"Selamat datang di website Gereja Kristen Indonesia GKI Pasteur Bandung "
Beranda Tentang GKI Pasteur

Pembinaan Jemaat

Kontemplasi Warta Jemaat

Hubungi Kami

Login
 


 

Kematian Kekasih Tuhan

Oleh Pdt. Em. Budhiadi Henoch

   
   

Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya (Mazmur 116 : 15).

SELAKU umat beragama, kita memiliki keyakinan bahwa kematian ada di dalam tangan Tuhan. Meskipun demikian, saat peristiwa itu benar-benar menimpa keluarga kita, kita pun terkejut, setengah tak percaya, ternyata kedukaan terasa amat berat. Kepergian anggota keluarga kita untuk selama-lamanya membuat kita larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Perkabungan meliputi keluarga kita, isak tangis tak henti-hentinya mencabik-cabik hati seluruh anggota keluarga.

Rasa kehilangan itu akan tergores dalam-dalam bagi seluruh keluarga. Pasti tak terlupakan sepanjang hidup kita masing-masing. Masalahnya, mungkinkah kita terhindar dari peristiwa kedukaan semacam itu? Mungkinkah ada kekuatan manusia yang dapat mencegah kehadiran kematian itu? Jelas tak mungkin, sebab cepat atau lambat setiap keluarga akan mengalaminya pada suatu hari dan sepanjang tahun kematian membayangi perjalanan hidup kita.

Betapa tidak, kematian datang lewat sakit penyakit dengan cara menyelinap di ruang operasi atau kamar perawatan di rumah sakit; kematian juga nongol secara mendadak di tikungan jalan sempit sehingga terjadilah kecelakaan maut; kematian sering muncul pula secara tersembunyi dan diam-diam lewat zat-zat beracun yang terkandung dalam pelbagai macam makanan dan jajanan.

Kematian juga secara dahsyat menimpa manusia lewat bencana-bencana alam, entah gunung meletus, gempa bumi, banjir, tanah longsor, atau tsunami. Belum lagi tawuran antarwarga, kerusuhan dan gejolak masyarakat, peperangan antarnegara. Semuanya menjadi sarana datangnya kematian atas diri seseorang atau sekelompok orang. Oleh karena itu, jika kematian “menyerbu” umat manusia bertubi-tubi, haruskah kita tenggelam dan tertindih oleh kekuatan kematian itu? Jangan sekali-kali!

Ada perkara yang lebih penting ketimbang kita terus-menerus meratapi peristiwa kematian itu. Itulah yang dikemukakan oleh pemazmur dalam ayat di atas yakni kematian semua orang yang dikasihi Tuhan itu berharga. Ada nilai yang tinggi bagi setiap orang yang dikasihi Tuhan saat ia meninggal dunia. Tentu bukan nilai secara materi, melainkan lebih bersifat rohani. Kita mencoba menyimaknya sebagai berikut:

1. Ada nilai hubungan di antara orang yang bersangkutan dan Tuhan. Jika ia ada dalam jalur hubungan yang akrab, disertai dengan ikatan kasih yang tulus, niscaya Tuhan tak akan melupakannya. Sebaliknya, Tuhan menyelamatkannya ke dalam kemuliaan surgawi, sehingga kasih-mengasihi pun berlanjut untuk masa yang kekal. Jelas, bahwa orang itu adalah kekasih Tuhan, maka Tuhan tidak akan mencampakkan dia.

2. Tuhan menilai kematian kekasih-Nya itu berharga karena pada masa hidupnya, ia telah menjadi agen pelaksana kehendak Tuhan. Kekasih-Nya itu telah mewujudkan kehidupan yang bertanggung jawab. Tuhan akan menyapa dia dengan kata-kata-Nya yang manis: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai, hambaku yang baik dan setia. Engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Matius 25 : 21). Sebuah sambutan dan ajakan Tuhan yang amat mengharukan ini menjadi kerinduan kita selaku para kekasih-Nya.

3. Orang yang dikasihi Tuhan telah menghadirkan banyak perkara yang baik pada masa hidupnya di dunia ini. Oleh karena itu, berpengaruh besar atas perilaku manusia pada umumnya. Sekarang, kendati Tuhan menganggap tugas seseorang itu telah selesai, tetap saja Ia mengabadikannya dalam penghargaan-Nya. Ibarat pemenang pertandingan olah raga, medali kehormatan dianugerahkan kepadanya. Namanya pun tercatat dalam kitab Alhayat yakni kitab kehidupan.

Nyata bagi kita, bahwa setiap orang akan sampai pada batas hidupnya yakni kematian. Sebuah kenyataan yang tak terbantahkan, entah orang baik atau orang jahat, orang kaya atau orang miskin, orang tua atau orang muda, majikan atau karyawan, pejabat atau rakyat jelata, setiap orang akan mengalaminya pada suatu hari.

Bagaimana kita harus menghadapi kematian itu? Orang bijak akan berkata, bahwa hidup ini seperti khotbah, yang penting bukan panjangnya, melainkan isinya. Jika seseorang punya masa hidup yang lama, namun diisi dengan perbuatan-perbuatan yang jahat, tentu Tuhan tak akan menghargainya. Kebalikannya, meskipun masa hidupnya singkat, namun berisikan pengabdian hidup yang luhur dan mulia bagi Tuhan dan sesama, niscaya Tuhan akan menghargainya dengan nilai yang tinggi.

Perenungan tentang kematian membuat kita memiliki sikap yang positif terhadap hidup kita masing-masing. Amalkan hidup kita untuk perkara-perkara yang baik, benar, dan membangun. Pada dasarnya, setiap orang tahu apa yang menjadi rambu-rambu kehidupan yakni apa yang dilarang dan apa yang dianjurkan Tuhan. Dalam praktik, orang dengan sengaja melanggar rambu-rambu larangan karena dua kemungkinan: pertama, Tuhan dianggapnya tidak mengetahui perbuatannya; kedua, jika Tuhan mengetahui sekali pun, pasti Ia memaklumi perbuatannya yang jahat itu dan mengampuni. Sebuah sikap hidup yang mempermainkan Tuhan, seolah-olah Tuhan masa bodoh terhadap perbuatan manusia. Padahal Tuhan akan menuntut setiap orang, saat pengadilan akhir itu tiba dengan meminta pertanggungjawaban hidup kita masing-masing.

Mengingat kita hidup dan mati hanya untuk satu kali, jagalah hidup kita dari perbuatan yang jahat dan isilah hidup kita dengan sikap hidup yang benar sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang lain dapat kita kelabui dengan sikap hidup munafik. Tidak demikian dengan Tuhan yang menilik secara cermat lika-liku kehidupan kita sehari lepas sehari. Orang-orang lain tidak pusing dengan langkah-langkah hidup kita selama tidak merugikan mereka, tetapi Tuhan amat peduli dengan jalan hidup kita dan mengikuti jalan hidup kita hingga ke lorong-lorong yang gelap sekalipun. Karena itu, jangan heran saat Tuhan mengungkapkan rekaman jalan kehidupan masa lalu kita dan semua itu akan menjadi barang bukti di hadapan pengadilan-Nya atas diri kita kelak. Jangan kita kaget jika Tuhan menghukum kita karena Ia telah memberikan peringatan-Nya kepada kita berkali-kali dan kita tidak menaati. Sebaliknya, kita tak menyesal saat hidup kita berakhir pada suatu hari karena kita telah menggunakannya dengan baik dan benar. Amin. ***

Penulis, pendeta emeritus Gereja Kristen Indonesia Taman Cibunut Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, 21 Juli 2007
   
 
 
 
     

Copyright © 2017 Gereja Kristen Indonesia GKI Pasteur Bandung