contoh, seorang kakek miskin, anggota sebuah jemaat, merasa sedih, sebab ia tak dapat memersembahkan sesuatu bagi Tuhan melalui gereja-Nya. Saat ia teringat banyak pintu kamar kecil di gedung gerejanya yang telah lama berkarat dan mengeluarkan bunyi kreat-kreot, segeralah ia mengolesi engsel-engsel pintu kamar kecil itu dengan minyak jelantah, sehingga tak lagi mengeluarkan bunyi yang tak enak didengar. Kendati pekerjaan itu kelihatan tak berarti dan tidak mendapat perhatian orang, namun ternyata amat berguna. Terlebih 70 orang murid Tuhan Yesus yang diutus untuk pergi memberitakan Injil, pasti punya arti yang besar bagi banyak orang yang belum percaya kepada-Nya. Maka janji dan berkat Tuhan Yesus menyertai mereka sampai Ia menyatakan : ”Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit”. Kendati demikian, Ia memerintahkan, agar para murid itu jangan gembira karena kekalahan Iblis, sebaliknya bersukacita, karena nama mereka terdaftar di sorga (ay. 20). Begitulah janji dan berkat Tuhan disampaikan kepada para murid itu, sehingga mereka merasakan, bahwa pelayanan mereka tak sia-sia.

Hal itu juga sejalan dengan pernyataan Rasul Paulus lainnya, bahwa persekutuan dengan Tuhan membuat jerih payah orang Kristen tidak sia-sia (1 Kor. 15:58 b). Itulah juga makna menabur dalam Roh dan bukan menabur dalam daging (Gal. 6:8-10). Dapatkah kerangka berpikir demikian menjadi motivasi kita untuk melayani pekerjaan Tuhan? Ada beraneka ragam pekerjaan Tuhan tersedia di dunia ini, silakan kita masing-masing memilihnya dalam semangat pelayanan kita kepada Tuhan, selagi kita masih punya waktu dalam kehidupan kita, sebab ada saatnya akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja (Yoh. 9:4 b). Istilah `malam’ dapat kita maknai dengan `ajal kita’, `kesulitan’, `larangan/gangguan pihak lain’, `tertutupnya kesempatan’, dll. Kiranya kita dapat menanggapi perkara pengutusan Tuhan Yesus kepada kita ini dengan sebaik-baiknya. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

     

26 Juni 2016
Mengikut Yesus, Keputusanku
1 Raj. 19:15-16, 19-21; Maz. 16; Gal. 5:1, 13-26; Luk. 9:51-62

Tuhan Yesus berinisiatif memanggil setiap orang untuk menjadi pengikut-Nya. Namun demikian, Allah memberikan kebebasan setiap orang untuk mengambil keputusan apakah menyambut panggilan itu atau menolaknya dengan bermacam-macam alasan. Contohnya adalah ketika Yesus melawat daerah Samaria (Luk. 9:51-55). Penduduk Samaria menolakNya secara frontal. Ada juga yang menolak panggilan itu dengan bermacam-macam alasan (Luk. 9:57-62). Namun dalam Yoh. 4, diceritakan bahwa penduduk di kampung lain di Samaria meminta kepada Yesus untuk tinggal beberapa hari di kampung itu, kemudian penduduk kampung itu menjadi percaya kepada Yesus.

Hal penting untuk kita perhatikan & renungkan ketika kita menjadi pengikut Yesus :
Pertama, Mengikut Yesus berarti sebuah perjalanan iman. Dibutuhkan komitmen untuk berjalan bersama dengan Yesus kemanapun Yesus pergi, meneladani apa yang Dia lakukan dan ajarkan. Komitmen untuk hidup sesuai dengan kehendakNya dan setia mengikut Yesus sampai akhir. Itulah pentingnya untuk merubah hidup yang berkarakter seperti Kristus. Bukan menjadi pengikut Kristus, tanpa pertobatan.

Kedua, Mengikut Yesus berarti ada harga yang harus dibayar. Yesus ditolak oleh orang Samaria, diusir oleh penduduk kota Gerasa; puncaknya Yesus menderita, disiksa dan mati di salibkan. Itulah sebabnya salah satu syarat mengikut Yesus adalah memikul salib. Yesus juga mengatakan dalam Yoh. 15:18-25, bahwa dunia akan membenci dan menyiksa kamu, karena kamu bukan berasal dari dunia ini. Rasul Paulus juga mengatakan bahwa kamu dipanggil bukan saja untuk diselamatkan tetapi juga untuk menderita bersama dengan Dia. Jadi penderitaan karena mengikut Yesus adalah bagian dari perjalanan iman, bagian dari harga yang harus dibayar.

Ketiga, Mengikut Yesus berarti hidup dipimpin oleh Roh Kudus (Gal. 5:13-26). Ketika seseorang mengambil keputusan mengikut Yesus, berarti ia siap hidup untuk dipimpin oleh Roh Kudus. Hidupnya tidak lagi dipimpin oleh keinginan dan pikiran sendiri, atau kuasa-kuasa lain, tetapi dipimpin dan dikontrol oleh Roh Kudus. Orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh Kudus akan menghasilkan buah-buah kebenaran, menunjukkan sifat dan karakter Kristus.

Jika kita memutuskan untuk menjadi pengikut Yesus, mari kita menjadi pengikut Kristus yang berkualitas, berintegritas dan berdampak positif bagi lingkungan di mana kita berada. Bukan menjadi pengikut Kristus yang abal-abal, tanpa pertobatan, tanpa perubahan hidup, dan tidak menjadi seperti polisi tidur/ batu sandungan bagi orang lain.
RDL

 

19 Juni 2016
Tuhan Yesus Sang Pembebas
Yes. 65:1-9; Maz. 22:19-28; Gal. 3:23-29; Luk. 8:26-39

Begitu banyaknya ragam ciptaan di alam semesta ini membuktikan betapa Allah kita adalah Pencipta Yang Maha Karya. Sayangnya, manusia yang terbatas kemampuannya ini tidak sanggup menanggapi keanekaragaman yang tidak terbatas itu dalam menjalani kehidupan. Orang membuat batasan-batasan, dan hanya merasa nyaman kalau hidup dalam kotak batasan yang dibuatnya sendiri. Batasan-batasan (wilayah, kultural, nilai-nilai, keyakinan, aturan-aturan hidup, suku, gender, dll) yang dibuat pada akhirnya menjadi tembok pemisah kehidupan yang kuat antara manusia yang satu dengan yang lainnya.

Manusia terbelenggu oleh batasan-batasan yang dibuatnya sendiri, dan juga terbelenggu oleh dosa, sakit penyakit, kesusahan, penderitaan hidup, ketidakberdayaan, ketertindasan, kemiskinan, keterasingan, dll. Bagaimanakah manusia yang serba terbelenggu ini dapat bebas, dan apakah atau siapakah yang dapat membebaskannya?

Manusia mencari pembebasan dari belenggu-belenggu kehidupan dengan menempuh jalan yang tidak baik, mengikuti rancangannya sendiri, menyakitkan hati Tuhan, mencari pertolongan yang sia-sia kepada dewa-dewa dan roh-roh. Allah melalui Nabi Yesaya telah menubuatkan akan memberikan Sang Pembebas dari keturunan Yakub, dari Yehuda, untuk memberikan keselamatan bagi semua orang yang kembali kepada-Nya. Allah ternyata selalu menemui manusia, dan berkenan mengulurkan tangan-Nya, sekalipun manusia tidak mencari-Nya, bahkan memberontak kepada-Nya (Yes 65:1-9).

Daud percaya hanya Allah yang sanggup meluputkannya dari belenggu-belenggu hidupnya, karena itu ia berseru kepada Allah dalam kesusahan, dan bahaya maut. Daud mengajak umat Tuhan, agar memasyhurkan nama-Nya, memuji, mencari, dan sujud menyembah Tuhan. Tuhan akan mendengar dan menolong semua orang yang takut akan Dia (Mzm 22:19-28).

Hukum Taurat tidak dapat membebaskan manusia dari dosa. Hukum Taurat diberikan hanya sebagai penuntun sampai Kristus datang. Keselamatan dapat diterima oleh anak-anak Allah yang mempunyai iman kepada Yesus Kristus, tidak terbatas oleh suku, kedudukan, jenis kelamin (Gal 3:23-29).

Tuhan Yesus telah menjadi pembebas bagi seorang laki-laki di Gerasa. Orang itu terbelenggu oleh setan-setan. Ia juga dibelenggu rantai oleh orang-orang di situ, dan diasingkan. Kehadirannya tidak diinginkan oleh orang lain, karena ia dianggap hidup di luar nilai-nilai dan tradisi Yahudi. Ia dirasuk setan, tidak waras, tidak berpakaian, hidup di kuburan (tempat mayat, yang pada waktu itu dianggap sesuatu yang najis). Dan hidup di Gerasa yang dianggap najis oleh bangsa Yahudi (wilayah pemerintahan orang Romawi sang penjajah, daerah orang non Yahudi, penyembah dewa-dewi, tempat beternak babi/binatang yang dinajiskan oleh orang Yahudi, dan babi dipelihara untuk konsumsi bangsa penjajah).
Yesus menghadirkan karya keselamatan Allah di dalam kehidupan orang-orang Romawi-Yunani (orang non Yahudi) melalui kehidupan orang yang kerasukan setan, yang telah diasingkan dan dibuang oleh kehidupan sosial masyarakat. Orang yang telah dipulihkan itu merasakan suatu anugerah yang sangat besar dalam hidupnya. Ia tidak hanya bersyukur atas pemulihan yang diterimanya, lebih dari itu ia menjadi pemberita karya keselamatan Allah di tengah-tengah orang-orang non Yahudi (Lks 8:26-39).

Tuhan Yesus adalah Sang Pembebas yang menyembuhkan, dan membebaskan semua umat manusia dari berbagai belenggu batasan-batasan yang dibuat oleh manusia, belenggu penderitaan, dan belenggu dosa. Ia datang ke dunia untuk semua orang di seluruh dunia. Ia tidak memilih-milih manusia untuk dibebaskan dan diselamatkan. Ia memberikan kasih-Nya kepada semua orang tanpa terkecuali. Sudahkah kita yang mengaku sebagai pengikut-Nya, dan orang yang sudah menerima keselamatan daripada-Nya, meneladani Dia dengan mewujudnyatakan pembebasan, merayakan, dan memberitakan kasih anugerah Allah kepada sesama tanpa memilih-milih?
Nancy Hendranata

     

12 Juni 2016
Komunitas Cinta Kasih
2 Sam. 11:26 - 12:10, 13-15; Maz. 32; Gal. 2:15-21; Luk. 7:36 - 8:3

Komunitas yang dibentuk Allah di dunia ini mengalami berbagai perkembangan, dimulai dari komunitas bangsa Yahudi, komunitas murid-murid Yesus, dan sekarang ini komunitas cinta kasih yang adalah tubuh Kristus sendiri. Komunitas ini terus bertumbuh dalam pengenalan akan Allah dan bertransformasi semakin mendekati maksud Allah.

Pada komunitas Yahudi, kesadaran akan Allah ditumbuhkan melalui hukum Taurat, yaitu peringatan akan dosa, yaitu keterpisahan manusia dari Allah. Hukum Taurat berisikan larangan-larangan terhadap perbuatan-perbuatan yang alamiah bagi manusia. Apa yang dianggap alamiah dan kebiasaan oleh manusia dinyatakan sebagai pelanggaran oleh Allah.

Daud merancangkan skema rahasia membunuh Uria untuk merebut istrinya. Dalam komunitas Yahudi, Daud adalah raja besar, dan ia merasa bisa mengelabui komunitasnya ini dengan skema jahatnya itu. Memang ia berhasil, tetapi ia lupa bahwa Allah tidak bisa dikelabui. Dalam komunitas ini, muncul nabi Natan yang dengan kuasa Tuhan memperlihatkan pada Daud betapa jahatnya perbuatannya. Daud dimampukan melihat dosa dari perspektif Allah, betapa Daud sudah gagal mencintai anggota komunitasnya sendiri, dan menista Allah. Hati Daud remuk, dan dia meratap mohon pengampunan, memohon Allah tidak meninggalkannya.

Yesus mengajarkan pada murid-muridNya bahwa dosa adalah gagal mengasihi Allah dan sesama. Dosa adalah gagal mengenali dan memulihkan relasi dengan Allah. Dosa adalah gagal beriman, yakni mengimani Yesus adalah Allah.

Ini terlihat pada peristiwa kunjungan Yesus ke rumah Simon orang Farisi. Suatu kebiasaan Yahudi apabila orang terhormat datang bertamu, tuan rumah akan membasuh kakinya. Tapi Simon dan orang dalam komunitas itu melihat Yesus sekedar guru seperti mereka juga. Jadi ia tidak bersedia membasuh kaki Yesus. Komunitas ini juga menilai perempuan yg terkenal berdosa itu sebagai kenajisan. Sehingga tersentuh wanita ini pun dipandang berdosa. Komunitas ini bangga dengan pengetahuan mereka akan siapa yang berdosa dan najis. Tapi Yesus menjungkir-balikkan pemahaman ini. Perempuan ini begitu terkejut melihat kaki Tuhan tidak dibasuh, maka ia segera membasuh kaki Tuhan dengan ciuman, kasih, air mata, dan minyak wangi. Perempuan itu menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan, ini memampukannya untuk mengasihi Yesus, dan imannya ini mengampuni dosanya.

Komunitas cinta kasih yang juga diperjuangkan Rasul Paulus adalah komunitas yang tidak menghakimi menggunakan hukum Taurat, melainkan komunitas yang melakukan kasih itu didasarkan pada iman bahwa Kristus adalah Tuhan. Komunitas ini memang tidak melanggar hukum Taurat. Tapi bukan karena takut akan hukuman atau dikendalikan oleh berbagai penghakiman masyarakat. Komunitas cinta kasih tidak ingin melanggar hukum Taurat karena ia mengasihi Allah dan sesama. Kasih ini datang dari pengetahuannya akan Allah dan siapa Kristus itu.
AL

 

5 Juni 2016
KETIKA ALLAH MELAWAT UMAT-NYA
1 Raja-raja 17:17-24, Mazmur 30, Galatia 1:11-24, Lukas 7:11-17

Narasi janda Sarfat yang diceritakan dalam 1 Raj. 17:17-24 dan narasi janda dari Nain yang diceritakan dalam Luk. 7:11-17 dan Maz. 30 dan Gal. 1:11-24, memberikan beberapa pesan penting untuk kita renungkan bersama.

1. Pentingnya respon positif terhadap lawatan Allah. Janda dari Sarfat merespon lawatan Allah dengan intropeksi diri sebagai orang yang berdosa di hadapan Allah. Respon berikutnya adalah memuliakan Allah setelah menyaksikan anaknya hidup kembali; bahwa firman Allah adalah benar. Janda dari Nain juga merespon lawatan Allah dengan positif, yaitu pengakuan bahwa Allah sedang melawat umat-Nya.

2. Lawatan Allah mendatangkan kekuatan & penghiburan. Tuhan Yesus berkata kepada janda dari Nain: Jangan menangis. Pemazmur berkata: “Aku yang meratap Kau-ubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kau-buka, pinggangku Kau-ikat dengan sukacita.” Lawatan Allah mendatangkan kekuatan & penghiburan.

3. Lawatan Allah kadangkala melawan aturan atau tradisi/ adat istiadat yang berlaku pada zamannya. Yesus menyentuh mayat anak muda, menurut tradisi Yahudi orang yang menyentuh mayat itu najis selama kurang lebih tujuh hari. Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari sabat, itu berarti Yesus melanggar aturan sabat. Petrus dalam penglihatan (Kis. 10:14-16) harus memakan makanan haram menurut aturan agama Yahudi. Kisah di atas menjelaskan dan menegaskan bahwa lawatan dan pekerjaan Allah tidak dapat dibatasi dan digagalkan oleh aturan dan tembok apapun. Seringkali, kita yang membatasi karya dan lawatan Allah dengan membuat banyak aturan ini dan itu. Dan yang lebih memprihatinkan adalah aturan yang manusia buat kita anggap lebih besar kuasanya dari pada firman Tuhan.

4. Lawatan Allah membawa kehidupan dan pemulihan. Kedua anak yang telah mati menjadi hidup kembali. Elia menyerahkan anak itu kepada ibunya; Tuhan Yesus menyerahkan anak itu kepada ibunya. Lawatan Allah memberikan kehidupan dan pemulihan. Ketidakberdayaan menghadapi kematian diganti dengan kehidupan. Pemazmur berkata: “Tuhan, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur.”

5. Lawatan Allah membawa perubahan hidup. Dialami oleh janda dari Sarfat, janda dari Nain, oleh Pemazmur dan oleh Rasul Paulus sendiri. Mereka diubahkan dari kesedihan, ketidakberdayaan dengan sukacita dan kelepasan dari persoalan yang berat. Rasul Paulus diubahkan dari kemarahan, kebencian, dan kekejaman menjadi pribadi yang penuh dengan cinta kasih, kesabaran dan pengampunan.

Ketika Allah melawat kita, dengan rendah hati dan rela hati untuk diubah oleh Allah, inilah kira-kira ringkasan khotbah saya. Tuhan memberkati. Amin.
RDS

     

29 Mei 2016
DI HADAPAN ALLAH YANG MAHAKUASA:
YAKINLAH DAN DAPATKANLAH BUKTINYA
1 Raj. 8:22-23, 41-43; Maz. 96:1-9; Gal. 1:1-12; Luk. 7:1-10

Kalimat-kalimat atau kata-kata seperti ini: Tidak ada yang mustahil bagi Allah; Allah pasti memberi yang terbaik; dan Allah mengasihi semua ciptaan-Nya, pasti pernah dan sering kita baca ataupun dengar. Kalimat-kalimat atau kata-kata itu muncul tentu bukan secara tiba-tiba. Ada yang melatarbelakangi seseorang menuliskan ataupun mengucapkannya yaitu pengetahuan maupun pengalaman yang dilihat dan dialami oleh orang tersebut. Dalam bacaan kita minggu ini, kita disajikan pengetahuan dan pengalaman yang diungkapkan oleh para tokoh Alkitab yang melihat karya Allah di dalam hidupnya ataupun di dalam ciptaan-Nya.

Yang pertama, 1 Raja-raja 8 mengisahkan bahwa keyakinan Salomo kepada Allah semakin kuat, sebab ia mengalami dan membuktikan janji Allah yang digenapi dalam pembangunan Bait Allah. Melalui hal itu, Salomo yakin bahwa Allah adalah yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Nya (ay. 23-24) dan bangsa asing yang dengan segenap hati hidup di hadapan-Nya (41-43).

Yang kedua, pemazmur menyanyikan dan menceritakan segala perbuatan Allah yang ajaib yang dilakukan baik kepada umat Israel maupun kepada segala ciptaan yang ada. Hal tersebut berasal dari keyakinan dan bukti tentang perbuatan Allah yang dialaminya. Bagi pemazmur Allah adalah Raja (ay. 10) dan Sang Pencipta Langit (ay. 5). Pemazmur mengajak seluruh ciptaan Allah untuk melihat dan mendapatkan pengalaman yang sama dengannya dan pada akhirnya menyatakan keyakinan yang sama tentang siapa Allah.

Yang ketiga, Paulus mengawali suratnya kepada jemaat-jemaat Galatia dengan sebuah keyakinan bahwa semua yang dialaminya berkat Allah yang berkuasa di dalam dirinya. Sehingga ia pun yakin bahwa kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Tuhan Yesus menyertai mereka. Keyakinan dan keteguhan Paulus ternyata tidak sejalan dengan situasi yang dialami oleh jemaat-jemaat Galatia yang ternyata mudah goyah dan meninggalkan imannya (ay.6). Paulus menegur Jemaat yang mudah terpengaruh oleh pemberitaan “injil-injil” lain.

“Injil-injil” lain itu seperti apa? Kita tidak mendapatkan penjelasan yang lengkap. Namun Paulus memberikan patokan dari injil yang benar yaitu jika injil itu berisi untuk menyenangkan dan berkenan kepada manusia dan bukan Allah atau Kristus, maka injil itu bukanlah injil yang benar (ay. 10-12). Karena itu, Paulus mengajak Jemaat untuk menyakini bahwa injil yang benar adalah yang berisikan tentang kemuliaan hanya bagi Allah Bapa kita, dan Tuhan Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita (ay 3-5).

Yang keempat, Lukas mengisahkan seorang perwira yang memiliki iman yang besar yang tidak pernah dijumpai Yesus sekalipun di antara orang Israel. Gambaran iman dari perwira ini dapat kita lihat dalam 7:8 yaitu iman yang patuh dan taat kepada atasannya. Sebagai seorang prajurit apa yang menjadi kehendak atasannya harus ditaatinya. Dan apa yang dikehendaki oleh atasannya pasti akan terlaksana. Dalam pengetahuan dan pengalaman yang dilihatnya, perwira itu melihat bahwa Yesus bukan sekedar atasan, tetapi lebih dari itu yaitu pribadi yang sangat berkuasa, yang membuat dirinya tidak layak menghadap kepada-Nya (6-7). Melalui kisah tersebut Lukas ingin mengajak umat untuk meyakini bahwa Yesus Mahakuasa dan umat diningatkan untuk menjadi pribadi yang taat kepada Atasannya.

Dari keempat kisah di atas, marilah kita renungkan pertanyaan-pertanyaan ini: Melalui pengalaman Saudara, siapakah Yesus bagi Saudara? Mengapa demikian? Siapkah Saudara mengakuinya dan taat di hadapan Allah serta berani menceritakannya kepada semua orang? Kiranya Roh Kudus memampukan kita semua. Amin
dstheologi

 

22 Mei 2016
FIRMAN TUHAN PERISAI HIDUPKU
Kisah Para Rasul 17:10-15, Mazmur 119:1-9, Filipi 2:12-18, Yohanes 8:30-36

Kisah Para Rasul 17:10-15 menjelaskan tentang ketekunan dan kesungguhan orang-orang Yahudi di kota Berea mempelajari firman Tuhan. Bukan hanya ketekunan dan kesungguhan, tetapi juga mereka menerima firman Tuhan itu dengan kerelaan hati. Akibat ketekunan dan kesungguhan itu, akhirnya mereka menjadi percaya kepada Tuhan Yesus dan menjadi pengikut Kristus. Bisa dikatakan gereja mulai hadir di kota Berea ini.

Mazmur 119:1-9 menjelaskan tentang dua hal yaitu: Pertama, Komitmen pemazmur untuk mentaati firman Tuhan dalam kehidupannya sehari-hari. Menjadikan firman Tuhan menjadi bagian hidupnya. Kedua, Pemazmur menyaksikan bahwa ketaatan kepada firman Tuhan membawa kebahagiaan dan sukacita dan melimpah dengan syukur; hidupnya tidak akan dipermalukan Tuhan. Jika kita bandingkan dengan Mazmur 1:1-3 dan Mazmur 19:12 maka orang yang mencintai firman dan merenungkan firman itu siang dan malam akan mendapat upah yang besar; apa yang kita perbuat berhasil. Filipi 2:12-18 menjelaskan tentang nasehat rasul Paulus kepada jemaat di Filipi supaya mereka menjadikan firman Tuhan sebagai pondasi, penuntun dan pembimbing dalam kehidupan berjemaat dan dalam kehidupan sehari-hari. Jika jemaat Filipi hidup dalam kebenaran firman Tuhan, maka mereka akan hidup tidak bercela, mereka akan hidup bercahaya seperti bintang dan hidup dalam kekudusan Tuhan.

Yohanes 8:30-36 menjelaskan salah satu ciri seseorang menjadi murid Yesus Kristus adalah memberlakukan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain jika seseorang tidak mentaati firman Tuhan dalam hidup sehari-hari, maka bukanlah murid Yesus Kristus, meskipun ia mengaku sebagai orang Kristen.

Aplikasinya untuk kita: Mari kita membukan hati dan pikiran kita untuk diisi dan dikoreksi oleh firman kebenaran. Firman itulah yang akan memperbaharui, memperbaiki dan menuntun kita kepada kekudusan dan kebenaran Allah. Pada hari anak ini dalam kitab Ulangan 6:6-9 mengingatkan kita sebagai orang tua tentang tugas dan tanggungjawab yang sangat penting, yaitu mengajarkan firman kepada anak-anak kita, ketika kita dalam keadaan apapun, dan di tempat apapun. Mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak bukanlah tugas utama guru sekolah minggu, tetapi tugas orang tua. Mari kita membentuk dan mempersiapkan generasi penerus kita menjadi generasi yang berkualitas dan yang mencintai Tuhan; dimulai dari mana? Kita mulai dari diri kita sebagai orang tua marilah kita mulai mengajarkan kebenaran firman Tuhan kepada anak-anak kita. Tuhan memberkati kita. Firman yang kita ajarkan kepada anak-anak akan menjadi perisai hidup bagi anak-anak kita. Amin.
RDL

     

15 Mei 2016
ROH KUDUS PENOLONG PARA PEKERJA KRISTUS
Kis. 2:1-21; Maz. 104:24-35; Rom. 8:14-17; Yoh. 14:8-17, 25-27

Setelah Yesus kembali pada Sang Bapa, murid-murid adalah pekerja Kristus untuk melanjutkan apa yang sudah Yesus kerjakan. Yesus tahu pekerjaan itu tidak mudah malah cenderung sulit. Oleh karenanya, Ia meminta kepada Bapa seorang Penolong untuk mengajarkan, mengingatkan segala sesuatu yang telah mereka terima dari Yesus dan agar berani menjadi saksi iman. Roh Kudus menjadi cara kehadiran yang baru dari Yesus bagi para murid.

Janji Yesus segera digenapi tidak lama setelah kenaikan-Nya ke sorga. Tepat ketika perayaan Pentakosta di mana setiap orang Yahudi wajib berkumpul dan merayakan pemberian Taurat kepada Musa di Gunung Sinai dan sekaligus juga perayaan pengucapan syukur atas berkat Tuhan melalui hujan dan kesuburan tanah sehingga mereka dapat memetik hasil panen. Turun-nya Roh Kudus berdampak, murid-murid mampu berbicara dalam pelbagai bahasa kepada orang-orang yang datang dari pelbagai penjuru untuk menghadiri perayaan itu (Kisah Para Rasul 2 :1-21). Sehingga bahasa tidak lagi menjadi hambatan untuk mereka mendengar Injil. Roh Kudus memimpin para murid dan juga orang-orang yang telah menjadi percaya untuk terus menyaksikan Injil Tuhan. Kesaksian para murid ini begitu efektif.

“Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” Begitu kata Paulus dalam Roma 8:14.

“Dipimpin Roh Allah” apa maksudnya? Apakah itu berarti, Roh Allah itu menguasai manusia sepenuhnya sehingga manusia itu bagaikan “robot” (pasif) yang menuruti saja apa yang dimaui oleh Roh itu? “Dipimpin” (agontai), dapat diartikan “membiarkan diri untuk dipimpin” (bnd. 1 Kor.11:6; Gal.5:12). Maka, yang diutamakan di sini bukan karunia-karunia sesaat spektakuler yang membuat banyak orang terheran-heran, melainkan bimbingan Roh dalam kehidupan sehari-hari agar manusia yang dipimpin-Nya mampu hidup seperti yang dicontohkan Kristus. Roh itu memimpin manusia agar dapat “mematikan perbuatan-perbuatan tubuh atau nafsu kedagingan”. Manusia tidak Pasif! Melainkan manusialah yang menghadapinya dengan kekuatan dari Roh yang memimpin itu.

Kalau seseorang membiarkan diri dipimpin oleh Roh Allah, maka Roh itulah yang merupakan pusat kegiatan di dalam diri orang itu. Peran Roh tidak meniadakan atau menggantikan kegiatan manusia melainkan mencetuskan dan memotivasi kegiatan kita. Itulah yang disebut “membiarkan diri dipimpin oleh Roh Allah”. Pimpinan Roh Allah itu membuat manusia menjadi “anak Allah”. Menjadi anak, berarti seseorang itu dibentuk oleh sifat Bapa untuk menjadi serupa, atau memiliki ciri-ciri yang sama. Selain itu, relasi antara anak dengan bapaknya dalam hubungan yang sangat akrab, dan khusus. Mereka sehati-sepikir, seiya-sekata, dan intim. Seperti apa yang Yesus katakan dalam Yohanes 14:10, “Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Kukatakan kepadamu tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.”

Penerimaan hidup yang dipimpin oleh Roh Allah menurut keyakinan dan pengalaman orang-orang Kristen pada zaman Perjanjian Baru terjadi bersamaan dengan penerimaan baptisan (lih. Kis 10:47; 19:2; 1 Kor. 6:11; 12:13; 2 Kor. 1:22; 1 Pet. 1:2). Dalam baptisan mereka menerima kedudukan sebagai anak, sekaligus menerima Roh yang menolong para murid untuk sanggup hidup sesuai dengan status baru sebagai anak-anak Allah. Selamat menerima Roh Kudus, Penolong kita untuk berkarya bagi Tuhan. Amin.
PK

 

8 Mei 2016
Semua Adalah Satu!
Kis. 16:16-34; Maz. 97; Why. 22:12-21; Yoh. 17:20-26

Kesatuan adalah tema penting di dalam kehidupan persekutuan orang percaya. Ia menjadi tema yang perlu ada untuk mendasari kehidupan setiap persekutuan. Kesatuan adalah kekuatan dari kehidupan orang percaya di tengah-tengah dunia yang menekan dan mengancam kehidupan iman. Setiap orang membutuhkan dorongan kekuatan untuk melewati semua tantangan tersebut. tanpa sebuah kesatuan, maka orang percaya bukan saja tidak dapat memenuhi panggilan imannya dalam dunia ini, orang percaya juga dapat terpecah belah dalam persekutuannya. Dengan keterpecahan ini, gereja di mana orang percaya bertumbuh, tidak dapat lagi hidup dalam kemuliaan Allah serta kebenaran firman-Nya.

Kesatuan adalah isi dari doa Tuhan Yesus pada murid-muridnya. Di dalam doa-Nya Ia menaikkan tema tentang kesatuan para murid dan orang-orang percaya. Di dalam doa tersebut ada banyak hal yang perlu untuk dipelajari tentang apa arti kesatuan. Untuk itulah tema hari ini menjadi relevan di tengah-tengah ada banyaknya perpecahan yang terjadi di antara gereja Tuhan dan juga orang-orang percaya. Melalui doa Yesus kita kembali merenungkan secara dalam apa arti “semua adalah satu”.

Doa Yesus dapat dikatakan sebagai doa yang sifatnya pastoral. Hal ini dapat dimengerti ketika kita meletakan bagian doa ini dalam sebuah peta naratif yang panjang dari pasal-pasal sebelumnya. Sebagaimana diketahui, bahwa di penghujung waktu mendekatnya peristiwa penangkapan dan penyaliban, Yesus begitu konsentrasi mendampingi murid-murid. Ia mengajar dan berupaya menguatkan mereka untuk siap menghadapi kenyataan yang akan dihadapi di depan. Ia berbicara banyak hal, seperti kematian, perpisahan, kesedihan, dan ancaman terhadap para murid akibat iman percaya mereka.

Yesus berupaya membangun keteguhan hati para murid agar siap sedia menghadapi kenyataan yang akan terjadi di depan. Keyataan yang tidak bisa dihindari karena itu adalah jalan yang harus dilewati. Yesus juga menjanjikan Penghibur yang akan menuntun mereka kepada seluruh kebenaran yang telah disampaikanNya. Setelah panjang lebar melakukan percakapan pastoral dengan para murid. Tibalah bagi Yesus mengakhiri seluruh percakapan tersebut dengan menaikkan doa bagi mereka. Doa yang memberikan kekuatan dan pengharapan bagi yang didoakan. Doa seorang gembala akan domba-dombanya.
Dian Penuntun

 

1 Mei 2016
KASIH KRISTUS KEKUATAN BARU DALAM MELAKSANAKAN VISI BARU
Kisah 16 : 9-15; Mzm. 67; Wahyu 21 : 10, 22 - 22 : 5; Yohanes 14 : 23-29

Kehadiran gereja dan orang Kristen di dunia ditugasi untuk melakukan pemberitaan Injil (PI) kepada orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus. Prinsip ini sudah ada pada zaman Perjanjian Lama (PL), sebagaimana termuat dalam Mzm. 67 sehingga dapat kita sebut sebagai `PI dalam PL’. Tentang hasilnya, kita serahkan kepada Tuhan, Dialah yang berkuasa untuk menggerakkan hati para pendengar masing-masing untuk percaya kepada-Nya. Sekiranya kita merasa lemah, takut, dan tak berdaya, Tuhan Yesus melengkapi kita dengan kasih-Nya sebagai kekuatan untuk melaksanakan misi-Nya. Maka dalam ketaatan kepada perintah dan kehendak Tuhan, kita melakukan penugasan itu. Lalu kita pun berada dalam kasih-Nya dan Ia diam dalam diri kita (Yoh. 14 : 23), sehingga secara estafet kita pun meneruskan kasih Tuhan itu kepada sesama kita melalui pemberitaan Injil.

Hal ini dikemukakan dalam pemberitaan tentang kehadiran Roh Kudus, yang juga disebut Penghibur itu. Sejatinya Dia tak lain adalah pribadi Tuhan Yesus sendiri, yang secara Roh menyertai para murid-Nya, sesudah ketidak-hadiran-Nya secara fisik. Singkatnya, kendati secara fisik Tuhan Yesus tak hadir, namun dalam wujud Roh Kudus, Ia hadir. Pengalaman Saulus ---- yang semula menjadi penganiaya jemaat, namun kemudian bertobat menjadi Rasul Paulus --- saat dijumpai oleh Tuhan Yesus dalam perjalanannya ke Damsyik adalah buktinya. Oleh sebab itu, Tuhan Yesus menyatakan perintah dan penyertaan-Nya kepada para murid-Nya untuk melaksanakan misi mereka, baik secara langsung, maupun melalui penglihatan.

Secara konkret misi yang diemban oleh para murid dalam penugasan mereka ke pelbagai tempat (Petrus ke Roma, Tomas ke India), dan khususnya Rasul Paulus saat memberitakan Injil kepada Lidia di Filipi, adalah karena mereka semua dengan kasih Kristus berbicara kepada para pendengarnya. Kasih Kristus adalah kekuatan untuk menghubungkan mereka dengan Tuhan Yesus dan itu merupakan dunamis (kekuatan, dinamit) Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya (Roma 1 : 16, 17).

Kemana visi penugasan para murid, Rasul Paulus, dan orang Kristen pada masa kini? Visinya adalah kepergian para orang percaya ke Yerusalem baru, yakni surga, yang sebenarnya juga dirindukan oleh setiap manusia. Bagaimana lukisan suasana surgawi itu? Suasananya dilukiskan dengan jelas melalui penglihatan kepada Rasul Yohanes dalam Wahyu 21-22. Tentu tentang saatnya para orang percaya memasuki suasana surgawi itu, waktunya ditentukan oleh Tuhan. Maka sementara belum tiba waktunya, tugas gereja dan orang Kristen adalah melaksanakan misi Tuhan Yesus pada waktu sekarang ini. Dengan demikian nyata bagi kita, bahwa misi kita di dunia, sedangkan visinya menuju ke surga, dan Tuhan Yesus memberikan kasih-Nya sebagai kekuatan kepada kita. Maka tugas orang Kristen memberitakan Injil kepada orang yang belum percaya adalah wujud mengasihi dia, agar ia pun beroleh keselamatan sama seperti kita. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

25 April 2016
Kasih Kristus, Kekuatan yang Baru bagi Komunitas yang Baru
Kis. 11:1-18; Maz. 148; Why. 21:1-6; Yoh. 13:31-35

Jika kita mencermati kehidupan berbangsa dan bermasyarakat kita, maka sungguh memprihatinkan, sebab banyak konflik horisontal yang terjadi di dalam masyarakat kita. Kita masih ingat peristiwa konflik di Poso, Ambon, Tolikara/ Papua, Aceh dll. Banyak hal yang melatarbelakangi terjadi konflik, apakah karena perbedaan suku, agama, ataupun perbedaan politik. Yang sungguh memprihatinkan bagi saya secara pribadi adalah adanya kekerasan, pengrusakan rumah ibadah, dan pembunuhan karena perbedaan keyakinan/ agama. Kekerasan/ konflik atas nama agama: Agama ditampilkan dengan wajah kebencian, kemarahan dan kekejaman, agama bukan ditampilkan wajah yang penuh dengan welas asih, keramahan, kelemah lembutan dan cinta kasih. Sungguh aneh dan ajaib, jika agama ditampilkan dengan wajah kebencian dan permusuhan.

Yesus Kristus dalam pengajaranNya Yohanes 13:35-35 telah meletakkan dasar atau pondasi bagi kehidupan pengikut Kritus, yaitu kehidupan yang dibangun di atas dasar kasih Kristus. Kasih Kristus yang tidak dibatasi oleh perbedaan-perbedaan apapun. Apakah perbedaan ras/ suku, bangsa, agama/ keyakinan, status sosial ekonomi dan lain sebagainya. Kasih Kristus yang bersedia dan rela menerima dan menghargai semua perbedaan dan semua latarbelakang apapun. Kasih Kristus menentang perilaku ‘rasis’, menentang perilaku pengkotak-kotakkan/ sekat-sekat apapun. Kasih Kristus inilah yang harus terus dekembangkan dan diperjuangkan dalam membangun komunitas umat Tuhan, baik dalam lingkup keluarga, lingkup jemaat dan masyarakat.

Kehidupan jemaat mula-mula yang diceriterakan dalam Kisah Para Rasul telah belajar dan menghidupi cinta kasih Kristus dalam membangun komunitas mereka yang baru. Itulah sebabnya komunitas ini dipakai oleh Tuhan menjadi berkat, menjadi contoh kehidupan yang baik dan benar, sehingga banyak orang-orang menjadi percaya kepada Yesus Kristus. Pertanyaan refleksi bagi kita sebagai murid Yesus, dan sebagai gerejaNya adalah: Apakah kita sudah menampilkan dan mewujudnyatakan kehidupan yang penuh dengan cinta kasih Yesus, baik dalam keluarga ataupun dalam jemaat? Kiranya Tuhan memberkati. Amin.
RDL

     

17 April 2016
Kasih Allah: Penopang Bagi Yang Lemah
Kisah 9:36-43; Maz 23; Wahyu 7:9-17; Yohanes 10:22-30

Hiruk pikuk kehidupan manusia hari ini pada dasarnya ditujukan pada bagaimana mendapatkan kemuliaan hidup serta mempertahankan selama mungkin. Dalam kebingungan nya, manusia menggunakan pengalaman serta cara-cara sendiri untuk menggapai impiannya itu. Namun kita tahu bersama, pada akhirnya kehidupan manusia pada umumnyta penuh penderitaan, kosong, tidak bermakna, dan selalu berakhir di liang kubur.

Mesias datang untuk menyelamatkan manusia dari kehidupan yang sia-sia. Umat Yahudi memang janji Allah akan datangnya Mesias yang mengangkat kemulian kehidupna mereka. Saat Yesus datang, banyak yang menyambutnya sebagai sang Mesias, tetapi justru pemimpin Yahudi meragukanNya. Selain tidak sesuai dengan pemahaman mereka, Mesias ternyata mengajarkan kasih Allah sebagai dasar dari kemuliaan kehidupan, bukan kepatuhan pada berbagai displin hukum Taurat. Mereka menuntut bukti dan kesaksian sebelum mereka menerima bahwa Yesus itu benar Mesias.

Kesaksian Mesias itu melakukan pekerjaan-pekerjaan kasih dalam nama Bapa. Mesias penuh kasih menggembalakan domba-domba yang diberikan Bapa kepadaNya. Domba-domba yang mendengar suara Mesias dan mengikutiNya mendapatkan hidup yang kekal (Yoh 10:25-29). Itulah bukti bahwa Yesus adalah Mesias. Tidak jarang kita bersikap seperti orang-orang Yahudi yang sudah mendengar ajakan Gembala, tapi tidak percaya. Kita tidak percaya bahwa Gembala akan menuntun kita pada kehidupan yang luar biasa. Mari kita melihat dua contoh domba lemah yang mengikuti Gembala: Daud dan Petrus.

Mazmur 23 menggambarkan bagaimana Gembala menuntun Daud. Dalam tuntunan Gembala, kehidupan Daud berubah menjadi seorang kecil dan lemah, menjadi pahlawan besar dan raja legendaris yang terus diingat orang sampai hari ini. Suatu kehidupan yang luar biasa. Kemudian Petrus adalah contoh lain apa yang terjadi saat domba Kristus dipakaiNya menjadi gembala. Nelayan yang lemah ini menjadi alat Kristus untuk yang mengabarkan Kasih Allah kepada semua orang. Ia tidak lelah memperhatikan domab-domba yang sudah ditebus dengan darah Kristus itu. Petruspun sampai diberikan anugerah untuk membangkitkan Tabita dari kematian, suatu kuasa yang sangat besar (Kis 9:40).

Pada akhirnya, kemana Gembala menuntun domba-dombaNya? Kepada sebuah kemuliaan kekal di hadirat Allah, di mana tidak ada lagi lapar dan dahaga, dan berbagai penderitaan (Wah 7:15-17), Dalam kemuliaan kekal ini kita tidak lagi menjadi makhluk duniawi yang dipenuhi berbagai kelemahan, tetapi menjadi makhluk kasih yang kekal.

Oleh sebab itu mari kita selalu menjadi domba Kristus yang taat pada suaraNya, serta terus menjalani kehdiupan ini dalam tuntunan sang Gembala. Sebagai orang lemah, kita dikuatkan oleh Kasih Allah. Tidak saja kehidupan kita di dunia ini menjadi luar biasa, tetapi kita juga mendapatkan kehidupan yang kekal di hadirat Allah kita.
AL

 

10 April 2016
PERJUMPAAN YANG MENUMBUHKAN IMAN DAN PERTOBATAN
Yoh 21:1-19; Kisah Para Rasul 9:1-20

Fokus pertama injil Yohanes dalam pasal 21 ini adalah Petrus. Dialah yang berinisiatif untuk pergi mencari ikan. Dia jugalah yang segera menuruti perintah Yesus untuk mengambil beberapa ikan yang telah mereka tangkap.
Dalam bagian ini tampil dialog antara Yesus dan Petrus. Dalam ayat 15-17, Yesus tiga kali bertanya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari mereka ini?” Petrus menjawab bahwa ia mengasihi-Nya. Tiga kali menyangkal, maka tiga kali pula ia harus menyatakan kasihnya kepada Yesus. Penegasan ini menjadi penting untuk mengembalikan keyakinan diri Petrus dalam mengemban tugas yang berat, yakni mengembalakan domba-domba-Nya.

Pertanyaan Yesus, “Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari mereka ?” Yang dimaksud dengan “mereka” itu bisa teman-teman, atau pekerjaannya, juga ketika pekerjaan itu menghasilkan uang, penghidup an, kepopuleran, pendeknya yang hebat-hebat seperti itu. Pendeknya, apakah kasihnya kepada Yesus melebih segalanya? Dan Petrus menjawabnya, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.”

Setelah Yesus memberikan tugas pengutusan kepada Petrus, kemudian Yesus berbicara tentang masa lalu dan masa depan Petrus yang menyatakan bahwa Petrus akan mati dengan memuliakan Allah.

Perjumpaan Tuhan Yesus yang bangkit dengan Simon Petrus, anak Yohanes mengajarkan kepada kita bahwa Yesus sanggup memulihkan kepercayaan diri dari seorang yang telah menyangkal tiga kali berturut-turut. Perjumpaan itu akhirnya menumbuhkan iman yang baru. Iman yang siap melakukan tugas perutusan bahkan sampai mati. Kini, kematian bagi Petrus – kendatipun bagi Petrus dengan jalan mengerikan - tidak lagi menjadi momok yang menakutkan. Melainkan, sama seperti yang dijalani Yesus, merupakan jalan memuliakan Allah. Paralel dari kisah Petrus ini, kita dapat menemukannya dalam diri Saulus (Kisah Para Rasul 9:1-20). Perjumpaan dari seorang penganiaya murid-murid Tuhan, kini berubah total. Ia menyerahkan dirinya bagi pekerjaan Tuhan.

Bila Petrus, Yohanes, selanjutnya Paulus dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lain mengalami perubahan radikal dalam kehidupan mereka karena berjumpa dengan Kristus yang bangkit, bagaimana dengan kita? Apakah kita harus mengalami perjumpaan seperti pengalaman mereka? Ya, perjumpaan mutlak harus terjadi apabila kita ingin berubah. Namun, perjumpaan itu tidak harus disimpulkan seperti pengalaman mereka. Pembacaan Kitab Suci dan perenungannya, perjumpaan dengan sesama, refleksi atas pengalaman hidup (khususnya yang tidak menyenangkan), itu semua dapat dipakai-Nya untuk menjadi sarana perjumpaan. Sudahkah melalui itu, iman kita tumbuh dan kita mengalami pembaruan hidup seperti yang dikehendaki-Nya?

 

     

3 April 2016
JADIKANKU ALATMU
1 Korintus 12:12-31

Disadari atau tidak, bahwa masih banyak anggota Jemaat yang belum terlibat mengambil bagian dalam pelayanan, padahal ia memiliki talenta. Jika sebuah Jemaat diberi Tuhan 700 anggota Jemaat, maka sekaya itulah talenta Jemaat tersebut. Jika setiap anggota berbagi satu talenta saja, maka ada paduan 700-an lebih talenta dalam Jemaat tersebut. Kita yakin bahwa dengan perpaduan antara kurang lebih 700 orang anggota Jemaat GKI Pasteur, kita dapat melaksanakan tugas panggilan secara maksimal sebagai gereja, khususnya di Kota Bandung.
1 Korintus 12:12 “Kamu adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya”. Jemaat sebagai kesatuan tubuh menggambarkan pada kita tentang indahnya relasi, kerjasama, persaudaraan, persahabatan dalam Jemaat. Tentang wujud persekutuan seperti apa yang mesti dibangun, dan bagaimana tiap anggota mesti mewujudkan fungsi dan perannya dalam tubuh. Untuk hal inilah maka GKI Pasteur mengambil tema “JADIKANKU ALATMU” - “Terlibat bersama meningkatkan persekutuan, kecintaan, kepemimpinan dan pelayanan gereja”

Sebagai bagian dari GKI, maka tema tahunan ini merupakan misi ke 7 GKI yakni: mewujud kan dan meningkatkan persekutuan orang-orang percaya tanpa memandang perbedaan – perbedaan dan misi ke tujuh yakni : mengembang kan sumber daya manusia yang memadai. Jadi Firman Tuhan dan tema tahunan GKI Pasteur – mengingatkan kita akan beberapa hal:
1. Jemaat GKI Pasteur adalah bagian dari tubuh Kristus, yang anggota di dalamnya tak terpisah satu dengan yang lain.
2. Yang empunya tubuh adalah Kristus, karena Kristus adalah Tuhan dan Kepala Gereja.
3. Karenanya setiap Jemaat dan anggota Jemaat adalah alat Tuhan
4. Kesadaran sebagai alat, diharapkan menimbulkan pemahaman dan kesadaran bahwa “aku tidak boleh tinggal diam, dan aku mau jadi alatNya”.
5. Maka “Jadikanku alatMu”, adalah kesediaan diri / hati, bukan karena disuruh.
6. Tema tahunan ini juga bertumpu pada kata kunci “terlibat”, Sebagaimana anggota tubuh, maka tiap anggota dalam tubuh punya peran. Setiap peran itu penting, sekecil apapun.

Contoh: pankreas, salah satu fungsinya: memproses kadar gula dalam darah agar tergunakan dan terbagi sesuai kebutuhan tubuh. Bila pankreas telah tidak berfungsi baik, segala penyakit segera bermunculan – tak terkendali. Pankreas yang kecil mengingatkan kita bahwa tidak ada pelayanan yang kecil dan tidak berarti, semua di dalam tubuh Kristus, semua penting dan berarti.

“Kamu adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya”, menginspirasi kita, karena sangat mungkin dimasa kini, banyak gereja / “tubuh” yang sedang sakit, karena banyak alat dalam tubuh yang tidak berfungsi. Banyak anggota tubuh yang sudah nyaman berdiam diri, padahal tidak terlibat.
Jika digambarkan sebagai permainan sepakbola, maka semakin banyak yang tidak ambil bagian, maka tim sepakbola mudah kalah. Setiap bagian tubuh harus melakukan yang terbaik untuk kehidupan tubuh.
Keterlibatan tiap anggota sangat ditunggu, namun bukan berarti kita boleh menjadi sombong. Karena Penentu dasar untuk dapat melayani adalah Kristus. Kristuslah yang mengundang dan menempatkan kita untuk melayani. Kristus juga teladan dan anugerah terbesar hidup kita. Kristus berkata: “Mesias datang bukan untuk dilayani melainkan melayani” (Matius 20:28).
Pada akhirnya, pelayanan terjadi dan menjadi berkenan karena kemurahan Allah. “Karena kemurahan Allah, aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah : itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1). Selamat mempersembahkan yang terbaik ... mari kita serahkan talenta ini, karena semua di dalam tubuh kita telah ditebus oleh Kristus, milik Kristus ... Tuhan memberkati. Amin.
pkm

 

27 Maret 2016
KEBANGKITAN-NYA MENGUBAHKU
Yesaya 25 :6-9; Mazmur 114; 1 Korintus 5:6-8; Lukas 24:13-35

Keyakinan Kristen mengakui, bahwa kebangkitan Tuhan Yesus membawa perubahan menuju kepada hal-hal yang lebih baik dalam kehidupan para pengikut-Nya. Benarkah? Bagaimana kenyataannya dalam praktik? Tentu, sebuah idealisme yang semestinya diwujudkan oleh para pengikut Tuhan Yesus. Kata `semestinya’ membuka kemungkinan tidak terwujudnya idealisme itu. Kenyataannya, ada saja orang-orang yang berstatus sebagai orang Kristen sebab ia telah dibaptis, namun perilakunya tidak berubah. Mereka masih melakukan dosa-dosa, berupa tindak kekerasan, mengintimidasi, menipu, korupsi, berzinah, menyembah berhala, dan menyimpan dendam (Galatia 5 : 19-21). Agaknya, semua tindakan itu `lolos’ dari pengamatan Majelis Jemaat, sehingga mulus-mulus saja. Atau, ada pembiaran yang menantang, seolah-olah mereka berkata :”Ini dadaku, mana dadamu?”. Pada hal, semestinya terjadi perubahan drastis dalam diri mereka ketika mereka menyatakan percaya dan mengakui Tuhan Yesus sebagai Juruselamat mereka, lalu mewujudkan kehidupan yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Oleh sebab itu, orang Kristen hendaknya benar-benar paham, bagaimana menghayati iman Kristen dalam kehidupannya. Pengajaran melalui katekisasi, pemahaman Alkitab, diskusi rohani dalam kelompok-kelompok di tengah jemaat, hendaknya mengubah penghayatan iman dari Kristen KTP, menjadi Kristen sejati. Kesejatian Kristen itu dinampakkan dalam praktik kehidupan kita sehari-hari.

Ketika kebangkitan Tuhan Yesus terjadi dan Ia menampakkan diri kepada dua orang murid-Nya yang sedang ke kampung Emaus, akhirnya mata mereka terbuka saat Tuhan Yesus memecah-mecahkan roti, sehingga mereka mengenali Dia. Lalu kehidupan mereka pun diubah dari tak percaya dan ragu-ragu, menjadi percaya kepada Tuhan Yesus yang berkuasa atas maut itu. Amat diharapkan, bahwa perubahan itu juga terjadi dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen, melalui roti yang dipecah-pecahkan dalam perayaan Perjamuan Kudus sebagai penanda pengorbanan tubuh-Nya di kayu salib. Maka perubahan itu dinampakkan dalam sikap hidup, misalnya tidak lagi bermain mata dengan dosa, setia mengikut Tuhan Yesus, mengasihi Dia dan sesama, dan menaati perintah dan kehendak-Nya. Sama sebagaimana dinyanyikan melalui PKJ 239 dengan salah satu kalimatnya `Perubahan besar di kehidupanku sejak Yesus di hatiku’. Mudah-mudahan kalimat itu tidak hanya kita nyanyikan, tetapi juga kita praktikkan dalam kehidupan kita masing-masing. Dengan demikian, peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian itu mengubah sikap hidup kita, tak hanya sebatas idealisme, tetapi benar-benar nyata, sehingga menjadi kesaksian di hadapan banyak orang. Selamat Hari Paska 2016, kiranya kebangkitan-Nya mengubah sikap hidup kita. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

     

20 Maret 2016
KASIH YANG KONSISTEN BUKAN YANG AMBIGU
Liturgi Palma Mazmur 118:1-2, 19-29 Lukas 19:28-40
Liturgi Sengsara Yesaya 50:4-9 ; Mazmur 31:9-16; Filipi 2:5-11 ; Lukas 23:26-32

Renungan minggu ini terdiri dari dua liturgi, yaitu liturgi Palma dan liturgi Sengsara Liturgi Palma.
Dalam bacaan Mazmur 118 dan Lukas 19:28-40. Mazmur Daud merupakan pujian syukur atas kebaikan Tuhan, Kasih Setia Tuhan yang tidak pernah berubah. Orang percaya bersyukur bukan hanya jika menerima berkat atau dilepaskan dari masalah, melainkan rasa syukur karena kebaikan dan kasih setia-Nya yang konsisten, tidak pernah berubah.

Yesus memasuki Yerusalem dengan menunggang keledai, yang menurut adat Yahudi keledai adalah tunggangan raja di masa damai, sedangkan kuda menjadi tunggangan raja di masa perang. Yesus disambut sebagai Raja Damai dan Mesias. Tetapi sebagian besar harapan dari bangsa Israel adalah Yesus sebagai raja Israel secara politis yang akan membebaskan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Romawi, melalui Kuasa Allah yang mereka lihat dalam diri Yesus. Mereka tidak melihat Rancangan Kasih Allah untuk menyelamatkan dunia di dalam diri Yesus, selain berharap untuk kepentingan bangsa Israel untuk bebas dari penjajahan bangsa Romawi. Pengaharapan demi kepentingan diri sendiri bersifat ambigu atau mendua, mudah berubah-ubah demi kepentingan. Kita melihat sambutan ketika Yesus memasuki kota Yerusalem, mereka menyerukan Mazmur Daud, tetapi mereka memahami dalam agenda bangsa Israel bukan agenda Allah.

Liturgi Sengsara melalui bacaan Lukas 23:26-32 Di tengah teriakan: Salibkan Dia, Salibkan Dia ! dari mulut yang sama ketika menyambut Yesus dengan Mazmur Daud dan lambaian daun palma. Sikap ambigu atau mendua yang mudah berubah demi kepentingan diri sendiri. Hadir sosok Simon yang dicatat Alkitab sebagai orang dari Kirene di luar Yerusalem, yang sebagai umat Allah datang ke Yerusalem untuk beribadah di Bait Allah di hari Sabat. Simon berjumpa dengan Yesus sebagai Mesias secara pribadi di salib yang dipikul Yesus. Simon menerima Kasih kekal Allah dalam perjumpaan ini. Perjumpaan yang mengubah hidup Simon dan keluarganya (isteri, Alexander dan Rufus) yang di katakan oleh Paulus sebagai orang pilihan Allah (Markus 15:21; Roma 16:30). Barangsiapa menerima Kasih karunia Allah yang kekal menjadikan kita “ciptaan baru”, yang tetap konsisten dalam Kasih Allah. Apakah anda sudah menerima Kasih Allah secara utuh dalam segala situasi atau masih bersifat situasional, keraguan atau berubah-ubah ?
Tonny Iskandar

 

13 Maret 2016
Jalan Baru Dalam Pertobatan
Yes. 43:16-21; Maz. 126; Fil. 3:4-14; Yoh. 12:1-8

Dalam renungan kali ini kita akan fokus pada dua tokoh, yaitu Maria dari Betania dan Yudas Iskariot.
Maria saudara dari Lazarus yang baru saja dibangkitkan oleh Yesus dari kematian menunjukkan kualitas spiritual yang patut kita contoh dalam kehidupan sehari-hari kita. Bukti kualitas spiritual yang pertama adalah ia mengurapi kaki Yesus dengan minyak Narwastu sebagai bentuk rasa syukurnya kepadaNya yang telah membangkitkan Lazarus saudaranya. Maria manyadari bahwa karena kasih dan kuasa Kristus, maka Lazarus bisa hidup kembali. Inilah kuasa dan pertolongan Kristus yang luar biasa yang patut disyukuri oleh Maria. Bukti kedua adalah Maria meminyaki kaki Yesus dengan minyak Narwastu dan menyekanya dengan rambutnya membuktikan bahwa ia sangat mengasihi dan mempedulikan Yesus yang sebentar lagi akan mengalami penderitaan dan penyaliban. Itulah sebabnya Yesus memujinya sebagai perbuatan yang akan mengingatkan hari penguburanNya.

Tokoh kedua adalah Yudas Iskariot salah satu dari 12 murid Yesus. Yang menarik dari tokoh ini adalah Yudas Iskatiot meskipun sudah bertahun-tahun menjadi murid Yesus, mengikuti Yesus kemana Dia pergi; mendengarkan Yesus ketika Dia mengajar, menyaksikan Yesus ketika Dia melakukan mujizat-mujizat, namun kualitas spiritualnya jauh lebih rendah daripada Maria. Ironis memang seperti peribahasa mengatakan “Tikus mati di lumbung padi”, yang artinya tikus mati di tengah-tengah kelimpahan makanan. Bukti rendahnya spiritualitas Yudas Iskariot adalah ia memprotes apa yang dilakukan Maria kepada Yesus.

Alasan keberatannya adalah karena sebagai bentuk pemborosan belaka, lebih baik uang tersebut dibagikan kepada orang miskin. Sebenarnya bukan soal pemborosan atau soal orang miskin, tetapi lebih pada persoalan karakter Yudas sendiri yang suka mengambil uang. Jika minyak itu dijual dan diserahkan kepada Yudas sebagai bendahara, maka ia ada kesempatan untuk mencuri uang tersebut, lihat Yoh 12:6.

Apa yang bisa kita pelajari dari kedua tokoh tersebut di atas? Kita dapat meneladani spiritualitas Maria yang sungguh-sungguh mengasihi dan mempedulikan Yesus dengan cara mengorbankan apa yan ia miliki dan merendahkan dirinya dengan cara menyeka minyak dengan rambutnya. Jauhkan sikap hati yang keras seperti Yudas meskipun sudah ditegur berkali-kali oleh Yesus, tetapi tidak mau bertobat, ia memilih menyangkal Yesus. Kiranya Tuhan memberkati kita, amin.

     

6 Maret 2016
SALING MENGAMPUNI DALAM KERAHIMAN ALLAH
Yosua 5:9-12 ; Maz. 32:1-11; 2 Kor. 5:16-21; Luk. 15:1-3, 11-32

Bagaimanakah perasaan dari sang ayah dalam perumpamaan itu (Luk 15:12) ketika anak bungsunya meminta harta warisan/harta gono gini – sikap anak bungsu secara tidak langsung sama dengan mendoakan atau menganggap ayahnya/orang tuanya mati? Saya tidak sanggup membayangkan rasa pedih dan hancur yang dialami oleh sang ayah tersebut. Dikhianati oleh teman atau sahabat saja, hati kita begitu sakit. Apalagi dari keluarga, anak sendiri! Bukan hanya sakitnya tuh di sini, tetapi sakitnya bikin mau mati saja. Kepedihan hati sang ayah tidak bisa kita tangkap dari sang ayah, kerena teks tidak menggambarkannya.

Namun kepedihan sang ayah dapat dirasakan, muncul, dan terwakili melalui kemarahan anak sulung, ketika anak bungsu yang berkhianat disambut dengan sukacita (ay. 28). Kemarahan anak sulung yang tidak mau masuk bukan berasal dari iri hatinya meski ia mengeluhkan sikap ayahnya (lih. ay. 29-30), tapi itu berasal dari hati yang terluka sangat dalam. Bagi anak sulung tidak mudah untuk mengampuni adiknya yang bukan hanya menghianati sang ayah tapi juga dirinya. Namun sang ayah tidak berhenti untuk membujuk anak sulungnya untuk berproses mengasihi adiknya. Sang ayah tidak membiarkan anak sulungnya larut dalam kepedihan dan sakit hatinya, dan mengajaknya untuk ikut bersukacita (ay 31-32).

Melalui perumpamaan ini, Yesus ingin mengatakan; yang pertama tentang betapa besar luas dan dalamnya kasih Allah kepada umat-Nya. Seberapapun besar dosa umat jika ia sadar akan dosanya dan mau bertobat, Allah tetap mengampuni. Kedua, Yesus ingin menggambarkan betapa tidak mudahnya mengampuni keluarga sendiri bahkan oleh orang-orang yang hidupnya dekat dengan Allah sekalipun. Namun demikian, Allah tidak berhenti mengubah hati anak sulung untuk mengasihi anak bungsu. Yesus ingin mengajak orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat untuk mengampuni dan mengasihi pemungut cukai dan orang-orang berdosa sebagai keluarga.

Perumpamaan ini merupakan undangan untuk kita semua baik kita yang merasa sebagai anak-anak bungsu, dan kita yang merasa sebagai anak-anak sulung. Bagi anak-anak bungsu yang telah berkhianat kepada Allah, melanggar perintah Allah, dan melakukan perbuatan yang tidak berkenan kepada-Nya. Kita diundang untuk bertobat dan kembali kepada Allah. Allah menyediakan kasih dan sukacita yang berlimpah, sehingga melalui itu kita melupakan kepedihan dari penghianatan kita, dan melalui itu kita bisa digerakan untuk berkomitmen dan pastinya tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Dan bagi anak-anak sulung diundang untuk ikut bersukacita bersama Allah.

Kita diundang untuk berproses melupakan penghianatan, kesalahan dan dosa saudara-saudara kita, sama seperti Allah mengampuni mereka. Bukankah mereka adalah keluarga kita, keluarga Allah yang diikat oleh keimanan kita pada Kristus? Dan bukankah kerahiman Allah merupakan gambaran sebuah keluarga dan juga proses kehidupan baru? Jadi sebagai anak-anak Allah marilah kita saling mengampuni dan berproses dalam kerahiman Allah untuk menjadi manusia baru (ciptaan baru – lih. 2 Kor. 17), manusia yang berkenan kepada Allah.
denni setiawan

 

21 Februari 2016
IKUTILAH TELADAN TOKOH IMAN SAAT HIDUP PENUH PERSOALAN
Kejadian 15 : 1 - 18; Mazmur 27; Filipi 3 : 17 - 4 : 1; Lukas 13 : 31 – 35

Setiap orang pasti pernah didera oleh persoalan hidup, baik yang ringan, maupun yang berat. Kendati orang berkeinginan untuk bebas dari beban-beban, tetap saja beban itu muncul dalam perjalanan hidupnya. Akibatnya, orang pun berwajah muram, tak bersemangat, sangat menderita, bahkan sampai jatuh sakit. Kepada siapa manusia hendak meminta tolong? Jelas, bahwa orang beriman meminta tolong dan berseru kepada Allah, karena Dialah sumber pertolongan yang sejati. Untuk memperoleh pertolongan Allah, haruslah manusia punya iman yang kuat untuk berharap.

Alkitab berbicara tentang para tokoh iman yang ketika mereka mengalami kesulitan dan berbeban berat, segera berseru kepada Allah. Bacaan kita hari ini berkisah tentang Abram, Daud, Rasul Paulus, juga Tuhan Yesus sendiri. Abram menghadapi persoalan tak punya anak kandung, Daud karena ancaman peperangan yang bertubi-tubi, Rasul Paulus bergumul di dalam penjara akibat pengnjilannya; dan Tuhan Yesus karena misi-Nya selaku Juruselamat manusia dan harus mati di Yerusalem.

Menghadapi persoalan dalam kehidupan ini, banyak orang yang lari dan cari selamat sendiri, bersembunyi seperti burung unta menyembunyikan kepalanya ke dalam pasir saat diburu oleh pemburu, atau dengan sikap tabah menghadapi persoalan itu sampai tuntas. Harapan kita, hendaknya kita menghadapinya dengan sikap tabah sampai tuntas dan tidak setengah jalan. Bagaimana jika kita tak punya kekuatan? Itulah masalahnya, sebab sehebat-hebatnya manusia hidup, tetap ada yang lebih hebat, sehingga manusia kalah saat menghadapinya. Maka semua bacaan firman Allah pada hari ini, mengarahkan hati kita kepada para tokoh iman, tak hanya yang diberitakan melalui Alkitab (baca Ibrani 11), tetapi juga sepanjang zaman ada saja orang-orang Kristen dengan keteladanan iman yang mengagumkan.

Betapa banyak tokoh iman seperti Toyohiko Kagawa (penginjil Jepang yang tak pernah punya dua helai baju), John Sung (penginjil dari China yang membuang ijazah gelar dokternya), William Booth (pendiri Bala Keselamatan di Inggris, yang mengasihi para kaum papa), John R. Mott (pendorong gerakan ekumenis dunia dari USA), Nommensen (penginjil dari Jerman yang menginjili tanah Batak dan siap mati seperti para penginjil sebelumnya), dll. Mereka bukan orang-orang yang bebas tanpa persoalan, karena itu mereka terus menerus bergumul dan tetap tegar, sehingga dapat bertahan sampai akhir.

Oleh sebab itu, teladanilah mereka semua dalam iman, bahwa Tuhan Allah pasti berkenan menyertai mereka yang dengan sungguh-sungguh melaksanakan tugas mereka. Kata kuncinya adalah iman, bahwa sepanjang kita juga beriman seperti mereka, yakinlah akan penyertaan dan perlindungan Allah. Sama seperti yang diharapkan oleh Daud di dalam Mazmur 27, bahwa Tuhan Allah adalah terang, keselamatan, dan benteng hidup yang tangguh. Kepada-Nyalah orang percaya menyandarkan hidup dan keberadaannya di dunia ini.

Persoalan boleh saja datang dan pergi, yang jelas jika kita berlindung kepada Allah, maka Ia akan senantiasa mendampingi kita dan melepaskan beban berat persoalan itu pada waktu yang ditentukan-Nya. Bersyukurlah kepada Allah yang berkenan menyertai kita dalam kehidupan kita masing-masing. Amin.
Oleh Pdt. Em. Budhiadi Henoch

     

14 Februari 2016
MENANG ATAS PENCOBAAN
Ul. 26:1-11; Maz. 91:1-2, 9-16; Rom. 10:8-13; Luk. 4:1-13

Selama kita masih hidup, maka kita pasti akan menghadapi masalah. Dan salah satu wujud dari masalah itu sendiri adalah apa yang disebut dengan pencobaan. Pencobaan adalah suatu godaan dari si Jahat/Iblis untuk melakukan sesuatu yang buruk/merugikan dan tentu bertentangan dengan kehendak Allah. Pencobaan muncul bukan hanya dalam keadaan kekurangan, tapi juga kelimpahan. Pengalaman hidup kita memberikan gambaran nyata tentang kelimpahan bisa menjadi pencobaan dalam diri kita, yaitu ketika kita melupakan Sang Pemberi berkat. Bagaimanakah seharusnya seorang beriman itu menghadapi pencobaan yang datang?

Kabar baik dari bacaan Injil hari ini adalah, bahwa dalam perjuangan melawan si Jahat atau Iblis kita tidak sendiri. Ada Yesus! Dia telah terlibat konflik nyata dengan si Iblis dan telah mengalahkannya dengan sangat menyakinkan. Dalam keadaan kekurangan yaitu lapar, Iblis mencobai Yesus. Perhatikanlah jawaban – jawaban Yesus kepada Iblis yang menggoda! Yesus selalu memulai jawaban-Nya dengan kata-kata ‘ada tertulis’, artinya Dia berpegang teguh pada firman Allah (lihat Luk. 4:4.8.10.12). Selama empat puluh hari di padang gurun Yudea, Yesus tetap taat dan setia kepada Allah Bapa. Pesan Yesus kepada murid-murid-Nya yang wajib diperhatikan ketika menghadapi pencobaan yaitu: Hidupilah kehidupan rohani/berpikir rohani (Luk. 4:4); Menyembah Tuhan saja (Luk. 4:7); dan Jangan mencobai Tuhan (Luk. 4:12).

Ul. 26:1-11 berbicara tentang mempersembahkan hasil yang pertama yang didapat oleh orang Israel dari Kanaan kepada Allah. Perintah tersebut merupakan pengajaran bagi orang Israel agar tidak jatuh dalam pencobaan. Pencobaan yang membuat mereka melupakan Allah yang telah memberikan berkat-Nya. Israel harus mengingat bahwa Allah lebih dulu menepati janji-Nya, dengan membawa mereka masuk ke Kanaan (ay. 3, 5-9). Melalui penghayatan yang seperti ini, diharapkan orang Israel dalam kelimpahan tidak menjadi lupa diri dan bisa menjauhkan diri dari sikap yang serakah – segala berkat hanya ditujukan untuk kepuasan diri sendiri tanpa sedikitpun merasa bersalah mengabaikan yang kekurangan.

Pemazmur mengajak kita untuk semakin mengandalkan Allah dalam menghadapi pencobaan. Ia dengan tegas menyerukan bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan dan kubu pertahanannya (ay. 2), dan dengan yakin bahwa Allah pasti menolongnya (ay.14-16). Di tengah pencobaan yang sedang dihadapi seruan dan keyakinan ini menjadi sangat penting, agar kita tidak berpaling dari Tuhan dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri atau kekuatan lain yang bukan Tuhan.

Belajar dari keteladanan Yesus dan bacaan – bacaan kita hari ini adalah ketika menghadapi pencobaan, umat harus benar-benar mengandalkan firman Allah. Dan firman Allah itu bukan sekedar diketahui, tetapi dilakukan! Sebab Iblis juga tahu (ketika mencobai Yesus, ia menggunakan firman Allah dalam ay.10 yang merupakan Maz. 91:11-12), tetapi tidak pernah mau melakukan. Inilah yang membedakan anak-anak Allah dengan anak-anak Iblis. Anak-anak Allah akan menjadi pemenang, jika ia tahu dan melakukan firman Allah! Selamat berjuang sebagai anak-anak Allah. Tuhan memberkati
denni setiawan

 

7 Februari 2016
MENGALAMI KEMULIAAN ALLAH DALAM KRISTUS
Keluaran 34:29-35, Mazmur 99, 2 Korintus 3:12-4:2, Lukas 9:28-43

Menjadi orang Kristen kadangkala tidak terlihat keistimewaannya. Banyak orang Kristen yang tidak memperlihatkan sikap hidup yang berbeda dengan dunia, hilang semangat, hilang sukacitanya, khususnya ketika menderita. Padahal sebagai pengikut Kristus seharusnya kemuliaan Tuhan terpancar dalam hidup kita dengan sendirinya.

Kadang-kadang memang kita memerlukan sesuatu untuk bangkit dari kelelahan, situasi tertekan dalam hidup kita. Seperti yang dihadapi oleh ketiga murid Yesus. Pada waktu Yesus membawa mereka ke atas gunung untuk berdoa. Sebelumnya, Yesus untuk pertama kalinya memberitahukan para murid-Nya tentang penderitaan, kematian dan kebangkitan yang akan dialami-Nya, juga Dia mengajarkan kepada mereka syarat-syarat dalam mengikut Dia (Luk 9:22-27). Kita membayangkan betapa mengagetkan. Saat itu murid-murid memerlukan tokoh panutan yang dapat menguatkan. Kata “figur” berarti bentuk; wujud; tokoh. Minggu ini, gereja seluruh dunia merayakan hari Minggu “Transfigurasi”. Yesus adalah figur yang mengalami perubahan bentuk, wujud (trans-figur) saat mengalami kemuliaan dan diapit oleh kehadiran Musa dan Elia. Musa, adalah sang penerima Taurat. Elia, adalah sang penyuara kehendak Allah yang berperang melawan yang bisa menjauhkan seseorang dari Tuhan.

Di atas gunung itu, tiga orang murid-Nya diberi kesempatan untuk menyaksikan dengan mata sendiri Yesus dalam segala kemuliaan ilahi-Nya berdiri bersama Musa serta Elia yang berdiri di dekat-Nya (Luk 9:32). Saat itu terdengarlah suara dari dalam awan itu: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia” (Luk 9:34-36).

Di zaman Perjanjian Lama (Kel.25:29-35) wajah Musa bercahaya sebagai tanda kemuliaan Allah setelah ia berbicara dengan Tuhan. Apabila orang Israel melihat muka yang bercahaya itu, mereka tidak sanggup menatapnya sehingga Musa menyelubungi wajahnya. Musa menyampaikan pada umat Israel apa yang telah diperintahkan Tuhan kepadanya. Muka yang bercahaya itu sesungguhnya adalah tanda bagaimana Tuhan menunjukkan kemuliaanNya melalui Musa agar hamba-hambaNya setia mengerjakan pekerjaanNya di muka bumi ini. Tanda yang berwujud cahaya itu hanya sementara, namun harus ditindaklanjuti dengan pelaksanaan perintah yang disampaikannya.

Dalam Mazmur 99:1-9, kemuliaan Tuhan digambarkan sebagai Raja yang kudus. Ia duduk di atas kerub-kerub, Ia tinggi mengatasi segala bangsa. Seluruh perikop ini bukan saja mengangkat Tuhan sebagai pemegang penuh kekuasaan, sehingga bangsa-bangsa gemetar, tapi kemuliaanNya dinyatakan sebagai penegak kebenaran, hukum dan keadilan.

Sayangnya kadangkala perasaan-perasaan negatif yang ada di tengah penderitaan menutupi kemuliaan Tuhan. Dengan tetap memelihara dan mengalami perjumpaan dengan Tuhan saja, maka orang Kristen akan membiarkan cahaya kemuliaan Tuhan bersinar terang dalam hidupnya. Untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan, orang Kristen harus memiliki sikap tunduk dan takluk kepada Allah, karena sikap ini akan ‘menyingkapkan selubung’ pada mata hati manusia untuk melihat kemuliaan Allah di dalam Kristus (2 Kor 3:12-18).

Kisah Orang Samaria yang Murah Hati (Lukas 9:28-36) dan tindakan Maria yang memilih duduk di kaki Yesus ketimbang melayani para tamu seperti yang dilakukan saudaranya, Marta (Luk. 9:37-43), mau menerangkan bahwa tidak ada selubung yang menutupi hati orang-orang yang tulus merasakan kemuliaan Allah (2 Kor.3:16). Selubung yang menutupi wajah Musa sebetulnya untuk menutupi kenyataan bahwa cahaya itu hanya berlangsung sementara. Yang penting adalah tindaklanjut pesan cahaya itu.

Bila ada gejolak di hati kita saat disadarkan bahwa Tuhan sungguh berpihak pada kita, janganlah hanya menyatakan syukur yang akan segera diselubungi oleh dinamika kehidupan kita dengan berbagai permasalahannya. Tuhan menghendaki agar cahaya kemuliaan itu tidak sirna dan terus menggerakkan kita untuk lebih bertanggungjawab atas kepercayaan dan karunia yang Tuhan berikan pada kita untuk meneruskan karya Nya di muka bumi ini. Amin.
pkm

     

31 Januari 2016
MENGHADIRKAN KRISTUS DAN KASIH-NYA BERSAMA-SAMA
Yer. 1:4-10; Maz. 71:1-6; 1 Kor. 13:1-13; Luk. 4:21-30

Allah sudah mengenal kita sejak kita masih dalam kandungan. Kita telah dipilih Allah sejak semula untuk hadir di dunia ini membawa Kasih dari Allah. Kita hadir di dunia ini bukan untuk diri kita sendiri, tetapi untuk membawa Karya Allah melalui hidup kita bagi sesama (Yer. 1:5). Nubuat Nabi Yeremia ini juga berlaku untuk setiap orang.

Rasul Paulus menekankan betapa pentingnya pelayanan Kasih itu. Dari semua hal yang penting, kasih lah yang paling utama (1 Kor. 13:13). Tanpa kasih hidup manusia sama sekali tidak bermakna. Tanpa kasih hidup kita tidak kekal. Ia berpanjang-panjang menjelaskan semua hal yang kita anggap baik, dan betapa hal-hal itu tidak berarti tanpa kasih.

Kristus sendiri menjelaskan nubuat Nabi Yesaya apa artinya orang yang hidup tanpa kasih (Luk. 4:21). Orang tanpa Kasih dari Allah itu hidup seperti orang miskin, orang tawanan, orang buta, dan orang tertindas. Ia tidak berdaya karena ia dimotivasi oleh keserakahan, trauma, kebodohan, dan ketakutan. Situasi yang menakutkan membuat ia lumpuh, tidak sanggup menjalankan tugas yang dinubuatkan Yeremia itu.

Jelaslah betapa pentingnya arti hidup kita bagi sesama kita. Melalui kita dan pelayanan kasih kita itu, sesama kita memperoleh hidup. Melalui pelayanan kasih kita, orang dibebaskan dari keterikatannya pada dunia. Melalui kasih orang dicelikkan matanya akan kebenaran Allah. Melalui kasih orang dibebaskan dari kekejaman penindasan. Penderitaan manusia masih terjadi di mana-mana karena orang Kristen tidak menjalankan missi pelayanan kasih itu.

Pemazmur menjelaskan bahwa ada beberapa hambatan bagi kita untuk melaksanakan tugas kita itu. Pertama datang dari dalam diri kita, yaitu kita terlalu sensitif untuk merasa malu. Kita haus akan persetujuan (approval) orang lain. Kedua datang dari orang lain yang lalim dan kejam kepada kita (Maz. 71:1-6). Itu menyebabkan kita mengurung diri dan tidak bersedia hadir dalam masyarakat dengan membawa kasih itu.

Kita perlu menyerahkan kekuatiran dan kecemasan kita kepada Alah, gunung batu kita. Ia lah yang akan melindungi kita. Ia lah yang akan menguatkan kita. Ialah yang mencukupkan kebutuhan hidup pelayan Kasih kita. Karena pada dasarnya Ia lah yang bekerja melalui kita. Sehingga tugas kita adalah menyerahkan diri kita untuk dipakai Allah menghadirkan Kristus dan KasihNya. Tugas kita adalah meninggalkan cara hidup yang menghalangi Allah bekerja melalui kita. Kita diminta setia menjadi alatNya. Kita sendiri tidak menutup diri, tapi hadir bagi sesama menjadi suri teladan orang yang sudah mendapatkan pelayanan Kasih oleh Kristus.
AL

 

24 Januari 2016
BACALAH DAN DENGARLAH
Neh 8:1-10; Mzm 19; 1 Kor 12:12-31; Lks 4:14-21

Bulan Juni 2015 yang lalu, Bidang Bina GKI Pasteur mengadakan kampanye Pemahaman Alkitab. Mengapa kampanye ini dianggap perlu? Mestinya karena Bidang Bina ingin agar jemaat lebih merasakan perlunya menyediakan waktu khusus untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan. Mungkin saja sudah banyak jemaat yang membaca buku renungan dan atau Alkitab. Tapi sebaiknya Alkitab tidak hanya sekedar dibaca, tapi benar-benar dimengerti, dan direnungkan, agar firman Tuhan itu betul-betul berbicara secara pribadi kepada kita. Bagi jemaat yang merasa kesulitan untuk mengerti isi Alkitab, bisa datang ke kelompok-kelompok Pemahaman Alkitab, agar dapat membahas sebagian firman Tuhan secara bersama-sama.

Ketika Imam Ezra membacakan beberapa bagian dari kitab Taurat Musa, yakni kitab hukum yang diberikan Tuhan kepada bangsa Israel, seluruh umat mendengarkan dengan segala kesungguhan hati. Mereka bukan hanya sekedar mendengarkan saja, tetapi berusaha mengerti, dan benar-benar menghayati dengan gerak tubuh mereka. Pada waktu Ezra membuka kitab itu, semua orang bangkit berdiri, mengangkat tangan, berlutut, sujud menyembah kepada Tuhan dengan muka sampai ke tanah. Mereka sangat bersungguh-sungguh dalam mendengarkan, dan menaruh perhatian yang penuh kepada pembacaan hukum Tuhan. Semua orang menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu (Neh. 8:1-10). Ini menunjukkan, bahwa firman Tuhan bisa memberikan pengajaran, teguran, nasihat, mendatangkan pertobatan, penghiburan, pemulihan, kelegaan, memberi jalan keluar, hikmat, kedamaian, dan semua kebaikan yang datangnya dari Tuhan.

Pemazmur memberikan kesaksian, bahwa dalam hukum-hukum-Nya, dan dalam pekerjaan tangan-Nya, kita dapat melihat kemuliaan Tuhan. Tuhan memberikan peraturan-peraturan bukan untuk mengekang dan menyusahkan manusia, tetapi sebaliknya, karena Tuhan sangat mengasihi segenap ciptaan-Nya, dan pemeliharaan Tuhan tidak pernah berhenti.
Hukum-hukum itu berguna sempurna bagi manusia, yaitu untuk menyegarkan jiwa, memberikan hikmat Tuhan, menyukakan hati manusia, membuat mata bercahaya, menunjukkan kebenaran, keadilan, lebih indah daripada emas tua, lebih manis daripada madu murni. Orang yang berpegang padanya akan mendapat upah yang besar dari Tuhan sendiri (Mzm. 19).

Firman Tuhan mengingatkan, bahwa semua orang percaya adalah anggota-anggota tubuh Kristus, yang menerima karunia yang berbeda-beda, saling membutuhkan dan memperlengkapi satu dengan yang lain. Karena itu, baiklah kita menerapkan firman Tuhan, dengan mewujudkan kebenaran dan keadilan, saling menghormati keunikan masing-masing orang, menghargai setiap karya pelayanan, menerima keberadaan setiap orang dengan belas kasih dan pengampunan, seperti yang telah Kristus lakukan terhadap kita. Selain saling memperhatikan sesama orang percaya, kitapun diberi karunia untuk mengajarkan firman Tuhan, dan menjadi saksi Kristus bagi orang yang belum percaya kepada-Nya (1 Kor. 12:12-31).

Selama Tuhan Yesus hidup di dunia, Ia memberi teladan ketekunan-Nya untuk pergi ke tempat ibadah, dan juga membuka Alkitab. Tuhan Yesus mengajarkan pentingnya membaca, dan mendengar suara Tuhan melalui firman Tuhan. Hidup orang percaya dipimpin oleh Roh Tuhan, sehingga dimampukan-Nya untuk menyampaikan kabar baik yang memberi pembebasan dan penyelamatan sejati di dalam Kristus (Lks. 4:14-21).

Banyak orang yang tidak bisa hidup tanpa gadget, tapi banyak orang Kristen yang hidup tanpa merasa perlu Alkitab. Jika hp kita tertinggal di rumah, kita akan balik ke rumah untuk mengambilnya. Sesibuk apapun, jika hp kita berbunyi yang menandakan ada berita yang masuk, segera kita akan melihatnya.
Setelah membaca dan mendengarkan suara Tuhan dari ayat-ayat yang kita bahas di atas, masihkah kita menganggap gadget kita lebih penting daripada Alkitab? Menurut survey, rata-rata orang Indonesia membuka hp sebanyak 150 kali per hari (tidak penting angkanya benar atau tidak, tapi yang jelas angkanya sangat besar). Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing, berapa kali per hari kita membuka Alkitab? Seberapa penting firman Tuhan bagi kita? Kiranya Tuhan menolong kita semua, agar semakin merindukan firman-Nya dalam memandu hidup kita. Amin.
Nancy Hendranata

     

17 Januari 2016
TEMPAYAN KOSONG MENJADI PENUH
Yesaya 62:1-5, Mazmur 36:6-11, I Korintus 12:1-11, Yohanes 2:1-11

Dalam renungan ini kita fokus di pembahasan Tempayan. Mengapa tempayan? Karena sangat jarang pengkhotbah membahas tempayan ini. Tempayan bagi tradisi Yahudi terbuat dari tanah yang biasanya digunakan untuk tempat air. Pada umumnya tempayan ditaruh di depan rumah yang telah dipenuhi dengan air. Sebelum orang masuk ke rumah, ia harus membasuh kaki dan tangan terlebih dahulu dengan air dari tempayan itu. Tempayan bukanlah barang yang berharga bagi orang Yahudi, bukan barang yang memiliki nilai tinggi secara ekonomi. Namun barang tersebut dipakai untuk sesuatu yang sangat penting dan berharga, yaitu membasuh tangan dan kaki sebagai lambang penyucian.

Tempayan mengkiaskan hidup kita. Hidup kita yang sebenarnya tidak berarti dan tidak berharga karena dosa telah merusaknya dan mengotori kita. Kita diciptakan oleh Allah dari debu dan tanah, yang menjelaskan kita tidak memiliki kekuatan dan kemuliaan. Ketika Allah menghembuskan rohNya ke dalam diri manusia, maka pada saat itulah manusia menjadi mahluk hidup. Hanya oleh karena kasih karunia Allah yang membuat hidup kita berharga dan mulia.

Tempayan yang kosong dan tak berarti itu akan menjadi berharga dan berarti ketika Tuhan mengisinya dengan air dan mengubahnya menjadi anggur yang terbaik. Itulah yang dialami oleh keluarga yang sedang melaksanakan pesta pernikahan.

Keluarga ini telah diberkati oleh Allah dengan air anggur yang melimpah, dan menjadi berkat bagi para pengunjung pernikahan itu. Allah telah mengubah pesta perkawinan dari kemuraman, ketakutan dan kecemasan karena krisis air anggur, kasih karunia Tuhan Yesus telah mengubahnya menjadi perkawinan yang penuh dengan sukacita.

Keluarga dan hidup kita seringkali diperhadapkan pada kesulitan, ketakutan, kecemasan, dan seringkali kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan. Namun demikian, oleh kasih karunia dan berkat Tuhan, kita bisa melewati semua itu dengan kekuatan dan sukacita. Kita yang sebebnarnya tidak memiliki kekuatan dan kemampuan apa-apa untuk menyelesaikan semua itu, tetapi ternyata Tuhan memberikan kekuatan dan berkat. Tempayan yang kosong itu telah dibuat-Nya menjadi penuh air kehidupan yang mendatangkan kehidupan dan sukacita. Tuhan memberkati kita, Amin.
RDS

 

10 Januari 2016
“KETIKA YESUS JUGA DIBAPTISKAN”
Yes. 43:1-7; Maz 29; Kis. 8:14-17; Luk. 3:15-17, 21-22

Melalui peristiwa baptisan dalam Injil Lukas tersebut di atas, kita menemukan dua hal yang bisa kita renungkan bersama dalam minggu ini.

Yang pertama, Yesus hadir sebagai pribadi yang diperkenan dan dikasihi Allah Bapa untuk menyertai perjalanan kehidupan kita. Allah melalui Yesaya pernah bersabda demikian ....: "Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.

Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau ... (Yes 43:1-2). Oleh karenanya, kita tidak perlu berlarut-larut hidup dalam kegelisahan, kekuatiran, ketakutan dan sebagainya yang membuat kita jatuh lagi dalam dosa. Dan kita tidak perlu takut menghadapi tantangan dan masalah, sebab Allah menyertai kita.

Yang kedua, kita diingatkan untuk menjalani hidup ini dengan doa. Kisah Para Rasul menceritakan tentang bagaimana kehidupan para murid dengan berdoa. Salah satunya seperti yang terdapat dalam pasal 8:15, "Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus ". Kehidupan berdoa itulah yang memampukan para murid untuk menjadi saksi Kristus di tengah hambatan dan tantangan hidup. Melalui pengisahan baptisan Lukas dan keteladanan para murid, kita diingatkan kembali tentang pentingnya menjalani kehidupan ini dengan berdoa.

Melalui kedua hal ini, marilah kita hadapi segala permasalahan dan pergumulan yang sedang ataupun yang akan melanda kita di tahun 2016 ini. Semoga dengan iman dan kehidupan spiritual yang benar, kita boleh dan siap untuk ditampi oleh Sang Penampi yang sudah datang. Tuhan memberkati.
denni setiawan

     

3 Januari 2016
Terang Menerangi Kegelapan
Yer. 31:7-14; Mzm. 147:12-20; Ef. 1:3-14; Yoh. 1:1-9

Selama manusia di dunia, ia berada dalam realitas kegelapan yakni kekelaman, kesesakkan, tiadanya harapan, dan bahkan kematian. Manusia dibelenggu ketakutan. Masa depan yang masih misteri menjadi mengkhawatirkan karena sesuatu yang buruk bisa terjadi. Keadaan tersebut membuat manusia tidak mampu mensyukuri kuasa dan kasih Tuhan yang telah dan sedang mereka rasakan.
Jadi hidup dan terang adalah dua aspek yang dibutuhkan oleh setiap mahluk hidup. Seperti tanaman tanpa cahaya matahari (terang), ia akan mati. Injil Yohanes menyatakan : “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh. 1:4-5). Di dalam diri Kristus terdapat daya yang menghidupkan dan terang yang menerangi setiap aspek kehidupan. Kristus sebagai Terang, mampu menembus kegelapan sehingga tersedia harapan, kelegaan, semangat hidup, sukacita, dan daya kehidupan.

Memasuki tahun baru 2016, dengan iman pada Kristus seseorang tidak perlu takut. Bukan karena hidupnya akan mudah, bukan juga karena ia cukup kuat untuk menghadapi masalah. Tetapi karena di dalam hidup itu ada Kristus. Ia adalah Terang kehidupan. Karena itu, andaikata pun hari esok seseorang dilingkupi kegelapan, namun bila ia menjalaninya bersama dengan Kristus, maka kegelapan akan dikalahkan. Lebih dari itu, ia bahkan bisa menghadirkan terang Tuhan di tengah kegelapan.

Pada masa ini kita melihat fenomena kekerasan atas nama Tuhan. Hal ini mengingatkan kita agar setiap klaim kebenaran harus bersedia diuji dan diklarifikasi, khususnya mesti dikaitkan dengan penghormatan dan penghargaan akan martabat kemanusiaan. Karena setiap klaim kebenaran yang merendahkan dan menista martabat kemanusiaan walaupun dianggap sebagai kebenaran Allah atau diturunkan dari sorga, harus kita tolak. Sebab hakikat kebenaran Allah senantiasa mendatangkan damai-sejahtera dan keselamatan (syalom), kehidupan dan terang yang membebaskan umat manusia.

Kebenaran Allah tidak akan mendatangkan ketakutan, kecemasan dan kegelisahan sebaliknya sukacita dan damai-sejahtera. Tuhan Yesus berkata: “... kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:32). Gambaran kebenaran Allah terlukis dalam Yeremia 31 ayat 13 yang berkata: “Pada waktu itu anak-anak dara akan bersukaria menari beramai-ramai, orang-orang muda dan orang-orang tua akan bergembira. Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur mereka dan menyukakan mereka sesudah kedukaan mereka.”

Apa peran umat Kristen di tengah dunia yang membutuhkan terang ini ? Umat Kristen dinantikan untuk membawa pembaruan sehingga mengubah setiap kesedihan, penderitaan dan penindasan menjadi realitas syalom. Setiap umat percaya dipanggil menghadirkan terang (=kebenaran) Kristus yang menerangi kekelaman hidup sehingga mendatangkan pengharapan dan sukacita, penghargaan akan kehidupan, dan penghormatan akan martabat manusia, serta perlindungan setiap orang untuk hidup setara dan tanpa diskriminasi. Peran umat kristen adalah menyaksikan bahwa Allah yang disembah berlimpah kebijaksanaan yang tak terhingga (Maz 147:5). Selamat menjalani hidup di tahun baru 2016, untuk turut membawa kebenaran (terang) yang mengubahkan. Selamat menjadi umat yang menjadi puji-pujian bagi kemulianNya (Ef. 1:12). Amin.
pkm

 

27 Desember 2015
Makin Dikasihi Oleh Allah dan Manusia
1 Samuel 2:18-20, 26; Mazmur 148; Kolose 3:12-17; Lukas 2:41-52

Apakah iman anda dan saya bertumbuh? Bagaimana caranya untuk mengetahui pertumbuhan iman kita? Dan bagaimana menumbuhkannya? Ciri-ciri pertumbuhan iman kita adalah bertambahnya belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran (Kolose 3:12).

Dengan kita mempelajari kehidupan Tuhan Yesus dan Samuel pada masa kecilnya, kita akan memahami pertumbuhan iman, yang artinya makin dikasihi oleh Allah dan manusia karena kita menjadi manusia baru (1 Samuel 2:18-20,26; Lukas 2:41-52).

Salah satu praktik pertumbuhan iman adalah pengembangan moral dan etika kehidupan kita seperti penerapan perilaku mengantri pada kehidupan sehari-hari. Dalam praktik mengantri, kita belajar banyak hal (diambil dari fanspage Ayah Edy), antara lain:

  • Kita belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
  • Kita belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika kita di antrian paling belakang.
  • Kita belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting.
  • Kita belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
  • Kita belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
  • belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
  • Kita belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
  • Kita belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
  • Kita belajar disiplin, teratur, dan kerapian.
  • Kita belajar memiliki rasa malu, jika kita menyerobot antrian dan hak orang lain
  • Kita belajar bekerja sama dengan orang-orang yang ada di dekatnya jika sementara mengantri kita harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
  • Kita belajar jujur pada diri sendiri pada orang lain dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya.

Jadi rupanya praktik perbuatan mengantri lebih diperlukan dari pengetahuan matematik bagi banyak orang. Oleh karena itu marilah kita belajar mempraktikan mengantri tersebut sebagai praktik pertumbuhan iman kita masing-masing sehingga kita semakin dikasihi oleh Allah dan manusia. Selamat mencoba dan kiranya Allah Bapa Surgawi memberkati setiap kita yang mempraktikannya sebagai orang yang dikasihi oleh Allah dan manusia, Amin
BHS

     

20 Desember 2015
Menghayati Kerendahan Hati Maria, Ibu Yesus
Mikha 5:2-5; Lukas 1:46-55; Ibrani 10:5-10; Lukas 1:35-56

Di hiruk-pikuk dunia yang didominasi laki-laki, tampil Maria, seorang perempuan yang rendah hati, jujur, sederhana namun mengenal Allah. Ia seorang perempuan biasa yang siap menjalani rutinitas kehidupan, berencana menikah dengan pemuda Yusuf, dan nanti melahirkan dan membesarkan anak mereka. Sama dengan semua orang Israel, iapun senantiasa menanti akan kedatangan Mesias yang akan menyelamatkan bangsanya.
Tidak ia sangka bahwa Allah mengutus Gabriel, memanggilnya untuk mengambil bagian dalam rencana Allah. Maria akan mengandung, melahirkan, dan membesarkan seorang anak yang berasal dari Allah. Maria akan dikaruniai Roh Kudus yang menuntunnya menjalankan kehendak Allah (Luk. 1:35).

Kegembiraan sejati terjadi saat kita dipilih Allah untuk berkarya di dunia (Luk. 1:46-49). Maria menyadari semua yang baik di dunia ini adalah buah karya Allah, sehingga Maria amat bersyukur boleh menjadi bagian dari karya besar Allah. Ketaatan Maria itulah yang menguatkannya mendampingi Yesus sejak kecil, dewasa, dan mati di kayu salib. Maria sendiri berperan besar dalam pembangunan jemaat Kristus yang pertama.

Allah menghendaki bukan korban bakaran. Korban bakaran itu adalah peringatan akan dosa. Allah menghendaki kita melakukan kehendak-Nya, mengambil bagian dalam rencana-Nya (Ibrani 10:9-10). Roh Kudus akan turun ke dalam diri kita untuk menuntun kita pada kehendak Allah.

Komitmen kita untuk hidup sesuai kehendak dan rencana Allah haruslah dibarengi dengan karakter yang rendah hati dan penuh syukur kepada Allah. Karakter yang buruk akan menggagalkan kita dalam memenuhi komitmen itu. Kesombongan selalu menggagalkan karya orang yang bertalenta besar sekalipun. Oleh sebab itu kita harus bersedia untuk mengosongkan diri, tidak tergoda oleh berbagai kehendak dan rencana sendiri.

Semua anak yang kita lahirkan berasal dari Allah. Wajar bila kita ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita. Namun Maria mengajarkan setiap perempuan untuk rendah hati, setia membesarkan dan mendidik anaknya untuk hidup dalam rencana Allah. Berbahagialah setiap perempuan yang melahirkan dan membesarkan putera-puterinya dan menjadi alat damai sejahtera Allah, yang bergerak dalam kekuatan Allah, dan dalam kemegahan nama Tuhan Allahnya (Mikha 5:3-4)
AL

 

13 Desember 2015
Siap Ditampi Oleh Penghakiman-Nya
Zefanya 3:14-20, Yesaya 12:2-6, Filipi 4:4-7, Lukas 3:7-18

Minggu ini kita memasuki Masa adven ketiga yang bernuansa kegembiraan, sebab pengharapan umat akan pertolongan Allah mulai menyala. Ini menjadi sebuah pertanda bahwa pengharapan itu mestinya mendatangkan sukacita. Pada adven ini kita mempersiapkan dri untuk menyambut Kristus dalam dunia dan dalam hati kita. Konsep ini sesuai dengan gagasan Zefanya tentang Tuhan, sebagai pahlawan yang memberi kemenangan . Tuhan bergirang karena pembaharuan dalam kasihNya (Zef 3:17). Hal senada diungkapkan Yesaya (12:2-6). Umat diajak tak hanya terpaku pada derita, namun juga merayakan dengan penuh pengharapan kehadiran Allah dalam kehidupan mereka. Sekaligus umat menghayati kedatangan Tuhan yang kian mendekat, mendapat panggilan untuk memancarkan kebaikan hati dalam sukacita dan damai sejahtera Kristus (Filipi 4:4-7).

Bagaimana kita masuk ke dalam sukacita ? Tidak lain adalah melalui pertobatan, yang diawali dengan kesediaan untuk mengoreksi diri dan menata diri. Pertobatan yang diwarnai oleh pengharapan akan kedatangan Tuhan, dimana kita dipanggil untuk menyesuaikan diri dengan kehendak Tuhan. Pertobatan yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis (Lukas 3:7-18) ini bertujuan agar kita dapat menyambut Kristus Sang Penyelamat dengan sukacita.

Berita adven adalah ajakan untuk melihat segala kesuraman dan penderitaan dalam perspektif yang lebih berpengharapan, sehingga ada sukacita yang menyeruak melalui pemaknaan iman yang tepat dan krisis.

Nah ditengah situasi hidup yang penuh tantangan, tekanan ekonomi yang tak kunjung reda, belum lagi adanya berbagai persoalan keluarga, semua menantang kita untuk menapaki jalan adven, dimana iman dan pengharapan kita harus dapat menjawab tantangan zaman. Melalui perenungan dalam konteks inilah kita “siap ditampi oleh oleh penghakimanNya”.

Dengan demikian Natal akan disambut dengan sukacita dalam seluruh hati dan pikiran, bukan disambut dengan ketakutan akan hukuman. Natal dengan demkian menjadi hal yang dirindukan dan dirayakan, dalam seluruh kehidupan. Marilah kita sekarang ini merefleksikan hal iman kita, apakah kehidupan iman kita telah mendatangkan sukacita.
Marilah kita menggunakan waktu ini sebagai kesempatan kita untuk merendahkan diri dan bertobat. Karena apa yang Tuhan harapkan dari kita bukan sekedar hidup biasa, tetapi hidup yang berkontribusi bagi kehidupan di sekeliling kita. Amin.
pkm

     

6 Desember 2015
Tugas Kenabian Masa Kini
Mal. 3:1-4, Luk. 1:68-79, Fil. 1:3-11, Luk. 3:1-6

Penindasan yang berkepanjangan membuat bangsa Israel menjadi skeptis. Apalagi ketika Bait Allah sudah diselesaikan, namun penyelesaian pembangunan itu tidak mengantarkan zaman Mesias yang diharap-harapkan. Ketaatan dan kesetiaan mereka kepada Tuhan yang telah mereka perjuangkan di tengah penindasan bangsa Persia (Pemerintahan Persia 520-340 sM) selama ini seakan-akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka. Keadaan ini membuat bangsa Israel tidak lagi memercayai Tuhan dan tidak lagi mengharapkan kedatangan Sang Mesias. Akibatnya umat menjadi tidak taat kepada Allah dan mulai mengikuti bangsa lain menyembah berhala (Mal 2:11). Ketika umat tidak lagi taat kepada Allah, maka umat juga tidak perlu patuh dan taat kepada sesamanya. Perselingkuhan dan perceraian (Mal. 2:14-16) menjadi sebuah kebiasaan – hal yang wajar/lumrah. Kehidupan rohani yang buruk mengakibatkan situasi penindasan, pemerasan, fitnah dan macam-macam bentuk ketidakadilan sosial (Mal.3:5).

Di tengah kondisi seperti itu, Firman Tuhan melalui nabi Maleakhi menyerukan pertobatan dan pengampunan dosa kepada bangsa Israel (Mal. 3:1-4). Beritanya adalah bahwa Tuhan akan mengirimkan utusan-Nya dan Tuhan akan datang. Ini berarti masih ada waktu bagi umat untuk bertobat dan mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan. Dan sejatinya seruan ini memperlihatkan bahwa masih ada ruang di hati Allah bagi bangsa yang berlaku khianat. Allah masih mengingat dan tetap mengasihi mereka (Mal 1:2).

Pertama-tama seruan itu ditujukan kepada kaum Lewi (3:3) sebagai rohaniawan dan yang kedua kepada kaum Yehuda (4) sebagai para pemimpin dan penguasa yang berkedudukan di Yerusalem. Allah akan mengampuni dosa umat yang melekat dalam diri mereka seperti emas dan perak yang dibakar sampai menjadi murni tanpa kotoran yang melekat. Dan gambaran pemurnian tersebut bisa juga bermakna bahwa Allah akan menguji pertobatan umat. Umat yang didapatinya bertobat akan menerima pengampunan. Sedangkan umat yang didapatinya tidak bertobat akan terbakar seperti kotoran yang melekat pada emas ataupun perak.

Setelah ± 500 tahun dari waktu itu, Injil Lukas memberikan kesaksian tentang kelahiran utusan Tuhan (1:76) namanya Yohanes (63). Ia menyerukan pertobatan dan pengampunan dosa bukan saja kepada para rohaniawan (Hanas dan Kayafas – Luk 3:2) dan pemimpin atau penguasa (kaisar, raja dan wali negri – Luk 3:1), tetapi kepada seluruh bangsa Israel dan bangsa lain (Daerah Yordan dan sungai Yordan – identik dengan pemulihan dan pengampunan dosa bagi umat dan bagi bangsa lain – Naaman sembuh di sungai Yordan, II Raja-Raja 5:1-27). Kedatangan utusan mempunyai arti yang pertama, tanda bahwa Tuhan adalah Tuhan yang setia dan pasti menggenapi janji-Nya. Kedua, berarti sudah dekat waktu Tuhan datang, sudah dekat Tuhan menggenapi janji-Nya. Oleh karenanya, umat diingatkan untuk bertobat. Umat diundang untuk hidup lurus tidak bengkok atau untuk hidup di jalan Tuhan. Dan umat diundang untuk ambil bagian dalam mempersiapkan jalan dan kedatangan Tuhan. Di tengah situasi penindasan oleh pemerintah dan di sisi lain adanya pertikaian dan perpecahan membuat Jemaat di Filipi menderita. Dalam situasi tersebut, tidak mudah bagi mereka untuk bisa setia dan taat kepada Tuhan dalam menantikan janji Tuhan. Namun Rasul Paulus yang juga mengalami kondisi yang sama yaitu dipenjarakan dan ada sekelompok orang yang menentangnya (Fil. 1:27-30; 2:21) melalui suratnya, ia tetap mendoakan dan menyuarakan suara kenabiannya agar mereka tetap memilih dan melakukan yang baik, supaya mereka tidak bercacat pada saat kedatangan Kristus (Fil. 1:9-11).

Di Masa Adven kedua ini, kita sebagai Jemaat GKI Pasteur yang telah berusia 28 tahun serta bagian dari umat Tuhan masa kini yang menanti pengenapan janji dan kedatangan Tuhan kedua kali, marilah kita berefleksi melalui pertanyaan ini: 1. Apakah kita sebagai pribadi maupun gereja sudah hidup di jalan Tuhan yang rata dan lurus? 2. Sudahkah kita menyuarakan kebenaran dan keadilan sebagai tugas kenabian yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan? ......................Selamat berefleksi dan beraksi. Tuhan memberkati.
denni setiawan

 

29 Nopember 2015
CERMAT MEMBACA TANDA-TANDA ZAMAN
Yeremia 33:14-16; Mazmur 25:1-10; 1 Tesalonika 3:9-13; Lukas 21:25-36

Masa Advent membawa kita untuk melihat masa penantian Janji Tuhan di masa lampau dan masa kini.
Masa lampau ketik

a umat Israel dalam pembuangan di Babel merindukan kedatangan Mesias yang dijanjikan Allah yang akan membebaskan umat-Nya dari kesesakan. Yang digenapi Allah di dalam diri Kristus, lahir sebagai bayi yang lemah di tengah kemiskinan dunia, namun dalam kemuliaan sorgawi. Karena Allah sendiri mau merendahkan diri turun ke bumi sebagai seorang hamba, yaitu Yesus keturunan raja Daud yang menjadi pembebas manusia dari kuasa dosa dan memberikan keselamatan bagi dunia. Janji Allah ini dinubuatkan nabi Yeremia bagi bangsa Israel yaitu kedatangan Raja Damai, keturunan raja Daud.

Mazmur 25 menuliskan bagaimana umat Allah menyiapkan diri menyambut kedatangan Mesias dengan bertobat dan mengikut jalan Allah. Tanda-tanda kosmis yang menyertai kelahiran Kristus dibaca oleh orang-orang majus melalui munculnya bintang terang di Timur, dan mereka mengikutinya untuk berjumpa dengan Mesias yang telah lahir.

Masa penantian di masa kini adalah menantikan kedatangan Kristus yang kedua kalinya ke dunia, bukan lagi sebagai bayi yang lemah melainkan sebagai Raja dan Hakim yang Agung.
Jemaat Tesalonika menanggapi berita bahwa Yesus "segera" datang kembali dengan penuh iman, walaupun mereka mengalami penganiayaan dari kelompok Yahudi fundamentalis, ancaman perpecahan di kalangan orang percaya, dan lingkungan yang bobrok karena kemerosotan moral penduduk Tesalonika. Surat Paulus kepada jemaat Tesalonika ini merupakan peneguhan akan tanda-tanda kedatangan-Nya dan mendoakan untuk tetap siap sedia dalam iman.

Tesalonika 3:13 (TB) Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya.
Tujuan Yesus menunjukkan tanda-tanda kedatangan-Nya yang kedua kali sepasti kedatangan-Nya yang pertama kali, tetapi tidak satupun yang tahu waktu yang tepat akan kedatangan-Nya. Seperti seorang wanita yang mau melahirkan mengetahui tanda-tandanya namun tidak tahu pasti waktu kelahiran bayinya.
Lukas 21, Tuhan Yesus mengatakan tanda-tanda kedatangan-Nya yang kedua kalinya akan didahului dengan peristiwa kosmis yang menggoncangkan luar biasa. Manusia duniawi menjadi sangat bobrok karena kemerosotan moral. Tuhan Yesus berpesan kepada umat-Nya bahwa "Saat penyelamatan sudah dekat" Hari Tuhan bukan kiamat bagi orang yang mengimani Kristus, melainkan merupakan "Hari keselamatan". "...perkataan-Ku, tidak akan berlalu" Firman-Nya pasti digenapi sepenuh-Nya, tentunya bagi siapa yang berpegang pada Firman-Nya. "Berjaga-jaga dan berdoa", merupakan sikap yang selau siap sedia bagi setiap orang percaya. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

     

22 Nopember 2015
KARAKTER RAJAWI DI TENGAH DERITA
2 Samuel 23 : 1-7; Mazmur 132; Wahyu 1 : 4-8; Yohanes 18 : 33-37

Setiap pekerjaan atau profesi punya karakternya masing-masing, demikian pula dengan pelaksana pekerjaan dan profesi itu. Contoh, seorang pramuniaga semestinya melayani calon pembeli dengan sebaik-baiknya, karena calon pembeli adalah `raja’. Seorang sopir bus kota seharusnya mengemudikan busnya dengan baik demi keselamatan para penumpangnya. Dalam praktik, dapat terjadi pramuniaga melayani dengan sikap judes, atau sopir bus kota mengemudikan busnya dengan ugal-ugalan. Nyata, karakter pekerjaan/profesi tidak sesuai dengan karakter pelaksananya.

Sama halnya, karakter jabatan seorang raja adalah memerintah dengan bijaksana, memenuhi kebutuhan SPP (sandang, pangan, dan papan) rakyatnya dengan baik, serta melindungi rakyatnya dari penyakit, bencana alam, dan agresi negara lain. Sekiranya rajanya memahami karakter jabatan tersebut dan melaksanakannya, maka ia adalah seorang raja yang rajawi. Bagaimana jika kita mengikuti alur lakon cerita wayang `Petruk dadi ratu’ (Ams. 30 : 22)? Seorang punakawan (hamba) yang jadi raja? Apa jadinya? Tentu ia akan memerintah dengan cara yang tidak baik.

Bacaan kita hari ini berbicara tentang tokoh Raja Daud yang benar-benar rajawi, sebab ia menjadi raja yang takut kepada Allah, memerintah rakyatnya dengan baik, dan berani menghadapi orang-orang durjana. Maka Daud harus mengalami banyak penderitaan dalam melaksanakan tugas jabatannya sebagai raja. Hal ini dikisahkannya melalui 2 Samuel 23:1-7 dan Mazmur 132, sehingga Raja Daud adalah seorang raja yang benar-benar rajawi. Juga Tuhan Yesus yang berdialog dengan Pilatus dan menyatakan jati diri-Nya sebagai Raja dari kerajaan sorgawi, Ia menghadirkan kebenaran. Sementara Pilatus sendiri tidak mendasarkan keputusan pengadilannya pada kebenaran, terbukti kendati Tuhan Yesus tak bersalah, tetapi harus menjalani hukuman salib.

Kenyataan itu bertolak belakang dengan Tuhan Yesus yang menghadirkan kebenaran salib melalui penderitaan-Nya untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa. Kesemuanya itu terjadi, karena Tuhan Yesus adalah Saksi yang setia, Alfa dan Omega, yang Mahakuasa, yang ada sebelum semuanya ada, dan yang masih ada sesudah semuanya tiada (Yoh. 8:28).

Sekarang, bagaimana kena mengena dengan kita selaku para pengikut Tuhan Yesus? Bukankah kepada kita juga diberikan jabatan raja (1 Ptr. 2:9 -10)?. Adakah kita juga punya karakter rajawi? Jika kita punya, karakter rajawi itu kita nampakkan dengan cara memerintah diri kita sendiri untuk taat kepada perintah Tuhan Yesus, melengkapi diri kita dengan SPP dalam arti rohani, dan kita mampu menjaga diri dari serangan kuasa kegelapan.

Sesudah itu, kita pun mewujudkan karakter rajawi kita dalam persekutuan gerejawi dan tugas Kristiani berupa kesaksian dan pelayanan kita. Silakan kita berkiprah melalui kehidupan kita di tengah jemaat dan masyarakat, sekali pun harus memikul beban penderitaan karena keberimanan kita kepada Tuhan Yesus. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

15 Nopember 2015
Menghadap Allah dengan hati yang tulus
1 Sam 1:4-20; 1Sam 2:1-10; Ibr 10:11-25;Mark 13:1-8

Jika ada seorang bertanya kepada kita, apakah kita sudah sungguh-sungguh menyiapkan diri dan hati kita ketika kita datang kepada Tuhan untuk beribadah kepadaNya? Ambil contoh paling sederhana saja, ketika kita beribadah setiap hari Minggu di gereja, apa yang kita lakukan ketika kita datang ke gereja? Apakah saat kita datang kita benar-benar fokus ketika kita memuji Tuhan dan ketika kita mendengarkan Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pendeta? Atau kita malah masih sibuk SMS-an, BBM-an, meng-update status, atau sibuk bercanda dengan teman-teman kita?

Sayangnya masih cukup banyak orang Kristen yang seperti ini. Mereka tidak sadar bahwa ketika mereka datang beribadah di gereja, sesungguhnya kita sedang masuk ke tempat yang kudus, bahkan maha kudus (Ibr 10:19b). Bangsa Israel di zaman Perjanjian Lama, mereka tidak dapat sembarangan masuk ke tempat kudus. Hanya para imam yang boleh masuk ke tempat kudus. Bahkan hanya Imam Besar yang boleh masuk ke tempat maha kudus di kemah pertemuan maupun di Bait Allah. Ada persyaratan-persyaratan tertentu bagi imam itu yaitu mereka harus menguduskan diri sebelum mereka boleh masuk ke sana dan tidak sembarang orang yang boleh menghadap Tuhan di tempat kudusNya.

Akan tetapi, di masa Perjanjian Baru, dengan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, maka darah Yesus itulah yang menguduskan kita dan membuat kita dapat masuk ke dalam tempat kudus.
Jika kita mau sungguh-sungguh renungkan, sebenarnya ini adalah anugerah dan karunia Tuhan yang luar biasa, bahwa kita boleh datang kepada Allah melalui Yesus Kristus. Oleh karena itu ayat selanjutnya mengatakan bahwa kita harus menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh (Ibr 10: 22a). Hati yang tulus ikhlas menggambarkan sikap hati kita yang bersih dari motivasi yang tidak benar dalam menghadap Tuhan.

Ini menjadi perhatian dan peringatan bagi kita, agar kita sungguh-sungguh memiliki sikap hati yang benar dan kudus ketika kita datang ke hadirat Tuhan. Jangan sembarangan menghadap hadirat Tuhan. Jadilah anak-anak Tuhan yang hidup sungguh-sungguh di hadapan Tuhan, sungguh-sungguh beribadah dan sungguh-sungguh melayani Tuhan.
denni setiawan

     

8 Nopember 2015
Korban Kristus yang Sempurna Menjadi Dasar Kepercayaan Umat Tuhan
Rut 3:1-5, 4:13-17; Maz. 127; Ibr. 9:24-28; Mark. 12:38-44

Sejak manusia jatuh dalam dosa (Kej. 3), hidup manusia jauh dari Allah. Akibatnya manusia tidak lagi dapat merasakan kedamaian dan sukacita hidup. Dosa membuat manusia hidup dalam bayang-bayang maut. Hidup berjumpa dan bersama Allah menjadi sebuah kehidupan yang diharapkan dan dirindukan. Melalui korban penebus dosa, orang Yahudi berupaya menghampiri Allah. Namun korban penebus dosa yang berasal dari manusia itu bersifat sementara. Karenanya, mereka berulang kali melakukan korban penebus dosa untuk menghadap Allah. Orang Yahudi menghayati benar bahwa berjumpa dan hidup bersama Allah merupakan hidup yang sempurna, dan sebuah kehidupan yang istimewa, bagaikan seorang yang menemukan harta terpendam dan rela menjual seluruh miliknya untuk mendapatkannya (Mat 13:44 – tentang Kerajaan Allah bagaikan harta yang terpendam). Oleh karenanya, korban penebus dosa menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.

Berbeda dengan orang Yahudi yang berulang kali dan masih berharap bisa berjumpa dengan Allah, kita yang percaya kepada Kristus sebagai korban penebus dosa telah menerima anugerah tersebut, yaitu berjumpa dan hidup bersama Allah. Bukankah ini sebuah anugerah yang istimewa dan luar biasa? Jika kita meletakan dasar iman dan kepercayaan pada korban Kristus, maka kehidupan kita merupakan kehidupan yang sempurna. Karena korban Kristus yang sekali itu – dan memang cukup sekali karena Yesus berasal dari Allah – mampu menjumpakan umat yang berdosa dengan Allah Yang Kudus untuk selamanya (Ibr. 9:24-28). Adakah kita akan merasa kekurangan jika Allah hadir dan hidup di dalam kita? Tidak! Karena Kristus yang menjaminnya (Ibr. 9:24,... guna kepentingan kita).

Oleh karenanya, iman dan kepercayaan melalui korban Kristus ini, seharusnya mengubah hidup kita dari hidup yang selalu merasa kekurangan menjadi hidup yang selalu merasa kecukupan. Mengubah hidup yang selalu haus dan lapar akan harta dan kekuasaan menjadi hidup yang penuh syukur dengan apa yang dimilikinya. Janda dalam kisah Mark 12:41-44 merupakan teladan kehidupan yang penuh syukur kepada Allah.

Kata-kata Tuhan Yesus tentang janda tersebut dalam bahasa populer sekarang ini mungkin seperti ini, “Janda itu memilih untuk tidak punya apa-apa, tetapi yang penting punya Allah.” Ia memberikan semua nafkahnya dan ia tidak takut untuk kekurangan, kelaparan ataupun kehausan. Baginya yang terpenting adalah ia sudah memberikan yang terbaik untuk Allah. Dan ia pun pasti telah meyakini bahwa Allah tidak akan meninggalkan dan menelantarkannya.

Adakah harta di dunia ini yang melebihi dari sebuah kehidupan berjumpa dan bersama Allah? Tidak. Demikian Salomo menghayati bahwa Allah adalah satu-satunya sumber kehidupan. Semuanya sia-sia jika tanpa Tuhan (Maz.127). Tanpa Tuhan, sehebat apapun manusia itu berusaha semua akan sia-sia. Tanpa Tuhan manusia akan selalu merasa kurang dan tidak sempurna. Umat Kristen seharusnya merupakan umat yang senantiasa merasa cukup, merasa sempurna – bukan bermaksud untuk menjadi sombong, karena kesempurnaan hidup adalah ketika kita telah mampu menghayati dan mendapatkan hidup bersama Allah –, dan senantiasa bersyukur. Karena itu, seorang Kristen tidak akan pernah berkeinginan menindas yang lain apalagi yang lemah. Seperti ahli-ahli Taurat yang sudah kaya dan terpandang, tetapi masih mau menelan si miskin yaitu janda-janda (Mark. 12:40). Bagi seorang Kristen sejati yang memahami bahwa korban Kristus sempurna karena memampukan ia hidup dengan sempurna, maka ia akan berusaha memprioritaskan Allah dalam kehidupannya. Seperti lirik dalam lagu ini, “Kaulah Harapanku”:

Bukan dengan kekuatanku
Ku dapat jalani hidupku
Tanpa Tuhan yang di sampingku
Ku tak mampu sendiri
Engkaulah kuatku
Yang menopangku

Biarlah setiap kita yang percaya kepada Kristus boleh mengimani bahwa tanpa Tuhan hidup kita sia-sia! Amin.
denni setiawan

 

1 Nopember 2015
Disucikan oleh karya Kristus dilayakkan untuk beribadah kepada Allah yang hidup
Rut 1:1-18; Mazmr 146; Ibrn 9:11-14; Markus 12:28-34

Kasih sepenuh hati akan terasa berbeda jika dibandingkan dengan kasih setengah hati (terpaksa). Hanya kasih sepenuh hatilah yang dapat menyentuh hati seseorang. Ada kasih dari seorang ibu rumah tangga yang mempekerjakan seorang pemudi. Pemudi ini dapat merasakan kasih sepenuh hati dalam keluarga dimana ia bekerja. Akhirnya pemudi ini memutuskan menjadi pengikut Kristus. Sekalipun pemudi ini diusir oleh ayah-ibu kandungnya, ia tetap pada keputusannya. Sentuhan kasih Kristus, telah menariknya untuk menjadi murid Kristus.

Hati ibu rumah tangga di atas telah disucikan oleh pengorbanan Kristus. Korban Kristus, telah mengubahnya dan memampukannya mengasihi sepenuh hati. Perbuatan manusia dalam ibadah korban (uang – waktu –talenta, korban bakaran / sembelihan), tak cukup untuk menyucikan hati. Hanya korban Yesuslah yang mampu menyucikan manusia secara menyeluruh. FT sebagai dasar : “... betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.”(Ibrani 9:14). Bahkan korban Kristus, telah melayakkan kita beribadah pada Allah yang hidup. Yesus sendiri mengajarkan bahwa kasih pada Allah dan sesama adalah hukum yang terutama, yang ditegaskan oleh pendapat ahli Taurat : “itu lebih utama dari korban bakaran dan sembelihan” (Markus 12:33).

Korban Kristus memungkinkan manusia meninggalkan perbuatan-perbuatan yang membawa maut dan menjadi hamba Allah yang hidup. Dengan kata lain, korban Kristus bukan saja menyebabkan manusia memperoleh pengampunan dari dosa-dosa masa lalunya, tetapi juga memungkinkan manusia untuk menghayati hidup yang mengabdi kepada Allah. Korban Yesus tidak saja melunasi hutang; kurban itu memberi kemenangan. Kemenangan itulah yang memungkinkan kita sekarang ini dapat beribadah kepada Allah yang hidup.

Banyak orang sudah menjadi cukup puas ketika melayani Tuhan hanya pada level formalitas. Padahal bukan itu yang Tuhan kehendaki! Tuhan menghendaki kita beribadah dalam keseluruhan hidup kita. Sebagai umat yang telah disucikan oleh Kristus, dan dilayakkan beribadah pada Allah, kiranya hidup kita berbuah. Sebagaimana hidup dalam diri Naomi – dalam terminologi kekristenan tertentu – berhasil “memenangkan jiwa” Rut, sehingga Rut, yang tadinya perempuan Moab, bangsa asing kini sepenuhnya percaya kepada Allahnya Naomi (Rut. 1:1-18).

Kiranya kita sekalian makin menyatakan kasih yang menyentuh hati, kasih dari hati yang telah dikuduskan, sikap yg menunjukkan suatu perubahan bahwa kita milikNya. Karena ibadah sejati bermula di tersentuhnya hati manusia sehingga manusia itu merasakan, mengalami & kemudian tergerak melakukan sebuah tindakan mulia. Amin.
pkm

 

     

25 Oktober 2015
"KELUARGA SEBAGAI PERSEMBAHAN TERBAIK BAGI ALLAH"
Ayub 42:1-17, Maz 34, Ibrani 7:23-28, Markus 10:46-52

Seorang anak pasti serupa atau mirip dengan orang tuanya. Ini berarti bahwa anak dan orang tua mempunyai ikatan yang sangat dekat dan intim. Demikian juga, ketika dikatakan dalam Kej. 1:26-27 bahwa manusia itu diciptakan serupa dengan gambar Allah. Itu berarti bahwa manusia mempunyai ikatan yang sangat intim dengan Allah ketimbang ciptaan lainnya. Bisa dikatakan bahwa dalam kisah Kejadian, Allah menciptakan keluarga. Sehingga Allah bisa kita sapa dengan Bapa dan kita manusia adalah anak-anak-Nya. Namun karena dosa, Allah tidak bisa lagi kita sapa dengan Bapa tapi Tuhan, dan manusia bukan lagi anak tetapi hamba. Tapi syukur kepada Allah, karena kasih dan pengorbanan Anak-Nya Yesus Kristus yang menghapuskan dosa manusia (Ibrani 7:25-27), sehingga siapa yang percaya kepada-Nya diangkat kembali menjadi anak-anak Allah. Inilah Keluarga Allah yang baru, keluarga yang bukan terikat pada keturunan, suku, dan ras tetapi keluarga yang terikat oleh kasih dan pengorbanan Yesus Kristus serta yang beriman kepada-Nya.

Di dalam keluarga Allah ini, masing-masing anggotanya sudah seharusnya memberikan kasih kepada anggota yang lain. Karena hal itu yang diteladankan oleh Bapa kita di dalam diri Yesus Kristus yang menjadi korban penebus dosa (Ibr. 7:27). Kasih itu juga diperlihatkan-Nya ketika Ia mengasihi orang buta dan menyembuhkannya (Mark. 10:50-52). Begitu juga dengan kasih yang Ia berikan kepada Ayub dan Daud. Karena kasih-Nya kehidupan Ayub dipulihkan (Ayub 42:10). Dan karena kasih-Nya jugalah Daud mendapatkan pertolongan (Maz 34). Oleh karena itu, barangsiapa yang percaya dan beriman kepada Yesus dan sadar bahwa dirinya adalah anak-anak Allah, maka kasih yang telah ia terima dari Allah haruslah terpancar kepada setiap anggota keluarga dan semua orang.

Kasih yang seperti apa yang bisa kita wujudnyatakan kepada yang lain? Salah satunya adalah kasih yang saling mengampuni. Sama seperti Bapa sudah mengampuni kita, demikian juga semestinya kita mengampuni anggota keluarga kita dan orang lain. Tidak mudah untuk mengampuni. Ya, jika hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri. Namun jika kita benar-benar berniat mengampuni dan disertai doa yang tertuju kepada-Nya, maka tidak ada yang mustahil bagi-Nya untuk memampukan kita mengampuni. Apalagi yang kita ampuni adalah anggota keluarga sendiri. Apabila pengampunan itu benar-benar terjadi, maka pastilah setiap anggota keluarga Allah tidak akan lagi menggunakan topeng kemunafikan (di depan baik, di belakang jahat). Setiap anggota keluarga akan memperlihatkan wajah yang jujur penuh kasih yang tulus dan pengampunan.

Dari bacaan kita minggu ini ada satu hal lagi yang harus dimiliki dan diterapkan oleh anggota-anggota keluarga Allah, selain dari kasih dan pengampunan yaitu ketaatan. Ayub, Daud, dan bahkan Yesus sendiri juga meneladankan ketaatan kepada Allah Bapa. Dalam situasi apapun entah itu menyenangkan ataupun menyengsarakan, baik Ayub maupun Daud mengajak kita untuk menujukan/mengarahkan pandangan kita kepada-Nya (Maz 34:6, Ayub 42:5). Sehingga kita boleh merasakan damai dan sukacita dalam keadaan apapun. Ketaatan menjadi bagian penting bagi setiap orang beriman untuk membuktikan imannya kepada Allah dan kepada sesamanya. Taat beribadah, taat terhadap perintah-perintah-Nya dan taat menjalankan kehidupan sebagai anak-anak Allah. Inilah persembahan yang terbaik bagi Allah ketika masing-masing anggotanya boleh hidup taat kepada Allah, saling mengasihi dan mengampuni satu dengan yang lain.
denni setiawan

 

18 Oktober 2015
"Keluarga Yang Tetap Taat Walaupun Berat"
Ayub 38:1-7; Maz. 104:1-9, 24-25; Ibr. 5:1-10; Mark. 10:35-45

Keluarga Zebedeus layak menjadi pelajaran dan teladan bagi kita. Keluarga ini adalah pengikut Kristus sejak semula. Kedua putera Zebedeus, Yohanes dan Yakobus, menjadi murid Yesus yang tertua dan terkemuka. Ibu mereka, Salome, sangat mendukung Yohanes dan Yakobus menjadi murid Yesus. Peran Zebedeus sebagai ayah rupanya sangat penting pada jemaat mula-mula ini, sehingga nama Zebedeus sering digunakan untuk menyebut Yohanes dan Yakobus (Mark. 10:35, Mat. 20:20).

Kita tahu peran keluarga sangat sentral dalam keberhasilan hidup kita di dunia ini. Keluarga adalah dasar kita bermasyarakat. Di dalam keluarga kita belajar bagaimana mengasihi dan membangun sesama. Dalam keluarga kita belajar saling berbagi, mendukung, menjaga dan melindungi. Juga dalam keluarga kita belajar pembagian otoritas, tugas, dan tanggung jawab.
Allah sendiri yang membentuk keluarga yang serupa dengan Keluarga ilahi. Dengan mengajarkan Allah Bapa dan Anak, dan menyebut kita yang dikasihiNya sebagai anak-anakNya (Maz. 2:7, Ibr. 5:5, Ayub 38:7), Alkitab menggambarkan kehidupan Allah sebagai kehidupan keluarga. Hubungan kita dengan Allah dan sesama adalah hubungan keluarga.
Kita dilahirkan kembali, diperanakkan Allah, dijadikan anakNya, saat kita beriman kepadaNya, saat kita menyadari akan kehadiran Allah dan kekuasaanNya (Ibr. 5:5). Anak-anakNya menyadari bahwa Allah berkuasa atas alam semesta dan kehidupan manusia (Maz. 104:1-9). Sebagai anak-anak Allah, kita menyadari bahwa kehidupan kita adalah ekpresi dari Roh Allah (ay. 30). Allah yang menciptakan dunia ini dengan hikmat yang jauh melebihi pemahaman manusia (Ayub 38:4).

Menyadari kedahsyatan penciptaanNya, kita tidak bisa lain bersorak-sorai memuliakan Bapa kita (ay. 7). Ibu dari Yohanes dan Yakobus ingin sekali Yesus memberikan kemuliaan bagi kedua putera nya itu. Mereka berharap dengan mendukung pelayanan Yesus, maka keluarga ini akan mendapat kehormatan. Tetapi Yesus mendidik mereka bahwa kemuliaan dan hormat itu adalah hak Bapa kita. Bahwa kita menjadi anak-anakNya sudah suatu kehormatan besar. Yesus meneladankan bahwa orang yang paling melayani adalah orang yang paling terkemuka di mata Allah.

Kristus datang untuk melayani bahkan sampai memberikan nyawaNya menjadi tebusan banyak orang (Mark. 10:43-45). Oleh sebab iman ini, maka Kristus telah taat meskipun harus menderita (Ibr. 5:8). Penderitaan ini membawanya kepada kesempurnaanNya. Alkitab mengisahkan bahwa keluarga Zebedeus taat kepada didikan Yesus itu. Mereka tidak lagi mengejar kemuliaan keluarga.
Tradisi gereja mencatat pelayanan dan ketaatan Yohanes dan Yakobus sampai menjadi martir bagi Kristus. Salome, ibu mereka, adalah seorang pelayan dan sosok ibu yang setia mengurus jemaat mula-mula. Karena memilih taat walaupun berat, keluarga Zebedeus telah dipakai Allah dengan hebat.
Allah sendiri yang menetapkan dan membangun keluarga kita, sebagai bagian dari keluarga Allah. Melalui keluarga, Allah memberikan berkat kehidupan bagi setiap orang. Allah juga memanggil setiap keluarga untuk taat sebagai keluarga Allah, membangun tubuh Kristus dan melayani sesama. Walaupun berat, marilah kita taat kepada panggilan ini, sehingga keluarga kita membawa penghormatan dan kemuliaan bagi Bapa kita.
AL

     

11 Oktober 2015
"KELUARGA YANG MENGUTAMAKAN KEHENDAK TUHAN"
Ayub 23:1-17; Mazmur 22:2-16; Ibrani 4:12-16; Markus 10:17-31

Kali ini bacaan Ayub dan Mazmur sangat luar biasa, karena kehidupannya diperhadapkan dengan pilihan-pilihan yang menyesakkan, yang tidak menyenangkan, tapi ternyata mereka memilih yang tepat karena mengutamakan pada kehendak Tuhan, sekalipun sangat menderita dan menyakitkan secara hukum dunia atau hukum kedagingan. Begitu juga sewaktu seorang kaya yang mendambakan kehidupan kekal, diperhadapkan pada 2 pilihan: mengikut Yesus atau mengikut mamon. Berhubung terikat oleh kekayaannya yang berlimpah-limpah, sehingga dia batal mengikut Yesus.

Saat ini, mamon itu dapat berupa kepandaian atau pekerjaan tertentu, anak kesayangan, ucapan keluarga diatas segala-galanya. Cara berpikir itulah yang perlu ditata hirarki keutamaannya, yang utama & pertama adalah mengikut Yesus, tanpa keterikatan dengan hal-hal lainnya, barulah orang tersebut dapat disebut mengutamakan kehendak Tuhan. Orang tersebut kemudian mengajak pasangan dan keluarganya untuk mengikut dan memilih dan mengutamakan kehendak Tuhan sekalipun diperhadapkan dengan kesulitan-kesulitan hidup.

Dalam bulan keluarga ini, kiranya setiap keluarga diberkati waktu dan tempat untuk melakukan perenungan dan kegiatan yang mengutamakan kehendak Tuhan. Amin.
BHS

 

 

 

4 Oktober 2015
"Keluarga Pejuang Kristus"
Ibrani 1:1-4, 2:5-12; Markus 10:2-16

Sebagai keluarga, apakah yang sedang kita perjuangkan? Mungkin kita sedang berjuang untuk pendidikan anak-anak kita, atau pekerjaan kita karena kelesuan ekonomi dunia, atau mempertahankan keutuhan rumah tangga kita. Apapun yang sedang kita perjuangkan, sadarkah kita bahwa kita mestinya bertindak sebagai pejuang Kristus. Karena firman Tuhan mengajarkan bahwa kita sebagai Jemaat (yang dikuduskan – Ibr 2:11) kita ini berasal dari “Satu Tuhan, Satu Bapa,” satu keluarga – Kristus menyebut kita sebagai saudara. Ketika kita mengetahui kita dari yang Satu, maka pendidikan anak, pekerjaan, keluarga tidak lepas dari tujuan Kristus.

Apa yang diperjuangkan Kristus? Penulis Ibrani menyebutkan bahwa “Yesus adalah Allah yang berjuang untuk membawa banyak orang kepada kemuliaan dan memimpin kepada keselamatan, dan dijalani Kristus dengan penderitaan (penuh perjuangan).” (Ibr 2:10). Hasil perjuangan Kristus sangat dirasakan oleh penulis surat Ibrani. Mereka menyampaikan rasa takjubnya dengan mengutip Mazmur 8:5-7 “Apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya ... mengindahkannya?”.

Injil Markus 10:2-16, terdapat sikap nyata yang sangat penting, sebab manusia di jaman Yesus, cenderung bersikap merendahkan perempuan dan anak-anak.Yesus datang untuk mengangkat martabat perempuan. Perkawinan saat itu menjadi sangat tidak aman bagi perempuan. Fakta mendasar : hukum Yahudi, perempuan hampir dianggap sebagai benda. Tidak punya hak hukum. Selalu jadi tumpuan kesalahan laki-laki. Laki-laki bisa menceraikan istrinya dengan alasan apa saja. Tetapi Laki-laki hanya bisa diceraikan jika laki-laki itu bersedia. Yesus tidak menghendaki “kesewenang-wenangan” laki-laki pada perempuan yang hanya akan berdampak pada menurunnya moralitas perkawinan. Yesus mengacu kepada kisah penciptaan (Kejadian 1:27 dan 2;24) yang lebih mendasar dari hukum Musa. Pandangan Yesus : pernikahan sifatnya adalah permanen, kalau dua orang itu telah dipersatukan itu menyatu dalam ikatan sedemikian rupa sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan lagi.

Sikap yang juga diperjuangkan Kristus adalah sikap menerima anak-anak, karena itu Yesus marah kepada murid-muridNya karena bersikap menghalang-halangi anak-anak yang hendak datang pada Yesus. Bagi Yesus siapa yang bersikap adil pada anak-anak (sesama yang lemah), dialah yang empunya Kerajaan Allah (hidup dalam damai). Kristus memanggil kita sebagai saudara (Ibr 2:11). Kristus sedang terus berjuang membawa setiap orang pada kemuliaan dan keselamatan, masakan kita akan menutup mata mana kala ada ketidakadilan, penindasan, pelecehan seksual, kekerasan terhadap keluarga, khususnya terhadap perempuan dan anak-anak.

Waktu sekarang ini kita perlu prihatin, dengan perkembangan teknologi, yang mengakibatkan manusia menjadi makhluk asing bagi sesama. Banyak keluarga anggotanya teralienasi. Karena masing-masing sibuk dengan kecanggihan alat teknologi. Manusia jika tidak waspada, ia menjadi korban penindasan teknologi. Perjuangan Kristus dimasa ini, adalah perjuangan tiap keluarga pengikut Kristus agar tidak terjajah oleh karya / produk dunia modern. Hingga justru dapat memanfaatkannya karya dunia modern bagi keharmonisan keluarga, keutuhan keluarga. Sebab itulah perjuangan Kristus, ketika Ia mengingatkan umat yang tegar hati, untuk kembali hidup sebagai umat yang berpegang pada Firman yang mula-mula.

Dalam perjuangan dan keprihatinanNya, Yesus mengatakan, “Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan….sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Markus 10:6,8,9). Marilah kita – keluarga-keluarga, kita adalah keluarga pejuang Kristus ... berjuanglah demi kemuliaan dan keselamatan / keutuhan keluarga. Berjuanglah ... sekalipun harus menderita / berjuang keras. Tidak ada perjuangan yang mudah, tetapi yakinlah : tidak ada perjuangan yang sia-sia. Amin.
pkm

 

27 September 2015
"DOSA PENGHALANG KEBAIKAN"
Est. 7:1-10; 9:20-22; Mzm. 124; Yak. 5:13-20; Mrk. 9:38-50

Apakah setiap orang yang mengalami kebaikan akan bersyukur, dan kemudian juga melakukan kebaikan kepada orang lain? Haman yang diberi kekuasaan yang besar oleh Raja Ahasyweros menjadi sombong. Karena Mordekhai tidak berlutut dan tidak sujud kepadanya - seperti yang dilakukan oleh semua pegawai raja lainnya -, ia menjadi marah, benci, dan bahkan iri hati ketika Mordekhai menerima hadiah dari raja. Haman berencana untuk membunuh Mordekhai beserta bangsanya, yakni semua orang Yahudi yang ada di seluruh kerajaan Ahasyweros. Melalui Ester, rencana jahat Haman diketahui oleh raja. Raja kemudian menghukum mati Haman dengan disulakan di tiang setinggi lima puluh hasta (kira-kira 25 meter), yakni tiang yang sebenarnya didirikan Haman untuk Mordekhai. Dosa menjadi penghalang bagi Haman untuk menikmati kenyamanan yang sebenarnya sudah tersedia baginya (Est. 7:1-10; 9:20-22)

Orang yang hidup dekat Tuhan, dan selalu berserah kepada-Nya, akan menerima kebaikan Tuhan tanpa terhalang. Tuhan akan berpihak kepadanya, dan memberikan pertolongan yang tepat. Selayaknyalah kita selalu memuji Dia, dan berseru: Pertolongan kita adalah dalam nama Tuhan, yg menjadikan langit dan bumi (Mzm 124)

Penderitaan, sakit penyakit, dan hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya, pasti akan kita alami di dunia ini. Janganlah semua ini menjadi penghalang bagi kita untuk datang kepada Tuhan. Dalam menghadapi segala kesulitan hidup ini, baiklah kita berdoa dengan penuh iman, mengaku dosa, dan saling mendoakan. Tuhan akan menjawab doa-doa syafaat umat-Nya seturut kehendak dan waktu Tuhan.

Apapun yang kita terima daripada-Nya, pastilah yang terbaik bagi setiap anak-anak-Nya. Doa yang lahir dari iman akan memulihkan, mengampuni dosa, menyelamatkan jiwa, dan menutupi banyak dosa (Yak. 5:13-20).

Allah menciptakan setiap manusia secara sempurna, menurut yang dikehendaki-Nya, dan dengan karunia yang berbeda-beda. Semua ciptaan Tuhan adalah mahakarya-Nya, yang patut kita kasihi. Keanekaragaman, perbedaan-perbedaan yang ada di antara umat Tuhan, janganlah menjadi penghalang bagi kita untuk saling menerima keberadaan setiap individu. Justru sebaliknya, keistimewaan masing-masing individu ini kita terima dengan penuh rasa syukur, karena dapat memperkaya, mendatangkan kebaikan, dan menyempurnakan karya manusia dalam kehidupan bersama. Sebagai pengikut Kristus, hendaklah kita selalu menjadi berkat bagi kehidupan bersama, dan selalu hidup berdamai dengan setiap orang (Mrk. 9:38-50).

Marilah kita meninggalkan dosa, sebab ia bisa menjadi penghalang bagi karunia Allah bagi kita, dan juga menghalangi kita untuk berbuat kebaikan bagi sesama. Amin.
Nancy

 

20 September 2015
"DI ANTARA DUA PILIHAN ALLAH ATAU DUNIA"
Amsal 31: 10-31; Mazmur 1; Yakobus 3:13-4:8; Markus 9:30-37

Yakobus 4:4 “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” Firman Tuhan ini secara jelas menggambarkan ada dua zona yang saling bertentangan yaitu hidup menurut keinginan Allah atau hidup menurut keinginan diri sendiri/dunia. Banyak orang Kristen yang kagum akan Kasih Kristus, kagum akan Kuasa-Nya, kagum akan Hikmat-Nya, kagum akan Pengorbanan-Nya, tetapi sedikit yang mau hidup mengikut Kristus. Allah tidak membutuhkan "pengagum" melainkan "pengikut".

Pada Mazmur 1, ada kelompok orang yang pertama adalah kelompok orang fasik, orang berdosa, pencemooh yang hidupnya menentang Tuhan. Kehadiran kelompok ini selalu membawa masalah, tidak membangun orang lain, pembawa pertentangan menganggap diri "kritis", tidak peduli kepentingan orang lain, orang yang demikian selalu tidak diharapkan kehadirannya. Bahkan mungkin orang bergembira dengan kematiannya.

Kelompok kedua, adalah orang suka mengkompromikan jalan Tuhan dengan jalan dunia yang jelas bertentangan. Orang yang tidak punya pendirian, plintat-plintut. Dunia mengatakan orang yang bisa mengambil jalan tengah itu orang yang bijaksana (?), misalnya menyuap, kolusi, cari selamat diri sendiri. Orang Kristen yang berkompromi dengan cara dunia, tidak akan mendapatkan apa-apa dari Tuhan. Hidupnya biasa-biasa saja, tidak punya pengaruh apa-apa bagi orang lain, kehadirannya tidak berdampak apa-apa. Orang mudah melupakan walau pernah mengenalnya.

Kelompok ketiga adalah orang yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Amsal 31:10-31 berkata Siapakah yang akan mendapatkan isteri yang cakap ? Jawabnya : Mazmur 128:1-3 .... Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!. Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Ya, isteri yang cakap adalah berkat kebahagiaan bagi suami yang takut akan Tuhan. Jelas sudah renungan firman Allah hari ini, bahwa ada dua pilihan yang diperhadapkan kepada manusia antara menerima Yesus sebagai Tuhan dengan menyerahkan hidupnya kepada keinginan Tuhan atau menyerahkan hidup kepada keinginan daging/dunia. Yang jelas Golput tidak punya hak apa-apa dari Tuhan, karena tidak melakukan kewajiban dan tanggung jawab apa-apa kepada Tuhan. Pertumbuhan iman kita kepada Tuhan bukan diukur dari seberapa banyak pengetahuan kita tentang Firman Tuhan, melainkan seberapa besar kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan. Di zona manakah hidup anda saat ini ?, selama masih ada kesempatan pergunakanlah untuk mengambil keputusan pada pilihan yang benar. Amin.
Tonny I.

     

13 September 2015
"MENGENDALIKAN LIDAH, MEMBANGUN KEHIDUPAN"
Amsal 1 : 20-33; Mazmur 19; Yakobus 3 : 1-12; Markus 8 : 27-38

Alkisah, ada seorang raja yang pada suatu hari memerintahkan juru masak istananya untuk memasak masakan yang paling enak. Lalu si juru masak pun menyajikan masakan yang paling enak dari bahan dasar lidah sapi. Setelah menikmati masakan itu, sang baginda merasa puas dan memuji kehebatan si juru masak itu.

Pada pekan berikutnya, raja itu memerintahkan lagi si juru masak, namun kali ini untuk memasak masakan yang paling tidak enak. Si juru masak pun bergegas pergi ke dapur istana untuk memasak masakan yang paling tidak enak dan setelah siap, ia pun segera menyajikannya kepada sang baginda. Setelah menikmati masakan yang paling tidak enak itu, raja merasa heran dan bertanya kepada si juru masak itu :”Lho, ini sama saja dengan masakanmu pekan yang lalu? Coba jelaskan!”. Lalu jawab si juru masak itu :”Ampun baginda, hamba memasak masakan yang sama dari bahan dasar lidah sapi. Alasan hamba, lidah itu digunakan untuk berkata-kata yang serba baik, tetapi juga untuk membicarakan hal-hal yang serba buruk. Baginda meminta masakan yang paling enak dan yang paling tidak enak. Hamba pikir, itu sama saja dengan lidah manusia yang selalu menyampaikan kata-kata yang baik berupa pujian, di samping kata-kata yang jahat berupa kutukan kepada sesama manusia”.

Kendati kenyataannya memang begitu, namun semestinya tidak demikian. Surat Yakobus menyatakan, bahwa air tawar, air pahit, dan air asin, semestinya tidak ke luar dari mata air yang sama. Juga pohon ara semestinya tak dapat menghasilkan buah zaitun, atau buah anggur. Karena itu lidah harus dikendalikan sesuai dengan kehendak Allah. Jika tidak dikendalikan, amat berbahaya dan dapat merusak tatanan kehidupan yang baik di tengah keluarga, jemaat, dan masyarakat.

Disebutkan, bahwa lidah ibarat api yang dapat membakar, penuh racun, dunia kejahatan, buas, dan dapat menodai seluruh tubuh. Itulah yang sering kita jumpai dalam praktik berupa fitnah, gosip, caci maki, sumpah serapah, kutukan, dan umpatan. Pada hal lidah yang terkendali akan menghadirkan tutur kata yang baik, kata-kata penghiburan, ungkapan simpati, dan ucapan yang bersahabat.

Untuk mewujudkan semua hal yang baik itu, kita harus mengetahui hakikat rambu-rambu yang diberikan Allah, sebagaimana disebutkan dalam Mazmur 19 : 8-10. Begitu pula kita harus tahu ke alamat mana kita mencari sumbernya yang tak lain adalah Sang Hikmat yakni Allah sendiri (Ams. 1 : 20, 21; Yak. 3 : 17, 18).

Belajar dari Allah, maka kita akan dapat memiliki hikmat untuk mengendalikan lidah. Kita pun akan pandai memertimbangkan, kapan kita berkata-kata, kapan kita diam, di forum apa kita berbicara, dan dengan siapa saja kita bercakap-cakap. Jangan seperti Petrus yang tanpa pertimbangan yang baik dan merasa sok benar, menegor Tuhan Yesus (Mrk. 8 : 32 b). Dari semua pertimbangan yang baik itu, pada akhirnya kita akan membangun kehidupan bersama orang lain dalam suasana damai, baik yang seiman, maupun yang sebangsa dan setanah air. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

6 September 2015
"TIDAK DISKRIMINATIF, NAMUN BERBELA RASA"
Ams. 22:1-9, 22-23; Maz. 125; Yak. 2:1-17; Mark. 7:24-37

Kalau hujan turun, masak cuma rumah saya yang basah?” Demikian sebuah kalimat yang tertulis dalam sebuah buku yang ditulis Pdt. L. Z. Raprap. Tentu, kita bisa langsung memahami makna yang tersirat di dalamnya. Yang pertama, Tuhan yang mengatur dan memberi berkat kepada siapapun yang Tuhan mau. Tuhan tidak bisa diatur atau dipaksa, sebab Ia adalah yang berkuasa dan bukan manusia. Yang kedua, Tuhan menyapa siapapun tanpa membedakan latar belakang manusia. Seperti yang dilakukan oleh Yesus kepada perempuan Siro-Fenesia (Mark. 7:24-37).

Dalam suatu perjalanan pelayanan-Nya, Yesus memasuki daerah Tirus. Tirus merupakan kota yang sebagian besar penduduknya hidup dalam kepercayaan kepada dewa-dewa. Penekanan dalam teks tentang kota dan perempuan Siro – Fenesia menunjukan bahwa Yesus menyapa dan melayani orang-orang yang dianggap oleh orang Yahudi sebagai bangsa yang najis. Bagi orang Yahudi, mereka tidak berhak dan layak menerima kasih, anugerah dan berkat dari Allah.

Jaman itu, seorang perempuan entah itu dari bangsa Yahudi maupun bangsa lain juga merupakan kelompok yang diperlakukan secara diskriminatif. Di tengah perjumpaan dan perlakuan yang diskriminatif itu, jika Yesus mengabaikan perempuan itu, maka Yesus tidak dianggap salah oleh masyarakat pada umumnya.

Namun di sinilah tindakan Yesus menunjukkan bahwa kasih Allah yang tak terbatas itu, tidak bisa dibatasi oleh manusia. Tindakan kasih Yesus adalah gerakan kasih yang membongkar sekat-sekat diskriminasi. Yesus berusaha membongkar sekat-sekat kebencian yang telah mengakar antara Yahudi dan non-Yahudi. Dan tindakan kasih itu bukan berarti tanpa tantangan dan hambatan bukan saja dari pihak suku bangsanya sendiri (Yahudi), tapi juga dari pihak penduduk Tirus itu sendiri yang membenci orang Yahudi.

Peristiwa tersebut, semestinya menggugah iman para murid untuk juga hidup dalam tindakan kasih yang melampaui, mendobrak, dan membongkar tembok-tembok kesukuan dan keakuan. Namun pada kenyataannya itu belum terjadi.

Dalam surat Yakobus, tersirat bahwa umat/jemaat belum mampu untuk mengasihi mereka yang berbeda Iman umat masih diamalkan dengan memandang muka (2:1), yang berarti mereka mengasihi hanya kepada orang-orang tertentu saja. Setidaknya tersirat ada pembedaan antara mereka yang kaya dan yang miskin. Umat masih melakukan kasih yang diskriminatif. Berlaku baik, ramah, senyum hanya kepada yang banyak memberi, dan berlaku kurang baik/menyenangkan, cemberut, muram terhadap yang tidak banyak memberi (2-6). Karena itu, Yakobus mengingatkan umat untuk hidup dalam kasih kepada siapapun tanpa membeda-bedakan, kaya atau miskin.

Sebagai murid Yesus yang taat, setia dan sungguh mengasihi, maka seyogyanya kita juga meneladan Sang Guru dan Juru. Mari kita bersikap dan berperilaku menyapa dengan kasih, senyum dan kehangatan kepada siapapun. Kepada yang berkuasa maupun yang tidak berkuasa, tersenyumlah. Kepada yang kaya maupun pas-pasan, layanilah dengan hangat. Kepada yang memberi berkat maupun yang memberi tugas, terimalah dengan kegembiraan dan bukan dengan muka murung. Tentu, sebuah perubahan dari diri kita akan dapat tantangan. Orang mungkin akan mencibir dan mengatakan, tumben, kok bisa, lagi ada maunya tuh dsb. Tapi hal itu harus tetap kita lakukan untuk memperlihatkan kesungguhan hati kita mengasihi yang lain. Sapalah, sambutlah, dan terimalah siapapun dengan kasih yang Tuhan Yesus teladankan.
denni setiawan

     

30 Agustus 2015
"HIDUP BERGAIRAH DALAM SUKACITA DAN KEGEMBIRAAN TUHAN"
Kidung Agung 2:8-13, Maz 45:2-10, Yak 1:17-27, Mark 7:1-23

Jika kita lihat dan renungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi sampai sekarang ini, maka kita akan menyadari bahwa seorang Kristen atau non-Kristen sekarang ini tidak ada bedanya. Perilaku yang jahat, buruk, dan berdosa seperti; korupsi, mencuri, membunuh selingkuh, menganiaya dan lain sebagainya, dilakukan juga oleh orang Kristen. Tentu, sikap dan perilaku buruk oleh orang-orang Kristen tidak serta-merta karena dia tidak rajin ke gereja, tidak ikut pelayanan, tidak baca Firman ataupun jarang berdoa. Karena pada kenyataannya seorang hamba Tuhan, aktivis, pelayan gerejawi yang rajin atau umat yang setia beribadah juga tidak luput dari sikap dan perilaku yang berdosa. Sepertinya orang Kristen tidak kebal terhadap perilaku yang buruk, menyimpang dan berdosa. Tidak ada bedanya! Artinya apa yang menjadi pesan Rasul Paulus untuk tidak serupa dengan dunia (Roma 12:2,), tidak terwujud. Mengapa demikian?

Kemungkinan yang pertama, sikap dan perilaku buruk seorang Kristen terjadi untuk sesuatu yang dikehendaki Tuhan (atau dalam bahasa yang umum, ada rancangan/rencana Tuhan di balik itu). Jika demikian halnya, maka diperlukan hati yang terbuka dari orang yang melakukan dan orang-orang yang berada di sekitarnya (misal, sebagai teman ataupun keluarga) untuk terus bergumul dan melihat hal-hal yang buruk tersebut melalui kaca mata Allah. Sehingga pada akhirnya, baik yang melakukan maupun orang-orang sekitarnya boleh berubah, bertumbuh dan semakin dewasa imannya. Kemungkinan yang kedua, kehidupan rohani (beribadah, berdoa, pelayanan dll) yang selama ini dijalani hanyalah sekedar rutinitas, kewajiban atau bahkan mempunyai motivasi yang lain (mencari nama/pujian, mencari keuntungan pribadi, dll), dan bukan dilakukan dengan sepenuh hati yang mencintai Tuhan dan sesama.

Apapun kemungkinan penyebab perilaku buruk dari orang-orang Kristen, kita hanya bisa menduga-duganya. Namun yang perlu kita sadari kembali adalah menjadi seorang Kristen merupakan anugerah terbesar yang kita terima dari Allah. Kita tidak hanya dihapus dosanya dan tidak mendapat hukuman atas dosa tersebut, tetapi kita justru diangkat jadi anak-Nya dan mendapat hak seorang anak Allah. Adakah kasih yang lebih besar dari hal ini? Tidak ada! Bolehkah kita menyia-nyiakan kasih ini dengan hidup seenaknya? Tidak!

Dalam bacaan Injil minggu ini, Tuhan Yesus mengingatkan kepada murid-murid-Nya untuk jujur dari hati dalam melakukan apa yang Tuhan perintahkan/kehendaki tidak seperti seorang munafik (Mark 7:6). Seorang munafik, menjadikan Tuhan sebagai alasan untuk tidak mengasihi dan berbuat sesuatu untuk orang tuanya (11-12). Sedangkan di dalam perbandingan antara yang najis dan tidak najis (18-23), tersirat bahwa Tuhan Yesus mengharapkan murid-murid-Nya untuk melakukan segala sesuatunya dari hati. Hati yang benar-benar mengasihi Allah dan sesama (Mark 12:30).

Surat Yakobus menuliskan mengenai hati yang menjadi tempat untuk Firman Tuhan bertumbuh (Yak 1:21). Hati tersebut adalah hati yang telah dipersiapkan untuk Firman bertumbuh yaitu dengan cara membuang perasaan-perasaan yang negatif dan niat-niat yang jahat. Lalu dalam kitab Kidung Agung, hati yang mencintai digambarkan dengan sebuah kegairahan menyambut sang kekasih dan juga kegairahan menghampiri sang kekasih dengan senyum dan kebahagiaan. Hati yang mendapatkan kelegaan dari beban hidup seperti sang kekasih yang meloncat-loncat (Kid. 2:8). Hati yang mencintai juga diperlihatkan dalam sebuah gambaran yang membangunkan (10) dan memunculkan sebuah harapan, kehidupan yang baru, suasana dan kegairahan (11-13). Dan Pemazmur menggambarkan tentang hati yang meluap-luap karena cinta yang dirasakannya dari Allah. Cinta yang membuatnya tidak tahan untuk menceritakan betapa hebat dan luar biasanya karya Allah dalam dirinya, bangsanya dan seluruh alam semesta ini.

Kata para pecinta : gunung tinggi kan kudaki, samudra dalam kan kuselami, lautan luas kan kusebrangi, tebing terjal kan kulintasi, demi cintaku padamu. Sama seperti sepasang kekasih yang selalu mengingat kata-kata/pesan-pesan dari pasangannya. Walaupun berat, tetap ia akan berusaha dengan segenap hatinya melakukannya. Demikian juga semestinya seorang Kristen yang dikasihi dan mengasihi Allah. Ia akan selalu ingat perintah-perintah Tuhan dan berusaha untuk melakukannya. Tidak ada yang berat dan sulit untuk itu, karena kasih Allah membuat hatinya bergairah, bersukacita dan bergembira.
denni setiawan

 

23 Agustus 2015
"MERAYAKAN RUMAH ALLAH, MERAYAKAN KEHIDUPAN BERSAMA"
1 Raj. 8:22-30, 41-43; Maz. 84; Ef. 6:10-20; Yoh. 6:56-69

Memiliki rumah merupakan dambaan setiap orang. Mengapa rumah? Setiap orang mempunyai alasan yang berbeda; supaya aman, tidak kepanasan atau kehujanan, tempat bertemu dengan keluarga, melepaskan kelelahan dsb. Bagaimana dengan gereja yang juga disebut sebagai rumah Allah, seorang pria berkata. “Setiap kali saya masuk ke dalam gereja, semua beban rasanya hilang. Hidup menjadi lebih ringan, lebih mudah. Apa saya tinggal di gereja saja ya supaya merasa tanpa beban setiap hari?” lanjutnya diiring tawa kecil.

Rupanya hal ini pun yang dirasakan oleh Raja Salomo, dia merasakan kehadiran Allah dan kedamaian-Nya ketika berada di bait Allah. Namun apakah Salomo merasa bangga setelah berhasil mendirikan Bait Suci? Di satu pihak, tentu saja Salomo merasa bangga karena telah berhasil menggenapi janji Allah dengan mendirikan Bait Suci yang amat megah. Ayahnya pun, Daud, tak diizinkan untuk membangun Bait Suci. Di sisi lain, Salomo sadar bahwa Allah tak mungkin dilokalisasi (ditempatkan dalam sebuah ruangan yang terbatas). Keberadaan dan kuasa Allah tak bisa dibatasi oleh tempat.

Pada umumnya, orang Kristen mengetahui secara akal bahwa Allah ada di mana-mana dan kuasa-Nya tidak terbatas. Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang Kristen yang cara hidupnya bertentangan dengan apa yang diketahuinya secara akal.

Banyak orang Kristen yang takut berbuat dosa di gereja, tetapi tidak takut berbuat dosa di rumah atau dalam pekerjaan. Banyak orang Kristen yang dari luar kelihatan saleh, bahkan mungkin menduduki posisi penting dalam gereja, tetapi hatinya penuh dengan kebusukan. Banyak orang Kristen yang yakin bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan penyakit ringan, tetapi dia tidak berharap kepada Tuhan saat menghadapi penyakit berat. Banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa Tuhan bisa menyelesaikan masalah kecil, tetapi ia mencari pertolongan alternatif saat menghadapi persoalan besar. Membatasi kuasa dan kehadiran Tuhan berarti tidak menyadari bahwa Allah tak mungkin dibatasi oleh tembok gereja.

Hari ini GKI merayakan ulangtahunnya yang ke-27, usia ini merupakan usia produktif, yang merupakan kesempatan gereja untuk kembali melihat akan tugas dan fungsinya sebagai rumah Allah, sudahkan gereja menjadi rumah bagi kehidupan bersama?, sudahkah sesama yang berada di sekitar kita melihat diri kita (sebagai gereja) sebagai gambaran Allah yang menyatakan karya keselamatan Allah?
UQ

     

16 Agustus 2015
"HIDUPLAH SEBAGAI ORANG ARIF"
I Raja-Raja 2 : 10-12, 3 : 2-14; Mazmur 111; Efesus 5 : 15-21; Yohanes 6 : 51-58

Apakah kita bersedia menjalani kehidupan sehari-hari secara arif? Tentu, kita ingin sebagai orang arif, tapi kenyataannya kita sering seperti orang bebal, misalnya kita sering mengulang kesalahan yang sama, kita sering menutup-nutupi kesalahan, kita sering menjalani hidup kurang terbuka, bahkan dengan sembunyi-sembunyi, karena banyak hal yang memalukan.

Hidup sebagai orang arif artinya orang yang bersedia menjalani hidup dengan seksama, jauh dari kesembronoan, namun hidup dalam ungkapan syukur dan kerendahan hati, bersedia tunduk dan menghargai dan mendahulukan kepentingan sesamanya. Hidup arif dan bijaksana akan menjadikan anugerah kehidupan kian berarti, seperti Raja Salomo yang meminta hikmat kepada Tuhan dan mengenakan hikmat tersebut, sehingga dia dikenal sebagai raja yang bijak.

Baiklah kita selalu mengingat Mazmur 111 : 10 “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepadaNya tetap untuk selamanya.” Kiranya kita dimampukan hidup sebagai orang yang arif, amin. (BHS).
BHS

 

2 Agustus 2015
"DIUTUS DAN DIPERLENGKAPI"
Efesus 4:1-16

Pada umumnya anak-anak yang berprestasi dalam pendidikan dan memiliki karakter yang baik karena lingkungan keluarga dimana dia dibesarkan dan diasuh adalah keluarga yang kondusif. Artinya sebuah keluarga yang diwarnai dengan kedamaian, kerukunan dan kebahagiaan. Tetapi sebaliknya, jika sebuah keluarga tidak ada kedamaian, kerukunan dan yang ada hanyalah konflik, maka hal tersebut akan mempengaruhi prestasi anak-anak di sekolah dan membentuk karakter anak yang buruk. Gereja adalah persekutuan/ komunitas orang-orang percaya dimana mereka bersama-sama bertumbuh untuk saling melayani, melengkapi, menolong dan membangun iman dan karakter satu dengan yang lainnya. Jika kondisi di atas terbangun dengan baik, maka orang-orang percaya/ gereja akan menjadi saksi-saksi Kristus yang efektif. Tetapi sebaliknya, jika terjadi ketidaknyamanan atau konflik, maka dunia akan menertawakannya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berdoa khusus masalah ini dalam Yohanes 17, supaya orang-orang percaya/ gereja menjadi satu dan supaya dunia percaya bahwa Yesus adalah Tuhan.

Surat Efesus 4:1-16, membahas beberapa hal penting untuk kita perhatikan :

1. Tuhan memberikan karunia-karunia rohani kepada setiap jemaat sesuai ukuran pemberianNya. Tidak ada seorangpun yang tidak mendapatkan karunia rohani dari Allah; yang penting adalah bagaimana masing-masing mengenali dan mempergunakan karunia itu. Karunia rohani yang kita terima dari Allah bukan untuk dibandingkan dengan karunia yang dimiliki oleh orang lain, tetapi untuk dipergunakan dengan baik.

2. Tuhan memberikan karunia-karunia kepada setiap orang untuk melayani jemaat, untuk pembangunan tubuh Kristus bukan untuk kebanggaan diri. Jika karunia-karunia itu dipakai untuk menyombongkan diri dan merendahkan orang lain, maka persekutuan itu menjadi rusak, dan rentan terjadi konflik, dan akan melukai hati banyak orang, bahkan pembangunan tubuh Kristus pun terhambat dan bahkan hancur.
3. Ketika orang-orang percaya mempergunakan karunia-karunia untuk melayani satu dengan yang lain, pada saat itulah mereka bersama-sama dapat bertumbuh dengan lebih dewasa. Bahkan melalui masalah, perbedaan pendapat dan konflik yang terjadi pun dapat dipakai sebagi media pembelajaran bersama untuk lebih dewasa dalam iman dan karakter.

Catatan untuk kita pahami adalah:
1. Melayani dengan satu karunia pun itu sudah lebih dari cukup. Artinya melayani tidak perlu menunggu menjadi orang yang ‘mumpuni’ atau sempurna. Justru ketika kita melayani, kita sedang dalam proses untuk menjadi lebih baik.
2. Perbedaan karunia dan latarbelakang dapat menjadi media konflik jika tidak diolah / dikelola dengan baik dan bijak. Melayani berarti siap menghadapi masalah dan konflik; gereja ada masalah dan konflik itu iya, karena gereja belum sempurna di dunia ini. Kesempurnaan terjadi ketika kita dipanggil oleh Tuhan kembali ke pangkuanNya. Mari kita bertumbuh bersama.
RDS

     

26 Juli 2015
"KASIH ALLAH MELAMPAUI YANG DIDOAKAN DAN DIPIKIRKAN ?"
2 Samuel 11 : 1-15; Mazmur 14; Efesus 3 : 14-21; Yohanes 6 : 1-21

Seorang gadis Kristen bercita-cita menjadi hamba Tuhan dan ia memohon doa kepada Tuhan, agar cita-citanya tercapai. Malang baginya, kakak iparnya meninggal dunia dengan meninggalkan tiga orang anak. Oleh sebab itu, ia terbeban untuk mengasuh ke tiga keponakannya dan praktis hari-hari kehidupannya habis untuk memerhatikan mereka. Menyusul, abangnya yakni ayah dari ke tiga keponakan itu juga meninggal dunia, sehingga dia merasa tak mungkin dapat merealisasikan cita-citanya menjadi hamba Tuhan. Dengan keprihatinan yang amat sangat, ia membanting tulang mencari nafkah, demi memenuhi kebutuhan hidup keponakan-keponakannya itu.

Tahun demi tahun telah lewat, keponakan-keponanakannya bertumbuh menjadi besar. Ternyata satu demi satu pada akhirnya mereka semua menjadi hamba-hamba Tuhan yang setia. Mereka melayani di pelbagai lapangan pekerjaan Tuhan, sehingga banyak orang yang percaya kepada Tuhan Yesus.

Nyata bagi kita, bahwa doa yang dinaikkan kepada Tuhan oleh gadis itu tidak terkabul, sebab dia sendiri gagal menjadi hamba Tuhan, tetapi Tuhan menjawab doanya dengan menjadikan ke tiga orang keponakannya itu menjadi hamba-hamba-Nya. Itulah kasih Allah yang melampaui permohonan doa gadis tersebut.

Dalam kenyataan hidup orang percaya, sering terjadi, bahwa Tuhan memberikan sesuatu yang melebihi harapan, sehingga orang percaya terkagum-kagum atas karunia Tuhan itu. Begitu pula kita yang merindukan karunia Tuhan akan dapat meraih sesuatu yang melebihi permohonan doa kita kepada Tuhan. Istilahnya, meminta sejengkal diberi lima jengkal. Hal ini didoakan oleh Rasul Paulus untuk jemaat Efesus, agar mereka memahami betapa lebar, panjang, tinggi, dan dalamnya kasih Kristus (ay. 18). Ya, kasih Kristus pada hakikatnya melampaui batas-batas apa pun.

Daud jatuh ke dalam dosa perzinahan, berlanjut dengan dosa kebohongan dan dosa akal bulus, lalu memuncak ke dosa pembunuhan dengan menggunakan tangan musuh Israel. Itulah yang dikatakan `dosa melahirkan dosa’, alias beranak pinak menjadi banyak. Hakikat sifat dosa memang begitu, sehingga kita harus berusaha, agar tidak jatuh ke dalam dosa dan selalu waspada. Terhadap Daud, Tuhan tetap mengasihinya, sehingga kendati dihukum Tuhan dengan pelbagai macam hukuman, pada akhirnya Daud mendapat pengampunan-Nya. Oleh sebab itu, meskipun manusia itu bebal, tetapi Tuhan tetap mengaruniai banyak hal yang baik.

Lima ketul roti dan dua ekor ikan, terlalu sedikit untuk dapat mencukupi kebutuhan lima ribu orang. Namun dalam tangan Tuhan Yesus, yang sedikit itu dapat menjadi banyak, bahkan ada lebihnya sebanyak dua belas bakul penuh. Tidakkah hal itu mengherankan? Di dalam tangan Tuhan tak ada perkara yang mustahil! Oleh sebab itu, kita harus menghitung berkat Tuhan, agar kita selalu diliputi dengan ucapan syukur kepada Tuhan. Berikutnya, Tuhan Yesus juga menolong Petrus dan para murid-Nya yang lain dari bahaya ombak danau Galilea yang mengancam hidup mereka. Sejatinya, pertolongan-Nya melebihi seruan mereka untuk meminta tolong.

Tuhan mampu memberi pengampunan kepada kita, Ia tidak mengingat-ingat dosa kita. Ia mampu dan berkuasa untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa, dan menolong kita pada saat genting, sebagaimana dialami oleh Petrus dan para murid Tuhan Yesus lainnya. Yakinlah, bahwa pengalaman mereka mendapat pertolongan, pasti juga akan kita alami, karena kita semua adalah juga para murid-Nya. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

19 Juli 2015
" MENGAPA KRISTUS MERUNTUHKAN TEMBOK PEMISAH ? "
2 Sam. 7:1-14; Mzm. 89:21-38; Ef. 2:11-22; Mrk. 6:30-34

Sebagai makhluk sosial, manusia dalam hidupnya saling membutuhkan orang lain. Dapat dipahami, dalam interrelasi itu, manusia cenderung hidup dalam kelompok-kelompok yang mempunyai kesamaan, misalnya kesamaan suku, hobby, agama, ideologi, atau profesi. Hal yang tidak wajar, adalah jika kelompok-kelompok itu berubah menjadi komplotan, geng, atau apapun namanya yang gaya dan sikap hidupnya eksklusif (hanya untuk kalangan terbatas), introvert (memusatkan pikiran kepada kelompok sendiri), dan paranoid (orang yang berbeda dianggap musuh). Orang-orang yang seperti ini menciptakan tembok pemisah dengan orang-orang lain.

Tuhan Yesus meneladankan dan mengajarkan, agar kita tidak memikirkan kepentingan diri sendiri, tetapi lebih mengutamakan orang lain, menolong dengan tanpa membuat tembok pemisah, selalu berbelas kasihan kepada siapapun, tanpa membeda-bedakan (Mrk. 6:30-34).

Dahulu orang Yahudi, orang yang bersunat, menganggap diri mereka sebagai umat pilihan Tuhan yang eksklusif, dan keselamatan hanyalah eksklusif bagi mereka. Ada tembok pemisah antara orang Yahudi dan orang yang bukan Yahudi. Orang yang tidak termasuk kewargaan Israel tidak mendapat harapan untuk keselamatan, bahkan mereka adalah manusia tanpa Allah, tidak mendapat kesempatan untuk bisa mengenal dan berjumpa dengan Allah. Firman Tuhan mengingatkan kita, bahwa kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan. Salib-Nya telah memperdamaikan manusia dengan Allah, serta manusia dengan manusia. Ia memberikan damai sejahtera kepada umat-Nya, menjadikan mereka orang-2 kudus, anggota-anggota keluarga Allah, dan menjadi tempat kediaman Allah (Ef. 2:11-22).

Umat-Nya adalah kemah tempat kediaman Allah. Karena itu, sebagai anak-anak Tuhan, kita percaya, Ia senantiasa mendiami kita, bersama-sama dengan kita, menyertai dan melindungi di segala tempat yang kita jalani, menjadikan kita berhasil, dan menempatkan kita.
Sebagai Bapa, Ia akan mendidik, bahkan menghukum, jika kita melakukan kesalahan. Tetapi seperti janji-Nya, bahwa kasih setia-Nya kepada anak-anak-Nya, tidak akan hilang dari dahulu sampai selama-lamanya ( 2 Sam. 7:1-14; Mzm. 89:21-38).

Allah telah menyelamatkan dan memelihara seluruh ciptaan tanpa membeda-bedakan, kasih setia-Nya kekal selama-lamanya. Marilah kita mengucap syukur dengan setia mengikuti pengajaran-Nya, menghargai keperbedaan latar belakang dalam kehidupan bersama.
Allah diam di dalam kita, karena itu kiranya, di manapun Tuhan menempatkan kita, orang di sekeliling kita dpt merasakan kasih-Nya melalui hidup kita. Dengan demikian, mereka dapat mengenal dan berjumpa dengan Allah sendiri. Amin.
Nancy Hendranata

     

12 Juli 2015
" SIAPAKAH RAJA KEMULIAAN ? "
2 Samuel 6:1-5,12-19; Mazmur 24; Efesus 1:3-14; Markus 6:14-29

Manusia sering mencari kemuliaan dan puji-pujian dunia melalui kekayaan dan kekuasaan. Pada bacaan Injil Markus, sosok Herodes mewakili hasrat manusia ini secara sempurna yaitu mau memuliakan diri melalui kekuasaan dan kekayaan tanpa takut akan Allah. Herodes mau melakukan apa saja demi pujian manusia. Dia tidak menghiraukan teguran Yohanes Pembaptis, sebagai hamba Tuhan ketika dia menikahi Herodias isteri Filipus adiknya. Herodes takut dipermalukan di depan para tamunya dengan memenuhi permintaan anak tirinya yang dijanjikan pasti dipenuhinya. Sekalipun memenggal kepala Yohanes Pembaptis hamba Allah sebagai hadiah permintaan anak tirinya. Berbeda dengan Raja Daud yang begitu memuliakan Allah ketika membawa Tabut Allah, tempat Allah bersemayam di atas Kerubim. Daud memuliakan Allah dengan menari sekuat tenaga tanpa malu di hadapan manusia, walaupun Daud dipandang rendah oleh Mikhal puteri Saul (2 Sam. 6:16, 21-22). Daud memuliakan Allah, tanpa peduli “apa kata dunia”. Mikhal mandul sampai matinya.

Mazmur Daud 24, mengungkapkan Raja Kemuliaan adalah Sang Pencipta yang wajib dimuliakan oleh segala ciptaan-Nya. Dialah pemilik segala ciptaan-Nya, segala milik-Nya patut memuliakan-Nya. Raja Kemuliaan adalah Kristus sendiri yang sudah datang dengan membuka pintu-pintu gerbang hati manusia.
Yesus Kristus datang mencari manusia berdosa untuk diselamatkan, kita dipilih-Nya bukan memilih-Nya untuk menerima Kasih Karunia Tuhan.

“Sebab di dalam Dia dan oleh Darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan Kasih karunia-Nya” (Efesus 1:7).

Memuliakan Allah jauh lebih mulia daripada segala kemuliaan duniawi. Efesus 1:3, 13-14 “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Di dalam Dia kamu juga — karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu — di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.”

Roh Kudus merupakan jaminan paling nyata dalam kehidupan orang percaya yang menolong pengikut Kristus melakukan kehendak-Nya yang mulia. Dengan demikian kita dapat hidup memuliakan Sang Raja Kemuliaan, Yesus Kristus, Tuhan kita. Bunda Teresa, sangat dimuliakan dan dihormati oleh dunia, karena Allah yang meninggikan. Bagaimana itu bisa terjadi ? apa yang dilakukannya ?
Bunda Teresa mengatakan : “Aku melakukan bukan yang kuingin lakukan, tetapi aku melakukan yang Kristus inginkan dalam diriku.” Haleluya, Amin.
tonny iskandar

 

5 Juli 2015
" KEKUATAN ALLAH DALAM MENGHADAPI PERGUMULAN HIDUP "
2 Sam. 5:1-10; Maz. 48; 2 Kor. 12:2-10; Mark. 6:1-13

Daud mengalahkan Goliat, dan tidak lama kemudian telah menjadi raja dan : “... makin lama makin besarlah kuasa Daud, sebab TUHAN, Allah semesta alam, menyertainya.” (2 Sam. 5:10). Apa yang dapat kita pelajari dari kisah Daud ini? Minimal, kita bisa melihat, untuk menjadi besar, ia harus berani berhadapan dengan tantangan. Ketika TUHAN “membesarkan” Daud, Ia tidak membebaskan Daud dari tantangan. Bahkan, semakin besar musuh atau tantangan yang dihadapi kelak akan berdampak signifikan dalam kesuksesan yang diraihnya.

Mari kita tengok doa-doa yang sering kita panjatkan manakala kesulitan menerpa kita. Apa yang sering kita minta? Pengalaman menunjukkan bahwa di tengah situasi sulit dan terjepit, kita lebih banyak meminta agar TUHAN mengangkat pergumulan itu ketimbang memohon agar TUHAN memberi kemampuan untuk kita dapat mengatasinya.

Untuk meminta dengan doa agar Tuhan menyanggupkan kita mengatasi (bukan menyingkirkan) masalah, ternyata memerlukan proses yang tidak mudah. Proses Paulus Rasul : meskipun giat dalam pekerjaan TUHAN, ternyata pernah dianiaya, dilecehkan, diragukan kerasulannya, dan bahkan sakit “duri dalam dagingnya”. Tiga kali berseru kepada Tuhan, namun Tuhan berkata lain (2 Kor. 12:8). Duri dalam daging adalah penderitaan, halangan Paulus untuk mengerjakan tugas panggilannya.

Tuhan tidak mengangkat dan melenyapkan sakit penyakit Paulus, bukan karena Tuhan tidak adil dan tidak mengasihi Paulus. Tuhan punya rancangan sendiri. Tuhan memberi Paulus kekuatan untuk menanggungnya. Ia melatihnya, memberi kemampuan. Tuhan mendidiknya agar tangguh (tidak manja atau cengeng).

Tuhan itu laksana seorang ayah yang tinggal di tepi sungai. Ia tidak memindahkan sungai atau rumah itu agar jauh dari jangkauan anaknya. Melainkan sang ayah melatih kemampuan anaknya agar bisa berenang supaya tidak dihanyutkan oleh air sungai itu.

Seperti dalam Injil Markus 6:6b-13, keduabelas rasul diutus untuk memberitakan Injil. Ia tidak melenyapkan rintangan-rintangan, namun Yesus memberi kuasa agar dapat mengatasinya. “Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat,…” (Mark. 6:7). Kuasa-kuasa jahat tidak disingkirkan agar para murid mudah mengerjakan tugas perutusan mereka. Kuasalah (kekuatan Allah) yang diberikan Yesus, agar setiap rintangan dapat diatasi.

Jadi dalam kehidupan ini, siapa pun tidak steril dari masalah, pergumulan, penderitaan dan kesulitan hidup lainnya. Namun yakinlah bahwa Allah di dalam Yesus Kristus telah memberi kita “modal” berupa iman, talenta, hikmat, nalar, fisik dan yang lainnya agar kita mampu memenangkan pergumulan hidup ini! Tuhan juga memberikan “sarana spiritual” berupa Perjamuan Kudus (PK) yang hari ini kita rayakan. PK dilaksanakan untuk merayakan keselamatan, bahwa orang percaya ada dalam naungan Allah yang nyata dan tetap. Pemazmur : Allah kita tetap Allah seterusnya – selamanya. Dialah yang memimpin kita (Maz. 48:15) dalam segala pergumulan hidup. Percayakan diri - berserah pada Allah.

Berserah tak sama dengan menyerah. Menyerah berarti tak mau berusaha lagi karena merasa gagal dan takut gagal lagi. Tetapi orang yang berserah kepada Tuhan adalah orang yang tetap melakukan bagiannya dengan maksimal namun mempercayakan hasil akhirnya kepada Tuhan dan tak kecewa dengan keputusan-Nya. Amin.
PKM

     

28 Juni 2015
" Kasih: Kekayaan yang Mempersatukan "
2 Sam. 1:1, 17-27; Maz. 130; 2 Kor. 8:7-15; Mark. 5:21-43

Dalam bacaan-bacaan kita hari ini, kita disuguhkan contoh-contoh tindakan kasih.
Yang pertama, Daud yang bersedih dan meratap atas kematian Saul dan Yonathan. Jika Daud meratap untuk Yonathan maka itu adalah hal yang wajar. Sebab Yonathan adalah sahabatnya dan Daud merasakan cinta dan kasih sayang yang luar biasa dari Yonathan (2 Sam 1:26). Tetapi untuk apa Daud meratapi kematian Saul. Bukankah selama ini, Saul adalah orang yang menginginkan kematiannya. Secara alamiah tentunya manusia akan merasa tenang atau senang, jika orang yang menjadi rintangan dan yang mengancam dirinya itu tiada lagi. Namun Daud berbeda dari kebanyakan orang, Daud justru merasa prihatin dan sedih atas kematian Saul. Apa rahasianya, sehingga Daud bisa seperti itu? Tentu semua setuju, jika Daud adalah orang yang memiliki hati yang mengasihi. Hati yang penuh kasih, baik kepada yang mengasihinya maupun yang membencinya.

Yang kedua, Paulus yang peduli terhadap keadaan jemaat Korintus yang dalam kondisi tidak akur (1 Kor. 1 dan 2). Sebagian Jemaat Korintus meragukan kerasulan dan pelayanan Paulus. Namun demikian, Paulus tidak malah membenci ataupun memprovokasi anggota jemaat yang berada di pihaknya. Tetapi Paulus berusaha mendamaikan dan mengingatkan mereka untuk bersatu. Dalam perikop yang menjadi bacaan kita hari ini merupakan bagian dari upaya Paulus memberikan contoh dan teladan serta mendorong Jemaat Korintus/Jemaat Non-Yahudi untuk mengasihi dan memberi bantuan kepada Jemaat Yahudi di Yerusalem yang seringkali juga memandang sebelah mata terhadap pelayanan Paulus. Apa rahasianya? Tentu jawabannya masih sama, yaitu hati yang penuh kasih. Sama seperti yang dimiliki oleh Daud.

Dan yang ketiga, tentu kasih dari Tuhan Yesus yang menyembuhkan perempuan yang mengalami pendarahan selama 12 tahun dan anak Yairus yang berusia 12 tahun. Dalam perikop ataupun peristiwa itu, kita bisa melihat bahwa kasih adalah kekuatan dan daya yang memulihkan dan menyembuhkan. Kasih bukan benda, objek, ataupun sesuatu yang mati. Jika kasih adalah daya, penggerak dan kekuatan, maka kasih itu bisa melakukan sesuatu seperti pemulihan, menghidupkan, memperdamaikan, dan tentunya mempersatukan.

Sebagai manusia yang lemah, kita pasti ingin memiliki kasih seperti kasih Daud, kasih Paulus, apalagi kasih Yesus. Sehingga kita bisa mengasihi saudara yang sudah melukai kita, orang yang menghancurkan bisnis kita dan orang yang telah membuat hati kita terluka. Seperti yang Tuhan kehendaki yaitu mengasihi sesama kita. Mungkinkah itu terjadi? Ya dan pasti. Jika kita mau berproses dan diproses Tuhan dalam beriman untuk itu. Ketika bayangan orang yang melukai terlintas dalam hidup kita, maka berbahagialah kita karena sejatinya Tuhan sangat mengasihi kita agar kita mau berdamai dengannya. Kita sedang diproses untuk memiliki kasih yang mendamaikan dan mempersatukan.
DS

 

21 Juni 2015
" TEGUH BERTUMBUH DI TENGAH HIDUP YANG GADUH "
1 Sam. 17:37,41-49; Maz. 9:10-21; 2 Kor. 6:1-10; Mark. 4:35-41

Setiap orang menyadari bahwa hidup ini pasti tidak selalu lancar. Terkadang, atau sering seseorang harus berhadapan dengan berbagai tantangan, kesulitan dan persoalan. Dalam situasi seperti ini, tidak jarang hidup beriman dihayati sebagai bentuk menghindari tantangan, kesulitan dan persoalan. Seakan-akan, semakin beriman seseorang, semakin absen persoalan dari kehidupan; semuanya lancar dan beres.

Hidup beriman yang dihayati sebagai hidup yang lancar dan beres tentu bukanlah iman yang bisa dipertanggungjawabkan. Iman yang sejati ialah iman yang tetap berbicara dalam segala keadaan, yang memberi keberanian dan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi dalam hidup dan bukan menghindari kesulitan, tantangan dan persoalan. Anthony Robbins pernah mengatakan sesuatu yang menarik, seperti dalam tema hari ini, “Every problem is a gift – without problems we would not grow”. Jadi, segala kesulitan, tantangan dan persoalan hidup itu sesungguhnya adalah hadiah atau pemberian yang pantas disyukuri, karena semua itu dapat membuat kita semakin bertumbuh. Kita dapat belajar, diperkaya oleh pengalaman dan semakin bijaksana, manakala kita bersedia menghadapi kesulitan, tantangan dan persoalan dalam hidup kita.

Dalam Bacaan I, 1 Samuel 17:32-49, dikisahkan bagaimana Saul yang menjadi tawar hati oleh karena keperkasaan Goliat-tengah diyakinkan oleh Daud, supaya dirinya diizinkan berperang melawan Goliat. Daud meyakinkan Saul, dengan menceritakan pengalamannya sebagai gembala yang terbiasa bertarung habis-habisan melawan binatang buas (ayat 34-36). Daud yakin mampu mengalahkan Goliat, karena penyertaan Tuhan selama ini atas dirinya sudah melepaskannya dari cakar singa dan beruang. Allah yang sama akan melepaskannya dari tangan Goliat (ayat 37). Keyakinan Daud akan penyertaan dan perlindungan Tuhan terbukti nyata dengan kemenangannya melawan Goliat. Pengalaman iman Daud bertumbuh semenjak ia menjadi gembala, terlebih setelah mengalami kemenangan atas Goliat. Situasi sulit dihadapi Daud dengan keyakinan akan pertolongan Tuhan.

Rasul Paulus dan Daud menceritakan perbuatan ajaib Tuhan, kuasa Tuhan atas mereka, seperti yang juga disaksikan dalam Mazmur 9. Pemazmur meyakini keajaiban perbuatan Tuhan, terutama bagi mereka yang dalam ketertindasan dan kelemahan. Namun, tidak semua orang bisa seperti Rasul Paulus dan Daud. Terkadang, seseorang bisa menjadi tawar hati seperti Saul, atau seperti murid-murid yang ketakutan meskipun ada Yesus bersama mereka.

Melalui tema hari ini, kita akan belajar dari tokoh Rasul Paulus, juga Daud, yang bersaksi tentang pengalaman imannya dalam menghadapi berbagai kesulitan, tantangan dan persoalan bersama dengan Tuhan yang berkuasa. Kita juga akan belajar dari pengalaman iman murid-murid Yesus yang ketakutan menghadapi badai dahsyat. Mereka juga belajar bersama Tuhan Yesus menghadapi badai dahsyat, dan dalam situasi seperti itulah mereka makin mengenal kuasa-Nya.
DP

     

14 Juni 2015
" IMAN YANG MEMPERBAHARUI MATA HATI "
I Samuel 15:34- 16:13, Mazmur 20, 2 Korintus 5:6-17, Markus 4:26-3

Tidak sedikit orang terpaksa memakai kaca mata karena tidak bisa melihat dan membaca dengan jelas. Secara rohaniah kita juga membutuhkan kaca mata iman supaya mampu memandang, menilai dan menafsirkan realitas kehidupan secara lebih utuh dan berkualitas. Beberapa hal penting berhubungan dengan tema tersebut.

Pertama, 2 Kor. 5:17, mengatakan: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Iman kepada Kristus yang memperbaharui hati, pikiran, jiwa, roh, kehendak, emosi dll, menjadi dasar utama untuk memandang dan menyikapi realitas hidup kita. Iman yang demikianlah yg mestinya kita miliki, sehingga kita tidak salah menilai, bertindak dan memaknai kehidupan ini. Singkatnya iman di dalam Yesus Kristus inilah yang menjadi kaca mata kita untuk menilai, memahami, menyikapi hidup pada diri sendiri, orang lain, maupun terhadap Tuhan.

Kedua, 2 Kor. 5:16: “Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilaiNya demikian.” Rasul Paulus menyaksikan bahwa dulu sebelum dia berjumpa dengan Kristus dan bertobat, ia menilai Kristus menurut ukuran manusia. Artinya, Yesus Kristus dan para pengikutNya harus dimusnahkan karena mengajarkan ajaran sesat. Itulah sebabnya rasul Paulus giat menganiaya dan membunuh para pengikut Kristus. Tetapi, setelah beriman kepada Kristus, ia menilai Kristus dengan kaca mata iman. Kristus adalah segala-galanya, bahkan Kristus menjadi tujuan dari seluruh kehidupannya. Hidup adalah bagi Kristus, mati adalah keuntungan.

Ketiga, Apa implikasinya bagi kita sekarang?

1. Kita harus sungguh-sungguh mengalami pembaharuan hidup oleh dan melalui iman kepada Yesus Kristus. Tanpa pengalaman iman, kita akan memandang kehidupan ini dengan kacamata gelap, kabur dan tidak jelas. Jika mata hatimu gelap, maka seluruh kehidupanmu juga gelap. Sebab dari dalam hati akan keluar segala yang jahat dan yang menajiskan (Mark. 7:20-21).
2. Memandang dan memperlakukan orang lain/ sesama seperti memandang dan memperlakukan dirinya sendiri. Sebagaimana Tuhan Yesus menerima, mengampuni, menghargai dan tidak menghakimi dirinya, maka kita akan melakukan itu kepada sesama/ orang lain.
3. Masalah dan persoalan hidup kita sikapi sebagai bentuk ujian iman dan pembentukan karakter, bukan sebagai ancaman yang menakutkan. Karena Kristus telah menyelesaikan dan telah mengalahkan semuanya itu di kayu salib.
4. Yesus Kristus adalah sumber kehidupan, kebahagiaan, damai sejahtera dan terang hidup dan kasihNya tidak pernah berhenti mengalir dalam kehidupan kita.
RDL

 

7 Juni 2015
" MENJADI SEPERTI YANG TUHAN MAU "
Markus 3:13-15; 10:15

Rekrutmen karyawan wajar dengan meneliti pelamar dan memilih yang sesuai kriteria yang diperlukan. Bagaimana dengan Yesus saat memanggil dan memilih 12 orang untuk dijadikan murid? Apakah Yesus juga mengajukan prasyarat bagi mereka? Melihat karakter dari murid-murid-Nya, apakah Yesus memilih mereka tanpa menyeleksi lebih dahulu? Apakah Ia tidak tahu Yudas Iskariot akan berkhianat? Bukankah Yudas Iskariot lemah dalam soal uang, mengapa justru dipercaya menjadi bendahara mengurusi soal keuangan, apakah Yesus tidak keliru dalam hal ini? Pikiran Yesus tidak terjangkau oleh manusia! Dia mau mendidik dan merubah watak manusia.

Tuhan memanggil seseorang apa adanya dan rindu mengubah karakter manusia menjadi seperti karakter-Nya. Seperti mengubah tabiat Petrus yang mudah menyangkal Yesus karena takut menderita sengsara (Mat. 26:69-74) menjadi pekabar Injil yang berani (Kis. 4). Yesus memulihkan iman Tomas yang tidak percaya akan kebangkitan-Nya (Yoh. 20:24-29).

Bagaimana dengan Yudas Iskariot ? Sejak awal Yesus mengetahui sifat Yudas Iskariot (=pembohong) dan sifat aslinya tidak dapat ditutup-tutupi di hadapan-Nya. Sebenarnya Yudas mendapat anugerah/karunia Allah tetapi dia menyia-nyiakan didikan perkataan/Firman Yesus dan tidak mau diubah, dan akhirnya mengkhianati Yesus. Dengan kata lain, iman dari Yudas Iskariot tidak pernah bertumbuh.

Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan.”

12 murid ini dipanggil untuk ‘diasingkan’ agar selalu bersama Yesus. Untuk apa? Untuk memperoleh didikan khusus selama ± 3½ tahun. Faktanya, tidaklah mudah orang hidup bersama dengan latar belakang berbeda. Seorang nelayan tinggal bersama pemungut cukai. Mereka berbeda kebiasaan dan tingkat kecerdasan, di sinilah iman dan kesediaan menerima panggilan Tuhan diuji.

Menyia-nyiakan anugerah Allah sama dengan menyia-nyiakan hidup. Manusia adalah makhluk yang telah jatuh dosa, ia hina. Namun Tuhan tetap menghargai manusia dan mengasihinya. Tuhan Yesus datang dan memberikan diriNya, agar manusia dapat menjadi seperti yang Tuhan mau. Mau menerima keselamatan, mau mengubah karakternya, mau diutusNya, dan melakukan kehendakNya sekaligus memberikan damai sejahtera pada yang melakukannya.

Hari ini kita memperingati hari anak dan ada anak yang dibaptiskan bersama dengan baptis dewasa dan sidi. Semua menjadi tanda bahwa inilah persekutuan orang percaya yang menyambut Kerajaan Allah. Dimana Roh Kudus telah menerangi dan merubah karakter buruk kita untuk menjadi seperti yang Tuhan mau. MENJADI murid-murid yang “menyertai Yesus dan sedia diutusNya” ... Yesus : “Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya” (Mrk 10:15).

Iman kristen bermula dari satu kelompok, dari persekutuan. Majemuk tetapi berpadu menjadi satu. Intisarinya adalah murid-murid yang dibentuk untuk mengikatkan manusia pada sesamanya dan menempatkan manusia dengan tugas : agar hidup bersama orang lain dan untuk hidup satu sama lain. Untuk itu diperlukan sifat anak kecil yang pada dasarnya memiliki kerendahan hati, taat, belum ada kepalsuan, dan mudah menaruh percaya. Sikap hati seperti anak-anak dan bimbingan Roh Kudus diperlukan setiap murid Yesus, untuk tekun belajar memelihara iman, kesetiaan, pengenalan akan Yesus dan menjalankan kehendakNya. Amin.
PKM

     

31 Mei 2015
" KARYA TRINITAS YANG MEMBAHARUI: DARI ATAS KE DALAM "
Yes. 6:1-8, Maz. 29, Roma 8:12-17, Yoh. 3:1-17

Ada pertanyaan yang menarik seputar tema di atas dalam persiapan Ibadah hari kamis yang lalu, yaitu mengapa dari atas ke dalam? Pertanyaan tersebut bukan hanya sekedar mempertanyakan soal logika berpikir tentang antonim/lawan kata atas=bawah, ke luar=ke dalam. Secara logis semestinya dari atas ke bawah, atau dari luar ke dalam. Tetapi lebih dari itu. Apa makna pembaharuan dari atas ke dalam? Tentu tema tersebut masih terkait dengan peristiwa Pentakosta minggu lalu, di mana murid-murid Yesus menerima pencurahan Roh Kudus yang dari atas. Dan apakah Roh yang dari atas itu hanya turun ke bawah, dalam arti hanya memperbaharui logika/pemahaman murid-murid tentang Yesus atau lebih dari itu? Saya tegaskan lebih dari itu yaitu pembaharuan ke dalam, terkhusus dalam rangkaian bacaan leksionari kita.
Apa maksudnya?

Bacaan 1 memperlihatkan dengan jelas gambaran tentang sebuah pengampunan yang diberikan Allah kepada Yesaya karena dosa yang diperbuat mulut, melalui bara yang disentuhkan ke mulut Yesaya (6:7). Dalam kaitannya dengan membaharui dari atas ke dalam, Allah membaharui umatnya pertama-tama dengan mengampuni perkataan dan perbuatan umat-Nya. Kemudian Allah menguduskan umat-Nya untuk berbuat dan melakukan hal-hal yang kudus tentunya. Dengan pengampunan dan pengudusan yang dari Allah, umat seharusnya berani dan siap seperti Yesaya dengan mengatakan, “Ini aku, utuslah aku!” Yang merupakan tema dan panggilan kita sebagai anggota Jemaat GKI Pasteur, Bandung, tahun 2015-2016.

Bacaan 2 dari Roma menyaksikan pembaharuan yang Allah berikan sungguh luar biasa. Kita sebagai umat-Nya dijadikannya anak yang berhak menerima janji-janji Allah (8:17). Dan kita tidak lagi diperbudak oleh dosa dan nafsu kedagingan, ketika Roh Allah itu memimpin roh kita. Melalui pimpinan Roh Allah yang masuk ke dalam hidup kita dan memimpin roh kita, kita boleh menikmati persekutuan yang dekat, hangat dan intim bersama Allah – kita berseru “ya Abba, ya Bapa!” (8:15). Sehingga dengan dan olehnya, kita dimampukan untuk melalui dan mengalami penderitaan bersama-sama dengan Kristus. Yang pada akhirnya kita juga memperoleh kemuliaan bersama-sama dengan Kristus.

Bacaan Injil Yohanes merupakan gambaran pembaharuan dalam cara pandang, cara berpikir dan cara memahami tentang kelahiran baru dalam Allah. Dan hal itu berkaitan dengan pembaharuan roh manusia. Pemahaman Nikodemus tentang segala sesuatu yang dari Allah/Roh masih hanya dalam tahapan logika, pikiran, atau otak manusia.
Di sini Yesus menjelaskan kepada Nikodemus bahwa untuk percaya pada Allah dan pembaharuan yang Allah lakukan, tidak akan mungkin hanya menggunakan pikirannya saja.

Tetapi perlunya roh manusia (orang biasanya mengatakan hati atau hati nurani atau perasaan atau jiwa) untuk boleh terbuka dan menerima pimpinan Roh Allah. Allah yang misteri itu tidak mungkin bisa dimengerti, dialami dan dirasakan hanya dengan akal budi atau pikiran saja. Karena itu, di bagian lain dalam pengajaran-Nya, Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya untuk mengasihi Allah dengan segenap hatimu, jiwamu dan akal budimu (Mat. 22:37).

Dengan demikian, pembaharuan yang dari atas ke dalam adalah pembaharuan yang dilakukan oleh Allah dalam segenap aspek hidup manusia (roh/jiwa/hati, akal budi dan perbuatan) dan segenap aspek kehidupan manusia (keluarga dan masyarakat, kehidupan pribadi dan sosial, dsb). Dan semua itu untuk kemuliaan Tuhan, sehingga Mazmur 29 dapat menjadi pengalaman iman bagi umat manusia.
denni setiawan (ds)

 

24 Mei 2015
" Karya Roh Kudus Bagi Dunia "
Kisah Para Rasul 2:1-21; Maz 104:24-35; Roma 8:22-27; Yoh 15:26-27, 16:4b-15

Seperti apakah karya Roh Kudus dalam gereja ? Bahasa Roh yang muncul dalam kisah Pentakosta (Kisah 1) sebagai contoh, adalah bahasa yang dimengerti manusia, sehingga bermacam-macam orang dari berbagai tempat memahami apa yang dimaksudkan. Gereja mesti terus mengoreksi diri, apakah kehadirannya di dunia mampu menterjemahkan dengan jelas maksud karya Roh Kudus dalam dunia.
Pertama, gereja yang dipenuhi oleh Roh Kudus adalah gereja dipenuhi oleh suka cita yang luar biasa. Dan bila benar-benar ada sukacita, maka dengan sendirinya kita akan terdorong untuk membagikan dan menceritakan tentang Dia kepada orang-orang lain.
Kedua, gereja yang dipenuhi oleh Roh Kudus adalah gereja yang beriman, berharap dan mengasihi. “Demikian tinggal ketiga hal ini yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar diantaranya adalah kasih” (IKor 13:13). Berharap berarti berani berjalan di depan, tidak hanya terus menoleh ke belakang. Berharap berarti gereja berani terus maju ke depan dan tidak tertelan oleh kenyataan. Terus mencari kemungkinan-kemungkinan baru, tidak hanya meneruskan kebiasaan – kebiasaan lama. Mengasihi berarti menterjemahkan baik iman maupun pengharapannya itu dalam sikap dan tindakan nyata terhadap sesama. Sikap kesetiakawanan yang penuh. kepedulian yang tulus. Membuka hati dan mengulurkan tangan. Saling berbagi dan membagi. Kalau gereja dan orang kristiani benar-benar mengasihi, ah, mungkin Bidang Kespel – Kesaksian dan Pelayanan tak perlu lagi ada. Kasih itu sendiri yang akan menjadi saksi yang paling otentik dan efektif.

Karya Roh yang manusiawi itu juga dinampakkan dalam perkataan Yesus dalam injil Yohanes (Yoh 15), yaitu bahwa Roh yang datang adalah Roh yang menginsafkan dunia akan dosa, penghakiman, dan meyakinkan orang akan kebenaran. Gereja menjadi komunitas percontohan bagi dunia.

Gereja di tengah dunia tak lepas dari derita, namun Roh Kudus memampukan gereja untuk turut berkarya dalam karya Roh Kudus bagi dunia. Untuk hal ini, gereja perlu mewaspadai adanya begitu banyak jebakan di masa kini, yang disadari atau tidak, orang bisa menjadi konsumtif, hedonis, dan egois. Ketika komunitas kristen jatuh pada pola dunia semacam itu, ia tidak menjadi komunitas percontohan. Karya Roh Kudus dalam peristiwa Pentakosta memampukan umat berperan aktif memperjuangkan persekutuan yang patut diteladani dunia.

 

     

17 Mei 2015
"DIKUDUSKAN DALAM KEBENARAN FIRMAN "
Kisah Para Rasul 1:15-17,21-26 ; Mazmur 1 ; 1 Yohanes 5:9-13 ;
Yohanes 17:6-19

Kristen sejati bukanlah agama, karena agama berisi peraturan-peraturan dan ritual usaha manusia mencari Allah untuk diselamatkan. KeKristenan adalah upaya Allah mencari manusia berdosa melalui Yesus Kristus untuk menyelamatkannya. KeKristenan bukan hanya karena mengaku Kristen, KeKristenan bukan hanya tambahan atau sebagai nilai plus dalam hidup anda. KeKristenan berarti Yesus Kristus datang ke dalam kehidupan anda, dan mengambil alih pimpinan dalam hidup anda. Kekristenan bukan seperti orang membeli tiket pertandingan dan duduk di tepi lapangan sebagai penonton. Kekristenan sejati di mana kita ikut terlibat di dalam lapangan, tidak hidup untuk dirinya sendiri tetapi untuk kemuliaan Allah.

Injil Yohanes 17:6-19, adalah bagian doa syafaat Tuhan Yesus untuk para muridNya, sebagai milik Allah karena hidup menuruti Firman Allah yang adalah Kristus sendiri. Isi doaNya supaya Yesus dipermuliakan melalui kehidupan murid-muridNya dan mereka dipelihara dalam namaNya yang telah diberikan oleh Allah Bapa yaitu disatukan dalam nama Yesus. Yesus telah memberikan Firman Kebenaran yang bukan dari dunia, yang menjadikan mereka bukan dari dunia, dan dunia membenci mereka, tetapi Allah tetap melindungi mereka dari yang jahat yaitu hikmat orang fasik (Mazmur 1). Allah mengutus AnakNya ke dunia dan mengutus murid-muridNya ke tengah dunia untuk menyampaikan kebenaran Injil yang mereka hidupi.

Doa untuk pelayananNya, doa untuk pelayanan murid-muridNya, serta bagi bagi orang-orang yang menjadi murid oleh pelayanan mereka, supaya mereka menjadi satu seperti Bapa di dalam Anak, dan Anak di dalam Bapa, dan setiap orang percaya di dalam Anak dikuduskan oleh Kebenaran Firman Allah. (1 Yohanes 5:11-12).

Dunia mengenal Yesus sebagai orang yang sangat terkenal, tetapi tidak banyak orang Kristen sendiri mengenal Alkitab, apalagi hidup dalam Firman Allah. Mahatma Gandhi pernah berkata : Saya mengasihi Yesus Kristus, tetapi saya membenci orang Kristen karena tidak hidup berpadanan dengan Alkitab. Kalau Kristus hidup disetiap orang Kristen, pasti seluruh India menjadi pengikut Kristus. Kita dikuduskan oleh kebenaran Firman Allah, dan Allah Roh Kudus memberi kita kuasa untuk memberitakan Injil untuk keselamatan dunia.
Sudahkah anda hidup selaras dengan Firman Tuhan ?
Apa yang anda inginkan dalam kehidupan anda ?
tonny iskandar

 

10 Mei 2015
" KEKUATAN KASIH SEBAGAI KARAKTER PARA ‘SAHABAT ALLAH’ "
Kis. 10:44-48; Mzm. 98; 1 Yoh. 5:1-6; Yoh. 15:9-17

Sekarang ini sedang terjadi tren untuk mengukur indeks kebahagiaan dunia. Berbagai lembaga melakukan survei dengan memakai berbagai metode dan faktor penentu kebahagiaan seseorang. PBB memrakarsai survei melalui Sustainable Development Solutions Network (SDSN), dan telah menyatakan Swiss sebagai negara paling bahagia dunia (Kompas, 25 April 2015). Lembaga survei yang lain menetapkan bukan Swiss yang mempunyai indeks kebahagiaan tertinggi. Jadi, tidak ada satu kriteria yang pasti untuk kebahagiaan. Menurut SDSN, tingkat kemakmuran yang lebih tinggi, hanyalah satu faktor yang agak berpengaruh. Hal lain yang sangat penting untuk kebahagiaan adalah masyarakat yang saling memercayai, masyarakat yang murah hati dan ringan tangan membantu.

Semua ini dapat terpenuhi oleh hal yang orang Kristen kenal dengan “kasih”. Jika demikian halnya, maka seyogianya bagi kita, tidaklah sulit untuk memenuhi persyaratan hidup bahagia ini. Tuhan Yesus mengajar kita, agar kita senantiasa menerapkan kasih dalam kehidupan kita. Kita tinggal di dalam kasih Kristus, dan kasih Kristus itulah yang menghidupi kita, serta memancar keluar dalam kehidupan setiap orang percaya. Kristus menyebut kita sahabat-sahabat-Nya, jikalau kita mengerti apa yang Dia beritahukan dan perintahkan bagi kita, yaitu mengasihi seorang akan yang lain. Biasanya seseorang yang bersukacita, akan lebih mudah untuk melakukan perbuatan kasih. Kristus menaruh sukacita-Nya yang penuh untuk memberi kekuatan yang memampukan kita untuk saling mengasihi. Ia sendiri telah memberi teladan bagaimana mengasihi dengan kasih yang agung, yaitu menyerahkan nyawa-Nya bagi kita semua, para sahabat-Nya

Kita telah dipilih dan ditetapkan-Nya untuk turut ambil bagian dalam karya kasih-Nya dengan pergi membagikan keselamatan yang daripada-Nya, dan menghasilkan buah, memberikan hidup kita bagi kebahagiaan setiap ciptaan Tuhan.

Kita juga disebut anak-anak Allah, jika kita menuruti perintah-perintah-Nya, yaitu mengutamakan kasih kepada Allah dan sesama kita, melebihi apapun yang ada di dunia. Kita tidak akan berhasil untuk menaati perintah-perintah-Nya, jika kita hanya mengandalkan diri sendiri, tetapi setiap orang yang beriman kepada-Nya, akan dimampukan-Nya untuk mengalahkan segala godaan dunia.

Jadi, apakah kita bisa menjadi anak-anak Allah dan para sahabat-Nya yang setia? Jawabnya pasti bisa. Karena Tuhan sendiri yang memberi kekuatan kasih dan kuasa kepada kita untuk menuruti kehendak-Nya, yaitu hidup saling mengasihi, tidak lelah mewujudkan kasih secara nyata dalam seluruh kehidupan kita, serta membawa orang lain untuk menjadi anak-anak dan para sahabat Allah juga. Amin.
Nancy Hendranata

     

3 Mei 2015
" MELEKAT PADA KRISTUS "
Kisah Para Rasul 8 : 26-40; Mazmur 22 : 26-32; 1 Yohanes 4 : 7-21; Yohanes 15 : 1-8

Apa arti 'melekat’? Melekat berarti `lengket’, punya hubungan akrab yang mengikat tak terpisahkan. Ya, melekat di antara seseorang dengan temannya, sehingga di mana ada si A, pasti si B juga ada di sana. Demikian pula ikatan suami dan istri, kakak dan adiknya, tak hanya berdekatan dalam masalah jarak, tetapi juga berkaitan dengan suasana hati kedua belah pihak yang bersangkutan. Begitu pula hubungan di antara orang Kristen dengan Tuhan Yesus, dekat, akrab, mengikat, dan tak terpisahkan.

Memang begitukah hubungan kita dengan Tuhan Yesus? Seyogianya begitu, sehingga lukisan yang dikemukakan dalam Yoh. 15:1-8 adalah hubungan di antara pokok anggur dengan ranting-rantingnya. Pokok anggur adalah Tuhan Yesus, sedangkan ranting-ranting-Nya adalah kita (ay. 5). Tanda dan bukti keakraban hubungan itu tampak ketika ranting-ranting itu tinggal/melekat pada pokok anggur dan berbuah banyak. Sebaliknya jika tidak akrab, ranting-ranting itu tidak berbuah, bahkan kering, sehingga harus dipotong, dikumpulkan, lalu dicampakkan ke dalam api untuk dibakar (ay. 2, 6). Itulah hubungan vertikal di antara kita dengan Tuhan. Bagaimana hubungan horizontal kita dengan sesama manusia?

Keadaan melekat dengan Tuhan itu berpengaruh besar terhadap hubungan kita dengan sesama. Wujudnya adalah kasih, ya, kasih kepada sesama tanpa menaruh kebencian, mengingat Allah terlebih dahulu mengasihi kita yang membuat kita tinggal di dalam Dia, maka semestinya kita juga mengasihi sesama manusia (1 Yoh. 4:12,16,20). Ibarat bola sodok yang disodok pemainnya secara berantai akan mengena kepada bola-bola sasaran berikutnya. Keadaan itu diawali ketika kita mengakui, bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Allah yang menjadi Juruselamat kita, lantas kita pun menghampiri orang lain untuk bersaksi tentang Dia (ay. 14-16).

Sekiranya kita telah sampai pada tahap demikian, kita pun berada dalam keadaan melekat pada Allah dan mengasihi sesama manusia. Sebuah keadaan yang ideal, sebab begitulah yang Allah kehendaki terjadi pada diri kita selaku orang-orang Kristen, agar kita tidak memonopoli keselamatan bagi diri kita sendiri, tetapi siap untuk berbagi dengan orang-orang lain.

Ketika Filipus menjumpai sida-sida (eunugh, pria yang dikebiri) yang berjabatan sebagai Menteri Keuangan Etiopia dalam perjalanannya ke Yerusalem, Filipus diliputi oleh keadaan melekat pada Allah, sehingga ia pun tergerak dalam kasihnya untuk menjumpai sida-sida itu dan membimbingnya (Kis. 8:27-31). Maklum, sida-sida itu `masih belajar’ mengenal Tuhan Yesus melalui bacaan dari kitab nabi Yesaya 53:7,8.
Uraian dan keterangan Filipus itu mengantar sida-sida tersebut dalam iman kepada Tuhan Yesus, sehingga pada saat itu juga ia minta dibaptis (Kis. 8 : 36-39 a).

Nyata, bahwa keakraban kita dengan Tuhan membuat kita pun akrab dengan sesama manusia. Tentu jika sebaliknya, maka kebalikannyalah yang terjadi. Oleh sebab itu, melekatlah kepada Tuhan, agar hati kita tergerak untuk membawa orang datang dan percaya kepada Tuhan Yesus, baik mereka yang punya hubungan darah dengan kita yaitu anak cucu (Mzm. 22 : 31), maupun bangsa yang akan lahir (ay. 32). Sekali lagi melekatlah pada Tuhan, maka hati kita akan digerakkan oleh-Nya untuk melakukan kehendak-Nya. Amin .
Oleh Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

26 April 2015
" Tawaran Gembala Agung: Hidup Berkelimpahan Dalam Komunitas "
1 Yoh 3:16-22; Maz 23; Kis 4:5-12; Yoh 10:11-118

Sesuatu yang luar biasa terjadi dalam hidup Petrus dan Yohanes, serta para murid Yesus, ketika Roh Kudus dicurahkan memenuhi hidup mereka. Mereka menyadari apa arti hidup yang kekal, hidup yg diberkati dengan kepenuhan dan kelimpahan kasih karunia Roh. Maka dengan berani mereka mengabarkan Injil kerajaan Allah di Bait Allah.

Orang yang berkekurangan adalah pemberian dari Allah untuk orang yang berkelebihan, sebagai kesempatan untuk membagikan apa yang ia punyai. Seorang pengemis yang lumpuh sehingga tidak bisa memenuhi kehidupannya secara mandiri. Maka sepanjang hidupnya ia meminta-minta uang di pelataran Bait Allah. Saat ia mengemis pada Petrus dan Yohanes, mereka menjawab “Emas dan perak tidak ada padaku, tapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu”.

Dunia menyamakan kelimpahan dengan berlebihnya kekayaan emas, perak, atau harta benda. Tapi kelimpahan yang Tuhan janjikan jauh lebih besar dari itu. Ia menjanjikan kepenuhan hidup dalam Roh Kudus, yang berekspresi dalam berbagai Karunia Roh. Maka Petrus dan Yohanes memberikan lebih dari emas dan perak: kekuatan untuk menjalani kehidupan. Maka orang lumpuh ini bisa berhenti mengemis, dan mampu memenuhi kebutuhannya, dan bahkan mampu menjadi berkat bagi orang lain.

Kematian dan kebangkitan Kristus telah merontokkan belenggu kuasa dosa. Kita disucikan untuk bisa menerima Allah hidup dalam diri kita setiap saat. Kita dilahirkan kembali dalam air dan Roh. Air hidup dari Allah menyegarkan jiwa kita. Roh Kudus seperti angin besar yang mengembangkan layar bahtera hidup kita secara penuh, mendorong orang percaya mengarungi samudera kehidupan, ke tujuan manapun Allah mengehendaki.

Kita, yang selalu berdoa memohon berkat dari Allah tapi tidak mau membagikan kepada yang membutuhkan, tidaklah berbeda dengan pengemis lumpuh di pelataran Bait Allah. Bukan itu visi Allah tentang hidup manusia. Petrus dan Yohanes melihat bahwa kita tidak butuh emas atau perak, karena itu akan menahan kita tetap lumpuh seperti pengemis. Kita butuh Roh Kudus, yang menguatkan kaki kita untuk berjalan ke mana Allah menghendaki.

Hidup berkelimpahan berarti hidup yang dipenuhi Roh Kudus, sehingga kita menghidupi hidup yang sebenarnya. Melalui kepenuhan dalam Roh dan berkat kasih, Allah menggunakan kita untuk memberikan karunia Nya kepada manusia.

Allah menggembalakan manusia melalui Roh Kudus dalam hidup kita. Hidup kita tidak lagi kempes, mengkerut, lumpuh, dan layu oleh ketakutan dan beban hidup. Kita tidak lagi hidup dlm ketakutan melakukan kebenaran, karena Yesus adalah Gembala yg menyertai kita dalam gunung sukacita maupun lembah kekelaman.

Marilah kita membangun komunitas kita, baik di dalam jemaat maupun di masyarakat, melalui karunia Roh yang sudah Allah curahkan bagi kita dengan melimpah.
AL

     

19 April 2015
" KEBANGKITAN ADALAH PENERIMAAN "
Kis. 3:12-19; Mazmur 4; I Yohanes 3:1-7; Lukas 24: 36-48

Paskah adalah peristiwa Perayaan penerimaan, dimana Tuhan Yesus menjadi tuan rumah yang menyediakan makanan yang memuaskan dengan penuh kasih. Ia membangun suasana keriaan dan kehangatan untuk para tamu undangan. Ketika Yesus Kristus bangkit dari kuburan dan menjumpai para murid, baik secara individu maupun secara kelompok. Perjumpaan Yesus dengan mereka membuktikan bahwa Yesus telah menerima dan mengampuni dosa dan kesalahan mereka. Petrus seorang murid yang menghianati Yesus tiga kali, dosa penghianatan yang besar, namun Yesus telah menjumpai dia secara pribadi dalam Yoh. 21:15-19. Dalam perjumpaan itulah Petrus diterima, diampuni dan dipulihkan oleh Yesus Kristus. Thomas yang tidak percaya bahwa Yesus telah bangkit, meskipun para murid telah menyaksikannya, namun ia tetap tidak percaya. Kemudian Yesus menjumpainya secara pribadi, dan pada saat itulah Thomas mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Allah. Ketika dua orang murid dalam perjalanan menuju ke Emaus, mereka tidak percaya bahwa Yesus telah bangkit seperti apa yang diperbincangkan oleh banyak orang. Yesus Kristus menjumpai mereka dalam perjalanan itu, maka merekapun akhirnya percaya; iman mereka dipulihkan. Ketika Yesus mati, dikuburkan para murid dalam suasana ketakutan, kecemasan, rasa bimbang menguasai mereka, Yesus menjumpai mereka dan mengatakan “Damai Sejahtera bagi kamu semua”. Melalui perjumpaan itu suasana ketakutan, keputus-asaan dan kebimbangan berubah menjadi suasana yang ceria, sukacita dan penuh pengharapan. Yesus menjumpai para murid membuktikan bahwa Yesus telah menerima dan mengampuni mereka apa adanya, dan Yesus memulihkan hati, iman dan pengharapan mereka.

Penerimaan dan pengampunan adalah wujud dari kasih karunia Allah yang sangat besar (I Yoh. 3:1). Yesus tidak mengungkit-ungkit dosa dan kesalahan Petrus, Thomas, dua orang murid yang berjalan menuju ke Emaus dan semua murid. Yesus dengan cinta kasihnya yang besar mengampuni dosa dan kesalahan mereka dan menerima mereka apa adanya.

Sekarang mereka, murid-murid yang istimewa, mereka adalah anak-anak Allah, mereka akan dipakai oleh Allah untuk meneruskan tugas dan misi Yesus Kristus di dunia ini. Mereka yang akan mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini dengan sikap dan perilaku yang berbeda dengan orang lain.

Ketika mereka menerima kuasa Roh Kudus sesuai dengan yang Yesus janjikan, maka mereka dengan semangat memberitakan Yesus Kristus yang bangkit. Mereka tidak lagi takut dipenjara, takut mati, takut pada penguasa, tetapi sebaliknya mereka berani mati karena Injil Yesus Kristus yang mereka beritakan. Kehidupan mereka diubahkan dan dipulihkan oleh kuasa Roh Kudus, mereka mewujudnyatakan iman mereka dengan buah-buah pertobatan. Mereka semangat berkumpul bersekutu, berdoa, mempelajari firman Tuhan, mereka murah hati/ mau berbagi, mereka sehati sepikir, mereka dengan sukacita dan tulus hati lakukan semua itu. Itulah gaya hidup jemaat/ gereja mula-mula.

Bagaimana dengan gereja masa kini, bagaimana dengan kita? Ketika gereja melayani orang dengan mamandang muka, status sosial, latarbelakang dan apapun itu, ketika gereja melakukan pelayanan diskriminasi, itu berarti bertentangan dengan hakekat gereja itu sendiri. Ketika kita merasa paling benar dan memandang orang lain salah, sadarlah bahwa kita telah diterima dan diampuni dosa oleh Kristus karena kasihNya yang sangat besar pada kita. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk melakukan yang benar sebagai wujud syukur kita atas kebangkitanNya. Amin
RDS

 

12 April 2015
" KUASA KEBANGKITAN YESUS MEMAMPUKAN UMAT UNTUK BERBAGI "
Kisah Para rasul 4:32-35, Mazmur 133, 1 Yohanes 1:1 – 2:2, Yohanes 20:19-31

Dalam Injil Yohanes 20:19-20 disaksikan bahwa setelah kebangkitan, Yesus menampakkan diri-Nya kepada murid-murid di sebuah rumah. Di tengah perasaan takut terhadap orang-orang Yahudi, kehadiran Yesus yang tiba-tiba (bahasa srimulatnya mak jegagig/mak bedunduk) masuk dalam rumah yang terkunci rapat itu, sambil memberi salam dan menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya membuat murid-murid bersukacita. Yesus meyakinkan kepada para murid bahwa Ia benar-benar bangkit. Kebangkitan-Nya memberikan harapan bagi murid-murid yang dirundung kesedihan dan ketakutan. Kehadiran-Nya mengubah ketakutan menjadi sukacita.

Dalam peristiwa itu, Yesus memberikan tugas kepada murid-murid untuk menjadi utusan Bapa sama seperti Yesus (21) yaitu memberitakan berita sukacita tentang Allah yang karena kasih-Nya yang besar mencari umat-Nya yang telah memberontak, untuk memberikan pengampunan dan perdamaian di dalam diri-Nya. Allah menawarkan ruang hati-Nya untuk diisi oleh umat-Nya yang berdosa. Dalam menjalankan tugas tersebut Yesus menguatkan mereka dengan Roh Kudus (22). Sehingga mereka mampu untuk memberikan pengampunan dan melihat, mempertimbangkan dan menyatakan sebuah kebenaran atau dosa (23).

Namun sayang, saat peristiwa itu terjadi, Tomas tidak bersama-sama dengan mereka (24). Tomas yang mendengar bahwa murid-murid yang lain telah melihat Yesus, tidak lantas percaya begitu saja. Ia ingin bukti dan ingin melihatnya sendiri. Dan setelah ia mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus, ia menjadi percaya. Sehingga sukacita yang menguasai dirinya memampukan ia menyebut Yesus sebagai Tuhanku & Allahku (28). Inilah kredo (pengakuan iman) yang pertama kali tentang jati diri Yesus. Tomas mewakili umat yang belum mampu untuk merasakan kasih Tuhan. Bagi umat yang belum mampu menyadari kasih Allah dalam hidupnya, cenderung sulit untuk hidup mengasihi dan berbagi kepada sesamanya.

Di tengah kehidupan yang egosentris saat ini, pengorbanan diri Yesus semestinya menjadi pemicu bagi kesadaran umat untuk hidup berbagi. Sehingga kehidupan Yesus yang berbagi segalanya (kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya), menjadi gaya hidup orang beriman. Di samping itu, ternyata gaya hidup orang beriman yang berbagi semakin dapat dihayati dan dilakukan, ketika umat meyakini bahwa Roh Kudus yang dicurahkan memampukannya untuk hidup berbagi. Semangat dan gaya hidup berbagi inilah yang bisa kita lihat di dalam kehidupan jemaat mula-mula (Kis. 4:32-35).

Kristus yang bersedia berbagi keselamatan melalui pengorbanan-Nya merupakan undangan bagi setiap orang yang beriman. Dan kebangkitan Kristus mengutus umat untuk hidup berbagi. Sehingga berbagi menjadi gaya hidup pengikut Kristus. Kita bisa berbagi untuk meringankan beban ekonomi sesama melalui harta yang Tuhan titipkan kepada kita. Kita bisa berbagi untuk meringankan kesedihan sesama melalui kehadiran kita (waktu dan tenaga untuk mendampingi). Berbagi dapat dikerjakan dalam segala aspek kehidupan manusia. Selamat menjalani kehidupan yang berbagi, sebuah laku spiritual yang diilhami Roh Kudus dan yang meneladani Allah di dalam diri Yesus yang terlebih dahulu membagi kasih-Nya kepada manusia. Amin
ds

     

5 April 2015
"Ini aku utuslah aku, membawa damai sejahteraMu"
Yesaya 8:5-8 dan Lukas 24:13-36, 45-48

Berbicara mengenai perubahan, perubahan merupakan salah satu tanda kehidupan, selama hidup kita, perubahan tak dapat dihindari. Dalam kenyataannya : banyak orang enggan berubah, ada orang yang mengatakan : tidak mungkin berubah, ada juga yang terlanjur merasa nyaman dengan kondisinya yang buruk dan membuang banyak kesempatan untuk memperbaikinya. Jadi berubah ke hal yang lebih baik tidaklah mudah.
Lukas 24: 13-48, kebangkitan Yesus membawa perubahan pada Kleopas, dan murid-muridNya. Para murid yang dirundung dukacita dan ketakutan DI-UBAH menjadi orang-orang yang penuh sukacita dan semangat. Dampaknya, mereka juga terdorong untuk menularkan sukacita itu kepada rekan-rekan mereka. Perubahan juga terjadi pada Yesaya : “Ini aku utuslah aku.” PERUBAHAN terjadi karena tadinya menyangka akan celaka, dan binasa karena dosa namun ternyata mendapat yang sebaliknya : “Pengampunan”. Karena itulah tak dapat tidak, yang ada adalah rasa syukur yang penuh sukacita, sehingga menjawab “Ini aku utuslah aku.”

Apakah kebangkitan Kristus telah mengubah kita, dan membawa semangat baru ? Yesus meneguhkan (menetapkan) : “kamu adalah saksi dari semuanya ini.” Saksi siapa dan menyaksikan apa ? Saksi menurut Yesus, saksi tentang “KEHIDUPAN” yang datang dari Yesus yang bangkit. Yang murid-murid sendiri mengalami yakni datangnya “damai yang menghidupkan.” Damai yang bukan murahan, damai sejahtera yang murid-murid sendiri mengalaminya karena KEBANGKITAN KRISTUS. Damai sejahtera yang berasal dari kuasa dan CINTANYA Tuhan. Damai yang menghidupkan.

Menjadi PEMBAWA DAMAI yang menghidupkan, tidak bisa tidak, satu-satunya cara adalah dengan meneladan Kristus. Sebuah perumpamaan yang telah diajarkan Yesus di Injil Lukas adalah “mempraktekan hidup sebagai sesama manusia”. Lukas 10:37, Yesus bertanya : “Siapa sesama manusia ? Lalu ada yang menjawab : “Org yang menunjukkan belas kasihan.” Kata Yesus : “Pergilah dan perbuatlah demikian.”

Elie Wiesel, sastrawan berdarah Yahudi, peraih nobel perdamaian 1986, saksi hidup kekejaman rezim Hitler, mengungkapkan : “Lawan dari kasih bukan kebencian, melainkan ketidakpedulian. Lawan dari iman, bukan ajaran sesat ... tetapi ketidakpedulian, lawan dari kehidupan bukan kematian, tetapi ketidakpedulian .“ Dalam perumpamaan Yesus, apakah yang membedakan antara orang Samaria dengan 2 tokoh lainnya (2 orang Israel?) ... Bedanya pada KEPEDULIAN ... yang membedakan adalah DAMPAK-nya ... yakni MENGHIDUPKAN.

Orang yang dirampok nyaris mati .... jika semua orang seperti 2 tokoh lain itu, nyawanya melayang ... Namun karena ada orang yang peduli... jiwanya tertolong, ia tetap hidup! Lihatlah, betapa BATAS antara hidup dan mati ditentukan oleh sebuah KEPEDULIAN Mungkin yang kita lakukan hanya sebentuk KEPEDULIAN SEDERHANA : mendoakan orang sakit, menepuk pundak si gagal, mengantar si Oma / Opa ke gereja, memberi beasiswa, tetap berbuat baik walau dirugikan pesaing bisnisnya dsb ... INGAT, SEMUA ITU sudah BERPIHAK PADA KEHIDUPAN.

Hari ini kita memperingati KEMENANGAN kita dari maut. Hari ini kita memperingati peristiwa perjamuan yang mengingatkan murid-muridNya akan Kristus. Kristus yang telah mati dan sudah bangkit. Saat ini pula, mari kita wujudkan undangan dan penetapan kita muridNya sebagai SAKSI. Hari ini Allah mengingatkan kita : “SIAPAKAH yang akan Ku-utus, siapakah yang mau pergi untuk Aku? Maukah kita sadari bahwa Kristus SUDAH MENGUBAH kita? (Otomatis kita juga ditetapkan juga sebagai utusan / saksi). Mari kita baharui KOMITMEN kita untuk hidup sebagai UTUSAN TUHAN DAN menjawab undangan-Nya : Ini aku utuslah aku? Amin.
pkm

 

29 Maret 2015
"MENGOSONGKAN DIRI, TAAT MEMIKUL SALIB"
Minggu Palma Yes. 50:4-9a, Maz. 118:1-2, 19-29; Fil. 2:5-11; Yoh. 12:12-16

“Tidak ada Kasih tanpa pengorbanan”, kalimat ini menegaskan bahwa cinta tanpa pengorbanan adalah “cinta palsu”. Kadar sebuah cinta dapat diukur dari besar kecilnya pengorbanannya. Seseorang rela mengorbankan apa saja demi yang dicintainya, apakah pacar, isteri/suami, keluarga, uang, pekerjaan, kedudukan atau Tuhan. Besarnya Kasih Allah kepada manusia berdosa di dunia adalah sebesar kerelaan menyerahkan nyawa AnakNya yang Tunggal yaitu Yesus Kristus.

Pada bacaan Markus 11:1-11, membuktikan ke mahatahuan Yesus akan masa depan, ketika menyuruh murid-muridnya meminjam seekor keledai muda yang belum pernah ditunggangi yang akan mereka jumpai, sampai detil percakapan antara murid-murid dengan pemilik keledai dan jawaban yang harus dikatakan murid-muridNya, “Yesus adalah jawaban”. Yesus mengetahui bahwa Dia akan dielu-elukan disambut sebagai pahlawan dan Raja Israel, Yohanes 12:13 mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel! " dan Yesus juga mengetahui apa yang akan terjadi beberapa hari berikutnya seruan “Hosana” berubah menjadi “Salibkan Dia”. Yesus mengetahui Rancangan Besar Allah Bapa dalam rangka menyelamatkan umat manusia dari kuasa dosa dengan mengorbankan diriNya sampai mati di kayu salib.

Filipi 2:5-8 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama , menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah , tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri , dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia . Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Apakah anda mengasihi Tuhan ? Kita dengan mudah menjawab dengan mengatakan :”ya, saya mengasihi Tuhan”. Apa buktinya ? Seberapa besarkah waktu yang anda korbankan untuk Tuhan ? apakah sisa waktu kita atau sepenuh waktu kita ? Seberapa besar pikiran kita dikuasai oleh pikiran Tuhan ? seberapa besar harta milik kita yang tidak kita pertahankan tetapi dikorbankan bagi Tuhan ? Ini semua merupakan ukuran seberapa besar Kasih dan ketaatan kita kepada Tuhan.

Filipi 2:9-11 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia j dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut l segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan, " bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Bagi siapa saja yang mengosongkan diri dan menaruh pikiran, perasaan dan perbuatan Kristus akan menyenangkan hati Allah dan Allah akan memuliakannya, bukan dunia yang memuliakan. Kemuliaan yang datang dari Allah bersifat kekal, sedangkan dari manusia mudah berubah dari “Hosana” menjadi “Salibkanlah Dia”. Renungkanlah, apa yang sudah kita berikan bagi Tuhan, itulah cinta kita.
tonny iskandar

 

22 Maret 2015
"SIAPA MENCINTAI NYAWA AKAN KEHILANGAN NYAWANYA"
Yer. 31:31-34; Mzm. 51:3-14; Ibr. 5:5-10; Yoh. 12:20-33

Allah menciptakan setiap makhluk hidup dengan segala kelengkapan tubuh dan organnya untuk mampu mempertahankan nyawa. Dalam keadaan terancam musuh, dengan spontan cumi-cumi akan mengeluarkan sejenis tinta dari dalam tubuhnya agar air laut menjadi keruh, dan cumi-cumi dapat melepaskan diri dari kejaran musuhnya, ular bersenjatakan bisanya, tanaman mawar dengan duri-durinya, dsb. Demikian juga dengan manusia, dan makhluk-makhluk hidup lainnya, secara naluriah akan berjuang untuk kelangsungan hidupnya.

Jadi bagaimana dengan judul kita di atas? Bukankah kita harus mencintai nyawa yang telah diberikan Allah kepada kita? Kalimat tersebut di atas adalah penggalan ajaran Tuhan Yesus dalam Yoh. 12:20-33. Tuhan Yesus menginginkan agar kita tidak mencintai nyawa, yang artinya egois (selalu hanya memikirkan keinginan, kesenangan dan kepentingan diri sendiri saja), melainkan berkorban bagi banyak orang (mematikan egoisme, ataupun mungkin saja sampai harus berkorban nyawa, jika itu memang mendesak diperlukan). Sebagai pelayan Tuhan Yesus, kita mengikuti teladan-Nya yang tidak menyayangkan nyawa-Nya bagi keselamatan umat-Nya.

Sebagai Imam Besar, Ia telah mengurbankan diri-Nya bagi penebusan dosa manusia. Kematian-Nya di atas kayu salib, menjadi jalan bagi orang percaya untuk kembali kepada Bapa, menghidupkan banyak orang, dan tidak mati (hidup terpisah dari Allah) (Ibr. 5:5-10).

Allah Sang Pencipta sangat memperhatikan dan mengasihi ciptaan-Nya. Ia yang telah memberi hidup kepada manusia, ingin agar manusia hidup dengan mengenal Dia,
- Dia adalah Allah yang sanggup memberi kita kelepasan dari segala tekanan hidup, karena Dia adalah Allah yang sama yang telah membebaskan umat-Nya dari ketidaknyamanan hidup karena perbudakan di tanah Mesir. - Dia adalah Allah yang mengambil alih penebusan dosa kita melalui Tuhan Yesus, sehingga kita dapat keluar dari kungkungan dosa, dan menjadi umat-Nya.

- Dia adalah Allah yang memberikan perjanjian yang baru, yaitu semua manusia -tanpa terkecuali - pasti diberi kesempatan dan kesanggupan untuk dapat mengenal Dia, karena Allah menaruh Taurat-Nya dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka. Hanya hati yang beballah yang tidak bisa mengenali Allahnya (Yer. 31:31-34).

Sekalipun kita hidup secara lahiriah, tetapi sebenarnya kita mati, binasa, jika kita hidup dalam gelimang dosa. Padahal kita diperanakkan dalam dosa, dan mudah terjatuh dalam dosa. Karena itu, Pemazmur mengajak kita untuk terus menerus mengakui segala dosa, pelanggaran, kesalahan, apa yang jahat di mata Tuhan. Barangsiapa datang kepada-Nya dengan batin yang benar, Allah yang adil, penuh kasih setia, dan rahmat, akan membersihkan kita dari segala dosa, menjadikan kita lebih putih dari salju, memperlengkapi kita dengan roh yang rela. Rela berkorban apapun, karena sukacita yang berlimpah akan keselamatan yang kita terima. Rela berkorban apapun demi untuk memuliakan Tuhan, memberitakan keadilan-Nya, dan membawa orang lain kepada Tuhan (Mzm. 51:3-14).

Marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk terus menerus memperbaharui batin kita, membuat kita risih dengan dosa-dosa kita, terus bergumul untuk mencari pengampunan dari Tuhan, mengajarkan hikmat dan kebenaran Firman-Nya, serta memampukan kita untuk berkorban demi menghidupkan dan menyejahterakan sesama. Amin
Nancy Hendranata

 

15 Maret 2015
"MERAYAKAN HIDUP DALAM ANUGERAH KESELAMATAN-NYA"
Bilangan 21:4-9, Mazmur 107:1-3, 17-22, Efesus 2:1-10, Yohanes 3:14-21

Tidak sedikit orang yang tidak biasa, bahkan tidak bisa merayakan hidup. Mengapa? Alasannya, karena mereka hidup dalam realitas yang pahit. Sebagian lagi orang tidak memiliki ketrampilan yang memadai untuk masuk di dunia kerja, sehingga hidup dalam kekurangan. Sebagian lagi mengalami cacat fisik atau menyandang penyakit kronis lainnya. Sebagian lagi tidak memiliki akses untuk studi, sekalipun mereka memiliki kemampuan intelektual yang memadai. Sebagian lagi kita menyaksikan banyak keluarga yang berada di ambang kehancuran dll. Kita mengerti dan memahami kondisi demikian. Namun, hal merayakan hidup sebenarnya tidak bergantung pada kondisi tertentu.

Banyak juga orang yang hidup mapan dan sukses, tapi banyak juga yang tidak tahu dan tidak mau merayakan hidup. Mengapa? Ada pepatah mengatakan, ‘rumput tetangga terlihat lebih hijau ‘. Pada umumnya orang sulit merayakan hidup karena membandingkan diri dengan orang lain. Ada yang memadang rendah dirinya, merasa tidak berguna, merasa gagal sementara melihat teman/ sahabat lebih sukses dll.

Namun demikian sebagian orang berhasil dan sanggup merayakan hidup. Bagaimana merayakan hidup itu? Merayakan hidup berarti menjalani kehidupan dengan rasa syukur, tetap semangat dan bersukacita meskipun kondisi yang kita alami tidak menyenangkan atau tidak sesuai dengan harapan kita. Itulah sebabnya rasul Paulus mengatakan: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah.” Tidak bisa disangkal bahwa berkat dan Tuhan begitu besar, pemeliharaan Tuhan atas hidup kita begitu ajaib. Teristimewa Tuhan Allah melalui Yesus Kristus menyelamatkan kita dari kutuk dosa dan hukuman itu. Tuhan Allah menyelamatkan umat Israel dari patukan ular-ular Tedung. Tuhan memelihara umatNya sampai selama-lamanya.

Tidak ada alasan untuk tidak selalu bersyukur atau mensyukuri atas hidup ini. Merayakan hidup berarti menjalani kehidupan yang bermakna bagi sesama. Kehidupan yang mendatangkan damai sejahtera dan menjadi berkat bagi orang lain, mau berbagi dengan orang lain. Kita diselamatkan oleh Allah untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik bagi Allah.

Bagaimana kita dapat merayakan hidup ini? Pertama, kita mesti membangun relasi dengan Tuhan secara intens. Ketika kita memiliki hubungan yang intens dengan Allah, maka kita akan memahami dan menangkap isi hati Allah, apa yang menyenangkan isi hati Allah. Kedua, kita harus belajar menghitung berkat-berkat Tuhan, menghayati kasih dan pemeliharaanNya yang ajaib. Pada akhirnya kita akan menemukan satu kesimpulan bahwa kasih dan kebaikan Tuhan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Ketiga, dalam momen Paskah ini kita mestinya sungguh-sungguh menghayati pengorbanan Kristus di kayu salib untuk pengampunan dosa dan keselamatan kita. Tidak ada orang yang mau mati untuk orang lain, pengorbananNya terlalu mahal dan agung. Jika Kristus tidak mati di kayu salib, maka kita adalah orang-orang yang paling malang di dunia ini.

Kesimpulannya adalah hanya orang yang sungguh-sungguh memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan; orang yang mampu menghayati kasih dan kebaikan Tuhan; dan hanya orang yang mengalami pengampunan dan keselamatan dari Tuhan, yang mampu merayakan kehidupan ini. Tuhan memberkati. Amin
RDS

     

8 Maret 2015
"PENGUDUSAN DIRI DENGAN MENAATI FIRMAN TUHAN"
Keluaran 20 : 1-17; Mazmur 19, 1 Korintus 1 : 18-25; Yohanes 2 : 13-22

Pernahkah Anda mempertimbangkan konsekuensi menjadi orang Kristen? Jika belum pernah, dikhawatirkan Anda menyesal menjadi orang Kristen. Mengapa? Sebab ruang gerak hidup sebagai orang Kristen dibatasi oleh Sepuluh Hukum Allah, sebagaimana dimuat dalam Kel. 20:1-17. Bandingkan, sekiranya Anda belum menjadi Kristen, alangkah bebasnya!

Pada hakikatnya Sepuluh Hukum dapat diibaratkan sebagai cermin untuk mengetahui noda yang ada dalam kehidupan kita; juga rambu-rambu di tepi perjalanan hidup kita, agar tidak jatuh ke dalam jurang dosa; dan pelatih, agar kehidupan kita menjadi makin sesuai dengan kehendak Allah. Itulah yang digaungkan oleh pemazmur 19, bahwa ketetapan Allah yang disebut dengan pelbagai istilah benar-benar memberikan ketenteraman bagi kehidupan orang percaya. Rasul Paulus mengingatkan, bahwa keputusan untuk menjadi orang Kristen dianggap bodoh oleh orang Yunani dan lemah oleh orang Yahudi, namun itulah justru hikmat Allah yang benar dan memberikan jaminan untuk kehidupan kekal. Maka kebebasan Kristen adalah seperti kebebasan ikan di dalam akuarium yang dibatasi dengan air, di luar akuarium ikan itu akan mati. Tuhan menganggap kebebasan semacam itu cukup. Jadi, bersyukurlah Anda memiliki iman Kristen.

Amat diharapkan, bahwa iman Kristen tidak ditukar dengan perkara-perkara lain, misalnya dengan materi/kebendaan duniawi, popularitas, jabatan bergengsi, daya tarik sesaat yang mengenakkan badan dan hati, sanjungan di tengah masyarakat, dan lain-lain. Namun jika orang Kristen lemah dan kalah, maka ia mau menukarnya, sesudah itu iman Kristennya pun dicampakkan dan ditinggalkan. Atas semua perkara yang menggoda itu, hendaknya orang Kristen waspada, sebab kesemuanya itu akan meruntuhkan kekudusan diri. Pada hal kita diminta untuk hidup dalam kekudusan Allah dengan menjauhkan diri dari semua hal tersebut.

Selanjutnya, orang Kristen dihadirkan di dunia untuk menjadi garam dan terang dunia (Mat. 5:13-16). Sayang pada kenyataannya, sering orang Kristenlah yang justru digarami dan diterangi oleh dumia. Akibatnya, kesaksian orang Kristen bantut, tidak berkembang, dan mati. Alih-alih mempengaruhi, malah orang Kristen yang terbawa arus ke sana, tak peduli anak pendeta atau cucu pendeta sekali pun. Oleh sebab itu, bagian-bagian dari firman Allah pada hari ini, hendaknya dapat menggugah hati dan pikiran kita untuk kembali kepada titik awal bertunasnya iman Kristen kita. Lantas kita kembangkan dalam kesaksian hidup kita, sebagaimana dipesankan oleh Rasul Petrus dalam 1 Petrus 3:15, 16. Dengan demikian, kita dapat menjawab kekhawatiran Tuhan Yesus yang dikatakan-Nya dalam Lukas 18 : 8 b, dengan jawaban :”Tidak Tuhan, kami masih tetap setia beriman kepada Tuhan dan Tuhan akan menjumpai kami saat kedatangan Tuhan kembali”. Amin
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

1 Maret 2015
"Memikirkan apa yang dipikirkan Allah"
Kej. 17:1-7, 15-16; Maz. 22:23-32; Rom. 4:13-25; Mark. 8:31-38

Pernahkah anda mendengar seseorang mengatakan kepada anda bahwa anda tidak pernah mengerti apa yang mereka pikirkan atau inginkan? Entah itu pasangan anda, anak, rekan kerja, atau sahabat dekat anda. Memikirkan menurut kamus bahasa Indonesia artinya adalah memperhatikan atau mempedulikan. Mungkin anda pernah merenungkan, jikalau memikirkan apa yang dipikirkan oleh manusia saja sudah sulit apalagi memikirkan apa yang dipikirkan Allah, mengingat Allah sulit sekali dijangkau oleh indera kita.

Betapa sulitnya memahami jalan pikiran Allah, sehingga Abraham yang sekalipun dikatakan sebagai Bapa orang beriman, dalam perjalanannya mengalami kesulitan dalam memahami jalan pikiran Allah. Bagaimana janji tentang keturunan yang seperti bintang di langit dan pasir di laut akan tergenapi, jikalau saat dirinya dan Sarah telah sampai di usia senja dan juga belum memiliki keturunan. Bahkan Alkitab mencatat akhirnya Sarah berinisiatif untuk memberikan hambanya, Hagar kepada Abraham demi mendapatkan keturunan. Begitu sulitnya memahami rencana dan jalan pikiran Allah, sehingga seringkali manusia mencari jalannya sendiri, jalan pintas yang menguntungkan baginya. Demikian juga Petrus. Dengan lancangnya dia menegor Yesus dan mengatakan tidak sepantasnya Sang Mesias itu menderita. Petrus tidak mau menerima dan mengerti apa yang dipikirkan Yesus. Itulah sebabnya Yesus menegur dia "Enyahlah iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia".(Mark 8:33b).

Yesus menghendaki Petrus memikirkan apa yang dipikirkan Allah. Pikiran Allah adalah memberi keselamatan bagi dunia. Penderitaan dan kematian Yesus adalah wujud dari misi Allah untuk menyelamatkan manusia. Sebagai seorang murid, Petrus seharusnya meninggalkan cara pikir yang lama yang egois. Sebagai gantinya ia harus memusatkan pikiran kepada Allah, lalu bagaimana caranya? Jawab Yesus : "setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku." (Mark 8:34). Hanya dengan cara ini seseorang dapat memikirkan apa yang dipikirkan Allah. Saat ini apa yang sedang kita pikirkan? Apakah kita berpikir bagaimana caranya menggapai kepuasan hidup?, apakah kita cenderung mengambil inisiatif tanpa melibatkan Tuhan?

Apakah kita senantiasa cenderung berpikir egois?. Jika demikian berarti kita sedang menjauh dari rencana Allah. Seharusnya sebagai pengikut Kristus semakin lama kita semakin memahami dan mengerti tentang kehendak Allah. Hanya mereka yang memikirkan apa yang Kristus pikirkan lah yg akan hidup seturut dengan rencana-Nya.
Wyk

     

22 Februari 2015
"DIBAPTIS DAN DICOBAI AGAR SIAP MEMBERITAKAN INJIL"
Kejadian 9:8-17; Mazmur 25:1-10; I Petrus 3:18-22; Markus 1:9-15

PERSIAPAN merupakan hal penting sebelum acara / kegiatan. Contoh : persiapan ibadah. Selain bersaat teduh sebelum ibadah, kita mesti menyiapkan persembahan dan lain-lain. Bayangkan bila tidak persiapan dengan baik, bisa-bisa tidak sadar bahwa tiket pesawat-lah yang kita masukkan ke dalam kantong kolekte. Mungkin Tuhan hanya tersenyum karena hari itu menerima persembahan berupa tiket. Tetapi jika waktu pulang kebaktian dengan jadwal keberangkatan pesawat “mepet”, bisa-bisa kita batal berangkat.

Pentingnya persiapan, merupakan pesan penting dalam Firman Tuhan / tema kebaktian hari ini. Markus 1:9-15 - peristiwa baptisan dan pencobaan adalah PERSIAPAN Yesus sebelum Ia berkarya. Demikian pula bagi setiap utusan-Nya, untuk menjadi garam dan terang dunia, ia mesti dibaptis. Pertama, melalui baptisan seseorang yakin bahwa ia sudah dipermandikan – dosa disucikan, menerima penyelamatan oleh Yesus Kristus. Orang yang diutus ia mempercayakan hidupnya pada Tuhan dan Tuhan sudah menyelamatkannya. Ia yakin bahwa ia “dikasihi, menjadi anak dan berkenan pada Allah” (ayat 11). Sekarang telah terhizab menjadi bagian dari Gereja-Nya – tubuh Kristus. Tanpa baptisan, seseorang tidak siap menjadi utusan. Kedua, sebelum berkarya, Roh memimpin Yesus ke padang Gurun, selama 40 hari, dicobai iblis. Tinggal diantara binatang-binatang liar. Pencobaan mengingatkan kita agar waspada, bahwa iblis tidak senang bila kita melakukan kehendakNya. Pencobaan yang terjadi, menebalkan “nilai kesetiaan – komitmen” kita, bahwa kita setia. Sikap menerima pencobaan yang mesti terjadi, teramat penting. Karena nilai-nilai itu berguna untuk mereka yang kepadanya kita akan menjadi alat berkatNya.

Relevansi:
Pertama, sebagaimana baptisan sebagai persiapan PI, maka dalam suasana Imlek ini, maka bila dilihat dari persiapan menyambut Tahun Baru Imlek, nyatalah bawa perayaan ini didahului dengan acara membersihkan rumah dan diri. Pakaian baru juga disiapkan untuk dipakai pada tahun yang baru.

Semuanya ini memiliki makna simbolik, yakni bahwa pada tahun baru semuanya harus baru. Membersihkan seluruh rumah merupakan tanda lahir dari sikap membersihkan diri. Bukankah kebiasaan menyambut Tahun Baru Imlek dengan “bersih-bersih” ini seiring dengan penghayatan Rabu Abu dan Masa Prapaskah kita?

Kedua, pada masa ini banyak orang yang “keluar dari masalah besar”, dan karena masalah besar itulah ia terpanggil untuk memberita kan Injil. Ketika dicobai iblis, itulah pembuktian iman / kesetiaan; ujian – bahwa ia mengenal Tuhan dan percaya Tuhan. Ada seseorang yang telah difonis sakit yang mematikan. Sejak itu ia peka, mudah tergerak menolong sesama. Dari Eropa, tergerak hingga datang ke Rwanda. Dan kemudian banyak orang di Rwanda percaya Yesus.

Penutup : Persiapan kita, adalah beriman teguh bahwa Allah setia pada janjiNya.
Pada jaman Nuh (Kej 9:8-17), Allah tetap peduli atas keselamatan manusia dari dosa. Allah memberi tanda perjanjian keselamatan-Nya, dengan “busur di awan / pelangi”, pada kita sekarang dengan tanda baptisan. Penulis 1 Petrus 3:18-22, menyatakan (zaman setelah Yesus), karya Allah sempurna, sebab “Kristus telah mati sekali dan bangkit dan itu cukup” untuk keselamatan manusia. Tetapi adil juga untuk mereka yang hidup di zaman Nuh. Mereka juga diselamatkan dengan cara yang adil. Jadi cara Tuhan mempersiapkan kita untuk menjadi pemberita Injil, sudah disediakan jauh dimasa lampau, dan kita bisa yakin seperti kata Pemazmur (Maz 25 : 1-10) bahwa : Tuhan membimbing (setiap) orang yang rendah hati. Jika kita pada Tuhan percaya dan berpegang pada perjanjianNya, umat berada dalam jalan dan keselamatan-Nya. Amin.
pkm

 

15 Februari 2015
"DIMULIAKAN DALAM KEMULIAAN KRISTUS"
2 Raja-raja 2:1-12; Mazmur 50:1-6; 2 Korintus 4:3-6; Markus 9:2-9

Hidup dalam kemuliaan adalah dambaan setiap orang. Tidak salah jika seseorang ingin hidupnya mulia. Namun seringkali orang menganggap bahwa kemuliaan itu berasal dari kekayaan, sehingga dalam hidupnya selalu berusaha untuk menumpuk harta kekayaan. Adapula yang menganggap bahwa kemuliaan itu berasal dari kedudukan dan kekuasaan, sehingga seluruh hidupnya ditujukan untuk meraih kedudukan dan kekuasaan. Untuk menjadi mulia menurut mereka, banyak cara yang tidak mulia yang dilakukan – cara-cara yang kotor dilakukan demi ambisi kemuliaannya. Bahkan jika perlu iman ditukar dengan kekayaan, kekuasaan dan kedudukan. Bagaimana dengan kita? Darimanakah kemuliaan kita berasal?

Di dalam Markus 9:2-9 dikisahkan bahwa Yesus dimuliakan di atas gunung. Dan peristiwa itu disaksikan oleh Petrus, Yakobus dan Yohanes. Mereka melihat Yesus berubah rupa dan berpakaian putih berkilat-kilat bersama Elia dan Musa. Kemudian datanglah awan yang menaungi mereka dan terdengarlah suara Allah "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia." Peristiwa ini ingin memperlihatkan kualitas dari pribadi Yesus yang adalah Anak Allah. Ia yg akan memberitakan kebenaran Allah – karena itu dengarkanlah Dia. Dan Dialah cahaya kemuliaan Allah yg memancar bagi dunia, yaitu tempat dimana manusia berdosa dan berada di dalam kegelapan. Cahaya yg mampu untuk menerangi manusia yg hidup dlm kegelapan, yaitu hidup terikat oleh kuasa dosa.

Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus (2 Kor. 4:6).

Demikian nasehat Rasul Paulus bahwa cahaya kemuliaan Allah menyinari hati dan yang menuntun kita kepada Kristus dan karya penebusan-Nya serta panggilan-Nya. Terang yang memancar di hati kita, mempersekutukan kita dengan kemuliaan Kristus. Kita beroleh hidup dalam kemuliaan Kristus ketika kita menanggapi panggilan-Nya. Hidup dalam kemuliaan Kristus berarti menjalani hidup dengan menjalankan perintah dari Sang Sumber Kemuliaan itu sendiri. Kita diundang untuk masuk ke dalam kehidupan yang berkualitas baik secara rohani maupun jasmani. Kehidupan yang dimuliakan dalam kemuliaan Kristus merupakan kehidupan yang terbebas dari belenggu dosa. Inilah hidup dalam kemuliaan sejati, yang jauh melebihi segala kemuliaan yang dapat diperoleh dari dunia ini.

Oleh karenanya, sebagai umat yang telah dipanggil dan dipersatukan dalam kemuliaan Kristus, kita memiliki tanggung jawab untuk memancarkan kemuliaan Kristus bagi dunia melalui hidup yang berkualitas. Marilah kita renungkan: Apakah hidup kita sudah memancarkan kasih Kristus, sehingga mereka yang masih dalam kegelapan boleh melihat terang Kristus? Jika belum, marilah kita berusaha melakukannya. Namun jika sudah, tetaplah untuk setia melakukannya. Kiranya Kristus memampukan kita. Amin. DS

     

8 Februari 2015
"LEBIH DARI MUJIZAT"
Yes. 40:21-31, Maz. 147:1-11; I Kor. 9:16-23; Mark. 1:29-39

Berbicara tentang mujizat tidak selalu menyangkut hal-hal yang spektakuler, seperti sembuh dari penyakit yang berat, dilepaskan dari roh jahat, diselamatkan dari bencana atau kecelakaan dll. Namun, mujizat juga dapat kita pahami dalam kehidupan sehari-hari yang nampaknya sederhana, sepele tidak spektakuler, seperti ketika kita dapat bangun dari tidur, tubuh masih sehat, itu juga adalah mujizat Tuhan. Ketika kita melihat anak-anak sehat, hidup rukun, damai dan saling pengertian itu juga adalah mujizat Tuhan. Ketika kita masih dapat menikmati makanan yang ada dengan rasa syukur itu adalah mujizat Tuhan. dll.

Dalam bacaan Yesaya 40:21-31 dan Mazmur 147:1-11 memberikan gambaran yang jelas bagi kita bahwa kehadiran Tuhan di tengah-tengah umatNya adalah sebuah mujizat. Melalui kehadiranNya Ia memberikan kekuatan baru bagi umat, memberikan semangat yang baru, sehingga umat tidak merasa lelah, letih dan lesu. Ini adalah mujizat Tuhan yang mereka alami. Umat digambarkan seperti burung Rajawali yang dapat terbang tinggi dengan mudah ia melewati kencangnya angin di atas langit. Melalui kehadairan Tuhan dalam kehidupan kita, kita mendapat kekuatan, semangat yang baru dari Tuhan, sehingga kita dimampukan untuk menghadapi dan melewati badai kehidupan yang berat. Ini adalah mujizat dari Tuhan.

Bacaan Markus 1:29-31 dan I Korintus 9:16-23
Markus menceriterakan banyak mujizat yang Yesus lakukan, seperti menyembuhkan mertua Simon Petrus dari sakit demam, banyak orang disembuhkan oleh Yesus dari segala macam penyakit, ada juga yang dibebaskan dari roh jahat. Yang menarik dari bacaan Markus ini adalah: Pertama, Setelah mertua Simon Petrus disembuhkan dari penyakit, ia langsung melayani Yesus dan para murid. Kedua, Mereka/ orang banyak yang disembuhkan dari segala macam penyakit dan dari kuasa roh jahat berusaha mencari Yesus, untuk melihat Yesus melakukan mujizat lagi atau mereka ingin menikmati mujizat lagi dari Tuhan.

Dua respons yang berbeda.
Mertua Simon Petrus merespons mujizat dan kasih Tuhan itu dengan melayani (menyediakan makanan, minuman dan perbekalan) untuk Tuhan Yesus dan para murid. Sedangkan mereka/ orang banyak itu mencari Yesus untuk melihat dan menikmati mujizat kembali untuk mereka sendiri. Apa artinya? Mereka hanya mau menerima mujizat dan pertolongan Tuhan saja, tetapi tidak mau membagikan pengalaman itu kepada orang lain. Kuasa dan mujizat Tuhan yang mereka alami hanya menjadi milik mereka sendiri.

Rasul Paulus adalah contoh orang yang mengalami kuasa dan mujizat Tuhan Yesus. Ia mengalami bagaimana Kristus mengampuni dosanya, bagaimana Kristus menyelamatkannya dan bagaimana Kristus mengubah hidupnya. Sebagai respons atas kuasa dan mujizat Tuhan itu, ia menyerahkan hidupnya untuk memberitakan Injil ke mana Tuhan utus. Ia mau supaya sebanyak mungkin mengenal Injil Yesus Kristus dan diselamatkan. Ini yang dapat kita sebut sebagai LEBIH DARI MUJIZAT.

Marilah kita menjadi orang-orang yang bukan penikmat mujizat semata, tetapi menjadi orang-orang penyalur mujizat Tuhan. Tuhan memberkati. Amin
RDS

 

1 Februari 2015
"MENGAJAR DAN BERKATA-KATA DENGAN KUASA"
Ul. 18:15-20; Maz. 111; 1 Kor. 8:1-13; Mark. 1:21-28

Di dalam Markus 1:21 dikisahkan bahwa Yesus mengambil bagian dalam pengajaran di dalam rumah ibadat. Tentu bukan hanya Yesus satu-satunya yang mengajar dan yang menyampaikan Firman Tuhan, karena ada ahli-ahli Taurat dan golongan Farisi. Oleh Markus kisah tersebut digunakannya untuk memperlihatkan bahwa ada perbedaan antara Yesus dengan ahli Taurat dalam hal penyampaian Firman yaitu Yesus diungkapkan sebagai orang yang berkuasa tidak seperti ahli-ahli Taurat (lih. Mark. 1:22). Hal tersebut dipertegas melalui teriakan orang yang kerasukan roh jahat,” Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Jadi dalam kisah ini Markus ingin menegaskan kepada pembacanya bahwa Yesus adalah Yang Kuasa dan Yang Kudus dari Allah.

Selain untuk mempertegas jati diri Yesus, peristiwa tersebut juga digunakan Markus untuk memperlihatkan bahwa kuasa yang dimiliki oleh Yesus adalah kuasa yang berdampak baik. Yang pertama, pengajaran yang disampaikannya membuat yang mendengar takjub. Arti takjub di sini tidak sekedar memukau atau membuat heran tetapi pengajaran-Nya memberikan pencerahan dan membuka pikiran mereka sehingga mendapatkan pengharapan. Yang kedua, Yesus mengusir roh jahat di dalam diri seseorang yang kerasukan. Roh jahat merupakan kekuatan yang membuat sengsara dan menderita manusia. Dengan diusirnya roh jahat itu dari tubuh orang tersebut membuat dia tidak lagi menderita dan sengsara melainkan mendapatkan keselamatan dan kedamaian. Jadi dari kedua hal di atas, pengajaran-Nya berkuasa menyelamatkan yang mendengar dan yang kerasukan roh jahat. Dengan demikian pembebasan manusia dari kuasa jahat (roh jahat) memberikan bukti bahwa kehadiran Yesus ke dunia tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memberitakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat (Mark. 1:15).

Dengan memahami kisah tersebut, setidaknya ada 2 hal yang bisa kita dapatkan.
Yang pertama, kita yang saat ini mungkin sedang mengalami keadaan yang baik ataupun keadaan yang kurang baik/sulit diingatkan untuk tetap memegang iman kepada Yesus sebagai Yang Kudus dari Allah. Dan di dalam pengharapan itu, kita diingatkan untuk tetap yakin dan percaya bahwa kehadiran-Nya di dunia ini dan dalam kehidupan kita adalah untuk memberikan keselamatan dan damai sejahtera, dan bukan untuk memberikan cobaan ataupun beban kepada umat-Nya.
Yang kedua, melalui kisah tersebut dan teladan dari Yesus tentang pengajaran, kita sebagai murid-murid-Nya juga diajak untuk mengajarkan tentang Kerajaan Allah kepada orang-orang di sekitar kita dalam membagikan pengajaran, pengetahuan dan pengalaman tentang Kerajaan Allah itu harus didasarkan dengan kasih. Sebab tanpa dasar kasih semuanya itu hanya akan membawa pada keegoisan, kesombongan dan arogansi. Dan dengan kasih, kita tidak menjadi salah dalam memahami tujuan dari pengajaran tentang Kerajaan Allah yaitu menjadikan mereka yang mendengar sebagai warga Kerajaan Allah yang mendapat bagian keselamatan dan kehidupan yang damai sejahtera, dan bukan untuk menjadikan mereka beragama Kristen. Sekali lagi untuk mengingatkan kita bahwa kedatangan Yesus Kristus bukan untuk mendirikan agama Kristen tetapi memberitakan Kerajaan Allah.

Pertanyaannya siapkah kita untuk bertanggung jawab kepada Tuhan dalam hal memegang pengajaran-Nya dan juga membagikan pengajaran-Nya dengan dasar kasih kepada Allah dan sesama? Kiranya Tuhan menuntun kita untuk merenungkan dan melakukannya. Tuhan memberkati, Amin ds

 

25 Januari 2015
"Dipanggil untuk Bertobat, Percaya & Mengikut Dia"
Yun. 3:1-5, 10; Maz. 62:6-13; 1 Kor. 7:29-31; Mark. 1:14-20

Pemahaman pertobatan seringkali dangkal dan sederhana. Ada juga yang menanggapi seruan bertobat dengan cara berpikir dan seleranya dirinya sendiri. Hal inilah yang bisa mengakibatkan seseorang tidak dapat menghayati dan menyelami panggilan Yesus dengan cara yang benar, sebagaimana dikehendakiNya.

Firman Tuhan pada hari ini berisikan panggilan pertobatan yang berpusat pada bacaan pertama (pertobatan Niniwe – Yunus 3:1-5) dan Injil (pemanggilan murid - Mark. 1:14-20). Undangan bertobat dari Tuhan didasari rasa kasih Tuhan untuk memberikan pengampunan tanpa batas untuk menyelamatkan manusia. Kasih Allah seperti apa, tergambar melalui kisah pertobatan Niniwe. Rencana hukuman dari Tuhan atas Niniwe berubah menjadi tindakan pengampunan dan penyelamatan. Kisah Niniwe ini, memperkenalkan SISI KASIH ALLAH YANG LUAR BIASA DALAM, dan juga kelembutan hati Allah, yang mudah digerakkan oleh belas kasihan.

Pertobatan disini menjadi respon cinta karena cinta kasih Allah. Karena manusia meneguk cinta kasih Allah. Pertobatan terjadi karena umat menikmati dan merayakan dengan puas cinta kasih Allah.

Sikap orang Niniwe – yang menyesali dosa dengan puasa, memakai kain kabung, duduk di abu (5-6), berpuasa dan sikap murid-murid Yesus meninggal kan segala sesuatu untuk mengikut Yesus memberi pesan kepada kita : bertobat bukan hanya menyesal, tetapi mesti diikuti perubahan sikap hidup.

Pertobatan yang lahir dari rasa cinta tidak akan berhenti pada sebuah ungkapan hati yang menyesal, atau sebentuk ritual penyesalan, tetapi diikuti seluruh hidup yang diubah arah orientasinya, yaitu kepada Injil. Yesus mengajarkan bahwa bertobat adalah : percaya kepada Injil (Mrk 1:15). Jadi pertobatan yang Yesus harap bukan sekedar moralitas, nilai kepatuhan hidup sosial, atau nilai kemanusiaan, tetapi pertobatan yang berpusat pada kebenaran : hidup yang diselamatkan, sebagai- mana diberitakan dalam INJIL. Injil sebagai khabar baik, menjadi dasar hidup setiap pengikut Yesus.

Pertobatan yang membawa perubahan sikap hidup terjadi hanya atas dasar kasih. Kasih jugalah yang memampukan kita untuk bertahan diperjalanan dan perjuangan kita sebagai murid. Rasa kasih yang begitu besar yang memampukan seseorang untuk memberi diri secara utuh. Yakni sebagai murid, untuk menyatakan cinta pada sesama, membangun persekutuan antar manusia di dalam kasih. Jemaat yang dikasihi Tuhan, undangan ini mendesak (1 Kor. 7:29-31) untuk disebar dan dibawa oleh para pengikut Kristus di masa kini. Yesus telah melakukannya bagi kita, dan kita mengikut Dia menjadi rekan sekerja Allah untuk melakukan hal yang sama di dunia ini. Sehingga tidak hanya “satu kota Niniwe” yang bertobat, tetapi seluruh dunia akan kagum, hormat dan percaya kepada Allah, karena mereka sendiri “suatu saat” telah meneguk nikmatnya, indahnya dan merdekanya hidup di dalam kasih Tuhan. AMIN. pkm

 

18 Januari 2015
"Dipanggil Untuk Mengikut Yesus"
1 Sam. 3:1-10; Maz. 139:1-6, 13-18; 1 Kor. 6:12-20; Yoh. 1:43-51

Sejak semula Allah telah berinisiatif menciptakan manusia untuk seturut dengan rencanaNya. Kita diciptakan menurut gambar dan kemuliaanNya. Kita diciptakan untuk mengambil bagian dalam kehidupan yang ajaib bersamaNya. Namun demikian, manusia jatuh ke dalam dosa, terpisah dari Allah, dan kehilangan kemuliaanNya. Maka Allah kembali mengambil inisiatif melakukan karya penyelamatanNya melalui AnakNya Yesus Kristus. Allah tidak pernah berhenti memanggil semua anak-anakNya yang dikasihiNya untuk diselamatkan.

Allah memanggil semua manusia kepadaNya, tanpa memandang latar belakang atau usia. Samuel dipanggilNya sejak kecil. Murid-murid Yesus dipanggil saat dewasa. Allah begitu mengenal kita (Maz. 139:1), sehingga Ia berfirman sesuai dengan keadaan diri kita. Allah telah menyiapkan kita sejak masih dalam kandungan untuk mengambil peran dan tugas dalam rencana Nya yang besar dan ajaib di dunia ini.

Allah berbicara memanggil melalui FirmanNya dan mereka yang diutusNya. Firman Allah yang kita dengar dapat kita pahami melalui pertolongan Roh Kudus. Kita bercakap dengan Allah melalui doa, pembacaan Firman dan pelayanan Firman. Tetapi tidak semua orang dapat mendengar panggilanNya dan yang mendengar panggilanNya, tidak semua mau memenuhi panggilanNya. Tidak semua yang mau memenuhi panggilanNya tahu cara menjawab Allah.

Kita tidak bisa mendengar Roh Allah dalam diri kita karena kita membiarkan tubuh kita berdosa. Tubuh kita adalah baik Allah, tempat Roh Allah bersemayam. Dosa seperti percabulan menjauhkan kita dari Roh Allah. Mengikut Kristus berarti mengikatkan diri dengan Kristus, sehingga menjadi satu Roh dengan Dia (1 Kor. 6:16).

Kita tidak bisa menjawab panggilan Allah karena kita lebih mengutamakan apa yang dipahami dan ditawarkan dunia. Kita tidak mau membuat Kristus hidup di dalam kita, dengan terus mempertahankan ego kita. Akibatnya kita tidak bisa lagi mengambil bagian dalam rencana Allah yang besar di dunia ini.

Hendaklah kita seperti Samuel. Allah berbicara pada Samuel, dan ia menjawab: Berbicaralah TUHAN sebab hamba Mu ini mendengar. (1 Sam. 3:10).

Hendaklah kita seperti murid-murid Yesus. Saat Yesus berkata: Ikutlah Aku, mereka meninggalkan segala sesuatu untuk mengikutinya kemanapun Ia pergi (Yoh. 1:43-51). Dan kita menyaksikan bagaimana hidup Samuel, murid-murid Yesus, dan semua yang menyerahkan hidupnya untuk mengikut Kristus akan menemukan hidup yang ajaib dan sungguh luar biasa. Hidup yang mulia sebagaimana rencana Allah yang sebenarnya.

Pada akhirnya setiap orang, suka atau tidak, pasti akan memenuhi pangilan Tuhan, yaitu saat ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Berbahagialah kita di saat Kristus menemukan kita sudah setia mengikutNya sepanjang hidup kita di dunia ini. Amin. AL

 

11 Januari 2015
"DIKASIHI DAN DIPERKENAN ALLAH "
Kej. 1:1-5; Maz. 29; Kis. 19:1-7; Mark. 1:4-11

Dikasihi dan diperkenan oleh Allah pada umumnya kita memahaminya harus juga diikuti dengan bermacam-macam syarat yang harus dipenuhi. Seperti hidup memuliakan Tuhan, menyenangkan hati Tuhan, melakukan doa pujian dan penyembahan, dan lain sebagainnya. Pemahaman seperti ini baik-baik saja, namun tidak semua baik dan benar. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Ayat ini mau menjelaskan bahwa Allah mengasihi dan berkenan kepada kita manusia bukan karena kita baik, benar dan telah melakukan rirual-ritual keagamaan kita, tetapi karena kita berdosa, jahat dan tidak layak. Kasih yang Allah nyatakan adalah kasih walaupun, kasih yang tulus; walaupun manusia jahat dan berdosa Allah mengasihinya.

Persoalannya adalah bagaimana kita merespon kasih dan kebaikan Allah itu. Jika Allah mengasihi kita demikian rupa, maka kasih yang kita tunjukkan kepada Allah dan sesama juga adalah kasih yang demikian. Artinya kasih yang kita wujudkan adalah kasih yang walaupun, kasih yang tanpa syarat.

Dalam bacaan ibadah ini ada beberapa hal penting yang dapat kita pelajari untuk memotivasi kita mewujudkan kasih yang sesungguhnya. Pertama: Tuhan Yesus mengasihi kita apa adanya, meskipun kita sering jatuh dalam dosa, hidup kita kacau, hidup kita penuh dengan kegelapan. Dia mengasihi kita dan mengampuni kita, bahkan memberkati kita. Sungguh kita bersyukur dicintai dan dikasihi oleh Allah sedemikian rupa. Kedua, kesediaan untuk dikoreksi, diperbaharui dan diluruskan oleh kuasa Roh Kudus, sehingga sifat dan karakter kita mencerminkan kasih dan sifat Allah itu sendiri. Ketiga, meneladani kehidupan dan pelayanan Yesus Kristus. Kasih dan pengorbanan Yesus Kristus tulus dan murni ini mestinya menjadi dasar dan patokan ketika kita berelasi dengan Tuhan dan sesama. Kerendahan hati Yesus juga menjadi dasar dan ukuran ketika kita berelasi dengan Tuhan dan sesama.Jika Tuhan menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa mestinya kita juga bersedia merendahkan diri.Selamat berjuang mewujudkan kasih dan pengorbanan Kristus. Tuhan memberkati kita. RDL

 

4 Januari 2015
"MENELADANI MAJUSI"
Yes 60:1-6; Maz 72:1-7, 11-15; Ef 3:1-12; Mat 2:1-12

Kisah orang majus sangat dikenal di kalangan orang barat ... bahkan rakyat menambahkan kisah orang majus tersebut dengan MENAMBAHKAN bahwa orang majus yang datang dari jauh ke Betlehem itu berjumlah 3 : yakni Gaspar, Melkior dan Baltasar. Tradisi lain bahkan menceritakan ada 4 orang majus... yang seorang lagi bernama Artaban.

Arti kehadiran Raja, Mesias, tergambar dalam doa Salomo (Mazmur 72). Ia adalah Raja yang adil, pembela kaum tertindas, pembawa damai, umurnya begitu panjang ... selama masih ada matahari dan bulan. Ia akan menebus nyawa mereka dari penindasan sebab darah mereka mahal dimatanya”. Setiap orang akan memuliakannya selama-lamanya.

Sebagai murid Yesus, umat Kristen seharusnya turut mengundang segala makhluk untuk hidup di dalam anugerah Sang Raja (Mrk 16:15). Yesus pun menyebut muridNya : “Kamu adalah terang dunia”, agar segala mahluk datang kepada Kristus. Berkaitan dengan peran ‘pengundang” tersebut, hari ini, di Minggu pertama Januari (terdekat dengan tanggal 6 Januari) gereja memperingati Epifani (menampakkan diri). Kristus benar-benar menampakkan diriNya sebagai Juruselamat dunia (bukan hanya untuk orang Yahudi saja) terbuktikan saat orang-orang majus dari Timur datang dan berjumpa dengan Yesus.

Peran gereja atau orang kristen menjadi jelas dengan menggabungkan berita Yesaya 60 dengan Efesus 3. Umat yang telah diterangi pada waktunya ikut serta menerangi dunia. Namun peran ini sering terabaikan. Kitab Yesaya selain sebagai nubuatan, sekaligus menggugah umat Tuhan. “Bangkitlah, menjadi teranglah ... sebab terangmu datang”. Rasul Paulus, mengajarkan bahwa sebagai umat dirinya juga dipanggil dengan segala karunia dari Tuhan untuk turut membuka rahasia Allah, yang abadi dalam Kristus bahwa orang-orang bukan Yahudi pun turut menjadi ahli waris dan anggota-anggota tubuh ... mereka juga peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus.

Bagaimana meneladan majusi dalam rangka turut serta membawa dunia sampai pada pengenalan akan “penampakkan Kristus bagi dunia”? Mari kita mengikuti perjalanan orang majus ke empat (sebagai cerita yang ditambahkan) yang awalnya membawa emas, perak dan permata dan hadiah lain untuk Raja yang baru lahir .. dan dalam mengikuti bintang ... bertemu dengan penduduk yang sedang perang ... kemudian berhasil mendamaikan ... kemudian bertemu dengan 2 anak yang hendak dijual untuk melunasi hutang ortu pada saudagar karena ibunya sakit keras ... melihat hal tersebut Artaban menangis karena ia ingin menolong tetapi hartanya sudah habis.. lalu mengajukan diri mengganti 2 anak tersebut, dan ia diterima dan dipekerjakan di kapal sebagai budak ... kerjanya baik.. dan akhirnya bisa bebas dan melanjutkan perjalananan mencari Raja yang baru dilahirkan ... 30 tahun sudah ... dan akhirnya ia sampai di Yerusalem ... ia menghadap Pilatus ... dan Imam besar ... saat itu kehebohan terjadi karena seorang yang akan disalib ... sampailah Artaban di Gollgota .. saat itu Artaban bertanya dalam hati ... DIAKAH ORANG YANG AKU CARI-CARI ? Artaban jadi ingat hartanya yang banyak dan ia ingin membayar hukuman Yesus namun ia sadar bahwa hartanya sudah habis. Artaban menangis dan menyesal. Artaban memandang wajah Yesus, ketika itu Yesus tersenyum padanya dan berkata : Jangan menyesal dan sedih Artaban ... engkau menemukan Sang Raja itu ... Engkau telah menolong Aku ... hampir sepanjang hidupmu. Ketika Aku lapar, engkau memberi Aku makan. Ketika Aku haus, engkau memberi Aku minum. Ketika Aku telanjang, engkau memberi Aku pakaian, ketika Aku sebagai orang asing dan ketika Aku di penjara, engkau membebaskan Aku.

Kristus sungguh bersukacita dengan apapun yang kita lakukan, walaupun yang kita lakukan tidak spektakuler, biasa sekali. Apapun peran kita dalam rangka kasih maka kita sedang memancarkan terang yang memandu dunia kepada Kristus, Sang Imanuel.

Hari ini kita merayakan perjamuan kudus. Kiranya setiap kita sadar bahwa menerima roti dan anggur, berarti kita menyatu dengan tubuh Kristus. Berarti pula kita sedia untuk turut serta membagi hidup kita seperti Kristus. Agar makin banyak orang mengenal dan tertuntun untuk berjumpa dengan Kristus dan menerimaNya sebagai Juruselamat hidupnya. Amin. pkm

     

28 Desember 2014
"HIDUP DALAM TERANG ALLAH"
Yes 52:7-10, Maz 98, Ibrani 1:1-4, Yoh 1:1-14

Tentu sebagai orang Kristen kita tahu apa itu hidup dalam terang Allah yaitu hidup di dalam jalan kebenaran, hidup di dalam ketaatan dan kesetiaan kepada Allah, hidup melaksanakan perintah-perintah Allah seperti mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Sejak masih anak – anak kita juga diajarkan untuk hidup berbuat baik dan benar. Sebaliknya kita dilarang untuk hidup dalam kegelapan yaitu, hidup jauh dari Allah, hidup tidak taat dan tidak setia, memberontak kepada Allah, hidup dalam kebencian. Dalam bahasa yang sering kita dengar hidup dalam terang Allah adalah hidup yang dipimpin Roh, sedangkan hidup dalam kegelapan adalah hidup menurut kedagingan demikian nasehat Rasul Paulus untuk Jemaat Galatia (lih. Gal. 5:19-23).

Ketika membaca dan mendengar dari kesaksian Injil Yohanes bahwa Yesus adalah Firman yang bersama-sama dengan Allah dan yang telah menjadi manusia, Yesus adalah terang (Yoh. 1:1-14), kita juga bisa mempercayainya. Ketika Yesaya (52:7-10) maupun Pemazmur (98) bersaksi tentang kebaikan dan karya Tuhan, kita pun mengamininnya, bahkan kita juga telah mengalami karya Allah dalam hidup kita. Kita yakin bahwa Allah dalam diri Yesus Kristus telah menyucikan dosa manusia dan Ia adalah cahaya kemuliaan Allah (Ibr. 1:1-4). Namun kenyataannya, banyaknya kesaksian tentang kebaikan Allah dan kasih Allah yang kita baca, kita dengar bahkan kita alami sendiri, tidak menjamin kita hidup dalam terang Allah, hidup dalam kasih, ketaatan dan kebenaran. Seringkali kita gagal untuk tetap berada dalam jalan terang Allah. Seringkali kita tergoda dan jatuh dalam pencobaan dan keberdosaan. Mengapa demikian? Padahal kita juga sudah dibaptis, kita sering berdoa, sering baca Alkitab, sering melayani, dan tidak pernah absen ke gereja, tetapi masih saja gagal untuk mengasihi, gagal untuk mengampuni dan gagal berbuat benar sesuai kehendak Allah.

Apakah cara baptisannya yang salah? Apakah cara berdoanya yang salah? Apakah cara membaca Alkitab, melayani ataupun ke gerejanya yang salah? Jawabnya bisa ya bisa tidak! Tapi yang pasti adalah apakah ketika kita dibaptis, hidup dan hati kita terbuka untuk terang Allah atau tidak?

Dimana pun (di gedung gereja, di kolam atau di sungai bahkan sungai Yordan) dan dengan cara apapun (dipercik, diselam ataupun ditenggelamkan) baptisannya, jika hati dan hidupnya tidak terbuka untuk terang Allah maka tidak ada gunanya. Demikian pula dengan berdoa, baca Alkitab, melayani maupun aktif beribadah, semuanya akan sia-sia, akan kosong dan bahkan bisa menjadi batu sandungan bagi yang lain, jika ternyata kita melakukan semua itu dengan hati yang bebal, hati yang membatu, yang tidak mengijinkan terang dan kehendak Allah menyinari dan mengubahkan hati dan hidup kita. Jadi marilah kita membuka hati dan hidup kita kepada Terang yang sudah datang yaitu Yesus Kristus Tuhan, supaya kita beroleh hidup di dalam terang Allah. Selamat Natal dan Selamat menyambut Tahun Baru, kiranya kelahiran-Nya boleh kita sambut dengan hati yang terbuka dan yang mau diubahkan oleh kehendak Allah, sehingga kita boleh memasuki tahun yang baru dengan harapan yang baru dan diterangi kasih Allah. Tuhan memberkati.
DS

 

21 Desember 2014
"Taat dan Setia Seperti Maria"
2 Samuel 7:1-11,16, Lukas 1:46-55, Roma 16:25-27, Lukas 1:26-38

Ada 3 hal yang seringkali diidentikan dengan ketaatan adalah :
1. Hukuman; Misalnya, menjalankan aturan agama karena takut dihukum
2. Hadiah; Misalnya, bersikap taat karena dijanjikan kenikmatan hidup, kesuksesan dan berkat-berkat jasmani
3. Batasan; Ketaatan terkadang menimbulkan batasan yang seringkali merepotkan, misalnya ketika seseorang ingin mempunyai SIM, jika dia taat dan mengikuti aturan yang ada itu artinya dia siap-siap untuk direpotkan karena harus terus menerus mengulang tes berkali-kali.

Di sekolah tempat saya mengajar ada semacam aturan yang biasa diberikan oleh seorang guru, yakni jika anak-anak bersikap baik ataupun taat mereka akan diperbolehkan untuk menaikan "pin" yang nantinya akan dapat mereka pakai untuk mendapatkan stationery, dan hal itu cukup ampuh untuk membuat anak-anak menjadi taat. Tapi begitulah anak-anak bukan? Terkadang kita memang harus membujuk mereka untuk melakukan sesuatu supaya mereka taat, meskipun sebenarnya hal itu baik untuk mereka. Bagaimana dengan kita? jika kita mengaku percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat kita tetapi kita masih berpikir tentang 3 hal di atas, maka bukankan tidak ada bedanya kita dengan seorang anak kecil? Seharusnya orang yang sudah mengaku percaya dan lahir baru, menunjukkan seberapa dewasanya iman percaya mereka, dan hal ini ditunjukkan oleh Maria.

Maria berkata : "sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (Luk.1:38). Dari perkataan Maria ini terkandung kepercayaan penuh kepada seorang pribadi yang dia tahu Luar biasa. Kepercayaan itu menghasilkan ketaatan dan kesetiaan. Maria taat dan setia meskipun dia tahu akan resiko yang dia harus hadapi; kemungkinan akan direndahkan, dikucilkan, bahkan mungkin dihukum mati karena dianggap berzinah. Namun Maria tahu semua itu tidak ada artinya dibandingkan dengan anugerah dan kepercayaan yang Allah berikan kepadanya. Ketaatan bagi Maria bukan sekedar keputusan dalam hati, tetapi dia wujudkan dalam tindakan nyata meskipun dia harus mempertaruhkan masa depannya.

Bagaimana dengan kita? Apakah kepercayaan kita sudah cukup dewasa untuk dapat menghasilkan rasa taat dan setia seperti Maria? Ataukah masih hanya sekedar pengakuan namun tanpa tindakan nyata?

UQ

     

14 Desember 2014
"Terang Yang Mengalahkan Kegelapan"
Yes. 61:1-4, 8-11; Maz. 126; 1 Tes. 5:16-24; Yoh. 1:6-8, 19-28

Allah sudah memberkati hidup manusia, tapi manusia tidak memahaminya. Akibatnya manusia seperti domba yang berjalan kesana-kemari tanpa tujuan, dan jatuh ke dalam dosa, penderitaan dan pelbagai pencobaan. Allah adalah Firman, Roh dan kasih. Firman dan Roh Allah datang ke dunia ibarat api obor (suluh) yang memberi kehangatan kasih, penghiburan, serta penuntun langkah manusia yang sedang berjalan dalam gelap itu.

Bagaimana bisa sebuah Cahaya Terang bekerja membebaskan manusia dari kesengsaraan? Kesengsaraan manusia akibat manusia gagal saling mengasihi. Manusia mengutamakan diri sendiri, bukan Allah. Manusia mencari perkenan orang lain, bukan perkenan Allah. Manusia di tawan oleh keinginan sendiri, bukan keinginan Allah. Dalam kegelapan, manusia tidak bisa melihat bahwa hidup ini adalah tentang Allah. Ia tidak bisa melihat penyertaan Allah dalam hidupnya. Maka ia mengandalkan dirinya sendiri, dan terjebak dan terjerumus ke dalam rupa-rupa kesengsaraan.

Yesus Kristus adalah terang dunia. Terang yang membawa kehidupan. Ia memperlihatkan adanya persekutuan Tubuh Kristus yang saling bersaksi dan melayani. Ia menaruh Roh penghibur dan penuntun ke dalam setiap hati yang percaya kepadaNya. Ia membuat manusia mengerti bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya sendiri. Suara Allah, yakni Firman Nya, menjelaskan kebenaran akan kehidupan ini. Manusia tidak lagi berjalan sendiri dalam kegelapan, karena suara Gembala yang penuh kasih, yakni Firman, menerangi tujuan hidup serta jalan menuju ke sana.

Dengan mengutamakan Allah, hidup manusia menjadi jauh lebih sederhana. Ia tidak lagi bergantung dari pengakuan dan perkenan orang lain. Ia tidak lagi cemas, takut, sepi, terisolasi, dan terpenjara karena Allah menemani nya setiap saat. Hidupnya menjadi kudus, dan tidak membutuhkan lagi berbagai keinginan yang ditawarkan dunia.

Dengan mata hati yang sudah diterangi Roh Allah itu, manusia mampu melihat sesama nya yang sedang kesusahan, dan perlu dibantu. Manusia jadi mampu melihat reruntuhan kota-kota dan membangunnya kembali. Melaluinya, benih dari Allah tumbuh subur menjadi pohon yang berbuah, membawa berkat bagi banyak orang.

Maka kebahagiaan datang dalam hidupnya, sebagai ganti dari kesengsaraan.

Oleh sebab itu mari kita menyambut datangnya Tuhan kita, yang datang sebagai Terang Dunia. Jangan padamkan api Roh dalam diri kita. Melalui kita, api itu menyinari dunia, sehingga semakin banyak orang yang sedang berjalan dalam gelap bisa melihat terang.

Mungkin kita sedang mengalami berbagai penderitaan, kesengsaraan, dan hidup kita seakan gelap. Datanglah pada Terang itu. Biarlah terang itu mengubah cara kita melihat diri kita dan dunia ini. Terang Tuhan membawa harapan di tengah-tengah kekelaman penderitaan manusia.

AL

 

 

7 Desember 2014
"Menyiapkan Jalan Bagi-Nya "
Yes. 40:1-11; Mark. 1:1-8

Masyarakat kota Roma menyambut kaisar dengan antusias, pesta, tarian, dan hingar-bingar musik. Tujuan : Kaesar bergembira. Apa yang kita siapkan untuk menyambut keda- tangan Raja, Sang Mesias kita? Apakah sekedar menyiap-kan, ibadah, musik, dekorasi, dan hidangan yang lezat ? Mestinya ada yang lebih dari itu. Apa?

Dalam Injil Markus 1:1-8, dikisahkan sebelum kedatangan Mesias ada seseorang yang diutus Tuhan menyiapkan jalan bagi-Nya. Bahkan jauh sebelum, Yesaya telah menubuatkannya (Yesaya 40:1-11). Bahwa sang utusan itu akan tampil untuk menutup lembah dan memangkas gunung agar menjadi dataran yang rata menjelang kedatangan Mesias. Utusan tersebut ternyata adalah Yohanes Pembaptis. Nah, bagaimana menyiapkan jalan bagi Tuhan ? 1.

Buang segala penghalang Yesaya 40 : 4; Menutup lembah dan memangkas gunung. Memangkas hambatan yang membuat orang sulit untuk bertemu dengan Allah. Bukan dengan membawa buldozer untuk meratakan jalan di padang gurun. Penghalang di sini menunjuk pada Yesaya 59:1,2 yang adalah DOSA yang harus disingkirkan melalui pertobatan. Ada seorang laki-laki membaca koran pagi dan menjadi sangat terkejut. Mengapa? Berita-nya salah. Si pembaca masih hidup tetapi diberitakan : “Mati”. Berita itu tercetak tebal, headline bunyinya, “Matinya Raja Dinamit” - seorang “pedagang kematian”.Ia bergumul, apakah dirinya sungguh-sungguh ingin dikenang orang sebagai seorang “pedagang kematian”?

“Tidak!” pikirnya, “aku tidak ingin anak-cucuku dan orang-orang lain menyebut diriku sebagai seorang pembuat dan penyebar kematian!” Mulai saat itu, ia mencurahkan tenaga dan uang yg dimilikinya untuk menciptakan perdamaian dan kebaikan bagi umat manusia. Benar orang mengenangnya sebagai agen perdamaian. Dialah Alfred Nobel seorang pendiri Yayasan Hadiah Nobel Perdamaian. Ratakan jalan, sebelum Mesias itu datang yang kedua kalinya ... koreksi dan adakanlah waktu untuk merendahkan diri, dan baharui hidup, agar kelak Tuhan datang dan akan berkata: “Mari masuklah dalam kebahagiaan Tuan-mu.”

2. Hidup yang dihidupi oleh penyelamatan MESIAS Yesaya 40 : ... Berserulah !! Nabi Yesaya bertanya: “Apa yang harus kuserukan ?” Jawab : “ Seluruh manusia : seperti rumput – bunga dipadang, rumput kering bunga layu ... Hidup manusia itu SEMENTARA .... ingatlah itu. HANYA FIRMAN Allah kekal. Tidak ada jalan menuju kekekalan tanpa menerima PENYELAMATAN dari Allah.

Firman Tuhan mengajak umat untuk hidup bermakna – Melalui memberi diri di baptis. Hanya melalui “menjadi milik Tuhan” (dibersihkan dari dosa / baptis), maka hidup ini tidak sia-sia. Hidup yang ada di manusia dosa – fana. Seperti rumput / bunga rumput yang sebentar adanya, segera lisut, layu, gugur, kering dan jadi tanah. Memberi diri dibaptis, adalah jawaban manusia terhadap niat Allah untuk mengubah hidup yang sia-sia, menjadi hidup yang kekal.

Firman Tuhan mengajak umat untuk hidup bermakna – Melalui hidup sebagai hamba bagi Tuhan. Kita perlu sekali untuk menerapkan hidup seperti Yohanes Pembaptis. Seluruh dirinya menjadi hamba Tuhan. Utusan Tuhan. Tidak ada yang untuk dirinya. Hidupnya menyesuaikan diri dengan tempat dimana Tuhan memberi dia rumah. Yakni padang gurun, yang adanya belalang dia makan belalang. Madu, ia minum madu, dan bulu unta untuk pakaiannya. Bahkan orang menyebut Yohanes sebagai “jari telunjuk Allah”. Hidupnya / sikapnya / tujuannya hanya untuk menunjuk Allah. Mengarahkan manusia pada kemuliaan Allah semata. Hidup yang bermakna adalah ketika hidup ini seluruhnya dipersembahkan bagi Allah.

3. Menjadi jemaat yang turut mewujudkan kemuliaan Tuhan Adven ke 2 ini, sekaligus Jemaat GKI Pasteur memperingati 27 tahun GKI Pasteur, kita bersyukur, karena Tuhan mengingatkan kita, untuk bersyukur, sebab kita semua adalah umat Tuhan, Gereja Yesus Kristus. Kita ingat, kita sadar, dan kita bersyukur : Terpujilah Tuhan Raja Segala Raja, hormat bagi kemuliaanNya ... yang telah ,mengubahkan kita memiliki hidup bermakna, karena Mesias. Hari ini juga kita merenungkan kembali arti panggilan Jemaat sebagai hamba Tuhan. Agar menelaah kembali kearah mana sebagai “Jemaat GKI Pasteur” yang adalah gereja Tuhan Yesus. Meninjau arah yang mesti diluruskan, mana jalan-jalan yang mesti diratakan untuk membuat kemanusiaan yang berdosa ini makin layak di hadapan Tuhan. Membuang semua yang diarahkan untuk kemuliaan diri. Sekaligus ajakan agar peka akan apa-apa yang menjadi "cacat" dan "noda" kemanusiaan: kemelaratan, ketakadilan, perbedaan yang kurang memberi keleluasaan untuk berkembang.

SELAMAT Ulang Tahun kita bersama, ayo ... jadilah Jemaat yang terus mewujudnyatakan harapan – kedatangan Tuhan ke-dua kali ... yakni datangnya damai sejahtera tanpa cacad, damai sejati nan sempurna. Wujudkan sekarang saja harapan ini, dengan hidup berbagi kasih dan sukacita dari Tuhan, Penyelamat kita. Lakukan yang lebih banyak lagi, tingkatkan kualitasnya. Bawalah bunga pada dunia - agar dunia ini penuh keharuman. Bagikan saputangan, sekalipun hanya sekedar mengusap dan menghapus air mata, bawalah payung agar orang turut berteduh di tengah dinginnya air hujan. Bawalah semua yang berguna bagi sesama, sebagai GKI Pasteur pembawa damai sejahtera Tuhan. Inilah waktu dan kesempatan bagi kita sebelum kedatanganNya.

Viva GKI Pasteur – selamat menjadi jemaat seharum bunga kasih Tuhan ...
Maranatha ... sampai Tuhan datang.  Amin.


pkm

     

30 Nopember 2014
"BERJAGA HINGGA KESUDAHAN"
Yes 64 : 1-9; Maz 80:1-7, 17-19; 1 Kor 1: 3-9; Mark13: 24-37

Kata ADVEN (Latin Adventus) artinya ‘kedatangan'. Pertama kali kata Adven dipakai secara umum dalam Imperium Romawi. Kata ini digunakan untuk menyambut kedatangan seorang kaisar yang dianggap sebagai dewa. Adven juga terkait dengan masa penantian kedatangan Mesias oleh umat Israel dalam Perjanjian Lama. Berdasarkan latar belakang itu maka beberapa abad kemudian kata yang sama dipakai dalam gereja untuk menyatakan bahwa yang datang itu bukanlah kaisar, melainkan Yesus Kristus yang adalah Raja dan Tuhan. Kedatangan Kristus yang diperingati gereja pada masa Adven mempunyai makna ganda. Tidak hanya menunjuk kepada kedatangan Kristus pada hari Natal, tetapi juga menunjuk pada kedatangan-Nya yang kedua pada akhir zaman.

Kedatangan Yesus yang pertama ditunjukkan dalam peristiwa Natal. Pada kedatangan-Nya yang pertama ini Yesus mendata-ngi ruang hidup manusia dengan segala kesederhanaan-Nya dan kehinaan-Nya, agar manusia yang arogan, tinggi hati, maunya menang sendiri, merasa benar sendiri, berlumur dosa menjadi luluh dan luruh dalam pelukan Yesus. Ia memanggil setiap manusia yang berbeban berat untuk bersimpuh di hadapan-Nya dan menerima pembebasan serta penyelamatan.

Kitab-kitab Perjanjian Baru menggambarkan kedatangan Yesus yang kedua kalinya dalam kemuliaan-Nya dan kemegahan-Nya. Ia datang sebagai Raja yang memerintah dan berdaulat (Why. 21: 1-8). Ia datang sebagai “mempelai laki-laki” bagi “mempelai perempuan-Nya”, yakni Jemaat atau Gereja (Why.22:6-17). Ia datang sebagai hakim yang adil bagi manusia dan menjemput manusia memasuki Kerajaan-Nya yang abadi (Mat.25:31-46).

Kendati penggambaran kedatangan Yesus yang kedua cukup jelas, namun kapan waktunya Ia datang, Alkitab tidak memberi keterangan yang jelas. Alkitab hanya memberi petunjuk bahwa kedatangan-Nya tidak terduga, seperti seorang pencuri yang kedatangannya tidak ada yang tahu dan tidak akan pernah memberi tahu (Luk. 12: 39). Di sinilah makna pesan Yesus dalam Injil Markus 13: 33-37 menjadi penting untuk diperhati-kan, yakni supaya kita berhati-hati dalam menjalani hidup, tidak lengah dan tetap waspada kalau sewaktu-waktu Ia datang.

Minggu-minggu Adven yang diperingati selama empat minggu harus memampukan kita mendalami kedua aspek kedatangan Yesus. Di antara dua kedatangan itu kita dipanggil untuk menjadi rekan sekerja Allah dalam menghadirkan Kerajaan Allah di muka bumi ini. Yaitu suatu Kerajaan dimana ada kedamaian, keadilan, kesejahteraan dan cinta kasih persaudaraan semua orang tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan.

Selain itu, pada masa adven ini pula kita didorong untuk tetap serius dalam menantikan keselamatan yang datang dari Tuhan Yesus dan memantapkan diri untuk hidup secara benar dan bermutu sambil terus bersaksi. Ragam kegiatan seperti menghias pohon natal bersama anggota keluarga di rumah atau di Gereja, mendengarkan lagu-lagu pujian, mengikuti latihan Koor, latihan Drama Natal, mengikuti Persekutuan Doa, berpuasa dan berkarya bagi kemuliaan nama Tuhan melalui aksi sosial adalah sarana yang baik untuk kita lakukan demi pertumbuhan spiritualitas kita.
LPPS GKI

 

23 Nopember 2014
"KEPUTUSANKU: MENGIKUT YESUS, RAJAKU!"
Yeh. 34:11-16, 20-24; Maz. 100; Ef. 1:15-23; Mat. 25:31-46

Tentu kita tidak asing dengan lagu yang liriknya demikian: “Ikut, ikut, ikut Tuhan Yesus: ‘ku tetap mendengar dan mengikutNya. Ikut, ikut, ikut Tuhan Yesus; ya, ke mana juga ‘ku mengikutNya!” Lagu yang tercatat dalam KJ. 370 dengan syair aslinya Down in the Valley with My Saviour I Would Go, ditulis oleh William Orcutt Cushing (1823 – 1902). Orang tua dari William Cushing merupakan kelompok orang yang tidak percaya pada keilahian Yesus dan ia dididik dalam lingkungan orang-orang yang demikian. Namun saat ia mempelajari Alkitab secara pribadi, ia menjadi orang yang percaya akan keilahian Yesus. Sehingga di usianya yang ke delapan belas, ia memutuskan untuk menjadi pendeta. Dan syair lagu tersebut ditulis tahun 1987, di saat usianya 55 tahun dan sedang mengalami sakit (diambil dari http://wordwisehymns.com/ 2014/06/27/follow-on/). William O. Cushing memutuskan mengikuti Yesus sebagai Juruselamatnya kemanapun & apapun yang Yesus kehendaki dalam keadaan apapun.

Mengikut Yesus adalah sebuah keputusan yang tidak main-main. Begitu kita memutuskan untuk ikut Dia, maka tidak ada jalan untuk kembali kepada masa lalu dan manusia lama kita. Sekali kita memutuskan untuk mengikut Dia, maka mau tidak mau, suka tidak suka semua yang menjadi kehendak Dia harus kita laksanakan dalam kondisi apapun, baik senang ataupun susah, sukses atau gagal, sehat atapun sakit. Namun kenyataannya tidak sedikit yang mengingkari imannya kepada Yesus karena merasa kebutuhannya tidak dipenuhi. Mereka adalah orang-orang yang mengikut Yesus hanya jika kehendakNya menguntungkan dirinya. Mereka mengikut Yesus hanya jika tidak ada hambatan, rintangan ataupun penderitaan. Begitu ada rintangan dan penderitaan mereka tidak lagi mengikuti Yesus.

Domba dan kambing dalam Mat. 25:31-46 merupakan gambaran dari mereka yang mengaku mengikut Yesus. Domba digambarkan sebagai mereka yang mengaku mengikut Yesus dan benar-benar melakukan kehendak Yesus (35,36,40). Sedangkan kambing digambarkan sebagai mereka yang mengaku mengikut Yesus namun tidak melakukan kehendak Yesus dalam hidupnya (42,43,45). Jadi banyak yang mengikut Sang Gembala Agung, namun hanya domba – domba yang akan menerima Kerajaan yang telah disediakan Bapa (lih. Mat. 25:34). Sedangkan kambing–kambing akan masuk ke tempat siksaan yang kekal (41 dan 46).

Marilah kita merenungkannya, apakah keputusan kita untuk mengikuti Yesus dan kehendakNya sudah sungguh-sungguh terwujud dalam kehidupan kita? Marilah kita bercermin melalui gambaran yang Tuhan Yesus berikan, domba atau kambingkah kita ini di hadapan Tuhan Yesus? Mata Tuhan melihat apa yang kita perbuat.
DS

     

16 Nopember 2014
"BILA TUHAN MENGUTUS"
Hakim-hakim 4:1-7, Mazmur 123, I Tesalonika 5:1-11; Matius 25:14-30

Beberapa hal penting yang harus dimiliki oleh seorang utusan Tuhan adalah:

Pertama, Seorang utusan menyadari dengan sungguh bahwa ia dipilih dan diutus oleh Tuhan. Seorang pilihan dan seorang utusan bukanlah orang sembarangan. Ia dipilih dan diutus oleh Tuhan. Ketika Tuhan memilih dan mengutus seseorang untuk menjadi utusanNya tidaklah asal pilih. Ketika seseorang menyakini akan pilihan dan pangutusan ini, maka ia akan melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh.

Kedua, seorang utusan harus sungguh mengenal siapa yang mengutusnya. Ketika seorang utusan mengenal secara benar siapa yang mengutusnya, maka dalam menjalankan tugasnya tidak dikuasai oleh rasa takut dan kuatir meskipun banyak hambatan dan tantangan. Contoh, Nabi Nehemia ketika membangun tembok Yerusalem yang hancur, ia tidak takut meskipun banyak tantangan baik tantangan dari dalam dan dari luar. Ia dapat menyelesaikan pembangunan tembok itu dengan baik. Seorang utusan hanya memandang dan mengharapkan pertolongan dan bantuan dari Sang Pengutus, bukan mengharapkan dari pertolongan orang lain. Seorang utusan hanya fokus pada tugas dan tanggungjawab yang diberikan oleh Sang Pengutus.

Ketiga, seorang utusan harus memahami dengan benar akan tugas dan tanggungjawabnya sebagi utusan. Pemahaman ini penting sehingga seorang utusan tidak salah dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Seorang hamba, dalam cerita Matius 25, tugas dan tanggungjawabnya itu jelas yaitu mengembangkan uang yang diberikan oleh sang tuannya.

Itulah sebabnya hamba yang pertama dan hamba yang kedua menjalankan tugas itu dengan baik dan sukses. Namun hamba yang menerima satu talenta itu tidak memahami akan tugas dan tanggungjawabnya, itulah sebabnya ia pergi menguburkan talenta itu dan tidak menghasilkan apa-apa.

Keempat, seorang utusan mengenali dan menyadari akan kekurangan dan kelebihannya. Ketika seorang utusan menyadari akan kekurangan dan kelebihannya, maka ia tidak akan menyombongkan diri, tetapi ia akan semakin bergantung sepenuhnya kepada sang Pengutus. Ia juga akan terus belajar dan belajar untuk diperlengkapi supaya pelayanannya semakin baik.

Kelima, seorang utusan memiliki pikiran dan perasaan seperti Kristus. Yesus Kristus adalah standar kebaikan dan kebenaran yang sempurna. Jika Kristus yang penuh dengan belas kasihan, maka seorang utusanNya semestinya memiliki karakter yang demikian. Pelayanan Yesus lahir dari hati yang penuh dengan belas kasihan, maka dampak pelayanaNya kita nikmati sampai hari ini. Siapakah seorang utusan itu? Orang yang percaya dan yang menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
RDL

 

9 Nopember 2014
"Mengapa Melayani? "
Yosua 24:1-3, 14-25; Mazmur 78:1-7; 1 Tesalonika 4:13-18; Matius 25:1-13

Mengapa melayani? Mungkin ada yg memberi alasan: karena tugas setiap orang percaya, ingin menyatakan kasih Tuhan, mengaktualisasikan diri sesuai talenta, menyalurkan bakat, ingin menjadi berkat, dan sebagainya. Semua jawaban tersebut benar. Namun dalam perikop Yosua 24, umat diajak untuk belajar menghayati tugas melayani bukan sekedar kewajiban, aktualisasi diri, menyalurkan bakat, atau menjadi berkat.

Yosua 24, menyegarkan kembali ingatan umat, bahwa Tuhanlah yang mengambil (Yos 24:3) Abraham untuk beribadah pada Allah. Tuhanlah yang membawa (6) Israel dari Mesir, dan tanah Kanaan menjadi rumah bagi Israel, diperoleh dengan tanpa bersusah-susah, karena pemberian Tuhan (13). Yosua dan umat Israel, karena mengingat semua kasih Tuhan tersebut, menyatakan : “Hanya kepada Tuhan saja kami beribadah, dan firmanNya akan kami dengarkan” (24:21,24). Antusiasme umat Israel dan Yosua, kental berada dalam diri Pemazmur yang rindu mengenalkan, menceritakan karya Tuhan, agar tiap keturunan/angkatan mengenal dan menaruh percaya pada Tuhan dan melayaniNya (Mz 78). Kitab Yosua 24 dan Mazmur 78 bersaksi : “Temukan sumber spritualitas iman yang terdalam, yaitu melayani (ibadah) karena seluruh karya keselamatan Allah telah dialami. Tanpa mendasarkan pelayanan pada sumber spiritualitas yang tepat dan benar, kualitas pelayanan/ibadah akan rendah”.

Sekalipun umat melayani Tuhan, bukan berarti tidak mengalami kedukaan. Surat R.Paulus pada jemaat (1 Tes 4:13-18), memberi penghiburan, yang menekankan : “orang percaya memiliki pengharapan.” Yang mati akan dibangkitkan kembali, yang hidup akan diangkat, yakni pada saat kedatangan Tuhan kembali (parousia). Setiap orang percaya, dengan demikian akan melayani Tuhan sampai akhir.

Bahkan melayani dengan sikap hati yang senantiasa siap dan dengan antusias menyongsong kedatangan Tuhan (mempelai). Matius 25:1-13 : kehidupan umat Tuhan di kancah dunia bukan seperti sikap ke-lima gadis bodoh, tanpa persediaan minyak sehingga tidak siap menyambut kedatangan mempelai yang datang terlambat.

Sikap umat adalah seperti ke-lima gadis bijaksana yang selalu siap menyongsong, sehingga dapat masuk untuk menemui para mempelai pria yang datang dan ikut dalam pesta perjamuan.

Pada Firman Tuhan hari ini, kita makin menemukan dan merasakan bahwa kasih Allah yang menyertai sepanjang hidup umat-Nya (sampai kedatangan Tuhan / parousia) : begitu agung, mulia dan mengharukan. Rahmat Allah berkenan mengaruniakan kepada kita, manusia yang sebenarnya tidak layak, namun dari anugerahNya kita diperkenankan dihisabkan dalam perjanjianNya. Karena itu motivasi kita melayani Tuhan adalah: pertama, ucapan syukur atas anugerah Tuhan. Kedua, bertanggungjawab atas ikatan perjanjian yang telah diikrarkan di hadapan Allah. Ketiga, pada dirinya, kasih lahir dari hati kita yang telah dibarui oleh keselamatan Allah.

Melayani lahir dari kedalaman batin kita. Melayani adalah tindakan ibadah, tidak ada pemisahan antara bidang sekuler dan rohaniah. Pelayanan bersifat holistic (utuh dan menyeluruh), bukan parsial (sebagian atau lingkup tertentu). Maka sekarang marilah kita koreksi diri kita, sambil merenungkan kembali : “Mengapa melayani?”. Hari ini kita tanggapi panggillan Tuhan dengan menguduskan setiap bidang kehidupan sebagai pelayanan syukur (ibadah) kita karena berkat anugerahNya.
pkm

     

2 Nopember 2014
"ALLAH MENGARUNIAKAN KELELUASAAN HIDUP"
Yosua 3:7-17; Mazmur 107:1-7, 33-37; I Tesalonika 2:9-13; Matius 23:1-12

Apa pendapat Anda saat Anda dibaptis dan menjadi orang Kristen? Anda merasa terikat oleh hukum-hukum Allah, tak leluasa bergerak, atau justru bebas dari dosa, lalu berlari ke sana ke mari seperti kuda lepas kandang? Bagaimana Anda menghayati kehidupan Anda sebagai seorang Kristen yang telah dibebaskan dari cengkeraman dosa, lalu leluasa untuk menempuh kehidupan Kristen Anda?

Judul renungan di atas mengungkapkan adanya keleluasaan yang dikaruniakan Allah kepada kita. Keleluasaan sebatas apa, sehingga benar-benar kita dalam kegembiraan hidup sebagai orang Kristen menampilkan suasana baru. Ada gambaran yang sering dikemukakan, bahwa hidup orang Kristen adalah ibarat ikan yang berada di dalam air, karena air adalah habitat ikan. Keleluasaan hidup ikan ada di dalam air dan tidak di luarnya. Begitu ikan itu ingin lebih leluasa berada di luar air, justru ikan itu akan mati. Pada hakikatnya, seperti ikan itulah kehidupan kita sebagai orang Kristen, yakni keleluasaan hidup berada di lingkungan Allah dan tidak di luarnya.

Yosua adalah pemimpin umat Israel, pengganti Musa. Semua kewibawaan sebagai pemimpin yang ada pada Musa, juga ada pada Yosua, sehingga Yosua tampil secara mantap dengan penyertaan Allah. Begitu pula Allah hidup di tengah umat Israel dan menyertai mereka dengan kasih dan kesetiaan-Nya. Segala kesulitan diselesaikan-Nya dengan kekuasaan-Nya yang ajaib, termasuk menyibak air sungai Yordan dan menghalau bangsa-bangsa yang berdiam di sekitar Israel. Dengan demikian, terpeliharalah iman dan kekhususan Israel sebagai umat pilihan Allah, sehingga mereka leluasa mengamalkan iman mereka. Pengalaman umat Israel pada zaman Yosua ternyata dihayati pula oleh pemazmur 107, sehingga ia menyaksikan kemurahan Allah dan mensyukurinya.

Berikutnya, keleluasaan juga diwujudkan dalam pelayanan Rasul Paulus melalui kesaksiannya kepada jemaat Tesalonika. Ia leluasa melayani pemberitaan Injil, di samping ia juga leluasa untuk membuat kemah yang dijual, agar tak membebani jemaat dalam masalah finansial. Landasannya, hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Menyusul, para orang Yahudi pada zaman Tuhan Yesus, hendaknya juga dengan leluasa melaksanakan firman Allah, sebagaimana yang diajarkan oleh para orang Farisi, namun tidak mengikuti perilaku mereka, sebab perilaku mereka tidak pantas menjadi teladan. Nyata bagi kita, bahwa keleluasaan yang Allah berikan tidak disalah-gunakan, melainkan dengan penuh syukur dinikmati sebagai karunia-Nya. Artinya, betapa pun leluasanya, tetap saja kita harus mempertanggung-jawabkannya dengan baik dalam ketaatan kepada kehendak Allah. Hal itu diingatkan oleh Rasul Paulus dalam Galatia 5 : 13, agar kemerdekaan (keleluasaan) pemberian Allah itu digunakan dalam pelayanan kasih kepada sesama dan tidak untuk berbuat dosa. Amin.
Oleh Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

 

26 Oktober 2014
"Keluarga : Gereja terkecil yang membawa pengharapan di tengah dunia "
Ul. 34:1-12, Maz. 90:1-6, 13-17, 1 Tes. 2:1-8, Mat. 22:34-46

Di tengah hiruk-pikuk kegiatan orang zaman modern ini, sukacita dan kedamaian di dalam keluarga menjadi hal yang paling dirindukan, namun begitu banyak tantangan yang dihadapi keluarga menyebabkan sulitnya setiap anggota keluarga dapat merasakan sukacita dan kedamaian bahkan hal tersebut berdampak juga untuk bisa menghidupkan dan mengembangkan sebuah tradisi religius dalam rumah tangga.
Berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi seperti fenomena TV, internet, HP, dll, adalah suatu tantangan tersendiri bagi keluarga untuk menciptakan suasana religius di dalam rumah tangganya. Satu pertanyaan kritis dan reflektif bagi kita: Ketika dunia dipengaruhi perkembangan teknologi yang begitu hebat, budaya materialisme dan hedonisme yang merajalela, apakah orang tua masih mampu memberikan bekal rohani yang baik bagi anak-anaknya? dan apakah anak-anak cukup bisa melihat dan menghargai fungsi dari sebuah keluarga di dalam kehidupan perkembangan mereka?

Ketiga bacaan kita hari ini mengingatkan kita akan pribadi Allah yang dapat dipercaya, artinya dalam keluarga seharusnya Allah yang menjadi pusat utama dalam kehidupan keluarga. Sebagai Gereja mini, keluarga harus memberikan bekal iman yang mendalam bagi setiap anggotanya khususnya dalam hal ini adalah anak-anak. Pengenalan pertama tentang Gereja atau iman Kristen justru terjadi dalam keluarga. Keluarga sebagai gereja kecil tidak lain sebuah tempat di mana kita mengenal iman dan merasakan sebuah persekutuan cinta. Dalam keluargalah kita pertama kali mengenal nilai-nilai kekristenan yang menjadi dasar untuk membangun gereja secara universal. Apabila keluarga-keluarga kristen sungguh mengenal dan mendalami peran keluarga sebagai gereja mini hal ini pasti berdampak dan dapat mempengaruhi masyarakatnya secara positif, sehingga Keluarga sebagai gereja terkecil dapat membawa pengharapan di tengah dunia.
Wyk

     

19 Oktober 2014
"Keluarga Menghayati Penyertaan Tuhan"
Kel. 33:12-23, Maz 99, 1 Tes 1:1-10, Mat 22:15-22

Dalam percakapan antara Musa dan Tuhan di Keluaran 33, Musa menyatakan bahwa perjalanan kehidupan dirinya dan bangsa Israel tidaklah sempurna dan bermakna tanpa penyertaan Tuhan. Musa yang telah mengalami penyertaan Tuhan memberikan pengakuan bahwa Tuhan yang memulai karya pembebasan dan pemeliharaan atas dirinya dan bangsanya. Oleh karenanya, Musa sangat bergantung dan berharap pada pimpinan Tuhan saja (ay. 15). Dalam kondisi yang baik ataupun tidak baik, Musa memberikan teladan yang berkenan di hadapan Tuhan yaitu hidup yang bergantung dan berharap pada penyertaan Tuhan. Apapun yang hendak dilakukan, Musa senantiasa mencari kehendak Tuhan dalam hidupnya. Inilah teladan yang patut kita contoh yaitu mencari kehendak Tuhan dalam kehidupan kita dan keluarga kita.

Begitu juga dengan pemazmur yang menyatakan bahwa Tuhan adalah Raja yang kuat dan yang berkarya dalam kehidupan umat. Pengakuan ini muncul dari pengalaman hidup pemazmur atas penyertaan Tuhan selama hidupnya. Pemazmur menyadari bahwa kehidupannya dan bangsanya sering tidak setia, sering berdosa dan melalukan apa yang jahat di hadapan Tuhan. Namun demikian, Tuhan tetap setia dan adil. Tuhan memberikan pengampunan kepada umat-Nya dan keadilan dalam penghukuman-Nya (Maz. 99:8), supaya umat boleh belajar hormat dan tunduk serta menyembah hanya kepada Tuhan saja (ay. 9). Sehingga dengannya kasih dan kesetiaan Tuhan menjadi harapan bagi umat dalam menjalani kehidupannya.

Jemaat di Tesalonika merupakan jemaat yang baru percaya kepada Yesus Kristus. Sebelumnya mereka adalah penyembah-penyembah berhala (1 Tes. 1:9). Kini dalam menjalani hidupnya yang baru ternyata mereka harus mengalami penindasan karena iman mereka (ay. 6) dan itu membuat mereka bimbang dan ragu akan penyertaan Tuhan selama ini. Dalam kondisi seperti itu, rasul Paulus memberikan nasehat dan semangat, agar mereka tetap hidup dalam iman yang selama ini telah mereka pegang teguh (ay. 3-4). Ia meyakinkan jemaat bahwa meski mereka harus mengalami penindasan, Tuhan akan senantiasa menyertai mereka melalui Roh Kudus-Nya (ay.6). Sehingga pengharapan dan penantian jemaat akan kedatangan Anak-Nya dari sorga tidaklah sia-sia, sebab Dia-lah yang akan menyelamatkan jemaat dari murka yang akan datang (ay. 10).

Demikian juga dengan setiap kita saat ini yang mungkin dalam pergumulan yang berat. Tetaplah percaya dan berpegang teguh pada Tuhan. Pengharapan dan penantian kita pastilah tidak akan sia-sia.

Dalam Mat. 22:16 orang-orang Farisi dan Herodian (orang-orang yang secara politis mendukung keluarga Herodes Agung dan anaknya Herodes Antipas untuk menjadi raja di Yerusalem) ingin menjebak Yesus dengan pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar. Namun pertanyaan jebakan itu dipakai-Nya untuk mengajar orang-orang yang ada di sana tentang kewajiban manusia (ay. 21). Nah sekarang pertanyaannya adalah, apa yang menjadi kewajiban manusia kepada Allah? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah melakukan perintah-perintah Allah dengan segenap hati dan segenap jiwa dan akal budi. Oleh karenanya, ketika kita menyadari dan mengalami penyertaan Tuhan bahwa Ia yang telah menolong, memimpin dan memberkati kita dan keluarga kita, apakah kita sudah melakukan kewajiban kita kepada-Nya? Apakah kita sudah melakukan perintah-perintah-Nya? Marilah kita merenungkannya.
DS

 

 

12 Oktober 2014
"JANGAN BERIMAN KEPADA ILAH YANG PALSU"
Kel. 32:1-14; Maz. 106:1-6, 19-23; Filip. 4:1-9; Mat. 22:1-14

Bertitik tolak dari arti / makna kata “beriman”, maka beriman berarti kita mempercayakan seluruh kehidupan kita dan menyembah kepada apa atau siapa yang kita imani. Ketika kita beriman kepada Yesus Kristus, itu berarti kita menyerahkan seluruh hidup kita dan menyembah Yesus Kristus sebagai Tuhan atas hidup kita. Ketika umat Israel ramai-ramai menyembah patung lembu emas yang mereka buat itu berarti mereka dengan sadar menyerahkan seluruh hidupnya kepada lembu emas itu (beriman). Dari bacaan kitab keluaran di atas menjelaskan bahwa umat Israel dengan mudahnya meninggalkan Tuhan dan berpaling kepada ilah lain. Umat Israel barangkali sangat kecewa ditinggalkan Musa selama 40 hari di atas gunung. Dengan perginya Musa mereka berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkan mereka dan sudah tidak peduli lagi terhadap mereka. Itulah sebabnya mereka menggantikan posisi Tuhan dengan lembu emas. Pelajaran yang dapat kita renungkan adalah bukankah seringkali kita juga merasa ditinggalkan Allah, tidak dipedulikan oleh Allah, kemudian kita menjadi kecewa dan marah sama Tuhan; mulai malas bedoa, malas baca firman, malas beribadah dan selanjutnya meninggalkan Tuhan.

Bacaan Matius 22:1-22, memberikan pesan sebagai berikut:
Pertama, Kerajaan sorga telah Allah sediakan bagi yang mau datang kepada Allah dalam Yesus Kristus. Allah menyediakan tempat yang sangat istimewa bagi manusia, yaitu Kerajaan Sorga. Kerajaan Sorga bukanlah hayalan, ilusi orang beriman, tetapi tempat yang Allah sediakan.
Kedua, Allah tak henti-hentinya memanggil manusia untuk masuk ke dalam Kerajaan sorga dengan cara mengutus hamba-hambanya untuk memberitakan undangan itu. Undangan itu disampaikan kepada semua orang dan kepada semua tempat.

Ketiga, manusia memiliki kebebasan untuk memilih. Apakah manusia memilih dan menyambut undangan Allah itu atau menolak undangan itu. Ini yang sering disebut dengan free will yang dimiliki oleh manusia. Allah tidak memaksa manusia untuk menyambut undanganNya, meskipun Allah bisa untuk memaksakan manusia. Allah memberikan kebebasan manusia untuk memilih jalan hidupnya. Ada ribuan macam alasan manusia untuk menolak undangan Allah itu.

Keempat, manusia yang menolaknya dan yang membunuh para utusannya akan dihukum. Mereka akan menerima konsekuensi dari penolakkannya. Dalam menjalani kehidupan ini seringkali kita diperhadapkan pada pilihan-pilihan, kemudian kita harus memilih salah satu dari sekian pilihan itu.

Apakah kita memilih beriman kepada Tuhan Yesus Kristus atau beriman kepada mamon? Ketika kita memilih untuk beriman kepada Yesus Kristus berarti kita menyerahkan seluruh kehidupan kita dan sujud menyembah kepada Tuhan Yesus. Kita pada akhirnya dapat menikmati tempat yang Tuhan sediakan bagi kita, yaitu sorga. Ketika kita memilih untuk beriman kepada mamon, berarti kita menyerahkan seluruh hidup kita dan taat kepada kehendak mamon.
RDL

     

5 Oktober 2014
"Keluarga Mencari Tuhan"
Kel. 20 : 1-4, 7-9, 12-20; Mz. 19; Fil. 3:4-14; Mat. 21:33-46

Puji Tuhan, Minggu ini kita mengawali Bulan Keluarga Tahun 2014. Firman Tuhan hari ini , mengajak kita sebagai keluarga “yang sedang melakukan perjalanan” untuk hidup berfokus pada Tuhan. Tuhan dan FirmanNya menjadi Teman perjalanan hidup kita, agar hidup kita tidak berbelok arah kepada jalan hidup yang menuju kehancuran.
Seperti umat Allah sejak di zaman Perjanjian Lama dipanggil untuk hidup setia berbakti kepada Allah saja, demikian Tuhan ingin supaya setiap keluarga setia memelihara persekutuan dengan Allah dan dengan sesama dalam hidup sehari-hari. Itulah sebabnya Allah memberikan Sepuluh Perintah Tuhan untuk ditaati oleh umatNya (Keluaran 20).

Pada masa ini, banyak keluarga Kristen mencari Tuhan saat butuh bantuan saja. Karena itu tak heran bahwa setelah peristiwa 11 September 2001, konon orang Amerika mulai kembali berdoa. Demikian dalam praktek kehidupan, Allah sebenarnya sering tidak dicari, tidak diperlukan karena semua berjalan terkendali dan normal. Padahal jika setiap keluarga selalu setia “mencari Tuhan” maka demikian kata-kata Firman Tuhan : “ ... Tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau ... (Mzm 9:10) …. tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik (Mzm 34:11) …selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil (2 Taw 26:5).

Dalam surat Filipi pasal 3, Rasul Paulus memaparkan tiga pokok pikiran yang menarik, yaitu tentang kehidupan Paulus dahulu sebelum mengenal Kristus, penilaian Paulus atas hidupnya dahulu, dan tujuan arah hidupnya sekarang setelah mengenal Kristus. Itulah sebabnya Paulus mengajak kita untuk berjuang : “melupakan yg dibelakang, mengarahkan diri pada tiap perkara di depanku” .. berlari ke tujuan untuk memperoleh hadiah panggilan sorgawi”

Bagi setiap keluarga, perumpamaan tentang para penggarap kebun anggur, hendak mengajarkan kepada kita tentang anugerah Allah yang harus direspon dan dimanfaatkan dengan baik.

Namun sayang, banyak orang merespon dengan cara yang salah, mereka lebih focus pada “apa yang dipercayakan Tuhan. Banyak orang terbelenggu oleh harta dunia bukan focus pada Tuhan sebagai yang empunya kebun anggur, yang berharap semua orang mengarahkan tujuan pada Tuhan. Tuhan melalui perumpamaan ini, Yesus rindu supaya hidup kita dan seluruh keluarga sungguh-sungguh berfokus mencari Tuhan dan FirmanNya.

Belajar dari Pemazmur : “Ia seorang yang sangat gemar akan Firman Tuhan”. Katanya : “Firman Tuhan / Taurat Tuhan itu menyegarkan jiwa, memberikan hikmat, menyukacitakan hati, menyadarkan dan memberi peringatan. Dengan rendah hati, Pemazmur menyebut diri “hamba-Mu”. Pemazmur merasakan dalam hidup jika tanpa Tuhan, banyak hal yang tak dapat disadari ... manusia terbatas, mudah tersesat ...Firman Tuhanlah yang akan membawa kedalam kebenaran. Setiap keluarga diladang dunia ini boleh saja memanfaatkan buah-buah perkembangan peradaban manusia khususnya teknologi, namun dengan tetap waspada, agar jangan sampai terjebak diperbudak oleh teknologi itu. Sebaliknya, justru Saudara dapat memanfaatkan secara kritis hasil teknologi itu untuk menjadi alat yang membantu kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Mengalami hidup berjalan dengan Teman seperjalanan kita, yaitu Yesus Kristus.

Jangan lupa juga bahwa ‘mencari Tuhan’ juga tak bisa dilepaskan dengan memperhatikan dan mengasihi sesama, terutama yang kecil dan miskin. Sebab dalam diri mereka-lah kita dapat ‘melihat wajah Tuhan', “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat 25:40). Tuhan dapat kita temukan pada wajah sesame yang berkekurangan. Selamat menjadi keluarga yang mencari Tuhan, sehingga dalam perjalanan tiap keluarga mampu peka dan peduli pada mereka yang membutuhkan pertolongan. Selamat memasuki Bulan Keluarga. Amin.
PKM

 

28 September 2014
"Pemeliharaan Allah yang Ajaib"
Kel. 17:1-7; Maz 78:1-4, 12-16; Filp. 2:1-13; Mat. 21:23-3

Perjalanan jauh dan panjang yang harus ditempuh oleh orang Israel pastilah melelahkan dan banyak tantangannya. Lamanya perjalanan yang harus dijalani selama kurang lebih 40 tahun, menghadapkan mereka pada berbagai peristiwa dan pengalaman baru yang tentunya belum dan tidak akan pernah mereka alami jika mereka tidak mengikuti Allah. Pengalaman mengikut Allah ternyata tidak semudah dan tidak seenak yang mereka harapkan. Mereka berharap bahwa mengikut Allah, mereka tidak perlu dan tidak harus mengalami kehausan, kelaparan dan penderitaan. Tapi ternyata, harapan dan keinginan mereka berbeda dengan kehendak Allah. Karena itu mereka sering mengeluh dan menggerutu, bahkan tidak jarang mereka memberontak terhadap Allah. Namun demikian, Allah tetap memelihara mereka dengan perbuatan-perbuatan yang ajaib melalui hamba-hamba-Nya (lih. Kel.17:6-7).

Karena perbuatan dan pemeliharaan Allah yang ajaib inilah Asaf (Asaf diketahui sebagai penyanyi dan pemusik di jaman Raja daud – band.1 Taw. 6:39; 15:17-19; 16:1-7,37) mengingatkan generasi muda Israel – angkatan yang kemudian, lih. Maz 78:4 – untuk tidak melupakan sejarah ajaib yang telah Allah lakukan dalam kehidupan bangsa Israel. Asaf memberi pesan penting bagi angkatan kemudian untuk tidak terlena dan terjerumus mengagungkan tokoh-tokoh Israel karena masa kejayaan yang pernah bangsa Israel alami. Tetapi mereka harus mengingat bahwa kejayaan dan keberhasilan bangsa Israel karena Allah yang melakukan semua itu. Sehingga Allah yang harus dipuji dan diagungkan oleh angkatan muda dan bukannya raja, pejabat, imam atau tokoh-tokoh lainnya.

Ternyata perjalanan iman Paulus untuk menjadi pengikut setia Tuhan juga tidak mudah dan banyak tantangannya. Ia harus mengalami penderitaan, difitnah dan bahkan dipenjara karena imannya. Bahkan di tengah kesulitan dan penderitaan yang dialaminya, ia harus tetap menjadi teladan dari balik jeruji bagi saudara-saudara seimannya di Filipi yang sedang dalam pertikaian. Sebuah tantangan yang berat bagi mereka yang beriman kepada Kristus. Namun demikian, sama seperti Allah memelihara bangsa Israel, seperti itu juga Allah memelihara Paulus.

Allah melakukan banyak perbuatan ajaib dalam kehidupan pelayanannya; Allah menyelamatkan Paulus dari upaya pembunuhan di Ikonium (Kis.14), di Filipi (16), di Tesalonika (17) dan banyak lagi perbuatan dan pemeliharaan Allah yang ajaib yang dialami Paulus.

Keraguan terhadap Yesus dan perasaan tersaingi menjadi hambatan bagi tokoh-tokoh agama Yahudi untuk mengalami kasih dan pemeliharaan Allah melalui diri Yesus. Bahkan melalui perumpamaan tentang dua orang anak, Yesus menyindir mereka yang tidak percaya pada pemberitaan kebenaran Yohanes (lih. Mat. 21:32). Keraguan dan ketidakpercayaan membuat mereka tidak mengalami perbuatan dan pemeliharaan Allah yang dialami dan dirasakan oleh mereka yang percaya kepada Allah. Dengan demikian Yesus ingin menyatakan bahwa kuasa dan keajaiban yang dilakukannya itu berasal dari Allah. Dan yang hanya bisa dilihat, dialami dan dirasakan oleh mereka yang percaya kepada Allah. Menjadi pengikut Kristus bukan berarti hilangnya semua tantangan dan masalah yang ada. Tetapi menjadi pengikut Kristus berarti sebuah proses untuk hidup berserah dan mempercayakan diri pada pemeliharaan Allah yang terus menerus dalam kondisi apa pun. Sekiranya kondisi kita tidak baik, mari kita ingat apa yang telah Allah berikan sampai dengan saat ini (seperti pemazmur yang mengingatkan bangsa Israel akan perbuatan ajaib Allah di masa lalu). Dan pesan Injil Matius jelas bahwa orang yang percaya kepada Allah pasti akan mengalami perbuatan dan pemeliharaan Allah yang ajaib (seperti yang telah dialami Paulus). Mari kita bersujud dan berseru (seperti ayah anak yang bisu – Mark. 9:24), “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Kiranya Tuhan menolong kita, amin.
DS

     

21 September 2014
"Hidup Dalam Anugerah"
Kel 16:2-15; Maz 105:1-6, 37-45; Filipi 1:21-30; Mat. 20:1-16

Suatu prinsip mendasar hidup sebagai orang Kristen adalah hidup dalam anugerah Allah. Bacaan kita hari ini memberi peringatan agar orang Kristen tidak hidup sebagai budak atau orang upahan, melainkan hidup merdeka sepadan dengan keselamatan kita.

Allah mengutus Musa untuk menyelamatkan bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Bangsa Israel diperbudak Firaun dan orang Mesir selama empat ratus tahun, sehingga dihinggapi mentalitas budak. Mereka bersedia merendahkan status mereka dari umat Allah menjadi budak Mesir, demi rasa aman, dan kenyang oleh daging dan roti. Meskipun mereka melihat sendiri bukti kebesaran Allah dalam melindungi mereka dari musuh, mental budak sukar dihilangkan. Saat menghadapi kesukaran kehidupan di padang gurun, mereka terkenang-kenang masa perbudakan, di mana mereka duduk makan daging dan roti sampai kenyang (Kel. 16:3). Allah sampai harus mendatangkan daging dan roti dari langit, air yang segar dari dinding batu (Maz. 105) untuk memperlihatkan bahwa bangsa Israel bisa hidup mulia tanpa memperbudak dirinya.

Bacaan kita juga mengkritik mentalitas hidup orang upahan. Mentalitas ini juga tidak mengenal prinsip anugerah Allah. Hidup adalah mencari upah, dengan perhitungan transaksional, berdagang, dan untung-rugi. Mereka mau menerima anugerah bagi diri sendiri, tetapi memprotes Tuhan saat Ia memberi upah yang sama besar pada orang yang bekerja lebih sedikit. Orang upahan merasa berhak atas anugerah upah, karena sudah patuh bertransaksi. Mata mereka terpaku pada upah dinar, serta membandingkan dengan upah dinar orang lain. Mereka lupa bahwa upah terbesar adalah kehormatan besar diundang bekerja di ladang Tuhan.

Yesus datang memberikan anugerah terbesar, yaitu nyawaNya untuk keselamatan kita. Tujuan hidup kita di dunia ini bukan mencari makan, mendapat upah besar, dan menikmati kesenangan. Orang Kristen dibebaskan dari perbudakan dunia. Kita tidak mementingkan upah, dan tidak iri melihat anugerah Allah pada orang lain. Karena anugerah Allah sama bagi setiap orang yaitu keselamatan, rasa syukur dan undangan untuk bekerja di ladangNya. Upah dinar cukuplah sesuai dengan kebutuhan kita, dan sesuai dengan kasih karunia Allah.

Allah hendak mengajarkan umatnya akan sebuah hidup yang mulia yang tidak bisa diberikan dunia: Hidup dalam Anugerah. Bebas dari perbudakan dan bebas dari mentalitas upahan. Hidup ini lebih besar dari sekedar cari makan atau mendapatkan laba. Hidup ini adalah tentang memuliakan Allah. Hidup ini tentang kehormatan diundang bekerja menghasilkan buah di ladang Allah. Ingatlah Allah tidak sembarangan merekrut orang. Ia memilih orang yang kepadanya Ia berbelas kasihan, orang yang Ia pandang berharga dan layak untuk melayaniNya. Orang yang Ia sukai untuk berada di hadiratNya. Kejarlah undangan Allah itu. Janganlah kita menjadi budak dunia atau menjadi pengangguran atau orang upahan di mata Allah.

Kita pun tidak boleh memperlakukan sesama kita seperti budak atau orang upahan. Kita tidak boleh memeras atau merampas kehormatannya. Kita tidak boleh memperlakukan orang sekedar obyek transaksional. Orang yang bekerja pada kita harus diperlakukan sebagai umat kepunyaan Allah. Betapa mulia nya bila melalui buah-buah pekerjaan kita Anugerah Allah mengalir dan memelihara hidup sesama kita. Jadi hidup dalam Anugerah Allah juga berarti hidup kita menjadi berkat untuk sesama kita.
(AL)

 

14 September 2014
"MENANG TANPA BERPERANG"
Keluaran 14:19-31; Mazmur 114; Roma 14:1-12; Matius 18:21-35

Apa arti "menang tanpa berperang" atau "lebih dari pemenang" ? Seorang aktor yang berperan sebagai seorang pahlawan, dia tahu bahwa siapapun lawannya mau besar, kecil fisiknya atau kekuasaannya pasti dia kalahkan meskipun dalam dia berakting sepertinya hampir kalah tapi akhirnya pasti menang. Mengapa demikian ? Karena memang demikian skenario ceritanya. Aktor hanya mengikuti kata sutradara. Ini yang disebut "lebih dari pemenang", karena sudah tahu hasil akhirnya.

Empat (4) Bacaan kita ini berbicara tentang "rancangan dan kuasa Tuhan" dalam kehidupan bangsa Israel dan orang percaya. Tetapi bangsa Israel dan orang percaya sering tidak selaras dengan rancangan dan kuasa Tuhan. Allah adalah Allah yang bertindak, KuasaNya menggenapi rancanganNya bagi umatNya. Bacaan Keluaran mengisahkan Allah berperang melawan prajurit Mesir yang sedang mengejar bangsa Israel keluar dari Mesir, tetapi peristiwa besar ini tidak cukup untuk merendahkan hati bangsa Israel ketika mereka bersungut-sungut di padang gurun terhadap Allah, karena mereka tidak mau taat kepada Allah, hatinya mulai serong kepada berhala dunia. Pemazmur mengajak umat untuk mengingat kembali peristiwa ajaib yang dilakukan Allah untuk memenangkan peperangan bangsa Israel, walaupun mereka tidak berperang melawan tentara Mesir, supaya mereka menyadari betapa besarnya Kasih karunia Allah bagi mereka yang terdiri dari orang lemah, wanita tua, anak-anak yang tidak mungkin menang dalam peperangan melawan pasukan berkereta dengan senjata lengkap.

Dalam bacaan Roma 14:1-12 Jika kita yang lemah dimenangkan oleh Tuhan, kita tidak pantas memperlakukan tidak layak terhadap orang yang lebih lemah dari kita. Sikap sering menghakimi saudara sendiri dengan peraturan-peraturan buatan manusia. Keadilan Allah adalah Kasih Karunia yang diberlakukan bagi umatNya.

Perumpamaan dalam Matius 18:21-35 tentang seorang hamba yang berhutang kepada raja sebesar 10.000 talenta, 1 talenta= 6.000 dinar, 1 dinar adalah upah sehari bekerja. 10.000 talenta= 60 juta hari kerja, setara dengan bekerja selama 164 tahun. Suatu nilai  hutang yang tidak mungkin terbayar. Tetapi raja menghapuskan hutangnya, hanya karena Kasih karunia. Apakah layak hamba ini memenjarakan hamba lain yang berhutang kepadanya sebesar 100 dinar atau senilai 100 hari kerja. Tetapi sering kita  juga bersikap seperti hamba yang jahat terhadap sesama saudara dengan memakai hukum dunia, sedangkan kita menerima hukum Kasih karunia dari Tuhan.

     

7 September 2014
"BERTUMBUH DALAM PERSEKUTUAN"
Keluaran 12 : 1-14; Mazmur 149; Roma 13 : 8-14; Matius 18 : 15-20

Persekutuan terbentuk secara bertahap, mulai dari suami dan istri, orangtua dan anak-anak, marga, dan suku, hingga sebuah bangsa. Bahkan dapat saja berlanjut kepada persekutuan antarumat manusia. Itulah persekutuan yang berproses secara biologis. Di samping persekutuan semacam itu, kita juga mengenal persekutuan yang berproses secara spiritual, dalam keberimanan kepada Tuhan Yesus Kristus. Tak salah, jika kita mengenal persekutuan dalam ikatan tubuh Kristus yaitu gereja-Nya, yang bertumbuh mulai dari gereja lokal, klasikal, sewilayah sinode, dan sinodal. Itulah yang ada di lingkungan GKI yang baru saja berulang tahun ke-26, meliputi jemaat-jemaat GKI dari Batam sampai Bali. Jika kita perluaskan, kita mengenal ikatan gereja di tingkat nasional (PGI), Asia (CCA), dan dunia (WCC), kendati kita mengetahui adanya gereja-gereja di luar ikatan-ikatan tersebut. Kenyataan itulah yang mendorong Tuhan Yesus melalui visi-Nya untuk mendoakan, sebagaimana kita ketahui dalam Yoh. 17:21 `supaya mereka menjadi satu’, kendati pada saat itu belum ada sebuah jemaat pun yang terbentuk secara formal.

Melalui kitab Keluaran 12, kita mengetahui adanya persekutuan sebagai sebuah umat / bangsa terbentuk, lengkap dengan ketentuan-ketentuan teokratis yang berlaku dan disebut sebagai `qahal’ (jemaah). Peristiwa terbentuknya umat Israel, mirip dengan terbentuknya negara Republik Indonesia --- minus teokratisnya --- sebagai sebuah negara yang merdeka pada 17 Agustus 1945. Tentu sebagai sebuah umat/bangsa, mereka bertumbuh dalam sejarah berupa bermukimnya mereka di tanah Kanaan, diperintah pada zaman para hakim, lalu menjadi kerajaan Israel Bersatu pada zaman raja Saul (1052-1012 s.M), Daud (1012-972 s.M), dan Salomo (972-932 s.M).

Berita dari Mazmur 149 mengumandangkan kebanggaan pemazmur yang menyebut umat Israel sebagai bani Sion, yang menampakkan ketaatan mereka. Tanpa ketaatan kepada Allah, niscaya mereka tak mungkin mengagungkan-Nya sedemikian rupa. Hal ini senada dengan dibangunnya jemaat Kristen di atas dasar kasih sebagai tubuh Tuhan Yesus Kristus. Itulah yang disampaikan Rasul Paulus dalam Roma 13, agar segenap anggota jemaat saling menjalin hubungan, lengkap dengan persyaratannya, demi pertumbuhan persekutuan itu. Itulah persekutuan gereja yang disebut `ekklesia’ (dipanggil ke luar) dan `kuriake’ (milik Tuhan).

Sekiranya terjadi gangguan terhadap persekutuan, pesan Tuhan Yesus dalam Matius 18 dapat dijadikan dasar digunakan untuk mengatasinya. Prinsipnya, jangan sampai pertumbuhan persekutuan orang percaya itu bantut, pudar, atau menyimpang dari hakikatnya sebagai tubuh Kristus. Tanpa persekutuan, gereja kehilangan jati dirinya. Oleh sebab itu, GKI memasukkan gagasan persekutuan (koinonia) bukan sebagai salah satu tugasnya, melainkan sebagai hakikatnya dari gereja Tuhan Yesus. Maka setiap anggota jemaat terpanggil untuk menjaga persekutuan itu, supaya tetap bertumbuh dan langgeng, lalu dapat mewujudkan tugas kesaksian dan pelayanannya. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

31 Agustus 2014
"MENYANGKAL DIRI, MEMIKUL SALIB, DAN MENGIKUT YESUS "
Kel. 3:1-15; Mzm. 105:1-6,23-26,45; Rm. 12:9-21; Mat. 16:21-28

Siapakah yang tidak ingin hidup bahagia? Manusia mempunyai kecenderungan untuk hidup senang, dan jika mungkin, secara instan pula. Ada orang Kristen yang mempunyai pola pikir yang salah, karena pikirnya Tuhan pasti membuat orang Kristen hidup senang dengan berkat duniawi yang berlimpah.

Memang Allah bisa saja menolong dan memberkati manusia secara instan, tetapi Allah kadang menginginkan agar manusia menjadi mitra Allah, menanggapi panggilan-Nya, memberikan hidupnya untuk bekerja bersama-sama dengan Allah dalam mendatangkan pertolongan-Nya bagi dirinya ataupun bagi orang lain.

Allah menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang peduli, memperhatikan kesengsaraan umat-Nya, ketika bangsa Israel yang diperbudak di Mesir berseru memohon pertolongan kepada-Nya. Ia adalah Allah yang kudus, setia kepada perjanjian-Nya untuk selama-lamanya. Allah memanggil Musa untuk menyelamatkan umat-Nya. Dan Musa menyerahkan seluruh sisa hidupnya untuk dipakai Allah menjadi pemimpin yang membebaskan bangsanya dari penindasan, dan menuntun mereka ke negeri perjanjian yang penuh berkat (Kel. 3:1-15).

Kebahagiaan yang sejati dapat kita miliki, yaitu jika kita merasa terberkati dan dapat senantiasa bersyukur, dengan mengingat segala perkara yang telah Allah perbuat di dalam hidup kita. Kita naikkan puji-pujian, bernyanyi, bermazmur, mencari Dia, setia, bekerja dan bersaksi bagi-Nya (Mzm. 105).

Tuhan Yesus mengajarkan, agar pengikut-Nya selalu menyelaraskan pikirannya dengan pikiran Allah. Ia bukanlah orang yang memikirkan kesenangan pribadinya sendiri, tetapi orang yang rela berkorban, bahkan berkorban nyawa sekalipun (Mat. 16:21-28).

Pada jaman kekristenan mula-mula, banyak pengikut Kristus yang rela berkorban sebagai martir. Mungkin kita di sini saat ini tidak perlu sampai berkorban nyawa, tetapi kita “berkorban” dengan mengesampingkan keutamaan diri kita sendiri, misalnya saling mendahului dalam memberi hormat, melayani Tuhan dengan giat, bersukacita dalam pengharapan, bersabar dalam kesesakan, bertekun dalam doa, membantu orang lain, memberi tumpangan, memberkati orang yang menganiaya kita, sehati sepikir dalam hidup bersama, tidak sombong, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melakukan apa yang baik bagi semua orang, hidup berdamai dengan semua orang, saling mengasihi (Rm. 12:9-21).

Dengan demikian kita menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Yesus, seperti persyaratan yang Tuhan Yesus sendiri berikan bagi pengikut-Nya.
Jadi, maukah kita menjadi orang Kristen yang selalu memberikan hidup kita bagi Dia dan sesama? Tuhan akan membalaskannya dengan kebahagiaan yang sejati (Mat. 16:27). Amin.
Nancy Hendranata

     

24 Agustus 2014
"DIPANGGIL UNTUK MEWUJUDNYATAKAN IBADAH
YANG BERKENAN KEPADA ALLAH
"
Keluaran 1:8-2:10, Mazmur 124, Roma 12:1-8, Matius 16:13-20

GKI hadir di tengah-tengah bangsa Indonesia tentu bukan karena kebetulan, tetapi kita pahami dengan mata iman bahwa kehadiranya di tengah bangsa Indonesia karena Tuhan punya rencana atau agenda yang Tuhan mau nyatakan melalui gerejaNya.

Agenda pertama dan terbesar yang Allah inginkan adalah supaya gerejaNya dimanapun mereka berada dan dalam keadaan apapun melanjutkan misiNya yaitu membawa sebanyak mungkin orang untuk berjumpa dengan Kristus dan mereka mengalami pemulihan, pengampunan dan keselamatan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata sama seperti Bapa mengutus Aku ke dalam dunia, demikian juga Aku mengutus kamu/gereja (Yoh. 17:18), tujuannya adalah supaya dunia percaya bahwa Yesus Kristus diutus oleh Bapa untuk menyelamatkan manusia di dunia ini. Agenda Allah ini mestinya disadari, dihayati dan dilakukan oleh gerejaNya dimanapun berada. Ketika gereja mengabaikan mandat dan agenda Allah ini, kemudian gerejaNya sibuk dengan urusan-urusan yang tidak sesuai dengan agendaNya, maka gereja itu akan mengalami kelesuan, kemunduran bahwa jangan-jangan gereja di Indonesia akan mengalami seperti yang dialami gereja-gereja di Eropa.

Agenda Allah yang kedua adalah supaya setiap orang memuliakan Allah, memiliki relasi yang intens dengan Allah, kemudian menghasilkan buah-buah yang benar dan yang berkenan kepada Allah. Agenda yang kedua ini kita hubungkan dengan tema kita hari ini : Dipanggil untuk mewujudnyatakan ibadah yang berkenan kepada Allah. Berbicara tentang ibadah, kita pahami sebagai keutuhan hidup orang percaya; artinya di manapun kita berada dan dalam keadaan apapun hendaknya ibadah itu kita wujudkan dan kita lakukan. Pemahaman yang keliru adalah jika kita memahami ibadah hanya terjadi di gedung gereja, di tempat-tempat persekutuan, di tempat-tempat ibadah lainnya; di luar semua itu bukan ibadah. Pemahaman ini sangat tidak tepat. Bahaya dari pemahaman ini adalah kehidupan kita ini terkotak-kotak atau lebih tepat manusia bunglon; artinya kalau kita lagi berada di gereja atau di tempat persekutuan kita menjadi manusia setengah malaikat. Tetapi ketika kita berada di luar gereja dan tempat-tempat persekutuan kita menjadi manusia setengah iblis. Saya tegaskan pemahaman ini sangat tidak tepat. Tetapi jika ada orang yang meyakini bahwa pemahaman yang demikian dianggap benar, bisa juga kita kritisi bahwa berada di gereja dan di tempat-tempat persekutuan tidak menjamin mereka sudah sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan.

Bisa saja terjadi tubuhnya ada dalam gereja atau di tempat persekutuan, tetapi hati dan pikirannya melayang-layang kemana saja, sehingga ibadah yang mereka lakukan tidak membawa dampak apapun dalam kehidupannya setelah mereka pulang ke rumah dan masuk dalam dunia pekerjaan. Jangan-jangan yang terjadi adalah ketika kita berada dalam gereja kita tidak beribadah kepada Tuhan, tetapi beribadah kepada HP, GT atau tertidur (hanya Tuhan yang tahu).

Ibadah yang benar dan berkenan kepada Allah dan yang sejati adalah seluruh hidup kita adalah untuk memuliakan Allah. Ketika kita menyerahkan seluruh kehidupan kita kepada Allah, maka ketika kita sedang berada dimanapun (di gereja atau di tempat lain) pastikan bahwa seluruh aspek kehidupan serta keberadaan kita adalah dalam kerangka memuliakan Allah. Baik dalam pekerjaan, berbisnis atau hal lainnya.

Pertanyaan untuk kita renungkan bersama-sama lebih dalam adalah: Apakah perkerjaan yang kita lakukan saat ini dapat memuliakan Tuhan atau tidak? Apakah bisnis yang kita jalani sekarang ini memuliakan Tuhan, atau Allah dimuliakan atau tidak? Apakah keluarga dan anak-anak kita sekarang memuliakan Tuhan atau tidak? Apakah keputusan-keputusan yang kita lakukan, Tuhan dimuliakan atau tidak? Apakah perkataan-perkataan kita selama ini memuliakan Tuhan atau tidak? Apakah ibadah yang kita jalani di gereja dan di tempat-tempat persekutuan sungguh-sungguh Tuhan dimuliakan atau tidak? Biarlah pertanyaan-pertanyaan di atas menolong kita untuk merefleksikan diri kita masing-masing, sehingga keberadaan kita sebagai gerejaNya dapat dan menjadi bersinar serta berbuah lebih baik lagi. Tuhan memberkati kita yang terus berharap kepada kuasaNya. Amin.
RDL

 

17 Agustus 2014
"Dipanggil untuk Memerdekakan "
Kej. 45:1-15; Mzm. 133; Rom. 11:1-2, 29-32; Mat. 15:21-28

Merdeka! Merdeka! Merdeka! Demikian teriakan lantang dari seluruh bangsa Indonesia ketika merayakan HUT RI ini di setiap tanggal 17 Agustus. Memang bangsa Indonesia tidak lagi dibawah penjajahan bangsa asing. Bangsa Indonesia telah merdeka dari mereka. Tetapi apakah bangsa Indonesia sudah benar-benar merdeka? Apakah bangsa Indonesia sudah bebas dari penjajahan dalam bentuk ketidakadilan, kebodohan, kemiskinan dan lain sebagainya? Tentu dengan pasti kita bisa menjawab, belum! Karena masih banyak ketidakadilan terhadap warga negara. Bahkan muncul slogan yang mengkritik terjadinya ketidakadilan di negara ini, seperti Orang miskin dilarang sakit! Orang miskin dilarang sekolah! Oleh karenanya bangsa ini butuh orang-orang yang mau menegakkan keadilan sosial dan yang membebaskan bangsa dari belenggu kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan. Sebagai bagian dari bangsa ini, pengikut Kristus juga harus terlibat di dalam menegakan keadilan sosial, menyuarakan kebenaran dan keadilan bagi siapapun entah itu seiman ataupun tidak. Untuk itu umat perlu meningkatkan partisipasinya di tengah bangsa ini dengan berupaya menyuarakan kebenaran dan keadilan di lingkungan tempat tinggalnya dan pekerjaannya bagi siapapun. Mari kita belajar pada Yusuf dan Tuhan Yesus.

Yusuf yang telah disia-siakan oleh saudara-saudaranya telah dipakai Tuhan untuk sebuah rencana yang besar. Sebuah rencana untuk keselamatan bangsanya. Yusuf berani menyuarakan kebenaran dan keadilan di depan para pejabat pemerintahan Firaun bahkan di depan Firaun meski nyawanya terancam. Karena suara kebenaran dan keadilan serta kehidupannya yang baik berkat hubungannya yang baik dengan Allah, ia mendapat posisi yang sangat amat bagus. Dengan kekuasaanya, ia bisa saja menghukum saudara-saudaranya yang datang kepadanya, tetapi tidak ia lakukan. Hal itu dikarenakan Yusuf melihat bahwa semua itu terjadi atas kehendak Allah (Kej. 45:7). Yusuf menjadi pemimpin bangsa yang mampu menyelamatkan atau memerdekakan bangsanya dari kelaparan dan kemiskinan (Kej. 45:11). Kehadirannya boleh menjadi berkat bagi bangsanya maupun bangsa lain (Mesir). Allah ingin menyelamatkan bukan hanya sebuah bangsa (Israel) tetapi juga bangsa lain (Mesir) melalui Yusuf. Allah melalui kehidupan Yusuf telah menjadi Pembebas bagi bangsa Israel dan Mesir dari kelaparan dan kemiskinan.

Demikian juga dalam kisah perempuan Kanaan yang dengan kegigihan dan kepercayaan yang dimilikinya meminta kesembuhan anaknya kepada Tuhan Yesus dan ia pun mendapatkan pertolongan itu.

Tuhan Yesus menjadi Pembebas bagi anak perempuan dari perempuan Kanaan dari penderitaan yang dialami dan yang menurut pandangan Yahudi mereka orang kafir yang jauh dari keselamatan Allah. Dalam dialog Tuhan Yesus dan perempuan Kanaan kita bisa melihat gambaran sebuah pandangan Yahudi yang masih dipegang teguh – keselamatan hanya untuk dan dimiliki oleh orang Yahudi saja. Tetapi oleh Tuhan Yesus gambaran tentang pandangan itu hendak dikritisi dan dibantah. Sehingga Tuhan Yesus memberikan kesembuhan juga bagi anak perempuan Kanaan itu, yang notabene adalah bangsa lain yang dianggap kafir oleh orang Yahudi. Jadi Tuhan Yesus bukan saja membebaskan anak perempuan Kanaan itu dari sakit atau penderitaannya, tetapi Tuhan Yesus membebaskan semua orang yang melihat dan mendengar peristiwa itu dari belenggu pemahaman yang sempit soal keselamatan yaitu bahwa keselamatan bukan hanya untuk satu bangsa saja, melainkan untuk seluruh bangsa di dunia ini!

Jika Tuhan Yesus saja menyatakan keselamatan atau kemerdekaan untuk seluruh bangsa, ras, suku bahkan agama, maka kitapun sebagai murid-muridNya perlu menyatakan kemerdekaan itu untuk semua orang. Dan itu artinya kita dipanggil untuk memerdekakan orang lain. Kita dipanggil untuk menyuarakan keadilan dan kebenaran di lingkungan pekerjaan kita. Kita dipanggil untuk membebaskan orang lain dari belenggu kemiskinan dan kebodohan. Kita dipanggil untuk membebaskan diri kita dan orang lain dari belenggu pemahaman dan pemikiran yang sempit, yang eksklusif dan egosentris. Tuhan menolong kita menjadi agen – agen kebebasan dan kemerdekaan. Amin.
DS

     

10 Agustus 2014
"Iri Hati Memadamkan Cinta "
Kej.37:1-4, 12-28; Mzm.105:1-6, 16-22, 45; Rom.10:5-15; Mat 14:22-33

Di dalam diri manusia, terdapat suatu ‘virus’ yang sangat mematikan jika dia berkembang biak, virus itu yang senantiasa berusaha mencuri sukacita dan berkat Tuhan dari kita. Virus ini ada dalam diri orang Kristen maupun Non-Kristen, tua maupun muda, pria maupun wanita. Nama virus itu adalah Iri Hati. Menurut kamus, iri hati itu adalah perasaan tidak senang/tidak suka/tidak berbahagia ketika kita melihat/mendengar kebahagiaan, keberhasilan, kelebihan dan keberuntungan orang lain. Iri hati itu seringkali bersembunyi dalam diri setiap orang. Ada 3 hal buruk yang disebabkan oleh sifat iri hati:

1. Iri hati merusak hubungan kita dengan Tuhan;
Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!” (Kej. 37:20). Ayat di atas menunjukkan bagaimana iri hati membuat saudara-saudara Yusuf benci kepada Yusuf yang berujung kepada niat pembunuhan, padahal mereka tahu membunuh itu dapat merusak hubungan mereka dengan Tuhan. begitupun kita, seringkali karena iri hati Banyak orang merasa lebih puas melampiaskan kebencian dengan melukai bahkan membunuh ketimbang berdamai. Hal ini sama dengan rusaknya hubungan kita dengan Tuhan.

2. Iri hati merusak hubungan kita dengan sesama;
Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah.” (Kej. 37:4). Iri hati seringkali menjadi alasan bagi seseorang untuk membenci sesamanya tanpa alasan yang jelas. Orang yang sudah terkena virus iri hati ini senantiasa memandang sesamanya sebagai musuh, sehingga perbuatan baik apapun yang dilakukan oleh sesamanya itu akan senantiasa dinilai buruk.

3. Iri hati merusak diri kita sendiri;
Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Mat. 14:31). Iri hati itu tidak memberikan keuntungan sama sekali, namun justru membuat kita tidak merasakan sukacita dan berkat yang sudah Tuhan sediakan bagi kita. Tuhan ingin kita bisa mengalahkan iri hati dalam diri kita. Anugerah dan berkat bagi setiap orang berbeda-beda, telah Tuhan sediakan sesuai kemampuan setiap kita. Belajarlah mengucap syukur atas berkat yang sudah Tuhan sediakan bagi kita, maka kita akan dapat mengalahkan iri hati di dalam diri kita. Yakinlah bahwa Tuhan tahu apa yang kita butuhkan, dan Tuhan akan sediakan bahkan sebelum kita memintanya sekalipun. Amin.
UQ

 

3 Agustus 2014
"Bergumul Bersama Tuhan, Berdamai Dengan Diri Sendiri "
Kej. 32:22-31; Maz. 17:1-7, 15; Rom. 9:1-5; Mat. 14:13-21

Sepanjang hidupnya Yakub adalah orang selalu mencari aman. Ia diam di kemah, senang memasak, dan sangat disayang Ribka, ibunya. Besar kemungkinan ia kurang mendapatkan perhatian Ishak, ayahnya, sehingga ia tidak mempunyai keberanian karena kehilangan figur ayah. Dalam menghadapi persoalan hidupnya, Yakub cenderung mengakali orang lain, menipu atau, kalau itu tidak berhasil, melarikan diri. Meskipun dengan cara seperti ini ia mampu menggapai banyak keberhasilan, ia sadar bahwa ini bukan cara hidup yang sejati. Sampai suatu hari ia menghadapi ujian hidup yang berat, di mana ia harus menghadapi akibat kesalahan masa lalunya terhadap Esau, kakaknya. Semua yang ia kasihi dan yang ia capai selama hidupnya terancam. Apakah ia akan kembali memanipulasi kakaknya itu, atau melarikan diri?
Allah mengetahui pergumulan Yakub. Allah tidak melupakan, di balik semua kelemahan Yakub ini, betapa Yakub sangat menghargai berkat Allah dan tidak pernah mengingkari imannya kepada Allah. Allah mengetahui isi hati Yakub. Yakub bukan orang yang menyukai kekerasan. Ia selalu berseru kepada Allah dalam kesesakannya. Ia mengandalkan kasih setia Allah yang ajaib.
Maka Allah sendiri yang menjenguk Yakub dan mengujinya. Ia menyamar dan menantang Yakub. Yakub dalam keputusasaan nya kali ini memutuskan untuk melawan. Yakub sangat menderita dalam pergulatan ini. Tetapi Yakub tidak melarikan diri, dan memilih untuk terus bertarung, tidak mau melepaskan diri dari masalah yang menyakitkan nya. Maka Allah pun memberkatinya, dan berjanji pada Yakub untuk tidak pernah meninggalkan Yakub.
Yakub menyadari hidupnya bukanlah untuk dirinya lagi, tetapi untuk menjadi alat rencana Allah menghadirkan Mesias. Melalui Yakub dan keturunannya, Allah memberkati semua manusia melalui kitab-kitab suci, orang kudus, dan keselamatan melalui Yesus Kristus. Figur ayah yang hilang dari Yakub dipulihkan dalam Bapa rohaninya, yaitu Allah sendiri. Kehilangan secara jasmani dipulihkan melalui kehadiran secara rohani.

Seringkali jalan hidup kita tidak sempurna, sehingga sama seperti Yakub, kita tidak berkembang dengan baik. Kita mengalami ketakutan dan kekuatiran dalam hidup. Kita bergumul dengan kekurangan diri kita. Kita mendasari keberhasilan hidup kita, beserta segala kekuatiran kita, pada hal-hal jasmaniah. Pemenuhan kebutuhan jasmaniah bukanlah hal yang sukar bagi Allah. Mudah bagi Allah untuk mengenyangkan lima ribu orang dengan memberkati lima roti dan dua ikan.
Tetapi Allah ingin mengingatkan kita bahwa ada rencana Allah yang besar bagi dunia ini. Allah memanggil manusia untuk mengambil bagian dalam rencana karya keselamatan ini. Semua penderitaan dan pergumulan hidup kita adalah cara Allah untuk menyadarkan kita agar berpindah fokus, dari fokus pada hal-hal duniawi dan kepentingan diri menjadi fokus pada Allah dan rencanaNya. Dengan menyerahkan diri dan hati kita seturut maksud dan janji Allah, maka timbul kedamaian dalam hati kita.
Setelah peristiwa perubahan fokus ini, hidup Yakub berubah dari seorang yang selalu egois, cemas dan melarikan diri dari setiap persoalan, menjadi sosok yang legendaris bagi karya Allah di dunia. Mungkin hidup kita penuh pergumulan, kekecewaan, dan ketakutan. Marilah kita menyadari sebuah kebenaran: hidup ini adalah tentang Allah, bukan tentang diri kita sendiri.
Amin.
AL

     

27 Juli 2014
"IKATAN PERJANJIAN ALLAH DENGAN MANUSIA "
Kej.29:15-28; Mazmur 105:1-11,45; Roma 8:26-39; Matius 13:31-33,44-52

Suatu perjanjian apapun seperti perjanjian jual-beli, perjanjian kerja-sama sampai perjanjian pernikahan semuanya harus didasarkan atas “kepercayaan”. Saling percaya yang melahirkan komitmen dalam ikatan janji, di mana dalam suatu perjanjian ada hak dan kewajiban yang harus ditaati pihak-pihak yang mengikat janji. Ikat janji dapat gugur jika ada satu pihak ingkar janji dan tidak dapat dipercaya lagi dan harus menanggung resiko perjanjian. Suatu perjanjian pada hakekatnya adalah saling menyerahkan dan saling menerima. Perjanjian jual beli, ada yang menyerahkan barang /jasa dan menerima uang sesuai perjanjian. Ikat janji pernikahan satu pihak menyerahkan diri sebagai suami/isteri, pihak lain menerima sebagai suami/istri. Kesetiaan adalah melaksanakan kewajiban dengan tunduk pada perjanjian dan berhak atas janji-janji yang ada dalam perjanjian itu.

Allah mengikat janji dengan umatNya dengan menyerahkan AnakNya yang Tunggal dari kelahiranNya, kehidupanNya, kematianNya di kayu salib sampai kebangkitanNya bagi orang yang percaya memperoleh hak hidup kekal serta janji-janjiNya yang diberikan kepada kita. Apa bagian kita ? Kita hanya melandaskan pada percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan komitmen menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan melalui pertobatan.

Bacaan kita hari ini adalah beberapa hal yang berkaitan dengan suatu perjanjian. Kejadian 29:15-28. Yakub mengadakan perjanjian dengan Laban, yaitu Yakub mau bekerja kepada Laban selama 7 tahun demi mendapatkan Rachel anak kedua Laban yang dicintainya, setelah 7 tahun Yakub bekerja Yakub meminta hak untuk mendapatkan Rachel sebagai istrinya.
Karena menurut tradisi orang Yahudi tidak baik menikahkan anak ke dua sebelum anak sulungnya menikah, Laban menipu Yakub dengan memberikan Lea kepada Yakub. Untuk mendapatkan Rachel yang dicintai Yakub harus bekerja lagi selama 14 tahun. Yakub sebagai orang yang dapat dipercaya dalam perjanjian, Yakub bekerja lagi selama 7 tahun untuk mendapatkan Rachel. Namun waktu 14 tahun itu tidak terasa berat bagi Yakub karena rasa cintanya yang besar, walaupun Laban tidak sepenuhnya setia pada perjanjiannya.

Allah juga mendasarkan perjanjianNya dengan manusia dengan Kasih yang besar, walaupun manusia sering tidak setia, Allah tetap setia dalam menyerahkan PutraNya yang Tunggal untuk keselamatan manusia.

Roma 8:26-39, Menyatakan Allah merupakan pihak yang proaktif dalam perjanjianNya yaitu dengan mengutus Roh Kudus untuk menolong manusia untuk dapat melaksanakan komitmen ikat janji dengan Tuhan. Allah ikut bekerja (bukan ongkang-ongkang) untuk kebaikan orang-orang yang mengasihi Dia (yang mengikat janji kepada Tuhan) Roma 8:28.

Matius 13:31-33, 44-52. Melalui ikat Janji ini Allah mengubah hidup manusia dari hidup yang sia-sia (berpusat pada diri sendiri/terbukti dari apa yang kita raih di dunia tidak pernah mendatangkan kepuasan dan tidak ada yang dibawa ketika mati) menjadi hidup yang bermakna (menjadi berkat bagi orang lain dengan memberikan nilai-nilai yang kekal : keselamatan, damai sejahtera, hidup baru).
Kita seperti biji sesawi yang kecil, siap ditabur menjadi bibit pohon Sinapi yang besar dimana menjadi tempat kehidupan bermacam burung. Ragi segenggam yang dicampurkan pada adonan dapat mengkhamirkan 3 sukat tepung adonan (1 sukat=12 liter). Adonan menjadi mengembang dan indah.
Orang percaya yang siap ditaburkan dan diaduk dalam perjanjian dengan Tuhan akan memberi pengaruh yang besar bagi sesama maupun lingkungan kita. Selama orang percaya hanya bergaul dengan sesama orang percaya seperti biji sesawi dan ragi di dalam toples, tidak bermakna apa-apa. Kita harus siap ditabur memberi kehidupan baru bagi dunia yang sudah disiapkan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus.

Kita menyadari bahwa Kerajaan Sorga yang disediakan Allah dalam perjanjianNya merupakan harta yang sangat berharga jauh lebih berharga dari seluruh kehidupan kita yang fana di dunia ini. Sehingga kita rela menyerahkan seluruh hidup kita untuk masuk dalam KerajaanNya. Mazmur 105, merupakan Pujian bagi Tuhan yang mau mengikat perjanjian dengan manusia, yang selalu Setia dan selalu menggenapi setiap janjiNya, walaupun manusia seringkali tidak setia kepada Tuhan.
Bersyukurlah kepada Tuhan, serukanlah NamaNya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa” Mazmur 105:1.
Amin.
tonny iskandar

 

20 Juli 2014
"PERJUMPAAN DI TENGAH PELARIAN "
Kej. 28:10-19, Mazmur 139:1-12, 23-24, Roma 8:12-25, Mat 13:24-30, 36-43

Pergumulan hidup tiada habis-habisnya. Ada pergumulan hidup yang disebabkan oleh kesalahan diri sendiri, ada juga yang disebabkan oleh karena kesalahan orang lain, ada pula yang tidak dapat dijelaskan apa sebabnya. Yakub menghadapi pergumulan hidup karena kesalahannya sendiri, yaitu menipu kakak dan ayahnya. Akibatnya ia harus meninggalkan ayah, ibu dan kakaknya kemudian melarikan diri ke tempat yang jauh. Dalam pelarian bukan berarti masalah dan pergumulan itu berakhir, bahkan sepanjang kehidupannya ia selalu bergelut dengan pergumulan itu. Salah satu contoh Yakub harus menelan pil pahit karena ditipu oleh Laban, mertuannya itu. Dia juga harus hidup dikuasai oleh rasa bersalah dan ketakutan jika bertemu dengan Esau kakaknya. Namun, dalam kesalahan dan pergumulan itu, Allah Abraham dan Allah Ishak tidak membiarkan Yakub dalam kesalahan dan penderitaan. Allah menjumpainya secara pribadi di BETEL. Di tempat inilah Yakub bergumul dengan Tuhan, dan dalam pergumulan itu Yakub mengalami perubahan nama dan identitasnya, bahwa saat itu Allah mengubah nama Yakub (artinya penipu), menjadi Israel (artinya menang). (Kej. 32:28). Dia bukan lagi sebagai seorang penipu, tetapi sebagai orang yang telah menang, mengalahkan dosa dan kesalahan masa lalunya. Yakub yang dulu, adalah gambaran kehidupan masa lalu, sedangkan Israel setelah berjumpa dengan Tuhan adalah kehidupan yang telah diperbaharui oleh Tuhan.

Jika pada saat ini kita sedang menghadapi pergumulan dan persoalan yang akhirnya membuat kita menjadi putus asa; apakah disebabkan oleh kesalahan kita sendiri, atau kesalahan orang lain, atau oleh apa saja yang sulit kita mengerti. Namun, satu hal yang kita yakini bahwa Allah dalam Yesus Kristus akan menjumpai kita, menyapa kita secara pribadi, dan pada saat itulah kita dipulihkan, diubahkan dan dimerdekakan/ menang. Sebagaimana Tuhan berjanji kepada Yakub, bahwa Ia akan menyertai, melindungi dan memberkati Yakub, maka Tuhan pun akan menyertai, melindungi dan menolong kita.

Hal yang kita pelajari dalam cerita Yakub ini bahwa Tuhan oleh karena kasihNya mau menjumpai kita dalam keadaan apapun, Ia mau menerima dan merangkul kita ketika kita dalam ketakutan dan tertekan.

Kesaksian dari seorang pemazmur yang meyakini bahwa Tuhan telah mengurung manusia dari belakang, depan, dan atas untuk melindungi dan menuntun manusia dalam kehidupannya, meskipun dalam keadaan terpojok & tertekan, ia tetap meyakini bahwa Allah tetap menjaga dan melindunginya. Karena itu dalam keadaan apapun kita harus tetap mempercayai Tuhan dengan segenap hati bahwa Ia akan menjaga dan melindungi kita. Kiranya Tuhan memberikan kekuatan dalam menjalani hidup ini yang penuh dengan ketidakpastian. GBU.
RDL

     

13 Juli 2014
"Rivalitas Vs Solidaritas "
Kej. 25:19-34; Maz. 119:105-112; Rom. 8:1-11; Mat. 13:1-9, 18-23

Dalam setiap perlombaan, atlet ataupun tim bersaing untuk menjadi yang terbaik. Mereka harus mengeluarkan segenap kemampuan mereka untuk mengalahkan yang lain. Karena dalam sebuah pertandingan harus ada yang menang dan ada yang kalah, maka mereka yang bersaing harus siap menang dan harus siap kalah. Artinya bahwa yang menang harus siap menunjukan dirinya pantas menjadi pemenang dengan sikap – sikap yang tidak merendahkan yang kalah, sedangkan yang kalah harus berjiwa besar dan berlapang dada untuk mengakui kemenangan pihak yang lain. Oleh karena itu, dalam sebuah pertandingan pemain perlu memiliki sikap yang fair (adil) dan sportif (jujur).

Sikap dan tindakan yang dewasa, yang bijak dan baik dalam menanggapi setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini – entah itu peristiwa yang baik (jagoan kita menang) maupun yang buruk (jagoan kita kalah) – bisa terwujud jika kita memahami bahwa ketika hidup kita dan pikiran kita tidak lagi terbelenggu oleh kesenangan dan keinginan kita semata. Sikap dan tindakan yang bijak muncul jika kita memahami apa arti hidup yang dipimpin oleh Roh. Roma 8:6 “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera”, setiap orang yang dipimpin oleh Roh Allah akan mencari dan mengusahakan kehidupan dan bukan kematian. Orang yang dipimpin Roh Allah akan mengusahakan damai sejahtera ketimbang permusuhan dan keributan bahkan perpecahan.

Pemenang yang dipimpin oleh Roh Allah, tidak akan menjadi sombong dan menghina mereka yang kalah.
Pemenang tidak akan melakukan tindakan yang membuat yang kalah menjadi orang yang memusuhi pemenang. Pemenang akan merangkul mereka dengan sikap kebersamaan (solidaritas). Begitu juga dengan mereka yang kalah. Mereka yang dipimpin Roh Allah akan berjiwa besar mengakui kemenangan lawannya dan tidak memusuhinya. Ia akan bersama-sama dengan pemenang mengusahakan kehidupan yang lebih baik, kehidupan yang damai sehjahtera.
Persoalannya maukah kita dipimpin Roh Allah? Kalau tidak, maka yang kita dapatkan adalah kekacauan, kehancuran dan kematian. Tetapi kalau kita mau dipimpin Roh Allah dan menginginkan kehidupan yang lebih baik dan penuh damai sejahtera, maka kita harus siap menjadi tanah yang baik bagi Firman Tuhan yang ditaburkan (Matius 13:23). Sehingga ketika kita menjadi tanah yang baik maka pimpinan dari Roh Allah akan memampukan kita menghadapi apapun yang terjadi didepan kita – kemenangan dan kekalahan – akan disikapi dengan tenang dan bijaksana.
DS

 

6 Juli 2014
"Allah menuntun dan menolong "
Kej 24:34-38;42-49;58-67; Maz 45:11-18; Roma 7:15-25; Mat 11:16-19,25-30

Menjalani hidup seperti yang Tuhan kehendaki bukan perkara yang mudah. Malah tidak jarang, hidup seperti itu mengundang keputus-asaan, terutama ketika kita berada dalam situasi sulit dan dilematis. Betapa sulit menghadapi kedagingan - Roma 7:15-25, manusia perlu tuntunan Tuhan, mengapa ? R. Paulus : “Sebab apa yang aku perbuat …. adalah apa yang aku benci…” (15). Aku manusia celaka, namun syukur ada penolong yang mampu melepaskan aku dari tubuh maut ini yakni Yesus Kristus (25).

Dalam menghadapi situasi dilematis, kita belajar pada Abraham. Sebenarnya, di usianya yang sudah semakin renta, Abraham bisa saja mencarikan perempuan Kanaan - yang sehari-hari bisa dijumpai - sebagai istri bagi anaknya, Ishak. Selain mudah dilakukan, Abraham tidak perlu menunggu lama untuk memperoleh seorang menantu dari kaumnya.
Namun Abraham – bergantung pada Allah (Kej. 24). Abraham selalu pegang janji Tuhan, untuk menjadikannya bangsa yang besar dan menjadi berkat bagi banyak bangsa dan ia mengutus hambanya untuk mencarikan istri bagi Ishak dari kaumnya di tempat asalnya sendiri, sekalipun jalan ini sangatlah sulit dan nyaris mustahil berhasil.

Selain iman, saat menghadapi persoalan, kita harus fokus dan rendah hati. Fokus karena kita tidak mungkin pikul semua masalah. Bagai baterai – maksimal hanya untuk 1 lampu, maka jika kita memasang 5 bola lampu dengan tenaga satu baterai, lampu-lampu itu akan meredup dan gelap dengan sangat cepat! Beban bila terlalu banyak dan besar membuat kita letih.

Orang rendah hati akan terbuka pada tuntunan dan pertolongan Tuhan. Itulah yang Yesus katakan kepada orang-orang yang berusaha keras untuk taat kepada Tuhan, tetapi sadar bahwa mereka tidak mampu. Yesus mengundang siapa pun - yang sadar bahwa dirinya berada dalam keletihan perjuangan iman - untuk datang kepada-Nya. Ia berjanji memberi kelegaan (Matius 11:28). Sikap rendah hati – adalah sikap berlutut, seperti sikap - jika kita terjebak dalam badai petir yang dahsyat di tempat terbuka, maka kita sebaiknya berlutut, membungkukkan tubuh ke depan, dan meletakkan kedua tangan di atas lutut. Dengan demikian, apabila petir menyambar di dekat tubuh kita, kecil kemungkinan tubuh kita akan berfungsi sebagai konduktor.
Pengamanan yang maksimum tergantung pada seberapa rendah posisi tubuh Anda. Hal yang sama juga berlaku bagi orang-orang kristiani yang terjebak dalam badai kehidupan - kita harus mengambil sikap rohani yang rendah hati, karena kesombongan hanya membahayakan hidup kita. Allah akan menuntun dan menolong mereka yang mau di tuntun dan di tolong Allah. “Mata Tuhan tertuju pada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong” (Maz 34:16).
Bersyukur dan bersandarlah pada Tuhan Yesus – satu-satunya yang bisa menolong kita dari maut dan setia menyediakan jalan keluar di setiap masalah hidup kita. 1 Kor 10:13 “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” Amin.
PKM

     

29 Juni 2014
" TUHAN MENYEDIAKAN, MANUSIA MENGUSAHAKAN KELEGAAN "
Kejadian 22:1-14, Mazmur 13, Roma 6:12-23, Matius 10:40-42

Tuhan Yesus paling mengerti apa yang menjadi kebutuhan manusia, itulah sebab Dia menyediakan apa yang dibutuhkan manusia. Apa yang Tuhan sediakan untuk kita? Pertama, Dia menyediakan pertolongan kepada kita. Abraham memiliki iman dan keyakinan bahwa Tuhan akan menyediakan anak domba untuk dikorbankan sebagai persembahan kepada Allah; meskipun pada waktu Ishak bertanya kepada Abraham, mana anak dombanya untuk dikorbankan” belum ada anak dombanya. Allah juga menyediakan sumur bagi Hagar dan anaknya sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupannya. Pemazmur dalam kesaksiannya di Mazmur 13 mengungkapkan keyakinan akan pertolongan Tuhan; ia tetap percaya pada Allah dan bersorak-sorak kepada Allah karena penyelamatanNya. Allah selalu tepat dan tidak pernah terlambat menyediakan pertolongan bagi kita. Allah memelihara kita secara ajaib. Kedua, dalam Roma 6:12-23 Allah dalam Yesus Kristus menyediakan jalan keselamatan, jalan pengampunan dosa, jalan dimana kita dapat hidup bersama dengan Allah di sorga. Manusia membutuhkan pengampunan dosa, manusia membutuhkan jalan keselamatan, manusia membutuhkan relasi yang akrab dengan Allah. Yesus Kristus telah menyediakan semua kebutuhan itu.

Bagi kita yang telah menerima pertolongan Tuhan, ada tugas dan tanggung jawab yang harus kita lakukan.
Pertama, bacaan Roma 6:12-23 mengingatkan kita yang telah menerima pengampunan dosa, penebusan dosa dan keselamatan dalam Yesus Kristus jangan hidup lagi dalam dosa. Tetapi hidup sebagai orang-orang yang merdeka, sebagai hamba-hamba Allah; melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah sebagai tuan kita. Kehidupan yang mendatangkan damai sejahtera, kerukunan, saling memberkati dan memberikan kelegaan bagi sesama dll.

Kedua, sesuai dengan bacaan Matius 10:40-42 tugas dan tanggungjawab kita adalah melaksanakan tugas pengutusan, yaitu tugas mewartakan kabar baik, Injil Yesus Kristus yang mendatangkan pengampunan dosa, kemerdekaan dan keselamatan bagi manusia yang mau menyambutnya. Bagi yang melaksanakan tugas pengutusan akan mendapatkan upahnya dari Sang Pengutus. Bagi yang menyambut orang utusan ia akan mendapatkan upahnya. Ketiga, untuk melaksanakan tugas pengutusan itu kita harus bergantung sepenuhnya kepada Sang Pengutus, tidak bergantung kepada siapapun. Para utusan tidak perlu membawa bekal, tujuannya supaya mereka sungguh bergantung sepenuhnya kepada pemeliharaan Tuhan. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk menjalani kehidupan ini dengan iman.
Rdls

 

22 Juni 2014
"Tuhan Menolong Mereka yang Tertindas "
Kej. 21:8-21; Mzm. 86:1-10, 16-17; Rom. 6:1-11; Mat. 10:24-39

Dunia menempatkan orang-orang dari golongan terpandang, kaum jetset yang hampir memiliki segalanya di tempat-tempat istimewa, cenderung memandang rendah kaum papa yang hanya memiliki diri mereka sendiri. Cara pandang ini bisa mempengaruhi siapapun, termasuk orang Kristen. Orang-orang sering lupa bahwa kita tidak boleh membeda-bedakan orang karena perbedaan yang dimilikinya. Pembedaan itu akan menimbulkan penindasan dan penderitaan terhadap mereka yang lemah. Pandangan dunia tentu berbeda dengan cara pandang Allah. Jika manusia melihat rupa tetapi Tuhan melihat hati. (1 Samuel 16 :7). Bagi mereka yg tertindas, menderita, lemah dan terabaikan, Allah hadir untuk menolong mereka.
Ingat cerita Hagar? Ketika ia tertindas dan melarikan diri, siapakah yang mencarinya? Allahlah yang mencari dia. Seringkali dalam pandangan kita, Hagar hanyalah seorang budak yang kemudian melahirkan Ismael dan sebuah agama besar lain. Sosok yang hina, terbuang dan tertindas. Tetapi inilah rahasia dan kenyataan yang luar biasa. Adalah Allah sendiri yang memperhatikan penderitaan Hagar dan menolongnya ketika ia kehausan dan Ismael hendak mati. Adalah Allah yang bersabda, “Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring.”

Dari kisah ini kita diingatkan dua hal. Yang pertama adalah bahwa kadang ataupun seringkali kita merasa terhina sebagaimana dunia memandang kita dan seringkali kita merasa terbuang karena sistem budaya dan keagamaan yang terjadi. Tetapi satu hal yang pasti bahwa Allah mengasihi orang-orang yang tertindas, menderita dan terbuang. Dunia merendahkan orang yang tertindas, tetapi Allah tetap berbelas kasihan.
Yang kedua, kita diundang Tuhan untuk peduli dan menolong mereka yang tertindas, menderita dan terabaikan. Kita diajak ambil bagian didalam karya Allah di dunia ini yaitu menyelamatkan dunia ini melalui kehadiran kita untuk peduli dan menolong mereka yang tertindas, dan tidak menjadi yang penindas bagi yang lemah dan menderita. Tuhan memberkati.
DS

     

15 Juni 2014
" Inspirasi dari Allah Trinitas Yang Mencipta–Menyelamatkan – Memelihara "
Kejadian 1:1-5,26-31; Mazmur 8; 2 Korintus 12:13-14; Matius 28:16-20

Ada yang terinspirasi untuk membuat lampion dari kulit jagung. Padahal kulit jagung biasanya hanya untuk makanan kambing atau malah dibuang ke tempat sampah. Pengrajin ini (Dari Klaten–Jawa Tengah) mengalami perubahan nasib, karena inspirasi “kulit jagung“, dan hasil karyanya telah sampai ke Manca Negara. Jika hidup pengrajin lampion itu diubahkah karena inspirasi yang ia peroleh, apalagi jika kita menerima Inspirasi langsung dari Allah.

Hari ini, disaat jemaat memperingati hari Trinitas dan hari Ayah, kita merenungkan inspirasi apa di balik Allah yang berkarya sebagai : Bapa – Anak dan Roh Kudus, Allah Trinitas ? Beberapa hal ini kiranya dapat bermanfaat untuk hidup yang lebih baik di jemaat dan keluarga - bersama ayah yang kita hormati dan kita cintai :

1. HIDUP BENAR – adalah MENYERUPA ALLAH. Sebagaimana manusia diciptakan sebagai GAMBAR Allah (Kej 1:26). Hal ini mendorong kita untuk kreatif – hidup penuh kasih – dan peduli memelihara hidup yang berkenan.

2. SETIAP ORANG DIUNDANG MENJADI KELUARGA ALLAH – “... Baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus (Matius 28:19b-20). Pembawa undangan yang benar – adalah pelayan yang baik dari rumah tangga Allah; Penuh kasih dan berhati seperti :
• Seorang ayah dimana anaknya yakin kasih Bapa yang penuh padanya. Sehingga anaknya menghargai milik ayahnya seperti miliknya sendiri.
• Seorang anak yang setia pada Bapa. Sikap yang siap memberikan hidupnya – berkorban dalam kasih demi terwujudnya keselamatan
• Siap mendampingi seperti penyertaan Roh Kudus, agar orang yang di “titipkan” Tuhan (kepadanya) tahu bagaimana hidup benar.

3. KARYA BERSAMA KARYA TERBAIK.
Pada anak kalimat “… baiklah Kita menciptakan manusia sesuai dengan gambar dan rupa Kita…” (Kej 1:26), Allah adalah KITA (Bapa, Anak, Roh Kudus), yakni pribadi yang berkarya bersama dengan tujuan karya cipta yang sangat baik. Inspirasi ini mengubahkan kita untuk menjauhi sikap otoriter - memaksakan kehendak, suka menjadikan diri sendiri sebagai pusat (egosentris). Allah adalah KITA, mengajar jemaatNya untuk demokratis, suka melibatkan, dan menerima kepelbagaian. Siap bersehati sepikir, dalam satu kasih“ (2 Kor 12:13-14)

4. KARYA TERBAIK – adalah BELARASA PADA YANG LEMAH. Yakni ketika kita tidak hanya sibuk dengan urusan kita sendiri-sendiri, tetapi mengingat mereka yang lemah dan tak berdaya. Maka pada saat seperti itulah - Allah dimuliakan. Seperti yang dirasakan pemazmur ketika ia mendapat belarasa karena “diingat” Allah, sehingga mengungkapkan perasaan hatinya yang terdalam :“Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya ? … Ya Tuhan, Tuhan kami betapa mulianya namaMu di seluruh bumi!” ( Mazmur 8:5, 10). Amin.
PKM

 

8 Juni 2014
"DIUTUS DAN DIMAMPUKAN UNTUK BERSAMA MENJADI SAKSI"
Bil. 11:24-30; Maz. 104:24-35; 1 Kor. 12:3-13; Yoh. 20:19-23

Menjadi saksi menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah orang yang melihat atau mengetahui sendiri sesuatu kejadian. Padahal peristiwa penyelamatan manusia oleh Yesus Kristus terjadi sekitar 2000 tahun yang lalu, jadi kita bukanlah saksi kejadian melainkan saksi iman atau menyaksikan sebagai keyakinan atau iman percaya bahwasannya peristiwa itu pernah terjadi dan kita sebagai pengikut Yesus Kristus diutus dan dimampukan untuk bersama menjadi saksiNya, dengan tujuan :

1. Mengajak sesama manusia untuk menghayati bahwa peristiwa Pentakosta adalah peristiwa dimana manusia dipercaya untuk menjadi saksi Kristus.
2. Mengajak sesama manusia bahwasanya setiap kita dipanggil bersama-sama dalam keragaman hidup atas kasih karuniaNya.
3. Mengajak sesama manusia untuk melihat dan mempergunakan kasih karunia Roh yang ada dalam diri setiap kita untuk menyiarkan karya keselamatan Yesus Kristus dalam tata cara kehidupan yang baik dan berkenan dihadapan Allah.

Kiranya setiap kita dimampukan dan diubahkan dari kondisi yang tidak baik menjadi baik atau dari kondisi yang baik menjadi lebih baik lagi atau dari pemahaman yang mustahil menjadi tidak mustahil bagi Roh Allah yang membimbing setiap kita dalam bersaksi di kehidupan sehari-hari kepada sesama manusia, Amin. BHS

     

1 Juni 2014
"Ditinggikan oleh Tangan Tuhan yang Kuat"
Kis. 1:6-14; Mzm. 68:1-10, 32-35; 1 Petr. 4:12-14, 5:6-11; Yoh. 17:1-11

Sebuah peribahasa mengatakan “Putuslah Ranting Tempat Bergantung, Terbanglah Tanah Tempat Berpijak”. Peribahasa ini sering digunakan untuk orang-orang yang kehilangan pegangan hidup. Sikap demikian – tentu saja – membuat yang bersangkutan kehilangan pengharapan. Proses dan pasca kenaikan Tuhan Yesus ke sorga menimbulkan kegelisahan para murid. Mereka seolah-olah kehilangan pegangan hidup mereka. Mereka seperti orang yang terpuruk dan yang berada dalam kondisi yang paling rendah. Namun situasi tersebut, justru digunakan Tuhan Yesus untuk menggugah para murid dalam kehidupan yang beriman pada sebuah kepastian keyakinan bahwa mereka tetap berada dalam ‘cengkeraman’ anugerah-Nya.

Kata “ditinggikan” dalam tema kotbah saat ini mengindikasikan adanya posisi yang “rendah” yang yang dihadapi manusia. Tanpa harus diperdebatkan, kerendahan dalam frasa ini tentu dimaksudkan pada posisi manusia yang telah berdosa, yang hendak ‘diangkat’ Tuhan dari kerendahannya. Harap dipahami bahwa posisi rendah dalam kondisi ini bukanlah sebuah kondisi “rendah hati” atau “rendah diri” , melainkan keadaan manusia yang terpuruk, dijerat dorongan emosi tak terkendali, dan membutuhkan topangan Tuhan untuk keluar atau mampu mengendalikan diri dari tekanan emosi dan nafsu. Sehingga emosi dan nafsu yang dipercayakan Tuhan menjadi anugerah besar sebagai landasan hidup, bukan menjadi ajang pemuasan diri. Mengendalikan diri menjadi sebuah pergumulan yang sangat berat dalam hidup manusia. Apalagi ketika pengendalian diri itu berhubungan dengan kuasa atau kekuasaan. Sebagaimana kita ketahui melalui berbagai media, penyelewengan kekuasaan bukan saja telah merambah ranah politik, tetapi juga memasuki gereja.

Manusia yang dipercaya Tuhan untuk menggunakan kuasanya cenderung untuk menyelewengkannya. Kuasa yang seharusnya menjadi sarana kemuliaan-Nya justru menjadi ajang kebanggaan dan pemuasan diri semata. Di sinilah manusia ditantang untuk bertarung melawan godaan, antara bersandar pada anugerah Tuhan atau mewujudkan pemuasan diri yang justru semakin memperburuk keberadaan manusia.

Dalam pandangan Steven McCornack (Reflect and Relate), situasi manusia dalam kondisi pemuasan diri merupakan violence conflict. Mengapa demikian? Karena pemuasan diri dalm kekuasaan bukan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan martabat hidup manusia, melainkan menjadi sarana pemenuhan kepentingan diri. Padahal, kuasa yang Allah hadirkan justru dimaksudkan sebagai sarana untuk meninggikan nilai (value) dan martabat manusia. Inilah pesan dari tema minggu ini, yakni ajakan kepada manusia untuk menilik secara mendalam nilai dan martabat kemanusiaan yang terbebas dari cengkeraman kuasa iblis, yang sering mewujud dalam gelombang pemuasan diri.
DP ed

 

25 Mei 2014
RAJIN BERBUAT BAIK
Kis. 17:22-31; Maz. 66:8-20; 1 Petr. 3:13-22; Yoh. 14:15-21

Allah merancang manusia untuk mengasihi, menyembah dan memuliakan Allah. (Yoh. 14:15,21). Ia hendak menumbuhkan manusia menjadi murni, sehingga layak masuk ke dalam rumahNya (Maz 66:10,13). Kita datang ke hadiratnya membawa persembahan berkat yang sudah kita terima (Maz. 66:15). Dan persembahan yang Ia inginkan adalah menuruti perintahNya untuk mengasihi, menyembah, dan memuliakan Allah. Memang semua manusia mencari kebahagiaan. Orang Atena percaya dengan penyembahan kepada Allah untuk kebahagiaan mereka. Untuk itu mereka juga mendirikan mezbah memberikan persembahan. Mereka rajin memberi makan para dewa dengan harapan dewa akan membalas memberikan semua yang mereka inginkan (Kis. 17:22-31).

Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa kebahagiaan yang sejati terjadi apabila kita hidup menurut rancangan Allah, yaitu mengasihi Nya. Mengasihi Allah berarti melakukan perintahNya seturut dengan Roh Kebenaran. Kebahagiaan datang saat kita rajin melakukan perbuatan yang baik dan benar. Kasih kita pada Yesus kita perlihatkan dengan rajin berbuat baik sesuai perintahNya.
Bahkan sekalipun kita harus menderita juga karena kebenaran kita akan berbahagia (I Pet. 3:14). Seperti Nuh yang sabar menurut kehendak Allah, meskipun bertentangan dengan hikmat dunia, ia akhirnya diselamatkan dan berbahagia oleh kebenaran Allah.

Bagaimana kita yang lemah ini sanggup melakukannya? Bagaimana kita tahan mengahdapi kekeliruan hikmat dunia? Bapa kita mengaruniakan Roh Kudus, Roh Kebenaran, yang akan menolong kita (Yoh. 14:16). Roh ini akan menyalakan semangat kita untuk rajin berbuat baik. Kita harus bertumbuh sehingga kita semakin mampu untuk menjalankan tugas kita itu. Dengan rajin berbuat baik maka kita semakin kuat dalam menjalankan tugas kita. Jadi kita tidak berbuat baik agar Allah mengganjar kita dengan semua keinginan kita. Tetapi kita rajin berbuat baik karena itu tanda Roh Kebenaran menyala dalam hati kita. Kita akan diberkati dengan kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan yang datang karena manusia hidup sesuai dengan rancangan Allah.
Armein Z.R. Langi

     

18 Mei 2014
"IMAN YANG DITANAM SEJAK MASIH TUNAS"
Kel. 3 : 1-10; Mazmur 31 : 1-5, 15-16; 1 Petrus 2 : 2-10; Lukas 2 : 47-52

Sebagai orangtua, siapa yang pernah tahu akan seperti apa anak-anak kita kelak? Begitu juga dengan orangtua Musa; mereka tidak pernah menduga bahwa suatu saat Tuhan memanggil Musa menjadi utusan-Nya, untuk membawa umat-Nya, orang Israel, keluar dari perbudakan di Mesir (Kel. 3:1-10). Musa dilahirkan disaat bangsanya diperbudak, situasi dan kondisinya tidak aman, seperti adanya ancaman pembunuhan dari Firaun. Musa diselamatkan Tuhan dengan dihanyut kan di sungai Nil dan “diangkat dari air” oleh puteri Firaun. Tuhan masih memberi kesempatan ibu kandung Musa (Yokebet), untuk mengasuhnya walaupun setelah itu (masa kanak-kanaknya) ia terpaksa berpisah dengan orangtuanya. Didikan orang tuanya, dan hikmat Tuhan menjadi kan kasihnya pada Tuhan dan bangsanya bertumbuh. Musa terpanggil untuk lebih memilih (Tuhan) menyelamatkan / membebaskan bangsanya daripada menjadi pejabat di istana Firaun. Melalui kesulitan yang dialami dirinya dan bangsanya, seiring dengan bertambah usianya, Musa banyak belajar akan kesetiaan dan kasih Allah. Iman yang diwariskan / diajarkan orangtuanya dan dari keturunan-keturunan sebelumnya (ayat 6) membawa Musa untuk belajar setia di dalam jalan Tuhan.

Tuhan Yesus menjadi teladan anak yang bertumbuh dalam iman yang ditanam sejak masih tunas, sehingga Ia makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besarnya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia (Luk. 2:47-52). Pasti ini menjadi kerinduan setiap orangtua yang mengasihi anak-anaknya dan menaruh pengharapan hanya kepada Tuhan Yesus, yang adalah jalan, kebenaran dan hidup.

Tuhan tidak menjanjikan jalan tanpa hambatan bagi anak-anakNya, tapi penyertaan di setiap jalan yang harus dilalui. Seperti juga Daud, mengalami perlawanan karena musuh2nya dan orang-orang yang mengejarnya (Maz. 31:1-5; 15-16), tetapi ia tetap percaya kepada Tuhan, karena bagi Daud Tuhan adalah :
- Bukit batu dan pertahanan; Ia seperti seorang bapa yang menuntun dan membimbing anaknya ke jalan yang benar
- Tempat perlindungan, sekalipun dalam kondisi tidak aman, kasih setia-Nya yang besar dapat senantiasa diandalkan
- Pembebas umat. Ia memberikan pembebasan yang utuh berupa keselamatan jiwa, sehingga umat dapat menjalani hidup dengan bermakna dan berharga.

Tuhan Yesus adalah batu penjuru bagi orang yang percaya kepada-Nya (1 Pet. 2 : 2-10). Sebagaimana bangunan memerlukan satu penjuru yang akan menjadi titik pusat (penopang) dari seluruh bangunan itu, begitulah hidup setiap orang Kristen, harus dipusatkan pada Tuhan Yesus. Setiap orang, termasuk anak-anak, harus belajar dan bertumbuh dalam iman kepada Tuhan Yesus dalam segala hal kehidupan mereka, tidak tergantung kepada orang lain, termasuk kepada orangtua mereka. Iman yang bertumbuh akan nampak dalam kehidupan orang yang memusatkan hidupnya kepada Tuhan Yesus, yaitu melalui tindakan mereka yang menyatakan perbuatan-perbuatan besar Allah dalam kehidupannya. Selamat mewariskan iman kepada anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Semoga anak-anak kita terus bertumbuh imannya dan tetap setia pada Tuhan ketika menghadapi setiap ujian dalam hidupnya. Amin.
ESS

 

11 Mei 2014
"HIDUP BARU DALAM ASUHAN SANG GEMBALA AGUNG"
Kisah Para Rasul 2 :42-47; Mazmur 23; I Petrus 2:19-25; Yohanes 10:1-10

Sebagai komunitas baru di tengah masyarakat Yahudi, jemaat Kristen perdana menampilkan wujud kehidupan yang simpatik. Sebuah kehidupan yang berbeda dengan kehidupan warga masyarakat pada umumnya. Disebutkan, bahwa komunitas Kristen itu menampakkan ciri-cirinya sebagai berikut : bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam persekutuan, mereka memecahkan roti perjamuan kudus dan berdoa. Juga mereka bersatu dengan berkumpul dan tidak memermasalahkan kepemilikan materi mereka, tetapi rela berbagi. Bahkan secara bergilir, mereka makan bersama dengan gembira dan tulus hati dalam suasana memuji Allah. Akibatnya, komunitas Kristen perdana itu disukai semua orang. Itulah hidup baru dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus, Sang Gembala Agung.

Bagaimana figur Sang Gembala Agung? Baik dari Mazmur 23, maupun dari Yohanes 10, kita mendapat gambaran, bahwa Sang Gembala Agung itu benar-benar menjamin keselamatan jasmani dan rohani para `domba’-Nya. Betapa tidak, kesaksian Daud menunjukkan hal itu, sehingga ia merasa aman dalam asuhan-Nya. Begitu pula Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai gembala yang baik dengan kriteria bersedia menjaga kawanan domba-Nya dengan memertaruhkan nyawa-Nya. Ia mengenal nama para domba-Nya, berkenan menuntun mereka, melindungi mereka, bahkan memberi mereka hidup yang berkelimpahan. Jika disinggung, bahwa Ia adalah pintu, maka pintu yang dimaksudkan adalah pintu kandang domba, sehingga siapa dan apa pun yang akan masuk dan keluar kandang domba itu, pasti tidak lolos dari pengawasan-Nya.

Berikutnya, kesediaan Tuhan Yesus menjadi Gembala kawanan domba yakni jemaat para orang percaya yang adalah milik-Nya, dilaksanakan sampai tuntas dengan pengorbanan diri-Nya di kayu salib. Pengalaman-Nya sebagai penjamin keselamatan para pengikut-Nya, menjadi teladan bagi mereka untuk menderita dan berkorban, kendati sebenarnya bukan menjadi tanggungan mereka.

Maka inti dari berita firman Allah pada hari ini adalah, bahwa semua penderitaan yang harus dialami oleh para pengikut Tuhan Yesus, sudah masuk dalam penjaminan-Nya. Pada akhirnya, keteladanan-Nya untuk menanggung beban demi kesejahteraan jasmani dan rohani para domba, merupakan wujud asuhan Sang Gembala Agung. Ekstremnya, hal ini paralel dengan Matius 10:28, bahwa Allah yang Mahakuasa punya kelebihan terhadap kekuasaan apa pun yang ada di dunia ini. Oleh sebab itu, laksanakan hidup baru dalam asuhan-Nya! Amin. .
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

     

4 Mei 2014
"Iman yang Membalas Keselamatan dari Tuhan"
Kis. 2:14, 36-41; Mzm. 116:1-4, 12-19; 1 Petr. 1:17-23; Luk. 24:13-35

Peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang baru saja kita peringati adalah jalan yang Allah sediakan bagi manusia untuk memperoleh pengampunan dosa, memperoleh keselamatan dan memperoleh hubungan yang harmonis dengan Allah. Persoalannya adalah pada diri manusia itu sendiri; apakah manusia menyambut tawaran Allah itu atau tidak. Peristiwa hari Pentakosta yang diceritakan dalam Kisah Para Rasul 2 memberikan pembelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Ketika rasul Petrus memberitakan tentang peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus dan semua kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu menjadi Tuhan dan Kristus/ Juruselamat. Respon yang terjadi pada waktu itu adalah: Apakah yang harus kami perbuat?

Petrus menjelaskan apa yang harus diperbuat oleh para pendengar adalah:
Pertama, Bertobat dan berilah dirimu dibaptis. Bertobat berarti menyadari kesalahannya, mengakuinya dan berbalik arah yang benar (Yunani / metanoeo) dan (Ibrani adalah syuv yang berarti berbalik ke arah yang seharusnya) Pertobatan adalah syarat mutlak bagi setiap pengikut Kristus. Kehidupan iman pada Kristus tanpa pertobatan adalah iman yang semu, munafik dan seperti kuburan yang kelihatan indah tetapi isinya penuh tulang belulang. Sedangkan baptisan adalah lambang/ meterai bahwa kita telah bertobat dan menjadi anak-anak Allah/ keluarga Allah.
Kedua, adalah berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini ayat 40. Angkatan jahat dalam bahasa Yunani adalah skoleos yang berarti tidak jujur, tidak tulus, tidak lurus dan jahat. Jika kita hubungkan dengan konteks kehidupan keagamaan orang-orang Yahudi pada saat itu, maka kata skoleos berarti kehidupan keagamaan yang sangat formal, tidak manusiawi, dan penuh kemunafikan, serta penuh pamrih dan egois.

Jika kita hubungkan dengan kehidupan sosial ekonomi pada saat itu, maka skoleos berarti menunjuk pada kehidupan yang hedonis, yang hanya mencari kepuasan dan kenikmatan duniawi. Dengan demikian angkatan jahat yang Petrus maksudkan adalah para pendengar untuk sungguh membuang kehidupan keagamaan yang penuh dengan formalitas dan kemunafikan, dan juga membuang segala macam bentuk kepuasan dan kenikmatan duniawi.

Bagaimana respon kita terhadap peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus yang diberitakan oleh para murid, secara khusus yang disampaikan oleh Petrus? Jangan sampai terjadi seperti yang dialami oleh dua murid Yesus yang sedang melakukan perjalanan ke Emaus. Mereka sangat lamban untuk merespon peristiwa kebangkitan Yesus, sehingga Yesus mengecam sikap mereka.

Jangan sampai terjadi juga kita sudah sekian kali memperingati peristiwa Paskah, bahkan Jumat Agung melalui Perjamuan Kudus yang kita ikuti, namun kita tidak pernah mengalami pertobatan yang sesungguhnya kepada Tuhan. Kita tidak mengalami pertumbuhan iman, kita tidak mengalami perubahan hidup, dan kita tidak pernah mengalami perubahan karakter. Iman tanpa perbuatan adalah mati dan kosong. Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk merespons peristiwa Paskah secara benar, yaitu memberi diri kita untuk diperbaharui. Amin.
Rds

 

27 April 2014
"IMAN YANG BERJUMPA DENGAN KRISTUS YANG BANGKIT"
Kis. 2:14, 22-32; Mzm. 16; 1 Ptr. 1:3-9; Yoh. 20:19-31

Seseorang yang kelihatannya religius, rajin beribadah, dan sering menyebut nama Kristus dalam hampir setiap ucapannya, bisa saja mempunyai perilaku yang menjadi batu sandungan bagi orang lain. Apakah yang menjadi penyebabnya? Beriman kepada Tuhan Yesus bukan hanya karena terlahir sebagai orang Kristen, atau karena pemberitaan Injil saja, melainkan terkait erat dengan ketaatan, kesetiaan dan kasih kepada Tuhan dan sesama. Setiap orang yang beriman kepada Tuhan Yesus harus mengalami perjumpaan dengan Kristus secara pribadi, berproses secara terus menerus, sehingga imannya semakin dewasa, dan kuat mengakar.

Setelah peristiwa penyaliban Tuhan Yesus, para murid mengalami masa-masa yang suram, karena mereka merasa kecewa, putus asa, cemas, takut, karena Yesus -yang mereka harapkan menjadi raja- telah mati disalib, dan sebagai pengikut-Nya mereka merasa terancam hidupnya. Tetapi ketika mereka berjumpa secara fisik dengan Tuhan Yesus yang bangkit, mereka mengalami perubahan hidup yang luar biasa. Mereka menjadi berani, dan bersaksi kepada banyak orang, bahwa Yesus adalah Mesias (Kis. 2:14, 22-32). Demikian juga Saulus yang berjumpa dengan Kristus dalam peristiwa Damsyik, mengalami titik balik perubahan hidup hingga ia menjadi Paulus sang Rasul. Raja Daud juga mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Ia banyak mengalami ancaman dan pengkhianatan, namun ia tetap dapat merasakan kebaikan Allah dalam hidupnya, karena ia senantiasa mendekatkan diri dan mengalami perjumpaan dengan Tuhan, serta mencari didikan Tuhan melalui hati nuraninya (Mzm. 16).

Walau menghadapi segala kesulitan, kita dapat terus bersyukur dan bergembira, karena kita mempunyai Allah yang hidup, Allah yang sangat berkuasa atas segala apapun, Allah yang berdaulat atas kehidupan. Kita sudah mencapai tujuan iman kita, yaitu kehidupan yang kekal, kehidupan yang baru di dalam Kristus, mempunyai harapan untuk bangkit dari keterpurukan, menjalani kehidupan dengan kekuatan yang dari Tuhan. Kita sekarang tidak melihat Tuhan Yesus secara fisik, tapi bisa merasakan kehadiran-Nya di dalam hidup kita, karena Ia senantiasa hadir bagi orang yang percaya kepada Dia dan mengasihi-Nya (1 Ptr. 1: 3-9). Kehadiran-Nya mengubah kegelapan menjadi terang, ketakutan menjadi sukacita dan damai sejahtera. Kita diperlengkapi oleh Roh Kudus untuk menjadi utusan dan saksi Kristus, agar makin banyak orang yang menjadi percaya kepada-Nya (Yoh. 20:19-31).

Dalam masa-masa Paskah ini, kita mau mengingat Kristus yang bangkit. Tetap hidup dalam kasih-Nya, memelihara iman, dan menghayatinya dalam kehidupan. Tetap memiliki kekuatan dan pengharapan, walau kesulitan dan penderitaan silih berganti. Setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita menjadi sebuah proses yang semakin mendewasakan iman dan cara pandang kita terhadap Tuhan, hidup, sesama, dan diri sendiri. Marilah kita memberi kesaksian yang sungguh-sungguh, sehingga semakin banyak orang yang berjumpa dengan Kristus yang bangkit, mengalami Kristus, menikmati dan mensyukuri hidupnya.
Nancy Hendranata

     

20 April 2014
"BANGKIT DENGAN HIDUP YANG BARU"
Kej. 1:1-5;2:1-4, Maz. 136:1-9, 23-26, Rom. 6:3-11, Mat. 28:1-10

Ciptaan Allah pada hari pertama adalah menjadikan "Terang" yang memisahkan "gelap". Gelap melambangkan kematian dan Terang melambangkan kebangkitan.

Pada bacaan Injil Matius 28:1-10, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap Maria Magdalena, Maria yang lain dan Salome (Markus 16:1) pergi ke kubur Yesus dengan sikap hati yang sedih karena percaya bahwa Yesus sudah mati; dengan membawa rempah-rempah dan minyak untuk mengharumkan jasad Yesus. Mereka sudah kehilangan iman akan perkataan Yesus yang akan bangkit di hari yang ketiga. Ternyata mereka menjadi saksi pertama atas kebangkitan Yesus, batu pintu kubur dibuka oleh malaikat yang bersinar terang, kubur kosong, dan mereka berjumpa dengan Yesus yang bangkit, mereka menyembahnya sebagai Tuhan, memberi damai dan sukacita yang besar, dan mereka diminta untuk mengabarkan tentang kebangkitanNya kepada murid-murid yang lain. Kebangkitan Yesus mengubah hidup para wanita ini dari duka cita menjadi sukacita, ketakutan menjadi keberanian memberitakan KebangkitanNya, dari suasana kegelapan melihat terang KebangkitanNya.

Banyak orang Kristen yang percaya atas kematian Yesus di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Tetapi banyak juga yang meragukan kebangkitanNya. Kisah penyaliban Yesus dapat kita peringati (di hari Jum'at Agung) dengan mengharu birukan perasaan kita, tetapi apa arti KebangkitanNya yang merupakan kenyataan bagi hidup kita? KebangkitanNya adalah satu-satunya bukti bahwa Yesus adalah Tuhan, yang harus disembah. (perempuan-perempuan itu menyembah Yesus yang bangkit).

Bukti bahwa kita sebagai orang Kristen yang lebih percaya tentang kematianNya (kegelapan) dari pada KebangkitanNya (Terang Tuhan), adalah iman yang byar-pet (gelap-terang), iman yang naik turun tidak berkemenangan. Hidup kita tidak mengalami perubahan menjadi "hidup baru" yang bermakna dan memuliakan Tuhan. Roma 6:5 Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.

Roma 6:9-10; Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.

Apakah kebangkitanNya sudah mengubah hidup kita bagi kemuliaan Allah dalam Kristus, atau masih sering mempermalukan Tuhan? atau menjadi batu sandungan bagi sesama kita ? Sambutlah kebangkitanNya dalam hidupmu, itulah "hidup baru" dalam Tuhan Yesus. Amin “Selamat Paskah 2014, sebab Dia Hidup !”
tonny iskandar

 

13 April 2014
"AKULAH SANG PEMENANG"
Yes. 50:4-9; Maz. 31:9-16; Flp. 2:5-11; Mat. 21:1-11

Bagi penduduk kota Filipi sebagai kota koloni Romawi adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan yang besar. Mereka sangat antusias menerima budaya, agama dan nilai-nilai hidup bangsa Romawi menjadi bagian penting dalam meningkatkan status sosial mereka. Bentuk kebanggaan tersebut dinyatakan melalui kegunaan bahasa Romawi, pemakaian gelar-gelar Romawi oleh para pejabat pemerintah dll. Sebagai miniature Roma, maka cara pandang orang-orang Romawi ikut mempengaruhi kehidupan masyarakat Filipi. Nilai yang paling mencolok adalah sikap hidup yang mengejar kehormatan. Untuk mendapatkan kehormatan dilakukan dengan cara menaikan status sosial dan kedudukannya di tengah masyarakat. Peningkatan status soasil didapatkan dengan mengejar prestasi yang diakui oleh pemerintah Romawi. Semakin tinggi status soasilnya semakin tinggi penghormatan yang ia dapatkan. Nilai kehidupan seperti inilah yang sangat mempengaruhi kehidupan jemaat di Filipi. Anggota jemaat juga saling mengejar dan memperebutkan kehormatan dan posisi/ jabatan dengan cara merendahkan orang lain dan menganggap diri lebih utama/ hebat. Mereka berlomba untuk meninggikan diri satu di atas yang lain. Itulah sebabnya rasul Paulus memberikan nasehat kepada jemaat Filipi untuk meneladani kehidupan Yesus Kristus yang merendahkan diriNya serendah-rendahnya sebagai hamba dan taat sampai mati di atas kayu salib. Yesus Kristus rela melepaskan status kemuliaanNya, kehormatanNya, kedudukanNya sebagai Allah menjadi manusia hamba. Rasul Paulus mengajar kepada jemaat supaya jemaat memiliki keberanian dan kerelaan hati untuk melepaskan hak sebagaimana Tuhan Yesus melepaskan kesetaraanNya dengan Allah. Kata kesetaraan tentunya penting untuk dimaknai dalam konteks jemaat Filipi. Bagi masyarakat di kota Filipi kesetaraan menunjukkan pada status dan hak yang sama.

Sebagai contoh, orang Filipi merasa bangga apabila memiliki status kewarganegaraan Romawi. Kesetaraan sebagai warga negara Romawi akan berimbas pada status dan hak mereka, baik secara politik, ekonomi maupun sosial. Melalui kesetaraan ini kehidupan mereka akan mendapat jaminan yang utuh. Tidak heran kalau mereka berjuang mengejar kesetaraan itu.

Oleh karena itu dapat dipahami mengapa kepada jemaat Filipi Paulus mengatakan ..” yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.” Melalui nasehat ini Paulus mau menunjukkan bahwa Tuhan Yesus yang sudah memiliki kemuliaan dan kehormatan yang besar, dan berhak untuk mendapatkan penghormatan dan kemuliaan itu ketika berada dalam dunia ini, justru melepaskan hakNya demi sebuah keselamatan bagi manusia berdosa.

Dalam hal tersebut jemaat Filipi didorong untuk meneladani sikap Tuhan Yesus. Ia tidak mengejar kemuliaan dan kehormatan, melainkan melepaskan hak kemuliaan dan kehormatan. Jemaat diajak untuk hidup tidak semata-mata untuk dirinya sendiri tetapi juga panggilan untuk keselamatan bagi orang lain. Setiap jemaat di Filipi diajak untuk bertanggung jawab akan kehidupan orang lain. Ketika kita ikut bertanggung jawab atas hidup orang lain pada saat itulah kita melapaskan hak kemudian kita memperolah kemuliaan dan kehormatan dari Allah. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia karena Dia relah merendahkan diriNya, melepaskan hakNya. Kemenangan terbesar adalah ketika kita rela merendahkan diri dan melepaskan haknya untuk orang lain. Tuhan Yesus berkata: “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, tetapi barangsiapa merendahkan dirinya ia akan ditinggikan.

Kehormatan dan kemuliaan didapat bukan karena status atau jabatan yang melekat pada dirinya, melainkan melalui pelayanan kepada sesama. Pelayanan kepada sesama adalah bentuk spiritualitas yang meneladani Tuhan Yesus, yaitu spiritualitas yang merendahkan diri bukan meninggikan diri. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk memiliki spiritualitas yang merendahkan diri, bukan meninggikan diri. Amin.
RDS

     

6 April 2014
"Akulah Kebangkitan dan Hidup"
Yeh. 37:1-14; Mzm. 130; Rom. 8:6-11; Yoh. 11:1-17, 33-45

Dalam kitab Yehezkiel diceritakan di sana bahwa kehancuran Bait Allah dan penderitaan yang dialami bangsa Israel pada masa perbudakan bangsa Babel membuat bangsa tersebut kehilangan harapan. Mereka putus asa dan seakan-akan Allah pun tidak akan mampu menolongnya. Dalam keputusasaannya yang sedemikian parahnya, bangsa Israel digambarkan seperti tulang-tulang kering (Yeh. 37:4). Israel bagaikan mayat-mayat hidup, mereka hidup tetapi tidak punya jiwa. Hidup mereka tidak lagi diisi dengan kehidupan yang bergaul dengan Allah. Karena itu hidup yang mereka jalani menjadi serupa dengan bangsa yang tidak mengenal Allah. Namun Allah tetap setia meski bangsa Israel tidak setia, Allah akan menghidupkan mereka kembali (5). Dan Allah juga berjanji akan mengembalikan mereka ke tanah asalnya (14). Allahlah yang membangkitkan dan menghidupkan bangsa Israel menjadi bangsa yang mempunyai hidup lebih bermakna dan lebih baik. Allahlah yang senantiasa memulai perubahan hidup yang lebih baik untuk setiap umat yang mau menyambut kasih, kemurahan dan kesetiaan Allah.

Dengan melihat Allah yang bertindak demikian bagi bangsa Israel, kita diajak juga untuk melihat Allah yang membangkitkan dan menghidupkan di dalam kehidupan masing-masing pribadi kita. Kegagalan dan keterpurukan merupakan bagian dari sebuah kehidupan. Mungkin saat ini kita ada dalam kondisi yang sama seperti bangsa Israel, kecewa, tanpa pengharapan dan putus asa.

Karenanya hidup kita mulai jauh dari persekutuan dengan Allah. Jauh dari persekutuan dengan Allah bukan saja hanya diartikan orang tersebut tidak/jarang beribadah atau ke gereja, tetapi itu juga bisa berarti dan terjadi di dalam kehidupan seseorang yang rajin beribadah dan persekutuan.

Berdoa dan beribadah hanya sebagai rutinitas tanpa makna dan tanpa upaya kita untuk berubah, hal itu hanya akan membuatnya terlihat seperti mayat hidup saja. Pergi ke gereja hanya sekedar karena orang Kristen, “karena Kristen ya ke gereja.” Namun meski kita berbuat demikian, Allah tetap masih setia dan terus dengan sabar menanti perubahan dalam hidup kita. Bahkan karena kasihNya, Ia terus menerus mengampuni kita dan berjanji memberi kita kehidupan yang lebih baik. Maka sebagai orang Kristen yang cengli (tahu diri, tahu arti balas budi) yang sudah menerima pengampunan itu, maka sudah sepantasnya kita bangkit dari keterpurukan kita dan kita hidup sesuai dengan apa yang difirmankanNya kepada kita. Hidup untuk mengasihi Allah dan sesama.

Bikin hidup lebih hidup, demikian slogan dari sebuah iklan yang sejatinya kurang tepat untuk dislogankan dalam iklan produk tersebut. Bagaimana mungkin seseorang akan lebih hidup jika orang tersebut mengkonsumsi barang yang di dalamnya ada peringatan pemerintah bahwa hal tersebut akan menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan? Hanya orang (maaf) bodoh saja yang mau terbujuk untuk mengkonsumsi barang tersebut. Slogan yang semestinya untuk barang tersebut adalah bikin hidup bagai mayat hidup (zombie). Mungkin perkataan ini keras, tetapi biarlah hal ini boleh menggugah hati nurani kita untuk kembali merenungkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak sehat dalam diri kita serta apakah masih ada kedegilan dalam hati kita yang senantiasa kita pertahankan karena sejatinya kita tidak mau terbuka dan diubah oleh Allah yang bangkit dan hidup. Jadi hanya Allah saja yang pantas untuk menyandang slogan tersebut, yaitu bikin hidup lebih hidup. Tuhan memberkati.
DS

 

30 Maret 2014
"AKULAH TERANG DUNIA!"
I Samuel 16 : 1-13; Mazmur 23; Efesus 5 : 8-14; Yohanes 9 : 1-23, 37-41

Frances Jane Crosby (Fanny Crosby, 1820 - 1915) adalah seorang tunanetra. Ia tak lagi dapat melihat dengan matanya akibat malpraktik dokter. Kendati demikian, keadilan Tuhan membuka kemungkinan baginya untuk berprestasi dengan karangan dan tulisan yang digunakan dalam penyusunan syair dalam sejumlah nyanyian rohani. Itulah yang diartikan, bahwa ia tak dapat melihat dengan mata jasmaninya, namun dimampukan Tuhan untuk melihat dengan mata rohaninya. Kita bersyukur dapat menyanyikan penghayatan rohaninya itu antara lain melalui NKB 3, 124, 178, 184 dan dari KJ 26, 293, 362, 368, 388, 392, 402, 408. Sangat produktif, kendati matanya tak berfungsi.

Jika kita perhatikan ayat-ayat firman Allah pada hari ini, tahulah kita, bahwa Allah begitu tajam menembus isi hati manusia, sehingga I Sam. 16 : 7 menyatakannya. Kita juga dapat menjumpai betapa Daud dengan mata rohaninya dapat merasakan penggembalaan Allah yang dituangkan dalam Mazmur 23. Menyusul pengakuan rasul Paulus tentang jemaat Efesus yang semula adalah kegelapan itu sendiri, telah diubah menjadi anak-anak terang. Lantas mereka diminta untuk melakukan kebaikan kebenaran, dan keadilan dalam praktik hidup mereka sehari-hari, tentu dengan kriteria Allah. Berikutnya, pengalaman seorang yang buta sejak lahir menunjukkan betapa kuasa Tuhan Yesus membuka kehidupannya dalam gelap, diubah menjadi kehidupan dalam terang. Perkembangan pengakuannya menunjukkan kepada kita, bahwa orang ini benar-benar menghayati tindakan Tuhan Yesus. Awalnya menyatakan `orang yang disebut Yesus’ (ay.11), berkembang menjadi `Ia adalah seorang nabi’ (ay. 17), berlanjut`Ia datang dari Allah’ (33), sampai akhirnya percaya kepada Anak Manusia itu (ay. 35-37).

Hidup dalam terang adalah hakikat kehidupan Kristen, sebab Tuhan Yesus adalah terang dunia. Jika kita mengaku, bahwa kita adalah anak-anak terang, itu berarti kehendak Tuhan Yesuslah yang menjadi pedoman hidup kita. Hal ini juga dikemukakan oleh Thomas a Kempis, yang menulis bukunya berjudul `Imitatio Christi’ (Meniru Kristus).

Kita berharap, bahwa kita semua tak hanya mengakui Tuhan Yesus adalah terang dunia, melainkan menghayati-Nya dalam kehidupan kita masing-masing. Dengan demikian kita pun menjadi saksi kebaikan, kebenaran, dan keadilan-Nya. Semoga kita peka dalam kehidupan Kristen kita, baik dalam berpikir, berkata, maupun berbuat. Lalu sesudah kita bergaul dengan orang lain, mereka pun mengakui, memang benar, bahwa kita adalah anak-anak terang yang hidup di dalam bimbingan Sang Terang dunia, Tuhan Yesus Kristus. Amin.


Pdt. Em. Budhiadi Henoch

     

23 Maret 2014
"Akulah Air Hidup!"
Keluaran 17:1-7, Mazmur 95, Roma 5:1-11, Yohanes 4:5-26, 39-42

Seorang pemandu wisata di Israel sedang bersiap memimpin tur ke padang gurun. Permintaannya kepada kelompok itu sangat sederhana dan jelas, “Jika Anda tidak memenuhi kedua syarat ini, saya tidak mengizinkan Anda bergabung dalam tur. Anda harus membawa topi lebar dan sebotol penuh air. Semua itu akan melindungi Anda dari sengatan matahari dan kehausan yang disebabkan oleh angin dan kekeringan.” Bersama dengan rombongan tersebut, ikutlah sepasang suami isteri, sang suami berkata kepada isterinya, bahwa kita tidak perlu repot-repot membawa itu semua, paling hanya sebentar kita berjalan lagipula pasti banyak penjual minuman di daerah itu. Ketika tiba waktunya mereka akan memulai perjalanan dan sang pemandu wisata menanyakan tentang kelengkapan yang mereka bawa, sang suami berbohong dengan berkata bahwa semuanya sudah lengkap dan ada di tas isteri saya. Dalam perjalanan menyusuri padang gurun para wisatawan tersebut saling berfoto, karena keasikan berfoto sang suami terpisah dari isteri dan rombongan wisata tersebut, dia mencoba mencari isteri dan rombongannya, karena terlalu lama dia mencari, dia merasa kehausan, dia tidak menemukan penjual minuman ataupun rombongan lainnya. Dia merasa menyesal mengapa tidak mendengarkan apa yang diminta pemandu wisata.

Bagaimana dengan sikap kita? Air sangat diperlukan untuk bertahan hidup, namun seringkali kita tidak menyadari akan kebutuhan kita akan air tersebut, seringkali kita menyianyiakan bahkan menganggap remeh. Demikian pula kehidupan kita sebagai murid-murid Kristus, tidak sedikit dari kita yang seringkali menyianyiakan dan menganggap remeh “Air Hidup” yakni anugerah keselamatan lewat pengorbanan Kristus.

Seringkali kita beranggapan sebagai murid-murid Kristus yang penting saya sudah menerima janji keselamatan itu dan merasa nyaman dalam lingkup sendiri, tanpa menyadari bahwa keselamatan dikaruniakan Tuhan kepada semua umat manusia. Sulit kiranya bagi kita untuk mengerjakan keselamatan dan membuat perubahan dalam diri kita untuk membuka diri bagi orang lain demi keselamatan bersama.

Yesus menawarkan air yang jauh lebih baik daripada air sumur yang Dia minta dari perempuan samaria itu. Dia memiliki “air hidup”, yang hanya dapat diberikan oleh Dia dengan tujuan agar setiap orang yang haus akan Allah dapat menghilangkan dahaga mereka dengan menerima Kristus. apakah anda sedang berada di “sumur”? apakah jiwa anda haus akan Allah? Apakah anda membutuhkan pembersihan dan kesegaran yang Dia tawarkan? Dia sedang menunggu di sana untuk memuaskan Anda dengan “air hidup” keselamatan dan kehidupan kekal, namun Dia memiliki permintaan, Dia ingin bukan hanya kita yang merasakan Air Kehidupan itu, tetapi kita juga dapat menjadi penyalur bagi setiap jiwa-jiwa yang haus dan membutuhkan Air Kehidupan sehingga setiap orang dapat merasakan kelegaan di dalam-Nya.


Wahyuki

 

16 Maret 2014
"HANYA PERCAYA"
Kej.12 : 1-4a; Mzm.121; Rom. 4 : 1-5, 13-17; Yoh. 3 : 1-17

Pepatah China mengatakan “perjalanan 1000 mil harus dimulai dengan langkah pertama”. Apa langkah pertama yang sekaligus menjadi dasar semua langkah kita selanjutnya dalam menjalani kehidupan ini?

Ketika Abram dipanggil oleh Allah (Kej. 12 : 1-4a), dia harus meninggalkan negri, orangtua, dan kaum keluarganya yang notabene sudah dalam kondisi nyaman; tentu hal ini tidak mudah baginya, apalagi tanpa tujuan pasti yang diketahui sebelumnya. Tapi Abram merespon panggilan Allah tersebut seperti dalam ayat 4a : “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya....”. Apa sesungguhnya yang mendasari respon Abram terhadap panggilan Allah tersebut? PERCAYA, hanya percaya kepada Tuhan yang memanggilnya, Abram tahu siapa Allah yang dipercayanya, maka Abram bertindak, melangkah mentaati panggilan Allah kepadanya.

Sikap PERCAYA Abram inilah yang diperhitungkan Allah sebagai kebenaran (Rom. 4:1-5, 13-17). Paulus memakai contoh Abraham (dulu namanya Abram) untuk menjelaskan kepada komunitas Yahudi bahwa bukan karena kesalehan Abraham sehingga Allah memberikan janji dan berkat-Nya, melainkan semata-mata karena anugerah-Nya.

Bagi orang yang menerima dan percaya kepada Allah, maka penyertaan dan janji Allah itu nyata. Mazmur 121 mewakili gambaran orang yang mempercayakan hidupnya kepada Tuhan. Mazmur ini merupakan pernyataan iman bahwa hanya Allah saja tempat berlindung. Allah sanggup menolong umat yang mempercayakan hidupnya hanya kepada-Nya. Tidak ada sesuatu perkara apapun yang di luar jangkauan-Nya dan tidak ada waktu yang lolos dari pengamatan-Nya.

Yohanes 3 : 1-17 memperjelas gambaran Allah yang penuh anugerah. Allah yang merelakan Anak-Nya yang Tunggal untuk menjadi manusia, memikul kesengsaraan sampai kepada kematian-Nya yang hina di atas kayu salib, dengan tujuan agar manusia yang berdosa diselamatkan dan beroleh kehidupan kekal bersama-Nya. Di sini Allah menantang manusia untuk menyambut-Nya, dengan menerima dan percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Percaya dan taat seperti Abraham, serta mengalami penyertaan Tuhan sepanjang hidupnya.

Bagaimanakah respon anda atas panggilan Allah untuk percaya dan taat kepada-Nya? Kiranya ini menjadi perenungan kita dalam menghayati minggu-minggu pra paska - menjelang Paskah. Tuhan Yesus memberkati kita yang hanya percaya kepada-Nya, sehingga kita mau terus merespon taat kepada-Nya langkah demi langkah dalam hidup kita, hingga waktunya kita bertemu Tuhan Yesus muka dengan muka. Amin.
ESS

     

9 Maret 2014
"Berani Berkata Tidak"
Kejadian 2:15-17; 3:1-7; Mazmur 32; Roma 5: 12-19; Matius 4:1-11

Kesalahan besar manusia saat ini adalah merindukan berkat dan kemuliaan, tapi melupakan Allah pemberi berkat dan kemuliaan. Mengapa kita tidak menyadari hal ini? Mengapa kita memperlakukan Allah pencipta kita semua dengan tidak hormat, dan hanya mengingatNya dalam kebaktian sejam di hari Minggu? Allah seakan-akan jadi pengganggu keasikan hidup manusia.

Karena manusia tertipu oleh Iblis. Iblis yang sudah diusir dari surga dan sedang dalam perjalanan menuju kerajaan maut berhasil menipu manusia. Keinginan manusia untuk menjadi mulia sama seperti Allah dimanfaatkan Iblis sehingga Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Adam dan Hawa tidak bisa lagi melihat Allah. Demikian juga kita semua tidak mampu menyadari akan keberadaan Allah dalam setiap aspek kehidupan kita.

Allah mengaruniakan kepada manusia kemuliaan dan kehormatan yang amat besar (Maz. 8:6). Untuk itu Allah menciptakan kita seperti rupa dan gambarNya (Kej. 1:26). Ia sudah memberikan kekuasaan atas seluruh bumi. Allah menciptakan manusia untuk menyembahNya, memuliakanNya, untuk mengasihiNya. Sehingga kita bisa hidup setiap saat di dalam hadiratNya. Sayangnya manusia berdosa gagal memahami kebenaran ini.

Syukur pada Allah, kejatuhan manusia yang disebabkan oleh Adam dan Hawa, ditebus oleh Yesus Kristus di kayu salib. Melalui darah dan pengorbanan Yesus, kuasa dosa tidak lagi berlaku atas kita yang menerima Yesus (Roma 5:15-17). Maka hubungan kita dengan Allah dipulihkan. Betapa berbahagianya kita yang sudah diampuni dosanya. Allah tidak mengingatnya lagi, dan bersedia menerima kita dalam kemuliaanNya (Maz. 31:1,2). Tidak boleh sekalipun orang Kristen lupa akan pengorbanan yang dijalani Kristus untuk pengampunan dosa ini.

Oleh sebab itu, setiap kita mengalami godaan Iblis, ingatlah pada penderitaan Kristus di Golgota itu akibat dosa kita, dan segera katakan tidak. Ingatlah tipuan yg ia lakukan kepada Adam dan Hawa, lalu segera katakan tidak. Kita memiliki kuasa untuk berkata tidak bagi dosa dan ajakan Iblis. Kuasa Iblis sudah dipatahkan. Kita menyadari bahwa manusia tidak hidup dari roti saja, melainkan dari Firman yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:4). Kita masih hidup saat ini semata karena kemurahan Allah.

Kita tidak tergoda dengan ilusi kejayaan dunia (Mat. 4:8). Itu dikejar orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kita kembali menjadi manusia yang menyembah Allah, memuliakan Allah, dan mengasihi Allah. Hidup kita menjadi berpusat pada Kristus, dan mendekat pada Allah seperti seorang anak kepada Bapanya. Kehidupan bersama Allah setiap saat jauh lebih hebat dari semua kemuliaan dunia. Menyembah, memuliakan, dan mengasihiNya jauh lebih nyata dan memuaskan dibanding kefanaan yang ditawarkan dunia. Allah memberikan kita hidup yang kekal bersamaNya.

Oleh sebab itu, marilah kita senantiasa mengerjakan keselamatan kita dengan menyembah, memuliakan, dan mencintaiNya setiap saat. Kita mempertahankan status keintiman kita sebagai anak-anak Allah. Kita berkata tidak kepada semua tipuan Iblis yang akan menjauhkan kita dari Allah Bapa kita.
AL

 

2 Maret 2014
"HIDUP MULIA DALAM KEMULIAAN TUHAN"
Kel. 24:12-18; Maz. 2; 2 Petr. 1:16-21; Mat. 17:1-9

Hari ini, umat Kristen diajak untuk mengingat salah satu peristiwa penting dalam kehidupan Yesus yang pernah disaksikan oleh beberapa muridNya. Peristiwa itu adalah transfigurasi (perubahan rupa) Yesus yang bersinar dan yang memancarkan kemuliaan Allah yang disaksikan oleh Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Hal tersebut membuat Petrus menyatakan pengakuannya bahwa Yesus adalah Mesias, Allah Allah yang hidup. Kemuliaan yang terpancar dalam diri Yesus merupakan perwujudan kualitas hidup yang dijalani oleh Yesus sebagai Anak Allah yang mempunyai hubungan sangat dekat dengan BapaNya, serta yang meneladankan kasih Allah dalam hidupNya. Oleh karena itu, kemuliaan BapaNya terpancar dalam diri AnakNya yang dikasihiNya (Mat. 17:5). Sehingga Minggu Transfigurasi yang juga merupakan hari minggu sebelum Rabu Abu (sesuai Kalender Gerejawi) kita diajak untuk merenungkan arti hidup yang mulia di dalam kemuliaan Tuhan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “kemuliaan” berasal dari kata dasar “mulia” yang dapat berarti antara lain: tinggi (kedudukan, pangkat atau martabat), luhur (misal: luhur budinya). Sedangkan dalam bahasa Ibrani “kemuliaan” terutama kemuliaan yang melekat pada diri Tuhan menggunakan kata “kabod” yang mempunyai arti berbobot atau berkualitas. Kata “kabod” dimaknai dalam artian bobot atau kualitas dari seorang pribadi yang penting (kalau boleh dikatakan demikian; Allah adalah seorang pribadi), yang luar biasa, yang mempunyai reputasi dan pengaruh yang sangat baik atau positif.

Tidak salah jika seseorang ingin hidupnya mulia, karena dengan begitu orang akan merasakan dihargai dan dihormati. Namun seringkali, banyak orang hanya memahami kemuliaan dari segi kekayaan, kedudukan, dan kekuasaan saja, sehingga mereka berusaha dan mengejar ketiga hal tersebut. Sangat disayangkan jika untuk mengejar hal tersebut berbagai cara dilakukan dan dihalalkan. Asal bisa kaya, saudara sendiri diembat. Asal bisa naik pangkat, imannya pun dijual. Asal bisa berkuasa, suap pun dilakukan. Untuk menjadi mulia menurut pemahaman mereka yang sempit, banyak cara yang tidak mulia dilakukan. Cara-cara kotor dilakukan demi ambisi kemuliaannya. Terungkapnya pelanggaran-pelanggaran HAM dan korupsi merupakan bukti dari ambisi mengejar kemuliaan yang salah di dalam masyarakat saat ini. Mereka mengabaikan sisi lain dari kemuliaan yaitu kualitas dan reputasi yang baik, martabat dan keluhuran budi.

Sebagai orang Kristen, kita harus memiliki pemahaman yang utuh dan benar mengenai kemuliaan dan hidup mulia seperti yang dinyatakan dalam Amsal 3:11-15. Amsal ini mengingatkan dan mengajak setiap kita untuk tidak mengejar barang-barang yang tampaknya berharga (tapi sejatinya tidak), melainkan mengejar Sang Sumber Berkat yaitu Allah sendiri. Inilah sejatinya keutamaan dari hidup mulia. Pemahaman tersebut sangatlah penting agar dapat memuliakan Tuhan yang mulia dalam kehidupan masing-masing pribadi.
DS

     

23 Februari 2014
"HIDUP KUDUS DENGAN MEMBERLAKUKAN KASIH-NYA"
Im. 19:1-2; 9-18; Mzm. 119:33-40; 1 Kor. 3:10-11; 16-23; Mat. 5:38-48

Alkitab menyebut orang percaya sebagai orang kudus. Kita memang mengaku sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi bukankah kita sering berbuat dosa? Kalau begitu, mengapa kita dapat disebut sebagai orang kudus?

Kata “kudus” berarti “terpisah/dipisahkan” atau “tidak ada kejahatan/dosa”. Setiap orang yang percaya kepada Kristus, telah ditebus dosa-dosanya, tidak lagi hidup dalam belenggu dosa, telah dipisahkan dari dosa, dikuduskan, dan dibenarkan. Dengan demikian, umat percaya dianugerahi-Nya menjadi orang-orang kudus, dan orang-orang benar, yang dimampukan-Nya untuk hidup dalam kebenaran Tuhan.

Allah adalah kudus, dan Ia menghendaki agar umat-Nya juga senantiasa hidup dalam kekudusan. Firman Tuhan memberikan petunjuk bagaimana kita bisa hidup kudus, yaitu dengan menuruti kehendak dan maksud Allah. Ia mengajarkan, agar kita melakukan segala perkara sesuai aturan dan standard-Nya. Apapun yang kita kerjakan adalah bukan karena baik atau buruk menurut pemikiran diri sendiri, melainkan karena ”Ia-lah Tuhan, Allah kita” yang begitu mengasihi kita. Kita dipanggil-Nya untuk hidup kudus dengan memberlakukan kasih-Nya, baik dalam hubungan kita dengan Tuhan, maupun dengan sesama (Im. 19:1-2; 9-18). Selain itu, jika kita memegang, memelihara, menyukai, dan melakukan segala kehendak, perintah dan hukum-Nya, hidup kita pastilah akan berbahagia (Mzm 119:33-40). Karena apa yang dirancangkan Tuhan, adalah yang terbaik dan membawa kebahagiaan sejati bagi semua umat-Nya.

Dalam menghadapi godaan, kita dapat tetap kokoh berdiri, tidak mudah goyah, dan tetap dapat memelihara kekudusan hidup, jika kita tetap berpegang kepada Kristus. Sebagai anak Allah, kita adalah bait Allah, dan Roh Allah diam di dalam kita. Jika kita tidak mengandalkan hikmat kita sendiri, ada Roh Kudus yang memampukan kita untuk hidup menurut kehendak-Nya (1 Kor. 3:10-11;6-23).

Menurut hikmat manusia, kita dapat mengasihi orang-orang yang kita anggap pantas untuk kita kasihi, tetapi Tuhan Yesus mengajarkan, agar kita meneladani Bapa yang sempurna, sehingga kita dapat mengasihi sesama dengan kasih yang “WALAUPUN”. WALAUPUN mereka orang jahat, WALAUPUN mereka orang tidak benar, hendaklah kita tetap mengasihi, dan membawa mereka untuk dapat merasakan kekudusan dan kasih Bapa melalui keberadaan kita (Mat. 5:38-48). Kitapun sudah mengalami kasih yang WALAUPUN dari Tuhan. WALAUPUN kita ini cemar, Tuhan menguduskan kita dengan kasih-Nya yang sempurna.

Kiranya Roh Kudus menolong kita, ketika ada dosa atau kejahatan yang datang untuk menjatuhkan kita, dan terutama memampukan kita untuk dapat menerapkan kasih secara sempurna seperti kasih yang dimiliki Bapa.
Nancy Hendranata

 

16 Februari 2014
"MEMILIH HIDUP BENAR DALAM KETAATAN PADA FIRMANNYA "
Ulangan 30:15-20 ; Mazmur 119:1-8; 1 Korintus 3:1-9; Matius 5:21-37

Dalam perjalanan kehidupan manusia selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang harus kita putuskan. Sehingga ada pernyataan bahwa hidup kita hari ini merupakan hasil keputusan kita masa lalu, dan keputusan kita hari ini menentukan masa depan hidup kita. Yang menjadi pertanyaan bagaimana kita dapat mengambil keputusan yang benar ?

Seorang Dirut Senior yang akan memasuki masa pensiun mengatakan bahwa keberhasilannya adalah dari hasil keputusan-keputusan yang benar. Bagaimana bisa membuat keputusan yang benar ? tanya calon pengggantinya. Jawabnya: belajar dari keputusan-keputusan yang salah.

Keputusan manusia bersifat sangat relatif, tergantung sikon. Ada keputusan yang sama menjadi benar pada satu situasi, tetapi belum tentu benar pada situasi yang lain. Mengapa demikian ? Karena tidak satupun orang mengetahui masa depannya, hanya Tuhan yang mengetahui masa depan kita masing-masing. Ulangan 30:15-16 Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya.

Allah memberikan 2 pilihan kehidupan kepada bangsa Israel yang sangat jelas melalui Musa. Firman Allah berisi ketetapan-ketetapan Allah yang benar pada semua situasi karena Firman Allah adalah kebenaran sejati, dan Allah penguasa segala masa. Hidup benar adalah hidup berdasarkan keputusan-keputusan Allah, bukan dari keputusan manusia atau diri kita sendiri. Keputusan dan ketetapan Allah bagi kehidupan manusia yang sejati, terkandung dalam FirmanNya sepenuhnya. Rancangan Allah bagi setiap orang berlaku secara unik bagi masing-masing pribadi. Tuhan mengungkapkannya kepada kita melalui relasi KasihNya. Pada bacaan Matius 5:21-37, Tuhan Yesus mengkritik penafsiran para ahli Taurat dan orang Farisi yang masih berlaku sampai saat ini yaitu dengan melakukan kegiatan lahiriah, rajin ke gereja, rajin pelayanan bahkan rajin memberikan persembahan maka ia sudah hidup dalam perspektif Allah. "To do but not to be, doing worship but not worshiper."

Cara kehidupan jemaat yang hanya menekankan kegiatan, sering tidak membawa kedamaian, timbul kekecewaan, perselisihan, iri hati, perpecahan dari kelompok-kelompok hamba Tuhan, seperti yang terjadi di jemaat Korintus (1 Korintus 3:1-9).

Tuhan tidak melihat apa yang kita lakukan, tetapi hati yang mengasihi Tuhan untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki melalui FirmanNya. Kita sering taat kepada Tuhan karena cinta pada berkat-berkatNya, kasih kita bukan pada sumber berkat yaitu Tuhan sendiri. Ketika kita mengalami musibah, sering kita bertanya :"mengapa hal ini terjadi atas hidup saya, Tuhan ?" suatu pertanyaan kemarahan terhadap kelalaian Tuhan.

Kalau orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, menghadapi segala musibah sebagai bagian dari rancangan kebaikan Tuhan untuk membentuk karakter kita, masalah kehidupan membuat relasi kita semakin intim dengan mencintai teguranNya untuk rancangan kebaikanNya sesuai dengan kehendakNya. Itulah kebahagiaan sejati yang dicari semua orang yang hidup di dunia seperti yang di saksikan pemazmur, Mazmur 119:1-8 "Bahagianya orang yang menurut firman Tuhan" Apakah karya keselamatan Allah dalam Kristus sungguh berharga bagi hidup kita ? Jika kita yakin bahwa Anugerah Kasihnya merupakan hal paling berharga bagi kehidupan kita, hidup menaati FirmanNya bukanlah hal yang luar biasa. Seorang wanita yang waras pasti lari keluar dari rumahnya yang sedang terbakar, tetapi dia tidak akan takut api ketika dia tahu bahwa ada anak-bayinya yang sedang tidur di dalam rumah yang terbakar itu. Karena anaknya merupakan hal yang sangat berharga bagi hidupnya. Hidup menurut ketetapan Tuhan atau menurut ketetapan diri kita sendiri adalah sebuah pilihan, dan kita harus menentukan pilihan sebagai suatu keputusan. Apa keputusan Anda atas kehidupan anda ? Apa buktinya ?
tonny iskandar

     

9 Februari 2014
"Menjadi Agen Perubahan "
Yesaya 58: 1-9a; Mazmur 112; I Korintus 2: 1-12; Matius 5: 13-20

Ketika bangsa Israel sedang salah arah, Firman Tuhan datang ... “Serukanlah kuat-kuat dan jangan tahan-tahan! Nyaringkan suaramu...” (Yes 58:1). Pesan : bila di depan kita ada kehidupan yang salah, itu urgen, mendesak. Orang-orang Kristen wajib hadir di tengah konteks kehidupan masing-masing. Bukan sembarang hadir, melainkan hadir dengan nilai-nilai iman Kristen. Tidak menunda untuk menyerukan kebenaran, agar terjadi perubahan ke yang benar.

Yesus menyebut murid-muridNya sebagai “garam dan terang dunia” (Matius 5:13-14). Keutamaan kedua benda tersebut terletak pada aspek urgensi dan fungsi yang istimewa. Bukan sekedar bicara tentang garam melainkan garam yang tidak kehilangan rasa asinnya. Yesus tidak berbicara tentang pelita yang tersembunyi di bawah gantang, melainkan pelita yang memancarkan cahaya di atas kaki dian. Masyarakat yang sehat membutuhkan tata nilai yang luhur. Dan iman Kristen memiliki kekayaan nilai-nilai luhur itu. Yesus berbicara tentang spiritualitas penghadiran nilai-nilai Kerajaan Allah seperti yang diberitakanNya di atas bukit. Apakah kita hadir ataukah sekedar ada? Apa bedanya? Untuk sekadar ADA tidak dibutuhkan cinta keterlibatan, dan pemberian diri. Sedangkan untuk HADIR, mutlak dibutuhkan cinta, keterlibatan, pemberian diri. ‘Spiritualitas kehadiran’ ini mesti kita kembangkan bersama, agar dapat membawa perubahan di tengah masyarakat.

Apa yang terpenting dalam diri umat yang mengubahkan ? Rasul Paulus mengajak kita meyakini bahwa “...Semua disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1 Korintus 2:9). R.Paulus menyadari untuk turut berkarya setiap orang membutuhkan “pikiran Allah”. Paulus pun merasa, ia lemah, dan hanya bisa tampil apa adanya (1 Kor 2:3).

Yang dibutuhkan bukan kecerdasan intelektual semata, melainkan sikap hati yang terbuka dan mengasihi Kristus. Bukankah kita sering takut dan gentar ketika mesti ikut terlibat mengubahkan. Kita sering takut mengenai : “Apa yang akan kita perbuat / katakan di tengah situasi sulit itu ?” Namun R.Paulus yakin Allah akan menyediakannya. Pikiran Kristus tersedia bagi yang “mengasihi Kristus”.

Di jaman yang oleh Ronggowarsito disebut sebagai “jaman edan”, umat Tuhan dipanggil untuk tidak ikut ngedan. Melainkan menjalankan fungsi dan sifat garam / terang yang tak tergantikan. Di era kehidupan yang dilanda degradasi : moral, nilai kebenaran, dan laku keadilan yang lumpuh, kita dipanggil untuk hadir, memberi daya sentuh dan daya sembuh. Tidak mudah ! R. Paulus : “Setia mengasihi Kristus” (krn Kristus telah mengasihi Kita). Maka di saat kita membutuhkannya yakni “... apa yang tak pernah kita lihat, kita dengar dan yang tak pernah timbul di hati kita .... disediakan-Nya.” (1 Kor 2:9). Dunia ini membutuhkan agen perubahan, siapa yang belum tahu bahwa kitalah yang di utus ke sana untuk mengubahnya ? Amin.
PKM

 

2 Februari 2014
"MEMBERLAKUKAN SABDA ALLAH DENGAN KEADILAN "
Mikha 6:1-8, Mzm 15, I Korintus 1:18-31 dan Mat 5:1-12

Fokus perenungan kita pada hari minggu ini adalah Matius 5:1-12, yang dikenal sebagai Ucapan Bahagia/ Sabda Bahagia, bagian awal dari pengajaran Yesus Kristus di bukit. Seluruh pengajaran kitab Perjanjian Baru bersumber dari Khotbah Yesus di Bukit yang tertulis dalam Matius 5-7. Ucapan Bahagia/ Sabda Bahagia diajarkan oleh Yesus Kristus kepada kita supaya kita melakukannya. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, kita sulit dan enggan melakukannya. Di bawah ini adalah seorang anak Tuhan yang memiliki latarbelakang yang berbeda-beda.

Pada suatu hari di sebuah kapal pesiar, seseorang jatuh ke dalam laut dan hampir tenggelam. Ia tidak bisa berenang dan akhirnya berteriak minta tolong. Ada 6 orang yang di dekatnya siap untuk menolong. Celakanya 6 orang itu ternyata mempunyai latar belakang yang berbeda.

Orang Pertama adalah orang MORALIS. Segera ia mengambil buku dari dalam tasnya. Rupanya buku pelajaran berenang. Ia melemparkan buku pelajaran berenang itu ke dekat orang yang akan tenggelam, sambil berteriak. Hai teman, baca buku itu dan ikuti petunjuknya. Kamu pasti selamat.

Orang kedua adalah seorang IDEALIS, anggota LSM. Ia tahu bahwa menolong orang miskin tidak boleh memberi ikan, tapi kail dan cara mengail. Tugas LSM menurutnya adalah menjadi fasilitator dan memberi contoh. Teori ini dipraktekkan. Ia terjun ke dalam laut di dekat orang itu sambil berkata: “Lihat caraku berenang. Lakukan seperti yang kulakukan dan kamu pasti selamat.”

Orang ketiga adalah Majelis Jemaat Gereja INSTITUSIONAL Ia melihat orang itu nyaris tenggelam dengan penuh iba dan berteriak: “Pertolongan akan segera datang, kami akan membentuk tim penyelamat dan akan membicarakan cara penyelamatan terbaik. Kamu pasti selamat.

Orang keempat adalah seorang beraliran POSITIVE THINGKING. Ia berteriak, “ Sahabatku yang positif aja, keadaanmu sebenarnya tidak separah yang kamu bayangkan. Pikirkan saja daratan yang kering. Dan yang kamu pikirkan itu akan kamu peroleh.

Orang kelima adalah dari kelompok rohaniawan/soleh. Begitu melihat orang itu akan tenggelam, dia tahu bahwa keselamatan jiwa lebih penting, maka ia berteriak cepat, “Saudaraku, yakinkah anda bahwa setelah mati anda akan masuk ke sorga jika anda percaya kepada Yesus?” Orang itu sudah mulai tenggelam dan semakin meronta dan mengangkat tangannya. Melihat tangan yang terangkat, si rohaniawan itu berteriak, Terima kasih Tuhan!” Dia selamat.

Orang terakhir adalah seorang REALIS, ia segera terjun ke dalam air, mengambil resiko membahayakan nyawanya sendiri, sekuat tenaga ia berusaha menyelamatkan orang yang nyaris tenggelam itu. Jika kita membandingkan ceritera di atas, kita dapat bercermin dan menilai diri kita sendiri, siapakah kita di antara ke enam orang itu? Bisa jadi kita memahami Sabda Bahagia dalam Matius 5:1-12, tetapi kita enggan melakukannya karena kita berhitung-hitung untung-rugi jika memberlakukannya dalam hidup sehari-hari. Firman Tuhan sangat jelas dan tegas mengatakan bahwa orang yang memberlakukan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari (pekerjaan, bisnis, relasi dengan orang lain, relasi dengan Tuhan dll) akan berbahagia dan mendapatkan syalom/beruntung/ berhasil Mazmur 1:1-3. Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk memberlakukan firman Tuhan dalam hidup kita. Amin.
RDS

 

26 Januari 2014
"Kerajaan Allah Hadir di Tengah Kekelaman Hidup "
Yes. 9:1-4; Maz. 27:1, 4-9; 1 Kor. 1:10-18; Mat. 4:12-23

Negara atau kerajaan agama tertentu, bukanlah kerajaan Allah karena Kerajaan Allah mengedepankan nilai-nilai damai sejahtera, keadilan, kebenaran, perdamaian, kesejahteraan dan keutuhan ciptaan-Nya. Dalam kekelaman dan kesukaran hidup kita masih diharapkan dapat menerapkan nilai-nilai Kerajaan Allah tersebut.

Hal itu dapat disaksikan melalui kehidupan bangsa Israel yang berjalan didalam kegelapan akan melihat terang yang besar. Karya keselamatan Allah yang membebaskan itu akan memberi sukacita besar. (Yesaya 9;1-4). Hal yang serupa dialami oleh Daud yang diungkapkan dalam Mazmur 27, bahwasannya Daud dalam keadaan dan situasi diserang oleh para lawannya yang hendak menghabisinya. Ternyata pertolongan Tuhan datang tepat pada waktunya, artinya dengan penuh kepercayaan dan pengharapan yang kuat, tenang, dan optimis, Daud tetap setia mencari Tuhan, mengikuti jalan-Nya, tetap tenang dan tidak panik atau ketakutan.

Pertanyaanya, apakah kitapun mampu bersikap seperti Daud? Yakinlah dan percayalah maka semua indah pada waktunya. Bagaimana Rasul Paulus menasehati dalam percakapan yang terjadi di antara anggota jemaat di Korintus, yang satu mengaku golongan Apolos, yang lain mengaku golongan Paulus atau yang lainnya lagi mengaku golongan Kefas atau golongan Kristus. Rasul Paulus menasehati supaya golongan-golongan tersebut seia, erat bersatu, dan sehati sepikir (1 Korintus 1:10-18).

Dalam situasi yang mencekam karena ditangkapnya Yohanes Pembaptis maka Yesus menyingkir ke Galilea. Ditempat tersebut Yesus tetap memberitakan Injil Kerajaan Allah dan mengajar sebagai pengkhotbah keliling. Yesus juga melenyapkan segala penyakit dan kelemahan diantara bangsa itu sehingga tersiar kuasa.

Hal ini menggambarkan dalam keadaan kekelaman, terjajah dan tertindas Yesus tetap memberikan nilai-nilai Kerajaan Allah, seperti damai sejahtera, keadilan, kebenaran, perdamaian, kesejahteraan, kesembuhan dan keutuhan ciptaan Allah (Matius 4:12-23).

Kesaksian-kesaksian tersebut diatas kiranya menyadarkan setiap kita kembali, makna kita bergereja khususnya. Kerajaan Allah yang hadir ditengah kekelaman hidup kita masing-masing, supaya kita tetap menjadi terang dan tetap percaya dan bersandar dan berpengharapan pada Yesus Kristus, Amin.
BHS

 

19 Januari 2014
"TUJUAN HIDUP ORANG PERCAYA "
Yesaya 49:1-7, Mazmur 40:1-11, 1 Korintus 1:1-9, Yohanes 1:29-42

Raja Louis XVI telah digulingkan dari tahtanya dan dipenjarakan. Puteranya yang masih muda dibawa oleh para pemberontak yang telah menggulingkannya. Para pemberontak itu mengira bahwa bila mereka dapat menghancurkan moralitas sang pangeran yang juga adalah putera mahkota kerajaan Perancis, tentu ia tak akan pernah menduduki tahta agung yang sebenarnya telah dianugerahkan kepadanya. Karena itu, mereka membawa sang pangeran ke suatu komunitas yang jauh. Di sana mereka memperlihatkan segala hal yang kotor dan memalukan kepadanya. Mereka menghadapkan segala jenis makanan yang dapat membuatnya diperbudak oleh selera makan. Mereka selalu menggunakan kata-kata memalukan setiap kali berada di dekatnya. Mereka menghadapkannya pada hawa nafsu, sikap tidak hormat dan tidak percaya. Dua puluh empat jam setiap harinya ia dikelilingi oleh segala hal yang dapat menyeret jiwa seorang pria serendah-rendahnya.

Selama lebih dari enam bulan pangeran itu diperlakukan demikian, tetapi tidak sekalipun ia takluk kepada tekanan. Akhirnya, setelah pencobaan yang intensif, para pemberontak itu menanyainya: “Mengapa engkau tidak takluk pada semuanya itu? Mengapa engkau tidak ikut berbuat demikian? Bukankah semuanya itu dapat memberimu kesenangan dan memuaskan hawa nafsumu?” Jawab sang pangeran: “Saya tidak dapat melakukan apa yang kamu minta, karena saya dilahirkan untuk menjadi seorang raja.”

Pangeran Louis tahu identitas dan tujuan hidupnya yang sebenarnya secara pasti. Dia tahu siapa dirinya dan untuk apa dia ada, yaitu bahwa dia adalah putera mahkota raja yang harus menggantikan ayahnya memerintah kerajaan Perancis.

Karena itu, dia menolak segala sesuatu yang tidak sesuai dengan identitasnya dan dapat menghalangi tujuan hidupnya. Pengetahuan akan identitas dan tujuan hidupnya telah memampukannya bertahan dalam segala cobaan dan tekanan yang menimpanya.

Banyak orang Kristen gagal menjalani hidup kekristenannya dan gagal menggenapi rencana Allah atasnya karena mereka tidak mengetahui identitas dan tujuan hidupnya sebagai orang percaya. Mereka tidak tahu siapa dirinya dan untuk apa Allah memanggilnya. Mereka seringkali lupa akan karya dan kasih karunia Allah di dalam hidupnya. Akibatnya, mereka mudah sekali diombang-ambingkan oleh arus dunia yang jahat dan terus-menerus berkubang dalam dosa. Tokoh Logoterapi, Victor Franki menegaskan bahwa seseorang dapat menemukan atau memiliki tujuan hidup bila ia mampu memaknai hidupnya.

Makna hidup merupakan proses penemuan suatu hakikat yg sangat berarti bagi dan dlm hidup seseorang. Berdasarkan pemikiran dan ilustrasi diatas, seharusnya kita sbg orang percaya memiliki tujuan hidup yg tidak dapat dilepaskan dari pemaknaan kita tentang Allah, yaitu memuliakan Allah dengan segenap hidup kita, memberitakan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di dalam setiap kehidupan kita.
Why

     

12 Januari 2014
"BAPTISAN- PERUBAHAN HIDUP "
Yesaya 42:1-9; Mazmur 29; Kis. 10:34-43; Matius 3:13-17

Kita patut bersyukur pada Tuhan Yesus yang memimpin, mengantar dan memberkati kita sampai hari ini di tahun 2014 di minggu ke dua bulan Januari. Tahun yang baru mendorong kita untuk berkomitmen dan bersemangat untuk terus menyatakan kehidupan yang baru sebagai pengikut Kristus dengan perubahan hidup menurut iman Kristen. Perubahan hidup yang terus menerus diperbaharui oleh Roh Kudus, sehingga kehidupan kita semakin bersinar, menyinari kehidupan yang gelap.

Pada minggu kedua di bulan Januari gereja merayakan peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis. Melalui baptisan Yesus di sungai Yordan Mat. 3:13-17 meneguhkan iman kita bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang dikasihi dan diperkenan oleh Allah. Dia adalah Allah sendiri yang datang ke dalam dunia untuk menyapa kita, mengampuni dosa kita dan menyelamatkan kita dari hukuman dosa. Sesuai dengan nubuatan nabi Yesaya dalam Yes. 42:1-9 bahwa hamba Tuhan yang dimaksudkan oleh Yesaya adalah Yesus Kristus. Hamba yang diperkenan oleh Allah, hamba yang mengerjakan karya keselamatan Tuhan bagi bangsa-bangsa, bukan hanya bagi bangsa Israel saja. Tanda-tanda karya keselamatan Allah yang dikerjakan oleh Yesus adalah:
Pertama, Melingkupi keselamatan tubuh jasmani, Yesus memelekkan mata orang buta sejak lahirnya (Yoh. 9), Yesus menyembuhkan 10 orang sakit kusta (Luk. 17:11-19), menyembuhkan orang lumpuh, memberi makan 5000 orang, menyelamatkan para murid dari badai, dan masih banyak mujizat lainnya.
Kedua, Melingkupi keselamatan jiwa/ batin yang tertekan (hukuman Sosial) Yesus menyelamatkan seorang wanita yang mau dihukum rajam oleh masyarakat karena berbuat dosa (Yoh. 8:1-11), Yesus memulihkan dan mengampuni seorang wanita yang gagal dalam membina rumah tangga (Yoh. 4), Yesus memulihkan kehidupan Sakheus pemungut cukai, dan lain sebagainya.
Ketiga, Yesus menyelamatkan kita dari hukuman kekal. Kematian Yesus Kristus di kayu salib adalah karya penebusan yang sangat sempurna, dimana melalui karya itu dosa dan kesalahan kita telah ditanggungNya, sehingga kita selamat dari hukuman kekal.

Karya keselamatan agung ini harus diwartakan ke seluruh dunia, seperti apa yang dilakukan oleh Petrus kepada Kornelius. Meskipun budaya dan agama Yahudi melarang Petrus untuk bergaul dan memasuki rumah orang non Yahudi, Petrus oleh pimpin Roh Kudus datang ke rumah Kornelius dan memberitakan Kristus yang yang telah mati, bangkit dan naik ke sorga untuk keselamatan semua umat manusia.

Karya keselamatan ini harus diwartakan kepada semua suku bangsa, golongan, apapun latarbelakangnya, tanpa diskriminasi. Karya keselamatan ini tidak bisa dihambat oleh sekat-sekat, perbedaan-perbedaan apapun bentuknya, keselamatan ini harus menjadi milik semua orang. Inilah isi hati Allah.
Perubahan hidup yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam hidup kita adalah salah satu bentuk/wujud bahwa kita sedang mewartakan karya keselamatan Kristus bagi dunia. Gaya hidup yang mencerminkan sifat-sifat Kristus yang penuh kasih, belas kasihan, menyatakan kebenaran, keadilan, membela yang lemah, tidak diskriminasi adalah khotbah/pengajaran yang hidup dan terang yang efektif. Iman tanpa perbuatan adalah mati, kosong, tanpa makna apapun, dan tidak bisa mengubahkan/memulihkan orang lain.
Khotbah, pengajaran, pewartaan atau pemberitahuan tentang karya keselamatan dalam Yesus Kristus harus disampaikan kepada semua orang sesuai dengan konteks, keadaan, waktu yang tepat, media yang tepat, sehingga berita yang kita sampaikan benar-benar dimengerti dan diterimanya. Kiranya Roh Kudus memperbaharui kita dan memberikan semangat dan keberanian untuk menjadi saksi-saksiNya yang efektif. Tuhan memberkati kita. Amin.
RDS

 

5 Januari 2014
"Campur Tangan Allah dalam Kehidupan "
Yer. 31:7-14; Maz. 147:12-20; Ef. 1:3-14; Yoh. 1:10-18

Ada berbagai ketakutan dan ketidakberdayaan yang mungkin sedang dialami manusia pada masa kini. Penyebabnya adalah : ketidakpastian akan masa depan, pengalaman kesepian atau menjadi orang yang tak dimengerti, pengalaman kegagalan dan kejatuhan dalam dosa serta berbagai sebab lain. Pada saat seperti itu biasanya orang sulit mempercayai orang lain. Tidak percaya apakah orang akan memahami pergumulannya. Meski demikian, ia sebenarnya tetap membutuhkan pegangan atau tempat bersandar yang kokoh. Nah apa pegangan bagi orang-2 yang mengalaminya ?

Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita ...” (Yoh 1:14), adalah bentuk nyata kehadiran dan kepedulian Allah pada manusia yang terbatas dan berdosa. Allah mau turut campur tangan dalam pergumulan manusia. Ia mengasihi manusia dan sedia untuk dimintai pertolongan. Firman ini penting bagi kita, karena banyak orang yang hidupnya dipengaruhi pandangan deisme yang menyatakan bahwa manusia harus berjuang sendiri; Allah tugasnya sudah selesai dengan menciptakan dan mengatur semua isi alam ini; Allah tidak lagi campur tangan dalam setiap pergumulan manusia. Hati-hati juga dengan fatalisme, atau percaya pada takdir; Bahwa segala sesuatu sudah diatur dan ditetapkan, sehingga tidak ada ruang bagi perjuangan. Deisme dan fatalis sama-sama membawa manusia untuk tak perlu semangat dan berharap. Berbeda dengan Firman Tuhan yang mengajarkan bahwa di dalam Kristus, sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin oleh Allah, hanya karena kasih karunia.

Hari ini Firman Tuhan, membekali kita untuk memasuki tahun baru 2014, bahwa kita semua “... diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah” (Yoh 1:12). R.Paulus dalam Efesus 1 : 5-6 ...” Allah mengangkat (“huiothesia” = adopsi) umat yang percaya menjadi anak-anak Allah; Dahulu ada dibawah kuasa dosa, namun sekarang telah diangkat, dikeluarkan dan ditempatkan di bawah kuasaNya. Allah telah menghapus masa lalu dan menjadikan kita baru. Ketika Allah menjadi Bapa bagi umat (Yer 31:9) maka : “Umat yang yang menangis akan terhibur (9a), dan perkabungan menjadi kegirangan (13b).

Hari ini melalui Perjamuan Kudus kita diundang untuk merayakan keberdiaman Allah di tengah kita. Perjamuan Kudus merupakan tanda yang kelihatan mengenai campur tangan Allah yang tak berkesudahan melalui Yesus dalam kehidupan kita. Undangan ke Perjamuan Kudus ini kiranya disambut dengan penuh sukacita dan dengan mempercayakan hidup kita ke tanganNya. Kita yakin, Allah akan menyirnakan ketakutan, dan memampukan kita melewati segala tantangan. Bahkan kita dapat menyaksikan dan menyimpulkan seperti R. Paulus : “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihiNya...” (Roma 8:28).
PKM

 

29 Desember 2013
"DARI BETLEHEM KE MESIR MENUJU NAZARETH : KALA KEKUASAAN TAK MEMBERI RUANG BAGI KEHADIRAN YANG LAIN"
Yesaya 63 : 7 – 9; Mazmur 148; Ibrani 2 : 10 – 18; Matius 2 : 13 – 23

Tanpa terasa hari ini kita sampai kepada minggu terakhir di tahun 2013, beberapa hari lagi kita akan tinggalkan tahun ini dan memasuki tahun baru 2014. Kalau kita menengok perjalanan hidup yang sudah kita lalui, peristiwa-peristiwa apa yang sudah terjadi di dalam kehidupan kita bergereja maupun dalam masyarakat?

Yesaya 63, menghadirkan ratapan dan sekaligus harapan. Ratapan karena umat sedang dalam penderitaan. Tetapi di tengah ratapan, umat diajak untuk mengakui kasih setia Allah yang begitu besar kepada bangsa Israel. Ini menjadi berita harapan dan iman dari umat yang menderita, bahwa Allah tidak meninggalkan mereka.

Keyakinan iman umat dalam Yesaya 63 terjawab dalam penggenapan janji melalui inkarnasi Allah (Ibrani 2 : 10-18). Allah di dalam Kristus hadir dalam penderitaan, dan bahkan rela menderita untuk menyelamatkan manusia. Penderitaan Kristus menjadikan diri-Nya saudara bagi manusia yang takut terhadap maut. Sebagai manusia, Yesus sudah mengalami penderitaan karena pencobaan; maka sebagai Allah, Yesus dapat menolong mereka yang dicobai, sebab Allah sendiri telah dicobai (ayat 18). Allah yang merasakan penderitaan dan ketakutan manusia, mampu membebaskan manusia dari ketakutannya terhadap maut. Di sinilah sesungguhnya Allah sedang berbagi ruang dengan manusia. Kehadiran Kristus dalam penderitaan manusia merupakan cara Allah berbagi ruang kepada manusia. Dia datang menjumpai manusia, agar Dia dapat merasakan penderitaan manusia, dan manusia menikmati penghiburan dan kekuatan dari Allah.

Mazmur 148 adalah mazmur puji-pujian. Pemazmur mengajak umat untuk memuji Tuhan karena perbuatan dan kasih setia Allah. Natal menjadi peringatan akan kasih setia Allah kepada manusia, juga kepada seluruh ciptaan Allah. Oleh karena itu tepatlah ketika pemazmur mengajak seluruh ciptaan untuk memuliakan Tuhan. Kerusakan lingkungan, pemanasan global, dll merupakan tanda bahwa manusia tidak mau berbagi ruang dengan ciptaan Allah yg lain.

Manusia memakai kuasanya untuk menindas alam dan ciptaan lain. Banyak orang Kristen yang begitu ‘saleh’ dalam pelayanan, tetapi tanpa disadari hidupnya menindas ciptaan lain, misal : pengusaha Kristen yang tidak peduli dengan pencemaran lingkungan, hanya memikirkan kepentingan diri sendiri.

Matius 2 :13-23 menunjukkan Herodes yang berkuasa saat itu tidak memberi ruang akan adanya kuasa lain, yaitu lahirnya Yesus sebagai Juruselamat dunia. Perikop ini merupakan kisah pelarian keluarga Yusuf dan Maria, yang merupakan simbol bagaimana keterbukaan Allah hadir di setiap tempat yang tertutup bagi semangat berbagi ruang (Mesir) sehingga kasih Allah yang baik dapat muncul di tempat yang tidak baik (Nazareth).

Berita Natal menghadirkan pula kisah Allah yang mau berbagi ruang dengan yang lain. Allah di dalam Yesus Kristus menyatakan keterbukaan bagi seluruh ciptaan untuk menerima persahabatan dan kasih yang tanpa syarat, kesediaan Allah menerima yang lain apa adanya.

Bagaimana dengan perjalanan hidup kita selama ini, sudahkah kita berbagi ruang terhadap orang lain di sekitar kita, juga terhadap ciptaan yang lain, bahkan terhadap penderitaan yang mungkin kita alami dan membiarkan Allah terlibat dalam hidup kita, karena Dia sendiri sudah mengalami penderitaan ketika sebagai manusia. Keterbukaan kita akan menghadirkan semangat berbagi ruang bagi kehadiran yang lain, sebaliknya kekuasaan tidak akan memberi ruang bagi kehadiran yang lain.

Selamat memasuki tahun baru 2014 dengan semangat berbagi ruang bagi kehadiran yang lain, Tuhan Yesus memberkati kita.

ESS

 

22 Desember 2013
"KETIKA JANJI IMANUEL DIGENAPI"
Yes 7:10-16, Maz 80:17-19, Roma 1:1-7, Mat 1:18-25

Nabi Yesaya telah menubuatkan kelahiran Sang Imanuel 700 tahun sebelum Dia lahir dan datang di dalam dunia ini. Yesus Kristus itulah Sang imanuel itu. Perenungan natal kali ini adalah menghayati pentingnya Imanuel dalam kehidupan kita saat ini. Paling tidak ada tiga alasan mengapa Imanuel sangat penting dalam hidup kita.

Pertama, Hidup manusia atau kita adalah sebuah perjalanan dan pengembaraan. Perjalanan bukanlah waktu yang pendek atau singkat tetapi waktu yang cukup lama, bisa 50 tahun, 60 tahun, 70 tahun dan seterusnya. Dunia ini yang penuh dengan dosa dan kegelapan adalah tempat pengembaraan kita. Dunia ini seperti padang gurun yang dilalui oleh umat Israel selama 40 tahun. Sebuah perjalanan dan pengembaraan yang tidak mudah, sangat sulit dan penuh tantangan. Kita benar-benar membutuhkan pertolongan, bimbingan dan pennyertaan dari Sang Imanuel sehingga kita sampai pada tujuan hidup yang sebenarnya yaitu hidup bersama dengan Allah di sorga. Ingat tujuan hidup kita bukan di dunia ini, dunia adalah tempat pengembaraan kita.

Kedua, Manusia atau kita sangat lemah, rapuh dan tak berdaya (debu dan tanah). Kita mudah putus asa, kita mudah terserang penyakit, kita mudah menangis, kita mudah kuatir/ takut dll. Itulah sebabnya penyertaan Tuhan memberikan kekuatan, harapan dan semangat yang baru untuk melanjutkan perjalanan hidup kita. KehadiranNya memberikan semangat, harapan dan dorongan untuk kita tetap setia dan taat pada Tuhan.

Ketiga, Selama perjalanan dan pengembaraan kita akan menghadapi yang namanya “Perubahan-perubahan” yang dapat membuat kita jatuh dalam dosa, jauh dari Tuhan, bahkan meninggalkan Tuhan.

A. Kita akan menghadapi perubahan cuaca/ iklim kadang panas sekali, tetapi juga kadang dingin sekali. Bahkan sekali-kali kita diperhadapkan pada cuaca hujan dan badai. Perubahan cuaca ini dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. Kita seringkali tidak siap menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi disekeliling kita maupun dalam diri kita sendiri. Kita terkejut, panik, takut, kuatir bahkan tidak jarang kita menyalahkan Tuhan atas perubahan-perubahan itu. Contoh: Mengapa Tuhan mengambil orang yang saya cintai dalam kondisi saya sangat membutuhkannya? Mengapa Tuhan mengambil pekerjaan atau usaha saya, padahal saya dan keluarga sangat membutuhkannya?

B. Kita akan menghadapi berbagai macam penyakit; seringkali dunia kedokteran dipusingkan dengan datangnya banyak penyakit yang baru dan belum ditemukannya obat untuk menyembuhkannya. Jutaan orang meninggal digerogooti oleh berbagai macam penyakit. Penyakit mengancam kehidupan kita, suka atau tidak kita akan diperhadapkan pada sakit penyakit. KehadiranNya memberikan pengharapan di tengah-tengah ketidak ada harapan. Memberikan kekuatan di saat tidak ada kekuatan menghadapi ganasnya penyakit yang menggerogoti tubuh kita.

C. Kita akan menghadapi gejolak ekonomi yang seringkali resesi ekomomi datang diluar prediksi para ahli ekonomi. Kemakmuran ekonomi bisa membuat kita sadar bahwa semua adalah kasih karunia Tuhan. Tetapi kemakmuran ekonomi juga dapat membuat kita lupa diri dan tidak membutuhkan Tuhan. Resesi ekonomi dapat membuat kita putus asa, depresi, bahkan bisa meninggalkan Tuhan. Tetapi sebaliknya, resesi ekonomi dapat membuat kita semakin bergantung dan berharap pada kuasa Tuhan. Penyertaan Tuhan membuat kita tidak lupa diri, membuat kita tetap kuat dan tekun beriman kepada Tuhan. Musa seorang nabi besar pernah meminta kepada Tuhan, “Jika Engkau tidak membimbing dan bersama kami, maka kami tidak akan berangkat meneruskan perjalanan ke tanah perjanjian. Musa tahu persis pentingnya penyertaan Tuhan dalam kehidupannya dan dalam kehidupan umat Israel. Tanpa penyertaan dan bimbingan Sang Imanuel, kita tidak akan sanggup menjalani kehidupan ini yang penuh dengan dosa dan tantangan. Mari kita jalani perjalanan hidup dan pengembaraan kita bersama dengan IManuel. Tuhan memberkati kita.

D. Kita menghadapi kuasa dosa. Secara teologis kuasa dosa sudah dikalahkan oleh pengorbanan Kristus di kayu salib. Namun demikian tidak dipungkiri bahwa kita masih hidup dalam tubuh yang berdosa, kita juga masih menghadapi kuasa iblis yang terus menerus menggoda kita untuk berbuat dosa. Dosa akan terus berjuang dan bekerja keras untuk menghacurkan anak-anak Tuhan, menghancurkan keluarga-keluarga Tuhan. PenyertaanNya membuat kita aman, kuat, dan diberikan kuasa untuk melawan kuasa dosa. Mari kita jalani perjalanan hidup dan pengembaraan kita bersama dengan IManuel. Tuhan memberkati kita. Amin

RDS

 

15 Desember 2013
"SIAP DAN SIGAP MENYAMBUT KRISTUS"
Yesaya 35:1-10; Mazmur 146:5-10; Yakobus 5:7-10; Matius 11:2-11

Kesiapan dan kesigapan dalam menyambut sesuatu tergantung seberapa berharganya sesuatu yang kita sambut bagi diri kita. Tentu berbeda menyambut kekasih dengan tukang tagih hutang. Ketika kita menerima panggilan di hp kita, tertera nama orang yang kita kasihi langsung diangkat dengan penuh kerinduan, berbeda kalau panggilan yang masuk nomor penagih hutang, hampir pasti langsung diputus.

Sikap menyambut seseorang akan ditentukan oleh kwalitas hubungan kita. Semakin erat hubungan kita, dan mengasihi, semakin rindu dalam menyambut kedatangannya. Apa arti Kristus bagi kehidupan kita ? Seberapa berharganya bagi hidup kita ? Kita dengan mudah mengatakan Kristus segala-galanya sepanjang memenuhi kebutuhan dan keinginan kita ? Pada saat kita berada dalam keadaan yang tidak kita inginkan kita mulai meragukan Kristus dan mulai mencari alternatif lain.

Yohanes Pembaptis yang mengakui Yesus, sebagai Mesias yang datang dengan mengakui bahwa untuk membuka tali kasutNya saja, ia tidak layak, sempat mengalami keraguan ketika Yohanes dipenjarakan. Sehingga dia menyuruh 2 orang muridnya untuk menanyakan apakah benar Yesus adalah Kristus yang datang. Kita sering meragukan Tuhan ketika kita menghadapi keadaan yang terpuruk, di mana sepertinya pertolongan Tuhan tak kunjung datang, doa-doa yang tak terjawab sesuai dengan keinginan kita. Padahal setiap doa kita selalu dijawab sesuai dengan kehendakNya.

Yesus mengatakan kepada murid2 Yohanes Pembaptis yang diutus, tentang apa yang telah diperbuatNya, menyembuhkan orang sakit, mencelikkan orang buta, telinga orang tuli dibukakan, orang lumpuh berjalan, membangkitkan orang mati merupakan bukti kedatanganNya yang telah dijanjikan Allah. Janji Allah pada bacaan Yesaya ketika bangsa Israel pada masa pembuangan yaitu akan datang keselamatan bagi umat Allah, yang digenapi dalam diri Yesus.

Yesus tidak mecitrakan diri dengan janji-janji seperti seorang politisi dunia, melainkan dengan perbuatan-perbuatan yang besar dan ajaib. Yohanes Pembaptis merasa lega ketika dia tahu bahwa tugas yang diembannya adalah benar, sehingga hilang rasa takut atas penderitaan sampai dia dihukum mati oleh Herodes.

Yesus menyatakan Yohanes adalah orang paling besar diantara setiap orang yang pernah dilahirkan dari rahim ibu (dilahirkan secara daging), karena waktu itu Roh Kudus belum datang menyertai manusia. Iman Yohanes Pembaptis secara manusiawi adalah terbesar diantara seluruh manusia yang pernah dilahirkan di bumi. Sedangkan setiap orang yang sudah menerima Roh Kudus oleh karena menyambut Kristus sebagai juruselamat masuk ke dalam kerajaan Sorga.

Seharusnya krisis kehidupan manusia, membawa kita kepada Kristus. Bersabarlah menanggung penderitaan (Yak. 5:7-10), karena krisis kehidupan, penderitaan, kemiskinan, sakit penyakit, keterpurukan, penjara, semua bersifat sementara tidak ada yang permanen. Tetapi keselamatan dari Tuhan bersifat kekal. Pengharapan kepada dunia, kekayaan, kedudukan, kekuasaan, kesehatan semua bersifat sementara. Hanya harta di dalam Tuhan yang bersifat kekal, keselamatan dan Damai Sejahtera.

Definisi kebodohan manusia adalah mengetahui yang benar, melihat yang benar dari Allah, tetapi percaya pada kebohongan si Iblis yang tampak indah namun bersifat sementara yaitu menganggap materi, kedudukan, kepandaian, kekuasaan yang akan memberikan kebahagiaan.

Kesiapan kita menyambut Kristus hanya dengan kerendahan hati, betapa tidak layaknya kita untuk menerima Anugerah Kasih karuniaNYA, keselamatan kekal bagi kita sudah dibayar lunas melalui Salib dan DarahNya. Apakah anda merasa berharga di mata Tuhan ? Apakah anda siap menyambut Kristus dengan membayar harga ? Trust in Jesus is nothing, follow Jesus is something, Loving Jesus is everything

Tonny Iskandar

 

8 Desember 2013
"Berbuat Adil dan Benar sebagai Buah Pertobatan"
Yes. 11:1-10; Mzm. 72:1-7, 18-19; Rom. 15:4-13; Mat. 3:1-12

Seorang Tuan sedang mencari sebuah bejana. Sambil berjalan sang Tuan melihat dan menilai bejana-bejana tersebut. Bejana Emas berkata: "Pilihlah aku," teriak bejana emas, "Aku mengkilap dan bercahaya. Aku sangat berharga dan aku melakukan segala sesuatu dengan benar. Keindahanku akan mengalahkan yang lain. Dan untuk orang seperti Tuanku, emas adalah yang terbaik!" Tuan itu hanya lewat saja tanpa mengeluarkan sepatah kata.Kemudian ia melihat suatu bejana perak, ramping dan tinggi. Bejana Perak, Ramping dan Tinggi berkata: "Aku akan melayani engkau Tuanku, aku akan menuangkan anggurmu dan aku akan berada di mejamu di setiap acara jamuan makan. Garisku sangat indah, ukiranku sangat nyata. Dan perakku akan selalu memujimu."

Tuan itu hanya lewat saja dan menemukan sebuah bejana kaca. Bejana ini lebar mulutnya dan dipoles seperti kaca. "Bejana Kaca berkata; "Sini! Sini!" teriak bejana itu, "aku tahu aku akan terpilih. Taruhlah aku dimejamu, maka semua orang akan memandangku." Namun tuan itu hanya melewatinya dan melihat bejana kristal. Bejana Kristal berkata: "Lihatlah aku!", panggil bejana kristal yang sangat jernih. Aku sangat transparan, menunjukkan betapa baiknya aku. Meskipun aku mudah pecah, aku akan melayani engkau dengan kebanggaanku. Dan aku yakin, aku akan bahagia dan senang tinggal dalam rumahmu."

Tuan itu kemudian menemukan bejana kayu. Dipoles dan terukir indah, berdiri dengan teguh. Bejana Kayu berkata: "Engkau dapat memakai aku, tuanku, kata bejana kayu. Tapi aku lebih senang bila engkau memakaiku untuk buah-buahan, bukan untuk roti."

Kemudian tuan itu melihat ke bawah dan melihat bejana tanah liat. Kosong dan hancur, terbaring begitu saja. Tidak ada harapan untuk terpilih sebagai bejana tuan itu. Bejana Tanah Liat hanya diam. Tuan berkata: Ah! Inilah bejana yang aku cari-cari. Aku akan perbaiki dan kupakai, dan akan aku buat sebagai milikku seutuhnya. Aku tidak membutuhkan bejana yang mempunyai kebanggaan. Tidak juga bejana yang terlalu tinggi untuk ditaruh di rak. Tidak juga yang mempunyai mulut lebar dan dalam. Tidak juga yang memamerkan isinya dengan sombong.

Tidak juga yang merasa dirinya selalu benar. Tetapi yang kucari adalah bejana yang sederhana yang akan kupenuhi dengan kuasa dan kehendakku. Kemudian ia mengangkat bejana tanah liat itu. Ia memperbaiki dan membersihkannya dan memenuhinya, ia berbicara dengan lembut kepadanya, "Ada tugas yang perlu engkau kerjakan, jadilah berkat buat orang lain, seperti apa yang telah kuperbuat bagimu."

Demikianlah halnya dengan Tuhan. Ia mencari orang-orang yang mampu berbuat adil dan melakukan kebenaran sesuai dengan kehendak-Nya. Masa Adven mengingatkan kita akan masa dimana sang Juruselamat datang. Dia yang memilih kita, Dia yang memberi kita anugerah keselamatan, menginginkan setiap kita untuk dapat menjadi alatnya untuk menyatakan kebenaran sebagai buah dari pertobatan kita.

Wahyuki

     

1 Desember 2013
"TERLIBAT BERBAGI BERKAT"
2 Korintus 8:1-5; Matius 24:42-44

Bagaimanakah kinerja atau “wajah” gereja saat ini dalam menghadirkan diri dan melaksanakan tugas panggilannya? Ada yang mencoba mengamati, dan hasilnya : “ Banyak gereja / jemaat sedang tidak- berdaya melaksanakan fungsinya. Mental gereja - bukan mental berperan, tapi mental bersembunyi.” Nah, GKI Pasteur, apakah termasuk di dalamnya ? Sudah terlibatkah saudara dan saya, untuk bersama-sama menjadi berkat (berfungsi) di sekitar kita.

1. Gereja = alat, berguna. Alat yang baik, ia berfungsi sesuai tujuan pembuatnya. R. Paulus : “Aku bersaksi – memberitahukan”, tentang Jemaat Makedonia – yang menjalankan fungsinya menjadi berkat bagi masyarakat dan Jemaat Yerusalem yang sedang dalam kesulit an”. Bagaimana dengan GKI Pasteur? GKI Pasteur pun berfungsi melalui pengobatan Gratis di Pasteur 10 maupun di luar; Donor Darah, Bimbel untuk anak-anak bantaran Cikapundung, nasi murah dll. Untuk misi Allah, GKI Pasteur – terlibat, dan tidak mandul. Namun sekalipun demikian, kita tetap perlu merenungkan : apakah kita melaksanakannya dengan bersyukur ?
Berguna …… berarti dirasakan kehadiran-nya : Almarhum TB Simatupang tokoh ekumenis di Indonesia, pernah memberikan metode praktis untuk memperkirakan : apakah gereja-2 kita masih berfungsi. Caranya dengan membayangan : Seandaian -nya secara ajaib, pada suatu malam gereja kita ini tiba2 raib, lenyap tanpa bekas. Nah apakah masyarakat menangisinya ? Berkabung ? Mengibarkan bendera setengah tiang ? Gereja di dunia ini bukan sekedar ada. Bukan sekedar wadah. Ia hadir melaksanakan misi : menjadikan dunia menjadi tempat yang lebih baik.

2. Motivasi - Apakah per-tama2 untuk Tuhan ? Rasul Paulus BERSAKSI di 2 Kor. 8: 5, bahwa anggota jemaat Makedonia : “…. . Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah …”.
Pertama-tama untuk Tuhan : Tujuan utama – Tuhan; Ucapan syukur, krn mendapat kasih karunia Tuhan Yesus. Karena itu jika pelayanan menjadi ajang perlombaan / pameran, pasti pelayan mudah menjadi kecewa, lelah. Semangat pelayan pun mudah patah – dan hasil pengaruhnya kurang. Banyak orang melayani dengan “MASIH MENCARI”. Pelayanan kuat dan bernilai bila “SUDAH MENERIMA”. Lihat Jemaat Makedonia : pencobaan berat tak menghalangi, krn mereka sdh menerima/ merasakan “kasih karunia Yesus Kristus” (2 Kor. 8:2, PELAYANAN–tetap berjalan SELAGI DICOBAI, bukan stlh pencobaan itu berlalu, krn pelayanannya dengan dasar kuat).

3. Gereja : Meneladan Kristus. Kristus memberi diriNya, Maka GERAKAN setiap anggotanya juga “memberi diri” - menjadi berkat. Seperti jemaat Makedonia : “… Dgn kerelaan sendiri (meminta dan mendesak) mengambil bagian dlm pelayanan kepada orang-2 kudus.” Mari kita berderap bersama, ambil bagian kita, memberi yang terbaik.

4. Gereja : Tidak menyia-nyiakan waktu Hari ini kita memperingati Minggu Adven I. Mempersiapkan kita menyambut Natal-KELAHIRAN Juru selamat; Tetapi jg mengingatkan KESERIUSAN HATI kita menantikan kedatangan Kristus kembali. Mat 24: 42 “… kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang, …Hendaklah kamu juga siap sedia, … Anak Manusia datang pada saat yg tidak kamu duga”; dan “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang” (Rom 13:12). Sebelum hari itu datang, gunakan waktu/kesempatan, agar tidak hilang percuma. Jika gereja mau melakukan yg terbaik utk Tuhan … jangan tunda. Utk point ini, kadang orang BERSIKAP : “Sudahlah nanti saja ! Suatu saat saja! Suatu hari nanti, pasti!” … Menunda-nunda ….!! Melakukan yang benar dan baik itu : SEKARANG! Waktu terbatas ! Ilustrasi : “Punya pakaian dari sutra - yang mahal, tetapi tidak sempat/pernah memakainya, krn menunggu: “Nanti saja, saat yg istimewa .“ Keburu meninggal. Sdh keluar uang banyak/dibeli mahal, sia-sia. PESAN: "Jangan pernah menyimpan sesuatu utk kesempatan istimewa, krn setiap hari dlm hidupmu adlh istimewa.” “Istimewa, sbab tak seorangpun tahu, apakah ia masih ada / tidak di pagi berikutnya”

Hari ini : beberapa remaja, juga yang dewasa (di rumah) akan mengaku percaya - dibaptiskan, dan orang tua membaptiskan anak. Mereka akan mengambil kesempatannya. Namun, untuk selanjutnya, apa yang indah dari Tuhan, jangan bernasib seperti “pakaian dari sutra.” Segera pergunakan … pakailah kesempatan yang ada, untuk terlibat berbagi berkat sesuai talenta kita, agar melalui kita dirasakanlah kasih Allah akan dunia ini. Jadikan tiap waktu “istimewa untuk Tuhan.” SELAMAT ULANG TAHUN GKI Pasteur – MARANATHA (Sampai Tuhan Datang). AMIN.

PKM

 

24 November 2013
"YESUS KRISTUS, RAJA SORGAWI SEJATI "
Yer 23:1-6; Mzm 46; Kol 1:9-20; Lks 23:33-43

Berdasarkan “siklus masa liturgi” dalam gereja-gereja kristiani, hari ini merupakan Hari Minggu Kristus Raja, penutup Tahun Liturgi. Hari ini adalah Minggu terakhir Masa Biasa (Masa sesudah Pentakosta) dan Minggu sebelum Masa Adven. Kita mengingat dan mengakui Kristus - yang telah berkarya dalam hidup kita selama ini- sebagai Raja semesta alam, Raja sorgawi yang sejati. Minggu depan kita akan memasuki Minggu Adven sebagai persiapan diri menjelang kedatangan Kristus, Sang Raja.

Kristus adalah Sang Raja yang tidak sama dengan pemimpin-pemimpin dunia. Setiap hari kita mendengar pemberitaan-pemberitaan tentang begitu banyaknya pemimpin -baik dalam maupun luar negeri- yang menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan. Mereka hanya mengutamakan kepentingan diri sendiri / golongan, bahkan ada yang membangun dinasti keluarga. Ironinya, para penegak hukum dengan tega memutarbalikkan keadilan dan kebenaran.

Di tengah situasi seperti ini, kita ingat janji Tuhan, bahwa Ia akan menghukum pemimpin-pemimpin yang jahat, dan akan menghadirkan kegembalaan Tuhan atas umat-Nya dengan menumbuhkan Tunas Daud yang adil, yang akan memerintah sebagai Raja yang bijaksana, melakukan keadilan, kebenaran, membebaskan, dan memberikan ketentraman (Yer. 23:1-6). Janji ini telah dan akan tergenapi dengan kedatangan Kristus di dunia, dan kedatangan-Nya kembali kelak pada waktunya.

Di tengah segala kesesakan, goncangan, keributan, kegersangan kehidupan, Ia adalah Penolong dan pemelihara kita. Tuhan semesta alam selalu menyertai, dan menjadi Sumber kedamaian bagi kita dari dulu, sekarang, dan selamanya (Mzm. 46).

Dalam menghadapi segala permasalahan, jemaat Tuhan hendaknya senantiasa tetap bersyukur, karena apapun yang terjadi, kita sudah mendapatkan yang terbaik, yaitu penebusan dosa-dosa kita. Kita sudah dipindahkan dari kuasa kegelapan ke dalam kerajaan terang. Sebagai ungkapan syukur, hendaknya kita senantiasa melakukan kehendak Tuhan, hidup layak dan berkenan di hadapan-Nya, memberi buah yang baik, dan bertumbuh dalam Kristus (Kol. 1:9-20).

Kristus telah menyatakan diri-Nya sebagai Penguasa yang berotoritas untuk mengampuni dosa, yang selalu mendengar seruan permohonan orang-orang yang bertobat. Maukah kita mengakui Yesus Kristus sebagai Raja Sorgawi? maka seperti yang telah dijanjikan-Nya, kita akan bersama-sama dengan Dia pada saat ini juga, dan pada kehidupan di sorga kelak (Lks. 23:33-43). AMIN.

Nancy Hendranata

     

17 November 2013
"HARI TUHAN, BERKAH ATAU CELAKA?
" Maleakhi 4 : 1, 2; Mazmur 98; II Tesalonika 3 : 6-13; Lukas 21 : 5-19

Dua macam pemahaman orang Yahudi terhadap Yom Yahweh atau Hari TUHAN adalah hari kejayaan Kerajaan Allah (Yes. 13:6, 9; Yeh. 13:5), atau hari kemurkaan Tuhan (Yes. 2:12; Yeh. 7:19). Maka pemahaman pertama berupa berkah, sedangkan pemahaman kedua berupa musibah (celaka). Berita dari Perjanjian Baru adalah, bahwa hari Tuhan adalah hari penghakiman akhir (Mat. 25:31; Rom. 2:5-8), dan Tuhan Yesus datang sebagai Hakim di atas semua hakim (Pengakuan Iman Rasuli). Konkretnya, hari Tuhan berkaitan erat dengan peristiwa kedatangan Tuhan Yesus kembali pada suatu hari. Terhadap permasalahan ini, baik orang Yahudi pada zaman Perjanjian Lama, maupun orang Kristen pada zaman Perjanjian Baru dan sesudahnya, harus menyikapinya secara benar. Soal apakah sebagai berkah atau musibah, amat tergantung bagaimana sikap keberimanan kita dan kepada siapa kita berpihak? Kepada Tuhan Yesus, itulah berkah, tidak kepada Tuhan Yesus, itulah musibah. Mengingat masalah ini bersifat subjektif, maka setiap orang bebas untuk menentukan sikap, tetapi juga menerima konsekuensinya.

Kesaksian dari kitab nabi Maleakhi jelas menyatakan konsekuensinya sebagai berkah bagi orang beriman pada hari Tuhan itu, di samping bagi orang fasik (jahat) hari Tuhan justru merupakan musibah. Mazmur 98 menjelaskan, bahwa umat Allah hendaknya menyambut dengan sorak sorai kedatangan keselamatan pada hari yang ditentukan Tuhan itu. Dari surat II Tesalonika jemaat Kristen diperingatkan oleh Rasul Paulus, supaya jangan salah dalam menyikapi berita tentang hari Tuhan. Jangan seperti pada peristiwa 10 November 2003 yang lalu, ketika terjadi heboh gara-gara berita dari sekte hari kiamat di Bale Endah tentang kedatangan Tuhan Yesus, sebab kedatangan-Nya kembali tak seorang manusia pun mengetahuinya (Mat. 24:36).

Cukuplah kita amati tanda-tandanya sebagaimana diperingatkan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 21. Maka tanda-tandanya berupa perlawanan di antara bangsa yang satu terhadap bangsa yang lain, gempa bumi, sakit penyakit, dan lain-lain. Pada dewasa ini kesemuanya makin sering terjadi, sehingga kita semua harus mempersiapkan diri dengan baik, sebab bukankah `Ready or not, Jesus is coming’?

Jika kita diminta untuk memilih hari Tuhan itu berkah atau musibah, hendaknya kita memilih berkah ketimbang musibah. Bagaimana caranya? Ada tiga caranya yakni: kita meyakini, bahwa hari Tuhan itu akan tiba pada waktu yang Tuhan tentukan; kita memelihara persekutuan kita dengan Dia terus menerus tanpa jeda; dan kita bersyukur saat kita mengalaminya pada suatu hari, entah yang bersifat pribadi ketika Tuhan memanggil kita pulang ke rumah-Nya yang kekal, atau secara universal ketika peristiwa langit dan bumi yang pertama lenyap dan digantikan dengan langit dan bumi yang baru (Wah. 21:1-4). Bersyukurlah, jika kita dapat mengalaminya secara sadar dan dalam keadaan tetap beriman kepada Tuhan Yesus. Amin.

Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

10 November 2013
"ALLAH ORANG YANG HIDUP "
Ayb. 19:23-27; Maz. 17:1-9; 2 Tes. 2:1-5, 13-17; Luk. 20:27-38

Ayub 19:1-22 menjelaskan tentang keluh kesah Ayub. Ayub memandang tindakan Allah yang tidak adil dengan cara Ayub kehilangan mahkota dan kemuliaannya. Semua saudara, keluarga dan sahabat telah menjauhkannya. Istri dan saudara sekandungnya dan anak-anak daerahnya telah menghinanya. Intinya adalah seluruh perkataan Ayub mengungkapkan kepedihan hati yang begitu dalam sebagai seorang yang runtuh berkeping-keping, tanpa harapan, tanpa kehormatan, dan belas kasihan. Dia ditolak Allah dan oleh setiap orang tanpa terkecuali. Namun demikian, Ayub mengalami lompatan iman yang luar biasa. Di tengah kepedihan dan keputusasaan yang sangat, ia menemukan Allah yang menebusnya. Ayub 19:25. Tetapi aku tahu: Penebusku hidup. Ia meyakini bahwa Allah akan memulihkan, menolong dan menyelamatkan dari semua penderitaan itu. Allah yang ia yakini adalah Allah yang hidup, Allah yang memberikan kekuatan, pengharapan, pemulihan dan kehidupan. Allah yang ia jumpai dan yakini bukanlah Allah yang mati, dan tidak berbuat apa-apa, tetapi sebaliknya Allah yang peduli memulihkan. Demikian juga pengalaman pemazmur (Mzm. 17:1-9) pemazmur bersedia mengikuti jalan yang ditetapkan Allah dengan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Di tengah-tengah penderitaan karena ketidak-adilan dan kesewenang- wenangan manusia, memilih menyandarkan diri sepenuhnya kepada kerahiman Allah sebagai hakim yang adil. Ia sangat yakin bahwa Allah akan membela, menyelamatkan dan melindungi orang yang berharap pada-Nya. Bagaimana dengan iman kita? Apakah kita masih menyakini dengan sungguh bahwa Allah di dalam Yesus Kristus adalah Allah orang yang hidup?

2 Tes. 2:1-5, 13-17, Rasul Paulus meyakini bahwa Allah di dalam Yesus Kristus adalah Allah yang hidup. Yesus Kristus mati di kayu salib dan dikuburkan, pada hari yang ke tiga Dia bangkit dari kematian, Dia benar-benar hidup. Pada akhir zaman Dia yang telah bangkit akan datang kembali ke dunia untuk membinasakan dan menghukum yang jahat, dan memberikan anugerah keselamatan bagi mereka yang tekun dan setia pada Yesus Kristus. Inilah yang menjadi pengharapan kita, meskipun saat ini kita sedang dalam kesusahan, kesulitan dan keputusasaan, Dia hidup di tengah-tengah kita dan bersama-sama kita, dan Dia menguatkan dan memulihkan kita. Kita juga patut bersyukur bahwa oleh karena kasihNya, Dia memilih kita untuk mendapatkan keselamatan pada hari kedatanganNya yang kedua kali.

Lukas 20:27-38 adalah penegasan Yesus Kristus tentang Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub adalah Allah orang yang hidup, bukan Allah orang mati. Kematian Abraham, Ishak dan Yakub tidak meniadakan keberadaan mereka, sebab Allah telah membangkitkan mereka. Di dalam persekutuan dengan Allah yang hidup, setiap orang yang hidup dan yang mati mengalami kehidupan yang mulia sebagai anak-anak Allah. Dengan demikian ada kebangkitan sesudah kematian karena Allah di dalam Yesus Kristus adalah Allah yang telah bangkit dari kematian. Jika Kristus tidak bangkit, kita tidak memiliki pengharapan, tetapi keputusasaan dan ketakutan (kematian). Kiranya Kristus yang hidup itu menghidupi seluruh perjalanan hidup kita sehingga hidup kita diwarnai sukacita, damai sejahtera, pengharapan, dan pemulihan. Tuhan memberkati kita. Amin

RDS

     

3 November 2013
"Perjumpaan Dengan Tuhan Membawa Pembaharuan Hidup "
Yesaya 1:10-18; Mazmur 32:1-7; 2 Tesalonika 1:1-4, 11-12; Lukas 19:1-10

Betapa bahagianya Tuhan, bila didapati hati yang sedia berjumpa denganNya. Mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan. Mengapa ? Karena Tuhan rindu setiap orang berada kembali di tempatnya, yakni sebagai umat Allah. Seperti orang tua yang merindukan anak-anak yang sudah terserak kemana-kemana, dan berkumpul dirumahnya dan hidup rukun, berkasih-kasihan satu dengan yang lain.

Yesaya 1 : saat ini banyak manusia menjadi manusia Sodom / jahat ( Sodomi – manusia yang dikuasai hawa nafsu binatang). Banyak orang beribadah, namun hatinya mendua, “bersundal.” Ke tengah situasi ini, Allah dengan hati yang penuh kasih datang memanggil dan menyediakan pengampunan. Kita tak layak, namun Tuhan masih mau membuka hati kita yang tertutup dengan berbagai “ilah”. Tuhan meyakinkan bahwa Ia siap menjumpai, siap membaharui dan segala kekelaman akan menjadi “kudus” dan layak di hadapan Allah. (Dosa merah menjadi putih).

Mazmur 32 : Tuhan akan memberi bahagia bagi orang yang tengah berada di tempat yang jauh. Orang-orang yang lesu sebab ditutupi dosa, sulit melihat Allah, bisa hidup bahagia. Mereka yang menyimpan dosanya menjadi lesu, mengeluh sepanjang hari. Tetapi ketika dosanya diberitahukan pada Tuhan dan bertobat, maka ia akan dimampukan melewati badai hidupnya. Hati mereka akan “seperti orang luput dari kesesakan”. Mereka berbahagia.

2 Tesalonika 1 : Paulus yang telah diperbaharui : memiliki sikap hidup, yang mau memperjuangkan dan mendoakan jemaat untuk bertumbuh, menyempurnakan karya iman. Paulus memiliki hati yang mulia : agar nama Yesus dimuliakan dalam jemaat. Ia berusaha agar Jemaat mampu menyatakan Kristus dalam hidup sesehari, bahwa Kristus di dalam mereka. Ia rindu (ayat 3) : iman bertambah dan kasih makin kuat satu kepada yang lain; (ayat 4) : tabah dan tetap beriman dalam derita dan aniaya.

Injil Lukas 19 : Kisah nyata - perjumpaan dengan Tuhan membawa pembaharuan hidup. Zakheus, dengan pekerjaannya sebagai pemungut pajak, adalah seseorang yang mengambil hak orang lain yang bukan menjadi haknya. Dengan cara seperti inilah Zakheus menjadi kaya. Namun ia jauh dari sesamanya. Kekayaannya tidak membuatnya bahagia, ada kesepian, kekosongan di dalam hatinya. Hal ini nampak dalam kerinduannya untuk melihat Yesus yang melintasi kota Yerikho.

Ingatlah dan kenalilah Yesus, sosok yang penuh kasih. Ini sikap dasar dan awal sikap terbuka zakheus, sebab ia telah mendengar bahwa Yesus mengasihi orang-orang miskin, para janda dan anak yatim, sikapNya yang keras dan tegas terhadap para pemimpin agama, bahkan orang-orang berdosapun diampuniNya. Hal-hal itulah yang semakin mendorong dirinya untuk melihat siapa Yesus itu. Zakheus sangat antusias, sehingga sikap bermusuhan dari orang banyak dan badannya yang pendek, tidak menyurutkan niatnya untuk melihat Yesus.

Perjumpaan itulah yang menjadi titik balik kehidupannya. Zakheus berkata: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Zakheus meninggalkan hidup lama. Zakheus, pemungut cukai yang kikir, memiliki sikap baru, berubah menjadi seorang yang murah hati.

Hari ini Tuhan Yesus siap untuk menilik hati kita, menjumpai kita, mengubah sama sekali hati dan hidup kita. Allah rindu semua orang hidup bahagia. Saya yakin, kita semua juga merindukan pembaharuan hidup. Dua hal yang penting untuk kita :
1. Yesus sedia menjumpai kita dalam setiap keunikan masing-masing kita. Yesus sedia menjumpai setiap orang dalam kelebihan dan kelemahannya. Allah adalah kasih adanya. Sebab itu janganlah takut dan tidak perlu menyembunyikan apapun dalam hati kita, terbukalah, semua hanya membuat hidup kita lesu, penuh keluh kesah. Maka ketika kita merendahkan hati dan dengan respon positif, justru kita akan dibuat-Nya berbahagia dan memiliki sikap baru : “makin tangguh dalam iman”.
2. Allah membaharui kita untuk “menjadi alat berkat bagi sesama”. Mungkin banyak di sekitar kita - seperti Zakheus, orang yang terhilang, hidupnya hampa, terasing dan tersisihkan. Orang yang beribadah, namun hatinya mendua. Yang kesepian, lesu dan mengeluh sepanjang hari. Mereka sebenarnya sangat merindukan Tuhan Yesus, namun seolah-olah “banyak orang meng halanginya”. Nah, sudahkah kita menjembatani-nya ? Mereka yang dibaharui-Nya, sesungguhnya adalah alat berkat bagi sesama, (seperti Paulus bagi jemaat Tesalonika) agar hidup sesamanya memuliakan Allah. Amin

PKM

 

27 Oktober 2013
"KELUARGA YANG RENDAH HATI, BERKENAN KEPADA ALLAH "
Yer. 14:7-10, 19-22; Maz. 84:1-8; 2 Tim. 4:6-8, 16-18; Luk. 18:9-14

Dalamnya lautan dapat diselami, dalamnya hati siapa yang tahu”. Ungkapan ini mau mengatakan bahwa kita tidak akan tahu dengan tepat apa yang sedang dipikirkan orang lain. Begitupun perasaan/pikiran kita mudah saja kita sembunyikan dengan berbagai ekspresi, sehingga orang lain tidak akan tahu apa yang sedang kita pikir/rasakan.

Demikian pula dengan motivasi manusia, sulit diketahui dengan pasti ! Beberapa orang bisa melakukan kegiatan yang sama dengan motivasi yang berbeda-beda. Contoh saat ini, ketika kita sedang beribadah di gereja yang sama dan dalam waktu yang sama, tapi belum tentu motivasi kita ke gereja pasti sama.

Sebagai manusia, kita bisa menutupi perasaan, pikiran, juga motivasi kita, sehingga tidak diketahui orang lain, bahkan terhadap anggota keluarga kita, yaitu orang yang terdekat sekalipun dengan kita. Tetapi tidak demikian di hadapan Tuhan. Tuhan Maha Tahu, tidak ada satu perkarapun yang dapat kita sembunyikan dari-Nya.
Yeremia menyadari hal itu (Yer. 14:7-10, 19-22), dan mengakui bahwa sebagai bangsa Yehuda mereka berdosa; Yeremia mengoreksi diri dan umat, serta datang memohon pengampunan Tuhan.

Pemazmur (Maz. 84:1-8) mengungkapkan bahwa motivasi yang benar ketika menghadap Tuhan akan mendatangkan kebahagian. Sekalipun dalam perjalanan hidup berkeluarga, adakalanya harus menghadapi banyak masalah, masing-masing anggota keluarga perlu secara pribadi dan bersama keluarga datang kepada Tuhan serta mengandalkan Dia.

Seperti yang dialami Paulus (2 Tim. 4:6-8, 16-18), sekalipun menghadapi perlawanan dalam memberitakan Injil; di penjara, dan ditinggalkan; Paulus menyerahkan dirinya kepada Allah yang mengetahui segala sesuatu, dan tidak mengandalkan manusia.

Dalam Lukas 18:9-14, Tuhan Yesus membandingkan sikap orang Farisi dan pemungut cukai. Di hadapan Allah, bukan hanya perbuatan baik yang patut kita persembahkan, melainkan juga motivasi kita melakukan perbuatan tersebut. Kerendahan hati di dalam keluarga, yaitu tindakan saling mengoreksi diri, tanpa membanding-bandingkan, atau saling menyalahkan diantara anggota keluarga; adalah sikap yang berkenan kepada Allah. Karenanya, pengakuan dosa perlu menjadi kesempatan yang sungguh-sungguh dihayati dengan kerendahan hati di hadapan Allah oleh setiap anggota keluarga, saling memaafkan dan tidak menuntut diantara anggota keluarga, tetapi saling mendukung dalam melakukan kehendak Allah.

Sebagai manusia yang hidup bersama orang lain, kita perlu belajar menghayati hidup yang jauh dari penghakiman, dan meningkatkan kesadaran diri bahwa Allah tahu kedalaman hati kita ketika datang kepadaNya, yaitu karena kerinduan untuk makin dekat dan makin berkenan kepada Allah, bukan karena motivasi supaya lebih baik daripada anggota keluarga yang lain. Tuhan Yesus Yang Maha Tahu memberkati kesungguhan hati kita datang kepada-Nya !

ESS

     

20 Oktober 2013
"Keluarga yang Bersandar pada Tuhan dan Gigih Berjuang "
Kej. 32:22-31; Maz. 121; 2 Tim. 3.13-4:5; Luk. 18:1-8

Dari begitu banyak tokoh Alkitab, Yakub termasuk yang menonjol. Alkitab menuliskan kehidupan Yakub yang berpusat dalam drama kehidupan keluarga. Mulai perkara orang tuanya (Ishak dan Ribka) yang saling pilih kasih, perebutan hak kesulungan kakak kembarnya (Esau) oleh Yakub, penipuan Yakub dan Ribka untuk mendapatkan berkat utama dari Ishak, ketidak adilan Yakub pada kedua istrinya (Lea dan Rachel), sampai pada favoritisme Yakub pada anaknya yang bungsu (Benyamin) dibanding sebelas puteranya yang lain. Alkitab tidak menutup-nutupi semua kekurangan Yakub dan keluarganya yang sungguh tidak ideal itu.

Tetapi Alkitab mencatat hal yang lebih penting: kesetiaan dan kecintaan Yakub yang amat gigih kepada Allah dan kepada keuarganya. Ia berjuang habis-habisan untuk keluarganya. Pada saat yang sama ialah mengajarkan keluarganya untuk menyembah Allah dengan penuh kegigihan.

Kegigihan Yakub berjuang untuk keluarganya dan untuk hidup menurut tuntunan Allah diakui semua orang. Makhluk Ilahi yang bergulat dengannya mengakui kegigihannya, sehingga Ia menamakannya Israel. (Kej. 32:26). Kegigihan Yakub pada Allah bukan dalam hal menentangNya. Tetapi kegigihan Yakub untuk bergulat tidak mau melepaskan Allah dalam hidupnya, meskipun Yakub hidup penuh egoisme, kekurangan dan kelemahan. Yakub dengan gigih berseru pada Allah untuk tdk pernah meninggalkannya meskipun ia jauh dari sempurna. Dan Allah mengabulkan perjuangan Yakub ini. Pada setiap kita yang tidak henti-hentinya berseru-seru kepadaNya, Allah akan menjawab. Allah akan menolong setiap orang pilihanNya yang siang malam berseru kepadanya. (Luk. 18:7). Meskipun Allah mengijinkan segala penderitaan terjadi pada Yakub akibat perbuatan-perbuatannya yang egois, Allah tidak pernah meninggalkan Yakub sampai saat ajalnya. Bahkan Allah bekerja mengubah kesalahan-kesalahan Yakub menjadi bagian dari rencana Allah bagi umat Allah.

Itulah makna Israel: gigih dalam menaklukkan kemanusiaan kita dan gigih memperjuangkan iman kepada Allah sepanjang hidup.

Kita sebagai Israel-Israel masa kini perlu belajar dari Yakub. Kita berjuang untuk keluarga kita. Mengajarkan anak-anak kita dari kecil untuk mengenal Allah dan kitab suciNya (2 Tim. 3:15). Setiap Israel, yaitu manusia pilihan Allah, diperlengkapi dengan kemampuan untuk berbuat baik. Israel masa kini memiliki kegigihan untuk menguasai diri, sabar menderita, dan tetap melakukan pekerjaan pemberitaan tentang Allah serta tugas pelayanan (2 Tim. 4:5)

Sebagai Israel-Israel masa kini, kita dibukakan mata untuk menyadari kehadiran Allah dalam kehidupan keluarga kita. Saat keluarga kita bersandar pada Tuhan, berarti keluarga kita menyadari pertolonganNya (Maz. 121). Matahari tidak menyakiti keluarga kita pada waktu siang dan bulan pada waktu malam. Ia akan menjaga keluarga kita dari segala kecelakaan. Ia akan menjaga nyawa keluarga kita. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur penjaga Israel!

Armein Langi

 

13 Oktober 2013
"KELUARGA YANG BERHARAP PADA TUHAN DAN TAK LUPA BERSYUKUR "
2 Raj-raja 5:1-3, 7-15 ; Mazmur 111; 2 Timotius 2:8-15; Lukas 17:11-19

Pada jaman Perjanjian Lama, penyakit kusta dianggap “penyakit kutukan”. Kutukan selalu terkait dengan perbuatan dosa di masa lalu yang dilakukan oleh yang bersangkutan atau orang tua si penderita. Sehingga penderita kusta diperlakukan khusus menurut peraturan agama Yahudi. Misalnya tidak boleh tinggal di daerah perkemahan/pemukiman/ kota, mereka harus diasingkan karena mereka dianggap najis begitu pula bagi orang yang menyentuhnya. Mereka harus berpakaian compang-camping dengan rambut terurai serta berseru-seru : “Najis, najis” supaya orang menyingkir sejauh 50 meter. Karena menyentuh orang kusta sama najisnya dengan menyentuh mayat. (Imamat 13:45-47). Jika penderita kusta sembuh secara jasmani harus menghadap para imam untuk mendapatkan surat pernyataan sembuh supaya kehidupannya dapat di pulihkan secara sosial.

Naaman, seorang panglima raja Aram yang oleh karena dia Tuhan memberi kemenangan kepada orang Aram, artinya Tuhan juga mengasihi Naaman walaupun dia bukan bangsa Yahudi malahan sebagai penjajah bangsa Yahudi, karena rancanganNYA supaya bangsa Aram mengenal Allah Israel. Naaman menderita penyakit kusta dan melalui budak perempuan isteri Naaman, seorang gadis Israel menunjukkan Nabi Elisa sebagai Nabi Allah yang dapat menyembuhkan penyakit tuannya. Naaman mengalami kesembuhan setelah melakukan apa yang dikatakan Elisa yaitu membenamkan diri di sungai Yordan tujuh kali. Setelah Naaman mengalami kesembuhan ia menyatakan “ Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel”. Naaman tidak hanya disembuhkan secara jasmani, melainkan juga mengenal Allah Israel yang hidup dan melakukan perbuatan baik bagi manusia. (2 Raja-raja 5:1-3,7-15)

Bacaan Lukas 17:11-19, Tuhan Yesus menyambut sepuluh orang kusta yang berdiri agak jauh (oleh karena peraturan agama Yahudi tidak boleh berdekatan dengan orang sehat). Mereka (bukan orang Yahudi saja) berteriak: “Yesus, Guru, Kasihanilah kami”. Kemudian Yesus menyuruh mereka pergi ke imam-imam untuk memperlihatkan diri. Sementara mereka di jalan mereka menjadi tahir. Kesepuluh orang kusta itu sembuh secara jasmani, namun hanya satu orang Samaria yang memperoleh keselamatan jiwa dan rohani karena bersyukur karena perbuatan baik Tuhan dan memuliakan Allah.

Semua manusia sudah jatuh dalam dosa, upah dosa atau kutukan dosa adalah “maut” (Roma 6:23a) yaitu keterpisahan manusia dengan Allah yang bersifat kekal. Tuhan Yesus datang untuk membebaskan manusia dari kutukan dosa seperti penderita kusta. Dan barangsiapa bertobat dan menerima pengampunan melalui salib Kristus akan menerima Anugerah keselamatan dari kutukan dosa. “lepas dari maut, dan beroleh hidup kekal” (Roma 6:23b). Orang percaya yang menerima anugerah keselamatan dari Tuhan menjadi ciptaan baru, hidup senantiasa bersyukur dan memuliakan Allah, bukan lagi mencari kemuliaan diri sendiri. 9 orang kusta yang ditahirkan Tuhan, hanya mencari kesembuhan jasmani untuk kemuliaan diri sendiri, mereka bukanlah ciptaan baru.

Hal ini menggambarkan bahwa orang yang menerima berkat-berkat jasmani dari Tuhan belum tentu diselamatkan. Setiap orang percaya yang sudah menjadi “ciptaan Baru” adalah warga keluarga Allah, yang selalu bersyukur dan memuliakan Allah dengan memberitakan perbuatan-perbuatan baik Allah bagi dunia. Jika anda ditanya : “Apakah Anda orang Kristen ?”, anda dengan mudah dan cepat menjawab :”Ya !”, Namun jika anda ditanya : “Apakah Anda, Ciptaan Baru ?”, apakah jawab Anda, dan apa buktinya ?

Tonny Iskandar

 

6 Oktober 2013
"KETAATAN : MELAKUKAN APA YANG HARUS DILAKUKAN "
Habakuk 1;1-4, 2:1-4; Mzm. 37:1-9; 2 Tim. 1:1-14; Lks. 17:5-10

Manusia cenderung untuk mengikuti keinginannya sendiri. Kalau begitu, apa alasan seseorang mau taat? Mungkin karena ia memang suka, atau mungkin karena menguntungkan dirinya.
Di luar alasan itu, ketaatan membutuhkan kerendahan hati, karena taat berarti patuh, tunduk, setia kepada sesuatu (hukum, peraturan, dll) / kehendak seseorang, bersedia untuk tidak melakukan kehendaknya sendiri.

Mengapa saya harus taat, apa untungnya bagi saya pribadi kalau saya taat, padahal banyak orang lain yang tidak taat? Sering terjadi, orang yang tidak taat justru yang dapat menikmati kesenangan duniawi, sedangkan yang taat hidup berkekurangan / pas-pasan. Mengapa Tuhan berlama-lama membiarkan kejahatan terjadi, mengapa doa saya seperti tidak berjawab? Ini juga yang menjadi kegelisahan Habakuk yang mempertanyakan keadilan bahkan keberadaan Tuhan (Hab. 1:1-4). Tuhan memberikan jawaban kepada Habakuk dan kita, bahwa kita harus tetap menjalankan hidup yang benar, beriman teguh, setia dalam menantikan janji Tuhan. Keadilan-Nya dapat dilihat oleh banyak orang dengan begitu gamblang, sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh (Hab. 2:1-4).

Sebagai orang beriman, kita harus taat dan bersedia untuk melakukan kehendak-Nya, menyerahkan hidup kita kepada-Nya, maka Tuhan akan menjawab seruan-seruan kita. Kita tidak perlu iri kepada orang yang tidak taat, percaya saja kepada Tuhan, karena Ia sendiri yang akan bertindak (Mzm. 37:1-9).

Kita adalah hamba-hamba Tuhan yang harus mengabdi kepada Tuhan, bersedia secara total untuk melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Dengan iman kita dapat melakukan perkara-perkara besar (Lks. 17:5-10).

Dalam rangka bulan keluarga di bulan Oktober ini, kita juga diingatkan, agar kita senantiasa menanamkan iman dan kasih Kristus kepada anak cucu kita sejak dari masa mudanya. Ini adalah harta terindah yang akan dimiliki oleh mereka dan kita semua di sepanjang hidup kita. Iman kita kepada Yesus Kristus : IA-lah Juruselamat yang telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa (2 Tim. 1:1-14).

Perjamuan Kudus Sedunia yang kita rayakan hari ini, juga merupakan perayaan iman kita kepada Tuhan Yesus. Iman bukan hanya kita rayakan dalam ibadah-ibadah di gedung gereja saja, tetapi seharusnya mewujud lewat kesediaan melakukan apa yang harus dilakukan sebagai orang beriman. Ketaatan adalah bukti dari iman.

Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah ketaatan. Kiranya Tuhan memampukan Anda dan saya untuk senantiasa taat kepada-Nya. Amin.

Nancy Hendranata

 

29 September 2013
"MENJADI BIJAK, BUKAN TAMAK TERHADAP UANG "
Amos 6:1, 4-7; Mazmur 146; I Timotius 6:6-19; Lukas 16:19-31

Berbicara tentang uang, banyak ceritanya. Orang yang berorientasi kepada materi menganggap, bahwa waktu adalah uang, ada uang ada jalan, uang punya kuasa, KUHP (Kasih Uang Habis Perkara), ada uang abang disayang tak ada uang abang ditendang, dan lain-lain. Dari sikap orang terhadap uang semacam itu, muncul sikap cinta uang yang berkembang menjadi ketamakan, sehingga menjadi akar dari segala kejahatan. Hal ini nyata dalam praktik korupsi, kolusi dan nepotisme, yang UUD (ujung-ujungnya duit). Jika tak dikaitkan dengan perbuatan jahat sekali pun, kecenderungan manusia kepada materialisme (serba benda), hedonisme (kenikmatan) dan konsumtivisme (pemakaian) juga mengarah kepada ketamakan terhadap uang. Biasanya semua pandangan itu pada akhirnya bermuara kepada diri sendiri, baik kepuasan, maupun kenikmatan yang semata-mata tertuju kepada kepentingan pribadinya. Sebaliknya orang yang memikirkan nilai uang dari sudut yang bersifat rohani justru memandang, bahwa uang adalah sarana untuk berbuat kebajikan dan sebagai wujud kepedulian kepada orang miskin, orang tertindas dan orang yang menderita sengsara. Uang yang disalurkan kepada mereka digunakan untuk mengatasi biaya perawatan sakit dan kesehatan, juga biaya pendidikan anak-anak mereka, lantas membebaskan mereka dari kesukaran, sehingga hati mereka sekeluarga pun lega.

Inilah pesan yang dialamatkan kepada `manusia Allah’. Siapakah dia? Dia adalah manusia yang Allah berkenan meliputi dan menaunginya sebagai milik-Nya. Maka `manusia Allah’ menganggap `asal ada makanan dan pakaian’ sudah cukup. Lalu dengan uangnya itu ia mewujudkan keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Silakan kita menjabarkan keenam perkara itu dalam praktik kehidupan kita di tengah masyarakat. Pasti, uang yang digunakan itu akan menghasilkan suasana kedamaian, ketenteraman dan persaudaraan.

Sekiranya kita punya uang yang banyak, bersyukurlah kepada Allah yang menjadi sumber kehidupan. Ia telah menyalurkan kemurahan-Nya kepada kita sebagai berkat. Gunakanlah dengan bijak, sehingga uang dalam jumlah besar itu benar-benar tidak mubazir, lalu tercecer ke mana-mana untuk tujuan berfoya-foya (Amos 6:4; Lukas 16:19) dan menjerat kita dalam perbuatan yang menyimpang dari kehendak Allah. Selagi kita hidup di dunia ini, terbuka kesempatan dan kemungkinan untuk memanfaatkan uang dengan baik. Gunakan uang dengan bijak, maka ada hasil yang baik bagi sesama. Lakukanlah, sebab Allah berkenan untuk perbuatan semacam itu. Tinggalkan sikap tamak, serakah, loba, dan rakus, sebab sikap-sikap semacam itu tak berkenan kepada Allah.

Semoga kita tahu menghargai uang dengan bijak, namun tidak bersikap tamak, sebab uang yang menjadi milik kita itu, berasal dari kemurahan Allah. Di dalamnya mengandung pesan, agar kita menggunakannya demi kesejahteraan sesama. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

22 September 2013
"The Power Of Praise "
Kisah Rasul 16:19-34

Pernah seorang anak mendampingi ayahnya menjalani operasi kanker yang dideritanya. Lalu ayahnya menjalani perawatan selama lebih dari dua bulan di rumah sakit. Anak ini sering dihinggapi rasa khawatir serta putus asa. Kadang membuatnya sangat takut dan tidak berdaya. Untuk mengurangi kegelisahan di hati, setiap malam ia melantunkan kidung pujian sambil mendampingi Ayahnya yang mengalami insomnia. Awalnya, menyanyi itu dilakukan hanya untuk kepentingan pribadi dan menyanyi dengan sangat lirih karena takut mengganggu kenyamanan pasien lain. Namun, ternyata pasien yang lain serta keluarga-yang se-ruangan dengan Ayah-tidak keberatan ketika ia menyanyi, malah memintanya menyanyi untuk semua, sebab kata mereka, nyanyian yang dinaikkan menenteramkan hati mereka juga.

Peristiwa di tengah himpitan penyakit di sebuah ruangan di rumah sakit di atas, mirip dengan apa yang terjadi ketika Paulus dan Silas tengah dipasung dalam penjara. Mereka berdoa dan menyanyikan puji-pujian pada Allah dengan lantang, hingga semua orang dipenjara itu mendengarkan. Apa yang terjadi selanjutnya? Terjadilah gempa sehingga semua pintu dan belenggu terbuka membebaskan mereka. Bukan itu saja, namun terjadi pertobatan pada diri kepala penjara dan keluarganya. (Kisah Para Rasul 16:19-40). Lihatlah bukti kuasa kasih Tuhan. Dia tetap menyertai umatNya dalam segala hal. Tuhan mau berada bersama kita dalam setiap persoalan hidup kita. Orang yang menyaksikan / “mendengar” pujian, akan menjadi kagum. Orang yang memuji dengan iman dan harap pada Tuhan dapat menjadi saluran berkat, sehingga orang lain mengalami Allah.

“Janganlah Tuhan Lalui” atau Pass Me Not merupakan judul lagu yang dikarang oleh Fanny J. Crosby. Lagu ini merupakan salah satu lagu hymn-nya yang terkenal dan Anda bisa melihat syair dan notnya di KJ 26. Lagu ini ditulis berdasarkan inspirasi dari Lukas 18:35-43 (kisah seorang buta yang dicelikkan matanya oleh Yesus), Mazmur 73:25 dan Mazmur 130:2,5! Ayat-ayat ini begitu menyentuh hati Fanny Crosby, yang sejak berumur 6 minggu mengalami kebutaan karena dokter yang mengobatinya salah memberi obat mata. Tak lama kemudian, ketika ia berusia 1 tahun, ayahnya meninggal dunia. Di usianya yang ke 5, tetangga-tetangganya mengumpulkan dana untuk mengirim dia kepada seorang dokter mata terkemuka. Ibunya membawa Fanny ke kota besar New York tetapi dokter mata yang ternama itu pun tidak dapat berbuat apa-apa.

Sewaktu Fanny diantar keluar dari ruang pemeriksaan, ia mendengar dokter itu berbicara pelan, “Kasihan sekali gadis cilik yang buta ini!” Dokter itu salah sebab justru dengan kebutaannya ini, Fanny merasakan betapa bahagianya, mulianya dan indahnya hidupnya di kemudian hari. Dan sepanjang hidupnya ia telah mengarang sekitar 9.000 hymn yang menginspirasi banyak orang di seluruh belahan dunia hingga hari ini! Tahun 1915 ia meninggal dunia namun lagunya tetap hidup.

Gaungnya masih terdengar. Puji-pujian yang ia nyanyikan kepada Tuhan menyentuh hati, memiliki “kuasa”. Mengapa ? Karena dinyanyikan orang benar (beriman). Kuasa itu membuat orang lain keberkatan, kagum pada Tuhan yang memberi kemurahan. Menyaksikan hidup Fanny J. Crosby, maupun pengalaman Rasul Paulus dan Silas, maka sekarang kita dapat belajar bahwa “Kuasa dalam pujian” adalah : Tuhanlah yang berkuasa, dan pada orang yang mengalami kasihNya, kita menyaksikan keagungan kasih dan kuasa Tuhan yang hadir. Kiranya dalam pujian kita, hati kita semakin berharap pada Tuhan. Kita pun belajar bahwa semakin tekanan berat menghimpit, biarlah kita belajar bersyukur, sebab Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Mari kita teladani mereka yang tak terbelenggu oleh keadaan buruk sekalipun. Derita dan buta, tidak memenjarakan mereka, Fanny J. Crosby, Silas dan Paulus terus memuji Tuhan. Mereka memuji Tuhan apapun keadaannya. Itulah pujian yang memiliki kuasa. The Power of Praise. Pujian dari hati, dan bahwa benar-benar Tuhan yang dipuji. Dari hati yang tersentuh dan menyentuh. Tidak terbelenggu namun justru membebaskan. Karena ada kuasa kasih Allah dalam Kristus Yesus yang mengagumkan. Selamat memuji Tuhan senantiasa.
PKM

 

15 September 2013
"YANG HILANG, YANG DICARI, YANG DIKASIHI "
Kel. 32:7-14; Mzm. 51:1-10; 1 Tim. 1:12-17; Luk. 15:1-10

Apakah kita pernah terhilang dan tersesat dalam perjinahan dan kelicikan? Raja Daud pernah terhilang dan tersesat dalam perjinahan dan kelicikan. Dia terpesona oleh kecantikan Batsyeba, istri Uria, Panglimanya, sehingga raja Daud melakukan hubungan intim (baca : perjinahan) dengan Batsyeba. Kemudian raja Daud dengan kelicikannya memanggil pulang Uria dari medan perang untuk dijebak memikul perbuatan sesat raja Daud, tapi tidak berhasil, sampai akhirnya Uria tewas di medan perang akibat kelicikan raja Daud. Tuhan tidak tidur, Tuhan mengutus nabi Nathan untuk menegur raja Daud dan akhirnya raja Daud menyesal dan bertobat. (Maz. 51:1-10 dan 2 Sam. 11, 12).
Bagi kita yang terhilang dan tersesat seperti raja Daud, hendaklah menyesal dan bertobat. Kasih Tuhan masih mencari dan menanti pertobatan Anda.

Apakah kita pernah terhilang dan tersesat dalam memburu, menangkap dan membunuh pengikut Yesus? Saulus atau Paulus pernah melakukannya sebelum ditegur langsung oleh Tuhan lewat cahayaNya, sehingga Saulus bertobat dan melalui pengakuannya bahwa Paulus adalah orang yang paling berdosa (1 Tim. 1:12-17). Bagi kita yang terhilang dan tersesat seperti Saulus, hendaklah menyesal dan bertobat. Kasih Tuhan masih mencari dan menanti pertobatan Anda.

Apakah kita pernah terhilang dan tersesat dalam penyembahan berhala, patung dewa-dewi, dan roh jahat?
Bangsa Israel pernah melakukan penyembahan patung anak lembu emas. Untungnya Musa memohonkan pengampunannya sehingga murka Tuhan tidak terjadi atas bangsa Israel (Kel. 32:7-17). Bagi kita yang terhilang dan tersesat seperti bangsa Israel, hendaklah menyesal dan bertobat. Kasih Tuhan masih mencari dan menanti pertobatan Anda.

Tiga contoh kejadian di atas tidaklah membatasi kita untuk menjadi anak domba yang nakal, terhilang dan tersesat di dalam perbuatan-perbuatan jahat lainnya (Luk. 15:1-10), mulai dari memfitnah kecil-kecilan seperti bergosip, korupsi uang dan waktu, menyuap pejabat, merusak lingkungan dan menyengsarakan orang banyak. Semoga diantara kita tidak ada yang berbuat kejahatan terbuka maupun terselubung. Amin.
BHS

 

8 September 2013
"MELEPASKAN MILIK UNTUK MENGIKUT TUHAN "
Ul. 30:15-20; Maz. 1:1-6; Flm. 1:1-21; Luk. 14:25-33

Pergumulan terberat yang harus dihadapi oleh orang yang percaya kepada Yesus Kristus adalah ketika ia harus memilih antara melepaskan miliknya dan mengikut Yesus atau memegang miliknya dan meninggalkan Yesus. Mengapa pergumulan ini disebut pergumulan yang terberat dalam hidup orang Kristen? Jawabannya, karena selama manusia masih hidup di dunia ini, ia selalu ingin memiliki sesuatu yang bisa menjamin atau mengamankan hidupnya. Milik itu bisa berupa harta benda, status dan kedudukan, kepandaian atau relasi kekeluargaan yang kuat yang dapat melingkupi dan melindunginya. Itulah sebabnya, keterikatan pada milik tersebut membuat orang percaya akan berpikir ratusan kali, bahkan ribuan kali untuk melepaskan miliknya demi mengikut Yesus.

Pilihan mengikut Yesus membutuhkan pengorbanan atau harga yang mahal. Harga yang harus dibayar adalah menyangkal dirinya, memikul salib dan mengikut Yesus. Itu berarti mengikut Yesus tidaklah mudah dan sesederhana yang dipikirkan oleh sebagian besar orang zaman ini maupun pada zaman Yesus. Pada zaman Yesus banyak orang berbondong-bondong mencari Dia, sebab mereka berpikir bahwa mengikut Yesus itu mudah, enak, diberikan berkat yang melimpah dan sebagainya.

Namun, ketika Yesus menjelaskan konsekuensi menjadi pengikutNya, mereka mulai mengundurkan diri. Meskipun konsekuensi ini berat dan sulit, namun pilihan ini membawa sukacita, damai sejahtera dan membawa kehidupan bagi dirinya maupun bagi orang lain.

Itulah sebabnya, Musa sedikit memaksa umat Israel untuk memilih Tuhan dan mentaati firmanNya dari pada memilih ilah lain. Sebab memilih Tuhan berarti memilih kehidupan, sedangkan memilih ilah lain berarti memilih kematian atau kecelakaan.

Kembali pada konteks ajaran Yesus di atas, mengapa syarat-syarat mengikut Yesus itu sangat penting bagi hidup kita?
Pertama, Tabiat dosa tidak layak masuk ke dalam Kerajaan Allah. Pentingya pertobatan yang sungguh, yang lahir dari kesadaran diri kita yang terdalam untuk diampuni dan diperbaharui oleh Kristus.
Kedua, semua ikatan di dunia ini berpontensi menghambat dan menghalangi kita untuk sungguh-sungguh mengasihi Kristus. Intinya Tuhan Yesus tidak mau dinomor duakan. Ia harus menjadi yang utama dan yang pertama.
Ketiga, jika kita sungguh-sungguh menomorsatukan Kristus, maka kita bisa bersikap benar terhadap sesamanya, termasuk bersikap benar terhadap keluarga dan saudara yang lainnya.
RDS

 

1 September 2013
" Melayani. Kok Mau ?
" Roma 12:1-2

Pelayanan adalah panggilan, karena Tuhan Yesus sudah lebih dahulu melayani kita. Namun banyak orang melayani sebagai beban, yang dianggap merugikan. Karena itu orang sampai bertanya : “Kok mau-maunya sih, melayani ?”

Gaya hidup melayani sungguh melawan arus yang lazim, sebab kebanyakan orang justru berpola hidup mengarah pada kepentingan diri sendiri. Tidak mengherankan bila pada umumnya orang akan menganggap gaya hidup melayani adalah bodoh. Rasul Paulus pernah menuliskan : “… pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa … kami memberitakan Kristus yang disalibkan : untuk orang-orang … suatu kebodohan.. (1 Kor 1:18,23).

Kita sering enggan untuk melayani dan menjadi utusan Kristus karena kita tidak menyadari bahwa kita diperkenankan untuk melayani Kristus selaku Anak Allah yang maha-tinggi. Itu sebabnya tugas pelayanan dan pengutusan sering kita lakukan secara asal-asalan atau sambil lalu karena tergantung situasi hati kita. Apabila hati kita sedang bersukacita, maka kita akan lakukan; tetapi apabila kita sedang kecewa dan tidak terpenuhi berbagai harapan, maka kita akan mengabaikan dan tidak peduli dengan tanggungjawab yang telah dipercayakan Allah kepada kita.

Apa yang terjadi, jika orang kristen bertanya : “Kok mau sih, melayani ?” Barangkali yang terjadi adalah orang itu lupa bahwa isi hidup Kristus adalah melayani. Yesus adalah diakonos-pelayan bahkan doulos-budak. Jiwa Kristus adalah melayani dan menghamba. Kita ingat bagaimana ketika Kristus “menyerahkan nyawaNya” … di atas kayu salib. Kristus memberikan diriNya, yakni menyediakan diriNya untuk menolong manusia agar memiliki kehidupan kekal.

“Persembahkanlah tubuhmu sebagai ibadah yang sejati yang berkenan kepada Allah” … Mendorong kita untuk memperbaharui pelayanan kita … agar kita juga memiliki jiwa Kristus dalam melakukan pelayanan. Melayani adalah persembahan tubuh, siap mengorbankan ego, harga diri apapun demi mengutamakan pelayanan sehingga pelayanan dilakukan dengan antusias terarah kepada Tuhan. Inti dari pelayanan adalah memberikan sepenuh diri kita dengan sikap rela mengorbankan kepentingan pribadi untuk melayani Tuhan. Paulus melanjutkan :”… itu adalah ibadahmu yang sejati.” Dalam ayat ini, Paulus mendesak (memohon) jemaat Roma untuk melakukan ibadah sejati. Pelayanan adalah salah satu bentuk ungkapan syukur kita kepada Tuhan.

Syair lagu NKB. 199 : "Sudahkah yang terbaik kuberikan kepada Yesus Tuhanku, besar pengorbananNya di Kalvari, diharap-Nya yang terbaik dariku, berapa yang terhilang tlah kucari dan ku bebaskan yang terbelenggu, sudahkah yang terbaik kuberikan kepada Yesus Tuhanku" Syair lagu tersebut membawa kita kepada suatu instropeksi diri dalam melakukan pelayanan yang telah kita lakukan. Benarkah kita sudah memberikan pelayanan yang terbaik bagi-Nya? Ataukah pelayanan hanya sekadarnya saja ?

Marilah kita koreksi pelayanan kita, jangan sampai ternyata pelayanan yang kita lakukan menjadi kering, bahkan kemudian menjadi beban bagi diri kita sendiri. Pelayanan bukan mau atau tidak, tetapi sebagai bagian dari ibadah kita, yang kita sambut dengan penuh sukacita. Amin.
PK

     

25 Agustus 2013
ULANG TAHUN GKI KE 25 : RESOLUSI “PUBER” DAN PEMBEBASAN
Yesaya 58:9-14; Mazmur 103:1-8; Ibrani 12:18-29; Lukas 13:10-17

Hari ini bertepatan dengan hari Ulang Tahun GKI yang ke-25, hari ulang tahun merupakan saat kita mensyukuri perjalanan hidup yang telah kita lalui bersama Tuhan, dalam suka dan duka melewati samudera kehidupan dan kembali menatap masa depan yang sudah Tuhan sediakan. Yang menjadi perenungan kita sebagai Gereja atau disebut “PUBER” - Paguyuban Umat Beriman, sudah layakkah ? kita disebut mitra Allah yang terpanggil membawa misi damai sejahtera Allah bagi dunia.

Bacaan Yesaya 58:9-14, dengan judul perikop “kesalehan yang palsu dan yang sejati”. Menggambarkan umat Tuhan yang melakukan ibadah palsu, mereka berpuasa sambil berbantah, berkelahi, memukul, menindas buruh (ay.:3-6). Ibadah mereka bukan untuk tunduk kepada Tuhan, tetapi untuk kepentingan diri sendiri. Tuhan menyebutnya kesalehan yang palsu, kehidupan Kristen yang munafik menjadi kebencian di mata Tuhan. Umat Tuhan (gereja) yang beribadah sesuai dengan kehendak Tuhan membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk terhadap sesama, menolong orang yang menderita (kemiskinan/sakit penyakit). Memberi kepada sesama apa yang kita inginkan sendiri, itulah Kasih. Jika umat Tuhan (puber) kembali kepada kehidupan yang Tuhan kehendaki, maka umat Tuhan dipulihkan, pada saat itu Terang Tuhan akan merekah seperti Fajar di tengah umatNya, dan kemuliaan Tuhan menyertai. Tuhan senantiasa mendengar teriakan minta tolong umatNya yang berkenan. Tuhan menuntun dan akan memuaskan hati kita walaupun di tanah yang kering, Tuhan akan memperbaharui kekuatan kita seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. Renungan ini merefleksi kehidupan GKI sebagai gereja saat ini, apakah sudah layak sebagai pembawa terang, seperti mata air yang tidak mengecewakan, membebaskan manusia dari penderitaan serta perbudakan.

Bacaan Injil Lukas 13:10-17, ketika Yesus sedang mengajar di rumah ibadat pada hari Sabat, ada seorang perempuan yang dirasuk roh jahat selama 18 tahun sehingga ia sakit sampai bongkok dan tidak dapat berjalan tegak lagi. Memang tidak semua penyakit fisik disebabkan oleh roh jahat, bisa juga disebabkan pola hidup yang tidak baik. Yesus tahu bahwa perempuan ini terikat oleh roh jahat sehingga hidupnya sangat menderita. Penyakit dapat juga timbul dari keterikatan pada rasa takut, benci, iri-hati, dendam, curiga maupun pikiran yang jahat. Terkadang mereka sendiri tidak menyadari bahwa sumber penyakit itu berpusat pada dirinya sendiri. Ketika Yesus mengetahui keadaan perempuan itu, langsung berkata :”hai Ibu, penyakitmu telah sembuh”, tanpa ibu itu meminta. Mungkin ibu ini juga sudah kehilangan pengharapan saking lamanya menderita sakit, dan sudah berusaha kemana-mana mencari kesembuhan dengan kekuatan sendiri.

Perjumpaan Yesus dan perempuan ini yang memulihkan. Perempuan ini tidak hanya mendengar pengajaran Yesus, tetapi juga mengalami perbuatan baik Tuhan Yesus.

Sementara itu kepala rumah ibadat menjadi gusar karena Yesus menyembuhkan perempuan itu pada hari Sabat, dan menyalahkan Yesus melakukan pelanggaran hukum hari Sabat. Mereka taat beribadah tanpa mengerti esensi ibadah itu sendiri sehingga peraturan yang dibuat manusia terkadang menjadi lebih tinggi daripada misi utama Allah dalam Tuhan Yesus yaitu membebaskan manusia dari belenggu dosa. Betapa sering peraturan-peraturan gereja menghambat pelayanan. Seloroh yang sering kita dengar, GKI sering lambat memberikan pertolongan karena harus rapat dulu. Atau jenis pertolongan ini tidak ada dalam program gereja. Perbuatan baik tidak dapat direncanakan, karena Tuhanlah yang menyediakan kesempatan untuk kita berbuat baik. Kesempatan (khairos) untuk berbuat baik / membawa kebaikan Tuhan itu Tuhan yang sediakan. Betapa sering kita melewatkan kesempatan dari Tuhan dengan berbagai alasan yang intinya berpusat pada kepentingan diri sendiri.

Visi & Misi GKI adalah menjadi mitra Allah membawa misi damai sejahtera Allah bagi dunia. Apakah kehidupan GKI selama 25 tahun ini relevan dengan Visi & Misi yang sudah dicanangkan. Janganlah menjadi slogan politis yang tidak membawa perubahan pembaharuan. Gereja harus menggarami dunia, janganlah dunia menggarami gereja. Apa gunanya garam yang sudah tidak asin lagi, selain dibuang. Pertobatan adalah cara satu-satunya untuk gereja dipulihkan, dan hanya Tangan Tuhan yang menjamah dapat memulihkan bukan dengan resolusi atau selogan rancangan manusia. Ketika umatNya dipulihkan “maka terangmu akan terbit dalam gelap, dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari” (Yesaya 58:10). Amin.
Tonny Iskandar

 

18 Agustus 2013
DAMAI DI BUMI INDONESIA
Yer. 23:23-29; Maz. 82; Ibr. 11-29-12:2; Luk. 12:49-56

Hari ini kita masih dalam suasana merayakan Kemerdekaan Indonesia. Meskipun Indonesia sudah memasuki usianya yang ke 68, kita bertanya mengapa kedamaian di bumi masih sering terusik? Meskipun kemakmuran ekonomi terus meningkat, mengapa damai sejahtera masih sukar terwujud bagi banyak orang di bumi Indonesia?

Kita diingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak diperoleh dengan mudah. Bangsa Indonesia harus melalui berbagai pertentangan, perselisihan, konflik, dan bahkan peperangan untuk mencapai kemerdekaannya. Bahkan setelah merdekapun, konflik dan pertentangan masih sering terjadi. Padahal kita tahu bahwa tidak mungkin dua pihak yang benar akan berselisih. Itu ibarat orang bertengkar dengan dirinya sendiri. Oleh sebab itu kedamaian sejati terwujud saat semua orang berpegang pada sumber kebenaran yaitu Allah sendiri. Allah mengecam pemimpin palsu dan nabi palsu (Maz. 82 dan Yer. 23:21). Mereka bertindak seakan-akan mewakili kebenaran Allah. Tetapi bukannya berpegang pada Firman Allah benar, mereka berpegang pada fantasi, khayalan, dan mimpi. Dan mereka bertindak sewenang-wenang. Menghakimi dengan lalim. Merampas hak orang lemah. Dan mereka mendapat keuntungan duniawi dari posisi ini. Mereka ingin memelihara posisi berkuasa mereka. Oleh sebab itu mereka melawan setiap usaha Allah untuk membebaskan manusia. Mereka berselisih, bertengkar, dan bahkan memerangi orang percaya. Itulah sebabnya Yesus berkata, upayaNya untuk memerdekakan orang yang tertindas akan mendatangkan pertentangan dari mereka (Luk. 12:51).

Dalam perselisihan ini, bagaimana kita bisa tahu apakah kita berada pada pihak Allah atau bukan? Selalu terjadi, orang beriman akan diperangi oleh orang yang tidak beriman. Orang beriman pada Allah dianiaya. Orang yang menuruti nabi palsu menganiaya. Orang beriman terzalimi &mengalami penderitaan hebat (Ibr. 11:35-38).

Tetapi pengalaman iman orang percaya menguatkan kita bahwa damai yang sejati pasti akan datang. Karena pemimpin palsu dan nabi palsu pada akhirnya akan dilenyapkan (Maz. 82 dan Yer. 23:23). Dengan berjalannya waktu orang akan bisa membedakan jerami dari gandum, mimpi dari Firman. Para pemimpin dan nabi palsu hanya bisa menunda kemajuan dan kemerdekaan sejati, tapi tidak bisa mengalahkannya. Sama seperti bangsa Indonesia yang akhirnya mengalahkan penjajah, demikian pula orang beriman akhirnya akan mengalahkan kepalsuan. Dengan iman yang sama kita memperjuangkan kedamaian di bumi Indonesia.
AL

     

11 Agustus 2013
IMAN YANG BERHARAP: MEMANDANG ALLAH YANG JANJINYA TEGUH
Kejadian 15:1-6; Mazmur 33:12-22; Ibrani 11: 1-3; 8-16; Lukas 12:32-40

Ihwal agama berkaitan erat dengan iman. Oleh sebab itu, orang beragama memberi tempat yang luas di dalam hatinya, supaya iman itu berperan. Iman berisi pengharapan yang dialami dalam kehidupan orang beragama. Khusus saat orang beragama mengalami perasaan takut, cemas dan ketidakpastian hidup, maka iman berperan besar untuk membuat dia tidak takut, hatinya mantap dan merasa pasti karena Allah yang menjadi andalannya. Menarik perhatian kita, bahwa pada satu pihak para umat beriman diminta jangan takut (Luk. 12 : 32 a), kendati mereka masih takut. Itulah sebabnya, pribadi orang beriman diminta untuk berharap kepada Allah, karena janji-Nya teguh. Hal ini dialami sendiri oleh Abram yang pada masa tuanya belum juga mempunyai anak. Namun Allah berjanji, bahwa Abram akan menurunkan bangsa yang besar jumlahnya seperti bintang-bintang di langit. Memang janji Allah itu terwujud pada masa yang akan datang, dimulai dengan kelahiran Ishak, berlanjut kepada keturunannya yang beranak pinak menjadi banyak.

Pesan firman Allah jelas, agar raja tidak mengandalkan kuasanya dan pahlawan tidak bersandar pada kekuatannya. Pada zaman dahulu kuda menjadi harapan manusia, namun pemazmur menganggap kuda itu sia-sia. Begitu pula jika manusia menjadikan harta yang bersifat bendawi sebagai tumpuannya, maka harta semacam itu tak dapat menjadi pegangan yang kokoh. Hanya kepada Allah saja manusia, juga orang Kristen, hendak menyandarkan hidupnya, karena Dia adalah Gembala bagi kawanan domba, Bapa yang benar-benar mengasihi anak-anak-Nya, juga Raja yang peduli terhadap warga Kerajaan-Nya (Luk. 12 : 32).

Kendati belum terwujud, namun iman adalah dasar dari segala yang kita harapkan, dan bukti dari segala yang tidak kita lihat. Iman menentukan arah ke mana orang beriman menempuh perjalanan hidupnya. Orang Kristen percaya, bahwa Allah sanggup merealisasikan apa yang pernah dijanjikan-Nya pada masa lalu. Percaya saja, maka Allah akan mewujudkan janji-Nya dan pemenuhan janji-Nya itu tidak akan mengecewakan keberimanan kita kepada-Nya.

Dalam perumpamaan itu dinyatakan, bahwa seorang tuan akan melayani para hambanya (Luk 12 : 18). Aneh, tuan melayani hamba-hamba-nya? Ya, karena sifat tuan itu rendah hati. Ia tahu kebutuhan para hambanya yang benar-benar merindukan kepulangan tuan mereka. Itulah sebabnya, tuan itu langsung terjun ke tengah kehidupan para hambanya dan melayani mereka.

Dengan meneladani pengalaman Abram dan menghayati janji Allah yang teguh, maka orang Kristen sepanjang masa menyerahkan hidupnya hanya kepada-Nya dengan pengharapan sepenuhnya, bahwa Ia akan mewujudkan janji-Nya. Apa saja janji-janji Allah itu? Banyak, namun yang menonjol adalah janji keselamatan oleh Tuhan Yesus, janji pengampunan dosa oleh darah-Nya, kita diakui sebagai domba-domba, anak-anak dan warga Kerajaan-Nya. Adalah menjadi tugas kita untuk selalu memertahankan status kita itu sampai kita menutup mata. Sekaligus juga bersiap dan bersedia untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali. Amin.
Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

4 Agustus 2013
Menjaring Angin: Upaya Menemukan Hikmat Di Tengah Kehidupan"
Pkh. 1:2, 12-14; 2:18-23; Mzm. 49:1-12; Kol. 3:1-11; Luk. 12:13-21

Apa bedanya menjaring ikan dengan menjaring angin? Jelas! Kalau menjaring ikan, ya pasti dapat ikan. Kalau menjaring angin ya jelas tidak mungkin, karena angin tidak dapat dijaring. Ya! logika berpikir demikian benar. Karena orientasinya selalu pada objek dan target yang ditangkap. Ikan dan angin itu adalah targetnya. Tetapi ikan dan angin jelas berbeda. Ikan berbentuk. Angin tidak berbentuk. Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak berbentuk dapat dikuasai oleh yang berbentuk? Bukankah ini logika berpikir yang dangkal?

Hal ini sama dengan iman. Dia tidak pernah berbentuk. Walaupun Yesus toh pernah bilang ‘iman sebesar biji sesawi’. Itu bukan bicara soal bentuk dan ukuran iman. Tetapi bicara soal iman yang sederhana namun berdampak cepat dan besar. Iman itu tidak berbentuk. Namun berdampak, mempunyai kekuatan, mengubah manusia-manusia yang berbentuk itu menjadi lebih bernilai. Inilah yang coba dikritik Yesus, mengenai “orang kaya yang bodoh” (Luk 12:13-21). Semakin dia menimbun hartanya. Maka pada saat yang sama, harta itu tidak akan berdampak bagi banyak orang.

Oleh karena itu adalah kesia-siaan, jika manusia ingin mendapatkan iman, tetapi dengan cara yang sama seperti orang ingin mendapatkan harta atau kekayaan. Iman bukanlah objek yang bisa dijaring sesuka kita. Dia tidak semudah dan segampang mendapatkan kekayaan atau harta. Lalu bagaimana mendapatkan iman? Sama seperti bagaimana bisa menjaring angin? Jawabnya adalah “bergeraklah”. Semakin orang bergerak, semakin dia merasakan (mendapatkan) angin. Dia boleh menjaring angin, tapi jangan pusatkan angin itu pada jaringnya. Ingin mendapatkan angin, maka pusatkan pada “gerakan” tubuh pada saat menjaring. Sama dengan iman. Kalau seorang ingin mendapatkan iman janganlah berharap seperti ingin mendapatkan harta. Tetapi tengok dan rasakanlah cinta kasih Tuhan itu dalam kehidupan. Maka pada saat yang sama, iman itu tidak jauh dari hidup kita. Dia melekat dalam diri kita.

Disinilah hikmat itu ditemukan. Hikmat selalu mengajak iman untuk terus dirasakan. Iman yang berdampak dan dirasakan. Iman yang memberi nilai kehidupan. Maka, adakah segala sesuatu itu adalah kesia-siaan? Tidak! Iman tidak pernah sia-sia.
Yoses Rezon S

     

28 Juli 2013
Doa : Kemurahan Yang Disambut Dalam Ketaatan
Kej. 18:20-32; Maz. 138; Kol. 2:6-19; Luk. 11:1-13

Jemaat yang dikasihi Tuhan ingatkah anda cerita tentang Sadrakh, Mesakh dan Abednego ketika mereka bersiap di lemparkan kedalam tungku api oleh Raja Nebukadnezar karena mereka menolak untuk menyembah patung emas yang dibuat oleh Raja, saat itu mereka berkata “jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami ….. tetapi seandainya tidak hendaklah tuanku mengetahui, ya raja bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Dan. 3:17-18)

Saudara, Barangkali kita sudah sering mendengar tentang kasih tanpa syarat. Kasih tanpa syarat ditunjukkan oleh orang tua kita kepada kita anak-anaknya. Mereka tetap mengasihi dan merawat kita tidak peduli seperti apa keadaan kita. Kasih tanpa syarat juga ditunjukkan oleh Bapa kita di Sorga. Anugerah keselamatan-Nya diberikan bukan karena kebaikan kita, namun semata-mata karena kemurahan-Nya. Tapi, pernahkah kita mendengar tentang doa tak bersyarat? Itulah doa yang dinaikkan oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego.

Doa tak bersyarat inilah yang seringkali kita lupakan ketika kita datang kepada Tuhan, kita seringkali memaksakan keinginan kita, memang Tuhan mengatakan bahwa kita boleh meminta apapun, namun ada berbagai hal yang seharusnya kita pahami sebagai anak-anak Tuhan tentang bagaimana seharusnya kita berdoa:

Pertama, Berdoa seperti yang Tuhan Yesus ajarkan, Yesus adalah Guru doa. Yesus mengerti benar apa itu doa dan bagaimana harus berdoa secara baik dan benar, doa bagi-Nya bukan sambilan, mengisi waktu kosong atau kalau sempat. Bukan! Doa merupakan dasar untuk menghayati kehidupan dan sikap peduli terhadap sesama, karenanya dia mengajarkan para muridNya untuk berdoa Bapa Kami (Luk. 11:1-13).

Kedua, ketika kita menaikkan Doa dihadapan Tuhan, kita diminta untuk tidak hanya memikirkan perkara-perkara duniawi saja. Doa seharusnya menjadi sarana bagi kita untuk mengucap syukur. (Kol. 2:6-7).

Ketiga, memiliki kerendahan hati, maksudnya adalah kita memahami betul bahwa setiap hal yang kita minta pastinya akan dijawab oleh Tuhan hanya saja bukan kehendak kita yang jadi melainkan kehendak Tuhan yang jadi, seperti yang diajarkan Yesus ketika Dia berdoa (Luk. 22:42).

Dari pembacaan Alkitab hari ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa–doa bukan hanya sekedar permohonan dan keintiman dengan Allah, tetapi juga sebuah ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, setiap permohonan yang dinaikkan melalui doa kepada Allah juga mesti dilandasi oleh ketaatan kepada kehendakNya. Doa yang seperti ini adalah doa yang “berhasil-guna” – akan dikabulkan dan akan mengubah kehidupan manusia, sehingga terbentuklah kehidupan doa yang sehat.
Wahyuki

 

21 Juli 2013
Tetap tegar di dalamNYA
Ul. 31:1-16, Mzm 55: 17-20;23, 1 Pet. 5:6-11, Mat. 6:25-34

Siapa sih diantara kita yang di dalam hidup ini belum pernah merasa kuatir ? Sadarkah kita bahwa kekuatiran bisa mengakibatkan seseorang menjadi tidak tegar di dalam hidupnya. Di dalam bacaan Matius 6: 25 – 34, disebutkan kepada kita bahwa kita perlu mawas diri jika kekuatiran melanda kehidupan ini. Perasaan kuatir itu wajar dan sangat manusiawi. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang hidupnya tidak pernah merasa kuatir. Perasaan kuatir di dalam batas-batas tertentu justru baik; sebab melalui perasaan itu kita belajar waspada. Tetapi sebaliknya, perasaan kuatir berlebihan tidak boleh terjadi jika hanya membuat kita tidak tegar atas kenyataan hidup ini. Kekuatiran yang berlebihan bisa memicu kita untuk memusatkan diri kepada sesuatu yang kasat mata saja (makanan, pakaian, jabatan, kekayaan, popularitas, kekuasaan) daripada mengarahkan hati & pikiran kepada Allah. Jadi jika ingin “bebas” dari perasaan kuatir yang berlebihan. Kita harus menyadari kehadiran Allah di setiap aspek kehidupan ini. Sebab Allah berkuasa untuk menundukkan segala kuasa yang mengancam kehidupan iman umatNya.

Sepanjang & selama kita mampu mengembangkan persahabatan dengan Allah. Kita akan diberikan kekuatan dan kemampuan di dalam mengatasi beragam “pergumulan” yang terjadi. Allah tidak pernah membatalkan janjiNya untuk mengasihi dan memelihara umatNya, seperti yang diungkapkan Musa ketika menyiapkan Yosua untuk menjadi pemimpin yang menggantikan posisinya & ketika memotivasi Israel bangsanya tatkala hidupnya mulai menyimpang dari kebenaran dan jalan Tuhan (Ul. 31:1-16).

Untuk menjadi tegar, kita tidak hanya belajar dari Musa, tetapi juga dalam bacaan 1 Pet. 5: 6-11, jika kita tidak membentengi diri atas teguran Allah, jika kita mampu merendahkan diri (fokus kpd Tuhan), Allah pasti membantu kita untuk mengatasi berbagai masalah yang mengkuatirkan. Kunci ketegaran kita bukan ditentukan dari jauh atau dekatnya kita kepada persoalan, bukan ditentukan dari rajin atau tidak rajinnya kita melayani Tuhan. Tetapi itu semua ditentukan dari seberapa jauh & dalami sikap kita menghayati kasih dan kebaikan Tuhan.

Oleh karena itu jika kita pernah mengalami kasih Kristus, dan kita mengakui Kristus sebagai Tuhan atas kehidupan ini, dan hati kita terpanggil untuk menjadikan Kristus sebagai pusat kehidupan ini, Allah di dalam janjiNya; pasti menghibur & menolong kita. Allah pasti mengaruniakan kita: kekuatan, keberanian & hikmat di dalam perkataan & perbuatan. Jadi mari kita jadikan karya Allah di dalam Kristus Yesus sebagai dasar dan inspirasi hidup ini. Percayalah bahwa Allah akan tetap membuat kita tegar di dalam kasih dan kebenaran firmanNya. Amin.

     

14 Juli 2013
Firman Dalam Hidup
(Ul. 30:9-14; Maz. 25:1-10; Kol. 1:1-14; Luk. 10:25-37)

Kita sering menyaksikan melalui media elektronik atau media cetak bagaimana para pemimpin politik maupun pemimpin agama yang tidak menjadi contoh dan teladan yang baik bagi umat; apakah mereka terlibat skandal korupsi, perselingkuhan, perceraian, dan pelanggaran hukum lainnya. Kita sebagai umat/masyarakat juga sadar/tidak, sedikit/banyak terlibat juga dari dosa tersebut. Kita terbawa dan terbentuk menjadi pribadi yang tidak peduli terhadap kesulitan atau penderitaan orang lain. Atau kita berbahagia dan menikmati kenikmatan dunia di atas penderitaan dan tangisan orang lain. Itulah fenomena kehidupan yang kita saksikan atau barangkali kita juga menjadi korban atau menjadi pelaku dosa tersebut.

Firman Tuhan yang di bahas Injil Lukas 10:25-37 hendak mengkritisi perilaku kelompok-kelompok masyarakat pada waktu itu yang seharusnya mereka menjadi garda terdepan mempelopori gerakan perilaku memanusiakan manusia. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, mereka menghindar dan tidak peduli dengan kesusahan orang lain dengan bermacam-macam alasan. Justru kelompok masyarakat yang sebenarnya tidak diperhitungkan untuk menjadi pelopor gerakan memanusiakan manusia, justru menjadi garda terdepan memanusiakan manusia. Orang Samaria peduli, menolong dan berkorban bagi sesama manusia. Inilah yang disebut gerakan perilaku memanusiakan manusia.

Orang Samaria bukanlah orang yang tahu dan paham tentang hukum Taurat, mereka sering dianggap orang kafir oleh orang-orang Yahudi, dan hukumnya najis jika orang Yahudi bergaul dengan orang Samaria. Namun dalam firman Tuhan ini justru orang Samaria yang dianggap demikian rendahnya oleh orang Yahudi, menjadi contoh teladan dan menjadi pelaku firman Tuhan “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Apa yang ia lakukan, ia lakukan dengan tulus ikhlas dan tanpa memandang latarbelakang si korban (dari suku mana, dari bangsa apa dll).

Apa yang dilakukan oleh orang Samaria ini menjadi pembelajaran sangat berharga bagi kita saat ini. Kalau kita mau jujur bahwa praktek ibadah/keagamaan kita bagaikan “gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing”. Artinya fenomena ibadah dan kehidupan keagamaan kita penuh semarak dan penuh dengan simbol-simbol keagamaan, namun miskin dan kosong perbuatan dan sikap yang benar, yang mencerminkan ibadah dan agama tersebut. Bahkan fenomena tersebut juga kita bisa gambarkan seperti manusia memiliki tubuh tetapi tidak punya jiwa dan roh. Lebih tepat lagi Yesus mempertegasnya dengan gambaran kehidupan keagamaan orang Yahudi seperti kuburan yang kelihatan indah dari luar, tetapi dalamnya penuh dengan tulang-tulang dan bau yang busuk.

Yang harus diwaspadai dalam kehidupan ibadah kita adalah jangan kita terjebak dengan kesemarakan, kemegahan dan keindahan ibadah kita, tetapi juga harus konsen pada kualitas ibadah itu sendiri/isinya. Kita harus berkomitmen untuk menjadi pribadi-pribadi yang berintegritas. Iman, perkataan, pemahaman tentang firman Tuhan harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Melalui pertolongan dan bimbingan Allah Roh Kudus, semoga kita dimampukan untuk hidup dan berperilaku sesuai dengan firman Tuhan.
RDL

 

7 Juli 2013
DIA Yang Memulihkan
(Yes 66:10-14; Mzm 66:1-9; Gal 1-16; Luk 10:1-11, 16-20)

Manakah yang benar “gereja menggarami dan menerangi dunia” atau “gereja digarami dan diterangi dunia”? Ya!! Harusnya, gerejalah yang menggarami dan menerangi dunia, karena itu adalah panggilannya. Sering digaungkan dan disuarakan. Namun toh harus diakui bahwa tatkala gereja menjadi bagian dunia, keberadaannya pun sering digarami dan diterangi dunia. Mengapa bisa demikian? Sebegitu kuat dan dasyatkah dunia sehingga mampu menghisap gereja? Ataukah memang gereja sudah lemah dan tak berdaya dalam melakukan panggilannya? Coba bayangkan kita, apakah mungkin karena dunia ini mampu memberi kita makan. Dunia mampu memberi kita pekerjaan & berkarya. Dunia mampu memberikan kita pasangan hidup. Dunia mampu memberikan kita kepandaian. Dunia mampu memberikan kita relasi dengan banyak orang. Apakah mungkin karena dunia memberikan semuanya yang kita perlukan, bahkan 24 jam non stop, menawarkannya pada anda dan saya, kita semua? Apakah karena itu?

Saudara, gereja tidak pernah didirikan oleh manusia-manusia yang dari dunia. Gereja berdiri oleh karena Kristus sendiri. Kristus yang turun ke dunia tetapi bukan dari dunia. Apakah Kristus pernah diam tatkala berhadapan dengan pertanyaan soal makan, pekerjaan, pakaian, uang, relasi, semua yang sama ditawarkan dunia? Tidak!! Justru Kristus menjawab kesalah-kaprahannya dunia yang selalu berpusat pada dirinya sendiri. Kristus menawarkan keindahan Kerajaan Sorga.

Kristus hadir kepada dunia yang tak pernah mengenal hidup kekal. Kristus datang kepada dunia tatkala TUHAN tidak pernah tinggal hati dunia. Maka Kristus jauh lebih dasyat dibanding dunia. Kristus lebih besar dari apa yang diberikan dunia. Dan bukankah disanalah gereja harus berdiri?

Gereja lebih kuat dan dasyat dari pada dunia. Gereja tidak pernah termakan oleh jaman dan usia. Gereja berpijak pada Kristus yang tidak pernah diam berhadapan dengan dunia. Hei!! Engkau gereja, masihkah engkau diam melupakan tugas panggilanmu? Hei!! engkau gereja, masihkah engkau apatis melihat dunia yang selalu menampilakan wajah ketidakadilan, kekerasan, permusuhan? Hei engkau gereja, masihkah engkau hilang pengharapan, walaupun Kristus menyertaimu??

Hei!! Engkau gereja, yang sedang membaca ini, bersukacitalah di dalam Kristus, dunia yang sakit ini membutuhkan engkau. Berkaryalah hei engkau gereja!!!
Yoses Rezon Suwignyo, S.Si. Teol.


     

30 Juni 2013
MENGIKUT YESUS DAN MENJADI PELAYAN-NYA
1 Raja-raja 19:13-21; Mazmur 16; Galatia 5:1,13-15; Lukas 9:51-62

Seorang “pengikut” tentulah orang yang selalu berjuang demi terlaksananya kehendak dan rencana sang pemimpin. Demikian juga dengan “orang Kristen”, atau “pengikut Kristus”, pastilah orang yang tidak berbuat menurut kehendaknya sendiri. Bukan pula orang yang tidak memiliki apapun untuk diperjuangkan (hanya menjalani hidup sebagai sebuah rutinitas yang tak berarah).

 Apakah sebagai pengikut Kristus kita sudah menjadi pelayan-Nya? Bagaimana kualitas pelayanan kita?

 Apakah kita sedang mutung, pundung, ngambek, jenuh, putus asa dalam pelayanan? Tuhan menegur Elia yang sedang mogok pelayanan : “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?”. Tuhan meminta Elia untuk meneruskan pelayanannya, dan memberinya tugas-tugas yang besar (1 Raja-raja 19:13-21)

 Apakah kita sedang sombong rohani karena merasa lebih baik daripada orang lain? Yakobus dan Yohanes merasa berhak menghakimi dan menghukum orang Samaria yang tidak membiarkan rombongan Tuhan Yesus melewati daerah Samaria. Tetapi Tuhan Yesus mengajar para murid dan kita untuk memberi kesempatan, kebebasan, dan tidak memaksakan kehendak kita kepada orang lain dengan kekerasan (Lks. 9:51-56)

 Apakah kita masih ragu-ragu untuk mengikut Dia? Firman Tuhan mengingatkan, agar kita tidak menunda-nunda kesempatan untuk menjadi pengikut dan pelayan-Nya, walaupun mungkin kita tidak mendapat fasilitas yang baik, dan bahkan mengalami penolakan. Kita harus melayani-Nya dengan segenap hati, mengutamakan, dan mendahulukan Dia di atas segala yang kita miliki (Lks. 9:57-62)

 Apakah kita mempunyai waktu untuk mendengar nasihat dan pengajaran Tuhan? Hendaknya kita selalu mendekatkan diri kepada-Nya, dan mempunyai saat teduh bersama-Nya, agar kita mempunyai hati nurani yang murni yang bersumber daripada Tuhan sendiri. Ia akan memberitahukan jalan kehidupan, memberi hidup yang kekal, senantiasa melimpahi kebahagiaan, sukacita dan nikmat yang berlimpah-limpah kepada orang yang setia kepada-Nya (Mzm. 16).

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan kasih dan pengorbanan Kristus yang telah memerdekakan kita dari dosa. Kita tidak mau kembali diperbudak oleh dosa, dan kita mau meneladani pengorbanan Kristus dengan melayani seorang akan yang lain dengan kasih (Gal. 5:1,13-15). Hanya kasih yang memampukan kita untuk mengalahkan egoisme, sehingga kita bersedia melayani dan berkorban bagi sesama.

Pelayanan adalah suatu anugerah, karena siapakah kita, sehingga boleh melayani Tuhan kita? Menolak pelayanan berarti menolak anugerah yang Tuhan berikan, dan menolak berkat kesempatan, karena belum tentu kita masih punya kesempatan yang lain. Kiranya Roh Kudus memampukan saya dan Saudara untuk senantiasa menghayati pengakuan iman kita kepada Kristus, menjadi pengikut-Nya yang setia, dan menghadirkan Kerajaan Allah di dalam dunia ini. Amin.
Nancy Hendranata

 

 

 

23 Juni 2013
SERUKANLAH SUARA KENABIANMU
Yes. 65:1-9; Mzm. 22:19-28; Gal. 3:23-29; Luk. 8:26-39

Beranikah setiap kita berdoa dengan sungguh-sungguh seperti nabi Yesaya yang mengalami sentuhan Tuhan dengan ucapan “Ini aku, utuslah aku” (Yes. 65:1). Mengapa seyogyanya setiap kita berani? Karena setiap kita pun telah mengalami sentuhan Roh Kudus yang ada di dalam hati kita masing-masing. Dengan kesiapan hati kita yang sudah didiami oleh Roh Tuhan maka setiap kita dimampukan untuk berkata-kata dan melaksanakan pesan Tuhan, perintah Tuhan dalam ucapan yang menghibur, ucapan yang berpengharapan, nasihat dan ucapan yang menyemangati bahkan kritikan membangun kepada keluarga, kepada saudara seiman dan masyarakat sekitar kita. Itulah suara kenabian kita yang sederhana dengan hati yang tulus dan berani bersaksi.

Dalam keadaan susahpun setiap kita diharapkan masih menyuarakan kenabian kita, bukan keluhan melainkan pengharapan dimasa mendatang. Hal ini serupa dengan pengalaman Daud yang dikejar raja Saul untuk dibunuh karena iri hati. Daud memohon pada Tuhan untuk tetap dekat, “Jangan jauh dari aku, Tuhan” (Maz. 22:20). Jadi sekalipun Daud sedang dalam kesusahan, dia tetap kuat dan tetap tegar bersama Tuhan. Demikian pula seyogyanya kita. Janganlah berjalan sendiri dalam menyerukan suara kenabian kita.

Dalam suara kenabiannya, rasul Paulus memberikan penjelasan kepada jemaat di Galatia, bahwa “… tidak seorangpun dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karunia iman dalam Yesus Kristus” (Galatia 2:16).

Artinya, orang dibenarkan dan diselamatkan hanya oleh karena iman. Jadi berimanlah, percayalah dan bersandarlah sepenuhnya kepada kasih karunia Yesus Kristus dalam karya keselamatan umat manusia. Demikian pulalah seyogyanya kita semua menyerukan suara kenabian kita tentang beriman kepada Yesus Kristus, bahwa Yesus itulah satu-satunya penolong kita yang sungguh, seperti yang sering dinyanyikan oleh anak sekolah minggu dalam suara kenabiannya yang masih kecil dan diberkati dalam nyanyian.

Suara kenabian kita bisa saja menyuarakan tentang seberapa besar nilainya keselamatan seorang manusia? Secara ekonomi kira-kira 5 milyar rupiah (=2.000 ekor babi x 50 kg/ekor x Rp. 50.000/kg). Itulah keselamatan yang diberikan oleh Yesus Kristus kepada seseorang yang dirasuk setan legion dan hasilnya orang tersebut selamat dan kemudian malakukan sura kenabiannya dengan cara pergi mengelilingi seluruh kota dan memberitahukan segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya (Luk. 8:39). Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk menyerukan suara kenabian kita masing-masing, amin.
BHS

 

16 Juni 2013
Suami Dan Ayah Yang Berharga Di Mata Allah dan Keluarga
Ul. 6 : 1 – 9; Maz. 1 : 1 – 3; Ef. 5 : 25 – 28; 6 : 4; Mat. 7 : 24–27

Penyelidikan menunjukan bahwa ada hubungan langsung antara figur ayah yang lemah dan masalah anak seperti karakter, perilaku, dan pencapaian. Karenanya, para ayah mesti belajar membuka diri pada Tuhan.

Firman Tuhan hari ini mengajarkan tentang peran penting ayah : peran Pertama - ayah harus memimpin selain dalam menyediakan kebutuhan fisik seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan perawatan kesehatan, dia juga harus memimpin keluarga / anak dalam terang Firman tentang bagaimana hidup selaras dengan Firman Tuhan. Kitab Ulangan 6 : 7 dan Pemazmur (Mazmur 1) menunjukan itu. Ia mesti suka akan Firman Tuhan.

Peran kedua, tidak hanya menjadi pemimpin, ayah, juga harus menjadi pengasih. Dia harus mengasihi istrinya dengan kasih yang tidak egois, mengampuni, suatu kasih yang seperti Kristus. Seseorang mengatakan bahwa hal terbaik yang bisa ayah lakukan untuk anaknya adalah menyatakan kasih Kristus kepada ibu mereka. Pemikiran ini Alkitabiah, sebab Rasul Paulus menasihati : “Suami kasihilah istrimu, seperti Kristus mengasihi gereja (Efesus 5:25).
Secara sederhana, ayah, setelah Tuhan sendiri, istri merupakan hal utama dalam hidupnya. Pada anak, hal ini akan memberikan mereka kepuasan dan keamanan yang tidak bisa disediakan dunia. Mereka mungkin akan menutup mata mereka saat ayahnya memeluk istrinya, tetapi ia akan berkata, “Ayah, begitu lagi.” Dalam hati mereka ada kepuasan. Mama dan papa saling mengasihi. Psikolog menyatakan bahwa orangtua yang menikmati hubungan penuh kasih memiliki prospek terbaik sebagai sumber bagi anak mereka dalam membangun pernikahan mereka kelak.
Selanjutnya, mengapa Rasul Paulus menasihati para ayah? “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan ” (Efesus 6:4). Nasihat itu diberikan karena ayah mereka cepat marah dan kasar pada anak. Aturan ayah yang kasar, hanya akan menghasilkan pemberontakan atau rasa tidak berharga dan tertolak. Proses mendidik sebenarnya tidak mudah, tetapi akan menjadi lebih mudah jika para ayah telah menjadikan Firman Tuhan adalah kesukaannya.

Peran ketiga adalah menemani. Itu tidak berarti melakukan semua yang dilakukan anak. Menemani di sini adalah sikap dengan setia, dapat dipercaya dan bersahabat dalam berelasi dengan anak.

Ketika dengan setia menemani itulah ayahnya sekaligus sedang menerapkan proses “Mengajarkan berulang-ulang, kapan dan dimana pun berada,” seperti undangan tugas bagi para ayah di Israel (Ulangan 6:7). Anak laki-laki secara khusus butuh kenal ayahnya. Ayah mewakili manusia apa dia nantinya – suami seperti apa nantinya terhadap istri, ayah yang seperti apa terhadap anaknya, penyedia kebutuhan seperti apa terhadap keluarganya, pemimpin seperti apa nantinya terhadap gereja, dan kesaksian seperti apa nantinya dia dalam dunia. Anak laki-laki perlu teladan untuk diikuti, model identifikasi diri, ayah yang bisa dibanggakan. Anak cenderung mengikuti pola yang sudah dibuat ayah dalam perkawinan. Anak perempuan juga butuh kenal ayahnya. Seorang anak perempuan belajar dari ayah tentang seperti apa pria itu. Ayah mewakili suami seperti apa yang akan bersamanya nanti, bapak dari anaknya yang seperti apa, figur otoritas seperti apa yang kepadanya harus tunduk. Telah diselidiki bahwa anak perempuan secara tidak sadar mencari suami seperti ayahnya.

Sungguh besar sekali peran ayah dalam keluarga, kita patut bersyukur atas kehadirannya dalam hidup kita. Marilah kita sebagai anak atau pasangan hidupnya, kita mendoakan dengan penuh kasih dan hormat, agar ia semakin menjadi Suami dan Ayah yang berhasil, baik sebagai pemimpin, pengasih, maupun teman/sahabat. Doa kami : “Ya Tuhan ajarlah mereka agar menjadi ayah / suami yang BERBAHAGIA, karena mereka berharga dimata Allah dan Keluarga. Amin.”

Paulus Kristian

 

9 Juni 2013
KASIH MEMBANGKITKAN DAN MENGHIDUPKAN HARAPAN
1 Raja-Raja 17:17-24; Mazmur 30; Galatia 1: 11-24; Lukas 7:11-17

Janda, dari jaman Elia sampai jaman Yesus, tetaplah sebuah status yang paling malang sedunia bagi seorang perempuan. Apalagi, kalau menjadi janda sebelum melewati usia subur, maka dia sama dengan seorang mandul dan dianggap suatu aib dan cela. Dalam bacaan kita Minggu ini, khususnya 1 Raja-raja 17:17-24 dan Lukas 7:1-17, mencatat peristiwa besar yang hampir sama. Dua tokoh utama yang muncul dari kedua bacaan itu adalah Janda di Sarfat dan janda di Nain. Dua janda ini, adalah dua manusia yang paling malang di dunia. Bagaimana tidak? Anak tunggalnya yang harusnya menjadi aset pensiunnya harus mati. Belum lagi, kesendirian hidup yang harus ditanggungnya sampai akhir hayatnya. Hidup dari santunan beberapa orang saja, itupun tak banyak orang yang mau berbagi. Maka lengkap sudah penderitaan hidup mereka.

Namun, penderitaan itu justru menjadi pijakan yang kuat untuk melihat karya Allah atas hidupnya. Anak janda di Sarfat dibangkitkan melalui Elia. Begitu juga, anak janda di Nain, dibangkitkan oleh Yesus. Janda itu mengucap syukur “Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kau ucapkan itu adalah benar” (1 Raj: 24). Bahkan orang banyak yang melihat peristiwa itu berteriak dengan gentar “Seorang nabi besar telah muncul ditengah-tengah kita”. Ada pula yang dengan rasa kagum berucap “Allah telah melawat umat-Nya” (Luk 7:16).

Ucapan-ucapan syukur itu memuat rumusan yang sama yaitu “Allah itu Mahakasih”, “Allah itu luar biasa”, “Allah itu tidak pernah meninggalkan umatnya”, “Allah itu berkuasa atas maut”, dll. Adalah sebuah kekaguman yang luar biasa. Apabila Allah dengan kasihnya mampu membangkitkan seorang yang sudah mati. Tetapi nampaknya, Allah tidak hanya ingin berbicara bahwa Dia mampu membangkitkan tubuh yang mati saja. Dia juga mau berbicara, bahwa Dia sanggup membangkitkan tubuh yang hidup, yang seringkali juga mati. Tubuh yang kehilangan harapan. Tubuh yang tidak mempunyai semangat. Dia sanggup membangkitakan, namun juga sanggup menghidupkan harapan.
Glori Halelluya!
Yoses Rezon Suwignyo, S.Si, Teol

     

2 Juni 2013
Kasih Tak Terbatas
1 Raja-Raja 8:22-23, 41-43; Mazmur 96:1-9, Galatia 1:1-12; Lukas 7:1-10

Setiap Agama tentunya mengajarkan tentang kasih, terkhususnya umat Kristiani tentunya pernah membaca atau setidaknya mendengar apa itu “Kasih” yang secara jelas digambarkan dalam 1 Korintus 13:1-8, namun ketika kita kembali kepada realitas kehidupan, ternyata sulit sekali bagi kita untuk menerapkan kasih itu dan seringkali kita mencari alasan untuk membenarkan diri ketika kita tidak melakukan kasih, contohnya : Seorang ibu mengatakan kepada anaknya yang berumur 5 tahun untuk tidak membagi bekalnya dan melarangnya bermain lagi dengan sahabatnya dengan alasan jika diberi bekal setiap hari nantinya sahabatnya itu jadi terbiasa, padahal sebab sebenarnya karena ibunya merasa tidak nyaman jika anaknya bergaul dengan sahabatnya ini, dengan alasan perbedaan ekonomi.

Kata “berbeda” bukankan ini yang seringkali menjadi alasan kita untuk tidak mengasihi orang lain, perbedaan yang dimaksud, baik dalam hal tingkat pendidikan, tingkat sosial, tingkat ekonomi, agama, suku, dsb.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita kembali untuk dapat mengasihi sesama dengan tanpa alasan atau bisa dikatakan tanpa batasan. Kasih yang tidak terbatas terhadap apapun, jadilah seperti Salomo yang mau menerima bahkan berdoa bagi orang-orang asing yang datang beribadah pada saat itu(1 Raja-Raja 8:22-23, 41-43), dan terutama contohlah Yesus yang adalah kasih itu sendiri (Galatia 1:1-5), kasih yang Dia tunjukan lewat sikap hidup, pelayanan dan pengorbanannya, dan itu dia lakukan untuk segenap manusia dengan tidak melihat perbedaan (Lukas 7:1-10).

Berkaitan dengan Hari Anak yang jatuh pada hari ini, sebagai orangtua yang diberi kepercayaan oleh Tuhan dengan ditipkan berkat yang luar biasa bagi kita, yakni anak-anak kita. Kita diingatkan untuk senantiasa mengajarkan dan menanamkan serta dapat memberi contoh hidup bagi anak-anak kita tentang kasih, kasih yang tulus, kasih yang tidak membedakan dan itu berarti mereka diajarkan untuk mengasihi dengan menyingkirkan segala batasan.

Sebagai anak, kita pun belajar untuk tidak lagi membeda-bedakan orang lain, belajar untuk tidak menjadi anak-anak yang egois, mulailah dari keluarga kita, kasihilah dan pedulilah terhadap orangtuamu. Dalam lingkungan sosial kita, kita belajar untuk tidak membuat kelompok-kelompok esklusif, tapi marilah belajar untuk merangkul sesama kita dengan kasih yang tak terbatas seperti yang Kristus lakukan.

Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk dapat mengaplikasikan Kasih tak terbatas ini dalam kehidupan kita hari lepas hari. Amin.
Wahyuki Ch

 

26 Mei 2013
Roh Hikmat Sang Penyata Diri Allah
Amsal 8:1-4, 22-31; Mzm. 8; Rom. 5:1-5; Yoh. 16:12-15

Dalam rangka hari Minggu Trinitas, maka dalam renungan ini bersifat Apologetika. Apologetika berarti memberikan penjelasan singkat tentang pengakuan iman kita kepada orang lain yang mempertanyakan pengakuan itu. Sering kita mendengar saudara-saudara sepupu kita bertanya tentang Allah orang Kristen itu ada tiga, atau Allah orang Kristen itu punya anak. Bagaimana mungkin Allah punya Anak? Itulah kira-kira pertanyaan dari mereka. Allah orang Kristen yang kita kenal dengan Allah Tritunggal adalah Allah yang unik, berbeda dengan Allah yang dikenal oleh iman kepercayaan lain. Allah sebagai pencipta segala sesuatu dan pemelihara hasil ciptaanNya sering disebut sebagai Allah Bapa. Allah penyelamat, penebus dosa, hadir dan melayani manusia di dunia sering kita sebut sebagai Allah Anak, yaitu Yesus Kristus. Allah yang hadir, tinggal di dalam hati kita dan membimbing kita, sering kita sebut sebagai Allah Roh Kudus. Roh Kudus yang kehadiranNya tidak kita lihat, tetapi dapat kita rasakan.

Bagi saudara-saudara sepupu kita atau kebanyakan orang sulit untuk memahami keunikan Allah Tritunggal. Mengapa mereka sulit memahami hal ini karena Allah yang Maha Besar, Maha Hebat, Maha Kuasa dipaksa masuk ke dalam pikiran manusia yang terbatas, dan yang penuh dengan kekurangan. Atau pikiran manusia yang terbatas, penuh dengan kelemahan dan kekurangan dipaksa untuk memahami Allah yang hebat, Allah yang tidak terbatas, Allah yang Maha Kuasa dll. Hasil akhirnya biasanya adalah Allah itu tidak masuk akal, karena tidak masuk akal, maka Ia bukanlah Allah. Bagi mereka yang dapat disebut Allah adalah Allah yang masuk akal. Itulah sebabnya kita sungguh patut bersyukur memiliki Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Allah yang unik, yang hanya dipahami, diterima dan diakui melalui iman, bukan melalui akal. Kita bersyukur memiliki Allah yang tidak masuk akal, sebab karena Allah yang tidak masuk akal itulah yang benar-benar disebut Allah. Dengan demikian Allah yang hanya dapat dipahami oleh akal membuktikan bahwa ia bukanlah Allah yang benar. Kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa pikiran kita sangat terbatas untuk memahami Allah Tritunggal. Sebagaimana pemazmur juga mengakui bahwa manusia yang di dalamnya memiliki hikmat dan kemampuan yang sangat terbatas untuk memahami pikiran, kehendak dan kedaulatan Allah. Mari kita mensyukuri Allah kita yang kita kenal dalam tiga pribadi yaitu Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Tuhan memberkati kita. Amin
Rindolos Sumaryo

 

 

19 Mei 2013
BERKATA-KATA DALAM ROH
Kisah 2:1-21; Mz. 104 : 24 – 35; Roma 8:14-17; Yoh. 14:8-17, 25-27

Siapa yang tidak tahu acara “Wisata Kuliner”? - Sang pembawa acara, Bondan Winarno piawai menceritakan kelezatan makanan yang dicicipinya, baik melalui kata-kata maupun ekspresi wajahnya. ( istilah top markotop, nendang, mak nyuss dll. ) Cerita dan ekspresi Bondan sering membuat para pemirsanya di depan televisi menelan air liur, dan berkata, “Wah, enak sekali makanannya! Di mana sih, rumah makannya? Saya juga ingin mencobanya.”

Sebagai jemaat, kita mempunyai tugas sebagai duta Kristus yang mewartakan berita sukacita. Tugas ini bisa kita jalankan bila kita bersama Roh Kudus. Lihatlah bahwa “pekerjaan yang besar” adalah buah dari kesaksian Jemaat mula-mula, sehingga 3000 jiwa bertobat. Di Minggu Pentakosta ini, tema “berkata-kata dalam Roh” mengingatkan kita :

PERTAMA ……. Kita sangat bergantung pada Roh Kudus; Setiap orang yang percaya, berkumpul – karena mereka bergantung sepenuhnya pada Roh Kudus. Karena itu mereka menantikan Roh Kudus. Mereka tidak bisa bersaksi tanpa Roh Kudus. R. Paulus menyebut orang percaya “sebagai anak Allah” (Roma 8:14-17) Sebagai anak, kita dididik untuk menyebut Allah sebagai Bapa. Seolah-olah Allah sendiri menaruh perkataan dalam mulut kita.

KEDUA …. Roh Kudus Memimpin jemaat pada Kebenaran; Tuhan Yesus menyebutkan bahwa Roh Kudus akan bersaksi tentang Kristus. Roh Kudus menolong para murid bersaksi dengan cara memimpin mereka dalam seluruh kebenaran. Roh Kudus akan membimbing kita mengenal dan mengasihi Yesus. Roh Kudus akan mengajar – segala sesuatu – agar insyaf akan dosa dan mendorong umat untuk mengakui dosa / bertobat. Roh Kudus akan memberitahukan apa yang benar, supaya setiap muridNya, hidup memuliakan Tuhan. Roh Kudus, hadir memberi semangat untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Kristus, bahkan yang lebih besar – seperti peristiwa 3000 orang bertobat.

KETIGA …. Berkata-kata dalam Roh, wujudnya adalah dalam perkataan kasih ; Mereka yang datang dari berbagai tempat, dapat mendengar orang Galilea yang kepenuhan Roh Kudus, berkata-kata dengan memakai bahasa mereka. Semua heran, dan sangat bersuka cita karena merasa diterima, dihargai dan diperhatikan. Salah satu wujud pimpinan Roh Kudus, adalah perkataan yang penuh kasih.

Jadi ketika kita menggantungkan diri kita pada Roh Kudus, Roh Kudus akan memimpin jemaat pada kebenaran dan salah satu wujudnya adalah perkataan kasih yang menjadikan kita Duta Kristus.

Melalui ketiga hal di atas, dengan talenta kita – yakni mulut kita, kita dapat menyampaikan perbuatan Allah yang besar yakni keselamatan berdasarkan pengampunan dosa. Berkata-kata yang berdampak – menyukacitakan, membuat orang heran : “ kok bisa ?”, sehingga yang mendengarnya ingin hidup bersama kita. Biarlah gereja Tuhan, makin piawai (lebih dari Bondan Winarno) untuk menceritakan “makanan lezat” yakni berita injil, sehingga orang ingin datang mencicipi dan akan ketagihan untuk HIDUP BERSAMA kita GerejaNya.

Marilah bawa hasil panen kita …. tidak harus jiwa-jiwa baru / orang percaya… cukup bila kita PANEN tentang NILAI-NILAI hidup dalam kasih yang bertumbuh subur … yang membawa PERUBAHAN HIDUP. Kita bawa kepada Tuhan sebagai tanda bahwa kita semua dipimpin Roh Kudus. Wujudkan terus berkata-kata dalam Roh Kudus hari ini sampai selamanya. Seperti kata pemazmur : “Aku hendak menyanyi bagi Tuhan selama aku hidup, aku hendak bermazmur bagi Allahku selagi aku ada ... pujilah Tuhan hai jiwaku … Selamat PANEN RAYA Pentakosta. Amin
Pdt. Paulus KM

 

12 Mei 2013
BEKERJA BAGI KEBAIKAN BERSAMA
Kis. 16:16-34; Mzm. 97; Why. 22:12-14,16-17,20-21; Yoh. 17:20-26

Pernah mendengar orang berkata : “Siapa elu?” (maksudnya : siapa kamu, sehingga saya harus memperhatikan kamu)? Walaupun kadang ucapan ini dilontarkan sambil bercanda, tetapi ini bisa menunjukkan keegoisan manusia, yang merasa tidak perlu menaruh perhatian, apalagi menolong orang lain yang tidak ada kepentingannya bagi diri kita.
Sebaliknya, ada berita di koran yang berjudul : “Repotnya Mengurusi Orang Pelarian. Bukan keluarga, bukan pula warga sebangsa. Namun orang-orang pelarian itu harus diurus“ (Kompas, tanggal 01 Pebruari, 2013). Seorang petugas berpangkat rendah Kantor Imigrasi Cilacap, bernama Triman, secara ikhlas melayani 19 para imigran dari Sri Lanka.

Bukannya menolong, manusia malah ada yang tega MENGEKSPLOITASI kehidupan orang lain (perempuan yang mempunyai roh tenung dikaryakan oleh tuan-tuannya), MEMFITNAH (karena penghasilan / kenyamanan terganggu), MENDERA, MEMENJARAKAN dan MEMASUNG (menyiksa, menghukum tanpa mengadili hanya karena memercayai perkataan orang banyak, takut tidak popular, kuatir dilengserkan). Dalam keadaan tersiksa amat sangat secara jasmani, Paulus dan Silas tidak stress / marah / kecewa, iman mereka tetap tak tergoyahkan, hati mereka tetap meluap dengan doa dan puji-pujian kepada Allah dan memberi kesaksian yang hidup bagi orang-orang hukuman lain. Apa rahasianya? Iman yang hidup, persekutuan mereka dengan Tuhan Yesus memberikan sukacita dan semangat yang tidak tergantung oleh keadaan apapun. Setelah pintu-pintu penjara terbuka dan belenggu terlepas, Paulus dan Silas bisa saja lari dan tidak usah peduli dengan orang lain. Tetapi Paulus dan Silas menyelamatkan nyawa kepala penjara, dan memberitakan Firman Tuhan kepadanya. Kepedulian dan kebaikan Paulus dan Silas ini menular juga kepada kepala penjara. Kepala penjara membawa mereka ke rumahnya, membasuh bilur mereka, menghidangkan makanan, dan membawa seisi rumahnya untuk percaya kepada Tuhan Yesus dan turut dibaptis.

Paulus dan Silas tidak menuntut balik pejabat-pejabat dan pembesar-pembesar kota -yang tanpa mengadili- telah mendera dan memenjarakan, bahkan Paulus dan Silas menyadarkan kesalahan mereka (Kis. 16:16-34). Memang kadang-kadang tidak mudah untuk terus bekerja bagi kebaikan bersama, tetapi ada Doa Tuhan Yesus yang selalu mendukung kita, dan Roh Kudus juga memampukan kita untuk selalu memuliakan Allah dan melakukan kebaikan bagi banyak orang. Kita tidak akan sanggup untuk terus berbuat kebaikan, kalau hanya mengandalkan kekuatan sendiri.

Tuhan Yesus selalu mendoakan, agar semua orang percaya hidup di dalam Kristus, menjadi satu dengan Kristus, mempunyai persekutuan yang hidup dengan Tuhan Yesus dan sesama, hidup saling mengasihi dengan kasih Kristus yang hidup di dalam diri setiap orang percaya. Tuhan Yesus berdoa tidak hanya untuk diri-Nya sendiri, tetapi juga bagi semua orang percaya. Ia selalu peduli, mengasihi, dan bekerja bagi kebaikan banyak orang (Yoh. 17:20-26).

Kita patut bersyukur dan bersukacita, bahwa Raja kita adalah Allah, bukan allah-allah yang lain, Tuan kita adalah Tuhan, bukan tuan-tuan yang lain. Tuhan adalah Raja yang penuh keadilan, kemuliaan, kekudusan, kekuasaan, yang mengalahkan para lawan-Nya. Tuhan telah datang untuk menghukum para penyembah berhala, allah-allah yang lain, pencari kenikmatan duniawi, orang-orang yang memegahkan diri. Ia akan memelihara orang-orang yang mengasihi Tuhan, melepaskan mereka dari penindasan orang fasik, menerangi hidup orang benar, dan memberi sukacita bagi orang-orang yang tulus hati (Mzm. 97).

Tidak perlu risau dan galau menghadapi kehidupan yang kacau balau, di mana hukum bisa dibeli, keadilan diputarbalikkan, karena Tuhan Yesus akan datang kembali. Ia adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir, yang menyaksikan apa yang telah diperbuat semua orang, sehingga pengadilan-Nya sungguh-sungguh adil. Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus disebut-Nya berbahagia, karena mereka menerima pengorbanan Tuhan Yesus yang membasuh dan menyucikan kehidupan mereka, sehingga mereka menerima kemuliaan, kekudusan, dan menikmati kehidupan kekal (Why. 22:12-14, 16-17, 20-21).

Kalau begitu, apakah percuma saja berbuat kebaikan? Firman Tuhan hari ini mengingatkan, bahwa Tuhan akan segera datang, menghukum orang fasik, dan memberikan hidup yang kekal kepada orang benar. Tidak ada yang percuma untuk berbuat kebaikan sekecil apapun, karena kebaikan itu juga memberi kesaksian iman yang hidup, menular, dan menggelinding semakin lama semakin membesar, sehingga membawa kebaikan yang lebih besar, dan terutama berbuahkan kehidupan yang kekal bagi banyak orang.

Nancy Hendranata

 

5 Mei 2013
KETAATAN SEBAGAI BENTUK KASIH
Kis. 16:9-15; Maz. 67:2-8; Wah. 21:10,22-22:5; Yoh. 14:23-29

Michelangelo Bounaroti adalah pematung, pelukis dan ahli bangunan dari Italy yang sangat tersohor pada zaman Renaissance. Michelangelao berkarya selama lebih dari 70 tahun dalam hidupnya. Karya terbesarnya adalah lukisan langit-langit kubah sentral aula Kathedral Sistine, seluas 500 m2. Lukisan dalam 9 thema yang dibingkai rangka konstruksi kubah diambil dari Kitab Kejadian tentang Penciptaan, gelap & terang, Matahari & Bulan, daratan dan lautan, Adam & Hawa, Allah memberi nafas kehidupan bagi Adam, Pengorbanan Nuh, Air Bah. Karya yang luar biasa ini dikerjakan selama hampir 5 tahun (1508-1512) dengan posisi kepala menengadah ke langit-langit. Lukisan yang sangat detil ini merupakan pengalaman rohani bagi Michelangelo yang luar biasa, dia meyakini hanya karena pertolongan Roh Kudus yang memberi inspirasi dan kemampuan baginya. Michelangelo melukis semua bagian dengan detil sampai di-tempat tempat yang tersembunyi dibalik konstruksi atap. Ketika orang bertanya kepadanya : “Mengapa anda harus melukis dengan detil pada bagian-bagian yang tidak tampak dari bawah ?” Dia menjawab : “Saya melukis bukan untuk dilihat manusia di bawah, tetapi untuk mata Allah yang di atas“. Micelangelo melayani karena kasihnya kepada Allah bukan untuk dilihat manusia.

Hanya ada satu ukuran Tuhan mengenai kasih umatNya kepada Tuhan yaitu : “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya”. (Yohanes 14:21) Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku….(Yohanes14:24) Kita sering salah mengerti tentang bagaimana kita mengasihi Tuhan, yaitu kasih sebatas perasaan dan pernyataan dalam ucapan atau pujian, sehingga kita sering bersikap setengah hati dalam iman kita. Tampaknya kita mengasihi dan melayani Allah, tetapi sesungguhnya kita sedang mengasihi dan melayani diri kita sendiri, karena kita melakukan semua itu supaya hidup kita diberkati Tuhan, supaya mendapat kemudahan-kemudahan dalam hidup atau tetap dalam pemeliharaan Tuhan.

Sedangkan Allah mencari orang yang menghormati-Nya dan tunduk pada perintah-perintah-Nya, merenungkan sifat-sifat-Nya dan berbicara tentang Dia kepada orang lain di dalam maupun di luar persekutuan dengan umat Allah. Dan yang utama terlibat dalam persekutuan dengan Allah sendiri secara terus menerus untuk mencari kehendak-Nya dalam hidup kita. Kita tidak hanya diminta untuk menerima dan membagikan Kasih Allah, tetapi juga membalasnya dengan ketaatan yang dilakukan dengan sukacita.

Jadi Kasih bukan sekedar emosi tetapi sebuah pilihan. Mengasihi berarti memilih untuk sabar, tidak mementingkan diri sendiri, tidak memegahkan diri. Dengan demikian kita dapat mengasihi orang lain walaupun kita mungkin tidak menyukai mereka, karena mengasihi berkenaan dengan sebuah pilihan. Tuhan tahu bahwa kita tidak dapat melakukan sendiri, oleh karena itu Dia mengutus Roh Kudus yang mengajar dan memampukan kita untuk menjalani hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. (Yoh. 14:26) Dengan pertolongan-Nya, kita dapat belajar mengasihi orang-orang yang tidak kita sukai, seperti Tuhan Yesus mengasihi kita sebagai orang berdosa. Mengasihi orang lain membutuhkan hati yang taat kepada Allah.

Kita akan tetap hidup dalam kehangatan Kasih Kristus apabila kita menaati perintah-Nya untuk mengasihi dan melayani sesama. Kasih kita kepada Allah tampak melalui kasih kita kepada sesama. Mengasihi Tuhan berarti taat melakukan Firman Tuhan. Apakah saya benar-benar mengasihi Tuhan ? merupakan pertanyaan refleksi kita.

Tonny Iskandar

 

28 April 2013
Saling Mengasihi Bukan Menutup Diri
Kis. 11:1-18; Maz. 148; Wah. 21:1-6; Yoh. 13:31-25

Kitab suci kita (Alkitab), diawali dengan kisah penciptaan langit dan bumi beserta segala isinya termasuk di dalamnya manusia. Segala sesuatu diciptakan Dia dan semua yang Allah ciptakan adalah “baik”.

Bagi kita manusia, kisah penciptaan adalah sebuah pernyataan bahwa semua suku bangsa dan bahasa berasal dari pencipta yang satu dan Allah yang satu serta nenek moyang yang satu (Adam dan Hawa).

Maka adalah sebuah pengingkaran terhadap hakikat penciptaan Allah jikalau manusia hidup hanya bagi dirinya, terlebih jikalau ia hidup lantas merendahkan sesamanya.

Tema kita minggu ini “Saling Mengasihi Bukan Menutup Diri”. Tema ini merupakan refleksi dari pernyataan bahwa siapapun kita, adalah ciptaan Allah.

Manusia sebagai ciptaan Allah selayaknya hidup dalam relasi saling mengasihi, saling menghargai, saling melayani, tidak menganggap diri lebih tinggi dari yang lain. Perintah untuk mewujudkan semua ini terungkap dalam Yohanes 3:13-35.)

Allah tidak membeda-bedakan ciptaan-Nya, Allah menghendaki agar semua menjadi pewaris kerajaan-Nya. Itulah sebabnya Petrus tidak diperbolehkan membeda-bedakan antara orang Yahudi dan orang non Yahudi (Kis. 11:1-8).

Bagi Allah pewartaan damai sejahtera mesti mencakup seluruh ciptaan. Terwujudnya damai sejahtera bagi semua ciptaan memungkinkan semua yang dicipta Allah itu memuji penciptanNya (Mazmur 148). Pada akhirnya Damai Sejahtera untuk semua ciptaan melahirkan kehidupan baru yang dirindukan ; Langit baru dan Bumi yang baru dimana ada keakraban antara Allah dan semua ciptaan dan semua ciptaan akrab dengan ciptaan yang lain. (Wahyu 21:1-6

Sakalda Rusung

 

21 April 2013
ANUGERAH HIDUP KEKAL DALAM PERSEKUTUAN DENGAN KRISTUS
Kis. 9:36-43; Mzm. 23; Why. 7:9-17; Yoh. 10:22-30

Iblis dan pembantunya sedang berjalan-jalan dan mengikuti seorang manusia berjalan, kemudian manusia itu berhenti, membungkuk dan mengambil sesuatu. Pembantu Iblis itu bertanya : “Apakah yang diambil manusia itu ?”, Jawab Iblis: ”Kebenaran”, “Apakah kamu tidak kuatir manusia mengambil kebenaran ?” tukas pembantu iblis. “O, tidak , karena manusia belum tentu percaya”

Bacaan Injil Yohanes 10:22-30. Pada saat Perayaan Pentahbisan Bait Allah (Perayaan Hanuka), merupakan peringatan kemerdekaan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Seleuka/Seleucid (Kaisar Antiocus IV Epiphanes) yang dipimpin oleh Yudas Makabe. Selama penjajahan Bait Allah dinajiskan oleh bangsa Seleuka menjadi tempat pemujaan dewa Zeus, dengan korban babi di pelataran dan ruang-ruang bait Allah dipakai untuk pelacuran. Yudas Makabe mentahbiskan Bait Allah untuk dikembali-fungsikan sebagai Rumah Allah. Yudas Makabe menjadi pahlawan pembebasan bangsa Israel. Kemerdekaan ini tidak berlangsung lama sampai Jenderal Pompei dari Romawi menaklukkan Israel. Orang Yahudi mendambakan Mesias seperti Yudas Makabe, yaitu manusia biasa yang diurapi Allah yang membebaskan Israel dari penjajahan melalui pemberontakan atau secara politis.

Orang Yahudi mendatangi Yesus di serambi Salomo dan bertanya apakah Yesus benar Mesias atau bukan. Yesus menjawab mereka: ”Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya, pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama BapaKU, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku” (Yoh.10:25). Mereka sudah menemukan kebenaran tetapi tidak mempercayai. Banyak orang Kristen yang sudah menemukan kebenaran Firman Tuhan, mengetahui, bahkan mempelajari melalui PA, Studi Teologia sampai strata III, tapi tidak mempercayakan hidupnya ke dalam kebenaran Firman Tuhan (hanya percaya sekedar ucapan). Sehingga hidupnya tidak diubahkan menjadi hidup yang menuruti kehendak Tuhan. Kebenaran bukanlah kebenaran jika tidak mengubahkan. Orang Kristen yang hidupnya tidak selaras dengan Firman Tuhan adalah Kristen munafik.

Tuhan Yesus mengatakan mereka bukan domba-dombaKU. “Domba-dombaku mendengarkan suaraKU dan AKU mengenal mereka dan mereka mengikut AKU”. Ini merupakan gambaran persekutuan yang intim dan melekat antara Tuhan dan umatNya “Hidup kekal ?, ya nanti kalau kita sudah mati”, kata-kata ini umum kita dengar dari mulut kebanyakan orang termasuk orang Kristen. Kata Yesus kepada Domba-dombaNya. Yoh.10:28 :”Dan Aku memberikan (bukan akan) hidup yang kekal kepada mereka (bukan nanti setelah mati) dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKU”.

Perkataan Yesus adalah kebenaran, Percayakah Anda ?, bahwa saat di dunia kita sudah dapat menerima Anugerah Hidup Kekal ?. Kehidupan Kekal semata-mata pemberian Allah, bukan dari usaha manusia, bukan kesalehan beragama, bukan pengetahuan tentang Firman Tuhan, bukan aktifitas pelayanan. Karena Hidup kekal bukan mengenai hal-hal jasmani yang fana, melainkan hal rohani.

Hati yang terbuka mengakui keberdosaan kita, pertobatan, menerima pengampunan melalui karya Salib Tuhan Yesus, menundukkan diri kepada Tuhan Yesus sebagai Raja atas hidup kita dan melalui pertolongan Roh Kudus bersedia diubahkan hati kita untuk menerima nilai-nilai hidup kekal yaitu hidup dalam kebenaran Tuhan, Kasih dan Damai Sejahtera.

Mazmur 23: merupakan kesaksian Daud sebagai domba-domba Tuhan, walaupun harus melewati lembah kekelaman, di hadapan musuh tetapi penyertaanNya kekal selamanya. Kesaksian Kisah para Rasul 9:36-43, mengenai seorang murid perempuan bernama Tabita yang taat kepada Tuhan, banyak sekali melakukan perbuatan baik dan menolong janda-janda miskin dengan membuatkan pakaian (diberi talenta sebagai penjahit). Menebar nilai-nilai kekekalan bagi sesamanya yaitu Kasih. Sehingga banyak orang berduka ketika Tabita meninggal. Tetapi Tuhan melalui Petrus membangkitkan Tabita untuk meneruskan pelayanannya kepada Tuhan, dan semakin memuliakan Tuhan.

Adolf Hitler adalah seorang yang paling mengerikan di dunia diabad 20, jutaan manusia dibunuh khususnya bangsa Yahudi. Namun dia selalu memamerkan kesalehan beragamanya melalui pidato-pidatonya yang berdasarkan Alkitab. Hitler selalu menunjukkan Alkitabnya yang lusuh, tanda seringnya dibaca, dengan maksud menarik simpati pihak gereja, yang saat itu sangat berpengaruh bagi rakyat Jerman. Namun perilaku Hitler sangat Anti-Kristus, dengan tindakan yang sangat kejam dan keji. Puncak dari sikap Anti Kristus adalah membunuh hambaNYA, teolog besar Dietrich Bonhoffer yang menentang Gereja dijadikan Gereja Negara yang menjadi alat politik dan provokasi Nazi. Dietrich Bonhoffer mengumpulkan dana untuk menolong orang Yahudi melarikan diri dari kejaran Nazi untuk dibunuh. Dietrich Bonhoffer Pada tanggal 9 April 1945 subuh, dihukum gantung di penjara Flossenburg. Sebelum menaiki tiang gantungan Bonhoeffer berlutut dan berdoa. Kesaksian dari dokter yang mendampingi terpidana mati : “Saya hampir lima puluh tahun berdinas, tetapi baru sekarang aku melihat orang yang menghadapi maut dengan sikap yang begitu pasrah kepada Tuhan”. Anugerah Hidup Kekal dari Tuhan sudah diterima oleh Bonhoffer, Damai sejahtera mengalahkan ketakutan. Dietriech Bonhoffer teolog Jerman terkemuka yang buku-bukunya sampai sekarang dibaca oleh mahasiswa teologia di seluruh dunia. 23 hari setelah hukuman mati atas Bonhoffer, kekuasaan Nazi runtuh, dan Hitler binasa bunuh diri bersama isterinya.

Renungan ini bukan hanya cerita tentang orang lain, tetapi cermin bagi kita, Apakah diri kita merupakan bagian dari Domba-dombaNya ?, atau bukan ?
Tonny Iskandar

 

14 April 2013
"Ratapan Yang Diubah Menjadi Pengakuan Iman"
Kisah 9:1-20, Mazmur 30:2-13, Yohanes 21:1-19

Karena masih dalam suasana kebangkitan Yesus, maka dalam renungan ini kita akan membahas apa yang dialami oleh para murid setelah Yesus bangkit.

Pertama, Kebangkitan Yesus telah mengubahkan ratapan, kesedihan, ketakutan menjadi sukacita dan pengakuan iman. Ketika Yesus menampakkan diri berkali-kali kepada para murid, apakah bersifat pribadi atau kelompok, selalu ada luapan kekaguman dan luapan sukacita. Mereka dikuasai oleh damai sejahtera yang Tuhan berikan. Thomas adalah salah satu murid, sangat meragukan dan mempertanyakan kebenaran kebangkitan Yesus, tetapi ketika Yesus menjumpainya, maka Thomas pun akhirnya mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah.

Kedua, Kebangkitan Kristus mengubahkan kegagalan menjadi keberhasilan. Ketika para murid dihantui rasa takut dan ketidakjelasan mereka memutuskan untuk pergi menjala ikan di danau Galilea. Semalaman mereka bekerja keras, namun mereka tidak mendapatkan apa-apa. Ketika Yesus menampakan diri kepada mereka dan Yesus berkata tebarkan jalamu di sebelah kanan perahu, maka merekapun mendapat ikan yang sangat banyak. Dalam perikop ini mau menjelaskan bahwa Simon Petrus seorang murid yang pernah gagal, menyangkal Yesus, seorang pengecut, namun perjumpaannya dengan Yesus telah mengubahnya menjadi pribadi yang berani dan sungguh-sungguh mencintai Tuhan dan jemaat. Tuhan memakai Petrus yang pernah gagal itu menjadi alat Tuhan yang luar biasa. Melalui Petrus gereja Tuhan hadir di kota Yerusalem diawali dengan pencurahan Roh Kudus dan 3000 orang bertobat.

Ketiga, Kebangkitan Kristus mengubahkan Saulus seorang penganiaya pengikut Kristus menjadi pelayan Kristus. Saulus seorang pejuang sejati mengikuti dan mentaati aturan hukum Taurat. Saulus adalah seorang yang dikuasai oleh kebencian dan kemarahan pada pengikut Kristus. Baginya pengikut Kristus harus dilenyapkan karena ajarannya sesat, menyimpang dari isi hukum Taurat.

Dengan mandat dari Makamah Agama Yahudi Saulus menangkap, memenjarakan dan membunuh para pengikut Kristus. Dalam perjalanannya ke kota Damsyik, Yesus menampakan diri kepada Saulus dan berkata: Saulus … Saulus mengapa engkau menganiaya Aku? Perjumpaannya dengan Kristus yang bangkit telah mengubahnya menjadi pribadi yang penuh kasih kepada Tuhan dan kasih kepada manusia. Seluruh kehidupannya ia persembahkan untuk Tuhan dan untuk jemaat.
Tuhan memakai Paulus yang memiliki latarbelakang gelap menjadi seorang rasul yang mendirikan banyak gereja di Asia Kecil sampai ke Eropa. Rasul Paulus berkata: Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.

Keempat, kebangkitan Yesus telah memberikan pengharapan di tengah penderitaan dan penganiayaan. Itulah sebabnya jemaat perdana di Yerusalem dan di Asia Kecil mereka tetap setia, taat dan terus memberitakan Injil meskipun mereka mengalami penganiayaan hebat. Yesus yang bangkit memberikan semangat dan pengharapan yang baru bagi jemaat perdana untuk terus memberitakan Yesus yang bangkit ke seluruh dunia.

Pertanyaan untuk kita semua yang hidup di dunia modern ini adalah apa bukti bahwa Yesus benar-benar bangkit bagi hidup saudara secara pribadi? Kiranya pertanyaan menjadi perenungan kita sehingga kita mendapatkan sesuatu yang sangat berharga melalui Kristus yang bangkit. Tuhan memberkati kita. Amin
RDS

 

7 April 2013
"Perjumpaan Yang Menakjubkan"
Yes. 25:6-9; Maz. 114; 1 Kor. 5:6-8; Luk. 24:13-49

Manusia begitu disibukkan mengejar berbagai keinginannya. Ia mengejar sukacita, kegembiraan, kesehatan, umur panjang, kelimpahan, dan kehormatan. Manusia sampai diperbudak dunia oleh keinginan-keinginannya itu. Dengan mengejar hal-hal duniawi, menghalalkan segala cara, berbuat dosa, manusia seperti maju dan berkembang. Padahal itu kemajuan yang semu dan kosong. Karena ragi dunia lah yang berkembang. Dosa dunia itu seperti ragi yang bertumbuh dalam hidup kita. Ia mengembangkan adonan hidup kita dengan kekosongan di dalamnya (1 Kor. 5:6-8).

Allah sungguh rindu berjumpa dengan kita. Ia memanggil kita ke gunung Sion untuk berjumpa denganNya (Yes. 25:6-9). Ia memang menjanjikan sukacita, kegembiraan, kesehatan, umur panjang, kelimpahan, kehormatan bagi semua bangsa yang mau mengenalNya. Tetapi bukan itu yang utama. Yang terutama Ia mau kita berjumpa denganNya, mengenalNya secara pribadi, dan mengasihiNya dengan segenap hati kita.

Oleh sebab itu Allah memanggil umatNya keluar dari perbudakan dunia (Maz. 114). Ia membawa umatNya ke tempat yang kudus, ke tempat kekuasaanNya. Dan peristiwa itu dahsyat. Yesus Sang Mesias harus menderita, disalibkan, mati, dan dikuburkan. Tapi syukur kepada Allah, kubur menjadi kosong karena Kristus sudah bangkit. Hidup kita semua yang percaya kepadaNya berkembang dalam Kristus. Hidup kita menjadi seperti roti yang tidak beragi. Padat dan penuh dalam kemurnian dan kebenaran.

Perjumpaan kita dengan Yesus membuka pengertian kita tentang isi Alkitab (Luk. 24:27, 45-47). Tentang kebenaran. Tentang kerinduan Allah. Tentang rencana Allah menyelamatkan kita. Tentang tugas kehidupan kita. Kehidupan kita bukan lagi mengejar-ngejar keinginan kita duniawi itu, melainkan mengabarkan kerinduan Allah kepada kita anak-anakNya untuk berjumpa denganNya secara pribadi. Mengajak kita keluar dari perbudakan dunia, dan menapaki gunung Sion. Gunung keselamatan Allah.

Perjumpaan murid-murid dengan Yesus yang sudah bangkit memang menakjubkan. Maka hidup kitapun akan menakjubkan apabila hidup kita diisi setiap saat dengan perjumpaan dengan Allah. Melalui pertobatan dan pengampunan dosa, maka kita dilayakkan untuk berjumpa denganNya. Dan hidup kita berada di gunung Sion bersamaNya. Itulah hidup yang sejati dan menakjubkan.
AL

 

31 Maret 2013
"DIA SUNGGUH BANGKIT"
Yes. 65:17-25; Maz. 118:1-2;13-23; I Kor. 15:19-26; Luk. 24:1-12

Tema hari ini, mengajak kita untuk merenungkan kembali : apa dampak paskah, apa pengaruhnya dalam hidup kita jika kita percaya : Dia, sungguh bangkit ?! Karena ada pertanyaan penting dan mendasar dalam kisah kebangkitan Yesus yang dicatat Lukas :“Mengapa kamu mencari Dia yang hidup di antara orang mati?” (Lukas 24:5).

Pembelajaran kita pada firman Tuhan hari ini, yang :

Pertama, paskah mengajak kita untuk mengoreksi diri : Mengapa banyak di antara kita yang tetap mencari Yesus di antara yang dapat binasa? Banyak yang memang memandang Yesus, sebagai yang paling agung, paling mulia dan memuliakan manusia, yang pernah hidup, namun hanya sampai “dimakam-Nya”, hanya sampai pada Yesus mati. Lihatlah bahwa - banyak orang merasa memiliki alasan yang sangat logis untuk menjadi pesimis, takut, putus asa, hidup di bawah bayang-bayang kematian. Memang banyak persoalan yang setiap saat datang menghampiri umat Tuhan, namun di sinilah makna kebangkitan Kristus dipertanyakan.
Adalah sebuah ironi apabila begitu bersemangat mempertahankan doktrin iman kebangkitan Yesus namun, kenyataannya tidak mampu mengatasi persoalan hidup yang menderanya. Ironis, menyatakan “Yesus bangkit” namun mudah terpuruk dan dikalahkan oleh masalah hidupnya. Ia memilih jalan pintas, jalan kematian! Adalah hal aneh jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Yesus bangkit mengalahkan kuasa dosa dan maut, namun orang itu tetap hidup dan menikmati dosa.

Kedua, pesan paskah sekaligus menjawab : Ia, Yesus sungguh Bangkit! Ia adalah Yang Hadir, Yang Hidup untuk menolong kita agar bisa hidup. Itulah makna kebangkitan yang sebenarnya dari Yesus. Lihatlah, para murid yang berjumpa dengan Yesus yang bangkit, mereka mengalami kebangkitan itu. Dahulu mereka mengurung diri dalam kamar terkunci. Kini, mereka berani keluar. Bahkan tidak hanya itu, mereka kini berani menghadapi tantangan. Mereka berani bersaksi dan meneruskan berita Injil Yesus Kristus!

Luar biasa, itulah dampak kebangkitan! Kehidupan yang menandakan bahwa murid-murid tidak berada dibawah kuasa maut lagi. Rasul Paulus menyatakan : “Jika Yesus tidak bangkit dan hidup kembali, sia-sialah iman kita sebagai umat Kristen, dan kita masih berada di bawah hukuman dosa kita” (1Kor. 15:17).

Ketiga, karya kebangkitan Kristus, adalah karya kreatif Allah, dalam menciptakan kehidupan yang baru. Seperti yang dinyatakan dalam kesaksian Yesaya 65:17 “Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit baru dan bumi yang baru, hal-hal yang dahulu tidak diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati.” Melalui kebangkitan Kristus, kuasa maut telah dikalahkan.

Meyakini Yesus yang bangkit tidak cukup dengan membuktikannya secara ilmiah, melainkan kebangkitan itu berdampak dalam kehidupan umatNya, nyata dalam kata dan sikap. Berani bangkit menghadapi masalah, tantangan bahkan kematian sekali pun dan bangkit meninggalkan dosa sekalipun dosa itu sering kali nikmat.

Sebuah kisah, inspiratif : Ketika musim semi tiba dan bunga-bunga mulai bermekaran di halaman kami, putra saya (usia 5 tahun) membenamkan kakinya ke petak tanaman bunga daffodils. Ia melihat sisa-sisa tanaman yang mati dari bulan-bulan sebelumnya dan berkata : “Bu, ketika aku melihat bunga kering ini, aku jadi teringat Yesus yang mati di kayu salib.” Saya menjawab : “Benar, dan ketika ibu melihat bunga daffodils yang indah ini, Ibu teringat akan Yesus yang bangkit kembali!”

Selamat merayakan Kebangkitan Yesus, Selamat Bangkit, Selamat Paskah!
Pdt. Paulus Kristian M

     

24 Maret 2013
"Ketaatan untuk Menderita (Pra Paska VI)"
Yes. 50:4-9; Mzm. 118:1-2, 9-29; Flp. 2:5-11; Luk. 19:28-40

Hidup menderita atau susah bukanlah cita-cita setiap orang, tetapi sebaliknya hidup senang, bahagia, sukses adalah dambaan atau harapan semua orang. Iman Kristen berbicara lain, bahwa penderitaan/ memikul salib adalah bagian dari panggilan dan kehendak Allah. Tuhan Yesus berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Memikul salib adalah konsekuensi dari iman kepada Yesus. Ketika peristiwa penangkapan Yesus di taman Getsemani, Yesus diadili, disiksa, disesah dan disalibkan; para murid berlari pontang panting meninggalkan Yesus. Bahkan Simon Petrus pun sampai menyangkal Yesus tiga kali. Hal ini membuktikan bahwa para murid pada waktu itu tidak siap menanggung konsekuensi dari imannya. Tidaklah mustahil pada masa kini, di dunia modern ini umat Tuhan, gereja Tuhan dapat melakukan hal yang sama seperti Simon Petrus dan para murid yang lain karena tidak siap menanggung resiko dari imannya kepada Tuhan Yesus.

Kesetiaan dan ketaatan Yesus dalam menghadapi penghinaan, penderitaan, penyiksaan dan penyaliban di bukit Golgota adalah model dan contoh yang sangat sempurna sebuah ketaatan dan kesetiaan pada kehendak Allah. Yesus yang adalah Allah sendiri, datang ke dalam dunia menjadi sama seperti manusia, menjadi hamba serendah-rendahnya, taat sampai mati.

Akibat kesetiaan dan ketaatan Yesus dalam penderitaan itu, maka manusia mendapatkan keselamatan dan pengampunan dosa. Bukan hanya itu saja, tetapi Allah meninggikan Dia di atas segala-galanya, semua penguasai di atas langit, dilangit dan diatas bumi, di bawah bumi berlutut di hadapan Yesus, semua lidah mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan.

Bagaimana caranya supaya kita tetap taat dan setia pada Tuhan Yesus di tengah dunia yang penuh dengan dosa dan kejahatan ini?

Pertama: Mazmur 119:9 Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan FirmanMU. Percaya dan yakin akan janji Firman Tuhan bahwa Ia akan menolong, memulihkan dan mengangkat. Ia tidak akan membiarkan kita jatuh tergeletak. Percayalah bahwa dibalik awan yang gelap dan menakutkan akan muncul pelangi/ pertolongan dari Tuhan.

Kedua, jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri. Fokus pada Tuhan, mengarahkan harapan dan tumpuannya hanya kepada Allah. Tidak mengandalkan manusia, atau lingkungan disekitarnya, dan tidak dipengaruhi oleh situasi dan kondisi di sekitarnya. Itu berarti juga doa yang tidak mengenal lelah, bosan dan putus asa terus disampaikan kepada Tuhan.

RDS

 

17 Maret 2013
"PEMBERIAN CINTA"

(Yes 43:16-21; Mzm 126; Flp 3:4-14; Yoh 12:1-8)

Apa alasan orang memberi? Ada banyak alasan, tapi ada salah satu kemungkinannya adalah karena cinta. Karena cinta, seseorang mau memberikan apapun kepada yang dicintainya, dan kalau bisa yang terbaik yang diberikannya. Alasan inilah mengapa Tuhan mau memberikan yang terbaik bagi manusia. Ketika bangsa Israel terus menerus melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, maka Tuhan menghukum, dan menghajar mereka dengan masa pembuangan di Babel. Pada akhirnya bangsa Israel dipulihkan dan dibawa kembali oleh Tuhan ke negeri mereka. Nenek moyang mereka juga pernah dibuang ke negeri Mesir, dan dibebaskan pada peristiwa Keluaran. Mengapa Tuhan mengampuni dan memulihkan mereka? Bukankah lebih baik dan lebih efektif kalau Tuhan menghapuskan mereka, dan menciptakan suatu bangsa yang sama sekali baru? Itulah kasih setia Tuhan yang tiada taranya kepada manusia. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan tetap senantiasa memerhatikan, memelihara, menolong, memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat. Tuhan tetap setia kepada perjanjian-Nya, bahwa Tuhan akan menebus mereka (Yes 43:16-21). Pemberian cinta Tuhan telah dinyatakan-Nya kepada bangsa Israel, dan kepada kita. Kita sudah diampuni dan dipulihkan dengan pengorbanan nyawa Tuhan Yesus di atas kayu salib. Ia akan terus menyatakan pemberian cinta-Nya kepada kita sampai selamanya.

Kita tidak bisa bergantung penuh kepada siapapun, karena manusia memang terbatas dalam segala hal. Jika suatu saat kita mengalami masalah kehidupan yang berat, dan kita sudah tidak bisa berharap pertolongan kepada manusia, kita mempunyai Tuhan -yang penuh cinta kasih- yang akan melakukan segala perkara besar bagi kita. Di dalam Dia senantiasa ada pengharapan, dan hanya Tuhan sajalah yang mampu menolong untuk keluar dari segala permasalahan kita (Mzm 126).

Rasul Paulus dapat merasakan kasih Tuhan Yesus yang begitu besar dalam hidupnya. Keselamatan yang dari Tuhan Yesus itulah yang paling perlu dan yang terpenting dalam hidupnya. Segala kenikmatan dan kesuksesan duniawi yang dulu dimiliki dan dibanggakannya, sekarang menjadi tidak ada artinya, bahkan sebagian justru menjadi kerugian baginya. Karena itu ia mau membalas pemberian cinta Tuhan Yesus itu dengan pemberian cinta yang juga terbaik, yaitu persembahan waktu, tenaga dan seluruh hidupnya bagi pelayanan Injil Yesus Kristus. Ia ingin, agar semua manusia juga dapat ikut menerima keselamatan yang daripada-Nya (Flp 3:4-14).

Maria meminyaki kaki Tuhan Yesus dengan setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, dan menyekanya dengan rambutnya. Segala yang sangat berharga (minyak narwastu dan rambut kepala) tidak disayangkannya untuk diberikan kepada Tuhan Yesus, dan itupun bagi Maria hanya pantas untuk bagian kaki-Nya (Yoh 12:1-8). Kalaupun manusia memberikan apa yang terbaik, itupun belum cukup untuk membalas pemberian cinta Tuhan Yesus kepada kita. Meskipun demikian, Tuhan sangat berkenan menerima persembahan yang kita berikan dengan hati yang rela, hati yang meluap-luap dengan penuh syukur dan cinta kasih.

Sebentar lagi kita akan merayakan Paskah. Paskah bukan hanya suatu selebrasi (perayaan), tapi juga suatu aksi (perbuatan). Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk melakukan tindakan nyata untuk memberi dengan cinta dalam berbagai bentuk aksi Paskah, dan aksi-aksi seterusnya dalam hidup kita.
Nancy Hendranata

     

10 Maret 2013
"PENGAMPUNAN ITU MEMULIHKAN "
Yos 5:9-12, Maz 32, 2 Kor 5:16-21, Luk 15:11-32

“…… Ampunilah kami, seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami…….”, kata ini bukanlah sebuah kata asing dikalangan umat Kristiani. “Doa Bapa Kami”, doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, dasarnya jelas karena Tuhan sudah mengampuni kita, maka kita pun diminta untuk mengampuni sesama kita. Namun ternyata dalam praktek kehidupan, kita merasakan sulit sekali untuk mengampuni orang lain, kita lebih mudah menciptakan dan mempertahankan konflik, begitu banyak konflik yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, pekerjaan, keluarga, bahkan dalam pelayanan.

Perikop bacaan kita hari ini kembali mengingatkan kita akan pentingnya sebuah pengampunan. Pengampunan yang dilakukan berdasarkan kasih akan membawa kita pada sebuah pemulihan hubungan, kita dapat melihat dari perjalanan bangsa Israel dan juga cerita mengenai anak yang hilang, disitu kita melihat bagaimana Allah yang juga adalah Bapa kita, begitu mengasihi umat-Nya. Meskipun banyak hal yang membuat Dia berduka atas tindakan kita, namun Dia seringkali mengampuni kita. Pemazmur mengatakan ada tiga hal tindakan Allah yang sering Dia lakukan kepada manusia, yaitu : Mengampuni, Menutupi, dan Tidak memperhitungkan.

Ketiga hal ini lah yang seharusnya menjadi pegangan di dalam kehidupan kita, ketika kita memaknai bahwa kita ini adalah ciptaan baru di dalam Tuhan, itu berarti kita diminta membuang kehidupan lama kita (iri hati, dengki, dan segala pikiran negatif), kita diminta untuk berani. Berani untuk putus hubungan dengan pikiran-pikiran negatif kita yang nantinya akan membawa ke dalam dosa, berani untuk melakukan apa yang benar dimata Tuhan dan berani untuk memberikan pengampunan, belajar untuk tidak menyimpan kesalahan sesama kita, melainkan ampunilah setiap orang yang bersalah kepada kita. Sadarilah bahwa kita tidak sempurna, kita pun sering melakukan kesalahan, jadi kita tidak punya hak untuk menghakimi orang lain dengan memendam segala ketidak-sukaan kita pada sesama. Kiranya kasih Tuhan memampukan kita untuk melakukan pengampunan bagi sesama kita sehingga pemulihan bisa terjadi dan damai sejahtera bisa kita rasakan. Amin.
UQ


 

3 Maret 2013
"Pencarian akan Tuhan Mendatangkan Pertobatan "
Yes. 55:1-9; Mzm. 63:2-9; 1 Kor. 10:1-13; Luk. 13:1-9

Biasanya kita berempati pada seseorang yang menderita sakit kronis dalam waktu yang lama, bertahun-tahun. Ia telah berobat kemana-mana, mulai dari obat modern, obat tradisional sampai dengan obat alternatif, masih belum sembuh juga. Ia telah memohon dan berdoa tiap waktu juga belum ada jawaban dari Tuhan tentang kesembuhannya, bagaimana rasanya ya? Kalau sudah tidak tertanggung lagi, ingin mati saja rasanya.

Demikian juga waktu bangsa Israel hatinya jauh dari Tuhan, di dalam pembuangan, dijajah oleh bangsa lain, sudah kehilangan jati diri bangsa, harga dirinya sudah terinjak-injak. Mereka melakukan ritual ibadah setiap saat, tapi Tuhan diam. Apakah Tuhan tidak berkenan? Betul, Tuhan belum berkenan untuk ditemui sekalipun oleh umat pilihanNya yang telah berseru-seru kepadaNya, mengapa? Hati mereka jauh dari Tuhan dan mereka belum menyesuaikan rancangan dan kehendaknya dengan rancangan dan jalan Allah. Mereka perlu dan harus bertobat terlebih dahulu. Bertobat artinya mereka perlu menyesuaikan rancangan dan kehendaknya dengan rancangan dan jalan Allah, bukan sekedar ritual ibadah saja atau sekedar berbakti ke gereja saja, melainkan hati kita setiap saat perlu dimurnikan, diperbaharui supaya dapat menyelaraskan dengan kehendak Tuhan (Yesaya 55:1-11).

Bila kita meyakini dan penuh kerinduan akan pertolongan Allah yang penuh dengan kasih setia dan adil, kita bersandar dan hati kita lekat pada kasih setia dan keadilanNya, niscaya Allah akan menyelamatkan kita dari penderitaan dan ancaman lainnya (Mazmur 63:2-9).

Sekali lagi, bertobat berarti menyadari kesalahan, lalu memutuskan untuk berbalik, dan tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Sebagian dari kita rajin ke gereja bahkan sebagai pemimpin umat tapi mungkin tidak menghasilkan buah-buah iman, itu sama dengan buah ara yang tidak berbuah sekalipun sudah dirawat dan diberi pupuk. Oleh karena itu, siapapun kita, marilah kita bertobat setiap hari, menyelaraskan rencana kita dengan rencana Allah, tanpa kecuali sampai menghasilkan buah-buah iman. Amin (Lukas 13:1-9).

BHS

     

24 Februari 2013
"JANJI SELAMAT TUHAN YANG DIBALAS DENGAN KEJAHATAN "
Kej. 15 : 1-12, 17-21; Maz. 27; Fil. 3 : 17- 4 : 1; Luk. 13 : 31-35

Bergaul dengan Tuhan, pasti membawa kebaikan bagi kita manusia. Tidak demikian dengan bangsa Israel, kendati nenek moyang mereka adalah Abraham yang begitu beriman kepada Tuhan. Bangsa Israel bersikap buruk terhadap Tuhan yang memberikan janji-Nya untuk menyelamatkan mereka. Ketika Abraham belum mempunyai anak seorang pun, ia percaya, bahwa janji Tuhan pasti akan digenapi pada waktunya. Memang benar, sebab Tuhan menggenapi janji-Nya kepada Abraham ketika ia berusia 100 tahun. Tak sebatas itu tujuan Tuhan menghadirkan anak bagi Abraham, sebab kelak melalui keturunannya yang berjumlah seperti bintang di langit dan pasir di tepi laut, begitulah jumlah keturunan Abraham. Tak berhenti sampai di situ, sebab melalui bangsa Israel janji Tuhan untuk menghadirkan Sang Mesias pun dinyatakan. Sebagai wilayah negeri Israel, Tuhan menjanjikan wilayah yang sangat luas dari sungai Mesir (Nil) hingga sungai Efrat (ayat 18). Dalam sejarah, wilayah ini tergambar pada bendera Republik Israel masa kini, berupa dua buah garis berwarna biru mencolok sebagai lambang kedua sungai itu dengan bintang Daud (segi enam) di tengahnya. Sebuah wilayah yang meliputi lebih dari 10 buah negara pada dewasa ini dan Israel berambisi untuk menguasainya.

Kendati Israel mendapat janji Tuhan itu, namun mereka tidak menyambutnya dengan baik. Tercatat, bahwa para nabi dan utusan Allah dianiaya dan dibunuh oleh mereka. Ancaman untuk membunuh Tuhan Yesus pun datang mula-mula dari Raja Herodes Antipas, seorang keturunan Esau, cucu Abraham, kemudian juga disusul oleh para orang Farisi dan ahli Taurat. Maka Tuhan Yesus menubuatkan akan terjadi kematian-Nya di kota Yerusalem. Nyata, bahwa janji Tuhan untuk menyelamatkan, dibalas dengan kejahatan mereka.

Sama halnya, perkara ini juga dialami oleh Rasul Paulus yang memberitakan berita keselamatan kepada siapa pun yang mau percaya kepada Tuhan Yesus. Ia meneguhkan iman jemaat Filipi, agar mereka tetap tegar menghadapi para seteru salib Kristus, seraya mengingatkan, bahwa kewargaan orang Kristen ada di dalam sorga. Kendati di dunia ini tidak nyaman, kita mengetahui, bahwa jika kita hidup dekat Tuhan, maka kita pun akan merasa aman. Hal itu diungkapkan oleh pemazmur 27, ketika ia menyebut Tuhan sebagai Pelindungnya, saat terancam musuh yang hendak `memakan dagingnya’, sehingga bersama Tuhan ia merasa aman, baik di rumah, bait, pondok, maupun di kemah Tuhan.

Sebagai orang Kristen abad XXI, hendaknya kita sadar, bahwa kehidupan kita di dunia ini memang tidak nyaman. Ada saja pengalaman orang Kristen yang didesak dan dipojokkan oleh pihak-pihak tertentu. Sama halnya, sebagaimana pesan Rasul Paulus kepada jemaat Filipi, begitulah pesan itu berlaku bagi kita, mengingat kewargaan kita pun ada di dalam sorga. Perkara penting yang harus kita sikapi adalah, bahwa Tuhan telah berbuat baik kepada kita, balaslah Dia dengan sikap beriman kita kepada-Nya. Begitulah semestinya kita menyikapi kehadiran Tuhan Yesus, Juruselamat kita, dengan penuh syukur. Kita jangan meniru sikap bangsa Israel terhadap Tuhan. Amin.

Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

17 Februari 2013
"Pengakuan Iman yang Mendatangkan Syukur "
Ul. 26:1-11; Maz. 91:1-2, 9-16; Rom. 10:8-13; Luk. 4:1-13

Manusia memerlukan pengetahuan, hikmat, dan kecerdasan untuk dapat hidup di dunia ini. Begitu banyak permasalahan yang dihadapi. Mulai dari ancaman yang menakutkan, kebutuhan sehari-hari, sampai pada cita-cita kehidupan yang mulia dan berhasil. Semua membutuhkan pengetahuan.

Orang Israel mengenal dan takut akan Allah, dan itulah akar semua hikmat dan pengetahuan mereka. Mereka tahu Allah lah yang mengangkat derajat mereka dari pengembara di Aram, budak di Mesir, menjadi bangsa yang menetap, kuat dan merdeka (Ul 26:5-9). Allah meluputkan dan membentengi setiap orang yang hatinya melekat kepadaNya. Kemudian Allah sendiri yang memberikan semua kelimpahan dari bumi di mana mereka bermukim sebagai bangsa merdeka ini. Maka semua ini mendatangkan sujud syukur dan bersukaria (Ul 26:10-11).

Semua itu diperoleh karena orang Israel taat kepada Firman Allah. Firman itulah yang bisa memberikan hikmat dan kecerdasan bagi mereka yang taat kepadaNya. Begitu pentingnya peran Firman Allah dalam kehidupan manusia sehingga meskipun Yesus lapar, Ia mengutamakan Firman Allah. Manusia tidak hidup dari roti saja, tetapi dari Firman Allah yang hidup. (Luk 4:4).

Iman kepada Allah berarti mengenaliNya sebagai Allah yang melindungi keselamatan kita (Maz 91:14-16). Iman kita itu membuat Firman Allah dekat kepada kita, dan mulut kita dan dalam hati kita. Melalui Firman itu, kita mengakuiYesus adalah Tuhan yang sudah bangkit dari antara orang mati (Rom 10:8-9).

Allah memang menyerahkan bumi ini dan seluruh isinya bagi manusia untuk dipelihara dan dikelola. Untuk itu manusia mendapat kuasa dan mandat. Tetapi kekuasaan manusia ini berasal dari Allah. Karena iman itu berarti mengakui hirarki kekuasaan dan sumber otoritas pada Allah. Hanya melalui penyembahan kepada Allah, maka manusia bisa mendapat mandat untuk mengelola kehidupan ini. (Luk 4:8).

Yesus memperingatkan kita untuk tidak memperlakukan Firman Allah sekedar teks untuk dibaca atau dijadikan alat kekuasaan. Firman Allah untuk dihidupi dalam perbuatan. Kita harus mencerna Firman Allah dan menelannya sebagai makanan rohani. Betul bahwa perlindungan Allah termasuk mengirimkan malaikat-malaikat untuk menatang kita yang terjatuh (Maz 91:11-12).

Tetapi kita tidak boleh mengendalikan, memperalat, dan mencobai Allah (Luk 4:9). Firman Allah itu untuk dilakukan, bukan untuk dimanipulasi demi memuaskan keinginan atau keperluan kita. Kita ada di bawah otoritas Firman, bukan sebaliknya.

Jadi pengakuan iman kita bahwa Yesus adalah Tuhan kita membuka jalan bagi hati kita untuk melekat pada Firman Allah. Dan Firman Allah itu menuntun dan mencerdaskan hidup kita dalam menghadapi berbagai ketakutan, memenuhi kebutuhan hidup, dan menjalankan tugas menguasai dan memelihara bumi ini. Pengakuan kita akan kuasa Allah menjadi sumber kuasa kita dalam kehidupan ini. Maka hidup kita menjadi penuh berkat, kuasa, dan pemeliharaan dari Allah. Sehingga pengakuan iman kita mendatangkan syukur yang mendalam.
AL

 

10 Februari 2013
" Melihat KemuliaanNya, Melanjutkan KaryaNya "
Keluaran 34:29-35; Mazmur 99:1-9; 2 Korintus 3:12 – 4:2; Lukas 9:28-43)

Betapa eratnya hubungan antara pengalaman iman seseorang dengan isi kehidupannya. Contohnya R. Paulus, di Galatia 2:20 ia berkata :”Namun aku hidup tetapi bukan aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup dalamku…” Karena sekarang Kristus telah menguasai hidupnya, ia mengisi hidupnya bagi Kristus. Jadi betapa pentingnya “melihat” atau “mengalami” kemuliaan Tuhan, itulah yang akan mengubah kehidupan seseorang sama sekali.

Perubahan itu nampak dalam dua peristiwa : pertama adalah Transfigurasi Kristus adalah peristiwa di mana Yesus dimuliakan di gunung. Yesus bertemu Musa dan Elia dan disaksikan oleh Petrus, Yohanes dan Yakobus (Lk 9:28). Kedua terjadi di jaman Musa (Kel 34), ketika Musa menyaksikan kemuliaan Allah di Sinai. Masing-masing peristiwa “kemuliaan Allah” di atas, telah mengubah orang-orang yang menyaksikannya.

Transfigurasi meninggalkan bekas yang menyegarkan dan menguatkan.
Ini adalah pelajaran yang begitu indah : bahwa dalam kekalutan, marilah kita “naik ke gunung untuk berdoa”, sehingga kita akan mendapatkan kekuatan dalam menghadapi gelombang kehidupan dan bahwa di balik peristiwa yang menyedihkan maka perjumpaan dengan Yesus membawa kita pada kemenangan. Kekalutan dan keletihan hidup digantikan dengan kelegaan (Mat. 11:28), kegelapan digantikan terang, dan ketidakpastiaan digantikan dengan harapan yang kuat, karena Kristus adalah jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:6). Pengalaman spiritual yang begitu mengesankan ini, sungguh membekas di hati Petrus. Petrus pernah menyatakan : “Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus.” (2 Pet. 1:18) Pengalaman bersama dengan Yesus dalam kemuliaan-Nya seharusnya terpatri dalam hati seluruh umat beriman, sehingga dapat menjadi oasis yang menyegarkan dan menguatkan kita, ketika kita sedang menghadapi pencobaan-pencobaan kehidupan.

Kita dimampukan untuk memancarkannya kemuliaan Allah pada dunia.
Allah membiarkan Musa melihat cahaya kemuliaan ilahi ini. Kemudian terjadilah : ”Pada waktu Musa turun dari Gunung Sinai, . . . kulit mukanya memancarkan sinar (Kel. 34:29). Kemuliaan Allah yang sama mengubah Petrus yang sedih menjadi berbahagia. “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” (ay. 4).

Kita juga pernah mengalami kebahagiaan karena Tuhan, dan kemudian kita ingin agar saat-saat itu tidak berakhir. Namun Tuhan tidak menghendaki kita menahan berkat, tetapi meneruskan berkat. Karena itulah Petrus dan kawan-kawan mendengar suara “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” (ay. 5). Suara ini menyadarkan mereka bahwa waktu selanjutnya bukan hanya untuk berdiam diri di atas gunung dan melupakan tugas mereka. Mereka harus mendengarkan Yesus, Sang Mesias, untuk menyatakan Sukacita dan Kasih Allah pada dunia dengan resiko penderitaan yang harus dialami-Nya.

Memuliakan Allah adalah dengan hidup jujur dan benar, seperti dalam 2 Kor. 4:1, 2, kita membaca, ”Karena kami mendapat tugas pelayanan ini . . . , kami menolak hal-hal tersembunyi yang memalukan, tidak berjalan dengan kelicikan, juga tidak memalsukan firman Allah, tetapi dengan membuat kebenaran itu nyata.” Pelayanan yang memantulkan kemuliaan Allah tidak hanya melalui apa yang mereka ajarkan, tetapi nyata melalui cara hidup.

Allah memberikan roh ketekunan kepada orang-orang yang bersedia memantulkan kemuliaan-Nya. Ia menjawab doa-doa kita dan memberi kita hikmat untuk mengatasi cobaan. (Yak. 1:5) Terlebih lagi, Allah tidak membiarkan kita mengalami cobaan yang melebihi kekuatan kita. Jika kita percaya kepada Allah, Ia akan memberikan jalan keluar agar kita dapat terus memantulkan kemuliaan-Nya (1 Kor. 10:13).

Dosa merupakan penghalang umat untuk menyataan kemuliaan Allah.
Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus, bahwa kegagalan memantulkan kemuliaan Allah terjadi bila kita masih hidup di dalam dosa. Dosa menjadi selubung yang membuat dunia tidak dapat melihat kemuliaan Tuhan dalam kehidupan murid-muridNya. Berbaliklah kepada Tuhan (2 Kor. 3 : 16), dan Allah melalui pengampunan yang diberikan-Nya, menyediakan kemuliaan-Nya hadir dalam kehidupan kita untuk menjadi SAKSI. Karena itu, marilah kita menyediakan hari untuk merendahkan diri, bahkan disetiap hari hidup kita, kita datang kepada-Nya. Kiranya semakin sempurna kemuliaan-Nya hadir dalam hidup kita.
Amin.

 

 

3 Februari 2013
" Roh Dan Kasih Tuhan Memberanikan Kita Menyatakan Kebenaran "
Yer. 1:4-10; Maz. 71:1-6; I Kor. 13:1-13; Luk. 4:21-30

Yeremia 1:4-10 “Yeremia dipanggil dan diutus”. Ketika Tuhan memanggil Yeremia untuk melayaniNya sebagai seorang Nabi, Apa Jawab Yeremia ? : “Ah, Tuhan Allah, sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda “. Demikian juga dengan Musa dan Yunus ketika dipanggil Tuhan untuk melayani, mereka mulai berdalih untuk lari dari panggilan Tuhan. Kita sebagai orang Kristen, sering ketika ada panggilan untuk melayani, berbagai alasan keluar dari mulut kita seperti :”tidak punya talenta” atau “tidak punya waktu” dan lain sebagainya. Ketika kita diperhadapkan pada suatu panggilan, maka kita merasa betapa ketidak-sempurnaan kita, ketidaklayakkan kita untuk dapat melayani Tuhan. Tuhan tidak memakai orang-orang yang hebat yang sudah merasa layak untuk melayani Tuhan, karena tidak ada seorangpun yang cukup layak melayani Tuhan dengan kekuatan dan kemampuan diri sendiri. Hanya orang yang rendah hati dan menerima Kasih Karunia Tuhan yang dipakai Tuhan seperti Maria yang berkata: ”Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu”. Maria hanyalah gadis desa yang sederhana, dia bukan aktifis, dia bukan seorang pemimpin, dia bukan sarjana Theologia. Menyambut panggilan Tuhan hanya dengan kerendahan hati dan kasih kita kepada Tuhan. Talenta dan Waktu memang bukan milik kita (buktinya tidak bisa kita simpan atau di hemat-hemat), tetapi semua itu pemberian Tuhan dan Dia berhak mengambil kembali. Bagaimana jika keduanya diambilnya dari kita ?

Mazmur 71:1-6, merupakan doa dan pengalaman seseorang di masa tua tentang penyertaan Tuhan yang setia, sebagai tempat perlindungan, tempat perteduhan dan pertahanan, karena kepercayaannya sejak masa muda kepada Tuhan yang hidup.

“Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama” (1 Korintus 12:7). Tidak ada seorangpun yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, yang tidak dikaruniakan pernyataan Roh. Karunia-karunia roh diberikan untuk saling melayani. Setiap orang yang bersedia melayani Tuhan, pasti diberikan penyataan Roh, walupun dalam rupa-rupa yang berbeda tetapi dikerjakan oleh satu Roh yang sama.

Jadi kalau ada orang Kristen yang mengatakan bahwa dirinya tidak dikaruniai Roh Kudus, sama seperti hamba yang menerima satu talenta dan menanamnya ke dalam tanah. Maka kata tuannya :”Hai engkau hamba yang jahat dan malas”, dan satu talenta itu diambil dari padanya dan diberikan kepada hamba yang setia, Hamba itupun dilemparkan ke tempat yang gelap seperti Yunus di dalam perut ikan pada saat Yunus lari dari panggilan Tuhan.

Karunia Roh Kudus bermuara dari Kasih dan Kemuliaan Allah, bukan dari tingkat kerohanian seseorang. 1 Korintus 13:1-13. Paulus menegur jemaat Korintus, yang berpendapat bahwa karunia-karunia Roh sebagai tanda tingkat kerohanian seseorang, sehingga seseorang yang menerima karunia-karunia Roh Kudus menganggap dirinya lebih suci dari orang lain (sombong rohani). Mereka melayani tidak berdasarkan Kasih dan kemuliaan Tuhan, melainkan demi kemuliaan diri sendiri. Paulus mengatakan bahwa itu adalah hal yang sia-sia jika semua itu dilakukan tanpa Kasih.

Kita sering menilai diri kita atau orang lain secara lahiriah daripada Roh Kudus yang bekerja dalam diri orang percaya. Karena hanya pekerjaan Roh Kudus yang memampukan orang percaya mengenal kebenaran dan menyatakan kebenaran. Inti dari kebenaran adalah. “Yesus adalah Tuhan, KelahiranNYA, KematianNYA, KebangkitanNYA untuk keselamatan manusia oleh karena besarnya Kasih Allah akan dunia ini”

Injil Lukas 4:21-30, merupakan kemarahan orang-orang yang mendengar Proklamasi Perjanjian Baru (Lukas 4:18-19), bahwa Yesus adalah penggenapan nubuatan Nabi Yesaya, Dialah Mesias yang dijanjikan Allah bagi dunia. Mereka yang mendengar ada yang menerima kebenaran Allah, karena mengenal Firman Allah, tetapi ada yang menolak karena mereka mengenal Yesus secara lahiriah “sebagai anak Yusuf, si tukang kayu” dan merekapun marah ingin membunuh Yesus dengan melemparkan dari tebing. Tetapi Yesus berjalan melewati mereka dan pergi.

Respon kita terhadap panggilan Tuhan sering dikuasai oleh hal-hal yang lahiriah, sehingga menutupi suara Roh Kudus. Hanya dengan kerendahan hati kita memberi tempat untuk Roh Kudus bekerja dalam hidup kita. Roh Kudus adalah Roh Kebenaran (Yoh.14:17), Dan diam untuk menyertai kita untuk menuntun kita kepada kebenaran Tuhan (Yoh.14:18) dan menjadikan hidup kita bermakna melalui panggilanNYA.

Pertanyaan perenungan kita : Bagaimanakah kita merespons panggilan Tuhan ? Apakah kita sudah hidup selaras dengan panggilan Tuhan ? Apa buktinya ? Amin.

Tonny Iskandar

 

27 Januari 2013
Menjadi Umat Tuhan Yang Terbuka Pada Firman-Nya
Neh. 8:1-10; Maz. 19:1-15; 1 Kor. 12:12-31; Luk. 4:14-21

Firman Tuhan sering kita pahami sebagai roti hidup yang dapat memberikan kehidupan iman kita. Kitab Mazmur 19:2-15, kita paham betul bahwa firman Tuhan itu dapat menyegarkan jiwa, memberikan hikmat, menyukakan hati, membuat mata bercahaya, dan orang yang mentaati firman mendapat upah yang besar dari Allah.

Sekalipun kita sudah paham dengan jelas soal ini, namun yang sering menjadi persoalan kita pada umumnya adalah sikap kita terhadap firman Tuhan; baik ketika kita mendengar firman melalui khotbah, atau membaca firman sendiri. Dalam Injil Lukas 4:14-21, kita menjumpai sikap orang terhadap firman Tuhan yang disampaikan oleh Yesus. Pada mulanya mereka terheran-heran melihat dan mendengar Yesus menjelaskan isi kitab suci. Namun akhirnya mereka menolak firman Tuhan itu dan mengusir Yesus dari tempat ibadah itu. Mengapa mereka menolak dan mengusir Yesus, karena firman yang disampaikan oleh Yesus tidak sesuai dengan pemahaman, konsep, dan harapan/keinginan mereka. Bukan itu saja firman yang disampaikan Yesus terlalu keras dan terlalu tajam mengkritik mereka lihat ayat 25-30. Mereka lebih percaya pada pemahaman, konsep dan harapan/keinginan mereka daripada percaya pada firman Tuhan.

Bagaimana dengan sikap kita terhadap firman Tuhan yang kita dengar dan kita baca? Apakah sikap kita seperti orang-orang Israel pada zaman Yesus, yang menolak firman dan mencela pembawa firman karena firman yang disampaikan tidak sesuai dengan pemahaman, konsep dan harapan kita? Atau kita hanya mau menerima firman yang cocok dan sesuai dengan pemahaman, keinginan dan harapan kita saja?

Kitab Nehemia 8:1-10, memberikan cerita lain. Orang Israel pada zaman Nehemia memiliki sikap yang sangat terbuka terhadap firman Tuhan. Ketika imam Ezra membacakan dan menjelaskan kitab suci mereka memperhatikan dengan seksama dan sukacita meskipun mereka sambil berdiri dari pagi sampai siang hari. Mereka pun menangis setelah mendengar firman yang disampaikan. Mereka menangis karena selama ini mereka hidup tidak taat pada firman Tuhan, dan sekarang mereka mengerti firman dan mau hidup sesuai dengan firman itu.

Bagaimana dengan sikap kita saat ini? Apakah tanah hati kita seperti tanah yang subur? Biarlah kita memiliki sikap seperti orang Israel pada zaman Nehemia dan sikap seperti Daud dalam Mazmur 19:12 yaitu sikap siap dikoreksi, diperingatkan, ditegur oleh kebenaran firman Tuhan, meskipun itu menyakitkan dan tidak sesuai dengan keinginan kita. Daud meyakini bahwa orang yang berpegang dan taat pada firman Tuhan akan mendapat upah yang besar. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk memiliki hati yang terbuka terhadap kebenaran firman Tuhan. Amin
RDS

 

20 Januari 2013
" ALLAH YANG MEMPERLENGKAPI UMAT UNTUK KARYANYA "
Yesaya 62:1-5, Mazmur 36:6-11, 1 Korintus 12:1-12, Yohanes 2:1-11

Sulitnya mencari anggota jemaat yang bersedia untuk melayani di gereja, baik sebagai penatua, pengurus komisi, panitia, pelayan kebaktian Minggu, dan lain-lain, seringkali menjadi keluhan yang umum kita dengar. Anggota jemaat (khususnya mereka yang belum pernah sama sekali terlibat dalam pelayanan), yang diminta terlibat dalam pelayanan itu, kebanyakan menjawab tidak bersedia. Salah satu alasan ketidaksediaan itu adalah karena merasa tidak bisa, atau tidak mampu melakukan pelayanan yang dipercayakan kepadanya. Alasan ini memang sulit dibuktikan. Bisa jadi, hal ini hanya sekedar untuk menolak panggilan itu. Padahal, kenyataan menunjukkan bahwa mereka yang sekarang ini secara aktif melayani pun, dahulu – dan selalu – memulainya dari ketidakmampuan.

Tuhan sebagai Kepala Gereja yang telah menyelamatkan umat manusia, memanggil kita semua untuk terlibat dalam karyaNya. Setiap manusia yang lahir di dunia ini sesungguhnya ada dalam rencana Tuhan. Tentu saja, dasar panggilan-Nya bukan kerena kemampuan manusia; bukan karena kita hebat, kaya, pintar, ataupun prestasi, tetapi semata-mata karena Anugerah-Nya. Karena, Jika Tuhan memanggil manusia untuk terlibat dalam karya-Nya, maka Tuhan pula yang akan memperlengkapi setiap orang percaya agar mampu melaksanakan tugas yang Tuhan percayakan.

Dengan pelbagai cara Tuhan memperlengkapi orang percaya. Penggembalaan, pembinaan-pembinaan, bahkan aktifitas pelayanan itu sendiri juga merupakan alat Tuhan untuk memperlengkapi orang percaya.

Tuhan sudah mempersiapkannya sebelum kita lahir apa yang harus diperbuat. Kita sudah diperlengkapi untuk melakukan apa yang menjadi karyaNya. Karya yang sudah Tuhan persiapkan, pastinya akan memberi dampak baik bukan hanya untuk diri kita tapi juga bagi orang lain. Dan karena Allah sudah mempersiapkan jauh sebelumnya, maka sekarang juga kita bisa melakukan apa yang Allah sudah rencanakan dalam karyaNya, jadi jangan pernah menundanya.
Wahyuki

 

13 Januari 2013
"KEMULIAAN ALLAH DINYATAKAN DALAM SOLIDARITASNYA"
Yes. 43:1-7; Mzm. 29; Kis. 8:14-17; Lks. 3:15-17, 21-22

Salah satu tujuan digelarnya Festival Malam Jakarta -pada malam pergantian tahun tanggal 31 Desember 2012 yang lalu- adalah untuk mewujudkan rasa solidaritas di antara masyarakat di Jakarta yang terdiri dari banyak suku dan agama. Pesta rakyat itu dinilai sukses, karena memang pada kenyataannya rakyat dapat bergembira bersama, berbaur dari berbagai kalangan, baik rakyat biasa-pejabat, tua-muda, pria-wanita, kaya-miskin, warga lokal-pendatang, maupun warga asing (Kompas, tanggal 02 Januari 2013).

Jabatan, kedudukan, kekayaan, kepandaian, atau kelebihan lainnya, seringkali menyebabkan terbentuknya sekat-sekat sosial. Perbedaan status sosial ini bisa membuat seseorang lebih dimuliakan / ditinggikan / dihormati. Orang-orang yang dimuliakan ini akan mendapatkan berbagai prioritas, kemudahan, dan menikmati fasilitas yang lebih daripada orang lain. Karena itu mereka biasanya akan berusaha mempertahankan “kemuliaan” duniawinya ini, dan bahkan banyak orang yang berusaha untuk mendapatkannya dengan berbagai cara.

Kalau ada orang yang dimuliakan, dengan sendirinya ada orang lain yang harus direndahkan untuk dapat memuliakan orang itu. Padahal, Firman Tuhan mengajarkan, bahwa Allah sendiri yang menciptakan, membentuk, dan menjadikan semua manusia. Manusia sudah memberontak kepada Allah, terbelenggu dalam dosa, berada dalam kekuasaan iblis, tetapi Allah sendiri telah menebus mereka. Allah yang telah menyelamatkan, dan memberi semua keberhasilan hidup. Semua orang percaya adalah berharga di mata Tuhan, mulia, dikasihi, dan disertai oleh Tuhan. Manusia diciptakan untuk kemuliaan Allah (Yes. 43:1-7). Kalau begitu, mengapa ada manusia yang menganggap dirinya lebih mulia, sehingga pantas untuk dimuliakan oleh orang lain?

Hanya kepada Allah -Sang penguasa alam semesta- sajalah kita pantas sujud dan memuliakan nama-Nya. Hanya Dia yang sanggup memberi kita kekuatan, berkat, dan sejahtera (Mzm. 29).

Lalu, siapakah yang boleh datang kepada-Nya? Semua suku bangsa, tanpa kecuali. Mereka yang menjawab panggilan Tuhan, dibaptis dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, mengakui segala dosanya, bertobat, dan mengalami pembaharuan hidup (Kis. 8:14-17).

Tuhan Yesus juga dibaptis, walaupun Ia adalah Manusia tanpa dosa, Anak Allah. Ini adalah wujud solidaritas-Nya kepada manusia yang berdosa, menempatkan diri-Nya bersama-sama dan menjadi sama dengan manusia, sekaligus menegaskan kerendahan hati-Nya. IA-pun mendapat pengurapan dari Allah, mendapat kuasa Roh Kudus, sebelum menjalankan misi Allah di dunia. Tuhan Yesus memberi teladan, agar melakukan apa yang diperintahkan Tuhan untuk kita lakukan. IA telah menyatakan kemuliaan-Nya dalam solidaritas-Nya, sehingga IA dipermuliakan oleh Bapa (Lks 3:15-17,21-22).

Demikian juga fenomena yang terjadi di belahan dunia manapun, dari dahulu kala sampai kapanpun : Seorang tokoh yang semakin rendah hati, sederhana, solider, memperjuangkan nasib banyak orang, tidak egois, suka “blusukan”, akan semakin dicintai, dipuji, dihormati, ditinggikan oleh semua orang. Jadi? Sebenarnya, Harta dan tahta dunia adalah ukuran kemuliaan bagi orang fasik, sedangkan bagi orang percaya, kekayaan dan kekuasaan selayaknya dipakai untuk melayani banyak orang dan kemuliaan Allah.

Selama kehidupan-Nya di dunia, Tuhan Yesus selalu menunjukkan solidaritas-Nya kepada manusia yang tersisihkan, terpinggirkan. Marilah Saudara dan saya memeriksa diri kita sendiri, seberapa jauh solidaritas, kualitas hubungan kita dengan sesama, serta kepedulian kita terhadap lingkungan dan sesama.

Nancy Hendranata

 

6 Januari 2013
"Napak Tilas Para Majusi"
Yes 60:1-6; Maz 72:1-7, 10-14; Ef 3:1-12; Mat 2:1-12

Kisah orang Majus menemui bayi Yesus sudah menjadi kisah Natal mencengangkan sejak kita masih di sekolah minggu. Kita mengenang para Majus sebagai orang tulus dan baik. Mereka datang jauh-jauh dari Timur, mengatasi semua rintangan, untuk bisa menemui dan sujud menyembah Yesus. Sebaliknya kita mencela raja Herodes, imam kepala, dan ahli Taurat yang jahat dan kejam. Mereka berusaha membunuh Yesus. Bahkan sanggup membunuh bayi dan anak kecil di bawah usia dua tahun untuk mencapai tujuan itu (Mat 2:1-12).

Tetapi saat kita tumbuh sebagai orang Kristen dewasa yang dengan sungguh-sungguh mempelajari tulisan Matius ini, kita akan lebih tercengang lagi. Mengapa?

Karena orang Majus itu ternyata bukan orang Yahudi, apalagi Kristen. Mereka beragama Zoroaster atau Mazdais. Mereka disebut ahli bintang, ahli nujum, dan tukang sihir (magic). Dengan kata lain, menggunakan ukuran dogma, doktrin, dan tata gereja manapun, mereka kafir. Jadi Allah seharusnya mengirim mereka ke neraka.

Sebaliknya Herodes, imam kepala, dan ahli Taurat itu taat aturan agama. Ahli teologia. Berpegang teguh pada “tata gereja”. Dengan kata lain, menggunakan standar kita sekarang, mereka adalah teladan orang beriman dan pemimpin umat. Dengan status sosial yang tinggi. Jadi Allah seharusnya mengirim mereka ke sorga. Tetapi, Injil Matius menjungkirbalikkan pengertian kita yang naif itu.

Allah berkenan menuntun orang Majus pada Yesus karena ketulusan mereka mencari kebenaran. Bahkan Ia berkenan untuk berbicara dalam mimpi mereka, suatu anugerah yang hanya dialami oleh orang tulus seperti Yusuf. Dan ketulusan orang Majus sungguh luar biasa. Dalam tradisi gereja, mereka adalah raja-raja. Tetapi mereka datang dengan susah payah, menaklukkan diri dan menyembah Dia. Mempersembahkan harta mereka bagi Yesus.

Sebaliknya Allah sebenarnya sudah berkenan memberikan kitab Suci kepada Herodes, imam kepala, dan ahli Taurat. Allah sudah memberikan kebenaran tentang kelahiran Mesias di Betlehem kepada mereka. Secara turun-temurun mereka adalah orang seagama dengan Yesus. Tapi firman Allah berhenti menjadi pengetahuan intelektual dan teologis. Bahkan menjadi alat kekuasaan. Nubuat Nabi Mikha yang mereka pahami dengan benar tidak menggerakkan mereka untuk datang pada Yesus. Malah mereka dengan licik hendak menggunakan pengetahuan itu justru untuk mencari di mana Mesias dan hendak membunuhnya. Karena Yesus sang Mesias adalah saingan politik raja, dan saingan kepemimpinan agama imam kepala dan ahli Taurat.

Tulisan Matius tentang Herodes dan ahli Taurat ini adalah juga peringatan keras bagi orang yang mencampurkan agama dengan politik. Saat itu terjadi persekutuan yang jahat antara pemimpin politik dengan pemimpin agama. Mereka saling memanipulasi satu sama lain. Pemimpin agama memanfaatkan aturan negara untuk menindas orang beragama lain.

Pemimpin politik memanfaatkan aturan agama untuk menindas lawan politik. Dan Matius tegas menyatakan bahwa persekutuan ini jahat dan kejam di mata Allah. Allah merendahkan mereka di bawah orang Majus yang hendak dicap kafir itu.

Bagaimana orang Majus, yang tidak memiliki kitab Suci agama kita, bisa datang kepada Yesus? Karena ada bintang terang. Apa bintang terang itu? Itu adalah cahaya kita, setiap orang Kristen, yang bertindak adil. Yang membawa damai sejahtera. Yang menolong orang miskin yang menjerit minta tolong. Yang menggunakan otoritas kekuasaan untuk melindungi hak-hak orang. Perbuatan seperti itu berkilau menjadi bintang yang menarik raja-raja kepada Allah. (Maz. 72:1-7,10-14). Tidak berarti kitab Suci tidak diperlukan. Matius mengisahkan, orang Majus tetap membutuhkan petunjuk kitab Suci. Tapi petunjuk itu dimaksudkan semata-mata untuk mengantarkan orang Majus kepada penyembahan Yesus. Bukan untuk kepuasan intelektual, terlebih lagi bukan untuk menegakkan kekuasaan politik atau agama. Melainkan untuk mempersembahkan harta, kekuasaan dunia dan hal yang paling berharga bagi kehendak Allah.

Kita sekarang mengetahui sebuah rahasia besar, yang disingkapkan kepada Rasul Paulus. Yaitu keselamatan itu memang dipersiapkan melalui bangsa Yahudi, tetapi untuk semua orang. Injil Yesus Kristus itu untuk orang Yahudi, untuk orang Majus, dan untuk kita semua (Ef. 3:6-8). Bagi kita semua yang dengan tulus hati mencari kebenaran itu, yang mau mempersembahkan semua yang berharga dalam diri kita pada Allah, Allah akan mengaruniakan kekayaan Kristus yang tidak terduga. Allah akan mengaruniakan segala ragam hikmat, yang Allah sudah berikan kepada raja-raja dan peguasa di sorga, kepada kita.

Sehingga kita dapat berjalan masuk dengan keberanian kepada Allah. Kita dapat menjalani hidup kita di tahun 2013 ini dengan hidup yang diperbaharui Allah. Yang tulus mencari Allah dan mempelajari Firman Allah. Kita sujud mempersembahkan hidup kita bagiNya. Kita kemudian menjadi terang Allah bagi dunia. Oleh sebab itu bangkitlah, menjadi teranglah. Di tengah kekelaman dunia, orang Kristen harus menjadi terang. Yang membuat raja-raja berduyun-duyun datang kepada Allah (Yes. 60:1-6).

AL

 

30 Desember 2012
"TERANG KESELAMATAN"
Yesaya 61 : 10 - 62 : 3; Mazmur 147; Galatia 3 : 23-25; Lukas 2 : 22-40

Ada 3 pengertian tentang terang keselamatan. Pertama, terang keselamatan itu seperti sinar yang melegakan hati orang yang berada di dalam gelap. Jika sebuah rombongan pendaki gunung tersesat dan tim SAR mencari mereka dengan menyalakan sinar lampu, maka para pendaki itu menerima terang keselamatan, karena tidak lama lagi mereka akan diselamatkan oleh tim SAR. Kedua, terang keselamatan menunjuk kepada diri Tuhan Yesus. Dialah Allah yang menjelma menjadi manusia, sebagaimana diberitakan melalui peristiwa Natal dan Dialah terang keselamatan itu. Ketiga, sebagai orang-orang Kristen, kita diminta untuk menjadi terang keselamatan bagi sesama kita, agar mereka pun memperoleh keselamatan melalui pemberitaan tentang Tuhan Yesus, baik secara verbal, dengan kata dan ucapan kita, maupun melalui perbuatan dan sikap hidup kita.

Penulis kitab nabi Yesaya pasal 61 : 10 - 62 : 3 berkisah tentang tindakan Allah dalam sejarah kehidupan umat Israel. Mereka mengalami pemulihan yang menggembirakan : dari abu dukacita menjadi perhiasan kepala, dari semangat yang pudar menjadi nyanyian puji-pujian, dari reruntuhan menjadi bangunan megah, dan seterusnya. Itulah terang keselamatan yang dipancarkan kepada umat Israel, agar mereka bersukacita. Hal ini juga dialami oleh dua orang lanjut usia (senior) yang bernama Simeon dan Hana. Mereka berdua adalah orang-orang saleh yang merindukan kehidupan yang membahagiakan. Roh Kudus menyatakan, bahwa Simeon tidak akan meninggal sebelum melihat Mesias, dan Hana faham, bahwa pulihnya Yerusalem adalah yang dinantikan, baik oleh umat Israel, maupun oleh Hana sendiri. Mereka menemukan penggenapan terhadap kerinduan mereka saat menatang bayi Yesus di tangan mereka. Mata iman mereka telah melihat, bahwa terang keselamatan yang dijanjikan Allah itu sudah hadir.

Itulah yang juga dikatakan oleh rasul Paulus dalam Galatia 3 : 23-25, bahwa selama Mesias yakni Tuhan Yesus belum hadir, hukum Taurat menjadi penuntunnya. Namun setelah Mesias hadir, peranan hukum Taurat diganti dengan iman, karena memang `dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan’ (Roma 10 : 10). Maka alamat percaya dan mengaku kita tertuju kepada Tuhan Yesus Kristus. Nyata, bahwa kebenaran dan keselamatan adalah dua hal yang kait mengait satu sama lain. Ibarat dua sisi dari satu keping mata uang. Atas dasar semua tindakan Allah yang memberikan keselamatan itu, wajar jika orang percaya bersyukur dan memuliakan Dia. Hal itulah yang dilakukan oleh pemazmur 147, sehingga berkumandanglah ucapan syukur dan pujian kepada Allah. Kita berharap, bahwa sebagai orang Kristen abad XXI, kita juga melakukan langkah hidup dengan irama yang serupa, sehingga sama seperti orang-orang yang hidup pada zaman dahulu, kita pun memuji dan memuliakan Allah senantiasa, karena terang keselamatan itu telah datang dan tinggal di antara kita. Amin.

Pdt. Em. Budhiadi Henoch

 

23 Desember 2012
"Indahnya Berempati Terhadap Mereka Yang Lemah"
Mikha 5:1-4; Mazmur 80:2-8; Ibrani 10:5-10; Lukas 1:39-45 (46-55)

Sering kita menjumpai dan membaca tulisan seperti ini: Pemulung dilarang masuk. Ngamen gratis. Tidak menerima sumbangan dalam bentuk apapun. Mengemis gratis. Jika kita cermati tulisan di atas memiliki pesan yang sangat jelas, yaitu menolak dengan tegas kehadiran dan keberadaan mereka. Mereka ditolak karena mereka golongan masyarakat lemah, rendah, miskin, bodoh, bahkan seringkali dianggap sebagai sampah. Kehadiran mereka sangat merepotkan dan merugikan. Sadar atau tidak masyarakat kita sudah terdidik dengan baik untuk merendahkan, menyingkirkan dan membuang mereka yang miskin dan yang lemah. Dalam segala hal hampir dipastikan bahwa kelompok masyarakat miskin dan lemah seringkali menjadi korban dan termarjinalkan, sedangkan kelompok masyarakat yang kuat menjadi kelompok yang paling diuntungkan. Mereka yang lemah dan miskin sering dieksploitasi, diperas santannya saja, setelah itu dibuang. Hal demikian yang kita saksikan dan kita lihat dalam kehidupan masyarakat kita. Itulah sebabnya berita Natal, dimana Yesus lahir dan datang ke dalam dunia masih sangat relevan untuk kita saat ini. Natal berarti menerima, menghargai dan mengangkat mereka yang miskin, lemah, dan tak berdaya. Natal berarti menghacurkan skat-skat status sosial ekonomi, suku/bangsa, pendidikan, jabatan, maupun agama/iman. Semuanya telah dipersatukan dalam peristiwa Natal. Kehadiran para gembala dan orang majus di peristiwa bayi Natal menjelaskan bahwa bayi Ajaib itu menerima dan mempersatukan mereka yang bermacam-macam latarbelakang status sosial, budaya, suku/bangsa yang berbeda. Para gembala mewakili kelompok masyarakat yang miskin, bodoh dan lemah, sedangkan orang majus mewakili kelompok masyarakat status sosial menengah atas dan mewakili suku/bangsa. Pesan natal saat ini adalah: Stop!!! Merendahkan, melecehkan dan mengeksploitasi mereka yang lemah dan miskin. Tetapi kembangkanlah sikap simpatik dan empatik kepada mereka yang miskin dan lemah, karena demikianlah yang indah dihadapan Tuhan. Buanglah apriori-apriori negatif atau stigma negatif terhadap orang lemah dan miskin supaya kita mampu untuk simpatik dan empatik terhadap mereka. Bertindaklah adil dan benar dalam segala bentuk pelayanan. Pelayanan gereja hendaknya tidak terkotak dengan skat-skat apapun atau dibelenggu oleh skat jurang kaya atau miskin, tetapi menembus batas apapun. Injil Lukas dari awal sampai akhir menceriterakan pelayanan Yesus yang didominasi untuk membela dan memulihkan mereka yang tersisih, terbuang dan termarjinalkan. Mari kita mempersembahkan sesuatu yang berharga bagi Tuhan dengan berempatik terhadap mereka yang lemah dan miskin. Tuhan memberkati kita semua di hari Natal ini.
RDL

 

16 Desember 2012
"Allah Memampukan Kita Menuju Akhir"
Zefanya 3:14-20; Yesaya 12:2-6; Filipi. 4:4-7; Lukas 3:7-18

Tema Adven ketiga ini mengingatkan kita bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan. Kita dituntut untuk bertahan setia sampai akhir. Namun kelemahan kita membuat kita mudah menyimpang dari jalan yang benar. Akan tetapi, kasih setia Allah menganugerahkan pembaruan hidup dan pemulihan, sehingga kita dapat melanjutkan perjalanan kehidupan dengan penuh syukur dan sukacita.

Yohanes mengingatkan kesiapan seperti apa, yang tidak mungkin terpenuhi hanya dengan kemampuan manusia. Sebagai tanda bahwa kita telah dimampukan Allah adalah dengan memiliki hidup yang baru, yakni hidup yang ditandai dengan pertobatan; meninggalkan kehidupan yang lama (Lukas 3:8) dan melakukan hidup yang baru (memiliki hidup yang berbelas kasihan kepada yang membutuhkan Lukas 3:10). Demikian juga Rasul Paulus mengingatkan jemaat Filipi agar menyikapi datangnya hari Tuhan yang semakin mendekat, dengan menyatakan iman, yang ditandai dengan adanya sukacita, kehidupan penuh penyerahan (tidak kuatir) dan kehidupan yang penuh dengan kebaikan.

Tuhan bisa menggunakan pelbagai cara untuk memampukan kita menuju akhir yakni dengan mengingatkan dan menegur kita. Misalnya melalui kejadian-kejadian yang tidak terduga, pengalaman pahit-getir, teguran orang tua, teman dan sahabat, atau dapat juga melalui pemberitaan firman, suara hamba Tuhan yang menyampaikan kebenaran seperti Yohanes Pembaptis yang menyerukan pertobatan kepada umat Israel.

Bagian manusia adalah menanggapi semua sarana yang Tuhan berikan itu, apakah kita manfaatkan dengan baik. Ataukah kita mengeraskan hati. Berita kemenangan dan sorak-sorai Israel. “Bersorak-sorailah, hai puteri Sion,...Bersukacitalah dan beria-rialah....TUHAN telah menyingkarkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu....”(Zefanya 3:14-15). Mereka akan pulang kembali ke negeri perjanjian itu, yakni “sisa Israel”. “Mereka tidak akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong; dalam mulut mereka tidak akan terdapat lidah penipu…” Jadi tidak semua umat itu kembali ke tanah perjanjian dengan sorak sorai. Ingat, hanya sisa Israel! Yakni mereka yang tetap setia hidup dalam pertobatan!

Yohanes menegaskan tidak ada keistimewaan bagi siapa pun jika kehidupannya tidak menghasilkan buah-buah pertobatan, maka tidak mungkin akan mewarisi negeri perjanjian atau kerajaan sorga itu. Yohanes mengingatkan bahwa kalau kita tidak berbuah, kapak sudah tersedia untuk menebang pohon. Pohon yang tidak berbuah akan ditebang dan dibuang ke dalam api! (Lukas 3:9). Kita ibarat pohon itu. Apa yang sudah kita hasilkan? Kiranya dalam masa adven ini kita dapat mengoreksi diri, sampai mana kesiapan kita menantikan kedatanganNya. Kiranya Tuhan menolong kita dimampukan menyambut “hari Tuhan” yang pasti akan datang. AMIN
Pdt. Paulus Kristian Mulyono

 

9 Desember 2012
"Meneruskan PEKERJAAN BAIK Sampai Kristus Datang"
Maleakhi 3 : 1-4; Luk 1:76-79; Filipi 1 : 5-11; Lukas 3:1-6

Seseorang akan merasa memiliki hak khusus lantaran ia berasal dari keturunan istimewa. Demikianlah Israel merasa istimewa, karena berasal dari keturunan Abraham. Dalam optimisme seperti ini, tampillah Yohanes Pembaptis memberi teguran. Ia menyerukan agar setiap orang bertobat. Pertobatan yang bukan sekedar perkara menangis, mengaku dengan mulut dan menyesal saja. Itu baru setengahnya. Yang terpenting adalah menghasilkan buah dari pertobatan (bnd. Luk 3:7). Yohanes memenuhi nubuatan Maleakhi 3 :1-5, utusan yang menyiapkan kedatangan Tuhan.

Kedatangan Mesias yang memberikan kelepasan telah digenapi di dalam Yesus dan yang akan datang ke dua kali sebagai Hakim. Kini apa yang menjadi nubuat dan peringatan Yohanes kita refleksikan dalam masa penantian. Maleakhi mengingatkan, apabila Ia datang siapa yang dapat tahan? Siapa yang dapat berdiri di hadapan-Nya? (Mal 3:2). Tidak ada seorang pun dengan kebanggaan diri dan kesalehannya dapat bertahan di hadapan-Nya.

Dia yang akan datang itu, duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak. Agar ibadah dan persembahan itu berkenan (Mal. 3:3). Pemurnian dilakukan agar apa yang cemar tidak mengotori apa yang kudus. Sang Hakim Agung itu pasti datang memenuhi janji-Nya. “Aku mendekati kamu untuk menghakimi dan akan segera menjadi saksi....”(Mal.3:5).

Banyak orang Kristen terjebak dalam sindrom seperti halnya orang Yahudi. Merasa sudah percaya Yesus yang menebus dosa-dosanya kini mereka aman. Mereka beranggapan perbuatan tidak lagi “menentukan” keselamatan. Akibatnya kehidupan keseharian tidak mencerminkan sebagai anak tebusan. Perilaku hidup tidak jauh berbeda dengan orang yang tidak mengenal Tuhan. Dosa terus mereka lakukan karena pikirnya, “Toh Tuhan itu baik, penuh anugerah. Tinggal aku mengaku dosa, pastilah pengampunan diberikan.” Pemahaman ini keliru, justeru karena sudah ditebus, ia bagaikan emas yang sudah dimurnikan tukang emas, anak-anak tebusan harus menghasilkan buah-buah kebenaran.

Filipi adalah Jemaat yang mempunyai pemahaman benar. Mereka, walaupun mengalami kesulitan, terus mengerjakan buah-buah kebenaran. Sehingga Paulus memberikan pujian kepada jemaat ini. Ia meyakini bahwa jemaat itu akan terus mengerjakan apa yang baik. Tidak hanya menunggu dengan pasif. “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada Hari Yesus Kristus.” (Filipi 1:6).

Tuhan menghendaki kita semua untuk bekerja, melakukan pekerjaan baik sebagai buah pertobatan. Tidak ada lagi yang dapat dibanggakan di hadapan Sang Hakim Agung itu kecuali kesungguhan kita dalam bertobat dan menghasilkan buah-buah kebenaran.

Ketika kita gagal menghasilkan buah kebenaran dari pertobatan itu, maka di situlah cerminan seberapa seriusnya kita bertobat. Seorang yang sungguh-sungguh bertobat, merasakan jamahan kasih Tuhan, sudah pasti ia akan bersyukur kepada Tuhan dan hidup dalam kebenaran. Ungkapan syukur itu terus mengalir dalam kehidupannya sehingga sudah pasti ia akan mengerjakan apa yang baik bukan lagi karena terpaksa, melainkan karena berterimakasih buat karya Tuhan.
Selamat meneruskan pekerjaan baik sampai Kristus datang.
Pdt. Paulus Kristian Mulyono

 

2 Desember 2012
"PANGGILAN MENJADI KUDUS DAN TAK BERCACAT"
Yeremia 33:14-16, Mazmur 25:1-10

ika kita mencermati apa yang terjadi di dunia masa kini membuat kita miris, prihatin, sedih dan bahkan membuat kita putus asa. Salah satu contoh, kasus korupsi yang sedang membelenggu bangsa dan masyarakat kita, membuat kita merasa prustasi karena usaha memberantas korupsi hanya berjalan di tempat. Jika kita mencermati perkara hukum yang terjadi di negara kita, kita sangat prihatin kerena hukum diputarbalikkan, seperti kasus pengedar narkoba yang mendapatkan hukuman mati, namun kemudian mendapatkan grasi menjadi hukuman 15 tahun dll. Belum lagi jika kita kasus-kasus pelanggaran moral dan kasus kejahatan lainnya, membuat kita pun sangat memilukan hati. Memperhatikan dunia yang kita tempati adalah dunia yang telah rusak dan jahat, barangkali kita bertanya-tanya dalam hati: Mungkinkah kita mampu menjalani kehidupan di dunia ini? Mungkinkah kita mampu hidup kudus dan tak bercacat di dunia yang penuh dengan dosa dan kejahatan ini? Menurut hemat saya kita pasti mampu menjalani kehidupan ini sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki. Pertama, Yeremia 33:14-16, menjelaskan tentang pengharapan akan pemulihan di tengah ketidak ada harapan. Umat Israel akan dihancurluluhkan oleh Tuhan melalui bangsa lain karena dosa dan kejahatannya. Mereka dibuang ke Babel, namun saatnya akan datang bahwa Tuhan yang mencabut dan yang merobohkan itu, Ia juga yang akan membangun dan menanamnya (Yer 1:10). Pesannya jelas bahwa ditengah-tengah situasi yang berat/ ketidakadaharapan, selalu ada jalan dan ada harapan. Suatu saat Tuhan akan mengubahkan, memulihkan atau membangunnya kembali. Yang kita harus yakini adalah bahwa apapun keadaan kita saat ini, suatu saat Tuhan akan mengubahkan dan memulihkan keadaan itu menjadi lebih baik.

Kedua, Kisah Daniel dan teman-temannya yang hidup di tengah-tengah bangsa yang tidak mengenal Tuhan, yaitu bangsa Babel. Bangsa ini penuh dengan penyembahan berhala, bahkan raja Nebukadnezar mengangkat dirinya sebagai Tuhan, seluruh rakyat harus menyembah kepada raja sebagai Tuhan. Namun demikian, Daniel dan teman-temannya tidak menuai imannya, tidak kompromi dengan dosa dan permainan politik kotor. Mereka mampu berpegang teguh pada imannya, mereka mampu menjaga kekudusan hidup di tengah-tengah dunia yang penuh dengan kecemaran. Ketika mereka konsisten dengan imannya dan panggilan hidup kudus, kemudian mereka diangkat oleh Tuhan menjadi orang-orang yang sangat berpengaruh dalam pemerintahan bangsa Babel dan bangsa Persia. Ketiga, Tuhan memanggil kita untuk hidup kudus dan tak bercacat dalam menyambut kedatangan Kristus yang kedua. Panggilan ini masih sangat relevan untuk kita jalani saat ini, dan Tuhan oleh Roh Kudus memampukan kita untuk hidup kudus dan tak bercacat dihadapanNya. Relasi kita yang intens dengan Tuhan menjadikan kita kuat, teguh dan mampu untuk hidup kudus dan tak bercacat. Relasi keluarga kita yang intens dengan Tuhan membuat keluarga kita kuat menghadapi badai kehidupan. Bentuklah mezbah keluarga. Kiranya Tuhan yang menolong kita semua. Amin.
Rindolos Sumaryo

 

18 November 2012
"WASPADA TERHADAP ANTI KRISTUS"
Dan. 12:1-3; Maz. 16; Ibr. 10:11-14 (15-18), 19-25; Mark. 13:1-8

Orang yang setia pada Tuhan, seringkali menghadapi ancaman dan penganiayaan yang hebat. Mereka dikejar, diintimidasi, tempat ibadah dihina, dinajiskan dan diberangus, para pemimpinnya dibunuh dengan sadis. Betapa pun redupnya sebuah zaman, bagi orang percaya tetap ada pengharapan “Pada waktu itu juga akan muncul Mikhael, pemimpin besar itu yang akan memimpin anak-anak bangsamu”((Dan 12:1a). Keyakinan serupa pernah disenandungkan Daud, “ sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.” ( Mazmur 16:10).

Pada zaman Yesus penganiayaan itu berlanjut tidak hanya dari bangsa asing yakni Romawi, melainkan tantangan dari bangsanya sendiri : Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Yesus menyadari bisa saja dalam menghadapi masa-masa sulit itu ada banyak pengikut-Nya tidak tahan lalu meninggalkan imannya. Yesus menengarai pada masa sulit itu akan tampil para spekulator yang menawarkan kemudahan dan memberikan pandangan-pandangan yang menyesatkan. Mereka itulah yang tampil seolah-olah bagaikan mesias. “Akan datang banyak orang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah dia, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.”(Markus 13:6). Contoh : Ketika ada dalam kesulitan ekonomi, keuangan yang mendesak, ketika itulah kita akan segera menemukan orang yang menawarkan kemudahan, dan mengajak untuk melakukan cara-cara yang tidak disukai Tuhan. Bayangkan dalam keadaan kalut, bisa saja seseorang tergoda dan tersesat!

Yesus mengingatkan : Waspada! “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!”(Mrk 13:6). Kewaspadaan anak-anak Tuhan dibutuhkan bukan saja ketika menghadapi isu kiamat atau akhir zaman, melainkan setiap saat. Penyesat / pembelok iman bisa tampil begitu halus dan meyakinkan sehingga tanpa sadar orang percaya dapat meninggalkan imannya. Penyesat / anti Kristus tidaklah selalu tampil dengan sosok bengis, seperti Antiokhus Efipanes, penguasa yang non Kristen atau tokoh-tokoh agama-agama lain yang radikal. Ia bisa berada di dalam “lingkaran” kita, berusaha memutarbalikan ajaran sehat menurut kehendaknya sendiri.

Apa yang harus kita lakukan dalam dunia yang penuh dengan penyesat ini? Pertama : Surat Ibrani mengingatkan, “Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan kita … Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, … tetapi marilah kita saling menasehati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibr10:23-25.Yang kedua, Orang percaya mesti bertekun dalam mempelajari firman Tuhan, agar kita mengenal kebenaran, yaitu Kristus. Sebab dengan mengenal kebenaran, maka kita dapat mengetahui yang tidak benar (penyesat / anti Kristus).

 

 
 

11 November 2012
MEMBERI DARI KEKURANGAN

1 Raj. 17:8-16; Maz. 146; Ibr. 9:24-28; Mark. 12:38-44

Menegaskan kembali dari renungan warta bulan lalu, bahwa menjadi dermawan tidak perlu menunggu kaya terlebih dahulu melainkan perlu perubahan hati dan perilaku kita untuk ikut keteladanan Yesus Kristus. Ia memberikan yang terbaik dari yang dimiliki, yaitu hidupNya. PengorbananNya yang di kayu salib membuktikan bahwa Ia dapat diandalkan sebagai pedoman kehidupan setiap kita (Ibrani 9:24-28).

Di Sarfat, Allah telah memerintahkan seorang janda untuk memberikan apa yang dibutuhkan Elia. Dia menurut perintah Allah tersebut dan di sisi lain juga dia mengatakan sesudah mereka makan makanan yang terakhir itu, mereka akan mati karena mereka sudah dalam kondisi kritis, tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan. Betapa percaya dan taatnya dia kepada Allah! Patut ditiru oleh setiap kita (I Raja 17:8-16)

Begitu pula tentang janda yang memberikan persembahan dua peser (peser adalah mata uang tembaga Yahudi yang paling kecil nilainya). Di dalam kekurangannya, dia memberikan semua yang ada padanya, berbeda dengan ahli Taurat yang hanya memberi dari kelebihannya. Memang sih, nilai nominalnya lebih besar, tapi motivasi pemberian dari janda itu jauh lebih besar dari ahli Taurat tersebut. Bagaimana dengan motivasi pemberian kita? Pilihlah yang benar! (Markus 12:38-44).

Kisah tentang janda di Sarfat dan janda di injil Markus tersebut di atas, menjadi bukti bahwa seseorang dapat memberi, meskipun dalam keadaan kekurangan. Kisah ini memperlihatkan bahwa orang yang percaya kepada Allah, sekalipun orang sederhana dapat dipakai Tuhan dalam hal memberi. Ingat, kita tidak usah menunggu kaya lebih dahulu.

Perhatikanlah pula motivasi dua janda tersebut, bahwa mereka percaya kepada Allah yang akan menolong mereka dalam kekurangannya. Hal ini ditegaskan kembali oleh Pemazmur dengan dua kata: ”Percaya dan Haleluya”, Puji Tuhan (Mazmur 146). Kesaksian iman ini sungguh luar biasa dan menjadi pendorong bagi setiap kita untuk tidak takut memberi, karena Allah selalu akan menolong dalam kehidupan kita, amin. BHS

 
 

9 September 2012
SIKAP RENDAH HATI YANG MENGHERANKAN

Yesaya 35 : 4-7a; Mazmur 146; Yakobus 2 : 1-17; Markus 7 : 24-37

Pada umumnya orang lebih menghargai sikap rendah hati, ketimbang sikap sombong. Namun dalam praktik orang justru mengutamakan orang sombong, ketimbang orang yang bersikap rendah hati. Sebabnya, karena orang sombong berani menggertak, ngibul dan menindas orang yang bersikap rendah hati. Akibatnya, terjadi ketimpangan di tengah masyarakat, sehingga orang yang bersikap rendah hati berubah menjadi rendah diri dan tertindas.

Untuk kenyataan di atas, pesan Yakobus kepada jemaat Kristen Yahudi, agar mereka jangan memandang muka dengan cara membedakan orang yang satu lebih tinggi dari yang lain, baik berdasarkan etnis dan warna kulit, tingkat sosial, pendidikan, agama, atau hal-hal lainnya. Di hadapan Tuhan setiap orang sebenarnya sama, bahkan Tuhan Yesus adalah Juruselamat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. 

Seorang ibu Siro-Fenisia, etnis yang tak percaya kepada Allah Yahweh, datang kepada Tuhan Yesus, meminta kesembuhan untuk anaknya yang dirasuk setan. Ia tetap bertahan dan tidak mundur, kendati ia disamakan dengan anjing. Sebuah sikap rendah hati yang mengherankan dan menandakan imannya teguh, sehingga dari jarak jauh Tuhan Yesus berkenan menyembuhkan anaknya. Hal yang sama terjadi pada seorang penduduk Dekapolis, daerah orang yang juga tak percaya kepada Allah Yahweh, beroleh kesembuhan dari keadaan tuli dan gagap (bisu).

Kedua peristiwa itu telah membawa suasana sejahtera kepada mereka yang disembuhkan dan keluarga mereka, sekaligus juga untuk masyarakat di kedua daerah itu. Itulah yang disebutkan dalam Yesaya 35, agar orang-orang yang berada dalam keadaan tidak beruntung itu bersandar dan berharap kepada Tuhan. Maka Tuhan akan menolong mereka, sehingga kehidupan mereka pun akan berubah menjadi baik. Bukankah kenyataan semacam itu yang dirindukan manusia? Oleh karena itu, pemazmur 146 mengingatkan umat Israel untuk percaya kepada Allah dan jangan percaya kepada manusia.

Ada sejumlah keadaan yang diubah berkat karya Allah : keadilan ditegakkan bagi orang yang diperas, roti diberikan bagi orang yang lapar, orang yang terkurung dibebaskan, orang yang tertunduk ditegakkan, orang yang benar dikasihi, orang asing dijaga, anak yatim dan janda ditegakkan, jalan orang fasik dibengkokkan Allah. terjadi suasana baru yang membawa ketenteraman bagi banyak orang yang menderita. Itulah dunia baru yang diperlukan umat manusia. Maka kesemuanya datang melalui sikap hidup orang yang hatinya terbuka bagi Tuhan Yesus, Sang Mesias itu, dan bersikap rendah hati. Dialah yang mengisi hati yang terbuka dan rendah hati itu. Adakah kita punya hati yang terbuka bagi Tuhan Yesus dan bersikap rendah hati? Amin.               
Pdt. Em. B Henoch 

 

26 Agustus 2012
BERPEGANG TEGUH PADA TUGAS DAN PANGGILAN TUHAN

Yosua 24:1-2a, 14-18; Mazmur 34:16-23; Efesus 6:10-20; Yohanes 6:56-69

Kehidupan orang beriman di dunia ini ternyata tidak berbeda jauh dari kehidupan manusia lain. Selama kita masih ada di dunia, kita tidak lepas dari penderitaan, kesesakan, patah hati, kemalangan, dan bahkan dijahati orang (Maz. 34:16-23). Tidak heran banyak orang menjadi trauma, dan memandang dunia ini kejam dan menakutkan. Orang menarik diri dari dunia ini, berjaga-jaga, bersembunyi, dan hanya bergaul terbatas pada sedikit orang lain. Kita menjauhkan diri dari kehidupan di dunia.Tetapi pemazmur menyerukan agar kita tidak menjauhkan diri dari dunia ini, karena pemazmur melihat janji Tuhan akan perlindunganNya kepada orang beriman.

Tuhan mendengar seruan kita yang menderita. Ia melepaskan kita dari segala kesesakan kita. Ia membebaskan jiwa kita. Jadi kita tidak boleh ingkar akan tugas kita di dunia ini hanya karena takut menderita.Bahkan dalam kisah Yosua, orang beriman harus masuk ke dalam dunia dengan gagah berani. Yosua memegang kuasa Allah dan berperang ke dalam dunia. Dunia yang dijanjikan Allah kepada umatNya. Meskipun bangsa Israel pada mulanya takut memasuki Kanaan, tapi Yosua membangkitkan semangat mereka. Karena Yosua memegang teguh tugas dan panggilan Tuhan. Dan ia mempersembahkan rasa takutnya hanya kepada Allah, dan beribadah kepadaNya dengan ikhlas dan setia (Yos. 24:14).

Dalam berperang, Allah memberikan kita senjata. Senjata kita adalah kebenaran, keadilan, pemberitaan Injil, iman, keselamatan, dan firman Allah.  Jelaslah senjata kita bukanlah untuk menyakiti dan membunuh manusia, tetapi senjata rohani yang menghidupkan manusia. Karena perang kita adalah perang rohani. Perang melawan kuasa yang hendak memisahkan manusia dari Allah.Semua ini hanya dapat dimengerti dalam kerangka rencana agung Allah akan penciptaan alam semesta dan penyelamatan manusia.

Allah memberikan dunia indah ini agar manusia hidup di dalamnya dan memuliakan Allah. Tetapi dosa telah membutakan mata manusia dan memisahkan kita dari Allah. Oleh sebab itu manusia berdosa merusak ciptaan Allah ini, sehingga dunia yang indah ini menjadi rusak, kejam, dan menakutkan.Maka sama seperti Allah mengutus AnakNya ke dunia ini untuk menyelamatkan manusia dari kematian kekal.

Allah sudah memilih kita sejak sebelum kita dilahirkan, untuk diutus ke dunia ini. Kita memiliki tugas untuk meneruskan karya Allah dan Yesus, memulihkan kehidupan dunia ini, menjadikan kerajaan Allah, dimana Allah bertahta di setiap hati manusia. Inilah alasan mengapa kita semua berada di dunia ini sekarang. Kita diutus untuk mengerjakan karya Allah di dunia.

Ada orang yang berhasil masuk ke dalam dunia tapi kemudian menjadi sama dengan dunia ini. Kita menjadi sibuk mengejar kebutuhan kita di dunia, sehingga kita lupa akan tugas panggilan kita. Kita tidak boleh lupa bahwa kita hanya sementara di dunia ini, dan harus kembali kepada Allah. Kita tidak boleh lupa bahwa kita bukan sekedar daging, tubuh, materi. Kita adalah roh. Meskipun kita membutuhkan makanan untuk tubuh kita, tetapi hendaknya kita makan tubuh Kristus. Artinya tubuh kita dipersatukan dengan tubuh Kristus, yang dipersembahkan untuk dipakai dalam karya Allah. Demikian juga kita minum darah Yesus, yang berarti darah Yesus mengalir dalan nadi kita, membawa kita dalam kehidupan rohani (Yoh.  6:56-69). Karena hidup kekal kita bukanlah di dunia yang fana ini, tetapi bersama Allah.Oleh sebab itu, marilah kita berpegang teguh pada tugas dan panggilan Allah. Dengan setia menjalankan peran dan tugas kita di dunia ini. Mengubah dunia ini menjadi lebih baik. Memulihkan hubungan manusia dengan Allah. Sehingga kelak saat kita hendak pulang ke rumah Bapa, kita sanggup berkata, “sudah selesai”.                  AL

         
 


“Bertumbuh Dalam Kedewasaan Iman”

Bacaan : Yer. 11:18-20; Maz. 54; Yak. 3:13 – 4:3, 7-8a; Mark. 9:30-37

Setelah mengikuti kebaktian kebangunan rohani, biasanya banyak orang hatinya berkobar ingin melayani sesama, tetapi sedikit sekali yang melaksanakan niatnya itu menjadi aktivis gerejawi atau pelayan sejati, mengapa? Karena kurangnya bertumbuh dalam kedewasaan iman.

Iman yang dewasa tidak cepat tersinggung, ngambek, atau menuntut perhatian berlebihan, bila berbeda pendapat atau pelayanannya tidak sejalan dengan aktivis lainnya atau diremehkan oleh orang yang dilayani. Hal itu dilakukan oleh nabi Yeremia yang masih muda belia yang meminta keadilan kepada Tuhan untuk menghukum bangsa Yehuda (Yer. 11:20).

Oleh karena itu sebagai pelayan sejati, bila terjadi kondisi yang tidak menyenangkan, baiklah ia berdoa seperti Daud, yang meminta keadilah kepada Tuhan, berserah dan bersyukur dalam kesesakan sehingga dia dilepaskan dari bahaya (Mazmur 54). Demikian pula seyogyanya kita selalu meminta keadilan, berserah dan bersyukur atas kondisi yang tidak menyenangkan dalam pelayanan kita, bukannya ngambek atau pundung alias mengundurkan diri dari pelayanan. Bila dengan rasa penuh syukur kita menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan tersebut, maka iman kita akan makin bertumbuh dewasa.

Selanjutnya untuk pertumbuhan dalam kedewasaan iman, kita diharapkan untuk selalu berpikiran positif, artinya tidak iri hati dan tidak egois, melainkan suka damai, ramah, lemah lembut, penuh belas kasihan dan pengendalian diri serta bijak dalam kondisi apapun yang merupakan buah hikmat dari atas (Yak. 3:13-18).

Sekalipun kita tahu bahwa iri hati dan egois itu salah, tetapi terkadang kita masih melakukannya, karena sebagian orang masih senang menikmatinya. Hal ini masih dilakukan oleh murid-murid Tuhan Yesus sewaktu mereka mempertanyakan siapakah yang terbesar diantara mereka. Untuk meluruskan sikap egois murid-muridNya, Yesus berkata: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya” (Markus 9:35).

Akibat dari ketidak-dewasaan para pelayan Tuhan, maka di lingkungan aktivis gereja tidak pernah sepi dari konflik. Sekalipun demikian, bukan berarti kita harus berhenti melayani, melainkan kita harus selalu berusaha untuk bertambah dalam pelayanan itu sendiri dan menjadikan iman kita makin dewasa. Amin. BHS

 

Copyright © 2016 Gereja Kristen Indonesia GKI Pasteur Bandung